NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Pertumbuhan Pesat


Aku baru mengetahui kalau di dunia ini satu bulan terdiri dari tiga puluh hari, dan satu tahun terdiri dari tiga ratus enam puluh hari.

"Sip, levelku naik!"

Mendengar seruan gembira Ike, aku pun segera melakukan Appraisal.


[Name] Ike Bryant

[Age] 7 Tahun

[Level] 9 (+7)

[HP] 44/49

[MP] 104/312

[Strength] 30 (+20)

[Agility] 25 (+14)

[Magic] 16 (+12)

[Dexterity] 14 (+8)

[Endurance] 27 (+17)

[Luck] 10

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv3/15) (Naik dari 2)

[Special Ability] Spearmanship B (Lv2/17) (Naik dari 1)

[Special Ability] Fire Magic C (Lv3/15) (Naik dari 1)

[Equipment] Iron Sword


Selain karena kenaikan level, statistiknya memang melonjak pesat saat ia menginjak usia tujuh tahun. Sepertinya hipotesisku sebelumnya benar; bahwa mulai usia enam tahun ke atas, statistik akan tumbuh pesat seiring bertambahnya usia.

Kemampuan bertarung garis depannya semakin terasah. Saat ini ia menggunakan pedang besi model ringan dengan bilah yang agak pendek, yang dipesan khusus di pandai besi agar pas dengan ukuran tubuhnya untuk membasmi para Goblin. Salamander Sword masih disimpan karena baginya pedang itu masih sedikit terlalu berat.

Selain itu, Ike sudah menguasai Fire Arrow yang ada di buku sihir api tingkat pemula. Fire Arrow adalah sihir pelacak yang akan mengejar musuhnya.

Salah satu alasan level sihir api Ike naik drastis adalah karena ia bisa menggunakannya sepuas hati di luar ruangan, dan juga karena ia selalu membakar mayat monster dengan Fire.

Berkat itu, setiap kali pulang ke rumah dan mendemonstrasikan sihirnya dua atau tiga kali di depan Maria, MP-nya langsung terkuras habis, yang secara otomatis meningkatkan MP maksimalnya.

Alasan latihan di depan Maria adalah agar jika terjadi sesuatu, Maria bisa segera memadamkannya dengan sihir air.

Namun, menguras MP tidak menjamin statusnya akan selalu naik. Meski Ike selalu menguras energinya setiap sebelum tidur, ada hari-hari di mana statusnya tidak bertambah sama sekali. Mungkin ini juga dipengaruhi oleh faktor bakat.

Sedangkan aku sendiri:


[Name] Mars Bryant

[Age] 4 Tahun

[Level] 5 (+3)

[HP] 20/25

[MP] 2720/3424

[Strength] 17 (+11)

[Agility] 18 (+11)

[Magic] 38 (+16)

[Dexterity] 33 (+13)

[Endurance] 16 (+10)

[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)

[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv5) (Naik dari 3)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv2/17) (Naik dari 1)

[Special Ability] Fire Magic G (Lv1/5) (NEW)

[Special Ability] Water Magic G (Lv1/5) (NEW)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv10/19) (Naik dari 8)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv3/15) (Naik dari 2)


Statistikku naik cukup signifikan, dan berkat bantuan Maria, aku berhasil mempelajari sihir api dan air. Meski bakatku di kedua elemen itu hanya G, aku tetap semangat karena setidaknya itu lebih baik daripada bakatku di kehidupan sebelumnya.

Pencapaian terbesarku kali ini adalah Heavenly Eye yang mencapai level 5.

Seiring naiknya level kemampuan ini, aku jadi bisa melihat detail dari setiap skill maupun peralatan.

Contohnya, saat aku meng-Appraisal sihir kilat yang selama ini ragu kugunakan:

[Unique Ability] Lightning Magic

Sihir anugerah dari surga. Kekuatannya tidak tertandingi oleh sihir lain.

Membutuhkan latihan pengendalian energi sihir yang sangat intens untuk menggunakannya.

Deskripsinya terdengar sangat mengerikan.

Lalu saat memeriksa Salamander Sword:

[Name] Salamander Sword

[Attack] 35

[Special] Magic +2

[Value] B

[Detail] Pedang sihir berbahan perak Mithril. Kekuatan serangan akan meningkat jika pedang diberikan buff Enchant sihir api.

Benar-benar barang cheat.

Sihir anginku juga sudah mencapai level 10.

Performa Sylphid meningkat, kecepatan aktivasi sihir angin jadi lebih kilat, bahkan Wind Cutter sekarang muncul secara instan dengan jarak jangkauan yang lebih jauh.

Selain itu, jumlah pemulihan Heal juga bertambah. Dulu saat mengobati Zeke dan Maria, hanya pulih 15 poin. Tapi saat Ike terkena damage tak terduga baru-baru ini, sekali rapalan Heal memulihkan 29 poin.

Dulu saat memulihkan Zeke, status Magic-ku adalah 10 dan bisa memulihkan 15 HP. Dari sini aku berasumsi kalau rumus pemulihan Heal adalah $10 + (\text{Magic} \times 1,5)$ atau semacamnya.

Hari ini, aku berniat memberi tahu keluargaku tentang kemampuan ini, tapi aku akan menyebutnya sebagai Appraisal biasa, bukan Heavenly Eye.

Karena aku merasa Heavenly Eye akan berkembang menjadi kemampuan yang jauh lebih luar biasa nantinya.

Bagaimanapun juga, ini adalah kekuatan yang diberkati oleh Tuan Demi-God.

Seperti biasa, setelah makan malam usai, kami berkumpul mengelilingi meja kecuali Leena. Aku pun mulai bicara.

"Ayah, Ibu, Kak Ike. Ada yang mau aku omongin."

Semua orang menoleh padaku.

"Sebenernya, belakangan ini aku kayaknya udah bisa pake Appraisal."

Sontak semua terkejut dan menatapku lekat-lekat.

"Jadi, Mars bisa tahu status kami semua?" tanya Zeke memastikan.

"Iya. Aku bisa liat status semuanya. Terus, aku juga tahu kalau Salamander Sword itu senjata hebat yang punya kekuatan tersembunyi."

Aku pun menjelaskan kemampuan mereka masing-masing.

Ike sangat girang mengetahui statistik pedangnya, tapi Zeke dan Maria jauh lebih bahagia karena hal lain.

Yaitu karena Leena memiliki bakat sihir air dan tanah.

Menurut Zeke, di antara empat elemen utama di dunia ini, sihir air dan tanah tergolong sangat kuat.

"Ayah juga punya sesuatu untuk dibicarakan. Bagaimana kalau kita bicarakan lagi soal penyelidikan sisi barat Almeria? Selama setahun ini kita terus berburu Goblin, tapi jumlahnya sama sekali tidak berkurang. Ayah rasa ini bukan karena monster lain mengambil wilayah mereka, tapi memang jumlah Goblin-nya yang melonjak tidak wajar. Apalagi sekarang Ike dan Mars sudah tidak kesulitan menghadapi mereka."

"Benar juga. Meski baru satu tahun, bagi Ike dan Mars itu waktu yang sangat berarti. Level mereka sudah naik dan pertempuran kalian juga stabil, jadi Ibu setuju saja. Tapi Ibu ingatkan ya, akan ada saatnya level kalian tiba-tiba sulit naik. Dan kalau kalian terus melawan monster lemah, level kalian tidak akan naik lagi."

Mendengar dukungan Maria terhadap usulnya, Zeke bertanya pada kami.

"Bagaimana dengan kalian? Mau pergi?"

"Mau!" jawab kami serempak.

"Bagus! Besok Ayah akan mengambil misi khususnya. Ike, Mars, cepatlah tidur!"

Kami kembali menjawab "Siap!" lalu segera masuk ke bawah selimut untuk bersiap menghadapi hari esok.

◆◇◆

Keesokan harinya, aku dan Ike bangun sangat pagi.

Saat kami sedang berlatih pedang di halaman, Zeke dan Maria muncul dengan wajah yang tampak sangat segar.

Melihat mereka, aku berpikir sepertinya adik keempat akan segera hadir, tapi saat aku menatap mereka, keduanya malah membuang muka.

"Nah, mari sarapan, bersiap, lalu berangkat. Kita mungkin pulang agak terlambat, jadi bawa Potion pemulihan lebih banyak dari biasanya. Terutama Magic Potion itu wajib."

Aku pernah minum Magic Potion sekali. Itu obat untuk memulihkan MP secara bertahap, tapi sejujurnya rasanya tidak enak.

Setelah persiapan matang, kami menuju Guild Petualang dan Zeke mengambil misi khusus tersebut.

Begitu keluar dari Guild, Zeke berkata:

"Ayah berterima kasih sekali tadi karena ambil misi ini. Kalau sukses, kita disuruh datang ke ruang Master. Nanti kalian berdua ikut ya."

Aku dan Ike melompat kegirangan. Kami berdua memang sudah lama ingin masuk ke dalam Guild.

Dan kali ini, pihak Guild secara khusus menyediakan kereta kuda.

Rupanya, Guild Master mengira Zeke akan menyelidiki sendirian, jadi dia menyiapkan kereta agar Zeke bisa segera kabur jika terjadi sesuatu.

Zeke bahkan bilang kalau kuda-kudanya boleh dijadikan umpan jika terdesak. Ini benar-benar menurunkan tingkat bahaya bagi kami.

◆◇◆

Kami berada di titik satu kilometer dari gerbang barat Almeria.

Benar saja, tingkat perjumpaan dengan Goblin di sini sangat tinggi.

Apa jadinya kalau kami tidak terus berburu di sini?

Sebelum sampai di titik ini saja, kami sudah menghabisi sekitar tiga puluh ekor.

Karena kali ini menggunakan kereta kuda, beban perjalanan dan barang bawaan jadi terasa sangat ringan.

Awalnya kuda-kuda itu ketakutan melihat Goblin, tapi setelah melihat kami menghabisi mereka satu per satu, kuda-kuda itu jadi lebih tenang.

Biasanya kami hanya berburu di sekitar sini, tapi hari ini tujuan kami lebih jauh ke barat.

Zeke duduk di kursi kusir, sementara aku duduk manis di depannya.

Begitu melihat Goblin, aku akan mencincang mereka dengan Wind Cutter.

Ike berjaga di dalam kereta sambil mengawasi keluar, siap sedia jika keadaan menjadi darurat.

Yah, sepertinya dia belum akan dapat giliran dalam waktu dekat.

Di tengah perjalanan, aku bertanya pada Zeke.

"Ayah, kalau ke barat telus emang ada apa?"

"Di barat ada tambang. Tapi tambang itu sudah habis isinya, bahkan sudah jadi tambang terbengkalai sejak sebelum Ayah lahir. Desa di kaki gunungnya pun ikut ditinggalkan."

Semakin ke barat, jumlah Goblin semakin menggila.

Sambil terus membasmi mereka, di kejauhan mulai terlihat kumpulan bangunan yang sepertinya adalah desa terbengkalai itu.

Karena Zeke menyuruhku menghabiskan seluruh MP tanpa perlu khawatir, aku terus merapal sihir sampai hampir mencapai batasnya. Sebentar lagi aku pasti akan tertidur. Aku mengerjakan semuanya sendirian, mulai dari membunuh dengan Wind Cutter sampai membakar mayatnya dengan Fire.

Alasannya, karena sudah diputuskan bahwa saat aku tidur nanti, Zeke dan Ike yang akan menjaga kereta. Begitu MP-ku pulih dan aku bangun, barulah kami akan menjelajahi desa tersebut.

Lagipula, untuk urusan menyapu bersih monster kroco, akulah yang paling kompeten.

Tepat saat menggunakan MP terakhir, levelku naik. Tapi karena sudah tidak punya energi bahkan untuk meng-Appraisal diri sendiri, aku memutuskan langsung tidur.

Aku melapor pada Zeke, lalu dia menggendongku ke dalam kereta. Ike kemudian bertukar posisi dengan-ku untuk berjaga di luar.

◆◇◆

Aku terbangun setelah tidur lebih dari tiga jam. Zeke dan Ike sedang asyik mengobrol sambil tetap waspada di luar.

Aku segera melakukan Appraisal pada diriku sendiri.

Aku sangat bersemangat karena ini kenaikan level pertamaku setelah beberapa bulan.


[Name] Mars Bryant

[Age] 4 Tahun

[Level] 6 (+1)

[HP] 25/30

[MP] 3426/3427

[Strength] 20 (+3)

[Agility] 22 (+3)

[Magic] 42 (+4)

[Dexterity] 36 (+3)

[Endurance] 19 (+3)


Meski HP-ku masih terasa rendah, secara kemampuan aku sudah jauh lebih kuat.

Apa sekarang aku sudah bisa bertarung seimbang dengan Kak Ike?

"Ayah, Kak Ike, pagi. Aku pake Heal ya," kataku sambil memulihkan HP mereka berdua.

"Terima kasih. Selama kamu tidur, banyak Goblin yang datang. Sepertinya mereka memang berasal dari desa itu, jadi kita harus waspada saat eksplorasi nanti!"

"Siap!"

Semakin mendekati desa terbengkalai, Goblin semakin sering muncul.

Pasti ada sesuatu di desa ini.

Begitu sampai di pintu masuk desa dan mengintip ke dalam, ada sekitar lima puluh ekor Goblin yang terlihat. Kalau ditambah dengan yang bersembunyi di dalam rumah, totalnya mungkin mencapai seratus ekor.

Strategi sudah disusun.

Pertama, Ike akan menembakkan Fire ke tengah kerumunan.

Begitu mereka menyadari keberadaan kami, aku akan mencincang mereka dengan Wind Cutter dari pintu masuk desa.

Dengan menarik mereka mendekat, aku bisa menghabisi mereka sekaligus sehingga lebih efisien energi.

Jika aku kewalahan, Ike akan membantu, dan Zeke akan turun tangan jika situasi benar-benar gawat.

Kami menjalankan rencana itu.

Tembakan Fire pertama mengenai sasaran.

"Gyakgyakgyaaa!!!"

Mendengar jeritan itu, para Goblin menyadari posisi kami. Puluhan ekor keluar dari dalam rumah-rumah tua.

Saat mereka merangsek maju secara bersamaan, aku membiarkan mereka mendekat sebelum melepaskan Wind Cutter.

Setelah bertempur hampir satu jam, kami berhasil menyapu bersih semuanya dan membakar tumpukan mayat mereka dengan Fire.

Tepat saat kami mengumpulkan Magic Stone ke dalam kereta dan hendak memasuki desa lebih dalam...

Pintu rumah paling besar yang berada di lereng bukit terbuka.

Dari sana muncul sekitar dua puluh Goblin yang mengawal seekor Goblin yang ukurannya jauh lebih besar.

Aku segera meng-Appraisal si raksasa itu.


[Ras] Hobgoblin

[Threat] E

[Level] 3

[HP] 50/50

[MP] 1/1

[Strength] 25

[Agility] 18

[Endurance] 26


Musuh kuat pertama kami.

HP-nya tinggi, begitu juga dengan daya tahannya.

Setelah aku membisikkan hasil Appraisal pada Zeke dan Ike, Ike bertanya:

"Ayah, gimana? Kita serang?"

"Lakukan seperti biasa dulu. Kalau Mars gagal menjatuhkan Hobgoblin itu, kita bertarung sambil mundur. Ike, siapkan pedangmu."

"Siap!"

Saat para Goblin mulai menyerbu, aku menggunakan Wind Cutter untuk menghabisi semua kroco kecuali si Hobgoblin.

Aku berhasil mendaratkan satu Wind Cutter telak pada Hobgoblin itu, dan dengan satu tembakan tambahan, monster itu pun tewas.

Ternyata musuh yang kukira kuat itu bisa dikalahkan dengan cukup mudah. Ike hanya menatapku dengan wajah pasrah seolah berkata, "Yah, namanya juga Mars."

Saat aku mengambil Magic Stone dari tubuh Hobgoblin yang sudah kaku, batunya sedikit lebih besar daripada milik Goblin biasa. Mungkin nilainya juga lebih mahal.

Setelah itu, kami menjelajahi sisa desa dengan waspada, tapi tidak menemukan apa-apa lagi.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah rumah besar di lereng bukit tempat Hobgoblin tadi keluar.

Kami membuka pintunya dengan sangat hati-hati.

Begitu pintu terbuka, seketika aku menyadari bahwa atmosfer di dalam ruangan ini sangat berbeda.

Sensasi asing yang baru pertama kali kurasakan ini membuatku kelu. Ike pun sepertinya merasakan hal yang sama.

Zeke yang memecah ketegangan.

"Ini... Dungeon... Gawat. Tempat ini sudah berubah jadi Dungeon. Kalau dari sini monster meluap keluar, ini masalah besar. Fenomena 'Dungeon Overflow' yang memicu Stampede adalah skenario terburuk."

"Gimana, Ayah? Kita balik dulu? Kayaknya masih jam dua siang," usul Ike.

Namun, Zeke sepertinya ingin melanjutkan penyelidikan sedikit lagi.

"Kita eksplorasi sebentar saja. Kita harus punya data untuk melaporkan bahwa Goblin-goblin ini memang muncul dari sini."

"Oke. Mars, kita harus saling jaga ya."

"Iya!"

"Baik, formasinya: Ayah di depan, Mars di tengah, dan Ike di belakang. Kita tidak berniat menaklukkannya sekarang, jadi begitu ketemu beberapa Goblin lagi, kita langsung pulang."

Maka kami pun melangkah masuk ke dalam Dungeon.

Lebar lorongnya sekitar sepuluh meter.

Dari pintu masuk, jalan lurus itu langsung berujung pada pertigaan berbentuk T.

Di sebelah kanan terdapat sebuah ruangan. Saat kami mengintip dengan waspada, ada seekor Hobgoblin dan tiga ekor Goblin yang memegang tongkat kayu.

Hobgoblin itu sama saja dengan yang sebelumnya.

Lalu, aku mencoba meng-Appraisal para Goblin pembawa tongkat itu.


[Ras] Goblin Mage

[Threat] F

[Level] 2

[HP] 25/25

[MP] 24/24

[Magic] 15

[Special Ability] Earth Magic G (Lv1/5)


Goblin yang bisa memakai sihir, ya?

Setelah aku membagikan informasi itu, kami memutuskan untuk menghabisi mereka sebelum sempat merapal sihir. Rencananya, kami akan membutakan Hobgoblin itu dulu sebelum membunuhnya.

Pertama, kami melakukan serangan kejutan: Wind Cutter dariku, Stone Bullet dari Zeke, dan Fire Arrow dari Ike untuk mengincar tiga Goblin Mage. Hanya target Ike yang masih bertahan, tapi aku segera mengirim satu Wind Cutter tambahan dengan cepat untuk menghabisinya.

Hobgoblin yang tersisa pun dibuat buta oleh sihirku sebelum akhirnya Ike menebas lehernya. Setelah ruangan bersih dari monster, kami menemukan sebuah peti harta karun di sudut ruangan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close