NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 8

Chapter 8

Reuni di Rimulgard


"Barrier!"

Bersamaan dengan teriakan Clarice, sebuah papan kaca transparan muncul di sekelilingnya. Melalui Magic Eye, aku bisa melihatnya dengan jelas, meski mata telanjang tidak bisa mengonfirmasinya.

"Luar biasa! Kamu sudah bisa menguasainya dengan sempurna!"

"Iya! Terima kasih! Tinggal masalah cool time dan posisi penempatannya saja."

Sejak meninggalkan Kota Ganal, kami terus melakukan verifikasi pada sihir penghalang ini.

Aku sudah memastikan bahwa sihir Barrier ini mampu menangkis semua sihir yang kurapalkan, namun masalahnya adalah cool time seperti yang dikatakan Clarice.

Tampaknya sihir ini hanya bisa digunakan tiga puluh menit sekali. Karena hanya bisa dipakai sekali dalam satu pertempuran, penentu waktunya harus sangat hati-hati.

Selain itu, dia tidak bisa memasang Barrier terlalu jauh. Paling maksimal hanya sepuluh meter.

Yah, kemungkinan besar durasi cool time maupun jarak penempatan Barrier bergantung pada Magic Power atau level dari Barrier Magic, jadi kami berencana untuk terus melakukan pengujian.

◆◇◆

Saat aku merasa kota berikutnya sudah hampir terlihat, sesuatu yang lain muncul di jarak pandangku. Sebuah kereta kuda. Kereta itu berhenti di jalur yang akan kami lalui.

Kupikir rodanya rusak, tapi saat aku memperhatikannya baik-baik, tiba-tiba dua pria berdiri menghadang kami.

"Woi! Sini sebentar!"

Perintah itu diteriakkan dengan suara parau oleh Oligo, pemimpin Moonlight Darkness yang disewa oleh Hido. Di sampingnya berdiri Waltz, si pengguna sihir tidur. Tak kusangka akan bertemu mereka di sini.

Aku turun dari bangku kusir dan mencabut Mithril Sword. Clarice yang menyadari situasi tidak beres pun segera keluar dan menyiapkan Magic Arrow.

Saat aku sedang menyusun rencana untuk kabur, tak disangka Waltz berbicara dengan suara lembut.

"Oligo! Ini tidak sesuai janji! Jangan menakut-nakuti mereka! Maaf ya. Sebenarnya, kami melihat pertarunganmu dengan 'Si Muka Garang' Cyrus. Yah, meskipun aku pingsan jadi cuma melihat dari pertengahan saja. Oligo yang melihat pertarungan itu jadi iri padamu. Memang memalukan karena lawannya anak-anak, tapi dia terus meracau kalau dia lebih kuat darimu. Jadi, maukah kamu beradu tanding sebentar dengannya? Kalau Oligo sampai lepas kendali, aku sendiri yang akan membuatnya tidur. Bagaimana? Bisa bantu kami?"

Meskipun dikatakan dengan nada lembut, aku tidak bisa begitu saja bilang "ya".

"Cih! Merepotkan! Kalau diserang pasti dia akan membalas! Ayo, bocah tengik! Waltz, kau urus... gadis cantik itu!"

Sepertinya Oligo ingin menggunakan kata ejekan untuk Clarice, tapi setelah berpikir keras dia tidak menemukan kata yang pas, sehingga akhirnya dia malah memanggilnya gadis cantik. Bukannya dia kurang kosakata, tapi memang tidak ada kata lain yang lebih cocok selain itu.

Sambil berkata begitu, Oligo mencabut pedangnya dan mendekat perlahan.

Selama itu, aku melakukan Appraisal padanya. Strength, Agility, dan Endurance miliknya sedikit lebih tinggi dariku.

Namun, jika aku mengaktifkan Sylphid Enclosure, kurasa perbedaan level teknik pedang kami bisa tertutupi.

"Clarice! Ada kemungkinan musuh lain menyerang! Awasi juga bagian dalam kereta!"

"Dimengerti!"

Bersamaan dengan jawaban Clarice, bilah pedang Oligo terayun turun.

(Sylphid Enclosure!)

Berbeda dengan Cyrus, pedang ini penuh dengan niat membunuh. Aku menangkisnya dengan Mithril Sword.

"Kurang ajar!? Padahal cuma bocah!"

Mungkin karena terlalu percaya diri, Oligo yang marah karena serangannya kutangkis mulai mengayunkan pedangnya secara membabi buta dengan mengandalkan tenaga.

"Oligo! Berhent—"

Waltz mencoba menghentikan Oligo, tapi dia terdiam di tengah kalimat. Itu karena aku benar-benar berhasil menangkis semua serangan Oligo.

Kurang dari lima menit, ayunan pedang Oligo mulai goyah. Aku bahkan tidak menggunakan Vision. Tenaga Oligo habis karena dia mengayunkan pedang hanya dengan kekuatan otot belaka.

"Sleep!"

Tiba-tiba Waltz melepaskan sihir di tengah adu pedang kami. Sesaat aku merasa gawat, tapi jelas sekali tangannya tidak mengarah padaku.

Oligo terkena Sleep dan langsung jatuh tersungkur. Karena dia masih memegang pedang, cara jatuhnya yang salah bisa saja merenggut nyawanya, tapi Waltz tampak tidak peduli.

"Maaf, tapi bisakah kita anggap seri saja?"

Tampaknya Waltz memang benar-benar tidak berniat mencelakai kami.

"Iya. Tapi aku harap kalian tidak berurusan lagi dengan kami."

"Tentu. Setidaknya, aku tidak akan lagi mengambil tindakan bermusuhan terhadap kalian."

Jika setidaknya Waltz tidak ikut bertarung, itu adalah keuntungan besar. Setelah bertarung tadi, aku yakin sepenuhnya bahwa aku pasti bisa menang melawan Oligo. Begitu aku mengangguk, Waltz menunjukkan giginya yang putih.

"Kalian menuju ke barat, kan? Kalau begitu, kami akan kembali ke Ganal."

Aku mengangguk pada pertanyaan Waltz.

"Begitu ya. Maaf atas segalanya. Dan berkat kamu, aku sudah membulatkan tekad. Terakhir, boleh kutahu namamu?"

Waltz berbicara dengan wajah yang seolah baru saja melepaskan beban berat, sehingga tanpa sadar aku menjawabnya.

"Mars. Boleh aku tanya satu hal? Apa yang terjadi pada Waltz-san? Anda juga kan yang menidurkan dan menangkap Misha?"

"Jadi namamu Mars... Benar. Akulah yang menidurkan dan menangkapnya. Tapi aku terkesan melihat cara Mars melawan 'Si Muka Garang' Cyrus demi melindungi Clarice dan anak itu. Aku tidak mengasah kemampuanku dengan usaha berdarah-darah hanya untuk menculik seseorang. Aku melatih kemampuanku untuk melindungi seseorang. Aku sudah mengatakannya pada Oligo dan anggota lain, tapi mereka tidak mau dengar. Jadi, aku memutuskan untuk keluar dari Moonlight Darkness."

Mendengar perkataan Waltz, aku dan Clarice spontan saling pandang.

Waltz yang berwajah lega mengucapkan selamat tinggal. Dia menggendong Oligo yang sedang tidur nyenyak—yang tampak sangat berat—lalu melemparkannya dengan kasar ke dalam gerobak. Kereta kuda Moonlight Darkness kemudian berputar balik dan menuju Kota Ganal.

Kereta yang melaju lurus tanpa ragu itu terlihat seperti cerminan hati Waltz sendiri.

◆◇◆

Kami tiba di kota tetangga setelah pukul enam sore, saat hari sudah mulai gelap.

"Permisi. Apa ada dua kamar kosong..."

Setelah menitipkan kuda, aku mencoba memesan dua kamar seperti biasanya, tapi Clarice menarik lengan bajuku.

"Anu... bolehkah hari ini kita ambil satu kamar saja? Tempat tidurnya terpisah juga tidak apa-apa..."

Mata yang bersinar seperti permata itu menatapku.

"U-uh, iya. Aku tidak keberatan... maksudku, akan lebih aman kalau kita bersama... tapi apa kamu yakin?"

Tentu saja tidak ada alasan bagiku untuk menolak. Malah, aku pun berpikir ingin menginap di kamar yang sama. Tentu bukan karena niat mesum, tapi karena aku mendengar Misha diculik saat sedang menginap.

Clarice yang menunduk malu berkata "Tolong ya", dan pemilik penginapan menatap kami dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

Kami masuk ke kamar berdua. Tadinya aku ingin mandi seperti biasa, tapi kalau dipikir-pikir, satu kamar hanya punya satu kamar mandi.

Jika aku dan Clarice bukan orang yang bereinkarnasi, atau jika usia kami sebelum reinkarnasi sama dengan usia kami sekarang, mungkin mandi bersama adalah hal yang biasa. Namun, kami memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya, jadi jelas kami tidak bisa melakukannya.

"Clarice, kamu boleh mandi duluan."

"Eh? Tidak apa-apa. Mars saja dulu. Aku mandinya lama."

Kami saling mengalah, tapi saat aku bilang "Aku ini pria budiman, jadi ladies first", Clarice tertawa kecil sambil menyahut "Orang yang menyebut dirinya sendiri pria budiman itu mencurigakan, lho", meski akhirnya dia masuk mandi duluan.

◆◇◆

Sudah satu jam berlalu sejak Clarice masuk ke kamar mandi. Tidak terdengar suara apa pun dari dalam.

Lama sekali... terlalu lama. Dia bilang mandinya lama, tapi mungkinkah dia tertidur karena kelelahan? Kalau benar begitu, aku harus segera menolongnya... Tapi kalau dia ternyata masih bangun, aku akan terkesan mendesaknya untuk cepat keluar.

Tepat saat aku berpikir akan memanggilnya dalam lima menit lagi, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Untung saja aku tidak memanggilnya.

"Maaf. Aku berniat keluar lebih cepat dari biasanya, tapi... kamu menunggu lama ya?"

Clarice kembali sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, meminta maaf dengan raut wajah tidak enak hati.

"Tidak juga. Airnya enak?"

"Iya. Cuma tadi pengaturan Heat Magic Stone-nya agak sulit jadi memakan waktu."

Heat Magic Stone adalah batu sihir yang digunakan untuk menghangatkan air di bak mandi. Kami membelinya saat memesan penginapan, tapi aku sendiri tidak pernah memakainya karena aku menghangatkan air dengan sihir api.

Meskipun begitu, agar Clarice tidak merasa sungkan, aku selalu membeli satu untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin dia merasa tidak enak hati karena hanya dia yang memakainya.

Setelah aku mandi menyusul Clarice, kami makan di ruang makan dan bersiap untuk tidur.

"Kemarin dan hari ini benar-benar hari yang padat ya."

Clarice, yang mengenakan jubah tipis berkerudung dan celana pendek seperti yang dipakai Sasha, duduk di pinggir tempat tidur dan mengajakku bicara. Tentu saja, kaki Clarice juga seindah kaki Sasha.

"Benar. Banyak pertemuan yang baik, tapi kalau salah langkah sedikit saja, kita bisa mati. Kita harus jadi lebih kuat agar bisa hidup aman di dunia ini."

Aku duduk di tempat tidur seberangnya, menghadap Clarice, dan berjanji untuk menjadi lebih kuat.

"Iya. Aku juga akan berusaha, jadi sesekali andalkan aku ya."

Kami mengobrol sejenak mengenang waktu bersama Misha sebelum akhirnya terlelap.

◆◇◆

Perjalanan kami setelah meninggalkan Ganal berlangsung lancar.

Banyak jalanan rusak, tapi aku maju sambil meratakan tanah dengan sihir tanah. Berkat Heal, kuda kami bisa berlari lebih lama dari kuda lainnya, itulah faktor yang membuat kami melaju jauh lebih cepat dari jadwal.

Sedikit lagi sampai di perbatasan Kerajaan Balcus.

"Akhirnya Kerajaan Balcus."

"Kita sampai di sini lebih cepat dari jadwal ya."

"Benar. Tinggal apakah kita bisa menyeberang dengan aman atau tidak."

Jarak ke perbatasan sudah kurang dari sepuluh kilometer. Saat ini, perang antara Kerajaan Balcus dan Kerajaan Zalkum tampaknya sedang dalam status gencatan senjata sementara.

Kami akan menginap di Rimulgard Timur, kota yang berada di garis depan peperangan, lalu berangkat besok pagi-pagi sekali menuju Rimulgard Barat, kota di ujung timur Kerajaan Balcus.

Dulu, benua tengah kabarnya adalah satu negara utuh. Namun pecah menjadi Kekaisaran Lister, Kerajaan Balcus, dan Kerajaan Zalkum. Saat ini Lister bukan lagi Kekaisaran, melainkan negara federasi yang dipimpin oleh dua belas orang Duke. Yah, rasanya lebih seperti aliansi bangsawan daripada sebuah negara, tapi itu hanya masalah istilah saja.

Rimulgard, yang merupakan ibu kota saat masih menjadi satu negara, kabarnya kini terbengkalai. Itu karena selama bertahun-tahun Rimulgard menjadi panggung peperangan antara Kerajaan Balcus dan Kerajaan Zalkum.

Setibanya di penginapan Rimulgard Timur, karena masih ada waktu sampai sore, kami berkeliling kota.

Mungkin karena kota garis depan, jumlah petualang di sini jauh lebih banyak dibanding kota lain.

Jalan utama penuh sesak dengan petualang. Perkelahian dimulai hanya karena masalah sepele seperti bahu yang bersenggolan. Padahal baru lewat tengah hari, para petualang di kursi teras kedai minum sudah mengosongkan gelas bir mereka sambil menjadikan perkelahian itu sebagai teman minum.

Satu blok dari jalan utama yang penuh bau alkohol dan keringat, berjejer toko senjata dan perlengkapan pelindung.

Di jendela pajangan toko, berjejer senjata dan pelindung yang berkilauan. Anak-anak yang usianya sedikit di atas kami menatapnya dengan penuh damba.

Mereka pasti ingin menjadi petualang di masa depan, tapi sebaiknya mereka melatih mata untuk menilai barang terlebih dahulu. Sebab, barang-barang di sana kualitasnya tidak jauh berbeda dengan senjata tumpul yang dicoba dijual Hido padaku.

"Rasanya suasananya tidak seperti kota garis depan peperangan ya. Aku tadi membayangkan rumah sakit lapangan dengan barisan orang terluka yang terbaring."

"Benar. Aku pikir bakal ada suasana tegang yang mencekam. Ternyata ini meleset dari dugaan yang menyenangkan."

Aku menggandeng tangan Clarice dan berjalan melewati sekumpulan remaja laki-laki yang matanya terpaku pada Clarice, bukan pada jendela pajangan. Kami masuk ke dalam toko dan aku langsung bertanya pada pemiliknya.

"Permisi. Apa ada buku sihir?"

Mungkin terdengar aneh menanyakan buku sihir di toko senjata, tapi buku sihir juga dijual di toko pelindung, bahkan terkadang di Guild Petualang. Buku sihir yang didapatkan petualang bebas dijual di mana saja.

Ternyata di sini pun tidak ada buku sihir petir. Yah, karena aku merasa kemungkinannya sangat rendah, aku tidak terlalu kecewa.

Saat kami berkeliling hampir ke semua toko dan hendak kembali ke penginapan, Clarice menyadari sesuatu yang aneh.

"Hei? Tas Mars bercahaya, lho?"

Tas bercahaya? Apa maksudnya?

Aku menurunkan tas yang kugendong, dan benar kata Clarice, tas itu berpendar redup.

"Apa ini?"

Saat aku melihat ke dalam, ternyata itu adalah kristal yang diberikan oleh Ban, pemimpin Blue Fang, saat kami berpindah dari Labirin Ilgusia ke Granzam! Kristal ini akan memberitahukan posisi pasangan kristalnya jika sudah dekat... artinya, Blue Fang sedang berada di dekat sini!

"Clarice! Kenalanku dari Kerajaan Balcus sedang menuju ke sini!"

"Eh? Bagaimana kamu tahu?"

Setelah kujelaskan soal kristal itu, Clarice pun mengerti.

"Kalau kita bergerak sembarangan nanti bisa berpapasan di jalan, jadi sebaiknya kita tunggu di tempat yang mencolok."

"Iya, kamu benar."

Di depan penginapan, aku dan Clarice menatap kristal itu sambil menunggu Blue Fang. Mereka sudah menyeberangi perbatasan. Mungkin dalam beberapa puluh menit lagi mereka sampai di sini.

Aku tidak bisa menahan rasa tidak sabar dan terus gelisah, yang ternyata menular pada Clarice. Clarice mungkin merasa gugup karena ini pertama kalinya dia akan bertemu orang baru.

Dan akhirnya, saat itu tiba.

Dua bayangan mendekat dari tikungan jalan. Yang muncul di depanku ternyata adalah Ike dan Sieg!

""Mars!""

"Ayah! Kak Ike!"

Kami bertiga berlari mendekat dan meledakkan kegembiraan atas pertemuan kembali ini.

"Kami sangat mengkhawatirkanmu! Kamu baik-baik saja!?"

"Iya, Ayah! Pertama-tama, ada seseorang yang ingin kukenalkan pada kalian!"

Clarice yang tadinya mengira Blue Fang yang datang, langsung membatu karena gugup saat melihat Sieg dan Ike yang merupakan keluargaku datang tiba-tiba. Melihat hal itu, Sieg berbicara dengan lembut untuk meredakan ketegangan Clarice.

"Kamu pasti Clarice-san. Aku sudah tahu garis besar ceritanya dari surat Lord Beetle. Berhubung hari sudah sore, bagaimana kalau kita menginap di penginapan ini saja dan mengobrol sambil makan malam bersama?"

"I-iya. Nama saya Clarice Lampard. Senang bertemu dengan Anda."

Meskipun gugup, Clarice mengangkat sedikit ujung roknya, menarik kaki kirinya secara diagonal ke belakang, sedikit menekuk lutut kanan, dan memiringkan kepalanya sedikit sambil tersenyum kaku saat memberi salam.

Sikapnya yang sangat anggun itu membuat Sieg, Ike, bahkan diriku terpana.

"A-ah. Terima kasih atas kesopanannya. Aku Sieg Bryant, ayah Mars."

"Sa-salam kenal. Aku Ike Bryant, kakaknya."

Melihat kedua orang yang benar-benar terpesona oleh Clarice itu memperkenalkan diri dengan gugup, aku pun tertawa terbahak-bahak.

Ike dan Sieg juga memesan kamar. Kami sepakat untuk berkumpul di ruang makan setelah mandi.

Setelah menunggu Clarice mandi lama seperti biasanya, aku menuju ruang makan dan mendapati Ike serta Sieg sudah mulai makan malam.

""Maaf membuat kalian menunggu.""

Kami duduk dan segera menyantap hidangan kami.

"Aku sedikit terkejut melihat Mars yang pemalu ternyata menginap di kamar yang sama dengan Clarice-san. Tapi lebih dari itu, aku terkejut dengan atmosfer kalian yang sangat tidak sesuai dengan usia."

Sieg langsung melemparkan bom sejak kalimat pertama. Padahal di usia ini, apa hubungannya dengan menjadi pemalu.

"I-iya... banyak hal terjadi sampai kami tiba di sini..."

Aku menceritakan tentang mengalahkan Hell Snake di Hutan Iblis, soal Misha dan Sasha, tentang lelang, dan fakta bahwa kami bertiga dihargai sepuluh keping emas putih. Keduanya mendengarkan dengan mulut ternganga.

"Ja-jadi begitu... wajar saja kalau kalian menginap di satu kamar. Kerja bagus, Mars! Memang benar-benar salah satu putra kebanggaanku!"

"Rasanya dalam waktu singkat Mars jadi semakin tangguh ya. Apalagi bisa menemukan wanita sehebat ini, tolong pikirkan juga posisi kakakmu ini."

Ike berbicara dengan nada bercanda yang membuat Clarice menunduk tersipu.

"Omong-omong Mars, Clarice-san... tidak, Clarice, apakah kalian berdua tahu soal masalah di Rimulgard?"

Di tengah obrolan santai, wajah Sieg berubah serius saat bertanya padaku dan Clarice.

"Iya. Kerajaan Balcus dan Kerajaan Zalkum sedang berperang di sana, kan?"

Mendengar jawabanku, Sieg menggeleng.

"Tadinya aku juga berpikir begitu. Tapi sepertinya dua atau tiga hari yang lalu, Kastil Rimulgard tiba-tiba menjadi labirin (Dungeon) dan bahkan terjadi Dungeon Overflow. Para petualang dari kedua negara, secara formal memang berperang, tapi di balik layar mereka bekerja sama dan berbagi informasi. Aku ingin kita melewati Rimulgard selagi para petualang kedua negara sedang bekerja sama. Jadi, kita akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Mengerti?"

Semua orang mengangguk mendengar perkataan Sieg, lalu kami kembali ke kamar masing-masing.

◆◇◆

—Keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali kami meninggalkan Rimulgard Timur menuju arah barat daya.

Tentu saja akan lebih cepat jika langsung ke barat, tapi karena di barat ada Kastil Rimulgard yang sedang mengalami Dungeon Overflow, kami akan lewat memutar seolah menyerempetnya.

"Mars, Clarice. Coba lihat keluar. Itu Kastil Rimulgard."

Sieg yang duduk di bangku kusir berseru kepada kami yang berada di dalam gerobak.

Melihat ke arah barat laut dari dalam gerobak, meski langit cerah, awan hitam pekat menggantung di atas Kastil Rimulgard. Kabut yang menyelimuti sekitar kastil seolah-olah embusan napas kastil tanpa tuan yang sedang meratap.

Semakin dekat dengan Kastil Rimulgard, jumlah monster semakin banyak.

"Ayah, bolehkah aku keluar sebentar untuk membasmi monster-monster itu?"

"Benar juga. Ike, Mars. Bisa tolong bantu?"

Clarice langsung bereaksi mendengar kata-kata Sieg.

"Sieg-sama. Saya juga ikut!"

Sieg menunjukkan ekspresi bingung.

"Ayah. Boleh tolong lihat gaya bertarung Clarice juga? Ayah pasti akan terkejut."

Atas perkataanku, Sieg pun mengangguk meski agak ragu. Sieg tetap di bangku kusir, sementara aku, Ike, dan Clarice mulai membasmi monster.

"L-luar biasa... mereka benar-benar tidak membiarkan monster mendekat sedikit pun."

Monster-monster tewas satu demi satu di depan Magic Arrow milik Clarice. Aku dan Ike hanya bertugas membakar mayat monster tersebut. Sieg yang melihatnya dari bangku kusir berkata,

"Tu-tunggu... boleh aku konfirmasi? Kudengar dari Lord Beetle kalau Clarice adalah seorang penyihir suci?"

Dia bertanya dengan nada terkejut.

"Benar. Clarice adalah penyihir suci yang lebih hebat dariku. Dia bisa merapalkan Heal tanpa mantra."

Karena Clarice dipuji, aku yang merasa senang pun menjawabnya dengan bangga.

"—Lebih hebat dari Mars!? Apa penyihir suci zaman sekarang memang serba bisa begini?"

Sieg memiringkan kepalanya bingung.

"Ayah, bolehkah kami maju sedikit lagi ke utara untuk membersihkan monster?"

"Baiklah. Kerajaan Balcus sudah di depan mata, dan ada dua penyihir suci. Mari kita berjalan sambil memberikan jarak aman yang cukup."

Setelah mendapat izin dari Sieg, kami perlahan bergerak ke utara sambil membasmi monster. Kualitas dan kuantitas monster semakin meningkat, hingga tidak bisa lagi ditangani hanya dengan Magic Arrow Clarice saja.

Melihat hal itu, Ike yang tadinya hanya tim pembersih mayat, kini menunjukkan ekspresi bersemangat dengan Flame Lance di tangannya.

"Akhirnya giliranku."

Flame Lance menembus bagian-mana saja yang sudah diperlemah oleh Magic Arrow Clarice. Sebenarnya aku ingin memperlihatkan kerja sama yang kompak dengan Clarice, tapi baiklah, kali ini kuberikan gilirannya pada Ike.

Sambil memperhatikan pertarungan mereka, aku merasa heran dengan gerakan Ike yang seolah-olah sudah sangat mempercayai Clarice sepenuhnya, padahal mereka baru bertemu kemarin.

Biasanya, jika tidak sangat percaya, seseorang akan khawatir anak panah yang ditujukan ke monster malah mengenai dirinya sendiri, sehingga setiap kali melepaskan panah pasti akan mengecek sekitar atau tidak bisa bergerak bebas. Tapi Ike tidak begitu.

Mengapa? Bagaimana bisa? Jangan-jangan... Saat aku merasa iri dengan koordinasi mereka yang luar biasa, Clarice memuji Ike setelah berhasil mengalahkan monster.

"Ike-san! Permainan tombak Anda luar biasa hebat!"

Mendengar pujian Clarice, Ike dengan puas mengangkat Flame Lance-nya ke langit, lalu berjalan ke arahku.

"Kak Ike. Kemampuanmu meningkat lagi ya. Tapi sepertinya Kakak sudah percaya sepenuhnya pada Clarice, kenapa?"

Mendengar pertanyaanku yang langsung pada intinya, jawaban Ike sungguh di luar dugaan.

"Tentu saja!? Orang yang paling kupercayai lebih dari siapa pun adalah kamu, Mars. Clarice adalah wanita yang sudah kamu akui, kan? Tidak ada alasan bagiku untuk meragukannya."

Kata-kata Ike membuatku merasa malu pada diriku sendiri. Benar juga. Ike memang orang yang seperti itu.

Sambil terus membasmi monster, kami perlahan melanjutkan perjalanan ke utara dan berpapasan dengan sekelompok petualang. Mungkin jumlahnya ada tiga puluh orang.

Salah satu kelompok berhenti bertarung dan menyapa Sieg.

"Di sini berbahaya, tahu? Tapi melihat kalian bisa sampai sini, berarti kalian sudah sering bertarung di jalan tadi ya."

"Iya, kami datang dari arah selatan sambil membersihkan monster. Kami pikir mungkin bisa sedikit membantu kalian."

"Kami sangat berterima kasih, tapi apa kalian baik-baik saja? Kami sendiri terkadang kewalahan sehingga tidak bisa menolong kalian jika terjadi sesuatu..."

"Kami mengerti. Kami memang sudah berniat untuk mundur. Tapi sebelum itu, bolehkah aku konfirmasi situasinya? Bagaimana keadaan Kastil Rimulgard sekarang?"

Mendengar pertanyaan Sieg, wajah petualang itu menjadi muram.

"...Sebuah kelompok Peringkat A sudah masuk ke Kastil Rimulgard, tapi mereka sudah lama tidak kembali. Padahal mereka bilang hanya akan melihat situasi di dalam lalu segera kembali... Selain itu, monster di kota sekitar kastil juga sangat kuat. Kami tidak sanggup menghadapinya, jadi kami hanya bertarung di sini."

Kelompok Peringkat A tidak kembali? Bahkan kelompok ini pun tidak bisa mencapai kota sekitar kastil. Padahal jika kulihat dari cara mereka bertarung, kurasa mereka setara dengan petualang Peringkat C...

"Begitu ya. Terima kasih informasinya. Tapi jangan memaksakan diri ya. Aku akan meninggalkan semua Potion milikku, silakan gunakan jika perlu."

Sieg memberikan semua Potion miliknya kepada para petualang. Mereka tampak sangat senang dan berulang kali menunduk berterima kasih pada Sieg. Yah, selama ada aku dan Clarice, kami tidak butuh Potion.

Lebih baik kami segera pergi dari sini. Kami segera memacu kereta ke arah barat, melewati Rimulgard Barat yang merupakan wilayah terdekat dari Rimulgard milik Kerajaan Balcus, lalu menuju Bismarck.

Tadinya aku ingin setidaknya melihat-lihat buku sihir di Rimulgard Barat, tapi jika monster dari kastil atau kota sekitarnya meluap, Rimulgard Barat pun akan berbahaya. Itulah alasan kami memutuskan untuk segera melaju ke arah barat.

Karena ini adalah bekas wilayah perang, jalannya rusak parah dan hampir tidak bisa dilalui kereta kuda. Namun dengan sihir tanah, aku memperbaiki jalan sambil terus memacu kereta. Saat kami tiba di Bismarck, hari sudah beranjak sore.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close