NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 8

Chapter 8

Selamatkan Lumiera


Sudah kupikirkan masak-masak, dan akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan surat. Lebih baik dimarahi setelah kejadian daripada dihentikan sebelum berangkat. Begitulah logikaku.

Kutaruh surat itu di atas meja kamar ayahku, lalu aku segera menuju kandang kuda. Para pemburu bayaran kabarnya sudah berkumpul di Guild Petualang kota.

Saat kami keluar dari mansion, seekor kuda berlari kencang ke arah kami. Kuda itu berhenti mendadak begitu melihat sosok kami. Sepertinya Scott mengenali penunggangnya.

"Hmm? Ada apa, Felt? Bukannya kita harus kumpul di Guild?"

"Gawat, paman. Ada kabar kalau kereta kuda Istri Marquis sudah berangkat empat hari yang lalu. Kalian yakin mau tetap pergi?"

"……Hah?"

Apa? Empat hari yang lalu? Bagaimana mungkin?

"Oi, Rad. Apa maksudnya ini?"

"Eh? Ti-tidak tahu. Bukannya Adric dan yang lain baru berangkat hari ini……"

Melihat kebingunganku, petualang muda bernama Felt itu menjawab.

"Memang rombongan Marquis berangkat hari ini, tapi aku dengar kereta Istri Marquis sudah jalan duluan empat hari lalu."

"Bohong…… Ini gawat. Tapi, mereka pakai kereta kuda, kan? Kalau kita pakai kuda, harusnya masih bisa terkejar?"

"Jangan tanya aku, mana aku tahu. Tujuannya Gunung Riul, kan…… Yah, tergantung situasi juga sih."

"Ti-tidak mungkin……"

"Pokoknya kita ke Guild dulu."

Di perjalanan, Scott memperkenalkanku pada Felt. Scott bilang dengan nada agak tertekan kalau dia adalah keponakannya, Felt Morgan.

Mendapatkan dua orang Morgan di saat seperti ini benar-benar bantuan besar. Mungkin Scott memanggilnya karena merasa misi ini berbahaya.

Tapi, saat ini perasaanku terlalu kacau untuk bisa merasa senang.

Para pemburu bayaran yang menunggu di Guild benar-benar terlihat seperti berandal kasar.

"Hah? Berangkat empat hari lalu? Itu sih artinya kita harus memacu kuda gila-gilaan kalau mau sampai tepat waktu."

"Benar. Karena itu ayo segera berangkat."

"Aku mundur. Ogah aku harus lari semalaman terus langsung bertarung melawan kelompok itu. Gila apa."

"Yah, aku juga mundur."

"Ta-tapi, lebih baik kalau banyak orang……"

"Itu kata-kata yang pantas diucapkan oleh orang yang tidak salah jadwal keberangkatan."

"Ugh……"

Kalau sudah dikatakan begitu, aku tidak bisa membalas apa pun. Aku hanya bisa terdiam melihat para pemburu bayaran itu pergi satu per satu.

"Fiuh…… Segitu inginnya kamu menyelamatkan dia, ya?"

"……Eh?"

Kira seluruh pemburu bayaran sudah pergi, tapi ada tiga orang pria yang tampak seperti satu kelompok sedang menatapku dengan wajah ragu.

"I-iya. Lumiera adalah teman kami."

"Lumiera-sama? Aku dengar beliau orang yang sangat baik, seperti orang suci……"

"Be-benar! Dia benar-benar anak yang baik!"

Melihat wajahku yang putus asa, pria yang sepertinya pemimpin mereka menghela napas sambil bergumam.

"Yah, mau bagaimana lagi. Jumlah kita berkurang, jadi kalau situasinya gawat, kami akan lari, ya?"

"Eh? Kalian mau ikut?"

"Aku bilang, kalau gawat kami akan lari. Paham?"

"I-iya."

Akhirnya jumlah personil berkurang drastis dari rencana awal, tapi setidaknya tiga orang itu mau ikut. Lawan kami adalah penyamun gunung. Aku butuh bantuan sebanyak mungkin. Aku pun membungkuk dalam-dalam dengan perasaan sangat bersyukur.

Namun, mereka hanya melambaikan tangan dan bilang, "Ini cuma bisnis," agar aku tidak merasa sungkan. Mereka orang-orang yang sangat baik.

Kami langsung bergegas menuju rumah Seva. Rencananya aku ingin Seva membantu menyusun alibi. Setidaknya aku harus membohongi orang tuaku sampai aku kembali.

"Ogah, aku ikut!"

"Eh? Tidak, tidak. Bukan begitu maksudku."

"Lumiera dalam bahaya, kan?"

"I-iya, tapi…… Tidak apa-apa, aku bisa urus!"

"Aku ikut. Tunggu sebentar, aku ambil perlengkapan pelindung dulu."

"Ta-tapi perjalanannya bisa memakan waktu seminggu……"

"Aku tetap ikut!"

"O-oke……"

Aku gagal. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin Seva yang berotot otak itu mau tinggal diam setelah mendengar kabar ini. Sial. Sekarang aku tidak punya waktu untuk berdebat dengannya.

……Terpaksa kubawa juga.

Aku meminta Felt untuk membonceng Seva di kudanya.

Dan akhirnya, kami bertujuh berangkat meninggalkan kota untuk mengejar Lumiera.

Berdasarkan simulasi awal, rombongan Lumiera harusnya sampai di kaki Gunung Riul dalam sepuluh hari perjalanan. Karena mereka sudah jalan empat hari, berarti sisa enam hari lagi. Kami harus menyusul sebelum itu.

Biasanya kecepatan kuda bisa dua kali lipat kereta kuda. Untuk stamina kuda, di dunia ini ada pakan yang berefek seperti obat pemulih, jadi kuda bisa dipacu lari seharian penuh.

Tapi, masalahnya adalah manusia yang menungganginya.

Obat pemulih untuk manusia sangat mahal, setara dengan Potion, dan biasanya digunakan untuk menyembuhkan luka. Aku tidak menyiapkan hal semacam itu dalam jumlah banyak.

Kata-kata pemburu bayaran yang pergi tadi memang benar. Bertarung melawan penyamun dalam kondisi stamina terkuras habis karena perjalanan adalah risiko yang terlalu besar.

Sambil terus memacu kuda, aku berdiskusi dengan Scott mengenai batas kemampuan kami.

Malam itu, di tengah persiapan kemah, aku menyapa Seva.

"Seva, kamu tidak apa-apa?"

"Hah? Tidak masalah. Kita harus buru-buru, kan? Cuma segini sih enteng."

"Begitu ya. Ah, benar juga, tolong minum ini."

"Hmm? Apa ini?"

Di samping Scott dan yang lain yang sedang menyiapkan kemah, aku merebus air dan menyeduh teh. Aku tidak tahu cara menyeduh yang benar, jadi hanya merebus daun teh begitu saja…… Seva meminumnya sampai habis meski bilang rasanya tidak terlalu enak.

"Aku cuma berpikir kamu mungkin ingin minum sesuatu yang hangat."

"Oh, benar juga. Rasanya lumayan."

Meskipun makanannya hanya ransum kering yang hambar, teh hangat ini sepertinya bisa sedikit menenangkan perasaan. Saat aku menyuguhkan teh ke Scott dan yang lain, mereka semua tampak senang.

Malam itu kami menyerahkan tugas jaga malam kepada para orang dewasa, sementara kami beristirahat dengan sungguh-sungguh.

Hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi, kami terus memacu kuda di jalanan. Sambil mengecek informasi di desa-desa yang kami lalui, aku merasa jarak kami dengan rombongan Lumiera semakin dekat.

Paka-pak. Paka-pak. Paka-pak. Paka-pak.

Suara derap langkah kuda yang teratur terus bergema. Hari ini adalah hari keenam. Kalau tidak segera menyusul, situasinya akan sangat berbahaya. Kegelisahanku memuncak, tapi aku menahannya dan terus menatap lurus ke depan.

Wilayah ini sedikit lebih rendah elevasinya dibanding wilayah Farduras. Namun, karena kami bergerak ke arah utara, iklimnya mungkin tidak jauh berbeda.

Jalan raya ini membentang menghubungkan dataran rendah di antara pegunungan. Ada bagian yang menyisir sungai besar, tapi sekarang jalanan ini diapit oleh perbukitan rendah di kedua sisinya.

"Apa ada yang tahu yang mana Gunung Riul?"

"Tidak, aku tidak tahu sampai sedetail itu."

"Begitu ya. Apa gunungnya sangat tinggi?"

"Kurasa tidak. Itu gunung tempat para petani kabur dan menetap. Mungkin di kaki gunung atau semacam itu?"

"Begitu ya……"

……Hmm?

"Turunkan kecepatan!"

Begitu aku memanggil Scott, kuda-kuda mulai melambat. Di pinggir jalan ada area yang agak terbuka, dan di sana terdapat bekas api unggun yang masih baru.

"Scott, itu……"

"Ya, kelihatannya masih baru. Ada bekas roda kereta juga. Kita hampir menyusul mereka."

Saat kuda kembali dipercepat, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada jejak kaki tersebut.

"Scott…… Tapi, jejak kaki kudanya bukannya terlalu banyak?"

"Hmm? ……Benar, jejaknya bercampur."

Firasat buruk menghantuiku.

"Scott, cepat!"

"O-oke!"

Tepat saat itu. Dari arah hutan di depan, terdengar suara ledakan "Dooom!" yang menggetarkan tanah.

"Apa…… Sihir?"

"Suara tadi itu sihir?"

"Entahlah…… Apa mereka membawa Ex-Magia sebagai pengawal?"

"Mana aku tahu!"

Sial. Pertempuran sudah dimulai. Sihir siapa itu?

Ini pengawalan Istri Marquis, tidak heran jika bukan hanya Ex-Guard, tapi Ex-Magia juga ikut serta. Baru saja aku berpikir begitu, suara ledakan yang lebih besar kembali menggema……

──Adu sihir?

Entahlah. Tapi yang pasti, situasinya sangat berbahaya. Aku segera berteriak ke arah Felt yang mengikuti di belakang.

"Felt! Tolong jaga Seva!"

"……Kamu yakin?"

Aku tahu maksud Felt. Mengapa harus menggunakan petarung sehebat Felt hanya untuk menjaga Seva?

 Bagiku, Lumiera itu penting, tapi Seva juga teman yang sangat berharga.

Mendengar kata-kataku, Seva menunjukkan raut wajah tidak puas.

"Oi, Rad! Apa yang kamu pikirkan!"

"Seva, diamlah. Para penyihir mungkin sedang bertarung di sana."

"Hah?"

Mendengar kata-kataku, wajah tiga orang di belakang kami langsung berubah pucat.

Hmm? Begitu ya. Kalau begitu……

"Felt, serahkan Seva ke Domane dan yang lain!"

"Setuju……"

"O-oi!"

Aku tidak menerima protes dari Seva kali ini.

Trio itu…… Domane, Modon, dan Edmon. Selama perjalanan, aku merasa mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Tapi sebagai petualang, mereka hanya peringkat C.

Mereka berdalih tidak bisa naik ke peringkat B karena tidak bisa menulis, tapi sepertinya peringkat C memang batas kemampuan mereka.

Jelas Felt sendirian jauh lebih kuat daripada mereka bertiga digabung.

Sejujurnya, kalau ada penyihir lawan, trio ini akan kesulitan. Prajurit yang tidak bisa sihir pun punya trik tersendiri untuk melawan penyihir. Itu adalah teknik yang sangat menentukan perbedaan kemampuan saat menghadapi monster sebagai petualang.

Dengan kata lain, ada jurang perbedaan kemampuan adaptasi terhadap sihir antara petualang peringkat B dan peringkat C.

"Kalian bertiga, tolong jaga Seva! Pantau situasi dari pinggiran!"

"Lalu Tuan Muda bagaimana!"

"Aku bisa pakai sihir! Aku akan ikut bertarung!"

"Bocah bicara apa kamu! Tidak mungkin. Kamu ikut kami saja──"

"Cepat!"

Tanpa sadar aku memasukkan mana ke dalam suaraku. Hanya dengan itu, kata-kataku tersampaikan dengan sangat kuat kepada Domane dan kawan-kawan.

Mendengar itu, Domane menyerah dan mulai memperlambat kudanya. Seva berteriak marah dalam dekapan Domane…… tapi aku terus menatap lurus ke depan.

"Ayo maju sekaligus!"

"Sialan, lawan penyihir ya. Bayarannya harus mahal!"

"Kalau kita menyelamatkan Istri Marquis, hadiahnya pasti luar biasa!"

"Hahaha. Lagi-lagi mengandalkan keberuntungan, ya!"

Scott sepertinya sudah membulatkan tekad. Dia menghentakkan sanggurdi. Di saat yang sama, kuda kami melesat semakin kencang.

Membelah angin, dua ekor kuda memacu kencang di jalan raya.

Sudah pasti Lumiera sedang diserang. Di sepanjang jalan, mayat-mayat yang terlihat seperti penyamun bergelimpangan.

Saat aku merasa lega karena tidak melihat sosok pengawal di antara mayat-mayat itu, aku melihat seorang pria dengan zirah mewah terkapar, di sampingnya seekor kuda dengan kaki patah sedang sekarat.

──Apa yang harus kulakukan?

Untungnya, pria itu sepertinya masih selamat. Mendengar suara derap kuda kami, dia mencoba bangkit dan menghunus pedang. Melihat itu, aku berdiri di atas kuda di depan Scott.

"Aku Radcliffe Prosper, pengikut keluarga Farduras. Apakah Lumiera-sama selamat!"

Suara yang bermuatan mana itu terdengar jelas di telinga sang prajurit. Dia membelalakkan mata dan menunjuk ke ujung jalan.

"Felt, bisa angkut dia?"

"Pria dewasa ya…… Yah, bisalah."

Aku mengangguk pada Felt lalu kembali berseru pada prajurit itu.

"Kalau kamu masih bisa bertarung, lompatlah ke kuda di belakang!"

Itu sudah cukup. Felt sedikit melambat, dan pria itu melompat ke atas kudanya.

"Radcliffe-sama, mengapa Anda bisa di sini……"

"Aku dengar daerah ini sedang bahaya, jadi aku mengkhawatirkan Lumiera."

"Terima kasih banyak!"

Prajurit itu sepertinya terluka di bahu karena jatuh dari kuda, tapi tangan utamanya masih bisa bergerak. Daripada tidak bisa melakukan apa pun, dia pasti lebih senang diterjunkan ke medan tempur. Aku memutuskan hal itu secara sepihak.

Di depan sana, aku bisa melihat kepulan asap di ujung jalan.

"Lumiera……"

Aku mengepalkan tinjuku erat-erat.

Tak lama kemudian, pemandangan di depan benar-benar kacau.

Mungkin karena serangan sihir, kereta kuda yang rodanya lepas dan tidak bisa bergerak itu sedang diserbu oleh para penyamun.

Setidaknya, masih ada harapan karena cahaya dari sihir Lumiera terpancar dari dalam kereta.

"Scott, Lumiera masih berjuang…… Hmm? Scott?"

Melihat Scott yang terdiam, aku menyadari wajahnya tampak tegang saat menatap seorang pria yang berdiri di belakang para penyamun.

"Sial, situasi terburuk……"

"Eh?"

Felt menyambung gumaman Scott.

"Itu kan Cerbelo…… Kenapa orang semacam dia ada di sini."

Cerbelo? Mungkin maksudnya pria yang terlihat seperti penyihir itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya, tapi sekarang bukan waktunya untuk bertanya.

Aku berdiri di atas punggung kuda yang sedang berlari, mendekati kereta sambil menghimpun mana.

Cerbelo menghadap ke arah kereta dan mengangkat tongkatnya. Aliran mananya menunjukkan dia sudah siap melepaskan sihir. Mana terkumpul di kepala dan mulutnya.

Sial. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Wahai manaku…… jadilah mana peluru timah……"

Pria bernama Cerbelo itu tiba-tiba melirik ke arahku. Apa dia menyadari rapalan mantraku? Cerbelo menghentikan rapalannya dan menoleh ke arahku.

Dia memang terlihat berbahaya. Saat mata kami bertemu, rasa dingin menjalar di punggungku. Tapi rapalan mantraku hampir selesai. Aku segera menyempurnakan sihirku.

"Tembak!"

Aku menembakkan Mana Bullet langsung ke arah penyihir itu.

……Di saat yang bersamaan.

Cerbelo yang tadi membatalkan sihirnya kembali menunjukkan pergerakan mana.

──Sudah terlambat!

Sihirku bisa dibilang seperti tembakan pistol. Di saat ditembakkan, peluru itu langsung mengenai lawan. Aku merasa sudah menang saat melepaskannya, tapi……

"Apa……"

Tiba-tiba bongkahan batu muncul di depan sang penyihir. Peluruku menghantam bongkahan batu itu dan terpental. Aku terperangah melihat kecepatan aktivasinya.

Scott berbisik di dekat telingaku.

"Tidak salah lagi. Dia Cerbelo. 'The Grill'…… Begitu dia dipanggil."

"Umm…… Se-sepertinya dia berbahaya ya."

"The Grill". Nama itu ada dalam ingatan samar-samarku.

Benar, dia adalah penyihir yang ada dalam kelompok penyamun yang datang ke wilayah Stoltz bersama Basso. Dia dikalahkan oleh Eric, tapi dia adalah penyihir yang cukup merepotkan Eric dan kawan-kawan di dalam novel. Melihat reaksi Scott, tidak salah lagi.

Keringat dingin mengalir di punggungku…… Apa aku yang sekarang bisa menghadapinya?

"……Mau lari?"

"Tidak…… Terus maju."

"Dimengerti."

Aku tidak bisa lari hanya karena lawan terlihat berbahaya. Di cerita aslinya, Lumiera dan seluruh pengawalnya tewas. Aku sudah tahu kalau akan ada musuh yang kuat.

Dari rangkaian gerakan tadi, aku paham satu hal. Dalam pertarungan antar penyihir, penguatan penglihatan sangatlah krusial. Karena karakteristik sihir di dunia ini, meski tidak bisa mendengar rapalan mantra, aku bisa memprediksi sihir lawan sampai batas tertentu melalui aliran mananya.

Aku meminta Scott menurunkanku sedikit jauh dari lokasi. Adu sihir dengan posisi membelakangi kereta kuda itu berbahaya. Sepertinya Cerbelo menjadikan aku yang sesama penyihir sebagai target. Itu justru menguntungkan karena dia tidak akan menyerang kuda atau Scott secara langsung.

Sebenarnya aku ingin memberitahu Lumiera kalau aku datang untuk memberinya semangat…… tapi di depan pria ini, aku tidak punya waktu luang untuk itu.

"Bocah, apa urusanmu di tempat seperti ini?"

"……"

Sambil bicara, mana bergejolak di tubuh Cerbelo. Sepertinya dia penyihir yang cukup ternama. Berbeda denganku yang harus menarik mana dari kantong mana setiap kali akan menggunakan sihir.

……Begitu ya.

Sambil memperhatikannya, aku juga mengalirkan mana dari kantong mana ke seluruh tubuh, mengatur agar aku bisa menembakkan sihir secepat mungkin. Cerbelo juga mengamatiku dengan saksama. Aku mungkin ketahuan menirunya, tapi aku tidak peduli.

"Wahai manaku, jadilah mana batu karang, dan tembuslah musuh."

Sambil mendadak berlari, aku menembakkan Stone Bullet.

"Wahai mana batu……"

Sebaliknya, rapalan Cerbelo hanya satu baris. Dalam sekejap, batu yang sama seperti sebelumnya tercipta di depannya dan menangkis Stone Bullet milikku.

Aku terperangah. Hanya satu baris! Aku terus berlari sambil kebingungan mencari alasannya. Dari semua sihir yang kupelajari, tidak pernah ada sihir satu baris.

"Ke-kenapa……"

"Kenapa? He-he-he. Terlalu dini untuk bocah sepertimu, ya?"

Seolah mendengar gumamanku, Cerbelo tertawa meremehkan. Sial.

Saat aku melirik ke arah kereta kuda, situasinya terlihat parah. Di sekitarnya banyak mayat yang hangus terbakar…… Sepertinya penyihir Ex-Magia sudah tewas. Tapi dari cahaya sihir suci itu, aku tahu Lumiera masih hidup.

Dan musuhnya bukan hanya Cerbelo. Banyak penyamun menyerang dari segala arah. Mungkin penyihirnya hanya Cerbelo, tapi sepertinya ada pendekar pedang yang ahli juga di sana.

Kuserahkan bagian itu pada prajurit pengawal dan Scott, sementara aku fokus pada Cerbelo. Lagipula, kalau tidak fokus, aku tidak akan bisa bertahan.

Tidak apa-apa. Selama aku bisa menahan orang ini…… Para pengawal masih bisa bertahan. Ini pasti berkat sihir Lumiera. Meski begitu, mana Lumiera ada batasnya. Aku harus cepat.

Scott, Felt, dan ksatria yang kami jemput tadi sudah terjun ke tengah pertempuran yang kacau.

Saat aku hendak merapal sihir lagi, kali ini Cerbelo bergerak duluan.

"Wahai mana api, bakarlah dia."

Sial, benar-benar ganas. Kali ini Cerbelo menembakkan Fireball dengan mantra dua baris. Dan ukurannya besar! Aku terpaksa berlari ke samping sekuat tenaga untuk menghindar. Meski menghindar, hawa panas yang menyambar di dekatku benar-benar meneror mental.

Aku tidak tahu bagaimana mekanismenya, tapi bertarung melawan musuh yang rapalannya lebih pendek satu baris itu sangat menyulitkan. Sambil bertarung, aku kembali menyadari betapa mengejutkannya kemampuan No-Cast yang ditunjukkan Eric.

Meski begitu, aku hanya bisa melakukan apa yang aku bisa sekarang…… Aku mengatupkan gigi rapat-rapat, mengalirkan mana ke kaki, dan sambil menghindari sihir Cerbelo, aku menyusun rapalan mantra sekuat tenaga.

"Wahai manaku, jadilah mana batu karang, dan tembuslah musuh."

Instingku bilang jangan dulu mengeluarkan kartu as. Sihir lawan bukan hanya menyerang dengan dua baris, tapi pertahanannya pun cukup dengan satu baris.

Rasa tidak adilnya benar-benar luar biasa.

Aku masih bisa menyerang hanya karena aku punya kelincahan kaki. Aku tidak menggunakan sihir pertahanan, melainkan menghindar dengan kaki dan menggunakan seluruh mana untuk menyerang. Hanya itu cara agar aku bisa bertahan.

"……Mana sihir cepat yang tadi?"

"……"

Ternyata dia mengincar sihir itu, ya.

Tentu dia penasaran. Sihir pistol yang kutunjukkan pertama kali tadi punya kecepatan yang jauh berbeda dibanding Stone Bullet yang kutembakkan berkali-kali ini.

Wajar jika Cerbelo waspada.

Aku tidak menjawab pertanyaannya yang memancing itu dan terus menembakkan Stone Bullet. Selama itu juga, aku berusaha keras mencari tahu rahasia sihir ringkas milik Cerbelo.

"Sepertinya sihir empat baris tadi memang butuh persiapan lama di atas kuda, ya."

Cerbelo sepertinya menyimpulkan bahwa sihir pistolku adalah sihir setara empat baris yang kubangun pelan-pelan di atas kuda tadi.

"Yah, sudahlah. Sudah cukup main-mainnya, kan?"

Ekspresi Cerbelo mendingin.

……Sesuatu yang besar akan datang.

Aku bisa merasakannya.

……Mungkin, rapalannya akan bertambah satu baris lagi. Itu pasti sihir setara empat baris. Aku memutuskan untuk membalas sihir Cerbelo dengan sihir pistolku sebagai serangan balik (Counter).

Aku menghentikan langkah, memfokuskan seluruh kesadaran ke arah Cerbelo.

Tepat saat itu.

"Rad! Kamu ini! Jangan bercanda ya!"

"Glek! Jangan ke sini, Seva!"

Seva yang seharusnya kutinggalkan di belakang, berlari ke arahku dengan wajah merah padam karena marah.

"Wahai mana neraka api……"

Cerbelo sudah mulai merapal mantra. Sial. Kalau begini Seva akan ikut kena. Terlebih lagi, niat membunuh Cerbelo jelas sudah berpindah dari aku ke Seva.

"Jadilah bola Hell Fire……"

Brengsek. Curang sekali…… Dia tahu kalau aku tidak bisa membiarkan Seva. Senyum kepuasan muncul di wajah Cerbelo.

Tidak ada pilihan selain menahannya. Kulihat Seva memegang Shield dengan erat di tangan kirinya. Bagus. Perisai itu mengandung mithril. Meski kandungannya tidak terlalu tinggi, itu adalah perisai dengan segel emas keluarga Prosper yang asli.

"Beraninya kamu menganggapku bocah──"

"Seva! Perisai! Ada sihir datang!"

"Hah?"

Seva yang tadi kehilangan akal karena marah akhirnya menyadari keberadaan Cerbelo.

Di saat yang sama, sihir Cerbelo selesai.

"Bakar semuanya sampai tak bersisa!"

Hawa panas yang berbeda dari sebelumnya meledak dari tongkat Cerbelo.

"Uwooooh. Serius?!"

Ini bukan sekadar Fireball biasa. Ini adalah bola api raksasa yang dikelilingi pusaran mana hitam yang mengerikan. Seva yang panik segera menjulurkan perisainya ke depan.

Di mataku yang sudah mengumpulkan mana, terlihat perbedaan kekuatan mana yang sangat jauh.

"Seva! Jangan cuma pasang kuda-kuda! Alirkan mana lebih banyak!"

Aku berteriak, tapi mana Seva belum sebesar itu. Kendali mananya juga masih terasa kaku.

Sial. Ini tidak akan cukup. Aku segera berlari dan memeluk Seva dari belakang, menumpangkan tanganku di atas tangan Seva yang memegang perisai.

"Hiaaaah!"

Aku sudah tidak peduli lagi. Mana yang tadinya kusimpan untuk sihir pistol, kualirkan sekaligus ke arah perisai dengan teknik Fa Jin. Semua tergantung pada seberapa kuat perisai yang diberikan ayah kepada Seva.

Fooooooon!

Perisai yang dialiri manaku dalam jumlah besar itu menerimanya dengan pasti. Seketika perisai itu bersinar redup dan membentuk lapisan mana di permukaannya. Tepat waktu.

Di saat itulah, bola api Cerbelo menghantam dengan raungan keras.

Gooooooooon!

Sihir yang menghantam itu kehilangan momentum majunya dan meledak di tempat. Perisai yang menahannya berderit seolah-olah akan patah ke dalam.

Efek ledakannya seharusnya menyebar ke sekeliling, tapi lapisan mana yang menyelimuti perisai melebar seperti kanopi dan mengalihkan sisa ledakan itu ke samping.

Setelah kontak singkat itu, perisai tersebut berhasil melindungi kami dengan sempurna.

……Seva?

Seva yang memegang perisai jatuh tersungkur begitu saja. Sejenak kesadaranku teralih padanya, tapi sekarang... ini adalah giliran menyerang. Segera kutajamkan fokusku kembali pada Cerbelo.

Hanya ini satu-satunya kesempatan.

Aku melangkah maju sambil merapal mantra. Aku tidak boleh membiarkan Seva ikut terjebak dalam jangkauan sihir ini.

"Wahai manaku... jadilah mana bagi butiran bola besi yang tak terhitung jumlahnya..."

Setelah mengonsumsi mana dalam jumlah besar untuk teknik Fa Jin tadi, aku bisa merasakan dasar dari kolam manaku. Aku harus berhasil dalam satu serangan ini.

Sambil menghirup mana dari atmosfer, aku memosisikan kedua tanganku membentuk lingkaran seolah sedang melakukan teknik Zhan Zhuang, dengan ujung jari yang hampir bersentuhan.

Punggung tanganku kuhadapkan ke arah Cerbelo berada. Di sekelilingnya, kulihat beberapa penyamun yang bereaksi terhadap gerakan Seva mulai berlari merangsek ke arahku.

Aku memastikan sekali lagi bahwa dalam sudut serangan ini, tidak ada kawan seperti ksatria pengawal yang akan terkena.

"Bocah sialan..."

Pandangan Cerbelo sempat tertutup sesaat oleh debu akibat ledakan tadi, membuatnya terlambat menyadari sihirku. Entah karena kesal sihir kebanggaannya gagal total, dia merapal mantra pertahanan dengan ekspresi tidak senang, persis seperti sebelumnya.

"Mau mencoba berapa kali pun hasilnya akan sama..."

Kewaspadaan Cerbelo yang mengendur itu adalah situasi yang sengaja kuciptakan dengan susah payah. Tanpa sadar, sudut bibirku menyeringai tipis.

◇◇◇

Saat memikirkan cara menghadapi musuh dalam jumlah banyak sekaligus, yang pertama terlintas di benakku adalah senapan mesin seperti Machine Gun. Namun, seperti yang sudah kukatakan berkali-kali, itu sulit karena akan menguras mana dalam jumlah besar secara terus-menerus. Karena itulah aku memikirkan senapan sebar atau Shotgun.

Masalahnya, jika aku menembak dengan imajinasi Shotgun, sudut penyebarannya cenderung sempit dan hanya menyerang satu orang secara merata. Paling maksimal hanya bisa mengenai dua orang yang berdiri berdampingan. Jika begitu, lebih baik aku menembakkan sihir pistol berkali-kali.

Di tengah kebingungan itu, aku terus memeras otak mencari ide lain.

Imajinasi sihir akan lebih mudah berhasil jika bentuknya sederhana. Sesuatu yang lebih simpel, namun dengan jangkauan serangan yang lebih luas... Aku merenungkannya selama berhari-hari.

Lalu, terpikir olehku bahwa senjatanya tidak harus berupa senjata api genggam.

"M18 Claymore Antipersonnel Mine"

Dengan Efek Misznay-Schardin, ledakan yang diarahkan ke depan akan melontarkan 700 butir bola baja ke arah musuh. Karena saking ganasnya sebagai ranjau, senjata ini dilarang oleh konvensi internasional.

Senjata ini menyelinap di antara celah aturan dengan menggunakan remot kontrol untuk menghilangkan sifat "indiskriminasi" atau serangan membabi buta.

Ini terasa seperti serangan tipe sebar yang paling optimal untuk jangkauan luas.

Tentu saja, memanggil bola besi dalam jumlah banyak akan menguras mana yang luar biasa. Namun, setelah mempelajari cara bernapas untuk menyerap mana dan membatasi jumlah bola besinya, aku akhirnya mendapatkan titik terang untuk menggunakannya dalam pertempuran sungguhan.

◇◇◇

Aku telah melewati banyak percobaan dan kegagalan.

Tidak berlebihan jika kukatakan aku menghabiskan waktu dua bulan hanya demi satu serangan ini. Begitu menyelesaikan bagian awal mantra, aku memasukkan imajinasi yang sudah terpatri kuat di otakku ke dalam gumpalan mana. Ini adalah sihir hibrida yang terus kulatih. Aku tidak akan melakukan kesalahan.

"Meledaklah, Claymore!"

Tiba-tiba, rasa sakit yang kuat menghantam punggung tanganku yang menghadap ke lawan. Gelombang ledakan akibat Efek Misznay-Schardin menyebarkan peluru sebar terarah ke depan.

Para penyamun yang dihantam butiran besi itu seketika tumbang dengan tubuh penuh lubang.

...Hal yang sama terjadi pada Cerbelo, yang mencoba menangkis seranganku hanya dengan menciptakan batu di jalur antara aku dan dia. Baginya, serangan sepertiku cukup ditahan dengan sihir penciptaan batu. Sekali lagi, itu adalah kecerobohannya.

Cerbelo hanya berhasil melindungi tubuh bagian atasnya dengan batu. Kakinya tertembus butiran besi dalam jumlah banyak, membuatnya berlutut dengan mengerang kesakitan.

Aku menatapnya dari atas.

"A-apa itu tadi... Terlebih lagi, kamu bahkan menggunakan Abbreviated Cast..."

"Abbreviated Cast?"

Mungkin itu adalah kata-kata terakhir karena rasa sesalnya, tapi aku langsung bereaksi mendengar gumaman Cerbelo.

"Sial... bisa-bisanya aku... agkh."

"Jangan-jangan, alasan mantramu sangat pendek itu karena apa yang kamu sebut Abbreviated Cast?"

"……"

"Apa kamu mencampurkan teknik No-Cast ke dalam sihir bermantera?"

Aku yang mendadak bersemangat mendengar istilah "Abbreviated Cast" mencoba menggali informasi lebih lanjut, namun dari mulut Cerbelo, rapalan mantra berikutnya dimulai.

"Wahai mana neraka api..."

"Eh? Hei, tunggu—"

"Api Hell Fire—"

Pada akhirnya dia tidak mau memberitahuku, ya. Cerbelo mungkin punya peluang jika dia memilih sihir dua baris yang mengutamakan kecepatan, tapi dalam situasi ini, dia sepertinya sudah tidak bisa mengambil keputusan dengan tenang.




Sayangnya, dalam jarak sedekat ini, pedang jauh lebih cepat daripada sihir yang membutuhkan rapalan. Tapi, sepertinya aku tidak perlu bergerak. Nyatanya, Cerbelo tidak pernah sempat menyelesaikan mantranya sampai akhir.

Di depan mataku, sebuah garis merah muncul di lehernya, lalu kepalanya pun berpisah dari tubuhnya. Suara benda berat yang jatuh ke tanah—gedebuk—menandai berakhirnya riwayat hidup Cerbelo.

"Dasar bodoh..."

"Iya. Terima kasih."

Itu Scott.

Scott mengayunkan pedangnya dengan wajah tidak senang untuk membersihkan sisa darah yang menempel.

"Yah, tapi ini hasil yang lebih dari cukup, kan? Dia itu 'The Grill', lho."

Sambil berkata begitu, Scott mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aku pun ikut menoleh, dan kulihat para penyamun langsung jatuh ke dalam keadaan panik masal begitu melihat Cerbelo tewas.

Benar juga!

Aku segera berbalik dan memeriksa kondisi Seva.

Sip. Dia tidak apa-apa. Sepertinya aliran mana dalam jumlah besar dari teknik Fa Jin-ku tadi mengalir ke tubuh Seva dan membuatnya syok sesaat. Sekarang dia malah sedang tidur nyenyak sambil mendengkur.

Fufufu. Yah, kali ini biarkan Seva ikut berbagi jasa denganku.

Aku berusaha payah memapah tubuh Seva yang berat dan berjalan menuju kereta kuda tempat Lumiera berada.

Meski begitu, tumpukan mayat di pihak penyamun jauh lebih banyak.

Tentu saja, meski kalah jumlah, kemampuan individu prajurit resmi jauh lebih tinggi. Masalah utamanya tadi memang keberadaan Cerbelo. Banyak ksatria yang tumbang dengan luka bakar hebat; mungkin mereka ditebas saat sedang dikelilingi api.

Tapi, entah bagaimana, mereka berhasil bertahan.

Jika mengingat tragedi di cerita aslinya bisa dihentikan, ini seharusnya adalah kesuksesan besar. Namun, aku tidak bisa menghilangkan rasa sesal... andai saja aku memastikan tanggal keberangkatan dengan benar, mungkin pengorbanan sebanyak ini tidak perlu terjadi.

Aku mendekati kereta kuda perlahan dan mengetuk pintunya.

"……Iya."

Suara seorang wanita yang bukan Lumiera terdengar dari dalam. Kupikir itu sang Istri Marquis, tapi suaranya terdengar agak lebih muda.

"Umm, nama saya Rad, Radcliffe Prosper."

"Eh!"

Kali ini, terdengar teriakan terkejut dari Lumiera, disusul suara gaduh dari dalam kereta.

"Lu-Lumiera-sama!"

Sepertinya di dalam cukup penuh sesak. Tebakanku, para pelayan yang tidak bisa bertarung diungsikan ke dalam kereta kuda.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tiga orang pelayan wanita langsung berhamburan keluar seolah bendungan yang pecah, disusul oleh Lumiera yang melongokkan kepalanya. Begitu melihat wajahku, dia langsung melompat turun dari kereta.

"Rad! Eh? Seva? Dia tidak apa-apa?!"

"Ah, Seva aman. Dia cuma pingsan sebentar."

"Syukurlah……"

Lumiera tampak sangat lega sambil mengamati wajah Seva dari dekat.

"Syukurlah…… benar-benar syukurlah……"

Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Aku bisa melihat dia sangat terguncang melihat banyaknya kematian di depan matanya. Dia menatap pemandangan itu seolah sedang menahan sesuatu yang menyesakkan di dada.

Aku mencoba menenangkannya dengan lembut.

"Berkat Lumiera, semuanya bisa terus bertarung……"

"Tidak. Kalau kami tidak ada di sini, mereka tidak akan diserang."

"Itu juga salah. Mereka akan menyerang siapa saja demi uang."

"Tapi……"

"Berkat sihir Lumiera, para prajurit bisa bertarung dengan bangga sampai akhir. Daripada menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita memuji rekan-rekan yang sudah berjuang bersama."

"……Rekan?"

"Aku dan Seva tahu betul kekuatan sihir Lumiera. Sihir itu benar-benar memberikan keberanian dan kekuatan lebih dari biasanya. Bahkan di saat-saat yang paling sulit sekalipun."

"Rad……"

"Lihat, berkat sihir Lumiera juga, ada prajurit yang berhasil bertahan hidup."

"……Rad, kamu hebat ya."

"Tidak juga. Aku cuma ingin berpikir positif saja, mungkin?"

"Iya…… Terima kasih."

Di mata Lumiera tidak terpancar kemarahan atau kebencian sedikit pun. Anak ini sepertinya bahkan menaruh rasa iba pada mayat para penyamun. Dia merasakan kesedihan atas setiap nyawa yang hilang.

Karena itulah, dia memiliki bakat sebagai Orang Suci……

Aku yang berlumuran lumpur tidak punya apa pun untuk menyeka air mata yang mengalir di pipi Lumiera. Aku hanya bisa berdiri diam di samping gadis suci ini.

Lokasi ini sudah cukup jauh dari wilayah Farduras, dan hanya butuh beberapa hari lagi untuk sampai ke kediaman orang tua Istri Marquis. Kami memutuskan untuk terus menuju Pireno.

Para prajurit segera mengganti roda kereta dengan cadangan, memakamkan rekan mereka yang gugur, lalu berangkat. Seva juga segera bangun dan dengan jujur merasa senang melihat keselamatan Lumiera.

Aku bersama Scott dan Felt mendampingi kereta kuda seolah mengisi kekosongan posisi pengawal yang tewas. Sesuai janji awal, Domane dan kawan-kawan menemukan mayat penyamun yang memiliki harga kepala dan memasukkannya ke dalam kantong kain. Mereka akan ikut bersama kami dan mencairkan uang hadiah di Guild desa berikutnya.

"Maaf ya Tuan Muda, kami membiarkan Tuan Muda Seva kabur dari pengawasan."

"Mau bagaimana lagi. Seva juga sudah menaikkan levelnya. Meskipun kecil, dia itu lincah."

"Jangan panggil aku kecil! Rad kan lebih kecil dariku!"

"Hahaha. Tapi berkat perisai Seva, semuanya berjalan lancar. Jadi tidak masalah."

"O-oh……"

Meskipun begitu, aku menyukai trio ini. Bagiku yang hanya memiliki Scott sebagai bidak, mereka adalah sumber daya manusia yang ingin kupastikan tetap berada di pihakku. Untuk rencana panen sirup pohon birch putih yang sedang kusiapkan, aku butuh lebih banyak tenaga kerja.

"Kalau kalian tidak keberatan, ada satu hal lagi yang ingin kuminta bantuannya. Tentu saja, aku akan membayar."

"Bantuan? Apa itu? Tentu, kami akan lakukan apa saja."

"Tidak sekarang. Musim semi nanti…… ya, saat salju mulai mencair, ada yang ingin kuminta kalian lakukan. Pastikan kalian ada di kota Falcrest saat itu, ya."

"Boleh saja, tapi musim semi? Masih lama, kan? Memangnya mau melakukan apa?"

"Itu…… fufufu. Masih rahasia."

Aku menyeringai puas karena berhasil menemukan tenaga kerja baru. Merasakan sebuah tatapan, aku mendongak dan melihat Scott sedang menatapku dengan wajah yang seolah berkata "Yare yare".

Terlepas dari itu, kami yang terus mengawal rombongan hingga ke kota Pireno disambut meriah sebagai pahlawan muda oleh orang tua Istri Marquis.

Dan akhirnya, aku bersama Seva menikmati liburan musim panas yang menyenangkan di Pireno.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close