Chapter 5
Akhirnya Lengkap, Bro!
Sudah sekitar
satu minggu berlalu sejak aku berhasil mengusir penguntit yang membuntuti
Honma.
Dalam kurun waktu
tersebut, informasi mengenai pria itu sudah sampai ke telingaku. Meskipun aku
bukan pihak yang terlibat langsung, aku bisa mendapatkan informasi tersebut
melalui Honma.
"Pihak
kepolisian menghubungi aku karena mereka menemukan foto-fotoku, jadi aku datang
untuk memberikan keterangan.
Saat itu aku
mendengar bahwa pria tersebut mengakui segalanya dengan cara yang hampir
menjijikkan…… tapi anehnya, setelah itu dia tiba-tiba berbalik membantah semua
tuduhan.
Meski begitu,
percuma saja karena semua buktinya sudah lengkap. Polisi bilang perubahan sikapnya itu
benar-benar mengerikan."
Bagiku, situasi
saat itu sangat mudah dibayangkan. Sesuai perintahku, pria itu mengakui
kejahatannya dan menjelaskan semua bukti yang dia miliki dengan sangat rinci……
Yah, dari sudut pandang polisi, mereka mungkin mengira dia mengaku karena tidak
tahan dengan beban dosanya.
Namun, begitu
hipnotisnya lepas, dia kembali sadar dan sikapnya berbalik seratus delapan
puluh derajat…… Tentu saja polisi akan bingung melihat tingkahnya.
Yah, begitulah
kejadiannya. Bagi pria itu, kejahatan yang dia lakukan sebelum mengincar Honma
ternyata jauh lebih berat. Seperti yang kubayangkan, sekarang dia sudah tidak
punya waktu lagi untuk memikirkan Honma.
(Setelah
Aisaka dan Aguma, sekarang masalah Honma juga sudah selesai dengan aman…… Tentu
saja mungkin akan ada efek samping tertentu nantinya, tapi aku hanya perlu
terus memperhatikan Honma seperti yang kulakukan pada yang lainnya.)
Itu adalah
bayaran yang murah jika dibandingkan dengan kesenangan yang kudapatkan darinya.
Sejak saat itu,
tak perlu dikatakan lagi bahwa Honma telah bergabung menjadi salah satu partner
"Surga Intim Hipnotis"-ku, yang juga menjadi saluran pelampiasan
hasratku.
Setiap ada
kesempatan, aku selalu menyempatkan diri untuk merasakan kelembutan dadanya.
Dengan ini, aku telah mendapatkan tiga orang yang menjadi target utamaku…… atau
begitulah pikiranku.
"……Tapi,"
Hanya satu hal……
suasana di sekitar Honma terasa sedikit berbeda. Yah, mari berhenti
memikirkannya sekarang karena itu hanya akan membuatku lelah.
"Hah……"
"Senior? Ada
apa dengan helaan napas sejak pagi begitu?"
"Yangoraya-hoooi!!"
"……Cara
terkejut macam apa itu?"
Bagaimana tidak,
kalau kau tiba-tiba disapa dari belakang, siapa pun akan jadi begitu! Setelah mengeluarkan teriakan aneh
karena kaget, aku berbalik dan melihat Honma berdiri di sana.
Wajahnya
bukan lagi tanpa ekspresi seperti biasanya, melainkan tatapan dingin seolah
sedang melihat orang yang merepotkan…… Menurut Honma, dia tidak pernah
memberikan tatapan seperti ini kepada orang lain, dan aku adalah yang pertama.
Kata
"Pertama" memang terdengar sangat menggoda dan tidak buruk, tapi
ditatap dengan mata seperti itu membuatku merasa harga diriku sebagai senior
sedikit terluka…… Yah, tidak sampai membuatku sedih juga, sih.
"Selamat
pagi, Senior."
"……Pagi,
Honma."
Honma
tersenyum manis dan menyapa. Senyum itu pasti bisa memikat banyak pria…… tidak, bahkan sesama perempuan
pun pasti akan terpesona oleh kecantikannya.
(……Sejak
kejadian itu, kami jadi sering mengobrol begini setiap kali bertemu.)
Setelah insiden
itu, Honma selalu menyapaku setiap kali melihatku.
Tentu saja dia
akan menahan diri jika aku sedang bersama teman-teman atau di tempat yang
terlalu banyak mata di sekolah, tapi di jalan menuju sekolah seperti ini, dia
akan segera menghampiriku.
"Ngomong-ngomong,
teman-temanku sering bertanya. Mereka bilang ada senior yang akrab denganku,
dan bertanya orang seperti apa dia."
"Hee……?"
"Menurut
Senior, apa yang aku katakan pada mereka?"
Honma bertanya
dengan pandangan melirik yang membuat jantungku berdebar. Sambil menyadari
pipiku sedikit memanas, aku mencoba berpikir, tapi tidak ada jawaban yang
spesifik.
"Kau
tidak mengatakan hal buruk tentangku, kan?"
"Tentu
saja tidak——aku bilang bahwa Senior adalah orang yang sangat bisa
diandalkan."
"……………"
"Ah, Senior, wajahmu memerah, lho? Apakah ini…… karena sekarang musim panas?"
Gadis kecil ini……
dia pasti tipe orang yang suka menggoda teman dekatnya dengan sikap nakal!
Aku sejujurnya senang bisa seakrab ini dengannya…… tapi ini menyangkut harga diriku sebagai
senior. Sepertinya suatu saat nanti dia perlu diberi "pelajaran",
ya!?
"……Ehem! Setelah
itu…… tidak ada apa-apa lagi, kan?"
Pertanyaan ini
merujuk pada perkembangan setelah masalah penguntit itu.
"Tidak ada
apa-apa kok. Semuanya benar-benar aman."
"Begitu ya,
syukurlah kalau begitu."
"Terima
kasih, Senior."
"Tidak, ini
sudah jadi semacam kebiasaan."
Sama seperti
Aisaka dan yang lainnya, jadi ini bukan hal baru bagiku.
Setelah itu aku
berjalan sambil mengobrol dengan Honma untuk beberapa saat, lalu berpisah
dengannya ketika keadaan mulai ramai.
"……Umm."
Tetap saja……
meskipun semuanya disebabkan oleh hipnotisku, sampai sekarang aku masih tidak
mengerti kenapa aku bisa menjalin hubungan sebaik ini dengan mereka dalam
kondisi sadar.
Antara mereka
saat sadar dan mereka saat terhipnotis…… jika ditanya mana yang kuhabiskan
lebih lama dan lebih intens, jawabannya tentu saja saat terhipnotis.
Namun, frekuensi
interaksi akhir-akhir ini terasa seperti aku sedang menjadi protagonis di
sebuah novel ringan.
"Tapi yah……
kukuku!"
Gawat…… hanya
membayangkannya saja sudah membuat senyum menjijikkan keluar dari bibirku.
Soalnya hari ini, untuk pertama kalinya aku akan menempatkan
mereka bertiga dalam Hipnotis Pemesanan secara bersamaan dan menikmati
waktu foya-foya!
Tahu tidak, aku bahkan tidak bisa tidur semalam karena
saking bersemangatnya. Tapi akhirnya hari ini tiba…… Hari yang bersejarah! Aku
akan melakukan pencapaian besar dalam sejarah umat manusia…… Fufu……
Fuhahahaha!!
"……Fuu,
tenanglah, diriku."
Laki-laki sejati
harus selalu bersikap tenang dan pintar…… Baiklah, kegembiraanku sudah sedikit
mereda.
Namun, harapan
besar untuk jam istirahat siang nanti sepertinya terlalu kuat, sehingga saat
aku sampai di kelas, perasaan itu muncul kembali. Dan yang berdiri di depanku
adalah Shogo.
"……………"
"Kai……?
Kenapa kau menutupi wajahmu dengan tangan sejak tadi?"
"Tidak,
aku cuma sedang menahan diri agar tidak nyengir."
"Apa
maksudnya?"
Hmph, ini
adalah tingkat yang tidak akan pernah bisa kau capai. Tentu saja aku tidak akan
mengucapkan hal yang membuatku dicurigai. Aku boleh bangga pada diriku sendiri
sebagai laki-laki yang bisa menjaga rahasia…… tapi gawat, gawat.
(Pikiranku
jadi terlalu besar kepala gara-gara memikirkan jam istirahat siang……)
Sepertinya
aku terlalu kegirangan. Ada pepatah terkenal bahwa manusia sering melakukan
kesalahan yang tidak masuk akal saat mereka sedang terlalu senang.
Ibuku
pernah bilang kalau itu mirip dengan orang yang sudah terbiasa menyetir lalu
mengalami kecelakaan. Intinya, seperti yang kupikirkan tadi, aku harus
benar-benar berhati-hati.
"Ngomong-ngomong,
Kai. Kapan-kapan, ayo kita ke maid cafe lagi?"
"Aku sih
tidak keberatan, tapi sepertinya kau sangat menyukainya, ya?"
Mendengar
itu, Shogo mengangguk sambil tersenyum.
"Ya,
begitulah…… Di antara pelanggan lain ada orang yang kelihatannya benar-benar
jatuh cinta pada maid-nya, kan? Aku bukannya tidak mengerti perasaan
itu, tapi aku merasa benar-benar terhibur dan senang di sana."
"Benar
juga," aku pun mengangguk setuju.
Yang
melayaniku adalah Honma, dan aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana pelayan
lain melayani pelanggannya.
Tapi jika
dia bisa tersenyum dan bilang dia merasa senang, itu berarti toko tersebut
adalah toko yang bagus yang membuat Shogo dan banyak orang lainnya ingin datang
kembali.
(Dalam
hal itu, sayang sekali Honma harus berhenti, tapi setelah kejadian itu memang
tidak ada pilihan lain.)
Kalau
dipikir-pikir, aku jadi bertanya-tanya apakah ada orang lain yang mengalami
nasib seperti Honma, tapi sepertinya kasus itu berada di level yang jarang
ditemui…… kalau orang seperti itu ada banyak, dunia ini bisa hancur.
"Tapi
selain maid cafe, sepertinya belakangan ini ada banyak jenis kafe lain,
lho. Seperti Kafe Sengoku atau Kafe Fantasi."
"Eh,
apa itu?"
"Jadi
pelayannya berakting seperti panglima perang era Sengoku. Kalau Fantasi, secara harfiah mereka menggunakan
latar belakang dunia lain."
"Hee…… banyak macamnya juga, ya."
"Makanya,
ayo kita coba keliling ke tempat lain selain maid cafe kalau ada
kesempatan."
"Oke."
Sesuatu selain maid
cafe…… aku juga harus mulai mencari tahu.
"……Umm?"
"Apa?"
Di tengah percakapan, Shogo menatapku tajam sambil bergumam.
Aku tidak punya hobi merasa senang saat ditatapi oleh
laki-laki, tapi jika pelakunya adalah teman baik yang berharga bagiku,
ceritanya berbeda…… tapi ada apa?
"Belakangan ini Kai benar-benar memancarkan aura
kebahagiaan dari seluruh tubuhnya…… Serius, ada apa denganmu?"
"……Fuh."
"Ah, dia
malah tertawa meremehkan!"
"Bukan,
bukan, maaf. Suasana hatiku memang sedang sangat bagus sekarang."
"Makanya,
ada apa sebenarnya! Apa!"
Maaf ya, Shogo,
kalau yang satu ini benar-benar tidak bisa kuberitahukan padamu!
Setelah itu aku
terus mengobrol dengan Shogo sampai akhirnya dia pergi ke toilet dan aku
sendirian. Hampir semua murid sudah berada di dalam kelas, yang belum ada
hanyalah Akira dan murid-murid lain yang rajin latihan pagi.
"……Hmm."
Saat sendirian,
aku diam-diam membaca manga bertema hipnotis di ponselku.
Jelas ini bukan
sesuatu yang pantas dibaca di dalam kelas, tapi karena ini adalah karya tanpa
adegan dewasa, seharusnya tidak masalah…… Yah, meskipun tidak digambarkan, sang
protagonis pasti sudah melakukan hal-hal itu.
(Manga ini……
penggambaran perasaannya bagus dan menarik.)
Isinya
benar-benar hanya tentang protagonis yang melakukan hal-hal buruk kepada para
gadis.
(Sampai
sekarang aku sudah melihat banyak manga dan novel tentang hipnotis…… aku pikir itu menarik, dan aku sering
berfantasi seandainya aku punya kekuatan seperti itu…… dan sekarang, aku sedang
menggunakan kekuatan ini.)
Ya, sekarang aku
telah mendapatkan kekuatan yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang-orang di
dunia ini.
Hanya dengan ini
saja hidupku jadi menyenangkan, dan fakta bahwa aku bisa melakukan hal-hal yang
biasanya tidak bisa dilakukan membuatku berada di dimensi yang lebih tinggi
dari orang biasa.
Yah, sebenarnya
aku bisa melakukan apa saja, tapi sejauh ini aku tidak punya cara penggunaan
lain selain mempermainkan para gadis. Jujur saja, aku tidak punya hasrat untuk
menggunakan kekuatan ini selain untuk tujuan mesum.
(Kalau aku
mau, mencuri harta benda dari orang kaya pun akan sangat mudah…… tapi serius,
aku sama sekali tidak tertarik pada hal-hal seperti itu.)
Bukannya aku
ingin membenarkan apa yang kulakukan pada para gadis, tapi intinya aku hanya
tertarik pada perempuan!
"Aku
kembali…… kau sedang baca apa?"
"Manga
bertema hipnotis."
"Kau suka
sekali ya…… tapi yah, hipnotis memang romansa bagi laki-laki!"
"Shogo……
ternyata kau mengerti juga, ya!"
"Tentu
saja!"
Untuk teman
sepertimu, mungkin suatu hari nanti aku akan menceritakan soal Partner
padamu…… yah, meskipun mungkin itu baru akan terjadi di masa depan yang sangat
jauh.
Aku sudah bisa
membayangkan kau akan menertawakanku dan tidak percaya, tapi itu sudah cukup
untuk bahan obrolan——hanya saja, apakah saat itu Partner masih ada di
tanganku, dan bagaimana hubunganku dengan mereka nantinya…… yah, setidaknya aku
berpikir kalau hubungan dengan mereka akan terputus setelah lulus SMA.
"……Tiba-tiba
aku jadi merasa sedikit galau."
"Apa
katamu?"
"Bukan
apa-apa."
Shogo menatapku
dengan curiga, tapi karena upacara pagi akan segera dimulai, dia kembali ke
tempat duduknya.
Aku menyadari
Akira sudah ada di kelas, dan saat mata kami bertemu, dia melambaikan
tangannya.
Seperti biasa,
level ketampanannya begitu memukau sampai-sampai niat membunuhku hampir
merembes keluar, tapi aku akan memaafkannya hanya dengan sedikit mengacungkan
jari tengah.
Aku tertawa kecil
melihat ekspresi Akira yang seolah ingin memprotes keras tindakanku, lalu aku
melirik ke arah Aisaka.
"……………"
Tanpa tahu bahwa
aku sedang memperhatikannya, dia sedang asyik mengobrol dengan siswi di
sebelahnya menikmati waktu yang tersisa…… Tadi aku sempat berpikir kalau
hubunganku dengan dia dan yang lainnya akan terputus setelah lulus SMA, tapi
itu ternyata terasa cukup sepi juga.
Aku berencana
untuk lanjut ke universitas, dan jika itu terjadi, maka dengan kekuatan Partner
targetku hanya akan berganti saja…… Umm, itu memang sangat menggoda, tapi rasa
sepi itu mungkin tidak akan hilang.
"Ini
benar-benar dilema orang yang serakah……"
Meskipun
jam istirahat siang yang kunantikan sudah menunggu, aku malah merasa sedikit
galau sejak pagi hari.
◆◇◆
"TAPI TETAP
SAJA! AKHIRNYA SAAT INI TIBA JUGA!!"
Karena jam
istirahat siang yang kunantikan telah tiba, semangatku berada di puncaknya.
Rasa galau tadi
pagi sudah terbang tertiup angin…… yah, aku sudah melupakannya selama mengikuti
pelajaran, tapi aku benar-benar menantikan momen ini.
"……Oh."
Ruang kelas
kosong ini sudah seperti halaman rumahku sendiri, dan aku mulai bisa merasakan
jika ada orang yang mendekati ruangan ini. Buktinya, orang-orang yang kunantikan masuk
secara bersamaan.
"Kalian
datang juga."
Aisaka,
Aguma, dan Honma muncul secara berurutan. Aisaka dan Aguma berada di tingkat
yang sama, tapi Honma berasal dari tingkat yang berbeda jadi aku merasa sedikit
tidak enak padanya.
Apalagi
aku memerintahkan mereka untuk datang tanpa menarik perhatian orang lain, jadi
itu mungkin cukup berat bagi Honma.
"……Baiklah,
kalian bertiga, ke sini."
"Iya."
"Aku
mengerti."
"Baik."
Ketiganya
mendekat dengan patuh. Biasanya aku akan segera meminta mereka memelukku, atau
membenamkan kepalaku di dada mereka yang melimpah…… Meskipun belum terlalu
terbiasa, bagi Aisaka dan Aguma, ini adalah awal dari waktu yang luar biasa di
mana aku diperbolehkan menyentuh payudara mereka.
Namun,
karena ini pertama kalinya mereka bertiga berkumpul, aku tidak bisa menahan
diri untuk mengagumi pemandangan ini.
"Akhirnya
Aisaka, Aguma, dan Honma bisa berkumpul bersama…… Butuh waktu lama sampai hari ini tiba."
Di depan mereka
bertiga yang masih dalam kondisi linglung, aku teringat kembali semua
perjuanganku dan merasa terharu karena bisa menyambut momen ini.
"Nah, kalau
begitu, mari kita mulai waktu bersenang-senangnya."
Aku menatap
mereka bertiga sambil menggerak-gerakkan tanganku dengan antusias…… dan mulai
bingung harus melakukan apa.
"……Hmm."
Ini sulit, ya……?
Sampai sekarang maksimal hanya dua orang, jadi aku biasanya mengambil posisi di
mana aku diapit oleh mereka berdua di kedua sisi. Tapi jika ditambah satu orang
lagi, posisi mana yang paling pas?
"Masaki-kun."
"Ya?"
Saat aku sedang
bingung, Aguma angkat bicara. Sambil berpikir bahwa dia masih bisa bicara
secara alami seperti biasanya, aku tetap mendengarkan apa yang dikatakan Aguma.
"Di antara
kita, yang dadanya paling besar adalah aku."
"Umm?
Iya."
"Bagaimana
kalau Masaki-kun duduk menyandar padaku dengan lemas, lalu mereka berdua
memelukmu dari kedua sisi?"
"Aku
setuju."
Aku menjentikkan
jari dan segera mencoba saran Aguma. Kepada Aguma yang sudah duduk menyandar ke
dinding, aku pertama-tama duduk dengan menyandarkan punggungku padanya…… Tentu
saja aku tidak menimpakan seluruh berat badanku padanya.
"Pertama,
aku akan melakukan ini."
"……Ooh."
Dia tidak hanya
menerima punggungku, tapi juga melingkarkan lengannya di perutku, membuatku
merasa seolah-olah didekap oleh Aguma sepenuhnya…… Dan yang terpenting,
keindahan elastisitas yang kurasakan di punggungku benar-benar tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata.
Saat aku sedang
merasakan haru itu, Aisaka dan Honma duduk di dekatku dan merapatkan tubuh
mereka.
"Apa kami
cukup begini?"
"Senior,
bagaimana rasanya?"
"Bertanya
bagaimana rasanya? Tentu saja rasanya luar biasa."
Luar biasa…… aku
tidak tahu kata apa lagi yang bisa menggambarkan perasaan ini selain kata itu.
Keindahan yang sanggup menghentikan fungsi otakku…… Ada rasa bahagia di tempat
ini yang membuatku merasa sangat bersyukur telah hidup sampai sekarang.
"Rasanya aku
hampir ingin menangis."
"Ahaha,
sampai segitunya?"
Aisaka tertawa
kecil, tapi memang begitulah haru yang kurasakan.
"Itu…… aku
ini laki-laki yang mesum dan sangat jujur pada hasratku. Aku sangat
menyukai payudara perempuan, dan aku paling suka yang ukurannya besar."
Seolah sedang memberi ceramah pada mereka bertiga, aku
melanjutkan kata-kataku dengan tulus.
"Dalam kehidupan normal, momen menyentuh payudara
perempuan itu mustahil terjadi kecuali ada kecelakaan…… Di tengah ketiadaan mimpi dan harapan seperti itu,
aku bisa merasakan sensasi ini sekarang…… Bagaimana mungkin aku tidak
terharu?"
Aku merasa malu
sendiri karena berbicara begitu menggebu-gebu…… Namun, kata-kata yang keluar
dari mulutku tidak mau berhenti.
Lalu selama
sekitar lima menit nonstop, aku menceritakan semua pemikiranku tentang payudara
perempuan.
"Fuu…… eh,
Aguma, kau tidak apa-apa? Kau terus dalam posisi itu, apa kakimu tidak
kesemutan lagi seperti waktu itu?"
"Hari ini
tidak apa-apa. Aku sudah memperhatikan sudut kakiku dengan benar."
"Syukurlah
kalau begitu." Memang sudut kakinya sedikit berbeda, cara dia melipat
kakinya terlihat lebih nyaman dari sebelumnya.
"Aisaka dan
Honma tidak apa-apa?"
"Aku tidak
apa-apa kok♪"
"Aku juga
tidak apa-apa."
"Begitu ya,
baguslah."
Aku tersenyum
sama seperti mereka karena merasa lega.
"……Ah, benar-benar surga."
Hangat, lembut, dan aroma yang manis…… Seluruh ruangan ini
dipenuhi oleh hal-hal tersebut.
Jika bisa, aku
ingin tetap seperti ini bahkan setelah jam istirahat berakhir.
Tetapi jika aku
melakukannya, aku akan terlambat masuk pelajaran, dan yang paling penting,
bukan hanya aku yang akan dimarahi. Aku tidak bisa bersikap tidak bertanggung
jawab seperti itu.
"Masalah
Aisaka dengan mantan pacarnya, Aguma dengan masalah keluarganya, dan Honma
dengan masalah penguntitnya…… kalian bertiga terlibat dalam kerumitan yang
berbeda-beda. Tapi setelah semua yang terjadi, aku lega semuanya bisa selesai
dengan aman."
Aku
bergumam pelan, meresapi momen itu. Memang merepotkan, dan aku sempat
menyalahkan takdir—bertanya-tanya kenapa gadis-gadis yang aku incar semuanya
memiliki masalah seperti itu.
Namun
sekarang, aku berpikir bahwa justru karena mereka memiliki masalah itulah aku
bisa mengenal mereka seperti ini.
"Padahal
kejadian saat kamu menolongku dan Saika masih terasa baru, tapi sekarang kamu
juga sudah menolong junior kita tanpa kami sadari."
"Masaki-kun
memang tipe orang yang langsung bertindak untuk menolong seseorang…… Aku rasa
itu sangat keren."
"Sudahlah,
jangan memujiku berlebihan."
Berhenti
memujiku, nanti aku malah jadi besar kepala. Yah, sebenarnya aku sudah merasa
sedikit jemawa, tapi kalau aku terlalu merasa hebat, aku takut akan melakukan
kesalahan yang konyol.
"……Nah,
masih sempat."
Aku memeriksa
sisa daya baterai ponselku sejenak. Kekuatan Partner bisa menjangkau
hingga tiga orang sekaligus, tapi semakin banyak orang, semakin cepat daya
baterainya terkuras.
Artinya, dalam
kondisi menghipnotis tiga orang seperti sekarang, baterainya sedang terkuras
dengan kecepatan maksimal. Masih aman…… tapi aku harus tetap waspada.
"Hei
Masaki-kun, mau melakukan 'tren' yang belakangan ini sering kita lakukan?"
"Tren?"
Mendengar
kata-kata Aisaka yang tersenyum nakal, Honma memiringkan kepalanya, tapi aku
langsung mengerti maksudnya. Tren belakangan ini…… itu adalah menyentuh
payudara mereka.
Dulu aku tidak punya keberanian untuk menyentuh mereka atas
kemauanku sendiri, tapi setelah interaksi dengan Aisaka, aku berhasil melewati
tembok penghalang itu.
"……Apa
maksudnya itu?"
"Pendatang
baru diam dan tonton saja."
"Saika……
bahasamu ketus sekali, ya."
Aku juga berpikir begitu, Aisaka…… Tapi Honma tidak merasa tersinggung, dia malah
terlihat sangat penasaran. Aisaka yang ada di sampingku dan Aguma yang
ada di belakangku kini pindah ke depanku, dan keduanya membusungkan dada
mereka.
Aku meminta Honma, yang sejak tadi tampak bingung, untuk
menjauh sedikit, lalu aku merapatkan kedua tanganku ke arah Aisaka dan Aguma.
"Terima
kasih…… hari ini pun, izinkan aku untuk menyentuh kalian."
"Fufu,
Masaki-kun selalu melakukan itu ya?"
"Kami……
bukan Tuhan atau semacamnya, lho."
Apa yang kalian katakan! Menyentuh payudara wanita adalah
hal yang sangat sakral, jadi sudah sewajarnya aku melakukan semacam pemujaan
atau doa seperti ini, kan!?
"……Baiklah,
aku mulai."
"Silakan."
"Iya."
Seolah-olah
menyuruhku menyentuh sepuasnya, Aisaka dan Aguma menggoyangkan dada mereka.
Payudara melimpah
itu tidak hanya dibalut oleh kemeja, tapi juga disangga oleh bra agar bentuknya
tetap terjaga…… Meski begitu, guncangan yang memberikan gambaran nyata tentang
elastisitasnya membuat pandanganku terpaku dan tak bisa beralih.
Perlahan…… seolah
sedang menyentuh harta karun yang sangat berharga, aku menyentuh dada mereka
berdua dengan kedua tanganku.
"Ah……"
"Uun……"
"——♪"
Begitu bersentuhan, sensasi kepenuhan dan kelembutan yang
luar biasa yang merambat ke telapak tanganku membuatku hanyut dalam pusaran
emosi.
Seandainya aku punya kekuatan untuk memanipulasi fenomena
dunia sesukaku, aku ingin menghentikan waktu sepenuhnya dan berendam dalam
momen ini…… Keharuan yang ada pada payudara mereka membuatku ingin terus
menyentuh mereka selamanya.
"Jangan cuma menyentuh, kamu boleh meremasnya juga,
lho?"
"O-oh……"
"Seperti
kemarin lusa, gunakan sedikit tenaga…… ayo, ingatlah lagi. Dada kami yang
seolah hampir tumpah dari celah jari-jari Masaki-kun…… rasakan sensasi itu
sekali lagi?"
"……Aguma,
apa kau sedang menulis novel dewasa?"
Aisaka yang
dengan santainya bilang boleh meremas memang keterlaluan, tapi Aguma yang
bicara dengan gaya puitis juga sama saja…… Tapi tentu saja, aku berniat
melakukannya!
"Remas,
remas."
Aku melakukannya
dengan lembut, sangat lembut…… tidak kasar sama sekali, dan memberikan
perhatian penuh agar mereka tidak merasakan sakit sedikit pun.
Payudara Aisaka
dan Aguma yang berubah bentuk mengikuti gerakan tanganku benar-benar besar.
Bukan seperti siswi SMA, ukurannya lebih menyerupai orang dewasa…… setara, atau
bahkan melampaui model gravure berdada besar.
"……Entahlah……
setiap kali aku meremasnya dengan sedikit tenaga, aku merasa seperti ada hujan
kebahagiaan yang memancar dari dada kalian berdua ke arahku."
"Ahaha, cara
bicaramu lucu sekali, Masaki-kun."
"Seperti
sedang memerah susu ibu?"
Kenapa sih Aguma
selalu mengatakan hal seperti itu dengan wajah datar!?
Memang benar
ukurannya terasa seperti menyimpan sesuatu yang melimpah…… tapi bukan itu
maksudnya! Setelah berdehem pelan, aku kembali memusatkan perhatian pada
elastisitas di tanganku.
"Hei Aisaka,
juga Aguma. Meskipun akulah penyebab kalian berakhir disentuh-sentuh seperti
ini, apa kalian benar-benar tidak keberatan?"
"Aku tidak
keberatan, kok? Malah…… menurutku itu terlihat manis."
"Karena ini
Masaki-kun, aku sama sekali tidak masalah…… lagipula aku juga merasa itu manis,
sama seperti Kak Matsuri."
Syukurlah kalau
tidak keberatan, tapi aku harap kalian berhenti menyebutku manis…… Setelah itu,
selama sekitar lima menit aku terus meremas payudara mereka dengan lembut.
Setelah aku merasa cukup puas dan melepaskan tanganku, Honma
tiba-tiba memegang lenganku.
"Curang……
apakah aku tidak boleh?"
"Ho-Honma……?"
"Jika itu aku, Anda boleh melakukannya dengan lebih
kasar dan kuat…… Kumohon, berikan juga belas kasihan kepada saya……
Kumohon!"
"Hiiih!?"
Melihat sikap dan
kata-katanya yang memelas, bahkan aku pun merasa sedikit ngeri. Padahal dia
dalam kondisi terhipnotis, tapi Honma…… yah, yang lainnya juga sama saja, tapi
Honma ini seolah-olah menunjukkan ego yang begitu kuat sampai-sampai aku ragu
apakah dia benar-benar terikat oleh kekuatan hipnotis.
Hei, Partner, apa kau bisa melakukan sesuatu tentang
ini!?
"Kenapa tidak menyentuhnya juga?"
"Tidak adil kalau cuma kami berdua."
"……………"
Jika
kalian berdua bilang begitu…… akhirnya, aku berbalik ke arah Honma. Berbeda
dengan Aisaka dan yang lainnya, masa hipnotis Honma masih sangat baru, dan
interaksi kami belum sedalam itu…… makanya aku merasa cemas apakah ini akan baik-baik saja.
"Tidak perlu cemas, Senior…… ayo!"
"……Kamu
bersemangat sekali, ya."
Tapi yah…… kalau
dia sendiri yang memintanya, tidak ada alasan untuk menolak!
Takut karena dia
yang meminta?
Merasa tertekan sampai ingin mundur?
Tidak peduli! Aku
ingin melakukan hal sesukaku pada para gadis…… bukankah itu tujuan awal aku
menginginkan Partner!?
"……Hup!!"
"Ah♡"
Meskipun suaraku terdengar penuh semangat, sentuhanku
tetaplah lembut.
Saat menyentuhnya, suara Honma yang sulit digambarkan
membuat jantungku berdebar, tapi aku tidak menghentikan aksiku.
Dibandingkan Aisaka dan Aguma, ukurannya memang lebih kecil,
tapi tetap saja ukurannya sudah lebih dari cukup.
"……Honma, maaf ya, tolong puas dengan segini
dulu."
"Padahal lebih kuat lagi juga tidak apa-apa, lho."
"Kamu
benar-benar sedang terhipnotis, kan?"
Aku
sampai reflek memeriksa apakah Partner masih aktif. Di bawah tatapan
hangat Aisaka dan Aguma, aku meremas dada Honma yang kelihatannya masih sedikit
merasa kurang…… Sebenarnya ini situasi macam apa?
Tapi yah,
tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah momen terbaik. Dulu aku sama sekali tidak bisa menyentuh mereka
atas kemauanku sendiri, tapi sekarang aku bisa melakukannya. Ini adalah
perkembangan yang besar.
"……Fuu,
puas, puas."
Meskipun waktunya
sangat singkat, pencapaiannya sangat besar. Sisa waktu istirahat siang tinggal
sekitar lima belas menit…… Baterai juga masih aman, jadi sepertinya aku masih
bisa menghabiskan waktu di sini sedikit lagi.
"Masaki-kun
terlihat sangat senang."
"Tentu saja
aku senang. Sudah kubilang berkali-kali, bagi laki-laki, payudara perempuan itu
penuh dengan mimpi. Bisa merasakannya sendiri adalah sebuah kebahagiaan."
Mendengar itu,
Aisaka menanyakan hal ini.
"Hei
Masaki-kun? Seandainya kami…… menunjukkan wajah tidak suka sedikit saja, apa
kamu akan berhenti menyentuhnya?"
"Itu
sih……"
Tiba-tiba, aku
berpikir apa yang akan kulakukan. Lalu…… meskipun kata-katanya tidak tersusun
dengan sempurna, aku menjawab sambil memandangi mereka bergantian.
"……Memang
benar aku berpikir ingin melakukan hal sesukaku. Menjadi bajingan terjahat dan terburuk, lalu
melahap kalian sesuka hasratku…… Aku berpikir begitu, tapi kalau kalian
menunjukkan wajah tidak suka atau menangis, tanganku pasti akan berhenti."
Kenyataannya,
meski dalam situasi yang berbeda, itulah yang terjadi pada mereka di awal. Saat
melihat Aisaka yang menyakiti diri sendiri dan Aguma yang mengalami kekerasan,
hasratku langsung surut.
"Aisaka dan
Aguma memang seperti itu…… tapi untuk Honma, aku malah merasa ngeri karena hobi
kamu jauh melampaui perkiraanku."
"Aku tidak mau dibilang ngeri oleh Senior, lho?"
Melihat tatapan
tajam Honma, aku tertawa dan membenarkannya.
"Dalam manga
bertema hipnotis yang aku tahu, tidak ada karakter yang merespons atau
berbicara seolah-olah mereka masih punya kesadaran seperti kalian. Mereka
benar-benar searah, dan kata 'boneka' sangat cocok untuk menggambarkan
mereka."
Dalam hal menjadi
boneka yang patuh, mereka bertiga pun tidak ada bedanya. Meski begitu,
perubahan ekspresi, intonasi suara, dan yang paling utama adalah fakta bahwa
percakapan kami terjalin dengan sangat baik sampai-sampai aku meragukan apakah
mereka benar-benar terhipnotis. Itulah perbedaan terbesarnya.
"Tema
hipnotis…… aku tidak pernah membacanya, tapi aku sering melihatnya di iklan.
Para pahlawannya terlihat menangis…… aku tahu mereka jelas-jelas tidak
menyambut kehadiran sang protagonis."
"Bukankah biasanya memang begitu? Tidak mungkin ada
wanita yang menyambut laki-laki yang menyentuh atau memerkosa mereka tanpa
sepengetahuan mereka."
"Berarti
kami berbeda, ya."
"Benar
juga."
Cara bicara
kalian seolah-olah bilang kalau aku memerkosa kalian pun kalian tidak akan
keberatan sama sekali?
"Ada
apa?"
"Masaki-kun?"
"??"
Eh, apa boleh aku
memerkosa kalian……? Karena aku menatap mereka seperti itu, akhirnya mereka
bertiga balas menatapku secara bersamaan, membuatku segera memalingkan wajah.
(Memerkosa……
tentu saja itu adalah kenikmatan utama dari aplikasi hipnotis. Lawan bicara
tidak punya kesadaran, jadi aku bisa melakukan apa saja tanpa ketahuan…… Ada pepatah yang bilang kalau
tidak ketahuan berarti bukan kriminal.)
Aku…… ingin
melakukan hal sesukaku pada para gadis. Itu seharusnya mencakup tindakan
yang lebih jauh daripada sekadar meremas dada seperti sekarang…… Aku seharusnya
memikirkan hal itu, tapi entah kenapa aku merasa ada hambatan untuk melewati
batas tersebut.
"Meskipun rasanya aneh dikatakan oleh orang yang sedang
meremas dada begini, tapi melewati batas itu sepertinya harus atas persetujuan
kedua belah pihak…… kan?"
"Kalau aku
sih tidak keberatan meski dipaksa, lho?"
"Kamu,
mending diam sebentar deh."
Aku
memberikan pukulan karate ringan ke dahi Honma. Dahinya sedikit memerah karena
terkena serangan itu, tapi Honma malah mengusap bagian yang memerah itu sambil
tersenyum…… Anak ini benar-benar terlalu kuat.
"Waktu
istirahat hampir berakhir…… terakhir,
Aisaka, terima aku!"
"Fufu,
kemarilah——♪"
Karena suasana
hatiku hari ini ingin mengakhirinya dengan Aisaka, aku melompat ke arahnya yang
sudah merentangkan tangan. Meskipun aku bilang melompat, tentu saja itu adalah soft
dive…… Sambil bertanya-tanya apa itu soft dive, aku memutuskan untuk
menikmati dada Aisaka dengan seluruh wajahku!
"Cup, cup, Masaki-kun memang manis ya."
"Berhenti memanggilku manis."
"An~♪ Sudah kubilang jangan bicara di dalam dadaku,
kan?"
"Maaf!"
"Duh, benar-benar deh…… dasar nakal♪"
Kuaaaa! Sensasi kepala yang dielus-elus di dalam dada ini
benar-benar luar biasa!!
"Senior…… terlihat sangat senang."
"Padahal punyaku lebih besar."
"Kumohon, jangan melotot begitu, Saika."
Apa Aguma melotot?
Aku penasaran apa yang terjadi di tempat yang tidak terlihat
olehku, tapi dengan berkonsentrasi pada elastisitas ini, hal lainnya jadi tidak
penting…… Namun, aku tidak bisa
melewatkan kata-kata yang menyusul kemudian.
"Masaki-kun selalu bilang ingin jadi bajingan atau
orang terburuk, tapi aku rasa itu mustahil. Masaki-kun tidak akan pernah bisa menjadi sosok seperti itu."
"Kenapa
memangnya?"
Aku mengeluarkan
wajahku dari belahan dadanya dan menatap Aisaka dari jarak dekat. Dia tertawa
kecil dan melanjutkan.
"Karena
Masaki-kun itu sangat baik. Bagi kami, kamu itu seperti penyelamat——orang yang
sudah menolong orang lain seperti itu tidak mungkin bisa menjadi
penjahat."
"……Aku tidak
baik——"
"Kenyataan
bahwa kami tidak menganggap buruk Masaki-kun…… itulah jawabannya, kan?"
"——"
Itu bukan sebuah
jawaban…… tapi aku tidak bisa mengatakannya. Aku baik? Penyelamat? Apa-apaan
itu…… Bukankah itu kata yang paling jauh dariku…… Tapi, sepertinya tidak ada
gunanya seberapa keras pun aku menyangkalnya.
"Orang jahat tidak akan menyelesaikan masalah kekerasan
dalam rumah tangga."
"Juga tidak akan menyelesaikan masalah penguntit,
kan?"
Ka-kalau kalian bilang begitu, aku benar-benar tidak bisa
membantah lagi……! Aku kembali membenamkan wajahku ke dada Aisaka seolah sedang
merajuk, dan menghabiskan sisa waktu dalam elastisitas yang agung.
◆◇◆
Tidak bisa menjadi penjahat…… Aku tidak menyangka dia akan
mengatakannya dengan sejelas itu.
Lagipula, pada saat aku menggunakan aplikasi hipnotis untuk
melakukan hal sesukaku pada mereka, aku sudah sadar sepenuhnya bahwa aku adalah
penjahat dan bajingan yang paling rendah.
"……Umm."
Pada akhirnya,
aku terus memikirkan hal itu sejak saat itu.
Gara-gara itu,
bahkan setelah sekolah berakhir dan aku sampai di rumah, aku masih teringat
kembali interaksiku dengan Aisaka dan yang lainnya…… Fuhe.
"Gawat,
gawat…… Padahal aku sedang memikirkan hal serius, tapi aku malah terus teringat
sensasi dari mereka bertiga."
Tertawa sendiri saat teringat sesuatu memang tidak masalah,
tapi kalau aku terus melakukannya di depan pintu masuk rumah dan dilihat
tetangga, aku tidak tahu apa yang akan mereka katakan. Jadi aku segera membuka
pintu depan dan masuk ke dalam.
"Aku pulang…… oh."
Aku kira belum ada yang pulang, ternyata sudah ada sepatu
Kakak dan Ibu. Aku mendengar percakapan dari arah ruang tamu, jadi aku akan
menyapa mereka sebentar sebelum kembali ke kamar.
"Aku
pulang~"
"Ah, selamat
datang kembali, Kai."
"Selamat
datang kembali."
Mereka adalah dua
wanita perkasa yang menyokong rumah ini. ……Tapi, setiap kali melihat Kakak dan
Ibu sedang bersama seperti ini, aku selalu hampir tertawa.
Kenapa?
Karena lupakan
soal Ibu, Kakakku malah terlihat tidak lebih dari anak SD yang sedang
bermanja-manja pada ibunya.
"Kai?
Barusan kamu memikirkan sesuatu yang sangat tidak sopan, kan?"
"Entahlah
ya……"
Eii! Kenapa
Kakakku ini bisa begitu tajam!? Sambil menghindari tatapan tajam Kakak, aku
mengambil teh gandum dari kulkas karena merasa haus. Saat aku sedang meminum
teh gandum dingin itu dengan lahap, Ibu mengatakan sesuatu yang tidak perlu.
"Karena ini
Kai, pasti dia tadi berpikir kalau Miyako masih terlihat seperti anak SD,
kan?"
"Pffft!?"
Ibu yang suka
bercanda…… Terutama kalau soal mengolok-olok aku dan Kakak, Ibu benar-benar
hebat! Tapi kali ini tebakannya terlalu tepat sampai aku tidak bisa menahan
reaksi!
"Kai…… benarkah itu?"
"Itu……"
"Hukuman
mati."
"INI TIDAK
ADIL!!"
Apa pun yang
kupikirkan di dalam hati itu kan hakku!?
Kalau tidak
diucapkan dan lawan bicara tidak dengar, berarti dianggap tidak ada, kan!?
Tapi
ketidakadilan ini! Lupakan soal Ibu yang terlihat bersenang-senang, aku harus
bersiap menghadapi Kakak yang sepertinya akan menerjangku!
"Ayo maju
kalau berani!!"
"Bagus juga
sikapmu itu, dasar bocah tengik…… uraaaa!!"
Begitulah, tak
lama setelah sampai di rumah, perang antara aku dan Kakak pun pecah——tentu saja
pemenangnya segera ditentukan, dan pecundangnya adalah aku.
"Tidak
ada adik yang bisa menang melawan kakaknya."
"……………"
Kakak
duduk di atas punggungku yang sedang merangkak. Sial…… Kakak ini benar-benar
terlalu kuat…… Memang benar adik tidak bisa menang melawan kakaknya, tapi
lawanku kan Kakak yang punya fisik seperti anak kecil?
Kenapa aku yang sudah tumbuh besar begini malah tidak bisa
berkutik sedikit pun!
"Hayo,
kamu sedang memikirkan hal tidak sopan lagi, kan?"
Kakak
yang lagi-lagi punya firasat tajam itu kemudian menjepit wajahku dengan
pahanya. Bagi Kakak, ini mungkin cara untuk menggangguku, tapi bagi seorang
wanita, ini terlalu tidak sopan.
"Miyako, itu
terlalu tidak sopan, lho."
"Iya,
iya~"
"Astaga……"
Berkat satu
teguran dari Ibu yang menjadi penyebab pertengkaran ini, Kakak akhirnya
melepaskanku.
(……Benar-benar
deh, di rumah ini posisi laki-laki tidak ada harganya ya, Ayah.)
Dalam waktu
dekat, aku akan mengajak Ayah makan sushi…… Di sana aku akan menumpahkan semua
keluh kesahku tentang Kakak dan Ibu.
(……Tapi yah.)
Apa pun yang
dilakukan atau dikatakan padaku, aku tidak akan pernah membenci mereka. Kakak,
Ibu, bahkan Ayah pun pernah mengatakannya beberapa kali…… Bahwa aku tidak
pernah sekalipun mengalami masa puber yang memberontak.
"……………"
Masa
pemberontakan…… aku dengar itu adalah masa di mana seseorang ingin membangkang
pada orang tuanya, kan?
Aku…… tidak
pernah sekalipun, bahkan terhadap Kakak, berpikir bahwa kehadiran mereka
mengganggu. Karena ya begitu, kan?
Keluarga…… bagiku
keluarga adalah keberadaan yang sangat penting, orang-orang yang sangat
kusayangi…… Aku tidak pernah bisa, bahkan sebagai candaan sekalipun, bilang
kalau aku membenci mereka atau berpikiran seperti itu.
"……Haha."
Aku malah
memikirkan hal yang sangat memalukan…… Ini bukan gayaku. Teh gandum di gelasku
sudah habis, dan aku ingin menambah satu gelas lagi.
"Ah benar
juga, tadi kami sedang membicarakan Kai, lho."
"Tentang
aku……?"
Saat aku
memiringkan kepala, Ibu memberi tahuku dengan riang.
"Aku dengar
dari Miyako, kamu menolong anak yang namanya Aisaka itu, ya? Aku sudah tahu kok
kalau anakku ini anak yang sangat baik. Tapi aku bangga bisa mendengar kalau kamu
benar-benar menolong seseorang."
"……………"
Jadi
Kakak membocorkannya, ya……! Bukannya itu cerita yang buruk jika didengar orang
lain, tapi menceritakannya sampai ke Ibu itu benar-benar memalukan!?
"Jangan
lupakan anak yang namanya Aguma juga, ya."
"Benar juga.
Aduh Kai, ceritakan dong pada Ibu! Meskipun ini urusan pribadi jadi aku tidak
akan menceritakan soal gadis-gadis itu, tapi aku ingin pamer pada tetangga
kalau anakku ini sangat luar biasa!"
"Eh,
jangan!? Aku tidak menolong mereka dengan maksud seperti itu!"
"Aduh, kamu
rendah hati sekali! Sini Kai! Sini, Ibu akan memelukmu erat-erat!"
"Ini
memalukan, jadi kumohon hentikan!"
SUDAH CUKUP!!
Biasanya aku mencuci sendiri gelas yang kupakai, tapi kali ini aku minta maaf,
aku akan membiarkannya begitu saja dan melarikan diri! Setelah melarikan diri dari
tatapan hangat…… dan penuh kasih sayang itu, aku langsung mengurung diri di
kamar.
"……Hah."
Aku meletakkan tas di meja dan menghela napas sambil duduk
di pinggir tempat tidur.
"Rasanya hari ini…… aku banyak dipuji, ya."
Baik itu
interaksi saat jam istirahat siang, maupun interaksi barusan…… Tanpa bermaksud
bercanda, rasanya aku sudah dipuji sebanyak jatah beberapa tahun, tapi aku
menyadari kalau keduanya memiliki kesamaan, yaitu terjadi setelah aku
mendapatkan Partner.
"Padahal
seharusnya tidak begini……"
Tujuanku
sebenarnya hanyalah ingin melakukan hal sesukaku pada para gadis. Tapi entah
kenapa "nilai jual"-ku malah terus meningkat…… Rahasia mereka yang
mulai terungkap setelah aku menggunakan Partner.
Aku tidak bisa mengabaikannya dan akhirnya
menyelesaikannya…… Tentu saja bukan karena aku yakin bisa menyelesaikannya,
tapi itu juga berkat aku yang terlalu percaya pada kekuatan Partner yang
terlalu kuat dan berharap semuanya akan berjalan baik.
"Hidup ini benar-benar…… sulit ditebak, ya."
Aku
mengambil ponsel dan menyalakan Partner. Karena tadi siang aku
menghipnotis tiga orang sekaligus, baterainya tinggal sedikit…… Serius, kalau
melayani mereka bertiga, baterainya langsung habis hanya dalam waktu satu jam
istirahat siang saja.
"Yah, ini
mungkin harga dari kekuatan yang terlalu besar!"
Terima kasih
untuk hari ini, Partner. Tak lama setelah aku mengucapkan terima kasih
seperti biasanya, tiba-tiba aku merasa sakit perut dan harus buru-buru ke
toilet…… Benar-benar
deh, aku tidak bisa bersikap keren sampai akhir.
◆◇◆
Tak lama
setelah Kai keluar dari kamar sambil memegangi perutnya. Layar ponsel yang
ditinggalkan Kai masih menampilkan diagram hubungan yang menjadi misteri
baginya.
Nama Kai
yang terletak di tengah, dikelilingi oleh dua jenis benang, yaitu benang
berwarna merah muda dan hitam yang bergerak meliuk-liuk.
Benang
merah muda itu terasa sedikit mesum, sementara benang hitam terasa agak
mengerikan seperti yang dikatakan Kai. Siapa pun pasti akan memiliki kesan yang
sama saat melihat benang hitam yang bergerak-gerak itu.
『……………』
Saat ini tidak
ada siapa-siapa di ruangan ini. Tentu saja tidak ada suara ataupun tanda-taca
kehadiran siapa pun…… Namun, layar ponsel yang seharusnya sudah tidak disentuh
oleh tangan Kai itu tiba-tiba berkedip seolah-olah memiliki kehendak sendiri.
『……………』
Di dalam layar
tersebut, benang hitam mendekati nama Kai. Namun, benang-benang merah muda
seolah-olah menepis semuanya…… seolah-olah mereka sedang melindungi dan
menghalau benang hitam itu.
Kekuatannya
benar-benar seperti sedang memecut…… Benang hitam itu terpaksa menjauh tanpa
bisa berbuat apa-apa terhadap benang merah muda.
『……………』
Lalu, itu terjadi hanya dalam sekejap. Layar seolah-olah
goyah sebentar, lalu muncul tampilan layar yang sama sekali berbeda.
『……………』
Tampilannya mirip dengan diagram hubungan sebelumnya, tapi
isinya sangat berbeda. Hanya terlihat benang hitam yang tak terhitung jumlahnya
bergerak meliuk-liuk, berkumpul seolah-olah ingin menghancurkan sesuatu yang
ada di tengahnya.
Benang merah muda yang tadi melindungi nama Kai tidak
terlihat, yang ada di sana hanyalah benang hitam seutuhnya——sebuah kengerian
yang seolah-olah merupakan gumpalan dari kebencian, kesedihan, dan dendam.
"Fuih…… tolong jangan sakit perut tiba-tiba dong."
Kai, sang pemilik ponsel, kembali dengan wajah bodohnya.
Seolah bereaksi terhadap kembalinya Kai, layar ponsel kembali menampilkan
benang merah muda dan nama Kai seperti sedia kala.
"Eh, baru sadar tapi benang hitamnya bertambah ya……?
Sebenarnya ini apa sih."
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya apa tampilan layar yang muncul tadi……
Kai sendiri pun masih belum memahaminya sama sekali.
♡ ♡ ♡
Tidak ada alasan
bagiku untuk mendapatkan ucapan terima kasih…… Karena bertindak sesuai hasrat
dan membuat orang lain tidak bahagia adalah hal yang biasa bagiku.
Tapi Anda
berbeda…… Anda adalah orang pertama yang mengucapkan terima kasih kepadaku……
Mendapatkan ucapan terima kasih itu tidaklah buruk…… Tuan, kenapa Anda
mengucapkan terima kasih padaku?
♡ ♡ ♡



Post a Comment