NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 10

Chapter 10

Almeria


Hari ini adalah hari keberangkatan kami meninggalkan Ilgusia menuju Almeria.

Selama satu bulan terakhir, aku terus bekerja membuat batu bata bersama para tukang kayu kota.

Sebagai penyihir tanah yang sudah mencapai level 3, aku menggunakan Stone Bullet untuk memunculkan batu, menghancurkannya hingga halus, lalu mencampurnya dengan tanah dan air hasil Earth Bullet sebelum menyerahkannya kepada tukang.

Menggunakan material hasil sihir sangat praktis karena tidak tercampur rumput atau serangga.

Tukang kayu kemudian menambahkan tanah liat, mengaduknya, lalu mengeringkannya.

Setelah dikeringkan selama dua hari, adonan dimasukkan ke cetakan kayu dan dikeringkan kembali. Jika MP-ku masih sisa, aku menggunakan Wind untuk mempercepat proses pengeringan.

Tentu saja kekuatannya harus diperlemah, tapi mengatur output sihir itu ternyata sulit. Aku sempat beberapa kali menerbangkan cetakan kayunya, tapi setelah gagal berulang kali, akhirnya aku bisa meniupkan angin sepoi-sepoi yang pas.

Memang benar, melihat hasil dari kerja keras itu rasanya luar biasa.

Setelah dikeluarkan dari cetakan, batu bata itu harus dibakar, dan tungku yang digunakan sangatlah istimewa.

"Gimana!? Ini adalah tungku dari Mithril yang sudah kupesan sejak lama dari pengrajin Almeria! Tungku Mithril tidak akan berkarat dan sangat tahan panas! Bahkan jika batu batanya habis terbakar, tungku ini tidak akan bergeming sedikit pun!"

Sieg membusungkan dada dengan bangga sambil mengusap bawah hidungnya dengan telunjuk.

Tungku yang dibawa oleh para orang dewasa itu memang terbuat dari Mithril.

Aku belum pernah mencoba tungku lain, tapi melihat benda ini, aku yakin hasilnya akan bagus. Faktanya, setelah batu bata dimasukkan ke dalam tungku Mithril ini, dibakar sesuai instruksi, lalu didinginkan, jadilah batu bata bakar yang sangat kokoh.

Yah, membakarnya butuh teknik khusus karena suhunya harus dinaikkan perlahan. Awalnya aku sulit mengontrol sihir api, sehingga beberapa bata pertama ada yang retak atau kurang kuat dan terpaksa dibuang.

Setelah batu bata jadi, sisanya kuserahkan pada tukang. Bahaya juga kalau aku yang tidak punya ilmu arsitektur nekat membangunnya sendiri.

Namun, setiap ada waktu, aku memperhatikan cara kerja para tukang dengan saksama.

Siapa tahu di masa depan aku harus membangun rumah sendirian. Merasa sudah bekerja keras selama sebulan, aku pun melakukan Appraisal pada diriku sendiri.


[Nama] Mars Bryant

[Gelar] Wind King / Goblin Slayer

[Status Sosial] Manusia / Putra Kedua Keluarga Viscount Bryant

[Kondisi] Sangat Baik

[Usia] 8 Tahun

[Level] 21

[HP] 130 / 130

[MP] 7.996 / 7.996

[Strength] 84

[Agility] 90

[Magic] 132 (+7)

[Dexterity] 115 (+2)

[Endurance] 81

[Luck] 30

[Innate Ability] Talent (Lv MAX)

[Innate Ability] Heaven's Eye (Lv 8)

[Innate Ability] Lightning Magic S (Lv 0 / 20)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv 7 / 17)

[Special Ability] Fire Magic F (Lv 6 / 8) (5→6)

[Special Ability] Water Magic G (Lv 3 / 5)

[Special Ability] Earth Magic G (Lv 4 / 5) (2→4)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv 14 / 19) (13→14)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv 6 / 15)

[Equipment] Mithril Sword, Sylph Dagger, Bracelet of Camouflage


Sihir angin, api, tanah, dan Dexterity semuanya meningkat. Dengan MP hampir 8.000 yang kuhabiskan sampai kering tiga kali sehari—berarti sekitar 24.000 per hari atau lebih dari 700.000 sebulan—wajar saja kalau levelnya naik.

Clarice juga sangat membantu. Saat tidak masuk ke Dungeon, dia turun tangan membantu pekerjaan tukang, bahkan tidak segan mengerjakan bagian yang kotor. Para tukang tentu saja sangat menyukainya.

Dia juga bergabung dalam komunitas Maria dan sudah berteman akrab dengan gadis-gadis sebayanya.

Lalu akhir-akhir ini, aku merasa petualang muda di kota ini bertambah banyak secara drastis.

Mereka juga rajin membantu pekerjaan bangunan saat sedang tidak menjelajah. Mungkin Sieg sengaja mengeluarkan Quest untuk ini. Bahkan penduduk kota juga ikut membantu secara sukarela di waktu senggang mereka.

Ike menghabiskan bulan ini dengan belajar teori saat tidak di Dungeon, sementara Lina terus menempel pada Clarice. Jika Clarice membantu tukang, Lina ikut membantu.

Jika Clarice di dapur bersama Maria, Lina membantu menyiapkan meja. Mandi bersama, tidur pun bersama. Satu-satunya waktu Clarice bebas dari Lina adalah saat dia masuk ke dalam Dungeon.

◆◇◆

"Segera pulang dan lapor kalau terjadi sesuatu, ya."

"Mars! Jaga Clarice baik-baik! Ike, kamu juga tolong awasi mereka berdua!"

"Kakak! Kak Clarice! Hati-hati di jalan!"

Dilepas oleh Sieg, Maria, Lina, serta para petualang dan penduduk, kami meninggalkan Ilgusia. Setelah diguncang kereta selama beberapa jam, kami tiba di Almeria.

"Suasananya agak berubah ya? Gimana ya bilangny—sulit dijelaskan dengan kata-kata."

Begitu sampai, Ike bergumam sambil memandang sekeliling kota. Memang benar, suasananya tidak sehidup saat kami masih tinggal di sini dulu. Meski tidak sepi-sepi amat, suasananya terasa agak aneh. Sambil merasakan keganjilan itu, kami mencari penginapan.

Ilgusia dan Almeria sangat dekat, monster di jalan pun jarang ada. Sebenarnya kami bisa pulang-pergi tiap hari, tapi demi efisiensi Dungeon Attack, kami memutuskan untuk menginap. Kami menyewa dua kamar selama tiga bulan dan berencana pulang ke Ilgusia seminggu sekali (meski di dunia ini tidak ada konsep "minggu").

Pembagian kamarnya adalah: Clarice satu kamar sendiri, sedangkan aku dan Ike satu kamar berdua. Berbeda dengan Kerajaan Zalkum, keamanan di sini cukup baik, dan luka hati Clarice pun sudah pulih. Aku merasa sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi.

Setelah menaruh barang, kami bertiga pergi belanja untuk persiapan masuk ke Dungeon besok.

"Hmm. Meskipun ini kota labirin, ternyata tidak ada barang yang bagus ya..."

Di sampingku, Clarice bergumam pelan sambil merapikan rambut ke belakang telinganya, matanya tertuju pada etalase toko.

"Benar. Sepertinya kita memang harus mencarinya sendiri dari peti harta..."

Saat aku mengalihkan pandangan dari etalase ke tumpukan barang yang diletakkan sembarangan seperti rongsokan, aku menemukan sesuatu yang tak terduga.

"Clarice! Lihat ini!"

Suaraku refleks meninggi.

"Eh!? Ini kan!?"

Clarice ikut terkejut melihat benda yang kuambil.

"Ada apa? Kalau itu perlu, biar Kakak yang bayar."

Ike yang tadi sedang sibuk melihat-lihat pedang dan tombak menghampiri kami. Tapi untuk barang seperti ini, aku ingin membelinya sendiri untuk Clarice.

"Terima kasih, Kak. Tapi biarkan aku saja yang membelinya."

Aku memberikan satu keping perak kepada pemilik toko, lalu memakaikannya ke lengan putih Clarice yang halus tanpa noda. Gelang perak itu secara ajaib berubah ukuran menjadi sangat pas di lengannya.

"Terima kasih. Aku akan menjaganya baik-baik!"

Melihat senyum manis gadis itu saat memakai gelang perak—Bracelet of Camouflage—di lengan kirinya, aku merasa puas dan segera keluar toko untuk menyembunyikan wajahku yang pasti sudah memerah.

"Mars, beri tahu Kakak. Apa sih efek dari gelang kembaran kalian itu?"

Ike yang keluar bersama Clarice bertanya sambil menatap gelang kami berdua.

"Ini namanya Bracelet of Camouflage. Fungsinya untuk memalsukan atau menyembunyikan Stats dan Special Ability yang terlihat saat di-Appraisal. Dengan ini, risiko ketahuan sebagai penyihir suci akan berkurang. Aku sangat menginginkannya, tapi tak menyangka bakal menemukannya di tumpukan rongsokan..."

"Apa itu bisa membuat kita terlihat lebih kuat?"

"Tidak, ini hanya bisa memalsukan status agar terlihat lebih rendah dari aslinya. Kak Ike mau juga?"

"Tidak, kalau begitu Kakak tidak butuh. Status adalah bukti dari hasil usaha sendiri. Kecuali kalian yang punya alasan untuk menyembunyikannya, Kakak lebih suka apa adanya saja."

Ada benarnya juga pemikiran Ike. Menyembunyikan status terkadang malah bisa memicu masalah baru.

Selesai belanja, kami langsung menuju Guild Petualang agar proses masuk ke Dungeon besok berjalan lancar.

Di Ilgusia pun sama, di depan Dungeon biasanya ada staf Guild atau petualang yang berjaga agar anak-anak atau petualang amatir tidak sembarangan masuk.

Sieg sudah menulis surat rekomendasi agar kami mendapat izin dari Ralph, sang Guild Master. Sebenarnya menunjukkan kartu petualang saja harusnya cukup, tapi mungkin Sieg punya maksud lain dengan menyuruh kami memberi salam secara formal.

Begitu pintu dibuka, bau keringat yang menyengat langsung menusuk hidung.

Di dalam penuh dengan orang yang sedang melaporkan penyelesaian Quest atau menyetorkan batu sihir. Rasanya ingin kubiarkan saja pintunya terbuka lebar-lemah. Kami bertiga ikut mengantre di barisan paling belakang.

"Kalian ini... petualang amatir ya?"

Pria yang mengantre di depan kami berbalik dan menyapa.

"Bukan, kami bertiga adalah petualang Peringkat E."

Ike menunjukkan kartu petualang tembaganya.

"Se-sebelas tahun sudah Peringkat E!? Luar biasa. Baru kali ini aku dengar ada yang seperti itu."

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Wakor dan menunjukkan kartu tembaga yang sama dengan kami.

"Hah... tapi repot juga ya kalau jumlah petualang terus berkurang begini."

Wakor menghela napas sambil menggaruk rambutnya yang mulai menipis.

"Petualang berkurang? Kurasa tidak begitu?"

Ike menjawab sambil memandang sekeliling aula Guild. Wakor kembali menggaruk kepalanya. Aduh, kalau digaruk terus nanti habis, lho. Buktinya beberapa helai rambut sudah jatuh berguguran di lantai.

"Yah, karena perubahannya bertahap mungkin kalian tidak sadar. Tapi sejak Sieg-san dan Maria-san pindah ke Ilgusia, orang-orang yang mengagumi mereka ikut bermigrasi. Mereka berdua itu bisa dibilang 'ikon' dari Almeria."

Memang benar, saat membangun rumah di Ilgusia dulu, Sieg bilang banyak orang yang ikut pindah di luar dugaan.

"Lalu ditambah kejadian sekarang. Lihat saja seisi Guild ini. Petualang usia remaja berkurang drastis. Tanpa anak muda, kota jadi kurang semangat, dan kalau tidak ada yang mengerjakan Quest kurir, banyak orang yang bakal kesulitan."

Ike menepukkan tangannya. "Aku juga merasa ada yang aneh sejak masuk kota ini! Benar juga, petualang muda memang sedikit ya!"

"Kan? Kalau petualang pergi, para gadis juga ikut pergi. Apalagi tujuannya Ilgusia, jaraknya masih terjangkau bahkan bagi amatir yang masih tinggal dengan orang tua. Kota ini jadi kehilangan gairahnya. Andai saja Sieg-san mau kembali ke sini."

"Maaf, namaku Mars. Boleh aku bertanya sesuatu? Kenapa para petualang remaja itu pindah ke Ilgusia?"

Karena penasaran, aku mencoba bertanya, dan jawabannya sungguh tak terduga.

"Katanya ada gadis yang luar biasa cantik yang baru pindah ke sana. Begitu ada pemuda yang iseng melihat wajahnya, dia langsung pulang, beres-beres barang, dan pindah ke Ilgusia. Sejak saat itu, para anak muda mulai tertarik pindah. Yah, meskipun gadis cantik itu cuma pemicu sih. Petualang Peringkat E bisa menghasilkan lebih banyak uang di sana, dan kondisi kerja untuk amatir juga lebih baik. Katanya nanti bakal disediakan hunian dengan harga sangat murah. Apalagi fakta bahwa Sieg-san dan Maria-san terkadang menjamu petualang dengan masakan mereka itu nilai plus yang besar."

Ah... Clarice. Ternyata Clarice adalah daya tarik utama yang membuat petualang muda mengalir ke Ilgusia. Orangnya sendiri sepertinya tidak sadar, tapi memang benar petualang muda di sana bertambah banyak.

Saat sedang asyik mengobrol dengan Wakor, tiba-tiba pundakku dicengkeram dari belakang. Suara berat dan kasar menggema di telingaku.

"Kalian bilang petualang Peringkat E, kan? Pedang apa itu? Bukan senjata yang pantas dibawa oleh anak Peringkat E, kan? Kalian mencurinya, atau... yah, terserah. Serahkan padaku. Biar kami yang mengembalikannya pada pemilik aslinya nanti."

Apa-apaan ini?

Secara refleks aku melakukan Appraisal. Orang yang memegang pundakku ini setara dengan petualang Peringkat D.

Matanya tertuju pada Mithril Sword-ku. Rekan setimnya juga tampak mengincar perlengkapan Ike dan Clarice.

"Woi! Kalian! Berhenti—"

Wakor mencoba menengahi, tapi dia langsung didorong hingga jatuh.

Para petualang di sekitar sepertinya juga menganggap perlengkapan kami terlalu mewah untuk ukuran anak-anak, sehingga banyak yang memihak si penindas. Hanya sedikit yang membela kami seperti Wakor.

"Perlengkapan ini kami dapatkan sendiri dari peti harta di dalam Dungeon. Tolong jangan menuduh sembarangan!"

Ike menepis tangan orang itu dari pundakku sambil membantah dengan nada tegas.

"Hah!? Mana mungkin!? Padahal aku ingin menyelesaikannya dengan damai, tapi kau malah menginjak-injak kebaikanku!"

Teriakan melengking itu bergema di dalam Guild.

"Apa yang terjadi di sini!"

Mendengar keributan, Guild Master kota ini, Ralph, terburu-buru turun dari tangga. Tiba-tiba, pria yang tadi sangat arogan itu berubah drastis suaranya menjadi sangat manis dan menjilat di depan Ralph.

"Ralph-san! Dengar, deh. Anak-anak ini..."

Perubahan sikap macam apa ini?

Menjijikkan. Ike pun menghela napas melihat kepura-puraan itu, lalu langsung menyela pembicaraan dan menyapa Ralph.

"Lama tidak bertemu. Saya Ike Bryant, petualang yang dulu mendaftar melalui Ralph-san. Saya datang atas perintah Ayah saya, Sieg, untuk membantu membasmi monster di Dungeon ini. Ini surat dari Ayah."

"Oh! Sudah lama ya. Kamu sudah jadi jauh lebih gagah. Sekarang aku tidak bisa lagi memanggil Sieg tanpa gelar, ya. Bagaimana kabar Viscount Bryant?"

Setelah menerima surat itu, Ralph sengaja memanggil dengan sebutan "Viscount Bryant" agar semua orang di sana sadar siapa identitas kami sebenarnya. Seketika aula Guild menjadi riuh, termasuk Wakor yang kaget setengah mati.

"Iya. Ayah dan Ibu dalam keadaan sehat."

"Hm. Aku sudah dengar dari Marquis Carmel soal pembicaraannya dengan Viscount Bryant. Tidak kusangka kalian yang akan datang, tapi kali ini pun aku mohon bantuannya. Jadi? Kalian ada urusan apa?"

Meski sudah tahu Ike adalah anak Sieg, petualang yang tadi menantang tetap tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Dia terus menggumamkan ketidaksenangan sambil menatap tajam Ike.

"Sepertinya Anda masih belum puas. Besok kami berencana masuk ke Dungeon Almeria. Agar tidak terjadi keributan seperti ini di dalam nanti, bagaimana kalau kita tanding sekarang? Tanpa dendam. Kalau kami kalah, aku akan berikan pedang Mars ini pada Anda. Bagaimana?"

Sepertinya Ike sudah mengukur kekuatan lawan saat menepis tangannya tadi, sehingga dia berani menantang petualang tersebut.

"Boleh juga! Jangan lupakan kata-katamu tadi, ya!? Aku ini petualang Peringkat D, lho! Ralph-san, Anda dengar sendiri kan apa yang dia katakan tadi!?"

Ralph menatap Ike dengan wajah sedikit cemas, tapi Ike hanya mengangguk mantap.

"...Baiklah. Kita lakukan di luar. Tapi aku yang akan menentukan senjatanya. Setuju?"

Setelah keduanya mengangguk, Ralph memimpin kami keluar diikuti oleh hampir semua orang di Guild, hanya menyisakan beberapa staf minimal.

"Anu, Ike-san... apa tidak apa-apa?"

"Tenang saja. Kalau Kak Ike yang maju, tidak ada masalah. Bahkan kalau harus melawan seluruh tim mereka pun dia pasti menang."

Clarice yang tadinya terlihat sangat cemas akhirnya mulai sedikit tenang.

"Nasibmu malang juga ya, Nak. Pedangmu dijadikan taruhan dan sebentar lagi kau akan kehilangannya."

Tiba di tempat latihan di belakang Guild, petualang itu memprovokasiku dengan seringai lebar.

"Tidak, Kakakku tidak akan kalah."

"Kakak? Jadi kau adiknya? Kau juga Peringkat E?"

Oh, ternyata dia belum tahu soal aku. Aku ragu apakah harus memperkenalkan diri, tapi dia tetaplah orang yang lebih tua.

"Iya. Namaku Mars. Mars Bryant. Usiaku delapan tahun."

"Hah!? Delapan tahun!? Ralph-san! Meskipun dia anak Sieg-sama, memberikan Peringkat E pada anak delapan tahun itu keterlaluan. Sieg-sama juga keterlaluan memberikan pedang seperti itu pada anak kecil. Tapi karena ini tantangan dari kakaknya, jangan salahkan aku ya kalau kau kehilangan pedangmu."

Mendengar dia menghina bukan hanya aku tapi juga Sieg, aku mulai merasa geram. Seolah mengerti perasaanku, Ike memberikan kesempatan padaku.

"Mars. Kalau kamu yang mau maju, Kakak izinkan."

"Iya! Aku yang akan melakukannya!"

Begitu aku menjawab dengan cepat, petualang itu langsung murka karena merasa diremehkan.

"Jangan bercanda! Kubilang sekali lagi, aku ini petualang Peringkat D!"

Ralph menatapku dengan cemas, tapi aku menatap balik dan mengangguk mantap. Dia menghela napas panjang seolah membuang keraguan, lalu berteriak lantang.

"Baiklah! Lawannya adalah Mars! Senjatanya adalah pedang latihan ini! Bilahnya sudah tumpul jadi tidak akan memotong, tapi tetap bisa menyebabkan luka serius jika terkena dengan keras! Mulai!"

Bersamaan dengan aba-aba, petualang itu menjulurkan lidah untuk mengejekku, tertawa sambil mengayunkan pedang tumpulnya ke arahku.

Menghadapi serangan yang meremehkan itu, aku mengaktifkan Sylphid Enclosure. Aku membalas dengan ayunan pedang tumpul dari bawah ke atas dengan tenaga penuh. Bayanganku adalah teknik pedang keras milik Cyrus!

Dengan Strength dan Agility yang hampir dua kali lipat darinya ditambah dorongan Sylphid Enclosure, pedang petualang itu langsung terpental tinggi ke langit.

"Berikutnya aku akan serius. Tolong tunjukkan padaku kekuatan petualang Peringkat D."

Dosanya yang telah menghina Sieg tidak akan kumaafkan begitu saja. Mungkin aku bisa menuntutnya atas penghinaan bangsawan, tapi itu tidak akan memuaskan hatiku.

"Cih! Tadi aku cuma menahan diri, jangan besar kepala!"

Meski berkata begitu, sepertinya tangannya mati rasa akibat benturan tadi. Dia beberapa kali gagal memungut kembali pedangnya yang jatuh.

Setelah akhirnya bisa menggenggam pedang, dia berteriak seperti binatang dan menyerang dengan membabi buta. Aku memang menunggu serangan yang benar-benar serius ini.

Aku menjatuhkan pedang latihanku ke tanah dan mengaktifkan Vision. Aku menghindari pedangnya dengan mudah, lalu tepat saat bilah pedangnya lewat di dekatku, aku merapalkan sihir tanpa menyentuh pedangnya.

(Wind Cutter!)

Wind Cutter membelah pedang itu menjadi dua bagian yang sempurna.

"—A-apa... yang terjadi?"

Hampir semua orang di sini pasti tidak menyadari bahwa aku baru saja menggunakan sihir. Kekuatan yang tak kasat mata. Aku sengaja menunggu serangan terkuatnya agar bisa menunjukkan perbedaan kekuatan yang mutlak sehingga dia tidak punya nyali lagi untuk melawan.

"Mau lanjut?"

Begitu pedangnya terbelah, mental petualang itu hancur total. Dia jatuh terduduk lemas dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Jika masih ada yang belum puas, bagaimana kalau kita coba sekarang? Tentu saja secukupnya agar tidak saling melukai."

Kupikir tidak akan ada yang berani maju, tapi tak disangka ada tangan yang terangkat.

"Mars-kun... tidak, Mars-sama. Maukah Anda bertanding denganku sekali saja? Aku tahu aku tidak akan menang, tapi sebagai petualang aku merasa sangat penasaran."

Yang menyapa dengan sopan adalah Wakor, orang yang tadi mengobrol dengan kami.

"Tentu, mari kita lakukan. Tapi panggil saja aku Mars."

Keberanian Wakor memicu petualang lain untuk ikut serta. Satu per satu mereka mengangkat tangan ingin bertanding. Di antara mereka ada pengguna pedang dengan gaya unik, yang memberiku rangsangan latihan yang bagus.

Ike dan Clarice pun ikut bergabung. Kami bertukar serangan dengan para petualang Almeria hingga matahari terbenam. Setelah itu, kami pergi ke kedai dan semakin akrab melalui pesta perjamuan kecil.

◆◇◆

—Keesokan harinya.

"Baiklah, hari ini saatnya Dungeon Attack!"

Ike berseru dengan semangat sambil menyantap sarapan di ruang makan penginapan.

"Kak Ike? Boleh aku bertanya? Kemarin di acara perjamuan, sepertinya Kakak gencar sekali mempromosikan Ilgusia. Apa itu perintah dari Ayah?"

Habisnya, kemarin Ike terus-menerus bilang "Senjata ini didapat di Dungeon Ilgusia" atau "Hunian di Ilgusia itu pakai batu bata mewah seperti rumah bangsawan Almeria". Hampir setiap dua kalimat sekali dia menyebut kata Ilgusia. Mungkin alasan Sieg menyuruh memberikan surat pada Ralph secara langsung adalah agar Ike bisa melakukan promosi secara halus meskipun tidak ada keributan seperti kemarin.

Benar saja, Ike hanya tersenyum kecut sambil mengangguk.

Orang-orang yang kemarin mendengarkan cerita Ike dengan antusias pasti pagi ini sudah berangkat ke Ilgusia. Ini akan membuat petualang Almeria semakin berkurang, tapi mau bagaimana lagi.

Yah, kalau mereka sudah kuat, mereka pasti akan kembali ke sini. Selama bisa melewati masa sulit ini, bagi Almeria pun ini bukan hal yang buruk... asalkan mereka benar-benar kembali nanti.

"Tapi informasi yang kita dapat kemarin sangat berguna ya. Kalau kita tidak tahu soal jebakan yang bertambah banyak di Lantai Satu, itu bisa berbahaya. Apalagi monster dari Lantai Dua sekarang juga muncul di Lantai Satu..."

Benar kata Clarice. Kami mendapat info bahwa jumlah jebakan meningkat dan monster kuat sekarang berkeliaran di Lantai Satu.

Monster kuat itu biasanya berada di dekat ruangan menuju Lantai Dua, dan ada aturan tidak tertulis bagi para petualang untuk tidak mendekati ruangan itu. Katanya dalam beberapa tahun terakhir sudah tidak ada lagi yang turun sampai ke Lantai Dua.

Selain itu, informasi paling berharga adalah fakta bahwa menggunakan sihir api di dalam Dungeon ini diperbolehkan. Tergantung skala sihirnya, tapi setidaknya sihir api Ike tidak akan dibatasi.

Sejak menjelajah di Ilgusia, aku selalu penasaran apakah sihir api boleh digunakan di dalam labirin.

Awalnya aku membakar monster hanya untuk mengambil batu sihirnya saja. Mungkin nanti aku akan mencoba menggunakan Fire Storm.

Mengenai situasi politik Kerajaan Balcus, mereka juga menceritakannya, tapi saat ini itu belum terlalu penting bagi kami.

Keuntungan terbesar dari perjamuan kemarin mungkin adalah kami tidak perlu terlalu khawatir soal serangan dari belakang oleh petualang lain. Katanya konflik antar petualang di dalam labirin itu hal yang lumrah.

Berdasarkan informasi kemarin, kami menentukan pembagian tugas. Aku akan menjadi scout (pengintai). Aku bertugas mendeteksi jebakan di labirin menggunakan Heaven's Eye.

Aku penasaran apakah Heaven's Eye bisa mendeteksi jebakan lantai?

Mengingat skill itu bisa mendeteksi jebakan peti harta, kurasa seharusnya bisa, meski aku sedikit cemas.

Selesai makan dan bersiap, kami menuju Dungeon Almeria. Di depan pintu masuk, terlihat staf Guild dan para petualang yang kemarin sudah berteman dengan kami. Setelah berbincang singkat, kami masuk ke dalam labirin tanpa perlu menunjukkan kartu petualang lagi.

◆◇◆

Lorong dan ruangan di Dungeon Almeria ini cukup luas. Begitu sampai di ruangan pertama, kami melihat ada kelompok petualang yang sedang bertarung. Kami memperhatikan dari ambang pintu.

Kelompok yang terdiri dari enam orang itu sedang melawan tiga ekor Silver Bat—monster tipe burung dengan Threat Level D.

Tampaknya mereka sudah membunuh beberapa karena mayat Silver Bat terlihat berserakan, namun keenam petualang itu sudah mengalami luka parah hingga hampir tidak bisa berdiri tegak.

"Cih, hari ini pun kita harus mundur dari ruangan pertama ya... Tinggal tiga lagi! Berjuanglah!"

Pria yang tampaknya sang pemimpin mencoba menyemangati kelompoknya. Setelah sepuluh menit, akhirnya mereka berhasil membunuh Silver Bat tersebut, lalu dengan lunglai mengambil batu sihirnya.

Sambil saling memapah, mereka berjalan ke arah pintu keluar di mana kami berdiri. Kelompok itu menyadari kehadiran kami dan menyapa.

"Apa jangan-jangan... kalian anak-anak yang kemarin mengalahkan petualang Almeria itu?"

"Mereka hanya sengaja mengalah untuk kami, kok."

"Yah, sesuai rumornya ya. Berjuanglah. Monster di sini semakin banyak, sulit sekali untuk mencapai bagian dalam Lantai Satu. Hati-hati karena monster Lantai Dua juga sering muncul. Kami titip sisanya pada kalian."

Kelompok itu melewati kami dan tertatih menuju jalan keluar. Clarice yang tidak tega melihat kondisi mereka memberikan beberapa Potion pemulihan.

Mereka berulang kali menunduk berterima kasih. Bagi Clarice, sebenarnya dia ingin langsung merapalkan Heal, tapi jika ketahuan dia bisa menggunakan sihir suci, ada kemungkinan kami tidak bisa tinggal di Almeria lagi. Setidaknya Potion adalah jalan tengahnya.

"Mars, seberapa kuat monster tadi?"

"Threat Level D. Setara dengan Goblin General, tapi statusnya lebih rendah. Hanya saja mereka bisa terbang jadi agak merepotkan. Tapi dengan Magic Arrow Clarice, kurasa tidak ada masalah."

Ike mengangguk puas mendengar jawabanku, lalu memberikan peringatan.

"Di Ilgusia, kekuatan ini mungkin setara Lantai Tiga. Bagi Mars mungkin mudah, tapi jangan lengah ya."

Melewati ruangan itu dan berjalan di lorong besar, kami bertemu dengan tiga Silver Bat lagi. Clarice langsung menembak jatuh mereka dengan Magic Arrow.

Mereka memang merepotkan saat terbang, tapi begitu sayapnya patah, mereka hanyalah burung berisik. Setelah jatuh ke tanah, anak kecil biasa pun bisa mengalahkannya.

Petualang tadi kesulitan karena mereka hanya bisa memberi damage saat monster itu menyerang mendekat.

Tanpa penyihir atau pemanah dalam tim, pertarungan itu akan sangat menyiksa.

Mungkin ada yang berpikir "Kenapa tidak mengajak penyihir saja?", tapi pengguna sihir itu jumlahnya terbatas, dan harga anak panah ternyata jauh lebih mahal dari dugaan, tidak semudah itu didapatkan.

Setelah menghabisi Silver Bat tanpa kesulitan berarti, aku menyadari satu hal. Bagaimana dengan batu sihirnya?

Kami berencana menghabisi monster sebanyak-banyaknya, tidak akan sempat kalau harus mengumpulkan batu sihir satu per satu.

Untuk hari ini, kami memutuskan mengambil seperlunya, dan jika sudah tidak terbawa, kami akan meninggalkannya di ruangan yang aman lalu mengambilnya saat jalan pulang.

Begitu ruangan berikutnya terlihat, Heaven's Eye langsung mendeteksi jebakan. Banyaknya jebakan berbahaya yang tersembunyi dengan cerdik menunjukkan betapa tingginya tingkat kesulitan Dungeon Almeria ini.

Jebakan itu berupa gas beracun. Sebenarnya aku ingin mengetes apakah jebakan itu hilang setelah diinjak sekali, seberapa luas jangkauannya, atau apakah bisa dihindari dengan berlari cepat, tapi aku terlalu takut.

Aku memberitahu keduanya dan kami lanjut bergerak sambil menghindari jebakan.

Di sepanjang jalan kami sering bertemu petualang lain. Mereka biasanya duduk beristirahat di lorong dalam kelompok besar, menunggu luka mereka pulih.

 Lorong memiliki tingkat kemunculan monster yang lebih rendah dibanding ruangan, itulah sebabnya mereka beristirahat di sana.

Kupikir daripada istirahat bersama di lorong dan sesekali melawan monster yang muncul, kenapa mereka tidak masuk ke ruangan dan bertarung bersama saja?

Ternyata alasannya adalah jika peti harta muncul di dalam ruangan, sering kali terjadi pertikaian antar petualang. Maka dari itu, tidak masuk ke ruangan kelompok lain sudah menjadi etika yang umum.

Yah, masuk akal sih, di dalam satu tim saja bisa bertengkar karena harta, apalagi dengan tim lain.

Setiap kali melihat ada yang luka parah, Clarice memberikan Potion. Awalnya Clarice memberikannya atas inisiatif sendiri, tapi Ike yang melihat itu segera mengambil alih dan menginstruksikan Clarice untuk membagikan Potion pada petualang yang terluka.

Yah, dia adalah maskot kami. Para petualang pasti merasa lebih baik jika diberi obat oleh gadis cantik.

Jika Clarice bilang dia biasanya tinggal di Ilgusia, mungkin mereka yang tertarik akan pindah ke sana dalam beberapa tahun ke depan.

Sambil melakukan hal itu, penjelajahan kami berlangsung lancar. Semakin dalam kami masuk, keberadaan petualang lain mulai menghilang.

Memang sangat berat jika harus beristirahat setelah setiap pertempuran untuk menyelam ke bagian dalam.

Aku semakin menyadari betapa hebatnya sihir suci, dan meskipun aku tidak membenarkan cara paksa para bajingan yang menculik penyihir suci, sekarang aku bisa memahami jalan pikiran mereka.

"Woi... apa kalian sampai ke sini tanpa luka sedikit pun?"

Petualang yang kemarin sempat bermasalah dengan kami menyapa dengan wajah tak percaya. Kondisi mereka jauh lebih parah dibanding petualang yang kami temui sebelumnya. Ada yang HP-nya tinggal satu digit dan hampir mati jika tidak segera diobati.

"Kalian tidak apa-apa!?"

Tanpa menjawab pertanyaan mereka, Ike langsung berlari mendekat. Pemimpin mereka mencoba mengatakan sesuatu dengan wajah masam, tapi Clarice lebih cepat membagikan Potion pada mereka.

"Cepat gunakan ini!"

Para petualang itu terpaku melihat tindakan Clarice.

"Cepat! Tolong selamatkan teman-teman kalian yang berharga! Cepat!"

Mendengar teriakan Clarice, pemimpin mereka tersadar.

"Maaf... maafkan kami..."

Dia berulang kali meminta maaf sambil menerima Potion dari Clarice.

"Mars, kurasa sudah waktunya kita pulang. Bagaimana jika kalian pulang bersama kami?" tanya Ike.

"A-apa boleh?"

"Tentu, kejadian kemarin sudah kalian tebus dengan permintaan maaf tadi."

Saat Ike menggendong orang yang lukanya paling parah, para petualang itu semakin terkejut.

"W-woi... nanti bajumu kena darah, lho?"

"Tentu saja kena, kan dia sedang terluka. Daripada mengkhawatirkan itu, lebih baik Anda bantu memapah yang lain kalau masih sanggup bicara. Mars, Clarice, bisa minta tolong urus monsternya?"

""Siap!""

Aku dan Clarice memimpin di depan, menyusuri jalan yang baru saja kami lalui.

"Kalian tidak berniat menyerjang ruangan yang penuh monster begitu saja, kan? Maaf, tapi kami belum bisa bertarung. Butuh beberapa jam lagi sampai kami bisa bergerak..."

Meski mereka bertanya dengan sikap rendah hati, Ike menjawab dengan nada seolah itu hal yang lumrah.

"Ya, kita akan langsung menerobos. Serahkan urusan pertempuran pada Mars dan Clarice, semuanya akan baik-baik saja."

Mendengar rasa percaya diri Ike yang mutlak, para petualang itu terdiam dan mulai memapah rekan mereka masuk ke ruangan yang sudah ditunggu monster.

Clarice menembak jatuh musuh yang terbang, sementara sisanya kuhabisi sendiri. Jika tidak ada mereka, aku mungkin akan menerima sedikit damage lalu menyembuhkannya dengan Heal, tapi aku sungkan menggunakannya di depan petualang asing.

Jadi, aku menghabisi mereka dengan Wind Cutter sebelum mereka sempat mendekat. Para petualang itu sampai berhenti melangkah dan mengerjapkan mata tak percaya.

"A-apa-apaan ini!? Apa aku sedang bermimpi buruk!?"

"Tuh, kan? Sudah kubilang serahkan saja pada Mars dan Clarice. Ayo cepat jalan."

Matahari sudah terbenam saat kami selesai mengantar para korban luka sampai ke penginapan tempat mereka tinggal.

"Benar-benar terima kasih untuk segalanya. Aku Davis, pemimpin kelompok Yellow Blade. Ini ada sedikit tanda terima kasih. Sekali lagi, maaf atas kekasaran kami kemarin."

Davis menunduk dalam sambil menyerahkan keping emas ke tangan Ike, lalu masuk ke dalam penginapannya.

"Jadi, bagaimana soal batu sihirnya?" tanya Ike saat kami sedang makan malam di ruang makan penginapan. Akhirnya hari ini kami pulang tanpa membawa batu sihir yang sudah dikumpulkan. Yah, karena kejadian dengan Yellow Blade tadi jadi tidak sempat.

"Bagaimana kalau Ike-san dan Mars yang bertarung, lalu aku yang membawanya?" usul Clarice setelah terdiam sejenak.

"Jangan. Daripada Clarice yang bawa, lebih baik aku saja. Aku masih bisa mengalahkan monster dengan Wind Cutter sambil membawa barang, kok."

"Benar. Dan jika Clarice tidak bisa memberi bantuan dengan Magic Arrow, itu akan menjadi kerugian taktik yang besar. Lalu Clarice... kurasa sudah saatnya kamu memanggilku Ike, atau Kakak saja."

Di sini pun strategi "mengepung dari luar" milik keluarga Bryant dijalankan.

"—Eh!? Ah... baiklah... kalau begitu... Kakak..."

Wajah Clarice memerah karena terkejut, matanya sedikit berkaca-kaca karena malu. Akhirnya, karena diskusi kami bertiga tidak membuahkan hasil, kami memutuskan untuk kembali ke Ilgusia besok dan berkonsultasi dengan Sieg.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close