NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Sihir Pertama


Keesokan harinya, Zeke pulang dengan membawakan Grimoire sihir angin tingkat pemula dan Grimoire sihir api tingkat pemula.

Tampaknya Grimoire sihir suci sangatlah langka, sehingga tidak ada satu pun yang dijual di toko.

Selain itu, Grimoire adalah barang yang sangat mahal. Bahkan jika ada yang menjual sihir suci pun, harganya pasti sudah di luar jangkauan mereka.

Satu buku sihir tingkat pemula saja harganya mencapai sepuluh keping koin emas.

Bagi keluarga Baronet biasa, itu adalah harga yang mustahil untuk dibayar, namun untungnya keluarga Bryant "masih" memiliki simpanan uang.

Meski begitu, membeli dua buku tersebut tampaknya membuat keuangan keluarga kami menjadi cukup sesak.

Sebagai gambaran, satu keping koin emas setara dengan seratus ribu yen. Jadi, dua buku itu bernilai sekitar dua juta yen.

Kami pindah ke halaman rumah, lalu masing-masing dari kami mulai berlatih sihir.

Karena tahu betapa besarnya harapan mereka, aku berniat mempelajari sihir angin dengan sekuat tenaga.

Ike pun sepertinya paham betapa berharganya buku itu, dia berusaha sangat keras untuk mempelajari sihir api.

Omong-omong, kemarin Ike juga menguras habis MP-nya saat berlatih sirkulasi sihir, dan secara luar biasa MP maksimalku meningkat 1 poin menjadi 4.

Namun, kami berdua memiliki satu kelemahan. Kami belum bisa membaca tulisan.

Oleh karena itu, Maria menemaniku dan Zeke menemani Ike untuk membacakan isi buku tersebut secara saksama.

Alirkan energi sihir dari Tanden menuju ujung tangan, dan saat energinya sudah terkumpul, rapalkan Wind.

Sedikit demi sedikit, aku merasa mulai menangkap triknya.

Alasannya karena pada awalnya MP-ku sama sekali tidak berkurang, tapi sekarang setiap kali aku merapalkan Wind, MP-ku berkurang 1 poin.

Dan setelah puluhan kali percobaan, hal itu akhirnya terjadi.

"Wind!"

Energi sihir memancar dari tangan kananku dan menciptakan embusan angin yang kencang.




Angin langsung mereda, tapi sihirnya berhasil diaktifkan.

Konsumsi MP-nya adalah 5.

Melihat hal itu, Zeke dan Maria saling berpegangan tangan dengan gembira.

Dari Ike, aku bisa merasakan tekad kuat yang seolah berkata bahwa dia pun tidak mau kalah.

Setelah menguras MP berkali-kali, beberapa hari kemudian Ike pun sudah bisa menggunakan Fire.

◆◇◆

Satu tahun berlalu, kini aku berusia dua tahun dan Ike berusia lima tahun.

Tentu saja aku tidak pernah melewatkan latihan sihir sehari pun.

Bukan hanya latihan sihir, aku juga aktif menggerakkan badan sehingga fisikku terasa lebih kokoh dibanding anak-anak seusiaku.

Selain itu, aku mulai mengayunkan potongan kayu di halaman untuk memperkuat kemampuan pedangku.

Meski masih lebih lemah dari Ike, aku ingin segera mempelajari ilmu pedang secara formal.

Statistikku di usia dua tahun adalah sebagai berikut:


[Name] Mars Bryant

[Title]

[Status] Human / Commoner

[Condition] Healthy

[Age] 2 Tahun

[Level] 1

[HP] 3/3

[MP] 1952/1953

[Strength] 2 (+1)

[Agility] 2 (+1)

[Magic] 10 (+7)

[Dexterity] 3 (+2)

[Endurance] 2 (+1)

[Luck] 30

[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)

[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv3)

[Unique Ability] Lightning Magic S (Lv0/20)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv0/17)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv5/19) (Naik dari 0)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv0/15)


Karena aku terus melatih sihir angin, hanya level Wind Magic-ku saja yang naik.

Di sini aku menemukan penemuan baru, setiap level Wind Magic naik 1 tingkat, status Magic-ku juga naik 1 poin. Mungkin sihir lain pun akan meningkatkan Magic setiap kali levelnya naik.

Aku juga sudah mempelajari sihir lain yang ada di Grimoire angin tingkat pemula, yaitu Air Blade.

Sihir ini bisa dipelajari saat Wind Magic mencapai level 3, mengonsumsi 7 MP, dan menciptakan pedang angin. Sayangnya efisiensinya cukup buruk karena pedang itu langsung menghilang setelah satu ayunan.

Saat aku terlalu asyik mengayunkan Air Blade di halaman, aku kehilangan kendali dan tak sengaja melontarkannya hingga membelah pohon hias kesayangan Maria menjadi dua.

Kelak aku baru tahu kalau itu adalah sihir angin tingkat menengah yang disebut Wind Cutter, tapi saat kejadian itu, seluruh darahku rasanya mendidih karena panik. Jika salah langkah sedikit saja, aku bisa melukai seseorang.

Kejadian itu membuatku memutuskan untuk hanya menggunakan Wind saja saat ingin menguras MP.

Ike juga tumbuh dengan pesat.


[Name] Ike Bryant

[Age] 5 Tahun

[Level] 1

[HP] 6/6

[MP] 40/40

[Strength] 3 (+1)

[Agility] 5 (+3)

[Magic] 2 (+1)

[Dexterity] 3 (+2)

[Endurance] 3 (+1)

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv1/15) (Naik dari 0)

[Special Ability] Spearmanship B (Lv0/17)

[Special Ability] Fire Magic C (Lv1/15) (Naik dari 0)


Setelah menguasai sihir api, Ike lebih fokus berlatih pedang.

Seharusnya aku memeriksa apakah status Magic Ike naik saat level Fire Magic-nya meningkat ke level 1, tapi karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, aku melewatkannya.

Namun, saat level Swordsmanship Ike naik dari 0 ke 1, aku memperhatikannya dengan saksama. Mungkin hanya kebetulan, tapi saat itu nilai Agility dan Dexterity-nya masing-masing naik 1 poin.

Karena Ike sudah berusia lima tahun dan mulai bisa diandalkan, Zeke dan Maria menitipkanku pada Ike sementara mereka pergi menjelajahi Dungeon.

Alasannya adalah belakangan ini monster semakin bertambah banyak, sehingga Count Camel yang menguasai wilayah ini meminta bantuan langsung kepada Zeke dan Maria untuk membasmi monster di Dungeon.

Count Camel sendiri memiliki pasukan ksatria dan penyihir, tapi ksatria mereka lebih fokus pada pertempuran berkuda dan tidak cocok untuk masuk ke Dungeon.

Sedangkan pasukan penyihir mereka jumlahnya sangat sedikit, sehingga mereka tidak bisa mengirim aset berharga tersebut ke dalam Dungeon.

Berikut adalah status milik Zeke dan Maria:


[Name] Zeke Bryant

[Status] Human / Head of Bryant Baronet Family

[Age] 23 Tahun

[Level] 30

[HP] 126/126

[MP] 132/132

[Strength] 35

[Agility] 39

[Magic] 74

[Dexterity] 22

[Endurance] 38

[Luck] 10

[Special Ability] Dagger Arts E (Lv4/11)

[Special Ability] Earth Magic C (Lv9/15)

 

[Name] Maria Bryant

[Status] Human / First Lady of Bryant Baronet Family

[Age] 22 Tahun

[Level] 28

[HP] 102/102

[MP] 120/120

[Strength] 18

[Agility] 32

[Magic] 60

[Dexterity] 64

[Endurance] 17

[Luck] 10

[Special Ability] Dagger Arts E (Lv3/11)

[Special Ability] Water Magic C (Lv9/15)


Keduanya adalah tipe penyihir klasik.

Meski begitu, ternyata MP mereka cukup rendah, ya.

Aku ingin melihat gaya bertarung mereka di dalam Dungeon.

Hari ini pun Zeke dan Maria akan masuk ke Dungeon untuk mengurangi jumlah monster.

Kabarnya mereka hanya pergi ke lantai rendah karena masih memikirkan kami.

Setelah mereka berangkat, aku dan Ike mulai berlatih pedang di halaman seperti biasa.

Bagi orang lain, melihat anak usia dua tahun mengayunkan kayu mungkin tidak terlihat seperti latihan, tapi sebenarnya aku sedang melatih sesuatu secara rahasia.

Yaitu menyelimuti tubuhku dengan elemen angin untuk meningkatkan kemampuan fisik.

Aku sudah mencobanya sejak awal belajar pedang namun belum juga berhasil, tapi aku bukan tipe orang yang menyerah hanya karena gagal.

Aku berniat terus melakukannya minimal selama sepuluh tahun.

Setelah berlatih pedang selama tiga jam, aku makan siang, lalu terus menggunakan sihir angin sampai MP-ku nol kemudian tidur.

Setelah tidur selama tiga jam, aku akan bangun dan berlatih pedang lagi di luar.

Kenapa tiga jam? Karena sepertinya setelah tidur tiga jam, MP-ku akan pulih sepenuhnya. Sebagai perbandingan, Ike, Zeke, dan Maria butuh enam jam untuk pulih total. Seingatku, Tuan Demi-God menjelaskan bahwa kemampuan Natural Talent meningkatkan kecepatan pemulihan MP, jadi ini pasti efeknya.

Sedangkan Ike, dia berlatih pedang di pagi hari dan berlatih tombak di siang hari. Latihan sihir api baru dilakukannya sebelum tidur.

Zeke dan Maria membelikan pedang kayu dan tombak kayu untuk kami berdua. Jadi saat Ike memakai pedang kayu di pagi hari, aku memakai potongan kayu. Lalu saat Ike memakai tombak kayu di siang hari, aku dipinjamkan pedang kayunya.

Saat kami sedang berlatih, Zeke dan Maria pulang dengan wajah yang sangat gembira.

"Hari ini kami dapat dua barang bagus. Akan Ayah perlihatkan setelah makan, jadi kalian cepatlah mandi."

Ujar Zeke dengan nada bicara yang cepat.

"Iya, aku mengerti!"

Ike menjawab, lalu aku mengangguk dan mengikuti di belakangnya.

Setelah makan malam selesai, Zeke mengeluarkan sebuah pedang dari tas ransel yang selalu dibawanya ke Dungeon.

Sarung pedangnya tidak mewah tapi memiliki hiasan yang indah, dan pada gagangnya tertanam batu ajaib merah yang besar. Bilah pedangnya berwarna perak yang cantik.

"Ini adalah Pedang Roh Api, Salamander Sword. Sepertinya ini pedang atribut api. Ayah sudah menyuruh penilai barang memeriksanya, jadi tidak salah lagi. Karena ini pedang yang cocok untukmu, Ike, ini buatmu."

"Terima kasih! Aku akan berjuang keras!"

Ike mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar.

Aku mencoba meng-Appraisal pedang itu secara diam-diam.


[Name] Salamander Sword

[Attack] 30

[Special] Magic +2

[Value] B


Ini hebat.

Pantas saja Zeke dan Maria pulang dengan penuh semangat.

Omong-omong, aku bisa meng-Appraisal benda di sekitar seperti meja, tapi...


[Name] Meja

[Value]


Hanya itu yang muncul. Sepertinya informasi detail hanya akan muncul untuk item langka.

Memang luar biasa Heavenly Eye ini.

Saat Ike sedang kegirangan memegang pedangnya, giliran Maria yang bicara.

"Selanjutnya untuk Mars. Lihat ini."

Dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya.

Itu adalah Grimoire sihir suci tingkat pemula.

"Ini untuk Mars. Belajarlah yang giat dan kuasai ya."

"Tila kasih!"

Tanpa sadar aku melakukan pose kemenangan dan menerima buku tersebut.

Malam itu aku terus berlatih sihir suci, tapi tentu saja aku belum bisa langsung menguasainya.

Apakah karena bakatku hanya C sehingga tidak bisa secepat sihir angin? Tapi Ike yang bakatnya sama bisa mempelajarinya, jadi aku pun pasti bisa! Aku memutuskan untuk tidak menyerah sampai bisa, lalu tertidur.

Keesokan harinya, setelah Zeke dan Maria berangkat ke Dungeon, kami kembali melakukan rutinitas harian.

Ike tidak menggunakan Salamander Sword yang didapat kemarin, melainkan menggunakan pedang kayu biasa untuk berlatih.

"Kak, kok nggak pake pedang yang kemalin?"

"Ayah bilang dasar itu yang paling penting, jadi aku pakai yang ini dulu."

Mendengar jawaban Ike yang sangat dewasa, aku sampai berpikir apakah dia juga seorang reinkarnator.

Aku juga harus berjuang agar bisa memakai sihir suci!

Sambil berpikir begitu, aku merapalkan Heal tingkat pemula berkali-kali, dan akhirnya aku berhasil menguasainya sebelum makan siang.

"Kak! Bisa pake Heal!"

"Hebat! Kebetulan tadi pas latihan lututku lecet, coba obati pakai Heal."

Ike memintanya dengan wajah senang.

"Iya! Heal!"

Seketika, luka di lutut Ike sembuh dalam sekejap.

Ike tampak sangat senang dan mengajakku fist bump.

Konsumsi MP untuk Heal adalah 10. Belum diketahui seberapa banyak HP yang bisa dipulihkan.

Meski lebih baik jika tidak ada kesempatan untuk menggunakannya, tapi hal itu mustahil.

Aku harus berlatih lebih keras agar aktivasi sihirnya bisa lebih lancar.

Masalahnya, sihir membutuhkan waktu dari saat dirapalkan hingga aktif.

Wind milikku aktif hampir tanpa jeda, tapi Fire milik Ike butuh waktu sekitar dua detik.

Katanya sihir tingkat menengah ke atas butuh waktu lebih lama lagi.

Saat kami sedang makan siang setelah menyelesaikan latihan pagi, sebuah insiden terjadi.

Zeke dan Maria pulang dari Dungeon dalam keadaan terluka.

Padahal aku dengar gaya bertarung mereka adalah pertahanan mutlak...

Karena mereka jarang terluka, mereka bisa masuk ke Dungeon hampir setiap hari. Namun petualang biasa umumnya harus beristirahat selama dua-tiga hari setelah satu kali penjelajahan.

"Ayah! Ibu! Kalian nggak apa-apa!?"

Ike berlari menghampiri.

"Ayah cuma sedikit ceroboh. Maaf ya, tolong siapkan banyak handuk basah."

Jawab Zeke sambil berusaha terlihat tenang, meski dia harus bersandar pada bahu Maria.

"Maaf ya sudah membuat kalian khawatir. Ibu tidak apa-apa, jadi tolong handuknya ya."

Maria juga membujuk dengan nada lembut agar kami tidak cemas.

Ike bersiap pergi untuk mengambil handuk, tapi aku menahannya dengan berkata "Tunggu", lalu aku segera meng-Appraisal Zeke dan Maria.


[Name] Zeke Bryant

[HP] 32/126

 

[Name] Maria Bryant

[HP] 62/102


Zeke yang lukanya lebih parah.

Aku segera merapalkan Heal ke arah Zeke yang terluka berat.

"Heal!"


[Name] Zeke Bryant

[HP] 47/126


Satu kali Heal memulihkan 15 HP.

Artinya butuh enam kali lagi untuk pulih total, pikirku sambil merapalkan Heal enam kali berturut-turut.


[Name] Zeke Bryant

[HP] 126/126


Zeke dan Maria tampak sangat terkejut melihat pemandangan itu.

Tanpa memedulikan tatapan mereka, aku juga merapalkan Heal tiga kali kepada Maria.


[Name] Maria Bryant

[HP] 102/102


HP keduanya sudah pulih sepenuhnya.

"Ayah, Ibu, gimana? Masih sakit?"

Tanyaku.

"...T-tidak, Ayah sudah tertolong. Terima kasih."

Ucap Zeke, disusul oleh Maria.

"Terima kasih! Kamu sudah bisa merapalkan Heal ya!"

Dia memelukku dengan penuh rasa syukur.

Setelah pulih, mereka berdua menuju kamar mandi untuk membersihkan kotoran dan rasa lelah.

Begitu mereka pergi, Ike mengajakku fist bump lagi dengan ekspresi lega, dan aku pun membalasnya. Mungkin karena ketegangan kami sudah mencair, kami berdua tertawa bersama lalu terduduk lemas di lantai.

◆◇◆

Malam itu, setelah makan malam seperti biasa, aku baru saja akan beranjak dari kursi anak-anakku untuk latihan sihir ketika Zeke menghentikanku.

"Tunggu sebentar."

Kami berempat duduk mengelilingi meja makan.

"Sekarang kita akan mengadakan rapat keluarga Bryant. Agendanya adalah masa depan Ike dan Mars."

Zeke memulai pembicaraan, dan aku pun bertatapan dengan Ike.

"Pertama-tama, Ayah ingin memberi tahu tentang pekerjaan Ayah dan Ibu, yaitu posisi dan gaya bertarung kami sebagai petualang. Kami berdua membentuk party bernama Brown Shield. Kami adalah party peringkat C. Pekerjaan utama kami adalah mengeksplorasi Dungeon Almeria. Ayah adalah petualang peringkat C, dan Ibu peringkat D. Petualang dibagi dari peringkat G sampai S."

"Peringkat G dan F adalah pemula, E itu tingkat dasar, D itu tingkat menengah, C itu menengah ke atas, dan jika sudah mencapai peringkat B atau lebih, biasanya akan diangkat menjadi bangsawan atau menjadi petinggi di pasukan ksatria maupun penyihir. Sampai di sini ada yang belum dimengerti atau ingin ditanyakan?"

Ike mengangkat tangan.

"Gimana caranya jadi petualang peringkat S?"

"Ayah pun tidak tahu cara jadi peringkat S. Lagipula Ayah sendiri baru pernah melihat petualang sampai peringkat B. Mungkin mereka ada di ibu kota atau kota Dungeon yang lebih besar. Melanjutkan pembicaraan tadi, keuntungan membentuk party adalah kita bisa mengambil misi yang peringkatnya lebih tinggi dari peringkat individu."

"Misalnya, ada empat petualang peringkat D. Sendirian mereka tidak bisa mengambil misi peringkat C ke atas, tapi kalau berempat membentuk party peringkat C, mereka jadi bisa mengambil misi tersebut. Kekurangannya adalah, jika menjadi party peringkat B, saat terjadi keadaan darurat, kalian akan dipaksa bekerja oleh Guild. Guild pada dasarnya independen dari negara mana pun."

"Saat terjadi Stampede monster, Guild-lah yang memegang komando para petualang. Namun, para bangsawan yang egois seringkali memerintah Guild untuk melindungi mereka saja. Guild terkadang tidak bisa menahan tekanan dari negara atau bangsawan, sehingga mereka lebih memilih melindungi bangsawan yang aman di kejauhan daripada rakyat jelata yang sekarat di depan mata. Karena itulah Ayah dan Maria tidak mau menjadi party peringkat B. Prioritas utama kami adalah keluarga! Jika saatnya tiba, Ayah akan memilih Maria, Ike, dan Mars daripada orang asing yang sekarat di depan mata! Ayah tidak peduli apa kata orang. Ada pertanyaan?"

Karena topiknya jauh lebih berat dari dugaan, aku dan Ike hanya mengangguk dalam diam.

Melihat hal itu, Zeke melanjutkan.

"Monster tidak hanya muncul di Dungeon. Di luar kota pun banyak, dan belakangan ini jumlahnya terus meningkat. Kalian mungkin sudah tahu, kemarin Count Camel sendiri yang datang memohon kepada kami untuk membantu mengurangi jumlah monster di Dungeon. Monster di luar kota Almeria tergolong lemah sehingga orang lain pun bisa mengalahkannya, tapi di dalam Dungeon tidaklah semudah itu. Karena kami ingin menjaga keamanan kota ini, meskipun cemas meninggalkan kalian, kami tetap masuk ke Dungeon. Tadinya Ayah ingin ini hanya dilakukan oleh Ayah dan Ibu saja. Tapi setelah melihat sihir suci Mars hari ini, Ayah berpikir untuk meminta bantuan kalian juga. Tenang saja, Ayah tidak akan menyuruh kalian langsung masuk ke Dungeon. Lagipula, syarat masuk Dungeon minimal peringkat E, dan kalian baru bisa mencapainya di usia lima belas tahun saat fisik sudah matang. Sampai Mars menyelesaikan upacara Appraisal, Ayah hanya berencana mengambil misi pengurangan monster di luar kota saja. Padahal tadinya Ayah pikir ini baru akan dilakukan setelah Ike berusia dua belas tahun."

Aku dan Ike masih terdiam, namun kami mendengarkan kata-kata Zeke dengan serius.

"Karena berbahaya jika kalian tiba-tiba bertarung dengan monster di luar, Ayah akan menyewa guru pedang untuk kalian berdua. Jangkanya selama satu tahun. Setelah satu tahun, Ayah akan melihat perkembangan kalian dan memutuskan lagi. Dan yang paling penting, Mars tidak akan Ayah biarkan ikut bertarung langsung. Ayah ingin Mars mendukung semua orang dengan sihir suci. Latihan pedang itu hanya untuk pertahanan diri di saat darurat. Mengerti?"

"Baik!"

Ucapku dan Ike serempak.

Namun, ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan.

"Ayah, Ibu, tadi kenapa bisa luka?"

Saat Zeke hendak menjawab, Maria yang sejak tadi diam mulai berbicara.

"Itu salah Ibu. Seperti biasa, kami menghindari monster di lantai satu dan melawan monster di lantai dua, tapi tiba-tiba Ibu merasa tidak enak badan sehingga timing merapal sihir jadi terlambat. Seperti nama party kami, Shield, gaya bertarung kami berfokus pada pertahanan. Ayah menggunakan sihir Earth Fortress, dan Ibu menggunakan Ice Fortress. Karena Ice Fortress Ibu terlambat aktif, kami terkena serangan. Ayah melindungiku dan akhirnya monster itu bisa dikalahkan, tapi kami jadi terluka."

"Kenapa nggak bawa Potion?"

"Benar juga. Selama ini kami selalu membawa Potion pemulihan. Tapi Potion itu hanyalah obat, jadi tidak bisa menyembuhkan seketika. Itu hanya obat untuk mempercepat pemulihan alami saja."

"Terima kasih sudah kasih tahu. Lain kali bawa Potion-nya ya."

Maria mengangguk mendengar perkataanku, lalu Zeke mengatakan hal yang sangat penting.

"Ada satu hal lagi yang ingin kami sampaikan. Kalian akan segera punya adik laki-laki atau perempuan."

"!!!!!"

Aku benar-benar terkejut.

Jadi karena sedang hamil makanya kondisi tubuhnya menurun di dalam Dungeon dan menyebabkan luka tadi...

"Nggak boleh paksain dili lagi ya."

"Iya. Mulai besok Ibu akan di rumah bersama kalian."

Saat aku berkata begitu, Maria tersenyum dan mengusap kepala kami berdua dengan lembut.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close