Chapter
15
S-Class
"Selamat pagi."
Begitu aku melangkah masuk ke ruang
kelas, para siswi serentak menoleh ke arahku.
"Selamat pagi!"
Clarice memberi isyarat padaku yang
sempat bingung harus duduk di mana. Aku pun duduk di sampingnya, sementara Elie segera mengambil posisi di
sebelah kiriku.
"…… Mars…… syukurlah…… sekarang
aku…… bisa tidur…… saat pelajaran……"
Elie
dengan lantang mendeklarasikan niatnya untuk tidur di kelas.
"Tanpa Mars pun, Elirin kan memang
selalu tidur," sahut Misha.
"…… Aku tidak tidur…… hanya
memejamkan mata……"
Apa cuma aku
yang merasa keduanya sama saja? Mungkin dia kelelahan karena latihan pagi.
"Elie? Kalau memang berat, kamu
boleh bolos latihan pagi, kok."
"…… Tidak mau…… aku ingin…… terus
bersama…… Mars……"
Karen, yang sejak tadi memperhatikan
interaksi kami dari kejauhan, akhirnya ikut bergabung dalam percakapan.
"Memangnya
latihan pagi apa yang kalian lakukan? Bukan sekadar latihan sihir di gedung olahraga?"
"Ah.
Kami lari setiap pagi. Setelah itu, aku lanjut latihan beban. Kami menetapkan
hari istirahat setiap tiga hari sekali, dan di hari itulah kami baru latihan
sihir di gedung olahraga."
Meski
masih terasa agak canggung berbicara santai kepada Karen, aku berniat
membiasakan diri secara bertahap.
"Ooh!
Pantas saja aku tidak pernah melihatmu meskipun aku datang setiap hari
ke—"
Karen
tampak seperti baru menyadari sesuatu, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan
tangan. Rasanya aku tidak mengatakan hal yang aneh, deh.
Seolah
ingin mengalihkan suasana, Karen berdeham pelan dan melanjutkan pembicaraan.
"Bo-bolehkah
aku ikut bergabung? Pelajaran bela diriku juga bertujuan untuk meningkatkan
stamina dasar dengan berlari, jadi aku tertarik ingin melihatnya."
Seingatku
Misha pernah bilang kalau di Kelas S, guru dan materi pelajaran bela diri
setiap murid bisa berbeda-beda.
"Tentu
saja boleh. Tapi, boleh aku juga minta tolong satu hal?"
"Minta
tolong? Se-selama itu bukan hal yang aneh, boleh saja?"
Yah, kalau
dia sampai bilang begitu, aku jadi terdengar mencurigakan.
"Jangan
waspada begitu, tidak apa-apa, kok. Aku hanya ingin kamu mengajariku Fire
Magic. Kurangnya, aku merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang
yang begitu dicintai oleh api selain kamu, Karen."
Mendengar
kata-kata 'dicintai oleh api', manik mata merah delima milik Karen tampak
berbinar.
"Tentu
saja. Bersiaplah, aku tidak akan membiarkanmu kabur."
Saat kami
sedang asyik mengobrol, dua murid lainnya masuk ke ruangan.
"Ada apa
ini? Tiba-tiba kalian sudah jadi akrab begini…… aku juga mau ikutan,
dong."
Baron,
tunangan Karen, mendekat dengan riang sambil berkata demikian. Di belakangnya,
Dominic mengekor.
"Baron,
Dominic. Dia adalah Mars yang baru pindah ke Kelas S. Dia tunangan Clarice dan
Elie. Dan yang mengejutkan, dia adalah adik dari Glen yang tersohor itu."
"——!?
Apa itu benar!?"
"Iya.
Aku sudah memastikannya sendiri pada Glen kemarin."
"Luar
biasa!? Berarti kamu sempat mengobrol dengan Glen!?"
Baron
tampak sangat bersemangat sampai terlihat jelas betapa dia mengidolakan Kak
Ike.
"Benar.
Kami bahkan minum bersama. Tapi
lupakan dulu soal itu, sekarang giliran kalian berdua perkenalkan diri."
Karen memberi
perintah kepada mereka. Keseimbangan kekuasaan di antara mereka sudah terbentuk
sempurna.
Hal itu juga
berlaku di antara keduanya. Saat Baron memberi isyarat agar Dominic
memperkenalkan diri lebih dulu, Dominic pun menurut meski tampak ragu.
"…… Dominic Augustus. Keahlianku
adalah Swordsmanship, dan suatu saat nanti aku berniat untuk
menguasainya hingga puncak."
Mungkin karena kalah dari Clarice, dia
tidak lagi menyebut dirinya sebagai Sword Saint.
Aku baru saja hendak berdiri untuk
memperkenalkan diri, namun Dominic menghentikanku.
"Aku
tahu. Kamu Mars, kan? Maaf soal kejadian waktu itu. Tapi
aku belum menyerah. Aku tidak merasa kalah darimu."
Sambil berkata begitu, mata Dominic
tetap menatap tajam ke arah Clarice.
"Apa
kalian sudah saling kenal? Aku Baron Reinhardt. Seperti yang mungkin sudah
kalian tahu, aku putra mahkota keluarga Count Reinhardt dan tunangan Karen. Aku
dijuluki Pahlawan dari Utara. Mohon bantuannya, ya."
Oh, ternyata
dia orang yang cukup asyik juga.
"Aku
Mars. Mars Bryant. Mohon bantuannya juga."
Aku
menjabat erat tangan yang disodorkan Baron, tepat saat waktu pelajaran dimulai.
◆◇◆
Di saat
kelas-kelas lain sedang menjalani ujian labirin, kami mengikuti pelajaran di
sekolah.
Setelah
mendapat penjelasan bahwa materi teori baru akan dimulai setelah seluruh murid
Kelas S berkumpul, pagi ini kami menjalani pelajaran bela diri.
Pada
dasarnya, jadwal Kelas S adalah bela diri di pagi hari dan sihir di sore hari,
kebalikan dari jadwal Kelas E.
"Oow!
Baron! Dominic! Hari ini aku akan memberi kalian banyak 'kasih sayang'
lagi……"
Suara Kylus
menggema di kelas.
Aku terkejut
sendiri mendapati diriku merasa lega mendengar suara ini setelah sekian lama,
dan sepertinya Kylus juga merasakan hal yang sama.
"Bukankah
ini Mars! Begitu ya! Akhirnya
kamu masuk Kelas S juga! Selamat!"
Kylus memberi
selamat atas kenaikan tingkatku.
"Terima
kasih. Saya mohon bantuannya juga di sini!"
"Oow!
Untuk sementara sampai akhir bulan ini aku masih bermain-main dengan mereka,
tapi mulai bulan depan bersiaplah karena aku akan melatihmu dengan keras!
Kalian berdua, ayo jalan!"
Punggung
Baron dan Dominic yang diseret oleh Kylus memancarkan aura kesedihan yang
mendalam.
"Sensei?
Boleh aku bicara sebentar?"
Begitu
punggung Baron dan Dominic menghilang, Karen mengangkat tangan, dan guru itu
mengangguk.
Guru ini
bukanlah wali kelas tetap, melainkan wali kelas sementara. Wali kelas yang asli
adalah pria bernama Lorenz, pengujiku saat ujian praktik dulu.
Katanya, dia
terluka saat kembali sendirian ke lantai tiga untuk memberi tahu bahaya yang
mengancam Clarice dan yang lainnya di ujian labirin, dan sekarang sedang
mengambil cuti untuk pemulihan.
"Kami
menemukan masalah dalam kerja sama tim saat ujian labirin kemarin, jadi kami
ingin melakukan pengecekan koordinasi antara Mars, Clarice, Elie, dan
Misha."
"Begitu
ya. Kalian pasti merasakan sesuatu setelah pulang dari labirin. Baikah, aku
akan beritahu guru-guru lain, silakan lakukan."
Mungkin
karena sangat dipercaya, izin langsung diberikan tanpa banyak tanya. Kami
berlima pun menuju gedung olahraga.
"Kalian
ingin mengecek koordinasi, kan? Abaikan saja aku dan mulailah. Mars, aku
serahkan padamu."
Setelah
berkata demikian, Karen mulai melakukan pemanasan sendirian. Sepertinya Karen
memang merasakan kurangnya koordinasi di barisan depan.
"Kalau
begitu, pertama-tama biar Elie dan Misha berlatih bersama untuk memastikan
kemampuan masing-masing, baru kemudian kita diskusikan."
Meski level
Misha sudah naik, perbedaan kekuatannya dengan Elie masih sangat mencolok.
Aku berniat
mematangkan apakah Misha yang akan mem-back up Elie agar dia bisa bertarung
habis-habisan, atau Elie yang harus menyesuaikan diri dengan kemampuan Misha.
Atau mungkin, membuat keduanya bisa dilakukan secara fleksibel.
"Lalu,
Clarice. Kamu latihan Swordsmanship denganku seperti biasa, ya."
"Iya.
Mohon bantuannya, ya, Sensei."
Suatu saat
jantungku pasti akan meledak. Aku merasakannya karena jantungku mulai berdegup
kencang dengan kecepatan penuh.
Saat aku dan
Clarice sedang mengadu pedang, Karen yang sedang lari keliling gedung olahraga
menghentikan langkahnya.
"Cla-Clarice?
Bukankah kamu pengguna busur di barisan belakang!?"
Selama
ujian labirin kemarin Clarice hanya menggunakan busur, dan jadwal bela diri
Kelas S pun terpisah-pisah.
Selain
itu, Karen tidak melihat langsung pertarungannya dengan Dominic. Meski
mendengar rumor pun, dengan sifat Karen yang tidak akan percaya sebelum
melihatnya sendiri, wajar saja kalau dia terkejut.
"Memang
benar, tapi kalau aku tidak bisa melakukan setidaknya sebanyak ini, aku akan
tertinggal jauh dari sisi Mars."
Clarice
menjawab pertanyaan Karen sambil tetap fokus mengayunkan pedangnya.
"Tidak mungkin…… aku memang
berpikir kamu membawa pedang, tapi ternyata……"
Karen terdiam
di tempatnya untuk beberapa saat, menatap lekat-lekat sesi latihan kami berdua.
"Fuuh.
Capek sekali. Boleh istirahat sebentar?"
Misha
menyelonjorkan kakinya dan duduk di lantai.
"Ya.
Kalau begitu Elie, sekarang giliranku latihan Martial Arts denganmu, ya?
Ada sesuatu yang ingin kucoba, dan aku ingin menyisipkan teknik tendangan di
sana."
Namun, aku
lupa satu hal. Ini sekolah, bukan Almeria.
Di Almeria,
Elie memakai celana panjang hitam, tapi di sini dia memakai rok.
Begitu kaki
kanan Elie melesat melewati ujung hidungku, sebuah 'surga berwarna kuning'
terbentang luas di depan mataku.
"Ma-maaf!
Batalkan saja!"
Kalau begini
terus, aku tidak bisa fokus latihan.
"Siapa
pun, tolong beritahu aku kalau ada yang tahu. Apa di sekolah ini tidak ada
celana panjang untuk perempuan?"
Clarice yang
menyadari niatku melongokkan wajahnya padaku.
"Jangan-jangan, Mars…… barusan……
melihatnya?"
"I-itu murni kecelakaan……"
Akhir-akhir ini, keberuntunganku
benar-benar di luar nalar.
"Ya ampun…… kamu tidak berubah,
ya. Aku juga sudah menanyakan itu pada guru, tapi katanya memang tidak
ada."
Uwah…… kalau begini aku tidak bisa
latihan tanding dengan Elie lagi. Dan apa maksudnya 'tidak berubah'…… yah, aku
tidak bisa membantahnya sih.
Lalu,
Elie berujar sambil memiringkan kepalanya.
"…… Nn……? Tidak masalah…… Mars……
boleh melihat…… semuanya……"
"Tidak,
meskipun Elie tidak keberatan, aku yang jadi tidak bisa latihan."
Aku
harus segera mencari solusi, karena kalau sampai latihan teknik gulat atau
semacamnya, situasinya bakal jadi gawat.
Tiba-tiba,
suara seorang pria memanggilku.
"Oi!
Mars! Sedang latihan ya!?"
Kak
Ike tiba-tiba muncul dan menginterupsi pelajaran kami.
"Kak
Ike? Ada apa?"
"Ah.
Kami anggota [Guren] diberi kebebasan selama kami menyelesaikan misi dengan baik. Jadi kami bebas mengintip pelajaran
kelas lain atau mengambil misi di kota Regan. Sebagai gantinya, kami wajib
berpartisipasi dalam acara sekolah atau misi penunjukan khusus."
Yah, Kak Ike
dan timnya tahun ini sudah memasuki usia dewasa. Bagi petualang seusia mereka,
hal seperti itu sudah lumrah.
"Kak
Ike? Boleh aku bertanya? Apa gunanya tetap berada di sekolah? Meskipun tidak
lulus, bukankah kalian bisa tetap bertahan sebagai petualang jika keluar dari
sekolah?"
"Benar
juga. Seperti kata Mars, kami mungkin bisa bertahan sebagai petualang, tapi
untuk menjadi petualang Rank A, kami perlu membangun reputasi. Memang bisa lewat kekuatan, tapi orang
kuat itu ada banyak sekali. Jika tetap di sekolah ini, kami akan mendapat misi
penunjukan dari bangsawan agung. Bagi bangsawan agung, daripada memberi misi
yang sama kepada orang asing, lebih baik memberikannya lewat sekolah untuk
menjalin koneksi dengan Adipati Regan."
Jadi meskipun
sekolah mengambil potongan komisi, untuk jangka panjang itu jauh lebih
menguntungkan, ya.
"Mars,
mau mencoba tanding simulasi denganku sebentar? Tahun lalu aku berhasil menang
tipis melawan Kylus-sensei, jadi aku pikir mungkin aku bisa tanding yang
seimbang denganmu."
Kylus sendiri
pernah mengatakannya, jadi ternyata benar kalau Kak Ike menang melawannya.
"Tentu
saja. Aku juga menantikannya."
Kami saling
berhadapan, masing-masing memegang senjata latihan. Antara pedang dan tombak,
posisi pedangku kemungkinan besar tidak menguntungkan. Secara Strength,
Kak Ike juga lebih unggul. Aku hanya unggul di poin Agility.
Namun, Kylus
yang dikalahkan Kak Ike memiliki poin Agility yang lebih tinggi dariku.
Tidak ada peluang menang jika aku bertarung begini saja, tapi untuk awal, aku
memutuskan untuk memantau situasi tanpa menggunakan Vision maupun Sylphide.
Begitu
aku melangkah maju, aku langsung berlari mengitarinya. Mulai dari dasar,
strategi mengacaukan konsentrasi dengan kecepatan. Di sisi lain, Kak Ike tetap
diam dengan posisi tombak yang kokoh.
Begitu
aku masuk ke jarak serangnya, sebuah tusukan tajam menyerempet bahuku. Cepat!
Benar-benar level Spearmanship 13.
Namun,
saat tombak ditarik kembali adalah titik lemahnya! Tepat saat aku hendak
merangsek masuk, mata Kak Ike berkilat tajam.
Bahaya!
Kalau aku maju sekarang, aku kalah!
Terintimidasi
oleh auranya, aku langsung melakukan backstep, dan Kak Ike pun
menurunkan senjatanya.
"Hebat
juga kamu, Mars. Bisa-bisanya kamu tidak merangsek masuk tadi."
"Aku
hanya merasa seperti sedang dipancing, jadi aku kabur."
Apa Kylus
kalah karena hal ini? Seolah-olah pikiran itu tertulis di wajahku, Kak Ike
berkata sambil tersenyum.
"Kylus-sensei
tahu itu jebakan tapi tetap merangsek masuk. Dia pikir dia tidak mungkin kalah
oleh teknik picik macam itu. Hasilnya aku bisa menang entah bagaimana caranya,
tapi kalau dia tetap diam tadi, mungkin hasilnya akan seri."
Memang sangat
mirip Kylus-sensei.
"Bo-bolehkah
Anda melatih saya juga? Sebagai sesama pengguna tombak, ada banyak hal yang
ingin saya tanyakan."
Jarang-jarang
Misha bertanya dengan nada seformal itu.
"Tentu.
Aku masih punya sedikit waktu. Dan panggil aku Ike saja. Rasanya malu dipanggil
Glen di depan Mars, Clarice, dan Elie."
Ike
menyanggupinya dengan senang hati. Setelah mengajari Misha teknik tombak selama
kurang lebih satu jam, Kak Ike pun pergi meninggalkan suasana yang menyegarkan.
"Haaah…… suasana tadi benar-benar
seperti mimpi. Ike-san
ada di depanku, dan di sampingku ada Mars yang mengawasi dengan lembut……"
Saat makan,
Misha menghela napas panjang seolah-olah makanan tidak bisa masuk ke
tenggorokannya.
Tak lama
kemudian, Baron dan Dominic yang penuh luka bergabung dengan kami.
"Sial!
Padahal sedikit lagi aku bisa melancarkan satu serangan ke wajah menyebalkannya
itu!"
"Benar!
Tapi koordinasi kita tadi lumayan juga, kan? Kalau kita terus begini, tidak
lama lagi kita bisa memberinya pelajaran!"
Kylus
benar-benar ahli dalam memprovokasi murid-muridnya. Dia membiarkan muridnya
merasa hampir bisa menang, sehingga motivasi mereka melonjak. Aku ingat pernah
mendapatkan rasa percaya diri seperti itu di kota Ganal.
"Benar
juga, Clarice. Apa malam ini kamu senggang? Bagaimana kalau kita makan
bersama?"
Baron
mengajak Clarice layaknya sepasang kekasih.
"Eh?
A-aku sudah ada janji dengan Mars…… kan?"
"Eh,
ah, i-iya, benar."
Aku
terkejut karena dia mengajak dengan begitu alami.
"Kalau
begitu, bagaimana dengan Elie? Aku akan mentraktirmu makanan apa pun yang kamu
suka."
Berikutnya
Baron mencoba merayu Elie. Seperti biasa, Elie hanya tersenyum ke arahku dan
mengabaikan kata-kata Baron, tapi aku tidak bisa membiarkan ini.
"Apa
maksudmu, Baron? Clarice dan Elie itu tunanganku, tahu?"
Aku sempat
berpikir apa karena peringkatku masih rendah di Kelas S sehingga dia
meremehkanku.
"Apa
maksudku? Aku hanya bersikap seperti biasa, kan?"
Dia sama
sekali tidak merasa bersalah. Padahal tunangannya sendiri, Karen, ada di
dekatnya.
"Karen,
bagaimana menurutmu?"
Aku mencoba
meminta Karen, satu-satunya orang yang bisa memberi perintah pada Baron, untuk
memarahinya. Namun, kata-kata yang keluar darinya benar-benar di luar dugaan.
"Lho?
Bukankah itu hal yang biasa?"
Eh? Apa
maksudnya? Tunangannya sendiri sedang merayu perempuan lain tepat di depan
matanya, lho? Bukankah itu sangat tidak setia?
Namun,
ternyata ada alasan tersendiri yang hanya ada di dunia ini. Menyadari suasana
yang mulai tegang, Karen menjelaskan dengan tenang.
"Aku
tidak tahu apakah kebijakan keluarga Count Bryant berbeda, tapi biar
kujelaskan. Pewaris dari keluarga bangsawan berpengaruh seperti Baron dididik
untuk menambah jumlah tunangan mereka. Sampai sini kamu paham, kan?"
Tidak, dari
situ saja sudah tidak masuk akal bagiku.
Memang aku
pernah dengar dari Clarice saat menjadikan Elie sebagai selir bahwa bangsawan
agung sering dijodohkan dengan tunangan sebagai selir. Tapi pihak laki-laki
yang secara agresif mencari perempuan lain…… apalagi di depan tunangannya
sendiri, itu benar-benar keterlaluan.
"Selain
itu, dari pihak keluargaku, keluarga Duke Freisbald yang menjodohkanku dengan
Baron, juga telah memberi 'perintah' agar Baron mencari selir yang
mumpuni."
Hah? Bahkan
dari pihak keluarga Karen? Mereka menganggap Karen itu apa?
"Jika
aku menjadi istri sah Baron dan Elie bisa diambil sebagai selir, itu berarti
keluarga Duke Freisbald secara tidak langsung menunjukkan kepada dunia bahwa
posisi mereka lebih tinggi daripada keluarga Duke Seance. Karena itulah,
keluarga Duke Freisbald pasti sudah memerintahkan keluarga Count Reinhardt
untuk mendapatkan Elie bagaimanapun caranya. Hal ini bukan hanya kami yang
tahu, tapi semua orang juga tahu."
Hanya
untuk menentukan siapa yang lebih tinggi…… aku pun tiba-tiba berpikir. Jangan-jangan, Karen dan
Baron sebenarnya tidak saling mencintai?
Kalau
dipikir-pikir, memang masuk akal. Menikah dengan musuh demi kepentingan
keluarga adalah hal yang juga pernah terjadi di sejarah negaraku dulu. Sepertinya isi hatiku sempat bocor
keluar.
"Aku
termasuk orang yang beruntung. Karena orang yang dijodohkan denganku adalah
Baron. Sosok yang membuat semua orang iri……
ya, aku bahagia."
Kalimat terakhirnya terdengar seperti
dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri, dan itu meninggalkan kesan
mendalam bagiku.
Berarti, aku harus menjalani hidup
dengan ketakutan terus-menerus bahwa Clarice dan Elie mungkin akan direbut oleh
seseorang? Namun,
di sini dukungan datang dari orang yang tak terduga.
"Mars,
di luar sana memang ada orang yang menggunakan kekuatan keluarga untuk memaksa
pertunangan, tapi tenang saja soal itu. Aku akan membuat Clarice dan Elie
berpaling padaku dengan kekuatanku sendiri. Lagipula, mereka berdua pasti akan
sadar jika terus melihatku menang melawannmu, bahwa akulah yang lebih
menarik."
Baron
berujar dengan penuh percaya diri.
Haaah.
Benar-benar dunia yang gila. Aku meninggalkan kantin sambil memikirkan langkah
apa yang harus kuambil ke depannya.
◆◇◆
Sore harinya
adalah pelajaran sihir. Di Kelas S, hanya aku dan Karen yang mengikuti
pelajaran Fire Magic. Katanya karena tidak ada guru yang bisa mengajar
Karen, sebelum aku datang dia selalu berlatih sendirian.
Saat kami
sedang berlatih berdua, Karen bertanya dengan nada galau.
"Kamu
masih kepikiran soal tadi?"
"Eh? Ah,
iya. Kamu bilang kamu beruntung mendapatkan Baron, tapi ada kemungkinan juga
kan kamu dinikahkan dengan kakek-kakek? Kalau itu terjadi, apa yang akan kamu
lakukan?"
"Ya
begitulah adanya. Tapi bukan cuma aku saja. Baron juga punya risiko yang sama,
begitu juga dengan yang lainnya."
Begitu ya.
Bukan hanya pihak perempuan, pihak laki-laki pun punya risiko itu. Setidaknya
kalau lewat adopsi mungkin masih mending…… saat aku sedang mengobrol dengan
Karen sambil berlatih sihir api, Sasha datang ke lapangan latihan sihir api
membawa Clarice, Elie, dan Misha.
"Katanya
mulai hari ini kita latihan Wind Magic di sini."
"Mohon bantuannya ya, Mars."
"…… Wind Magic…… aku akan
berjuang……"
"Mars, kalau ada waktu, ajari aku
sihir yang itu, ya."
Ooh. Berarti mulai sekarang, baik pagi
maupun sore, aku bisa terus bersama Clarice dan yang lainnya. Menjadi murid
Kelas S benar-benar memberikan keuntungan terbaik dalam hal ini.
Di saat yang lain mulai berlatih sihir,
Karen berdiri di belakangku.
"Kalau
begitu, Mars. Biarkan aku memberikan ucapan terima kasih atas kejadian kemarin.
Coba rapalkan Fireball."
Sesuai
instruksinya, aku mengangkat kedua tangan dan memunculkan Fireball.
Tiba-tiba, Karen menempelkan tubuhnya tepat di punggungku.
Eh? Belum
sempat aku berpikir, Karen merangkulku dari belakang dan memegang kedua
lenganku.
"Se-sesuai dugaan, ini besar
sekali ya…… tapi percayalah padaku dan tetaplah seperti ini……"
Sesuai
perintahnya, aku membiarkan Karen memandu tubuhku. Mana milik Karen mengalir di dalam tubuhku dan
tersalurkan ke arah Fireball.
Sesaat
kemudian, Fireball itu mulai bergerak perlahan membentuk lengkungan.
Saat aku berpikir lingkarannya semakin mengecil, tiba-tiba Fireball itu
menghilang.
"Lho!?
Mars. Seberapa besar sih kapasitas manamu? Tidak mungkin menggerakkan Fireball
sebesar itu sendirian."
Karen
yang melepaskan pelukannya langsung terduduk lemas. Wajahnya tampak sedikit
berkeringat.
"…… Tapi ini pertama kalinya aku
bisa menggerakkan Fireball orang lain…… padahal sebelumnya aku tidak
pernah bisa menggerakkan milik siapa pun."
Karen
membisikkan sesuatu, tapi aku tidak begitu mendengarnya dengan jelas.
"Hei?
Yang tadi itu apa? Apa Karen yang menggerakkannya?" tanya Clarice sambil
membantu Karen.
"Iya.
Itu salah satu metode latihan sihir api yang diwariskan di keluarga Duke
Freisbald. Memang sulit karena bergantung pada kecocokan, tapi sepertinya
manaku dan mana Mars memiliki afinitas yang tinggi."
Karen
berbicara sambil menatapku.
Memang benar,
saat mana Karen mengalir di dalam diriku, gambaran tentang bagaimana cara Karen
mengendalikan Fireball juga ikut masuk ke pikiranku. Sekarang aku merasa
bisa melakukannya.
"Fireball!"
Aku
memunculkan gumpalan api, dan setelah meluncur ke depan beberapa saat, aku
membuatnya berputar perlahan. Satu putaran, dua
putaran…… oh! Akhirnya aku bisa berputar sampai tiga kali!
"Sebenarnya kalau kita
melakukannya sambil berhadapan dari depan, aku bisa menyalurkannya dengan lebih
baik lagi, tapi karena Clarice dan Elie terlihat menakutkan, sebaiknya jangan
dilakukan."
Karen menyipitkan mata melihat Fireball-ku.
Benar juga, itu bisa gawat. Karen juga berusia dua belas tahun, dan meskipun
tingginya hanya sekitar 150 cm, lekuk tubuhnya sudah mulai terlihat jelas.
Setidaknya hari ini berkat Karen aku
sudah mendapatkan triknya, jadi aku akan menjadikannya sebagai petunjuk untuk
terus berlatih sihir api.
◆◇◆
—Sepulang sekolah
"Hei Mars? Apa yang akan kamu
lakukan dengan seragam yang kamu pakai sebelumnya?"
Setelah menyelesaikan rangkaian latihan
dan bersiap pergi ke kota Regan di malam hari, Clarice menggandeng tangan
kananku.
"Aku
berencana membuangnya besok, sih?"
"Berarti
belum dibuang, kan?"
"Eh?
Iya, masih ada di kamar……"
"Kalau
begitu, bolehkah aku meminta semua seragam itu?"
"Boleh
saja, tapi buat apa?"
Clarice
memberikan senyuman ke arah Elie yang ada di kiriku dan menjelaskan tujuannya.
"Ya, aku
berniat mengecilkan celana Mars dan membuat celana pendek untuk Elie. Bukankah
kain seragam ini sangat bagus? Sayang kalau tidak dimanfaatkan."
Mendengar
itu, Elie langsung melompat memeluk Clarice yang ada di sebelah kananku.
"…… Clarice…… aku sayang sekali
padamu!"
Elie memeluk erat tubuh ramping
Clarice.
"Kalau begitu, ayo hari ini kita
bubar lebih awal dan bawakan seragamnya. Aku akan menunggu bersama Elie."
Hari itu kami hanya makan tanpa ada
yang menyentuh alkohol, lalu kembali ke asrama. Hanya Misha yang karena sugesti
menganggap dirinya minum alkohol, akhirnya tumbang sendiri.
Jam malam Kelas S adalah pukul 20:00.
Sekitar lewat pukul 19:00, aku membawa
seragamku ke dekat asrama putri, di mana Clarice dan Elie sudah menyambutku.
"Terima kasih. Dengan ini Elie
bisa latihan Martial Arts dengan tenang."
"Iya. Aku juga minta tolong,
soalnya lawan latihan bela diri Elie hanya aku saja."
"…… Nn! Aku juga…… hanya ingin
dengan Mars……"
Meski ingin berlatih, hanya sedikit
orang yang bisa menjadi lawan Elie saat dia bertarung serius. Aku pun sama,
tapi dalam kasusku, aku mengakalinya dengan melatih bagian yang tidak kukuasai
atau memberi batasan pada diriku sendiri.
Bagi Elie yang malas melakukan hal-hal
merepotkan seperti itu, celana pendek adalah perlengkapan wajib untuk menaikkan
levelnya.
Saat kami hendak bubar setelah
mengobrol sebentar, terdengar suara pria memanggilku dari arah selatan.
"Oi! Mars! Tunggu sebentar!"
Tidak mungkin aku salah mengenali
pemilik suara ini. Itu
Kak Ike. Kak Ike sedang menuju ke arahku sambil membawa seseorang.
"Syukurlah!
Bisa bertemu saat kalian bertiga sedang bersama!"
Ternyata
orang yang dibawa Kak Ike adalah seorang wanita.
Wanita itu
memakai kacamata berbingkai merah. Kacamata dengan garis tipis dan bentuk yang
tajam itu semakin menonjolkan keindahan matanya.
Di balik
lensa bening itu, terpancar tatapan intelektual yang di saat bersamaan
menyimpan aura nakal seperti iblis kecil.
Tinggi
badannya hampir sama dengan Clarice. Siapa pun pasti akan menganggapnya sebagai
wanita cantik. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku seolah sedang mengamati.
"He~……
jadi kamu yang namanya Mars-kun, ya."
Saat dia
berbisik dengan jarak yang sangat dekat sampai napasnya terasa, Clarice dan
Elie langsung menarikku menjauh.
"Si-siapa
Anda?"
"Lho?
Berarti kamu Clarice. Dan gadis berambut pirang ini Elie, ya."
Ternyata
wanita cantik berkacamata ini sudah tahu tentang kami, mungkin diberitahu oleh
Kak Ike.
Ike kemudian
merangkul bahu wanita tersebut dan memperkenalkannya kepada kami.
"Ini
adalah Edin. Edin Alaitas, putri sulung keluarga Count Mesarius. Dia dijuluki Golem
Master. Dia adalah orang yang tak tergantikan bagi [Guren], dan juga bagiku."
Seingatku aku
memang pernah dengar kalau di [Guren]
ada orang terkenal selain Kak Ike. Lagipula, memperkenalkannya sambil merangkul
bahu begitu, mereka pasti punya hubungan yang sangat dekat. Jangan-jangan dia
calon kakak iparku, jadi aku harus bersikap sopan.
"Aku
Edin. Panggil saja Ede. Karena Ike selalu membanggakan Mars-kun seolah-olah
membanggakan dirinya sendiri, aku jadi penasaran orang seperti apa kamu itu.
Kuharap kita bisa menjalin hubungan yang lebih dalam ke depannya, ya,
Mars-kun."
Edin yang
memancarkan aura dewasa itu membetulkan posisi kacamatanya dan memperkenalkan
diri sekali lagi. Kacamata itu benar-benar cocok untuknya.
"Saya
adiknya, Mars. Terima kasih sudah selalu menjaga kakak saya."
Setelah aku
memperkenalkan diri, Clarice dan Elie juga memberi hormat.
"Aku
hanya ingin segera memperkenalkan kalian bertiga padanya. Nanti kapan-kapan
kami akan mampir lagi. Ede, ayo jalan!"
Kakak senior
berkacamata bernama Edin itu pun pergi sambil ditarik tangannya oleh Kak Ike.
"Wanita yang cantik, ya,"
gumam Clarice sambil menatap kepergian mereka.
"Benar.
Tapi menurutku dia orang yang tidak bisa diremehkan."
"Eh?
Maksudnya?"
"Tadi
saat dia mendekatkan wajahnya, aku sempat berdebar, tapi di saat bersamaan aku
merasa seolah-olah dia sedang mengintip ke dalam diriku. Aku yakin dia mencoba
melakukan Appraisal padaku."
Mungkin
bukan hanya Appraisal. Bagaimanapun juga, aku merasakan tatapan yang
mirip dengan milik Adipati Regan.
"Karena
dia wanita yang khusus diperkenalkan oleh Kak Ike, aku yakin dia bukan orang
jahat. Tapi kalian berdua tetaplah berhati-hati. Karena bisa saja terjadi
sesuatu yang tidak terduga."
Setelah
kami bertiga sepakat untuk tetap waspada, aku pun kembali ke asrama.
◆◇◆
—Sore
hari berikutnya
Saat
kami berlima—aku, Clarice, Elie, Misha, dan Karen—sedang berlatih sihir seperti
biasa, kakak senior berkacamata itu tiba-tiba muncul.
"Halo,
Edin-senpai."
Setelah aku,
Clarice, dan Elie menyapanya, giliran Karen…… namun sebelum itu, Edin-senpai
sudah lebih dulu memiringkan kepalanya.
"Sudah
lama tidak bertemu, Karen-sama."
"Benar
juga. Rasanya kesanmu sudah banyak berubah dari sebelumnya, ya? Apa terjadi
sesuatu?"
Sepertinya
mereka berdua sudah saling kenal sejak lama. Yah, bagi keluarga bangsawan agung
sekelas Duke Freisbald, wajar saja jika mereka sering bertemu dengan seluruh
bangsawan Uni Lister di acara sosial.
"Iya.
Karena saya sudah bertemu dengan orang yang tepat, saya bisa mengubah cara
berpikir saya."
"Begitu
ya. Padahal dulu wajahmu selalu menganggap seluruh pria sebagai musuh dan
memancarkan rasa benci yang luar biasa kepada siapa pun."
He~…… jadi
Edin-senpai dulunya seperti itu, ya. Dari atmosfernya yang sekarang, aku tidak
bisa membayangkan hal itu sama sekali.
"Lalu?
Ada apa hari ini? Kamu
datang ke sini bukan untuk sekadar menyapaku, kan?" tanya Karen sambil
melipat tangan.
"Benar.
Tujuannya memang begitu, tapi saya tidak menyangka Karen-sama ada di sini. Saya
akan datang lagi lain kali saja."
Edin-senpai
mengedipkan sebelah mata padaku sebelum pergi.
"Apa
kamu kenal Edin-senpai, Karen?"
Karena Kak
Ike bilang dia adalah orang penting baginya, sebaiknya aku tahu sedikit tentang
dia.
"Iya.
Dia pengguna Earth Magic yang sangat jenius. Pintar dan berparas cantik.
Selama tiga tahun terakhir, dia menyandang gelar Miss Lister dan bersama Glen
menjadi ikon dari Sekolah Nasional Lister."
Miss Lister?
Ternyata sekolah ini juga mengadakan semacam kontes kecantikan.
"Tapi
dia terkenal sangat membenci laki-laki. Rasanya mustahil untuk mendekatinya,
tapi melihat percakapannya dengan Mars tadi, sepertinya sifat itu sudah
sembuh."
Edin-senpai
sendiri bilang dia sudah bertemu orang yang tepat, jadi mungkin dia berubah
setelah bertemu Kak Ike.
"Yah,
kalau kalian kesulitan, beritahu saja aku. Antara keluarga Duke Freisbald-ku
dan keluarga Count Alaitas milik Edin, setidaknya ada hubungan kerja
sama."
Yah, di
sekolah ini jika sudah menyangkut kekuatan keluarga, kurasa tidak ada yang bisa
menang melawan Karen kecuali Elie.
"Paham.
Aku akan konsultasi jika terjadi sesuatu."
Kami pun
menyelesaikan latihan dan kembali makan di kota Regan hari ini.
Dan tibalah tanggal 30 Februari, hari berlangsungnya Pertempuran Peringkat—



Post a Comment