Chapter 6
Petualang
"Tak
kusangka bisa menemukan peti harta secepat ini…… Mars, coba tolong Appraisal
peti itu. Siapa tahu ada jebakannya."
Atas permintaan Zeke, aku pun mencoba memeriksanya.
[Name] Chest
[Special] —
[Value] 3
[Detail] Tingkat kemunculan dan isi di dalamnya
bergantung pada Luck.
Sepertinya bukan jebakan…… tidak ada keterangan apa pun di
kolom spesial.
Aku memberi tahu Zeke kalau ini kemungkinan besar bukan
jebakan. Aku juga menyarankan agar aku yang membukanya, karena dengan nilai Luck-ku
yang tinggi, mungkin hasilnya akan lebih bagus.
Sambil tetap waspada namun dengan jantung yang berdebar
kencang, aku membuka peti itu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang yang dihiasi
batu Magic Stone berwarna merah.
Aku segera meng-Appraisal gelang itu.
[Name] Fire Bracelet
[Special] Magic +4
[Value] C
[Detail] Gelang yang diberkati sihir api. Sedikit
meningkatkan kekuatan sihir api.
Setelah aku menjelaskan efeknya, diputuskan bahwa Ike yang
akan memakainya. Gelang api yang tadinya kukira akan kedodoran itu secara ajaib
langsung pas di pergelangan tangan Ike begitu ia memakainya.
"Terima
kasih, Mars. Sekarang aku bisa membakar mayat monster dengan lebih
efisien."
Setelah
mendapatkan jarahan perang, kami segera keluar dari Dungeon dan bergegas
pulang. Di perjalanan pulang, tidak ada satu pun Goblin yang terlihat.
Begitu
sampai di Almeria sebelum senja, kami langsung menuju Guild untuk melapor. Kali
ini aku dan Ike ikut masuk.
Ini
pertama kalinya aku masuk ke dalam Guild. Di dalamnya hanya ada tiga orang
petualang, selebihnya hanyalah beberapa staf.
Tempatnya
ternyata lebih bersih dari dugaanku. Di dindingnya terpasang berbagai lembar
permintaan misi, pedang, serta perisai sebagai hiasan.
Karena
ketiga petualang itu memandangi kami, aku pun balas meng-Appraisal
mereka. Pertama, pria yang meletakkan tombak di sampingnya.
[Name] Landaryl
[Age] 27 Tahun
[Level] 20
[HP] 102/102
[Strength] 32
[Agility] 25
[Endurance] 30
[Luck] 1
[Special Ability] Spearmanship E (Lv5/11)
Kelak aku mendengar dari Zeke bahwa pria bernama Landaryl
ini adalah pekerja keras yang baru saja berhasil naik ke peringkat D. Mungkin
itu sebabnya gurat kelelahan begitu terlihat di wajahnya.
Berikutnya, aku
memeriksa wanita yang memakai topi penyihir.
[Name] Hamarsa
[Age] 22 Tahun
[Level] 15
[HP] 80/80
[MP] 85/85
[Magic] 35
[Luck] 1
[Special Ability] Wind Magic E (Lv3/11)
Hamarsa juga seorang petualang peringkat D. Melihat
statistikku yang lebih tinggi darinya, mungkin kekuatanku saat ini juga sudah
setara peringkat D.
Terakhir,
aku memeriksa pria yang berdiri dengan kapak di satu tangannya.
[Name] Frostov
[Age] 20 Tahun
[Level] 18
[HP] 108/108
[Strength] 20
[Endurance] 30
[Luck] 1
[Special Ability] Axemanship F (Lv3/8)
Frostov adalah petualang peringkat E yang bertugas sebagai Tanker.
Satu hal yang
menarik perhatianku, Luck mereka semua cuma 1. Sebenarnya aku sudah lama
menyadari hal ini sejak mengamati warga kota…… tapi di keluarga Bryant, semua
orang punya Luck di atas 10.
Karena tidak ada
gunanya bertanya pada Zeke soal Luck yang hanya bisa kulihat sendiri,
aku menanyakan hal lain.
"Ayah?
Gimana calanya petualang dikelas-kelasin?"
"Petualang
peringkat E bisa didapat setelah lulus dari status Paper. Asal tidak
buat masalah, umur lima belas tahun sudah bisa jadi peringkat E. Peringkat D
bisa naik kalau total statistikmu sudah lewat dari 100, dan peringkat C
batasnya sekitar 200. Untuk jadi peringkat C juga butuh persetujuan Guild
Master. Karena penyihir itu langka, mereka bisa naik peringkat meski statistik
mereka belum sampai. Ayah salah satunya. Tapi ini beda-beda tiap negara. Kamu
harus minta tempat Appraisal menuliskan statistikmu, lalu menunjukkannya
ke Guild. Tapi ada juga orang-orang bodoh yang menyuap petugas Appraisal
demi gengsi agar bisa naik ke peringkat D. Kalian jangan jadi orang dewasa
seperti itu, ya?"
"Siap!"
Setelah kami
menjawab serempak, Zeke berjalan menuju resepsionis wanita.
"Lucia. Ada laporan untuk Guild Master. Dan tolong urus
pembelian Magic Stone di kereta kuda kami."
Wanita muda berusia belasan tahun bernama Lucia itu meminta
staf lain untuk mengurus kereta, sementara ia sendiri mengantar kami ke ruangan
lain.
Ruangan
Guild Master berada di lantai dua.
"Silakan
lewat sini. Hari ini anak-anak juga ikut?" tanya Lucia yang dijawab dengan
anggukan oleh Zeke.
"Iya. Kali
ini aku ingin mereka ikut mendengarkan. Boleh, kan?"
"Tentu,
tidak masalah. Mereka berdua punya pembawaan yang sangat dewasa untuk anak
seusia mereka."
"Terima
kasih banyak."
Begitu
aku dan Ike membungkuk sopan, Lucia memberikan senyuman manis. Ia lalu mengetuk
pintu ruangan di depan kami.
"Tuan
Zeke ingin melapor kepada Master."
"Masuklah."
Terdengar
suara berat dari dalam, sehingga aku, Ike, dan Zeke melangkah masuk. Lucia
sendiri tetap berada di luar.
"Oh,
Zeke. Kerja bagus. Lalu, siapa anak-anak ini?"
"Iya.
Ini putra-putraku, Ike dan Mars. Ike, Mars, beri salam."
"Salam kenal. Nama saya Ike Bryant. Berumur tujuh tahun."
"Salam
kenal. Nama saya Mals Blyant. Belumul empat tahun."
Aku
meniru gaya salam Ike yang sangat sempurna.
"Oho.
Sopan sekali. Aku Guild Master di sini, Ralph Sargent. Panggil Ralph saja.
Salam kenal ya. Hei Zeke, gimana caramu mendidik mereka? Mereka jauh lebih
sopan daripada petualang di luar sana."
"Sebenarnya
aku tidak pernah mengajari mereka etika atau cara bicara khusus. Tapi
kesampingkan itu, soal misi khusus kemarin, desa terbengkalai di kaki gunung
telah dikuasai Goblin. Aku rasa kami sudah membunuh sekitar empat ratus ekor.
Masalahnya adalah, salah satu rumah di desa itu ternyata telah menjadi Dungeon.
Sepertinya Dungeon itu menyatu dengan area tambang. Di dalamnya kami
mengonfirmasi adanya Hobgoblin dan Goblin Mage. Kemungkinan besar ada Goblin
King di lantai dalam, dan fenomena 'Dungeon Overflow' sudah dimulai. Kita
harus menghancurkannya sebelum terjadi Stampede."
"Apa!? Dungeon…… Untunglah baru Goblin yang
terdeteksi. Tapi Goblin King itu
merepotkan. Aku harus membicarakan ini dengan Count Carmel. Dua Dungeon
dalam satu wilayah kekuasaan itu bisa gawat urusannya."
Ralph melanjutkan bicaranya dengan wajah masam.
"Lalu,
kenapa anak-anak ini ikut? Kalian tidak sedang tamasya sekolah, kan?"
"Tentu
saja tidak. Aku ingin mereka didaftarkan sebagai petualang melalui jalur
pengecualian. Mereka ikut dalam penyelidikan kemarin, dan jujur saja, tanpa
mereka aku tidak akan bisa menyelidiki sampai sejauh itu."
"Kamu waras?
Mereka baru tujuh dan empat tahun. Meski ini permintaanmu, aku tidak bisa
melakukannya."
"Bisakah
setidaknya Anda melakukan Appraisal pada mereka? Setelah itu, jika Anda
melihat kemampuan praktik mereka, Anda akan paham betapa bergunanya mereka
sebagai kekuatan tempur."
"Sampai sebegitunya? Hmm…… baiklah, karena ini
rekomendasi Zeke, mari kita coba. Lucia! Kamu di luar, kan? Masuklah!"
Pintu terbuka dan Lucia masuk ke dalam.
"Ketahuan ya. Jadi saya hanya perlu melakukan Appraisal,
kan?"
Jadi dia yang punya skill Appraisal. Aku
mencoba memeriksanya.
[Name] Lucia Sargent
[Age] 16 Tahun
[Special Ability] Appraisal (LvMAX)
Sargent…… apa dia putrinya Ralph? Ternyata ada juga ya skill
bernama Appraisal. Sekalian saja aku periksa Ralph.
[Name] Ralph Sargent
[Age] 40 Tahun
[Level] 32
[Strength] 54
[Agility] 61
[Endurance] 50
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv9/15)
Dia tipe
penyerang fisik murni yang sangat kuat. Dilihat dari umurnya, mereka berdua
memang ayah dan anak.
Selagi
aku memikirkan hubungan mereka, Lucia mulai meng-Appraisal Ike. Seketika
itu juga, wajahnya berubah pucat pasi.
"Eh?
Eh? Sebentar? Eeeehhhh!!?"
Ralph menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Ti-tidak mungkin, Swordsmanship, Spearmanship,
sampai Fire Magic……" gumam Lucia sendirian.
"Jangan-jangan…… kalian bisa menggunakan pedang dan
sihir sekaligus?"
Karena aku bingung harus menjawab sejauh mana, aku menatap
Zeke. Zeke pun mewakili kami untuk menjawab.
"Ike bisa menggunakan Fire, sedangkan Mars bisa
menggunakan Wind dan Wind Cutter. Karena Ike juga memakai gelang
api, daya serangnya cukup tinggi."
Ternyata Ayah tidak membocorkan soal sihir suci. Lucia masih terlalu terkejut melihat
status Ike sampai lupa memeriksaku.
"Se-serius…… ini sih bukan sekadar jenius lagi. Memang
benar, sayang sekali kalau kemampuan sehebat ini tidak dimanfaatkan……
Ba-baiklah. Aku izinkan Ike
dan Mars mendaftar jadi petualang. Tapi ada syaratnya. Tunjukkan sedikit sihir kalian. Bukannya aku ragu,
tapi aku ingin memastikannya sendiri."
Demi memenuhi
permintaan Ralph, kami membuka jendela ruangan. Ike menembakkan Fire ke
arah langit, dan aku melepaskan Wind untuk mempercepat bola api
tersebut. Bola api Ike membesar secara drastis, melesat semakin cepat, lalu
menghilang di angkasa.
Sepertinya
sihir angin dan api memang punya kecocokan yang sangat bagus, seperti aku dan
Ike.
"Kalian
akan masuk peringkat E lewat jalur pengecualian. Dari peringkat E kalian sudah
bisa masuk ke Dungeon. Kartu petualang kalian akan dicetak, jadi silakan
ambil beberapa hari lagi. Lalu, ini imbalan untuk misi khususnya. Aku beri tambahan sedikit sebagai bonus.
Tapi aku harap kalian mau melanjutkan misi khusus ini. Aku ingin pembasmian
Goblin terus berlanjut, dan aku juga butuh informasi tentang Dungeon
itu. Ini berat dan
berbahaya, tapi situasi Almeria saat ini sedang buruk. Tolong diskusikan
baik-baik dengan Maria."
Setelah
melihat sihir kami, Ralph menundukkan kepalanya. Zeke membalas dengan sopan, lalu kami keluar dari
ruangan. Setelah menukarkan Magic Stone dan menerima uang imbalan, kami
pun pulang. Zeke tampak menyeringai melihat jumlah uang yang diterimanya.
Begitu sampai di
rumah, Maria menyambut kami sambil menggendong Leena. Melihat wajah mereka
membuat rasa lelahku langsung tumpah. Ike pun tertawa melihatku, dan aku pun
ikut tertawa bersamanya.
Malam itu aku
langsung tertidur pulas setelah menguras MP dengan Sylphid.
◆◇◆
Hari ini adalah
hari istirahat. Zeke sudah melaporkan semuanya pada Maria tadi malam.
Meski hari
istirahat, aku tetap melakukan simulasi pertarungan dengan Ike menggunakan
pedang kayu, tapi aku benar-benar tidak berkutik.
Level Ike sudah naik jadi 10. Dia benar-benar luar biasa. Apa kelak ia akan
dipanggil Sword Saint? Tidak, bakat tombaknya lebih tinggi, jadi mungkin
Spear Saint……
"Tetep
aja aku nggak bisa menang lawan Kak Ike."
"Nggak
juga kok. Kalau Mars umur empat tahun lawan aku umur empat tahun, aku pasti
kalah telak. Nanti Mars bakal lebih kuat dariku. Jadi aku harus berjuang biar
tetap bisa jaga wibawa sebagai kakak."
Bicara
apa sih dia? Benar-benar kakak idaman. Setelah makan siang dan menguras MP,
aku dipanggil oleh Zeke dan Maria. Rapat keluarga dimulai.
"Pertama,
soal hadiah kemarin. Ini misi yang kita selesaikan bertiga, jadi hadiahnya
harus dibagi rata. Tapi Ayah tidak berniat memberikan uang sebanyak ini pada
anak-anak."
"Aku
sudah dapat gelang api kemarin, jadi aku tidak butuh uangnya. Kalau harus
dibagi, berikan saja bagianku untuk Mars," ujar Ike.
Karena Ike sudah
berbaik hati, aku pun menyampaikan permintaanku.
"Aku
nggak mau balang, tapi aku pengen belajar sihil tanah. Ayah mau bantu,
kan?"
"Tentu.
Ayah akan ajari. Buku sihir
tanah tingkat pemula sepertinya masih ada. Kalian berdua ini benar-benar tidak punya rasa
rakus, ya. Kalau begitu, uangnya Ayah simpan. Sebagai gantinya, ada sesuatu
untuk kalian."
Zeke
memberikan selembar kartu kepada kami masing-masing.
"Ini
kartu petualang peringkat E. Bisa jadi tanda pengenal juga, jadi jangan sampai
hilang."
Bahannya
terbuat dari tembaga. Ternyata tiap peringkat punya bahan kartu yang berbeda:
- A:
Adamantite
- B:
Mithril
- C:
Silver
- D:
Iron
- E:
Copper
- F
& G: Paper
Peringkat
F dan G memang sering disebut petualang 'Kertas'.
"Lalu soal masa depan. Tadi pagi Ayah sudah bicara
dengan Guild Master dan Count Carmel, penguasa Almeria. Mereka meminta kita
pindah ke dekat desa terbengkalai itu bersama beberapa orang untuk mengelola
dan memimpin wilayah di sekitar Dungeon. Tentu saja dengan imbalan
besar. Besok Count Carmel akan ke ibu kota untuk melapor. Beliau akan
menegosiasikan hak pengangkatan Baron, dan jika berhasil, Ayah akan dinaikkan
gelarnya. Ayah sempat menolak karena merasa tidak berbakat memimpin, tapi karena
beliau bilang cukup mengelola Dungeon saja, Ayah minta waktu untuk
mempertimbangkannya. Perbedaan
antara Baron dan Baronet itu seperti langit dan bumi. Baronet hanya berlaku
satu generasi, tapi Baron punya hak waris gelar. Bagaimana menurut kalian?"
"Ibu rasa
itu tawaran yang sangat bagus. Tapi Ibu cuma khawatir soal berapa banyak orang
yang akan pindah. Kita tidak bisa mengatasinya sendiri kalau terjadi
sesuatu."
"Aku rasa
itu ide bagus!" seru Ike. Aku pun setuju.
"Sip.
Pertama kita pastikan berapa orang yang ikut. Lalu besok kita akan pergi
berburu Goblin lagi. Kereta kudanya bisa kita pinjam gratis selama kita
menjalankan misi khusus ini."
Besok berburu
Goblin lagi. Kalau ada waktu, aku ingin latihan sihir tanah.
◆◇◆
Keesokan harinya,
Zeke mengajakku ke toko senjata. Sepertinya untuk membelikanku perlengkapan.
Karena aku baru empat tahun, pedang biasa terlalu besar untukku. Ternyata aku
akan dibelikan belati.
Aku mencoba
mencari sendiri belati yang cocok menggunakan Appraisal.
[Name] Iron Dagger
[Attack] 6
[Value] F
[Name] Silver Dagger
[Attack] 12
[Value] D
[Name] Mithril Dagger
[Attack] 20
[Value] C
Belati
Mithril itu terlihat bagus, tapi terasa kurang pas dan agak berat di tanganku. Saat
sedang mencari, aku menemukan sesuatu di tumpukan barang rongsokan.
[Name] Sylph Dagger
[Attack] 4
[Special] Magic +1, Agility +1
[Value] C
[Detail] Belati khusus yang membuat tubuh terasa ringan. Kekuatan dan kecepatan akan meningkat jika
dilapisi Enchant sihir angin.
Ini pas banget
buatku! Karena ditaruh di tempat rongsokan, harganya pasti murah. Dan saat
dipegang, belati ini sangat ringan sehingga aku bisa mengayunkannya dengan
mudah.
"Ayah! Aku
mau yang ini!"
"Tuan toko,
berapa harga barang rongsokan ini?" tanya Zeke.
"Ah, itu
cuma serangan 4. Satu koin perak saja. Bisa buat potong sayur di dapur."
"Mars,
kamu yakin?"
"Yakin!"
Akhirnya
aku mendapatkan Sylph Dagger. Ini perlengkapan pertamaku, jadi aku akan menjaganya baik-baik.
Satu bulan telah
berlalu sejak penemuan Dungeon. Goblin di sekitar desa sepertinya sudah
habis diburu, sehingga kami sering masuk ke dalam Dungeon Goblin
tersebut. Krisis di sisi barat Almeria pun mereda.
Karena Dungeon
harus terus diawasi, Zeke resmi naik gelar menjadi Baron dan ditugaskan
mengelola Dungeon Goblin tersebut.
Saat ini bangunan
di desa terbengkalai sedang diratakan dan rumah-rumah baru mulai dibangun. Ada
sekitar seratus orang yang pindah dari Almeria, jauh lebih banyak dari dugaan
awal. Dungeon ini sangat cocok untuk pemula, terutama bagi petualang
yang baru naik dari peringkat Kertas ke E. Banyak pedagang juga ikut pindah
karena mencium peluang bisnis.
Meskipun Goblin
di luar sudah habis, jumlah mereka di dalam Dungeon tetap banyak. Tak
peduli berapa pun yang diburu, mereka seolah tidak pernah berkurang. Ini jadi tempat leveling
yang pas bagi para petualang peringkat E.
Selain
itu, sebuah party peringkat D bernama Blue Fang yang terdiri dari
enam petualang peringkat D dan E ikut datang bersama kami.
Mereka
adalah para petualang muda berusia sekitar delapan belas tahun yang merupakan
harapan baru Almeria. Dulu saat masih peringkat Kertas, mereka pernah ditolong
oleh Zeke dan Maria, sehingga mereka sangat mengagumi kedua orang tuaku.
Anggota Blue Fang:
1.
Van (Magic Swordsman /
Leader) - Lv16
2.
Hugues (Swordsman) - Lv15
3.
Luster (Spearman) - Lv15
4.
Iris (Scout) - Lv13
5.
Anne (Water Mage) - Lv14
6.
Aisha (Fire Mage) - Lv14
Sang pemimpin,
Van, memang sangat kuat. Ia punya bakat pedang dan sihir.
Mereka sangat
aktif membantu pembangunan kota, dan Zeke merasa sangat terbantu.
Pagi hari
keluarga Bryant masuk ke Dungeon, dan malam hari giliran Blue Fang.
Ditambah petualang peringkat E lainnya, ancaman 'Dungeon Overflow' praktis
sudah hilang.
Para anggota Blue
Fang juga sering melatih aku dan Ike jika mereka punya waktu luang. Kami
senang sekali punya kakak-kakak baru yang hebat.
"Mars,
tolong potong kayu ini jadi bentuk persegi panjang. Kalau sudah, bawa ke
mandor, dan sisanya simpan sebagai kayu bakar."
Seorang tukang
kayu memanggilku. Ya, sekarang aku sedang membantu pertukangan. Aku
melakukannya atas kemauanku sendiri. Karena kabarnya MP maksimal akan
terus naik pesat sampai umur sepuluh tahun, dan setelah itu pertumbuhannya akan
melambat.
Hubungan
pertukangan dengan MP? Sederhana saja. Jika masuk ke Dungeon, aku
harus menghemat energi, tapi di kota aku bisa menguras MP sampai habis
tanpa perlu khawatir soal keamanan. Berkat Natural Talent, aku hanya butuh tidur tiga jam agar MP-ku
penuh kembali.
Aku
memotong kayu menggunakan Air Blade atau Wind Cutter, lalu
memindahkan benda berat dengan Wind. Untuk benda yang butuh
kehati-hatian, aku menggunakan Sylphid untuk meningkatkan kemampuan
fisikku.
Begitulah
caraku meningkatkan MP maksimal di hari-hari saat tidak masuk ke Dungeon.
Ike sendiri lebih sering masuk ke Dungeon bersama Zeke.
Lingkungan
di mana Dungeon berada tepat di depan rumah benar-benar luar biasa.
Maria juga sesekali ikut masuk setelah menitipkan Leena yang sudah mulai makan
makanan pendamping ASI kepada anggota Blue Fang.
Kehidupan
seperti itu berlangsung selama hampir setahun. Aku sekarang berumur lima tahun
dan Ike delapan tahun. Karena sekarang aku adalah anak seorang Baron, aku mulai
membiasakan diri bicara dengan lebih sopan. Inilah statistik kami
sekarang:
[Name] Mars Bryant
[Status] Human / Second Son of Baron Bryant House
[Age] 5 Tahun
[Level] 7 (+1)
[HP] 41/41
[MP] 4522/4523
[Strength] 26 (+6)
[Agility] 29 (+7)
[Magic] 53 (+11)
[Dexterity] 44 (+9)
[Endurance] 25 (+6)
[Luck] 30
[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv5)
[Special Ability] Swordsmanship B (Lv3/17)
[Special Ability] Fire Magic G (Lv2/5)
[Special Ability] Earth Magic G (Lv1/5) (NEW)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv11/19)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv4/15)
[Equipment] Sylph Dagger
Statistikku melonjak drastis, dan aku berhasil mempelajari
sihir tanah. Sekarang, mari lihat Ike.
[Name] Ike Bryant
[Status] Human / Eldest Son of Baron Bryant House
[Age] 8 Tahun
[Level] 12 (+3)
[HP] 70/70
[MP] 567/567
[Strength] 42 (+12)
[Agility] 33 (+8)
[Magic] 23 (+7)
[Endurance] 39 (+12)
[Special Ability] Swordsmanship C (Lv4/15)
[Special Ability] Spearmanship B (Lv4/17)
[Special Ability] Fire Magic C (Lv4/15)
[Equipment] Salamander Sword, Fire Bracelet
Dia
benar-benar seorang jenius. Badannya juga sangat bongsor untuk anak usia
delapan tahun. Hebatnya lagi, ia sekarang sudah bisa bertarung seimbang dengan
anggota Blue Fang dalam adu teknik.
Yang
lebih mengejutkan, begitu ia bisa menguasai Salamander Sword, ia malah
mengubah senjata utamanya menjadi tombak. Ia menggendong pedang sihirnya di
punggung dan menyerang dengan tombak.
Jangkauannya
yang panjang membuat para Goblin terbantai secara sepihak sebelum sempat
mendekat. Pemandangan itu terkadang terasa sangat mengerikan.
Zeke dan
Maria sendiri sudah tidak bisa naik level lagi meski membunuh ribuan Goblin
karena perbedaan level yang terlalu jauh.
Aku yakin
bukan cuma aku yang membayangkan kalau tahun depan, Ike akan melampaui Zeke
yang merupakan orang terkuat di kota ini.
Statistik
Leena belum berubah, tapi keimutannya meledak drastis. Melihatnya berjalan
tertatih di dalam rumah pada usia dua tahun membuatku selalu ingin memeluknya……
eh, sebenarnya aku memang selalu memeluknya sih.
Setelah
makan malam selesai, Zeke mengumpulkan kami semua.
"Minggu
depan, kita akan pergi menuju bagian terdalam Dungeon Goblin. Tujuannya
adalah untuk menentukan batas aman bagi petualang peringkat E dan mencari tahu
ada berapa lantai di sana. Kali
ini Maria juga akan ikut. Leena akan dititipkan kepada Blue Fang. Ike,
Mars, siapkan perlengkapan kalian."
““Siap!””
Kami menjawab dengan penuh semangat.



Post a Comment