Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Kesan Pertama
"Hei, dia
sama sekali tidak menangis, ya? Padahal tempo hari Move bilang, waktu adiknya
lahir, suaranya kencang sekali. Apa anak ini baik-baik saja?"
Aku memandangi
bayi yang baru lahir beberapa jam lalu itu di pelukan Ibu, sementara Ibu
menjawab pertanyaanku dengan nada bicara yang lembut.
"Ike,
namanya bukan 'anak ini', tapi Mars. Mulai hari ini, kamu sudah jadi kakaknya Mars, lho. Mungkin Mars lahir
dengan tubuh yang agak lemah sampai tidak kuat untuk menangis, jadi Ike harus
melindungi Mars, ya?"
"Iya! Kalau
ada yang menjahili Mars, aku akan menghajar mereka!"
"Tapi kalau
diingat-ingat, prosesnya jauh lebih mudah dibanding saat Ike lahir dulu.
Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Apa tidak apa-apa meski harus berdiri
begini? Ada bagian tubuh yang terasa sakit?"
Ayah bertanya
dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran kepada Ibu.
"Waktu Ike
dulu memang terasa berat sekali, tapi mungkin karena ini anak kedua, ya?
Rasanya benar-benar tidak sakit. Bahkan kalau diminta masuk ke Dungeon
labirin sekarang pun, sepertinya aku sanggup."
Ibu tidak tampak
seperti sedang memaksakan diri, ekspresinya terlihat biasa saja seperti
biasanya.
"Begitu ya.
Tapi kalau ada perubahan pada kondisi tubuhmu, segera beri tahu aku."
Sejak tadi, Ayah
terus-menerus mengkhawatirkan kesehatan Ibu.
"Terima
kasih. Ike, ini sudah malam, tidurlah. Mulai besok, mohon bantuannya sebagai
kakak, ya."
Aku melirik ke
arah jam dinding, jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka delapan.
"Mengerti.
Ayah, Ibu, selamat malam."
"Ike,
kamu tidak mengucapkan selamat malam pada Mars?"
"Iya.
Aku tidak mau membangunkannya. Dadah."
Ayah
mengangguk mendengar ucapanku. Setelah mereka berdua membalas ucapan selamat
malamku, aku menatap Mars yang sedang tertidur sambil menyusu, lalu kembali ke
kamar.
Begitulah,
kehidupanku bersama Mars dimulai.
◆◇◆
Beberapa
hari kemudian.
Begitu
bangun tidur, aku langsung menuju tempat Ibu. Di sana sudah ada Ayah, dan Mars
sedang menyusu dalam dekapan Ibu.
Saat aku
masuk ke ruangan, mata Mars mengikuti gerakanku seolah-olah dia benar-benar
bisa melihatku. Matanya berwarna emas yang sangat cantik.
"Hei, Bu. Apa bayi bisa langsung melihat dengan jelas
begitu lahir?"
"Tentu saja tidak. Bukankah Mars baru bisa melihat
dengan jelas setelah bulan April nanti? Meski matanya terbuka, seharusnya dia
hanya bisa melihat benda dalam jarak dekat saja."
"Tapi aku
yakin Mars bisa melihatku. Matanya yang cantik itu bergerak mengikuti arah
gerakanku."
"Sebenarnya,
Ayah juga berpikiran sama dengan Ike. Rasanya Mars memang bisa melihat dengan
jelas..."
Ternyata
Ayah merasakan hal yang sama denganku.
Mars
sempat menatapku sambil terus menyusu, namun tak lama kemudian dia terlelap.
"Ibu,
aku juga ingin mencoba menggendong Mars."
"Begitu
ya. Kalau menggendong seperti Ibu sekarang, harus menunggu sampai leher Mars
tegak dan Ike jadi lebih kuat lagi. Tapi kalau sekadar duduk sambil memangku
Mars, mungkin satu atau dua bulan lagi sudah boleh."
"Lehernya
tegak? Memangnya leher bisa duduk?"
Tanpa
sadar aku bertanya balik. Ibu menjelaskan dengan saksama, tapi aku tidak
terlalu paham.
Satu hal
yang aku mengerti adalah waktu bagiku untuk bisa menggendongnya masih sangat
lama, dan aku harus menjadi lebih kuat lagi.
"Bagaimana
caranya supaya jadi kuat?"
"Caranya
adalah bermain dengan ceria di luar, makan yang banyak, dan tidur yang nyenyak.
Mau ikut main di luar bersama Ayah sekarang?"
"Mau!
Aku mau main Jadi Pahlawan!"
Main Jadi
Pahlawan adalah permainan yang sedang aku dan Move gemari belakangan ini. Kami
semua berpura-pura menjadi pahlawan dan mengalahkan Raja Iblis dengan jurus
andalan masing-masing.
Begitu
aku menjawab, Ayah kembali menunjukkan perhatiannya pada Ibu.
"Maria, aku
akan pergi main dengan Ike. Mungkin kamu tidak bisa tidur, tapi paling tidak
berbaringlah untuk mengistirahatkan tubuhmu. Saat Ike tidur siang nanti, aku
yang akan menjaga Mars supaya kamu bisa tidur."
"Terima
kasih. Aku sebenarnya tidak terlalu lelah, tapi karena kita tidak tahu apa yang
akan terjadi nanti, aku terima tawaranmu. Kamu juga hati-hati, ya. Tolong jaga
Ike."
Tanpa menunggu
kata-kata Ibu selesai, aku sudah berlari keluar ruangan. Aku menyambar Pedang Suci (ranting
pohon) yang tergeletak di teras dan melompat ke luar rumah.
◆◇◆
"Ike,
duduklah bersila."
Suatu hari, Ibu
memintaku melakukan itu. Saat aku duduk bersila, Ibu berdiri di belakangku dan
perlahan meletakkan Mars di atas kakiku sambil ikut duduk memelukku dari
belakang.
"Ike, coba
pegang kepala Mars dengan lembut seolah sedang menyangganya. Ibu akan
membantumu."
Sesuai instruksi
Ibu, aku memegang kepala Mars dengan hati-hati. Agar kepala Mars tidak merosot,
tangan Ibu juga ikut menyangga dari bawah tanganku.
Sedangkan
Ayah duduk tepat di depanku. Dia menjulurkan tangannya, bersiap siaga menjaga
aku dan Mars jika terjadi sesuatu.
Mars
sendiri sempat menunjukkan ekspresi yang agak gelisah. Namun, saat aku
memasukkan jari ke dalam kepalan tangan mungilnya, Mars menggenggam jariku.
"Ibu!
Mars memegang jariku!"
"Benar.
Mungkin Mars merasa bisa mengandalkan Ike. Tolong jaga Mars baik-baik,
ya."
Mendengar
ucapan Ibu, aku merasa memang begitulah kenyataannya... Tidak, aku merasa yakin akan hal itu.
"Iya!
Serahkan saja padaku!"
Saat aku
menjawab, aku merasa kekuatan genggaman tangan Mars pada jariku semakin
menguat.
◆◇◆
Beberapa bulan
kemudian.
"Terimalah
ini! Flame Slash!"
"Ini serangan terakhir! Water Slash!"
Saat aku dan Move sedang asyik bermain Jadi Pahlawan di
halaman seperti biasa, Move melontarkan pertanyaan sambil melirik ke arah Mars
yang sedang memperhatikan kami dari dalam rumah.
"Ike,
adikmu si Mars itu tidak pernah menangis, ya? Lagipula, bukankah dia selalu
memperhatikanmu?"
"Iya. Ibu
bilang dia anak yang pintar karena sama sekali tidak merepotkan. Terakhir ini,
dia bahkan mulai merangkak mengikutiku dari belakang."
"Heh, sudah
bisa merangkak? Padahal Gaimo-ku lahir lebih dulu, tapi dia masih belum bisa
merangkak."
Gaimo adalah adik
laki-laki Move.
Aku sendiri belum
pernah melihatnya, tapi Move bilang Gaimo punya kepala yang besar dan mata yang
bulat.
Entah Mars yang
terlalu cepat atau Gaimo yang lambat... aku tidak tahu pasti. Namun saat aku
sedang berpikir bahwa Mars pasti hebat, Move yang tadinya menatap Mars
berteriak panik.
"Oi!
Apa dia sedang mencoba berdiri!?"
Aku pun ikut
menoleh ke arah Mars. Dari posisi merangkak, Mars menempelkan tangannya ke
tembok dan berusaha untuk berdiri.
Tanpa sadar aku
berteriak, "Semangat!". Seolah menjawab dukunganku, Mars berhasil
berdiri tegak dengan tangan yang bersandar pada tembok.
Namun, itu hanya
bertahan sesaat. Dia langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Biasanya Ibu
selalu ada di dekat Mars, tapi kali ini entah kenapa beliau sedang tidak ada.
Mungkin sedang pergi ke kamar mandi.
"Wah, dia
pasti bakal menangis kencang," ucap Move dengan ekspresi meringis.
Memang benar,
kepalanya terbentur dan pasti rasanya sangat sakit. Apalagi Mars masih bayi,
dia mungkin tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Wajar jika dia menangis
karena terkejut.
Aku membuang
Pedang Suci-ku dan bergegas masuk ke rumah. Namun saat aku menghampiri Mars,
dia melakukan hal yang tak terduga.
Tanpa menangis
ataupun menunjukkan tanda-tanda kesakitan, dia kembali menempelkan tangannya ke
tembok dan mencoba berdiri lagi.
Hal ini membuat
Move yang ikut masuk ke rumah bersamaku merasa terkejut.
Tanpa memedulikan
kami, Mars terus berusaha keras untuk berdiri.
"Mars!?
Suara apa itu tadi!?"
Ibu
datang menyusul tak lama setelah kami. Beliau melihat ke arahku dan Mars.
"Mars,
kapan kamu belajar berdiri sambil berpegangan? Dan Ike juga menjaganya dengan
baik... terima kasih, ya."
Raut wajah Ibu
tampak sedikit lega.
Aku
menjaga Mars?
Mendengar
itu, aku memperhatikan posisiku sendiri. Tanpa sadar, aku sudah berlutut di
belakang Mars dan menjulurkan kedua tangan agar bisa menangkapnya kapan pun dia
terjatuh.
Mungkin
hanya perasaanku saja, tapi saat Mars melihatku yang berada di belakangnya,
ekspresinya tampak tenang... tidak, dia terlihat seperti sedang mengandalkanku.
Detik
berikutnya, Mars kembali berhasil berdiri tegak, namun dia langsung terjungkal
ke belakang.
Aku
segera melingkarkan tanganku ke perut Mars dan menangkapnya.
Di
belakangku, Ibu sudah berjongkok, bersiap siaga seandainya aku tidak kuat
menahan beban Mars.
"Ike, terima
kasih. Mohon bantuannya terus, ya."
Ibu memeluk kami
berdua dari belakang.
Mars yang
berada dalam dekapanku pun menoleh. Dari wajah mungilnya yang lucu, aku bisa merasakan rasa terima kasihnya
tersampaikan.
"Iya!
Habisnya, aku sudah berjanji akan menjaga dan... melindungi Mars!"
Jika terjadi
sesuatu pada Mars, aku pasti akan melindunginya.
Begitulah,
kisahku dan Mars dimulai.
Previous Chapter | ToC | End V1



Post a Comment