Chapter 14
Guren dan Glenn
Lima
hari menjelang berakhirnya ujian labirin.
"Begitu
ya. Jadi penyebabnya masih belum diketahui... Baiklah. Aku akan memerintahkan ksatria untuk memeriksa
hingga lantai sembilan sebagai tindakan pencegahan."
Aku kembali
ke sekolah lebih awal daripada murid kelas lain dan melaporkan kepada Adipati
Regan bahwa tidak ada keanehan di labirin.
Sebenarnya
aku ingin berada di sana lebih lama, tapi persediaan makanan mulai menipis, dan
ada satu alasan lain yang membuat kami memutuskan untuk pulang.
Alasan
lainnya adalah ini.
"Bagaimanapun
juga Karen, ini luar biasa. Kamu berhasil memecahkan rekor [Guren] yang kukira tidak akan pernah
terlampaui. Terlebih lagi, kamu melakukannya tanpa bantuan Sasha sama
sekali."
Tujuan kami
pulang cepat adalah untuk membuktikan bahwa kami telah melampaui rekor kelompok
[Guren].
Di tengah
perjalanan, Karen sempat mengusulkan kepada Sasha agar mereka tetap tinggal di
labirin selama mungkin dan meminta jatah makanan dari ksatria, namun Sasha
menolaknya dan memilih untuk kembali.
Menurut
Sasha, sebagai putri kedua dari keluarga Adipati Freisbald, ada banyak beban
yang harus dipikul, dan bukan hanya keluarga Freisbald saja yang menaruh
harapan padanya, tapi juga Adipati Regan serta para petinggi lainnya.
Karena
itulah, Sasha ingin memberi Karen pencapaian nyata berupa gelar sebagai
penakluk ruangan Mid-Boss tercepat dalam sejarah Sekolah Nasional
Lister.
Menjadi putri bangsawan tingkat tinggi
ternyata merepotkan... Saat aku sedang membatin begitu, Adipati Regan memanggil
namaku.
"Mars,
selesaikan pindahan asramamu sebelum teman sekamarmu yang lain kembali."
Hidup bersama
Gon dan yang lainnya cukup menyenangkan, jadi rasanya agak sedih harus
berpisah, tapi apa boleh buat.
"Masih
ada lagi. Mars, mulai hari ini pakailah seragam ini. Aku sudah mengirimkan empat pasang ke kamar
barumu."
Yang diserahkan kepadaku adalah seragam
dengan sulaman merah khas Kelas S.
"Baik, saya mengerti. Lalu apa
yang harus saya lakukan dengan seragam yang saya pakai sekarang?"
"Silakan
kamu musnahkan sendiri. Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi memakai seragam
Kelas E, ya."
Dimusnahkan, ya... Rasanya agak sayang,
tapi kalau sudah tidak bisa dipakai lagi, mau bagaimana lagi.
"Terakhir, satu hal lagi.
Pertempuran peringkat Kelas S akan dilaksanakan pada tanggal 30 Februari."
Adipati Regan menundukkan pandangannya
ke dokumen di tangannya dan mulai mengerjakan tugas lain, jadi kami pun
meninggalkan ruang kepala sekolah.
Meski masih
agak pagi untuk makan siang, kami menuju gedung kantin. Mulai hari ini aku juga
diizinkan makan di lantai tiga, jadi kami, para anggota tim penjelajah labirin,
duduk mengelilingi satu meja.
"Hei,
apa kalian selalu makan seperti itu?"
Karen
bertanya sambil menutupi mulutnya dengan serbet setelah melihat makanan
milikku, Clarice, dan Misha.
Ngomong-ngomong,
di depan mata Elie hanya ada daging, tapi Clarice sudah bersiap siaga untuk
memaksanya makan sayur.
"Kami
sedang fokus membentuk tubuh. Kekurangan nutrisinya kami lengkapi saat sarapan
dan makan malam."
"Kalian
benar-benar teliti sekali ya, padahal kalian ini penyihir..."
Wajah
Karen tampak jengah. Benar juga. Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepada semuanya.
"Aku
punya satu permintaan. Aku ingin kalian menganggapku sebagai pengguna sihir api
di barisan depan. Aku kurang suka terlalu menonjol di depan umum..."
"Aku
tidak keberatan, tapi kalau berharap untuk tidak menonjol, itu mustahil."
Entah kenapa
Sasha bicara dengan penuh percaya diri. Yah, karena mulai sekarang aku akan
selalu bergerak bersama Clarice dan Elie, perkataannya memang benar.
Tapi, bisa
menyembunyikan statusku sebagai penyihir saja sudah merupakan pencapaian
bagus... pikirku, sampai kemudian Misha bertanya kepada semuanya dengan mata
berbinar.
"Hei!
Ayo kita adakan perayaan kenaikan tingkat Mars yang kemarin tertunda! Sekalian
sebagai pesta perayaan selesai ujian labirin!"
Seingatku dia
memang pernah membicarakan hal itu.
"Aku sih
tidak keberatan..."
"Kalau
begitu, kumpul jam lima di depan gedung kelas satu!"
Melihat Misha
yang kegirangan seperti anak kecil, ekspresi semua orang pun melembut, lalu
Karen membuka mulutnya dengan malu-malu.
"Sebelum
itu, ada yang ingin kukatakan... Aku sempat tidak sempat mengatakannya, tapi...
itu... Te-terima kasih."
"Hm?"
Kami semua
saling berpandangan karena tidak mengerti maksudnya. Apa mungkin soal saat aku
menolongnya di ujian labirin kemarin?
"Po-pokoknya
aku sudah bilang terima kasih, ya! Lalu, berhentilah memanggilku dengan gelar. Dilarang menggunakan bahasa
formal juga! Mengerti!? Bubar!"
Setelah
mengantar kepergian Karen yang melangkah terburu-buru, kami pun menuju kamar
masing-masing.
◆◇◆
Setelah
berpisah dengan yang lain, aku segera mengangkut barang-barangku ke kamar baru
yang terletak di lantai enam.
Ukuran
kamarnya lima kali lipat, bahkan mungkin sepuluh kali lipat lebih luas dari
kamar yang kutempati bersama Gon.
Jika seluas
ini, aku bisa menaruh berbagai macam peralatan. Aku pun membuat peralatan
latihan dengan Earth Magic dan segera melakukan latihan beban. Ya,
dengan ini aku bisa memberikan beban yang lebih berat pada tubuhku daripada
sebelumnya.
Tiga puluh
menit sebelum waktu perjanjian. Masih awal, tapi karena ingin punya waktu
luang, aku keluar dari asrama dan ternyata semuanya sudah menunggu di depan
asrama putra.
Biasanya,
jika Clarice dan yang lainnya ada di sini, pasti akan terjadi kepanikan, tapi
murid kelas satu yang lain belum kembali dari ujian labirin.
Satu-satunya
yang ada adalah Baron dan Dominic yang sepertinya sedang digembleng
habis-habisan oleh Kylus, namun sosok mereka tidak terlihat.
"Maaf.
Baru saja aku mau menuju gedung kelas..."
"Tidak
apa-apa. Aku dan Elie sudah selesai mencuci dan bersih-bersih jadi tidak ada
kerjaan lagi, makanya kami datang lebih awal."
Memang khas
Clarice. Elie pasti terpaksa membantu karena Clarice terus-menerus
menceramahinya. Gambaran itu terbayang di kepalaku dan membuatku tersenyum
sendiri.
"A-aku
tadi hanya mengantar Baron dan Dominic yang sedang dihajar habis-habisan oleh
Kylus-sensei, jadi sekalian saja menunggu di sini."
"Iya,
iya. Anggap saja begitu, ya~ Kalau aku sih datang ke sini karena setelah
selesai dilatih Wind Magic oleh Ibu, aku lihat mereka bertiga sudah standby
menunggu Mars keluar."
Intinya semua
orang datang lebih awal karena tidak ada pekerjaan lain.
"Kalau
begitu, karena masih agak cepat, bagaimana kalau kita berangkat?"
Namun,
langsung berjalan ke arah selatan adalah sebuah kesalahan. Murid kelas satu
memang tidak ada, tapi murid kelas dua ke atas masih ada di sini.
Saat melewati
area asrama putra kelas dua dan tiga, kami mulai dikerumuni banyak murid
laki-laki sambil berjalan beriringan menuju gerbang utama.
Tepat saat
kami hendak melewati asrama putra kelas empat, sosok itu muncul. Dia melompati
kerumunan murid laki-laki yang mengerubungi kami—maksudku Clarice dan yang
lainnya—lalu dengan senyum yang menyegarkan, dia tiba-tiba memelukku.
"Mars!
Aku merindukanmu!"
Kejadian
mendadak itu membuat bukan hanya kami, tapi murid laki-laki lainnya pun menahan
napas.
Tingginya
lebih dari aku dan terlihat stylish. Rambut merahnya yang cerah
memberikan kesan penuh semangat dan bersih.
Matanya
yang menyala dengan rasa keadilan menatapku lurus, dan wajahnya yang masih
menyisakan sedikit kesan kekanak-kanakan memancarkan kepercayaan diri yang
meluap.
Pada
saat melihat orang tersebut, aku terkejut dengan perbedaan cara Clarice, Misha,
dan Karen memanggilnya.
"Kak
Ike!"
"Kakak
Ipar!"
"Glen!?"
Eh? Glen? Apa
maksudnya? Tapi reaksi Karen dan Misha jauh lebih besar dariku.
"Kak
Ike!? Kakak maksudnya!?"
"Kakak
ipar!? Kalau diperhatikan, memang mereka terlihat mirip..."
Tanpa
memedulikan reaksi kami, kali ini Ike memberikan pelukan ringan kepada Clarice
dan Elie.
"Clarice, Elie. Kalian sudah jadi
dewasa... Dan warna seragam itu bukan kelas biasa, jadi kalian Kelas S
ya!"
"Tu-tunggu sebentar. Apa kalian
ini bersaudara?"
Sepertinya Sasha pun tidak tahu tentang
hal ini.
"Iya, benar begitu... Tapi Kak
Ike? Apa mungkin Kakak
berganti nama atau semacamnya?"
"Ah,
itu... soal aku dipanggil Glen? Ceritanya panjang
sih... Tapi karena tidak enak bicara di sini, bagaimana kalau kita cari tempat
lain?"
Murid laki-laki di sekitar mulai
berbisik-bisik dan membicarakan hal-hal yang tidak-tidak.
"Gadis berambut perak itu sudah
bertekuk lutut pada Glen... Sudah tidak ada harapan lagi."
"Glen
yang langsung menggaet dua orang sekaligus... Memang keren banget."
"Tapi
kita masih punya bangsa Elf, jadi jangan menyerah."
Benar
juga, suasana ini memang sulit ditoleransi.
"Benar
juga. Aku juga ingin mengobrol santai dengan Kak Ike, jadi kalau tidak
keberatan, bagaimana kalau kita makan bersama? Semuanya oke, kan?"
Tidak
ada satu pun yang menolak, dan kami bertujuh termasuk Ike pergi menuju kota
Regan.
◆◇◆
Setelah
berjalan sebentar di atas jalan berbatu kota yang diterangi lampu batu ajaib,
Ike masuk ke sebuah toko tanpa ragu.
Saat
pintu dibuka, pencahayaan yang lembut menyelimuti ruangan, dan warna-warna
hangat menarik perhatian. Tata
letak di dalam toko itu sangat berkelas, entah kenapa suasananya mengingatkanku
pada kediaman di Almeria.
"Ini
adalah toko favoritku yang hanya kudatangi saat berhasil menyelesaikan misi
besar atau di saat-saat istimewa."
Setelah
diantar ke ruang privat, seperti biasa Clarice duduk di sebelah kananku dan
Elie di sebelah kiriku.
Di
depan ada Ike, dan di antara Ike ada Karen serta Misha. Setelah Sasha duduk di
kursi kehormatan, Ike segera memulai perkenalan diri.
"Salam
kenal. Aku Ike Bryant. Kakaknya Mars dan pemimpin kelompok [Guren]. Mohon bantuannya."
Mengikuti
Ike, Karen dan yang lainnya pun menyelesaikan perkenalan diri mereka, lalu kami
saling mengadu gelas.
Ngomong-ngomong,
minumannya mengandung alkohol. Saat masih di Almeria, aku pernah minum beberapa
kali di hari ulang tahun atau momen tertentu, dan sepertinya aku cukup kuat
minum alkohol.
Clarice
juga lumayan kuat, dan kami bisa menghilangkan mabuk dengan sihir Cure
dari Holy Magic.
Elie bahkan
lebih kuat dari kami dan katanya tidak pernah sekalipun merasa mabuk. Tapi,
kesamaan dari kami bertiga adalah kami tidak terlalu menyukainya.
Kalau
untukku, alkohol kurang baik untuk otot, jadi biasanya aku menghindarinya, tapi
hari ini pengecualian.
Begitu
aba-aba bersulang diberikan dan semua orang menempelkan gelas ke bibir mereka,
tiba-tiba Misha langsung tancap gas.
"Glen
punya orang yang disukai? Apa itu Clarice? Atau
Elie?"
Gelas Misha sudah kosong. Wajahnya pun
sudah memerah. Apa anak ini baru saja melakukan one shot? Clarice pun
menunjukkan ekspresi cemas. Melihat itu, Sasha pindah ke antara aku dan Clarice
lalu berbisik di telinga kami.
(Tidak
apa-apa. Minuman yang dia minum tidak mengandung alkohol kok)
Eh?
Jangan-jangan dia mabuk hanya karena terbawa suasana? Memang benar-benar seorang ibu.
"Ah. Aku
sangat menyayangi Clarice maupun Elie. Aku yakin perasaanku jauh lebih kuat
daripada perasaan laki-laki di luar sana kepada mereka, tapi aku jauh lebih
menyukai Mars. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang akan membuatku dibenci
oleh Mars. Lagipula, kalaupun aku benar-benar mencoba merebut Clarice dari
Mars, aku pasti akan dipukul balik olehnya, dan Clarice pun pasti tidak akan
melirikku. Begitulah kuatnya ikatan mereka bertiga. Orang lain tidak akan bisa
masuk ke tengah-tengah mereka."
Mungkin itu
hanya sekadar basa-basi, tapi aku senang dia mengatakannya. Bahkan Elie pun
sampai tersenyum lebar hingga gusi-nya terlihat, tapi entah kenapa Misha
terlihat murung.
Ike
melanjutkan pembicaraan dan menjawab pertanyaan yang tadi.
"Mars,
kamu pasti kaget aku dipanggil Glen, kan? Aku sendiri lupa sejak kapan
dipanggil begitu, tapi karena malas membantah satu per satu, aku biarkan saja
dan jadinya malah begini."
"Aku
mengerti. Menepis rumor satu per satu itu memang sangat merepotkan."
Karen
menyetujui sambil menyesap minuman merahnya.
"Lalu?
Aku juga mau bertanya, kenapa hanya kalian yang sudah kembali ke sini? Bukannya
ini masih dalam masa ujian labirin?"
Ike bertanya
sambil menghabiskan gelasnya dan memesan lagi.
"Sebenarnya..."
Setelah aku
melaporkan tentang hal-hal aneh yang terjadi selama ujian labirin namun tetap
bisa menyelesaikan ruangan Mid-Boss tercepat, dia bertepuk tangan
kegirangan.
"Memang
benar-benar Mars, panutanku! Aku jadi tidak sabar membayangkan bisa
menghabiskan waktu bersama Mars mulai sekarang!"
Mata
Ike berbinar seperti anak laki-laki.
"Eh?
Apa Mars itu lebih kuat dari Glen?"
Bukan
hanya Karen yang terkejut, tapi juga Sasha.
"Lebih
kuat dari Glen yang disebut sebagai salah satu mahakarya terbaik dalam sejarah
Sekolah Nasional Lister!?"
"Tentu
saja. Di usia delapan tahun saja Mars sudah Rank A..."
"Ka-Kak
Ike! Bagaimana kalau hari ini kita bicarakan tentang Kak Ike saja? Tentangku
kan bisa kapan saja."
Bahaya. Aku
harus menyuruhnya tutup mulut nanti, termasuk soal insiden Queen Ant Arlene.
"Kalau
begitu Glen. Bolehkan aku melakukan Appraisal padamu?"
Mata Karen
yang biasanya tajam pun perlahan mulai sayu karena mabuk.
"Ah.
Boleh saja."
Mengikuti
Karen, aku juga melakukan Appraisal pada Ike.
[Nama] Ike Bryant
[Gelar] -
[Status] Manusia · Putra sulung
keluarga Count Bryant
[Kondisi] Baik
[Umur] 15 tahun
[Level] 35 (+8)
[HP] 225 / 225
[MP] 1484 / 1484
[Strength] 141 (+38)
[Agility] 108 (+31)
[Magic Power] 79 (+24)
[Dexterity] 64 (+20)
[Endurance] 130 (+34)
[Luck] 10
[Special Skill] Swordsmanship C (Lv 8 /
15) (6→8)
[Special Skill] Spearmanship B (Lv 13 /
17) (9→13)
[Special Skill] Fire Magic C (Lv 10 /
15) (7→10)
[Special Skill] Wind Magic G (Lv 1 / 5)
(NEW)
[Equipment] Flame Lance
[Equipment] Mithril Silver Sword
[Equipment] Robe of Fire Elemental
Ifrit
[Equipment] Bracelet of Fire
[Equipment] Ring of Protection
"A-apa? Jumlah MP ini!?
Untuk status garda depan, ini jelas-jelas aneh... Apalagi level Spearmanship
mencapai 13 dan level Fire Magic 10... Swordsmanship-nya pun
selevel Dominic. Benar-benar tanpa cela."
Misha dan Sasha pun membelalakkan mata
saat mendengar hasil Appraisal dari Karen. Memang ini luar biasa. Nilai Dexterity
yang sulit naik pun sudah dilatih dengan baik, dan dia bahkan sudah mempelajari
Wind Magic.
"Tidak,
ini masih belum apa-apa dibandingkan Mars. Paling mentok aku hanya setara
dengan Clarice saja, kan?"
Pandangan
semua orang tertuju pada Clarice yang sedang bersandar di bahuku.
"Eh?
Aku? Mana mungkin aku bisa menang melawan Kakak Ipar?"
Dia merendah, tapi kenyataannya tidak
begitu.
[Nama] Clarice Lampard
[Gelar] Saint
[Status] Manusia · Putri sulung
keluarga Baron Lampard
[Kondisi] Baik
[Umur] 12 tahun
[Level] 35 (+1)
[HP] 180 / 180
[MP] 1958 / 1958
[Strength] 90 (+4)
[Agility] 94 (+4)
[Magic Power] 123 (+5)
[Dexterity] 137 (+8)
[Endurance] 76 (+3)
[Luck] 20
[Innate Skill] Barrier Magic G (Lv 1 /
5)
[Special Skill] Swordsmanship C (Lv 8 /
15)
[Special Skill] Archery B (Lv 11 / 17)
(10→11)
[Special Skill] Water Magic C (Lv 6 /
15)
[Special Skill] Wind Magic G (Lv 2 / 5)
[Special Skill] Holy Magic A (Lv 11 /
19)
[Equipment] Defender
[Equipment] Magic Arrow
[Equipment] Saint Robe
[Equipment] Mysterious Anklet
[Equipment] Hiasan Rambut Cinta Sumpah
[Equipment] Gelang Penyamaran
[Equipment] Necklace of Frost and Snow
Statistik mereka hampir setara.
Ditambah lagi, Clarice memiliki perlengkapan yang mewah.
Jika dia bisa terus menjaga jarak, dia
mungkin bisa menutupi perbedaan pengalaman dan menang. Ngomong-ngomong, status
Elie adalah seperti ini.
[Nama] Elie Leo
[Gelar] -
[Status] Beastman · Kepala keluarga
Viscountess Muda Leo
[Kondisi] Baik
[Umur] 12 tahun
[Level] 30 (+1)
[HP] 209 / 209
[MP] 72 / 72
[Strength] 100 (+6)
[Agility] 127 (+8)
[Magic Power] 25 (+1)
[Dexterity] 71 (+4)
[Endurance] 78 (+4)
[Luck] 10
[Innate Skill] Sound Magic G (Lv 1 / 5)
[Special Skill] Dagger Techniques C (Lv
7 / 15)
[Special Skill] Martial Arts A (Lv 10 /
19)
[Special Skill] Wind Magic F (Lv 2 / 8)
Ngomong-ngomong, dari mataku
perlengkapan mereka juga terlihat jelas, tapi karena tidak berubah dari
beberapa bulan lalu, aku lewatkan saja. Anggap saja begitu jika ke depannya
perlengkapan mereka tidak berubah. Tolong jangan berpikiran macam-macam, ya.
Kemampuan Elie yang bisa mengeluarkan
kekuatan melebihi statistiknya dalam pertarungan jarak dekat mungkin sudah
melampaui petualang Rank C pada umumnya.
Elie yang sepertinya kelelahan itu
sedang menunjukkan wajah tidurnya yang lucu di atas pangkuanku.
"Nah,
sepertinya sudah saatnya kita menyudahi ini?"
Waktu
menunjukkan hampir jam tujuh malam. Sudah sekitar satu jam lebih sedikit sejak
kami masuk ke toko ini.
Sasha sendiri
hanya meminum gelas pertama, sisanya dia memilih minuman non-alkohol.
Satu-satunya
yang tidak minum alkohol setetes pun adalah Misha, namun melihatnya telungkup
di meja dengan wajah semerah orang yang paling banyak minum, Sasha pasti merasa
cemas.
Setelah
memastikan Sasha menggendong Misha sambil membawa Karen menuju asrama putri,
kami berempat yang tersisa—aku, Clarice, Elie, dan Ike—memutuskan untuk
mengobrol. Elie terbangun saat keluar gedung, tapi sekarang dia ada di atas
punggungku.
Sepertinya
dia iri melihat Karen yang tadi digendong olehku.
"Mars,
Elie, bisakah kalian pastikan tidak ada orang lain di sekitar sini?"
Setelah aku
memastikan dengan Search dan Elie dengan pendeteksiannya bahwa tidak ada
orang di dekat kami, Ike mengeluarkan kata-kata dengan hati-hati seolah sedang
menenangkan dirinya yang mabuk.
"Apa
kamu sudah menerima 'baptisan' dari Adipati Regan?"
"Baptisan?
Apa maksudnya?"
Wajah Clarice
pun menampakkan kecemasan mendengar perkataan Ike.
"Syukurlah
kalau belum. Adipati Regan memiliki mata ajaib yang luar biasa bernama Charm
Eye. Kekuatan untuk mengendalikan lawan jenis sesuka hati. Sekali
dikendalikan, kamu akan ditanyai berbagai hal dan menjawab tanpa bisa berbuat
apa-apa. Jadi kalau kamu bertemu Adipati Regan, pakailah cincin ini..."
"Ah,
sepertinya aku punya daya tahan tubuh yang tidak mempan terhadap Charm Eye..."
Aku
memberitahu Ike yang hendak melepas cincinnya bahwa Appraisal dengan
mata ajaib tidak mempan padaku, dan bahkan Charm Eye milik Adipati Regan
yang punya mana lebih tinggi dariku pun tidak berpengaruh.
"Memang
benar-benar Mars! Ternyata Mars memang di luar standar ya."
Sambil
terkejut, dia menampakkan senyumannya. Yang hendak dia berikan padaku adalah
barang bernama Ring of Protection. Karena
tertarik, aku pun melakukan Appraisal padanya.
[Nama]
Ring of Protection
[Spesial]
-
[Value] C
[Detail] Meningkatkan ketahanan terhadap Status
Ailment.
Dia pasti berniat memakaikan ini padaku
agar meskipun aku terkena Charm Eye Adipati Regan, rahasia tentang Holy
Magic tidak akan terbocoran.
Tetap saja
dia kakak terbaik. Ike melanjutkan nasihatnya.
"Mars.
Apa kamu berencana membuat party?"
"Iya.
Karena aku dengar Clarice dan yang lainnya kerepotan karena terus diajak
bergabung, jadi rencananya suatu saat nanti."
"Begitu
ya. Kalau begitu, satu hal ini harus benar-benar kamu patuhi. Sebuah party
bisa berisi sampai enam orang, tapi daripada berenam, lebih baik bentuklah tim
berisi lima orang."
Hm? Bukannya
berenam pasti lebih aman? Harusnya tidak ada keuntungan membatasi anggota
menjadi lima orang, kan?
"Memang
benar keuntungan berenam itu besar. Tapi dengar ya, tim-tim yang kuat biasanya
hanya berisi lima orang. Alasannya adalah agar mereka bisa memasukkan pengguna Holy
Magic kapan saja. Jika tim kuat beranggotakan enam orang, orang-orang akan
menganggap pasti ada pengguna Holy Magic di dalamnya."
Begitu ya.
Jika kami membentuk tim berenam, ada kemungkinan orang-orang akan berprasangka
buruk bahwa salah satu dari kami adalah pengguna Holy Magic.
Tapi
itu kan hanya berlaku untuk tim yang kuat. Kalau kami tidak terlalu menonjol...
ah, selama ada Clarice dan Elie, itu mustahil ya. Malah kami akan lebih menonjol daripada tim kuat
sekalipun.
"Terakhir,
satu lagi. Bisakah kamu beritahu statusmu yang sekarang? Aku ingin tahu
seberapa dekat aku mencapaimu, atau seberapa jauh aku tertinggal."
Aku sempat
ragu untuk jujur, tapi karena Ike yang memintanya, aku memutuskan untuk
memberitahunya.
Tapi
aku tidak akan bilang soal Gift dan Heavenly Eye, ya.
[Nama] Mars Bryant
[Gelar] Dewa Petir / Raja Angin / Goblin Slayer
[Status] Manusia · Putra kedua keluarga
Count Bryant
[Kondisi] Baik
[Umur] 12 tahun
[Level] 29 (+2)
[HP] 207 / 207
[MP] 7522 / 10305
[Strength] 131 (+9)
[Agility] 139 (+10)
[Magic Power] 186 (+8)
[Dexterity] 166 (+10)
[Endurance] 130 (+12)
[Luck] 30
[Innate Skill] Gift (Lv MAX)
[Innate Skill] Heavenly Eye (Lv 10)
[Innate Skill] Lightning Magic S (Lv 6
/ 20)
[Special Skill] Swordsmanship B (Lv 12
/ 17) (11→12)
[Special Skill] Martial Arts G (Lv 2 /
5)
[Special Skill] Fire Magic F (Lv 7 / 8)
[Special Skill] Water Magic F (Lv 5 /
8)
[Special Skill] Earth Magic F (Lv 7 /
8)
[Special Skill] Wind Magic A (Lv 16 /
19)
[Special Skill] Holy Magic C (Lv 8 /
15)
"Ma-masih
saja luar biasa ya... Bukan cuma semua statistiknya di atas 100, tapi keempat
elemen sihir pun semuanya sudah level 5 ke atas..."
Karena aku
mengalahkan Golem dan berkeliling lantai enam Labirin Arahan sendirian, aku
punya lebih banyak kesempatan mengalahkan musuh daripada Clarice dan Elie,
sehingga levelku naik 2 tingkat.
Soal sihir
api, aku merasa sedikit lagi akan memahami sesuatu. Setelah berjanji untuk
bertemu lagi, aku berpisah dengan Ike, mengantar Clarice dan yang lainnya
sampai depan asrama putri, lalu kembali ke kamarku yang sepi.
◆◇◆
Keesokan
harinya.
"Horeee!
Aku sudah bisa mengikutimu dengan cukup baik!"
Misha
berisik di atas punggungku. Wajar saja, karena dalam ujian labirin kali ini
Misha sudah mengalahkan cukup banyak monster. Karena awalnya levelnya rendah,
levelnya naik pesat dan staminanya pun mulai terbentuk.
[Nama] Misha Feblant
[Gelar] -
[Status] Elf · Putri sulung keluarga
Baroness Feblant
[Kondisi] Baik
[Umur] 12 tahun
[Level] 18 (+4)
[HP] 90 / 90
[MP] 258 / 258
[Strength] 44 (+8)
[Agility] 52 (+9)
[Magic Power] 58 (+8)
[Dexterity] 60 (+10)
[Endurance] 34 (+8)
[Luck] 10
[Special Skill] Spearmanship B (Lv 5 /
17) (4→5)
[Special Skill] Water Magic C (Lv 4 /
15)
[Special Skill] Wind Magic C (Lv 5 /
15)
Statistik
Misha mengingatkanku pada Clarice di masa lalu. Ditambah lagi, kelebihan Misha
adalah dia sulit dideteksi oleh monster.
Padahal
biasanya dia sangat berisik sampai kita tahu dia ada di mana meskipun telinga
kita ditutup, tapi saat berhadapan dengan musuh, kemampuannya menghilangkan
hawa keberadaan adalah sebuah bakat.
"Benar
juga. Kamu sudah bisa mengikuti dengan cukup baik. Kondisi sihir lepas
kendalimu juga bagus. Arah terpentalnya juga sudah mulai stabil."
Kalian pasti
tahu, yang kumaksud sihir lepas kendali adalah menembakkan Wind ke diri
sendiri agar terpental.
"Iya!
Dulu awalnya aku takut sampai terkencing-kencing, tapi sekarang sudah tidak
lagi."
Hm?
Berarti sekarang pun terkadang masih terkencing-kencing? Aku yang menggendong
Misha yang terkencing-kencing itu setiap hari... tidak mungkin, kan. Itu pasti
cuma kiasan saja.
Karena
hari ini hari latihan beban, aku berpisah dengan yang lain dan langsung
menyiksa tubuhku dengan peralatan yang baru kubuat.
Setelah
itu aku melakukan rutinitas biasa dan menuju kantin, tapi murid kelas satu yang
lain belum ada yang kembali. Setelah makan sendirian dengan sepi, aku berangkat
ke sekolah untuk pertama kalinya sebagai murid Kelas S.



Post a Comment