Chapter 3
Sihir Pertama
Keesokan harinya,
Zeke pulang dengan membawakan Grimoire sihir angin tingkat pemula dan Grimoire
sihir api tingkat pemula.
Tampaknya Grimoire
sihir suci sangatlah langka, sehingga tidak ada satu pun yang dijual di toko.
Selain itu, Grimoire
adalah barang yang sangat mahal. Bahkan jika ada yang menjual sihir suci pun,
harganya pasti sudah di luar jangkauan mereka.
Satu buku sihir
tingkat pemula saja harganya mencapai sepuluh keping koin emas.
Bagi keluarga
Baronet biasa, itu adalah harga yang mustahil untuk dibayar, namun untungnya
keluarga Bryant "masih" memiliki simpanan uang.
Meski begitu,
membeli dua buku tersebut tampaknya membuat keuangan keluarga kami menjadi
cukup sesak.
Sebagai gambaran,
satu keping koin emas setara dengan seratus ribu yen. Jadi, dua buku itu
bernilai sekitar dua juta yen.
Kami pindah ke
halaman rumah, lalu masing-masing dari kami mulai berlatih sihir.
Karena tahu
betapa besarnya harapan mereka, aku berniat mempelajari sihir angin dengan
sekuat tenaga.
Ike pun
sepertinya paham betapa berharganya buku itu, dia berusaha sangat keras untuk
mempelajari sihir api.
Omong-omong,
kemarin Ike juga menguras habis MP-nya saat berlatih sirkulasi sihir,
dan secara luar biasa MP maksimalku meningkat 1 poin menjadi 4.
Namun, kami
berdua memiliki satu kelemahan. Kami belum bisa membaca tulisan.
Oleh karena itu,
Maria menemaniku dan Zeke menemani Ike untuk membacakan isi buku tersebut
secara saksama.
Alirkan energi
sihir dari Tanden menuju ujung tangan, dan saat energinya sudah
terkumpul, rapalkan Wind.
Sedikit demi
sedikit, aku merasa mulai menangkap triknya.
Alasannya karena
pada awalnya MP-ku sama sekali tidak berkurang, tapi sekarang setiap
kali aku merapalkan Wind, MP-ku berkurang 1 poin.
Dan setelah
puluhan kali percobaan, hal itu akhirnya terjadi.
"Wind!"
Energi sihir memancar dari tangan kananku dan menciptakan embusan angin yang kencang.
Angin
langsung mereda, tapi sihirnya berhasil diaktifkan.
Konsumsi MP-nya
adalah 5.
Melihat
hal itu, Zeke dan Maria saling berpegangan tangan dengan gembira.
Dari Ike,
aku bisa merasakan tekad kuat yang seolah berkata bahwa dia pun tidak mau
kalah.
Setelah menguras MP
berkali-kali, beberapa hari kemudian Ike pun sudah bisa menggunakan Fire.
◆◇◆
Satu tahun
berlalu, kini aku berusia dua tahun dan Ike berusia lima tahun.
Tentu saja aku
tidak pernah melewatkan latihan sihir sehari pun.
Bukan hanya
latihan sihir, aku juga aktif menggerakkan badan sehingga fisikku terasa lebih
kokoh dibanding anak-anak seusiaku.
Selain itu, aku
mulai mengayunkan potongan kayu di halaman untuk memperkuat kemampuan pedangku.
Meski masih lebih
lemah dari Ike, aku ingin segera mempelajari ilmu pedang secara formal.
Statistikku di
usia dua tahun adalah sebagai berikut:
[Name] Mars Bryant
[Title] —
[Status] Human / Commoner
[Condition] Healthy
[Age] 2 Tahun
[Level] 1
[HP] 3/3
[MP] 1952/1953
[Strength] 2 (+1)
[Agility] 2 (+1)
[Magic] 10 (+7)
[Dexterity] 3 (+2)
[Endurance] 2 (+1)
[Luck] 30
[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)
[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv3)
[Unique Ability] Lightning Magic S (Lv0/20)
[Special Ability] Swordsmanship B (Lv0/17)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv5/19) (Naik
dari 0)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv0/15)
Karena aku terus melatih sihir angin, hanya level Wind
Magic-ku saja yang naik.
Di sini aku menemukan penemuan baru, setiap level Wind
Magic naik 1 tingkat, status Magic-ku juga naik 1 poin. Mungkin sihir lain pun akan meningkatkan Magic
setiap kali levelnya naik.
Aku juga sudah
mempelajari sihir lain yang ada di Grimoire angin tingkat pemula, yaitu Air
Blade.
Sihir ini bisa
dipelajari saat Wind Magic mencapai level 3, mengonsumsi 7 MP,
dan menciptakan pedang angin. Sayangnya efisiensinya cukup buruk karena pedang
itu langsung menghilang setelah satu ayunan.
Saat aku terlalu
asyik mengayunkan Air Blade di halaman, aku kehilangan kendali dan tak
sengaja melontarkannya hingga membelah pohon hias kesayangan Maria menjadi dua.
Kelak aku baru
tahu kalau itu adalah sihir angin tingkat menengah yang disebut Wind Cutter,
tapi saat kejadian itu, seluruh darahku rasanya mendidih karena panik. Jika
salah langkah sedikit saja, aku bisa melukai seseorang.
Kejadian itu
membuatku memutuskan untuk hanya menggunakan Wind saja saat ingin
menguras MP.
Ike juga tumbuh dengan pesat.
[Name] Ike Bryant
[Age] 5 Tahun
[Level] 1
[HP] 6/6
[MP] 40/40
[Strength] 3 (+1)
[Agility] 5 (+3)
[Magic] 2 (+1)
[Dexterity] 3 (+2)
[Endurance] 3 (+1)
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv1/15)
(Naik dari 0)
[Special Ability] Spearmanship B (Lv0/17)
[Special Ability] Fire Magic C (Lv1/15) (Naik
dari 0)
Setelah menguasai sihir api, Ike lebih fokus berlatih
pedang.
Seharusnya aku memeriksa apakah status Magic Ike naik
saat level Fire Magic-nya meningkat ke level 1, tapi karena aku terlalu
sibuk dengan urusanku sendiri, aku melewatkannya.
Namun, saat level Swordsmanship Ike naik dari 0 ke 1,
aku memperhatikannya dengan saksama. Mungkin hanya kebetulan, tapi saat itu nilai Agility dan Dexterity-nya
masing-masing naik 1 poin.
Karena Ike sudah
berusia lima tahun dan mulai bisa diandalkan, Zeke dan Maria menitipkanku pada
Ike sementara mereka pergi menjelajahi Dungeon.
Alasannya adalah
belakangan ini monster semakin bertambah banyak, sehingga Count Camel yang
menguasai wilayah ini meminta bantuan langsung kepada Zeke dan Maria untuk
membasmi monster di Dungeon.
Count Camel
sendiri memiliki pasukan ksatria dan penyihir, tapi ksatria mereka lebih fokus
pada pertempuran berkuda dan tidak cocok untuk masuk ke Dungeon.
Sedangkan pasukan
penyihir mereka jumlahnya sangat sedikit, sehingga mereka tidak bisa mengirim
aset berharga tersebut ke dalam Dungeon.
Berikut adalah status milik Zeke dan Maria:
[Name] Zeke Bryant
[Status] Human / Head of Bryant Baronet Family
[Age] 23 Tahun
[Level] 30
[HP] 126/126
[MP] 132/132
[Strength] 35
[Agility] 39
[Magic] 74
[Dexterity] 22
[Endurance] 38
[Luck] 10
[Special Ability] Dagger Arts E (Lv4/11)
[Special Ability] Earth Magic C (Lv9/15)
[Name] Maria Bryant
[Status] Human / First Lady of Bryant Baronet Family
[Age] 22 Tahun
[Level] 28
[HP] 102/102
[MP] 120/120
[Strength] 18
[Agility] 32
[Magic] 60
[Dexterity] 64
[Endurance] 17
[Luck] 10
[Special Ability] Dagger Arts E (Lv3/11)
[Special Ability] Water Magic C (Lv9/15)
Keduanya adalah tipe penyihir klasik.
Meski begitu, ternyata MP mereka cukup rendah, ya.
Aku ingin
melihat gaya bertarung mereka di dalam Dungeon.
Hari ini pun Zeke
dan Maria akan masuk ke Dungeon untuk mengurangi jumlah monster.
Kabarnya mereka
hanya pergi ke lantai rendah karena masih memikirkan kami.
Setelah
mereka berangkat, aku dan Ike mulai berlatih pedang di halaman seperti biasa.
Bagi
orang lain, melihat anak usia dua tahun mengayunkan kayu mungkin tidak terlihat
seperti latihan, tapi sebenarnya aku sedang melatih sesuatu secara rahasia.
Yaitu menyelimuti
tubuhku dengan elemen angin untuk meningkatkan kemampuan fisik.
Aku sudah
mencobanya sejak awal belajar pedang namun belum juga berhasil, tapi aku bukan
tipe orang yang menyerah hanya karena gagal.
Aku berniat terus
melakukannya minimal selama sepuluh tahun.
Setelah berlatih
pedang selama tiga jam, aku makan siang, lalu terus menggunakan sihir angin
sampai MP-ku nol kemudian tidur.
Setelah tidur
selama tiga jam, aku akan bangun dan berlatih pedang lagi di luar.
Kenapa tiga jam?
Karena sepertinya setelah tidur tiga jam, MP-ku akan pulih sepenuhnya. Sebagai
perbandingan, Ike, Zeke, dan Maria butuh enam jam untuk pulih total. Seingatku,
Tuan Demi-God menjelaskan bahwa kemampuan Natural Talent meningkatkan
kecepatan pemulihan MP, jadi ini pasti efeknya.
Sedangkan
Ike, dia berlatih pedang di pagi hari dan berlatih tombak di siang hari.
Latihan sihir api baru dilakukannya sebelum tidur.
Zeke dan
Maria membelikan pedang kayu dan tombak kayu untuk kami berdua. Jadi saat Ike memakai pedang kayu di pagi
hari, aku memakai potongan kayu. Lalu saat Ike memakai tombak kayu di siang
hari, aku dipinjamkan pedang kayunya.
Saat kami
sedang berlatih, Zeke dan Maria pulang dengan wajah yang sangat gembira.
"Hari
ini kami dapat dua barang bagus. Akan Ayah perlihatkan setelah makan, jadi kalian cepatlah mandi."
Ujar Zeke dengan
nada bicara yang cepat.
"Iya, aku
mengerti!"
Ike menjawab,
lalu aku mengangguk dan mengikuti di belakangnya.
Setelah makan
malam selesai, Zeke mengeluarkan sebuah pedang dari tas ransel yang selalu
dibawanya ke Dungeon.
Sarung pedangnya
tidak mewah tapi memiliki hiasan yang indah, dan pada gagangnya tertanam batu
ajaib merah yang besar. Bilah pedangnya berwarna perak yang cantik.
"Ini adalah
Pedang Roh Api, Salamander Sword. Sepertinya ini pedang atribut
api. Ayah sudah menyuruh penilai barang memeriksanya, jadi tidak salah lagi.
Karena ini pedang yang cocok untukmu, Ike, ini buatmu."
"Terima kasih! Aku akan berjuang keras!"
Ike mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar.
Aku mencoba meng-Appraisal pedang itu secara
diam-diam.
[Name] Salamander Sword
[Attack] 30
[Special] Magic +2
[Value] B
Ini hebat.
Pantas saja Zeke dan Maria pulang dengan penuh semangat.
Omong-omong, aku bisa meng-Appraisal benda di sekitar
seperti meja, tapi...
[Name] Meja
[Value] —
Hanya itu yang muncul. Sepertinya informasi detail hanya
akan muncul untuk item langka.
Memang luar biasa Heavenly Eye ini.
Saat Ike sedang kegirangan memegang pedangnya, giliran Maria
yang bicara.
"Selanjutnya untuk Mars. Lihat ini."
Dia mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya.
Itu adalah Grimoire sihir suci tingkat pemula.
"Ini
untuk Mars. Belajarlah yang giat dan kuasai ya."
"Tila
kasih!"
Tanpa sadar aku
melakukan pose kemenangan dan menerima buku tersebut.
Malam itu aku
terus berlatih sihir suci, tapi tentu saja aku belum bisa langsung
menguasainya.
Apakah karena
bakatku hanya C sehingga tidak bisa secepat sihir angin? Tapi Ike yang bakatnya
sama bisa mempelajarinya, jadi aku pun pasti bisa! Aku memutuskan untuk tidak
menyerah sampai bisa, lalu tertidur.
Keesokan harinya,
setelah Zeke dan Maria berangkat ke Dungeon, kami kembali melakukan
rutinitas harian.
Ike tidak
menggunakan Salamander Sword yang didapat kemarin, melainkan menggunakan
pedang kayu biasa untuk berlatih.
"Kak,
kok nggak pake pedang yang kemalin?"
"Ayah
bilang dasar itu yang paling penting, jadi aku pakai yang ini dulu."
Mendengar
jawaban Ike yang sangat dewasa, aku sampai berpikir apakah dia juga seorang
reinkarnator.
Aku juga
harus berjuang agar bisa memakai sihir suci!
Sambil
berpikir begitu, aku merapalkan Heal tingkat pemula berkali-kali, dan
akhirnya aku berhasil menguasainya sebelum makan siang.
"Kak!
Bisa pake Heal!"
"Hebat!
Kebetulan tadi pas latihan lututku lecet, coba obati pakai Heal."
Ike memintanya dengan wajah senang.
"Iya! Heal!"
Seketika, luka di
lutut Ike sembuh dalam sekejap.
Ike
tampak sangat senang dan mengajakku fist bump.
Konsumsi MP untuk Heal adalah 10. Belum
diketahui seberapa banyak HP yang bisa dipulihkan.
Meski lebih baik
jika tidak ada kesempatan untuk menggunakannya, tapi hal itu mustahil.
Aku harus
berlatih lebih keras agar aktivasi sihirnya bisa lebih lancar.
Masalahnya, sihir
membutuhkan waktu dari saat dirapalkan hingga aktif.
Wind milikku aktif hampir tanpa jeda, tapi Fire
milik Ike butuh waktu sekitar dua detik.
Katanya sihir
tingkat menengah ke atas butuh waktu lebih lama lagi.
Saat kami sedang
makan siang setelah menyelesaikan latihan pagi, sebuah insiden terjadi.
Zeke dan Maria
pulang dari Dungeon dalam keadaan terluka.
Padahal aku
dengar gaya bertarung mereka adalah pertahanan mutlak...
Karena mereka
jarang terluka, mereka bisa masuk ke Dungeon hampir setiap hari. Namun
petualang biasa umumnya harus beristirahat selama dua-tiga hari setelah satu
kali penjelajahan.
"Ayah! Ibu!
Kalian nggak apa-apa!?"
Ike berlari
menghampiri.
"Ayah cuma
sedikit ceroboh. Maaf ya, tolong siapkan banyak handuk basah."
Jawab Zeke sambil
berusaha terlihat tenang, meski dia harus bersandar pada bahu Maria.
"Maaf ya
sudah membuat kalian khawatir. Ibu tidak apa-apa, jadi tolong handuknya
ya."
Maria juga membujuk dengan nada lembut agar kami tidak
cemas.
Ike bersiap pergi untuk mengambil handuk, tapi aku
menahannya dengan berkata "Tunggu", lalu aku segera meng-Appraisal
Zeke dan Maria.
[Name] Zeke Bryant
[HP] 32/126
[Name] Maria Bryant
[HP] 62/102
Zeke yang lukanya lebih parah.
Aku
segera merapalkan Heal ke arah Zeke yang terluka berat.
"Heal!"
[Name] Zeke Bryant
[HP] 47/126
Satu kali Heal
memulihkan 15 HP.
Artinya butuh
enam kali lagi untuk pulih total, pikirku sambil merapalkan Heal enam
kali berturut-turut.
[Name] Zeke Bryant
[HP] 126/126
Zeke dan Maria
tampak sangat terkejut melihat pemandangan itu.
Tanpa memedulikan
tatapan mereka, aku juga merapalkan Heal tiga kali kepada Maria.
[Name] Maria Bryant
[HP] 102/102
HP keduanya sudah pulih sepenuhnya.
"Ayah, Ibu,
gimana? Masih sakit?"
Tanyaku.
"...T-tidak, Ayah sudah tertolong. Terima kasih."
Ucap Zeke,
disusul oleh Maria.
"Terima
kasih! Kamu sudah bisa merapalkan Heal ya!"
Dia memelukku
dengan penuh rasa syukur.
Setelah pulih,
mereka berdua menuju kamar mandi untuk membersihkan kotoran dan rasa lelah.
Begitu
mereka pergi, Ike mengajakku fist bump lagi dengan ekspresi lega, dan
aku pun membalasnya. Mungkin karena ketegangan kami sudah mencair, kami berdua
tertawa bersama lalu terduduk lemas di lantai.
◆◇◆
Malam
itu, setelah makan malam seperti biasa, aku baru saja akan beranjak dari kursi
anak-anakku untuk latihan sihir ketika Zeke menghentikanku.
"Tunggu
sebentar."
Kami
berempat duduk mengelilingi meja makan.
"Sekarang
kita akan mengadakan rapat keluarga Bryant. Agendanya adalah masa depan Ike dan
Mars."
Zeke
memulai pembicaraan, dan aku pun bertatapan dengan Ike.
"Pertama-tama,
Ayah ingin memberi tahu tentang pekerjaan Ayah dan Ibu, yaitu posisi dan gaya
bertarung kami sebagai petualang. Kami berdua membentuk party bernama Brown
Shield. Kami adalah party peringkat C. Pekerjaan utama kami adalah
mengeksplorasi Dungeon Almeria. Ayah adalah petualang peringkat C, dan
Ibu peringkat D. Petualang dibagi dari peringkat G sampai S."
"Peringkat
G dan F adalah pemula, E itu tingkat dasar, D itu tingkat menengah, C itu
menengah ke atas, dan jika sudah mencapai peringkat B atau lebih, biasanya akan
diangkat menjadi bangsawan atau menjadi petinggi di pasukan ksatria maupun
penyihir. Sampai di sini ada yang belum dimengerti atau ingin ditanyakan?"
Ike
mengangkat tangan.
"Gimana
caranya jadi petualang peringkat S?"
"Ayah
pun tidak tahu cara jadi peringkat S. Lagipula Ayah sendiri baru pernah melihat
petualang sampai peringkat B. Mungkin mereka ada di ibu kota atau kota Dungeon
yang lebih besar. Melanjutkan pembicaraan tadi, keuntungan membentuk party
adalah kita bisa mengambil misi yang peringkatnya lebih tinggi dari peringkat
individu."
"Misalnya,
ada empat petualang peringkat D. Sendirian mereka tidak bisa mengambil misi
peringkat C ke atas, tapi kalau berempat membentuk party peringkat C,
mereka jadi bisa mengambil misi tersebut. Kekurangannya adalah, jika menjadi party
peringkat B, saat terjadi keadaan darurat, kalian akan dipaksa bekerja oleh
Guild. Guild pada dasarnya independen dari negara mana pun."
"Saat
terjadi Stampede monster, Guild-lah yang memegang komando para
petualang. Namun, para bangsawan yang egois seringkali memerintah Guild untuk
melindungi mereka saja. Guild terkadang tidak bisa menahan tekanan dari negara
atau bangsawan, sehingga mereka lebih memilih melindungi bangsawan yang aman di
kejauhan daripada rakyat jelata yang sekarat di depan mata. Karena itulah Ayah
dan Maria tidak mau menjadi party peringkat B. Prioritas utama kami
adalah keluarga! Jika saatnya tiba, Ayah akan memilih Maria, Ike, dan Mars
daripada orang asing yang sekarat di depan mata! Ayah tidak peduli apa kata
orang. Ada pertanyaan?"
Karena
topiknya jauh lebih berat dari dugaan, aku dan Ike hanya mengangguk dalam diam.
Melihat
hal itu, Zeke melanjutkan.
"Monster
tidak hanya muncul di Dungeon. Di luar kota pun banyak, dan belakangan
ini jumlahnya terus meningkat. Kalian mungkin sudah tahu, kemarin Count Camel
sendiri yang datang memohon kepada kami untuk membantu mengurangi jumlah
monster di Dungeon. Monster di luar kota Almeria tergolong lemah
sehingga orang lain pun bisa mengalahkannya, tapi di dalam Dungeon
tidaklah semudah itu. Karena
kami ingin menjaga keamanan kota ini, meskipun cemas meninggalkan kalian, kami
tetap masuk ke Dungeon. Tadinya Ayah ingin ini hanya dilakukan oleh Ayah
dan Ibu saja. Tapi setelah melihat sihir suci Mars hari ini, Ayah berpikir
untuk meminta bantuan kalian juga. Tenang saja, Ayah tidak akan menyuruh kalian
langsung masuk ke Dungeon. Lagipula, syarat masuk Dungeon minimal
peringkat E, dan kalian baru bisa mencapainya di usia lima belas tahun saat
fisik sudah matang. Sampai Mars menyelesaikan upacara Appraisal, Ayah
hanya berencana mengambil misi pengurangan monster di luar kota saja. Padahal
tadinya Ayah pikir ini baru akan dilakukan setelah Ike berusia dua belas
tahun."
Aku dan
Ike masih terdiam, namun kami mendengarkan kata-kata Zeke dengan serius.
"Karena
berbahaya jika kalian tiba-tiba bertarung dengan monster di luar, Ayah akan
menyewa guru pedang untuk kalian berdua. Jangkanya selama satu tahun. Setelah satu tahun, Ayah akan melihat
perkembangan kalian dan memutuskan lagi. Dan yang paling penting, Mars tidak akan Ayah
biarkan ikut bertarung langsung. Ayah ingin Mars mendukung semua orang dengan
sihir suci. Latihan pedang itu hanya untuk pertahanan diri di saat darurat.
Mengerti?"
"Baik!"
Ucapku
dan Ike serempak.
Namun,
ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan.
"Ayah, Ibu,
tadi kenapa bisa luka?"
Saat Zeke hendak
menjawab, Maria yang sejak tadi diam mulai berbicara.
"Itu salah
Ibu. Seperti biasa, kami menghindari monster di lantai satu dan melawan monster
di lantai dua, tapi tiba-tiba Ibu merasa tidak enak badan sehingga timing
merapal sihir jadi terlambat. Seperti nama party kami, Shield,
gaya bertarung kami berfokus pada pertahanan. Ayah menggunakan sihir Earth
Fortress, dan Ibu menggunakan Ice Fortress. Karena Ice Fortress
Ibu terlambat aktif, kami terkena serangan. Ayah melindungiku dan akhirnya
monster itu bisa dikalahkan, tapi kami jadi terluka."
"Kenapa nggak bawa Potion?"
"Benar juga. Selama ini kami selalu membawa Potion pemulihan. Tapi Potion
itu hanyalah obat, jadi tidak bisa menyembuhkan seketika. Itu hanya obat untuk
mempercepat pemulihan alami saja."
"Terima
kasih sudah kasih tahu. Lain kali bawa Potion-nya ya."
Maria
mengangguk mendengar perkataanku, lalu Zeke mengatakan hal yang sangat penting.
"Ada satu
hal lagi yang ingin kami sampaikan. Kalian akan segera punya adik laki-laki
atau perempuan."
"!!!!!"
Aku benar-benar
terkejut.
Jadi karena
sedang hamil makanya kondisi tubuhnya menurun di dalam Dungeon dan
menyebabkan luka tadi...
"Nggak boleh
paksain dili lagi ya."
"Iya. Mulai
besok Ibu akan di rumah bersama kalian."
Saat aku berkata
begitu, Maria tersenyum dan mengusap kepala kami berdua dengan lembut.



Post a Comment