NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 7

Chapter 7

Mars vs Guren


"Hei, denger-denger Johan dan Joseph dari Kelas S menghilang, ya? Kamu punya petunjuk nggak mereka kira-kira ke mana?"

Saat aku sedang menikmati sarapan di kantin asrama, Gon dan Karl tiba-tiba duduk di hadapanku.

"Sama sekali nggak ada. Setelah Turnamen Bela Diri Murid Baru selesai, kami pulang bareng, tapi besoknya mereka sudah nggak ada."

Kedua orang itu bahkan tidak menampakkan batang hidung mereka saat jam perwalian pagi berakhir. Lorenz-sensei yang merasa curiga langsung mengecek ke asrama, dan di sanalah fakta menghilangnya mereka terungkap.

Meski guru-guru dan Ksatria Regan—total lebih dari seribu orang—sudah mencari selama tiga hari terakhir, keberadaan mereka tetap tidak diketahui. Jika pencarian sebanyak itu bahkan tidak menemukan sehelai rambut pun, kemungkinan besar mereka sudah tidak ada di lingkungan sekolah.

Aku juga sudah mencoba mencari menggunakan Search, tapi tidak ada satu pun petunjuk yang tertangkap. Karena mereka adalah murid Kelas S, mereka punya kebebasan untuk pergi ke kota Regan. Jadi, kemungkinannya ada dua: mereka kabur atas kemauan sendiri, atau terlibat insiden di kota.

Namun, kota Regan selalu dipatroli oleh ksatria. Karena mustahil menculik orang dalam lingkungan seketat itu, pihak sekolah memutuskan bahwa mereka meninggalkan sekolah atas kehendak sendiri.

Kesimpulan itu terdengar agak dipaksakan, tapi ada dua alasan kuat yang mendasarinya. Pertama, tidak ada jejak kehidupan di kamar mereka. Saat Lorenz-sensei masuk, kamar mereka benar-benar kosong melompong, seolah-olah mereka tidak pernah ada di sana sejak awal.

Mustahil bagi siapa pun kecuali orang itu sendiri untuk menghapus semua jejak dan pergi dari lantai enam asrama Sekolah Nasional Lister tanpa ketahuan.

Alasan kedua adalah Dominic sempat mendengar percakapan penuh arti antara Johan dan Joseph. Itu terjadi di dalam kereta saat perjalanan pulang setelah turnamen berakhir.

Isi percakapannya adalah: Orang yang dicari tidak ada, begitu juga di sekolah lain, jadi tidak perlu berlama-lama di sini lagi. Hal itulah yang menjadi bukti kunci bagi Duke Regan untuk mengambil keputusan ini.

Pihak sekolah mencoba menghubungi keluarga mereka untuk menjelaskan situasi, namun tempat asal mereka—sebuah panti asuhan bernama Kyukyu-in—ternyata sudah tidak ada lagi. Jalur komunikasi pun terputus total.

"Tapi ya, bego banget sih kalau kabur sendiri. Padahal kalau di Kelas S masa depan sudah terjamin, apalagi sebentar lagi kita bisa sepuasnya lihat kulit mulus para gadis. Gimana ya kalau Clarice minta dipijat pakai minyak ke aku?"

Gon sudah sepenuhnya melupakan Johan dan Joseph. Wajahnya menyeringai mesum, membayangkan masa depan yang tidak mungkin terjadi.

"Gon belakangan ini memang selalu begini." Karl menatapnya dengan tatapan jijik.

Tapi, ini bukan cuma soal Gon. Murid-murid lain pun... tidak, murid lain justru terlihat jauh lebih tidak sabar menantikannya. Meski sesama murid tahun pertama, usia mereka rata-rata lebih tua dariku. Di Kelas E bahkan tidak sedikit yang sudah dewasa.

Yah, melihat mereka sebahagia ini, aku merasa tidak salah telah memilih laut.

◆◇◆

Setelah jam perwalian selesai, waktunya kelas bela diri. Kami pindah ke lapangan sekolah, dan di bawah bimbingan Lorenz-sensei, pelajaran pun dimulai.

Di saat yang lain belajar teknik pedang atau menantang Lorenz-sensei berduel, aku berlatih ayunan pedang sendirian. Kyrus memang bisa menggunakan sihir, tapi dia adalah pendekar pedang tipe spesialis.

Sebaliknya, Lorenz-sensei adalah tipe ksatria sihir serbabisa, jadi level teknik pedangnya sebenarnya lebih rendah dariku. Dia sendiri yang memintaku untuk fokus pada latihan mandiri atau membantu membimbing murid lain sampai guru bela diri yang baru datang.

Demi menjaga harga diri Lorenz-sensei, aku perlu menambahkan bahwa beliau adalah lulusan Kelas A Sekolah Nasional Lister yang kemudian bekerja di Ksatria Regan. Saat hendak naik pangkat dari ksatria menjadi ksatria resmi, kebetulan ada posisi penting yang kosong di sekolah. Beliau adalah elit yang memilih jalur keguruan.

Tiba-tiba, Dominic berdiri di depanku.

"Mars, ajarkan aku teknik pedang."

Lengan kanan Dominic sudah sembuh total, dan dia sudah bisa mengayunkan pedang seperti sedia kala. Sejak saat itu pula, dia tidak pernah lagi mengganggu Clarice dan hanya fokus berlatih pedang.

"Tentu! Ayo kita mulai!"

Saat aku memulai latihan tanding dengan Dominic, Baron juga ikut memanggil.

"Mars, boleh aku bergabung dengan Dominic untuk melawanmu? Kami akan berada dalam satu party, jadi aku ingin memantapkan koordinasi kami."

Aku mengangguk setuju. Benar, tanpa koordinasi, sekuat apa pun anggotanya, mereka tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan maksimal. Dalam pertarungan nyata, sering kali kerja sama tim yang menentukan menang atau kalah, bukan hanya kekuatan individu.

Bahkan dalam situasi dua lawan satu, risikonya akan sangat besar jika waktu tebasan atau posisi berdiri tidak tepat. Itulah mengapa latihan seperti ini sangat penting dilakukan setiap hari.

"Baiklah, Baron, Dominic! Ayo mulai!"

Baron dan Dominic mengambil posisi masing-masing, membentuk formasi segitiga denganku.

"Mars! Terjang!"

Pertarungan dimulai atas aba-aba Baron. Sejujurnya, koordinasi mereka tidak bisa dibilang bagus. Masing-masing memiliki ego yang kuat dan tidak memahami apa yang ingin dilakukan pasangannya... lebih tepatnya, mereka tidak mencoba memahami.

"Dominic, berputar ke kanan! Baron, mundur sejenak dan lakukan cover!"

Aku mencoba meningkatkan koordinasi mereka sambil memberi instruksi, tapi gerakannya tidak kunjung serasi.

Mungkin saat dulu mereka berdua melawan Kyrus di kelas, Kyrus tidak mencoba meningkatkan kerja sama mereka, melainkan fokus mengembangkan kekuatan individu masing-masing.

Setelah bertarung sekitar sepuluh menit, mereka berdua terengah-engah dan mulai menyebutkan poin evaluasi.

"Seandainya gerakan Dominic sedikit lebih cepat..."

"Nggak, kalau saja Baron sedikit memperlambat tempo serangannya..."

Kalau mereka masih saling menyalahkan begitu, jalan mereka masih panjang. Kurasa aku harus menunjukkan contoh yang benar pada mereka.

"Clarice, Elie. Bertarunglah melawanku berdua. Elie, kamu tahu aturannya kan? Dilarang menggunakan teknik kaki atau bantingan. Sebagai gantinya aku tidak akan mengurangi kecepatanku, tapi aku akan menahan tenaga tebasanku."

Karena selama jam pelajaran dilarang memakai celana pendek atau pakaian olahraga yang terlalu terbuka.

"Baiklah, aku mengerti. Mohon bantuannya ya, 'Guru'?"

"…… Akan berjuang……"

Clarice dan Elie memasang posisi mengepungku. Mereka menyelaraskan napas dan bertukar isyarat lewat pandangan mata.

"Ayo!"

Pertarungan dimulai bersamaan dengan aba-abaku. Elie menyerbu di garis depan sementara Clarice memberikan dukungan dari garis belakang.

Mereka berdua tidak pernah saling menoleh satu sama lain, bahkan tidak bersuara. Namun, mereka bergerak bebas di ruang yang sempit dengan sinkronisasi yang sempurna.

Aku dipaksa bertahan menghadapi serangan yang seolah-olah dilakukan oleh satu tubuh tunggal.

Meski aku menahan tenaga tebasanku, aku tetap menggunakan tenaga lebih besar dibandingkan saat menghadapi Baron dan Dominic tadi. Mereka berdua tampak terpana melihat koordinasi yang luar biasa itu.

Pada akhirnya, pertarungan melawan duet Clarice dan Elie berakhir seri setelah lebih dari sepuluh menit tanpa ada pemenang. Baron pun segera menanyakan rahasianya kepada mereka.

"Bagaimana kalian bisa punya koordinasi yang sesempurna itu? Kenapa bisa saling mengerti tanpa harus bersuara? Apa ada kode-kode tertentu yang tidak kami pahami?"

Kedua gadis itu pun memberikan saran mereka pada Baron.

"Hmm... mungkin rahasianya adalah dengan menyatukan hati? Aku dan Elie kan selalu bersama."

"…… Makan…… latihan…… labirin…… mandi…… tempat tidur…… selalu bersama……"

Mendengar kata-kata Elie, Baron dan Dominic saling berpandangan dengan terkejut.

"Eh, kalau dipikir-pikir kalian memang bilang tinggal di kamar yang sama, ya!"

"Kalian bahkan mandi dan tidur di kasur yang sama?!"

"Begitu ya... Dominic, bagaimana kalau kita juga mulai dengan tinggal bersama?"

"Benar juga, mari kita pertimbangkan dengan serius."

Mendengar ucapan mereka, aku spontan berseru, "Eh?"

"Nggak, kurasa sebaiknya mulai dari latihan dulu saja, nggak perlu sampai tinggal bareng begitu? Ya kan, Clarice?"

"I-iya... kurasa sebaiknya mulai dari hal yang sederhana dulu. Baru kalau itu tidak berhasil, kalian bisa meningkatkan waktu bersama secara bertahap..."

 Clarice mencoba memberi bantuan.

Entah karena terpengaruh kata-kataku dan Clarice, mereka berdua mengurungkan niat itu dan kembali berlatih.

"Fiuh... makasih bantuannya buat menasehati mereka berdua, Clarice."

Aku berbaring di atas hamparan rumput hijau yang rapi untuk beristirahat sejenak.

"Sama-sama. Tapi karena mereka sangat serius ingin jadi kuat, mungkin saja suatu saat mereka benar-benar akan tinggal serumah," kata Clarice sambil duduk di sampingku sambil tertawa.

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di atas kepalaku. Siapa ya? Saat aku hendak melihat sosok di balik bayangan itu—

"Jangan lihat!" Tiba-tiba, tangan lembut Clarice menutupi pandanganku.

Ada apa? Pikirku, lalu sebuah suara wanita terdengar.

"Selamat pagi, Mars-kun, Clarice."

Pemilik suara ini adalah Kakak Kelas berkacamata.

"Selamat pagi, Edin-senpai. Kalau Kakak berdiri di situ, aku bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya kulihat, jadi silakan duduk di sampingku saja."

Jadi itu alasan Clarice menutupi mataku.

"Padahal aku tidak keberatan kalau itu Mars-kun, lho. Ini, titip berikan padanya. Cuma itu saja urusanku. Sampai jumpa, Mars-kun, Clarice."

Tanpa sempat melihat wajah Edin-senpai satu kali pun, dia sudah pergi. Beberapa saat kemudian, kehangatan dari wajahku menjauh.

"Kamu dititipi apa?" tanyaku pada Clarice yang memasang wajah curiga.

"Hmm. Sepertinya surat, tapi ditujukan buat Mars."

Aku menerima sebuah amplop dari tangannya.

"Aku boleh ikut baca, kan?" Tentu saja itu niatku sejak awal.

Aku bangkit duduk, membuka amplopnya, dan mengeluarkan surat yang memancarkan aroma bunga yang harum. Clarice menyandarkan tubuhnya padaku agar bisa ikut membaca.

"Mari kita lihat... 'Untuk Mars-kun yang tersayang, besok setelah pulang sekolah, aku tunggu di depan arena pertarungan'. Jangan-jangan ini..."

Aku pun terkejut melihat isi surat itu. Apakah ini momen "tunggu aku di belakang gedung olahraga" yang tidak pernah kualami di kehidupan sebelumnya? Tanpa sadar sudut bibirku naik, yang langsung dibalas tatapan tajam dari Clarice.

Tiba-tiba terdengar suara memanggilku dari kejauhan. Saat aku menoleh, Ike sedang berlari ke arah kami.

Clarice buru-buru menyembunyikan surat itu. Pasti karena dia tidak mau membuat Ike khawatir yang tidak-tidak.

Namun, usahanya sia-sia.

"Tadi Ede ke sini membawa surat, kan?"

"Iya. Clarice, pinjamkan suratnya sebentar."

Aku tidak mungkin berbohong pada Kak Ike. Tapi, Ike memberikan jawaban yang tidak terduga.

"Nggak usah, aku sudah tahu isinya kok. Besok, kamu harus datang ke depan arena."

""Eh?""

Clarice dan aku berseru berbarengan.

"Lho? Apa dia lupa memberikan surat yang menjelaskan isinya? Sejak aku terus membicarakan Mars, Ede yang menonton turnamen murid baru pun mulai ikut heboh. Anggota lain juga jadi berisik karena ingin tanding setidaknya sekali dengan Mars. Kami kan punya Nominated Quest, dan kalian juga mau ke San Marina, kan? Kalau nggak bertarung sekarang, kesempatannya baru ada lama sekali."

Aku memang merasa lega, tapi entah kenapa ada rasa hampa yang menyerang.

"Kalau begitu, dengan senang hati. Ya kan, Mars?" Clarice pun menunjukkan senyumnya, tampak lega mengetahui niat Edin-senpai yang sebenarnya.

"Ada satu lagi permintaanku, bisakah kamu menghadapi mereka berempat sekaligus? Aku ingin mengamati pertarungan rekan-temanku dari luar untuk mencari celah mereka. Hanya Mars yang kurasa sanggup bertarung sendirian melawan anggota [Guren]."

Satu lawan empat... itu tergantung statistik lawan, tapi kalau menggunakan Future Vision, mungkin aku bisa memberikan perlawanan.

"Baiklah. Aku juga sudah lama ingin mencoba bertarung dengan kalian. Tapi aku punya satu syarat. Penontonnya tolong dibatasi hanya anggota [Guren] atau murid Kelas S tahun keempat saja. Aku juga hanya akan memberitahu murid Kelas S tahun pertama."

"Begitu ya... Baiklah. Tadinya Ede dan yang lain ingin mengadakan acara besar-besaran, tapi kalau Mars bilang begitu, mari kita turuti."

"Terima kasih. Aku juga akan meminta bantuan Sasha-sensei agar murid-murid lain tidak mendekati arena pada jam tersebut."

Ini adalah kesempatan bagus bagi [Reimei], juga bagi Baron dan Dominic yang akan membentuk party.

Meskipun tanpa Ike, bisa melihat bagaimana koordinasi [Guren]—yang disebut-sebut sebagai yang terkuat di sekolah—adalah pengalaman yang sangat berharga. Apalagi aku bisa bertarung langsung dengan mereka, jadi aku ingin merekam segalanya dengan mataku sendiri.

Tapi kalau dipikir-pikir, meskipun ini masih jam pelajaran, Ike dan Edin-senpai benar-benar bebas ya.

Mungkin para guru juga merasa sudah tidak banyak lagi yang bisa diajarkan kepada anggota [Guren].

◆◇◆

Keesokan Harinya, Setelah Pulang Sekolah

Anggota [Guren] sudah berkumpul di depan arena. Namun, aku hanya mengenal Ike dan Edin-senpai. Tiga orang lainnya adalah wajah baru bagiku.

Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar tapi pendek—sekitar 120 cm—melangkah maju sambil mengelus janggut lebatnya.

"Jadi kau adik Ike yang bernama Mars itu? Aku sudah dengar rumornya, tapi melihat kalian bersaudara punya wajah tampan begini benar-benar menyebalkan."

Ini pertama kalinya dalam dua kehidupan aku dibilang menyebalkan secara blak-blakan begitu.

"Iya. Mohon bantuannya. Maaf, apakah Anda dari ras Dwarf?"

"Benar. Aku Gal. Peringkat dua di Kelas S tahun keempat."

Gal menepis tanganku yang terulur untuk bersalaman. Sepertinya dia tidak mau basa-basi sebelum pertandingan. Tapi dia peringkat dua... kupikir Edin-senpai yang ada di posisi itu.

Tepat saat aku memikirkan itu, Edin-senpai menggoda Gal.

"Gal itu nggak mau kalah, dia bakal marah kalau aku menang. Jadi aku biarkan dia di peringkat dua."

"Nggak begitu ya! Aku cuma benci kalah dari orang yang lebih tinggi dariku!"

Aku tidak tahu seberapa serius perkataannya, tapi aku paham kalau dia punya harga diri tinggi dan mungkin agak merepotkan.

Berbeda dengan Gal, dua orang lainnya tampak lebih tenang.

"Peringkat empat, East. Seperti yang terlihat, aku pengguna tombak. Mohon bantuannya."

"Peringkat lima, Yuri. Pengguna sihir air. Mohon bantuannya ya."

Setelah bersalaman dengan mereka berdua, kami segera masuk ke dalam arena.

"Mars? Aku tahu cara bertarung semua anggota [Guren], apa kamu mau saran?"

Karen mencoba berbaik hati, tapi rasanya sayang jika aku tahu kesenangannya sejak awal.

"Terima kasih. Tapi aku simpan dulu tawarannya. Aku akan mengumpulkan informasi sambil bertarung. Di masa depan aku mungkin bertemu musuh yang tidak dikenal, jadi ini bisa jadi latihan untuk itu."

Aku berterima kasih lalu masuk ke tengah ring.

"Mars, kita langsung mulai saja. Gunakan senjata latihan, dan untuk sihir, tolong gunakan untuk pertahanan saja sesanggupmu. Kalau digunakan untuk menyerang, tidak ada yang bisa menahan sihirmu," kata Ike.

"Aku mengerti!"

Aku berhadapan dengan empat anggota [Guren] di tengah ring.

"Kalau begitu, jangan berlebihan ya! Mulai!"

Atas aba-aba Ike, yang bergerak pertama adalah Gal. Dia menyerbu lurus seperti babi hutan sambil mengangkat kapak kayunya. Di belakangnya, East si pengguna tombak mengikuti dengan tongkat kayu yang diposisikan seperti tombak.

Pertama, aku harus menghindari serangan Gal. Untuk itu, aku melakukan Appraisal padanya.


[Nama] Galar Gadget

[Tittle] —

[Status] Dwarf · Rakyat Jelata

[Kondisi] Baik

[Usia] 15 Tahun

[Level] 34

[HP] 288 / 288

[MP] 74 / 74

[Strength] 81

[Agility] 74

[Magic] 47

[Dexterity] 22

[Stamina] 88

[Luck] 1


Gal punya statistik tipe tank yang membuat siapa pun merasa aman jika dia di garis depan. Dia juga memakai pelindung, tapi aku abaikan karena tidak terlalu berpengaruh dalam pertarungan ini.

Aku mengaktifkan Future Vision, melakukan langkah samping dengan cepat untuk menghindari kapak Gal. Gal yang mengayunkan kapaknya sekuat tenaga tampak penuh celah.

Namun, menyerangnya saat ini adalah jalan menuju kekalahan. Gal sendiri pasti tidak masalah jika serangannya meleset, dia bahkan mungkin berharap aku menyerang balik. Sebab, tepat saat kapaknya menghujam tanah, tanpa melihat seranganku dia sudah mengaktifkan Earth Fortress.

Di saat itulah East mengincarku. Dia berencana menusukku dengan tongkatnya tepat saat aku menyerang Gal.

Terlebih lagi, di belakang sana Yuri si penyihir air meluncurkan Ice Arrow ke atas, mengincarku dari langit.

Jika aku terdistraksi oleh Ice Arrow, Gal akan melepaskan Earth Fortress dan East akan memanfaatkan celah tersebut. Sampai di sini, mereka tidak saling bertukar pandang atau memberi kode. Sepertinya ini adalah pola serangan yang sudah mereka latih berkali-kali.

Kalau begitu, bagaimana dengan ini?

Aku menangkis Ice Arrow yang mendekat dengan Wind, lalu mencoba mendekati Yuri di garis belakang. Di saat itulah Edin-senpai bergerak.

"Stone Wall!" Tembok batu berdiri di antara aku dan barisan belakang [Guren]. Ice Arrow milik Yuri meluncur melewati sisi tembok tersebut untuk membidikku.

Tepat saat aku menepisnya dengan Wind, suara Edin-senpai menggema dari balik tembok.

"Boot!"

Apa itu?

Sihir?

Saat aku waspada melihat sekeliling, Future Vision menunjukkan pemandangan yang mengejutkan. Ternyata Stone Wall yang tadi dipanggil Edin-senpai berubah bentuk menjadi sesosok manusia batu dan mencoba menginjakku!

Tepat saat aku mencoba menjaga jarak, Gal dan East mengepungku dari belakang. Jika begini terus, aku akan terjepit. Merasa tidak bisa lagi bersantai, aku menghindari serangan Gal dan menjatuhkan tongkat East dengan pedang kayuku tepat saat dia mencoba menusuk.

Tongkat yang diposisikan sebagai tombak itu sangat berat jika dihantamkan dengan tenaga kuat karena jangkauannya yang panjang. Aku segera menempelkan pedang kayu ke leher East, membuatnya tereliminasi dari latihan.

Kini tersisa Gal di garis depan, seranganku jadi jauh lebih mudah. Si manusia batu itu hanya berdiri diam untuk melindungi barisan belakang.

Tapi makhluk besar ini... apakah Edin-senpai yang mengendalikannya?

Atau ada sesuatu yang merasukinya?

Aku menggunakan Magic Eye untuk melihat Edin-senpai dan makhluk besar itu, tapi tidak terasa ada aliran kendali langsung. Lebih tepatnya, makhluk itu seolah bergerak atas kemauannya sendiri.

Jika ada sesuatu yang merasukinya, menghancurkan makhluk ini mungkin akan berakibat buruk bagi Edin-senpai.

Yah, apa pun itu, gerakannya pasti berhenti jika aku mengalahkan tuannya. Aku menetapkan target pada Edin-senpai dan berencana menghentikan gerakannya.

Sadar akan hal itu, Gal kembali menerjang sambil mengangkat kapaknya, tapi aku melakukan parry dengan pedang kayuku.

Aku menendang punggungnya yang kehilangan keseimbangan hingga dia terguling, lalu dengan cepat mengambil pose menusukkan pedang kayu ke punggungnya, menyingkirkan Gal dari medan tempur.

Kedua orang di barisan belakang yang kehilangan garis depannya menunjukkan perlawanan terakhir. Edin-senpai memperkuat pertahanan dengan Stone Wall terpisah dari manusia batunya, sementara Yuri menembakkan Ice Arrow secara beruntun.

Namun itu hanya perlawanan sia-sia. Aku menangkis Ice Arrow dengan Wind dan mendekati Yuri.

Dia mencoba membuat penghalang dengan Ice Wall, namun sebelum sempat selesai, pedang kayuku sudah menyentuh pipinya. Yuri pun kalah.

Tersisa Edin-senpai seorang—pikirku, tapi begitu pedangku menyentuh pipi Yuri, Edin-senpai mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.

"Melawan Mars-kun yang kebal terhadap Bind Eye secara satu lawan satu itu mustahil untuk menang. Lagipula Ike cuma ingin melihat koordinasi kami. Benar-benar adik Ike ya."

Berbeda dengan tiga orang lainnya yang tampak kesal, Edin-senpai sama sekali tidak menunjukkan raut itu sedikit pun.

"Terima kasih. Terakhir, bolehkah saya melakukan Appraisal pada Anda?"

"Tentu. Bisa menggunakan Appraisal berarti Mars-kun juga punya mata sihir, ya. Aku jadi makin tertarik."

Edin-senpai tersenyum manis.


[Nama] Edin Alaitas

[Tittle] —

[Status] Putri Sulung Keluarga Count Mesarius

[Kondisi] Baik

[Usia] 15 Tahun

[Level] 34

[HP] 176 / 176

[MP] 274 / 304

[Strength] 37

[Agility] 45

[Magic] 120

[Dexterity] 77

[Stamina] 38

[Luck] 5

[Special Ability] Bind Eye

[Special Ability] Dagger Mastery G (Lv 1/5)

[Special Ability] Archery E (Lv 3/9)

[Special Ability] Earth Magic B (Lv 10/17)

[Equipment] Golem Staff, Magic Robe, Ring of Protection


Dia kuat. Aku sempat berpikir apa yang akan dia lakukan jika musuh mendekat, tapi sepertinya Bind Eye sangat efektif untuk lawan semacam itu.

Setelah pertandingan selesai, Ike, Clarice, dan yang lain berkumpul.

"Mars, bagaimana rasanya bertarung melawan [Guren]? Beritahu kami jika ada hal yang kamu sadari atau perlu diperbaiki."

Karena diminta pendapatnya, aku menjawab jujur.

"Semuanya sangat kuat. Tapi setelah Senior East tereliminasi, bantuan dari Senior Yuri berkurang. Apakah itu karena Senior Gal kehilangan ruang untuk menggunakan Earth Fortress?"

Gal mengangguk mendengar pertanyaanku.

"Benar sekali. Kalau aku menggunakan Earth Fortress, Ede dan yang lain akan jadi incaran. Biasanya kami bisa menang dengan pola Bind Eye milik Ede, tapi kali ini lawannya kebal terhadap itu..."

Ike setuju dengan Gal yang kini tampak lebih rendah hati.

"Benar, meskipun biasanya ada aku sebagai satu lagi orang di depan, koordinasi antara barisan depan dan belakang mungkin memang ada masalah. Kita juga harus memikirkan respons saat hanya tersisa satu orang di garis depan."

Ike meminta pendapat bukan hanya dariku dan anggota [Guren], tapi juga dari Clarice dan yang lain untuk membedah masalah mereka.

"Hei, bagaimana kalau kita latihan bareng sampai tiba waktunya Nominated Quest? Ini akan jadi stimulasi yang bagus, dan kita bisa saling bertukar pendapat begini."

Misha adalah yang pertama menyetujui usulan Ike.

"Iya! Seru lho kalau dilakukan bareng-bareng!"

"Aku juga mohon bantuannya! Kami juga berencana membentuk party, jadi ada banyak hal yang ingin aku konsultasikan!" seru Baron dengan mata berbinar seperti anak kecil.

Tentu saja aku pun senang bisa berlatih bersama Kak Ike.

Selama beberapa hari hingga [Guren] berangkat untuk tugas mereka, kami berlatih bersama setiap hari setelah pulang sekolah. Setelah mandi keringat di arena, kami pergi ke kota Regan untuk melakukan evaluasi di restoran.

Dan akhirnya, tibalah tanggal 1 Juni, hari keberangkatan menuju San Marina.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close