NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 8

Chapter 8

Ujian Labirin


"Kereeeen bangeeeeet!!! Baru kali ini aku lihat kereta kuda sebanyak ini, apalagi sampai naik!"

Gon tampak sangat bersemangat melihat deretan kereta kuda yang memenuhi gerbang utama.

Hari ini adalah hari keberangkatan kami dari Kota Akademik Regan menuju Kota Labirin Arahan yang berada di wilayah kekuasaan Duke Regan.

Total lebih dari 600 orang—terdiri dari murid kelas satu, kakak kelas, hingga staf pengajar—akan melakukan mobilisasi massal menuju Arahan yang berjarak sekitar 50 kilometer.

Jumlah kereta kudanya saja lebih dari seratus unit.

"Aku sudah tidak sabar ingin naik! Di dalam ruang sempit ada tiga laki-laki dan tiga perempuan muda... pasti bakal terjadi sesuatu, kan!"

Gon mulai membiarkan imajinasinya liar. Aturannya, perjalanan dengan kereta kuda dilakukan per kelompok. Satu kelompok mendapat satu unit kereta.

Kelompok Gon terdiri dari tiga laki-laki termasuk Karl, ditambah dua perempuan bernama Tian dan Nelka—mereka berdua mengambil kelas Fire Magic bersamaku.

Ditambah satu orang kakak kelas perempuan yang bergabung dalam formasi mereka.

Tiga laki-laki dan tiga perempuan dalam satu kereta kuda... pasti suasananya sangat menyenangkan.

Dibandingkan dengan itu, nasibku...

"Woi! Mars! Bawa barang-barangku juga!"

Cyrus menyodorkan barang bawaannya kepadaku dengan paksa.

Perlu kutegaskan sekali lagi, satu kelompok satu kereta kuda.

Anggota kelompokku hanya Cyrus... artinya, sepanjang perjalanan nanti, aku hanya akan berduaan dengannya di ruang sempit itu.

Aku benar-benar iri pada Gon.

Saat aku sedang memasukkan barang-barang Cyrus ke dalam kereta, Clarice, Elie, dan Misha datang menemuiku.

"Bagaimana, Mars? Persiapannya sudah selesai?"

"Iya. Baru saja selesai memasukkan barang-barang Cyrus-sensei. Kalian sendiri bagaimana?"

"Eum. Persiapan kami sudah beres... walaupun suasananya agak canggung."

Clarice tersenyum pahit. Yah, berada satu kelompok dengan Dominic pasti terasa seperti itu.

"Tapi kereta kuda kelompok kalian mewah dan besar sekali, ya. Ada benderanya pula."

Aku menatap kereta kuda milik kelompok Clarice yang terparkir paling depan.

Pada bendera itu tertera lambang buku milik keluarga Duke Regan, dan di tengah lambang tersebut terdapat sulaman bunga teratai yang besar.

Katanya itu adalah bendera kelompok Clarice yang bernama [Karen] (Teratai), sementara kelompok Kelas S lainnya yang bernama [Guren] (Teratai Merah) juga memiliki bendera khusus mereka sendiri.

"Woi! Kalian harus berangkat sekarang, kan! Cepat pergi sana!"

Padahal Clarice dan yang lain baru saja sampai, tapi Cyrus langsung mengusir mereka seolah-olah mereka hanya pengganggu.

Yah, memang benar waktu keberangkatan kelompok [Karen] yang memimpin barisan kelas satu sudah hampir tiba.

"Maaf, ya. Kami harus segera kembali. Mars, mungkin kita tidak akan bertemu untuk sementara waktu... berjuanglah, ya."

Begitu sampai di Kota Arahan, kami akan bergerak dalam kelompok masing-masing, jadi entah kapan aku bisa bertemu lagi dengan Clarice.

"Iya. Bakal terasa sepi, tapi kalian semua hati-hati, ya. Jangan memaksakan diri."

Setelah memeluk Clarice, giliran Elie yang menyusup ke dalam dekapanku.

"……Aku juga boleh?"

Misha yang melihat itu bertanya dengan ekspresi malu-malu.

Aku melirik Clarice sebentar, dan dia mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu, Misha juga tidak perlu sungkan."

Setelah selesai memberikan pelukan perpisahan kepada mereka bertiga, aku melepas keberangkatan mereka. Tiba-tiba Cyrus berceletuk.

"Cih! Dasar bocah... sudah mulai genit saja! Kau juga cepat masuk!"

Cyrus yang sedang emosi langsung masuk ke dalam kereta.

Menghabiskan waktu berjam-jam bersama seekor binatang buas di dalam sangkar bernama kereta kuda benar-benar siksaan yang luar biasa.

◆◇◆

Setelah enam jam terguncang di dalam penjara goyang itu, kereta yang kutumpangi bersama Cyrus—yang berada di barisan paling belakang—akhirnya tiba di Kota Labirin Arahan.

Kelompok dari kelas lain sepertinya sudah selesai membawa barang ke penginapan. Mereka tampak sedang mengadakan rapat strategi di berbagai sudut kota untuk menghadapi ujian labirin besok.

"Cyrus-sensei. Bagaimana pergerakan kita besok?"

Aku memastikan jadwal besok sambil berjalan menuju penginapan untuk menaruh barang.

"Kau pernah masuk ke labirin?"

Ekspresi Cyrus berubah menjadi sangat serius.

"Iya. Beberapa kali."

"Pernah bertarung sambil membawa barang bawaan?"

"Pernah, walau hanya sedikit."

Mendengar jawabanku yang standar, dia melanjutkan.

"Latihan bertarung sambil menggendong beban memang ada di pelajaran sekolah, tapi praktik aslinya sangat berbeda. Monster tidak akan datang sendirian, dan ada kalanya sihir melesat ke arahmu saat kau sedang duel jarak dekat. Kita akan bergerak perlahan sambil melakukan latihan ilmu pedang. Melihat pertarungan kelompok lain dari kejauhan juga akan sangat berguna."

Tak disangka, aku mendapat jawaban yang sangat masuk akal. Sepertinya dia ingin memperingatkanku agar tidak meremehkan labirin.

Demi hari esok, aku pun segera masuk ke dalam selimut.

◆◇◆

―Hari Pertama Ujian Labirin.

Di sekitar area labirin, para murid Akademi Lister sudah berkumpul.

Mulai hari ini hingga satu bulan ke depan, Ujian Labirin di Arahan resmi dimulai.

Setiap kelompok tidak hanya didampingi oleh staf atau kakak kelas, tapi di dalam labirin pun sudah ada tim pengawas terpisah yang berjaga untuk keselamatan murid kelas satu. Pengorganisasiannya benar-benar matang.

Karena ini labirin, luka-luka sudah pasti menjadi risiko.

Meski begitu, wali kelasku bilang belum pernah ada korban jiwa di sekolah ini.

Sebagai catatan, tingkat kematian tertinggi di dunia petualang adalah petualang Kelas E.

Katanya banyak dari mereka yang baru lulus di atas kertas langsung masuk labirin atau mengambil quest pembasmian tanpa persiapan, lalu berakhir tewas.

Keuntungan masuk ke sekolah ini adalah kita bisa menjadi petualang Kelas D atau C dengan cara yang jauh lebih aman.

"Baiklah semuanya! Sekarang kita akan masuk! Ikuti aku!"

Sosok yang mendeklarasikan hal itu dengan lantang di depan pintu labirin adalah Karen, peringkat satu dari Kelas S.

"""Ooooohhhhhh!!!!!!"""

Merespons sorakan para murid, kelompok [Karen] menjadi yang pertama melangkah masuk ke dalam labirin.

Diikuti oleh tim staf dan kakak kelas yang akan mendukung kami di dalam.

Dan entah kenapa, setelah itu giliran aku dan Cyrus yang menyusul.

Sebagai kelompok kelas satu, kami adalah yang kedua masuk setelah [Karen].

Alasannya sederhana.

Masuknya [Karen] di urutan pertama hanyalah sebuah demonstrasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan moral semua orang dengan membiarkan peringkat satu mengambil posisi ujung tombak.

Karen sudah diputuskan menjadi orang pertama yang akan menghabisi monster di labirin ini, dan setelah tugas itu selesai, mereka akan turun ke posisi paling belakang.

Saat kami maju mengikuti [Karen], sebuah ruangan luas atau Big Room terpampang di depan mataku.

Ukurannya jauh lebih besar daripada ruangan-ruangan luas yang pernah kulihat sebelumnya.

Gerombolan monster terbagi di beberapa titik, dan dari ruangan ini terdapat banyak lorong yang bercabang ke depan.

Begitu kelompok Kelas E yang berada di belakangku mulai mengejar, kelompok [Karen] menyerbu ke tengah ruangan. Karen yang berdiri di depan mulai merapalkan sihir.

Hanya dengan melihat aliran energinya saja, aku langsung paham bahwa itu bukan sihir biasa yang sering kami gunakan. Jumlah mana-nya luar biasa besar.

"Flare!"

Beberapa detik setelah Karen merapalkan sihirnya, pusaran api yang berkobar layaknya api neraka menerjang gerombolan monster.

Monster-monster yang menyadari hawa panas itu mencoba melarikan diri, namun hanya dengan menyentuh kelopak api yang beterbangan dari Flare, tubuh mereka langsung hangus terbakar.

"Ini sih... ada potensi melampaui kelompok [Guren]."

Cyrus bergumam dengan nada puas.

Memang benar, kekuatan sihir tadi sangat mengerikan. Jika terkena secara langsung, bahkan tulang pun tidak akan tersisa.

Namun, kelemahannya juga sangat mencolok: kecepatan perapalannya terlalu lambat.

Jika lawannya adalah pengguna Wind Magic, mereka pasti punya cukup waktu untuk melakukan interupsi setelah melihat mantra itu dirapalkan.

Kecuali ada garda depan yang luar biasa, sihir itu mustahil digunakan melawan musuh yang kuat.

Selain itu, meskipun ada garda depan yang hebat, ada masalah kepercayaan pada Karen.

Hawa panas sebesar itu melesat ke area pertempuran. Tanpa keyakinan mutlak bahwa sihir itu tidak akan mengenai rekan sendiri, garda depan pasti akan memilih kabur.

Setelah pertunjukan sihir Karen menghanguskan monster di area tersebut, sekarang tibalah giliran kami!

"Woi! Ayo maju, Mars!"

Cyrus menepuk punggungku. Saat aku memasuki ruangan luas itu, aku mengangkat tangan kanan untuk merespons tatapan penuh semangat dari Clarice dan yang lain.

Meskipun monsternya hanya Goblin atau Kobold, mustahil aku tidak bersemangat.

Aku menaruh tas dan selimut ke tanah, lalu menggenggam pedang roh api di tangan kiri.

Biasanya aku menggunakan tangan kanan untuk memegang pedang.

Namun, demi ambisi mengalahkan Cyrus dan meningkatkan level ilmu pedangku, aku rutin berlatih mengayun pedang dengan tangan kiri setiap pagi. Hasilnya, sekarang aku sudah bisa bertarung dengan kedua tangan.

Ini kesempatan bagus untuk menguji tangan kiriku.

Aku memasang kuda-kuda dan merendahkan tubuh. Setiap serat otot yang telah ditempa melalui latihan beban dan lari interval mulai berkontraksi.

Dalam kondisi itu, aku menendang tanah dengan kuat dan menebas Goblin yang bahkan tidak sempat bereaksi.

Sebelum sempat menyadari bahwa dirinya telah tertebas, kepala Goblin itu sudah melayang di udara.

Dibandingkan tangan kanan, sensasi di tangan kiri memang belum terlalu tajam, tapi untuk menghadapi monster selevel ini, tidak ada masalah.

Bagus! Kalau begini aku bisa!

"Selanjutnya!" pikirku sambil berniat menebas monster di dekatku, tapi ternyata monster-monster di sekitarku sudah tidak punya kepala lagi.

Pelakunya tentu saja pria ini.

"Cih! Masih saja tidak ada tantangannya!"

Woi, woi... apa yang dilakukan petualang Kelas B di garis depan begini?

Monster lainnya sudah ditangani oleh kelompok Kelas E yang lain. Karena sudah tidak ada lawan lagi, aku terpaksa kembali untuk mengambil barang-barangku. Namun, seseorang menghalangi jalanku.

"Kau... bukannya pengguna sihir api?"

Mata merahnya menatapku seolah ingin menyelidiki sesuatu.

"E-eh, iya. Saya juga bisa menggunakan sihir api, tapi..."

Aku baru ingat kalau di depan Karen aku mengaku sebagai penyihir.

Aku sedang bingung mencari penjelasan, tiba-tiba datang bantuan—atau mungkin bukan?

"Kau ini! Masih saja sempat-sempatnya bermain dengan perempuan saat ada waktu luang! Cepat ke sini!"

Aku tidak sedang bermain, tapi kerja bagus, Cyrus.

"Maaf. Bos saya sudah memanggil, jadi saya permisi dulu."

Aku melirik ke arah Clarice dan yang lain untuk memastikan apakah mereka termakan omongan Cyrus tentang "bermain", tapi melihat mereka yang memberikan semangat sambil tersenyum membuatku lega.

Sambil memanggul barang, aku mengejar punggung Cyrus.

◆◇◆

Setelah beberapa jam maju sambil menghabisi monster dengan lancar, kami sampai di ruangan yang menuju ke lantai dua.

Saat kami sedang bertarung di ruangan itu, seorang staf masuk.

"Akhirnya aku bisa mengejar kalian. Apa ini garis depan bagian Utara?"

"Sepertinya begitu. Kenapa kau ke sini, Sasha?"

Mereka berdua asyik mengobrol sambil mengamati pertarunganku.

"Sehebat apa pun Cyrus, kalian kan cuma berdua? Aku jadi agak khawatir."

Sebagai catatan, jika kami tidak tersesat seperti yang dikatakan Cyrus, seharusnya kamilah yang bertarung di garis paling depan.

Kamilah yang pertama kali keluar dari ruangan luas di awal tadi, dan sejak saat itu belum ada yang mendahului kami.

Namun, aku penasaran dengan ucapan Sasha soal "Utara".

"Lalu? Bagaimana Mars? Apa dia sehebat dugaanmu sampai kau meminta langsung pada Duke Regan untuk membiarkanmu berkelompok berdua dengannya?"

Heh. Ternyata ada latar belakang seperti itu, ya. Aku menajamkan pendengaran sambil terus bertarung.

"Tentu saja. Coba lihat itu. Dia bertarung menggunakan tangan kiri yang bukan tangan dominannya."

"Iya. Lalu kenapa?"

"Apanya yang kenapa? Pedang itu bukan cuma sekadar diayunkan, kau tahu. Sangat mendetail mulai dari posisi memegang gagang hingga pengaturan kekuatan setiap tebasan. Sasha, apa kau bisa menarik busur dan memanah dengan tangan kiri?"

Sasha mencoba mempraktikkan memanah dengan tangan kiri, tapi anak panahnya tidak melesat dan justru jatuh di depannya.

"Benar juga. Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk mencoba hal seperti itu, jadi aku tidak menyadarinya."

"Kan? Padahal aku juga baru saja mencoba mengayun pedang dengan tangan kiri untuk pertama kalinya barusan."

Cyrus tertawa terbahak-bahak, lalu Sasha memanggilku.

"Mars, sisakan satu monster saja. Mengerti?"

Menyisakan satu monster berarti mencegah monster lain untuk melakukan respawn, jadi kami bisa beristirahat di sini hari ini.

Setelah menyisakan satu monster, aku menghampiri mereka berdua. Cyrus dengan lihai mengikat monster tersebut.

"Kerja bagus. Sesuai dugaanku, kau sepertinya sudah sangat terbiasa bertarung dengan monster. Kau bahkan masih punya cukup kelonggaran untuk mendengarkan percakapan kami sambil bertarung."

Ternyata Sasha memperhatikan sampai sejauh itu.

"Tidak juga kok. Saya tadi sedang berjuang mati-matian."

Aku mencoba merendah, walau sepertinya dia sudah tahu aku berbohong.

"Pokoknya sampai sini dulu untuk hari ini. Kalian cepatlah tidur untuk persiapan besok. Biar aku yang berjaga."

Cyrus melemparkan handuk yang sudah dibasahi dengan Water Magic kepadaku dan Sasha.

Meskipun aku penasaran dengan ucapan Sasha tadi, jika aku tidak segera tidur, maka jam tidur Cyrus juga akan semakin berkurang.

Orang cenderung mudah marah kalau kurang tidur. Lebih baik aku segera tidur sekarang.

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya tidur duluan."

"Terima kasih, Cyrus. Aku juga akan beristirahat."

Sasha membawa handuk basah itu dan menghilang ke tempat yang tidak terlihat oleh kami.

Yah, dia tidak mungkin mengelap tubuhnya di depan kami, kan.

Sebelum Sasha kembali, aku buru-buru mengelap tubuhku, lalu bersandar ke dinding, memakai selimut, dan memejamkan mata.

Hmm? Aroma apel hijau ini...

Aku membuka mata dan mencari sumber aromanya. Di sampingku, tampak Sasha yang sedang tidur dengan wajah yang menyembul sedikit dari balik selimut.

Wajahnya yang terlihat seperti keluar dari lukisan itu hampir membuat mataku terpaku, namun di saat yang sama rasa cemas menyerangku.

Bagaimana keadaan Clarice dan yang lain? Bergerak dalam kelompok berarti tempat tidur mereka pasti berdekatan. Jika terjadi sesuatu... Saat aku sedang dilanda kegelisahan, sebuah suara berat menggetarkan jantungku.

"Apa yang sedang kau lakukan dari tadi? Sebentar tersenyum, lalu sekarang wajahmu seperti mau kiamat."

Ternyata dia memperhatikanku... memalukan sekali.

"Tidak, saya hanya merasa cemas memikirkan bagaimana keadaan kelompok lain sekarang."

"Hah!? Maksudmu kelompok [Karen]!? Jangan pikirkan mereka! Lorentz pasti sedang mengawasi mereka secara sembunyi-sembunyi!"

Lorentz itu pengawas ujian praktik, ya. Kalau begitu aku lega.

Mungkin karena suara Cyrus yang terlalu keras, Sasha yang tadinya terbungkus selimut terbangun.

"Ara? Kalian sudah bangun? Cyrus, sekarang giliranmu yang tidur."

"Iya. Aku titip mereka, ya."

Atas saran Sasha, kini giliran Cyrus yang terlelap.

"Sasha-san? Boleh saya bertanya? Tadi Anda bilang 'garis depan Utara', apakah itu berarti ada tangga lain di labirin ini?"

Saat aku menanyakan hal yang mengganjal sebelum tidur tadi, jawabannya sesuai dugaanku.

"Begitu ya. Karena Kelas D dan E biasanya tidak akan turun sampai lantai dua kecuali ada hal darurat, kalian memang tidak diberi tahu. Ada tangga di sisi Timur dan Barat juga. Mulai lantai tiga ada dua tangga, dan dari lantai enam hanya akan ada satu tangga."

Ternyata ada informasi yang tidak disosialisasikan kepada kami dari Kelas E.

"Apakah itu berarti kelompok [Karen] masuk dari sisi lain, bukan dari Utara?"

"Iya. Bersama Kelas A, mereka masuk dari sisi Timur."

Kupikir selama tidak ada yang mendahului kami, Clarice dan yang lain akan aman dari bahaya. Ternyata pemikiranku terlalu naif.

"Sekarang giliran aku yang bertanya. Mars, apa kau pernah mencoba merapalkan Wind pada diri sendiri untuk terbang?"

"Tidak... saya bahkan tidak pernah terpikir melakukan hal berbahaya seperti itu."

"Hah... benar juga ya... lalu sebenarnya apa yang anak itu lihat?"

Sasha menghela napas panjang sambil memegangi kepalanya.

Kemungkinan besar yang dimaksud adalah Misha. Meskipun aku mengajarinya Sylphid, dia masih saja sering merapalkan Wind pada dirinya sendiri saat maraton sampai terpental jauh.

"Terakhir, aku punya satu permintaan. Maukah kau melakukan simulasi pertarungan sihir denganku? Sebentar saja tidak apa-apa."

"Tentu saja. Saya juga sudah lama ingin mencoba bertanding dengan Sasha-sensei, mohon bantuannya!"

"Terima kasih. Karena kau sering menyembunyikan kemampuanmu, aku hanya bisa meminta ini di tempat seperti ini."

Ternyata dia memikirkan hal itu sampai sejauh itu. Apa Cyrus juga sama? Tidak mungkin, kan.

Kami menjaga jarak dari Cyrus yang sedang mendengkur keras, lalu mulai mengadu sihir angin kami masing-masing.

"Sudah kuduga, tapi ini di luar ekspektasiku."

Sasha menyampaikan kesannya dengan ekspresi yang tampak lega.

"Saya pun belajar banyak dari hal ini. Terima kasih banyak."

Saat aku menundukkan kepala, Sasha melanjutkan dengan nada senang.

"Tahun ini benar-benar panen pengguna sihir angin yang hebat. Ada kau, Misha, dan juga Johan. Aku sangat menantikan masa depan kalian."

"Johan? Apa dia kuat?"

"Iya. Dia berada di Kelas A. Statusnya lumayan, tapi gaya bertarungnya sangat cerdik, mungkin karena dia kaya pengalaman praktis. Selain itu, ada pengguna sihir api bernama Joseph, dan seorang anak bernama Minerva yang punya gaya bertarung unik, mereka juga kuat. Mereka bertiga bersama dua orang lainnya membentuk kelompok bernama [Kamaitachi]. Sebagai informasi, mereka bertiga masuk dalam kandidat calon Kelas S."

Semuanya adalah nama yang baru pertama kali kudengar... tapi ya wajar saja sih, aku tidak kenal siapa pun dari Kelas A.

"Tapi kau tidak perlu terlalu merisaukan mereka. Untuk murid kelas satu tahun ini, Mars jelas yang terkuat. Di urutan berikutnya adalah Karen."

Evaluasi untuk Clarice ternyata tidak setinggi itu, ya.

Bagus sih kalau dia tidak terlalu mencolok, tapi rasanya agak sedikit kesal.

"Kalau begitu, aku permisi dulu. Selama tidak memaksakan diri, kalian berdua saja pasti akan baik-baik saja."

Aku melepas keberangkatan Sasha yang pergi dengan gagah setelah mengemasi barang-barangnya, lalu memutuskan untuk menunggu binatang buas itu terbangun.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close