NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 9

Chapter 9

Kepulangan


Sudah lebih dari sepuluh hari berlalu sejak kami meninggalkan Bismarck.

Perjalanan menuju Ilgusia berlangsung sangat lancar. Berkat kehadiran Ike dan Sieg, aku maupun Clarice tidak perlu lagi mencemaskan soal MP, dan itu adalah faktor yang sangat besar.

Clarice terus-menerus merapalkan Heal pada kuda kami, dan saat MP miliknya mulai menipis, aku segera menggantikannya. Setelah MP Clarice pulih, giliranku yang menghabiskan seluruh MP lalu bertukar peran lagi dengannya.

Dengan mengulang siklus ini, kami mampu memacu kuda untuk terus berlari selama lebih dari sepuluh jam.

Dan sekarang, setelah melewati Almeria, kami sudah hampir sampai di Ilgusia.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore lewat, tapi daerah ini sudah seperti halaman rumah bagi kami. Karena tidak terlalu berbahaya, kami memutuskan untuk terus memacu kuda hingga mencapai Ilgusia.

Kami berempat melakukan konfirmasi terakhir sebelum memasuki kota.

"Clarice, setelah sampai di Ilgusia, aku ingin kamu sebisa mungkin menyembunyikan kemampuan sihir suci milikmu dari siapa pun, kecuali anggota keluarga Bryant atau orang-orang terdekat kami. Bisa dimengerti?"

Sieg mengonfirmasi hal itu kepada Clarice.

"Baik. Saya memang berniat melakukan hal itu."

"Lalu, aku ingin kamu tinggal bersama kami di kediaman Bryant. Secara pribadi, aku ingin menyambutmu sebagai anggota keluarga baru. Selain Mars, aku sudah memberitahu yang lain dan mereka semua setuju. Bagaimana?"

"Te-terima kasih banyak. Mohon bantuannya."

"Ayah, terima kasih."

"Baiklah, detailnya akan kita bicarakan lagi setelah sampai di rumah. Lihat, Ilgusia sudah kelihatan!"

Ilgusia yang sudah lama tidak kulihat tampak sedikit berubah. Jumlah batu sihir yang menerangi kota telah meningkat secara drastis.

"Luar biasa, banyak sekali lampu batu sihirnya... Kalau begini, kita bisa berjalan-jalan di luar saat malam hari dengan tenang, ya."

Clarice pun mengeluarkan suara kekaguman melihat cahaya fantastis yang dihasilkan oleh batu-batu sihir tersebut.

"Ini semua dipasang atas perintah Ayah dan Ibu kepada para petualang serta penduduk agar mereka tetap bisa mencarimu meski di malam hari, Mars. Tentu saja, aku juga ikut membantu memasangnya."

Ternyata aku sudah membuat keluargaku sangat khawatir. Aku harus membalas budi mereka dengan menjadi anak yang berbakti.

Dengan tekad baru di dalam dada, kami melewati gerbang kota Ilgusia. Di sana, Maria, Lina, anggota Blue Fang, serta para petualang dan penduduk Ilgusia sudah berkumpul untuk menyambut kami.

"""Mars! Selamat datang kembali!!!"""

Begitu mereka melihatku dalam keadaan sehat, perhatian semua orang langsung beralih dariku menuju Clarice.

Terutama di Ilgusia, karena tingkat kesulitan labirinnya, banyak petualang Peringkat E yang baru saja naik dari Peringkat G atau F. Para petualang Peringkat E ini rata-rata berusia lima belas tahun.

Karena itu, Clarice yang terlihat sedikit lebih muda dari mereka langsung mencuri pandangan... bahkan hati para pemuda yang sedang dalam masa puber tersebut.

Clarice, yang kini menjadi pusat perhatian semua orang, mengikuti di belakangku dengan raut wajah yang tampak sungkan.

Sesampainya di rumah, pesta besar pun digelar. Beberapa petualang dan penduduk juga diundang, dan seperti biasa, tatapan serta rasa penasaran mereka semua tertuju pada Clarice.

Karena aku sudah mendengar soal rencana pesta ini dari Sieg sebelumnya, aku meminta izin untuk berbicara terlebih dahulu. Sieg pun mempersilakanku memberikan sapaan sebelum dirinya.

"Semuanya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah merepotkan kalian semua atas kejadian yang menimpa saya. Karena sepertinya banyak yang penasaran dan terkejut dengan gadis yang datang bersama saya, izinkan saya memperkenalkannya. Clarice, kemarilah."

Aku memanggil Clarice yang sedang berbincang dengan Maria untuk mendekat.

"Ini adalah Clarice Lampard-san. Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku, jadi aku mohon bantuan kalian semua untuk menyambutnya dengan baik."

Begitu aku memperkenalkannya, Clarice kembali menunjukkan gestur yang sama seperti waktu itu; mengangkat sedikit ujung roknya, menarik kaki kirinya ke belakang, dan menekuk lutut kanannya dengan anggun.




"Semuanya, salam kenal. Saya Clarice Lampard, baru saja diperkenalkan oleh Mars. Suatu kehormatan bagi saya karena diizinkan tinggal dan dirawat di kediaman Bryant. Saya sadar masih banyak kekurangan, jadi mohon bimbingan dan bantuannya."

Clarice tampak sangat tegang. Kalimatnya terdengar formal seperti sapaan orang kantoran, membuatku sedikit menahan tawa.

Di antara para tamu pesta, ada yang terkagum-kagum melihat tata krama dan cara bicaranya yang luar biasa. Namun, para petualang muda justru terlihat tertunduk lesu.

"Soal Clarice, mungkin akan kita bicarakan lagi di lain hari. Hari ini adalah perayaan kembalinya Mars dan pesta sambutan untuk Clarice. Semuanya, lepaskan beban pikiran dan bersenang-senanglah! Merdeka! Cheers!"

Begitu Sieg memberikan komando untuk bersulang, para petualang muda itu langsung menenggak alkohol dengan rakus seolah sedang melampiaskan kekesalan, bahkan ada yang mulai menangis.

◆◇◆

—Keesokan harinya.

Sieg mengumpulkan seluruh anggota keluarga Bryant dan juga Clarice untuk memulai rapat keluarga.

"Mars, Clarice, maaf mengganggu waktu istirahat kalian setelah perjalanan jauh. Kita akan menentukan rencana kita ke depan."

Suasana seketika berubah menjadi serius mendengar ucapan Sieg.

Ngomong-ngomong, Lina sedang duduk di pangkuan Clarice. Tampaknya mereka sudah sangat akrab hanya dalam satu hari. Katanya, semalam Lina bahkan tidur satu ranjang dengan Clarice.

"Pertama, Ike. Aku ingin kamu mengincar pendaftaran di Sekolah Nasional Lister bulan Januari tahun depan. Ujiannya dimulai bulan Desember tahun ini. Mengerti?"

Mendengar itu, aku dan Clarice spontan saling pandang. Sekolah Nasional Lister!? Itu kan sekolah yang disarankan oleh Sasha dan Cyrus! Kenapa tiba-tiba nama sekolah itu keluar dari mulut Sieg?

Entah karena sudah menduganya atau memang sudah diberitahu sebelumnya, Ike menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Baik, Ayah. Saya pasti akan lulus ke Sekolah Nasional Lister yang dikenal sebagai sekolah tersulit di benua ini."

Selanjutnya, Sieg mengalihkan pandangannya padaku.

"Mars, aku ingin kamu membantu pengadaan material untuk kompleks perumahan skala besar tempat para petualang menetap! Spesifiknya, aku butuh batu bata! Waktunya satu bulan! Kamu mau membantu, kan?"

Batu bata? Kalau untuk tempat tinggal, berarti butuh batu bata bakar yang kokoh, kan? Seingatku, aku pernah melihat beberapa rumah mewah dari batu bata di Almeria... tapi bukankah membuatnya itu sulit?

"Aku mengerti. Tapi, aku tidak tahu cara membuat batu bata?"

"Ah, soal itu jangan khawatir. Seperti yang kamu tahu, sebagian besar orang di Ilgusia adalah pindahan dari Almeria. Aku sudah bicara dengan tukang kayu soal itu, jadi tenang saja."

Kalau hanya begitu, itu tugas yang mudah bagiku. Lagipula, sepertinya akan berguna untuk masa depan.

"Baik!"

Mendengar jawaban mantapku, Sieg mengangguk puas.

"Untuk Clarice, aku ingin kamu sebisa mungkin terbiasa dengan Ilgusia dalam satu bulan ini. Anggaplah tempat ini sebagai kampung halaman keduamu. Maria, aku titip dia padamu."

Sieg berbicara sambil menatap Maria dan Clarice bergantian.

"Tentu saja. Aku akan melakukan apa pun demi calon putriku."

Keluarga Bryant sepertinya menggunakan taktik "mengepung dari luar" untuk merebut hati Clarice.

Wajah Clarice memerah, tapi dia tampak lega (setidaknya begitu yang terlihat di mataku).

"Terima kasih banyak, Maria-san. Mohon bantuannya."

Begitu Clarice menjawab, Maria dan Lina langsung menimpali.

"Mungkin kamu belum terbiasa, tapi panggil aku 'Ibu' ya."

"Lina juga boleh panggil Clarice-san 'Kakak'?"

Serangan bertubi-tubi dari keluarga Bryant terhadap gadis delapan tahun itu pun dimulai.

"Alasan kenapa aku memberikan batas waktu satu bulan kepada Mars dan Clarice adalah karena sebulan lagi, aku ingin kalian berdua bersama Ike masuk ke Dungeon Almeria. Di sana, kalian harus menaikkan level, mencari perlengkapan, dan jika memungkinkan, mengumpulkan uang."

Aku rasa kami tidak kekurangan uang, tapi kenapa ya?

"Yang akan aku bicarakan sekarang adalah prospek keluarga Bryant ke depan. Aku akan mengincar kenaikan gelar menjadi Count."

Sieg, yang selama ini tidak tertarik pada gelar bangsawan, tiba-tiba ingin naik pangkat!? Namun, Maria dan Ike tidak tampak terkejut. Mungkin Sieg sudah membicarakan ini dengan mereka sebelum aku kembali.

"Untuk itu, uang sangatlah diperlukan. Begitu juga dengan sumber daya manusia. Alasan aku meminta Mars membangun perumahan besar adalah untuk mengamankan sumber daya manusia itu sendiri. Petualang ada yang akan terus menjadi kuat seperti Blue Fang, tapi ada juga yang sudah melewati masa jaya dan menyerah bertarung di garis depan. Petualang-petualang seperti itu terkadang menjadi bandit atau jatuh menjadi budak demi bertahan hidup. Karena itu, aku ingin mempekerjakan mereka sebagai korps keamanan kota ini. Jika aku berhasil naik menjadi Count, aku berniat menjadikan mereka anggota ksatria atau instruktur pelatih!"

Sieg melanjutkan penjelasannya dengan lebih bersemangat.

"Semua anggota Blue Fang setuju dengan pendapatku dan memutuskan untuk menetap di kota ini. Selain itu, Red Wing yang punya prospek sebagus Blue Fang juga sudah setuju. Ike pasti akrab dengan mereka. Mereka adalah kelompok Peringkat C yang seluruh anggotanya petualang Peringkat D. Aku ingin mempekerjakan Blue Fang, Red Wing, dan satu kelompok lagi untuk mengawasi Dungeon Ilgusia secara konstan. Tentu saja, aku dan Maria juga akan masuk ke Dungeon Ilgusia. Di masa depan, aku berharap bisa membentuk setidaknya tiga korps ksatria. Yah, kira-kira begitulah rencananya. Ada pertanyaan?"

Karena Sieg bertanya, aku langsung mengajukan pertanyaan yang mengganjal.

"Kenapa tiba-tiba Kak Ike harus mengincar Sekolah Nasional Lister? Dan sekolah macam apa itu?"

"Ah. Sebenarnya aku pun baru tahu soal Sekolah Nasional Lister belum lama ini. Ingat surat yang kamu kirimkan sebelum meninggalkan Granzam? Di sana terlampir surat dari Lord Beetle. Beliau sangat menyarankan agar Mars dan Clarice yang berbakat belajar di Sekolah Nasional Lister."

Count Beetle yang menyarankannya?

"Sejak saat itulah aku menyelidiki tentang sekolah itu. Di sana, anak-anak berbakat pilihan dari berbagai negara dididik oleh guru-guru kelas satu. Bukan mimpi lagi bagi lulusannya untuk menjadi petualang Peringkat A atau melayani bangsawan agung di Federasi Lister."

Jadi sekolah itu sangat berharga sampai-sampai Sieg rela mengirim penerus keluarga Bryant ke luar negeri. Yah, menghabiskan hari-hari dengan bersaing bersama teman sebaya yang jenius pasti akan memberikan stimulasi yang luar biasa.

Saat aku mulai paham, Sieg menambahkan penjelasannya.

"Sebenarnya aku juga berkonsultasi dengan Marquis Carmel. Beliau bilang, dulu ada dua anaknya yang sangat jenius mencoba ujian masuk Sekolah Nasional Lister, tapi hasilnya gagal. Bahkan mereka tidak diizinkan mengikuti tes dengan layak. Begitu masuk ke gerbang utama dan berjalan sebentar, mereka hanya diberi beberapa lembar kertas lalu langsung dinyatakan tidak lulus. Tahun ini cucunya juga mencoba, tapi tetap saja gagal."

Eh? Dinyatakan tidak lulus hanya dengan diberi kertas tanpa ujian? Bukankah itu aneh? Kalau begitu kan mereka tidak tahu kenapa mereka gagal?

Rasa penasaran bertambah, tapi Sieg pun tidak tahu alasan kegagalan mereka. Yah, mana mungkin seorang kakek atau ayah bertanya "Kenapa anak saya gagal?" setelah kalah dalam ujian masuk sekolah sehebat itu.

Aku juga penasaran kenapa dia mengincar gelar Count, tapi orang kantoran pun mengincar promosi, dan petualang pun mengincar peringkat yang lebih tinggi. Meski terkejut dengan deklarasi mendadak Sieg, kupikir-pikir itu adalah hal yang wajar, jadi aku memilih untuk diam.

"Baiklah, jika tidak ada pertanyaan lagi, aku mengandalkan kalian mulai besok. Besok, aku, Maria, Ike, Mars, dan Clarice akan menuju ruang bos. Aku sudah melihat kekuatan Clarice di Rimulgard, tapi tunjukkan juga sihir suci dan sihir lainnya padaku!"

◆◇◆

—Keesokan harinya.

Kami berlima menuju ruang bos di Dungeon Ilgusia.

Kesimpulannya, mereka bisa bertarung dengan leluasa meski tanpa bantuanku. Ternyata serangan Magic Arrow Clarice dari lini belakang sangat efektif. Konsumsi MP-nya kecil tapi damagenya besar.

Begitu Goblin General terluka, Ike tinggal menusuknya sekali dengan tombak dari jarak jauh, dan monster itu langsung berubah menjadi batu sihir atau setidaknya lumpuh.

Sieg dan Maria hanya turun tangan saat melawan Goblin King dan Goblin Lord. Namun, sejauh yang kulihat dengan Vision, Ike dan Clarice saja sebenarnya sudah cukup.

Sambil memperhatikan mereka bertarung, aku sendiri berlatih sihir tanah. Aku ingin menaikkan levelku sedikit saja agar bisa membuat batu bata dengan lebih efisien.

Setelah beberapa kali masuk bersama, Sieg mungkin merasa sudah aman, sehingga mereka berempat mulai lebih sering masuk tanpa aku.

Lagipula Clarice masih punya kartu as yaitu sihir penghalang. Ike dan Sieg sudah pernah melihatnya sekali, tapi situasinya belum pernah seberbahaya itu sampai harus menggunakannya dalam pertarungan sungguhan.

Selama itu pula, aku terus memproses pembangunan kompleks perumahan.

—Dan satu bulan pun berlalu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close