Chapter 2
Dunia Lain dan Tai Chi
Suatu hari,
setelah sekian lama, ayah dan ibuku akhirnya duduk bersama di meja makan.
Sudah menjadi
pola di rumah ini bahwa jika orang tuaku ada, kami akan makan malam bersama.
Sejujurnya, aku merasa hal-hal merepotkan seperti ini tidak perlu dilakukan,
tapi mungkin orang tuaku punya pemikiran lain.
Lagipula,
kesempatan seperti inilah satu-satunya waktu aku bisa menanyakan hal-hal
tertentu...
"Papa, aku
ingin segera belajar sihir."
"Bukankah
dokter bilang kau harus bersabar selama setengah tahun?"
"Aku sudah
tidak apa-apa kok. Lihat, kapan guru sihir yang Papa janjikan itu akan
datang?"
"...Tunggulah
sebentar lagi. Aku sedang mencarinya."
Sepertinya
sudah jadi rahasia umum di dunia ini bahwa anak yang mengalami Mana
Depletion memiliki bakat sihir yang besar. Begitu aku sadar, orang tuaku
bilang mereka akan segera mencari guru sihir, tapi... di dunia ini,
transportasi utama masihlah kereta kuda. Aku paham bahwa memanggil guru sihir
dari tempat jauh tidak bisa dilakukan dalam sekejap.
Jika
dipikir dengan tenang, mencari guru hebat hanya dengan kekuatan uang itu
bagaimana ya... Tapi kurasa
akal sehatku sudah mulai tumpul. Aku jadi sangat menantikan kedatangan guru
itu.
"Sihir
memang bagus, tapi asah juga kemampuan pedangmu."
"Eh?
Anu... i-iya."
"Kau
akan hidup sebagai bangsawan. Setidaknya kuasailah ilmu pedang."
Benar
juga, di dunia ini pedang adalah elemen yang penting. Karena kejadian Mana
Depletion, aku mengira akan langsung menempuh jalan sebagai penyihir, tapi
aku sendiri belum tahu spesifikasi tubuh ini. Siapa tahu aku punya berkah
reinkarnasi berupa bakat All-Mighty yang meluap-luap. Hmm.
Saat aku
sedang melamunkan hal itu, ibu berbicara kepada ayah dengan wajah riang.
"Sayang, besok aku diundang ke pesta teh Lady Isabella.
Menurutmu gaun mana yang harus
kupakai? Apakah gaun biru itu sedikit terlalu mencolok?"
"Hm? ...Begitu ya. Bukankah yang kesannya lebih kalem
akan lebih baik?"
Pesta teh lagi.
Kenapa minum teh saja bisa menjadi urusan yang sangat penting? Aku benar-benar
tidak paham. Namun bagi ibu, itu tampaknya masalah yang bisa menentukan jalan
hidupnya.
Baju yang akan
dipakai, camilan yang akan dibawa, tempat duduk di pesta teh... Ayah mungkin
tidak terlalu tertarik. Dia berusaha menanggapi, tapi terlihat jelas kalau
hatinya tidak di sana.
"Ngomong-ngomong,
kudengar kali ini Lady Lumiera juga akan menampakkan diri. Mungkin dia akan
senang jika aku membawakan kue panggang yang sedang tren di kota."
"Lady
Lumiera ikut pesta teh? Bukankah dia seumuran dengan Rad?"
"Iya, tapi
ini bukan debut resmi di dunia sosial, sepertinya hanya pesta teh internal yang
santai."
Lumiera? Nama
yang baru kudengar itu membuatku sedikit tertarik. Seorang gadis yang seumuran
denganku. Dari pembicaraan tadi, apa dia putri dari orang bernama Isabella itu?
Aku pun bertanya pada ibu.
"Siapa itu
Lady Lumiera?"
"Aduh,
hohoho. Rad, kau benar-benar anak laki-laki ya. Apa kau jadi penasaran?"
"Eh? B-bukan
begitu. Mama bilang dia seumuran denganku, makanya aku bertanya."
"Hohoho.
Lady Lumiera adalah putri dari keluarga Faldulas."
"Anu...
keluarga Faldulas?"
"Kau ini
tidak tahu apa-apa ya. Mereka adalah patron kita. Tempat ini adalah wilayah
Margravine Faldulas, tahu? Ingatlah itu baik-baik."
"I-iya..."
Tunggu dulu... Dalam ingatan bocah Radcliffe, informasi yang
ada hanyalah tempat ini bernama Kerajaan Arcadia. Kenapa informasi sepenting
itu bisa terlewat?
Mendengar ucapanku, ayah sepertinya merasa ada yang tidak
beres. Beliau menghentikan makannya dan menatapku dengan wajah serius.
"Dengar, Rad. Prosper Company bisa menjadi sebesar ini
juga berkat bantuan dari Tuan Margravine. Kau tidak boleh mengatakan bahwa kau
tidak tahu tentang keluarga Faldulas."
"I-iya."
"Lagipula, meski Lady Lumiera juga penting, kau harus
menjalin hubungan baik dengan sang pewaris, Tuan Muda Adric. Aku sangat
bersyukur kau seumuran dengan Tuan Muda Adric."
"...Eh? Adric?"
"Hm? Ada apa?"
"Adric... maksud Papa, Adric Faldulas?"
Begitu mendengar nama itu, potongan-potongan informasi di
dalam kepalaku seketika menyatu.
Adric Faldulas. Dan aku, Radcliffe Prosper. Kemungkinan
besar ada satu orang lagi bernama Sevant Croftor.
Trio ini. Tidak salah lagi. Kenapa aku tidak menyadarinya sampai sekarang...?
Tanpa sadar aku
berseru dan berdiri, membuat ayah menatapku dengan kaget.
"Kenapa
tiba-tiba berteriak begitu?"
"Eh?
Tidak. Maafkan aku."
Setelah
itu, meski tetap mengobrol dengan ayah, sejujurnya aku sedang panik luar biasa.
Aku berusaha menarik napas dalam-dalam agar kepanikanku tidak terbongkar.
Tidak salah lagi.
Ini murni skenario reinkarnasi antagonis.
Aku memegangi
kepalaku yang terasa pening.
Mungkin ini yang
dinamakan syok berat. Aku
kembali ke kamar dengan langkah gontai dan langsung menjatuhkan diri ke tempat
tidur. Aku bahkan tidak ingat bagaimana caranya aku bisa kembali ke sini
setelah makan malam bersama orang tuaku.
Bukannya
aku tidak pernah membayangkan skenario reinkarnasi antagonis sebelumnya. Namun, selama beberapa bulan sejak
merasakan reinkarnasi, sepertinya aku sudah sepenuhnya melepaskan pikiran itu.
Aku sempat berpikir bisa menjalani kehidupan dunia lain yang santai dan serba
berkecukupan di keluarga kaya ini.
"Ternyata
begini jalannya, ya..."
...
Ada sebuah karya
yang menjadi alasan awal aku terjerumus ke dunia light novel. Judulnya
adalah "Reinkarnasi Jadi Pewaris Bangsawan Bangkrut, Aku Membangun Wilayah
dengan Kemampuan Cheat".
Sekarang, karya
itu mungkin dianggap sebagai genre reinkarnasi tipe lama, tapi buku yang secara
kebetulan kupungut itulah yang menarikku ke dalam lubuk light novel.
Ceritanya sangat
klise; sang protagonis tertabrak truk, bereinkarnasi ke dunia lain, lalu
menggunakan pengetahuan dari Bumi untuk membenahi wilayah kekuasaannya yang
hampir bangkrut.
Namun, pada
masanya, itu adalah hal yang segar dan dianggap sebagai karya yang menjadi
templat bagi berbagai cerita reinkarnasi setelahnya.
Sekilas tampak
seperti alur slow life, namun sebenarnya bertabur adegan pertarungan
yang sengit, dan merupakan karya yang bagus tentang perjuangan dari nol. Dan
rival terbesar sang protagonis adalah Adric Faldulas.
Adric muncul
sebagai teman sekelas saat protagonis masuk ke Akademi Kerajaan. Dia hadir
sebagai rival sekaligus bangsawan menyebalkan yang memiliki ideologi supremasi.
Sejak
masa itu, karakter antagonis tipe tuan muda seperti dia sering kali digambarkan
membawa dua orang pengikut. Dalam karya ini pun sama, Adric selalu didampingi
oleh dua pengikut setianya. Dan salah satu dari mereka adalah Radcliffe ini.
Dalam
cerita, Adric memanggilnya "Cliff", dan sepanjang cerita dia hanya
disebut Cliff, makanya aku sempat lupa. Tapi benar, namanya pasti Radcliffe.
Terlebih lagi, deskripsi Radcliffe di dalam cerita bukan kurus kerempeng
seperti ini, melainkan sedikit lebih gemuk.
Hmm...
...Tapi,
tapi, tapi.
"Meski
tergolong karakter figuran... ada adegan kematiannya yang jelas, kan?"
Itulah
masalah terbesarku.
Adric memang penjahat, tapi dia cukup populer. Meskipun dia
orang menyebalkan dengan pemikiran eugenika yang bias, dia muncul di sepanjang
seri, bahkan ada bagian di mana dia bertarung bersama protagonis.
Namun di
akhir seri, raja mangkat dan negara terbelah menjadi dua. Terjadi perang
saudara antara Pangeran Pertama yang berdarah dingin dengan ideologi supremasi
yang kuat, melawan Pangeran Kedua yang penuh kasih dan manusiawi.
Tentu
saja sang protagonis memihak Pangeran Kedua, sementara Adric memihak Pangeran
Pertama. Inilah yang menjadi titik perpisahan mereka dengan protagonis.
Dan di
tengah perang saudara itu, kami—dua orang pengikutnya—ikut mati bersama Adric.
Karena
Adric populer meski sebagai musuh, akhir hayatnya dibuat keren dengan adegan
emosional yang dramatis, sehingga mendapat penilaian bagus dari pembaca.
Sebaliknya, Radcliffe yang hanya figuran tewas dengan cara yang sangat
mengenaskan...
Jika aku
bereinkarnasi sebagai Adric, banyak hal yang bisa kulakukan. Tapi...
Radcliffe hanyalah figuran dengan pengaruh minim pada cerita.
...Bisakah aku
melakukannya? Menghindari ending kematian ini.
Bukannya aku
tidak bersyukur karena hidup kembali setelah mati, tapi stres karena mengetahui
kematian yang sudah pasti ini benar-benar merusak mentalku lebih dari yang
kubayangkan.
...
...
Sial. Kepalaku
rasanya mau pecah. Aku tidak bisa tidur sama sekali.
Malam ini
bulan bersinar terang, bahkan di dalam kamar pun sedikit cahaya menembus masuk.
Sambil berbaring, aku menatap pola di langit-langit yang terlihat samar,
berusaha keras mengingat isi novel tersebut.
Aku sudah membaca cukup banyak light novel bertema
reinkarnasi antagonis. Ada ribuan protagonis yang melakukan berbagai hal untuk
menghindari death flag dan malah berbalik menjadi orang populer. Namun,
aku kembali menyadari bahwa hukum itu hanya berlaku di dalam novel.
Selama beberapa bulan hidup sebagai orang yang dibenci di
dunia ini, hanya Tilly satu-satunya orang yang pandangannya terhadapku berubah.
Aku jadi tahu betapa sulitnya membuat orang yang membenci kita jadi menghargai
kita kembali.
Terutama
karena aku sendiri tidak sanggup mendekati orang yang membenciku.
"Apa aku
kabur saja ya? Kabur sendirian ke desa dan menjalani slow life..."
Jika ini adalah
gim yang mustahil dimenangkan, pilihan itu mungkin ada. Tapi sebelum itu, apa
ada yang bisa kulakukan dalam kondisi sekarang? Di tengah malam yang terjaga
ini, aku mati-matian menyusun rencana masa depan.
...Lagipula
kenapa harus karya ini? Aku paham kalau ini karya pertama yang kuminati, tapi
kenapa harus jadi figuran ini? Karakter yang tidak jelas begini hampir tidak punya informasi apa-apa.
Aku mencoba
mengingat sekuat tenaga, tapi dialognya pun cuma satu pola. Begitu Adric
mengatakan sesuatu yang merendahkan, aku dan Seva akan tertawa di belakang
sambil berkata, "Kukuku. Beraninya seorang Rude sepertimu."
Itu adalah kalimat tetap para pengikutnya.
...Hm?
Rude?
Aku sempat lupa
karena tidak ada kejadian seperti itu selama beberapa minggu ini, tapi benar
juga. Di novel ini
ada masalah antara "Alca" dan "Rude". Aku
mengingat satu lagi pengaturan novelnya.
Sama
seperti tubuh ini, Adric dan yang lainnya menyebut diri mereka yang berambut
pirang sebagai "Alca". Pemikiran pihak Pangeran Pertama adalah
bahwa mereka adalah ras mulia yang mewarisi darah Elf legendaris. Lalu, mereka
menghina protagonis yang berambut hitam serta orang-orang berambut selain
pirang dengan sebutan "Rude", menganggap mereka sebagai ras
inferior.
Di akhir
seri, sosok Elf yang asli muncul dan terungkaplah bahwa cerita itu hanya bualan
belaka...
...
Eh?
Seingatku...
...Sebenarnya
ada satu bab yang fokus pada Radcliffe.
Dalam
novel, Radcliffe bertugas sebagai penyihir di kelompok Adric. Secara posisi,
dia adalah otak di antara mereka bertiga, karena pengikut yang satunya
lagi—Sevant—adalah tipe otot murni.
Suatu
hari, Radcliffe pergi ke perpustakaan akademi untuk menyelidiki sesuatu dan
berkenalan dengan seorang gadis.
Mungkin
sang penulis hanya ingin menggunakan figuran antagonis sebagai kontras bagi
sang protagonis yang populer, punya harem, dan menempuh jalan pahlawan yang
berkilau.
Demi memberikan katarsis berupa "rasain
lo" kepada pembaca dengan menggambarkan cinta yang menyedihkan dari
karakter tak populer yang dibenci.
Gadis
yang menjadi tujuannya adalah seorang Rude. Radcliffe, yang menyebut
diri mereka Alca dan meremehkan Rude, tentu saja tidak bisa
menerima perasaannya sendiri. Dia pun secara alami bersikap dingin pada gadis
itu.
Di sisi
lain, sang protagonis yang juga datang ke perpustakaan untuk riset, bersikap
ramah pada gadis tersebut. Tanpa memahami perasaannya sendiri, Radcliffe hanya
merasa kesal. Dengan rasa cemburu yang tumbuh tanpa ia sadari, ia mencari-cari
kesalahan sang protagonis, lalu berakhir menjadi bahan tertawaan.
Meskipun itu
hanya sebuah kejadian kecil...
Adegan itu
tertanam dalam di hatiku.
Masa SMA. Tepat
di saat aku pertama kali membaca karya ini, aku sedang jatuh cinta. Kepada
seorang gadis teman sekelasku.
Aku ingin punya
alasan untuk berinteraksi dengannya yang merupakan anggota komite perpustakaan.
Karena itulah aku mulai membaca buku yang sebelumnya hampir tidak pernah
kusentuh, dan rajin pergi ke perpustakaan.
Kesimpulannya,
pada akhirnya aku tidak pernah bisa menyampaikan perasaanku.
Hubungan kami
hanya sebatas percakapan formal saat meminjam atau mengembalikan buku.
Namun, bahkan di
momen singkat seperti itu pun hatiku berdebar kencang dan aku merasa bahagia.
Karena waktu itu cintaku yang kikuk mirip dengan figuran di novel ini, aku
tidak bisa menertawakan bagian cerita tersebut.
...Mungkinkah.
Itu tidak mungkin, kan? Apa itu alasannya?
Apakah
sosok yang mereinkarnasikanku sengaja menyamakan aku dengan Radcliffe?
◇ ◇ ◇
Di dalam
ruangan yang remang-remang, aku menyeringai kecut.
"Sial... Itu cuma perasaanku saja."
Meski berpikir begitu, ada rasa gelisah yang aneh di lubuk
hatiku.
"Ugh... hmm?"
Kupikir aku tidak akan bisa tidur, tapi ternyata aku
terlelap tanpa sadar. Sepertinya sudah siang. Yah, wajar saja karena aku baru
bisa tidur sangat larut.
Bahkan di saat
seperti ini pun, perutku tetap terasa lapar. Di atas meja kecil di dalam kamar,
sarapan sudah disiapkan. Aku turun dari tempat tidur dan menghampiri meja.
Tiba-tiba, pintu
diketuk.
"Masuk."
Begitu aku
menjawab, pintu segera terbuka. Seperti biasa, itu adalah Tilly.
Jika sudah
begini, aku jadi merasa Tilly adalah pelayan pribadiku, tapi kenyataannya tidak
begitu. Karena aku dibenci oleh para pelayan di rumah ini, Tilly yang paling
muda dan berposisi paling rendah hanya dijadikan tumbal oleh para seniornya.
Itulah realitas yang menyedihkan.
Semalam aku tidur
tanpa sempat mengganti baju tidur. Tilly melihat penampilanku yang berantakan,
menghela napas, lalu meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja.
"Apa Anda
membaca buku sampai larut malam lagi?"
"Yah,
begitulah kira-kira."
"Anda
harus tidur teratur kalau mau tumbuh besar, lho."
"Aku
tahu..."
Tilly
sudah mulai bisa menanggapi jawabanku yang ketus dengan senyum tipis.
"Saya
membawakan makan siang. Apakah sarapannya sudah boleh saya bawa?"
"Ah... iya.
Oh, susunya biarkan saja di sini, aku ingin meminumnya."
"Susunya
sudah dingin, saya ambilkan yang baru saja ya...?"
"Tidak
perlu. Yang penting nutrisinya masih ada."
Sambil berkata
begitu, aku meneguk habis susunya.
"Tolong
siapkan pakaian yang akan Anda pakai, nanti saya bawakan saat mengambil nampan
makan siang."
"Iya,
baiklah. Aku akan ganti baju setelah makan."
"Kalau
begitu, saya akan siapkan air mandi, ya."
"Hmm...
tidak usah. Nanti saja, aku cukup cuci muka saja."
"...Baiklah."
Sambil aku makan,
Tilly melepas seprai tempat tidur dan keluar dari ruangan. Aku melanjutkan
makanku sambil kembali memikirkan situasiku sekarang.
Setelah tidur
semalam, kepalaku terasa sedikit lebih segar.
Aku sudah
membulatkan tekad. Aku harus bergerak demi kehidupan dunia lainku ke depannya.
Meski informasiku sangat minim, aku mulai menyusun rencana untuk menghindari death
ending itu.
Masalah utamanya
tentu saja adalah Adric. Selama keluargaku adalah pengikut keluarga Faldulas,
aku harus menghadapinya dengan benar. Tantangannya adalah bagaimana cara
mengubah ideologi supremasi yang ia miliki.
Jika dipikir
seperti itu, bukankah bagus aku bisa bertemu dengannya di masa kanak-kanak
seperti ini? Sebelum pemikirannya menjadi kaku, aku mungkin bisa perlahan-lahan
mengarahkan pemikirannya ke arah lain.
Sebaliknya, jika
aku berhasil merehabilitasi Adric, maka berbagai death flag-ku akan
terpatahkan dengan sendirinya.
Ini bukan
reinkarnasi ke dalam gim yang punya banyak death flag. Aku kan cuma
figuran. Mungkin itu satu-satunya keberuntunganku.
Secara perlahan
dan diam-diam. Dengan pasti, aku akan memberikan pengaruh baik pada Adric.
Untuk saat ini,
aku tidak peduli pada sang protagonis novel. Biarlah dia menjadi sangat kuat
dengan kemampuan Cheat dari pengetahuan Bumi dan menjadi sukses. Jika
dia menyelamatkan dunia, itu akan lebih membantuku.
Dalam artian, dia
mungkin satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara tentang kenangan di Jepang,
tapi tetap saja, sang protagonis bereinkarnasi dari Jepang versi novel ke dunia
lain versi novel. Sementara aku, bereinkarnasi dari Jepang dunia nyata ke dunia
lain dalam novel. Aku
takut jika ada informasi tentang Jepang yang tidak nyambung nantinya. Karena
itu, sangat penting bagiku agar identitas asliku sebagai mantan orang Jepang
tidak ketahuan.
Aku belum
pernah membaca karya dengan pola reinkarnasi sebagai pengikut penjahat, tapi
jika aku mengerahkan seluruh pengetahuanku, aku pasti bisa mengatasinya.
Ngomong-ngomong...
meski bukan sebuah masalah, sepertinya aku sudah memberikan pengaruh pada salah
satu anggota harem sang protagonis. Aku bahkan sama sekali tidak menyadarinya
sampai sekarang.
Wajar
saja, deskripsi masa kecilnya tidak ada di dalam cerita. Aku tidak punya cara
untuk tahu bahwa dia ada di sini.
Benar.
Dia adalah Hattie.
◇◇◇
Di dalam
novel, Hattie muncul sebagai seorang petualang yang sangat tangguh.
Hampir
semua petualang di dunia ini adalah berandalan, namun begitu mencapai peringkat
atas, status sosial mereka akan naik drastis. Karena itulah, kemampuan baca-tulis menjadi syarat
mutlak dalam ujian kenaikan peringkat menuju Petualang Rank B.
Terdapat sebuah event
di mana sang protagonis dengan lembut mengajari Hattie membaca, karena Hattie
tidak bisa naik dari Rank C akibat buta aksara.
Setelah akhirnya
bisa membaca dan berhasil naik peringkat, Hattie merasa sangat berterima kasih
dan jadi sering mendekati sang protagonis.
◇◇◇
Kedekatanku
dengan Hattie ini mungkin adalah sebuah keberuntungan. Aku pasti akan membutuhkan rekan
saat bergerak menghindari death flag di masa depan. Rekan yang sangat
hebat, tentu saja.
Aku
merasa hubungan kami sebagai teman sudah dimulai (meski ada sedikit bumbu
harapan di dalamnya). Agar dia tidak direbut oleh sang protagonis, aku harus
memperkuat hubungan kami lebih jauh lagi.
Walaupun
Hattie adalah karakter kuat yang penting, dia lebih dikategorikan sebagai kelas
semi-reguler.
Kurasa
pengaruhnya tidak akan terlalu besar bagi tugas sang protagonis sebagai
pahlawan penyelamat dunia. Toh, percuma saja jika death flag-ku
terpatahkan tapi dunia ini malah hancur.
Penyesuaian
keseimbangan seperti inilah yang menjadi ajang pembuktian kemampuan bagi
seorang Master Light Novel.
Terlepas dari itu
semua, pertama-tama aku harus berkenalan dengan Adric. Berdasarkan apa yang
kudengar semalam, sepertinya aku baru akan bertemu dengannya di pesta debut
dunia sosial.
Hanya saja,
bangsawan di dunia ini paling cepat baru menghadiri pesta saat berusia delapan
tahun.
Karena dia adalah
putra penguasa wilayah dengan gelar yang jauh lebih tinggi, sepertinya aku
tidak bisa menemuinya dengan sembarangan.
Untuk
merehabilitasi Adric, segalanya tidak akan dimulai jika kami bahkan tidak bisa
saling mengenal.
Aku merasa cemas
membayangkan harus menunggu dua tahun lagi sampai debut sosial itu tiba, tapi
pasti ada hal lain yang harus kulakukan sekarang. Aku akan melangkah maju
dengan mantap.
Ngomong-ngomong,
ada alasan mengapa Adric sang antagonis tetap populer dan tidak dibenci oleh
para penggemar novelnya. Meski jahat, sesekali Adric menunjukkan sisi baiknya.
Pengaturan karakter seperti itulah yang memberiku sedikit harapan.
Lalu, trauma malang yang dialami Adric... Latar belakang
itulah yang memancing simpati pembaca dan menjadi alasan popularitasnya. Saat
ini, kejadian itu pasti belum terjadi. Sebenarnya aku ingin segera mendekati
Adric agar bisa langsung bertindak, tapi aku yang sekarang tidak punya kekuatan
cukup untuk menghindari insiden tersebut.
◇ ◇ ◇
Karena itulah,
aku sendiri harus meningkatkan kemampuanku. Meskipun Cheat yang luar
biasa seperti protagonis novel itu mustahil, setidaknya aku harus cukup kuat
untuk mencapai apa yang kuinginkan.
Kalau soal itu,
sepertinya bisa diatur. Aku tahu deskripsi bagaimana para protagonis
reinkarnasi melatih diri demi mendapatkan kemampuan Cheat. Jika aku
melakukan hal yang sama, aku pun mungkin bisa mengincar posisi Cheat
terkuat.
Oke, ini bisa
dilakukan.
Masalahnya, aku
sudah lama sekali membaca karya itu. Banyak detail yang mulai meragukan. Sambil
menyantap makan siang hangat yang disiapkan Tilly, aku mulai menuliskan daftar event
dan pengaturan yang bisa kuingat di buku catatan.
Protagonis asli
novel ini, Eric, tentu saja menggunakan kemampuan Cheat-nya untuk
menghadapi musuh dan menghancurkan mereka semua. Dasar dari kemampuan Cheat-nya
adalah jumlah mana yang sangat besar dan di luar nalar.
Eric mulai
berlatih sejak balita setelah bereinkarnasi. Dia menghabiskan mananya sampai
pingsan, lalu setelah pulih, dia akan menguras mananya lagi. Ceritanya, dengan
mengulang hal tersebut, dia perlahan-lahan meningkatkan kapasitas mananya.
Meningkatkan
jumlah mana dengan cara mengurasnya sampai habis. Pengaturan itu sendiri
sebenarnya bukan hal yang langka jika kau sudah membaca banyak light novel...
Tapi, tunggu. Bagaimana dengan Mana Depletion?
Katanya anak yang pernah mengalami Mana Depletion
sering kali menjadi penyihir hebat di masa depan. Aku bisa membayangkan,
seperti yang dilakukan protagonis novel, dengan menguras mana sampai habis,
tubuh akan merasa butuh lebih banyak mana sehingga kapasitasnya pun meningkat
perlahan.
Namun, banyak juga anak yang kehilangan nyawa karena Mana
Depletion ini. Jika reinkarnasiku adalah pertukaran jiwa dengan pemilik
tubuh yang asli, berarti bocah Radcliffe yang asli seharusnya kehilangan nyawa
karena kejadian itu.
Apa aku
benar-benar bisa melakukannya?
Aku sudah
memeriksa buku-buku tentang Mana Depletion dan buku sihir di
perpustakaan keluarga, tapi sejauh ini aku belum melihat deskripsi tentang efek
peningkatan kapasitas mana tersebut.
...Tapi tetap
saja. Kalau tidak kucoba, aku pasti akan menyesal nantinya. Aku mencoba
berpikir positif agar bisa membulatkan tekad.
Mana Depletion terjadi karena anak yang belum mahir
mengendalikan mana mengalami kebocoran mana yang tidak terkendali. Itulah
sebabnya mana yang hilang sampai mencapai level yang mengancam nyawa.
Di sisi lain,
karena protagonis novel mengeluarkan mana secara sadar, bukankah seharusnya dia
tidak bisa mengeluarkan mana sampai ke level yang mengancam nyawa? Misalnya,
manusia butuh oksigen. Meskipun kau menahan napas sendiri, kau akan kehilangan
kesadaran sebelum mati. Hampir tidak mungkin kau mati begitu saja karena
menahan napas. Begitu pula dengan ini, gejalanya mungkin tidak akan separah Mana
Depletion. Berpikir begitu membuatku merasa lebih tenang.
Kenyataannya,
katanya satu kali terkena Mana Depletion saja sudah cukup untuk
meningkatkan bakat sebagai penyihir secara drastis. Sementara itu, sang
protagonis melakukannya berkali-kali untuk menambah mananya. Kalau
diingat-ingat, deskripsi di novel menunjukkan bahwa kapasitasnya hanya
bertambah sedikit demi sedikit dalam sekali percobaan.
Sepertinya
seberapa banyak mana yang dikeluarkan berhubungan erat dengan peningkatan
kapasitas mana.
Ya. Pengeluaran
mana selevel protagonis pasti tidak akan mengancam nyawa. Kurasa ini juga tidak
akan melanggar larangan dokter soal penggunaan sihir.
Eh, apa ini
sedikit melanggar ya?
Ah, sudahlah.
Mari kita coba.
Aku memejamkan
mata dan memusatkan kesadaran ke perut bagian bawah.
"Fuu..."
Sambil memastikan
isi buku, aku memusatkan konsentrasi ke perut bawah. Di buku tertulis bahwa di
perut bagian bawah terdapat semacam kantong tempat menyimpan mana. Begitu aku
memusatkan kesadaran, memang ada sesuatu yang terasa hangat di sana.
Seharusnya,
pengeluaran mana yang alami adalah dengan menyebarkan isi kantong tersebut
secara tidak sadar. Di masa kanak-kanak saat saluran pengeluaran mana belum
terbuka, bimbingan yang umum diberikan adalah membantu membukanya...
Namun kali ini,
demi mengurangi mana di tubuh sampai batas maksimal, aku perlahan mengumpulkan
mana yang tersebar dan mengalir di seluruh tubuh ke perut bagian bawah.
Akhirnya, aku mulai mendorong panas yang terkumpul agar merembes keluar dari
sana.
──Bisa.
Situasi yang
aneh. Bagian perut bawah tempat mana berkumpul terasa sangat panas, tapi bagian
tubuh lain yang mananya terkuras malah terasa menggigil kedinginan. Meski tidak
bisa dibilang lancar, aku merasa sudah bisa mengendalikan mana di dalam tubuh
sampai tingkat tertentu.
Kekuatannya tidak
lepas kendali; sesuai kehendakku, mana itu dikeluarkan dari perut bawah dan
menyebar ke luar. Sekarang aku berkonsentrasi pada pengeluaran mana. Karena Mana
Depletion adalah gejala yang mengancam nyawa, kesalahan tidak boleh
terjadi.
Bagus... Tepat saat mana dikeluarkan dengan lancar dari
kantong mana dan aku mulai mengumpulkannya agar tidak ada mana yang tersisa di
tubuh... tiba-tiba rasa mual yang luar biasa muncul.
Tubuhku menggigil kedinginan, dan perutku terasa bergejolak
hebat. Seketika itu juga, aku
langsung...
Mengeluarkan
makan siangku.
"T-Tuan
Muda!"
Tepat saat itu,
Tilly masuk ke kamar untuk mengganti seprai. Melihatku yang sedang memeluk
tempat sampah dengan kondisi berantakan, wajahnya langsung pucat pasi dan dia
berlari menghampiriku.
"A-aku tidak
apa-apa..."
"Jangan-jangan,
ada racun di makanan Anda!"
"B-bukan
begitu..."
"Tapi,
sampai muntah tiba-tiba begini──"
"Bukan, aku
cuma mencoba mengeluarkan mana..."
"...Hah?
A-apa yang Anda lakukan! Bukankah Anda baru saja pingsan tempo hari?!"
"Yah, memang benar sih... Bisa tolong ambilkan Potion
di sana?"
Tilly tampak ingin mengomel banyak hal, tapi meski sudah
memuntahkan semuanya, kepalaku pening dan perutku masih mual. Aku meminta Tilly
mengambilkan Mana Potion yang ada di meja samping tempat tidur, lalu
meminumnya sekaligus.
──Ugh. Manis. Manis sekali.
Manisnya sampai di level yang membuatku sedikit mual. Karena
aku pernah terkena Mana Depletion, orang tuaku segera menyiapkannya
untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat. Katanya, Mana Potion itu sangat mahal.
Tapi memang
benar-benar obat ajaib dari dunia fantasi. Segera setelah meminumnya, kondisiku
mulai membaik.
Di depan Tilly
yang masih panik, aku dengan santainya menyadari penyebab salah satu pengaturan
di novel. Begitu ya,
di dalam novel sering digambarkan kalau Radcliffe sering meminum Mana Potion.
Mungkin gara-gara kandungan gula inilah penampilannya jadi terlihat sedikit
berisi.
Yah, itu
pengaturan yang tidak penting sih.
Tapi tetap saja,
apa sang protagonis benar-benar melakukan ini berkali-kali?
Di novel ada
deskripsi bahwa dia mengeluarkan mana sampai pingsan, lalu setelah bangun dia
melakukannya lagi... Begitu kan? Padahal, sebelum pingsan saja aku sudah
berhenti karena rasa mual yang luar biasa. Walaupun tidak sampai muntah pun,
ini benar-benar melelahkan.
"Hmm. Apa
ada yang salah ya..."
"Artinya ini
masih terlalu dini!"
"Maksudmu
aku belum bisa mengendalikannya?"
"Benar!
Jangankan cuma kekurangan mana biasa, kalau sampai kena Mana Depletion
lagi bagaimana?!"
"Tidak,
kurasa tidak akan sampai sejauh itu."
"Kita kan
tidak tahu!"
"Aku tahu
kok. Begitu aku mencoba seberapa banyak mana yang bisa kukeluarkan, aku sudah
mual dan muntah sebelum semuanya habis."
Mendengar ucapanku, Tilly terdiam seolah tidak habis pikir.
"Hah? ...Kenapa Anda melakukan hal seperti itu?"
"Maksudku
ingin menambah kapasitas mana."
"Saya
benar-benar tidak paham."
Tilly
menunjukkan wajah bingung menanggapi perkataanku.
Yah,
wajar saja. Aku sedikit bimbang, tapi memutuskan untuk menjelaskan secara
singkat. Mungkin lebih baik jika dia tahu sedikit tentang apa yang kulakukan,
untuk berjaga-jaga.
Masih ada
beberapa botol Mana Potion di kamar ini. Kalau cuma pingsan sih tidak
masalah, tapi kalau sampai lepas kendali seperti Mana Depletion... Lebih
baik Tilly diberi tahu.
"Jika
mana di tubuh dikuras sampai batas minimal, tubuh akan menganggap bahwa mana di
tubuh ini perlu ditambah lagi, sehingga organ mana akan lebih berkembang...
rasanya begitu."
"Hanya
berdasarkan 'rasanya' saja..."
"Lihat
saja, anak yang pernah terkena Mana Depletion kan bakat sihirnya
meningkat?"
"T-tapi, hal
berbahaya seperti itu..."
"Aku bisa
mengendalikannya kok. Kalau bisa dikendalikan, sebenarnya tidak seberbahaya
itu. Hanya saja, tadi aku tidak tahan dengan mualnya."
"Tapi...
meskipun begitu..."
Entah dia paham
atau tidak dengan penjelasanku, Tilly menatapku dengan wajah cemas.
"Hmm.
Kamu tidak boleh bilang pada orang lain, ya. Ini rahasia kita berdua saja."
"Tapi──"
"Jangan
bilang pada siapa pun."
"...Baiklah."
Maaf ya Tilly,
tapi aku harus mengatakannya dengan tegas.
Kali ini gagal,
tapi aku ingin mencoba lagi. Bukannya aku ingin kemampuan Cheat yang
luar biasa seperti protagonis. Aku hanya ingin melakukan apa yang bisa
kulakukan jika ada cara untuk bertahan hidup, sekecil apa pun itu.
Pertama-tama,
sepertinya mustahil jika aku tidak bisa menahan rasa mual dan pening ini.
Aku meyakinkan
Tilly bahwa aku tidak akan melakukannya lagi hari ini. Setelah memastikan Tilly
selesai membereskan tempat sampah dan keluar kamar, aku membawa satu botol Mana
Potion menuju toilet. Punya toilet sendiri di dalam kamar mungkin adalah
privilese tinggal di rumah mewah, dan ini sangat membantu.
Aku mengurung
diri di toilet, lalu mulai mengeluarkan mana lagi.
Hoeeek...
Ternyata,
protagonis novel itu memang karakter fiksi.
Padahal
di ceritanya sama sekali tidak ada deskripsi tentang penderitaan seperti ini.
Jangan
panggil aku payah. Kurasa aku
sudah berusaha cukup keras.
Tapi,
muntah terus-menerus begini benar-benar melelahkan. Secara mental, aku tidak
sanggup membayangkan harus melewati penderitaan ini berkali-kali sampai
pingsan.
Dan stok Mana
Potion yang sangat manis itu pun habis. Sebenarnya ini adalah barang mewah
yang harganya hampir seratus ribu per botol dan jumlahnya tidak banyak. Karena itu aku menggunakannya sedikit demi
sedikit, hanya satu tegukan untuk meredakan mual akut.
Begitu Potion
itu habis, aku hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur selama satu jam
dalam kondisi mual setelah muntah.
...Kesimpulannya,
aku memutuskan untuk menyerah. Iya.
Meskipun begitu,
di buku ada catatan bahwa penyihir yang terus menggunakan sihir tanpa menguras
mananya pun kapasitas mananya akan bertambah secara alami. Mungkin percobaan
kali ini, meski tidak selevel latihan protagonis aslinya, tetap memberikan
sedikit pengaruh. Mari kita berpikir positif saja.
Kalau sudah
begitu, aku harus merelakan mimpi mendapatkan kapasitas mana yang Cheat.
Kemampuan Cheat
protagonis novel bukan hanya kapasitas mana. Dia juga unggul dalam manipulasi
mana, ditambah lagi kemampuan pedangnya yang setingkat Sword Saint. Dia
benar-benar gumpalan oportunisme.
Hal berikutnya
yang akan kucoba adalah manipulasi mana. Namun berbeda dengan latihan meningkatkan
kapasitas mana, di dalam novel tidak banyak deskripsi tentang latihannya.
Seingatku hanya seputar memadatkan atau menggerakkan mana di dalam tubuh.
◇ ◇ ◇
Di sini aku akan
menggabungkan analisisku tentang manipulasi mana.
Setelah membaca
banyak light novel, aku sering menemukan pengaturan bahwa mana berada di
perut bagian bawah. Menurut pemikiranku, itu mungkin didasarkan pada konsep Dantian
dalam ilmu pernapasan Tiongkok. Jika begitu, manipulasi mana pasti bisa
dilakukan.
Kenapa? Hehehe.
Waktu kecil dulu,
aku sering diajak nenek ke balai warga sekitar untuk belajar Tai Chi.
Aku melakukannya selama bertahun-tahun, bahkan pernah menjadi perwakilan
prefektur di kejuaraan nasional untuk kategori Junior Tai Chi.
Bukannya aku akan
mempraktikkan Tai Chi sepenuhnya di sini. Yang terpikir olehku adalah
salah satu metode latihan Tai Chi yang disebut Zhan Zhuang. Ini
juga disebut meditasi berdiri, di mana kita merendahkan pinggang sedikit,
mengatur napas, dan masuk ke kondisi meditasi seperti Zen sambil tetap
berdiri.
Dengan memejamkan
mata tipis-tipis dan masuk ke kondisi meditasi, akan lebih mudah untuk
memusatkan kesadaran pada mana yang terkumpul di tubuh.
Aku
perlahan-lahan mengendalikan manaku dengan cara yang sama seperti mengalirkan
energi dalam tubuh. Tidak jauh berbeda dengan mengumpulkan mana saat eksperimen
pengeluaran mana, tapi kali ini aku menggerakkannya dengan lebih tenang sambil
merasakan alirannya secara lebih nyata.
...Untuk
percobaan pertama, bukankah ini cukup bagus?
Karena aku tidak
mengeluarkan mana ke luar tubuh, kondisiku tidak akan memburuk. Malah, keringat
mulai bercucuran seperti habis melakukan olahraga fisik.
...
Mungkin aku sudah
masuk ke semacam kondisi meditasi. Hormon kebahagiaan pasti sedang meluap-luap.
Tanpa sadar, aku
sudah melakukannya dalam waktu yang cukup lama. Saat aku membuka mata karena
suara ketukan pintu, sinar matahari senja sudah masuk melalui jendela.
Sejak datang ke
dunia lain, ini pertama kalinya aku merasa senang saat merasakan sensasi
memanipulasi mana. Dibandingkan latihan pengeluaran mana kemarin, ini adalah
surga. Ya. Yang kemarin itu benar-benar mengerikan...
...Sudahlah.
Mengingatnya saja sudah membuatku ingin muntah lagi.
"Tuan Muda,
makan malam sudah siap."
"Apa hari
ini Papa ada di rumah?"
"Tidak,
hanya ada Nyonya saja."
"Begitu ya,
terima kasih. Aku akan segera ke sana."
Mana, sungguh
misterius dan menarik. Di Bumi, guru Tai Chi sering bicara soal
membayangkan aliran "Energi", tapi kenyatannya aku tidak pernah bisa
merasakan pernapasan energi itu sendiri. Sangat luar biasa rasanya saat sesuatu
yang dulu hanya kulakukan berdasarkan imajinasi, sekarang bisa kulakukan dengan
mudah di dunia ini.
──Semoga guru
sihirnya segera datang ya...
Tentu saja aku
merasa begitu.
Soal sihir,
memang ada larangan dari dokter, tapi aku bertaruh pasti akan diizinkan jika di
bawah pengawasan guru sihir.
Sayangnya, ibuku
sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu. Padahal kalau ada ayah,
aku bisa membicarakan hal ini. Sepertinya hari ini pun beliau tidak pulang
karena pekerjaan.
Sejak saat itu,
latihan manipulasi mana menggunakan Tai Chi menjadi rutinitas harian
bagiku. Tapi, aku tidak melakukannya seharian penuh. Ada hal lain yang harus
dilakukan. Saat ini aku sedang mengumpulkan informasi tentang dunia ini di
lautan pengetahuan.
Seperti biasa,
saat aku sedang berbaring malas di tempat tidur sambil membaca buku, Tilly
berkata dengan nada bingung.
"Tuan Muda... Bagaimana kalau Anda mulai mengembalikan
beberapa buku?"
"Hmm.
Daripada itu, apa ada lemari yang tidak terpakai?"
"Anu...
maksud Anda?"
"Aku ingin
menaruh buku-buku yang ingin kubaca berulang kali di dalam kamar."
"Kalau
begitu, Tuan Besar pasti akan marah."
"Begitukah?
Padahal aku tidak pernah melihat Papa atau Mama membaca buku. Bukankah lebih
baik jika buku-buku ini dibaca? Kenapa Papa membeli buku sebanyak ini ya?"
"Anu... saya
juga kurang tahu."
Awalnya aku pergi
ke perpustakaan untuk membaca, dan buku yang selesai kubaca selalu kukembalikan
ke sana. Namun akhir-akhir ini aku sering membawa buku ke kamar tanpa
mengembalikannya, hingga menumpuk di lantai. Banyak hal yang ingin kubaca
kembali.
Buku sepertinya
adalah barang yang sangat mahal di dunia ini, sehingga Tilly pun bingung
bagaimana harus menanganinya.
Aku ingin ada rak
buku di kamar, tapi saat aku bertanya pada kepala pelayan atau yang lainnya,
mereka hanya menjawab, "Kami tidak berwenang..." dan masalahnya tidak
selesai-selesai. Malah, mereka sepertinya curiga apakah aku benar-benar membaca
buku-buku itu. Sebagai orang yang berhati lemah, aku segera menyerah untuk
meminta bantuan mereka.
Kalau aku minta
tolong pada Tilly pun, dia pasti hanya akan dimarahi oleh seniornya.
Oleh karena itu,
aku memutuskan berjalan-jalan di dalam kediaman untuk mencari lemari yang
sekiranya cocok. Namun, sulit menemukan lemari yang pas untuk menaruh buku.
Wajar saja, hampir semua lemari sudah digunakan untuk hal lain, tidak ada yang
menganggur. Jika aku bertanya apakah barang-barang di dalamnya boleh
dikeluarkan agar lemarinya bisa kupakai, para pelayan hanya akan tersenyum kaku
dengan wajah yang benar-benar merasa terganggu.
Rasanya
lebih melegakan jika mereka langsung bilang "tidak boleh".
Dengan perasaan
sedikit pedih, aku memutuskan untuk mencari ke tempat lain.
Di dalam lahan
kediaman ini juga terdapat gudang perusahaan.
Sekarang skala
perusahaan sudah menjadi terlalu besar, sepertinya mereka menggunakan gudang
yang lebih besar di lokasi lain sebagai gudang utama. Namun, aku tetap menuju
ke gudang yang ada di taman untuk melihat apakah ada sesuatu di sana.
Saat aku berjalan
menyusuri taman, seorang pria dengan pedang di pinggangnya berdiri di depan
gudang. Karena terkadang ada barang dagangan di dalam gudang, mereka menyewa
penjaga keamanan dengan benar.
Begitu aku
mendekat, pria itu menyapaku dengan tatapan seperti sedang melihat sesuatu yang
aneh.
"Lho, kenapa
Tuan Muda ada di tempat seperti ini?"
"Aku sedang
mencari lemari untuk di kamar, siapa tahu ada yang tersisa di gudang."
"...Di sini
tempat menaruh barang dagangan, tahu? Ini bukan tempat bermain."
"Aku juga
datang ke sini bukan untuk bermain. Bisa minggir sebentar?"
"Apa
Anda sudah mendapat izin dari Tuan Besar?"
"……Papa
pasti akan mengizinkanku."
"Hmm.
Tapi tetap saja... aku dilarang membiarkan siapa pun lewat kecuali yang membawa
surat izin."
"Bahkan aku,
anak dari pemilik rumah ini?"
"Aku tidak
pernah mendengar kalau putra majikan boleh masuk begitu saja."
"Muu……"
Yah, begitulah.
Pria yang menjaga gudang itu benar-benar keras kepala. Usianya mungkin sekitar
lima puluhan. Meski permintaanku ditolak, aku malah merasa suka dengan cara dia
menanggapi.
Pelayan yang lain
biasanya hanya akan memasang wajah bingung dan bersikap tidak enak, yang malah
membuat kekesalanku menumpuk. Mendapat penolakan yang sejelas ini justru terasa
menyegarkan.
Lagipula, apa
yang kulakukan ini memang mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan
perusahaan.
Aku memutuskan
untuk menyerah dengan patuh dan hendak pergi, tapi saat itulah sesuatu yang
menarik perhatianku terlihat di samping gudang.
"Hei, kotak
itu apa?"
"Itu kotak
bekas wadah barang dagangan."
"Boleh aku
memintanya?"
"Entahlah.
Yah, setidaknya aku tidak dilarang memberikan barang-barang yang ditumpuk di
luar gudang."
"Benarkah?
Kalau begitu, aku minta sedikit ya."
"Ouh.
Hati-hati."
Setelah menemukan
kotak kayu yang panjang dan ramping, aku memutuskan untuk mengambil beberapa.
Tapi karena tubuhku masih berusia enam tahun, membawa dua kotak kosong saja
sudah membuatku limbung.
Paman penjaga itu
tertawa melihat tingkahku.
"Paman,
paman, siapa namamu?"
"Aku?
Scott."
"Scott? Cuma
Scott?"
Di dunia ini,
nama belakang berfungsi sebagai nama keluarga. Bangsawan pasti memilikinya,
tapi kudengar banyak rakyat jelata yang tidak menggunakan nama keluarga. Aku
menanyakannya karena merasa sedikit penasaran.
Tak disangka,
jawaban yang keluar di luar dugaan.
"……Scott Morgan."
"Morgan……?"
"Ada apa?"
"Tidak. Sampai jumpa lagi, Scott."
Aku melambaikan tangan pada Scott dan meninggalkan tempat
itu. Sepertinya aku baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga
daripada sekadar kotak kayu.
Upayaku untuk
meningkatkan jumlah mana memang gagal, tapi latihan manipulasi mana berjalan
sangat lancar.
Hanya saja,
menurut buku-buku yang kubaca, manipulasi mana ini bukanlah sesuatu yang
langka. Malah, bisa dibilang ini adalah keahlian wajib bagi seorang petualang.
Sebagai
informasi, orang yang bisa menggunakan sihir di dunia ini tidak sampai sepuluh
persen dari total populasi. Wajar saja jika jumlah petualang yang tidak bisa
sihir jauh lebih banyak.
Karena itulah,
para petualang yang tidak bisa sihir mempelajari manipulasi mana. Dengan
mengumpulkan mana di titik tertentu, mereka bisa memperkuat kekuatan fisik
bagian tubuh tersebut.
Dengan begitu,
mereka bisa bertarung melawan monster yang memiliki kekuatan melebihi manusia.
Manipulasi mana yang kulakukan sekarang sangat mirip dengan itu, dan aku
menyimpulkan bahwa mana memang terasa seperti "Energi" dalam ilmu
pernapasan.
Latihan
manipulasi mana yang kumulai dengan Zhan Zhuang, setelah satu minggu pun
sudah bisa kulakukan sambil bergerak. Aku mencoba gerakan Bafa Wubu, Baduanjin,
hingga Junior Tai Chi, tapi sepertinya 24-Style Tai Chi adalah
yang paling cocok untukku.
24-Style Tai
Chi adalah yang paling
umum di Jepang maupun di dunia, dan merupakan jurus yang paling sering
kupelajari dulu. Mungkin karena itu juga tubuhku bisa bergerak secara otomatis
tanpa perlu berpikir.
Kenyataannya, Tai
Chi yang kulakukan ini lebih mirip senam daripada seni bela diri. Wajar
saja, mengingat pemerintah Tiongkok menyusun 24-Style Tai Chi
berdasarkan seni bela diri demi kesehatan rakyatnya. Ini semacam senam pagi
kalau di Jepang.
Namun, aku merasa
gerakan yang sangat lambat ini sangat ideal untuk mempelajari manipulasi mana.
Mengalirkan mana ke seluruh tubuh sambil mengatur napas secara halus dan
perlahan.
Dan ini terasa
sangat nyaman.
Terlebih lagi,
seiring alirannya yang semakin lancar dari hari ke hari, aku mulai merasa
sedikit ketagihan. Aku baru sadar kalau aku mungkin sebenarnya suka Tai Chi.
Tilly yang baru
pertama kali melihat Tai Chi menatapku dengan wajah heran.
"Apa Anda
sedang... menari?"
"Ini
olahraga... mungkin?"
"Olahraga……?"
Yah, dia
pasti tidak mengerti.
Hal-hal
seperti Yoga mungkin juga tidak ada di dunia ini. Lagi pula, sepertinya tidak
ada kebiasaan berolahraga seperti jogging di sini.
"Ngomong-ngomong,
apa hari ini Papa ada di rumah?"
"Karena
makanan sedang disiapkan, kurasa beliau ada."
Akhir-akhir ini
aku jarang melihat wajah Ayah, mungkin karena beliau sedang sibuk. Aku ingin
membicarakan soal Scott, tapi biasanya di saat seperti ini beliau malah tidak
ada. Tidak ada yang bisa kulakukan.
Saat makan malam,
Ayah yang sudah lama tidak menampakkan diri seolah masih dalam mode kerja
meskipun sedang berkumpul bersama keluarga. Beliau membolak-balik halaman
dokumen dengan satu tangan sambil memikirkan sesuatu dengan wajah serius.
Ibu tidak
memedulikan itu dan terus mengoceh tentang dunia sosial, yang ditanggapi Ayah
seadanya. Aku sangsi apakah beliau benar-benar mendengarkan.
Tepat saat Ibu
berhenti bicara sejenak, aku memberanikan diri.
"Anu,
Papa."
"……Ada
apa?"
Nggu. Tatapannya tetap tidak seperti sedang melihat
anak sendiri. Tapi, aku tidak boleh mundur.
"Ada
orang yang menjaga gudang, kan?"
"……Lalu
kenapa dengan dia?"
"Entah
kenapa, aku merasa paman bernama Scott itu... maukah Papa memintanya untuk
mengajariku pedang?"
Untuk pertama
kalinya, Ayah mengalihkan pandangan dari dokumen kerjanya dan menatapku.
"Scott?
Siapa itu?"
"Eh? Itu
lho, paman yang agak tua yang menjaga gudang……"
"Ah, penjaga gudang memang biasanya pensiunan petualang, makanya kebanyakan sudah tua. Masih ada guru lain yang jauh lebih baik daripada orang seperti itu."
"Anu…… Tapi, aku lebih suka Tuan Scott itu."
"Hmm…… Baiklah, akan aku pertimbangkan. Toh, fokus utamamu nanti adalah sihir. Mungkin
tidak masalah kalau pengajar pedangmu hanya seorang petualang……"
"I-iya……"
Aku sudah
menyiapkan mental untuk didebat, tapi ternyata pembicaraan mengalir jauh lebih
mulus dari dugaan. Seperti kata Ayah, karena aku dianggap berada di jalur
penyihir, dia merasa ilmu pedangku tidaklah begitu krusial.
Yah, aku merasa
agak tidak enak kalau seandainya Scott sedang menikmati pekerjaannya sebagai
penjaga. Tapi jika ingatanku benar, ini adalah pilihan yang sangat tepat.
Beberapa hari
kemudian, seperti biasa aku sedang memusatkan ki di dalam kamar…….
Bukan, aku sedang melatih pengendalian mana, lalu terdengar suara ketukan
pintu.
"Silakan
masuk."
Begitu aku
menjawab, Tilly melangkah masuk seperti biasa. Dia tampak ragu saat melihatku
berlatih Tai Chi, lalu menyapa dengan rona sungkan.
"Tuan Muda,
apakah Anda punya waktu luang?"
"Ada
apa?"
Saat itu, aku
sedang melakukan gerakan 套路 (Taolu) yang disebut Yun Shou. Dalam rangkaian 24 jurus, ini sudah mencapai
pertengahan, jadi aku memutuskan untuk menyelesaikannya sambil menjawab.
"Hari ini,
saya membawa pengajar pedang untuk Anda……"
"Hm?"
Tentu saja aku
tidak bisa terus lanjut setelah mendengar dia membawa pengajar. Aku
menyambungkan gerakan Dan Bian dan Gao Tan Ma menuju Shou Shi,
lalu berhenti.
Karena aku
mengalirkan mana, aku tidak bisa berhenti sembarangan, tapi ini juga sudah
menjadi kebiasaan sejak kehidupan sebelumnya.
Saat aku berbalik
sambil menenangkan napas, Scott yang waktu itu sedang berdiri di sana dengan
mata terbelalak menatapku.
"Barusan itu…… semacam tarian perang?"
"Bukan, itu
cuma senam biasa."
"……Senam? Yang barusan itu? ……Pengendalian mana macam
apa itu……"
"Eh? Mana?
Kamu bisa melihat hal semacam itu?"
Bicara apa dia?
Jangan-jangan Scott bisa melihat aliran mana?
"……Harusnya
aku yang bertanya, apa kau sendiri tidak sadar? Setelah melakukan hal luar
biasa seperti itu."
"Luar biasa bagaimana…… Anu, aku cuma berlatih agar
bisa mengendalikan mana dengan lebih baik……"
"……Latihan pengendalian mana, katamu?"
Scott terdiam lama sambil menatapku, sebelum akhirnya
mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar.
"Aaaah, sial! Padahal tadi aku baru saja bingung
bagaimana cara menolaknya. Baiklah, aku terima. Ini menarik."
"Menarik?"
"Ya, kau ingin belajar pedang, kan?"
"Benar.
Aku pikir setidaknya aku harus bisa melindungi diri sendiri."
"Jangan
bercanda. Pedangku bukan pedang lembut seperti itu."
"……Maksudnya?"
"Aku
ini petualang. Tentu saja, pedangku adalah pedang untuk membunuh monster."
Scott
menyeringai lebar dengan raut yang ganas.
◇ ◇ ◇
Sejak
pertama kali mendengar nama Scott Morgan, aku sempat berpikir,
"mungkinkah?". Sebenarnya, aku tidak punya ingatan tentang karakter
bernama Scott. Singkatnya, Scott mungkin tidak muncul di dalam novel aslinya.
Lalu, apa
maksudnya?
Dalam
novel ini, Raja menyusupkan agen ke berbagai tempat untuk mengelola informasi
di dalam kerajaan. Dan agen-agen itu semua menggunakan nama belakang
"Morgan" saat beraksi.
Sebenarnya
itu pengaturan yang buruk karena kesamaan nama bisa membuat identitas mereka
terbongkar, tapi begitulah aturan di novel ini. Hal itu digunakan sebagai
sesuatu yang lumrah.
Para
"Morgan" ini berbaur di berbagai wilayah sebagai petualang atau
rakyat jelata. Aku menduga Scott adalah salah satu dari mereka.
Dalam
ceritanya, para Morgan biasanya hidup sepenuhnya sebagai orang biasa dan banyak
yang hidup dengan sangat bebas. Selain itu, karena mereka semua adalah pejuang
tangguh, aku pikir dia adalah sosok yang tepat untuk mengajariku pedang.
◇ ◇ ◇
"Anu, soal
itu, aku punya satu permintaan."
"Permintaan?"
"Iya. Aku
ingin satu orang lagi ikut berlatih bersama……"
"Satu orang
lagi? Aku tidak dengar soal itu."
"Iya,
soalnya aku baru memintanya sekarang."
Sambil berkata
begitu, aku mengambil dua pedang kayu di sudut ruangan dan memberi isyarat pada
Scott untuk keluar. Scott menatapku curiga, tapi aku hanya membalasnya dengan
senyuman.
Sambil melangkah
keluar, aku memberikan kedipan kecil pada Tilly lalu menuju ke halaman.
Seperti
yang pernah kubilang, adik Tilly yang bernama Hattie, muncul di novel sebagai
petualang tangguh yang berstatus karakter semi-reguler. Padahal dia hidup bahagia di sini, tapi kenapa dia
berakhir menjadi petualang? Memikirkan hal itu membuatku sampai pada satu
kesimpulan.
Mungkin Tilly
melakukan kesalahan yang menyinggungku atau orang tuaku, sehingga keluarganya
diusir, dan dalam kesulitan ekonomi itu, Hattie terpaksa menjadi petualang.
Kira-kira begitu.
Nah, saat ini
mustahil bagiku untuk mengusir Tilly. Jika dibiarkan, Hattie mungkin hanya akan
menetap sebagai pelayan di rumah ini, atau meneruskan jejak ayahnya mengurus
kuda.
Itu memang kebahagiaan tersendiri, tapi…… rasanya tidak
mungkin membiarkan bakat Hattie yang sekuat itu terkubur begitu saja. Aku tidak
berniat membangun harem seperti protagonis asli, tapi memiliki karakter kuat di
sisiku pasti akan menjadi keuntungan besar.
Lagi pula, karena aku berniat fokus pada sihir, latihan
pedang bukanlah prioritas utamaku. Aku merasa tugaskulah untuk membuat Hattie
menjadi kuat dengan dalih menemaniku berlatih.
Tilly mungkin
tidak akan menyukai hal ini. Tapi aku akan tetap melakukannya.
Bayangkan
saja, Hattie si "Dragon Eater" bisa menjadi bidak catorku?
Hattie
sendiri mengerjapkan matanya bingung mendengar usulanku.
"Eh? Latihan
pedang? Kenapa?"
"Kenapa,
ya…… karena dunia ini berbahaya. Lebih baik punya kemampuan untuk melindungi
diri, kan?"
"Hmm……"
"Lagipula,
kamu jadi bisa melindungi Ayah dan Kakakmu, lho."
"Melindungi?"
"Maksudku,
mungkin saja ada orang jahat. Kalau kamu kuat, itu sangat menguntungkan,
kan?"
"Hmm. Tapi
Lado selalu cerewet menyuruhku belajar baca tulis."
Ouh. Sebenarnya
aku sudah mulai mengajarinya huruf. Kalau dia bisa menulis, kejadian dengan
Eric yang ada di novel asli tidak akan terjadi. Ini asuransi yang penting.
"Kita
lakukan bersamaan saja. Kamu sudah bisa membaca cukup banyak, kan?"
"Mumu……"
Kalau anak
laki-laki, biasanya akan senang jika diajak belajar pedang, tapi dia ini anak
perempuan. Aku agak panik melihat Hattie yang ragu. Bagaimana ya…… ah,
kalau begitu……
"Li-lihat!
Kalau ada pencuri kuda datang, kamu bisa mengusirnya!"
"Eh? Pencuri
kuda?"
"Iya, benar.
Kuda itu barang mewah, pasti ada saja pencuri yang mengincarnya."
"Itu tidak
boleh! Aku mau!"
"O-oh……"
Bagus. Pencuri kuda, ya…… Instingku kadang menakutkan juga.
Di sampingku, Scott memasang wajah sebal, tapi aku merasa
ingin bilang, "Coba saja ajari dia, kau bakal kaget".
……Begitulah pikiranku awalnya.
"Bukan! Sudah kubilang tangan kanan di depan, tangan
kiri di belakang!"
"Aku
mengerti!"
"Tidak,
kau tidak mengerti! Itu
terbalik!"
"Habisnya,
ini kan kanan!"
"……Oi."
Lho……?
Rencananya,
begitu dia mulai mencoba, Scott akan langsung menyadari "Anak ini
berbakat!". Tapi ternyata ada masalah yang lebih mendasar.
Scott yang mulai
emosi menyuruhku ikut mengajarinya.
"Eh, aku kan
juga murid di sini……"
"Setidaknya
kau tahu cara memegang pedang, kan?"
"Kalau cuma
cara mengayun sih……"
"Yah, tidak
buruk. Begitu saja cukup."
"Eeeh."
"Pedang itu
ditopang oleh jari kelingking dan jari manis. Kau bisa melakukannya dengan
sempurna. Orang awam biasanya tidak tahu hal itu."
"Anu,
soalnya ada tertulis di buku……"
"Astaga……
semuanya dari buku, ya? Yah, buku dan praktik itu berbeda…… Tapi itu urusan
nanti setelah Hattie menguasai dasar-dasar pedang."
"I-iya……"
Meminta
Scott mengajari Hattie pedang memang egois dariku. Apalagi masalahnya bukan
soal teknik pedang, tapi lebih ke pendidikan dasar balita. Karena tidak bisa
lepas tangan, aku pun menerimanya.
Akhirnya,
butuh waktu dua hari sampai Hattie bisa memegang dan mengayunkan pedang dengan
benar.
◇ ◇ ◇
Begitu
latihan pedang dimulai secara serius, kemampuan fisik Hattie yang tidak wajar
mulai terlihat jelas. Ditambah lagi sifatnya yang tidak mau kalah, dia
benar-benar kesal setiap kali menghadapi Scott yang merupakan gurunya.
"Bo-bocah
ini……!"
Meski
sempat berputar-putar, akhirnya Scott menyadari potensi Hattie.
Tentu
saja. Dia adalah bibit petualang peringkat S di masa depan. Aku yang
seperti ini mana mungkin bisa menandinginya.
Hanya satu hal yang harus kuwaspadai: jangan sampai Scott
melakukan hal aneh. Seperti mengajaknya bergabung ke kelompok
"Morgan", itu tidak boleh terjadi.
Aku harus ekstra waspada soal itu.
Hattie sendiri tampaknya mulai menikmati latihan pedang dan
semakin tenggelam di dalamnya. Aku sadar bahwa mampu menikmati sesuatu juga
merupakan sebuah bakat.
"Sepertinya kamu senang, ya?"
"Jauh lebih seru daripada menghafal huruf!"
"Be-begitu ya. Tapi belajar huruf juga tetap harus
dilakukan."
"Buuu."
"Jangan bilang 'buuu'."
Saat istirahat, kami menyeruput teh yang dibuatkan Tilly di
bawah bayangan pohon depan kandang kuda. Sejak Tilly membawakan alas duduk, tempat ini menjadi lokasi istirahat
favorit kami.
Aku dan Hattie
menjulurkan kaki di atas alas, sementara Scott menggunakan kotak kayu yang
biasanya kupakai untuk rak buku sebagai kursi.
Setelah
berkeringat, menghirup udara alami yang segar di momen seperti ini terasa luar
biasa.
Saat aku
menengadah, dedaunan pohon menyaring sinar matahari dengan sempurna. Sepertinya
ini pohon birch putih. Mengingat pohon ini biasanya tumbuh di dataran tinggi,
mungkin tempat ini memang berada di ketinggian. Karena itulah meski siang hari,
suhunya tidak terlalu panas, dan angin sepoi-sepoi di bawah pohon sangat
efektif untuk melepas penat.
Awalnya Tilly
merasa keberatan melihat adiknya berlatih pedang, tapi setelah melihat Hattie
begitu gembira, dia langsung diam. Lagipula, melihat Hattie yang mengayunkan
pedang sambil berteriak, "Akan kuhancurkan pencuri kuda!", rasanya
sulit membayangkan dia akan menempuh jalan yang berbahaya.
"Melihat
Hattie yang berbakat jadi pendekar pedang, jangan-jangan Kak Tilly juga punya
bakat?"
"……Eh?"
Aku tiba-tiba
terpikir dan menyapa Tilly. Tilly yang baru saja membereskan peralatan makan
untuk kembali ke kediaman menoleh dengan kaget.
"Kalau mau
coba, bagaimana kalau ikut latihan bersama?"
"Ti-tidak,
saya……"
"Yah,
benar juga sih. Kalau
tertarik, bilang saja kapan pun."
"Ba-baik……"
Yah, dia
memang bukan tipe orang yang suka bertarung.
Ngomong-ngomong,
dalam novel tidak diceritakan bagaimana Hattie yang mengurus kuda bisa menjadi
petualang, tapi mungkin saja ada situasi di mana Tilly mengalami masalah dan
mereka diusir dari rumah.
Sepertinya aku
harus sedikit memperhatikan hal itu juga.
Sejak Scott
mengajari pedang, gaya hidupku jadi sedikit lebih sehat. Sebelumnya waktuku
hanya habis untuk membaca di atas tempat tidur atau di kandang kuda.
Tapi, jujur aku
tidak tahu apakah cara mengajar Scott itu bagus atau tidak.
Satu-satunya bela
diri yang kukenal adalah Tai Chi, dan yang aku tahu latihan seperti itu hanya
mengulang-ulang jurus. Memang ada latihan Push Hands yang ditujukan
untuk pertarungan dua orang, tapi dasarnya tetaplah pengulangan rangkaian jurus
seperti 24 jurus utama.
Sebaliknya, Scott
terus memaksakan latihan dengan format tanding.
Meski pedang
kayu, kalau kena tetap sakit. Ini bukan seperti Kendo yang memakai perlengkapan pelindung dan pedang
bambu. Kami hanya memakai
helm kulit dan pelindung sederhana lalu saling pukul.
Aku
langsung mengundurkan diri karena tidak sanggup melakukan hal menakutkan
seperti itu. Akhirnya, aku hanya melakukan ayunan pedang sendirian di samping
Scott dan Hattie yang saling mengadu pedang dengan suara keras.
"Oi
oi, apa kau mau bilang caraku ini tidak cocok untukmu?"
"Aku
cuma takut. Lagi pula, Scott kan cuma dibayar untuk satu orang?"
"Hm?
Yah, memang benar."
"Makanya,
fokuslah melatih Hattie."
"Tidak
tidak, itu tidak benar."
"Tidak
apa-apa, Ayah juga bilang aku akan jadi penyihir."
"Tetap
saja……"
Sebenarnya aku
tetap mendapatkan saran. Tentang tipu muslihat halus saat bertarung atau cara
penggunaan tubuh. Mendengar metode yang berbeda dari Tai Chi juga memberiku
banyak pelajaran. Bahkan hanya dengan melihat latihan Scott dan Hattie saja
sudah sangat mendidik.
Awalnya aku hanya
melakukan ayunan dasar di samping mereka, tapi lama-lama aku mulai
mempraktikkan Jian (pedang) Tai Chi 32 jurus. Ini sangat bagus karena
aku bisa melatih pengendalian mana sambil menggunakan pedang. Awalnya Scott
menatap aneh gerakan pedang Tai Chi-ku, tapi lama-lama dia menyerah dan fokus
pada Hattie.
Begitulah,
beberapa bulan berlalu dalam sekejap.
Latihan
menggunakan dasar Tai Chi ini tampaknya sangat cocok untukku. Aku tidak merasa
bosan, malah semakin asyik melatih pengendalian mana. Scott juga mengakui
teknik pengendalian manaku yang tinggi, bahkan memintaku mengajari Hattie juga.
Aku tidak
keberatan karena membuat Hattie kuat adalah hal penting bagiku. Tapi……
"Gerakan
lambat begini membosankan!"
Begitulah
tanggapannya.
Yah, wajar saja
kalau anak-anak merasa begitu, dan aku tidak berniat memaksa, jadi aku hanya
menyuruhnya melakukan sedikit Zhan Zhuang (meditasi berdiri) sebagai
pemanasan sebelum latihan.
Selain
latihan, tidak ada perkembangan berarti. Tidak ada kesempatan bertemu Adric,
dan guru sihir pun tidak kunjung datang. Aku mulai merasa jenuh karena tidak boleh keluar dari lingkungan kediaman.
"Yah, Ayah.
Aku juga ingin mencoba pergi ke kota."
"Masih
terlalu dini."
"Maksudnya,
karena berbahaya?"
"Begitulah."
Uuuh…… Karena kami keluarga bangsawan, aku ingin minta
pengawal. Tapi Ayah pada dasarnya adalah pedagang yang pelit. Dia tidak
mempekerjakan personel lebih dari yang dibutuhkan, dan aku ragu dia mau menyewa
pengawal hanya demi rasa penasaranku.
Katanya pelayan dan kepala pelayan berlatih bertarung untuk
keadaan darurat, tapi itu mungkin hanya sekadar bela diri dasar. Mereka bukan
pengawal profesional.
"Kalau begitu, bolehkah kalau Scott menemaniku?"
"Scott? Ah…… petualang itu. Baiklah, kalau dia setuju."
"Benarkah!
Nanti aku coba tanya padanya!"
Oho. Dengan
hubungan yang kubangun dengan Scott selama beberapa bulan ini, pasti tidak
masalah.
Tapi, ternyata
dugaanku salah……
"Kenapa aku
harus melakukan pekerjaan menjaga bocah seperti itu?"
"Anu?"
"Putra keluarga Prosper itu cuma bau uang."
"Ugh……"
"Kalau cuma
jalan-jalan di sekitar sini sih boleh, tapi aku tidak mau melakukan pekerjaan
merepotkan seperti itu."
Keluarga kami
memang termasuk salah satu yang terkaya di dunia ini. Tentu saja banyak orang
yang berpikir untuk menculikku demi uang tebusan.
Apa sesulit itu
kalau aku belum cukup kuat untuk melindungi diri sendiri?
Scott
bersikeras menggelengkan kepala, tidak mau melakukan hal yang merepotkan.
Sial.
Kalau sudah begini, aku malah semakin ingin melihat pemandangan di luar
kediaman.
Aku
melirik Hattie yang sedang mengayunkan pedangnya dengan liar di bawah pohon
birch.
◇ ◇ ◇
"Scott."
"Apa?"
"Kalau
aku punya kemampuan untuk melindungi diri sampai batas tertentu, apa kau mau
ikut?"
"……Apa
maksudmu?"
"Misalnya,
kalau aku bisa menang melawan si jenius Hattie."
"Apa?"
Scott menatap
wajahku dengan ekspresi terkejut. Dia menatapku tajam untuk beberapa saat,
sampai-sampai aku merasa telah membuat usulan yang berbahaya.
"Anu,
lupakan sa—"
"Ayo cepat
lakukan! Ada apa?"
Saat aku hendak
bilang itu cuma bercanda, Hattie menyela dengan suara tidak sabar. Scott
pun menanggapi.
"Hattie. Mau mencoba melawan Lado?"
"Eh? ……Mau!"
Hattie menjawab seketika dengan senyuman lebar yang belum
pernah kulihat sebelumnya.
"Hahaha. Bercanda. Tadi itu cuma bercanda. Hattie,
jangan dianggap serius."
"Aku ingin melihatnya sekali. Cara bertarungmu."
"Sudah kubilang itu bercanda. Aku tidak pernah
bertarung sungguhan."
"Hanya mengayunkan pedang tidak akan membuatmu bisa
bertarung."
"Ti-tidak apa-apa, aku masih merasa gerakan pedangku
belum menyatu dengan tubuh."
"Hah!
Sudahlah, lakukan saja seperti kata gurumu. Walau pedang kayu, bukan berarti
kau tidak bisa terluka. Usahakan berhenti sebelum kena. Mengerti?"
"Uuuu……"
"Hattie
sudah bersemangat tuh."
Melihat ke arah
Hattie, dia menyeringai seolah berkata "akan kuhabisi kau sekarang
juga".
"Soalnya
Lado selalu bersikap sok hebat sih. Hihihi……"
Padahal
aku tidak merasa sok hebat. Yah,
mungkin karena aku memperlakukannya seperti anak kecil.
Seperti latihan
Tai Chi, aku memang suka latihan yang rutin. Mengulang gerakan yang sama
berkali-kali sampai tubuh menghafalnya.
Menyempurnakan
setiap teknik dalam jurus. Aku memang tidak terlalu tertarik dengan latihan tanding bebas.
Kenyataannya,
Hattie terus berlatih tanding dengan Scott, sementara aku hanya melakukan
ayunan di samping mereka. Scott mungkin merasa tidak puas dengan hal itu.
……Hattie,
ya.
Aku menatap
Hattie yang penuh semangat.
Tapi yah……
sebentar lagi perbedaan kekuatan kami akan menjadi sangat jauh. Kalau itu
terjadi, pasti mustahil untuk bisa berlatih tanding seperti ini. Mungkin
sekaranglah saatnya.
Lagipula, aku
benar-benar ingin melihat dunia di luar kediaman.
Berpikir
demikian, aku mengambil pedang kayu dan menghadapi Hattie.
"Baiklah,
kalau Hattie kalah, latihan menulisnya akan ditambah, ya."
"Eh!
Cu-curang!"
Sambil berbicara,
aku mulai menghimpun mana. Perbedaan kekuatan kami sudah sangat jelas.
Petualang peringkat S adalah puncak pencapaian manusia. Potensi Hattie yang
bisa mencapai titik itu benar-benar tidak normal.
Aku menyerang
dengan cepat ke arah Hattie yang masih bingung karena seranganku yang
tiba-tiba. Sejujurnya ini adalah tubuh yang jarang berolahraga, tapi kekuatan
otot yang kurang kutambal dengan mana.
Hattie
menggunakan pedang dua tangan, sementara aku pedang satu tangan. Kalau beradu
tenaga, aku pasti kalah.
"Eh?
Eh?"
Dia pasti tidak
menyangka aku akan menyerang tiba-tiba. Tanpa ampun, aku melancarkan tebasan
dari bawah seolah merayap di tanah. Hattie yang panik menangkis dengan pedang
dua tangannya. Sebuah tebasan dari atas ke bawah yang sederhana.
—Pedang
tanpa tenaga tidak akan berguna.
Aku
mencoba memukul balik pedang Hattie ke atas…… tapi berat. Pedang Hattie yang
hanya dipasang untuk menangkis terasa sekeras batu dan menghentikan momentum
pedangku.
"I?"
"Funga!"
Begitu
pedangku terhenti, Hattie memutar pedangnya dan melakukan tusukan. Aku
mempertahankan pedangku tetap menempel pada pedang Hattie, memusatkan mana ke
lengan, dan sekuat tenaga mengalihkan lintasannya.
Namun itu
tidak cukup. Aku terpaksa memiringkan tubuh untuk menghindar.
Benar-benar
membuat berkeringat dingin. Walau pedang kayu, kalau ditusuk bisa gawat.
Tsuuu…… Sesuatu yang dingin melewati pipiku. Kalau melesat satu sentimeter saja, pipiku
pasti sudah berlubang. Mentalku hampir runtuh seketika.
Setelah itu, aku
sepenuhnya bertahan. Aku berusaha keras menjaga pedangku tetap menempel pada
pedang Hattie untuk mengalihkan lintasannya.
Dengan terus
menempelkan pedang, aku bisa merasakan setiap perubahan gerakan Hattie. Sebelum
tenaganya memuncak, aku mengumpulkan tenaga sekejap untuk menggeser ujung
pedangnya.
Aku terus
menangkis serangan sambil mengarahkan vektor kekuatan Hattie. Ini adalah
penerapan teknik Ting Jin (mendengar tenaga) dan Hua Jin
(menetralkan tenaga) dari ilmu Push Hands Tai Chi.
Meski begitu, ini
seperti berjalan di atas tali. Salah sedikit saja dalam penilaian, pertahananku
akan hancur. Di tengah pertarungan kritis yang menguras mental ini, anehnya
perasaanku perlahan-lahan mulai membuncah.
—Ini seru!
Sebaliknya,
Hattie mulai frustrasi karena pedangku tidak mau lepas dari pedangnya dan
serangannya terus dialihkan. Dan aku sedang menunggu saat di mana Hattie
mencapai batas kesabarannya.
"Aaah! Sudah
cukup!"
Akhirnya Hattie
yang hilang kesabaran mencoba mengambil jarak dan melompat mundur.
Ya, momen ini.
Dalam sekejap,
aku menyambungkan jurus dari Ti Xi Bang Jian menuju Tiao Bu Ping Ci
untuk mendesak Hattie.
Hattie yang
sedang mundur kehilangan keseimbangan karena gerakan seranganku yang mendadak.
Ditambah lagi, jurus Tiao Bu Ping Ci memiliki dua tahap serangan.
Tusukan kedua
berhenti tepat di leher Hattie yang posisinya sudah goyah.
"Selesai.
Aku menang."
"Eh!
Tidak! Tidak boleh! Barusan tidak dihitung!"
Hattie
sempat termangu menatapku, tapi begitu mendengar deklarasi kemenanganku,
wajahnya memerah karena marah.
"Tidak. Yang barusan itu kemenangan Lado."
"Scott juga jahat! Habisnya, itu curang. Lihat,
pokoknya curang!"
"Aku tidak curang sama sekali. Hehe. Kalau kalah…… tadi
apa ya janjinya?"
"Barusan
tidak dihitung! Sekali lagi! Sekali lagi!"
"Tidak
mau~ aku tidak akan melakukannya lagi~"
Aku
menyatakan berhenti kepada Hattie yang wajahnya memerah dan menggembungkan
pipi.
Ya iyalah…… bocah ini benar-benar gila kekuatannya.
Scott mendekat ke sampingku yang sedang tertawa, lalu
berbisik pelan.
"Kau
benar-benar tidak berniat melakukannya lagi, ya."
"Ah…… ketahuan? Soalnya mungkin aku tidak akan bisa menang lagi."
Mendengar jawabanku, Scott memasang wajah masam.
"Aku
sih tidak berpikir begitu. Kalau
kau mau jadi lebih kuat, aku bersedia membantumu kapan saja."
Hmm…… yah, dia memang dibayar sebagai guru pedang, jadi
tanpa diminta pun dia pasti akan mengajar. Tapi lawanku kan Hattie.
"Aduh, tidak mungkin deh. Lihat saja, baru pegang
pedang beberapa bulan sudah seperti itu."
"……Padahal kau cuma mengayun pedang kayu saja sudah
bisa begitu?"
"Hahaha.
Hari ini aku cuma menang karena perbedaan kecerdasan. Aku sudah cukup dengan pengalaman mengerikan
tadi."
"Haaah…… sayang sekali. Baiklah, aku akan mengajarimu
sejauh yang kau inginkan, jadi jangan lepaskan pedangmu."
"Iya. Aku memang ingin setidaknya bisa menggunakan
pedang sedikit lebih baik. Mohon bantuannya."
Begitulah, aku berhasil memenangkan pertarungan serius
pertama dan terakhirku dengan Hattie.
Minggu berikutnya. Sesuai janji, aku menyambut hari
pertamaku pergi keluar rumah. Setelah mendengar ceritanya, Hattie yang
penasaran juga ikut serta.
"Oho, kelihatannya cocok untukmu."
"Benarkah……"
Aku mengenakan
pakaian katun yang kabarnya biasa dipakai oleh rakyat jelata. Jika dilihat dari
bahannya, pakaian ini hampir sama dengan yang dikenakan Hatti.
Meski kedudukanku
tidak setinggi itu sampai harus menyamar, Scott membawakan baju ini agar aku
tidak terlalu mencolok saat berada di kota.
"Kalau naik
kuda... sepertinya mustahil, ya."
Alhasil, aku pun
harus membonceng kuda yang dikendarai Scott. Di sisi lain, meski tubuhnya
kecil, Hatti ternyata bisa menunggang kuda dengan normal.
Rasanya agak
menyebalkan, tapi sudah terlambat jika aku ingin berlatih sekarang.
Terpaksa
aku duduk anteng di depan Scott dan kami pun berangkat menuju kota.
Tujuan
kami adalah Falcrest, ibu kota dari wilayah kekuasaan Marquis Falduras. Kota
ini merupakan tempat kantor pusat Persekutuan Dagang Prosper berada, jaraknya
hanya sekitar satu jam lebih dengan berkuda.
Ngomong-ngomong,
kediaman tempatku tinggal bisa dibilang berada di pinggiran kota Falcrest.
Letaknya di sebuah permukiman yang agak jauh dari pusat kota.
"Jadi,
sebenarnya kamu mau pergi ke mana?"
"Aku ingin
pergi ke toko buku... Tapi yang utama, aku ingin melihat dunia di luar kediaman
ini."
"Luar
kediaman? Tidak ada apa-apa di sana, tahu."
"Bagi Scott
yang terbiasa keluar masuk, mungkin memang begitu."
"Hmph. Ya
sudahlah. Pokoknya kita berangkat sekarang."
Sambil duduk
tenang di depan Scott, untuk pertama kalinya aku meninggalkan kediaman itu.
Hmmm.
Sejujurnya, aku
hampir tidak punya ingatan tentang menunggang kuda saat di Jepang dulu. Paling
banter hanya naik poni di kebun binatang saat masih kecil.
Itulah sebabnya
aku sama sekali tidak menyangka kalau punggung kuda akan berguncang sehebat
ini.
Setiap kali kuda
melangkah, tubuhku rasanya seperti terpental. Karena panik takut terjatuh, aku
buru-buru mencengkeram pelana.
"Hei, lebih
santai sedikit."
"Biarpun
kamu bilang begitu..."
Mengendurkan
ketegangan itu ternyata jauh lebih sulit daripada kedengarannya. Namun, Scott
membantuku menyesuaikan posisi duduk di atas pelana.
Akhirnya, aku
berhasil menemukan posisi yang cukup nyaman untuk menyeimbangkan diri.
Setelah mulai
terbiasa dengan guncangan kuda, aku pun mencoba menenangkan diri dan melihat
keadaan sekeliling.
Tempat ini adalah
area pertanian di luar kota. Tidak ada jalanan setapak berbatu di sini.
Ayahku setiap
hari pergi bekerja menggunakan kereta kuda melalui jalan ini. Karena sering
dilewati kendaraan berat, tanah di jalanan ini terinjak hingga padat dan keras,
membentuk jalur tanpa rumput liar.
Di kedua sisi
jalan, terbentang ladang dan kebun buah, dengan jumlah rumah penduduk yang
tidak terlalu banyak.
Namun, setiap
rumah penduduk dikelilingi oleh tembok pelindung monster. Melihat pemandangan
pastoral seperti itu, aku jujur merasa bahwa tempat ini "indah".
Begitu sampai di
kota nanti, area tersebut pasti dikelilingi tembok besar seperti kota benteng,
tapi di pinggiran seperti ini tentu tidak bisa begitu.
Melihat keadaan
itu, sebuah pertanyaan mendadak muncul di benakku.
"Di sekitar
rumah kita jarang ada monster yang muncul, ya?"
"Manusia
tidak akan mau tinggal di tempat dengan konsentrasi mana yang pekat seperti
itu."
"Mana?"
Sepertinya di
dunia ini ada tempat dengan aliran sihir yang pekat dan ada yang tipis.
Sihir di atmosfer
tersebut biasa disebut Mana Element. Kabarnya, semakin pekat Mana
Element di suatu tempat, maka monster yang lebih kuat akan lebih mudah
muncul.
Karena itu,
tempat tinggal manusia biasanya berada di area dengan Mana Element yang
tipis. Penentuan lokasi pemukiman seperti ini pun tampaknya didasarkan pada
tingkat kepekatan tersebut.
Setelah menyusuri
jalanan pedesaan itu, akhirnya sebuah kota besar mulai terlihat di depan mata.
◇ ◇ ◇
Setibanya di
kota, kami menitipkan kuda di kandang dekat gerbang dan mulai masuk ke dalam
area perkotaan.
"Ooooh!
Luar biasa..."
"Benar,
kan? Inilah Falcrest."
Kota ini
adalah jantung kekuasaan dari kastil Marquis Falduras. Aku tahu kota ini besar,
tapi ternyata jauh lebih megah dari dugaanku.
Sebagai
kota benteng, ruang di dalamnya memang terbatas. Namun, hal itu justru membuat
deretan bangunannya terasa sangat padat dan hidup.
Sebenarnya
aku tahu kota yang jauh lebih besar seperti "Tokyo". Namun tetap saja, melihat kota besar untuk
pertama kalinya di dunia ini membuat hatiku terpikat.
"Ternyata
kamu bisa pasang wajah seperti itu juga, ya?"
"Eh?"
"Habisnya,
biarpun bocah, kamu selalu bicara sok dewasa. Wajah seperti itulah yang pantas
untuk anak kecil."
"Hahaha..."
Yah, mau
bagaimana lagi, aku ini kan tipe "tampilan anak-anak, jiwa orang
dewasa". Tapi memang benar kalau aku merasa berdebar melihat kota ini
untuk pertama kalinya.
"Di sebelah
sini ada menara yang besar, lho!"
"Menara?"
"Iya. Milik
gereja! Benar-benar besar sekali."
Hatti sepertinya
bukan pertama kali datang ke sini. Dia bersikap seolah ingin pamer padaku yang
baru pertama kali berkunjung bahwa dia lebih tahu tentang tempat ini.
Aku hanya
bisa tersenyum kecut sambil mengikutinya.
Di tengah
perjalanan menuju gereja, aku melihat sebuah bangunan yang menarik perhatian.
Gedung
itu tampak sangat ramai oleh orang yang keluar masuk, dan mereka semua
mengenakan perlengkapan pelindung yang terlihat tangguh.
"Jangan-jangan,
tempat itu milik..."
"Benar. Itu yang namanya Guild Petualang."
"Heh, bolehkah aku mengintip sebentar ke dalam?"
"Tidak ada
apa-apa di sana meski kamu mengintip."
Saat aku mulai
berjalan ke arah sana, Hatti yang menyadarinya langsung melayangkan protes.
"Bukannya
kita mau ke menara?"
"Kita juga
akan ke sana, kok. Tapi ayo kita lihat sebentar saja."
"Kenapa,
sih? Kita kan tidak ada urusannya dengan petualang."
"……Eh?"
"……Eh?"
Ah, benar juga. Meski bercita-cita menjadi petualang
ternama, Hatti bahkan belum mendaftar. Reaksinya itu wajar.
Sementara aku adalah penggemar Light Novel. Terutama pria
yang sudah melahap habis bacaan genre fantasi.
Bagi aku, konsep "Dunia Lain = Guild Petualang"
sudah mendarah daging, seolah-olah aku punya ikatan batin dengan tempat itu.
Berbagai macam event biasanya dimulai dari Guild
Petualang ini—
"Ada
apa ini? Bocah tidak boleh datang ke tem—"
Ooh!
Begitu aku berpikir demikian, seorang paman yang tadinya berteriak galak
tiba-tiba langsung menciut.
"Hah?"
"A-Ah... t-t-t-tuan Scott! Ke-Kenapa Anda ada di sini—"
"Memangnya
aku tidak boleh datang ke Guild?"
"Ti-Tidak
begitu. Tapi saya dengar Anda sudah pensiun."
"Begitulah.
Tapi sesekali aku harus memastikan apa kalian bekerja dengan benar atau
tidak."
"Haha...
ka-kami baik-baik saja, kok. Eh? Bocah itu... bukan, maksud saya, apakah tuan
muda ini anak Anda?"
"Apa wajahku
terlihat setua itu sampai punya anak sebesar ini?"
"T-Tentu
saja tidak!"
"Hah...
sudahlah. Pergi sana."
"Ba-Baik!"
...Sialan kamu,
Scott. Kamu menghancurkan event berhargaku dalam sekejap.
Aku menatap Scott
dengan penuh dendam, tapi dia malah memasang wajah bangga seolah berkata,
"Lihat, tidak ada masalah kalau ada aku."
Aku dengar Scott dulu adalah petualang peringkat A-Rank.
Sepertinya dia cukup punya pengaruh
di kota ini.
Sambil menghela
napas, aku kembali mengedarkan pandangan ke dalam Guild.
Bagian dalam
Guild sebenarnya tidak seaneh itu. Di dinding tertempel kertas-kertas berisi permintaan (quest).
Para
petualang akan mencabut kertas itu, menyerahkannya ke resepsionis di konter,
dan menerima pekerjaan tersebut.
Dalam
beberapa Light Novel, biasanya ada bar di dalam Guild, tapi di sini tidak ada.
Kegiatan
di sini berlangsung dengan tenang. Para staf di belakang konter bekerja dengan
tekun, suasananya malah lebih mirip seperti bank.
"Aku
juga ingin mendaftar jadi petualang."
"Petualang?
Untuk apa lagi. Lagipula, berapa pun usahamu, sekarang masih mustahil,
kan?"
Secara
teknis memang tidak ada aturan usia yang pasti, tapi sepertinya Guild tetap
tidak akan menerima anak berusia enam tahun.
Sayang
sekali, tapi aku cukup puas hanya dengan melihat Guild Petualang untuk pertama
kalinya. Hatti dan Scott sepertinya sama sekali tidak terkesan sepertiku.
"Ayo
cepat pergi."
Karena
didesak oleh Hatti, aku pun meninggalkan Guild Petualang pertamaku itu.
Setelah berjalan
sedikit lebih jauh ke arah pusat kota, kami menemukan sebuah alun-alun. Di
sudutnya, berdiri sebuah menara jam raksasa.
Seperti yang
dikatakan Hatti, menara jam itu sangat mencolok dan jauh lebih tinggi
dibandingkan bangunan di sekitarnya.
Di dunia ini,
"waktu" merupakan salah satu simbol penting bagi gereja.
Setiap kota atau
desa pasti memiliki fasilitas penunjuk waktu yang menyatu dengan gereja. Tentu
saja desa pertanian kecil tidak bisa membangun menara jam seperti ini.
Namun tetap saja,
gereja di sana memiliki lonceng yang digantung dan akan dibunyikan beberapa
kali sehari untuk memberitahukan waktu.
"Ini
benar-benar luar biasa..."
Aku
membayangkan kota-kota tua di Eropa yang juga memiliki menara jam sebagai
simbol kota mereka.
Dan yang
lebih mengejutkan lagi, alun-alun itu dipadati oleh banyak orang.
"Memangnya
selalu seramai ini?"
Latar
waktu di dunia ini berbasis abad pertengahan, jadi kurasa kehidupan
masyarakatnya tidak semakmur di Jepang.
Budaya
bepergian atau traveling juga masih minim, jadi aku tidak punya gambaran
tentang kerumunan turis.
"Ah,
biasanya tidak sebanyak ini, kok. Sepertinya hari ini adalah Hari Pasar."
"Hari
Pasar?"
"Sebulan
sekali, orang-orang yang tidak tergabung dalam Guild Dagang pun boleh berjualan
barang-barang seperti ini."
"Wah,
kita datang di waktu yang tepat, ya!"
Jika
melihat ke kedai-kedai pinggir jalan, ada orang-orang seperti petualang yang
menjual hasil buruan dari hutan.
Ada juga
yang menjual pakaian rajutan sendiri, atau barang-barang bekas yang tidak
terpakai. Singkatnya, ini seperti pasar kaget atau flea market.
Di
sekelilingnya, terdapat gerai makanan yang menargetkan para pembeli atau
pedagang. Aroma daging panggang yang sedap tercium di udara.
"Tiba-tiba
aku jadi lapar."
"Kalau
dipikir-pikir..."
Aku dan
Hatti mendongak menatap Scott secara bersamaan.
"Hei,
hei... soal uang... kalian tidak punya?"
"Iya,
aku kan belum pernah diberi uang jajan."
"...Astaga.
Kamu ini kan anggota keluarga Prosper, tahu."
"Memang,
sih. Harusnya tadi aku bilang ke Papa. Tapi nanti akan kuganti, kok."
"Cih. Apa
boleh buat. Harus diganti, ya."
Di kedai makanan,
banyak sekali hidangan yang tidak biasa kutemukan di meja makan rumah,
membuatku merasa agak bersemangat.
Saat aku hampir
memutuskan untuk membeli sate daging yang sudah pasti enak, aku melihat sesuatu
yang menarik perhatian.
Bentuknya mirip
seperti tentakel cumi-cumi yang ditusuk sate, tipe yang sering ada di toko
jajanan anak-anak di Jepang.
Harganya cukup
murah dan kulihat anak-anak banyak yang membelinya. Merasa nostalgia, aku pun
mendekati kedai tersebut.
"Ya. Mau
berapa tusuk?"
"Anu, ini
apa ya?"
"Hm? Apa
maksudmu, ini kan Sate Ekor? Bukan barang langka, kok."
"Ah,
iya juga, ya."
Begitu ya,
ternyata ini barang umum seperti jajanan di toko masa kecilku dulu. Sebaiknya
aku tidak bilang kalau aku tidak tahu.
Tapi
ngomong-ngomong, Sate Ekor, ya. Jika dilihat-lihat, bentuknya mirip ekor kadal.
Aku sempat ragu
sejenak, tapi anak-anak lain membelinya dalam jumlah banyak. Aku pun memesan
lima tusuk dan meminta penjualnya memasukkannya ke dalam kantong.
"Hatti, mau
satu?"
"Iya,
mau!"
Melihat
reaksi Hatti, sepertinya ini memang camilan populer bagi anak-anak. Aku
memberikan satu tusuk padanya, lalu mengambil satu lagi untuk diriku sendiri.
Kalau
diperhatikan baik-baik, ini benar-benar ekor kadal. Mungkin daging utamanya
digunakan untuk masakan biasa, lalu sisa potongannya dijual seperti ini.
"Kenapa
tidak dimakan?"
Hatti
bertanya dengan heran melihatku yang terus memandangi sate itu dengan ragu.
"A-Aku
makan, kok."
Aku pun buru-buru
memasukkan sate ekor itu ke mulutku.
Ooh. Rasanya benar-benar mirip camilan itu. Rasa cumi-cumi
olahan dengan bumbu cuka yang kuat.
Meski tidak sampai menjadi kenangan yang mendalam di Jepang,
rasa nostalgia ini membuatku melahap habis satu tusuk dalam sekejap.
"Scott,
kamu benar-benar tidak mau?"
"Aku tidak
butuh makanan bocah seperti itu."
Harga diri macam
apa itu? Aku hanya
bisa tersenyum kecut sambil mengambil satu tusuk lagi dari kantong.
Dan saat itulah
hal itu terjadi.
Tiba-tiba aku
merasakan beban di bahuku, dan aku pun menoleh.
"O-O-Ooh."
Ternyata ada
seekor hewan berwarna emas yang bertengger di bahuku. Aku hampir saja menepisnya, tapi aku menahan
diri di detik terakhir.
—Dia
tidak berbahaya?
Secara
insting aku merasakan hal itu.
"Apa ini!
Lucu sekali!"
Hatti juga
menyadari keberadaan hewan aneh ini. Hewan itu mencengkeram bahuku dengan kuat,
hidungnya kembang kempis sambil menatap tajam ke arah sate ekorku.
"...Kamu mau
ini?"
Karena merasa
tertarik, aku mendekatkan sate itu ke arah si hewan.
Hewan itu sempat
tersentak mundur sejenak, tapi mungkin karena kalah oleh rasa lapar, dia
menjulurkan kedua kaki depannya dan meraih sate ekor tersebut.
Kaki depannya
memiliki selaput tipis yang menjuntai. Dia terlihat seperti hewan yang bisa
terbang seperti tupai terbang atau musasabi.
"Apa dia
hewan peliharaan seseorang?"
Hatti
bertanya dengan bingung saat mendengar gumamanku.
"Kenapa
memangnya?"
"Karena dia
terlihat sangat terbiasa diberi makan."
Aku mencoba
mengingat-ingat isi ensiklopedia monster, tapi tidak ada yang cocok. Tanpa
mempedulikan pemikiranku, hewan itu sibuk mengunyah sate ekor dengan lahapnya.
"Scott, kamu
tahu ini hewan apa?"
"……Tidak."
Tapi sungguh,
makhluk ini lucu sekali. Kalau tidak ada pemiliknya, aku akan—
"Pipi!"
Saat itu,
menerobos keriuhan pasar, seorang gadis berlari ke arah kami dengan napas
terengah-engah.
—Pipi?
Begitu aku
menoleh ke arah suara itu, aku langsung terpaku.
Gadis itu mungkin
seumuran denganku. Melihat wajahnya yang masih polos, aku hanya bisa bergumam,
"Cantik sekali."
Rambut peraknya
bergoyang pelan, napasnya memburu, dan ekspresinya tampak panik, namun entah
kenapa dia tetap memancarkan aura keanggunan.
Gadis itu
berhenti di depanku, mencoba mengatur napasnya yang tersengal sebelum mulai
bicara.
"Ma-Maaf.
Anak itu..."
"……Eh?"
"Eh? A-Anu. Anak itu..."
"Maksudnya,
aku?"
Apa yang dia
katakan? Eh? Dia bicara padaku?
Gadis itu
berusaha keras mengatakan sesuatu padaku, tapi otakku rasanya membeku dan tidak
bisa berpikir jernih.
"Lado.
Bukannya maksudnya anak itu?"
"Eh? Anak itu? Ah. Ini, ya."
Setelah
ditegur Hatti, aku baru tersadar. Gadis itu sedang melihat hewan aneh yang
bertengger di bahuku. Aku pun buru-buru mengarahkan bahuku ke arah gadis itu.
Begitu
gadis itu mengulurkan tangan, si hewan langsung melompat ke tangannya seolah
itu memang tempat asalnya, lalu meringkuk dengan tenang di bahu sang gadis.
"Padahal
Pipi biasanya tidak mau mendekati orang lain..."
"Eh?"
"Ah,
maaf. Anak ini namanya Pipi. Dia itu, anu..."
"A-Ah...
Jadi, dia ini hewan peliharaanmu, ya?"
"Bisa
dibilang begitu, tapi dia hanya tiba-tiba merasa akrab denganku."
"Heh.
Begitu, ya."
Setelah
perasaanku sedikit lebih tenang, aku kembali menatap gadis itu. Dia pasti
seorang bangsawan. Sekali lihat saja sudah jelas dari pakaian mahalnya yang
berbeda dari rakyat jelata, dan dia mengenakannya dengan sangat sempurna.
"Anu...
namaku Rado—"
"Tuan
Putri!"
Tepat saat aku
hendak memperkenalkan diri, beberapa prajurit dengan wajah pucat pasi tiba-tiba
mengepung kami. Ketegangan yang awalnya terasa sedikit mereda ketika mereka
menyadari kami hanyalah anak-anak, namun mereka tetap berdiri di depanku dengan
sikap yang sangat mengintimidasi.
"Eh?
Putri?"
"Kurang
ajar! Siapa kau!"
"Eh?
A-Aku?"
Prajurit itu
menyela dan berdiri di antara aku dan sang gadis, lalu membentakku dengan
keras. Situasi yang tidak biasa ini membuatku dan Hatti mematung seketika.
"Tunggu!
Berhenti bicara tidak sopan seperti itu!"
"Ta-Tapi...!"
"Dia yang
menemukan Pipi. Dia tidak melakukan apa pun."
"Ba-Baiklah.
Namun Tuan Putri, kita harus segera pergi sekarang."
Gadis itu sepertinya memiliki jadwal yang penting. Mendengar
ucapan prajuritnya, dia buru-buru menoleh ke arah menara jam.
"Benar juga. ……Anu, Rado-san?"
"Eh? Ah, iya...?"
"Maafkan saya karena sudah membuatmu terkejut. Terima kasih banyak karena sudah menjaga
Pipi."
"I-Iya……"
"Kalau
begitu, saya permisi."
Selagi aku masih
termangu kebingungan, gadis itu pun masuk ke dalam gereja dengan tetap dikawal
ketat oleh para prajurit.
◇ ◇ ◇
Setelah
menyaksikan kepergian mereka, Scott bergumam pelan.
"Jadi itu
Lumiere-sama, ya."
"……Eh?"
"Oh, kamu
belum tahu? Yang tadi itu adalah Lumiere Falduras. Salah satu dari putri kembar
kebanggaan Marquis Falduras, yang saking disayanginya sampai-sampai sang
Marquis tidak rela jika ada sebutir debu pun menyentuhnya."
"Jadi dia
adalah..."
Galaaan,
galaaan.
Tepat saat itu,
lonceng menara jam berdentang. Mendengar suara lonceng yang menggema di seluruh
alun-alun, orang-orang di kota serentak menengadah ke arah menara jam.
—Gadis
itu...
Penggalan
informasi dari novel yang pernah kubaca melintas di benakku. Sebuah insiden
yang sepenuhnya menetapkan rasa diskriminasi Adric terhadap Rude. Pusat dari
insiden itu adalah adik kembar Adric, yaitu Lumiere.
Lumiere
sebenarnya adalah karakter yang namanya pun tidak disebutkan di dalam cerita
aslinya. Namun dalam insiden itu, saat sedang bersama ibunya, mereka diserang
oleh bandit... yang tak lain adalah Rude.
Aku
berusaha sekuat tenaga mengingat detail kemalangan gadis ini.
Kapan? Di
mana?
...Insiden
yang membuat kepribadian Adric menyimpang hingga menjadi karakter antagonis.
Aku harus mencegah hal itu apa pun yang terjadi. Lagipula... Lumiere ternyata
anak yang sangat baik, bukan?
Aku
mengepalkan tinjuku dengan kuat.
Untuk
beberapa saat, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari gereja tempat Lumiere
masuk tadi.
◇ ◇ ◇
Dalam
perjalanan pulang, saat duduk di pangkuan Scott, sebuah ide cemerlang muncul di
kepalaku.
Scott
adalah anggota Morgan. Dia pasti memiliki akses informasi yang akurat mengenai
keluarga Marquis.
Tentu
saja, aku tidak boleh keceplosan kalau aku tahu tentang Morgan. Tapi, jika aku
bisa mendapatkan informasi tentang pergerakan di dalam kediaman Marquis dari
Scott... mungkin aku bisa mengetahui informasi yang mengarah pada insiden
Lumiere.
Meski
penampilannya seperti pengelana liar, dia pasti orang yang cerdik. Mengingat
aku masih anak-anak dan belum bisa bergerak sendiri, Scott adalah satu-satunya
orang dewasa yang bisa kuandalkan saat ini.
...Tapi,
masalahnya...
Meskipun idenya
bagus, masalah terbesarnya adalah bagaimana cara mengatakannya tanpa terasa
aneh dan tetap terlihat natural.
...Sialan!
...Apa boleh
buat!
Aku menatap Scott
dengan wajah yang memerah padam.
"Hm? ……Ada apa?"
Grrr...
Aku menggertakkan gigi begitu kuat sampai rasanya gigiku mau
pecah.
"A-Ada apa
sih...?"
Lihat saja,
Radcliff muda. Inilah yang namanya tekad seorang pria dewasa.
……
"Hei, Scott,
kamu itu petualang, kan?"
"Mantan.
Mantan petualang."
"Kalau
begitu, kamu pasti punya banyak informasi tentang berbagai kota, kan?"
"Hm? Yah, ya
lumayan, sih."
"Kalau
begitu..."
"Kalau
begitu?"
"Anu, aku...
ingin tahu lebih banyak soal Lumiere-sama."
"……Apa
maksudmu dengan 'lebih banyak'?"
"Maksudku,
seperti... kue dari toko mana yang Lumiere-sama sukai, atau... Lumiere-sama
sesekali pasti pergi melakukan perjalanan, kan? Hal-hal seperti itu—"
"Bwahahaha!
Bu-bu-bu-bu!"
"Ke-Kenapa
tertawa!"
"Buhyahyahyahyahya!
Hahaha!"
"Kenapa
tertawa begitu, sih!"
"Hyahyahya.
Serius? Ternyata kamu memang laki-laki sejati, ya."
"Berhenti
tertawa! Ti-Tidak ada apa-apa, kok. Sudah, lupakan!"
"Kukuku.
Baiklah. Andalkan saja aku."
"Sudah
kubilang bukan apa-apa!"
"Kukuku.
Jangan marah begitu. Ini kan cinta pertamamu. Aku akan membantumu, tenang
saja."
"Bukan
seperti itu! Aku cuma ingin tahu sedikit tentang Lumiere-sama!"
"Iya, iya,
oke, oke. Serahkan saja padaku."
"Uuuuu..."
Begitulah,
akhirnya aku berhasil mendapatkan informasi mengenai Lumiere dari Scott.
Sebagai
gantinya... aku merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam
diriku.
Sejak saat itu,
Scott secara rutin membawakanku cerita tentang Lumiere. Setidaknya, aku
berharap bisa merasakan tanda sekecil apa pun jika Lumiere dalam bahaya,
tapi...
Cerita
tentang kue yang sedang dia sukai belakangan ini. Cerita tentang hiasan rambut
yang dia dapat dari Marquis saat hari ulang tahunnya. Hingga cerita tentang
acara minum tehnya.
Awalnya,
wajahku terasa sangat panas tiap kali mendengar Scott bercerita dengan senyum
menyeringai itu, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa.
Setiap
kali mendengar Lumiere masih baik-baik saja, aku merasa lega. Hal itu juga membuatku semakin bersemangat
melakukan latihan Tai Chi setiap hari.
……Dan kemudian.



Post a Comment