Chapter 15
Pemberontakan
"Lapor, Baginda Count! Terjadi pemberontakan di dalam
kota! Pasukan ksatria telah berhasil menekannya, namun kerusakannya cukup
besar...."
"Aku
mengerti! Aku akan segera ke sana! Mars-kun, maafkan aku, tapi kami harus
kembali ke Granzam sekarang!"
Enam orang
ksatria berlari masuk ke dalam Dungeon Granzam dengan napas
terengah-engah untuk melapor. Begitu mendengarnya, aku memutuskan untuk segera
kembali ke kota.
Mereka adalah
anggota Tim Lyle, unit di bawah komando Blair yang terdiri dari dua puluh orang
per regu.
Dalam perjalanan
pulang, Blair dan kawan-kawannya bertarung membuka jalan melawan para Goblin.
Melihat aksi mereka, aku menyadari sekali lagi betapa tidak normalnya kekuatan
kedua anak itu.
Sepuluh ksatria,
termasuk Blair, sebenarnya sama sekali tidak lemah. Blair sendiri sudah pasti
setara dengan petualang peringkat D... Tidak, jika dia berkonsentrasi penuh
pada pertahanan, bahkan petualang peringkat C pun akan kesulitan menembusnya.
Anggota ksatria
lainnya pun, meski tidak mencapai peringkat D, setidaknya berada di level atas
peringkat E. Namun, mereka tetap kewalahan menerima serangan dari para Goblin.
Kombinasi
antara Hobgoblin dan Goblin Mage ternyata cukup merepotkan. Saat langkah mereka
tertahan oleh Hobgoblin, Goblin Mage akan menghujani mereka dengan Earth
Bullet.
Karena
harus terus maju sambil memulihkan diri dengan Potion, kecepatan gerak
mereka melambat. Mereka terpaksa melakukan jeda istirahat setiap kali berhasil
menguasai satu ruangan.
"Mohon maaf, Count Beetle. Seandainya kami lebih
kuat...."
"Jangan
bicara lagi. Mereka berdualah yang tidak normal. Lagipula, tugas kalian sebagai ksatria bukan hanya
menjadi kuat. Kalian telah bekerja dengan sangat baik. Aku bangga pada kalian
semua."
Mendengar
kata-kata itu, sepuluh ksatria tersebut menundukkan kepala dengan perasaan
haru.
Entah sudah
berapa jam berlalu, kami akhirnya tiba di lantai satu. Semua orang mulai
mengumpulkan semangat terakhir mereka.
"Kita sudah
sampai di lantai satu! Menuju
pintu keluar dengan hati-hati dan cepat!"
Aku
mencoba menyemangati mereka, namun sepuluh ksatria yang kubawa jelas-jelas
menunjukkan gurat kelelahan yang luar biasa.
"Apa
kalian masih sanggup bertarung?" tanyaku pada enam orang dari Tim Lyle
yang tadi datang melapor.
"Tolong
beri kami waktu istirahat sejenak lagi. Setelah itu, kami akan bisa
bertarung."
"Begitu ya.
Jangan dipaksakan. Beritahu aku jika kalian sudah siap."
Setelah melakukan
beberapa kali jeda singkat, kami akhirnya tiba di dekat pintu masuk Dungeon.
Kami mengambil istirahat terakhir di sana.
Sambil
beristirahat, Blair bertanya pada enam orang dari Tim Lyle tersebut.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan anggota Tim Lyle
yang lain? Apa hanya kalian
berenam yang datang ke sini?"
"Benar,
hanya kami berenam. Kapten dan anggota tim lainnya sedang menangani para
perusuh di kota."
"Apa
tidak berat sampai ke lantai dua hanya dengan enam orang?"
Blair bertanya
sambil mulai berjalan santai mengitari keenam ksatria tersebut.
"Sangat
berat. Karena itulah kami terluka, dan semua persediaan Potion kami
sudah habis tak bersisa...."
Ksatria yang
bersama Blair pun ikut berjalan, seolah mengepung keenam orang tersebut. Salah
satu dari mereka tiba-tiba bertanya dengan nada gelisah.
"A-ada apa
ini? Kenapa tiba-tiba begini? Apa kami melakukan kesalahan?"
"Mari kita
akhiri sandiwara ini, ya? Aku juga sudah lelah berakting menjadi orang bodoh.
Kalian sudah membuntuti kami sejak kami pertama kali masuk ke dalam Dungeon,
kan?"
Begitu Blair
mengucapkannya, sepuluh ksatria lainnya langsung bergerak serentak meringkus
keenam anggota Tim Lyle tersebut.
"Cih!
Bagaimana bisa!? Ini tidak sesuai dengan yang dikatakan!"
"Siapa yang
memberitahumu, dan apa yang dia katakan?" tanya Blair pada mereka yang
sudah terikat.
Namun, keenam
pria itu hanya bungkam.
"Hmm. Tidak
mau buka mulut, ya? Apa boleh buat. Kalau begitu, aku akan menangkap seluruh
keluarga besar kalian, anggota party peringkat D, Barkers, atas
tuduhan pengkhianatan...."
"Apa!?
Bagaimana kau bisa tahu siapa kami?"
"Sebagai
penguasa wilayah, aku mengawasi keluarga Barker dengan sangat ketat. Lagipula,
tanpa diawasi pun, keluarga Barker itu sudah terkenal. Banyak laporan yang
masuk padaku. Termasuk fakta bahwa kalian menyuap penilai untuk mendapatkan
lisensi peringkat D. Nah, sepertinya sekarang kalian sudah mau bicara. Apa
tujuan kalian sebenarnya?"
"Baiklah.
Aku akan menjawabnya setelah kita keluar dari Dungeon ini."
Para pria itu
merasa masih punya peluang menang. Saat ini, seharusnya dua ratus mata-mata
mereka sudah melumpuhkan pasukan ksatria di kota.
Kabar yang mereka
dengar, pasukan ksatria tidak memiliki perlengkapan layak akibat insiden Monster
Overflow sebelumnya. Sekuat apa pun ksatria, jika bertarung dengan tangan
kosong, mereka pasti kalah melawan petualang peringkat F yang bersenjata
lengkap.
Namun, begitu
keluar dari Dungeon, pemandangan yang menyambut mereka benar-benar di
luar dugaan.
◆◇◆
Dasar
bajingan-bajingan menyebalkan! Sudah lebih dari dua bulan sejak bocah
antah-berantah bernama Mars itu datang ke sini.
Memang terjadi Monster
Overflow yang tidak terduga, tapi semua sudah beres saat aku masih pingsan.
Orang-orang kota memanggil bocah itu Master Pedang, tapi kenyataannya pedang
akulah yang istimewa.
Itu adalah pedang
perak Mithril. Melawan seratus Goblin pun pasti menang mudah.
Lalu bocah
bernama Clarice itu juga tidak bisa dimaafkan. Beraninya dia mendahulukan
rakyat jelata rendahan dan mengabaikan aku yang mulia ini saat merapal Heal.
Penduduk bisa
diganti kapan saja, tapi kenapa dia tidak sadar bahwa tidak ada yang bisa
menggantikan sosok sehebat aku?
Dan yang
paling tidak bisa dimaafkan adalah si Beetle itu! Dia hanya beruntung bisa
menjadi Count berpangkat tinggi. Pasti karena dia pintar menjilat atasan.
Tapi kesabaranku
akan segera membuahkan hasil. Sudah bertahun-tahun aku mendekati Margrave Dickson. Dan hari ini, saat
Count Beetle masuk ke Dungeon bersama bocah-bocah itu, adalah hari
eksekusinya.
Dia
senang karena jumlah penduduk meningkat setelah Monster Overflow reda,
tapi dia tidak tahu kalau itu semua adalah mata-mata kiriman Margrave Dickson.
Mereka adalah
penjahat kelas kakap. Jika Margrave Dickson menjanjikan pengampunan, mereka
akan rela mati demi melenyapkan pasukan ksatria.
Aku juga benci
pasukan ksatria Beetle. Beraninya mereka mengabaikan perintahku. Begitu aku
menguasai kota ini, akan kuperas tenaga mereka sampai habis. Lihat saja nanti.
Rencana berjalan
lancar. Sesuai instruksi Margrave Dickson, aku telah memborong Potion
dan senjata di toko-toko. Semuanya kuberikan pada para mata-mata. Tentu saja,
demi kudeta ini.
Beetle
benar-benar bodoh. Dia sama sekali tidak menyadari pergerakanku. Bagaimana bisa
orang sebodoh itu jadi Count? Nanti saat aku melenyapkannya, mungkin aku akan
bertanya bagaimana dia bisa meraih pangkat itu. Siapa tahu dia memegang rahasia
keluarga kerajaan.
Tapi, permintaan
pasokan dari Margrave Dickson jauh lebih banyak dari perkiraan. Aku pikir hanya
untuk dua ratus mata-mata, tapi beliau memintaku menyiapkan senjata dan Potion
masing-masing lima ratus buah.
Karena akan
mencolok jika aku sendiri yang membelinya, aku menyuruh beberapa mata-mata
untuk memborongnya.
Yah, berkat
kecerdikanku inilah si Beetle tidak menyadari niat pemberontakanku. Bukan hanya
Beetle yang bodoh, tapi aku, Baron Dames Barker, yang terlalu jenius.
Margrave Dickson
berjanji lewat mata-mata akan mengganti biayanya dua kali lipat nanti. Jadi,
aku menguras harta pribadi keluarga Barker demi menyiapkan semuanya.
Dan hari ini
adalah hari pertempurannya. Aku sudah mengawasi Count Beetle sejak pagi bersama
para mata-mata.
Sudah tiga puluh
menit sejak rombongan Count masuk ke dalam Dungeon. Waktunya beraksi.
Satu jam lagi, aku akan menjadi pahlawan kota ini dan naik pangkat jadi
Viscount.
Strateginya
begini: dua ratus mata-mata akan menyerbu dan melumpuhkan markas ksatria.
Sekuat apa pun mereka, mereka pasti kehilangan nyali di depan penjahat
bersenjata karena perlengkapan mereka belum pulih. Semua barang di toko senjata
dan Potion sudah kami borong. Kami unggul telak.
Sedikit
pengorbanan rakyat itu wajar. Setelah itu, tinggal menghabisi Count saat dia
keluar dari Dungeon. Lagipula, aku sudah mengirim kelompok Barkers
yang tangguh ke sana.
Anggota Barkers
memiliki darah yang sama denganku, jadi mereka semua adalah petualang peringkat
D yang hebat. Yah, siapa tahu Count malah kena sial di dalam sana, itu malah
lebih bagus. Rakyat pasti setuju kalau aku yang memimpin daripada si Beetle
yang tidak becus.
Karena aku akan
menjadi Count nanti, mungkin aku harus menyuruh rakyat memanggilku "Yang
Mulia" mulai sekarang.
Eh, tunggu dulu.
Selagi aku melamun, kulihat para mata-mata sudah menyerbu markas ksatria. Tapi
kenapa jumlahnya sedikit sekali ya...?
Ah, aku ingat!
Karena Count dijadwalkan masuk jam delapan, aku memberi perintah untuk
menyerang tiga puluh menit setelahnya, yaitu jam delapan lewat tiga puluh.
Namun, melesetnya
jadwal menjadi jam tujuh pagi saat Count masuk lebih awal adalah sebuah
kesalahan perhitungan.
Akibatnya, ada
yang menyerang jam tujuh lewat tiga puluh, dan ada yang menyerang jam delapan
lewat tiga puluh. Tapi bagi orang jenius sepertiku, seharusnya mereka menyerang
di tengah-tengahnya saja, jam delapan tepat.
Tapi anehnya,
markas yang seharusnya sedang diserbu itu langsung sunyi senyap. Padahal
seharusnya ada suara denting pedang, teriakan amarah, atau jeritan kesakitan.
Mungkin pasukan
ksatria langsung menyerah karena tidak punya senjata. Benar-benar pecundang
yang tidak berdaya.
Seharusnya mereka
sudah dilumpuhkan sekarang. Aku melangkah menuju markas untuk melihat
wajah-wajah ksatria yang tertangkap dengan mengenaskan. Namun, begitu aku
melewati gerbang, tiba-tiba pintu gerbang itu tertutup rapat.
"Kerja
bagus, Dames Barker."
Entah kenapa,
seorang ksatria bicara dengan nada tidak sopan padaku. Aku terlalu terkejut
dengan kelancangannya sampai-sampai lupa bertanya kenapa ksatria yang
seharusnya sudah kalah ini masih ada di sini.
"Hei, jaga
bicaramu! Aku bisa menghukummu atas tuduhan penghinaan!"
"Begitu ya.
Karena mulai besok kau bukan lagi bangsawan, bukan juga rakyat jelata,
melainkan budak, kaulah yang harus menjaga bicaramu."
"A-apa yang
kau katakan?"
"Seharusnya
hukumannya adalah hukuman mati, tapi karena kami sedang kekurangan tenaga
kerja, diputuskan kalian akan dijadikan budak."
Begitu dia
selesai bicara, ksatria lain langsung meringkusku. Apa mereka sudah gila?
Mungkin mereka terlalu tegang di depan sosok mulia sepertiku.
"Jika kau
melakukannya sekarang, aku akan memberimu keringanan. Bukan hukuman mati, tapi
cukup cambukan saja."
"Benar-benar
ya, si bodoh Dames ini otaknya sudah rusak. Dia sepertinya tidak paham situasi.
Tidak ada gunanya diajak bicara."
Salah satu
ksatria berkata begitu, lalu mereka semua tertawa menghinaku. Meski aku orang yang penyabar,
kali ini aku benar-benar marah.
"Hei, di
mana para mata-mata itu? Kenapa mereka tidak ada di sini?"
"Kau baru
saja mengaku secara tidak langsung, ya. Mereka semua sudah ditangkap. Karena
otakmu yang tumpul itu tidak akan sampai, biar kuberi tahu. Di antara mata-mata
itu, banyak orang kami yang menyusup. Apa kau tidak merasa aneh saat disuruh
menyiapkan senjata dan Potion untuk lima ratus orang? Hampir semua
perlengkapan itu dialirkan ke pasukan ksatria kami. Dan tiga puluh menit lagi
serangan gelombang kedua akan datang, kan? Kami sudah menyiapkan penyambutan
untuk mereka."
Dasar mata-mata
tolol! Kalian menghabiskan uangku dengan sia-sia!
Selama tiga puluh
menit aku dihujani makian dan hinaan. Dan benar saja, tiga puluh menit
kemudian, rombongan mata-mata baru dibawa masuk dalam keadaan terikat. Memang terdengar suara pertempuran
singkat, tapi semuanya berakhir dengan mudah.
"Nah,
Dames. Ikut kami."
Aku
dipaksa duduk bersimpuh di depan Dungeon sampai Count Beetle keluar.
Padahal jika mereka membawaku ke sini, mereka sendiri yang akan segera
dilumpuhkan oleh kelompok Barkers yang keluar dari Dungeon.
Mereka
benar-benar tidak becus. Count seharusnya sudah tertangkap oleh Barkers
sekarang. Aku jadi ingin tertawa membayangkan wajah pucat orang-orang bodoh ini
saat pintu terbuka nanti.
Namun,
berapa lama pun aku menunggu, anggota Barkers tak kunjung muncul. Entah
sudah berapa jam berlalu. Kakiku sudah kesemutan sampai-sampai aku tidak bisa
berdiri meski disuruh.
Dan akhirnya,
saat yang kunantikan tiba. Pintu Dungeon terbuka.
Bagus! Anggota Barkers
keluar! Benar-benar party
peringkat D yang bisa diandalkan.
"Kerja
bagus! Barkers! Akan kuberikan hadiah! Cepat lepaskan ikatan tali ini!"
Aku tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa pergelangan tangan anggota Barkers pun ternyata sedang terikat tali.



Post a Comment