Chapter 12
Pengakuan
—Hari
Kesebelas Ujian Labirin
"O-oi... Kau... Tidak mungkin kau
berada di dalam dream party seperti itu, kan?"
Setelah
beberapa lama menjelajahi lantai satu, kami berpapasan dengan kelompok Gon.
"I-itu... Sebenarnya mulai kemarin
aku dipindahkan ke Kelas S..."
"――!?"
Bukan hanya kelompok Gon, tapi semua
kelompok yang ada di sekitar sana langsung berkerumun.
"Dari kursi paling belakang Kelas
E langsung ke Kelas S!?"
Gon berteriak kaget, tapi Misha
membalasnya dengan nada gusar.
"Mars
itu aslinya memang punya kemampuan Kelas S! Justru dia berada di Kelas E itu yang aneh!"
"I-iya sih... Aku juga paham itu,
tapi tetap saja, langsung ke Kelas S itu... Yah, masuk akal juga. Rumor tentang
kehebatanmu kali ini sudah menyebar di antara sebagian murid."
Ternyata rumornya sudah menyebar sejauh
itu.
"Katanya kau mengalahkan
segerombolan monster Rank C sendirian di lantai tujuh, atau membawa
pulang harta karun yang luar biasa."
"Apa-apaan
itu? Aku tidak melakukan hal seperti itu, tahu."
Tanpa
kusadari, ceritanya sudah menjadi hiperbola.
"Rumor
memang seperti itu. Aku saja, sebelum masuk sekolah, pernah dirumorkan
mengandung anak Baron. Padahal ciuman saja belum pernah," gumam Karen
dengan pipi merona.
Eh? Bukannya
aku pernah dengar rumor kalau Baron itu orangnya 'gerak cepat'?
"Eh?
Saya dengar hubungan Karen-sama dan Baron sudah sangat dalam..."
"T-tentu
saja tidak! Kau benar-benar percaya rumor itu?"
Karen
membantahnya dengan sekuat tenaga.
"M-maaf... Tapi kalian sudah
bertunangan, kan?"
"Iya, itu memang benar... Tapi
yang jelas, hubungan kalian berdua jauh lebih maju daripada kami."
Karen
menatapku dan Clarice bergantian.
"T-tidak
seperti itu! Kami juga...
anu... sama seperti Karen-sama..."
"Eh!?
Padahal kalian bermesraan sekali di dalam kereta kuda!?"
"Bermesraan itu tidak... Aku hanya
sedang merasa senang saja..." jawab Clarice dengan wajah yang memerah
sampai ke telinga.
"Sudah! Obrolan cinta-cintaannya
nanti saja aku dengarkan baik-baik! Sekarang, ayo kita maju!"
Sasha dengan tegas menghentikan
pembicaraan yang mulai tidak terkendali itu. Kami pun berpisah dengan Gon dan
yang lain menuju bagian yang lebih dalam.
"Ngomong-ngomong, kita baru
menentukan formasi secara garis besar, bagaimana baiknya?" tanyaku pada
Karen sambil memperhatikan Elie dan Misha bertarung di lantai dua.
"Jujur, aku belum tahu kemampuan
kalian yang sebenarnya. Saat kita bergerak bersama sebelumnya, meski mereka
waspada, Elie tidak ikut bertarung dan Clarice hanya bersiap dengan busurnya...
Kalian bertiga selalu menyelam bersama, kan? Bagaimana formasi kalian
biasanya?"
Karena Clarice dilarang menonjol, dia
pasti berniat tidak turun tangan kecuali jika dalam keadaan terdesak.
Kalau Elie, mungkin tergantung mood-nya.
Sekarang dia sedang bertarung dengan hati-hati sambil mengoordinasikan kerja
sama dengan Misha.
"Saat kami bertiga, garda depannya
Elie, tengahnya aku, dan belakangnya Clarice. Meski begitu, kami biasanya
berjalan bergerombol sampai bertemu musuh."
"...Begitu. Kalau
Sasha-sensei?"
"Saat di kelompok [Fuga], kami berdua
berada di barisan belakang. Karena aku takut membiarkan Misha berada di garis
depan."
Memang benar, status Misha lebih
condong ke tipe barisan belakang. Namun, kemampuannya yang sulit dideteksi
musuh itu sangat menarik, dan bakat Spearmanship-nya juga Rank B.
Akhirnya, semua tergantung pada pilihan pribadinya.
"Baiklah... Bagaimana kalau garda
depannya mereka berdua, barisan tengahnya Mars dan Clarice, lalu barisan
belakangnya aku dan Sasha-sensei? Aku sedikit cemas karena kemampuan Clarice
masih belum kuketahui."
Begitu ya. Karen memang belum pernah
melihat Clarice bertarung sungguhan.
"Karen, aku menjamin kemampuan
Clarice di barisan belakang, jadi tenang saja."
Di sisi lain,
Sasha sudah tahu kemampuan Clarice karena sempat bersama kami menuju lantai
lima kemarin. Yah, ini juga hal yang akan terbukti seiring perjalanan kami.
Malam pertama
bagi kelompok ini dihabiskan di lantai dua. Setelah memastikan tidak ada orang
di sekitar, aku menyisakan satu monster dalam keadaan terikat. Saat Sasha sibuk
memberikan instruksi persiapan kemah, aku memberanikan diri menyapanya.
"Sasha-sensei,
Karen-sama, Misha. Ada yang ingin kubicarakan sedikit..."
"Ada
apa?"
Ketiganya
berhenti bersiap dan mendengarkan perkataanku.
"Bagaimana
kalau kita menjalani kehidupan labirin yang sedikit lebih nyaman?"
"Kami
selalu berpikir begitu, lho?"
"Kalau
begitu, bisakah kalian merahasiakan apa yang akan kalian lihat sekarang?"
Meski
dengan ekspresi curiga, mereka bertiga mengangguk.
"Terima
kasih. Kalau begitu..."
Aku
membayangkan sesuatu dalam benakku dan mengalirkan mana ke kedua tanganku.
"Tu-tunggu!?
Apa yang mau kau lakukan!?"
Sasha
bersiap siaga karena tindakan mendadakku. Namun, aku terus melepaskan mana tersebut.
"―!?
I-ini... bak mandi?"
Sambil
mengabaikan mereka yang terkejut, aku terus menciptakan barang-barang yang
dibutuhkan untuk berkemah dengan Earth Magic. Tempat ganti baju, tempat
pengeringan, tempat tidur, toilet... bahkan partisi untuk menyekat semuanya.
"I-ibu,
hebat sekali! Tempat tidur ini! Permukaannya memang dari batu, tapi
empuk!"
Saat Misha
melompat-lompat di atas kasur, paha putihnya tersingkap dan bagian dalamnya
hampir terlihat, membuatku refleks membuang muka.
"Misha!
Kelihatan! Kelihatan! Berhenti!"
Clarice
buru-buru menghentikannya, tapi kegembiraan Misha tidak terbendung.
"Hei!?
Bak mandi ini besar ya! Kita bisa masuk bareng-bareng!"
Memang
benar bisa muat enam orang... yang artinya...
"Hei!
Kau mulai berpikiran mesum ya!"
Pipiku langsung dicubit oleh Clarice.
"...Tapi Mars. Kau pengguna Wind
Magic tapi bisa menggunakan api dan tanah juga... berarti?"
Mendengar
ucapan Sasha, semua mata tertuju padaku. Sebagai pengguna Wind Magic,
fakta bahwa aku bisa menggunakan Earth Magic—elemen yang paling sulit
dipelajari—pasti membuat mereka curiga.
Wajar jika
mereka berpikir aku juga bisa menggunakan elemen air. Daripada terus
bersembunyi dan malah dicurigai lebih jauh, lebih baik aku mengakuinya agar
mereka tidak mengusut sampai ke soal Holy Magic.
"Iya...
Benar sekali. Aku bisa menggunakan keempat elemen sihir."
Sambil
mengisi bak dengan air dan menghangatkannya dengan Fire Magic, Karen
yang terpana bergumam sambil menutup mulutnya.
"Ada dua
orang dalam satu generasi yang bisa memakai keempat elemen!? Padahal katanya
itu hanya muncul seratus tahun sekali..."
Dua orang?
Berarti ada orang lain selain aku yang bisa memakai keempat elemen sihir.
"Karen?
Daripada soal bisa memakai empat elemen, tidakkah kau merasa jumlah MP-nya
jauh lebih luar biasa?"
"Iya...
Ditambah lagi bisa merapalkan beberapa sihir secara bersamaan... Banyak hal
yang sulit dipercaya."
Karen
mengangguk setuju pada pertanyaan Sasha.
"A-anu?
Seingat saya Karen-sama bilang pada Adipati Regan kalau Anda tidak ingat
kejadian kemarin..."
Mendengar
pertanyaanku, Karen langsung menutup mulutnya karena kaget.
"I-itu
karena Mars kelihatannya tidak terlalu ingin membicarakannya... Lagipula,
bagian soal aku kehilangan kesadaran itu memang benar kok."
Rupanya
mereka berdua melihat banyak hal ya. Aku harus memastikan rahasia ini tidak
bocor.
"Tidak
usah memasang muka begitu. Mars ingin ini dirahasiakan, kan? Kalau begitu kami
tidak akan membocorkannya. Misha, kau juga jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti kau dibenci Mars, lho."
"Iya!
Aku pasti tutup mulut, jadi tenang saja!"
Misha
mengedipkan mata dengan imut sambil memberikan jempol.
"A-aku
pun berutang nyawa padamu, jadi aku tidak akan bicara sembarangan. Jangan
remehkan aku ya."
Baiklah,
mari percaya pada mereka.
"Kalau
begitu kami akan mandi duluan, Mars, kami titip penjagaan ya."
Saat
para wanita menghilang di balik partisi, aku mengemban tugas penting; berjaga
seandainya ada monster yang muncul mendadak, serta memastikan jika ada murid
lain yang masuk ke ruangan ini, mereka tidak melewati partisi tersebut.
Jika
monster muncul di dalam partisi, Clarice pasti akan memberitahu yang lain untuk
menanganinya. Selama satu jam mereka mandi, aku menghabiskan waktu sendirian
dengan melatih sihir.
"Kalau
fasilitasnya selengkap ini, menyelami labirin tidak akan terasa berat lagi
ya," ujar Sasha penuh haru sambil melihat sekeliling saat kami semua
sedang makan setelah giliranku mandi.
"Benar
sekali. Tapi setelah tahu kenyamanan ini, rasanya berat sekali kalau tidak bisa
menyelam bersama Mars... Ujian labirin kali ini benar-benar menyadarkanku
betapa pentingnya keberadaan Mars."
"...Mars...
Pergi... Mati..."
Yah, apa pun
alasannya, aku senang jika mereka ingin terus bersamaku.
"Memang
benar. Kalau ada partisi seperti ini, kita juga bisa terhindar dari tatapan
menyebalkan para murid laki-laki."
"Iya!
Aku sudah memutuskan! Aku akan masuk ke kelompok yang sama dengan Mars!"
Karena aku
masuk ke Kelas S, anggota kami menjadi tujuh orang, yang berarti setidaknya
kelompok ini harus dibagi menjadi dua bagian.
"Mars,
apa kau sudah menentukan ingin berkelompok dengan siapa?"
"Mari kita lihat... Clarice dan
Elie sudah pasti, lalu kalau laki-laki mungkin Gon dan Karl," jawabku atas
pertanyaan Sasha, yang disambut dengan ekspresi masam.
"Gon dan
Karl itu anak Kelas E? Kalau begitu lebih baik jangan. Mungkin Mars sudah
merasakannya, tapi hanya dengan murid Kelas S dan Kelas E berteman akrab saja
sudah bisa memicu kecemburuan murid kelas lain."
Memang benar,
saat aku bersama Clarice dan yang lain, tatapan orang sekitar terasa sangat
tajam.
Demi
memikirkan Gon dan Karl, mungkin tidak berkelompok dengan mereka adalah sebuah
pilihan. Atau mungkin menunggu sampai mereka berdua naik ke kelas yang lebih
tinggi.
"Putuskan
soal kelompok setelah ujian labirin berakhir ya. Hari ini sudah malam, mari
kita tidur."
"Baiklah.
Silakan semuanya tidur duluan. Namun saya harap kalian maklum, karena ini bukan
Zona Aman, saya akan sesekali mengecek keadaan kalian. Saya akan berusaha tidak
melihat wajah tidur kalian, tapi saya akan masuk ke dalam ruangan, jadi mohon pengertiannya."
Jika ini Zona
Aman, kami bisa tidur di waktu yang sama, tapi di sini beda. Setelah mendapat
persetujuan semuanya, aku kembali berjaga sambil melatih sihirku.
◆◇◆
—Tiga Hari
Kemudian, Hari Keempat Belas Ujian Labirin
"Aduh――"
Misha yang
sedang menyerang segerombolan Rock Lizard dari belakang gagal menghabisi lawan
dalam satu serangan, dan perutnya terkena serangan balik. Meski dia sudah
waspada, serangan di jarak sedekat itu sulit dihindari seketika.
Setelah
berhasil menghabisi semua Rock Lizard, kami segera berkumpul di sekitar Misha.
"Karen.
Mohon maaf, bisakah perjalanan kita sampai di sini saja untuk hari ini? Aku
ingin mengobati luka Misha."
"Tentu
saja! Jangan meminta maaf!"
Hari itu kami
memutuskan untuk berhenti menyelam dan segera bersiap berkemah demi keamanan.
Luka Misha
ternyata cukup dalam; Sasha yang merawatnya mengatakan dengan nada serius bahwa
meski sudah meminum Potion, butuh waktu tiga hari untuk sembuh total,
dan mungkin lukanya akan berbekas.
Saat semua
orang sudah tertidur lelap dan aku sedang berjaga sendirian seperti biasa, aku
merasakan ada seseorang di belakangku.
"Clarice?"
"...Iya. Boleh bicara
sebentar?"
Aku sudah tahu apa yang ingin Clarice
katakan. Aku mengangguk dalam diam, lalu Clarice duduk di sampingku. Wajahnya
menunjukkan ekspresi tekad yang kuat.
"Aku akan menyembuhkan
Misha."
Sesuai dugaanku... dan sejak Misha
terluka, aku pun terus memikirkan hal yang sama.
"Aku
mengerti. Mumpung semua orang sedang tidur, ini waktu yang tepat. Maaf, tapi
biarkan aku ikut bersamamu."
Aku
pun ingin segera menyembuhkannya saat dia terluka tadi. Namun, hanya Holy
Magic yang benar-benar tidak boleh ketahuan. Itu jauh lebih berbahaya daripada ketahuan bisa memakai
keempat elemen sihir.
Setelah
datang ke sekolah ini, aku baru sadar betapa langkanya sihir itu.
Bahkan dalam
pelajaran pun diajarkan bahwa jika dalam situasi di mana kita hanya bisa
menyelamatkan salah satu antara Petualang Rank A atau seorang pengguna Holy
Magic, kita mutlak harus menyelamatkan pengguna Holy Magic.
Di saat para
wanita lain sedang terlelap pulas, aku dan Clarice menyelinap mendekati Misha
yang sedang merintih kesakitan.
Clarice
menyingkap baju Misha hingga perutnya terlihat, lalu meletakkan tangannya di
atas kain berlumuran darah yang menutupi luka. Seketika, cahaya lembut
menyembuhkan luka Misha.
Sambil
memandangi cahaya yang berkilau itu, aku menyadari ada sosok lain yang juga
sedang menatap cahaya tersebut.
"Clarice!"
Aku
memanggilnya dengan suara yang tertahan. Clarice sepertinya juga menyadari
keberadaan sosok itu, namun dia tetap memprioritaskan pengobatan.
"Tunggu!
Sedikit lagi!"
Setelah
cahaya mistis itu meredup dan Clarice menyelesaikan pengobatannya, aku
memanggil sosok tersebut.
"Sasha-sensei.
Bisa bicara sebentar?"
Aku terkejut
sendiri karena suaraku terdengar sangat rendah dan dingin. Sasha pasti mau
mengerti jika diajak bicara baik-baik. Kalau perlu, aku bisa sedikit mengungkit
soal pengobatan Misha ini. Namun, jika terjadi sesuatu yang terburuk... aku
tidak akan ragu.
Sambil
menyembunyikan 'pedang' dalam hatiku, aku, Clarice, dan Sasha memutuskan untuk
bicara di luar.
Di
tengah kesunyian, kami bertiga duduk mengelilingi meja. Entah kenapa Clarice
memintaku meletakkan kedua tangan di atas meja, lalu tangan Clarice yang duduk
di sebelah kanan menutupi tangan kananku.
"Tidak
usah memasang wajah seram begitu. Aku sudah tahu sejak lama kalau Clarice
adalah seorang pengguna Holy Magic."
Itu
tidak mungkin. Jika itu benar, seharusnya sekarang Clarice sudah dipromosikan
ke kelompok Rank A lainnya. Melihatku yang tetap diam, Sasha
melanjutkan.
"Apa
kau sudah dengar kalau Misha membeli Dames?"
Aku
terkejut dengan perubahan topik yang mendadak dan tidak paham apa maksudnya.
"Iya.
Saat kami bertemu kembali, Dames-san bersamanya," jawab Clarice mewakiliku
karena aku terus diam.
"Setelah
berpisah dengan kalian, aku pergi menjalani misi lain bersama anggota [Fuga]. Saat itu Dames mengikutiku. Hal seperti itu bukan hal
yang langka. Aku adalah seorang Elf. Bukannya mau sombong, tapi sampai sekarang
pria yang naksir dan menguntitku itu jumlahnya bukan cuma satu atau dua
orang."
Yah, dengan
kecantikan seperti itu, hal itu masuk akal.
"Dia
adalah salah satunya. Aku pikir dia akan segera menyerah, tapi saat anggota [Fuga] ada yang terluka, Dames menggumamkan
sesuatu. Dia bilang, 'Seandainya ada Clarice, luka ini pasti bisa langsung
sembuh'."
""Ah――""
Sama
sepertiku, Clarice juga langsung paham arah pembicaraan Sasha.
"Sepertinya
kalian mengerti ya. Benar, Dames bilang dia melihatmu merapalkan Holy Magic
secara langsung di depannya. Awalnya aku pikir itu hanya bualan untuk menarik
perhatianku, tapi ciri fisik Clarice memang menunjukkan tanda-tanda seorang
pengguna Holy Magic... tidak, bahkan lebih dari itu.
Karena
penasaran, aku mengumpulkan informasi di Granzam, dan ternyata benar dugaanku.
Ngomong-ngomong, tidak ada satu pun warga desa yang membocorkannya."
Itu titik
butaku. Tidak kusangka rahasianya bocor dari Dames. Jika perkataan Sasha benar,
setidaknya rahasia ini masih terjaga di Granzam, dan itu adalah sebuah
keberuntungan di tengah kemalangan.
"Tenang saja. Dames adalah
budakku. Aku sudah memerintahkannya untuk tidak bicara pada siapa pun, jadi
tidak akan ada lagi kebocoran dari dia."
"Eh? Jadi alasan Anda menjadikan
Dames-san budak adalah...?"
"Iya. Ini adalah bentuk rasa
terima kasihku pada Clarice yang telah menolong Misha. Tentu saja aku tidak
memberitahu Misha, ataupun melapor pada Adipati Regan. Yah, sekarang aku merasa
senang telah membeli Dames. Ternyata dia cukup pintar dan berguna."
Aku dengar dari Misha kalau dia
dijadikan budak untuk mengusir pria-pria pengganggu, ternyata ada alasan
seperti itu di baliknya.
Mungkin jika kami tidak menolong Misha,
orang-orang yang mendengar cerita dari Dames pasti sudah datang untuk menculik
Clarice. Bagaimanapun, pengguna Holy Magic bisa dijual dengan harga yang
sangat fantastis.
Selain itu, tindakannya membujuk Karen
saat kami mengobati Minerva dan Dominic juga sekarang masuk akal. Semua itu
dilakukannya demi melindungi Clarice.
"Mohon maafkan saya! Karena telah
mencurigai Anda! Padahal
saya..."
"Tidak
apa-apa. Aku justru senang. Karena kau bersedia memakai Holy Magic demi
Misha. Bukankah begitu juga denganmu, Clarice? Mars bahkan berniat melawanku
demi dirimu."
Tatapan Sasha
beralih dariku yang sedang menunduk ke arah Clarice di sampingku.
"Jujur
saya deg-degan tadi. Saya takut Mars bertindak gegabah. Padahal saya sudah yakin kalau Sasha-sensei atau Misha
pasti akan mengerti."
Eh? Jadi
niatku ketahuan? Pantas saja Clarice masih menutupi tangan kananku dengan kedua
tangannya.
"Mars.
Aku bersumpah sekali lagi. Rahasia
ini tidak akan pernah bocor dari mulutku. Meski aku harus menerima siksaan apa
pun... yah, kecuali jika terkena Charm Eye, aku tidak bisa menjamin,
jadi maafkan aku ya."
"Charm Eye? Bukankah Charm
Eye milik Adipati Regan tidak mempan pada Anda?"
"Iya.
Tapi mungkin saja ada pria pengguna Charm Eye, kan? Apalagi yang punya
mana tinggi. Meski biasanya orang jahat seperti itu akan berakhir tragis karena
reputasi buruknya."
Ternyata Charm
Eye bisa digunakan untuk memaksa orang mengaku ya. Benar-benar mata yang mengerikan.
"Boleh
aku mengecek luka Misha? Aku penasaran dengan keadaannya."
Ekspresi
Sasha berubah menjadi ekspresi seorang ibu.
"Tentu
saja. Clarice, bisakah kau ikut menemaninya?"
Sebenarnya
aku juga ingin melihat, tapi rasanya tidak sopan melihat kulit anak perempuan
di depan ibunya seperti itu.
Saat Sasha
kembali setelah mengecek luka, matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
"Eh? Apa
terjadi sesuatu?" tanyaku spontan.
"Tidak,
lukanya sudah hilang tanpa bekas dan demamnya juga sudah turun. Terima kasih
banyak ya."
Sasha berkali-kali menundukkan kepalanya padaku. Melihat hal itu, aku berjanji dalam hati; aku tidak akan pernah mencurigai orang ini lagi.



Post a Comment