NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Pengalaman Pertama


Satu tahun kemudian.

Aku dan Ike benar-benar berjuang keras. Rasanya tidak ada anak seusia kami yang bisa berjuang sampai segila ini. Dan inilah hasilnya:


[Name] Mars Bryant

[Title] —

[Status] Human / Commoner

[Condition] Healthy

[Age] 3 Tahun

[Level] 1

[HP] 4/4

[MP] 2584/2585

[Strength] 3 (+1)

[Agility] 4 (+2)

[Magic] 18 (+8)

[Dexterity] 7 (+3)

[Endurance] 3 (+1)

[Luck] 30

 

[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)

[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv3)

[Unique Ability] Lightning Magic S (Lv0/20)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv1/17) (Naik dari 0)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv8/19) (Naik dari 5)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv2/15) (Naik dari 0)


Pertama, MP-ku meningkat drastis. Saat MP sudah terlalu tinggi dan sulit dihabiskan, aku akhirnya bisa menyelimuti tubuhku dengan elemen angin. Dengan begitu, aku bisa menguras MP secara efisien sambil berlatih pedang.

Sihir menyelimuti tubuh dengan angin ini kunamai Sylphid. Sihir ini mengonsumsi 1 MP per detik, yang berarti 60 MP per menit. Meski peningkatan kemampuan fisikku belum terlalu eksplosif, selama Sylphid aktif, aku sudah bisa melakukan baku hantam pedang yang cukup layak dengan Ike.

Seperti dugaanku sebelumnya, setiap level sihir naik maka Magic akan bertambah 1 poin. Lalu saat level Swordsmanship naik, Agility dan Dexterity masing-masing bertambah 1 poin. Omong-omong, meski kusebut ilmu pedang, sebagai anak tiga tahun aku berlatih menggunakan pedang kayu kecil yang pas di genggamanku.

Statistik Ike juga ikut melesat.


[Name] Ike Bryant

[Age] 6 Tahun

[Level] 1

[HP] 12/12

[MP] 70/70

[Strength] 8 (+5)

[Agility] 9 (+4)

[Magic] 3 (+1)

[Dexterity] 6 (+3)

[Endurance] 8 (+5)

 

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv2/15) (Naik dari 1)

[Special Ability] Spearmanship B (Lv1/17) (Naik dari 0)

[Special Ability] Fire Magic C (Lv1/15)


Begitu menginjak usia enam tahun, statistik Ike melonjak tajam. Mungkin setelah usia enam tahun, status akan naik seiring bertambahnya umur. Ike terus dilatih ilmu pedang dan tombak oleh guru privat kami, Frank.

Dia sering memaksakan diri hingga terluka, tapi aku akan menyembuhkannya dengan Heal secara sembunyi-sembunyi dari Frank. Hasilnya, level Spearmanship Ike naik. Ternyata Spearmanship juga meningkatkan status saat levelnya naik, yaitu 1 poin pada Strength dan Endurance.

Hanya saja, sihir api hanya boleh digunakan saat Maria mengawasi, jadi dia jarang bisa berlatih itu. Yah, tidak mungkin berlatih di dalam rumah, dan di halaman pun bisa jadi gawat kalau salah langkah sedikit saja.

Pertumbuhan Ike yang paling luar biasa adalah dia sudah mulai bisa mengayunkan Salamander Sword. Bukan hanya Zeke dan Maria, Frank pun sampai terbelalak dibuatnya. Meskipun baru sekadar bisa mengayunkannya, kecepatan pertumbuhannya sungguh gila. Apa Ike ini sebenarnya jenius dalam hal kerja keras yang melebihi diriku?

Dan perubahan lingkungan yang paling besar adalah kelahiran anak ketiga keluarga Bryant, adik perempuan kami, Leena. Ayah Zeke berambut cokelat. Ibu Maria juga berambut cokelat. Kakak Ike berambut merah. Aku berambut pirang. Dan Leena berambut cokelat.

Hasil Appraisal Leena adalah seperti ini:


[Name] Leena Bryant

[Age] 0 Tahun

[Level] 1

[HP] 1/1

[MP] 0/0

[Special Ability] Water Magic D (Lv0/13)

[Special Ability] Earth Magic E (Lv0/11)


Dia memiliki bakat yang benar-benar perpaduan dari Zeke dan Maria. Leena bukan hanya milik orang tua kami, dia juga menjadi idola bagi aku dan Ike. Sebagai anak perempuan pertama di keluarga Bryant, tidak mungkin dia tidak imut.

Belakangan ini aku punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu anak-anak tetangga. Setiap kali bertemu, aku meng-Appraisal mereka, tapi aku belum pernah melihat satu pun anak yang punya bakat di atas D. Kemarin aku mencoba meng-Appraisal anak-anak sebaya Ike, dan hasilnya seperti ini.

Pertama, anak laki-laki bernama Mauve.


[Name] Mauve

[Age] 6 Tahun

[HP] 8/8

[MP] 5/5

[Luck] 1


Berikutnya, anak perempuan bernama Panmi.


[Name] Panmi

[Age] 6 Tahun

[HP] 8/8

[MP] 5/5

[Luck] 1

[Special Ability] Rapier Arts G (Lv0/5)


Sekarang mulai paham, kan, betapa luar biasanya anak-anak keluarga Bryant?

Kami semua punya bakat di atas D.

Mungkinkah Zeke dan Maria sebenarnya adalah pemilik benih yang luar biasa dalam artian tertentu?

Aku merasa jika anggota keluarga Bryant bertambah, pembasmian monster akan jadi jauh lebih mudah.

Yah, tanpa perlu disuruh pun sepertinya anak-anak di sini akan terus bertambah. Zeke baru dua puluh tiga tahun, pasti akan ada dua atau tiga lagi adik laki-laki atau perempuan.

Ada satu hal lagi yang menarik perhatianku, yaitu nama keluarga atau family name. Ternyata rakyat jelata pun boleh menggunakannya, tapi butuh biaya pendaftaran untuk bisa memakai nama tersebut secara resmi, sehingga jarang ada rakyat jelata yang mau mendaftarkannya.

Dan hari ini adalah hari Upacara Appraisal untuk Ike. Ini adalah hari di mana siapa saja yang genap berusia enam tahun bisa mendapatkan layanan Appraisal gratis.

Namun karena Ike sudah ku-Appraisal sendiri, dan terutama karena Zeke serta Maria tidak ingin bakat Ike bocor ke pihak luar, kami tidak pergi ke gereja.

Setelah latihan selesai tanpa pergi ke gereja, hari ini diadakan Rapat Keluarga Bryant yang kedua. Topiknya adalah tentang masa depan keluarga Bryant. Kami berempat mengelilingi meja, kecuali Leena.

"Nah, satu tahun sudah berlalu. Menurut Ayah, perkembangan Ike dan Mars sudah jauh melampaui ekspektasi. Seperti yang Ayah katakan tahun lalu, mulai besok Ayah dan Ike akan pergi ke luar kota untuk membasmi monster. Ayah ingin Mars ikut membantu dengan sihir suci, tapi Ayah ingin dengar pendapat kalian."

"Aku sudah berlatih sangat keras demi hari ini. Meski belum bisa menguasai Salamander Sword sepenuhnya, aku ingin mencoba keluar kota bersama Ayah untuk membasmi monster. Tapi, hasil latihanku tidak akan sampai sejauh ini tanpa Heal dari Mars, jadi aku ingin Mars ikut bersama kita."

Ada alasan kenapa Ike kembali meminta izin agar aku ikut, padahal Zeke sudah mengatakannya. Itu untuk meyakinkan Maria. Maria sepertinya bukan tidak setuju, tapi rasa khawatir dalam dirinya jauh lebih kuat. Di luar kota bukan hanya ada monster, tapi juga bandit.

"Ibu masih merasa cemas. Memang kalau membawa Mars, luka tertentu bisa disembuhkan dengan sihir suci. Pertempuran pasti jadi lebih stabil. Tapi kalau dia ikut, dia tidak akan bisa lari di saat darurat. Dia baru tiga tahun. Seberapa pun jeniusnya dia, Ibu rasa ini masih terlalu dini. Bahkan untuk Ike saja Ibu rasa masih terlalu awal... seandainya Ibu bisa ikut, tapi itu mustahil karena ada Leena."

Kami bertiga terdiam sambil berpikir keras. Tidak ada yang salah dengan perkataan mereka. Semua berpikir dengan kepala dingin. Aku merasa tidak punya hak suara dalam hal ini, jadi aku diam saja.

Sejujurnya aku ingin ikut, tapi aku juga mengerti kekhawatiran Maria. Malah kalau dipikir secara normal, pendapat Maria-lah yang paling benar.

Ike yang memecah keheningan.

"Aku mengerti maksud Ibu. Jadi, bisakah kita mengajukan permintaan pengawalan ke Guild untuk satu minggu saja? Atau kalau ada orang yang Ayah dan Ibu kenal dan bisa dipercaya, bisakah kita minta tolong pada mereka?"

"Kalau permintaan pengawalan, kita harus menentukan orangnya secara spesifik. Dan Ayah tidak tahu siapa yang pantas untuk ditunjuk. Kenalan Ayah dan Ibu tidak ada yang cocok. Lalu soal kakek dan nenek Mars serta Ike, ada alasan tertentu yang membuat kita tidak bisa bertemu mereka. Sisanya adalah budak... tapi membeli budak butuh uang, dan setelah dibeli pun kita harus mengurus mereka. Selama kita tidak bisa masuk ke Dungeon, Ayah tidak mau ada pengeluaran besar."

Ngomong-ngomong, aku memang belum pernah bertemu kakek-nenek, bahkan tidak pernah mendengar cerita tentang mereka. Pasti telah terjadi sesuatu.

Dan aku baru sadar, ternyata masuk ke Dungeon itu sangat menguntungkan, ya. Lingkungan sekitar kami memang rakyat jelata, dan Baronet pun dalam satu sisi adalah rakyat jelata, tapi standar hidup keluarga Bryant jelas berbeda dengan tetangga. Bagaimana dengan keluarga Baronet lainnya, ya? Mungkin bukan Dungeon-nya yang menguntungkan, tapi memang Zeke dan Maria saja yang sangat hebat.

Dan ternyata di dunia ini ada budak. Mendengar Zeke bilang budak harus diurus dengan baik, entah kenapa aku merasa bangga padanya. Tapi masalah ini benar-benar buntu. Sampai akhirnya...

"Mars, apa pendapatmu? Katakan sejujurnya."

Maria bertanya padaku.

"Aku pengen coba pelgi baleng Ayah sama Kakak. Tapi aku juga ngelti apa kata Ibu..."

"...Kalau begitu... pergilah kalian bertiga seperti rencana awal. Tapi, jangan pergi ke tempat yang jauh atau tempat di mana energi sihir sering berkumpul. Lalu, meski kalian masih anak-anak dan belum bisa pakai perlengkapan tempur lengkap, pastikan bawa peralatan yang cukup. Mars yang HP-nya rendah jangan sekali-kali mendekati monster. Karena mungkin ada situasi di mana kamu tidak bisa merapal sihir, pastikan selalu bawa Potion pemulihan. Sayang, aku titip mereka, ya."

Maria akhirnya mengalah, jadi kami bertiga bisa pergi bersama. Mulai besok kami akan membasmi monster di luar kota. Sebenarnya, aku bahkan belum tahu banyak soal isi kota ini, jadi bisa keluar rumah saja sudah membuatku senang.

◆◇◆

"Hati-hati, ya. Jangan dipaksakan."

Maria melepas kami bertiga para lelaki keluarga Bryant.

"Serahkan padaku. Aku tidak akan membiarkan anak-anak terluka."

"Daaah, Ibu!"

Zeke membawa tongkat sihir dan belati di pinggangnya, sementara Ike membawa pedang kayu. Aku juga ingin membawa pedang kayu, tapi dilarang oleh Maria dan pedangku disita. Dia bilang kalau monster mendekat, jangan dilawan, tapi jauhkan dengan Wind atau lari saja. Aku dilarang keras untuk mencoba melawan. Yah, kalau dipikir secara logis memang masuk akal sih.

Pertama, kami menuju ke Guild Petualang untuk mengambil misi pembasmian monster rutin yang diajukan oleh Zeke. Aku dan Ike tidak masuk ke dalam gedung Guild, kami menunggu di luar yang agak jauh. Bisa ribut urusannya kalau anak usia tiga dan enam tahun masuk ke dalam Guild.

Setelah Zeke kembali dengan kontrak misi, kami bertiga menuju gerbang barat kota. Kota Dungeon Almeria dikelilingi oleh tembok batu besar di keempat sisinya.

Pintu keluar masuk kota hanya ada empat, masing-masing satu di setiap arah mata angin. Di setiap gerbang ada penjaga, dan sepertinya kita harus melewati pemeriksaan untuk keluar masuk.

Kelak aku baru tahu kalau ini bukan hanya untuk perlindungan dari musuh luar, tapi lebih untuk mengantisipasi jika monster meluap dari Dungeon dan kota harus ditutup. Kabarnya semua kota dibuat seperti ini.

Setelah berhasil melewati pemeriksaan gerbang barat, pemandangan padang rumput terhampar luas seperti karpet hijau. Di kejauhan terlihat sapi dan kambing yang sedang digembalakan.

Aku dan Ike sempat terpana melihat pemandangan luar untuk beberapa saat. Beberapa menit kemudian, Zeke berkata "Ayo jalan" dan kami mulai menyusuri padang rumput.

"Tak kusangka bisa langsung ketemu secepat ini."

Ujar Zeke dengan wajah yang sedikit tegang. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Ike pun tampak sama bingungnya denganku.

Lalu Zeke menunjuk ke suatu arah.

"Ada tiga Goblin di sebelah sana. Kalian bisa lihat?"

Sejujurnya aku tidak bisa melihatnya.

"Nggak kelihatan."

Aku menjawab jujur. Ike pun sepertinya tidak melihat apa-apa. Dia masih berusaha menyipitkan mata ke arah yang ditunjuk Zeke.

"Jaraknya memang masih agak jauh. Kalau begitu Ayah beri contoh. Ayah akan habisi dua ekor, sisanya satu lagi coba kamu yang habisi, Ike. Kamu pasti bisa membunuhnya kalau tembakan Fire-mu kena. Jangan khawatir, kalau meleset pun nanti Ayah yang bereskan."

Setelah berkata begitu, Zeke berjalan di depan kami dengan langkah pelan. Setelah maju sedikit, kami pun mulai bisa melihat sosok Goblin tersebut.

Ternyata mereka lebih pendek dari dugaanku. Mungkin seukuran Ike, sekitar 120 sentimeter. Kulitnya berwarna hijau dengan sedikit campuran kecokelatan.

Kami mendekat perlahan agar tidak ketahuan. Para Goblin itu sedang tertawa terbahak-bahak sambil menatap ke tanah. Aku mencoba meng-Appraisal mereka.


[Ras] Goblin

[Threat] G

[Condition] Healthy

[Level] 1

[HP] 20/20

[MP] 1/1

[Strength] 7

[Agility] 4

[Endurance] 6


Tingkat ancaman G sepertinya adalah monster yang paling lemah. Tapi bahkan monster ini punya Strength dan Endurance yang lebih tinggi dariku sekarang. Kurang lebih setara dengan Ike. Sebaiknya aku tidak bertarung jarak dekat.

"Perhatikan ya," bisik Zeke pelan.

"Earth Bullet!"

Sebuah gumpalan tanah yang tajam melesat tepat ke arah kepala Goblin yang berada di tengah dan menembusnya. Goblin yang terkena Earth Bullet langsung tumbang tanpa suara.

"Gyakgyak!?"

Dua ekor sisanya langsung menoleh ke arah kami.

"Earth Bullet!"

Kali ini tepat mengenai kepala Goblin di sebelah kanan. Satu Goblin yang tersisa tanpa ragu langsung menerjang ke arah kami.

"Ike, sudah siap dengan Fire-mu?"

Ike sepertinya sedikit tegang, dia tidak menjawab Zeke dan hanya mengangguk dengan wajah kaku.

"Tenang saja. Kalau tidak mati, nanti Ayah yang bantu. Coba lakukan."

Begitu Zeke memberi semangat dengan lembut, Ike membidik sasaran lalu menjawab.

"Iya! Fire!"

Bola api yang dilepaskan Ike melesat ke arah Goblin. Tembakan itu mengenai telak. Goblin itu menggelepar selama beberapa detik, tapi butuh waktu lama sampai dia benar-benar mati. Setelah Ike merapalkan Fire sekali lagi, monster itu baru benar-benar tewas.

"Bagus, kerja bagus. Bagaimana rasanya?"

"Sedikit takut dan tanganku masih gemetar, tapi kalau sudah beberapa kali lagi mungkin aku bakal terbiasa."

Zeke mengangguk, lalu menggunakan belati di pinggangnya untuk mengambil Magic Stone dari area jantung dua Goblin pertama.

Kemudian dia mengeluarkan pemantik dari tasnya, menyalakan api, dan membakar mayat-mayat Goblin yang sudah diambil batunya.

"Ingat, kalau sudah mengalahkan monster, pastikan ambil Magic Stone-nya. Ini bisa dijual di Guild. Meskipun batu dari monster peringkat F dan G harganya sangat murah, sih. Lalu monster yang muncul di luar harus selalu dibakar, gawat kalau mereka jadi undead. Nanti Ayah jelaskan soal material monster tertentu, tapi sekarang Ike coba ambil sendiri batu dari Goblin yang kamu kalahkan tadi."

Ike mendekati mayat Goblin yang terbakar sesuai instruksi dan berhasil mengambil Magic Stone-nya.

"Oke, lanjut. Berikutnya Ike coba pakai pedang kayu. Kalau Ayah rasa bahaya, Ayah akan langsung ikut campur, jadi tenang saja. Mars, siapkan sihir sucimu."

Zeke mulai mencari mangsa berikutnya.

"Ayah, kalau ada Goblin lagi aku juga mau coba sihil."

Zeke menggelengkan kepala mendengar perkataanku.

"Sayangnya sihir Wind tidak bisa membunuh monster, jadi tidak boleh."

"Bukan Wind, aku mau pake Wind Cutter. Tetep nggak boleh?"

"Ha!? Kamu sudah belajar Wind Cutter? Di mana?"

"Pas lagi pake Air Blade tiba-tiba jadi begitu... terus Ibu bilang itu namanya Wind Cutter, jadi aku latihan di tempat aman."

"...Begitu ya. Kalau begitu, nanti kita coba ya."

"Asyik!"

Tidak butuh waktu lama untuk menemukan target berikutnya. Lagi-lagi tiga ekor Goblin. Bedanya, kali ini para Goblin sudah menyadari kehadiran kami. Jaraknya sekitar seratus meter. Mereka mulai berlari ke arah kami, tapi larinya tidak terlalu cepat.

"Mars! Ayah tidak tahu seberapa jauh jarak jangkauan sihirmu, jadi kalau sudah masuk jangkauan, lepaskan Wind Cutter! Setelah Mars menembak, Ayah juga akan menembakkan Earth Bullet! Ike, kamu habisi satu sisanya dengan pedang."

"Siap!"

Goblin-goblin itu semakin mendekat. Lima puluh meter. Empat puluh meter. Tiga puluh meter.

Targetku adalah lehernya. Aku mengayunkan tangan kananku yang sudah dipenuhi energi sihir seolah sedang mengayunkan pedang, lalu berteriak.

"Wind Cutter!"

Sihir Wind Cutter milikku menebas leher Goblin itu dengan sangat mudah hingga kepalanya terlepas. Setelah itu, Earth Bullet milik Zeke juga menembus kepala satu Goblin lainnya.

Zeke menusukkan belatinya ke bahu kanan Goblin terakhir, lalu Ike memasang kuda-kuda dengan pedang kayunya dan berhadapan langsung dengan monster itu.

Goblin itu menerjang sambil memegangi bahu kanannya dengan tangan kiri. Tanpa bisa menyerang balik, dia terus ditebas oleh pedang kayu Ike sampai akhirnya tewas.

◆◇◆

Kami terus membasmi Goblin dengan lancar. Aku terus-menerus mengalahkan Goblin dengan Wind Cutter. Ike juga membakar mereka dengan Fire. Setelah sekitar satu jam, Ike berkata dengan senyum lebar:

"Rasanya aku jadi lebih kuat!"

Begitu aku meng-Appraisal-nya...


[Name] Ike Bryant

[Level] 2 (+1)

[HP] 12/17

[MP] 20/71

[Strength] 10 (+2)

[Agility] 11 (+2)

[Magic] 4 (+1)

[Endurance] 10 (+2)


Ooh, levelnya benar-benar naik. Tapi karena aku tidak memberi tahu siapa pun soal Heavenly Eye, aku bertanya dengan nada biasa saja.

"Kakak hebat! Lasanya gimana?"

"Rasanya tubuhku jadi lebih ringan. Tapi aku nggak tahu apa benar-benar naik level atau nggak."

Sepertinya pengaruh naik level cukup besar sampai perbedaannya terasa jelas. Aku memeriksa statusku sendiri, tapi levelku belum naik. Gara-gara Natural Talent, aku butuh pengalaman tiga kali lipat dari orang lain.

"Meskipun masih pagi, sebentar lagi kita pulang ya. Ayah ingin kita semua makan siang bareng di rumah."

Padahal aku masih ingin lanjut, tapi Zeke sudah memberi instruksi. Aku takut kalau aku membantah, dia tidak akan mengajakku lagi, jadi aku hanya mengangguk diam.

Ike pun melakukan hal yang sama. Setelah mengalahkan lima Goblin lagi, kami kembali ke kota tepat sebelum siang hari.

Kami mampir ke Guild untuk menyelesaikan misi pembasmian. Melihat jumlah uang yang diterima, sepertinya sulit menghidupi keluarga hanya dengan mengalahkan monster selemah ini. Aku harus berusaha lebih keras lagi agar bisa berguna.

Kami sampai di rumah lewat tengah hari. Maria terkejut karena kami pulang lebih cepat dari dugaannya, tapi dia tampak lega melihat kami semua selamat. Setelah makan siang, aku berlatih sebentar lalu tidur. Aku tidak puas kalau belum menguras MP minimal dua kali sehari.

Esok harinya kami kembali keluar kota. Target hari ini adalah menaikkan levelku. Aku segera melakukan deteksi musuh dan menghabisi Goblin dengan Wind Cutter. Setelah sekitar satu jam berburu, akhirnya levelku naik.


[Name] Mars Bryant

[Level] 2 (+1)

[HP] 9/9

[MP] 2484/2590

[Strength] 6 (+3)

[Agility] 7 (+3)

[Magic] 22 (+4)

[Dexterity] 10 (+3)

[Endurance] 6 (+3)


Seluruh status kecuali Luck naik 3 poin, bahkan Magic naik 4 poin. Aku sendiri sampai kagum dengan bakat ini.

"Kayaknya aku juga naik level! Lasanya lebih bertenaga!"

"Mars mungkin memang lebih sulit naik level, tapi karena kamu tumbuh dengan pasti, tetaplah berusaha dengan tenang ya."

Zeke menyemangatiku saat aku memberitahunya soal naik level. Setelah itu, kami terus berburu Goblin tanpa henti. Sepertinya level Ike juga naik lagi.

Tapi kalau dipikir-pikir, Goblin di sini banyak sekali ya. Kemarin dan hari ini saja sepertinya kami sudah membunuh seratus ekor lebih dengan mudah, tapi tingkat kemunculannya tidak berkurang. Sambil berjalan pulang di sore hari, aku bertanya pada Zeke.

"Goblin emang selalu sebanyak ini ya?"

"Tidak, kali ini aneh. Ayah akan melaporkannya ke Guild."

Zeke pergi ke Guild untuk melaporkan misi sekaligus mengabarkan soal lonjakan populasi Goblin. Tak lama kemudian, dia kembali dari Guild dengan wajah muram. Pasti terjadi sesuatu. Tapi aku dan Ike tidak bertanya. Jika itu informasi yang kami butuhkan, Zeke pasti akan memberi tahu kami.

Sesampainya di rumah, Maria menyambut kami. Setelah makan malam, Zeke mulai berbicara.

"Sepertinya belakangan ini ada tanda-tanda akan terjadi Stampede monster di sebelah timur Almeria. Petualang peringkat E ke bawah sedang sibuk membasmi monster di timur. Sementara petualang peringkat D ke atas masuk ke dalam Dungeon. Itu tidak bisa dihindari, karena akan sangat buruk jika monster meluap dari Dungeon. Tapi, di sisi barat juga muncul Goblin dalam jumlah yang tidak wajar. Begitu Ayah melaporkannya, Guild langsung memberikan misi khusus. Mereka meminta kita menyelidiki sisi barat. Imbalannya sangat tinggi, tapi sejujurnya Ayah bingung. Kalau dibiarkan, keluarga kita dalam bahaya, tapi menyelidikinya pun sangat berisiko. Ayah ingin dengar pendapat kalian."

Ike yang pertama kali memberikan pendapat.

"Aku rasa kita harus menyelidikinya. Kalau cuma Goblin, aku dan Mars bisa membantu."

Maria langsung menyanggah perkataan itu.

"Terlalu berbahaya. Kalau yang muncul cuma Goblin sih tidak apa-apa, tapi alasan kenapa Goblin muncul sampai ke dekat kota bisa jadi karena sarang mereka ditempati oleh monster yang lebih kuat. Goblin itu monster yang paling lemah. Kalau cuma Kobold mungkin masih bisa diatasi, tapi kalau ada sekelompok Orc, itu terlalu berbahaya."

Aku pun ikut bicara.

"Aku pengen ikut nylidik. Tapi kalo skarang kayaknya aku cuma bakal ngerepotin, jadi nggak usah dulu. Lagian aku udah janji sama Ibu nggak bakal ke tempat bahaya. Emang misinya halus kapan? Nggak bisa ditunda?"

"Hmm. Apa yang dikatakan Maria dan Mars memang benar. Tentu saja Ayah juga ingin menyelidikinya, sih. Untuk saat ini misi khususnya kita tunda dulu saja. Kita tetap berburu monster di dekat kota seperti biasa. Ayah juga ingin kalian mencoba melawan Kobold. Maria, terima kasih ya. Dan maaf, sudah membuatmu harus mengambil peran yang tidak menyenangkan. Mengerti, Ike?"

"Baik! Mulai besok aku akan lebih bersemangat lagi!"

Semenjak itu, kami terus berburu Goblin di sekitar kota. Terkadang Kobold muncul, tapi bisa langsung dikalahkan dengan Wind Cutter. Sebagai gambaran, status Kobold adalah seperti ini:


[Ras] Kobold

[Threat] G

[HP] 15/15

[Strength] 5

[Agility] 7

[Endurance] 4


Kalau cuma satu, mereka mudah dikalahkan meski agak lincah, tapi biasanya mereka bergerombol. Pernah ada sepuluh ekor muncul sekaligus, kami menghabisi semuanya sambil perlahan-lahan mundur. Kami ingin bertarung dalam posisi yang seuntung mungkin.

Meski begitu, terkadang serangan tetap masuk. Zeke menjadi tameng agar aku dan Ike tidak terkena serangan. Namun sepertinya karena ingin kami mendapatkan pengalaman, aku belum pernah melihat sihir Earth Fortress milik Zeke.

Dan begitulah, hampir satu tahun berlalu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close