NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 7

Chapter 7

Sampai Kita Bertemu Lagi


"Oifwi! Clarice, makan ini juga!"

Suara ceria Misha bergema di ruang makan penginapan.

"Wah! Enak! Aku baru pertama kali makan yang seperti ini!"

Clarice pun tampak sangat menikmati hidangan pesanan khusus dari Sasha yang tersaji di depan mata.

"Duh, Misha! Jangan masukkan semuanya sekaligus ke mulut! Nanti tersedak! Padahal biasanya dia lebih tenang... Maaf ya kalian berdua. Masih pagi sudah berisik begini," ucap Sasha.

Meski memasang wajah bingung, nada suara Sasha saat meminta maaf kepada kami terdengar riang.

"Tidak apa-apa, bersama Misha-san sangat menyenangkan. Iya kan, Clarice?"

"Iya. Rasanya seperti punya adik perempuan, aku senang sekali."

Clarice menyetujui perkataanku, tapi Misha yang sepertinya tidak suka dengan panggilan formal itu langsung menelan makanannya dengan bantuan air putih.

"Duh, Mars! Kenapa tiba-tiba jadi kaku begitu!"

Misha menggembungkan pipinya.

"Tidak juga, kok. Tapi bukannya tidak sopan kalau aku memanggilmu 'Misha' saja tanpa sebutan di depan Sasha-san?"

Mendengar penjelasanku, Misha bergumam, "Eh? Begitu ya?" sambil melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.

"Yah, benar juga. Itu tergantung situasi dan seberapa dekat aku dengan Mars-kun. Mars-kun, mulai sekarang panggil saja dia 'Misha' tanpa embel-embel, meski di depanku sekalipun."

Begitu aku mengangguk, Misha tersenyum lebar dan kembali menyuapkan makanan ke mulut mungilnya dengan semangat.

"Sasha-san, boleh aku bertanya sesuatu?"

Aku bertanya kepada Sasha yang sedang menatap Misha dengan penuh kasih sayang. Tanpa mengalihkan pandangannya, dia menjawab dengan nada yang terdengar cukup senang.

"Kemarin aku melihat Cyrus-san menembakkan tebasan cahaya. Itu sebenarnya apa?"

Meski soal pribadi Cyrus selalu dia alihkan, mungkin kalau soal teknik dia mau menjawab.

"Itu Water Blade. Mars-kun menguasai pedang dan sihir angin, jadi mungkin suatu saat nanti kamu juga bisa menggunakannya. Itu disebut Skill. Biasanya digunakan oleh pendekar pedang yang memiliki bakat sihir dengan cara memberikan Enchant elemen sihir pada senjatanya."

Ternyata hal seperti itu bisa dilakukan! Aku harus segera berlatih!

"Ah, tapi kamu butuh senjata khusus. Selain itu, berbeda dengan sihir, Skill bisa dikeluarkan sambil bergerak, tapi kekuatannya lebih rendah dan tidak bisa dilakukan terus-menerus. Kalau dipaksa, performa asli senjatanya bisa hilang, atau skenario terburuknya senjata itu akan hancur berkeping-keping. Jadi, kamu harus belajar dari seseorang yang ahli."

Bakat sihir dan senjata khusus, ya... Kalau aku berarti antara sihir angin atau petir, tapi sihir petir sepertinya sulit. Meski begitu, daftar hal yang harus kulatih bertambah lagi. Aku harus melakukannya pelan-pelan tanpa perlu terburu-buru.

"Fuuh. Perutku sudah kenyang. Hei Ibu? Boleh aku pergi main keluar dengan Mars dan Clarice?"

Misha, yang mulutnya berlepotan krim, bertanya sambil menepuk-nepuk perutnya yang sedikit buncit.

"Boleh saja, tapi aku ingin bicara sedikit lagi dengan Mars-kun. Kalian berdua kembalilah ke kamar duluan."

Sasha menyuruh Misha dan Clarice kembali ke kamar lebih dulu.

"Oke! Ayo Clarice, jalan!"

Misha menarik paksa tangan Clarice yang sepertinya baru saja selesai makan dan ingin bersantai sejenak.

Setelah memastikan mereka berdua kembali ke kamar, Sasha meletakkan sebuah kantong rami kecil di atas meja.

"Ini sebagai ucapan terima kasih atas kejadian kemarin. Aku tahu ini mungkin tidak cukup, tapi... aku menghabiskan banyak uang untuk mencari Misha, jadi sekarang simpananku tidak seberapa."

Di dalam kantong rami itu terlihat kepingan emas. Pasti jumlahnya lebih dari sepuluh keping.

"A-apa tidak apa-apa saya menerima sebanyak ini?"

Jumlah ini lebih dari cukup untuk membuat hidup kami nyaman, tapi Sasha menggelengkan kepalanya.

"Demi Misha, aku bersedia mengeluarkan sepuluh kali, bahkan seratus kali lipat dari ini. Aku bahkan rela memberikan semua yang kumiliki. Jadi, izinkan aku membalas budi lebih pantas lain kali."

Sasha menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah. Memang benar, nyawa putrinya jauh lebih berharga daripada puluhan keping emas, tapi kami menolongnya bukan karena mengharap imbalan.

"Jangan begitu. Ini sudah lebih dari cukup. Lagi pula, aku senang bisa bertemu Misha, justru kamilah yang bersyukur atas pertemuan hebat ini."

"Aku senang mendengarnya, tapi aku pasti akan membalas budi ini."

Sasha kembali menundukkan kepalanya.

"A-anu, boleh saya bertanya satu hal lagi?"

Aku bertanya secara spontan untuk mengubah suasana. Akhirnya Sasha mengangkat kepalanya dan tersenyum manis.

Sepertinya itu berarti aku boleh bertanya.

"Saya sudah melewati beberapa kota dalam perjalanan ini, tapi kenapa hanya di kota ini atmosfer penduduk dan gelagat para petualangnya terasa... bagaimana ya..."

"Buruk?"

Sasha menyambung kalimatku yang sulit kuucapkan, dan aku pun mengangguk.

"Itu karena sejarah terbentuknya kota ini agak unik."

Sejarah terbentuknya?

"Ini cerita dari masa lampau. Katakanlah ada orang yang melakukan kejahatan berat di Kerajaan Zalkum. Seharusnya mereka dijadikan budak, tapi tidak ada yang mau membeli mereka. Orang-orang inilah yang sengaja dibawa ke sini untuk membangun kota. Kamu tahu kenapa?"

"Sebagai... tumbal?"

Karena kota ini paling dekat dengan Hutan Iblis, aku menjawab asal saja, tapi Sasha tampak terkesan dan mengangguk.

"Analisis yang tepat. Mars-kun, apa kamu benar-benar delapan tahun? Pertumbuhanmu cepat sekali, dan kamu terlalu tenang... Kalau aku tidak tahu kamu bisa sihir angin tingkat tinggi, aku pasti curiga kalau kamu adalah seorang penyihir suci."

Sasha mengatakannya seperti bercanda, tapi itu hampir saja membongkar rahasiaku. Sepertinya aku harus sedikit berakting seperti anak kecil.

"Orang-orang yang awalnya tinggal di sini bisa dibilang kriminal, pelarian, atau orang-orang yang tidak diinginkan oleh negara dan bangsawan. Sisa-sisa sifat itu masih ada sampai sekarang. Hampir semua kejadian di sini akan didiamkan. Orang yang paham geografi daerah ini biasanya akan menghindari kota ini."

Jadi itu sebabnya Count Beetle memilih rute yang menghindari tempat ini.

Tapi kalau begitu, lebih baik rutenya lewat sisi utara Kota Ganal saja daripada lewat tengah-tengah antara Hutan Iblis dan Ganal. Saat aku menunjukkan peta pemberian Count Beetle kepada Sasha, dia memberikan jawaban tak terduga.

"Aku pun akan memilih rute yang sama dengan orang ini. Mungkin kalau kalian sedikit lebih dewasa, aku akan menyarankan rute yang kamu pikirkan. Masalahnya, di area timur laut hingga utara kota ini sering terjadi kasus penculikan anak. Itulah alasan rute ini dipilih."

Begitu ya. Aku jadi merasa malu karena sempat meragukan Count Beetle.

Setelah selesai makan, aku, Clarice, dan Misha pergi keluar sesuai rencana. Sasha akan menyusul setelah selesai berdiskusi dengan anggota Fuga dan petualang lain yang dibawanya.

Meski aku sempat khawatir soal manajemen krisis, Sasha yang sudah bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama diam-diam menugaskan pengawal untuk kami. Sasha sendiri juga terus waspada dengan Search, jadi aku bisa tenang.

Ternyata Misha diculik saat dia sendirian di penginapan sementara Fuga sedang melakukan Dungeon Attack.

Begitu kembali dari Dungeon dan menyadari Misha tidak ada, Sasha langsung panik dan menyebarkan Quest pencarian kepada rekan-rekan petualangnya.

Beberapa hari kemudian, muncul laporan tentang pencarian budak Elf di Guild Petualang Kota Polo, dan dia pun segera bergegas ke sana.

Yah, kalau begitu mau bagaimana lagi. Tapi aku harus benar-benar waspada saat menginap berdua saja dengan Clarice nanti.

Di kota yang gersang tanpa kios pinggir jalan maupun gairah hidup ini, sebuah suara yang tidak pada tempatnya terdengar.

"Hei, hei! Di sana sepertinya ada toko!"

Misha menunjuk ke arah yang jelas-jelas sepi dan tidak mungkin ada toko, lalu berjalan ke sana tanpa ragu.

"Eh!? Misha!? Jangan ke sana!"

Clarice, yang bertindak sebagai wali sementara, menarik tangan Misha yang mulai lepas kendali. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja sampai dia diculik lagi kalau begini terus.

Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba seorang pria menghadang jalan kami.

Kedua tangannya terikat ke belakang dengan tali, mulutnya disumpal, dan dia tampak berusaha keras meneriakkan sesuatu kepada kami.

"Ah. Tuan Dames. Sudah lama ya. Tidak menyangka dalam waktu singkat Anda sudah punya hobi seperti ini. Berhubung kami sedang buru-buru, kami permisi dulu. Selamat tinggal."

Tumben sekali Clarice mengejek begitu. Dames menatap kami dengan panik, seolah memohon agar ikatannya dilepaskan.

"Menatapku seperti itu... apa Anda menyukaiku?"

Melihat Clarice yang semakin gencar mengejek, wajah Dames memerah padam sambil terus meronta.

"Ternyata benar... wajahmu memerah... berarti tebakanku tepat... Tapi maaf, aku masih delapan tahun..."

Sepertinya Clarice benar-benar tidak berniat memaafkan Dames. Yah, dia memang hampir membunuh kami, dan ayah Clarice, Gray, pernah ditebas olehnya. Dames sendiri yang salah karena meminta bantuan pada orang seperti itu.

Namun Dames tidak menyerah. Kali ini dia mengedipkan mata pada Clarice sebagai isyarat memohon untuk dilepaskan.

Aku tidak merasa kasihan, tapi justru merasa jijik. Saat aku ragu apakah harus melepaskannya atau tidak, sebuah suara terdengar dari belakang.

"Kelihatannya seru sekali... apa orang ini kenalan kalian?"

Entah karena mendengar keributan, mendapat laporan dari pengawal rahasia kami, atau mendeteksi lewat Search, Sasha mendekat dengan wajah yang sedikit kaku.

Tepat saat Dames menoleh ke arah sumber suara, dia sedang mencoba mengedipkan mata pada Clarice. Kedipan itu malah mendarat tepat pada Sasha, membuat Sasha menutup mulutnya dan terlihat ingin muntah.

"E-eh... ya, begitulah... ada sedikit urusan dengan dia..."

"Begitu ya. Biar aku yang melepaskannya."

Sasha menerima perkataanku apa adanya, lalu melepaskan ikatan tali dan sumpal mulut Dames.

Aku mengaktifkan Vision yang belum terbiasa kugunakan ini untuk berjaga-jaga kalau Dames mengamuk dan menyerang Clarice. Tapi anehnya, setelah sekian lama, Dames tetap diam di tempat dan hanya menatap satu titik.

Di ujung tatapannya, ada Sasha yang sedang menatapnya balik dengan pandangan seolah sedang melihat kotoran.

Meskipun ditatap seperti itu, Dames malah memasang ekspresi wajah yang sangat terpesona.

Eh? Apa dia benar-benar sudah 'bangun' ke hobi baru?

Sasha menyerahkan Dames kepada anggota Fuga, lalu bertanya kepada kami.

"Orang itu tidak apa-apa? Rasanya dia terus menatapku sejak tadi..."

"Bukan hanya perasaan Anda, dia memang sedang menatap Anda."

Begitu aku menjelaskan situasinya, wajah cantik Sasha jadi semakin kaku.




—Siang pun tiba.

Suasana hati Misha yang ceria hanya bertahan sampai pagi tadi. Kini, sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

"Misha, kita harus berpisah di sini. Rasanya sedih, tapi kalau berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi."

"Aku senang sekali bisa mengobrol dengan Misha. Sampai jumpa lagi, ya."

Begitu kami berpamitan, Misha menghentak-hentakkan kakinya dan menangis kencang. "Tidak mau! Aku tidak mau berpisah!" teriaknya. Jika boleh jujur, aku pun tidak ingin berpisah dengan Misha. Aku yakin Clarice pun merasakan hal yang sama.

Sasha yang tidak tega melihat Misha tak kunjung berhenti menangis akhirnya menanyakan destinasi tujuan kami.

Padahal saat aku menunjukkan peta rute pilihan Count Beetle, dia seharusnya sudah melihat tujuan kami, tapi mungkin dia hanya ingin memastikan.

"Kalau sejauh itu, akan sulit bagiku untuk membalas budi secara langsung..."

Raut wajah Sasha tampak mendung.

"Lain kali saat kita bertemu lagi juga tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah menerima banyak hal darimu selain uang."

Jika tidak bertemu Misha, Clarice mungkin tidak akan mempelajari sihir penghalang. Meski Heaven's Eye-ku sudah naik level sebelumnya dan Vision pasti akan bangkit juga, tapi setidaknya aku bisa mendengar penjelasan tentang Skill.

Namun, Sasha sepertinya benar-benar bersikeras ingin membalas budi. Setelah memiringkan kepala sejenak sambil berpikir, dia tampak mendapatkan sebuah ide.

"Hmm... Ah! Benar juga! Apa kalian berdua berniat pergi ke sekolah!?"

Sekolah? Kalau dipikir-pikir, Cyrus juga sempat mengatakan hal yang sama.

"Entahlah. Kemarin Cyrus-san juga mengatakannya, tapi masa depan masih belum pasti..."

"—Cyrus!? Apa yang dia katakan padamu!?"

Aku sedikit terkejut melihat reaksi Sasha yang begitu antusias, lalu menjawab sambil mencoba mengingat kata-kata kemarin.

"Kalau tidak salah, dia menyuruhku datang ke Sekolah Nasional Lister... Dan saat mendaftar nanti, aku harus menyebutkan namanya..."

Mendengar penjelasanku, Sasha spontan menyunggingkan senyum.

"Cerdas juga dia memanfaatkan situasi... Mars-kun. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau mengikuti saran Cyrus untuk masuk ke Sekolah Nasional Lister? Mungkin kamu sudah dengar, tapi Lister adalah sekolah terbaik di dunia ini. Dengan kemampuanmu, aku yakin kamu akan menjadi siswa beasiswa. Misha juga akan masuk ke sana saat dia berumur dua belas tahun nanti."

Misha yang sejak tadi menangis langsung tertarik mendengar percakapan ini.

"Eh!? Jadi kita bisa main bareng lagi!?"

Misha menatapku dengan mata sembap yang penuh harap. Aku tidak bisa menolaknya mentah-mentah, dan sebenarnya aku pun tidak ingin menolak. Namun, pergi belajar ke luar negeri adalah keputusan yang mustahil kuambil sendiri, apalagi ada Clarice bersamaku.

Kini giliranku yang kebingungan, tapi Sasha segera memberikan jalan keluar.

"Tentu saja mustahil memintamu memutuskan sekarang. Setelah kejadian kemarin, aku benar-benar sadar betapa menyakitkannya berpisah dengan anak, jadi aku tidak akan memaksamu. Tapi, setidaknya bisakah kamu bertanya pada orang tuamu nanti? Begitu juga denganmu, Clarice-chan?"

Ekspresi yang ditujukan Sasha kepada kami sama lembutnya dengan caranya menatap Misha.

"Baiklah. Saya akan mendiskusikannya dengan Ayah dan Ibu. Clarice, bagaimana menurutmu?"

"Tentu saja! Kalau Mars pergi, aku juga akan ikut! Aku juga ingin bertemu Misha lagi!"

Misha yang menemukan harapan untuk bertemu kembali berusaha keras tersenyum meski matanya masih bengkak.

"Kalau begitu, terima kasih atas segala bantuannya."

"Sampai jumpa lagi, Misha."

Saat kami hendak meninggalkan kota dengan perasaan berat, suara Misha yang luar biasa ceria mengubah atmosfer yang sempat suram.

"Terima kasih ya, kalian berdua! Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberimu sesuatu yang sangat spesial, Mars! Nantikan saja!"

Aku menoleh ke belakang dan melihat Misha yang, meski wajahnya masih berantakan karena tangis, berulang kali memberikan kedipan mata kepada kami. Tanpa sadar aku dan Clarice tertawa lepas, namun ada rasa hangat yang membuncah di dadaku.

Di mata biru Clarice yang indah pun mulai tampak genangan air mata.

Agar tidak ketahuan oleh Misha, kami membalikkan badan. Diiringi lambaian tangan Sasha dan Misha yang berdiri tegak, kami meninggalkan Kota Ganal.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close