NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Petualang


"Tak kusangka bisa menemukan peti harta secepat ini…… Mars, coba tolong Appraisal peti itu. Siapa tahu ada jebakannya."

Atas permintaan Zeke, aku pun mencoba memeriksanya.


[Name] Chest

[Special] —

[Value] 3

[Detail] Tingkat kemunculan dan isi di dalamnya bergantung pada Luck.


Sepertinya bukan jebakan…… tidak ada keterangan apa pun di kolom spesial.

Aku memberi tahu Zeke kalau ini kemungkinan besar bukan jebakan. Aku juga menyarankan agar aku yang membukanya, karena dengan nilai Luck-ku yang tinggi, mungkin hasilnya akan lebih bagus.

Sambil tetap waspada namun dengan jantung yang berdebar kencang, aku membuka peti itu. Di dalamnya terdapat sebuah gelang yang dihiasi batu Magic Stone berwarna merah.

Aku segera meng-Appraisal gelang itu.


[Name] Fire Bracelet

[Special] Magic +4

[Value] C

[Detail] Gelang yang diberkati sihir api. Sedikit meningkatkan kekuatan sihir api.


Setelah aku menjelaskan efeknya, diputuskan bahwa Ike yang akan memakainya. Gelang api yang tadinya kukira akan kedodoran itu secara ajaib langsung pas di pergelangan tangan Ike begitu ia memakainya.

"Terima kasih, Mars. Sekarang aku bisa membakar mayat monster dengan lebih efisien."

Setelah mendapatkan jarahan perang, kami segera keluar dari Dungeon dan bergegas pulang. Di perjalanan pulang, tidak ada satu pun Goblin yang terlihat.

Begitu sampai di Almeria sebelum senja, kami langsung menuju Guild untuk melapor. Kali ini aku dan Ike ikut masuk.

Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam Guild. Di dalamnya hanya ada tiga orang petualang, selebihnya hanyalah beberapa staf.

Tempatnya ternyata lebih bersih dari dugaanku. Di dindingnya terpasang berbagai lembar permintaan misi, pedang, serta perisai sebagai hiasan.

Karena ketiga petualang itu memandangi kami, aku pun balas meng-Appraisal mereka. Pertama, pria yang meletakkan tombak di sampingnya.


[Name] Landaryl

[Age] 27 Tahun

[Level] 20

[HP] 102/102

[Strength] 32

[Agility] 25

[Endurance] 30

[Luck] 1

[Special Ability] Spearmanship E (Lv5/11)


Kelak aku mendengar dari Zeke bahwa pria bernama Landaryl ini adalah pekerja keras yang baru saja berhasil naik ke peringkat D. Mungkin itu sebabnya gurat kelelahan begitu terlihat di wajahnya.

Berikutnya, aku memeriksa wanita yang memakai topi penyihir.


[Name] Hamarsa

[Age] 22 Tahun

[Level] 15

[HP] 80/80

[MP] 85/85

[Magic] 35

[Luck] 1

[Special Ability] Wind Magic E (Lv3/11)


Hamarsa juga seorang petualang peringkat D. Melihat statistikku yang lebih tinggi darinya, mungkin kekuatanku saat ini juga sudah setara peringkat D.

Terakhir, aku memeriksa pria yang berdiri dengan kapak di satu tangannya.


[Name] Frostov

[Age] 20 Tahun

[Level] 18

[HP] 108/108

[Strength] 20

[Endurance] 30

[Luck] 1

[Special Ability] Axemanship F (Lv3/8)


Frostov adalah petualang peringkat E yang bertugas sebagai Tanker.

Satu hal yang menarik perhatianku, Luck mereka semua cuma 1. Sebenarnya aku sudah lama menyadari hal ini sejak mengamati warga kota…… tapi di keluarga Bryant, semua orang punya Luck di atas 10.

Karena tidak ada gunanya bertanya pada Zeke soal Luck yang hanya bisa kulihat sendiri, aku menanyakan hal lain.

"Ayah? Gimana calanya petualang dikelas-kelasin?"

"Petualang peringkat E bisa didapat setelah lulus dari status Paper. Asal tidak buat masalah, umur lima belas tahun sudah bisa jadi peringkat E. Peringkat D bisa naik kalau total statistikmu sudah lewat dari 100, dan peringkat C batasnya sekitar 200. Untuk jadi peringkat C juga butuh persetujuan Guild Master. Karena penyihir itu langka, mereka bisa naik peringkat meski statistik mereka belum sampai. Ayah salah satunya. Tapi ini beda-beda tiap negara. Kamu harus minta tempat Appraisal menuliskan statistikmu, lalu menunjukkannya ke Guild. Tapi ada juga orang-orang bodoh yang menyuap petugas Appraisal demi gengsi agar bisa naik ke peringkat D. Kalian jangan jadi orang dewasa seperti itu, ya?"

"Siap!"

Setelah kami menjawab serempak, Zeke berjalan menuju resepsionis wanita.

"Lucia. Ada laporan untuk Guild Master. Dan tolong urus pembelian Magic Stone di kereta kuda kami."

Wanita muda berusia belasan tahun bernama Lucia itu meminta staf lain untuk mengurus kereta, sementara ia sendiri mengantar kami ke ruangan lain.

Ruangan Guild Master berada di lantai dua.

"Silakan lewat sini. Hari ini anak-anak juga ikut?" tanya Lucia yang dijawab dengan anggukan oleh Zeke.

"Iya. Kali ini aku ingin mereka ikut mendengarkan. Boleh, kan?"

"Tentu, tidak masalah. Mereka berdua punya pembawaan yang sangat dewasa untuk anak seusia mereka."

"Terima kasih banyak."

Begitu aku dan Ike membungkuk sopan, Lucia memberikan senyuman manis. Ia lalu mengetuk pintu ruangan di depan kami.

"Tuan Zeke ingin melapor kepada Master."

"Masuklah."

Terdengar suara berat dari dalam, sehingga aku, Ike, dan Zeke melangkah masuk. Lucia sendiri tetap berada di luar.

"Oh, Zeke. Kerja bagus. Lalu, siapa anak-anak ini?"

"Iya. Ini putra-putraku, Ike dan Mars. Ike, Mars, beri salam."

"Salam kenal. Nama saya Ike Bryant. Berumur tujuh tahun."

"Salam kenal. Nama saya Mals Blyant. Belumul empat tahun."

Aku meniru gaya salam Ike yang sangat sempurna.

"Oho. Sopan sekali. Aku Guild Master di sini, Ralph Sargent. Panggil Ralph saja. Salam kenal ya. Hei Zeke, gimana caramu mendidik mereka? Mereka jauh lebih sopan daripada petualang di luar sana."

"Sebenarnya aku tidak pernah mengajari mereka etika atau cara bicara khusus. Tapi kesampingkan itu, soal misi khusus kemarin, desa terbengkalai di kaki gunung telah dikuasai Goblin. Aku rasa kami sudah membunuh sekitar empat ratus ekor. Masalahnya adalah, salah satu rumah di desa itu ternyata telah menjadi Dungeon. Sepertinya Dungeon itu menyatu dengan area tambang. Di dalamnya kami mengonfirmasi adanya Hobgoblin dan Goblin Mage. Kemungkinan besar ada Goblin King di lantai dalam, dan fenomena 'Dungeon Overflow' sudah dimulai. Kita harus menghancurkannya sebelum terjadi Stampede."

"Apa!? Dungeon…… Untunglah baru Goblin yang terdeteksi. Tapi Goblin King itu merepotkan. Aku harus membicarakan ini dengan Count Carmel. Dua Dungeon dalam satu wilayah kekuasaan itu bisa gawat urusannya."

Ralph melanjutkan bicaranya dengan wajah masam.

"Lalu, kenapa anak-anak ini ikut? Kalian tidak sedang tamasya sekolah, kan?"

"Tentu saja tidak. Aku ingin mereka didaftarkan sebagai petualang melalui jalur pengecualian. Mereka ikut dalam penyelidikan kemarin, dan jujur saja, tanpa mereka aku tidak akan bisa menyelidiki sampai sejauh itu."

"Kamu waras? Mereka baru tujuh dan empat tahun. Meski ini permintaanmu, aku tidak bisa melakukannya."

"Bisakah setidaknya Anda melakukan Appraisal pada mereka? Setelah itu, jika Anda melihat kemampuan praktik mereka, Anda akan paham betapa bergunanya mereka sebagai kekuatan tempur."

"Sampai sebegitunya? Hmm…… baiklah, karena ini rekomendasi Zeke, mari kita coba. Lucia! Kamu di luar, kan? Masuklah!"

Pintu terbuka dan Lucia masuk ke dalam.

"Ketahuan ya. Jadi saya hanya perlu melakukan Appraisal, kan?"

Jadi dia yang punya skill Appraisal. Aku mencoba memeriksanya.


[Name] Lucia Sargent

[Age] 16 Tahun

[Special Ability] Appraisal (LvMAX)


Sargent…… apa dia putrinya Ralph? Ternyata ada juga ya skill bernama Appraisal. Sekalian saja aku periksa Ralph.


[Name] Ralph Sargent

[Age] 40 Tahun

[Level] 32

[Strength] 54

[Agility] 61

[Endurance] 50

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv9/15)


Dia tipe penyerang fisik murni yang sangat kuat. Dilihat dari umurnya, mereka berdua memang ayah dan anak.

Selagi aku memikirkan hubungan mereka, Lucia mulai meng-Appraisal Ike. Seketika itu juga, wajahnya berubah pucat pasi.

"Eh? Eh? Sebentar? Eeeehhhh!!?"

Ralph menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.

"Ti-tidak mungkin, Swordsmanship, Spearmanship, sampai Fire Magic……" gumam Lucia sendirian.

"Jangan-jangan…… kalian bisa menggunakan pedang dan sihir sekaligus?"

Karena aku bingung harus menjawab sejauh mana, aku menatap Zeke. Zeke pun mewakili kami untuk menjawab.

"Ike bisa menggunakan Fire, sedangkan Mars bisa menggunakan Wind dan Wind Cutter. Karena Ike juga memakai gelang api, daya serangnya cukup tinggi."

Ternyata Ayah tidak membocorkan soal sihir suci. Lucia masih terlalu terkejut melihat status Ike sampai lupa memeriksaku.

"Se-serius…… ini sih bukan sekadar jenius lagi. Memang benar, sayang sekali kalau kemampuan sehebat ini tidak dimanfaatkan…… Ba-baiklah. Aku izinkan Ike dan Mars mendaftar jadi petualang. Tapi ada syaratnya. Tunjukkan sedikit sihir kalian. Bukannya aku ragu, tapi aku ingin memastikannya sendiri."

Demi memenuhi permintaan Ralph, kami membuka jendela ruangan. Ike menembakkan Fire ke arah langit, dan aku melepaskan Wind untuk mempercepat bola api tersebut. Bola api Ike membesar secara drastis, melesat semakin cepat, lalu menghilang di angkasa.

Sepertinya sihir angin dan api memang punya kecocokan yang sangat bagus, seperti aku dan Ike.

"Kalian akan masuk peringkat E lewat jalur pengecualian. Dari peringkat E kalian sudah bisa masuk ke Dungeon. Kartu petualang kalian akan dicetak, jadi silakan ambil beberapa hari lagi. Lalu, ini imbalan untuk misi khususnya. Aku beri tambahan sedikit sebagai bonus. Tapi aku harap kalian mau melanjutkan misi khusus ini. Aku ingin pembasmian Goblin terus berlanjut, dan aku juga butuh informasi tentang Dungeon itu. Ini berat dan berbahaya, tapi situasi Almeria saat ini sedang buruk. Tolong diskusikan baik-baik dengan Maria."

Setelah melihat sihir kami, Ralph menundukkan kepalanya. Zeke membalas dengan sopan, lalu kami keluar dari ruangan. Setelah menukarkan Magic Stone dan menerima uang imbalan, kami pun pulang. Zeke tampak menyeringai melihat jumlah uang yang diterimanya.

Begitu sampai di rumah, Maria menyambut kami sambil menggendong Leena. Melihat wajah mereka membuat rasa lelahku langsung tumpah. Ike pun tertawa melihatku, dan aku pun ikut tertawa bersamanya.

Malam itu aku langsung tertidur pulas setelah menguras MP dengan Sylphid.

◆◇◆

Hari ini adalah hari istirahat. Zeke sudah melaporkan semuanya pada Maria tadi malam.

Meski hari istirahat, aku tetap melakukan simulasi pertarungan dengan Ike menggunakan pedang kayu, tapi aku benar-benar tidak berkutik.

Level Ike sudah naik jadi 10. Dia benar-benar luar biasa. Apa kelak ia akan dipanggil Sword Saint? Tidak, bakat tombaknya lebih tinggi, jadi mungkin Spear Saint……

"Tetep aja aku nggak bisa menang lawan Kak Ike."

"Nggak juga kok. Kalau Mars umur empat tahun lawan aku umur empat tahun, aku pasti kalah telak. Nanti Mars bakal lebih kuat dariku. Jadi aku harus berjuang biar tetap bisa jaga wibawa sebagai kakak."

Bicara apa sih dia? Benar-benar kakak idaman. Setelah makan siang dan menguras MP, aku dipanggil oleh Zeke dan Maria. Rapat keluarga dimulai.

"Pertama, soal hadiah kemarin. Ini misi yang kita selesaikan bertiga, jadi hadiahnya harus dibagi rata. Tapi Ayah tidak berniat memberikan uang sebanyak ini pada anak-anak."

"Aku sudah dapat gelang api kemarin, jadi aku tidak butuh uangnya. Kalau harus dibagi, berikan saja bagianku untuk Mars," ujar Ike.

Karena Ike sudah berbaik hati, aku pun menyampaikan permintaanku.

"Aku nggak mau balang, tapi aku pengen belajar sihil tanah. Ayah mau bantu, kan?"

"Tentu. Ayah akan ajari. Buku sihir tanah tingkat pemula sepertinya masih ada. Kalian berdua ini benar-benar tidak punya rasa rakus, ya. Kalau begitu, uangnya Ayah simpan. Sebagai gantinya, ada sesuatu untuk kalian."

Zeke memberikan selembar kartu kepada kami masing-masing.

"Ini kartu petualang peringkat E. Bisa jadi tanda pengenal juga, jadi jangan sampai hilang."

Bahannya terbuat dari tembaga. Ternyata tiap peringkat punya bahan kartu yang berbeda:

  • A: Adamantite
  • B: Mithril
  • C: Silver
  • D: Iron
  • E: Copper
  • F & G: Paper

Peringkat F dan G memang sering disebut petualang 'Kertas'.

"Lalu soal masa depan. Tadi pagi Ayah sudah bicara dengan Guild Master dan Count Carmel, penguasa Almeria. Mereka meminta kita pindah ke dekat desa terbengkalai itu bersama beberapa orang untuk mengelola dan memimpin wilayah di sekitar Dungeon. Tentu saja dengan imbalan besar. Besok Count Carmel akan ke ibu kota untuk melapor. Beliau akan menegosiasikan hak pengangkatan Baron, dan jika berhasil, Ayah akan dinaikkan gelarnya. Ayah sempat menolak karena merasa tidak berbakat memimpin, tapi karena beliau bilang cukup mengelola Dungeon saja, Ayah minta waktu untuk mempertimbangkannya. Perbedaan antara Baron dan Baronet itu seperti langit dan bumi. Baronet hanya berlaku satu generasi, tapi Baron punya hak waris gelar. Bagaimana menurut kalian?"

"Ibu rasa itu tawaran yang sangat bagus. Tapi Ibu cuma khawatir soal berapa banyak orang yang akan pindah. Kita tidak bisa mengatasinya sendiri kalau terjadi sesuatu."

"Aku rasa itu ide bagus!" seru Ike. Aku pun setuju.

"Sip. Pertama kita pastikan berapa orang yang ikut. Lalu besok kita akan pergi berburu Goblin lagi. Kereta kudanya bisa kita pinjam gratis selama kita menjalankan misi khusus ini."

Besok berburu Goblin lagi. Kalau ada waktu, aku ingin latihan sihir tanah.

◆◇◆

Keesokan harinya, Zeke mengajakku ke toko senjata. Sepertinya untuk membelikanku perlengkapan. Karena aku baru empat tahun, pedang biasa terlalu besar untukku. Ternyata aku akan dibelikan belati.

Aku mencoba mencari sendiri belati yang cocok menggunakan Appraisal.


[Name] Iron Dagger

[Attack] 6

[Value] F

[Name] Silver Dagger

[Attack] 12

[Value] D

[Name] Mithril Dagger

[Attack] 20

[Value] C


Belati Mithril itu terlihat bagus, tapi terasa kurang pas dan agak berat di tanganku. Saat sedang mencari, aku menemukan sesuatu di tumpukan barang rongsokan.


[Name] Sylph Dagger

[Attack] 4

[Special] Magic +1, Agility +1

[Value] C

[Detail] Belati khusus yang membuat tubuh terasa ringan. Kekuatan dan kecepatan akan meningkat jika dilapisi Enchant sihir angin.


Ini pas banget buatku! Karena ditaruh di tempat rongsokan, harganya pasti murah. Dan saat dipegang, belati ini sangat ringan sehingga aku bisa mengayunkannya dengan mudah.

"Ayah! Aku mau yang ini!"

"Tuan toko, berapa harga barang rongsokan ini?" tanya Zeke.

"Ah, itu cuma serangan 4. Satu koin perak saja. Bisa buat potong sayur di dapur."

"Mars, kamu yakin?"

"Yakin!"

Akhirnya aku mendapatkan Sylph Dagger. Ini perlengkapan pertamaku, jadi aku akan menjaganya baik-baik.


Satu bulan telah berlalu sejak penemuan Dungeon. Goblin di sekitar desa sepertinya sudah habis diburu, sehingga kami sering masuk ke dalam Dungeon Goblin tersebut. Krisis di sisi barat Almeria pun mereda.

Karena Dungeon harus terus diawasi, Zeke resmi naik gelar menjadi Baron dan ditugaskan mengelola Dungeon Goblin tersebut.

Saat ini bangunan di desa terbengkalai sedang diratakan dan rumah-rumah baru mulai dibangun. Ada sekitar seratus orang yang pindah dari Almeria, jauh lebih banyak dari dugaan awal. Dungeon ini sangat cocok untuk pemula, terutama bagi petualang yang baru naik dari peringkat Kertas ke E. Banyak pedagang juga ikut pindah karena mencium peluang bisnis.

Meskipun Goblin di luar sudah habis, jumlah mereka di dalam Dungeon tetap banyak. Tak peduli berapa pun yang diburu, mereka seolah tidak pernah berkurang. Ini jadi tempat leveling yang pas bagi para petualang peringkat E.

Selain itu, sebuah party peringkat D bernama Blue Fang yang terdiri dari enam petualang peringkat D dan E ikut datang bersama kami.

Mereka adalah para petualang muda berusia sekitar delapan belas tahun yang merupakan harapan baru Almeria. Dulu saat masih peringkat Kertas, mereka pernah ditolong oleh Zeke dan Maria, sehingga mereka sangat mengagumi kedua orang tuaku.

Anggota Blue Fang:

1.    Van (Magic Swordsman / Leader) - Lv16

2.    Hugues (Swordsman) - Lv15

3.    Luster (Spearman) - Lv15

4.    Iris (Scout) - Lv13

5.    Anne (Water Mage) - Lv14

6.    Aisha (Fire Mage) - Lv14

Sang pemimpin, Van, memang sangat kuat. Ia punya bakat pedang dan sihir.

Mereka sangat aktif membantu pembangunan kota, dan Zeke merasa sangat terbantu.

Pagi hari keluarga Bryant masuk ke Dungeon, dan malam hari giliran Blue Fang. Ditambah petualang peringkat E lainnya, ancaman 'Dungeon Overflow' praktis sudah hilang.

Para anggota Blue Fang juga sering melatih aku dan Ike jika mereka punya waktu luang. Kami senang sekali punya kakak-kakak baru yang hebat.

"Mars, tolong potong kayu ini jadi bentuk persegi panjang. Kalau sudah, bawa ke mandor, dan sisanya simpan sebagai kayu bakar."

Seorang tukang kayu memanggilku. Ya, sekarang aku sedang membantu pertukangan. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Karena kabarnya MP maksimal akan terus naik pesat sampai umur sepuluh tahun, dan setelah itu pertumbuhannya akan melambat.

Hubungan pertukangan dengan MP? Sederhana saja. Jika masuk ke Dungeon, aku harus menghemat energi, tapi di kota aku bisa menguras MP sampai habis tanpa perlu khawatir soal keamanan. Berkat Natural Talent, aku hanya butuh tidur tiga jam agar MP-ku penuh kembali.

Aku memotong kayu menggunakan Air Blade atau Wind Cutter, lalu memindahkan benda berat dengan Wind. Untuk benda yang butuh kehati-hatian, aku menggunakan Sylphid untuk meningkatkan kemampuan fisikku.

Begitulah caraku meningkatkan MP maksimal di hari-hari saat tidak masuk ke Dungeon. Ike sendiri lebih sering masuk ke Dungeon bersama Zeke.

Lingkungan di mana Dungeon berada tepat di depan rumah benar-benar luar biasa. Maria juga sesekali ikut masuk setelah menitipkan Leena yang sudah mulai makan makanan pendamping ASI kepada anggota Blue Fang.

Kehidupan seperti itu berlangsung selama hampir setahun. Aku sekarang berumur lima tahun dan Ike delapan tahun. Karena sekarang aku adalah anak seorang Baron, aku mulai membiasakan diri bicara dengan lebih sopan. Inilah statistik kami sekarang:


[Name] Mars Bryant

[Status] Human / Second Son of Baron Bryant House

[Age] 5 Tahun

[Level] 7 (+1)

[HP] 41/41

[MP] 4522/4523

[Strength] 26 (+6)

[Agility] 29 (+7)

[Magic] 53 (+11)

[Dexterity] 44 (+9)

[Endurance] 25 (+6)

[Luck] 30

 

[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv5)

[Special Ability] Swordsmanship B (Lv3/17)

[Special Ability] Fire Magic G (Lv2/5)

[Special Ability] Earth Magic G (Lv1/5) (NEW)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv11/19)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv4/15)

[Equipment] Sylph Dagger


Statistikku melonjak drastis, dan aku berhasil mempelajari sihir tanah. Sekarang, mari lihat Ike.


[Name] Ike Bryant

[Status] Human / Eldest Son of Baron Bryant House

[Age] 8 Tahun

[Level] 12 (+3)

[HP] 70/70

[MP] 567/567

[Strength] 42 (+12)

[Agility] 33 (+8)

[Magic] 23 (+7)

[Endurance] 39 (+12)

 

[Special Ability] Swordsmanship C (Lv4/15)

[Special Ability] Spearmanship B (Lv4/17)

[Special Ability] Fire Magic C (Lv4/15)

[Equipment] Salamander Sword, Fire Bracelet


Dia benar-benar seorang jenius. Badannya juga sangat bongsor untuk anak usia delapan tahun. Hebatnya lagi, ia sekarang sudah bisa bertarung seimbang dengan anggota Blue Fang dalam adu teknik.

Yang lebih mengejutkan, begitu ia bisa menguasai Salamander Sword, ia malah mengubah senjata utamanya menjadi tombak. Ia menggendong pedang sihirnya di punggung dan menyerang dengan tombak.

Jangkauannya yang panjang membuat para Goblin terbantai secara sepihak sebelum sempat mendekat. Pemandangan itu terkadang terasa sangat mengerikan.

Zeke dan Maria sendiri sudah tidak bisa naik level lagi meski membunuh ribuan Goblin karena perbedaan level yang terlalu jauh.

Aku yakin bukan cuma aku yang membayangkan kalau tahun depan, Ike akan melampaui Zeke yang merupakan orang terkuat di kota ini.

Statistik Leena belum berubah, tapi keimutannya meledak drastis. Melihatnya berjalan tertatih di dalam rumah pada usia dua tahun membuatku selalu ingin memeluknya…… eh, sebenarnya aku memang selalu memeluknya sih.

Setelah makan malam selesai, Zeke mengumpulkan kami semua.

"Minggu depan, kita akan pergi menuju bagian terdalam Dungeon Goblin. Tujuannya adalah untuk menentukan batas aman bagi petualang peringkat E dan mencari tahu ada berapa lantai di sana. Kali ini Maria juga akan ikut. Leena akan dititipkan kepada Blue Fang. Ike, Mars, siapkan perlengkapan kalian."

““Siap!””

Kami menjawab dengan penuh semangat.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close