Cerita Pendek Eksklusif
Surat
"Ibu!
Surat! Ada surat datang! Pasti dari Mars dan Clarice! Baca, ayo baca!"
Seolah-olah
pintu itu tidak ada, putriku menerjang masuk ke ruang tamu hingga nyaris
menjebolnya. Di wajah dan kulit putihnya tampak memar kebiruan yang masih baru.
Tapi sepertinya bagi putriku, hal itu sama sekali bukan
masalah. Dia selalu lupa daratan kalau sudah menyangkut mereka berdua.
Putriku benar-benar berubah sejak bertemu mereka.
Dia yang dulunya tidak terlalu berminat pada sihir, kini
sangat aktif mempelajarinya. Dia bahkan sering mengayun-ayunkan
tombak kayu sambil mengejar "dia" yang berkeliaran di dekat sini.
Belakangan ini, hobinya adalah menempelkan tangan ke
punggung sendiri lalu merapal Wind hingga tubuhnya terbang ke arah yang
tidak jelas.
Kata putriku, orang yang dia sukai juga melakukan hal
serupa. Pasti yang dia maksud adalah Mars, tapi aku ragu Mars yang itu akan
melakukan hal sekonyol itu.
Entah bagaimana caranya dia meniru sampai jadi begitu,
tapi karena kemampuan sihir anginnya meningkat pesat, aku memilih diam saja.
Setiap ada waktu luang, dia selalu membicarakan mereka
dan meratap ingin cepat-cepat bertemu. Dan sekarang, balasan dari surat yang
kami kirim beberapa bulan lalu akhirnya tiba di rumah kami, di Kota Kanryo,
wilayah Kadipaten Regan. Rasanya semangatnya tidak mungkin bisa lebih tinggi
lagi dari ini.
"Coba Ibu lihat."
Aku menerima amplop dari Misha. Di dalamnya ada empat
pucuk surat. Satu dari Mars, satu dari Clarice, satu dari ayah Mars—Count
Bryant. Dan terakhir, selembar kertas kosong yang putih bersih.
Kertas putih itu benar-benar tidak berisi tulisan apa
pun, tapi entah kenapa aku merasakan semacam haus darah yang terpancar darinya.
Aku tidak akan menyerahkan Mars.
Entah mengapa, pesan itu seolah tersampaikan dari kertas
kosong tersebut.
Keluarga Bryant rupanya telah naik pangkat menjadi Count.
Aku juga mendengar rumor dari petualang asal Kerajaan Balcus bahwa keluarga
Bryant-lah yang meredam insiden Monster Overflow.
Dalam surat dari Count Bryant, deretan kata-kata terima
kasih tertulis dengan rapi atas bantuan kami menjaga Mars dan Clarice selama di
Kota Ganal.
Selanjutnya,
aku membaca surat Clarice. Di sana tertulis tulisan tangan yang sangat indah,
sulit dipercaya itu ditulis oleh anak sepuluh tahun.
Aku
sempat mengira itu dituliskan orang lain, tapi ada tanda tangan Clarice di
sana. Selain tulisannya yang cantik, isinya juga mengejutkan.
Setelah
menulis bahwa dia ingin segera bertemu Misha, tertulis di sana bahwa Clarice
juga sudah mempelajari sihir angin... Padahal seingatku, Misha bilang Clarice
itu pengguna sihir air... Ditambah lagi, dia juga mahir menggunakan pedang dan
busur.
Kemampuan itu saja sudah luar biasa, apalagi ditambah
penampilannya. Bahkan aku yang seorang Elf pun merasa iri. Tidak heran Mars
jatuh hati dan Count Bryant sangat menyayanginya. Dan menurut
"dia"...
Saat aku memberitahu Misha bahwa Clarice sudah menguasai
sihir angin, dia langsung berteriak:
"Clarice hebat! Aku juga harus cepat-cepat menyusulnya!"
Semangatnya
semakin berkobar. Tapi jujur, kalau dia jadi terlalu bersemangat begini, aku
malah ngeri membayangkan apa yang akan dia perbuat.
Terakhir,
surat dari Mars. Dari tulisannya, terpancar ketulusan dan kesungguhan yang luar
biasa.
"Cepat baca bagian Mars!" desak Misha tidak
sabar.
Aku melewatkan bagian ucapan terima kasih untukku dan
membacakannya untuk Misha.
"Mari
kita lihat... 'Akhir-akhir ini aku sering berlatih teknik bela diri tangan
kosong, tapi setiap hari aku selalu kalah'."
"Eeeh! Mars kalah!? Aku tidak mau! Mars tidak
boleh kalah!"
Misha mengepalkan tinju kecilnya ke udara. Dia
benar-benar terhanyut oleh isi surat Mars. Kemampuannya mengekspresikan emosi
secara terbuka seperti ini juga baru muncul setelah bertemu mereka.
Tapi jauh di dalam hati, aku merasa lega membaca Mars
kalah dalam bela diri.
Ilmu pedangnya sudah diakui oleh Kurus, dan sihir
anginnya suatu saat pasti akan melampauiku. Mengingat
dia bisa merapal Fire Storm, bakat sihir apinya sudah tidak diragukan
lagi.
Selain itu, fakta bahwa dia mencoba merapal Tornado
tepat setelah Fire Storm menunjukkan bahwa dia memiliki MP yang
sangat besar.
Semua ini sudah lebih dari cukup. Jika dia masih ditambah
dengan bakat bela diri tangan kosong, para bangsawan lain pasti tidak akan
tinggal diam. Mereka akan berebut menyodorkan putri-putri mereka untuk menjalin
ikatan.
Selama hampir seratus tahun ini, aku sudah berkali-kali
melihat pemandangan seperti itu.
Bahkan sekarang pun di Federasi Lister, para bangsawan
agung sedang berlomba-lomba menyodorkan putri mereka demi seorang pemuda yang
seumuran dengan Misha.
Demi memikirkan masa depan Misha, terkadang muncul
perasaan dalam hatiku yang berharap agar Mars tidak tumbuh lebih kuat lagi.
Meski aku tahu itu mustahil bagi Mars yang sangat tekun.
Lalu, saat membaca bagian terakhir, kegembiraan Misha
meledak, dan aku pun tanpa sadar ikut berdiri.
"Terakhir. 'Kami memutuskan untuk mengikuti ujian
masuk Sekolah Nasional Lister tahun depan. Kami akan berusaha sekuat tenaga,
jadi Misha juga harus berjuang, ya. Semoga kita bisa masuk di kelas yang
sama'."
Misha melompat-lompat di dalam rumah. Meja dan kursi
bertumbangan satu per satu, dan memar baru kembali muncul di tubuhnya.
"Bagus sekali, Misha! Tapi tenanglah sedikit!"
Aku memeluk Misha yang terus melonjak, ikut merasakan
kebahagiaannya.
"Ibu! Ayo cepat latihan sihir! Mulai hari ini aku
juga akan berjuang dengan sihir air!"
Begitu Misha menyambar tombak kayunya dan hendak lari
keluar, "dia" yang mengintip dari luar langsung kabur terbirit-birit.
Pasti dia lari karena takut akan dikejar-kejar lagi.
"Baiklah! Mulai hari ini Ibu akan melatihmu lebih
keras lagi!"
"Iya!"
Misha melesat keluar, mengejar Dames sambil berlari
menuju padang rumput tempat kami biasa berlatih sihir.
Melihat punggung Misha yang berlari dengan penuh
semangat, aku bersumpah. Aku pasti akan membalas budi pada mereka berdua.
Namun, mereka berdua pasti akan tumbuh melampaui
imajinasiku dan muncul di hadapan kami dalam wujud yang tak terduga. Saat
itu, mungkin tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu mereka.
Aku menyimpan kecemasan itu dalam hati dan menyusul
Misha.
Dan... firasat burukku ternyata tepat sasaran. Wujud Mars
yang tak terduga... adalah sosoknya yang berjalan gontai penuh keputusasaan
dari dalam area Sekolah Nasional Lister menuju gerbang utama, setelah
dinyatakan tidak lulus ujian tahap pertama.



Post a Comment