Chapter
7
Party
"Hei? Mars, kelompok kalian buat
Ujian Labirin sudah terbentuk?"
Sepulang sekolah. Saat aku dan Clarice
sedang berlatih ilmu pedang di salah satu gimnasium yang ukurannya tergolong
besar, dia tiba-tiba bertanya.
Omong-omong,
Elie dan Misha juga sedang berlatih pertarungan jarak dekat berdua. Karena murid angkatan lain juga
menggunakan tempat ini, suasananya cukup ramai.
"Kelompok? Belum tuh. Memangnya
kelompok Clarice sudah?"
"Iya.
Karena ujiannya tiga hari lagi, kami pikir lebih baik diputuskan sekarang.
Kalau kami sih anggotanya sudah pasti itu-itu saja, tapi kami harus bagi
peran."
Ujian Labirin
tiga hari lagi?
Lagi-lagi,
kecepatan penyampaian informasi antar-kelas terasa sekali perbedaannya.
Kapan ya
kelas-kelas lain akan diberi tahu?
Mungkin nanti
aku akan mencoba bertanya kalau sudah punya kenalan dari kelas lain.
"Sekadar
buat referensi, perannya dibagi bagaimana?"
"Hmm.
Garda depan itu Elie dan Dominic. Garda belakangnya Karen-sama. Lalu Misha,
Baron, dan aku di posisi garda tengah."
Aku
paham kalau Clarice dan Misha di tengah, tapi Baron juga di tengah, ya.
Yah, sosok Pahlawan memang biasanya all-rounder.
Masuk akal
kalau dia di garda tengah.
"Tapi
ada satu hal aneh yang kudengar dari guru... Katanya, kelompok beranggotakan
enam orang cuma ada satu, yaitu kelompok kami dari Kelas S. Kelas lain harus
membentuk kelompok berisi lima orang, lalu satu posisi sisanya akan diisi oleh
guru atau kakak kelas. Nah, murid di kelas Mars ada 201 orang, kan? Kalau
dibuat 40 kelompok, pasti ada satu orang yang sisa. Aku punya firasat orang itu
adalah Mars, makanya aku tanya..."
"Aku
baru dengar soal itu sekarang, tapi ya, yang bakal jadi sisa pasti aku si
peringkat terbawah."
Meski
aku sudah mulai membangun posisi di dalam kelas, statusku secara resmi tetap
peringkat terbawah sampai ujian nanti.
Elie
dan Misha juga menunjukkan ekspresi khawatir, sepertinya mereka memikirkan hal
yang sama.
"Yah,
mau bagaimana lagi. Tapi kalau satu kelompok berisi lima orang ditambah satu
kakak kelas, apa itu artinya Kak Ike juga bakal ikut dimasukkan ke salah satu
kelompok?"
Setelah
masuk ke Akademi Nasional Lister, aku sempat mencari Ike. Katanya, murid tahun
keempat mulai menerima quest dari dalam Federasi Lister, jadi mereka
lebih sering berada di luar sekolah.
Melihat
cara bicara Duke Regan tempo hari, Ike sepertinya baik-baik saja, jadi aku
tidak terlalu khawatir. Tapi aku sudah ingin bertemu dengannya.
"Ngomong-ngomong,
waktu kita bertemu Duke Regan, beliau juga bilang kalau Mars punya kakak
laki-laki. Orang seperti
apa dia?"
Misha ikut
masuk ke pembicaraan, tampak tertarik.
"Iya,
dia tahun keempat sekarang, namanya Ike. Dia sangat kuat, jadi kurasa dia ada
di Kelas S."
"Kalau
dia kakaknya Mars, pasti kuat sekali ya. Tapi kurasa mustahil baginya untuk
jadi peringkat satu di tahun keempat. Soalnya ada Glen."
Ternyata
Misha juga tahu soal Glen.
"Katanya
dia luar biasa kuat. Bukan
cuma Duke Regan, Cyrus-sensei juga bilang begitu. Tapi Kak Ike bukan cuma kuat,
sifatnya sebagai manusia juga sangat baik, makanya dia adalah target yang ingin
kulampaui."
"Heh...
Kalau Mars sampai bicara begitu, aku jadi ingin bertemu dengannya."
"Benar
juga. Selama Ujian Labirin nanti, aku akan cari tahu apakah dia tergabung di
kelompok lain. Clarice, Elie, kalau kalian melihat Kak Ike, tolong beri tahu
aku ya."
"Tentu.
Aku juga sudah lama ingin mengobrol dengan Kakak Ipar."
"……Eum…… akan kucari……"
Tepat saat
aku mendapat bantuan mereka, seorang laki-laki masuk ke gimnasium.
"Bukannya
ini Clarice, Elie, dan Misha? Kenapa kalian di sini? Kalian bertiga ikut berpartisipasi juga?"
Laki-laki
berambut panjang itu bertanya sambil menyisir rambutnya ke belakang. Dia Dominic dari Kelas S. Kalau tidak
salah, dia juga dijuluki Si Jenius Pedang.
"Partisipasi?
Aku tidak mengerti maksudmu, tapi kami sedang diajari ilmu pedang oleh orang
ini. Benar kan, Mars?"
Clarice
meletakkan pedang kayunya, lalu menggandeng lenganku seolah ingin memamerkannya
pada Dominic.
Berkat itu,
lengan kananku merasa sangat bahagia.
Melihat itu,
Elie tidak mau kalah dan memeluk lengan kiriku, sementara Misha bersembunyi di
balik punggungku. Seketika, aku merasakan aura membunuh dari murid laki-laki di
sekitar.
Hal
yang sama juga datang dari Dominic yang ada di depanku.
"Siapa
kau? Beraninya mendekati gadis-gadis dari kelas kami."
Sikap Dominic
sangat arogan.
Mungkin
karena aku berasal dari Kelas E, dia jadi makin meremehkanku.
"Salam kenal. Nama saya Mars.
Clarice dan Elie adalah tunangan saya. Sedangkan Misha adalah teman yang sangat
berharga."
Terhadap orang semacam ini, lebih baik
aku tegaskan hubungan kami sejak awal.
"Tunangan!? Orang 'tanpa warna'
sepertimu bersanding dengan gadis Kelas S? Hanya karena modal tampang, aku
tidak bisa membiarkan ini. Pas sekali, aku akan mengelupas topengmu dan
menyadarkan mereka. Ambil pedangmu."
Tanpa kompromi, Dominic langsung
memasang kuda-kuda.
Ini hari pertamaku di gimnasium ini,
tapi tadi Dominic bertanya apakah aku ikut berpartisipasi.
Sepertinya Dominic rutin mengumpulkan
orang untuk melakukan simulasi tanding demi mengasah kemampuannya.
Peserta dan penonton mungkin akan
bertambah banyak setelah ini.
Menjadi mencolok di dalam kelas itu
sudah risiko, tapi aku tidak terlalu berminat bertarung di depan orang sebanyak
ini.
Saat aku
masih ragu menerima tantangannya, provokasi Dominic berlanjut.
"Kenapa?
Dihina begini saja kau sudah pengecut. Clarice, tinggalkan orang ini dan ikutlah
denganku."
Sesuai
dugaan, yang meledak karena provokasi itu adalah Elie.
"……Orang itu…… tidak kumaafkan……
bunuh……"
Ekspresi
Elie yang tadinya tenang berubah drastis dalam sekejap.
"Eum! Aku juga jadi benci
Dominic!"
Misha pun
menyiapkan tombaknya... tapi Clarice menahan mereka berdua.
"Dominic.
Aku tidak akan membiarkanmu menghina Mars lebih jauh lagi. Aku, murid pertama
Mars, yang akan menjadi lawanmu. Kalau kau ingin bertarung dengan Mars,
kalahkan aku dulu."
Pernyataan
tak terduga itu membuat murid-murid di sekitar yang tadinya hanya menonton
langsung gaduh.
"Apa
yang kau katakan, Clarice? Hampir setiap hari kau melihat pertandinganku dengan Baron, kan? Aku
adalah pengguna pedang terbaik di Kelas S. Dengan kata lain, pendekar pedang
terkuat di angkatan kelas satu. Aku mengumpulkan orang-orang di sini karena
tidak ada lawan yang sebanding di kelas satu. Clarice yang pintar pasti paham
maksudku, kan?"
Berarti
dalam hal pedang saja, Dominic lebih kuat dari Baron, ya?
"Ara?
Apa kau jadi pengecut karena takut kalah dari aku yang seorang perempuan?"
Ini pertama
kalinya aku melihat Clarice semarah ini.
"Kh!
Kalau kau bilang begitu, apa boleh buat! Tapi kalau aku menang, kau harus jadi
wanita milik Si Jenius Pedang, Dominic!"
Dominic
mengatakan hal yang keterlaluan. Tentu saja aku tidak bisa terima.
"Itu
tidak boleh! Kalau kau menang melawan Clarice, akulah yang akan jadi lawanmu.
Jika aku kalah, aku akan menuruti apa pun perintahmu, tapi aku tidak akan
menjadikan Clarice, Elie, atau Misha sebagai taruhan kecuali atas kemauan
mereka sendiri!"
Mungkin di
dunia ini sudah jadi hal umum kalau pemenang bisa mendapatkan si wanita, tapi
aku tidak berniat terikat oleh akal sehat macam itu.
"……Yah,
baiklah! Lagipula memang itu tujuanku!"
Saat Dominic
mengangkat pedang kayunya, Clarice juga memungut pedang kayu yang tadi
diletakkannya.
Jika Dominic
ternyata lebih kuat dari Clarice, ada kemungkinan Clarice terluka.
Untuk
mencegah hal itu, aku wajib melakukan Appraisal pada Dominic.
Biar saja dibilang curang, keselamatan
Clarice jauh lebih penting.
Aku menatap Dominic yang berdiri di
depan Clarice dengan senyum meremehkan, lalu mengaktifkan Appraisal.
[Nama]
Dominic Augus
[Gelar]
-
[Status
Sosial] Manusia, Kepala Keluarga Baronet Augus
[Kondisi]
Baik
[Usia]
11 Tahun
[Level]
22
[HP]
135/135
[MP]
58/58
[Strength]
55
[Agility]
55
[Magic
Power] 24
[Dexterity]
29
[Endurance]
50
[Luck]
5
[Special
Ability] Swordmanship B (Lv8/17)
[Special
Ability] Wind Magic E (Lv2/11)
[Equipment]
Gale Sword
Dominic tidak menunjukkan tanda-tanda
menyadari Appraisal-ku.
Pantas saja dijuluki jenius pedang,
nilai bakat Swordmanship-nya sama denganku, yaitu B, dan dia juga bisa
sihir angin.
Kalau di
dunia petualang, dia kira-kira selevel petualang kelas D.
Dengan
begini, Clarice tidak akan kalah. Aku bisa menonton dengan tenang.
Tanpa tahu hal itu, Dominic bersikap
sombong di depan Clarice.
"Heh... kau lumayan juga, Clarice.
Tapi...
menyesallah karena telah berdiri di depanku!"
Begitu
pedang kayu mereka beradu, pedang milik Dominic langsung melayang ke udara.
"—Apa!?"
Kejadian
yang sangat tiba-tiba itu membuat seluruh murid—kecuali aku dan
Elie—terperangah.
Misha
yang sepertinya belum tahu kekuatan Clarice juga sampai membelalakkan mata.
"Tuan
Jenius Pedang? Tidak perlu menahan diri. Seranglah aku dengan
sungguh-sungguh."
Clarice
semakin memprovokasi Dominic yang masih terpaku karena pedangnya terpental.
Normalnya
pertandingan berakhir di sini, tapi sepertinya amarah Clarice belum reda.
"Tadi
itu aku cuma lengah! Sekarang aku akan serius!"
Dominic
kembali menggenggam pedangnya dan menerjang Clarice dengan wajah garang.
Setelah
beberapa kali adu pedang, lagi-lagi pedang Dominic terpental, dan sebuah
serangan telak mendarat di perut Dominic.
"Ghuakh!?"
Saat
Dominic mengerang sambil memegangi perutnya yang kesakitan, Clarice menusukkan
kata-kata terakhirnya.
"Tuan
Jenius Pedang? Saya diajari ilmu pedang oleh Jenius Pedang yang asli. Jika Anda
berani menyandang gelar itu, setidaknya Anda harus bisa menang melawan saya
yang seorang pemanah ini. Kalau tidak, gelar itu akan terlihat
menyedihkan."
Dominic
menggigit bibir sambil menunduk di hadapan Clarice, tak mampu membalas sepatah
kata pun.
Jenius pedang
yang asli itu siapa maksudnya? Bukan aku, kan?
Dipermalukan
di depan umum memang menyakitkan, tapi ini akibat perbuatannya sendiri.
Para murid
yang melihat kekuatan luar biasa Clarice pun mulai terpana.
"Tadi
itu keren sekali!"
"Berikutnya,
bertandinglah denganku!"
"Ajari
aku juga dong!"
……Ini
mereka benar-benar terpesona karena kekuatannya, kan?
"Maaf!
Aku agak berlebihan! Ayo pergi!"
Kami
meninggalkan gimnasium seolah-olah sedang melarikan diri.
"Clarice
ternyata sekuat itu juga dalam ilmu pedang!? Itu sih yang terkuat dalam
pertarungan jarak dekat!"
Terhadap Misha yang masih antusias,
Clarice membantahnya.
"Tidak
juga kok. Kalau pertarungan jarak dekat, aku tidak bisa menang melawan
Elie."
"Eh!?
Elirin bahkan lebih kuat lagi!?"
Entah kenapa
Misha sangat terkejut.
"Misha,
saat jam bela diri, apa kau tidak pernah bertanding melawan Clarice atau
Elie?"
Karena mereka
satu kelas, kupikir itu hal yang wajar, tapi aku mendapat jawaban khas Kelas S.
"Aku kan
tidak bisa pakai pedang? Jadi aku mendapat bimbingan one-on-one dengan
guru teknik tombak. Aku sendirian saat jam bela diri. Bukan cuma aku,
Karen-sama juga dapat bimbingan one-on-one dalam latihan yang fokus pada
kekuatan fisik dasar."
Di Kelas E,
entah kau pengguna pedang atau tombak, semua diajar oleh guru yang sama.
Ternyata di Kelas S, gurunya disesuaikan dengan bakat masing-masing, ya.
"Clarice,
Elie, kalian tidak pernah simulasi tanding melawan Baron atau Dominic?"
"Tidak
pernah. Dengan melihat saja aku sudah tahu kira-kira seberapa kuat mereka.
Bagiku berlatih dengan Elie jauh lebih bermanfaat. Baron dan Dominic sering
menawarkan diri untuk mengajariku pedang, tapi selalu kutolak karena aku bilang
sudah ada yang mengajariku."
Ternyata
mereka memang sering diganggu, ya.
Yah,
dengan kejadian tadi, setidaknya Dominic tidak akan berani mendekati Clarice
dengan dalih mengajarinya ilmu pedang lagi. Aku jadi sedikit lega.
"Hei,
boleh aku tanya? Apa aku juga bisa jadi sekuat Clarice dan Elirin?"
Misha
yang sedari tadi mendengarkan akhirnya bertanya.
"Tentu
saja. Melihat caramu memegang tombak, aku merasa kau punya bakat, jadi kau
pasti bisa kuat."
Apa
yang kukatakan bukan sekadar penghiburan. Misha punya bakat yang luar biasa dan
dia punya kemauan.
Saat aku
menegaskannya dengan penuh percaya diri, mata Misha berbinar.
"Terima
kasih! Kalau
begitu, setelah maraton dan digendong Mars, aku juga harus latihan teknik
tombak!"
Sepertinya
digendong olehku setelah maraton sudah jadi syarat tetap.
Yah, mau
bagaimana lagi sampai staminanya terbentuk.
Lagipula,
berlari sambil menggendong Misha juga jadi latihan yang bagus buatku, dan
mengobrol dengannya juga menyenangkan, jadi sekali mendayung dua tiga pulau
terlampaui.
Setelah
berjanji untuk bertemu saat latihan pagi besok, kami kembali ke asrama.
◆◇◆
Keesokan
paginya.
"Baiklah!
Hari ini kita tentukan kelompok untuk Ujian Labirin! Pertama-tama, buatlah
kelompok berisi lima orang! Kalian bebas memilih anggota, tapi nanti guru yang
akan menyeimbangkan komposisinya, jadi camkan itu!"
Begitu guru
selesai bicara, murid-murid Kelas E langsung mengerubungi mejaku.
"Mars!
Kelompok denganku yuk!"
"Jangan,
harusnya dengan kami!"
"Mars-kun,
bagaimana kalau dengan kami? Isinya empat perempuan, lho."
Aduh, jadi
orang populer itu berat ya.
Saat aku
sedang asyik menimbang-nimbang siapa yang akan kupilih...
"Aku
lupa bilang, karena Kelas E ada 201 orang, Mars yang ada di peringkat terbawah
akan berkelompok dengan orang lain. Dia tidak boleh masuk ke kelompok mana pun di sini."
Sudah kuduga.
Clarice juga sudah memperingatkanku.
Tapi mbok ya biarkan aku menikmati
momen jadi orang populer sebentar saja kenapa?
Lalu, sebuah suara berat memanggilku.
"Woi! Mars! Kau resmi berkelompok denganku!"
Seperti
yang kalian duga, Cyrus masuk ke kelas dengan wajah garang seperti biasanya.
Kau ini
sebenarnya sesuka itu ya denganku!?
Sudah setiap
hari menghajarku, sekarang sampai mau ikut ke labirin segala.
Kerumunan
orang yang tadinya mengelilingi mejaku langsung bubar seperti air surut.
"Hah...
saya sudah menduga ini bakal terjadi, jadi tidak apa-apa. Tapi empat orang
sisanya siapa?"
Dugaanku
mungkin Sasha juga akan ikut, tapi Cyrus menyebutkan kata yang membuatku putus
asa.
"Ini
kelompok Duo."
"Duo!?
Ah, Anda bercanda..."
………………
………… ……
"Eh!?
Jadi benar-benar Duo!?"
Karena
tidak ada tanda-tanda dia sedang bercanda, aku bertanya pada wali kelas dengan
cemas.
"Iya.
Duke Regan secara pribadi menyampaikan bahwa Mars akan pergi berdua saja dengan
Cyrus-sensei."
Astaga.
Tadi kubilang jadi orang populer itu berat, tapi aku tidak menyangka akan
seberat ini.
"Woi!
Karena kelompokku dan Mars sudah diputuskan, aku akan membawanya sekarang ke
jam pelajaran ilmu pedang!"
Begitu
Cyrus bicara pada wali kelas, sang wali kelas—yang sepertinya ingin Cyrus
cepat-cepat pergi—langsung berkata,
"Silakan
lakukan sesuka Anda."
Beliau
menjualku pada Cyrus seolah-olah aku ini barang persembahan.
Sialan...
suatu saat aku pasti akan mengalahkanmu!
Aku
memantapkan tekad dalam hati, sambil kembali dipukuli habis-habisan oleh Cyrus
hari ini.
◆◇◆
―Sepulang
sekolah
"Aduh,
aduh..."
Clarice
mengobati bagian tubuhku yang babak belur dihajar Cyrus.
Tentu saja di
sekolah saat jam pulang kami tidak bisa menggunakan Sacred Magic, jadi
ini hanya sebatas mengganti perban. Tapi entah kenapa, kalau Clarice yang
membalutnya, lukaku terasa lebih cepat sembuh.
Padahal
kenyataannya nanti aku akan merapalkan Heal sendiri saat sudah sendirian
di asrama.
"Belakangan
ini, lukamu sepertinya makin parah ya?"
Clarice bertanya dengan nada khawatir.
"Yah,
dia memang sudah tidak menahan diri lagi."
Mengenai
hal ini, aku sedikit paham alasannya.
Mungkin
Cyrus sudah tidak punya kemewahan lagi untuk menahan diri.
Kalau
dulu aku hanya bisa bertahan sekuat tenaga, sekarang aku sudah mulai bisa
melakukan serangan balik meski hanya sedikit.
Selain
itu, jumlah keringat Cyrus setelah simulasi tanding juga makin banyak. Meski
dia tidak menunjukkannya di wajah, mungkin sebenarnya dia lebih lelah dariku.
Hasil latihan
pagi mulai terlihat jelas. Aku sendiri bisa merasakan kalau aku makin kuat.
"Ngomong-ngomong,
sesuai dugaan, aku satu-satunya yang tidak punya kelompok besar, melainkan Duo
untuk Ujian Labirin. Lawanku, eh, rekanku adalah Cyrus-sensei."
Mendengar
itu, semuanya hanya bisa tertawa pahit, tapi...
"Kalau
menurutku, malah bagus Mars cuma berdua dengan Cyrus-sensei. Kalau kamu
berkelompok dengan murid perempuan lain, aku pasti bakal kepikiran terus."
"……Curang…… Cyrus…… tapi
syukurlah……"
"Benar juga! Anggap saja itu cara
agar tidak ada 'serangga pengganggu' yang mendekati Mars!"
Sepertinya
semuanya setuju-setuju saja.
"Oh iya,
Clarice. Bukannya kamu harus cerita soal hal itu pada Mars?"
Misha
melemparkan topik pada Clarice.
Hal itu? Aku
jadi penasaran.
"Ah, iya... Kemarin kan sempat ada
kejadian dengan Dominic. Nah, kakak-kakak kelas yang melihat kejadian itu
datang mengajakku masuk ke kelompok mereka..."
Bisa menumbangkan Dominic yang dianggap
pendekar pedang terkuat di kelas satu sampai tidak berkutik, tentu saja ajakan
akan berdatangan.
Namun,
Misha sepertinya tidak berpikir begitu.
"Kakak-kakak
kelas itu pasti punya niat terselubung pada Clarice. Soalnya cara mereka
menatap Clarice itu mesum sekali."
"Jangan
bicara aneh-aneh. Tidak mungkin seperti itu."
Clarice
membantah, tapi kurasa apa yang dikatakan Misha benar.
"Clarice.
Kalau aku membuat kelompok sekarang, mungkin akan ada orang-orang yang tidak
terima murid 'tanpa warna' sepertiku berada di kelompok yang sama dengan kalian
yang di Kelas S, seperti Dominic kemarin. Aku akan berusaha agar setidaknya
bisa naik ke Kelas A atau B, jadi sampai saat itu tiba, bisakah kau percaya dan
bersabar menungguku?"
Kalau
aku tiba-tiba masuk Kelas S, itu akan terlalu mencolok. Lebih baik pelan-pelan
dan hati-hati.
"Eum.
Aku mengerti. Aku akan
menunggumu, jadi berjuanglah ya."
Clarice
tersenyum sambil menatap wajahku.
Aku tidak
boleh mengecewakan harapannya.
Dengan tekad itu, aku kembali pergi ke gimnasium untuk mandi keringat hari ini.



Post a Comment