NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Short Story

Cerita Pendek Eksklusif

Surat


"Ibu! Surat! Ada surat datang! Pasti dari Mars dan Clarice! Baca, ayo baca!"

Seolah-olah pintu itu tidak ada, putriku menerjang masuk ke ruang tamu hingga nyaris menjebolnya. Di wajah dan kulit putihnya tampak memar kebiruan yang masih baru.

Tapi sepertinya bagi putriku, hal itu sama sekali bukan masalah. Dia selalu lupa daratan kalau sudah menyangkut mereka berdua.

Putriku benar-benar berubah sejak bertemu mereka.

Dia yang dulunya tidak terlalu berminat pada sihir, kini sangat aktif mempelajarinya. Dia bahkan sering mengayun-ayunkan tombak kayu sambil mengejar "dia" yang berkeliaran di dekat sini.

Belakangan ini, hobinya adalah menempelkan tangan ke punggung sendiri lalu merapal Wind hingga tubuhnya terbang ke arah yang tidak jelas.

Kata putriku, orang yang dia sukai juga melakukan hal serupa. Pasti yang dia maksud adalah Mars, tapi aku ragu Mars yang itu akan melakukan hal sekonyol itu.

Entah bagaimana caranya dia meniru sampai jadi begitu, tapi karena kemampuan sihir anginnya meningkat pesat, aku memilih diam saja.

Setiap ada waktu luang, dia selalu membicarakan mereka dan meratap ingin cepat-cepat bertemu. Dan sekarang, balasan dari surat yang kami kirim beberapa bulan lalu akhirnya tiba di rumah kami, di Kota Kanryo, wilayah Kadipaten Regan. Rasanya semangatnya tidak mungkin bisa lebih tinggi lagi dari ini.

"Coba Ibu lihat."

Aku menerima amplop dari Misha. Di dalamnya ada empat pucuk surat. Satu dari Mars, satu dari Clarice, satu dari ayah Mars—Count Bryant. Dan terakhir, selembar kertas kosong yang putih bersih.

Kertas putih itu benar-benar tidak berisi tulisan apa pun, tapi entah kenapa aku merasakan semacam haus darah yang terpancar darinya. Aku tidak akan menyerahkan Mars.

Entah mengapa, pesan itu seolah tersampaikan dari kertas kosong tersebut.

Keluarga Bryant rupanya telah naik pangkat menjadi Count. Aku juga mendengar rumor dari petualang asal Kerajaan Balcus bahwa keluarga Bryant-lah yang meredam insiden Monster Overflow.

Dalam surat dari Count Bryant, deretan kata-kata terima kasih tertulis dengan rapi atas bantuan kami menjaga Mars dan Clarice selama di Kota Ganal.

Selanjutnya, aku membaca surat Clarice. Di sana tertulis tulisan tangan yang sangat indah, sulit dipercaya itu ditulis oleh anak sepuluh tahun.

Aku sempat mengira itu dituliskan orang lain, tapi ada tanda tangan Clarice di sana. Selain tulisannya yang cantik, isinya juga mengejutkan.

Setelah menulis bahwa dia ingin segera bertemu Misha, tertulis di sana bahwa Clarice juga sudah mempelajari sihir angin... Padahal seingatku, Misha bilang Clarice itu pengguna sihir air... Ditambah lagi, dia juga mahir menggunakan pedang dan busur.

Kemampuan itu saja sudah luar biasa, apalagi ditambah penampilannya. Bahkan aku yang seorang Elf pun merasa iri. Tidak heran Mars jatuh hati dan Count Bryant sangat menyayanginya. Dan menurut "dia"...

Saat aku memberitahu Misha bahwa Clarice sudah menguasai sihir angin, dia langsung berteriak:

"Clarice hebat! Aku juga harus cepat-cepat menyusulnya!"

Semangatnya semakin berkobar. Tapi jujur, kalau dia jadi terlalu bersemangat begini, aku malah ngeri membayangkan apa yang akan dia perbuat.

Terakhir, surat dari Mars. Dari tulisannya, terpancar ketulusan dan kesungguhan yang luar biasa.

"Cepat baca bagian Mars!" desak Misha tidak sabar.

Aku melewatkan bagian ucapan terima kasih untukku dan membacakannya untuk Misha.

"Mari kita lihat... 'Akhir-akhir ini aku sering berlatih teknik bela diri tangan kosong, tapi setiap hari aku selalu kalah'."

"Eeeh! Mars kalah!? Aku tidak mau! Mars tidak boleh kalah!"

Misha mengepalkan tinju kecilnya ke udara. Dia benar-benar terhanyut oleh isi surat Mars. Kemampuannya mengekspresikan emosi secara terbuka seperti ini juga baru muncul setelah bertemu mereka.

Tapi jauh di dalam hati, aku merasa lega membaca Mars kalah dalam bela diri.

Ilmu pedangnya sudah diakui oleh Kurus, dan sihir anginnya suatu saat pasti akan melampauiku. Mengingat dia bisa merapal Fire Storm, bakat sihir apinya sudah tidak diragukan lagi.

Selain itu, fakta bahwa dia mencoba merapal Tornado tepat setelah Fire Storm menunjukkan bahwa dia memiliki MP yang sangat besar.

Semua ini sudah lebih dari cukup. Jika dia masih ditambah dengan bakat bela diri tangan kosong, para bangsawan lain pasti tidak akan tinggal diam. Mereka akan berebut menyodorkan putri-putri mereka untuk menjalin ikatan.

Selama hampir seratus tahun ini, aku sudah berkali-kali melihat pemandangan seperti itu.

Bahkan sekarang pun di Federasi Lister, para bangsawan agung sedang berlomba-lomba menyodorkan putri mereka demi seorang pemuda yang seumuran dengan Misha.

Demi memikirkan masa depan Misha, terkadang muncul perasaan dalam hatiku yang berharap agar Mars tidak tumbuh lebih kuat lagi. Meski aku tahu itu mustahil bagi Mars yang sangat tekun.

Lalu, saat membaca bagian terakhir, kegembiraan Misha meledak, dan aku pun tanpa sadar ikut berdiri.

"Terakhir. 'Kami memutuskan untuk mengikuti ujian masuk Sekolah Nasional Lister tahun depan. Kami akan berusaha sekuat tenaga, jadi Misha juga harus berjuang, ya. Semoga kita bisa masuk di kelas yang sama'."

Misha melompat-lompat di dalam rumah. Meja dan kursi bertumbangan satu per satu, dan memar baru kembali muncul di tubuhnya.

"Bagus sekali, Misha! Tapi tenanglah sedikit!"

Aku memeluk Misha yang terus melonjak, ikut merasakan kebahagiaannya.

"Ibu! Ayo cepat latihan sihir! Mulai hari ini aku juga akan berjuang dengan sihir air!"

Begitu Misha menyambar tombak kayunya dan hendak lari keluar, "dia" yang mengintip dari luar langsung kabur terbirit-birit. Pasti dia lari karena takut akan dikejar-kejar lagi.

"Baiklah! Mulai hari ini Ibu akan melatihmu lebih keras lagi!"

"Iya!"

Misha melesat keluar, mengejar Dames sambil berlari menuju padang rumput tempat kami biasa berlatih sihir.

Melihat punggung Misha yang berlari dengan penuh semangat, aku bersumpah. Aku pasti akan membalas budi pada mereka berdua.

Namun, mereka berdua pasti akan tumbuh melampaui imajinasiku dan muncul di hadapan kami dalam wujud yang tak terduga. Saat itu, mungkin tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu mereka.

Aku menyimpan kecemasan itu dalam hati dan menyusul Misha.

Dan... firasat burukku ternyata tepat sasaran. Wujud Mars yang tak terduga... adalah sosoknya yang berjalan gontai penuh keputusasaan dari dalam area Sekolah Nasional Lister menuju gerbang utama, setelah dinyatakan tidak lulus ujian tahap pertama.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close