Chapter 16
Pertempuran Peringkat
Hari
ini pun setelah menyelesaikan latihan pagi, aku sedang menikmati makan
sendirian dengan tenang di asrama putra, sampai tiba-tiba dua nampan diletakkan
di sisi kiri dan kanan mejaku.
"Mars!
Sudah lama ya! Tapi seragam itu sepertinya tidak cocok untukmu, deh?"
"Oh!
Selamat pagi, Gon! Salam pembuka yang luar biasa sekali ya di pagi hari
begini!"
Yang
berdiri di depanku adalah Gon dan Karl. Sepertinya mereka berdua baru kembali ke sekolah kemarin sore.
Kata Gon,
mereka hanya perlu kembali paling lambat hari ini. Selain Gon dan Karl, cukup
banyak murid lain yang sudah mulai memenuhi kantin.
"Aduh, aku sampai bingung karena
diandalkan semua orang... Tian pasti benar-benar jatuh cinta padaku, kan?"
Gon mulai membual tentang pencapaiannya
di labirin.
"Memangnya bagian mana dari dirimu
yang bisa bikin jatuh cinta? Suaramu yang keras itu? Atau sifat
cengengmu?"
Karl
menyahut dengan nada mengejek. Interaksi akrab yang sudah lama tidak kurasakan ini membuatku ikut merasa
senang.
"Ngomong-ngomong,
aku dengar setelah pulang kemarin, Mars ada Pertempuran Peringkat hari ini
ya?"
"Iya,
benar."
"Berjuanglah!
Aku bakal bangga sekali kalau mantan teman sekamarku jadi peringkat satu Kelas
S di Sekolah Nasional Lister!"
Gon
menepuk punggungku untuk menyemangati.
"Yah,
begitulah. Aku punya target kecil. Aku akan berusaha setidaknya sampai ke titik
itu."
Tepat
saat aku menjawab dengan mantap, seorang pria muncul.
"Mars.
Boleh aku duduk di sini?"
Yang
berdiri di hadapanku adalah Baron. Melihat kehadirannya, Gon dan Karl tampak menciut.
"Iya,
silakan."
Baron sudah
duduk di kursi bahkan sebelum aku menjawab. Dari mulut Baron, meluncurlah
ambisinya untuk Pertempuran Peringkat hari ini.
"Mars.
Jangan tersinggung, ya. Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Rasanya
tidak enak kalau harus membuatmu malu di depan Clarice dan yang lainnya, tapi
tolong jangan masukkan ke hati."
Wajahnya
memancarkan rasa percaya diri yang mutlak.
"Aku
juga tidak boleh kalah, setidaknya darimu, Baron. Boleh aku tanya satu hal? Aku
paham kenapa kamu menginginkan Elie sebagai tunangan. Tapi kenapa Clarice?
Clarice itu dari keluarga Baron di Kerajaan Zalkum, lho. Kamu tidak perlu
sampai sebegitunya demi kepentingan keluarga, kan?"
Baron tertawa
mendengar pertanyaanku.
"Alasannya
sudah jelas. Itu karena aku menyukai Clarice."
Sial,
aku benar-benar tidak boleh kalah dari orang ini. Aku bersumpah dalam hati dan
meninggalkan kantin lebih dulu daripada Baron.
"Tegang
sekali ya atmosfernya tadi!"
"Rasanya
benar-benar seperti masa muda, rebutan perempuan begitu!"
Dalam
perjalanan ke sekolah, Gon dan Karl mengobrol dengan antusias. Ngomong-ngomong,
pelajaran resmi Kelas E baru dimulai besok, tapi mereka berdua datang ke
sekolah atas inisiatif sendiri. Bukan hanya mereka, tapi murid-murid lain juga melakukan hal yang sama.
"Tapi
tidak menyangka ya bisa melihat Pahlawan dari Utara secara langsung."
"Iya,
setelah Glen, Baron juga jadi sosok idola."
Heh. Ternyata
Baron punya karisma juga, ya.
"Hei.
Apa Baron bisa menggunakan keempat elemen sihir?"
Aku bertanya
karena teringat kata-kata Karen tempo hari.
"Kamu
tidak tahu? Dia bisa menggunakan keempat elemen, dan untuk Earth Magic,
katanya dia setara dengan Golem Master dari kelompok [Guren]! Kemampuan pedangnya juga kelas satu!
Wajahnya pun tak tercela! Dia lawan yang sepadan untukmu, Mars!"
Setara dengan
Golem Master... maksudnya Kakak Senior Berkacamata itu, ya. Harusnya
waktu itu aku melakukan Appraisal padanya.
Sambil
memikirkan hal itu, aku tiba-tiba sampai di kelas. Di sana, selain para murid,
sudah ada Lorenz sang wali kelas S, serta Sasha dan Kylus sebagai asisten wali
kelas.
"Baik!
Semuanya sudah kumpul! Ayo menuju arena!"
Belum sempat
aku duduk, Lorenz sudah mulai bergerak mengajak kami pindah.
◆◇◆
Arena
pertandingan terletak beberapa puluh menit jalan kaki dari gedung kelas satu.
Kapasitasnya sekitar lima ribu orang. Ada kursi VIP, ruang tunggu pemain,
hingga ruang medis. Fasilitasnya sangat profesional, membuat semangatku bangga
berkobar secara alami.
"Pertempuran
Peringkat akan dimulai dari peringkat bawah menantang peringkat atas! Jika peringkat bawah menang, posisi
akan bertukar, dan dia berhak menantang peringkat di atasnya lagi! Kalian akan
paham sambil menjalaninya, jadi sekian penjelasannya! Yang mau bertanya, angkat
tangan!"
Hanya
aku yang mengangkat tangan.
"Baik.
Mars. Silakan."
"Iya.
Apa syarat kemenangannya? Lalu, senjatanya boleh menggunakan peralatan latihan,
kan?"
Yah, kurasa
tidak mungkin kami bertarung sampai mati, tapi aku hanya ingin memastikan.
"Kalian
boleh menggunakan perlengkapan pribadi. Pemenang ditentukan oleh kami para
guru, tapi dilarang memberikan luka parah. Hari ini kami mendatangkan penyihir
suci pribadi milik Adipati Regan, tapi jangan sampai lengah."
Ternyata
level Adipati memang punya satu atau dua penyihir suci pribadi, ya. Kalau ada
pengguna Holy Magic, kurasa cedera apa pun akan baik-baik saja.
"Baik!
Karena tidak ada pertanyaan lagi, kita mulai! Pertama, peringkat tujuh Mars, dan peringkat enam
Clarice! Maju ke depan!"
Dipanggil
oleh Lorenz, kami berdua maju, tapi Clarice langsung angkat bicara.
"Sensei.
Bolehkah saya menyerah kalah? Jika tidak diizinkan, saya akan bertarung secara formalitas
saja..."
"...Yah,
mau bagaimana lagi. Baiklah! Kalau begitu Mars, selanjutnya peringkat lima,
Misha!"
Namun, Misha
juga menyatakan menyerah kalah. Tanpa melakukan apa-apa, aku sudah naik dari
peringkat tujuh ke peringkat lima.
"Bagaimana
dengan Dominic?"
Lorenz
bertanya pada Dominic yang berada di peringkat empat.
"Saya
akan bertarung! Saya akan menang melawan Mars di sini, dan membuat Clarice
berpaling padaku!"
Dominic menatap lurus ke arah Clarice.
"Oow!
Beri pelajaran pada si penakluk wanita itu!"
Sepertinya Kylus berpihak pada Dominic.
Namun, aku tidak
boleh kalah di sini. Aku harus menang dengan cara yang membuat mereka sadar
bahwa mereka sama sekali bukan tandinganku.
Begitu kami
saling berhadapan dengan pedang terhunus, tanda dimulainya simulasi pertama
hari ini pun bergema.
"Mulai!"
Bersamaan dengan aba-aba Lorenz,
Dominic merangsek maju.
"Uooooooh!!!"
Gaya pedangnya sangat indah, kontras
dengan suaranya yang kasar. Hanya dengan melihat tekniknya, aku tahu betapa
tulusnya dia berlatih pedang. Namun tetap saja, dia tidak bisa menjangkauku
yang telah mengaktifkan Sylphide.
Aku sempat berpikir untuk terus
menghindar sampai dia kelelahan. Tapi itu rasanya tidak sopan.
Karena itu, aku mengerahkan tenaga pada
gagang pedangku, lalu memukul balik pedang Dominic dengan kekuatan penuh.
Hasilnya, pedang Dominic terpental hingga ke bangku penonton, dan Dominic
langsung berlutut di tempat.
"Pemenangnya! Mars!"
Suara Lorenz memecah keheningan.
"Sial! Masih belum cukup juga,
ya!"
Api di matanya belum padam. Saat aku
kembali sambil diberi selamat oleh Clarice dan yang lainnya, namaku dipanggil
lagi.
"Selanjutnya Mars lagi! Lawannya
adalah Elie! Maju!"
Di sini pun, aku menang tanpa
bertanding. Yah, aku sudah menduga hal ini bakal terjadi. Dan akhirnya, aku
berhadapan dengan Baron untuk memperebutkan peringkat dua.
"Bisa mengalahkan Dominic berarti
kemampuan pedangmu cukup hebat. Mari kita bertarung secara jantan."
Baron seperti
biasa, penuh percaya diri.
"Iya.
Aku mengerti."
Setelah
mengambil jarak, aba-aba mulai dari Lorenz terdengar.
"Mulai!"
Bersamaan
dengan aba-aba mulai, aku melakukan Appraisal pada Baron.
[Nama] Baron Reinhardt
[Gelar] -
[Status] Manusia · Putra mahkota
keluarga Count Reinhardt
[Kondisi] Baik
[Umur] 12 tahun
[Level] 26
[HP] 163 / 163
[MP] 201 / 241
[Strength] 60
[Agility] 63
[Magic Power] 61
[Dexterity] 58
[Endurance] 60
[Luck] 5
[Special Skill] Swordsmanship C (Lv 7 /
15)
[Special Skill] Fire Magic D (Lv 4 /
13)
[Special Skill] Water Magic D (Lv 3 /
13)
[Special Skill] Earth Magic C (Lv 7 /
15)
[Special Skill] Wind Magic E (Lv 2 /
11)
[Equipment] Mithril Silver Sword
[Equipment] Gnome Robe
Inikah
Pahlawan dari Utara? Statistiknya benar-benar seorang all-rounder. Mungkin karena dia menguasai keempat
elemen sihir, nilai Dexterity-nya cukup tinggi untuk ukuran laki-laki.
Tapi aku pun termasuk tipe all-rounder.
Tepat saat
aku bertekad tidak boleh kalah, sihir Baron meluncur ke arahku.
"Wind!"
"Earth Bullet!"
"Ice Arrow!"
"Fire Arrow!"
Baron melepaskan semua elemen seolah
ingin pamer. Kalau begitu, aku juga akan pamer!
Aku
menebas semua sihir yang mendekat dengan Salamander Sword.
"Me-menebas
sihir? Apalagi itu sihirku... berarti Magic Power-nya melebihi aku...
atau level Swordsmanship-nya sudah tingkat King? Di usia segini?
Tidak mungkin..."
Setelah
aku menebas habis semua sihirnya, Baron tertunduk lemas. Ternyata Baron orang
yang percaya diri tapi tidak bodoh.
"...Aku
di peringkat tiga?"
Menyadari
dia tidak punya sarana serangan yang efektif terhadapku, Baron segera mengakui
kekalahannya. Lorenz sepertinya juga tidak menyangka aku akan menang, sampai
dia sempat lupa meneriakkan pengumuman pemenang.
Saat
aku hendak kembali ke rombongan, Karen menghentikanku.
"Mars.
Bertarunglah denganku untuk memperebutkan peringkat satu."
Karen
tampak sangat bersemangat. Tapi, aku justru tidak ingin menjadi peringkat satu.
Aku tidak ingin menonjol.
"Tidak,
peringkat satu lebih cocok untuk Karen. Aku begini saja sudah cukup..."
Saat aku
mencoba menolak, semuanya justru memprotes.
"Tidak
boleh! Aku tidak
senang kalau menang tanpa bertanding begitu!"
"Pikirkan
juga Baron dan Dominic yang sudah kamu kalahkan!"
"Mars.
Menyerahlah."
Benar
juga, kalau memikirkan Baron dan Dominic, mungkin lebih baik aku bertarung.
Tapi kalau berlebihan juga bakal gawat...
Di
tengah kegalauanku, Clarice bersuara.
"Aku
suka Mars yang sekarang, tapi sepertinya aku bakal makin suka dengan Mars yang
jadi peringkat satu."
Kalau
dibilang begitu, mana bisa aku menolak!
"Baiklah.
Tapi aku tidak mau mengarahkan pedang ke Karen. Jadi, kalau aku bisa menahan
serangan Karen, anggap saja aku yang menang, bagaimana?"
"Tentu.
Kalau perlu, satu sihir saja sudah cukup. Karena menurutku, pertandingan
sesungguhnya adalah setelah melawan Mars."
Setelah
melawanku? Apa dia akan bertarung dengan Baron? Pertanyaan itu segera lenyap
bersamaan dengan suara dimulainya pertandingan.
"Aku
datang ya."
Karen
merapalkan sihir yang pernah dia tunjukkan di ujian labirin. Namun, ada satu
hal yang berbeda dari saat di labirin. Kali ini, dia mencoba memunculkan sihir
dari ujung Salamander Rod. Aku bisa melihat mana mengalir dari tubuh
Karen menuju tongkat itu.
"Kalau
kamu merasa tidak bisa mengatasinya, segera kabur ya! Flare!"
Api yang
dilepaskan dari Salamander Rod itu menyilaukan bagaikan matahari. Flare itu mendekat perlahan sambil mengeluarkan suara
menderu bersama udara yang membara. Dia membuatnya bergerak lambat agar aku
bisa kabur dengan mudah jika terjadi sesuatu.
Tapi,
melarikan diri bukan pilihan bagiku saat ini.
Aku
mengaktifkan Sylphide dan Vision, lalu menggunakan Salamander
Sword untuk memukul Flare itu dari bawah sambil merapalkan sihir
andalanku!
(Wind
Impulse!)
Flare yang terpental oleh tebasan Salamander
Sword itu membumbung tinggi ke angkasa dan lenyap di kehampaan.
"Oi,
oi... yang benar saja? Itu tadi jauh lebih kuat dari Flare saat di
labirin, lho?"
Kylus yang
pertama bersuara, diikuti oleh Lorenz, Baron, Dominic, dan bahkan Sasha yang
semuanya ternganga tak percaya.
"Hahaha.
Aku kalah telak. Dengan ini, sepertinya tidak akan ada lagi yang berani
menantangmu."
Jangan-jangan
Karen sengaja mengincar hasil ini!?
"Pemenangnya!
Mars! Peringkat satu Kelas S tahun pertama jatuh kepada Mars!"
Seketika itu
juga, Clarice, Elie, dan Misha berlari gembira menghampiriku.
"Tadi
aku sempat cemas, tapi aku memang paling suka ekspresi serius Mars!"
"…… Syukurlah…… Mars…… peringkat
satu……"
"Hei!?
Bagaimana cara melakukannya tadi!? Kapan-kapan ajari aku ya!"
Saat kami
berempat sedang bersukacita, Lorenz memulai pertempuran peringkat selanjutnya.
"Clarice.
Apa kamu berniat menantang Misha di peringkat enam?"
Mendengar
itu, ekspresi Clarice langsung berubah serius.
"Iya!
Karena Mars peringkat satu, aku akan mengincar peringkat dua!"
Mendengar
itu, Misha segera menyerah kalah. Dominic pun ikut bicara.
"Aku
ingin menunjukkan pertumbuhanku, tapi sepertinya aku masih belum selevel
dengannya. Aku juga menyerah."
Elie
juga tidak mau bertarung melawan Clarice, sehingga Clarice naik sampai
peringkat empat tanpa bertarung sekali pun.
"Mana
mungkin aku kalah dari wanita secantik ini..."
Baron kembali
bertarung dengan penuh percaya diri melawan Clarice, namun dia tidak berdaya di
hadapan Magic Arrow dan kalah dalam hitungan detik.
"…… Aku peringkat empat?"
Dan akhirnya, dimulailah pertarungan
perebutan peringkat dua antara Clarice dan Karen.
"Clarice? Ada sesuatu yang
kuinginkan. Jika aku
menang... ah, lupakan saja."
Karen sempat
ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya.
"Aku
tidak tahu apa yang ingin kamu katakan, tapi ada sesuatu yang tidak akan
kuserahkan pada siapa pun!"
Sambil
berkata begitu, keduanya mengambil jarak dan menunggu aba-aba mulai.
"Uwah...
atmosfernya panas sekali... bakal jadi seperti apa ya?"
Misha tampak
gelisah, sementara Elie menatap tajam ke arah Clarice.
"Mulai!"
Pertandingan
didominasi oleh Clarice. Dia terus menembakkan Magic Arrow untuk
menghalau Fire milik Karen. Karen sepertinya ingin merapalkan Flare,
tapi Clarice tidak memberinya celah sedikit pun.
Aneh... entah
kenapa kecepatan tembak Magic Arrow milik Clarice terasa lebih lambat
dari biasanya. Padahal aku yakin Clarice bisa menang telak...
Saat aku
sedang membatin, kecepatan serangan Clarice semakin menurun. Sepertinya Karen
juga menyadari hal itu, dan tiba-tiba dia merapalkan sihir yang sama seperti
tadi.
"Sepertinya
ini yang kamu inginkan! Aku akan membuatnya lebih lambat dari yang tadi, jadi
segera kabur! Flare!"
Aku baru
paham rencana Clarice. Ternyata Clarice juga ingin menunjukkan siapa yang lebih
unggul di sini. Hasilnya sudah jelas bahkan tanpa menggunakan Vision.
"Barrier!"
Sihir itu
bahkan bisa memantulkan sihir petirku dengan mudah. Tentu saja, Flare milik Karen pun bukan
pengecualian.
"A-apa
yang baru saja terjadi...?"
Karen tampak
bingung sambil menengadah menatap Flare yang baru saja terpental oleh Barrier.
"Karen, terakhir, coba ikat aku
dengan Charm Eye."
Mata Karen menangkap sosok Clarice yang
sedang mendekat, namun Clarice tidak menghentikan langkahnya sedikit pun.
"Tidak mungkin!? Eh!?
Kenapa...?"
Saint Robe
yang dikenakan Clarice memiliki efek pembatalan status abnormal, jadi serangan
itu tidak akan mempan padanya.
Namun, meski tanpa perlengkapan itu pun
hasilnya tetap sama, karena mana Clarice jauh lebih unggul.
"Ka-kalian
berdua... sebenarnya siapa kalian ini...?"
Di tengah
Karen yang masih terpaku keheranan, Lorenz melanjutkan Pertempuran Peringkat.
Pada akhirnya, Misha finis di urutan ketujuh tanpa bertarung sekali pun.
Misha merasa
dia bisa saja menang melawan Dominic yang sedang kehilangan rasa percaya diri,
namun dia memilih untuk bertarung saat keduanya dalam kondisi prima, dan
Dominic menyetujuinya. Dominic sendiri merasa hari ini bukan harinya, sehingga
dia berakhir di urutan keenam.
Kini giliran
Elie yang berada di urutan kelima. Saat Lorenz bertanya
apakah dia akan bertarung, Elie menjawab spontan.
"Iya."
"…… Mars…… peringkat satu……
Clarice…… peringkat dua…… Aku peringkat tiga……!"
Elie mengepalkan tangannya dengan penuh
semangat. Pemandangan Elie yang seperti ini terasa segar karena dia jarang
menunjukkannya.
"Biarpun
kamu Si Singa Emas—"
Hanya
itu yang sempat diucapkan Baron. Dalam sekejap, Elie sudah memperpendek jarak
dan menempelkan Sylph Dagger ke lehernya. Pertandingan
berakhir.
"…… Tidak mungkin, aku……"
Baron
hendak mengatakan sesuatu lagi, namun dia mengurungkan niatnya. Mungkin dia
merasa itu hanya akan terdengar seperti ucapan pecundang yang mencari alasan.
Dia memang sombong, tapi tidak bodoh.
"Berikutnya,
Elie melawan Karen. Keduanya, maju."
Ini adalah pertandingan terakhir.
"Elie? Sejujurnya aku merasa tidak
ada celah bagimu untuk menang melawanku...?"
Secara
logika, memang seperti kata Karen, kemenangan seharusnya ada di tangannya.
Namun, Elie memiliki senjata yang bisa dibilang sebagai pembunuh penyihir.
"…… Aku…… akan menang……"
Elie
terus mengulang kata "menang" seolah sedang menyemangati dirinya
sendiri.
"Mulai!"
Pertandingan
itu berakhir dalam sekejap.
"Fi—"
Tepat
saat Karen hendak merapalkan sihir, bibir Elie bergerak lebih cepat.
"Silent."
Seketika itu
juga, suara Karen terampas. Karen yang tiba-tiba kehilangan suaranya menjadi
panik. Dia berkali-kali mencoba merapalkan sihir, namun suaranya tetap tidak
keluar. Saat suaranya kembali, Elie sudah berada di dekatnya. Selesai sudah.
"Aku
kalah... bukan hanya Baron, tapi ternyata aku malah jadi peringkat
empat..."
Karen
tertawa miris sambil mengejek dirinya sendiri. Melihat itu, Misha menepuk
pundak Karen untuk menyemangatinya.
"Mau
bagaimana lagi! Habisnya mereka berdua kan selalu bersama Mars! Tapi mulai
sekarang kita juga bisa latihan bareng Mars, jadi masih ada kesempatan! Semangat!"
"Tak
disangka aku malah disemangati Misha. Tapi benar kata Misha. Aku harus terus
maju."
Demikianlah,
Pertempuran Peringkat berakhir. Aku tidak menyangka akan terpancing hingga
menjadi peringkat satu, tapi melihat Clarice yang begitu bahagia, aku merasa
puas.
◆◇◆
Malam itu,
setelah mengadakan pesta akrab di kota Regan bersama delapan orang termasuk
Sasha dan seluruh Kelas S, aku, Clarice, dan Elie berjalan menyusuri area
sekolah di malam hari.
Karen, Baron,
dan Dominic pulang lebih dulu untuk memulihkan hati mereka yang terluka.
Sementara Misha, lagi-lagi jatuh pingsan karena mabuk padahal tidak minum
setetes pun, sehingga dia dibawa pulang oleh Sasha.
"Mars,
maaf ya sudah menyuruhmu jadi peringkat satu. Tapi, aku benar-benar ingin melihat Mars di posisi
itu."
Clarice
tiba-tiba berlari kecil ke depan, lalu berbalik dan menghentikan langkahnya.
"Tidak
apa-apa. Aku justru senang bisa melihat Clarice dan Elie sebahagia itu setelah
sekian lama."
Aku
perlahan mendekati Clarice yang tersenyum dengan latar belakang lampu batu
ajaib.
"Iya.
Aku juga senang. Eh? Anu... bukannya ini agak silau? Coba tutup matamu."
Cahaya
lampu batu ajaib memang kuat, tapi mataku tidak selemah itu. Namun karena Elie juga menyuruhku
menutup mata, aku pun menurut.
"Jangan
dibuka sampai aku bilang boleh, ya!"
Di
tengah keheningan, terdengar suara langkah kaki yang mendekat perlahan seiring
dengan deru napas. Saat udara terasa sedikit bergetar, aroma harum yang segar
merangsang indra penciumanku.
Tanpa membuka
mata pun, kulitku bisa merasakan kehadiran Clarice di sana, membuat jantungku
berdegup kencang.
Lalu, langkah
kaki Clarice berhenti tepat di depanku. Sesaat setelah embusan napas manis
Clarice menerpa hidungku, sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.
Selama tiga
puluh dua tahun hidupku termasuk di kehidupan sebelumnya, ini adalah sensasi
pertama bagiku. Tanpa sadar aku membuka mata.
Di sana, ada
Clarice yang wajahnya memerah padam, sedang memejamkan mata dengan malu-malu
sambil mengecupku.
Wajahnya
saat berciuman benar-benar seperti malaikat... tidak, seperti dewi. Baru saja
aku berharap waktu berhenti selamanya, Clarice tiba-tiba membuka mata.
"Padahal
aku bilang jangan dibuka!"
Clarice mendorong tubuhku dan menjauh
dengan panik.
"…… Clarice…… manis sekali……
Berikutnya…… giliranku……"
Elie yang sejak tadi menonton ciumanku
dengan Clarice kini berdiri di depanku, lalu mencium bibirku seolah ingin
menyesapnya.
"…… Hehehe…… kedua…… berhasil
ditimpa……"
Melihat Elie yang tersipu adalah
pemandangan yang segar.
"Tunggu! Curang! Kalau begitu,
yang ini adalah ucapan terima kasih untuk liontinnya!"
Begitu
bibir Clarice bersentuhan lagi denganku...
"…… Perayaan…… peringkat
satu……"
Elie hendak menciumku lagi, tapi
Clarice menarik tangan Elie untuk menghentikannya.
"Ma-Mars. Sampai jumpa besok,
ya!"
Clarice menarik Elie sambil berlari
kembali ke asrama putri. Aku, yang mematung cukup lama di ruang penuh mimpi
itu, akhirnya terserang flu untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini.
◆◇◆
——1 Maret
Meski flu, aku bisa langsung
menyembuhkannya dengan Cure. Namun, aku menderita penyakit yang tidak
bisa disembuhkan oleh dokter mana pun. Sebenarnya ini sudah lama, sih.
Dengan sensasi kemarin yang masih
tertinggal di bibir, aku melakukan latihan pagi. Berbeda dari biasanya, Clarice
tampak sedikit menjauh. Tapi itu juga terjadi padaku. Karena merasa malu, kami jadi sulit untuk saling menyapa.
"Hei?
Apa kalian sedang bertengkar?"
Tanya Misha,
yang hari ini pun tetap ceria meski baru saja terpental akibat sihir yang lepas
kendali.
"Jangan-jangan
kalian sudah ciuman?"
Karen, yang
mulai hari ini ikut latihan pagi bersama kami, menggoda kami.
"Bu-bukan
seperti itu, tahu!"
Clarice
membantah, tapi secara alami jarinya menyentuh bibirnya sendiri.
"Eh?
Jadi benar!?"
Tak tahan
dengan desakan semua orang, Clarice melarikan diri, membuatku jadi sasaran
tembak. Karena aku tidak pandai berbohong, akhirnya rahasia ciuman pertama kami
terbongkar oleh Karen dan Misha.
◆◇◆
"Nah,
mulai hari ini akan ada rekan baru yang bergabung di Kelas S. Masuklah."
Pada jam wali
kelas pagi, Lorenz membawa tiga orang murid. Waktunya agak kurang pas karena
Pertempuran Peringkat baru saja usai.
"Perkenalkan
diri kalian. Mulai dari Johann."
Atas perintah
Lorenz, pria berambut abu-abu gelap yang kutemui saat ujian labirin maju ke
depan.
"Saya
Johann. Ada banyak hal yang belum saya mengerti, mohon bimbingannya."
Setelah
perkenalan singkat itu, giliran pria kecil berkepala plontos. Wajahnya tampak
pucat saat di labirin dulu, dan sekarang pun kondisinya sepertinya tidak
terlalu baik.
"Joseph.
Uhuk, uhuk. Mohon bantuannya."
Johann
mengusap punggung Joseph yang terbatuk-batuk dengan cemas.
"Joseph.
Setelah ini pergilah ke ruang medis. Selanjutnya, Minerva."
Gadis dengan
rambut dikuncir dua maju ke depan.
"Saya
Minerva. Mohon bantuannya, ya!"
Dari
suaranya, dia memberikan kesan gadis yang sangat energik, tapi yang menarik
perhatianku adalah rantai yang melilit pinggangnya. Digunakan untuk apa, ya?
"Terakhir.
Mars, apa warna favoritmu? Kita akan mengubah warna seragammu."
Warna
seragam? Oh, benar juga, peringkat satu Kelas S berhak menentukan warna
seragamnya, kan?
"Tidak
ada warna khusus. Begini saja juga tidak apa-apa..."
Kalau boleh
memilih sih, mungkin... perak? Rambut perak berkilau milik Clarice adalah
sesuatu yang ingin kulihat selamanya. Tapi warna merah muda juga... Saat aku
sedang berpikir, Elie tiba-tiba angkat bicara.
"Tidak
boleh! Emas! Warna emas!"
Emas? Oh,
warna rambutku. Kemudian, Clarice, Misha, dan Karen ikut menyetujuinya.
"Benar. Citra warna Mars adalah
emas!"
"Iya! Aku juga setuju!"
"Itu warna yang sangat cocok untuk
Kelas S."
Sepertinya
yang lain juga setuju.
"Kalau
memang semuanya setuju, emas juga tidak apa-apa..."
"Baiklah!
Akan segera dibuatkan! Sekarang, seperti biasa, kita mulai dengan pelajaran
bela diri! Joseph, pergi ke ruang medis!"
Begitu Lorenz
memberi perintah...
"Lorenz-sensei.
Izinkan saya menemani Joseph ke ruang medis."
Johann
merangkul Joseph yang masih terbatuk.
"…… Baiklah!"
Kami
meninggalkan Johann dan Joseph untuk menuju pelajaran bela diri.
"Oow!
Mars! Hari ini dimulai darimu!"
Begitu
sampai di gedung olahraga, Kylus sudah menunggu dan langsung mengarahkan ujung
pedang kayunya padaku.
"Baik!
Mohon bantuannya!"
Saat
aku memasang posisi dengan dua pedang di tangan, Kylus mengerutkan dahi.
"Hah?
Apa kamu meremehkanku? Berani-beraninya memakai pedang yang bahkan bukan pedang
ganda?"
Pedang
ganda? Ternyata ada yang seperti itu juga.
"Ini
adalah jawaban yang kutemukan sendiri! Izinkan aku bertarung dengan cara ini!"
"Beraninya
mengandalkan trik murahan!"
Setelah
membentak begitu, Kylus melangkah maju dengan tajam. Dia berlari dengan
momentum itu, mengayunkan pedang kayunya dengan kecepatan yang seolah membelah
udara.
Cepat!
Tapi, aku bisa meresponsnya! Selama ini aku bisa melihat serangannya, tapi reaksiku lambat sehingga
selalu berada di posisi bertahan. Namun sekarang, aku bisa membalasnya!
Pertandingan
berakhir dalam sekejap. Aku menangkis serangan sekuat tenaga Kylus dengan
pedang di tangan kananku.
Dulu aku
selalu kalah tenaga, tapi sekarang perbedaan Strength antara aku dan
Kylus sangat tipis. Meski keseimbanganku sedikit goyah, pedang kayu di tangan
kiriku sudah berhenti tepat di urat leher Kylus.
"…… Se-serius nih……"
Setetes
keringat mengalir di wajah Kylus. Sesaat kemudian, Clarice dan yang lainnya
yang tadinya berpose seperti sedang berdoa, langsung meledakkan kegembiraan
mereka.
"Aku percaya Mars pasti
menang!"
"…… Mars…… peringkat satu…… paling
cocok……!"
"Terima kasih! Kali ini aku menang
karena serangan kejutan, tapi aku ingin berlatih lebih banyak lagi! Aku akan butuh bantuan kalian berdua
juga, jadi mohon kerja samanya!"
Saat aku
sedang diberi selamat oleh Clarice, Elie, Karen, Misha, bahkan Baron, Dominic,
dan Minerva...
"Oi! Aku
tidak akan kalah lagi lain kali, jadi ambil pedangmu!"
Dari ekspresi
Kylus saat mengatakan itu, aku bisa merasakan ada rasa senang yang terselip di
balik rasa kesalnya.
◆◇◆
—Sepulang
sekolah
"Hei,
Mars. Karena aku sudah menjahit celana yang kamu berikan, kamu sudah bisa
latihan Martial Arts dengan Elie, lho."
Dalam
perjalanan menuju lapangan latihan, Clarice yang berjalan di sampingku menatap
ke arah Elie yang berjalan di sisi lain.
"Oh!
Kalau begitu, mulai hari ini mohon bantuannya, ya!"
Dengan
ini, aku bisa berlatih mengeluarkan teknik tendangan sambil memegang dua
pedang! Selain itu, aku juga sudah diajari cara menggunakan Skill oleh Kylus.
Katanya,
waktu cool down Skill bergantung pada nilai perlengkapan yang digunakan.
Salamander Sword milikku memiliki waktu cool down lima menit,
sama dengan Undine Sword milik Kylus. Jenis Skill yang bisa digunakan
juga akan berubah tergantung senjata dan level yang sesuai. Detail mengenai hal itu akan diajarkan
oleh Kylus di lain hari.
"Lalu,
kalau kamu sudah dapat seragam baru, boleh aku minta lagi seragam yang sekarang
kamu pakai? Aku
bisa buat banyak barang."
"Tentu,
akan kuberikan begitu aku dapat yang baru. Ngomong-ngomong,
ke mana jubahku yang lama?"
Aku sudah tahu penggunaan celananya,
tapi bagaimana dengan jubahnya? Aku bertanya sekadar iseng, berpikir mungkin
sudah dijadikan kain pel.
"Eh?
A-anu? Jadi apa ya tadi..."
Pandangan Clarice tampak tidak fokus. Yah, kalau memang jadi kain pel, pasti
sulit mengatakannya. Melihat ekspresinya saja aku sudah puas... namun,
tiba-tiba Elie menjawab tanpa rasa bersalah.
"…… Nn……? Jadi guling…… Clarice……
aku…… menjepitnya……"
"Tunggu!?
Elie!? Apa yang kamu katakan!? Mana mungkin aku melakukan hal itu..."
Clarice buru-buru membela diri, tapi...
"…… Kalau begitu…… mulai hari
ini…… untukku sendiri…… hehehe……"
"Tidak boleh! Karena baunya
seperti Mars, kita harus memakainya berdua dengan baik—ah!?"
Terjebak oleh pancingan Elie, Clarice
akhirnya membongkar rahasianya sendiri, lalu berlari menuju lapangan latihan
untuk melarikan diri.
"Ini
seragam barunya! Segera ganti sekarang!"
Seragam baru
itu sampai ke tanganku pada sore hari berikutnya, saat pelajaran sihir. Aku
terkejut karena pengerjaannya sangat cepat, tapi Kelas S adalah ikon sekolah,
jadi katanya pengerjaannya diprioritaskan.
"Benar
kan, warna ini memang paling cocok untuk Mars."
Saat
aku mengenakan seragam dengan sulaman emas itu, Clarice memujiku sambil
merapikan kerah bajuku.
"Terima
kasih. Clarice juga cocok, kok. Rasanya... gimana ya... jadi terlihat lebih
agung..."
Benang
emas yang berkilau tergantung pantulan cahaya membuat wajah Clarice terlihat
semakin menawan.
"Te-terima
kasih... aku senang kamu bilang warna emas ini cocok untukku..."
Pipi Clarice merona merah.
"Kalian berdua? Ini masih di tengah pelajaran,
lho?"
Karen, yang
juga sudah mengenakan seragam barunya, menegur kami dengan wajah jemu.
"Benar!
Kalian ini cepat sekali masuk ke dunia berdua saja!"
Misha
menimpali Karen. Kemudian, Elie menambahkan.
"…… Sudah biasa…… lama-lama juga
terbiasa……"
"Ti-tidak seperti itu, kok! Ayo kembali belajar!"
Karena
merasa tidak tahan terus-menerus digoda, Clarice akhirnya melarikan diri ke
sudut gedung olahraga sendirian untuk tenggelam dalam latihan sihir angin.
"Hei!
Daripada itu, lihat ini, Mars! Aku sudah jadi jauh lebih hebat, lho!"
Sambil
berkata begitu, Misha merapalkan Wind ke arah dirinya sendiri dan
terpental.
Bukan
hanya saat pelajaran sihir, dia juga melatih Sylphide saat latihan pagi,
tapi entah kenapa yang meningkat justru sihir lepas kendalinya.
Sekarang, dia
bahkan sudah bisa mengatur arah jatuhnya saat terpental.
"He~.
Sihir yang menarik, ya. Kapan-kapan aku boleh mencobanya juga?"
Johann, murid
yang baru saja naik peringkat, menunjukkan ketertarikan pada sihir lepas
kendali milik Misha. Dia berdiri di sampingku sambil menyunggingkan senyum.
"Yang
menarik itu bukan sihir Misha, Johann, tapi sihir milikmu. Bisakah kamu
melepaskan Kamaitachi ke arah manekin itu?"
Sasha meminta
Johann menunjukkan sihirnya.
"Tentu
saja. Bisa dibilang, aku bisa naik ke Kelas S berkat sihir ini."
Johann
mengangkat kedua tangannya ke depan, memusatkan mana pada telapak tangannya.
"Kamaitachi!"
Bersamaan
dengan rapalan itu, bilah-bilah angin menyerang dari segala arah dan mencacah
manekin tersebut.
"Ap...!?
Sihir ini!? Bukankah mustahil untuk dihindari!?"
Karen menutup
mulutnya karena terkejut. Di tengah keterkejutan yang lain, Johann merangkai
kata-kata dengan tenang.
"Sihir
angin itu kekuatannya rendah, kan. Mana milikku juga tidak terlalu besar, jadi
aku mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kekuatannya. Hasilnya, sihir ini
pun tercipta."
Mengucapkannya
memang mudah, tapi untuk mewujudkan sihir seperti ini pasti membutuhkan usaha
yang luar biasa.
"Sihir
yang hebat. Bisakah kamu mengajariku kapan-kapan?"
"Boleh
saja, tapi Mars-kun adalah seorang pendekar pedang dan pengguna sihir api, kan?
Apa jangan-jangan kamu juga bisa menggunakan sihir angin?"
Gawat... aku
malah menggali lubang kubur sendiri... Tepat saat itu, Clarice yang sedang
berlatih di sudut menyahut.
"Maksud
Mars tadi, dia ingin kamu mengajariku, kan?"
Dia
memberikan bantuan dengan sangat cerdik.
"I-iya.
Benar sekali. Karena Clarice rencananya akan bergabung dalam party-ku,
jadi tolong ajari dia ya."
Aku
buru-buru menimpali kata-katanya.
"Mengajari Clarice-san!? Boleh
kah!? Orang sepertiku mengajari Anda?"
Johann tampak sangat senang sampai
lubang hidungnya kembang kempis.
"Tentu saja. Tapi sebagai tambahan
ilmu, bolehkah Mars ikut bergabung? Siapa tahu Mars juga jadi bisa menggunakan sihir angin nanti."
"Tentu
saja! Kalau begitu mari segera kita mulai!"
"Ya,
mohon bantuannya, Johann."
"Mohon
bantuannya ya, Johann."
Setelah aku
berjabat tangan dengan Johann, Clarice pun melakukan hal yang sama. Latihan
sihir angin antara aku, Clarice, dan Johann berlanjut bahkan hingga sepulang
sekolah.
Kami berdua
saat itu masih belum menyadarinya.
Bahwa orang
yang selama ini kami cari, sebenarnya berada tepat di depan mata kami—
Previous Chapter | ToC | End V5



Post a Comment