NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 9

Chapter 9

Hasrat Mars


Aku merapal Search dengan teliti, memastikan tidak ada orang di sekitar.

Keinginan dan ekspektasi yang telah kupendam lama akhirnya menemukan momen untuk dilepaskan hari ini. Mulai sekarang, aku tidak perlu menahannya lagi.

Waktunya eksekusi telah tiba. Aku akan jujur pada hasratku dan akhirnya membebaskannya.

"Lightning!"

Keheningan di dalam laut pecah, kilatan emas menerangi permukaan air. Cahayanya begitu indah layaknya permata, menembus hingga ke kedalaman laut. Melihat pemandangan di depan mata, aku melakukan fist pump dalam hati, tenggelam dalam kepuasan.

Bagus! Sesuai perkiraan, melepaskan Lightning di dalam air tidak akan membuat suaranya bocor ke luar!

Dengan begini, aku bisa melatih sihir petirku! Aku bersorak kegirangan dalam hati.

Sihir petir sangatlah kuat, dan aku ingin menghindari agar tidak ada yang menyadarinya saat aku berlatih. Namun, jika di dalam laut, kekhawatiran itu sirna.

Itulah alasan kenapa sebelumnya aku bertanya detail kepada Marquis San Marina tentang lokasi kemunculan Afanc. Menurut Marquis, Afanc muncul di lepas pantai yang jauh, jadi seharusnya dia tidak akan muncul di area ini.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ikan-ikan yang berada di dalam laut tiba-tiba mengapung ke permukaan.

Lho? Aku pernah dengar kalau petir menyambar laut, ikan di dalamnya tidak akan terkena dampaknya... Kalau tidak salah, katanya petir akan menyebar di permukaan dan terdispersi sehingga tidak mencapai kedalaman laut.

Karena itulah aku merapal sihir petir setelah memastikan tidak ada orang yang menampakkan kepala di permukaan air, tapi... Yah, sihir petirku berbeda dari petir biasa, mungkin kualitas listriknya juga berbeda.

Ini agak berbahaya, aku harus pergi sedikit lebih jauh ke lepas pantai.

Setelah berenang cukup jauh ke tengah, aku menemukan gugusan terumbu karang. Di sekitar sini, tidak akan ada orang yang datang.

Aku menyelam ke laut dan membiarkan hasratku mengambil alih. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, aku melepaskan Lightning sekali lagi. Kilat emas meluncur dari tangan kananku, mewarnai isi laut dengan warna emas.

Dan benar saja, ikan-ikan kembali mengapung. Sepertinya ini adalah titik berkumpulnya ikan, karena ada puluhan ekor yang mengapung ke permukaan.

Sayang sekali kalau dibiarkan begitu saja. Lagipula, jika ikan-ikan ini dijual, mungkin bisa jadi uang.

Sejak menjadi Kelas S, kesempatanku makan di kota Regan meningkat. Aku punya harga diri dan gengsi kecil, aku tidak ingin membiarkan Clarice dan yang lainnya yang membayar.

Akibatnya, kantong koin emas milikku sudah mulai menipis.

Dengan pemikiran itu, aku merapal sihir air di atas terumbu karang untuk membuat kotak es, lalu melemparkan ikan-ikan yang mengapung ke dalamnya. Dengan begini, kesegarannya akan tetap terjaga.

Jika ada aturan bahwa ikan tidak bisa dijual tanpa hak penangkapan, aku berikan saja secara cuma-cuma juga tidak apa-apa. Tujuanku murni hanya melatih sihir petir. Ikan-ikan ini hanyalah produk sampingan.

Aku menuju ke titik-titik yang sekiranya banyak ikan, dan terus mengulangi Lightning. Begitu MP hampir habis, aku memutuskan untuk mundur. Di dalam kotak es, sudah ada lebih dari seratus ekor ikan.

Karena tidak mungkin membawanya sendiri, aku mengangkutnya dengan sihir angin. Saat sampai di vila, matahari sudah mulai terbit.

Aku bergegas menuju bagian belakang vila, menyembunyikan kotak es tersebut, dan kembali mendinginkannya dengan sihir air agar kesegaran ikan tetap terjaga.

Saat kembali ke kamar, Baron, Dominic, dan Lorenz masih berada di alam mimpi. Sambil melirik mereka, aku mandi sebentar lalu merangkak masuk ke tempat tidur.

"Mars? Ada apa? Kamu kelihatan mengantuk."

Saat sarapan, Clarice yang duduk di sampingku tampak khawatir.

"Iya, sepertinya kemarin aku terlalu bersemangat jadi rasa lelahnya masih tersisa. Setelah makan, aku mau berbaring sebentar lagi."

Kenyataannya, aku baru tidur dua jam, jadi MP-ku pun belum pulih sepenuhnya. Aku harus memulihkan kondisi sebelum memulai lari cepat di pantai.

Tapi sebelum itu, ada hal yang harus kulakukan.

"Lorenz-sensei? Jika kita mendapatkan ikan di laut, apakah kita tidak bisa menjualnya?" tanyaku pada Lorenz setelah kembali ke kamar.

"Bisa saja, asalkan kamu mengambil quest-nya dulu."

Begitu ya! Ternyata ini juga masuk dalam quest!

"Terima kasih! Sensei dan yang lain akan pergi ke pantai, kan? Aku mau ke Guild Petualang sebentar!"

Aku membawa kotak es yang kusembunyikan, lalu berangkat menuju Guild Petualang. Karena aku sudah menghafal lokasinya saat tiba di San Marina, aku tidak tersesat.

Aku langsung menuju Guild Petualang dan segera bertanya pada staf.

"Permisi. Saya ingin mengambil quest menangkap ikan..."

Resepsionis wanita menyambutku dengan senyuman.

"Quest menangkap ikan ya? Bisa tolong jelaskan detailnya?"

"Sebenarnya, kemarin saya mendapatkan banyak ikan di laut. Saya ingin mengambil quest untuk menangkap ikan-ikan ini."

Setelah berpikir sejenak, staf itu mengambil formulir quest dari balik meja dan memeriksanya.

"Begitu ya. Di San Marina ada beberapa quest menangkap ikan. Untuk kali ini, saya buatkan quest penangkapan untuk ikan yang sudah didapat saja, ya?"

"Iya, tolong!"

Staf tersebut memeriksa jenis ikannya, memanggil ahli penilai khusus, dan di tempat itu juga quest diterima lalu langsung dianggap selesai. Koin emas yang diberikan padaku berjumlah sepuluh keping.

"Eh? Bisa jadi uang sebanyak ini?"

Jika dikonversi ke Rupiah, ini sekitar seratus juta. Penghasilan yang luar biasa.

"Benar. Selain karena belakangan ini sedang sulit ikan, ikan-ikan yang Tuan Mars bawa tidak ada luka sedikit pun dan semuanya sangat cantik, makanya harganya setinggi ini."

"Terima kasih! Kalau saya dapat lagi, saya akan bawa ke sini!"

Setelah meninggalkan Guild Petualang dan kembali ke vila, aku buru-buru masuk ke bawah selimut.

Saat terbangun, aroma harum menggelitik hidungku. Tanpa membuka mata pun aku tahu. Ini adalah aroma Clarice.

"Selamat pagi, Clarice."

Saat aku menyapa tanpa membuka mata, terdengar suara Clarice yang sedikit panik.

"Eh? Kok kamu tahu?"

"Karena aroma Clarice itu spesial."

Saat membuka mata, wajah Clarice berada sangat dekat. Dia memasang senyum malu-malu.

"Bagaimana? Lelahnya sudah hilang?"

"Sudah mantap. Tapi kenapa Clarice ada di sini?"

"Eh? Anu... itu... karena aku khawatir padamu, jadi aku datang melihat keadaanmu. Ada hal yang ingin aku bicarakan juga. Lalu tanpa sadar waktu berlalu begitu saja... Ah! Aku sudah minta izin Lorenz-sensei, kok!"

Karena ini kamar laki-laki, memang perlu izin ya.

Aku bangun dari tempat tidur dan duduk di sofa empuk, Clarice pun duduk di sampingku. Omong-omong, penampilan Clarice adalah baju renang yang berbeda warna dari kemarin. Kemarin putih-merah muda, hari ini putih-biru muda. Di atasnya, dia mengenakan rash guard putih tipis.

"Jadi? Ada apa yang mau dibicarakan?" tanyaku sambil menunduk, bingung harus melihat ke mana.

"Sejauh mana kita harus memberitahu Karen dan Misha tentang rahasia kita?"

"Sejauh mana? Maksudmu soal Sihir Suci?"

"Iya. Kita kan sudah di party yang sama, apalagi mereka sudah jadi tunanganmu, kan? Kurasa saatnya akan tiba untuk memutuskan."

Bukan, mereka kan baru kandidat... tapi mungkin dia sudah menganggap mereka berdua sebagai tunangan sebelum aku menyadarinya.

Kembali ke topik, jika memberitahu soal Sihir Suci, jangkauan taktik kami memang akan meluas. Sisanya tinggal syarat agar mereka berdua tidak membocorkannya ke orang lain...

"Benar juga. Kurasa kita harus memberitahu jika keadaannya mendesak... Tapi, apa ada sesuatu yang terjadi sampai kamu bertanya?"

Clarice menjawab sambil mengangguk.

"Kemarin kan kita di pantai dari siang. Normalnya, kulit kita pasti akan terbakar matahari. Tapi mungkin karena aku pengguna Sihir Suci, warna kulitku sama sekali tidak berubah dan tidak sakit. Misha juga tidak berubah, mungkin karena dia ras Elf. Soal Elie, kemarin saat kami mandi bareng, aku merapalkan Sihir Suci padanya untuk berjaga-jaga. Alhasil kulit Elie tidak bermasalah. Tapi kita belum memberitahu Karen, kan? Tadi pagi dia sadar hanya dia sendiri di [Reimei] yang kulitnya terbakar dan dia jadi agak sedih. Sebaliknya, Minerva malah senang dan bilang akan menghitamkan kulitnya di kesempatan ini."

Begitu ya... bagi wanita, ini adalah masalah hidup dan mati. Aku pun ingin membantu menyelesaikan masalah Karen.

"…… Karena suatu saat memang harus diberitahu, sebaiknya kita beritahu lebih awal. Tapi kita harus tekankan bahwa ini rahasia besar. Jika mereka melanggar janji, saat itu..."

Aku harus memikirkan kemungkinan terburuk. Namun, seolah bisa membaca hatiku, tangan putih nan ramping milik Clarice menggenggam tanganku di atas lutut.

"Tenang saja, mereka berdua tidak akan membocorkannya. Karena mereka menyukaimu, Mars."

"Terima kasih. Kalau begitu, beri aku waktu setelah makan siang untuk bicara dengan mereka."

"Iya. Terima kasih."

Aku menggenggam balik tangannya, lalu kami menuju ruang makan.

"Karen, Misha. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua. Masalah ini rahasia besar. Jika kalian memberitahu siapa pun, anggap saja hubungan kita berakhir sampai di sini."

Setelah makan siang, kami mulai berdiskusi di ruangan kosong hanya dengan anggota [Reimei]. Mereka berdua tampak tegang, menyadari atmosfer yang berbeda dariku, Clarice, dan Elie.

"B-boleh saja, tapi... ada apa tiba-tiba?"

"Iya. Kamu nggak seperti Mars yang biasanya."

Tanpa menjawab pertanyaan mereka, aku menoleh pada Clarice.

"Clarice, pinjamkan pedangmu."

Ketegangan mereka meningkat, mungkin karena Clarice memegang Salamander Sword, pedang roh api. Aku menerima pedang itu, mencabutnya dari sarung, dan ekspresi mereka berdua terlihat sangat tegang.

"Tenang saja. Aku tidak akan melukai kalian. Tolong perhatikan sebentar."

Aku mengiris sedikit kulit jariku dengan ujung pedang, dan darah pun menetes.

"Tunggu! Jangan lakukan tindakan melukai diri sendiri!"

"Benar, Mars! Kamu kenapa!? Mars hari ini aneh banget!"

Karen memarahiku, sementara Misha sudah hampir menangis. Namun, saat aku menunjukkan ujung jariku yang terluka pada Clarice, dia mengangguk dan membungkus ujung jariku dengan kedua tangannya dengan penuh kasih.

"Heal."

Saat Clarice merapal Sihir Suci, cahaya putih berkumpul di ujung jari, dan dalam sekejap lukanya sembuh.

"Eh!? Jangan-jangan... Clarice... ternyata!?"

"Kenapa!? Padahal Clarice kan bisa Sihir Air dan Sihir Angin..."

Karen dan Misha menutupi mulut dengan tangan, mata mereka membelalak.

"Bukan hanya Clarice. Lihat lagi."

Aku mengiris tempat yang sama lagi, lalu kali ini aku merapal Heal sendiri.

"Sampai Mars juga!? Itu tidak mungkin!"

"Bohong!? Bohong!? Kenapa bisa!?"

Suara mereka meninggi karena saking terkejutnya.

"Karena aku mempercayai kalian, aku membagikan rahasia kami. Tolong jangan beritahu siapa pun. Kalian tahu kan apa yang akan terjadi jika ini ketahuan?"

Karen dan Misha terdiam, saling menatap, lalu mengangguk dengan ekspresi serius yang tidak seperti biasanya.

"Iya, aku mengerti. Kamu bicara karena mempercayai kami, kan?"

"Iya. Aku juga... Hei, boleh aku tanya sesuatu? Saat ujian labirin dulu perutku terluka, kan? Apa mungkin itu juga?"

Misha bertanya sambil mengusap perutnya yang ramping dan putih tanpa luka sedikit pun.

"Iya, itu Clarice yang menyembuhkannya."

"Sudah kuduga... Luka separah itu tidak mungkin sembuh hanya dengan menenggak Potion. Aku juga merasa aneh, tapi Ibu bersikeras bilang itu berkat Potion... Eh, apa mungkin Ibu juga tahu?"

Wajar saja dia berpikir begitu.

"Iya, tapi Sasha-sensei hanya tahu soal Sihir Suci Clarice. Itulah pun dia tahu melalui Tuan Dameez, bukan kami yang memberitahunya."

"Begitu ya! Si Dameez itu!" Misha memasang wajah mengerti.

Lalu giliran Karen yang bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.

"Berarti, saat kami diserang Golem waktu itu juga...?"

"Iya, aku menarik perhatian Karen dengan Sihir Api, dan di saat itulah Clarice menyembuhkannya."

Karen menepuk tangannya, mengingat kejadian saat itu.

"Berarti luka Dominic di Turnamen Murid Baru juga?"

Aku mengangguk tanpa suara atas pertanyaan Karen.

"…… Tanpa kami sadari, kami semua telah diselamatkan oleh kalian ya…… Atas nama putri kedua keluarga Duke Flesbald, aku bersumpah. Aku tidak akan membocorkan hal ini pada siapa pun. Aku tidak akan membalas budi dengan pengkhianatan."

"Aku juga! Aku juga! Di Hutan Iblis juga ditolong, di kota Ganal juga, dan di ujian labirin pun ditolong!"

Keduanya berjanji akan menjaga rahasia dengan teguh.

"Iya. Terima kasih. Pembicaraan selesai sampai di sini. Clarice, aku titip Karen ya. Aku mau lari di pantai lagi."

Karen yang tidak mengerti maksudku dibawa Clarice menuju kamar perempuan. Mereka akan mandi dan Clarice akan merapal Sihir Suci padanya.

Sepertinya untuk masalah kulit yang parah perlu sentuhan langsung untuk menyembuhkannya. Elie dan Misha juga mengikuti mereka berdua.

Setelah semua orang keluar, aku berdiam sebentar di kamar untuk merapikan pikiran sebelum menuju pantai. Sesampainya di pantai, matahari bersinar terik, aku mulai berlari sambil menenggelamkan kaki di pasir.

Resistensi pasir terasa nyaman, memberi beban pada seluruh tubuh. Saat berlari di rute yang sama dengan kemarin, aku melihat Gon dan yang lainnya sedang berlatih ayunan pedang atau berlari sepertiku.

Melihat para siswa umum Sekolah Nasional Lister berlatih di pantai, aku merasa mereka juga sedang berjuang keras demi tujuan masing-masing. Aku melambaikan tangan ringan pada mereka, lalu menaikkan tempo untuk memberi beban lebih.

Akhirnya hari ini pun aku melakukan dua set bolak-balik antara pantai pribadi dan publik, mendinginkan tubuh di laut jika lelah, lalu berlari lagi setelah istirahat, sebelum akhirnya menuju jamuan makan malam dengan Marquis San Marina.

"Hei, kamu baik-baik saja? Apa ada bagian tubuh yang sakit?"

Clarice merasa semakin cemas padaku karena dua hari berturut-turut aku tidak bisa bangun pagi. Padahal tadi malam aku juga berlatih sihir petir. Berenang sampai ke area terumbu karang itu cukup menguras tenaga.

Tapi aku tidak bisa memberitahunya. Jika tahu aku berlatih tengah malam, Clarice pasti akan memaksa ikut. Bangun selarut itu tidak baik untuk kesehatan dan kulitnya.

"Kalau kamu secapek itu, biarkan aku memijatmu."

Dia menawarkan pijatan karena terlalu khawatir, tapi itu bahaya. Melihat Clarice dalam balutan baju renang seksi saja sudah gawat, kalau sampai disentuh, aku pasti akan berakhir terkubur pasir seperti Baron dan yang lainnya.

Tapi karena dia sangat khawatir, sepertinya aku harus memberitahunya. Baiklah, besok aku akan memberitahu Clarice saja. Setelah itu, aku akan minta dia menunggu di kamar perempuan agar yang lain tidak ikut.

Sambil berpikir begitu, malam ini pun aku menyelinap keluar vila setelah semua orang tertidur. Namun, pemikiran itu terlambat satu langkah.

"Mars? Mau ke mana?"

Di pantai yang gelap gulita dan sunyi, suara lembut Clarice menggema.

"Eh!? Clarice!? Kenapa kamu di sini!?"

Aku sempat menyesal sesaat karena tidak melakukan Search dengan teliti karena sudah terbiasa, tapi aku segera pasrah karena kalaupun aku merapal Search setelah menyelinap, Clarice pasti akan ketahuan juga.

Saat aku ragu harus menjawab apa, aku melihat air mata hampir tumpah dari mata Clarice. Ternyata aku sudah membuatnya sekhawatir itu... aku harus bicara jujur.

"Iya, sebenarnya..."

Setelah aku bicara jujur, Clarice memasang wajah terheran-heran.

"Eh? Latihan? Bukan selingkuh atau mau menyelinap ke kamar perempuan?"

Kata-kata yang tidak terduga keluar dari mulut Clarice. Aku tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi memang situasi ini bisa disalahartikan seperti itu.

"…… Memang mustahil Mars selingkuh…… tapi karena aura kebebasan musim panas……"

Tidak, perkataan Clarice memang ada benarnya. Karena hasrat ingin melatih sihir petir, aku sampai lupa memikirkan perasaan Clarice.

"Benar-benar maaf, Clarice. Sudah membuatmu cemas. Mulai sekarang aku akan bicara dengan lebih jelas."

Aku meminta maaf dengan tulus sebagai bentuk refleksi diri. Clarice tersenyum tipis lalu mengangguk.

"Iya. Kalau begitu, sebagai hukuman, bawa aku bersamamu sekarang."

"Eh, itu..."

"Nggak boleh nolak! Kita pergi bareng! Dengan begitu aku bisa percaya seratus persen padamu."

Clarice memeluk lengan kananku erat-erat. Aku bisa merasakan tekadnya yang tidak akan melepaskanku. Tapi, meskipun memakai rash guard, Clarice tetap memakai baju renang. Aku pun hanya membiarkan ritsleting rash guard bagian atasku terbuka.

Keempukan dada Clarice langsung terasa di lenganku, membuat jantungku berdegup kencang. Bukan hanya jantung yang 'berdegup', tapi anggap saja itu bagian dari bumbu kehidupan.

"Baiklah. Ayo pergi bareng. Tapi, waspadalah karena mungkin ada bahaya yang mengintai."

"Tentu saja, aku tidak akan merepotkanmu."

Clarice mengangguk sambil tersenyum, dia melepaskan kuncian di lenganku tapi kemudian menggenggam tanganku dengan erat. Saat kami sampai di area terumbu karang—

"Kita sudah sampai cukup jauh di lepas pantai, apa tidak apa-apa? Afanc kalau tidak salah namanya? Dia tidak akan muncul, kan?" tanyanya cemas sambil waspada pada sekitar.

"Kurasa belum terlalu jauh ke tengah... Aku hanya bisa bilang kemarin dan lusa semuanya aman... tapi tetaplah waspada ya."

Aku segera melepaskan Lightning, dan kami berdua menatap kilat emas yang menjalar di dalam laut.

Sepertinya ini tempat mencari makan yang bagus bagi para ikan, karena meskipun kemarin dan lusa aku sudah menangkap lebih dari seratus ekor, hari ini pun banyak ikan yang mengapung.

Clarice memasukkannya ke kotak es yang dia buat hingga lima kali. Tiba-tiba Clarice berseru.

"Mars! Ada hawa sesuatu yang terbang dari sana!"

Clarice yang waspada di atas terumbu karang menunjuk ke arah kejauhan. Saat aku memfokuskan Heaven's Eye, terlihat sekawanan puluhan ikan terbang ke arah kami dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Mulut ikan itu sangat runcing, jika dibiarkan menyeruduk dengan kecepatan itu, pastinya akan menyebabkan luka parah, bahkan bisa menembus jantung dan berakibat kematian.

"Stone Wall!"

"Ice Wall!"

Aku merapal Stone Wall secara instan, dan Clarice menumpuknya dengan Ice Wall. Tembok batu dan es berdiri kokoh di depan kami, dan ikan-ikan yang terbang itu menabrak tembok tersebut.

Kupikir mereka akan jatuh ke laut begitu saja, tapi karena momentum yang sangat kuat, mereka malah menancap di tembok. Ikan-ikan ini mustahil ikan biasa. Saat aku melakukan Appraisal pada ikan yang menancap, benar saja, mereka adalah monster.


[Nama] —

[Tittle] —

[Spesies] Yarisakiuo (Ikan Ujung Tombak)

[Threat] —

[Kondisi] Baik

[Usia] 1 Tahun

[Level] 1

[HP] 102 / 102

[MP] 5 / 5

[Strength] 50

[Agility] 80

[Magic] 1

[Dexterity] 1

[Stamina] 32

[Luck] 1


Yarisakiuo!? Memang bentuk mulutnya tidak terlihat seperti apa pun selain tombak. Makanya mereka punya kekuatan tembus hingga menancap di tembok.

Karena banyak yang menancap, tembok mulai retak, tapi kami kembali merapal Stone Wall dan Ice Wall untuk bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Akhirnya, setelah semua Yarisakiuo menancap di tembok, aku menjatuhkan tembok itu ke laut dan merapal Lightning, yang seketika membuat levelku naik.

Serius!? Aku belum pernah menemukan metode menaikkan level seefisien ini! Tanpa sadar aku mengepalkan tangan dan memukul permukaan air.

Clarice tampak puas melihat kegembiraanku dan bertepuk tangan dengan senyum lebar, tapi ekspresinya segera berubah menjadi serius.

"Mars? Bukankah ada sesuatu di bawahmu? Agak gelap jadi aku tidak begitu jelas melihatnya..."

Aku yang sedang berenang tidak bisa merasakannya, tapi mungkin dari atas terumbu karang ada perubahan yang terlihat.

Aku menyelam dan memfokuskan Heaven's Eye, di sana terlihat sosok ikan dengan ukuran luar biasa besar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Terhadap ikan yang perlahan naik itu, aku melepaskan Lightning dari posisi yang cukup jauh, dan tubuh raksasa itu perlahan mulai mengapung. Begitu menampakkan diri di permukaan laut, aku segera menyadari bahwa ini adalah Diamond Tuna.

Alasannya sederhana, karena sebagian sisiknya adalah berlian sungguhan.


[Nama] —

[Tittle] —

[Spesies] Diamond Tuna

[Threat] —

[Kondisi] Kelumpuhan Listrik (Maksimal)

[Usia] 10 Tahun

[Level] 1

[HP] 44 / 245

[MP] 5 / 5

[Strength] 88

[Agility] 88

[Magic] 1

[Dexterity] 1

[Stamina] 88

[Luck] 1


Padahal aku menembakkan Lightning dari jauh, tapi damagenya sebesar ini. Mungkin sihir petir adalah kelemahan Diamond Tuna, tapi ini kembali menyadarkanku betapa mengerikannya kekuatan sihir petir.

"Hei, bukankah ini hasil tangkapan yang luar biasa? Bukankah sebaiknya untuk hari ini cukup sampai di sini saja?"

"Iya, aku juga berpikiran sama dengan Clarice. Tapi kemarin dan lusa tidak ada monster yang muncul, kenapa sekarang..."

Hal yang berubah antara kemarin, lusa, dan hari ini adalah kehadiran Clarice.

"Mungkin mereka terpancing oleh pesona Clarice."

"Kalau begitu, boleh aku ikut lagi besok? Kalau aku ikut, Mars mungkin bisa menaikkan level, kan? Aku juga merasa senang dan tenang kalau bersama Mars."

Memang benar kata Clarice. Tapi aku tidak ingin dia begadang, dan teoriku tadi pasti salah. Tidak, seharusnya salah.

Namun, saat itu kami belum tahu bahwa di dunia ini ada monster yang sangat menyukai wanita cantik di luar akal sehat—




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close