NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 8

Chapter 8

San Marina, Kota Pariwisata


Musim panas tiba! Laut! Sekolah musim panas!

Begitulah, akhirnya kami tiba di kota wisata, San Marina! Kami sampai pada tanggal 20 Juni, tepat saat udara mulai terasa menyengat.

Perjalanan ini memakan waktu cukup lama, wajar saja karena rombongan kami sangat besar—mencapai delapan ratus orang termasuk para guru dan ksatria pengawal.

Kabarnya, biaya makan, akomodasi, hingga biaya operasional semuanya bisa tertutup dengan mudah hanya dari uang donasi Turnamen Bela Diri Murid Baru kemarin.

Sebenarnya seberapa banyak uang yang terkumpul?

Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah menuju tempat kami menginap.

Omong-omong, kami di Kelas S memiliki tempat menginap yang berbeda dari kelas lain. Murid kelas umum menginap di hotel yang disiapkan oleh Marquis San Marina. Kudengar itu hotel yang cukup mewah, tapi tempat tinggal kami juga tak kalah luar biasa.

Saat kereta kuda melintasi jalan setapak berbatu kecil, laut tampak berkilauan di kejauhan, dan sebuah vila megah muncul dari balik pepohonan.

Angin laut menyentuh wajah dengan lembut, sementara suara ombak membungkus telinga dengan tenang. Begitu jalan terbuka lebar, di depan mata terbentang pantai berpasir putih perak dan laut berwarna hijau zamrud.

Kereta kuda berhenti perlahan di depan gerbang besi tinggi yang menjulang. Karen adalah orang pertama yang turun.

"Inilah vila milik keluarga Duke Flesbald. Sesuai permintaan Clarice, para pelayan tidak akan tinggal di sini selama kita ada, jadi tenang saja."

Ya, tempat yang kami tempati adalah vila keluarga Karen. Seharusnya gedung besar ini dikelola oleh kepala pelayan dan para pembantu yang menetap di sini, tapi atas permintaan Clarice yang ingin kami menghabiskan waktu berlima saja, mereka diminta untuk menyingkir sementara.

Atas panduan Karen, gerbang besi berukir lambang api itu terbuka. Kami kembali naik ke kereta untuk masuk lebih dalam ke area vila. Saat turun di tanjakan depan vila, sebuah bangunan dengan dinding putih berkilau berdiri tegak di depan kami.

"Wah... seperti kuil..."

Clarice mengembuskan napas kagum, sementara Misha sampai melongo saking terkejutnya. Baron dan yang lainnya yang mengikuti di belakang kami juga turun dari kereta, bahkan Dominic pun terdiam saking terpesonanya.

Begitu Karen membuka pintu kayu yang berat, seorang pria flamboyan sudah menunggu kami.

"Selamat datang kembali, Nona Karen. Selamat datang juga untuk Anda sekalian. Nama saya Whisper, pengelola vila ini. Jika ada yang tidak dimengerti atau ada keperluan apa pun, silakan katakan pada saya."

Whisper menyambut kami dengan tata krama seorang pelayan kelas atas. Suaranya yang tenang dan gerakannya yang elegan semakin menambah kesan berkelas tempat ini. Saat dipandu masuk ke dalam gedung, sebuah ruang yang terasa seperti mimpi terbentang luas.

Langit-langit setinggi lebih dari sepuluh meter dihiasi lampu kristal mewah, dan lantai ditutupi karpet indah. Dari jendela besar, laut hijau zamrud terlihat jelas, pemandangan yang seindah lukisan.

"Saya akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing."

Kamar tidak dibagi per party, melainkan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Padahal jumlah kamar sangat banyak bahkan jika satu orang menempati satu kamar, tapi Clarice ingin mengenal Karen dan Misha lebih jauh. Alhasil, para gadis tinggal berenam termasuk Minerva dan Sasha-sensei.

Sementara kami para laki-laki—aku, Baron, Dominic, dan Lorenz-sensei—berada dalam satu kamar yang sama. Alasan Lorenz-sensei dan Sasha-sensei ditempatkan di kamar yang sama adalah karena perjalanan ini bagi kami adalah Nominated Quest sekaligus sekolah musim panas.

Siswa umum tidak hanya bermain di sini, mereka juga tetap harus mengikuti pelajaran. Meski begitu, sudah dijelaskan sebelumnya bahwa prioritas adalah kegiatan yang hanya bisa dilakukan di sini, sehingga kebanyakan pelajaran akan dilakukan di pantai atau laut.

"Mars? Kami masih punya banyak persiapan, jadi kamu pergi ke pantai duluan saja."

Setelah berpisah dengan rombongan perempuan, kami para laki-laki menurunkan barang di kamar.

"Lorenz-sensei? Cuma memastikan, jadwal kita hari ini hanya makan malam bersama Marquis San Marina, kan? Sampai saat itu tiba, bolehkah aku bebas? Ada hal yang ingin kulakukan."

"Umu. Memang begitu, tapi apa yang ingin kamu lakukan... Jangan-jangan, Mars? Kamu..."

Tentu saja hanya ada satu hal yang ingin kulakukan saat sampai di sini. Begitu aku memberitahu Lorenz-sensei, dia langsung memberi izin. Aku pun meninggalkan Baron dan Dominic yang belum selesai berkemas, lalu berlari sendirian menuju pantai pribadi di depan vila.

Angin laut terasa sejuk di kulit, dan cahaya matahari berkilauan di permukaan air. Pasir di bawah kaki terasa panas, namun semakin mendekati air, rasanya semakin dingin. Saat berlari turun ke bibir pantai, pandangan mataku dipenuhi oleh kesatuan antara langit dan laut biru yang luas.

Pantai pribadi yang seindah surga ini adalah ruang istimewa hanya untuk kami.

Dinginnya air laut terasa nyaman, dan saat mencelupkan kaki ke dalamnya, rasanya seluruh tubuh kembali segar. Belum ada siapa pun di pantai ini, pasir luas ini milikku sendiri.

Baiklah! Ayo kita lakukan!

Demi memenuhi tujuanku, aku mulai berlari menyisuri pantai. Dari pantai pribadi keluarga Flesbald, aku terus berlari melewati pasir hingga mencapai pantai publik tempat para siswa Lister dan pengunjung umum bermain.

Ya, inilah salah satu hal yang ingin kulakukan di San Marina: lari cepat di atas pasir.

Pasir di bawah kaki berhamburan lembut dan berkilau terkena sinar matahari. Setiap kali kaki tenggelam di pasir, aku merasakan resistensi yang kuat, tapi sensasi segar ini justru membuatku bersemangat. Perasaan ingin memberikan beban lebih pada tubuh dan ingin berlari lebih cepat terus memacuku.

Saat sedang asyik berlari, dari kejauhan terlihat Gon dan yang lainnya sedang bermain bersama para siswi Kelas E.

"Mars! Apa yang kau lakukan! Ayo main bareng!"

Begitu Gon menyadari keberadaanku, para siswi yang mengenakan bikini juga ikut mengajak.

"Mars! Sekali-kali main dong sama kami!"

"Nanti malam aku tunggu di kamar, ya!"

Aku tahu itu hanya basa-basi, tapi tetap saja aku merasa senang... namun, malam ini aku punya rencana yang jauh lebih menyenangkan.

"Terima kasih! Kalau Clarice dan Sensei mengizinkan, aku akan ikut main!"

Sambil melambaikan tangan saat berlari, aku terus melanjutkan latihan tanpa memedulikan tatapan mereka.

Kudengar berlari di permukaan pasir yang tidak stabil sangat efektif untuk melatih otot kaki dan pergelangan kaki. Bahkan katanya bagus untuk otot paha dan bokong.

Bahaya kalau di tengah pertarungan jarak dekat tiba-tiba kakiku terkilir.

Dengan angin yang membelai kulit dan matahari yang menghangatkan punggung, perasaan menggunakan seluruh otot tubuh untuk berlari adalah yang terbaik.

Dengan berlari sekuat tenaga, hati dan tubuhku terasa bebas... tapi perlahan rasa lelah mulai menyerang.

Biasanya aku sanggup berlari jauh lebih lama, tapi resistensi pasir ini benar-benar tidak main-main. Di sinilah aku akhirnya berbalik arah menyusuri kembali pantai yang telah kulewati.

Ombak yang datang dan pergi di pesisir menciptakan irama yang nyaman di telinga. Meski napas mulai memburu dan tubuh basah oleh keringat, aku tidak berhenti berlari.

Justru saat lelah inilah waktunya berjuang. Dalam pertarungan, kita tidak bisa beristirahat hanya karena merasa lelah.

Aku bisa merasakan tubuhku menjerit, tapi aku tidak menurunkan tempo. Aku terus meyakinkan diriku bahwa hadiah luar biasa sudah menunggu di pantai pribadi nanti.

Pada akhirnya aku berlari sekitar satu jam lebih. Pantai pribadi keluarga Flesbald pun mulai terlihat. Di sana kini sudah terpasang payung putih besar yang tadi belum ada, dan terdengar suara riang para gadis.

Salah satu dari mereka yang sedang beristirahat di bawah payung menyadari kehadiranku dan langsung berlari ke arahku dengan kecepatan luar biasa. Yang lain pun ikut menyusul di belakangnya.

"…… Mars……! Dari mana saja……?"

Elie, yang mengenakan bikini putih dengan aksen kuning, menatap wajahku dengan khawatir.

Atasan model halter neck itu menopang 'melon' miliknya yang melimpah dengan sangat kokoh, membuat pandanganku tanpa sadar terarah ke sana. Sambil merasa gugup melihat pemandangan indah yang tak biasa ini, aku menjawab.

"A-aku baru saja lari cepat sampai ke pantai publik sana. Omong-omong, baju renangmu manis sekali."

"…… Terima kasih…… Clarice…… yang memilihkan……"

Begitu aku menjawab jujur, Elie menunjukkan senyum malu-malu. Berikutnya, Karen dan Misha muncul di hadapanku.

"Bagaimana? Mars? Baju renangku? Hebat, kan?"

Yang bicara adalah Misha, mengenakan baju renang dengan rumbai besar baik di atasan maupun bawahannya.

Secara keseluruhan dia memang mungil untuk ukuran anak dua belas tahun, tapi ini sangat cocok dengan imejnya.

"Ya, sangat cocok untukmu."

Mendengar pujianku, suasana hati Misha langsung meroket dan saking semangatnya, dia menggunakan sihir lepas kendali hingga terpental di atas pasir.

"Mars, kalau aku bagaimana? Ini juga Clarice yang memilihkan, tapi..."

Yang bertanya dengan malu-malu adalah Karen, yang mengenakan high-neck bikini di mana bagian dadanya tertutup kain hingga ke leher.

Ternyata dia tipe yang terlihat lebih ramping saat memakai baju biasa... kurasa untuk anak dua belas tahun, pertumbuhannya cukup pesat.

Pilihan Clarice memang jenius, baju renang itu sangat cocok untuk Karen, seolah-olah memang dibuat khusus untuknya.

"Luar biasa!"

Aku mengacungkan jempol sebagai tanda 'mantap', dan dia pun tampak senang meski wajahnya memerah. Dan terakhir, kemunculan Clarice benar-benar membuatku terpukul.

Jika Elie memakai warna putih dan kuning, Clarice memakai bikini putih dengan sulaman bunga berwarna merah muda.

Atasan bikininya memiliki cup segitiga yang pas menyangga dadanya, dengan tali pengikat di belakang leher yang bergoyang ringan.

Bawahannya model low-rise yang pas di tulang pinggul dengan sulaman bunga kecil yang sama di bagian samping.

Melihat sosoknya yang memiliki proporsi tubuh sempurna dan kulit yang sangat bening, aku sampai kehilangan kata-kata. Clarice pun bertanya dengan cemas.

"Tu-tunggu... katakan sesuatu padaku juga dong..."

Masalahnya, aku tidak punya kosakata untuk mendeskripsikan Clarice.

"Eh? Ah, iya... bagaimana ya... Aku sangat mencintaimu."

"Eh!? Te-terima kasih... Aku juga... sangat mencintaimu."

Mendengar pengakuan dadakanku, Clarice merona namun tampak sangat bahagia.

"Tunggu dulu!? Kalian berdua!? Ingat ya, kami juga ada di sini!"

Karen menyela di saat aku hampir tersedot ke dalam mata Clarice. Bahaya, aku benar-benar tidak bisa memalingkan mata tadi.

"…… Selalu begini…… nanti juga terbiasa……" Elie menimpali dengan pasrah.

"Ti-tidak begitu juga, kok!? Tapi omong-omong, Mars ternyata punya otot yang bagus ya?"

Misha menyahut sambil menatap tubuh bagian atasku yang membuat wajah Clarice makin memerah.

"Hebat! Keras banget! Ini yang namanya six pack, kan!"

Begitu Misha menyentuh perutku, Karen ikut-ikutan.

"Padahal kamu itu seorang penyihir..." Jari Karen mengusap perutku bolak-balik.

"…… Punggungnya juga…… hebat…… berlekuk-lekuk……" Elie menyandarkan pipinya ke otot latissimuss dorsiku.

"Eh? Ah... ya, karena aku melatihnya setiap hari."

Sebagai orang yang melatih tubuh, dipuji seperti ini tentu membuatku senang. Tapi rangsangan ini terlalu kuat untukku.

"Terima kasih. Omong-omong, di mana Baron dan Dominic?" aku bertanya sambil mengedarkan pandangan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Kalau Baron dan Dominic, tuh di sana."

Melihat ke arah yang ditunjuk Karen, di atas pasir tampak Baron, Dominic, dan Lorenz-sensei yang seluruh tubuhnya terkubur pasir dan hanya menyisakan kepala.

"Ooh! Mandi pasir ya!"

Baru saja aku hendak berlari ke arah mereka, aku dihentikan oleh seorang wanita.

"Mars, itu bukan mandi pasir. Itu hukuman," ujar Sasha-sensei dengan pipi menggembung.

Tubuh putihnya dibalut bikini hitam. Dengan atasan segitiga dan bawahan double string, dia benar-benar terlihat seperti peri.

Karena tingkat keterbukaan pakaiannya hampir sama dengan Clarice, aku jadi bingung harus melihat ke mana.

"Hukuman apa?"

Dia menjawab sambil masih menggembungkan pipinya.

"Karena mereka melihat kami dengan mata penuh nafsu, jadi aku beri mereka pelajaran!"

Aah... jadi mereka mengalami 'fenomena biologis' pria ya. Tapi kurasa itu tidak bisa dihindari. Aku pun sekarang sedang berjuang keras menahannya.

Yah, sepertinya mendekati mereka sekarang hanya akan memicu masalah, jadi lebih baik aku menyelesaikan urusanku sendiri.

Karena keringat belum hilang, aku menuju ke laut. Sebuah papan peringatan menarik perhatianku.

BAHAYA! JANGAN PERGI HINGGA KE LEPAS PANTAI!

Karena aku hanya berniat masuk sampai batas pinggang, aku mengabaikannya dan masuk ke air. Clarice dan yang lainnya mengikuti di belakangku. Dinginnya air terasa nikmat, membasuh rasa lelah di tubuh.

Setelah menikmati berenang sejenak bersama mereka, aku keluar dari air untuk lanjut lari cepat di pasir. Sasha-sensei kemudian menyerahkan handuk padaku.

"Mars, mau main beach flags? Ini latihan bagus untuk melatih daya ledak. Tadinya cuma mau dilakukan para gadis saja."

"Boleh juga. Aku juga memang mau lari lagi kok."

Rasa lelahku tadi sudah hilang sepenuhnya setelah melihat Clarice dan yang lainnya dalam balutan baju renang yang menawan. Ini kesempatan bagus untuk menyalurkan energi yang meluap-luap.

Begitu setuju, aku menuju garis start lebih cepat dari siapa pun dan mengambil posisi tengkurap. Alasannya simpel: kalau aku melihat Clarice dan Elie tengkurap, aku takut aku juga akan dikubur di pasir oleh Sensei.

Clarice dan Elie tengkurap di samping kananku, sementara Karen dan Misha di bagian luar. Sepertinya Minerva tidak ikut dan hanya berdiri di samping untuk memberi semangat.

"Nah, sudah siap?"

Sasha-sensei berseru. Kami saling bertukar pandang, menantikan aba-aba mulai. Merasakan angin laut, aku memantapkan hati untuk balapan ini.

"Mulai!"

Bersamaan dengan aba-aba Sensei, kami serentak bangkit dan mengejar bendera. Karena aku sudah berlari puluhan kilometer tadi, kakiku sudah terbiasa dengan tekstur pasir.

Namun Elie, yang merupakan kandidat juara, tampaknya belum terbiasa dengan pasir sehingga startnya sedikit terlambat.

Karen dan Misha berusaha keras mengejar, tapi mustahil menyusul kami.

Persaingan juara kini hanya antara aku dan Clarice. Saat sedang berlari sekuat tenaga, tiba-tiba kulitku bersentuhan dengan kulit Clarice. Pada saat itu—

"Kya!?"

Clarice memekik kecil sambil sedikit menarik tubuhnya. Sepertinya karena bersentuhan denganku, tali baju renang Clarice sedikit mengendur. Kejadian itu terpampang dengan jelas di mataku.

Ini gawat... Pikirku. Tanpa mengambil bendera, aku terus berlari melewati garis tersebut hingga ke ujung pantai.

Pada akhirnya, kami menikmati lari pasir dan berenang sampai matahari terbenam. Setelah mandi dan menyegarkan diri, barulah kami menghadiri perjamuan makan malam dengan Marquis San Marina.

"Selamat datang di kota wisata San Marina. Aku adalah Marquis San Marina. Turnamen Bela Diri Murid Baru kemarin sungguh mengesankan. Pertama-tama, mari kita bersulang."

Yang diundang ke sini adalah sepuluh orang: murid Kelas S, Lorenz-sensei, dan Sasha-sensei.

Selain kami, di belakang Marquis San Marina berdiri lebih dari sepuluh orang wanita.

Sang Marquis memiliki wajah seperti pria paruh baya yang agak nakal (bad boy). Dia mengenakan pakaian mewah dan menyambut kami dengan hangat. Saat dia mengangkat gelas, kami pun mengikutinya.

"Sulang!"

Awalnya rasa segar melewati tenggorokan, tapi perlahan berubah menjadi hangat. Enak diminum, tapi sepertinya kadar alkoholnya cukup tinggi. Mengingat rencanaku malam ini, aku harus hati-hati agar tidak minum terlalu banyak. Cukup satu gelas saja.

Sebaliknya, para gadis minum dengan kecepatan yang luar biasa. Clarice yang biasanya menyamakan tempo denganku sudah masuk gelas kedua.

Elie dan Karen juga menikmati gelas kedua mereka, sementara Misha sudah mulai meminum gelas ketiga. Melihat Sasha-sensei yang panik, sepertinya Misha benar-benar meminum alkohol sungguhan. Yah, Misha sih minum air biasa pun bisa terlihat mabuk.

Setelah ketegangan semua orang mencair, Marquis San Marina mulai menjelaskan tentang quest kali ini.

"Kalian mungkin sudah dengar dari Duke Regan, tapi kali ini aku memanggil kalian untuk menjalin koneksi. Anggap saja minum bersamaku setiap malam seperti ini adalah bagian dari quest."

Bolehkah ada quest semudah ini?

"Apakah tidak ada masalah yang sedang Anda hadapi? Rasanya tidak enak jika kami hanya bermain saja..."

Tentu saja aku tidak akan bermain terus. Aku punya target tertentu dalam perjalanan ini. Tapi, rasanya tidak enak jika sudah dibiayai sebanyak ini tapi tidak melakukan apa-apa.

"Masalah ya..."

Marquis mengelus dagunya dengan jari yang dihiasi perhiasan. Setelah berpikir sejenak, dia membisikkan sesuatu ke telinga wanita yang berdiri di belakangnya.

Wanita itu mengangguk pelan, lalu bersama wanita lainnya pergi ke area belakang perjamuan dan membawa nampan berisi irisan sashimi mewah ke depan kami.

"Ini adalah Diamond Tuna, monster yang muncul di perairan dekat San Marina. Silakan dicoba dulu."

Diamond Tuna?

Dari namanya saja sudah terdengar lezat. Terbukti dari setiap irisannya yang memiliki warna merah indah, bersinar layaknya permata.

Potongan tuna yang tebal itu memiliki gradasi warna dari merah terang ke merah muda, keindahannya seperti karya seni. Saat terkena cahaya, permukaannya sedikit berkilau, seolah aroma laut yang segar tercium darinya.

Di saat semua orang terpana melihat keindahannya, aku mengambil satu potong dan memasukkannya ke mulut.

"E-Enak banget!"

Begitu masuk ke mulut, sashimi itu langsung meleleh dan aromanya menyebar. Saat aku hendak mengunyah, Diamond Tuna itu sudah hilang, hanya menyisakan rasa manis dari lemaknya.

"Aku senang kalau kalian suka. Ayo yang lain juga, silakan makan."

Semua orang mengikuti dan berseru kagum akan kelezatannya. Mata Clarice, Elie, Karen, dan Misha berbinar-binar menikmati rasanya. Tentu saja Baron, Dominic, dan Lorenz-sensei juga makan dengan lahap.

"Banyak yang sudah tahu, tapi konon memakan Diamond Tuna ini bisa mempercepat pertumbuhan tubuh."

Yah, aku sering mendengar cerita semacam itu di mana-mana. Jadi aku hanya mendengarnya setengah saja.

"Awalnya Diamond Tuna memiliki nilai kelangkaan yang tinggi, tapi belakangan ini semakin sulit didapat. Alasannya, meski Diamond Tuna ini adalah monster ancaman tingkat C, ada kabar bahwa monster mengerikan yang jauh lebih kuat kini bersarang di dekat sana."

"Monster mengerikan apa?"

"Kelihatannya monster bernama Afanc... Kudengar tubuhnya sangat besar, sanggup menelan bulat-bulat Diamond Tuna seberat lima ratus kilogram. Masalahnya, gara-gara dia, bukan cuma Diamond Tuna, ikan-ikan lain pun jadi tidak bisa ditangkap."

Ukuran Diamond Tuna saja sudah luar biasa, tapi Afanc yang bisa menelannya bulat-bulat pasti monster yang sangat mengerikan.

"Kalau begitu, kami tinggal memburu Afanc ini, kan?"

Begitu aku bertanya pada Marquis San Marina, dia langsung membantah dengan panik.

"Tidak, aku tidak bisa membiarkan kalian dalam bahaya seperti itu! Aku hanya menjawab karena ditanya soal masalah yang dihadapi, aku sama sekali tidak bilang minta dikalahkan, lho ya!? Kalau sesuatu terjadi pada kalian, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Duke Regan padaku..."

Sepertinya Marquis San Marina sangat takut pada Duke Regan. Dia menekankan sekali lagi.

"Para petualang yang menangkap Diamond Tuna adalah party peringkat B. Namun, ada laporan bahwa mereka pun tertelan oleh Afanc. Pertarungan di laut sangat sulit bagi yang tidak berpengalaman karena sarana serangan sangat terbatas. Jadi bahkan party peringkat A pun tidak akan sanggup tanpa pengetahuan dan pengalaman yang cukup. Jangan pernah mendekatinya."

Ucapan Marquis San Marina memang masuk akal.

"Saya mengerti. Omong-omong, apakah Anda tahu di mana dia biasanya muncul? Kami akan menjauhi area tersebut."

"Baguslah. Dia terlihat di lepas pantai sebelah selatan vila Duke Flesbald. Itulah alasan adanya papan peringatan agar tidak pergi ke lepas pantai, termasuk di pantai pribadi maupun publik."

Ingatanku kembali pada papan peringatan saat aku masuk ke laut tadi.

"Terima kasih informasinya. Kami akan berhati-hati. Terima kasih atas jamuannya hari ini."

Saat aku hendak berdiri dari kursi, Marquis San Marina kembali panik.

"Tunggu dulu, Mars-kun! Untukmu ada pelayanan malam..."

Marquis mencoba mengarahkan para wanita di belakangnya ke arahku. Yah, aku sudah menduganya, dan Karen juga sudah memperingatkanku sebelumnya bahwa mungkin akan ada pelayanan seperti itu.

"Marquis San Marina, saya menghargai niat Anda, tapi saya sudah didukung oleh wanita-wanita yang lebih dari cukup bagi saya. Jadi, tolong hentikan hal semacam ini untuk ke depannya."

Clarice yang duduk di sebelah kananku tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Elie bahkan mengeluarkan aura membunuh, membuat para wanita dan Marquis San Marina ketakutan.

Dan Karen memberikan pukulan terakhir.

"Dilarang memberikan wanita kepada Mars. Jika hal itu terjadi lagi, anggap saja Anda menjadikan keluarga Duke Flesbald dan keluarga Duke Seleance sebagai musuh."

Marquis sempat tertegun sesaat, tapi setelah merasakan suasana di sana, dia langsung memasang wajah serius dan menundukkan kepala.

"Saya mengerti. Saya akan menghormati keputusan kalian. Tapi Mars-kun, jika ada masalah apa pun, kapan saja..."

Namun, ucapan Marquis disela oleh Clarice.

"Tidak ada. Semua masalahnya akan kami selesaikan."

Clarice berdiri lalu menggandeng lengan kananku seolah ingin memamerkannya pada semua orang. Elie mengikuti Clarice dengan menggandeng lengan kiriku, sementara Karen dan Misha berdiri di belakangku.

"Kalau begitu Marquis San Marina, kami mohon pamit."

Sasha-sensei juga berdiri dan membungkuk dalam, kami pun mengikutinya.

"Mars jangan macam-macam, ya?"

Selama perjalanan kembali ke vila, aku terus diperingatkan oleh para gadis, terutama Clarice. Tentu saja aku tidak punya niat begitu.

"Tentu saja. Kan sudah ada Clarice dan yang lainnya. Kalian juga harus segera tidur, ya?"

Kami berpisah ke kamar masing-masing. Aku masuk ke kamar mandi dan menunggu sampai semua orang tertidur lelap.

Dan akhirnya, saat yang dinanti pun tiba. Baron, Dominic, dan Lorenz-sensei sudah sangat lelah dan tidak ada tanda-tanda akan bangun.

Tinggal sedikit lagi hingga hal yang paling ingin kulakukan di sekolah musim panas ini terwujud.

Sambil merasakan sedikit gejolak petualangan dan kegembiraan di dalam hati, aku menyelinap keluar kamar secara diam-diam layaknya seorang ninja tanpa disadari oleh siapa pun—




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close