NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Sihir Pertama


Beberapa waktu sejak perburuan Little Boar, aku terus menatap peta sembari menyusun rencana untuk mengekstrak sirup pohon shirakaba. Kabar tentang lokasi tumbuhnya sudah kudapat, tapi aku penasaran bagaimana dengan hak kepemilikan gunungnya.

"Kurasa gunung tidak punya hak milik khusus, kan? Paling-paling itu tanah milik penguasa wilayah?"

"Jadi, tidak apa-apa kalau aku mengumpulkan getah di sana tanpa izin?"

"Bukankah boleh saja? Tanah bukaan itu milik petani yang membukanya. Tentu saja, kamu tetap harus membayar pajak kepada penguasa wilayah di sana."

"Jadi, kalau aku mengambil getah di hutan itu, aku tetap harus membayar pajak, ya."

"……Yah, kalau itu menghasilkan uang."

Hmm. Bagiku, sebelum memikirkan soal bayar pajak atau tidak, yang terpenting adalah agar Erik dan ayahnya tidak terlalu banyak berkonflik.

Masalah Erik yang sering bertikai itu kemungkinan besar terjadi karena dia bergerak di bawah perintah Marquis Farduras. Jika ini menjadi keuntungan, uangnya pun akan mengalir ke sang Marquis.

Mengenai modal usaha, aku meminta Scott menjual dua buah buku, dan hasilnya aku mendapatkan uang tunai yang lumayan banyak.

Sama sekali tidak sayang. Itu adalah buku-buku dengan teori yang sangat tidak masuk akal, jadi aku malah senang buku itu bisa jadi duit.

Meski aku mencoba meyakinkan diriku sendiri seperti itu, tetap saja ada rasa bersalah karena menjual barang orang tua demi kepentingan pribadi.

Aku memesan peralatan pengumpul getah ke pandai besi, lalu sisa uangnya kugunakan untuk menyewa tukang kayu desa guna membangun pondok kecil di dekat hutan itu.

Begitu ada uang, segalanya bergerak maju.

Saat satu urusan mulai berjalan lancar, hal-hal lain pun ikut membaik. Kabar baik datang mengenai pelajaran sihirku. Ada instruksi dari keluarga Farduras agar aku datang ke kastel untuk belajar.

Sepertinya, berkat perburuan Little Boar sebelumnya, kapasitas mana milik Adric meningkat, dan itu menjadi pemicu baginya untuk mulai berlatih sihir. Lalu muncul tawaran, bagaimana kalau aku—yang belum menemukan guru—ikut sekalian? Begitulah alurnya.

"Adric. Terima kasih sudah mengundangku."

"Tidak, aku juga baru pertama kali, kok. Kalau kamu mau mulai bersamaku, itu malah membuatku tenang. Tapi kali ini, Lumiera yang bilang agar aku mengajakmu."

"Lumiera?"

"Iya. Saat aku bilang mau belajar sihir, dia tanya kenapa tidak mengajakmu juga. Kamu belum menemukan guru sihir, kan?"

"Begitulah. Sepertinya ayahku hanya menghubungi penyihir-penyihir yang punya nama besar, dan itu malah membuat kami sulit menemukan guru."

"Begitu ya. Memang sulit, sih."

Hmm. Tapi, kenapa Lumiera?

Kabar itu cukup mengejutkan bagiku. Aku belum sering mengobrol dengannya. Dulu, saat tanganku lecet, dia pernah memberikan sihir penyembuhan padaku. Mungkin saat itu aku sempat bilang kalau aku juga ingin menggunakan sihir.

Keluarga Farduras aslinya memiliki korps penyihir pribadi bernama Exmagia. Rencananya, seorang guru akan dipilih dari sana untuk mengajar kami.

Lumiera sepertinya sudah mulai belajar sihir penyembuhan di sana sejak beberapa waktu lalu.

Namun, meski disebut sihir penyembuhan, atribut itu termasuk langka di antara para penyihir. Terlebih lagi, pengguna sihir penyembuhan biasanya diprioritaskan untuk diambil oleh Gereja, sehingga di Exmagia pun kabarnya tidak ada pengguna sihir penyembuhan.

Biasanya penyihir bisa menggunakan atribut yang berbeda dari miliknya sampai batas tertentu, tapi ada juga tipe spesialis—seperti Saint—yang hanya bisa menggunakan sihir penyembuhan.

Cara untuk mengetahui atribut tersebut sebenarnya cukup primitif; cukup dengan mencoba berbagai atribut sihir dan memastikan kekuatannya. Namun, sebagai orang yang tahu cerita aslinya, aku sudah tahu atributku. Atribut Tanah.

Api, Air, Es, Petir; sihir-sihir megah seperti itu digunakan secara berlebihan oleh sang protagonis dan para pahlawan wanita di haremnya.

Dan, atribut yang didapatkan oleh karakter figuran antagonis, Radcliff, adalah atribut Tanah. Begitulah kenyataannya.

Tempat yang ditunjukkan Adric adalah sebuah area latihan yang dikelilingi tembok batu tebal. Melihat sifat sihir, tembok itu pasti dibangun untuk mencegah kastel terbakar jika terjadi kecelakaan saat menggunakan sihir api.

Di lapangan latihan, seorang penyihir muda sedang berbincang dengan Lumiera. Begitu menyadari kedatangan kami, Lumiera langsung tersenyum cerah dan melambaikan tangan dengan riang.

"Kakak! Rad!"

Adric mengangguk kecil pada Lumiera, lalu menyapa penyihir di sampingnya dan memperkenalkanku.

"Ya, mohon bantuannya mulai hari ini. Ini Radcliff."

"Oh, Tuan Adric, dan Tuan Radcliff. Nama saya Luke. Mohon bantuannya."

Begitu kami sampai di lapangan, penyihir muda itu menunduk dengan sopan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Luke. Karena posisinya adalah guruku, aku pun menyapanya dengan sopan.

"Mohon bantuannya. Nama saya Radcliff."

Luke membelalakkan mata mendengar salamku. Kemudian dia menjawab dengan senyum lembut.

"Baik. Mohon bantuannya."

Lalu, kami dipersilakan duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan.

"Tuan Radcliff, apakah Anda pernah belajar sihir sebelumnya?"

"Tidak. Tapi dua tahun lalu saya terkena Penyakit Kehilangan Mana."

"Begitu ya…. Kalau begitu, potensi Anda seharusnya tidak masalah."

Setelah itu, Luke mulai menjelaskan perlahan tentang sihir kepada kami.

"Pertama, apakah kalian tahu mengapa anak yang pernah menderita Penyakit Kehilangan Mana dikatakan cocok menjadi penyihir?"

"Setahuku, itu karena setelah menghabiskan mana sekali, tubuh akan menyadari bahwa ia butuh lebih banyak mana, sehingga kapasitas mananya meningkat."

"Benar, itu juga penting. Tapi ada hal yang jauh lebih penting."

"Jauh lebih penting?"

"Apakah Tuan Adric tahu?"

"……Tidak."

"Penyakit Kehilangan Mana terjadi karena mana yang mengamuk, tapi bagi orang biasa, mustahil untuk memaksakan mana keluar sebanyak itu. Karena di tengah jalan, gejala kekurangan mana pasti akan muncul."

Memang benar, aku sampai muntah-muntah karena kekurangan mana. Aku sangat mengerti maksudnya. Tapi bukankah itu sebabnya disebut mengamuk? Bukankah itu berarti mananya malah sulit dikendalikan?

Melihat kami yang kebingungan, Luke melanjutkan penjelasannya sambil tersenyum.

"Saluran pelepasan untuk mengeluarkan mana milik kalian itu sangat lebar. Hal itu juga akan berpengaruh pada kekuatan sihir yang bisa kalian gunakan."

"Saluran pelepasan?"

Begitu ya. Memang benar, sihir dikatakan sebagai tindakan mengeluarkan mana dalam jumlah besar sekaligus untuk dimanfaatkan. Jadi Penyakit Kehilangan Mana juga memiliki syarat seperti itu.

"Lalu, jika saluran pelepasan mananya kecil, apakah seseorang tidak bisa menggunakan sihir?"

"Jika kontrol mananya bagus, dia bisa memadatkan mana dan mengeluarkannya dari saluran yang kecil. Tapi itu cukup sulit. Lagi pula, itu adalah teknik yang digunakan oleh orang yang sudah terbiasa menggunakan sihir untuk meningkatkan kekuatan mereka. Jadi tetap saja, bagi orang dengan saluran kecil, ada batasannya."

"Begitu ya……."

Berarti aku memang punya bakat sebagai penyihir. Baguslah.

Mendengar alasan teknis mengapa aku punya bakat dari seorang guru sihir membuatku lebih yakin. Lalu Adric bertanya dengan nada cemas.

"Aku tidak pernah terkena Penyakit Kehilangan Mana, apakah aku bisa menggunakan sihir?"

"Kurasa tidak masalah. Karena anak dengan saluran besar pun jika bisa mengontrolnya dengan baik tidak akan terkena penyakit tersebut. Lagipula, saudari kembar Anda, Nona Lumiera, saja bisa menggunakannya, jadi Anda pasti baik-baik saja."

"Begitu ya……"

Aku mengerti logika tentang kembaran itu, tapi kalau kembar laki-laki dan perempuan, berarti mereka kembar fraternal. Menurut logika di Bumi, gen mereka berbeda, jadi alasan 'karena kembaran pasti bisa' sebenarnya agak kurang tepat.

Yah, tapi di novel pun dia bisa menggunakan sihir, jadi aku tidak akan protes soal itu.

"Kalau begitu, mari saya jelaskan cara dasar menggunakan sihir……"

Maka dimulailah kuliah sihir dari Luke. Entah mengapa, Lumiera yang sebenarnya sudah bisa menggunakan sihir juga ikut duduk manis di sampingku dengan wajah riang untuk mendengarkan.

"Pertama, untuk membangkitkan sihir diperlukan tiga syarat. Satu, mana yang menjadi bahan dasar sihir. Saya rasa kalian sudah paham ini. Syarat kedua adalah menyusun Image di dalam otak. Dan yang ketiga adalah menjalin Image yang sudah disusun melalui kata-kata dengan mana milik sendiri menjadi sebuah sihir."

Aku bisa memahami syarat-syarat untuk menciptakan sihir. Memang benar, saat melihat penyihir yang menggunakan sihir rantai pengikat dulu, aku melihat mana berkonsentrasi di kepala dan area mulutnya.

Maka, latihan sihir kami pun dimulai.

Mantra yang diucapkan oleh penyihir rantai itu, dan mantra yang diucapkan Lumiera. Jawabannya adalah, sepertinya ada aturan namun sekaligus tidak ada aturan baku.

Hanya saja, sepanjang sejarah panjang, manusia telah memikirkan cara agar bisa menyematkan makna ke dalam sihir dengan kata-kata sesingkat mungkin, dan menggunakan susunan kata tersebut sudah menjadi hal mendasar.

"Apakah tidak bisa menggunakan sihir tanpa mantra (No-Cast)?"

Wajar saja jika aku ingin bertanya begitu.

Situasi di mana Erik menggunakan sihir tanpa mantra dan mengejutkan para penyihir di dunia ini yang masih butuh mantra adalah pengaturan standar dalam light novel, bukan cuma di novel ini saja.

Mengingat hal itu, aku pun ingin bisa menggunakan sihir tanpa mantra.

"Heh, kamu tahu banyak ya."

"Ah, iya. Saya membacanya di suatu buku……"

"Begitu ya. Sebenarnya bisa saja tanpa mantra, tapi…… itu sangat sulit."

"Berarti bisa, ya."

Sudah jelas bahwa dalam pertarungan sungguhan, mereka yang tanpa mantra akan lebih kuat. Fakta bahwa semua orang masih merapalkan mantra membuktikan betapa sulitnya hal itu.

Cara melakukan sihir tanpa mantra sebenarnya sangat sederhana.

Prosedur sihir biasa adalah memacu otak dengan mana, menyalin Image yang sudah terwujud ke dalam mana, lalu mewujudkan mana yang membawa kata-kata tersebut menjadi sihir di dunia nyata.

Sebaliknya, dalam kasus tanpa mantra, seseorang harus memperkuat Image di dalam otak dengan mana, lalu menyalin mana tersebut dan langsung menyesuaikannya dengan mana dasar untuk diwujudkan.

Kedengarannya mudah jika diucapkan, tapi melakukan segalanya hanya dengan Image di otak kabarnya sangatlah sulit.

Luke mengangkat jari telunjuknya agar kami bisa melihat. Dia memejamkan mata dan berkonsentrasi sejenak, lalu tiba-tiba api kecil menyala di ujung jarinya.

"Ooh! Tanpa mantra!"

"Benar, tapi aku hanya bisa melakukan ini untuk cahaya kecil saja. Bahkan untuk level ini pun, tidak banyak orang yang bisa melakukannya."

"Kalau untuk sihir serangan, sulit ya?"

"Iya, kamu harus mengumpulkan lebih banyak mana ke otak dibandingkan sihir biasa. Itu akan membebani otak secara berlebihan, jadi sulit untuk menahannya. Lagipula, kurasa tidak banyak orang yang bisa membiasakan otak mereka dengan mana sekental itu. Lalu, jika kamu memusatkan kesadaran dan mana ke otak, muncul masalah lain yaitu sulitnya mengontrol mana yang akan digunakan untuk sihir itu sendiri."

"Begitu ya…… Ternyata berat juga."

Padahal Erik di novel melakukannya seperti hal biasa. Ini pasti salah satu hak istimewa reinkarnator di novel aslinya, sama seperti latihan peningkatan mana itu.

"Yah, daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kalian berdua mulai berlatih membuat Image sihir?"

Maka, kami pun mulai mempraktikkannya. Luke menjelaskan cara menyusun Image sihir kepadaku dan Adric. Tentu saja, awalnya Adric yang diprioritaskan. Luke mendampingi Adric sepenuhnya untuk menjelaskan cara penyusunan Image.

Sambil memasang telinga mendengarkan penjelasan Luke pada Adric, aku mencoba melakukannya sendiri. Tiba-tiba Lumiera datang ke sampingku.

"Apa kamu mengerti?"

"Eh?"

"Jika kamu tidak keberatan, maukah aku ajarkan sedikit cara membuat Image-nya?"

Benar juga. Luke sedang sibuk mengajar Adric. Dia pasti merasa tidak enak padaku.

"Boleh?"

"Iya. Aku juga masih belum mahir, tapi kalau cuma cara membuat Image, aku bisa."

Diajari oleh orang yang sudah berpengalaman adalah sebuah keberuntungan. Aku menatap Lumiera.

"Kalau begitu, mohon bantuannya ya."

"Baiklah. Pertama, apakah kamu bisa merasakan mana?"

"Mana? Ya, kurasa aku bisa."

"Kalau begitu, arahkan mana itu…… Misalnya untuk sihir api, bayangkan mana itu menjadi api."

"Umm, rasanya seperti menyulut api pada mana? Atau mana itu sendiri yang berubah menjadi api?"

"Kurasa lebih baik membayangkan mana itu sendiri yang terkonversi menjadi api."

"Begitu ya…… Oke."

Sambil menatap Lumiera, aku berusaha keras membayangkan mana di otakku terkonversi menjadi api. Awalnya aku ingin membayangkan mana seperti gas, tapi sepertinya salah.

Bayangkan mana yang terkumpul langsung terbakar…… Hmm?

Entah kenapa Lumiera menatapku dengan wajah yang tampak bingung.

"Anu……"

"Iya. Ada apa?"

"Mungkin akan lebih mudah membangun Image jika kamu memejamkan mata untuk awalnya."

"Ah. Benar juga……"

Memang benar, sih. Rasanya aneh kalau membayangkan sesuatu sambil matanya terbuka. Tapi, kalau di tengah pertarungan kan tidak mungkin memejamkan mata……

Meski begitu, dasar tetaplah dasar. Aku memejamkan mata sesuai sarannya dan membayangkan api.

"Sambil membayangkan, bisakah kamu mengumpulkan mana ke arah kepala?"

"Ya……"

Aku mengontrol mana seperti yang diperintahkan untuk mengaktifkan otak. Di saat yang sama, Image yang kugambarkan di kepala menjadi jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya……

Dilihat seperti ini, perbedaannya benar-benar nyata……

"Saat mana berkumpul di kepala, tidakkah kamu merasakan perubahan pada Image-nya?"

"……Benar. Terasa lebih nyata……"

"Benar sekali. Rasanya seperti menyalin Image yang sudah jadi itu ke dalam mana……"

Begitu ya, lalu untuk penyalinannya menggunakan mantra, kan.

"Ikuti kata-kataku ya."

"Ikuti kata-kataku ya."

"Bu-bukan itu!"

Hanya bercanda sedikit. Aku mengintip Lumiera yang wajahnya memerah karena sedikit kesal melalui celah mataku. Ya, dia manis.

"Ja-jangan buka mata dulu! Jangan biarkan Image yang sudah dibuat hancur, langsung ucapkan mantranya. Lakukan dengan perasaan seolah menyematkan mana ke dalam kata-kata."

"Okee."

Setelah aku menjawab, Lumiera merapalkan mantra.

"……Wahai manaku, jadilah mana api."

"Wahai manaku, jadilah mana api."

Aku menyematkan Image di otakku ke dalam kata-kata dan mengarahkannya ke mana yang terkumpul di telapak tanganku.

Pada saat itu juga.

Puff.

Tiba-tiba telapak tanganku terasa hangat. Saat aku buru-buru membuka mata, api kecil sedang bergoyang di sana.

"Sihir…… Ini sihir."

Tentu saja ini dunia fantasi. Aku tahu sihir itu ada di mana-mana. Terlebih lagi, secara pengaturan, aku adalah karakter yang akan menjadi penyihir. Sudah sewajarnya aku bisa menggunakannya.

……Tapi.

Menyaksikan manaku sendiri berubah menjadi sihir untuk pertama kalinya membuat perasaan haru yang tak terlukiskan meluap dalam hatiku.

"Benar! Hebat sekali. Kamu bisa melakukannya di percobaan pertama……"

"Terima kasih! Lumiera. Aku bisa menggunakan sihir!"

"I-iya!"

Aku pasti terlihat sangat bersemangat sampai-sampai Adric, yang sedang berjuang keras menangkap sensasi sihir di sisi lain, ikut menoleh.

"Rad, kamu berhasil?"

"Iya! Apinya keluar!"

"Begitu ya. Sial. Aku juga tidak mau kalah!"

Setelah mengatakan itu, Adric kembali memusatkan kesadarannya pada sihir.

Melihat sosoknya, perasaanku yang menggebu-gebu mulai sedikit tenang.

"Terima kasih banyak ya."

Saat aku kembali mengucapkan terima kasih, Lumiera tersenyum malu-malu.

"Anu…… Sebenarnya, aku sendiri juga sangat berterima kasih pada Rad."

"Eh?"

Rasanya wajah Lumiera tampak sedikit memerah. Dalam hati aku merenung apakah aku baru saja melakukan kesalahan. Tapi, tidak ada yang terpikirkan.

Saat aku sedang melongo, Lumiera berusaha keras merangkai kata-kata.

"Sejak saat itu…… Kakak juga jadi sering mengucapkan terima kasih."

"Adric?"

"Iya. Lalu, para pelayan yang tadinya tidak berekspresi, perlahan-lahan mulai menunjukkan ekspresi mereka, dan entah kenapa suasana di dalam kastel terasa jadi lebih cerah…… Begitulah rasanya."

……Begitu ya. Adric yang melakukannya.

Mendengar perubahan Adric, hatiku terasa hangat dan terenyuh.

"Awalnya Ayah sedikit tidak puas dengan Kakak yang seperti itu. Tapi, aku…… tidak tahu apakah aku menyampaikannya dengan benar, tapi aku menceritakan apa yang Rad katakan kepada Ayah."

"……Eh."

Marquis…… Marquis itu orang yang sangat sulit dihadapi. Terlebih lagi, dia adalah pria yang secara paksa menghancurkan bangsawan musuh sebagai pendukung Pangeran Pertama. Jika bukan karena Erik, sudah pasti raja negeri ini akan menjadi Pangeran Pertama.

Aku sedikit cemas kalau itu akan menjadi masalah, tapi melihat wajah Lumiera, sepertinya tidak ada masalah apa-apa.

"Belakangan ini, Ibu juga mulai melakukan hal yang sama, lho."

"A-ah…… Hebat ya."

Aku merinding dalam hati melihat reaksi yang melampaui dugaanku. Padahal aku benar-benar tidak mengatakan hal yang luar biasa……

Melihat Lumiera yang bercerita dengan riang, aku pun menyadari sesuatu.

——Ini juga merupakan kekuatan Lumiera.

Di dalam novel memang muncul seorang Saint. Tentu saja dia salah satu anggota harem Erik. Tapi aku merasa Lumiera pun memiliki potensi bakat sebagai seorang Saint.

Gadis yang seperti perapian yang menghangatkan rumah keluarga Farduras yang membeku.

……Aku harus melindunginya, apa pun yang terjadi.

Aku kembali bersumpah dalam hati.

Dengan begitu, aku mulai pergi ke kastel seminggu sekali untuk belajar sihir.

"Wahai manaku, jadilah mana yang membeku……"

Meski kalimat memalukan khas chuunibyou seperti ini, kalau dilakukan bersama-sama, lama-lama aku jadi terbiasa juga tanpa sadar.

Mantra "Wahai manaku, jadilah mana [Elemen]" adalah dasar yang digunakan di wilayah ini. Struktur sihirnya adalah dengan menambah jumlah baris puisi, kekuatan sihirnya pun akan meningkat.

Wahai manaku Jadilah mana yang membeku. Dengan dua baris ini, butiran es bisa tercipta. Kebanyakan apa yang disebut sihir sehari-hari hanya menggunakan dua baris ini.

Lalu tambahkan barisnya. Wahai manaku Jadilah mana yang membeku Asahlah pedang keheningan, maka sihir itu akan menjadi sihir serangan yang disebut Ice Cutter.

Namun, ini hanyalah templat. Jika imajinasinya cocok, kata-kata yang berbeda total seperti Manaku Berevolusilah menjadi sihir es Jadilah pedang dan tebaslah musuh pun akan menghasilkan sihir yang serupa.

Lalu, bukan berarti kata-kata itu sendiri yang langsung menjadi sihir. Kata-kata hanyalah alat bantu untuk membangun Image di dalam otak, dan dasar dari sihir adalah memperkuat Image yang sudah disusun di otak dengan kata-kata yang mengandung mana.

Hari ini, aku dan Adric yang sudah mulai mahir menggunakan sihir sedang mencari tahu atribut sihir yang cocok bagi kami. Pencarian bakat dilakukan dengan mencoba mengaktifkan sihir dasar dua baris dari berbagai atribut. Atribut yang cocok akan terlihat dari kemudahan penyusunan Image dan kekuatan mananya yang menonjol.

Sebenarnya aku sudah tahu hasil atribut utamaku, tapi atribut sub yang kuat selain atribut Tanahku tidak disebutkan di dalam novel.

Karena ingin tahu soal itu, aku pun mengerjakannya dengan cukup serius.

Menurut informasi awal, pemilik atribut Tanah biasanya memiliki kecocokan yang cukup tinggi dengan elemen seperti Petir.

……Hmm? Saat aku sedang berpikir, Adric di sampingku mencoba atribut Petir.

"Wahai manaku, jadilah mana kilat."

Crackle crackle!

Jelas sekali kilatan listrik yang kuat terpancar. Tingkat kekuatannya sangat berbeda jauh dengan sihir api yang kami lakukan saat latihan selama ini. Luke yang melihatnya dan Lumiera pun terbelalak.

"Ooh, Tuan Adric. Ternyata Petir. Ini sudah tidak diragukan lagi."

"Kakak! Hebat sekali!"

"Wah, Adric. Petir ya? Keren sekali!"

Yah, aku sudah tahu sih, tapi bereaksi kaget adalah pilihan yang tepat. Di dunia ini, penyihir yang mahir sihir api adalah yang paling banyak, diikuti air, lalu tanah. Sedangkan penyihir yang mahir sihir es atau petir sebagai keahlian utama mereka jumlahnya tergolong sedikit.

Oleh karena itu, mereka cukup diunggulkan sebagai penyihir langka.

Karena aku juga mengincar sihir petir sebagai atribut sub, melihat ini tentu saja membuatku iri.

"Wahai manaku, jadilah mana kilat."

Zap……

Hmm. Sepertinya bisa digunakan sedikit, tapi memang terasa payah jika dibandingkan milik Adric.

"Apa bakat Rad sudah ketahuan?"

"Mungkin, yang ini."

Sambil berkata begitu, aku menunjukkan sihir tanah.

"Wahai manaku, jadilah mana batu cadas."

……Lalu sebuah batu tercipta di atas tanganku.

"Atribut Tanah ya……"

"Iya, kalau sihir serangan mungkin seperti Stone Bullet."

"Benar juga. Begitu ya, Tanah……"

Memang benar dugaanku. Adric pun menunjukkan gelagat sedikit kecewa. Padahal dia tadi mengatakannya dua kali.

Kemungkinan besar, Adric sudah membayangkan kami akan membentuk party bersama. Bukannya atribut Tanah itu lemah, tapi karena sihir Tanah pada dasarnya berhubungan dengan melempar batu, maka itu terhitung serangan fisik. Meski praktis karena bisa menciptakan benda padat, ada kecenderungan orang mencari serangan selain fisik dari seorang penyihir.

Bisa dibilang, serangannya tidak berbeda dengan lemparan batu biasa.

Itulah alasan mengapa atribut Tanah saat ini tidak populer, tapi pikiranku sedikit berbeda.

Soalnya, atribut Tanah itu punya tingkat kebebasan yang terlalu tinggi. Jangkauannya pun luas. Ada tanah, ada batu, bahkan logam pun di dunia ini diperlakukan sebagai sihir atribut Tanah. Karena itu, aku menduga di dalam atribut Tanah pun masih ada pembagian atribut yang lebih mendetail.

Jika dipikirkan seperti itu, wajar saja jika penyihir yang benar-benar bisa menguasai atribut Tanah menjadi sedikit karena atributnya tidak pas secara mendetail.

Penyihir yang ikut dalam perburuan Little Boar tempo hari pun menciptakan rantai dengan atribut Tanah. Bisa menciptakan rantai selevel itu untuk melumpuhkan Red Boar menurutku adalah keahlian yang sangat hebat, tapi aku menduga kekuatan Stone Bullet-nya pasti akan turun.

Pasalnya, Radcliff di dalam novel, meski menjadi penanggung jawab sihir di party Adric, kekuatan Stone Bullet-nya tidak seberapa. Namun, aku ingat pertahanannya sangat kuat saat dia menggunakan Iron Shield ketika bertarung melawan Erik dan kawan-kawan.

Mungkin penulis ingin memberikan kesan bahwa karakter figuran antagonis hanya mahir dalam melarikan diri atau bertahan, tapi……

Pasti aku lebih cocok ke arah tipe logam di dalam atribut Tanah.

Latihan sihir hari ini pun berakhir.

Adric tampak sangat senang karena atributnya ternyata sihir petir. Dia mengobrol seru mengenai sihir petir bersama Lumiera dan Luke.

…….

Aku diam-diam mengangkat tanganku ke depan dada.

"Wahai manaku, jadilah mana baja……"

……Ya, tidak salah lagi.

Atribut Tanah memang tetap atribut Tanah, itu terlihat dari ukuran batu yang bisa kubuat. Namun, berat yang terasa mantap di telapak tanganku saat ini bukan dari batu biasa.

Sesuai dugaanku, sihir Logam adalah atribut asliku yang sebenarnya.

Mungkin bukan yang terkuat, tapi bagi aku yang datang dari Jepang modern, kurasa atribut logam punya kecocokan yang sangat baik.

Bagaimanapun juga, aku datang dari masyarakat yang memiliki benda-benda seperti senjata api.

Aku pun tersenyum kecil di dalam hati.

Setelah latihan selesai, seperti saat latihan pedang, kami menyantap makanan di teras yang biasa.

Saat sampai di kursi teras, Seva yang tadinya melatih pedang sudah datang lebih dulu. Aku baru menyadari bahwa alasan Lumiera bergabung di waktu istirahat saat kami latihan pedang dulu adalah karena waktu latihan sihir Lumiera memang berbarengan dengan jam tersebut.

Adric tampaknya hanya berlatih sihir seminggu sekali. Di hari-hari biasa, dia melakukan latihan khusus bersama Seva di lapangan latihan pedang.

Aku sendiri datang ke kastel menyesuaikan dengan jadwal latihan sihir Adric tersebut.

Seva tidak memiliki bakat sihir. Karena itulah, hanya dia satu-satunya yang tidak berpartisipasi dalam latihan sihir, dan dia tampak sedikit kesepian.

Yah, Seva adalah tipe orang yang sudah puas asal bisa melatih otot. Kurasa dia hampir tidak peduli soal fakta bahwa dirinya tidak bisa menggunakan sihir.

Hanya saja, menurutku bagian yang membuat Seva merasa kesal adalah fakta bahwa kami berlatih sihir bersama Lumiera.

Meski begitu, kami tetap bisa makan bersama seperti ini setelah latihan. Lagipula, mereka pasti tetap makan bersama di hari-hari biasa saat aku tidak datang.

……Tapi, kenapa juga aku harus merasa bersaing dengan Seva?

Terlepas dari itu, Seva sedang bercerita dengan sangat antusias mengenai perburuan Little Boar tempo hari.

Di sela cerita itu, Lumiera tampak iri mendengar kisah kami yang pergi jauh menunggang kuda dan menginap semalam di dalam tenda di tengah gunung.

Sama sepertiku, sepertinya Adric dan Lumiera sering pergi ke gereja di kota, namun mereka jarang bisa keluar wilayah dengan bebas. Di dunia ini ada monster, bahkan ada juga bandit.

Kastel itu sendiri berada di dalam Kota Falcrest, jadi area pergerakan mereka terbatas hanya di dalam tembok kota.

"Heh, jadi Lumiera belum pernah keluar dari kota?"

"P-pernah, sih…… Tapi itu saat aku masih sangat kecil."

Katanya, dia pernah dibawa ke rumah keluarga ibunya sesaat setelah lahir untuk bertemu kakek dan nenek dari pihak ibu.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan bangsawan ternyata cukup kaku dan mengekang juga ya.

"Ta-tapi lusa depan, aku akan ikut pergi ke rumah keluarga Ibu."

"Heh, Adric tidak ikut?"

Saat aku bertanya, Adric yang menjawab.

"Ya, tepat di waktu yang sama akan ada pesta yang diadakan oleh Raja di Ibukota. Aku dan Ayah dijadwalkan untuk pergi ke sana."

"Ooh, Ibukota. Enak ya."

Yah, aku, Adric, maupun Seva toh akan masuk ke Akademi Kerajaan, jadi beberapa tahun lagi kami juga akan pergi ke Ibukota.

Namun, pesta yang diadakan Raja, ya? Skalanya pasti jauh lebih besar daripada pesta Tempor Solis tempo hari.

Aku iri. Pasti suasananya jauh lebih megah daripada yang kubayangkan.

Sambil memikirkan hal itu, aku bertanya kepada Lumiera.

"Heh, jadi di mana rumah keluarga Ibumu?"

"Di daerah Chippolini. Kamu tahu tempatnya?"

Deg.

"A-ah…… Umm, Italca?"

"Ah! Italca itu tetangganya. Kamu tahu banyak ya. Rumah keluarga Ibu ada di Pireno."

"Oh……"

Deg.

"Rad? Ada apa?"

"Eh? Tidak. ……Bukan apa-apa."

—Jadi di sini.

Begitu rupanya. Kepingan-kepingan di dalam kepalaku mulai saling terhubung.

—Apa yang harus kulakukan……?

Persiapanku sendiri masih belum matang.

Aku mulai merasa panik.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close