NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Akhirnya Lengkap, Bro!


Sudah sekitar satu minggu berlalu sejak aku berhasil mengusir penguntit yang membuntuti Honma.

Dalam kurun waktu tersebut, informasi mengenai pria itu sudah sampai ke telingaku. Meskipun aku bukan pihak yang terlibat langsung, aku bisa mendapatkan informasi tersebut melalui Honma.

"Pihak kepolisian menghubungi aku karena mereka menemukan foto-fotoku, jadi aku datang untuk memberikan keterangan.

Saat itu aku mendengar bahwa pria tersebut mengakui segalanya dengan cara yang hampir menjijikkan…… tapi anehnya, setelah itu dia tiba-tiba berbalik membantah semua tuduhan.

Meski begitu, percuma saja karena semua buktinya sudah lengkap. Polisi bilang perubahan sikapnya itu benar-benar mengerikan."

Bagiku, situasi saat itu sangat mudah dibayangkan. Sesuai perintahku, pria itu mengakui kejahatannya dan menjelaskan semua bukti yang dia miliki dengan sangat rinci…… Yah, dari sudut pandang polisi, mereka mungkin mengira dia mengaku karena tidak tahan dengan beban dosanya.

Namun, begitu hipnotisnya lepas, dia kembali sadar dan sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat…… Tentu saja polisi akan bingung melihat tingkahnya.

Yah, begitulah kejadiannya. Bagi pria itu, kejahatan yang dia lakukan sebelum mengincar Honma ternyata jauh lebih berat. Seperti yang kubayangkan, sekarang dia sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan Honma.

(Setelah Aisaka dan Aguma, sekarang masalah Honma juga sudah selesai dengan aman…… Tentu saja mungkin akan ada efek samping tertentu nantinya, tapi aku hanya perlu terus memperhatikan Honma seperti yang kulakukan pada yang lainnya.)

Itu adalah bayaran yang murah jika dibandingkan dengan kesenangan yang kudapatkan darinya.

Sejak saat itu, tak perlu dikatakan lagi bahwa Honma telah bergabung menjadi salah satu partner "Surga Intim Hipnotis"-ku, yang juga menjadi saluran pelampiasan hasratku.

Setiap ada kesempatan, aku selalu menyempatkan diri untuk merasakan kelembutan dadanya. Dengan ini, aku telah mendapatkan tiga orang yang menjadi target utamaku…… atau begitulah pikiranku.

"……Tapi,"

Hanya satu hal…… suasana di sekitar Honma terasa sedikit berbeda. Yah, mari berhenti memikirkannya sekarang karena itu hanya akan membuatku lelah.

"Hah……"

"Senior? Ada apa dengan helaan napas sejak pagi begitu?"

"Yangoraya-hoooi!!"

"……Cara terkejut macam apa itu?"

Bagaimana tidak, kalau kau tiba-tiba disapa dari belakang, siapa pun akan jadi begitu! Setelah mengeluarkan teriakan aneh karena kaget, aku berbalik dan melihat Honma berdiri di sana.

Wajahnya bukan lagi tanpa ekspresi seperti biasanya, melainkan tatapan dingin seolah sedang melihat orang yang merepotkan…… Menurut Honma, dia tidak pernah memberikan tatapan seperti ini kepada orang lain, dan aku adalah yang pertama.

Kata "Pertama" memang terdengar sangat menggoda dan tidak buruk, tapi ditatap dengan mata seperti itu membuatku merasa harga diriku sebagai senior sedikit terluka…… Yah, tidak sampai membuatku sedih juga, sih.

"Selamat pagi, Senior."

"……Pagi, Honma."

Honma tersenyum manis dan menyapa. Senyum itu pasti bisa memikat banyak pria…… tidak, bahkan sesama perempuan pun pasti akan terpesona oleh kecantikannya.

(……Sejak kejadian itu, kami jadi sering mengobrol begini setiap kali bertemu.)

Setelah insiden itu, Honma selalu menyapaku setiap kali melihatku.

Tentu saja dia akan menahan diri jika aku sedang bersama teman-teman atau di tempat yang terlalu banyak mata di sekolah, tapi di jalan menuju sekolah seperti ini, dia akan segera menghampiriku.

"Ngomong-ngomong, teman-temanku sering bertanya. Mereka bilang ada senior yang akrab denganku, dan bertanya orang seperti apa dia."

"Hee……?"

"Menurut Senior, apa yang aku katakan pada mereka?"

Honma bertanya dengan pandangan melirik yang membuat jantungku berdebar. Sambil menyadari pipiku sedikit memanas, aku mencoba berpikir, tapi tidak ada jawaban yang spesifik.

"Kau tidak mengatakan hal buruk tentangku, kan?"

"Tentu saja tidak——aku bilang bahwa Senior adalah orang yang sangat bisa diandalkan."

"……………"

"Ah, Senior, wajahmu memerah, lho? Apakah ini…… karena sekarang musim panas?"

Gadis kecil ini…… dia pasti tipe orang yang suka menggoda teman dekatnya dengan sikap nakal!

Aku sejujurnya senang bisa seakrab ini dengannya…… tapi ini menyangkut harga diriku sebagai senior. Sepertinya suatu saat nanti dia perlu diberi "pelajaran", ya!?

"……Ehem! Setelah itu…… tidak ada apa-apa lagi, kan?"

Pertanyaan ini merujuk pada perkembangan setelah masalah penguntit itu.

"Tidak ada apa-apa kok. Semuanya benar-benar aman."

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

"Terima kasih, Senior."

"Tidak, ini sudah jadi semacam kebiasaan."

Sama seperti Aisaka dan yang lainnya, jadi ini bukan hal baru bagiku.

Setelah itu aku berjalan sambil mengobrol dengan Honma untuk beberapa saat, lalu berpisah dengannya ketika keadaan mulai ramai.

"……Umm."

Tetap saja…… meskipun semuanya disebabkan oleh hipnotisku, sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa aku bisa menjalin hubungan sebaik ini dengan mereka dalam kondisi sadar.

Antara mereka saat sadar dan mereka saat terhipnotis…… jika ditanya mana yang kuhabiskan lebih lama dan lebih intens, jawabannya tentu saja saat terhipnotis.

Namun, frekuensi interaksi akhir-akhir ini terasa seperti aku sedang menjadi protagonis di sebuah novel ringan.

"Tapi yah…… kukuku!"

Gawat…… hanya membayangkannya saja sudah membuat senyum menjijikkan keluar dari bibirku.

Soalnya hari ini, untuk pertama kalinya aku akan menempatkan mereka bertiga dalam Hipnotis Pemesanan secara bersamaan dan menikmati waktu foya-foya!

Tahu tidak, aku bahkan tidak bisa tidur semalam karena saking bersemangatnya. Tapi akhirnya hari ini tiba…… Hari yang bersejarah! Aku akan melakukan pencapaian besar dalam sejarah umat manusia…… Fufu…… Fuhahahaha!!

"……Fuu, tenanglah, diriku."

Laki-laki sejati harus selalu bersikap tenang dan pintar…… Baiklah, kegembiraanku sudah sedikit mereda.

Namun, harapan besar untuk jam istirahat siang nanti sepertinya terlalu kuat, sehingga saat aku sampai di kelas, perasaan itu muncul kembali. Dan yang berdiri di depanku adalah Shogo.

"……………"

"Kai……? Kenapa kau menutupi wajahmu dengan tangan sejak tadi?"

"Tidak, aku cuma sedang menahan diri agar tidak nyengir."

"Apa maksudnya?"

Hmph, ini adalah tingkat yang tidak akan pernah bisa kau capai. Tentu saja aku tidak akan mengucapkan hal yang membuatku dicurigai. Aku boleh bangga pada diriku sendiri sebagai laki-laki yang bisa menjaga rahasia…… tapi gawat, gawat.

(Pikiranku jadi terlalu besar kepala gara-gara memikirkan jam istirahat siang……)

Sepertinya aku terlalu kegirangan. Ada pepatah terkenal bahwa manusia sering melakukan kesalahan yang tidak masuk akal saat mereka sedang terlalu senang.

Ibuku pernah bilang kalau itu mirip dengan orang yang sudah terbiasa menyetir lalu mengalami kecelakaan. Intinya, seperti yang kupikirkan tadi, aku harus benar-benar berhati-hati.

"Ngomong-ngomong, Kai. Kapan-kapan, ayo kita ke maid cafe lagi?"

"Aku sih tidak keberatan, tapi sepertinya kau sangat menyukainya, ya?"

Mendengar itu, Shogo mengangguk sambil tersenyum.

"Ya, begitulah…… Di antara pelanggan lain ada orang yang kelihatannya benar-benar jatuh cinta pada maid-nya, kan? Aku bukannya tidak mengerti perasaan itu, tapi aku merasa benar-benar terhibur dan senang di sana."

"Benar juga," aku pun mengangguk setuju.

Yang melayaniku adalah Honma, dan aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana pelayan lain melayani pelanggannya.

Tapi jika dia bisa tersenyum dan bilang dia merasa senang, itu berarti toko tersebut adalah toko yang bagus yang membuat Shogo dan banyak orang lainnya ingin datang kembali.

(Dalam hal itu, sayang sekali Honma harus berhenti, tapi setelah kejadian itu memang tidak ada pilihan lain.)

Kalau dipikir-pikir, aku jadi bertanya-tanya apakah ada orang lain yang mengalami nasib seperti Honma, tapi sepertinya kasus itu berada di level yang jarang ditemui…… kalau orang seperti itu ada banyak, dunia ini bisa hancur.

"Tapi selain maid cafe, sepertinya belakangan ini ada banyak jenis kafe lain, lho. Seperti Kafe Sengoku atau Kafe Fantasi."

"Eh, apa itu?"

"Jadi pelayannya berakting seperti panglima perang era Sengoku. Kalau Fantasi, secara harfiah mereka menggunakan latar belakang dunia lain."

"Hee…… banyak macamnya juga, ya."

"Makanya, ayo kita coba keliling ke tempat lain selain maid cafe kalau ada kesempatan."

"Oke."

Sesuatu selain maid cafe…… aku juga harus mulai mencari tahu.

"……Umm?"

"Apa?"

Di tengah percakapan, Shogo menatapku tajam sambil bergumam.

Aku tidak punya hobi merasa senang saat ditatapi oleh laki-laki, tapi jika pelakunya adalah teman baik yang berharga bagiku, ceritanya berbeda…… tapi ada apa?

"Belakangan ini Kai benar-benar memancarkan aura kebahagiaan dari seluruh tubuhnya…… Serius, ada apa denganmu?"

"……Fuh."

"Ah, dia malah tertawa meremehkan!"

"Bukan, bukan, maaf. Suasana hatiku memang sedang sangat bagus sekarang."

"Makanya, ada apa sebenarnya! Apa!"

Maaf ya, Shogo, kalau yang satu ini benar-benar tidak bisa kuberitahukan padamu!

Setelah itu aku terus mengobrol dengan Shogo sampai akhirnya dia pergi ke toilet dan aku sendirian. Hampir semua murid sudah berada di dalam kelas, yang belum ada hanyalah Akira dan murid-murid lain yang rajin latihan pagi.

"……Hmm."

Saat sendirian, aku diam-diam membaca manga bertema hipnotis di ponselku.

Jelas ini bukan sesuatu yang pantas dibaca di dalam kelas, tapi karena ini adalah karya tanpa adegan dewasa, seharusnya tidak masalah…… Yah, meskipun tidak digambarkan, sang protagonis pasti sudah melakukan hal-hal itu.

(Manga ini…… penggambaran perasaannya bagus dan menarik.)

Isinya benar-benar hanya tentang protagonis yang melakukan hal-hal buruk kepada para gadis.

(Sampai sekarang aku sudah melihat banyak manga dan novel tentang hipnotis…… aku pikir itu menarik, dan aku sering berfantasi seandainya aku punya kekuatan seperti itu…… dan sekarang, aku sedang menggunakan kekuatan ini.)

Ya, sekarang aku telah mendapatkan kekuatan yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang-orang di dunia ini.

Hanya dengan ini saja hidupku jadi menyenangkan, dan fakta bahwa aku bisa melakukan hal-hal yang biasanya tidak bisa dilakukan membuatku berada di dimensi yang lebih tinggi dari orang biasa.

Yah, sebenarnya aku bisa melakukan apa saja, tapi sejauh ini aku tidak punya cara penggunaan lain selain mempermainkan para gadis. Jujur saja, aku tidak punya hasrat untuk menggunakan kekuatan ini selain untuk tujuan mesum.

(Kalau aku mau, mencuri harta benda dari orang kaya pun akan sangat mudah…… tapi serius, aku sama sekali tidak tertarik pada hal-hal seperti itu.)

Bukannya aku ingin membenarkan apa yang kulakukan pada para gadis, tapi intinya aku hanya tertarik pada perempuan!

"Aku kembali…… kau sedang baca apa?"

"Manga bertema hipnotis."

"Kau suka sekali ya…… tapi yah, hipnotis memang romansa bagi laki-laki!"

"Shogo…… ternyata kau mengerti juga, ya!"

"Tentu saja!"

Untuk teman sepertimu, mungkin suatu hari nanti aku akan menceritakan soal Partner padamu…… yah, meskipun mungkin itu baru akan terjadi di masa depan yang sangat jauh.

Aku sudah bisa membayangkan kau akan menertawakanku dan tidak percaya, tapi itu sudah cukup untuk bahan obrolan——hanya saja, apakah saat itu Partner masih ada di tanganku, dan bagaimana hubunganku dengan mereka nantinya…… yah, setidaknya aku berpikir kalau hubungan dengan mereka akan terputus setelah lulus SMA.

"……Tiba-tiba aku jadi merasa sedikit galau."

"Apa katamu?"

"Bukan apa-apa."

Shogo menatapku dengan curiga, tapi karena upacara pagi akan segera dimulai, dia kembali ke tempat duduknya.

Aku menyadari Akira sudah ada di kelas, dan saat mata kami bertemu, dia melambaikan tangannya.

Seperti biasa, level ketampanannya begitu memukau sampai-sampai niat membunuhku hampir merembes keluar, tapi aku akan memaafkannya hanya dengan sedikit mengacungkan jari tengah.

Aku tertawa kecil melihat ekspresi Akira yang seolah ingin memprotes keras tindakanku, lalu aku melirik ke arah Aisaka.

"……………"

Tanpa tahu bahwa aku sedang memperhatikannya, dia sedang asyik mengobrol dengan siswi di sebelahnya menikmati waktu yang tersisa…… Tadi aku sempat berpikir kalau hubunganku dengan dia dan yang lainnya akan terputus setelah lulus SMA, tapi itu ternyata terasa cukup sepi juga.

Aku berencana untuk lanjut ke universitas, dan jika itu terjadi, maka dengan kekuatan Partner targetku hanya akan berganti saja…… Umm, itu memang sangat menggoda, tapi rasa sepi itu mungkin tidak akan hilang.

"Ini benar-benar dilema orang yang serakah……"

Meskipun jam istirahat siang yang kunantikan sudah menunggu, aku malah merasa sedikit galau sejak pagi hari.

◆◇◆

"TAPI TETAP SAJA! AKHIRNYA SAAT INI TIBA JUGA!!"

Karena jam istirahat siang yang kunantikan telah tiba, semangatku berada di puncaknya.

Rasa galau tadi pagi sudah terbang tertiup angin…… yah, aku sudah melupakannya selama mengikuti pelajaran, tapi aku benar-benar menantikan momen ini.

"……Oh."

Ruang kelas kosong ini sudah seperti halaman rumahku sendiri, dan aku mulai bisa merasakan jika ada orang yang mendekati ruangan ini. Buktinya, orang-orang yang kunantikan masuk secara bersamaan.

"Kalian datang juga."

Aisaka, Aguma, dan Honma muncul secara berurutan. Aisaka dan Aguma berada di tingkat yang sama, tapi Honma berasal dari tingkat yang berbeda jadi aku merasa sedikit tidak enak padanya.

Apalagi aku memerintahkan mereka untuk datang tanpa menarik perhatian orang lain, jadi itu mungkin cukup berat bagi Honma.

"……Baiklah, kalian bertiga, ke sini."

"Iya."

"Aku mengerti."

"Baik."

Ketiganya mendekat dengan patuh. Biasanya aku akan segera meminta mereka memelukku, atau membenamkan kepalaku di dada mereka yang melimpah…… Meskipun belum terlalu terbiasa, bagi Aisaka dan Aguma, ini adalah awal dari waktu yang luar biasa di mana aku diperbolehkan menyentuh payudara mereka.

Namun, karena ini pertama kalinya mereka bertiga berkumpul, aku tidak bisa menahan diri untuk mengagumi pemandangan ini.

"Akhirnya Aisaka, Aguma, dan Honma bisa berkumpul bersama…… Butuh waktu lama sampai hari ini tiba."

Di depan mereka bertiga yang masih dalam kondisi linglung, aku teringat kembali semua perjuanganku dan merasa terharu karena bisa menyambut momen ini.

"Nah, kalau begitu, mari kita mulai waktu bersenang-senangnya."

Aku menatap mereka bertiga sambil menggerak-gerakkan tanganku dengan antusias…… dan mulai bingung harus melakukan apa.

"……Hmm."

Ini sulit, ya……? Sampai sekarang maksimal hanya dua orang, jadi aku biasanya mengambil posisi di mana aku diapit oleh mereka berdua di kedua sisi. Tapi jika ditambah satu orang lagi, posisi mana yang paling pas?

"Masaki-kun."

"Ya?"

Saat aku sedang bingung, Aguma angkat bicara. Sambil berpikir bahwa dia masih bisa bicara secara alami seperti biasanya, aku tetap mendengarkan apa yang dikatakan Aguma.

"Di antara kita, yang dadanya paling besar adalah aku."

"Umm? Iya."

"Bagaimana kalau Masaki-kun duduk menyandar padaku dengan lemas, lalu mereka berdua memelukmu dari kedua sisi?"

"Aku setuju."

Aku menjentikkan jari dan segera mencoba saran Aguma. Kepada Aguma yang sudah duduk menyandar ke dinding, aku pertama-tama duduk dengan menyandarkan punggungku padanya…… Tentu saja aku tidak menimpakan seluruh berat badanku padanya.

"Pertama, aku akan melakukan ini."

"……Ooh."

Dia tidak hanya menerima punggungku, tapi juga melingkarkan lengannya di perutku, membuatku merasa seolah-olah didekap oleh Aguma sepenuhnya…… Dan yang terpenting, keindahan elastisitas yang kurasakan di punggungku benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Saat aku sedang merasakan haru itu, Aisaka dan Honma duduk di dekatku dan merapatkan tubuh mereka.

"Apa kami cukup begini?"

"Senior, bagaimana rasanya?"

"Bertanya bagaimana rasanya? Tentu saja rasanya luar biasa."

Luar biasa…… aku tidak tahu kata apa lagi yang bisa menggambarkan perasaan ini selain kata itu. Keindahan yang sanggup menghentikan fungsi otakku…… Ada rasa bahagia di tempat ini yang membuatku merasa sangat bersyukur telah hidup sampai sekarang.

"Rasanya aku hampir ingin menangis."

"Ahaha, sampai segitunya?"

Aisaka tertawa kecil, tapi memang begitulah haru yang kurasakan.

"Itu…… aku ini laki-laki yang mesum dan sangat jujur pada hasratku. Aku sangat menyukai payudara perempuan, dan aku paling suka yang ukurannya besar."

Seolah sedang memberi ceramah pada mereka bertiga, aku melanjutkan kata-kataku dengan tulus.

"Dalam kehidupan normal, momen menyentuh payudara perempuan itu mustahil terjadi kecuali ada kecelakaan…… Di tengah ketiadaan mimpi dan harapan seperti itu, aku bisa merasakan sensasi ini sekarang…… Bagaimana mungkin aku tidak terharu?"

Aku merasa malu sendiri karena berbicara begitu menggebu-gebu…… Namun, kata-kata yang keluar dari mulutku tidak mau berhenti.

Lalu selama sekitar lima menit nonstop, aku menceritakan semua pemikiranku tentang payudara perempuan.

"Fuu…… eh, Aguma, kau tidak apa-apa? Kau terus dalam posisi itu, apa kakimu tidak kesemutan lagi seperti waktu itu?"

"Hari ini tidak apa-apa. Aku sudah memperhatikan sudut kakiku dengan benar."

"Syukurlah kalau begitu." Memang sudut kakinya sedikit berbeda, cara dia melipat kakinya terlihat lebih nyaman dari sebelumnya.

"Aisaka dan Honma tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa kok♪"

"Aku juga tidak apa-apa."

"Begitu ya, baguslah."

Aku tersenyum sama seperti mereka karena merasa lega.

"……Ah, benar-benar surga."




Hangat, lembut, dan aroma yang manis…… Seluruh ruangan ini dipenuhi oleh hal-hal tersebut.

Jika bisa, aku ingin tetap seperti ini bahkan setelah jam istirahat berakhir.

Tetapi jika aku melakukannya, aku akan terlambat masuk pelajaran, dan yang paling penting, bukan hanya aku yang akan dimarahi. Aku tidak bisa bersikap tidak bertanggung jawab seperti itu.

"Masalah Aisaka dengan mantan pacarnya, Aguma dengan masalah keluarganya, dan Honma dengan masalah penguntitnya…… kalian bertiga terlibat dalam kerumitan yang berbeda-beda. Tapi setelah semua yang terjadi, aku lega semuanya bisa selesai dengan aman."

Aku bergumam pelan, meresapi momen itu. Memang merepotkan, dan aku sempat menyalahkan takdir—bertanya-tanya kenapa gadis-gadis yang aku incar semuanya memiliki masalah seperti itu.

Namun sekarang, aku berpikir bahwa justru karena mereka memiliki masalah itulah aku bisa mengenal mereka seperti ini.

"Padahal kejadian saat kamu menolongku dan Saika masih terasa baru, tapi sekarang kamu juga sudah menolong junior kita tanpa kami sadari."

"Masaki-kun memang tipe orang yang langsung bertindak untuk menolong seseorang…… Aku rasa itu sangat keren."

"Sudahlah, jangan memujiku berlebihan."

Berhenti memujiku, nanti aku malah jadi besar kepala. Yah, sebenarnya aku sudah merasa sedikit jemawa, tapi kalau aku terlalu merasa hebat, aku takut akan melakukan kesalahan yang konyol.

"……Nah, masih sempat."

Aku memeriksa sisa daya baterai ponselku sejenak. Kekuatan Partner bisa menjangkau hingga tiga orang sekaligus, tapi semakin banyak orang, semakin cepat daya baterainya terkuras.

Artinya, dalam kondisi menghipnotis tiga orang seperti sekarang, baterainya sedang terkuras dengan kecepatan maksimal. Masih aman…… tapi aku harus tetap waspada.

"Hei Masaki-kun, mau melakukan 'tren' yang belakangan ini sering kita lakukan?"

"Tren?"

Mendengar kata-kata Aisaka yang tersenyum nakal, Honma memiringkan kepalanya, tapi aku langsung mengerti maksudnya. Tren belakangan ini…… itu adalah menyentuh payudara mereka.

Dulu aku tidak punya keberanian untuk menyentuh mereka atas kemauanku sendiri, tapi setelah interaksi dengan Aisaka, aku berhasil melewati tembok penghalang itu.

"……Apa maksudnya itu?"

"Pendatang baru diam dan tonton saja."

"Saika…… bahasamu ketus sekali, ya."

Aku juga berpikir begitu, Aisaka…… Tapi Honma tidak merasa tersinggung, dia malah terlihat sangat penasaran. Aisaka yang ada di sampingku dan Aguma yang ada di belakangku kini pindah ke depanku, dan keduanya membusungkan dada mereka.

Aku meminta Honma, yang sejak tadi tampak bingung, untuk menjauh sedikit, lalu aku merapatkan kedua tanganku ke arah Aisaka dan Aguma.

"Terima kasih…… hari ini pun, izinkan aku untuk menyentuh kalian."

"Fufu, Masaki-kun selalu melakukan itu ya?"

"Kami…… bukan Tuhan atau semacamnya, lho."

Apa yang kalian katakan! Menyentuh payudara wanita adalah hal yang sangat sakral, jadi sudah sewajarnya aku melakukan semacam pemujaan atau doa seperti ini, kan!?

"……Baiklah, aku mulai."

"Silakan."

"Iya."

Seolah-olah menyuruhku menyentuh sepuasnya, Aisaka dan Aguma menggoyangkan dada mereka.

Payudara melimpah itu tidak hanya dibalut oleh kemeja, tapi juga disangga oleh bra agar bentuknya tetap terjaga…… Meski begitu, guncangan yang memberikan gambaran nyata tentang elastisitasnya membuat pandanganku terpaku dan tak bisa beralih.

Perlahan…… seolah sedang menyentuh harta karun yang sangat berharga, aku menyentuh dada mereka berdua dengan kedua tanganku.

"Ah……"

"Uun……"

"——♪"

Begitu bersentuhan, sensasi kepenuhan dan kelembutan yang luar biasa yang merambat ke telapak tanganku membuatku hanyut dalam pusaran emosi.

Seandainya aku punya kekuatan untuk memanipulasi fenomena dunia sesukaku, aku ingin menghentikan waktu sepenuhnya dan berendam dalam momen ini…… Keharuan yang ada pada payudara mereka membuatku ingin terus menyentuh mereka selamanya.

"Jangan cuma menyentuh, kamu boleh meremasnya juga, lho?"

"O-oh……"

"Seperti kemarin lusa, gunakan sedikit tenaga…… ayo, ingatlah lagi. Dada kami yang seolah hampir tumpah dari celah jari-jari Masaki-kun…… rasakan sensasi itu sekali lagi?"

"……Aguma, apa kau sedang menulis novel dewasa?"

Aisaka yang dengan santainya bilang boleh meremas memang keterlaluan, tapi Aguma yang bicara dengan gaya puitis juga sama saja…… Tapi tentu saja, aku berniat melakukannya!

"Remas, remas."

Aku melakukannya dengan lembut, sangat lembut…… tidak kasar sama sekali, dan memberikan perhatian penuh agar mereka tidak merasakan sakit sedikit pun.

Payudara Aisaka dan Aguma yang berubah bentuk mengikuti gerakan tanganku benar-benar besar. Bukan seperti siswi SMA, ukurannya lebih menyerupai orang dewasa…… setara, atau bahkan melampaui model gravure berdada besar.

"……Entahlah…… setiap kali aku meremasnya dengan sedikit tenaga, aku merasa seperti ada hujan kebahagiaan yang memancar dari dada kalian berdua ke arahku."

"Ahaha, cara bicaramu lucu sekali, Masaki-kun."

"Seperti sedang memerah susu ibu?"

Kenapa sih Aguma selalu mengatakan hal seperti itu dengan wajah datar!?

Memang benar ukurannya terasa seperti menyimpan sesuatu yang melimpah…… tapi bukan itu maksudnya! Setelah berdehem pelan, aku kembali memusatkan perhatian pada elastisitas di tanganku.

"Hei Aisaka, juga Aguma. Meskipun akulah penyebab kalian berakhir disentuh-sentuh seperti ini, apa kalian benar-benar tidak keberatan?"

"Aku tidak keberatan, kok? Malah…… menurutku itu terlihat manis."

"Karena ini Masaki-kun, aku sama sekali tidak masalah…… lagipula aku juga merasa itu manis, sama seperti Kak Matsuri."

Syukurlah kalau tidak keberatan, tapi aku harap kalian berhenti menyebutku manis…… Setelah itu, selama sekitar lima menit aku terus meremas payudara mereka dengan lembut.

Setelah aku merasa cukup puas dan melepaskan tanganku, Honma tiba-tiba memegang lenganku.

"Curang…… apakah aku tidak boleh?"

"Ho-Honma……?"

"Jika itu aku, Anda boleh melakukannya dengan lebih kasar dan kuat…… Kumohon, berikan juga belas kasihan kepada saya…… Kumohon!"

"Hiiih!?"

Melihat sikap dan kata-katanya yang memelas, bahkan aku pun merasa sedikit ngeri. Padahal dia dalam kondisi terhipnotis, tapi Honma…… yah, yang lainnya juga sama saja, tapi Honma ini seolah-olah menunjukkan ego yang begitu kuat sampai-sampai aku ragu apakah dia benar-benar terikat oleh kekuatan hipnotis.

Hei, Partner, apa kau bisa melakukan sesuatu tentang ini!?

"Kenapa tidak menyentuhnya juga?"

"Tidak adil kalau cuma kami berdua."

"……………"

Jika kalian berdua bilang begitu…… akhirnya, aku berbalik ke arah Honma. Berbeda dengan Aisaka dan yang lainnya, masa hipnotis Honma masih sangat baru, dan interaksi kami belum sedalam itu…… makanya aku merasa cemas apakah ini akan baik-baik saja.

"Tidak perlu cemas, Senior…… ayo!"

"……Kamu bersemangat sekali, ya."

Tapi yah…… kalau dia sendiri yang memintanya, tidak ada alasan untuk menolak!

Takut karena dia yang meminta?

 Merasa tertekan sampai ingin mundur?

Tidak peduli! Aku ingin melakukan hal sesukaku pada para gadis…… bukankah itu tujuan awal aku menginginkan Partner!?

"……Hup!!"

"Ah"

Meskipun suaraku terdengar penuh semangat, sentuhanku tetaplah lembut.

Saat menyentuhnya, suara Honma yang sulit digambarkan membuat jantungku berdebar, tapi aku tidak menghentikan aksiku.

Dibandingkan Aisaka dan Aguma, ukurannya memang lebih kecil, tapi tetap saja ukurannya sudah lebih dari cukup.

"……Honma, maaf ya, tolong puas dengan segini dulu."

"Padahal lebih kuat lagi juga tidak apa-apa, lho."

"Kamu benar-benar sedang terhipnotis, kan?"

Aku sampai reflek memeriksa apakah Partner masih aktif. Di bawah tatapan hangat Aisaka dan Aguma, aku meremas dada Honma yang kelihatannya masih sedikit merasa kurang…… Sebenarnya ini situasi macam apa?

Tapi yah, tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah momen terbaik. Dulu aku sama sekali tidak bisa menyentuh mereka atas kemauanku sendiri, tapi sekarang aku bisa melakukannya. Ini adalah perkembangan yang besar.

"……Fuu, puas, puas."

Meskipun waktunya sangat singkat, pencapaiannya sangat besar. Sisa waktu istirahat siang tinggal sekitar lima belas menit…… Baterai juga masih aman, jadi sepertinya aku masih bisa menghabiskan waktu di sini sedikit lagi.

"Masaki-kun terlihat sangat senang."

"Tentu saja aku senang. Sudah kubilang berkali-kali, bagi laki-laki, payudara perempuan itu penuh dengan mimpi. Bisa merasakannya sendiri adalah sebuah kebahagiaan."

Mendengar itu, Aisaka menanyakan hal ini.

"Hei Masaki-kun? Seandainya kami…… menunjukkan wajah tidak suka sedikit saja, apa kamu akan berhenti menyentuhnya?"

"Itu sih……"

Tiba-tiba, aku berpikir apa yang akan kulakukan. Lalu…… meskipun kata-katanya tidak tersusun dengan sempurna, aku menjawab sambil memandangi mereka bergantian.

"……Memang benar aku berpikir ingin melakukan hal sesukaku. Menjadi bajingan terjahat dan terburuk, lalu melahap kalian sesuka hasratku…… Aku berpikir begitu, tapi kalau kalian menunjukkan wajah tidak suka atau menangis, tanganku pasti akan berhenti."

Kenyataannya, meski dalam situasi yang berbeda, itulah yang terjadi pada mereka di awal. Saat melihat Aisaka yang menyakiti diri sendiri dan Aguma yang mengalami kekerasan, hasratku langsung surut.

"Aisaka dan Aguma memang seperti itu…… tapi untuk Honma, aku malah merasa ngeri karena hobi kamu jauh melampaui perkiraanku."

"Aku tidak mau dibilang ngeri oleh Senior, lho?"

Melihat tatapan tajam Honma, aku tertawa dan membenarkannya.

"Dalam manga bertema hipnotis yang aku tahu, tidak ada karakter yang merespons atau berbicara seolah-olah mereka masih punya kesadaran seperti kalian. Mereka benar-benar searah, dan kata 'boneka' sangat cocok untuk menggambarkan mereka."

Dalam hal menjadi boneka yang patuh, mereka bertiga pun tidak ada bedanya. Meski begitu, perubahan ekspresi, intonasi suara, dan yang paling utama adalah fakta bahwa percakapan kami terjalin dengan sangat baik sampai-sampai aku meragukan apakah mereka benar-benar terhipnotis. Itulah perbedaan terbesarnya.

"Tema hipnotis…… aku tidak pernah membacanya, tapi aku sering melihatnya di iklan. Para pahlawannya terlihat menangis…… aku tahu mereka jelas-jelas tidak menyambut kehadiran sang protagonis."

"Bukankah biasanya memang begitu? Tidak mungkin ada wanita yang menyambut laki-laki yang menyentuh atau memerkosa mereka tanpa sepengetahuan mereka."

"Berarti kami berbeda, ya."

"Benar juga."

Cara bicara kalian seolah-olah bilang kalau aku memerkosa kalian pun kalian tidak akan keberatan sama sekali?

"Ada apa?"

"Masaki-kun?"

"??"

Eh, apa boleh aku memerkosa kalian……? Karena aku menatap mereka seperti itu, akhirnya mereka bertiga balas menatapku secara bersamaan, membuatku segera memalingkan wajah.

(Memerkosa…… tentu saja itu adalah kenikmatan utama dari aplikasi hipnotis. Lawan bicara tidak punya kesadaran, jadi aku bisa melakukan apa saja tanpa ketahuan…… Ada pepatah yang bilang kalau tidak ketahuan berarti bukan kriminal.)

Aku…… ingin melakukan hal sesukaku pada para gadis. Itu seharusnya mencakup tindakan yang lebih jauh daripada sekadar meremas dada seperti sekarang…… Aku seharusnya memikirkan hal itu, tapi entah kenapa aku merasa ada hambatan untuk melewati batas tersebut.

"Meskipun rasanya aneh dikatakan oleh orang yang sedang meremas dada begini, tapi melewati batas itu sepertinya harus atas persetujuan kedua belah pihak…… kan?"

"Kalau aku sih tidak keberatan meski dipaksa, lho?"

"Kamu, mending diam sebentar deh."

Aku memberikan pukulan karate ringan ke dahi Honma. Dahinya sedikit memerah karena terkena serangan itu, tapi Honma malah mengusap bagian yang memerah itu sambil tersenyum…… Anak ini benar-benar terlalu kuat.

"Waktu istirahat hampir berakhir…… terakhir, Aisaka, terima aku!"

"Fufu, kemarilah——♪"

Karena suasana hatiku hari ini ingin mengakhirinya dengan Aisaka, aku melompat ke arahnya yang sudah merentangkan tangan. Meskipun aku bilang melompat, tentu saja itu adalah soft dive…… Sambil bertanya-tanya apa itu soft dive, aku memutuskan untuk menikmati dada Aisaka dengan seluruh wajahku!

"Cup, cup, Masaki-kun memang manis ya."

"Berhenti memanggilku manis."

"An~♪ Sudah kubilang jangan bicara di dalam dadaku, kan?"

"Maaf!"

"Duh, benar-benar deh…… dasar nakal♪"

Kuaaaa! Sensasi kepala yang dielus-elus di dalam dada ini benar-benar luar biasa!!

"Senior…… terlihat sangat senang."

"Padahal punyaku lebih besar."

"Kumohon, jangan melotot begitu, Saika."

Apa Aguma melotot?

Aku penasaran apa yang terjadi di tempat yang tidak terlihat olehku, tapi dengan berkonsentrasi pada elastisitas ini, hal lainnya jadi tidak penting…… Namun, aku tidak bisa melewatkan kata-kata yang menyusul kemudian.

"Masaki-kun selalu bilang ingin jadi bajingan atau orang terburuk, tapi aku rasa itu mustahil. Masaki-kun tidak akan pernah bisa menjadi sosok seperti itu."

"Kenapa memangnya?"

Aku mengeluarkan wajahku dari belahan dadanya dan menatap Aisaka dari jarak dekat. Dia tertawa kecil dan melanjutkan.

"Karena Masaki-kun itu sangat baik. Bagi kami, kamu itu seperti penyelamat——orang yang sudah menolong orang lain seperti itu tidak mungkin bisa menjadi penjahat."

"……Aku tidak baik——"

"Kenyataan bahwa kami tidak menganggap buruk Masaki-kun…… itulah jawabannya, kan?"

"——"

Itu bukan sebuah jawaban…… tapi aku tidak bisa mengatakannya. Aku baik? Penyelamat? Apa-apaan itu…… Bukankah itu kata yang paling jauh dariku…… Tapi, sepertinya tidak ada gunanya seberapa keras pun aku menyangkalnya.

"Orang jahat tidak akan menyelesaikan masalah kekerasan dalam rumah tangga."

"Juga tidak akan menyelesaikan masalah penguntit, kan?"

Ka-kalau kalian bilang begitu, aku benar-benar tidak bisa membantah lagi……! Aku kembali membenamkan wajahku ke dada Aisaka seolah sedang merajuk, dan menghabiskan sisa waktu dalam elastisitas yang agung.

◆◇◆

Tidak bisa menjadi penjahat…… Aku tidak menyangka dia akan mengatakannya dengan sejelas itu.

Lagipula, pada saat aku menggunakan aplikasi hipnotis untuk melakukan hal sesukaku pada mereka, aku sudah sadar sepenuhnya bahwa aku adalah penjahat dan bajingan yang paling rendah.

"……Umm."

Pada akhirnya, aku terus memikirkan hal itu sejak saat itu.

Gara-gara itu, bahkan setelah sekolah berakhir dan aku sampai di rumah, aku masih teringat kembali interaksiku dengan Aisaka dan yang lainnya…… Fuhe.

"Gawat, gawat…… Padahal aku sedang memikirkan hal serius, tapi aku malah terus teringat sensasi dari mereka bertiga."

Tertawa sendiri saat teringat sesuatu memang tidak masalah, tapi kalau aku terus melakukannya di depan pintu masuk rumah dan dilihat tetangga, aku tidak tahu apa yang akan mereka katakan. Jadi aku segera membuka pintu depan dan masuk ke dalam.

"Aku pulang…… oh."

Aku kira belum ada yang pulang, ternyata sudah ada sepatu Kakak dan Ibu. Aku mendengar percakapan dari arah ruang tamu, jadi aku akan menyapa mereka sebentar sebelum kembali ke kamar.

"Aku pulang~"

"Ah, selamat datang kembali, Kai."

"Selamat datang kembali."

Mereka adalah dua wanita perkasa yang menyokong rumah ini. ……Tapi, setiap kali melihat Kakak dan Ibu sedang bersama seperti ini, aku selalu hampir tertawa.

Kenapa?

Karena lupakan soal Ibu, Kakakku malah terlihat tidak lebih dari anak SD yang sedang bermanja-manja pada ibunya.

"Kai? Barusan kamu memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan, kan?"

"Entahlah ya……"

Eii! Kenapa Kakakku ini bisa begitu tajam!? Sambil menghindari tatapan tajam Kakak, aku mengambil teh gandum dari kulkas karena merasa haus. Saat aku sedang meminum teh gandum dingin itu dengan lahap, Ibu mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

"Karena ini Kai, pasti dia tadi berpikir kalau Miyako masih terlihat seperti anak SD, kan?"

"Pffft!?"

Ibu yang suka bercanda…… Terutama kalau soal mengolok-olok aku dan Kakak, Ibu benar-benar hebat! Tapi kali ini tebakannya terlalu tepat sampai aku tidak bisa menahan reaksi!

"Kai…… benarkah itu?"

"Itu……"

"Hukuman mati."

"INI TIDAK ADIL!!"

Apa pun yang kupikirkan di dalam hati itu kan hakku!?

Kalau tidak diucapkan dan lawan bicara tidak dengar, berarti dianggap tidak ada, kan!?

Tapi ketidakadilan ini! Lupakan soal Ibu yang terlihat bersenang-senang, aku harus bersiap menghadapi Kakak yang sepertinya akan menerjangku!

"Ayo maju kalau berani!!"

"Bagus juga sikapmu itu, dasar bocah tengik…… uraaaa!!"

Begitulah, tak lama setelah sampai di rumah, perang antara aku dan Kakak pun pecah——tentu saja pemenangnya segera ditentukan, dan pecundangnya adalah aku.

"Tidak ada adik yang bisa menang melawan kakaknya."

"……………"

Kakak duduk di atas punggungku yang sedang merangkak. Sial…… Kakak ini benar-benar terlalu kuat…… Memang benar adik tidak bisa menang melawan kakaknya, tapi lawanku kan Kakak yang punya fisik seperti anak kecil?

Kenapa aku yang sudah tumbuh besar begini malah tidak bisa berkutik sedikit pun!

"Hayo, kamu sedang memikirkan hal tidak sopan lagi, kan?"

Kakak yang lagi-lagi punya firasat tajam itu kemudian menjepit wajahku dengan pahanya. Bagi Kakak, ini mungkin cara untuk menggangguku, tapi bagi seorang wanita, ini terlalu tidak sopan.

"Miyako, itu terlalu tidak sopan, lho."

"Iya, iya~"

"Astaga……"

Berkat satu teguran dari Ibu yang menjadi penyebab pertengkaran ini, Kakak akhirnya melepaskanku.

(……Benar-benar deh, di rumah ini posisi laki-laki tidak ada harganya ya, Ayah.)

Dalam waktu dekat, aku akan mengajak Ayah makan sushi…… Di sana aku akan menumpahkan semua keluh kesahku tentang Kakak dan Ibu.

(……Tapi yah.)

Apa pun yang dilakukan atau dikatakan padaku, aku tidak akan pernah membenci mereka. Kakak, Ibu, bahkan Ayah pun pernah mengatakannya beberapa kali…… Bahwa aku tidak pernah sekalipun mengalami masa puber yang memberontak.

"……………"

Masa pemberontakan…… aku dengar itu adalah masa di mana seseorang ingin membangkang pada orang tuanya, kan?

Aku…… tidak pernah sekalipun, bahkan terhadap Kakak, berpikir bahwa kehadiran mereka mengganggu. Karena ya begitu, kan?

Keluarga…… bagiku keluarga adalah keberadaan yang sangat penting, orang-orang yang sangat kusayangi…… Aku tidak pernah bisa, bahkan sebagai candaan sekalipun, bilang kalau aku membenci mereka atau berpikiran seperti itu.

"……Haha."

Aku malah memikirkan hal yang sangat memalukan…… Ini bukan gayaku. Teh gandum di gelasku sudah habis, dan aku ingin menambah satu gelas lagi.

"Ah benar juga, tadi kami sedang membicarakan Kai, lho."

"Tentang aku……?"

Saat aku memiringkan kepala, Ibu memberi tahuku dengan riang.

"Aku dengar dari Miyako, kamu menolong anak yang namanya Aisaka itu, ya? Aku sudah tahu kok kalau anakku ini anak yang sangat baik. Tapi aku bangga bisa mendengar kalau kamu benar-benar menolong seseorang."

"……………"

Jadi Kakak membocorkannya, ya……! Bukannya itu cerita yang buruk jika didengar orang lain, tapi menceritakannya sampai ke Ibu itu benar-benar memalukan!?

"Jangan lupakan anak yang namanya Aguma juga, ya."

"Benar juga. Aduh Kai, ceritakan dong pada Ibu! Meskipun ini urusan pribadi jadi aku tidak akan menceritakan soal gadis-gadis itu, tapi aku ingin pamer pada tetangga kalau anakku ini sangat luar biasa!"

"Eh, jangan!? Aku tidak menolong mereka dengan maksud seperti itu!"

"Aduh, kamu rendah hati sekali! Sini Kai! Sini, Ibu akan memelukmu erat-erat!"

"Ini memalukan, jadi kumohon hentikan!"

SUDAH CUKUP!! Biasanya aku mencuci sendiri gelas yang kupakai, tapi kali ini aku minta maaf, aku akan membiarkannya begitu saja dan melarikan diri! Setelah melarikan diri dari tatapan hangat…… dan penuh kasih sayang itu, aku langsung mengurung diri di kamar.

"……Hah."

Aku meletakkan tas di meja dan menghela napas sambil duduk di pinggir tempat tidur.

"Rasanya hari ini…… aku banyak dipuji, ya."

Baik itu interaksi saat jam istirahat siang, maupun interaksi barusan…… Tanpa bermaksud bercanda, rasanya aku sudah dipuji sebanyak jatah beberapa tahun, tapi aku menyadari kalau keduanya memiliki kesamaan, yaitu terjadi setelah aku mendapatkan Partner.

"Padahal seharusnya tidak begini……"

Tujuanku sebenarnya hanyalah ingin melakukan hal sesukaku pada para gadis. Tapi entah kenapa "nilai jual"-ku malah terus meningkat…… Rahasia mereka yang mulai terungkap setelah aku menggunakan Partner.

Aku tidak bisa mengabaikannya dan akhirnya menyelesaikannya…… Tentu saja bukan karena aku yakin bisa menyelesaikannya, tapi itu juga berkat aku yang terlalu percaya pada kekuatan Partner yang terlalu kuat dan berharap semuanya akan berjalan baik.

"Hidup ini benar-benar…… sulit ditebak, ya."

Aku mengambil ponsel dan menyalakan Partner. Karena tadi siang aku menghipnotis tiga orang sekaligus, baterainya tinggal sedikit…… Serius, kalau melayani mereka bertiga, baterainya langsung habis hanya dalam waktu satu jam istirahat siang saja.

"Yah, ini mungkin harga dari kekuatan yang terlalu besar!"

Terima kasih untuk hari ini, Partner. Tak lama setelah aku mengucapkan terima kasih seperti biasanya, tiba-tiba aku merasa sakit perut dan harus buru-buru ke toilet…… Benar-benar deh, aku tidak bisa bersikap keren sampai akhir.

◆◇◆

Tak lama setelah Kai keluar dari kamar sambil memegangi perutnya. Layar ponsel yang ditinggalkan Kai masih menampilkan diagram hubungan yang menjadi misteri baginya.

Nama Kai yang terletak di tengah, dikelilingi oleh dua jenis benang, yaitu benang berwarna merah muda dan hitam yang bergerak meliuk-liuk.

Benang merah muda itu terasa sedikit mesum, sementara benang hitam terasa agak mengerikan seperti yang dikatakan Kai. Siapa pun pasti akan memiliki kesan yang sama saat melihat benang hitam yang bergerak-gerak itu.

……………

Saat ini tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Tentu saja tidak ada suara ataupun tanda-taca kehadiran siapa pun…… Namun, layar ponsel yang seharusnya sudah tidak disentuh oleh tangan Kai itu tiba-tiba berkedip seolah-olah memiliki kehendak sendiri.

……………

Di dalam layar tersebut, benang hitam mendekati nama Kai. Namun, benang-benang merah muda seolah-olah menepis semuanya…… seolah-olah mereka sedang melindungi dan menghalau benang hitam itu.

Kekuatannya benar-benar seperti sedang memecut…… Benang hitam itu terpaksa menjauh tanpa bisa berbuat apa-apa terhadap benang merah muda.

……………

Lalu, itu terjadi hanya dalam sekejap. Layar seolah-olah goyah sebentar, lalu muncul tampilan layar yang sama sekali berbeda.

……………

Tampilannya mirip dengan diagram hubungan sebelumnya, tapi isinya sangat berbeda. Hanya terlihat benang hitam yang tak terhitung jumlahnya bergerak meliuk-liuk, berkumpul seolah-olah ingin menghancurkan sesuatu yang ada di tengahnya.

Benang merah muda yang tadi melindungi nama Kai tidak terlihat, yang ada di sana hanyalah benang hitam seutuhnya——sebuah kengerian yang seolah-olah merupakan gumpalan dari kebencian, kesedihan, dan dendam.

"Fuih…… tolong jangan sakit perut tiba-tiba dong."

Kai, sang pemilik ponsel, kembali dengan wajah bodohnya. Seolah bereaksi terhadap kembalinya Kai, layar ponsel kembali menampilkan benang merah muda dan nama Kai seperti sedia kala.

"Eh, baru sadar tapi benang hitamnya bertambah ya……? Sebenarnya ini apa sih."

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya apa tampilan layar yang muncul tadi…… Kai sendiri pun masih belum memahaminya sama sekali.

Tidak ada alasan bagiku untuk mendapatkan ucapan terima kasih…… Karena bertindak sesuai hasrat dan membuat orang lain tidak bahagia adalah hal yang biasa bagiku.

Tapi Anda berbeda…… Anda adalah orang pertama yang mengucapkan terima kasih kepadaku…… Mendapatkan ucapan terima kasih itu tidaklah buruk…… Tuan, kenapa Anda mengucapkan terima kasih padaku?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close