Chapter
7
Sampai
Kita Bertemu Lagi
"Oifwi! Clarice, makan ini juga!"
Suara ceria Misha bergema di ruang makan penginapan.
"Wah! Enak! Aku baru pertama kali makan yang seperti
ini!"
Clarice pun tampak sangat menikmati hidangan pesanan
khusus dari Sasha yang tersaji di depan mata.
"Duh, Misha! Jangan masukkan semuanya sekaligus ke
mulut! Nanti
tersedak! Padahal biasanya dia lebih tenang... Maaf ya kalian berdua. Masih
pagi sudah berisik begini," ucap Sasha.
Meski
memasang wajah bingung, nada suara Sasha saat meminta maaf kepada kami
terdengar riang.
"Tidak
apa-apa, bersama Misha-san sangat menyenangkan. Iya kan, Clarice?"
"Iya. Rasanya seperti punya adik perempuan, aku
senang sekali."
Clarice menyetujui perkataanku, tapi Misha yang
sepertinya tidak suka dengan panggilan formal itu langsung menelan makanannya
dengan bantuan air putih.
"Duh, Mars! Kenapa tiba-tiba jadi kaku begitu!"
Misha menggembungkan pipinya.
"Tidak juga, kok. Tapi bukannya tidak sopan kalau
aku memanggilmu 'Misha' saja tanpa sebutan di depan Sasha-san?"
Mendengar penjelasanku, Misha bergumam, "Eh?
Begitu ya?" sambil melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.
"Yah, benar juga. Itu tergantung situasi dan
seberapa dekat aku dengan Mars-kun. Mars-kun, mulai sekarang panggil saja dia
'Misha' tanpa embel-embel, meski di depanku sekalipun."
Begitu aku mengangguk, Misha tersenyum lebar dan
kembali menyuapkan makanan ke mulut mungilnya dengan semangat.
"Sasha-san,
boleh aku bertanya sesuatu?"
Aku
bertanya kepada Sasha yang sedang menatap Misha dengan penuh kasih sayang.
Tanpa mengalihkan pandangannya, dia menjawab dengan nada yang terdengar cukup
senang.
"Kemarin
aku melihat Cyrus-san menembakkan tebasan cahaya. Itu sebenarnya apa?"
Meski
soal pribadi Cyrus selalu dia alihkan, mungkin kalau soal teknik dia mau
menjawab.
"Itu
Water Blade. Mars-kun menguasai pedang dan sihir angin, jadi mungkin
suatu saat nanti kamu juga bisa menggunakannya. Itu disebut Skill.
Biasanya digunakan oleh pendekar pedang yang memiliki bakat sihir dengan cara
memberikan Enchant elemen sihir pada senjatanya."
Ternyata hal seperti itu bisa dilakukan! Aku harus segera
berlatih!
"Ah, tapi kamu butuh senjata khusus. Selain itu,
berbeda dengan sihir, Skill bisa dikeluarkan sambil bergerak, tapi
kekuatannya lebih rendah dan tidak bisa dilakukan terus-menerus. Kalau dipaksa,
performa asli senjatanya bisa hilang, atau skenario terburuknya senjata itu
akan hancur berkeping-keping. Jadi, kamu harus belajar dari seseorang yang
ahli."
Bakat sihir dan senjata khusus, ya... Kalau aku berarti
antara sihir angin atau petir, tapi sihir petir sepertinya sulit. Meski begitu,
daftar hal yang harus kulatih bertambah lagi. Aku harus melakukannya
pelan-pelan tanpa perlu terburu-buru.
"Fuuh. Perutku sudah kenyang. Hei Ibu? Boleh aku pergi main keluar dengan Mars dan Clarice?"
Misha, yang mulutnya berlepotan krim, bertanya sambil
menepuk-nepuk perutnya yang sedikit buncit.
"Boleh saja, tapi aku ingin bicara sedikit lagi
dengan Mars-kun. Kalian berdua kembalilah ke kamar duluan."
Sasha menyuruh Misha dan Clarice kembali ke kamar
lebih dulu.
"Oke! Ayo Clarice, jalan!"
Misha menarik paksa tangan Clarice yang sepertinya
baru saja selesai makan dan ingin bersantai sejenak.
Setelah memastikan mereka berdua kembali ke kamar,
Sasha meletakkan sebuah kantong rami kecil di atas meja.
"Ini sebagai ucapan terima kasih atas kejadian
kemarin. Aku tahu ini mungkin tidak cukup, tapi... aku menghabiskan banyak uang
untuk mencari Misha, jadi sekarang simpananku tidak seberapa."
Di dalam kantong rami itu terlihat kepingan emas. Pasti
jumlahnya lebih dari sepuluh keping.
"A-apa tidak apa-apa saya menerima sebanyak
ini?"
Jumlah ini lebih dari cukup untuk membuat hidup kami
nyaman, tapi Sasha menggelengkan kepalanya.
"Demi Misha, aku bersedia mengeluarkan sepuluh kali,
bahkan seratus kali lipat dari ini. Aku bahkan rela memberikan semua yang
kumiliki. Jadi, izinkan aku membalas budi lebih pantas lain kali."
Sasha menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah.
Memang benar, nyawa putrinya jauh lebih berharga daripada puluhan keping emas,
tapi kami menolongnya bukan karena mengharap imbalan.
"Jangan begitu. Ini sudah lebih dari cukup. Lagi
pula, aku senang bisa bertemu Misha, justru kamilah yang bersyukur atas
pertemuan hebat ini."
"Aku senang mendengarnya, tapi aku pasti akan
membalas budi ini."
Sasha kembali menundukkan kepalanya.
"A-anu, boleh saya bertanya satu hal lagi?"
Aku bertanya secara spontan untuk mengubah suasana.
Akhirnya Sasha mengangkat kepalanya dan tersenyum manis.
Sepertinya itu berarti aku boleh bertanya.
"Saya sudah melewati beberapa kota dalam
perjalanan ini, tapi kenapa hanya di kota ini atmosfer penduduk dan gelagat
para petualangnya terasa... bagaimana ya..."
"Buruk?"
Sasha menyambung kalimatku yang sulit kuucapkan, dan
aku pun mengangguk.
"Itu karena sejarah terbentuknya kota ini agak
unik."
Sejarah terbentuknya?
"Ini cerita dari masa lampau. Katakanlah ada orang
yang melakukan kejahatan berat di Kerajaan Zalkum. Seharusnya mereka dijadikan
budak, tapi tidak ada yang mau membeli mereka. Orang-orang inilah yang sengaja
dibawa ke sini untuk membangun kota. Kamu tahu kenapa?"
"Sebagai... tumbal?"
Karena kota ini paling dekat dengan Hutan Iblis, aku
menjawab asal saja, tapi Sasha tampak terkesan dan mengangguk.
"Analisis yang tepat. Mars-kun, apa kamu benar-benar
delapan tahun? Pertumbuhanmu cepat sekali, dan kamu terlalu tenang... Kalau aku
tidak tahu kamu bisa sihir angin tingkat tinggi, aku pasti curiga kalau kamu
adalah seorang penyihir suci."
Sasha mengatakannya seperti bercanda, tapi itu hampir
saja membongkar rahasiaku. Sepertinya aku harus sedikit berakting seperti anak
kecil.
"Orang-orang yang awalnya tinggal di sini bisa
dibilang kriminal, pelarian, atau orang-orang yang tidak diinginkan oleh negara
dan bangsawan. Sisa-sisa sifat itu masih ada sampai sekarang. Hampir semua
kejadian di sini akan didiamkan. Orang yang paham geografi daerah ini biasanya
akan menghindari kota ini."
Jadi itu sebabnya Count Beetle memilih rute yang
menghindari tempat ini.
Tapi kalau begitu, lebih baik rutenya lewat sisi utara
Kota Ganal saja daripada lewat tengah-tengah antara Hutan Iblis dan Ganal. Saat
aku menunjukkan peta pemberian Count Beetle kepada Sasha, dia memberikan
jawaban tak terduga.
"Aku pun akan memilih rute yang sama dengan
orang ini. Mungkin kalau kalian sedikit lebih dewasa, aku akan
menyarankan rute yang kamu pikirkan. Masalahnya, di area timur laut hingga
utara kota ini sering terjadi kasus penculikan anak. Itulah alasan rute ini
dipilih."
Begitu ya. Aku jadi merasa malu karena sempat meragukan
Count Beetle.
Setelah selesai makan, aku, Clarice, dan Misha pergi
keluar sesuai rencana. Sasha akan menyusul setelah selesai berdiskusi dengan
anggota Fuga dan petualang lain yang dibawanya.
Meski aku sempat khawatir soal manajemen krisis, Sasha
yang sudah bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama diam-diam
menugaskan pengawal untuk kami. Sasha sendiri juga terus waspada dengan Search,
jadi aku bisa tenang.
Ternyata Misha diculik saat dia sendirian di penginapan
sementara Fuga sedang melakukan Dungeon Attack.
Begitu kembali dari Dungeon dan menyadari Misha tidak
ada, Sasha langsung panik dan menyebarkan Quest pencarian kepada
rekan-rekan petualangnya.
Beberapa hari kemudian, muncul laporan tentang pencarian
budak Elf di Guild Petualang Kota Polo, dan dia pun segera bergegas ke sana.
Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi. Tapi aku harus
benar-benar waspada saat menginap berdua saja dengan Clarice nanti.
Di kota yang gersang tanpa kios pinggir jalan maupun
gairah hidup ini, sebuah suara yang tidak pada tempatnya terdengar.
"Hei, hei! Di sana sepertinya ada toko!"
Misha menunjuk ke arah yang jelas-jelas sepi dan tidak
mungkin ada toko, lalu berjalan ke sana tanpa ragu.
"Eh!? Misha!? Jangan ke sana!"
Clarice, yang bertindak sebagai wali sementara, menarik
tangan Misha yang mulai lepas kendali. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja
sampai dia diculik lagi kalau begini terus.
Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba seorang pria
menghadang jalan kami.
Kedua tangannya terikat ke belakang dengan tali, mulutnya
disumpal, dan dia tampak berusaha keras meneriakkan sesuatu kepada kami.
"Ah.
Tuan Dames. Sudah lama ya. Tidak menyangka dalam waktu singkat Anda sudah punya
hobi seperti ini. Berhubung kami sedang buru-buru, kami permisi dulu. Selamat
tinggal."
Tumben sekali Clarice mengejek begitu. Dames menatap
kami dengan panik, seolah memohon agar ikatannya dilepaskan.
"Menatapku seperti itu... apa Anda
menyukaiku?"
Melihat
Clarice yang semakin gencar mengejek, wajah Dames memerah padam sambil terus
meronta.
"Ternyata
benar... wajahmu memerah... berarti tebakanku tepat... Tapi maaf, aku masih
delapan tahun..."
Sepertinya
Clarice benar-benar tidak berniat memaafkan Dames. Yah, dia memang hampir
membunuh kami, dan ayah Clarice, Gray, pernah ditebas olehnya. Dames sendiri
yang salah karena meminta bantuan pada orang seperti itu.
Namun
Dames tidak menyerah. Kali ini dia mengedipkan mata pada Clarice sebagai
isyarat memohon untuk dilepaskan.
Aku tidak merasa kasihan, tapi justru merasa jijik. Saat
aku ragu apakah harus melepaskannya atau tidak, sebuah suara terdengar dari
belakang.
"Kelihatannya seru sekali... apa orang ini kenalan
kalian?"
Entah karena mendengar keributan, mendapat laporan dari
pengawal rahasia kami, atau mendeteksi lewat Search, Sasha mendekat
dengan wajah yang sedikit kaku.
Tepat saat Dames menoleh ke arah sumber suara, dia sedang
mencoba mengedipkan mata pada Clarice. Kedipan itu malah mendarat tepat pada
Sasha, membuat Sasha menutup mulutnya dan terlihat ingin muntah.
"E-eh... ya, begitulah... ada sedikit urusan dengan
dia..."
"Begitu ya. Biar aku yang melepaskannya."
Sasha menerima perkataanku apa adanya, lalu melepaskan
ikatan tali dan sumpal mulut Dames.
Aku mengaktifkan Vision yang belum terbiasa
kugunakan ini untuk berjaga-jaga kalau Dames mengamuk dan menyerang Clarice.
Tapi anehnya, setelah sekian lama, Dames tetap diam di tempat dan hanya menatap
satu titik.
Di ujung tatapannya, ada Sasha yang sedang menatapnya
balik dengan pandangan seolah sedang melihat kotoran.
Meskipun ditatap seperti itu, Dames malah memasang
ekspresi wajah yang sangat terpesona.
Eh? Apa
dia benar-benar sudah 'bangun' ke hobi baru?
Sasha
menyerahkan Dames kepada anggota Fuga, lalu bertanya kepada kami.
"Orang itu tidak apa-apa? Rasanya dia terus
menatapku sejak tadi..."
"Bukan hanya perasaan Anda, dia memang sedang
menatap Anda."
Begitu aku menjelaskan situasinya, wajah cantik Sasha jadi semakin kaku.
—Siang pun tiba.
Suasana hati Misha yang ceria hanya bertahan sampai pagi
tadi. Kini, sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
"Misha, kita harus berpisah di sini. Rasanya sedih,
tapi kalau berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi."
"Aku senang sekali bisa mengobrol dengan Misha.
Sampai jumpa lagi, ya."
Begitu kami berpamitan, Misha menghentak-hentakkan
kakinya dan menangis kencang. "Tidak mau! Aku tidak mau berpisah!"
teriaknya. Jika boleh jujur, aku pun tidak ingin berpisah dengan Misha. Aku
yakin Clarice pun merasakan hal yang sama.
Sasha yang tidak tega melihat Misha tak kunjung
berhenti menangis akhirnya menanyakan destinasi tujuan kami.
Padahal saat aku menunjukkan peta rute pilihan Count
Beetle, dia seharusnya sudah melihat tujuan kami, tapi mungkin dia hanya ingin
memastikan.
"Kalau sejauh itu, akan sulit bagiku untuk
membalas budi secara langsung..."
Raut wajah Sasha tampak mendung.
"Lain kali saat kita bertemu lagi juga tidak
apa-apa. Lagipula, aku sudah menerima banyak hal darimu selain uang."
Jika tidak bertemu Misha, Clarice mungkin tidak akan
mempelajari sihir penghalang. Meski Heaven's Eye-ku sudah naik level
sebelumnya dan Vision pasti akan bangkit juga, tapi setidaknya aku bisa
mendengar penjelasan tentang Skill.
Namun, Sasha sepertinya benar-benar bersikeras ingin
membalas budi. Setelah memiringkan kepala sejenak sambil berpikir, dia tampak
mendapatkan sebuah ide.
"Hmm... Ah! Benar juga! Apa kalian berdua berniat
pergi ke sekolah!?"
Sekolah? Kalau dipikir-pikir, Cyrus juga sempat
mengatakan hal yang sama.
"Entahlah. Kemarin Cyrus-san juga mengatakannya,
tapi masa depan masih belum pasti..."
"—Cyrus!? Apa yang dia katakan padamu!?"
Aku sedikit terkejut melihat reaksi Sasha yang begitu
antusias, lalu menjawab sambil mencoba mengingat kata-kata kemarin.
"Kalau tidak salah, dia menyuruhku datang ke Sekolah
Nasional Lister... Dan saat mendaftar nanti, aku harus menyebutkan
namanya..."
Mendengar penjelasanku, Sasha spontan menyunggingkan
senyum.
"Cerdas juga dia memanfaatkan situasi... Mars-kun.
Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau mengikuti saran Cyrus untuk masuk
ke Sekolah Nasional Lister? Mungkin kamu sudah dengar, tapi Lister adalah
sekolah terbaik di dunia ini. Dengan kemampuanmu, aku yakin kamu akan menjadi
siswa beasiswa. Misha juga akan masuk ke sana saat dia berumur dua belas tahun
nanti."
Misha yang sejak tadi menangis langsung tertarik
mendengar percakapan ini.
"Eh!? Jadi kita bisa main bareng lagi!?"
Misha menatapku dengan mata sembap yang penuh harap.
Aku tidak bisa menolaknya mentah-mentah, dan sebenarnya aku pun tidak ingin
menolak. Namun, pergi belajar ke luar negeri adalah keputusan yang mustahil
kuambil sendiri, apalagi ada Clarice bersamaku.
Kini giliranku yang kebingungan, tapi Sasha segera
memberikan jalan keluar.
"Tentu saja mustahil memintamu memutuskan sekarang.
Setelah kejadian kemarin, aku benar-benar sadar betapa menyakitkannya berpisah
dengan anak, jadi aku tidak akan memaksamu. Tapi, setidaknya bisakah kamu
bertanya pada orang tuamu nanti? Begitu juga denganmu, Clarice-chan?"
Ekspresi yang ditujukan Sasha kepada kami sama lembutnya
dengan caranya menatap Misha.
"Baiklah. Saya akan mendiskusikannya dengan Ayah dan
Ibu. Clarice, bagaimana menurutmu?"
"Tentu saja! Kalau Mars pergi, aku juga akan ikut! Aku juga ingin bertemu Misha lagi!"
Misha yang menemukan harapan untuk bertemu kembali
berusaha keras tersenyum meski matanya masih bengkak.
"Kalau begitu, terima kasih atas segala
bantuannya."
"Sampai jumpa lagi, Misha."
Saat kami hendak meninggalkan kota dengan perasaan berat,
suara Misha yang luar biasa ceria mengubah atmosfer yang sempat suram.
"Terima kasih ya, kalian berdua! Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberimu sesuatu yang sangat
spesial, Mars! Nantikan saja!"
Aku menoleh ke belakang dan melihat Misha yang, meski
wajahnya masih berantakan karena tangis, berulang kali memberikan kedipan mata
kepada kami. Tanpa sadar aku dan Clarice tertawa lepas, namun ada rasa hangat
yang membuncah di dadaku.
Di mata biru Clarice yang indah pun mulai tampak
genangan air mata.
Agar tidak ketahuan oleh Misha, kami membalikkan
badan. Diiringi lambaian tangan Sasha dan Misha yang berdiri tegak, kami
meninggalkan Kota Ganal.



Post a Comment