NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Shirt Story II

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Ujian Tahap Pertama Sekolah Nasional Lister


"Satu keping emas per malam!?"

Tanpa sadar aku meninggikan suara mendengar ucapan pemilik penginapan. Ayahku, Siegfried, memang sudah memperingatkan bahwa harga di sini mahal, tapi aku tidak menyangka akan setinggi ini.

"Maaf ya, Nak. Musim ini memang waktu panen bagi kami. Kalau kamu pergi ke bagian utara di pusat kota, harganya bakal jauh lebih gila lagi."

Seorang wanita ramah muncul dari belakang dan meminta maaf dengan tulus.

Aku bisa saja mencari penginapan lain, tapi akan jadi bencana jika tidak menemukannya. Bagaimanapun, jumlah orang yang lalu lalang di kota ini berkali-kali lipat dari Almeria... mungkin puluhan kali lipat. Aku bisa membayangkan penginapan ini akan langsung penuh saat aku kembali nanti.

"Baiklah. Saya ambil untuk satu malam."

Begitu aku menyerahkan keping emas pada pemiliknya, wanita ramah tadi mengantarku menuju kamar.

Begitu sampai di kamar lantai tiga, aku langsung menatap pemandangan kota dari jendela.

—Kota Akademis, Regan.

Terletak hampir di tengah-tengah Benua Pusat, kota ini disebut-sebut sebagai salah satu tempat paling makmur, tidak hanya di benua ini tapi di seluruh dunia.

Lebar jalan utamanya konon lebih dari lima puluh meter, namun kerumunan orang di sana membuat jalan itu terasa sempit.

Ada peserta ujian yang celingak-celinguk seperti anak kecil yang tersesat di labirin.

Di sisi lain, ada pemandangan yang menunjukkan seorang putri bangsawan agung yang berjalan angkuh bersama sosok yang tampak seperti ayahnya, dikawal ksatria berbaju zirah berkilauan.

Para penduduk pun berhenti melangkah karena kagum melihat mereka. Belum lagi para petualang berpakaian mewah yang berlalu lalang.

Aku bersumpah akan masuk ke Sekolah Nasional Lister dan menjadi orang yang pantas berjalan di kota ini... Tidak, aku akan membuktikan diri sebagai laki-laki yang tidak memalukan bagi adikku, Mars!

Dengan tekad baru, aku pun belajar dengan giat hingga waktu tidur tiba.

—Hari Ujian.

Setelah sarapan di penginapan, aku segera menuju Sekolah Nasional Lister yang menjadi lokasi ujian. Begitu keluar, para peserta ujian seusia denganku sudah memadati jalan menuju utara, tempat sekolah itu berada. Sepertinya hari ini ada pembatasan aktivitas bagi warga selain pihak sekolah dan peserta ujian; siapa pun yang ingin keluar harus mengajukan izin terlebih dahulu.

Ini langkah yang wajar, mengingat pada tahun-tahun tersibuk, peserta ujian bisa mencapai lebih dari lima puluh ribu orang.

"Tahun ini kita harus lolos ujian tahap pertama!"

"Kira-kira berapa ambang batas nilai tahun ini?"

"Dua tahun lalu dan tahun kemarin nilainya 10, jadi tahun ini mungkin sama."

Selama berjalan menuju sekolah, aku menajamkan telinga mendengar bisik-bisik antar peserta ujian yang saling mengenal.

Ambang batas 10?

Apa itu?

Saat aku mengikuti arus manusia, aku melihat banyak orang yang berjalan berlawanan arah kembali dari sekolah. Mereka semua menunduk, bahkan banyak yang berjalan sambil berurai air mata.

"Oi, mereka sudah dapat hasilnya?"

"Tetap saja mengerikan seperti biasanya."

"Mungkin beberapa puluh menit lagi kita akan jadi seperti mereka."

Apa!? Hasilnya sudah keluar? Terus, 'beberapa puluh menit lagi kita akan jadi seperti mereka'? Apa ujiannya selesai secepat itu?

Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, tapi aku terus terbawa arus hingga gerbang utama Sekolah Nasional Lister terlihat.

Lebar gerbangnya sama dengan lebar jalan, lebih dari lima puluh meter. Di tengahnya terdapat semacam pembatas; peserta ujian masuk dari sisi kanan, sementara mereka yang gagal keluar dari sisi kiri.

Namun, jumlah orang yang keluar dari dalam benar-benar gila. Kecepatan orang yang keluar sama—atau mungkin lebih cepat—daripada mereka yang masuk, seolah-olah orang yang gagal dimuntahkan dari dalam sana. Jika diperhatikan, pria yang tadi berkata ingin lolos ujian tahap pertama kini berjalan gontai dengan mata berkaca-kaca, seakan terdorong keluar menuju kota Regan.

"Berbaris dua berbanjar! Berbaris dua berbanjar!"

Saat mendekati gerbang, pihak sekolah berteriak memerintahkan peserta untuk berbaris. Aku mengikuti instruksi dan masuk ke barisan sebelah kanan.

Begitu melewati gerbang, di sisi kanan ada lima orang dewasa yang menatap tajam ke arah kami sambil menggumamkan sesuatu. Di belakang mereka, ada orang-orang yang sibuk mencatat di atas kertas.

Aku langsung paham apa yang mereka lakukan, atau lebih tepatnya, apa yang sedang dilakukan pada kami. Appraisal! Kelima orang itu sedang meng-Appraisal kami semua! Hasilnya disampaikan kepada pencatat di belakang mereka, lalu dituliskan ke atas kertas!

"Ambil kertasnya satu-satu! Kalian harus mendapatkannya dari kelima orang itu!"

Jadi kelima orang itu akan meng-Appraisal kami, lalu kami akan diberikan kertas berisi hasilnya.

Saat melewati orang pertama, aku merasakan tatapan yang seolah menyelimuti permukaan tubuhku. Rasanya mirip seperti saat Lucia meng-Appraisal-ku. Tapi, jika Mars yang melakukannya, rasanya bukan hanya di permukaan, melainkan seolah seluruh bagian dalam diriku ikut ditembus.

Begitu menerima kertas dari pencatat di belakang orang pertama, aku melihat nama serta deretan angka dan alfabet.

Ike, 10, 7, 5, 4, 9, S, S

Aku terus berjalan tanpa berhenti hingga mendapatkan kelima kertas tersebut. Semuanya berisi angka dan alfabet yang sama persis. Saat aku berjalan sambil memperhatikan kertas-kertas itu, tiba-tiba pundakku ditepuk. Seorang pria yang tampak seperti pengajar berdiri di sana.

"Selamat, kamu lolos ujian tahap pertama. Jalan lurus dan tunjukkan kertas-kertas itu pada pria yang berdiri di sana."

Peserta ujian lain berbelok membentuk lengkungan menuju sisi kiri gerbang. Tidak ada orang lain di dekatku yang berjalan lurus.

Mars, Clarice, dan Ellie juga merasa cemas soal ujian tahap pertama ini, tapi jika begini, aku yakin mereka bertiga pasti akan lolos dengan mudah.

...Saat itu, aku sama sekali tidak menyangka bahwa Mars justru akan gagal dalam ujian yang bahkan aku pun bisa lolos.




Previous Chapter | ToC | Close V2

Post a Comment

Post a Comment

close