Chapter 9
Anomali
Hari Kelima
Ujian Labirin, Sore Hari.
"Fuuuh... Benar-benar melegakan
bisa menghirup udara luar setelah sekian lama!"
Begitu kami kembali ke Kota Arahan
untuk mengisi perbekalan, aku melihat kerumunan murid lain yang juga baru saja
keluar dari labirin.
Di antara
mereka, aku mendapati sosok Gon. Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil dari
gelagatnya.
"Ada
apa, Gon? Apa kamu salah makan sesuatu?"
Saat aku
menghampiri dan menyapa Gon yang tampak lesu itu, dia perlahan mengangkat
wajahnya.
"Mars, ya... Karl dan Tian
terluka. Kami tidak
bisa masuk lagi sampai mereka berdua pulih."
Gon kembali
menundukkan pandangannya dengan muram.
"Aku
terlalu bersemangat dan maju terlalu jauh ke depan... Lalu, Fire dari Goblin Mage melesat ke arahku.
Tian mencoba
mengaverku, tapi fokusku malah teralih ke arah lain. Karl yang melihat itu langsung melindungi Tian, dan
akhirnya formasi kami berantakan..."
Rasa
sesal tampak mendominasi hati Gon, hingga air mata hangatnya jatuh membasahi
tanah.
Apa yang
harus kukatakan untuk menghiburnya? Apa yang dilakukan murid senior yang
mendampingi mereka, atau staf yang seharusnya berada di dekat sana?
Melihat air
mata Gon, perasaanku pun ikut bergejolak hebat.
"Oi,
Mars. Itu bukan sesuatu yang harus kamu cemaskan."
Kylus
meletakkan tangannya di pundakku, lalu melanjutkan bicaranya.
"Aku pun
sama. Aku tidak sudi melihat murid-muridku terluka. Tapi dengar, ini adalah
rasa sakit yang harus kalian alami selagi masih muda."
"Mungkin
banyak orang di sekitar yang bisa membantu. Namun, jika mereka selalu dibantu,
mereka tidak akan pernah mendapatkan pengalaman berharga. Karena itulah, selama
lukanya tidak berakibat fatal, aturan dasarnya adalah kami tidak akan ikut
campur. Jadi, bagaimana keadaan Karl dan Tian?"
"Iya...
Kata petugas, besok mereka sudah akan sembuh total, tapi mereka diminta
istirahat satu hari lagi untuk observasi."
Syukurlah,
ternyata lukanya tidak separah yang kubayangkan.
"Apa
luka mereka akan membekas?" tanyaku memastikan.
"Mungkin
akan ada sedikit bekas luka di lengan Karl... Kalau Tian hanya menderita luka
memar, jadi sepertinya tidak akan berbekas," jawab Gon atas pertanyaanku.
"Luka
bagi laki-laki adalah lencana kehormatan! Lihat lenganku ini! Setiap luka ini
adalah bukti bahwa aku telah menyelamatkan kawan! Lain kali, berjuanglah agar
kamu bisa menyelamatkan mereka! Jangan menyerah!"
Kylus menepuk
punggung Gon yang membungkuk itu dengan sekuat tenaga.
"Baik!
Terima kasih banyak!"
Meski tampak
kesakitan, semangat Gon kembali berkobar dan punggungnya kini tegak kembali.
"Bagus!
Aku mau pergi melihat kondisi bocah-bocah yang lain sebentar. Kalian juga,
cepat istirahatkan tubuh kalian!"
Tak sedikit
murid yang tertunduk lesu seperti Gon. Kylus menghampiri mereka satu per satu,
menyapa, dan menepuk punggung mereka.
Sambil
memperhatikan pemandangan itu, Gon bertanya kepadaku.
"Kelompok
Mars tidak ada yang terluka, kan? Kenapa kalian malah kembali?"
"Ah, itu
untuk mengisi suplai makanan. Karena aku hanya bergerak berdua dengan guru, kami tidak punya Porter.
Tapi mulai besok, Guru Kylus yang akan membawakan logistik, jadi kami berencana
turun sampai lantai tiga."
Selama
tiga hari terakhir, Kylus telah memantau kemampuanku untuk memastikan apakah
aku sanggup bertarung sendirian di lantai dua. Dia mengamatiku dengan sangat
hati-hati, karena menurutnya ada orang yang kuat dalam duel satu lawan satu,
namun lemah saat dikeroyok banyak musuh.
Apalagi
bagi barisan depan yang sering kali kehilangan konsentrasi karena terlalu fokus
pada musuh di depan mata.
Aku pun
setuju dengan pemikiran Kylus.
"Hebat,
ya. Aku jadi tidak sabar melihat sejauh mana Mars bisa melangkah. Tapi, jangan
memaksakan diri."
"Kamu
juga, Gon. Jangan terlalu dipikirkan, persis seperti yang dikatakan Guru Kylus
tadi."
Kami pun
saling mendoakan keselamatan masing-masing, lalu aku mengistirahatkan tubuhku
di atas kasur yang sudah lama kurindukan.
◆◇◆
Hari Keenam
Ujian Labirin, Pagi Buta.
Begitu bangun
dan menuju lobi penginapan, aku melihat para guru berkumpul terpisah dari
kerumunan murid.
Di sana, aku
melihat sosok Kylus dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Selamat
pagi. Ada apa, Guru?"
"Sudah jam segini, ya... Sana,
pergi jauh-jauh dulu."
Kylus mengusirku dengan kasar. Setelah
menunggu beberapa puluh menit, akhirnya Kylus selesai berbicara dengan staf dan
menghampiriku.
"Ayo berangkat. Hari ini aku yang
akan membawakan barang-barangmu, target kita adalah lantai tiga."
Suaranya tidak sebertenaga biasanya.
"Apa terjadi sesuatu?"
Aku
bertanya sambil berjalan menuju labirin, namun dia langsung membentakku.
"Berisik!
Pikirkan saja dirimu sendiri!"
Aku
tersentak. Tapi dari sana, aku tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk.
Apa yang
disembunyikan oleh para guru?
Sambil
menyimpan keraguan itu, aku pun melangkah masuk ke dalam labirin.
"Kamu...
apa terjadi sesuatu yang menyenangkan? Ayunan pedangmu hari ini terasa sangat
ringan."
Kylus yang
menyadari keanehan pada gerakanku mulai bertanya.
Aku merasa
tidak enak pada Kylus yang sepertinya sedang memendam masalah, tapi rupanya
emosiku terbawa ke dalam pedang.
Kenapa aku
merasa sangat senang? Itu
karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Clarice dan yang lainnya!
Sejak hari
pertama, aku belum pernah bertemu mereka lagi.
Selain karena
rute penyelaman yang berbeda, kudengar Clarice dan kawan-kawan sudah mencapai
lantai tiga sejak awal dan menjadikan tempat itu sebagai basis kegiatan mereka.
Mana mungkin aku yang selama ini cuma berkutat di lantai satu dan dua bisa
bertemu mereka.
"Tidak
juga, kok. Sama seperti biasanya," jawabku berdalih.
Aku tidak
tahu apa yang akan dikatakannya jika dia sampai tahu alasanku yang sebenarnya.
"...Begitu
ya... Ya sudah kalau begitu."
Tetap saja,
gelagatnya terasa aneh.
"Guru
sudah aneh sejak pagi tadi. Sebenarnya ada apa?"
Meski sudah
bersiap untuk dimarahi lagi, aku tetap mencoba bertanya.
"...Ah... Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita lanjut menyelam dengan
kecepatan seperti ini."
Kylus tampak
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Aku baru
mengetahui alasannya setelah kami tiba di lantai tiga keesokan harinya.
◆◇◆
Hari Ketujuh
Ujian Labirin.
"Aku
melihat cahaya putih di depan!"
Begitu aku
melaporkan adanya cahaya dari Area Aman, Kylus langsung berlari menuju sana
tanpa sepatah kata pun.
Aku menyusul
di belakangnya. Di dalam Area Aman, kulihat seorang staf dan murid senior
sedang mondar-mandir dengan panik, sementara murid-murid kelas satu di sana
tampak dalam kondisi babak belur.
"Oi!
Jelaskan situasinya!"
Kylus
tiba-tiba berteriak keras, membuat staf tersebut berdiri di hadapannya.
"Baik,
saya akan jelaskan dari awal! Kemarin lusa, Guru Lorenz yang terluka melaporkan
bahwa beberapa anggota dari party Karen dan Kamaitachi telah
menghilang!"
Menghilang!?
Aku menahan
gejolak perasaan yang ingin segera menyela dan terus mendengarkan penjelasan
staf tersebut.
"Guru-guru
yang ada di sini segera menuju lokasi kejadian, sementara murid senior dan
murid Kelas A yang tersisa telah menyisir seluruh lantai tiga. Namun, sampai
saat ini mereka belum ditemukan!"
Jadi alasan
murid-murid di sini tampak kelelahan adalah karena mereka habis berlari
kesana-kemari di dalam labirin.
"Bukankah
di lantai empat seharusnya ada party yang isinya cuma guru-guru!?" seru
Kylus.
"Benar!
Para guru juga sedang melakukan pencarian, tapi monster di lantai empat banyak
yang memiliki tingkat ancaman Rank D! Sekuat apa pun para guru, mereka
tidak bisa bergerak bebas..."
Mungkin
mereka bisa mengalahkan sekelompok monster Rank D, tapi jika harus
bertarung terus-menerus tanpa henti, itu pasti akan sangat berat.
"Siapa...
siapa saja yang menghilang!?"
Kumohon, jangan Clarice atau Ellie! Aku
mengguncang bahu staf itu dengan perasaan kalut.
"Aku tidak tahu detailnya, tapi
kudengar dua laki-laki dan dua perempuan menghilang..."
Sial! Dua perempuan itu berarti
kemungkinan besar salah satunya adalah Clarice, Ellie, atau Misha!
Aku tidak bisa diam saja di sini!
Saat aku hendak langsung menuju lantai
empat, Kylus mencengkeram lenganku dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan! Aku harus segera
pergi!"
Aku mencoba melepaskan cengkeramannya,
tapi dia membentakku.
"Apa
kamu tahu seluk-beluk geografi lantai tiga dan empat!?"
Cih! Kylus
benar. Wajar jika dia menghentikanku.
Namun,
meskipun harus menggunakan kekerasan... atau bahkan jika aku harus dikeluarkan
dari sekolah... aku harus pergi. Tapi kemudian, Kylus mengucapkan kata-kata
yang tak kusangka.
"Tenanglah!
Aku akan membawamu serta! Oi! Beritahu aku di mana lokasi terakhir kelompok Karen
terlihat!"
Kylus
mengizinkanku ikut dan bertanya pada staf tersebut.
"Kudengar
mereka turun dari tangga selatan, lalu bergerak ke arah timur dari sana... Tapi
Guru Kylus? Anak itu dari Kelas E, kan? Membawanya ke sini saja sudah tidak
lazim, apalagi ke lantai empat..."
"Berisik!
Jangan mendikteku! Kalau itu jadi masalah, aku siap ditendang ke mana saja
lagi! Ayo pergi, Mars!"
Kali ini
Kylus menarik tanganku dan berlari keluar dari Area Aman.
"Terima
kasih banyak! Aku
tidak akan melupakan budi ini!"
"Simpan
terima kasihmu sampai semua orang selamat! Sekarang, cepat!"
Kami berada
di Area Aman lantai tiga tidak sampai sepuluh menit.
"Oi!
Atur pembagian tenagamu!"
Kylus
meneriakiku, tapi mana mungkin aku bisa memikirkan hal semacam itu.
Sejak dari
Area Aman aku terus berlari tanpa henti, hingga akhirnya tiba di tangga menuju
lantai empat.
Aku segera
membasmi musuh di ruangan itu dan hendak bergegas ke timur, tapi—
"Bukan
ke sana! Untuk menuju ke timur, kita harus memutar jauh dari barat! Jangan
buang-buang tenaga! Lari di belakangku!"
Semakin aku
terburu-buru, semakin kacau gerakanku. Logikaku paham, tapi perasaanku tak bisa
dibendung. Aku mengaktifkan Sylphid dan melesat mendahului Kylus yang
berlari di depan.
Semua monster
yang muncul di hadapanku langsung kutebas menjadi dua dalam sekali ayun. Aku
mengabaikan monster yang berada jauh di sudut ruangan dan terus berlari secepat
mungkin menuju tempat Clarice berada.
Aku rasa aku
sudah berlari hampir satu jam sejak turun ke lantai empat.
Akhirnya,
kulihat beberapa sosok manusia yang berdiri di lorong.
Apa itu Clarice dan yang lainnya!?
Jantungku berdegup kencang, namun ternyata di sana ada tiga orang guru,
termasuk Sasha.
"Mars!? Bahkan Kylus juga!?"
Mata Sasha membelalak melihatku dan
Kylus yang menyusul di belakang.
"Guru
Sasha!? Apa yang terjadi?"
"Iya.
Kami tadinya hendak menuju tempat Karen, tapi karena terlalu
terburu-buru, kami membiarkan luka-luka kami tanpa diobati dan akhirnya jadi
begini..."
Meski dua
guru lainnya tidak tampak memiliki luka besar, kulihat banyak luka kecil di
sekujur tubuh mereka.
Luka kecil
sekalipun jika dibiarkan bisa berbahaya karena luka tersebut bisa melebar atau
rasa sakitnya bisa membuat mereka tidak mampu menggenggam senjata.
Itulah
sebabnya, aturan besi penjelajahan adalah tidak melakukan pertempuran
berikutnya sampai luka-luka sembuh, tapi sepertinya mereka tidak punya
kemewahan waktu untuk itu. Sejauh itulah rasa panik yang merundung Sasha dan
yang lainnya.
"...Haa... haa... Kamu ini...
benar-benar gila... Darimana datangnya semua stamina itu..."
Kylus
terengah-engah, keringat deras bercucuran dari dagunya.
Alasan
kenapa aku tidak terlalu lelah... selain karena aku tidak pernah absen lari
maraton setiap hari, alasan utamanya adalah karena aku terus mengaktifkan Sylphid.
"Jangan-jangan
Kylus juga hendak menuju tempat Karen!? Kalau begitu, bawa kami
juga!"
"Ah...
apa kalian masih sanggup berjalan?" tanya Kylus pada para guru yang
terluka itu.
"Iya.
Hanya saja terasa nyeri saat kami mengayunkan pedang atau tombak..." jawab
salah satu staf dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Baiklah,
kalau begitu kalian ikut bersamaku. Mars, kamu bergegaslah bersama Sasha menuju
tempat Karen! Tapi, sebisa mungkin habisi musuh yang ada di jalan! Melindungi orang terluka sambil
bertarung itu sangat berat."
Kylus
memberikan instruksi sambil berjalan perlahan untuk menstabilkan napasnya.
"Dimengerti!
Kalau begitu, Guru Sasha! Mari bergegas!"
Aku
menarik tangan Sasha dan melesat menuju lokasi di mana kelompok Karen
seharusnya berada di lantai ini.
Aku
berlari menembus ruangan-ruangan sambil tetap mengaktifkan Sylphid.
Sesuai
perintah Kylus, aku membasmi setiap musuh di ruangan yang kulewati. Bahkan
monster yang berada di kejauhan pun kuhabisi menggunakan Wind Cutter.
Jika
aku bersama Kylus, mungkin aku akan ragu menggunakan Wind Cutter, tapi
yang berlari bersamaku sekarang adalah Sasha. Dia adalah satu dari sedikit
orang yang tahu bahwa aku adalah penyihir angin.
Karena
itulah, aku bisa mengeluarkan sihir angin tanpa perlu menahan diri.
Sepuluh menit
berlalu sejak aku berpisah dengan Kylus.
Saat sedang
menyusuri lorong, kulihat sosok monster yang terikat rantai di dekat pintu
masuk sebuah ruangan.
Monster
itu sengaja diikat agar tidak melakukan respawn. Itu artinya, di dalam
ruangan tersebut—atau setidaknya di dekat sana—pasti ada seseorang!
Kumohon!
Beradalah di sana! Sambil berharap penuh, aku memacu kakiku lebih cepat, dan
tiba-tiba aku merasakan sensasi yang tak terlukiskan.
Sensasi apa
ini... apakah ini... Clarice?
Dengan dada
yang dipenuhi harapan dan kecemasan, begitu aku sampai di depan ruangan, sosok
Clarice mendadak muncul dari dalam. Di belakangnya, Ellie dan Misha juga tampak mengikuti.
"""Mars!"""
"Clarice!
Ellie! Misha!
Kenapa kalian bisa tahu!?"
"Aku
merasa seperti Mars sedang mendekat! Ellie juga menyadari hal yang sama, jadi
kami baru saja terpikir untuk melongok ke lorong!"
Clarice
langsung menghambur ke pelukanku. Ellie dan Misha pun mengikuti jejak Clarice.
Ternyata
benar, yang kurasakan tadi adalah keberadaan Clarice!
"Misha!
Syukurlah..."
Sasha
yang tiba tak lama kemudian tampak ambruk di tempat, seolah lega melihat sosok
Misha yang selamat tanpa kurang satu apa pun.
"Ibu!"
Melihat itu,
Misha segera berlari menghampirinya.
Syukurlah.
Clarice dan yang lainnya selamat. Perasaanku dipenuhi oleh kelegaan yang luar
biasa.
Mungkin
karena itulah.
Aku sama sekali tidak mempertanyakan sensasi tak terlukiskan yang kurasakan tadi—



Post a Comment