Chapter 6
Sebuah Undangan
Hari pun
berganti. Elga dan Luna datang untuk sarapan bersama kami seperti biasanya.
Aku
menceritakan kejadian semalam kepadanya, dan dia menanggapi dengan wajah letih.
"Oh, jadi dia sudah datang..."
"Jadi kau mengenalnya," kataku.
"Kurasa tidak ada orang yang sudah lama tinggal di
pulau ini yang tidak mengenal nama nenek sihir itu."
Menurutnya, Wilhelmina Vermilion Vauheim adalah makhluk
tertua di pulau ini. Dia bahkan
lebih tua daripada anggota ras berumur panjang mana pun yang menetap di sini.
Dia
termasuk salah satu yang terkuat dalam arti yang sebenarnya. Dulu, dia pernah
memperebutkan kekuasaan di pulau ini melawan orang-orang seperti Leluhur Elga,
sang Divine Beast Fenrir, dan Leluhur Tailtiu, sang Divine Dragon Bahamut, saat
mereka masih hidup.
Itulah
identitas asli gadis berambut emas yang mengunjungi kami semalam.
"Dia tidak
terlihat seperti itu bagiku..." ucapku.
"Itu karena
penampilannya seperti anak kecil. Tapi dia itu sumber masalah. Kalau dia sudah
tertarik padamu..."
Elga menutup
mulutnya sebelum menyelesaikan kalimatnya. Kemudian, seolah mengingat sesuatu,
dia mulai gemetar.
Prajurit Divine
Beastfolk yang memiliki kepercayaan diri mutlak pada kekuatannya ini tampak
ketakutan.
Apakah dia
benar-benar ancaman sebesar itu?
Luna, yang duduk
secara diagonal di seberangku sambil memakan sup, mendongakkan wajahnya seolah
ada sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya.
"Mengingat
hal itu, setelah Mina memprovokasi Elga, dia akhirnya menikahi Nona
Livia."
"Hentikan, Luna... Jangan membuatku mengingat itu
lagi..."
"Apaaa? Tapi
itu kan cerita yang bagus!" Luna menempelkan kepalanya di meja sambil
mengayun-ayunkan kakinya. Dia tampak sangat ingin menceritakannya.
"Pernikahan?"
tanyaku.
"Oh, jadi
kau sudah menikah, Elga?" timpal Reina.
"Ada apa
dengan tatapan itu? Ya, aku sudah menikah, memangnya ada yang salah?"
sahut Elga.
"Tidak, tapi
maksudku..." kataku.
"Baguslah."
Sudah sebulan
sejak kami mulai tinggal di pulau ini. Elga dan Luna datang makan bersama kami
hampir setiap hari sejak kami bertemu.
Tentu saja mereka
tidak tinggal sepanjang hari, tapi tetap saja, frekuensi kunjungan mereka
sangat mengesankan. Jika dia punya istri, bukankah itu akan menjadi sedikit
masalah?
Saat aku
menanyakan hal itu, Elga berdeham dengan canggung.
"Hmm,
ehem! Jangan khawatir. Dia belum tahu sejauh ini."
"Hah?
Tapi saat kita meninggalkan desa tadi, Nona Livia bertanya apa yang kulakukan
setiap hari, dan aku bilang padanya kalau aku makan di sini bersamamu,"
ucap Luna dengan polosnya.
Seketika itu
juga, Elga membeku.
"Hei, Luna... Kau tahu apa yang baru saja kau
lakukan?!"
"Apa, kalau dia memang tahu, bukankah kau tinggal
mengundangnya ke sini saja?" tanya Reina.
"Kau selalu
membantu kami, jadi kami pasti bisa mentraktir istrimu juga."
"S-Serius, jangan khawatir soal itu! Kalau kau
mengundangnya ke sini, ketenangan dan kedamaianku akan hancur!" kata Elga
panik.
Biasanya dia cukup tenang, kecuali saat sedang makan, tapi
sekarang dia sangat terguncang—seperti suami yang ketahuan selingkuh oleh
istrinya.
"Mungkinkah lingkungan rumah Elga tidak terlalu
baik?" tanya Reina.
"Bukan
begitu," sahut Luna. "Kurasa dia hanya malu. Lagipula, Nona Livia
benar-benar sangat mencintainya."
"Hei, Luna!
Jangan ikut campur!"
Begitu rupanya.
Mungkin pria yang mengandalkan kejantanan ini sebenarnya menunjukkan sisi yang
berbeda saat di rumah. Sebagai temannya, aku ingin sekali melihatnya.
"Dan ada apa
dengan ekspresi itu, Arata? Asal kau tahu, tidak ada yang lucu soal ini!"
"Tidak ada
yang bicara apa-apa," jawabku.
"Wajahmu
menyeringai lebar! Lagipula, tidak perlu mengundang Livia—"
"Bagaimana
dengan aku?"
Saat itu juga,
mulut Elga membeku dalam keadaan terbuka.
Mendengar suara
wanita yang asing, kami menoleh ke arah sumber suara. Di sana, kami melihat
seorang wanita dengan rambut hijau zamrud indah yang mengingatkan pada samudra,
diikat model kuncir kuda.
Dia mengenakan
pakaian gaya Jepang yang tampak nyaman—yang pasti merupakan pakaian standar di
desa Divine Beastfolk—dan dia memancarkan kesan lembut.
Semua wanita di
pulau ini yang kutemui sejauh ini tampak masih di bawah umur, tapi dia terlihat
seperti berusia awal dua puluhan. Dia memiliki aura dewasa yang agak
seksi.
"Livia... Ke-Kenapa kau ada di sini?" tanya Elga.
"Kau pergi keluar setiap hari, Sayang, dan aku
bertanya-tanya apa yang kau lakukan... Oh, dan tentu saja aku mendengar soal
ini dari Luna, jadi aku tidak berpikir kau selingkuh atau semacamnya, oke? Tapi
kau tahu, bukan berarti aku tidak merasa diabaikan oleh suamiku sendiri... apa
yang harus kulakukan soal itu?"
"A-Aku tidak mengabaikanmu!"
"Tapi tidak perlu mengundangku, kan? Bagimu, aku
hanyalah wanita yang tidak layak diundang, benarkah begitu?" Livia
mengusap matanya dengan lengan kimononya, memberi isyarat seolah dia sedang
menangis.
"Oh, um, begini..." Mata Elga melirik ke segala
arah, dan dia tampak tersiksa memikirkan apa yang harus dilakukan.
Sedangkan Reina
di sampingku memberikan tatapan dingin pada Elga. Sebagai sesama wanita,
mungkin ada sesuatu dalam diri Livia yang membuatnya merasa simpati.
Omong-omong,
wanita lain di sini—Luna dan Tailtiu—hanya memakan makanan mereka tanpa
mempedulikan situasi opera sabun yang sedang berlangsung ini.
Aku
harap aku bisa bergabung dengan mereka.
"Uhh, dia...
Dia istriku," kata Elga, akhirnya memberikan perkenalan singkat kepada
kami.
"Senang
bertemu dengan kalian. Aku istri Elga, namaku Livia," ucapnya sambil
menundukkan kepala dengan sopan dan memperkenalkan diri dengan anggun.
Dia menambahkan
bahwa Leluhurnya adalah Divine Beast Leviathan, dan aku melihat dia memiliki
ekor seperti naga yang keluar dari bagian belakang kimononya.
Citra yang muncul
di pikiranku tentang Leviathan dalam mitos adalah naga laut, tapi rupanya dia
baik-baik saja tinggal di daratan. Yah, mungkin itulah perbedaan antara
Divine Beast dan Divine Beastfolk, pikirku.
"Aku Arata,
dan ini Reina," kataku.
"Senang
bertemu denganmu, Livia," kata Reina. "Kami sangat menghargai semua
yang telah Elga lakukan untuk kami."
Setelah
memperkenalkan diri, kami menceritakan kepada Livia bagaimana kami bertemu
suaminya, dan dia mendengarkan dengan penuh perhatian.
Sama seperti yang
dikatakan Luna, dia benar-benar tampak sangat mencintai Elga. Dia bilang dia
datang ke sini karena, seperti yang diduga, dia penasaran dengan perilaku aneh
Elga belakangan ini.
"Dia selalu
menyelinap pergi ke suatu tempat," katanya, "jadi awalnya aku curiga
dia mungkin selingkuh, dan kupikir jika dia memang selingkuh, aku lebih baik
menyeretnya ke dalam samudra agar kami bisa mati bersama..."
"Uh, asal
kau tahu, hanya aku yang akan mati kalau begitu..."
Dan, aku juga
mendapat perasaan bahwa dia sangat mencintai Elga sampai-sampai dia memiliki
beberapa kebiasaan yang agak aneh. Meski begitu, cintanya itu nyata. Walaupun,
Elga memasang wajah masam saat mendengarkan di sampingnya.
"Jadi kau
sedang menemui teman-teman baru. Astaga, andai saja kau memberitahuku tentang
mereka, aku akan dengan senang hati menyambut mereka," kata Livia.
"Kami
biasanya makan di sini, jadi apa memang sepenting itu?"
"Tentu saja!
Dan sekarang kudengar kau ikut makan bersama mereka sepanjang waktu! Kau sudah
merepotkan mereka, dan jika itu terus berlanjut, itu akan menjadi aib bagiku
sebagai istrimu! Aku ingin mengundang mereka berdua ke rumah kita dan memberi
mereka sambutan yang hangat!"
Livia terdengar
sangat bersemangat. Dia sepertinya tidak punya niat untuk menarik kembali apa
yang telah dikatakannya.
Lagipula kami
memang berencana mengunjungi desa Divine Beastfolk, jadi aku menghargai jika
ada orang tambahan yang akan menyambut kami.
Namun di sisi
lain, Elga sempat menyebutkan bahwa ada beberapa orang yang enggan menyambut
orang asing. Aku memandang Livia, bertanya-tanya apakah itu akan baik-baik
saja, dan dia memasang senyum yang mencurigakan.
"Tee hee hee... Aku akan melemparkan siapa pun yang
memperlakukan teman-teman suamiku dengan buruk ke tengah pusaran air..."
Menakutkan...
Aku menoleh ke arah Elga dan melihat dia sedang menatap
Livia dengan cemas.
"Hei, itu
sudah cukup. Livia, kita pulang sekarang," katanya.
"Oh, apa
memang harus terburu-buru begitu, Sayang?"
"Benar,
Elga. Kau sudah di sini, jadi kenapa kita tidak mengobrol sedikit lebih
lama?" kata Reina. "Luna dan Tailtiu juga akan pergi bermain di suatu
tempat."
Tampaknya dalam
waktu singkat, kedua wanita itu sudah akrab, dan mereka bekerja sama untuk
meyakinkan Elga. Pria berada dalam posisi tidak menguntungkan dalam situasi
seperti ini, tidak terkecuali Elga—dia kewalahan oleh desakan mereka.
Pada akhirnya,
Livia dan Reina mengobrol ramah untuk beberapa saat, lalu Luna dan Tailtiu juga
ikut bergabung dan mereka semua mulai menjadi gaduh.
Dalam situasi
ini, kamilah para pria yang merasa seolah tidak punya tempat. Karena tidak ada
kerjaan, Elga dan aku menjauh dan berjalan-jalan santai di hutan, dan dia
akhirnya mengajariku tentang hal-hal yang bisa kumakan.
"Jamur-jamur ini cukup licik. Kalau kau mau memakannya, berhati-hatilah,"
kata Elga.
"Oke. Licik
bagaimana?"
"Mereka
membuatmu merasa sangat bergairah secara seksual."
"...Bisakah
kita singkirkan semuanya saja?"
Akan sangat gawat
jika aku menjadi lebih terangsang dalam kondisiku yang sekarang. Aku tidak
berpikir racun akan mempan pada tubuhku, tapi masalahnya aku tidak tahu sejauh
mana kekebalan itu bekerja.
"Lalu, omong-omong... Tentang nenek sihir yang kalian
temui semalam..."
"Nenek sihir... maksudmu Wilhelmina?" Aku
bertanya-tanya kenapa Elga tiba-tiba mengungkitnya saat dia memetik salah satu
jamur dengan ekspresi serius di wajahnya.
Bagaimana pun kau melihatnya, jamur itu memiliki bentuk yang
tidak senonoh, dan aku tidak benar-benar ingin menatapnya, tapi dia
mengarahkannya kepadaku.
"Dialah yang menyarankan kepada Livia agar dia
membuatku memakan jamur ini dalam jumlah banyak, dan sebelum aku menyadarinya,
yah... semuanya sudah berakhir."
Aku terdiam.
"Serius, berhati-hatilah. Nenek sihir itu akan
melakukan apa saja demi menghibur dirinya sendiri. Jika benar dia telah memilih kalian, dia pasti
akan menjadi masalah besar."
"Ya...
aku akan berhati-hati."
Menilai
dari caranya bertindak semalam, dia memang tampak seolah akan sering datang
berkunjung. Dan targetnya bukanlah aku melainkan Reina.
Dia
sepertinya memakan emosi yang muncul dari usahanya menjodohkan kami, tapi jika
seandainya aku benar-benar berakhir seperti itu dengan Reina, itu akan menjadi
masalah besar.
Aku
memutuskan bahwa saat Wilhelmina datang lagi, aku akan bicara serius dengannya
sambil mempertimbangkan keadaan tersebut.
◇
Saat Elga
dan aku kembali dari jalan-jalan di hutan, para wanita itu sedang duduk dengan
anggun di sekeliling meja bundar putih yang entah dibawa dari mana, seperti
bangsawan yang sedang menikmati pesta teh.
Dilihat
dari penampilannya, mereka sudah jauh lebih dekat, dan bahkan dari sudut
pandangku yang berada di luar, jelas terlihat bahwa mereka sedang menikmati
waktu mengobrol mereka.
"Sulit
sekali untuk menyela mereka," kata Elga, ragu-ragu untuk melangkah maju.
"Ya, aku
mengerti maksudmu," kataku. Aku baru saja memikirkan hal yang sama, bahwa
akan butuh keberanian besar untuk melangkah ke tengah-tengah mereka sekarang.
Adalah Tailtiu
yang menyadari keberadaan kami saat kami berdiri di pinggiran. Saat
pandangannya bertemu denganku, dia menerjang ke arahku dengan kekuatan yang
luar biasa.
"DARLIIING!
SELAMAT DATANG KEMBALI!" Dia dengan penuh semangat memelukku erat.
"Oof..."
aku mengerang, merasakan dampak yang bahkan lebih besar daripada saat aku
menghentikan Emperor Boar.
Aku sudah
bersiap, tapi guncangannya merambat ke seluruh tubuhku dan mengguncang
pepohonan hutan di belakangku dengan hebat.
Jika itu orang
lain, kurasa mereka mungkin sudah terlempar jauh.
"Eheh heh
heh!" Tanpa peduli, Tailtiu dengan senang hati menggesekkan wajahnya ke
dadaku.
Mungkin karena
gaun musim panas hitamnya agak tipis, aku bisa merasakan sensasi tubuhnya
secara langsung. Dia terlihat seperti siswi SMA yang cantik, jadi aku lebih
suka jika dia sedikit lebih sopan.
Tetap saja,
terlepas dari penampilannya, dia adalah seekor naga sejati. Tidak baik bagiku
memaksakan kepekaan manusiaku padanya, dan yang terpenting, rasanya lebih
seperti aku sedang bermain dengan anjing besar, dan aku tidak merasakan sesuatu
yang aneh untuk saat ini.
"Aku
pulang. Apa kau bersikap baik?" tanyaku.
"Aku
selalu bersikap baik!" jawabnya.
Kemudian,
aku dengan lembut melepaskannya dari tubuhku dan pergi ke tempat semua orang
berada. Selama waktu yang singkat itu, Tailtiu sudah berputar ke belakangku dan
menuntut agar aku menggendongnya, jadi sekarang aku membawanya di punggungku.
Livia
menatap gerakan penuh semangat Tailtiu dengan senyuman, tapi bagi yang lain ini
adalah pemandangan biasa dan mereka sepertinya tidak memikirkannya.
"Selamat
datang kembali, Arata," kata Reina. "Tidak ada yang aneh?"
"Tidak,
ada—" Sebelum aku selesai bicara, aku teringat jamur yang ditunjukkan Elga
padaku.
Aku merasa cemas
apakah aku harus memberitahu wanita seperti Reina tentang hal itu, lalu
memutuskan tidak perlu menyebutkannya sekarang, jadi aku bungkam. "Tidak
ada."
"Ada apa dengan keheningan aneh itu... Baiklah,
terserahlah."
Tampaknya Reina melepaskanku untuk sementara waktu, tapi aku
mungkin harus memberitahunya pada akhirnya. Akan ada saatnya di masa depan dia
pergi memetik makanan di area itu, jadi penting baginya untuk mengetahuinya.
"Sepertinya
kalian semua sudah menjadi teman baik," komentarku.
"Ya, aku
senang bisa mengobrol," kata Reina.
"Aku
juga," kata Livia. "Tidak
banyak wanita yang sebaya denganku di desa, jadi aku sangat
bersenang-senang."
Mereka
berdua yang berjejer berdampingan adalah pemandangan yang sangat mencolok. Luna
dan Tailtiu lebih mengutamakan isi daripada gaya, jadi mereka tidak pernah
menghasilkan atmosfer seperti ini.
Tentu
saja, mereka berdua masih anak-anak, jadi itu wajar saja.
"Aku
mendengar dari Livia bagaimana hubungan mereka dimulai, dan dia bilang Elga
melakukan pendekatan yang sangat agresif padanya," kata Reina.
"Livia..."
ucap Elga.
"Aku
tidak bohong, kan, Sayang? Kau
mengejarku dengan sangat gigih, ingat?" kata Livia.
Seorang wanita
cantik seperti dia yang tersipu malu dan berbicara dengan malu-malu adalah
pemandangan yang manis... Tapi meskipun dia mungkin tidak berbohong, aku tahu
kebenaran di balik itu semua berkat Elga. Aku tidak bisa menahan rasa ngeri.
"Oh,
omong-omong, Reina," kataku. "Aku baru saja membicarakan hal ini
dengan Elga, tapi aku berpikir kita akan mengunjungi desa Divine Beastfolk
besok."
"Benarkah?
Aku tidak masalah dengan itu, tapi apakah mereka juga begitu?"
"Ya,
sepertinya begitu. Mampir mendadak hari ini akan merepotkan, dan juga—"
Demi
mempertimbangkan Reina, aku harus meminta para Divine Beastfolk untuk menekan
kekuatan mereka sebelum kami sampai di sana.
Reina adalah
salah satu dari Tujuh Archmage Surgawi, penyihir terhebat di dunia, tapi itu
hanya dalam kerangka acuan manusia.
Ada celah
kekuatan yang besar antara dirinya dan makhluk-makhluk yang tinggal di pulau
ini, dan aku masih khawatir jika mereka mengerahkan seluruh kekuatan, itu akan
menyebabkan masalah pada kesehatannya.
"Dan
juga?" pancing Reina.
"Oh, hanya
saja segalanya akan berjalan lancar jika aku membicarakan beberapa hal terlebih
dahulu. Bagaimanapun juga, kita adalah orang luar dari perspektif mereka."
"Yah, kita
memang sudah bicara kalau kita harus pergi cepat atau lambat, jadi ini mungkin
waktu yang tepat."
"Oh,
astaga!" kata Livia sambil bertepuk tangan dengan gembira. Dia berada di
samping mendengarkan kami bicara. "Kalau begitu, kami harus segera kembali
dan bersiap-siap untuk menyambut kalian berdua sekarang juga! Luna, Lunaaa!"
"Di
siniii!" Luna menjawab dengan penuh energi. Entah sejak kapan, dia pergi
melakukan sesuatu bersama Tailtiu, dan sekarang dia menghampiri kami.
"Mereka
berdua bilang mereka akan datang ke desa Divine Beastfolk besok untuk
memperkenalkan diri!" kata Livia padanya.
"Benarkah?!"
"Ya. Sudah
sebulan sejak kami datang ke pulau ini, jadi sudah saatnya kami memberikan
penghormatan," kataku.
"Yaaay!
Kalau begitu aku akan menyiapkan segala macam hal yang kalian sukai!"
Kedua wanita
Divine Beastfolk itu menciptakan suasana yang ramah dan menyambut. Aku yakin
saat kami pergi besok, semuanya akan baik-baik saja.
Aku sudah
bertanya pada Elga, dan dia bilang itu akan baik-baik saja selama kami membawa
hadiah, dan yang lebih penting, kami tidak akan mencari keributan atau apa pun.
Kami hanya akan
menyapa dan mengucapkan terima kasih karena telah mengizinkan kami meminjam
tempat tinggal kami sekarang.
Meski begitu, aku
sejujurnya merasa bersemangat tentang interaksi baru pertamaku sejak datang ke
pulau ini.
"Aku
penasaran tempat seperti apa itu," kataku.
"Ya, aku
juga," sahut Reina.
Kami saling
memandang, dada kami dipenuhi dengan antisipasi.
◇
Malam itu, saat
Reina sedang mandi, aku berjaga-jaga di area sekitar dengan waspada. Tak perlu
dikatakan lagi, aku waspada terhadap Wilhelmina.
Menurut Elga,
sekali sang True Ancestor menyukai seseorang, dia akan cukup sering
berkunjung untuk menggoda mereka.
"Benar-benar
merepotkan. Dia bisa saja datang untuk bermain secara normal," gumamku
pada diri sendiri.
Jika mendadak
mampir dan menghancurkan pagar tempat mandi kami bukan sebuah gangguan, aku
tidak tahu lagi apa sebutannya.
Kami bisa dengan
mudah membangun kembali pagar yang rusak dengan sihir Reina dan kekuatanku,
tapi itu tentu tidak berarti aku akan senang melihatnya dihancurkan.
"Lain kali
dia datang, aku pasti akan melindungi Reina."
Aku sudah mencoba
membangun tiga lapis pagar agar Wilhelmina tidak bisa menembusnya dengan mudah.
Setidaknya itu akan mengulur sedikit waktu. Tetap saja, itu hanya dengan
asumsi aku bisa menghentikannya melakukan apa yang dia lakukan semalam,
pikirku.
Tepat pada
waktunya, Wilhelmina sekali lagi turun dari langit.
"Bulan belum
sepenuhnya purnama, tapi anginnya tenang dan malam ini sangat indah, bukan
begitu, Arata?"
"Wilhelmina..."
"Ada apa
dengan raut wajahmu itu? Aku sudah datang jauh-jauh untuk mengunjungimu, jadi
setidaknya kau bisa bersikap lebih senang melihatku."
Sama seperti
sebelumnya, vampir berambut emas dan bermata merah itu mengenakan jubah hitam.
Perbedaannya adalah dia mengenakan topi runcing dan memegang tongkat dengan
ujung batu permata. Hari ini, sepertinya dia berkomitmen pada pakaian ala
penyihir.
"Kau
benar-benar berdandan hari ini," komentarku.
Wilhelmina
terkekeh. "Selama bertahun-tahun hidupku, aku tidak pernah membayangkan
ada manusia yang akan bicara dengan nada kurang ajar di hadapanku. Meski
begitu, ini bukan perasaan yang buruk. Tapi sudahlah, jangan pedulikan apa yang
kupakai. Kalau kau menyerangku dengan kekuatan penuh saat aku memakai pakaian
santai seperti kemarin, aku akan langsung mati. Ini hanya asuransi."
"Uh, aku
lebih suka tidak menggunakan kekerasan kali ini."
"Kalian
manusia memang sangat mudah berubah pikiran, ya? Akan kukatakan lagi: Jangan
pedulikan apa yang kupakai."
Dari
kedengarannya, kejadian semalam membuatnya menganggap kekuatanku sebagai
ancaman.
Mengingat hal itu... Aku merasa dia sudah memperlakukanku
seperti monster bahkan sebelum aku menunjukkan kemampuan tubuhku.
"Jadi, apa
urusanmu di sini hari ini? Kau harus tahu kalau kau mencoba melakukan sesuatu
seperti kemarin, aku punya beberapa trik sendiri."
"Ha
ha ha, jangan terlalu khawatir. Aku harus memuaskan berbagai rasa laparku saat
bulan purnama, tapi biasanya aku tidak butuh banyak hal."
Aku
terdiam.
"Ada
apa dengan tatapan tidak percaya itu?"
"Maksudku,
kau tahu sendiri..."
Mungkin
mengonsumsi emosi orang lain adalah cara dia bertahan hidup, tapi dia
mendapatkan kenikmatan dari reaksi kami. Tetap saja, meskipun tidak ada orang
yang benar-benar mati karena bosan, itu bukan berarti hiburan tidak diperlukan.
Dan wajar saja
jika dia ingin menyantap hidangan lezat saat ada kesempatan. Itulah sebabnya
dia melakukan segala cara untuk membuatku lengah, dan aku bisa dengan mudah
membayangkan dia menertawakanku lagi.
Dia pasti merasa
tidak puas dengan sikapku, karena dia menyilangkan tangan dan tampak merajuk.
"Astaga, kau
pikir aku ini siapa? Aku tidak berbohong, dan saat aku menggoda seseorang, aku
menggoda mereka secara langsung dan percaya diri, dengan segala yang
kupunya."
"Itu sama
sekali tidak membuatku ingin mempercayaimu... tapi baiklah. Untuk apa kau di
sini?"
Wilhelmina
terkekeh, tidak gentar.
"Oh, bukan
apa-apa. Karena kita kebetulan bertemu di sini, aku berpikir: Kenapa tidak
memperdalam hubungan kita?"
"Hubungan
kita... jam segini?"
"Aku ini
vampir; malam adalah saat aku aktif, kau tahu. Kapan lagi aku harus datang?"
"Tapi
kau adalah True Ancestor yang sudah menaklukkan matahari, kan? Kalau
begitu tolong datanglah saat siang hari."
"Aku
tidak mau. Aku mengantuk kalau siang."
Aku tidak
bisa berkata-kata. Dia terdengar seperti anak kecil. Elga sudah memberitahuku
bahwa Wilhelmina mampu aktif di siang hari, jadi ini mungkin tidak lebih dari
sekadar rasa malas baginya.
Tetap
saja, mungkin memang begitulah adanya. Mengingat sifatnya sebagai vampir, dia
mungkin tidak berbohong saat mengatakan bahwa dia lelah di siang hari.
"Baiklah,
aku mengerti," jawabku. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
"Yah, kita
baru saja bertemu. Kenapa kita tidak mengenal satu sama lain dengan pertarungan
habis-habisan sampai mati?"
"Ditolak."
Apa-apaan yang
dibicarakan vampir loli ini dengan senyum di wajahnya?
"Aku
bercanda, aku bercanda," katanya. "Lagipula, jika kita berdua
benar-benar mulai bertarung sampai mati, wanita di belakangmu itu akan menjadi
satu-satunya yang mati terlalu cepat."
"Hah?"
Reina,
yang seharusnya berada di tempat mandi, sekarang sudah keluar.
Seperti
yang kau duga, dia mengenakan pakaian hari ini, dan dia menatap Wilhelmina
dengan tatapan yang agak kelam.
Tampaknya
dia menyimpan dendam yang cukup besar atas apa yang terjadi semalam.
"Hei,
Nona, maaf soal semalam," kata Wilhelmina. "Aku membawa sesuatu yang
bagus hari ini sebagai permintaan maaf."
Tidak
peduli dengan permusuhan Reina, Wilhelmina tersenyum padanya, lalu mengeluarkan
sebuah buku dari bayangannya dan melemparkannya.
Menangkapnya,
Reina membolak-balik halamannya, lalu matanya membelalak kaget.
"A-Apakah ini benar-benar apa yang kupikirkan?!"
serunya.
"Bagaimanapun
juga, tinggal di pulau ini sulit bagi manusia biasa," kata Wilhelmina.
"Kau setidaknya harus mempelajari apa yang ada di buku itu, agar kau bisa
melindungi dirimu sendiri."
Aku hanya melihat
sampul bukunya, tapi jelas itu adalah semacam grimoire. Keterkejutan Reina
berarti buku itu pasti sangat berharga.
Mungkin
Wilhelmina benar-benar di sini untuk memperdalam hubungan kami, jika dia
tiba-tiba memberikan sesuatu yang begitu berharga.
"Hadiah itu
sudah cukup, kan? Sekarang bagaimana kalau kalian berdua mulai menceritakan
tentang diri kalian padaku?" kata Wilhelmina, mendekati kami seolah-olah
itu hal yang wajar.
Kami akhirnya
mengundangnya masuk ke dalam tenda kami. Reina bercerita tentang dirinya dan
benua, dan aku bercerita tentang apa yang terjadi setelah kedatanganku di pulau
ini.
Meskipun
Wilhelmina sesekali menyela dengan komentar konyol dan menggoda Reina, dia
memang tampak serius ingin mengenal kami lebih baik. Dia memberikan berbagai komentar, menikmati
dirinya sendiri sebisa mungkin:
"Aha
ha ha, begitu rupanya."
"Jadi
begitulah perkembangan benua saat ini?"
"Oho,
menarik sekali."
Akhirnya, dia
kembali pulang sebelum malam berakhir.
"Apa
sebenarnya yang ingin dia lakukan?" tanyaku heran setelah dia pergi.
"Entahlah.
Tapi satu hal yang jelas: Dia pasti seseorang yang benar-benar luar biasa
sampai bisa dengan santainya memberiku benda seperti ini," kata Reina
sambil menatap grimoire di tangannya dengan ekspresi yang agak kaku.
Menurutnya,
buku itu berisi pengetahuan tentang mantra-mantra legendaris.
Meskipun
seseorang sekuat dirinya tidak akan bisa merapalkannya segera, jika dia
berhasil mempelajari cara menggunakannya, dia kemungkinan besar akan dianggap
sebagai monster yang lebih mengerikan lagi di benua.
"Tapi
sebagai penyihir, aku benar-benar tidak bisa memungkiri kalau aku
tertarik," tambahnya.
"Itu
masuk akal."
Tidak masalah bagiku apa isi buku itu; aku hanya berharap dengan buku itu, dia akan bisa melindungi dirinya sendiri.



Post a Comment