Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Ujian Tahap
Pertama Sekolah Nasional Lister
"Satu
keping emas per malam!?"
Tanpa
sadar aku meninggikan suara mendengar ucapan pemilik penginapan. Ayahku,
Siegfried, memang sudah memperingatkan bahwa harga di sini mahal, tapi aku
tidak menyangka akan setinggi ini.
"Maaf ya, Nak. Musim ini memang waktu panen bagi
kami. Kalau kamu pergi ke bagian utara di pusat kota, harganya bakal jauh lebih
gila lagi."
Seorang wanita ramah muncul dari belakang dan meminta
maaf dengan tulus.
Aku bisa saja mencari penginapan lain, tapi akan jadi
bencana jika tidak menemukannya. Bagaimanapun, jumlah orang yang lalu lalang di
kota ini berkali-kali lipat dari Almeria... mungkin puluhan kali lipat. Aku
bisa membayangkan penginapan ini akan langsung penuh saat aku kembali nanti.
"Baiklah. Saya ambil untuk satu malam."
Begitu aku menyerahkan keping emas pada pemiliknya,
wanita ramah tadi mengantarku menuju kamar.
Begitu sampai di kamar lantai tiga, aku langsung menatap
pemandangan kota dari jendela.
—Kota Akademis, Regan.
Terletak hampir di tengah-tengah Benua Pusat, kota ini
disebut-sebut sebagai salah satu tempat paling makmur, tidak hanya di benua ini
tapi di seluruh dunia.
Lebar jalan utamanya konon lebih dari lima puluh meter,
namun kerumunan orang di sana membuat jalan itu terasa sempit.
Ada peserta ujian yang celingak-celinguk seperti anak
kecil yang tersesat di labirin.
Di sisi lain, ada pemandangan yang menunjukkan seorang
putri bangsawan agung yang berjalan angkuh bersama sosok yang tampak seperti
ayahnya, dikawal ksatria berbaju zirah berkilauan.
Para penduduk pun berhenti melangkah karena kagum melihat
mereka. Belum lagi para petualang berpakaian mewah yang berlalu lalang.
Aku bersumpah akan masuk ke Sekolah Nasional Lister dan
menjadi orang yang pantas berjalan di kota ini... Tidak, aku akan membuktikan
diri sebagai laki-laki yang tidak memalukan bagi adikku, Mars!
Dengan tekad baru, aku pun belajar dengan giat hingga
waktu tidur tiba.
—Hari Ujian.
Setelah sarapan di penginapan, aku segera menuju Sekolah
Nasional Lister yang menjadi lokasi ujian. Begitu keluar, para peserta ujian
seusia denganku sudah memadati jalan menuju utara, tempat sekolah itu berada.
Sepertinya hari ini ada pembatasan aktivitas bagi warga selain pihak sekolah
dan peserta ujian; siapa pun yang ingin keluar harus mengajukan izin terlebih
dahulu.
Ini langkah yang wajar, mengingat pada tahun-tahun
tersibuk, peserta ujian bisa mencapai lebih dari lima puluh ribu orang.
"Tahun ini kita harus lolos ujian tahap
pertama!"
"Kira-kira berapa ambang batas nilai tahun
ini?"
"Dua tahun lalu dan tahun kemarin nilainya 10, jadi
tahun ini mungkin sama."
Selama berjalan menuju sekolah, aku menajamkan telinga
mendengar bisik-bisik antar peserta ujian yang saling mengenal.
Ambang batas 10?
Apa itu?
Saat aku mengikuti arus manusia, aku melihat banyak orang
yang berjalan berlawanan arah kembali dari sekolah. Mereka semua menunduk,
bahkan banyak yang berjalan sambil berurai air mata.
"Oi, mereka sudah dapat hasilnya?"
"Tetap saja mengerikan seperti biasanya."
"Mungkin beberapa puluh menit lagi kita akan jadi
seperti mereka."
Apa!? Hasilnya sudah keluar? Terus, 'beberapa puluh menit
lagi kita akan jadi seperti mereka'? Apa ujiannya selesai secepat itu?
Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, tapi aku terus
terbawa arus hingga gerbang utama Sekolah Nasional Lister terlihat.
Lebar gerbangnya sama dengan lebar jalan, lebih dari lima
puluh meter. Di tengahnya terdapat semacam pembatas; peserta ujian masuk dari
sisi kanan, sementara mereka yang gagal keluar dari sisi kiri.
Namun, jumlah orang yang keluar dari dalam benar-benar
gila. Kecepatan orang yang keluar sama—atau mungkin lebih cepat—daripada mereka
yang masuk, seolah-olah orang yang gagal dimuntahkan dari dalam sana. Jika
diperhatikan, pria yang tadi berkata ingin lolos ujian tahap pertama kini
berjalan gontai dengan mata berkaca-kaca, seakan terdorong keluar menuju kota
Regan.
"Berbaris dua berbanjar! Berbaris dua
berbanjar!"
Saat mendekati gerbang, pihak sekolah berteriak
memerintahkan peserta untuk berbaris. Aku mengikuti instruksi dan masuk ke
barisan sebelah kanan.
Begitu melewati gerbang, di sisi kanan ada lima orang
dewasa yang menatap tajam ke arah kami sambil menggumamkan sesuatu. Di belakang mereka, ada orang-orang yang sibuk mencatat di atas kertas.
Aku langsung paham apa yang mereka lakukan, atau
lebih tepatnya, apa yang sedang dilakukan pada kami. Appraisal! Kelima
orang itu sedang meng-Appraisal kami semua! Hasilnya disampaikan kepada
pencatat di belakang mereka, lalu dituliskan ke atas kertas!
"Ambil kertasnya satu-satu! Kalian harus
mendapatkannya dari kelima orang itu!"
Jadi kelima orang itu akan meng-Appraisal kami,
lalu kami akan diberikan kertas berisi hasilnya.
Saat melewati orang pertama, aku merasakan tatapan yang
seolah menyelimuti permukaan tubuhku. Rasanya mirip seperti saat Lucia meng-Appraisal-ku.
Tapi, jika Mars yang melakukannya, rasanya bukan hanya di permukaan, melainkan
seolah seluruh bagian dalam diriku ikut ditembus.
Begitu menerima kertas dari pencatat di belakang orang
pertama, aku melihat nama serta deretan angka dan alfabet.
Ike, 10, 7, 5, 4, 9, S, S
Aku terus berjalan tanpa berhenti hingga mendapatkan
kelima kertas tersebut. Semuanya berisi angka dan alfabet yang sama persis.
Saat aku berjalan sambil memperhatikan kertas-kertas itu, tiba-tiba pundakku
ditepuk. Seorang pria yang tampak seperti pengajar berdiri di sana.
"Selamat, kamu lolos ujian tahap pertama. Jalan
lurus dan tunjukkan kertas-kertas itu pada pria yang berdiri di sana."
Peserta ujian lain berbelok membentuk lengkungan menuju
sisi kiri gerbang. Tidak ada orang lain di dekatku yang berjalan lurus.
Mars, Clarice, dan Ellie juga merasa cemas soal ujian
tahap pertama ini, tapi jika begini, aku yakin mereka bertiga pasti akan lolos
dengan mudah.
...Saat itu, aku sama sekali tidak menyangka bahwa Mars
justru akan gagal dalam ujian yang bahkan aku pun bisa lolos.
Previous Chapter | ToC | Close V2



Post a Comment