NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 9

Chapter 9

Anomali


Hari Kelima Ujian Labirin, Sore Hari.

"Fuuuh... Benar-benar melegakan bisa menghirup udara luar setelah sekian lama!"

Begitu kami kembali ke Kota Arahan untuk mengisi perbekalan, aku melihat kerumunan murid lain yang juga baru saja keluar dari labirin.

Di antara mereka, aku mendapati sosok Gon. Namun, ada sesuatu yang terasa ganjil dari gelagatnya.

"Ada apa, Gon? Apa kamu salah makan sesuatu?"

Saat aku menghampiri dan menyapa Gon yang tampak lesu itu, dia perlahan mengangkat wajahnya.

"Mars, ya... Karl dan Tian terluka. Kami tidak bisa masuk lagi sampai mereka berdua pulih."

Gon kembali menundukkan pandangannya dengan muram.

"Aku terlalu bersemangat dan maju terlalu jauh ke depan... Lalu, Fire dari Goblin Mage melesat ke arahku. Tian mencoba mengaverku, tapi fokusku malah teralih ke arah lain. Karl yang melihat itu langsung melindungi Tian, dan akhirnya formasi kami berantakan..."

Rasa sesal tampak mendominasi hati Gon, hingga air mata hangatnya jatuh membasahi tanah.

Apa yang harus kukatakan untuk menghiburnya? Apa yang dilakukan murid senior yang mendampingi mereka, atau staf yang seharusnya berada di dekat sana?

Melihat air mata Gon, perasaanku pun ikut bergejolak hebat.

"Oi, Mars. Itu bukan sesuatu yang harus kamu cemaskan."

Kylus meletakkan tangannya di pundakku, lalu melanjutkan bicaranya.

"Aku pun sama. Aku tidak sudi melihat murid-muridku terluka. Tapi dengar, ini adalah rasa sakit yang harus kalian alami selagi masih muda."

"Mungkin banyak orang di sekitar yang bisa membantu. Namun, jika mereka selalu dibantu, mereka tidak akan pernah mendapatkan pengalaman berharga. Karena itulah, selama lukanya tidak berakibat fatal, aturan dasarnya adalah kami tidak akan ikut campur. Jadi, bagaimana keadaan Karl dan Tian?"

"Iya... Kata petugas, besok mereka sudah akan sembuh total, tapi mereka diminta istirahat satu hari lagi untuk observasi."

Syukurlah, ternyata lukanya tidak separah yang kubayangkan.

"Apa luka mereka akan membekas?" tanyaku memastikan.

"Mungkin akan ada sedikit bekas luka di lengan Karl... Kalau Tian hanya menderita luka memar, jadi sepertinya tidak akan berbekas," jawab Gon atas pertanyaanku.

"Luka bagi laki-laki adalah lencana kehormatan! Lihat lenganku ini! Setiap luka ini adalah bukti bahwa aku telah menyelamatkan kawan! Lain kali, berjuanglah agar kamu bisa menyelamatkan mereka! Jangan menyerah!"

Kylus menepuk punggung Gon yang membungkuk itu dengan sekuat tenaga.

"Baik! Terima kasih banyak!"

Meski tampak kesakitan, semangat Gon kembali berkobar dan punggungnya kini tegak kembali.

"Bagus! Aku mau pergi melihat kondisi bocah-bocah yang lain sebentar. Kalian juga, cepat istirahatkan tubuh kalian!"

Tak sedikit murid yang tertunduk lesu seperti Gon. Kylus menghampiri mereka satu per satu, menyapa, dan menepuk punggung mereka.

Sambil memperhatikan pemandangan itu, Gon bertanya kepadaku.

"Kelompok Mars tidak ada yang terluka, kan? Kenapa kalian malah kembali?"

"Ah, itu untuk mengisi suplai makanan. Karena aku hanya bergerak berdua dengan guru, kami tidak punya Porter. Tapi mulai besok, Guru Kylus yang akan membawakan logistik, jadi kami berencana turun sampai lantai tiga."

Selama tiga hari terakhir, Kylus telah memantau kemampuanku untuk memastikan apakah aku sanggup bertarung sendirian di lantai dua. Dia mengamatiku dengan sangat hati-hati, karena menurutnya ada orang yang kuat dalam duel satu lawan satu, namun lemah saat dikeroyok banyak musuh.

Apalagi bagi barisan depan yang sering kali kehilangan konsentrasi karena terlalu fokus pada musuh di depan mata.

Aku pun setuju dengan pemikiran Kylus.

"Hebat, ya. Aku jadi tidak sabar melihat sejauh mana Mars bisa melangkah. Tapi, jangan memaksakan diri."

"Kamu juga, Gon. Jangan terlalu dipikirkan, persis seperti yang dikatakan Guru Kylus tadi."

Kami pun saling mendoakan keselamatan masing-masing, lalu aku mengistirahatkan tubuhku di atas kasur yang sudah lama kurindukan.

◆◇◆

Hari Keenam Ujian Labirin, Pagi Buta.

Begitu bangun dan menuju lobi penginapan, aku melihat para guru berkumpul terpisah dari kerumunan murid.

Di sana, aku melihat sosok Kylus dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

"Selamat pagi. Ada apa, Guru?"

"Sudah jam segini, ya... Sana, pergi jauh-jauh dulu."

Kylus mengusirku dengan kasar. Setelah menunggu beberapa puluh menit, akhirnya Kylus selesai berbicara dengan staf dan menghampiriku.

"Ayo berangkat. Hari ini aku yang akan membawakan barang-barangmu, target kita adalah lantai tiga."

Suaranya tidak sebertenaga biasanya.

"Apa terjadi sesuatu?"

Aku bertanya sambil berjalan menuju labirin, namun dia langsung membentakku.

"Berisik! Pikirkan saja dirimu sendiri!"

Aku tersentak. Tapi dari sana, aku tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk.

Apa yang disembunyikan oleh para guru?

Sambil menyimpan keraguan itu, aku pun melangkah masuk ke dalam labirin.

"Kamu... apa terjadi sesuatu yang menyenangkan? Ayunan pedangmu hari ini terasa sangat ringan."

Kylus yang menyadari keanehan pada gerakanku mulai bertanya.

Aku merasa tidak enak pada Kylus yang sepertinya sedang memendam masalah, tapi rupanya emosiku terbawa ke dalam pedang.

Kenapa aku merasa sangat senang? Itu karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Clarice dan yang lainnya!

Sejak hari pertama, aku belum pernah bertemu mereka lagi.

Selain karena rute penyelaman yang berbeda, kudengar Clarice dan kawan-kawan sudah mencapai lantai tiga sejak awal dan menjadikan tempat itu sebagai basis kegiatan mereka. Mana mungkin aku yang selama ini cuma berkutat di lantai satu dan dua bisa bertemu mereka.

"Tidak juga, kok. Sama seperti biasanya," jawabku berdalih.

Aku tidak tahu apa yang akan dikatakannya jika dia sampai tahu alasanku yang sebenarnya.

"...Begitu ya... Ya sudah kalau begitu."

Tetap saja, gelagatnya terasa aneh.

"Guru sudah aneh sejak pagi tadi. Sebenarnya ada apa?"

Meski sudah bersiap untuk dimarahi lagi, aku tetap mencoba bertanya.

"...Ah... Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita lanjut menyelam dengan kecepatan seperti ini."

Kylus tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Aku baru mengetahui alasannya setelah kami tiba di lantai tiga keesokan harinya.

◆◇◆

Hari Ketujuh Ujian Labirin.

"Aku melihat cahaya putih di depan!"

Begitu aku melaporkan adanya cahaya dari Area Aman, Kylus langsung berlari menuju sana tanpa sepatah kata pun.

Aku menyusul di belakangnya. Di dalam Area Aman, kulihat seorang staf dan murid senior sedang mondar-mandir dengan panik, sementara murid-murid kelas satu di sana tampak dalam kondisi babak belur.

"Oi! Jelaskan situasinya!"

Kylus tiba-tiba berteriak keras, membuat staf tersebut berdiri di hadapannya.

"Baik, saya akan jelaskan dari awal! Kemarin lusa, Guru Lorenz yang terluka melaporkan bahwa beberapa anggota dari party Karen dan Kamaitachi telah menghilang!"

Menghilang!?

Aku menahan gejolak perasaan yang ingin segera menyela dan terus mendengarkan penjelasan staf tersebut.

"Guru-guru yang ada di sini segera menuju lokasi kejadian, sementara murid senior dan murid Kelas A yang tersisa telah menyisir seluruh lantai tiga. Namun, sampai saat ini mereka belum ditemukan!"

Jadi alasan murid-murid di sini tampak kelelahan adalah karena mereka habis berlari kesana-kemari di dalam labirin.

"Bukankah di lantai empat seharusnya ada party yang isinya cuma guru-guru!?" seru Kylus.

"Benar! Para guru juga sedang melakukan pencarian, tapi monster di lantai empat banyak yang memiliki tingkat ancaman Rank D! Sekuat apa pun para guru, mereka tidak bisa bergerak bebas..."

Mungkin mereka bisa mengalahkan sekelompok monster Rank D, tapi jika harus bertarung terus-menerus tanpa henti, itu pasti akan sangat berat.

"Siapa... siapa saja yang menghilang!?"

Kumohon, jangan Clarice atau Ellie! Aku mengguncang bahu staf itu dengan perasaan kalut.

"Aku tidak tahu detailnya, tapi kudengar dua laki-laki dan dua perempuan menghilang..."

Sial! Dua perempuan itu berarti kemungkinan besar salah satunya adalah Clarice, Ellie, atau Misha!

Aku tidak bisa diam saja di sini!

Saat aku hendak langsung menuju lantai empat, Kylus mencengkeram lenganku dengan sekuat tenaga.

"Lepaskan! Aku harus segera pergi!"

Aku mencoba melepaskan cengkeramannya, tapi dia membentakku.

"Apa kamu tahu seluk-beluk geografi lantai tiga dan empat!?"

Cih! Kylus benar. Wajar jika dia menghentikanku.

Namun, meskipun harus menggunakan kekerasan... atau bahkan jika aku harus dikeluarkan dari sekolah... aku harus pergi. Tapi kemudian, Kylus mengucapkan kata-kata yang tak kusangka.

"Tenanglah! Aku akan membawamu serta! Oi! Beritahu aku di mana lokasi terakhir kelompok Karen terlihat!"

Kylus mengizinkanku ikut dan bertanya pada staf tersebut.

"Kudengar mereka turun dari tangga selatan, lalu bergerak ke arah timur dari sana... Tapi Guru Kylus? Anak itu dari Kelas E, kan? Membawanya ke sini saja sudah tidak lazim, apalagi ke lantai empat..."

"Berisik! Jangan mendikteku! Kalau itu jadi masalah, aku siap ditendang ke mana saja lagi! Ayo pergi, Mars!"

Kali ini Kylus menarik tanganku dan berlari keluar dari Area Aman.

"Terima kasih banyak! Aku tidak akan melupakan budi ini!"

"Simpan terima kasihmu sampai semua orang selamat! Sekarang, cepat!"

Kami berada di Area Aman lantai tiga tidak sampai sepuluh menit.

"Oi! Atur pembagian tenagamu!"

Kylus meneriakiku, tapi mana mungkin aku bisa memikirkan hal semacam itu.

Sejak dari Area Aman aku terus berlari tanpa henti, hingga akhirnya tiba di tangga menuju lantai empat.

Aku segera membasmi musuh di ruangan itu dan hendak bergegas ke timur, tapi—

"Bukan ke sana! Untuk menuju ke timur, kita harus memutar jauh dari barat! Jangan buang-buang tenaga! Lari di belakangku!"

Semakin aku terburu-buru, semakin kacau gerakanku. Logikaku paham, tapi perasaanku tak bisa dibendung. Aku mengaktifkan Sylphid dan melesat mendahului Kylus yang berlari di depan.

Semua monster yang muncul di hadapanku langsung kutebas menjadi dua dalam sekali ayun. Aku mengabaikan monster yang berada jauh di sudut ruangan dan terus berlari secepat mungkin menuju tempat Clarice berada.

Aku rasa aku sudah berlari hampir satu jam sejak turun ke lantai empat.

Akhirnya, kulihat beberapa sosok manusia yang berdiri di lorong.

Apa itu Clarice dan yang lainnya!? Jantungku berdegup kencang, namun ternyata di sana ada tiga orang guru, termasuk Sasha.

"Mars!? Bahkan Kylus juga!?"

Mata Sasha membelalak melihatku dan Kylus yang menyusul di belakang.

"Guru Sasha!? Apa yang terjadi?"

"Iya. Kami tadinya hendak menuju tempat Karen, tapi karena terlalu terburu-buru, kami membiarkan luka-luka kami tanpa diobati dan akhirnya jadi begini..."

Meski dua guru lainnya tidak tampak memiliki luka besar, kulihat banyak luka kecil di sekujur tubuh mereka.

Luka kecil sekalipun jika dibiarkan bisa berbahaya karena luka tersebut bisa melebar atau rasa sakitnya bisa membuat mereka tidak mampu menggenggam senjata.

Itulah sebabnya, aturan besi penjelajahan adalah tidak melakukan pertempuran berikutnya sampai luka-luka sembuh, tapi sepertinya mereka tidak punya kemewahan waktu untuk itu. Sejauh itulah rasa panik yang merundung Sasha dan yang lainnya.

"...Haa... haa... Kamu ini... benar-benar gila... Darimana datangnya semua stamina itu..."

Kylus terengah-engah, keringat deras bercucuran dari dagunya.

Alasan kenapa aku tidak terlalu lelah... selain karena aku tidak pernah absen lari maraton setiap hari, alasan utamanya adalah karena aku terus mengaktifkan Sylphid.

"Jangan-jangan Kylus juga hendak menuju tempat Karen!? Kalau begitu, bawa kami juga!"

"Ah... apa kalian masih sanggup berjalan?" tanya Kylus pada para guru yang terluka itu.

"Iya. Hanya saja terasa nyeri saat kami mengayunkan pedang atau tombak..." jawab salah satu staf dengan ekspresi penuh penyesalan.

"Baiklah, kalau begitu kalian ikut bersamaku. Mars, kamu bergegaslah bersama Sasha menuju tempat Karen! Tapi, sebisa mungkin habisi musuh yang ada di jalan! Melindungi orang terluka sambil bertarung itu sangat berat."

Kylus memberikan instruksi sambil berjalan perlahan untuk menstabilkan napasnya.

"Dimengerti! Kalau begitu, Guru Sasha! Mari bergegas!"

Aku menarik tangan Sasha dan melesat menuju lokasi di mana kelompok Karen seharusnya berada di lantai ini.

Aku berlari menembus ruangan-ruangan sambil tetap mengaktifkan Sylphid.

Sesuai perintah Kylus, aku membasmi setiap musuh di ruangan yang kulewati. Bahkan monster yang berada di kejauhan pun kuhabisi menggunakan Wind Cutter.

Jika aku bersama Kylus, mungkin aku akan ragu menggunakan Wind Cutter, tapi yang berlari bersamaku sekarang adalah Sasha. Dia adalah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa aku adalah penyihir angin.

Karena itulah, aku bisa mengeluarkan sihir angin tanpa perlu menahan diri.

Sepuluh menit berlalu sejak aku berpisah dengan Kylus.

Saat sedang menyusuri lorong, kulihat sosok monster yang terikat rantai di dekat pintu masuk sebuah ruangan.

Monster itu sengaja diikat agar tidak melakukan respawn. Itu artinya, di dalam ruangan tersebut—atau setidaknya di dekat sana—pasti ada seseorang!

Kumohon! Beradalah di sana! Sambil berharap penuh, aku memacu kakiku lebih cepat, dan tiba-tiba aku merasakan sensasi yang tak terlukiskan.

Sensasi apa ini... apakah ini... Clarice?

Dengan dada yang dipenuhi harapan dan kecemasan, begitu aku sampai di depan ruangan, sosok Clarice mendadak muncul dari dalam. Di belakangnya, Ellie dan Misha juga tampak mengikuti.

"""Mars!"""

"Clarice! Ellie! Misha! Kenapa kalian bisa tahu!?"

"Aku merasa seperti Mars sedang mendekat! Ellie juga menyadari hal yang sama, jadi kami baru saja terpikir untuk melongok ke lorong!"

Clarice langsung menghambur ke pelukanku. Ellie dan Misha pun mengikuti jejak Clarice.

Ternyata benar, yang kurasakan tadi adalah keberadaan Clarice!

"Misha! Syukurlah..."

Sasha yang tiba tak lama kemudian tampak ambruk di tempat, seolah lega melihat sosok Misha yang selamat tanpa kurang satu apa pun.

"Ibu!"

Melihat itu, Misha segera berlari menghampirinya.

Syukurlah. Clarice dan yang lainnya selamat. Perasaanku dipenuhi oleh kelegaan yang luar biasa.

Mungkin karena itulah.

Aku sama sekali tidak mempertanyakan sensasi tak terlukiskan yang kurasakan tadi—




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close