NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Duke Regan


Hari ini adalah upacara penerimaan siswa kami. Acara ini hanya dihadiri oleh murid kelas satu dan para staf.

Pertama-tama, Duke Regan yang juga menjabat sebagai kepala sekolah memberikan pidato selamat datang kepada kami.

"Oi, apa kau percaya kalau dia sudah berumur lebih dari dua ratus tahun? Kaum Elf memang benar-benar luar biasa, ya." Gon berbisik di sampingku sambil memandangi Duke Regan yang sedang berpidato.

Memang, dilihat dari sisi mana pun, dia tampak seperti pria berumur dua puluh tahunan. Namun, ada hal lain yang lebih mengusik pikiranku. Hal itu adalah tatapan dari Duke Regan.

Mungkin ada yang menganggapku terlalu percaya diri, tapi ini berbeda. Dia tidak sekadar melihatku, melainkan "mengamati". Sepertinya dari atas podium sana, dia sedang melakukan Appraisal padaku. Berkali-kali pula.

Setiap kali aku merasakan tatapan yang tidak menyenangkan itu, ekspresi Duke Regan tampak mendung. Mungkinkah Duke Regan pun gagal melakukan Appraisal padaku?

Setelah pidato Duke Regan selesai, Karen yang menempati peringkat pertama Kelas S maju untuk memberikan sambutan sebagai perwakilan siswa baru.

Kira-kira seperti apa statistik Karen yang merupakan peringkat satu di angkatan ini?

Dengan jumlah orang sebanyak ini, kurasa tidak akan ada yang tahu siapa yang sedang melakukan Appraisal. Berbekal pemikiran ringan itu, aku mencoba memeriksa statistik Karen.


[Nama] Karen Lionel

[Title]

[Status Sosial] Manusia, Putri kedua keluarga Duke Flesvaldt

[Kondisi] Baik

[Usia] 11 Tahun

[Level] 28

[HP] 110110

[MP] 502502

[Strength] 33

[Agility] 45

[Magic Power] 105

[Dexterity] 65

[Endurance] 28

[Luck] 10

 

[Special Ability] Charm Eye

[Special Ability] Whipmanship B (Lv017)

[Special Ability] Chainmanship C (Lv015)

[Special Ability] Fire Magic A (Lv1119)

 

[Equipment] Salamander Rod

[Equipment] Salamander Robe


Seperti yang diharapkan dari peringkat pertama. Sepertinya Karen adalah tipe spesialis sihir, dan sihir yang ia gunakan adalah Fire Magic, senada dengan warna rambutnya yang seperti api membara.

Lalu, dia juga memiliki bakat yang agak mencurigakan seperti Whipmanship dan Chainmanship. Namun, yang paling membuatku penasaran tentu saja adalah Charm Eye miliknya.

Saat aku kembali memfokuskan pandangan pada Karen untuk mencoba memeriksa kemampuan itu, Karen yang sedang berpidato tiba-tiba berhenti bicara. Ia kemudian memelotot ke arah sini.




Ketahuan ya? Aku langsung mengalihkan pandangan dengan cepat.

Kalau dipikir secara tenang, tindakan barusan sama saja dengan mengumumkan kalau aku sedang melakukan Appraisal, tapi mau bagaimana lagi, aku tadi panik.

Dia pasti sudah menyadari kalau itu aku.

Begitu aku menyerah dan memutuskan untuk mendengarkan pidato perwakilan siswa baru dengan patuh, suara obrolan mulai terdengar dari sana-sini.

"Hei. Mereka yang duduk di atas podium itu semuanya murid Kelas S, kan?"

"Gadis berambut perak itu cantik sekali, ya? Sejak tadi dia tersenyum ke arahku, lho."

"Bukan padamu, tahu. Dia tersenyum padaku."

"Kalau aku sih, tipeku gadis yang berambut pirang itu."

"Kalian tidak punya selera. Sudah jelas yang paling hebat itu kaum Elf."

Tidak ada yang mendengarkan pidato perwakilan siswa baru; semua perhatian mereka tertuju pada Clarice dan yang lainnya di atas podium.

Namun, ada percakapan yang menarik perhatianku.

"Tapi gadis-gadis itu pasti bakal digaet oleh si Pahlawan dari Utara, ya."

"Iya, sudah rahasia umum kalau Baron itu geraknya cepat."

"Rumornya, dia sudah berhubungan dengan Karen-sama... Argh, membuat iri saja."

Pahlawan dari Utara bernama Baron itu adalah pria berambut cokelat dengan gaya all-back dan sedikit poni yang berdiri di samping Karen tempo hari. Dia memang tipe pria yang terlihat akan sangat populer.

Sekilas ia tampak seperti pria budiman, tapi kabar miring tentangnya tidak pernah berhenti.

Lalu ada satu lagi, pria bernama Dominic yang dijuluki Master Pedang dari Kerajaan Suci Deador. Pria yang mengikat rambut cokelat tuanya ke belakang itu juga kabarnya adalah seorang playboy.

◆◇◆

Upacara penerimaan berakhir tanpa hambatan, dan begitu kembali ke kelas, pelajaran pun segera dimulai.

Sebagai pemilik peringkat terbawah, kursiku berada di pojok paling belakang kelas.

Dan hampir semua teman sekelasku lebih tua dariku.

Aku tidak memeriksa statistik mereka semua, tapi sejauh pengamatanku secara sembunyi-sembunyi, selain Gon dan Karl, semuanya adalah angkatan lama.

Usia tertua adalah empat belas tahun.

Karena tidak mungkin semua orang lahir pada tanggal satu Januari, kemungkinan batas usia pendaftaran Akademi Nasional Lister adalah empat belas tahun.

Artinya, jika sudah dewasa, seseorang kehilangan hak untuk mendaftar.

Tanpa ada sesi perkenalan, kebijakan pendidikan sekolah langsung dijelaskan secara singkat.

Di Akademi Nasional Lister, mereka yang mengambil posisi garda depan pun diwajibkan untuk menguasai sihir.

Sedangkan bagi para penyihir, mereka diminta untuk menguasai setidaknya dua jenis sihir.

Namun ada pengecualian; bagi mereka yang ingin mendalami satu jenis sihir sampai ke puncaknya, fokus pada satu bidang saja diperbolehkan.

Bagi mereka yang tidak berbakat sihir, aturan ini mungkin terasa berat, tapi katanya jika berusaha keras, setidaknya saat dewasa mereka akan bisa menggunakan sihir tertentu.

Selain itu, kelulusan juga sempat dibahas sedikit.

Akademi Nasional Lister memang program lima tahun, tapi murid bisa lulus tanpa harus mendekam selama lima tahun penuh.

Namun syaratnya sangat berat, sampai-sampai murid yang bisa melakukannya hanya muncul satu orang setiap beberapa tahun sekali.

Terakhir, kartu tanda siswa akan diterbitkan dalam waktu satu bulan, dan bersamaan dengan itu, seluruh murid akan mendapatkan lisensi Petualang Peringkat E.

◆◇◆

Pagi hari diisi dengan belajar teori di dalam kelas, lalu saat siang tiba, aku bersama Gon dan Karl pergi ke gedung kantin.

Di gedung kantin pun pembagian kelas diterapkan dengan ketat. Lantai tiga hanya boleh dimasuki oleh Kelas S dan Kelas A, sementara lantai dua dibatasi hingga Kelas C.

Lantai satu sendiri dapat digunakan oleh murid dari kelas mana pun.

Menu di setiap lantai pun berbeda-beda. Katanya, makanan yang sangat mewah disediakan di lantai tiga.

Ngomong-ngomong, semua makanan di sini gratis.

Karena aku sedang dalam masa pembentukan otot dan menjaga kesehatan, aku cukup makan dada ayam kaya protein dan salad. Untungnya, kedua menu itu tersedia di lantai satu.

Saat kami sedang makan di lantai satu, tiga baki makanan diletakkan di depan kami.

"Boleh kami gabung?"

Yang menyapa adalah Clarice, Elie, dan Misha.

"Tentu saja."

Melihat murid berseragam garis merah makan di lantai satu adalah pemandangan yang sangat langka, sehingga suasana sekitar mulai riuh.

Mengenai menu mereka bertiga, Clarice mengambil menu yang hampir sama denganku tapi dengan porsi salad yang sangat banyak.

Misha pun tampaknya meniru kami dengan mengambil dada ayam dan salad, tapi masalahnya adalah Elie.

Menu yang dibawa Elie adalah daging sapi, daging babi, dan daging unggas bertulang.

Semua itu tidak ada dalam menu lantai satu; kemungkinan besar ia membawanya dari kantin lantai tiga.

Saat Elie hendak melahap daging-daging itu dengan nikmat, Clarice meletakkan porsi salad ekstra di depannya, membuat Elie menatapku dengan pandangan meminta tolong.

"Elie. Kamu juga harus makan salad, tahu?"

"……Tidak mau…… makan salad…… bisa mati……"

Tentu saja itu tidak mungkin.

"Ti-dak bo-leh. Makan ini."

Clarice memaksa Elie makan sayuran dengan sedikit paksaan.

"……Iblis…… setan……"

Sambil terus melawan, Elie pun akhirnya disuapi sayuran oleh Clarice seperti biasanya.

Gon dan Karl tampak terpesona melihat keakraban Clarice dan Elie.

"Semuanya, boleh aku tanya sesuatu? Apa kalian tahu apa itu Charm Eye?"

"Charm Eye?"

Clarice dan Elie memiringkan kepala mereka, tapi sepertinya Gon dan Karl tahu dan mulai menjelaskan dengan bangga.

"Charm Eye itu adalah mata iblis terkuat yang bisa mengendalikan lawan jenis yang memiliki Magic Power lebih rendah dari penggunanya! Terhadap sesama jenis, kabarnya memiliki efek yang sama dengan Binding Eye yang bisa mengunci pergerakan! Meski katanya durasi pengunciannya tidak selama Binding Eye yang asli sih. Dan luar biasanya, di sekolah ini ada dua pengguna Charm Eye! Mereka adalah……"

Bisa mengendalikan sesukanya?!

Itu benar-benar berbahaya, kan?!

Lalu, ada dua orang berarti selain Karen masih ada satu orang lagi?

Perhatianku dan Clarice kini terpusat pada Gon. Namun, justru Karl yang membuka suara.

"Yaitu Duke Regan dan Karen-sama. Ngomong-ngomong, pengguna Charm Eye di dunia ini konon bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, jadi itu adalah mata iblis yang sangat langka."

Karl hanya bicara santai saat bersama Gon, tapi dia tetap menggunakan bahasa formal saat bicara denganku.

"Oi! Padahal aku baru mau mengatakannya setelah membangun suasana!"

Kali ini giliran Gon dan Karl yang bercanda satu sama lain.

Tiba-tiba, Sasha berlari ke arah meja kami dengan wajah panik.

"Ketemu juga. Mars. Bisa ikut Ibu sebentar?"

"Halo. Tentu saja boleh. Tapi ke mana?"

"Ruang Kepala Sekolah."

Ruang Kepala Sekolah?! Kenapa aku dipanggil ke tempat seperti itu?

"Ibu. Kenapa Mars dipanggil oleh Kepala Sekolah?"

Misha bertanya kepada Sasha mewakili rasa penasaranku.

"Begini. Saat Mars mengikuti ujian, Duke Regan sedang pergi ke Pertemuan Meja Bundar. Beliau baru kembali kemarin. Setelah aku melaporkan tentang ujian Mars, kegagalan Appraisal-nya, dan kemampuan Mars sejauh yang kuketahui, beliau bilang ingin sekali bertemu langsung."

Pertemuan Meja Bundar? Muncul lagi istilah yang tidak kuketahui.

Yah, karena firasatku bilang itu tidak ada hubungannya denganku, aku memutuskan untuk mengabaikannya.

"Kalau begitu, tidak baik jika membiarkannya menunggu. Mari kita pergi sekarang."

"Syukurlah kamu cepat mengerti. Ikuti Ibu."

Saat Sasha menarik tanganku untuk berdiri, sekali lagi tatapan iri dari murid-murid sekitar menusukku... dan yang paling tajam memancarkan tatapan itu adalah Gon dan Karl yang duduk di sebelahku.

"Duke Regan. Ini Sasha. Saya membawa Mars."

Setelah Sasha mengetuk pintu besar itu, seseorang yang tampak seperti staf di dalam ruangan membukakan pintu.

"Permisi."

Sasha memimpin jalan, diikuti aku, Clarice, Elie, bahkan Misha pun ikut masuk ke dalam ruang kepala sekolah.

Tampaknya mereka bertiga merasa khawatir sehingga memutuskan untuk ikut.

Di depan meja tempat Duke Regan duduk, terdapat tumpukan dokumen yang menggunung.

"Ternyata benar Anda adalah Mars. Bahkan dari atas podium pun, saya bisa langsung tahu kalau itu Anda. Bisakah Anda memperkenalkan diri secara resmi?"

Sambil menyimpan rasa penasaran kenapa beliau bisa tahu kalau aku Mars, aku menjawab.

"Baik. Nama saya Mars Bryant, putra kedua dari keluarga Viscount Bryant di Kerajaan Balcus."

Entah kenapa mata Duke Regan membelalak mendengar perkenalanku.

"Keluarga Viscount Bryant?! Mungkinkah Mars punya kakak laki-laki?"

Beliau bicara formal padaku? Apa ini karena beliau adalah seorang pendidik sebelum menjadi seorang Duke?

"Benar. Saya punya kakak bernama Ike yang tahun ini memasuki usia dewasa. Sepertinya beliau sedang menempuh pendidikan di sekolah ini... Apakah kakak saya baik-baik saja?"

"Ternyata benar... kalau begitu banyak hal yang bisa saya pahami sekarang. Gre... Ike baik-baik saja kok. Dia adalah sosok yang sangat dibutuhkan di sekolah ini."

Aku ingin tahu apa maksud dari 'paham' itu, tapi aku tidak bisa bertanya begitu saja pada seorang Duke.

Untuk sekarang, mengetahui kalau Ike baik-baik saja sudah cukup bagiku.

"Saya sudah mendengar tentang Mars dari Sasha. Tadi dari atas podium saya mencoba melakukan Appraisal pada Mars, tapi bahkan dengan Charm Eye saya pun, saya tidak bisa melihat statistik Mars. Apakah Anda mengenakan perlengkapan yang mengganggu proses identifikasi?"

Duke Regan secara terang-terangan mengakui bahwa beliau melakukan Appraisal.

"Tidak, saya tidak mengenakan hal semacam itu..."

Duke Regan mengangguk, lalu matanya memancarkan cahaya yang misterius.

Pada saat itu, aku merasa seolah akan tersedot ke dalam mata Duke Regan, tapi perasaan itu hanya berlangsung sekejap.

"Eh?! Bahkan Charm Eye pun tidak mempan?!"

Suara Duke Regan bergema di dalam ruangan, tampak sangat terkejut.

"Bagaimana mungkin? Padahal seharusnya tidak ada orang yang bisa menahan Charm Eye Duke Regan dalam jarak sedekat ini... Mars, apa kau memakai perlengkapan yang memiliki ketahanan terhadap efek status?"

Sasha bertanya padaku, tapi tentu saja aku tidak memakai perlengkapan semacam itu.

"Saya sudah hidup hampir tiga ratus tahun, tapi baru kali ini bertemu orang seperti Mars. Jika tidak keberatan, bolehkah Anda memberitahu statistik Anda?"

Laporan mandiri, ya... Dengan Gelang Penyamaran, aku menekan hampir seluruh statistikku sampai di bawah setengahnya, tapi Sasha tahu kalau aku pernah bertukar sabetan pedang dengan Cyrus.

Ada kemungkinan bakal ketahuan kalau aku melapor terlalu rendah, tapi aku juga tidak berniat jujur sepenuhnya.

Aku akan melaporkan statistik yang dirasa cukup pas, dan kalau diprotes, baru akan kupikirkan nanti.

Dengan pemikiran itu, aku melaporkan Strength dan Agility di angka sekitar 60, Dexterity dan Endurance di angka 50, lalu untuk Magic Power di angka 40. Untuk Special Ability, aku hanya melaporkan Swordmanship, Fire Magic, dan Wind Magic. Itu pun dengan level yang sudah kuturunkan.

Saat aku melapor, alis Sasha yang indah sedikit berkedut. Yah, dia pasti tahu kalau aku bohong.

"Begitu rupanya... Tidak sangka permata sepertimu hampir saja gagal di ujian tahap pertama. Namun, karena identifikasi dengan mata iblis tidak bisa dilakukan, hal ini memang tak terelakkan. Jika aku menaikkan Mars ke Kelas S sekarang, murid-murid lain akan ragu apakah penilaian kami selama ini salah, dan itu bisa memicu para peserta yang tidak lulus untuk minta ujian ulang. Karena itu, Mars..."

"Baik. Untuk sementara saya tetap di Kelas E juga tidak apa-apa kok."

Fuuuh... berkat Sasha yang tetap diam, kebohonganku tidak terbongkar.

Meski aku merasa sudah cukup menekan statistikku, ternyata itu masih setara dengan Kelas S ya.

Ada alasan kenapa aku begitu menyembunyikan statistikku. Sieg sudah memperingatiku agar tidak bertindak terlalu mencolok.

Tidak ada untungnya jika posisi kami sebagai pengguna Sacred Magic sampai menarik perhatian.

Yah, sebenarnya sudah terlambat bagi Clarice karena dia menjadi pusat perhatian di upacara tadi.

"Terima kasih. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar Anda bisa segera pindah ke Kelas S secepatnya. Sebagai gantinya, saya akan membebaskan biaya sekolah Anda."

Yah, mau bagaimana lagi karena ujian ini memang berbasis identifikasi statistik sedangkan aku tidak bisa diidentifikasi.

Lagipula, pembebasan biaya sekolah itu sangat membantu. Bagaimanapun, biaya sekolah di sini sangat mahal.

Namun, ada satu orang yang tidak setuju dengan keputusan ini.

"……Tidak boleh…… Mars…… harus nomor satu……"

Dalam situasi begini, Elie malah merajuk.

"Anda pasti..."

Duke Regan berucap sambil mengalihkan pandangan ke dokumen di tangannya. Sepertinya dokumen di meja itu berisi data kami para murid baru.

"Eh?! Mungkinkah Anda putri dari Burns?!"

Duke Regan mengangkat wajahnya dan langsung melakukan Appraisal pada Elie tanpa permisi.

"Tidak disangka pewaris keluarga Duke Seleance masuk sekolah di situasi seperti ini... Ditambah lagi statistik garda depan seperti ini... Mars, Elie, dan Karen. Jika ketiga orang ini ditambah Baron, Dominic, dan Misha, maka akan tercipta party terbaik dalam sejarah Akademi Nasional Lister..."

Senyum tersungging di wajah Duke Regan yang sedang bergumam sendiri. Namun itu hanya bertahan sampai beliau menyadari tatapan menusuk dari Elie.

"Elie. Mohon mengertilah. Saya mengakui kalau Mars itu kuat, tapi kami juga punya alasan tertentu..."

Meski begitu, Elie tidak mau mengalah.

"……Tidak boleh……"

Lawan bicaranya adalah kepala sekolah sekaligus salah satu dari Dua Belas Duke di Federasi Lister.

Aku merasa kagum sekaligus was-was melihat Elie yang berani mempertahankan pendapatnya tanpa rasa takut. Misha pun tampak terkejut melihat sikap tegas Elie.

Namun, jika terus begini, pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya. Di sinilah bantuan Clarice masuk.

"Elie. Jangan membuat beliau susah. Jika bersabar sedikit, kamu mungkin bisa satu kelas dengan Mars... tidak, kalau itu Mars, dia pasti bisa. Bersabarlah sampai saat itu tiba."

Meskipun Elie bersikeras menolak kata-kata Duke Regan, ia tampak bimbang saat Clarice yang mengatakannya.

"……Tapi……"

"Tidak apa-apa. Aku juga bersamamu kok."

"……Baiklah……"

Saat Clarice mengusap kepala Elie sambil menasihatinya dengan lembut, Elie akhirnya mengangguk pasrah.

Luar biasa, Clarice. Dia memang sudah terbiasa menangani Elie.

Ketertarikan Duke Regan yang melihat interaksi mereka berdua kini beralih kepada Clarice.

"Lalu... Anda adalah..."

Beliau kembali melihat dokumen di tangannya, namun Clarice memperkenalkan diri dengan gerakan curtsey yang sempurna.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Nama saya Clarice Lampard, putri sulung dari keluarga Baron Lampard di Kerajaan Zarcam. Terima kasih banyak karena telah memasukkan saya dan Elie ke dalam Kelas S."

Melihat senyuman yang mekar bagaikan bunga itu, Duke Regan sempat kehilangan kata-kata sejenak.

"……E-eh, iya. Clarice sekarang berumur... sebelas tahun?! Mungkinkah Anda?!"

Aku tahu apa yang ingin beliau katakan. Beliau pasti ingin bertanya apakah Clarice seorang pengguna Sacred Magic.

Namun, Clarice sudah menyiapkan perlindungan selain Gelang Penyamaran agar tetap aman meski ditanya begitu.

"Bukan, saya adalah pengguna Water Magic, dan saya juga bisa menggunakan sedikit Wind Magic."

Ya, di dunia ini, seorang pengguna Sacred Magic tidak bisa menggunakan sihir lain. Sudah menjadi rahasia umum bahwa meski bisa, levelnya pasti sangat rendah.

Duke Regan pun tidak luput dari pemikiran itu, ia tampak lemas setelah melakukan Appraisal pada Clarice.

Ngomong-ngomong, di hasil identifikasi itu usianya pasti tertulis dua belas tahun. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku dan Clarice.

"Begitu rupanya... Tapi saya sangat terbantu berkat Clarice. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Clarice dan Elie tampak sangat akrab, sebenarnya apa hubungan kalian?"

Itu pertanyaan yang wajar, karena Elie tidak mendengarkan perkataan Duke Regan tapi patuh pada kata-kata Clarice.

"Mereka berdua adalah tunangan saya. Rencananya Clarice akan menjadi istri sah, dan Elie sebagai selir."

Aku memutuskan untuk menjelaskan hubungan kami.

"Clarice sebagai istri sah?! Bukan Elie?!"

Duke Regan tampak tidak bisa menerima hal itu.

"……Clarice…… lebih kuat dariku…… penyelamat……"

"Clarice lebih kuat dari Anda yang berasal dari kaum Singa Emas...? Sulit dipercaya..."

Mendengar ucapan Elie, Duke Regan kembali melakukan Appraisal pada Clarice.

Kenyataannya, mereka berdua belum pernah bertarung dengan serius sampai sekarang, tapi jika bertarung pun, kurasa kemenangan ada di tangan Clarice.

Elie akan sangat kesulitan untuk mendekati Clarice, dan meski ada waktu cool-down, Clarice bisa menahan serangan Elie setidaknya sekali dengan sihir pelindung.

Ditambah lagi, sihir suara pun tidak berdaya di hadapan Magic Arrow.

"Begitu ya... Baiklah, sepertinya hal ini akan segera terbukti dalam waktu dekat, jadi saya akan menantikannya. Itu saja pertanyaan dari saya. Apakah kalian ada yang ingin ditanyakan?"

Banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi saat aku ragu apakah boleh bertanya, Clarice justru mendahului bertanya pada Duke Regan.

"Terima kasih atas kamar yang sangat bagus. Mengenai hal itu ada satu hal yang ingin saya tanyakan, apakah saya tidak boleh tinggal sendirian?"

"Ya. Walaupun kalian sudah bertunangan, mohon maaf kalian tidak bisa tinggal bersama Mars..."

"Eh?! Bukan, maksud saya bukan bersama Mars, tapi bersama Elie! Saat kami menumpang di kediaman Viscount Bryant, saya selalu satu kamar dengan Elie."

Saat Clarice menjelaskan dengan panik...

"Fufufu, sepertinya memang masih belum saatnya ya... Baiklah. Saya izinkan Anda tinggal bersama Elie."

Duke Regan menanggapi dengan nada lembut sambil bercanda. Clarice yang menyadari dirinya sedang digoda langsung merona merah di pipinya.

Suasana ruangan jadi jauh lebih santai sekarang. Kurasa saat ini aku bisa mengajukan permohonan.

"Saya juga punya satu permohonan... Apakah saya diperbolehkan untuk melakukan identifikasi pada Anda?"

Begitu aku menanyakan hal yang paling ingin kuketahui, senyum di wajah Duke Regan menghilang sekejap.

"Mungkinkah Mars juga memiliki mata iblis?"

Gawat, sepertinya aku salah bicara. Tapi karena sudah terlanjur bertanya, aku tidak bisa mundur lagi.

"Saya memiliki kemampuan bernama Magic Vision yang bisa melihat aliran Magic Power..."

"Magic Vision?! Ah, itu juga termasuk salah satu mata iblis. Silakan, Anda boleh melakukannya."

Setelah mendapat izin, aku segera melihatnya.


[Nama] Sarah Elizabeth

[Title] Water KingWind King

[Status Sosial] High Elf, Kepala Keluarga Duke Regan

[Kondisi] Baik

[Usia] 284 Tahun

[Level] 78

[HP] 245245

[MP] 11061206

[Strength] 82

[Agility] 102

[Magic Power] 302

[Dexterity] 122

[Endurance] 74

[Luck] 1

 

[Special Ability] Charm Eye

[Special Ability] Water Magic B (Lv1517)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv1719)

 

[Equipment] Magic Ring


Selain usianya, yang benar-benar mengejutkan adalah statistiknya... Berbeda dengan Burns yang sangat menonjol di garda depan, Duke Regan adalah tipe petarung baris belakang yang sempurna. Magic Power sebesar 302 ditambah gelar [Water King] dan [Wind King] pula...

"Terima kasih banyak. Baru kali ini saya melihat orang dengan Magic Power melebihi 300."

"Iya. Tapi bukankah yang barusan Mars lakukan adalah Appraisal? Rasanya sedikit berbeda dengan identifikasi orang lain... Bukan sekadar melihat tembus pandang, tapi seolah-olah sampai ke bagian dalam diri saya..."

Melihat bagian dalam diri? Memang benar aku bisa melihat lebih detail daripada identifikasi orang lain, tapi sampai bisa terasa seperti itu ya.

"Benar. Itu memang Appraisal."

"Begitu ya. Baiklah. Saya punya jadwal lain setelah ini, jadi cukup sampai di sini untuk hari ini. Maaf sudah memanggil kalian tiba-tiba."

Atas arahan Duke Regan, kami pun meninggalkan ruang kepala sekolah.

"Sampai ketemu sepulang sekolah nanti ya."

Setelah berpisah dengan Clarice dan yang lainnya, aku kembali ke ruang Kelas E.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close