NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Bonus Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Kesan Pertama


"Hei, dia sama sekali tidak menangis, ya? Padahal tempo hari Move bilang, waktu adiknya lahir, suaranya kencang sekali. Apa anak ini baik-baik saja?"

Aku memandangi bayi yang baru lahir beberapa jam lalu itu di pelukan Ibu, sementara Ibu menjawab pertanyaanku dengan nada bicara yang lembut.

"Ike, namanya bukan 'anak ini', tapi Mars. Mulai hari ini, kamu sudah jadi kakaknya Mars, lho. Mungkin Mars lahir dengan tubuh yang agak lemah sampai tidak kuat untuk menangis, jadi Ike harus melindungi Mars, ya?"

"Iya! Kalau ada yang menjahili Mars, aku akan menghajar mereka!"

"Tapi kalau diingat-ingat, prosesnya jauh lebih mudah dibanding saat Ike lahir dulu. Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Apa tidak apa-apa meski harus berdiri begini? Ada bagian tubuh yang terasa sakit?"

Ayah bertanya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran kepada Ibu.

"Waktu Ike dulu memang terasa berat sekali, tapi mungkin karena ini anak kedua, ya? Rasanya benar-benar tidak sakit. Bahkan kalau diminta masuk ke Dungeon labirin sekarang pun, sepertinya aku sanggup."

Ibu tidak tampak seperti sedang memaksakan diri, ekspresinya terlihat biasa saja seperti biasanya.

"Begitu ya. Tapi kalau ada perubahan pada kondisi tubuhmu, segera beri tahu aku."

Sejak tadi, Ayah terus-menerus mengkhawatirkan kesehatan Ibu.

"Terima kasih. Ike, ini sudah malam, tidurlah. Mulai besok, mohon bantuannya sebagai kakak, ya."

Aku melirik ke arah jam dinding, jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka delapan.

"Mengerti. Ayah, Ibu, selamat malam."

"Ike, kamu tidak mengucapkan selamat malam pada Mars?"

"Iya. Aku tidak mau membangunkannya. Dadah."

Ayah mengangguk mendengar ucapanku. Setelah mereka berdua membalas ucapan selamat malamku, aku menatap Mars yang sedang tertidur sambil menyusu, lalu kembali ke kamar.

Begitulah, kehidupanku bersama Mars dimulai.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian.

Begitu bangun tidur, aku langsung menuju tempat Ibu. Di sana sudah ada Ayah, dan Mars sedang menyusu dalam dekapan Ibu.

Saat aku masuk ke ruangan, mata Mars mengikuti gerakanku seolah-olah dia benar-benar bisa melihatku. Matanya berwarna emas yang sangat cantik.

"Hei, Bu. Apa bayi bisa langsung melihat dengan jelas begitu lahir?"

"Tentu saja tidak. Bukankah Mars baru bisa melihat dengan jelas setelah bulan April nanti? Meski matanya terbuka, seharusnya dia hanya bisa melihat benda dalam jarak dekat saja."

"Tapi aku yakin Mars bisa melihatku. Matanya yang cantik itu bergerak mengikuti arah gerakanku."

"Sebenarnya, Ayah juga berpikiran sama dengan Ike. Rasanya Mars memang bisa melihat dengan jelas..."

Ternyata Ayah merasakan hal yang sama denganku.

Mars sempat menatapku sambil terus menyusu, namun tak lama kemudian dia terlelap.

"Ibu, aku juga ingin mencoba menggendong Mars."

"Begitu ya. Kalau menggendong seperti Ibu sekarang, harus menunggu sampai leher Mars tegak dan Ike jadi lebih kuat lagi. Tapi kalau sekadar duduk sambil memangku Mars, mungkin satu atau dua bulan lagi sudah boleh."

"Lehernya tegak? Memangnya leher bisa duduk?"

Tanpa sadar aku bertanya balik. Ibu menjelaskan dengan saksama, tapi aku tidak terlalu paham.

Satu hal yang aku mengerti adalah waktu bagiku untuk bisa menggendongnya masih sangat lama, dan aku harus menjadi lebih kuat lagi.

"Bagaimana caranya supaya jadi kuat?"

"Caranya adalah bermain dengan ceria di luar, makan yang banyak, dan tidur yang nyenyak. Mau ikut main di luar bersama Ayah sekarang?"

"Mau! Aku mau main Jadi Pahlawan!"

Main Jadi Pahlawan adalah permainan yang sedang aku dan Move gemari belakangan ini. Kami semua berpura-pura menjadi pahlawan dan mengalahkan Raja Iblis dengan jurus andalan masing-masing.

Begitu aku menjawab, Ayah kembali menunjukkan perhatiannya pada Ibu.

"Maria, aku akan pergi main dengan Ike. Mungkin kamu tidak bisa tidur, tapi paling tidak berbaringlah untuk mengistirahatkan tubuhmu. Saat Ike tidur siang nanti, aku yang akan menjaga Mars supaya kamu bisa tidur."

"Terima kasih. Aku sebenarnya tidak terlalu lelah, tapi karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, aku terima tawaranmu. Kamu juga hati-hati, ya. Tolong jaga Ike."

Tanpa menunggu kata-kata Ibu selesai, aku sudah berlari keluar ruangan. Aku menyambar Pedang Suci (ranting pohon) yang tergeletak di teras dan melompat ke luar rumah.

◆◇◆

"Ike, duduklah bersila."

Suatu hari, Ibu memintaku melakukan itu. Saat aku duduk bersila, Ibu berdiri di belakangku dan perlahan meletakkan Mars di atas kakiku sambil ikut duduk memelukku dari belakang.

"Ike, coba pegang kepala Mars dengan lembut seolah sedang menyangganya. Ibu akan membantumu."

Sesuai instruksi Ibu, aku memegang kepala Mars dengan hati-hati. Agar kepala Mars tidak merosot, tangan Ibu juga ikut menyangga dari bawah tanganku.

Sedangkan Ayah duduk tepat di depanku. Dia menjulurkan tangannya, bersiap siaga menjaga aku dan Mars jika terjadi sesuatu.

Mars sendiri sempat menunjukkan ekspresi yang agak gelisah. Namun, saat aku memasukkan jari ke dalam kepalan tangan mungilnya, Mars menggenggam jariku.

"Ibu! Mars memegang jariku!"

"Benar. Mungkin Mars merasa bisa mengandalkan Ike. Tolong jaga Mars baik-baik, ya."

Mendengar ucapan Ibu, aku merasa memang begitulah kenyataannya... Tidak, aku merasa yakin akan hal itu.

"Iya! Serahkan saja padaku!"

Saat aku menjawab, aku merasa kekuatan genggaman tangan Mars pada jariku semakin menguat.

◆◇◆

Beberapa bulan kemudian.

"Terimalah ini! Flame Slash!"

"Ini serangan terakhir! Water Slash!"

Saat aku dan Move sedang asyik bermain Jadi Pahlawan di halaman seperti biasa, Move melontarkan pertanyaan sambil melirik ke arah Mars yang sedang memperhatikan kami dari dalam rumah.

"Ike, adikmu si Mars itu tidak pernah menangis, ya? Lagipula, bukankah dia selalu memperhatikanmu?"

"Iya. Ibu bilang dia anak yang pintar karena sama sekali tidak merepotkan. Terakhir ini, dia bahkan mulai merangkak mengikutiku dari belakang."

"Heh, sudah bisa merangkak? Padahal Gaimo-ku lahir lebih dulu, tapi dia masih belum bisa merangkak."

Gaimo adalah adik laki-laki Move.

Aku sendiri belum pernah melihatnya, tapi Move bilang Gaimo punya kepala yang besar dan mata yang bulat.

Entah Mars yang terlalu cepat atau Gaimo yang lambat... aku tidak tahu pasti. Namun saat aku sedang berpikir bahwa Mars pasti hebat, Move yang tadinya menatap Mars berteriak panik.

"Oi! Apa dia sedang mencoba berdiri!?"

Aku pun ikut menoleh ke arah Mars. Dari posisi merangkak, Mars menempelkan tangannya ke tembok dan berusaha untuk berdiri.

Tanpa sadar aku berteriak, "Semangat!". Seolah menjawab dukunganku, Mars berhasil berdiri tegak dengan tangan yang bersandar pada tembok.

Namun, itu hanya bertahan sesaat. Dia langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Biasanya Ibu selalu ada di dekat Mars, tapi kali ini entah kenapa beliau sedang tidak ada. Mungkin sedang pergi ke kamar mandi.

"Wah, dia pasti bakal menangis kencang," ucap Move dengan ekspresi meringis.

Memang benar, kepalanya terbentur dan pasti rasanya sangat sakit. Apalagi Mars masih bayi, dia mungkin tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Wajar jika dia menangis karena terkejut.

Aku membuang Pedang Suci-ku dan bergegas masuk ke rumah. Namun saat aku menghampiri Mars, dia melakukan hal yang tak terduga.

Tanpa menangis ataupun menunjukkan tanda-tanda kesakitan, dia kembali menempelkan tangannya ke tembok dan mencoba berdiri lagi.

Hal ini membuat Move yang ikut masuk ke rumah bersamaku merasa terkejut.

Tanpa memedulikan kami, Mars terus berusaha keras untuk berdiri.

"Mars!? Suara apa itu tadi!?"

Ibu datang menyusul tak lama setelah kami. Beliau melihat ke arahku dan Mars.

"Mars, kapan kamu belajar berdiri sambil berpegangan? Dan Ike juga menjaganya dengan baik... terima kasih, ya."

Raut wajah Ibu tampak sedikit lega.

Aku menjaga Mars?

Mendengar itu, aku memperhatikan posisiku sendiri. Tanpa sadar, aku sudah berlutut di belakang Mars dan menjulurkan kedua tangan agar bisa menangkapnya kapan pun dia terjatuh.

Mungkin hanya perasaanku saja, tapi saat Mars melihatku yang berada di belakangnya, ekspresinya tampak tenang... tidak, dia terlihat seperti sedang mengandalkanku.

Detik berikutnya, Mars kembali berhasil berdiri tegak, namun dia langsung terjungkal ke belakang.

Aku segera melingkarkan tanganku ke perut Mars dan menangkapnya.

Di belakangku, Ibu sudah berjongkok, bersiap siaga seandainya aku tidak kuat menahan beban Mars.

"Ike, terima kasih. Mohon bantuannya terus, ya."

Ibu memeluk kami berdua dari belakang.

Mars yang berada dalam dekapanku pun menoleh. Dari wajah mungilnya yang lucu, aku bisa merasakan rasa terima kasihnya tersampaikan.

"Iya! Habisnya, aku sudah berjanji akan menjaga dan... melindungi Mars!"

Jika terjadi sesuatu pada Mars, aku pasti akan melindunginya.

Begitulah, kisahku dan Mars dimulai.




Previous Chapter | ToC | End V1

0

Post a Comment

close