NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 7

Chapter 7

Party


"Hei? Mars, kelompok kalian buat Ujian Labirin sudah terbentuk?"

Sepulang sekolah. Saat aku dan Clarice sedang berlatih ilmu pedang di salah satu gimnasium yang ukurannya tergolong besar, dia tiba-tiba bertanya.

Omong-omong, Elie dan Misha juga sedang berlatih pertarungan jarak dekat berdua. Karena murid angkatan lain juga menggunakan tempat ini, suasananya cukup ramai.

"Kelompok? Belum tuh. Memangnya kelompok Clarice sudah?"

"Iya. Karena ujiannya tiga hari lagi, kami pikir lebih baik diputuskan sekarang. Kalau kami sih anggotanya sudah pasti itu-itu saja, tapi kami harus bagi peran."

Ujian Labirin tiga hari lagi?

Lagi-lagi, kecepatan penyampaian informasi antar-kelas terasa sekali perbedaannya.

Kapan ya kelas-kelas lain akan diberi tahu?

Mungkin nanti aku akan mencoba bertanya kalau sudah punya kenalan dari kelas lain.

"Sekadar buat referensi, perannya dibagi bagaimana?"

"Hmm. Garda depan itu Elie dan Dominic. Garda belakangnya Karen-sama. Lalu Misha, Baron, dan aku di posisi garda tengah."

Aku paham kalau Clarice dan Misha di tengah, tapi Baron juga di tengah, ya.

Yah, sosok Pahlawan memang biasanya all-rounder. Masuk akal kalau dia di garda tengah.

"Tapi ada satu hal aneh yang kudengar dari guru... Katanya, kelompok beranggotakan enam orang cuma ada satu, yaitu kelompok kami dari Kelas S. Kelas lain harus membentuk kelompok berisi lima orang, lalu satu posisi sisanya akan diisi oleh guru atau kakak kelas. Nah, murid di kelas Mars ada 201 orang, kan? Kalau dibuat 40 kelompok, pasti ada satu orang yang sisa. Aku punya firasat orang itu adalah Mars, makanya aku tanya..."

"Aku baru dengar soal itu sekarang, tapi ya, yang bakal jadi sisa pasti aku si peringkat terbawah."

Meski aku sudah mulai membangun posisi di dalam kelas, statusku secara resmi tetap peringkat terbawah sampai ujian nanti.

Elie dan Misha juga menunjukkan ekspresi khawatir, sepertinya mereka memikirkan hal yang sama.

"Yah, mau bagaimana lagi. Tapi kalau satu kelompok berisi lima orang ditambah satu kakak kelas, apa itu artinya Kak Ike juga bakal ikut dimasukkan ke salah satu kelompok?"

Setelah masuk ke Akademi Nasional Lister, aku sempat mencari Ike. Katanya, murid tahun keempat mulai menerima quest dari dalam Federasi Lister, jadi mereka lebih sering berada di luar sekolah.

Melihat cara bicara Duke Regan tempo hari, Ike sepertinya baik-baik saja, jadi aku tidak terlalu khawatir. Tapi aku sudah ingin bertemu dengannya.

"Ngomong-ngomong, waktu kita bertemu Duke Regan, beliau juga bilang kalau Mars punya kakak laki-laki. Orang seperti apa dia?"

Misha ikut masuk ke pembicaraan, tampak tertarik.

"Iya, dia tahun keempat sekarang, namanya Ike. Dia sangat kuat, jadi kurasa dia ada di Kelas S."

"Kalau dia kakaknya Mars, pasti kuat sekali ya. Tapi kurasa mustahil baginya untuk jadi peringkat satu di tahun keempat. Soalnya ada Glen."

Ternyata Misha juga tahu soal Glen.

"Katanya dia luar biasa kuat. Bukan cuma Duke Regan, Cyrus-sensei juga bilang begitu. Tapi Kak Ike bukan cuma kuat, sifatnya sebagai manusia juga sangat baik, makanya dia adalah target yang ingin kulampaui."

"Heh... Kalau Mars sampai bicara begitu, aku jadi ingin bertemu dengannya."

"Benar juga. Selama Ujian Labirin nanti, aku akan cari tahu apakah dia tergabung di kelompok lain. Clarice, Elie, kalau kalian melihat Kak Ike, tolong beri tahu aku ya."

"Tentu. Aku juga sudah lama ingin mengobrol dengan Kakak Ipar."

"……Eum…… akan kucari……"

Tepat saat aku mendapat bantuan mereka, seorang laki-laki masuk ke gimnasium.

"Bukannya ini Clarice, Elie, dan Misha? Kenapa kalian di sini? Kalian bertiga ikut berpartisipasi juga?"

Laki-laki berambut panjang itu bertanya sambil menyisir rambutnya ke belakang. Dia Dominic dari Kelas S. Kalau tidak salah, dia juga dijuluki Si Jenius Pedang.

"Partisipasi? Aku tidak mengerti maksudmu, tapi kami sedang diajari ilmu pedang oleh orang ini. Benar kan, Mars?"

Clarice meletakkan pedang kayunya, lalu menggandeng lenganku seolah ingin memamerkannya pada Dominic.

Berkat itu, lengan kananku merasa sangat bahagia.

Melihat itu, Elie tidak mau kalah dan memeluk lengan kiriku, sementara Misha bersembunyi di balik punggungku. Seketika, aku merasakan aura membunuh dari murid laki-laki di sekitar.

Hal yang sama juga datang dari Dominic yang ada di depanku.

"Siapa kau? Beraninya mendekati gadis-gadis dari kelas kami."

Sikap Dominic sangat arogan.

Mungkin karena aku berasal dari Kelas E, dia jadi makin meremehkanku.

"Salam kenal. Nama saya Mars. Clarice dan Elie adalah tunangan saya. Sedangkan Misha adalah teman yang sangat berharga."

Terhadap orang semacam ini, lebih baik aku tegaskan hubungan kami sejak awal.

"Tunangan!? Orang 'tanpa warna' sepertimu bersanding dengan gadis Kelas S? Hanya karena modal tampang, aku tidak bisa membiarkan ini. Pas sekali, aku akan mengelupas topengmu dan menyadarkan mereka. Ambil pedangmu."

Tanpa kompromi, Dominic langsung memasang kuda-kuda.

Ini hari pertamaku di gimnasium ini, tapi tadi Dominic bertanya apakah aku ikut berpartisipasi.

Sepertinya Dominic rutin mengumpulkan orang untuk melakukan simulasi tanding demi mengasah kemampuannya.

Peserta dan penonton mungkin akan bertambah banyak setelah ini.

Menjadi mencolok di dalam kelas itu sudah risiko, tapi aku tidak terlalu berminat bertarung di depan orang sebanyak ini.

Saat aku masih ragu menerima tantangannya, provokasi Dominic berlanjut.

"Kenapa? Dihina begini saja kau sudah pengecut. Clarice, tinggalkan orang ini dan ikutlah denganku."

Sesuai dugaan, yang meledak karena provokasi itu adalah Elie.

"……Orang itu…… tidak kumaafkan…… bunuh……"

Ekspresi Elie yang tadinya tenang berubah drastis dalam sekejap.

"Eum! Aku juga jadi benci Dominic!"

Misha pun menyiapkan tombaknya... tapi Clarice menahan mereka berdua.

"Dominic. Aku tidak akan membiarkanmu menghina Mars lebih jauh lagi. Aku, murid pertama Mars, yang akan menjadi lawanmu. Kalau kau ingin bertarung dengan Mars, kalahkan aku dulu."

Pernyataan tak terduga itu membuat murid-murid di sekitar yang tadinya hanya menonton langsung gaduh.

"Apa yang kau katakan, Clarice? Hampir setiap hari kau melihat pertandinganku dengan Baron, kan? Aku adalah pengguna pedang terbaik di Kelas S. Dengan kata lain, pendekar pedang terkuat di angkatan kelas satu. Aku mengumpulkan orang-orang di sini karena tidak ada lawan yang sebanding di kelas satu. Clarice yang pintar pasti paham maksudku, kan?"

Berarti dalam hal pedang saja, Dominic lebih kuat dari Baron, ya?

"Ara? Apa kau jadi pengecut karena takut kalah dari aku yang seorang perempuan?"

Ini pertama kalinya aku melihat Clarice semarah ini.

"Kh! Kalau kau bilang begitu, apa boleh buat! Tapi kalau aku menang, kau harus jadi wanita milik Si Jenius Pedang, Dominic!"

Dominic mengatakan hal yang keterlaluan. Tentu saja aku tidak bisa terima.

"Itu tidak boleh! Kalau kau menang melawan Clarice, akulah yang akan jadi lawanmu. Jika aku kalah, aku akan menuruti apa pun perintahmu, tapi aku tidak akan menjadikan Clarice, Elie, atau Misha sebagai taruhan kecuali atas kemauan mereka sendiri!"

Mungkin di dunia ini sudah jadi hal umum kalau pemenang bisa mendapatkan si wanita, tapi aku tidak berniat terikat oleh akal sehat macam itu.

"……Yah, baiklah! Lagipula memang itu tujuanku!"

Saat Dominic mengangkat pedang kayunya, Clarice juga memungut pedang kayu yang tadi diletakkannya.

Jika Dominic ternyata lebih kuat dari Clarice, ada kemungkinan Clarice terluka.

Untuk mencegah hal itu, aku wajib melakukan Appraisal pada Dominic.

Biar saja dibilang curang, keselamatan Clarice jauh lebih penting.

Aku menatap Dominic yang berdiri di depan Clarice dengan senyum meremehkan, lalu mengaktifkan Appraisal.


[Nama] Dominic Augus

[Gelar]

[Status Sosial] Manusia, Kepala Keluarga Baronet Augus

[Kondisi] Baik

[Usia] 11 Tahun

[Level] 22

[HP] 135135

[MP] 5858

[Strength] 55

[Agility] 55

[Magic Power] 24

[Dexterity] 29

[Endurance] 50

[Luck] 5

 

[Special Ability] Swordmanship B (Lv817)

[Special Ability] Wind Magic E (Lv211)

[Equipment] Gale Sword


Dominic tidak menunjukkan tanda-tanda menyadari Appraisal-ku.

Pantas saja dijuluki jenius pedang, nilai bakat Swordmanship-nya sama denganku, yaitu B, dan dia juga bisa sihir angin.

Kalau di dunia petualang, dia kira-kira selevel petualang kelas D.

Dengan begini, Clarice tidak akan kalah. Aku bisa menonton dengan tenang.

Tanpa tahu hal itu, Dominic bersikap sombong di depan Clarice.

"Heh... kau lumayan juga, Clarice. Tapi... menyesallah karena telah berdiri di depanku!"

Begitu pedang kayu mereka beradu, pedang milik Dominic langsung melayang ke udara.

"—Apa!?"

Kejadian yang sangat tiba-tiba itu membuat seluruh murid—kecuali aku dan Elie—terperangah.

Misha yang sepertinya belum tahu kekuatan Clarice juga sampai membelalakkan mata.

"Tuan Jenius Pedang? Tidak perlu menahan diri. Seranglah aku dengan sungguh-sungguh."

Clarice semakin memprovokasi Dominic yang masih terpaku karena pedangnya terpental.

Normalnya pertandingan berakhir di sini, tapi sepertinya amarah Clarice belum reda.

"Tadi itu aku cuma lengah! Sekarang aku akan serius!"

Dominic kembali menggenggam pedangnya dan menerjang Clarice dengan wajah garang.

Setelah beberapa kali adu pedang, lagi-lagi pedang Dominic terpental, dan sebuah serangan telak mendarat di perut Dominic.

"Ghuakh!?"

Saat Dominic mengerang sambil memegangi perutnya yang kesakitan, Clarice menusukkan kata-kata terakhirnya.

"Tuan Jenius Pedang? Saya diajari ilmu pedang oleh Jenius Pedang yang asli. Jika Anda berani menyandang gelar itu, setidaknya Anda harus bisa menang melawan saya yang seorang pemanah ini. Kalau tidak, gelar itu akan terlihat menyedihkan."

Dominic menggigit bibir sambil menunduk di hadapan Clarice, tak mampu membalas sepatah kata pun.

Jenius pedang yang asli itu siapa maksudnya? Bukan aku, kan?

Dipermalukan di depan umum memang menyakitkan, tapi ini akibat perbuatannya sendiri.

Para murid yang melihat kekuatan luar biasa Clarice pun mulai terpana.

"Tadi itu keren sekali!"

"Berikutnya, bertandinglah denganku!"

"Ajari aku juga dong!"

……Ini mereka benar-benar terpesona karena kekuatannya, kan?

"Maaf! Aku agak berlebihan! Ayo pergi!"

Kami meninggalkan gimnasium seolah-olah sedang melarikan diri.

"Clarice ternyata sekuat itu juga dalam ilmu pedang!? Itu sih yang terkuat dalam pertarungan jarak dekat!"

Terhadap Misha yang masih antusias, Clarice membantahnya.

"Tidak juga kok. Kalau pertarungan jarak dekat, aku tidak bisa menang melawan Elie."

"Eh!? Elirin bahkan lebih kuat lagi!?"

Entah kenapa Misha sangat terkejut.

"Misha, saat jam bela diri, apa kau tidak pernah bertanding melawan Clarice atau Elie?"

Karena mereka satu kelas, kupikir itu hal yang wajar, tapi aku mendapat jawaban khas Kelas S.

"Aku kan tidak bisa pakai pedang? Jadi aku mendapat bimbingan one-on-one dengan guru teknik tombak. Aku sendirian saat jam bela diri. Bukan cuma aku, Karen-sama juga dapat bimbingan one-on-one dalam latihan yang fokus pada kekuatan fisik dasar."

Di Kelas E, entah kau pengguna pedang atau tombak, semua diajar oleh guru yang sama. Ternyata di Kelas S, gurunya disesuaikan dengan bakat masing-masing, ya.

"Clarice, Elie, kalian tidak pernah simulasi tanding melawan Baron atau Dominic?"

"Tidak pernah. Dengan melihat saja aku sudah tahu kira-kira seberapa kuat mereka. Bagiku berlatih dengan Elie jauh lebih bermanfaat. Baron dan Dominic sering menawarkan diri untuk mengajariku pedang, tapi selalu kutolak karena aku bilang sudah ada yang mengajariku."

Ternyata mereka memang sering diganggu, ya.

Yah, dengan kejadian tadi, setidaknya Dominic tidak akan berani mendekati Clarice dengan dalih mengajarinya ilmu pedang lagi. Aku jadi sedikit lega.

"Hei, boleh aku tanya? Apa aku juga bisa jadi sekuat Clarice dan Elirin?"

Misha yang sedari tadi mendengarkan akhirnya bertanya.

"Tentu saja. Melihat caramu memegang tombak, aku merasa kau punya bakat, jadi kau pasti bisa kuat."

Apa yang kukatakan bukan sekadar penghiburan. Misha punya bakat yang luar biasa dan dia punya kemauan.

Saat aku menegaskannya dengan penuh percaya diri, mata Misha berbinar.

"Terima kasih! Kalau begitu, setelah maraton dan digendong Mars, aku juga harus latihan teknik tombak!"

Sepertinya digendong olehku setelah maraton sudah jadi syarat tetap.

Yah, mau bagaimana lagi sampai staminanya terbentuk.

Lagipula, berlari sambil menggendong Misha juga jadi latihan yang bagus buatku, dan mengobrol dengannya juga menyenangkan, jadi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Setelah berjanji untuk bertemu saat latihan pagi besok, kami kembali ke asrama.

◆◇◆

Keesokan paginya.

"Baiklah! Hari ini kita tentukan kelompok untuk Ujian Labirin! Pertama-tama, buatlah kelompok berisi lima orang! Kalian bebas memilih anggota, tapi nanti guru yang akan menyeimbangkan komposisinya, jadi camkan itu!"

Begitu guru selesai bicara, murid-murid Kelas E langsung mengerubungi mejaku.

"Mars! Kelompok denganku yuk!"

"Jangan, harusnya dengan kami!"

"Mars-kun, bagaimana kalau dengan kami? Isinya empat perempuan, lho."

Aduh, jadi orang populer itu berat ya.

Saat aku sedang asyik menimbang-nimbang siapa yang akan kupilih...

"Aku lupa bilang, karena Kelas E ada 201 orang, Mars yang ada di peringkat terbawah akan berkelompok dengan orang lain. Dia tidak boleh masuk ke kelompok mana pun di sini."

Sudah kuduga.

Clarice juga sudah memperingatkanku.

Tapi mbok ya biarkan aku menikmati momen jadi orang populer sebentar saja kenapa?

Lalu, sebuah suara berat memanggilku.

"Woi! Mars! Kau resmi berkelompok denganku!"

Seperti yang kalian duga, Cyrus masuk ke kelas dengan wajah garang seperti biasanya.

Kau ini sebenarnya sesuka itu ya denganku!?

Sudah setiap hari menghajarku, sekarang sampai mau ikut ke labirin segala.

Kerumunan orang yang tadinya mengelilingi mejaku langsung bubar seperti air surut.

"Hah... saya sudah menduga ini bakal terjadi, jadi tidak apa-apa. Tapi empat orang sisanya siapa?"

Dugaanku mungkin Sasha juga akan ikut, tapi Cyrus menyebutkan kata yang membuatku putus asa.

"Ini kelompok Duo."

"Duo!? Ah, Anda bercanda..."

……………… ………… ……

"Eh!? Jadi benar-benar Duo!?"

Karena tidak ada tanda-tanda dia sedang bercanda, aku bertanya pada wali kelas dengan cemas.

"Iya. Duke Regan secara pribadi menyampaikan bahwa Mars akan pergi berdua saja dengan Cyrus-sensei."

Astaga. Tadi kubilang jadi orang populer itu berat, tapi aku tidak menyangka akan seberat ini.

"Woi! Karena kelompokku dan Mars sudah diputuskan, aku akan membawanya sekarang ke jam pelajaran ilmu pedang!"

Begitu Cyrus bicara pada wali kelas, sang wali kelas—yang sepertinya ingin Cyrus cepat-cepat pergi—langsung berkata,

"Silakan lakukan sesuka Anda."

Beliau menjualku pada Cyrus seolah-olah aku ini barang persembahan.

Sialan... suatu saat aku pasti akan mengalahkanmu!

Aku memantapkan tekad dalam hati, sambil kembali dipukuli habis-habisan oleh Cyrus hari ini.

◆◇◆

―Sepulang sekolah

"Aduh, aduh..."

Clarice mengobati bagian tubuhku yang babak belur dihajar Cyrus.

Tentu saja di sekolah saat jam pulang kami tidak bisa menggunakan Sacred Magic, jadi ini hanya sebatas mengganti perban. Tapi entah kenapa, kalau Clarice yang membalutnya, lukaku terasa lebih cepat sembuh.

Padahal kenyataannya nanti aku akan merapalkan Heal sendiri saat sudah sendirian di asrama.

"Belakangan ini, lukamu sepertinya makin parah ya?"

Clarice bertanya dengan nada khawatir.

"Yah, dia memang sudah tidak menahan diri lagi."

Mengenai hal ini, aku sedikit paham alasannya.

Mungkin Cyrus sudah tidak punya kemewahan lagi untuk menahan diri.

Kalau dulu aku hanya bisa bertahan sekuat tenaga, sekarang aku sudah mulai bisa melakukan serangan balik meski hanya sedikit.

Selain itu, jumlah keringat Cyrus setelah simulasi tanding juga makin banyak. Meski dia tidak menunjukkannya di wajah, mungkin sebenarnya dia lebih lelah dariku.

Hasil latihan pagi mulai terlihat jelas. Aku sendiri bisa merasakan kalau aku makin kuat.

"Ngomong-ngomong, sesuai dugaan, aku satu-satunya yang tidak punya kelompok besar, melainkan Duo untuk Ujian Labirin. Lawanku, eh, rekanku adalah Cyrus-sensei."

Mendengar itu, semuanya hanya bisa tertawa pahit, tapi...

"Kalau menurutku, malah bagus Mars cuma berdua dengan Cyrus-sensei. Kalau kamu berkelompok dengan murid perempuan lain, aku pasti bakal kepikiran terus."

"……Curang…… Cyrus…… tapi syukurlah……"

"Benar juga! Anggap saja itu cara agar tidak ada 'serangga pengganggu' yang mendekati Mars!"

Sepertinya semuanya setuju-setuju saja.

"Oh iya, Clarice. Bukannya kamu harus cerita soal hal itu pada Mars?"

Misha melemparkan topik pada Clarice.

Hal itu? Aku jadi penasaran.

"Ah, iya... Kemarin kan sempat ada kejadian dengan Dominic. Nah, kakak-kakak kelas yang melihat kejadian itu datang mengajakku masuk ke kelompok mereka..."

Bisa menumbangkan Dominic yang dianggap pendekar pedang terkuat di kelas satu sampai tidak berkutik, tentu saja ajakan akan berdatangan.

Namun, Misha sepertinya tidak berpikir begitu.

"Kakak-kakak kelas itu pasti punya niat terselubung pada Clarice. Soalnya cara mereka menatap Clarice itu mesum sekali."

"Jangan bicara aneh-aneh. Tidak mungkin seperti itu."

Clarice membantah, tapi kurasa apa yang dikatakan Misha benar.

"Clarice. Kalau aku membuat kelompok sekarang, mungkin akan ada orang-orang yang tidak terima murid 'tanpa warna' sepertiku berada di kelompok yang sama dengan kalian yang di Kelas S, seperti Dominic kemarin. Aku akan berusaha agar setidaknya bisa naik ke Kelas A atau B, jadi sampai saat itu tiba, bisakah kau percaya dan bersabar menungguku?"

Kalau aku tiba-tiba masuk Kelas S, itu akan terlalu mencolok. Lebih baik pelan-pelan dan hati-hati.

"Eum. Aku mengerti. Aku akan menunggumu, jadi berjuanglah ya."

Clarice tersenyum sambil menatap wajahku.

Aku tidak boleh mengecewakan harapannya.

Dengan tekad itu, aku kembali pergi ke gimnasium untuk mandi keringat hari ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close