Chapter 16
Pedang Sumpah
1
September 2032
Lebih
dari sepuluh hari telah berlalu sejak pertarungan sengit melawan Reiner dan
Bram.
Bram
sempat terbangun sehari setelah kutukannya lepas, namun ia segera tertidur
kembali. Mengingat tubuhnya sempat berubah menjadi pedang, kutukan
itu pasti sangatlah kuat.
Ia baru benar-benar terbangun lima hari kemudian. Itu pun
ia masih sering tertidur dan hanya bangun sebentar-sebentar. Baru kemarinlah ia
akhirnya bisa diajak bicara dengan normal.
Reiner dan Bram meminta waktu untuk bicara berdua, namun
saat aku menyampaikan kekhawatiran Duke Regan tentang kemungkinan mereka bunuh
diri, diputuskan bahwa aku juga harus ikut serta. Mereka setuju asalkan hanya
aku yang mendampingi.
Pertama-tama, Reiner menjelaskan kronologi kejadian
hingga kutukan itu terangkat kepada Bram. Sepertinya ingatan Bram masih
terputus-putus dan dia belum memahami segalanya sepenuhnya.
Setelah menerima penjelasan singkat, Bram turun dari
tempat tidur dan melakukan gerakan seperti bersujud hingga kepalanya menyentuh
lantai.
"Tuan Mars, terima kasih banyak. Saya pasti akan
membalas budi ini."
Melihat itu, Reiner pun ikut bersujud dengan cara yang
sama.
"Aku juga, biarkan aku membalas budi pada Tuan
Mars!"
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan meminta kalian
membalas budiku sekarang juga. Dilarang bunuh diri, hanya itu. Lalu, ini
tergantung keputusan Duke Regan nanti, tapi aku ingin kalian tetap mengajar di
sekolah ini sebagai guruku sampai aku lulus."
Sebenarnya, aku sudah tahu keputusan apa yang akan
diambil Duke Regan. Namun, tentu saja aku tidak bisa mengatakannya kepada
mereka sekarang.
Mendengar larangan bunuh diri dariku, keduanya saling
pandang. Sepertinya dugaanku benar, mereka berniat mengakhiri hidup setelah
membalas budi padaku.
"Mengerti, kan? Ini permintaan dari orang yang
telah menolong kalian. Sekali lagi kukatakan, dilarang bunuh diri!"
Dengan agak enggan, mereka akhirnya menjanjikan hal
itu.
"Nah, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.
Pertama, Bram-san, bolehkah aku melakukan Appraisal padamu?"
Wajah Bram tampak tegang, mungkin ia merasa takut di-Appraisal,
namun jawabannya tetap "Iya".
[Nama]
Bram Chest
[Title]
—
[Status]
Human / Commoner
[Kondisi]
Baik
[Umur]
34 Tahun
[Level]
48
[HP]
158 / 158
[MP]
440 / 440
[Strength]
82
[Agility]
80
[Magic]
98
[Dexterity]
72
[Endurance]
74
[Luck]
0
[Unique
Ability] Space Magic G (Lv 2/5)
[Special
Ability] Swordmanship D (Lv 8/13)
[Special
Ability] Wind Magic D (Lv 7/13)
Rasanya
statistiknya agak rendah untuk level segitu... tapi yah, lupakan soal itu. Yang
paling menarik perhatianku tentu saja Unique Ability bernama Space
Magic.
Ada kemungkinan Bram adalah seorang
"Reincarnator", namun instingku berkata tidak. Tanpa berbasa-basi kepada Bram
yang baru sembuh, aku langsung bertanya to-the-point.
"Bram-san,
apakah kamu seorang Reincarnator?"
Karena
dia memiliki Unique Ability, tentu saja aku mengira dia begitu, tapi
ternyata dugaanku meleset.
"Reincarnator?
Apa maksudnya itu?"
Awalnya
kukira dia berpura-pura, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan hal itu. Memang benar, jika bukan seorang Reincarnator, kata
"Reinkarnasi" pasti terdengar asing.
Sepertinya aku tidak boleh langsung menghakimi bahwa
pemilik Unique Ability pasti seorang Reincarnator. Sebab jika di dunia
ini hanya aku yang tersisa, maka sihir api atau air pun akan menjadi Unique
Ability bagiku.
"Tuan Mars, sebenarnya ada satu pedang yang
kusimpan di dalam penyimpanan Space Magic. Bolehkah aku menunjukkannya
padamu?"
"Eh? Iya! Tentu saja! Lalu Bram-san, tolong
jangan gunakan panggilan hormat atau bahasa formal padaku. Aku tidak mau jadi
tinggi hati lagi. Reiner-sensei juga, ya."
"Tidak, hal seperti itu..."
"Kumohon!"
Setelah kupaksa, mereka berdua akhirnya mengangguk
pasrah.
Kemudian, dari sub-ruang, muncul sebuah pedang yang masih
tersimpan di dalam sarungnya.
"Berhati-hatilah. Jika menyentuh pedang itu, kamu
akan tersengat listrik. Reiner sudah berusaha keras untuk menguasainya, tapi
dia tidak tahan dengan rasa sakitnya dan akhirnya tidak bisa menggunakannya.
Aku sempat berpikir mungkin pedang ini dikutuk? Tapi Reiner bilang pedang ini
adalah mahakarya, jadi aku terus menyimpannya. Mungkin pedang ini sendiri
sedang mencari majikan yang mampu menjinakkannya."
"Bolehkah aku melakukan Appraisal?"
Aku tidak mau menyentuh sesuatu yang mungkin dikutuk
tanpa tahu isinya. Bram mengangguk tanda setuju, lalu aku memulai Appraisal.
Ternyata, itulah pedang yang selama ini kucari.
[Nama]
Raimeiken (Thunderclap Sword)
[Attack]
40
[Special]
Magic +2
[Value]
B
[Detail]
Pengguna akan tersengat listrik jika tidak memiliki Lightning Resistance.
Serangan meningkat jika diberikan Enchant Lightning.
Tersengat
yang dimaksud ternyata adalah aliran listrik. Jika begitu, aku yang memiliki
ketahanan terhadap petir tidak akan merasakan apa-apa.
Begitu
aku mengambil Raimeiken dan mencabutnya dari sarungnya, bilah pedang berwarna
putih kebiruan itu bersinar. Secara perlahan namun pasti, getaran
halus terasa dari dalam pedang.
Namun, hanya dengan satu ayunan, Raimeiken mengalami
perubahan yang mengejutkan.
Bilah putih kebiruan itu seketika dibalut cahaya emas,
dan seluruh bagian pedang diselimuti pendar misterius berwarna keemasan.
Sarung
pedangnya pun ikut bersinar emas merespons cahaya tersebut. Sinarnya begitu
terang hingga mampu menerangi kegelapan malam, memancarkan wibawa yang luar
biasa.
"Apa!?
Pedang itu... mengakui Mars sebagai pemiliknya...?"
Bersamaan
dengan ucapan Reiner, cahaya Raimeiken meredup. Persis seperti kata Reiner,
jika tadi pedang ini terasa liar, sekarang rasanya setenang permukaan air.
Tenang, namun sangat kuat.
Apakah
ini pedang yang sama? Saat aku melakukan Appraisal sekali lagi, hasilnya
membuatku tak percaya.
[Nama]
Raimeiken (Thunderclap Sword)
[Attack]
60
[Special]
Magic +5
[Value]
A
[Detail]
Pengguna akan tersengat listrik jika tidak memiliki Lightning Resistance.
Sambaran listrik akan menjalar jika diberikan Enchant Lightning.
Mana
mungkin hal seperti ini terjadi!? Reiner dan Bram juga tampak terbelalak tidak
percaya.
"Terima kasih! Aku akan menggunakannya dengan
baik!"
Reiner dan Bram ikut senang melihatku bisa mengenakan
perlengkapan itu.
"Duke Regan sudah menunggu. Mari kita temui
beliau."
Aku membawa mereka berdua menuju ruang kepala sekolah.
Biasanya pintu ruang itu tertutup rapat. Namun hari ini berbeda. Meskipun
ksatria penjaga tetap berdiri di kedua sisi pintu seperti biasa, pintunya sudah
terbuka lebar.
Aku melewati mereka dan melangkah masuk ke dalam.
Reiner dan Bram mengikuti di belakangku. Begitu kami bertiga masuk, ksatria di
luar segera menutup pintu.
Di dalam ruangan, Sasha sudah berdiri di belakang
Duke Regan. Di mata sang Duke, terlihat genangan air mata yang samar.
"Benar-benar... syukurlah kalian
selamat..."
Melihat sosok kami bertiga, suara Duke Regan
bergetar. Beliau menyeka air mata yang tak terbendung dengan saputangan.
Rasanya aku tidak seharusnya berada di sini. Saat aku berniat meninggalkan
ruangan, Duke Regan menahanku.
"Mars, kamu boleh tetap di sini, lho? Tidak akan
ada yang menganggapmu pengganggu."
Tapi, kupikir mereka akan lebih leluasa bicara jika aku
tidak ada. Aku yakin Reiner tidak akan membocorkan soal Holy Magic milik
Clarice.
"Terima kasih. Tapi, ada sesuatu yang ingin
kulakukan."
Kalah oleh rasa penasaran untuk mencoba Raimeiken, aku
pun keluar dari ruang kepala sekolah.
◆◇◆
"Oh, ternyata kamu di sini?"
Saat aku sedang mengayunkan Raimeiken di bawah bayangan
pohon di halaman sekolah, suara Clarice terdengar.
"Hebat juga kamu bisa tahu. Jam bela diri hari ini kan di arena?"
"Iya, tapi karena kamu lama sekali tidak kembali,
aku jadi khawatir. Terus aku merasa kamu mungkin ada di sekitar sini, eh
ternyata benar. Aku sendiri agak kaget."
Clarice tersenyum manis. Mencari seseorang di area
Sekolah Nasional Lister yang luas ini bukanlah hal mudah, tapi Clarice
menemukanku tanpa ragu. Padahal aku sudah memilih tempat tersembunyi agar bisa
menguji efek Raimeiken tanpa gangguan.
"Ada sesuatu yang ingin kucoba dengan pedang
ini."
Saat aku menunjukkan pedang yang bersinar keemasan itu,
Clarice mendekat dengan penuh minat.
"Jangan-jangan, ini senjata tipe elemen petir?"
"Iya, kalau diberikan Enchant Lightning,
petirnya akan menjalar ke lawan yang beradu pedang denganku. Dari hasil
percobaanku barusan, aku bisa menyesuaikan tegangan listriknya tergantung
jumlah MP yang kugunakan untuk Enchant. Jadi, ke depannya aku
bisa berlatih sihir petir dengan lebih santai dan memasukkannya ke dalam gaya
bertarungku."
Saking senangnya aku bicara dengan cepat, dan saat
tersadar, aku merasa agak malu.
"Benarkah!? Kalau ada yang bisa kubantu, bilang saja
ya."
Suara
Clarice juga terdengar sedikit bersemangat.
"Kalau
begitu, maaf kalau mendadak, tapi bisakah kamu menyiapkan pedangmu? Aku ingin
mencoba seberapa besar arus listrik yang mengalir saat menggunakan Enchant.
Aku hanya bisa meminta bantuanmu karena hanya kamu yang punya ketahanan
sihir petir."
"Tentu. Serahkan padaku."
Clarice tersenyum sambil memegang pedang latihan. Kami
tidak akan melakukan adu pedang yang sampai memercikkan api, cukup adu dorong
saja.
Kami mendekat perlahan untuk mengadu bagian pelindung
pedang (tsuba), lalu aku merapalkan Enchant Lightning. Seketika,
kekuatan sihir mengalir dari Raimeiken menuju Clarice, dan kulitnya yang putih
bening mulai memancarkan cahaya keemasan.
"Tidak sakit, kan?"
"Tentu saja. Mana mungkin kekuatan sihir Mars akan
menyakitiku? Justru kekuatan sihir yang sangat hangat sedang memenuhi
tubuhku."
Saat aku menaik-turunkan jumlah MP yang ku-Enchant,
pendar cahaya emas yang menyelimutinya pun ikut berkedip sesuai aliran
sihirnya.
"Ng-ngomong-ngomong, aku juga punya satu hal yang
ingin kucoba, boleh tidak?"
Dengan
pipi yang merona, Clarice bertanya. Namun tanpa menunggu jawabanku, ia
meletakkan pedang latihannya di tanah dan memintaku menyarungkan Raimeiken
juga.
"Selama ini aku kan hanya merasakan kekuatan sihir
Mars? Jadi kali ini aku ingin Mars merasakan kekuatan sihirku. Tidak boleh
menolak, ya. Anggap saja ini balasan untuk hutang budiku yang kemarin."
Clarice perlahan melingkarkan tangannya di pinggangku dan
merapat. Kekuatan sihir mengalir dari tubuhnya bersamaan dengan aroma wangi
yang memikat. Rasa syukur, kepercayaan, kekaguman, dan kasih sayang... berbagai
emosi memenuhi tubuhku.
"G-bagaimana? Sudah merasakannya?"
Clarice yang berada dalam dekapanku menatap dengan mata
yang berkaca-kaca karena cemas. Merasakan sepenuhnya apa yang ia inginkan
melalui kekuatan sihirnya, aku pun segera membalasnya dengan tindakan.
"Iya, tersampaikan dengan sangat jelas. Terima
kasih."
Aku mengangkat dagu Clarice dengan lembut, dan mata
indahnya pun terpejam bersamaan dengan sebuah senyuman.
Di atas bibirnya yang seperti kelopak bunga merah muda
itu, aku mendaratkan ciuman dengan lembut layaknya angin yang menyisir
permukaan air. Setelah beberapa detik yang terasa selamanya, bibir kami pun
terpisah.
"……Semuanya
sudah menunggu…… cepat datang, ya."
Tanpa berani menatap mataku sekali pun, Clarice berlari
menuju arena sambil menundukkan kepala. Sambil merasakan sisa kelembutan dan
kekuatan sihir Clarice, aku melangkah menuju arena dengan mengikuti jejak aroma
floral yang tertinggal.
◆◇◆
Beberapa hari kemudian.
"Misha! Jangan cuma fokus pada musuh di depanmu!
Anggap saja Mars ada di mana-mana!"
Suara instruksi Reiner menggema di halaman sekolah.
Instruksinya begitu bersemangat, menunjukkan betapa tingginya ekspektasi beliau
terhadap Misha.
"Eh!? Mars ada di mana-mana!?"
Misha sepertinya menelan kata-kata itu mentah-mentah, ia
langsung celingukan ke sana kemari mencari keberadaanku. Reiner bermaksud
menyuruhnya memperluas jarak pandang, namun melihat reaksi Misha, beliau malah
memegangi kepalanya sendiri.
"Mereka
sudah benar-benar sehat, ya. Aku tidak pernah menyangka kamu bisa menang telak
melawan Sword King dan Pedang Iblis Bram."
Karen tersenyum sambil memperhatikan Reiner dan
Misha.
"Aku dengar lho, Karen. Katanya kamu dan Misha
sempat ingin membantu saat aku dan Reiner-sensei sedang bertarung?"
"Iya, beberapa kali. Tapi Eris menghentikan kami.
Eris menghormati Clarice yang sedang menahan diri, dan menyuruh kami untuk ikut
bersabar juga. Dia bilang, orang yang paling ingin menolong Mars
pastilah Clarice yang berada paling dekat dan melihat langsung pertarungan
berdarah itu."
Aku mengangguk mendengar perkataan Karen. Katanya,
Eris mengepalkan tangannya begitu kuat karena menahan diri hingga telapak
tangannya berdarah. Kepercayaannya yang mutlak pada Clarice-lah yang menahan
tindakan Karen dan Misha.
"Kepercayaan
Eris pada Clarice memang tulus."
"Benar. Sekarang pun mereka berdua terlihat
asyik berlatih."
Aku mengalihkan pandangan mengikuti kata-kata Karen. Saat ini, Clarice dan Eris sedang berlatih dengan gembira meski sambil
beradu mulut.
"……Aku……
menang…… pakai kemeja……"
"Tidak boleh! Itu kan punyaku! Kalau
mau, kamu harus menang melawanku sepuluh kali dulu……"
Begitulah mereka, saling melempar kata-kata tantangan.
Saat tangan Eris menyentuh "bukit kembar" Clarice yang paling lembut
untuk yang kesepuluh kalinya...
"……Fufufu……
aku menantikannya…… aku pulang dulu……"
Padahal masih pagi, tapi Eris sudah berniat pulang ke
asrama.
"Apa-apaan!? Kan
masih kurang sepuluh kali lagi!"
Meski tak menyerah, Clarice terus menantang Eris
berulang kali, namun ia selalu saja kalah. Melihat pemandangan itu, Karen
sepertinya memantapkan suatu tekad.
"Melihat Clarice yang sekuat itu di barisan
belakang saja masih berusaha keras untuk bisa bertarung di depan, aku juga
tidak boleh kalah. Baron, jadilah lawan latihan cambukku!"
Setelah mampu mengenai target diam dari jarak mana
pun dengan akurat, target Karen berikutnya adalah mengenai lawan yang bergerak.
Entah kenapa targetnya adalah Baron. Bagiku itu bisa
menjadi latihan ketahanan bagi Baron, tapi katanya Clarice melarang Karen
meminta bantuanku untuk hal itu.
Saat melihat sekeliling, Bram juga sedang mengajarkan
ilmu pedang kepada Minerva. Ekspresinya tampak ceria dan ia
mengajar dengan penuh semangat.
"Mars! Berikutnya giliranmu! Majulah dengan
kekuatan penuh!"
Selesai mengajar Misha, Reiner memanggilku.
"Baik! Mohon bimbingannya!"
Aku menjawab dengan penuh semangat, namun mustahil
bagiku bisa menang tanpa menggunakan Sylphid dan Vision. Baik itu
Cyrus maupun Reiner, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk dipukuli sampai
babak belur oleh para guru.
Sekarang pun aku dihajar habis-habisan hingga sekujur
tubuhku penuh memar. Mental ini tidak akan patah, tapi tubuhku sudah tidak
sanggup lagi bergerak.
"Bagus! Berikutnya, Dominic!"
Setelah menerima bimbingan yang keras, aku membungkuk
hormat pada Reiner lalu berbaring di bawah pohon.
Saat aku menyipitkan mata, kulihat langit biru cerah
tanpa awan. Benar-benar jernih, persis seperti suasana hati
Reiner dan Bram saat ini―
Previous Chapter | ToC | End V4



Post a Comment