Chapter
13
Party
Baru
—Hari Kelima Belas Ujian Labirin
"Eh? Lukaku sudah hilang! Tidak
sakit lagi! Lihat! Lihat! Pegang saja!"
Misha menyingkap seragamnya, memamerkan
perutnya yang putih dan ramping kepadaku.
Kecuali gadis-gadis yang pertumbuhannya
luar biasa karena alasan spesial seperti Clarice atau Elie, rasanya agak aneh
mendeskripsikan perut anak seusia ini dengan kata 'ramping', tapi memang itu
kata yang paling pas.
Namun, meski
dia memintaku memegangnya, aku tidak akan melakukan hal itu.
"Oh.
Ternyata luka memang tidak sudi berlama-lama pada gadis cantik, ya."
Misha tampak
puas, lalu dia mulai berpose macam-macam di depan Sasha sambil bertanya,
"Ibu, aku cantik, kan?"
"Kau
tidak kelihatan kaget, ya. Padahal itu luka yang seharusnya membuatmu harus
istirahat total selama beberapa hari."
Karen
melontarkan pertanyaan yang seolah sedang menguji kami semua.
"Ti-tidak
juga. Aku baru bangun tidur jadi otakku belum jalan sepenuhnya. Tapi Karen-sama
sendiri sepertinya tidak terlalu terkejut?"
Gawat, aku
ceroboh lagi.
Karena aku
sudah tahu kalau lukanya sudah sembuh, reaksiku jadi kurang alami.
"Aku?
Aku sangat terkejut, tahu. Tapi ada banyak hal lain yang lebih mengejutkan
bagiku. Bisa memakai keempat elemen sihir, jumlah MP yang tak terbatas,
merapalkan beberapa sihir sekaligus... ditambah lagi kemampuan pedang yang
kelas satu dan gerakan yang sangat khas garda depan. Rasanya kalaupun tiba-tiba
muncul pengguna Holy Magic, aku tidak akan kaget lagi."
Bahaya... Selain soal pengguna Holy
Magic, semua yang dia sebutkan itu merujuk padaku.
Ditambah lagi, Karen tahu kalau luka
Minerva dan Dominic juga sembuh secara misterius.
Mungkin dia
mulai menyadari sesuatu.
Meski
dihujani tatapan penuh selidik, kami tetap melanjutkan patroli di lantai lima.
"Golem-nya
tidak muncul lagi, ya... Kenapa
hanya saat itu saja..."
Gumam Karen
sambil memiringkan kepala setelah kami selesai mandi.
Sesuai ucapan
Karen, aku sudah mencari jebakan ke mana-mana dengan Heavenly Eye dan
bahkan menginjak semua jebakan yang ada, tapi Golem itu tidak menampakkan diri
lagi.
"Benar.
Besok mari kita jelajahi lantai empat dan lima lagi. Ngomong-ngomong, apa
kalian masih sanggup menyelam lebih dalam? Sejauh pengamatanku, kalian masih
terlihat sangat santai."
Saat Sasha
melontarkan pertanyaan itu pada semuanya, Karen menjawab dengan wajah jengah.
"Santai
bagaimana, sejauh ini aku bahkan tidak punya giliran bertarung sama sekali.
Padahal karena merasa seperti inilah aku masuk ke lantai lima waktu itu dan
malah merepotkan semuanya."
Yah, monster yang muncul hanya Rank
D sampai E.
Hampir semuanya dihabisi oleh Elie dan
Misha, sisanya aku bereskan dengan latihan pedang tangan kiri serta teknik bela
diri.
Karena level Misha adalah yang terendah
di sini, kami memang sengaja membiarkan Misha yang lebih banyak menghabisi
lawan.
"Menurut Adipati Regan, seharusnya
pasukan ksatria sudah hampir tiba. Begitu mereka datang, aku berencana untuk
masuk ke lantai enam dan menantang ruangan Mid-Boss. Apa kalian keberatan?"
Begitu Sasha
berkata begitu, semua mata—termasuk Karen—tertuju padaku.
Padahal
pemimpin kelompok ini 'kan Karen, seharusnya mereka bertanya padanya...
"Bukankah
tidak masalah jika Karen-sama setuju? Omong-omong, bolehkah kami tahu monster
seperti apa yang muncul di ruangan Mid-Boss?"
"Tentu saja. Selain Rock Lizard,
monster yang muncul adalah Fire Gremlin, Water Sahagin, dan Earth Spantua. Ada
juga kabar soal monster kelinci bernama Luckyrabi, tapi kalaupun muncul dia
bukan masalah besar... malah bisa dibilang keberuntungan kalau dia ada."
Muncul monster tapi dianggap
keberuntungan? Apa maksudnya?
Sasha yang menyadari ekspresiku segera
menambahkan penjelasan.
"Luckyrabi adalah monster yang
frekuensi kemunculannya sangat rendah. Aku sendiri baru pertama kali bertemu
dua tahun lalu bersama anak ini di Padang Rumput Tsunousa. Ciri khasnya hanya
berlari kencang sambil diselimuti angin. Dasarnya dia tidak menyerang.
Luckyrabi dikatakan membawa keberuntungan bersama anginnya. Tombak Gale
Spear yang dipakai Misha sekarang pun ditemukan di dekat tempat kami
mengalahkan Luckyrabi."
Heh... Luckyrabi, ya... Aku ingin
bertemu dengannya setidaknya sekali.
"Lupakan soal Luckyrabi, yang
harus diwaspadai adalah kombinasi Spantua dan Gremlin. Spantua adalah laba-laba
besar yang terus menyemburkan jaring. Hati-hati jangan sampai terjerat karena
kau tidak akan bisa bergerak. Kalau api dari Gremlin menyambar di saat itu,
bakal sangat berbahaya. Jadi, taktik standarnya adalah menghabisi Spantua
terlebih dahulu."
Ini merepotkan. Garda depan pasti akan sangat kesulitan. Penjelasan Sasha
berlanjut.
"Sahagin
adalah monster pemegang tombak yang kekuatannya tak tertandingi jika di
perairan. Tapi karena di labirin ini tidak ada air, tidak masalah. Meski
begitu, dia tetap memiliki kekuatan Rank C, jadi tetaplah waspada."
Sahagin biar
aku atau Elie yang urus.
"Semakin
didengar, tingkat kesulitannya semakin tinggi saja... Tim [Guren] bisa menyelesaikan ini di hari ke-25 ujian, mereka
benar-benar monster," desah Karen sambil melipat tangan.
"Itu
karena di [Guren] bukan hanya ada Glen, tapi juga ada seorang Golem Master.
Ditambah lagi yang mendampingi mereka adalah Kylus."
Golem
Master?
Benar-benar sekolah nomor satu di benua, orang-orang bertalenta berkumpul di
sini.
Setelah kami
semua melakukan simulasi saat melawan Mid-Boss, para wanita pun pergi
tidur duluan.
◆◇◆
--- Hari
Ketujuh Belas Ujian Labirin ---
Warna dinding
di ruangan Mid-Boss berwarna kuning, seolah memberikan peringatan keras
kepada siapa pun yang berani masuk.
"Semuanya
sudah siap?"
Di depan
pintu, Karen melakukan pengecekan terakhir dan semua orang mengangguk.
"Kalau
begitu, Mars, silakan."
Tugasku
adalah membuka pintu dan masuk pertama kali.
Oiya, aku dan
Sasha diminta Karen untuk sebisa mungkin tidak ikut menyerang.
Alasannya
adalah karena mereka ingin mengukur kemampuan mereka sendiri dan tidak ingin
merasa jemawa atas hasil yang bukan murni milik mereka.
Saat aku
membuka pintu perlahan dan masuk dengan waspada, sebuah serangan kejutan datang
dari monster kecil yang terbang berputar-putar di tengah ruangan.
Monster kecil
itu menghirup napas panjang lalu menyemburkan sejalur api.
"Ice
Wall!"
Tepat setelah
aku masuk, Clarice dari belakang langsung memunculkan dinding es di depanku,
lalu semua orang merangsek masuk dan pertempuran pun dimulai.
"Habisi
Spantua dulu!"
Karen
menunjuk ke arah Spantua yang merayap di langit-langit sambil menyemburkan
jaring.
"Siap!
Serahkan padaku!"
Misha
merespons dengan melepaskan Wind Cutter dari telapak tangannya.
"Misha!
Perhatikan monster yang lain juga!"
Namun, suara
Sasha sepertinya tidak sampai. Misha terus menembakkan Wind Cutter
dengan membabi buta.
"Hei!?
Misha! Kau dengar tidak!?"
Sekali
lagi Sasha memanggil, tapi Misha sudah terlalu asyik dengan Spantua.
"Sasha-sensei.
Biar aku yang mengawasi Misha..."
"Iya... tolong ya," jawab
Sasha dengan senyum getir.
Menghadapi sihir api Karen, Spantua itu
menyemburkan jaring sebagai perisai, dan untuk Wind Cutter Misha, ia
menumpuk jaringnya berlapis-lapis untuk melemahkan daya serang sambil terus
melarikan diri.
Namun, berkat
ketenangan Karen, Spantua itu perlahan kehabisan tempat lari.
Setelah
melihat sihir apinya diblokir jaring, Karen sengaja menutup jalur pelarian
monster itu dengan api, persis seperti nelayan yang menggiring ikan ke jaring.
Kematian
Spantua tinggal menunggu waktu.
Sambil tetap
mengawasi Misha, aku mengalihkan pandangan ke sisi lain.
Terhadap
Gremlin yang terus menyemburkan api, Clarice mengurungnya dari empat sisi
dengan Ice Wall agar tidak bisa bergerak.
Setiap kali
dinding es itu meleleh oleh api, Clarice langsung menutupnya lagi dengan
dinding baru.
Sementara
itu, Sahagin si manusia ikan maju menerjang dengan tombak trisula diikuti para
Rock Lizard. Elie segera menarik perhatian mereka agar tidak mendekati Karen
atau Misha.
Namun,
Sahagin adalah tipe petarung jarak dekat dengan kekuatan Rank C.
Elie pun
kehilangan ketenangannya yang biasa dan harus berjuang keras untuk menghindar.
Tapi, aku
yang sering berlatih tanding dengannya tahu betul bahwa Elie sangat sulit
ditangkap jika dia sudah fokus menghindar.
Ditambah
dengan insting bertarung khas Beastman, kelenturan tubuhnya, dan kecepatan
sebagai Golden Lion, sangat sulit untuk sekadar menyentuhnya meski status lawan
jauh di atasnya.
Di sana,
Clarice ikut membantu sambil tetap mengurung Gremlin.
Clarice yang
memberikan damage konstan dengan Magic Arrow sekaligus menyegel
Gremlin dengan Ice Wall benar-benar menjadi kunci dalam pertempuran ini.
Saat aku
sedang terpesona melihat aksinya, tiba-tiba Misha melompat kegirangan.
"Yey!
Aku mengalahkan Spantua Rank C!"
Di sana
tergeletak Spantua dengan kaki terpotong dan habis dilalap api.
"Bagus,
Misha! Sekarang
bawa tombakmu dan bantu Elie!"
"Siap!
Aku akan beraksi lagi!"
Dengan
membiarkan Gremlin yang terkurung Ice Wall sebagai target terakhir,
serangan kini dipusatkan pada Sahagin dan Rock Lizard.
Misha
yang tadinya fokus pada sihir segera menyambar tombaknya dan menuju tempat
Elie.
Karena
belakangan ini mereka sering berdiskusi dan berlatih bersama, kerja sama mereka
sangat solid.
Memang
masih ada beberapa celah jika dibanding kombinasi Clarice dan Elie, tapi karena
mereka berdua juga selalu bersama di kehidupan sehari-hari, mereka sangat
saling mengerti.
Bisa
mencapai level ini hanya dalam beberapa hari sudah sangat luar biasa.
Begitu
Karen ikut bergabung, situasi langsung berbalik total.
Sahagin
yang tadinya terus mendesak Elie kini tak berkutik setelah dihujani Magic
Arrow milik Clarice.
Akhirnya,
monster itu hangus terpanggang oleh Fireball Karen.
Tersisa
hanya Gremlin.
Clarice,
Elie, dan Misha mengambil posisi menyerang sementara Ice Wall
dilepaskan.
Rupanya
Gremlin tadi sedang berusaha melelehkan dinding es di sisi yang berlawanan dari
kami, jadi saat sihir dilepaskan, api Gremlin justru menyambar ke arah dinding
belakang.
Seketika,
seekor hewan kecil dengan ekor yang terbakar lari tunggang langgang keluar dari
balik dinding itu.
"Luckyrabi!"
Misha
berteriak kegirangan melihat kelinci itu, tapi Sasha langsung menegur.
"Urus
Luckyrabi nanti! Dia tidak bisa lari ke mana-mana di sini, habisi Gremlin
dulu!"
Benar saja,
Luckyrabi itu terlihat berlari keliling ruangan untuk memadamkan api yang
menyambar ekornya.
Mungkin dia
bersembunyi di suatu tempat, tapi terpaksa keluar karena terkena api Gremlin.
Melihat itu,
mereka bertiga menuruti instruksi Sasha dan memusatkan serangan pada Gremlin.
Dengan Magic
Arrow Clarice sebagai serangan utama, Misha melemahkan api Gremlin dengan Water,
sementara Elie berlari di sekeliling untuk memecah konsentrasi lawan.
Hanya butuh
waktu singkat bagi Gremlin yang dikeroyok tiga orang itu untuk kehilangan HP-nya.
Dan tepat
saat Clarice hendak memberikan serangan penghabisan...
Luckyrabi
melesat dengan kecepatan tinggi mendekati Clarice.
Meski
katanya tidak menyerang, Luckyrabi tetaplah monster.
Bisa saja
terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tapi aku
tidak mau merusak momen mereka dengan ikut campur di saat-saat terakhir ini.
Karena itu,
aku mengaktifkan Future Vision.
"Eh――?"
Masa depan
yang tak terduga tertangkap oleh mataku.
Tepat saat
Clarice melepaskan anak panah terakhir ke arah Gremlin, Luckyrabi melesat
melewati Clarice sambil membawa angin keberuntungannya.
Akibatnya,
jubah serta rok Clarice tertiup angin, memperlihatkan sekilas pita berwarna
merah muda dan ungu yang sangat... suci.
Clarice
yang refleks menahan roknya langsung bertatapan mata denganku. Seketika wajah
Clarice memerah padam seperti kembang api.
"Ka-kau
lihat?"
"Eh?
Ah? Anu... iya..."
Suasana
canggung sempat menyelimuti sejenak, namun langsung pecah oleh suara riang yang
menggema di ruangan Mid-Boss.
"Horeee!
Aku berhasil mengalahkan Luckyrabi!"
Misha
yang berhasil menusuk Luckyrabi dengan satu tusukan tombak memamerkannya kepada
semua orang dengan senyum lebar. Wajah Clarice pun langsung berubah, dan semua
orang meledak dalam kegembiraan karena berhasil menyelesaikan ruangan Mid-Boss.
Fiuh... Kejadiannya terlalu mendadak
sampai mataku tidak bisa berpaling, tapi mulai sekarang aku harus hati-hati.
Nanti aku harus minta maaf baik-baik padanya.
Saat aku hendak bergabung dalam
lingkaran kegembiraan itu, aku melihat harta karun lainnya.
"E-eh?
Bukankah itu peti harta karun?"
““Eh!?””
Karen,
Misha, dan Sasha berteriak serempak sambil melihat ke arah yang kutunjuk.
"Aaaaa!!!
Benar!"
Misha
melompat-lompat kegirangan, sementara Karen mengerjapkan matanya tak percaya.
"A-aku
baru pertama kali melihatnya langsung... ternyata benar-benar ada ya..."
"Aku
pun baru melihatnya lagi setelah beberapa tahun."
Beberapa
tahun? Aku justru terkejut mendengar ucapan Sasha.
"Hei!
Bagaimana ini? Siapa yang mau buka?"
Wajah Misha
jelas-jelas berkata 'Aku ingin membukanya'.
"I-iya ya... Aku juga tidak
terlalu paham soal begini... sebaiknya bagaimana?" tanya Karen dengan
suara gemetar.
"Kalau kami biasanya Mars yang
bertugas membuka peti..."
Clarice yang pipinya masih agak
kemerahan menatapku.
"Ah...
tapi kali ini serahkan pada Karen-sama saja. Aku rasa apa pun yang keluar tidak
akan bisa melebihi kesan mendalam yang kudapat tadi..."
Hah!? Apa
yang baru saja aku katakan!?
Saat aku
hendak meralat ucapanku pada Clarice dengan panik, dia hanya bergumam
malu-malu.
"...Bodoh."
"Ja-jadi,
bolehkah aku yang membukanya?"
Tanya
Karen sambil gemetar karena gugup.
"Iya!
Boleh kok!"
Misha
setuju dengan mudah padahal tadi dia kelihatan sangat ingin membukanya.
"Baiklah,
aku buka ya..."
Di
dalam peti yang dibuka pelan-pelan oleh Karen, terdapat tiga batang emas
batangan (gold ingot).
Melihat
Karen yang bahunya merosot kecewa, Sasha mencoba menghiburnya.
"Ini
termasuk bagus, lho. Biasanya isinya hanya Potion atau Magic Potion."
Ternyata
keberuntunganku memang cukup bagus ya.
Selama
bukan di ruangan monster, isinya biasanya memang perlengkapan... yah, yang
paling parah memang pedang emas itu, sih, tapi karena itu dipersembahkan untuk
Raja Barcus, bagi Sieg dan yang lain itu termasuk rejeki nomplok.
Sambil
menghibur Karen, kami membuka pintu di sisi lain dan menemukan sebuah ruangan
yang bersinar putih.
Ternyata
tepat di sebelah ruangan Mid-Boss adalah Zona Aman.
"Nah,
kita akan menghabiskan dua sampai tiga hari di sini. Kita tidak berencana masuk
sampai lantai tujuh, jadi kita akan memantau lantai enam dari sini. Mengerti?"
Begitu
Sasha menurunkan barang bawaannya, kami langsung bersiap kemah.
Sebelum
ini kami tidur di ruangan atau lorong yang ada monsternya sehingga harus sangat
berhati-hati saat menguras MP, tapi di Zona Aman kami tidak perlu
memikirkan hal itu.
Bahkan
tidak perlu lagi ada giliran jaga.
Saat
aku hendak membuat set perkemahan seperti biasa, Elie memberikan permintaan.
"Mars,
Clarice, aku... bersama... Almeria..."
Begitu ya.
Dia ingin tidur berdekatan seperti saat di Labirin Almeria dulu.
Saat kami
tidur di Zona Aman lantai tiga Labirin Almeria, meski disekat dengan partisi,
kami tidur sangat berdekatan.
Elie sangat
ahli dalam merasakan kehadiran di sekitarnya, jadi dia bilang dia bisa tidur
nyenyak jika aku ada di dekatnya.
"Baiklah.
Kalau begitu aku, Clarice, dan Elie tidur berdekatan."
"Ehm!"
Elie
menunjukkan senyum yang sangat cerah.
"A-aku
juga tidak keberatan kalau tidur di dekat kalian, lho?"
"Aku
juga! Aku juga! Aku kan percaya padamu!"
Karen dan
Misha ikut menimpali, tapi kalau terlalu dekat dengan Karen rasanya tidak enak
pada Baron, dan kalau dengan Misha, aku takut Sasha tidak bisa tenang... atau
malah Sasha sendiri yang merasa dalam bahaya.
Setelah
menolak dengan sopan, aku membuat dua area tidur, lalu menggunakan waktu
tersisa untuk menjelajahi lantai enam.
Pada dasarnya
monster di lantai enam terdiri dari Rock Lizard dan satu monster Rank C
seperti yang ada di ruangan Mid-Boss. Hari itu kami hanya berkeliling di
beberapa ruangan saja.
◆◇◆
--- Hari
Kedelapan Belas Ujian Labirin, Pukul 03.00 ---
Fufufu.
Akhirnya waktu yang kunanti-nantikan tiba.
Aku sudah...
sudah menahannya sejak lama.
Di balik
pintu ini... mereka ada di sana... Aku sudah tidak tahan lagi.
Tanpa bisa
menahan perasaan, aku membuka pintu dengan kencang, dan semua mata tertuju
padaku.
Tapi itu
tidak masalah!
Target
pertamaku adalah kau!
Saat aku
menerjang target, pihak lawan menyambutku seolah mereka juga sudah menunggu.
Aksi
tangkisanku menggunakan Salamander Sword di tangan kiri terhadap tombak
yang menusuk dari sisi kanan menjadi tanda dimulainya pertempuran.
Sahagin di
depan diikuti Rock Lizard, Gremlin, dan Spantua semua menerjang ke arahku!
Ya, pintu
yang kubuka adalah pintu ruangan Mid-Boss.
Banyak hal
yang ingin kucoba namun terhambat karena ada Karen dan yang lain.
Tapi, jika
aku bergerak sendiri, aku bebas berlatih dan berusaha sesuka hati!
Aku ingin
mencoba apakah aku bisa menggunakan Sylphid, pedang batu dari Earth
Magic di tangan kanan, Salamander Sword di tangan kiri, Future
Vision, dan No-chant Wind Magic secara bersamaan!
Hasilnya,
ternyata bisa.
Namun, meski
aku sudah mahir menggerakkan tangan kiri, saat memegang satu pedang di
masing-masing tangan, rasanya lebih seperti memukul hancur daripada menebas.
Sepertinya
tidak semudah itu mengayunkan pedang dengan kedua tangan secara sinkron.
Pokoknya
sekarang aku butuh pengalaman.
Aku terus
menangkis serangan Sahagin dan Rock Lizard, memantulkan api Gremlin dengan Wind,
dan menghindari jaring Spantua dengan bantuan Future Vision.
Ternyata
monster bisa lelah juga ya.
Ketajaman
tusukan Sahagin mulai hilang, dan daya serang api Gremlin jelas menurun.
Spantua hanya
terus menyemburkan jaring dari langit-langit tanpa variasi, dan Rock Lizard
memang dasarnya punya status rendah.
Karena merasa
belum puas, aku menyapu bersih mereka dengan pedang lalu kembali ke Zona Aman.
Dalam satu
jam monster itu pasti akan respawn lagi. Sampai saat itu, aku akan
berkeliling di lantai enam.
Lantai enam
Labirin Arahan ternyata levelnya lebih rendah dibanding lantai tiga Labirin
Almeria.
Sebab di lantai tiga Almeria hanya
muncul monster Rank C.
Dibandingkan itu memang terasa kurang,
tapi cukup untuk melatih tangan kiriku.
Setelah berlari keliling lantai enam,
aku kembali lagi ke ruangan Mid-Boss.
Setelah menyelesaikan pertarungan
sebelum yang lain bangun, aku kembali ke Zona Aman dan mandi.
Aku
tidak terlalu berkeringat, tapi etika itu penting.
Apalagi
kelompok yang bersamaku semuanya wanita.
Aku tidak mau membuat Clarice dan yang
lain merasa malu.
"Selamat
pagi."
Semua orang
bangun tepat saat aku selesai mandi.
"Lho?
Mars, wajahmu segar sekali ya? Ada sesuatu yang terjadi?"
Sasha
langsung menyambarku dengan pertanyaan.
Wajar saja,
karena stresku hilang setelah bisa bertarung sekuat tenaga tadi.
"Iya.
Tadi habis olahraga sedikit, rasanya segar sekali!"
"Hmm. Olahraga ya... Lakukan
secukupnya saja ya."
Tatapan Sasha berpindah-pindah antara
aku dan Clarice.
Mungkin Sasha mengira aku baru saja
'menyelam' bersama Clarice.
Yah,
bergerak sendirian di labirin memang mengandung risiko sih.
Hari
itu juga tidak ada keanehan di lantai enam, jadi diputuskan bahwa lantai enam
aman, dan kami akan kembali ke permukaan dua hari lagi.
◆◇◆
--- Hari
Kedua Puluh Ujian Labirin ---
Hari ini
adalah aktivitas pagi terakhir di ujian labirin, dan ini adalah kunjungan
keduaku ke ruangan Mid-Boss hari ini.
"Rasanya
sedih juga sebentar lagi tidak bisa bertemu kalian..." pikirku sambil
masuk ke ruangan, namun tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dari belakang.
"Sudah
kuduga kau ada di sini."
Saat aku
berbalik, ternyata itu Clarice.
"Ah iya. Ada yang ingin
kucoba."
Sambil terus 'bermain' dengan Sahagin
dan yang lain, aku melanjutkan percakapan. Clarice pun langsung menyadari
sesuatu.
"Eh? Dua pedang?"
"Iya. Sebagai antisipasi melawan
Kylus-sensei, aku melatih tangan kiriku agar efisiensi latihan meningkat, lalu
aku berpikir mungkin aku bisa memakai dua pedang sekaligus."
"Maaf ya. Karena kalau Mars ikut
bertarung, kami jadi tidak bisa berlatih."
"Tidak kok. Hanya dengan melihat
pun aku bisa mengonfirmasi kerja sama kalian dan membayangkannya dalam benakku.
Lagipula, jika aku dekat denganmu, aku tidak perlu mencemaskan hal yang
aneh-aneh."
Berpisah dengan Clarice selalu
membuatku cemas.
Dan yang paling penting, aku sendiri
ingin terus bersama Clarice.
Sepertinya aku harus segera menghabisi
mereka agar tidak kehabisan waktu mandi.
Tepat saat aku menghabisi monster Rank
C dan memberikan serangan terakhir pada Rock Lizard...
Kelinci pembawa keberuntungan itu
muncul lagi.
"Clarice! Kakimu!"
"Eh?"
Aku tahu aku harus membuang muka! Tapi tubuhku jujur dan tidak mau
berkompromi.
Begitu Clarice mengalahkan Luckyrabi
dengan Ice Arrow, angin suci itu berhembus lagi.
Warna
merah muda dengan renda putih.
Wajah Clarice memerah padam seketika.
"Ma-maaf...
aku belum minta maaf soal kejadian yang kemarin juga."
"Ja-jangan
minta maaf. Itu salahku karena kurang waspada..."
Sepertinya
dia memaafkanku.
Syukurlah aku
tidak dibenci... Angin itu mungkin memang membawa keberuntungan, tapi bisa
menghancurkan hubungan orang juga.
Tepat saat
aku berpikir tidak perlu muncul lagi, ada sesuatu yang menarik perhatianku.
"Clarice!? Muncul lagi!"
Clarice refleks menahan roknya.
"Bu-bukan
itu, tapi peti harta karun!"
"Eh!?
Benar!"
Saat kami
berjalan ke depan peti, Clarice mendekat dan tangan kami tidak sengaja
bersentuhan.
Setelah
memeriksa peti dengan Appraisal dan memastikan tidak ada jebakan, aku
membukanya.
Di dalamnya
terdapat sebuah liontin yang dihiasi dengan kristal bening berkilau seperti es
di tengahnya, dengan ornamen biru muda dan putih yang sangat indah.
Nama: Necklace of Frost and Snow
Spesial: -
Value: -
Detail: Meningkatkan serangan atribut
air, ketahanan atribut air, serta pemulihan kelelahan ringan.
"Indah
sekali... pengerjaannya sangat halus dan mistis..."
Clarice
mendesah kagum melihat isi peti itu, tapi aku justru terpesona melihat Clarice.
"Ini
pasti sangat cocok untukmu, Clarice."
Saat aku
mengambil liontin itu dan hendak memberikannya pada Clarice, dia justru
mengembalikannya padaku.
"Eh? Ini
untukku juga? Tidak enak, ah!"
"Ini
aksesori untuk pengguna sihir air, 'kan? Dan sepertinya akan sangat cantik jika kau yang memakainya."
"Be-begitu
ya...? Terima kasih. Kalau begitu... bisakah kau memakaikannya untukku?"
"Ba-baiklah.
Tapi ini pertama kalinya, mungkin aku tidak akan terlalu mahir..."
Aku
gugup mendengar permintaannya yang tak terduga.
"Tidak
apa-apa. Ini juga pertama kalinya bagiku."
Clarice
menyibakkan rambut peraknya yang indah dengan tangan, memperlihatkan leher
putihnya yang jenjang.
Sambil
ragu-halu, aku berusaha memakaikan liontin itu dengan hati-hati. Setiap kali
ujung jariku menyentuh kulitnya, jantungku berdegup kencang seperti genderang
perang.
Hembusan napas dan aroma floral dari
Clarice membuat debaran jantungku semakin cepat.
Setelah liontin itu terpasang dengan
agak kaku, Clarice bergumam.
"Terima kasih. Rasanya agak malu
ya."
Dia menunjukkan ekspresi malu-malu yang berbeda dari sebelumnya.
"Iya,
benar. Tapi, rasanya sangat menyenangkan. Kalau begitu, ayo kita kembali."
Aku
menggenggam erat tangan Clarice, lalu kami melangkah bersama menuju tempat
teman-teman yang masih terlelap di dalam mimpi.
Pada
akhirnya, Golem itu tidak pernah muncul lagi sampai kami keluar dari Labirin
Arahan.
Penyebab
mengapa Golem itu sempat menampakkan diri pun tetap menjadi misteri yang tak
terpecahkan saat itu.
Aku baru
menyadari bahwa semua itu adalah ulah dari Unique Skill Natural Disaster
jauh di masa depan nanti―



Post a Comment