Masa Remaja
Musim Panas di Usia Enam Belas Tahun
Informan
Umumnya, bukan
hal yang menguntungkan bagi seorang GM untuk berbohong: bagaimanapun juga,
permainan didasarkan pada keandalan mereka sebagai narator.
Meski begitu,
elemen ketidakpercayaan dan ketidakterdugaan tetaplah sumber ketegangan yang
kuat. Karena itu, sudah menjadi kepentingan GM untuk menciptakan ambigitas
berbahaya yang memancing spekulasi pemain.
Pemain, pada
gilirannya, melanggengkan perlombaan senjata informasi ini dengan membakar
sumber daya karakter mereka yang susah payah didapatkan demi menjaga hubungan
dengan NPC yang tepercaya dan berwawasan luas.
"Kau butuh tekad kuat jika ingin menjadi
terkenal."
Aku tidak yakin apakah itu kutipan penulis atau penyanyi,
dan tidak ada cara untuk mengetahuinya sekarang, tapi aku benar-benar merasakan
realitas dari kalimat itu saat ini.
"Hmm... Apa
yang harus kulakukan..."
Aku kembali ke
kamarku di Snoozing Kitten dengan tumpukan dokumen yang tersebar di
sekelilingku. Ujung pena buluku bertumpu pada bibir atas saat aku merenungkan
situasi ini.
Entah bagaimana,
kami berhasil menarik terlalu banyak pekerjaan untuk jumlah anggota kami saat
ini. Fellowship of the Blade, tanpa bermaksud sombong, sedang menjadi
pembicaraan hangat saat ini.
Dalam bulan-bulan dari musim semi ke musim panas, kami telah
mengumpulkan cukup banyak tugas bersama.
Sebagai unit awal yang terdiri dari delapan petualang, kami
telah dengan aman melindungi beberapa karavan, membasmi bandit yang bersembunyi
di bekas rumah bangsawan penguasa setempat, dan meringkus lima penjahat yang
bersembunyi di kota.
Berkat upaya kami, kedudukan kami sebagai klan telah
meningkat. Sebagai imbalannya, kami menerima banjir permintaan baru dari luar
perantara tetap kami, serta banyak pelamar klan.
Namun, semuanya tidak berjalan mulus—dengan lebih banyak
keuntungan, datang pula lebih banyak sakit kepala yang harus kutangani.
Aku tahu bahwa bersikap teliti dalam memainkan kartu kami
sekarang akan menghindarkan kami dari banyak masalah di masa depan, tapi tetap
saja proses ini terasa menyebalkan dari awal sampai akhir.
Hei,
siapa pun yang merancang sistem masyarakat ini? Ya, kalian benar-benar
mengacaukannya...
Bisa
tolong keluarkan pembaruan materi yang lebih seimbang di lembar errata
berikutnya sebelum aku jadi gila?
Lelucon
dan keluhan sampingan satu arah, ini jauh, jauh lebih baik daripada tahun yang
kuhabiskan untuk membereskan urusan Nona Agrippina setelah Kekaisaran
menjadikannya Count Ubiorum.
Aku hanya
bisa melewati kekacauan itu karena aku terus meminum obat-obatan dan mantra
yang disetel khusus untuk menjagaku tetap berfungsi selama rata-rata empat
malam berturut-turut tanpa tidur.
Kejadiannya
sendiri terasa kabur, tapi aku cukup yakin rekor terlamaku adalah satu minggu
penuh.
Aku ingin
menertawakan diriku di masa kuliah dulu yang berpikir bahwa orang-orang yang
membual tentang kerja berlebihan hanyalah mereka yang memiliki kemampuan
manajemen waktu yang buruk.
Dulu aku
hanyalah bayi di tengah hutan, benar-benar naif terhadap kengerian jadwal yang
benar-benar kelebihan beban... Bagaimanapun, satu malam begadang setelah sekian lama tidak akan
menyakitiku.
"Baiklah,
kurasa kita bisa menyerahkan tugas pengawalan karavan ini kepada grup Etan.
Mereka masih berperingkat soot-black, tapi jika dia dan Karsten
bergabung dengan dua pemula yang baru datang minggu lalu, mereka seharusnya
lebih dari mampu."
Pekerjaanku saat
ini adalah membagi tugas-tugas kami dan menetapkannya berdasarkan keterampilan
daftar anggota klan kami yang terus bertambah.
Ini setara dengan
tinjauan administratif, tapi tetap merupakan pekerjaan yang berat, meskipun aku
menggunakan sedikit Farsight dan mantra lainnya untuk mempermudah
segalanya.
Aku tidak
memiliki ingatan spasial sempurna yang benar-benar curang milik Nona Agrippina,
dan kekuatan berpikir kritisku benar-benar hanya level manusia biasa.
Yang bisa
kulakukan hanyalah memeriksa setiap potongan informasi yang datang kepadaku
satu per satu dengan teliti.
"Aku bisa
meminta Mathieu untuk menemani anak-anak bangsawan ini dalam kunjungan
penyamaran mereka ke Marsheim, tapi mungkin dia butuh sedikit cadangan..."
"Martyn
adalah murid yang rajin, dan dia sudah menguasai dasar-dasar bahasa istana,
jadi aku bisa mengirimnya... Tapi tidak, itu akan membuatku kekurangan anggota
inti yang sudah terlatih sepenuhnya..."
Aku
mencoret-coret draf pembagian kerja berdasarkan sebaran permintaan di depanku.
Saat ini,
Fellowship of the Blade memiliki delapan anggota yang bisa dikirim untuk tugas
apa pun tanpa banyak masalah.
Selain itu, kami
mendapatkan sepuluh anggota lagi yang belum bisa kugunakan secara bebas, karena
aku masih menyaring mereka.
Aku tidak bisa
hanya mengandalkan firasat; ada kemungkinan kami merekrut para penipu yang
hanya mengejar fasilitas peralatan, penginapan, dan makanan gratis.
Di sisi lain,
pikirku, kami sudah mengeluarkan lima anggota sejak minggu lalu, jadi yang
tersisa ini mungkin sedikit lebih bisa dipercaya.
"Hmm...
Tidak, tidak, kita masih baru. Menjaga reputasi baik sangatlah krusial."
"Aku tidak
ingin mengacaukan kerja keras semua orang. Itu berarti aku harus menempatkan
anggota inti kita di setiap tim atau aku akan begadang semalaman karena
khawatir ada yang salah..."
Aku tidak ingin
orang-orang berasumsi bahwa Fellowship of the Blade hanya akan mengandalkan
kekuatan kasar dan jumlah orang yang banyak untuk menyelesaikan masalah seperti
klan-klan lain.
Klien memberi
kami pekerjaan hanya karena party asli kami yang berempat telah membangun
kepercayaan di Marsheim dan dua dari kami berperingkat amber-orange.
Dalam situasi
biasa, petualang soot-black dan ruby-red bahkan tidak akan
dipandang sebelah mata.
Jika aku asal
melemparkan tugas kita kepada rekrutan terbaru, itu akan membuat pencapaian
kita dipertanyakan.
"Jadi, uh... Mungkin aku yang harus menemani anak-anak
bangsawan itu? Aku merasa agak tidak tenang mengirim Martyn sendirian."
"Dia pria yang pintar, tapi dia butuh dorongan rasa
percaya diri. Plus, dia seorang mensch—bukan tipe pria yang akan
mengusir calon penjahat hanya dengan tampangnya saja."
Aku tidak
seperti agen perekrutan lepas tangan dari duniaku yang dulu.
Pekerjaanku
bukan sekadar menetapkan peran dan selesai; aku harus memastikan setiap
kelompok memahami apa yang dibutuhkan dari mereka.
"Tunggu
dulu, jika aku pergi, maka kita tidak bisa melakukan latihan selama aku
pergi... Siegfried dan Kaya juga sedang libur saat ini..."
Meskipun aku
masih belum sepenuhnya setuju dengan ide menjadi pemimpin klan, aku tetap
menjalankan peranku sebagai guru bagi murid-muridku.
Aku masih
berkewajiban memastikan mereka keluar dari proses ini dengan persiapan penuh
untuk masa depan, bahkan jika metodeku sedikit kejam...
Tentu saja, aku
tidak meninggalkan luka pada mereka yang tidak bisa sembuh seiring waktu.
"Margit bisa
saja menggantikanku untuk melatih mereka... Oh, tidak, tunggu, dia sedang
menangani kasus perselingkuhan rahasia itu—tidak ada yang cocok selain
dia."
"Aduh,
otakku bakal kepanasan kalau begini terus..."
Aku benar-benar
kehilangan waktu tidur gara-gara mengatur jadwal ini.
Aku berharap bisa
memindai semua pekerjaan ini dan melihat bagian-bagian yang mencurigakan
ditandai dengan warna merah terang.
Bakal sangat
membantu jika informasinya sudah tersusun rapi dalam sebuah berkas, jadi aku
bisa menghindari repot-repot menggali data dan pengecekan fakta tambahan.
Ayolah, wahai GM
sialan, bayangkan rasanya diberi berkas rahasia di tengah kampanye di mana kami
sudah kewalahan dengan segudang pengetahuan dunianya...
"Bahkan jika
semua permintaan ini sah, aku tetap ingin seseorang melakukan pengecekan fakta
dasar untuk menenangkan kekhawatiranku. Sial benar informan terakhir yang bekerja
denganku benar-benar gagal..."
Dengan
kekhawatiran yang berputar di otakku, aku mengambil tumpukan permintaan itu
sekali lagi dan memeriksanya.
Membagi
orang bukan satu-satunya masalah di sini—bahkan jika aku menetapkan kruku
dengan sempurna, kami tetap bisa celaka jika salah satu dari pekerjaan itu
ternyata jebakan.
Aku tidak
sedang paranoid—kami mendapatkan satu permintaan di awal musim panas dan tiga
bulan ini yang semuanya dirancang untuk menjatuhkan nama klan kecil kami.
Sebagian
besar dari itu berasal dari beberapa klan menengah yang punya kepentingan untuk
menghancurkan kami atau merasa kesal karena harus bersaing memperebutkan tugas.
Aku tidak
akan membiarkan serangan apa pun terhadap reputasi klan kami, jadi aku
memastikan mereka tahu bahwa mengusik kami tidak akan berakhir baik.
Sebelum
mengambil permintaan apa pun, aku memastikan untuk melakukan sedikit riset, dan
jika aku menemukan bau busuk, menyiapkan pembalasan yang setimpal itu cukup
mudah.
Bahkan
jika kau dipanggil ke tempat parkir bawah tanah dan menghadapi lawan dengan
skor Defense yang luar biasa tinggi, selalu ada metode yang tersedia
bagimu.
Bakal
sangat sederhana jika aku bisa menerapkan taktik dari salah satu video gim
favoritku dulu—tinggal tingkatkan Turning Ability, lari memutar, dan
berondong dengan senapan mesin, atau dekati mereka dan tusuk dengan pile
bunker.
Masalahnya
terletak pada bagaimana mendeteksi mana tugas yang merupakan jebakan
"maaf, ini hanya bisnis" sebelum terlanjur mengambil umpannya.
Tentu
saja, beberapa di antaranya bisa terlihat dari jauh—kau hanya perlu bersiap
menghadapi dampaknya.
Dampaknya
juga cukup merepotkan. Persaingan semacam ini sangat menguras
tenaga—menanganinya memakan waktu dan energi tapi bayarannya nol besar.
Yang tersisa
hanyalah rasa lega dan kelelahan. Kau tidak bisa mengabaikan mereka begitu
saja—kau harus melakukan pekerjaan dengan benar, atau reputasimu terancam.
Padahal di awal semuanya baik-baik saja! Saat kami masih klan kecil, kami hanya punya
sedikit permintaan untuk dikelola.
Kami bisa
meluangkan waktu untuk mengendus-endus, menemukan pelakunya, lalu memberi
mereka sedikit kunjungan.
Tapi ketika kau
memiliki klan dengan hampir dua puluh orang, tumpukan permintaan tumbuh secara
eksponensial, dan kau harus membuang lebih banyak waktu untuk menyaring
semuanya.
"Tidak...
aku lelah sekali. Aku butuh udara segar. Waktunya istirahat sebentar."
Seluruh proses
ini menguras energiku. Tidak ada cukup waktu dalam sehari untuk melakukan
ketelitian ini, kecuali aku bisa mulai membuat klon diriku sendiri.
Tunggu,
tidak, itu ide buruk. Aku berani bertaruh klon satu dan klon dua—yang
masing-masing kutugaskan untuk administrasi dan melatih murid—pasti akan
bersekongkol untuk menguburku di lubang dangkal sementara mereka yang bekerja
keras dan aku asyik berpetualang.
Bukan
hanya aku yang bekerja berlebihan. Margit sudah hampir mencapai batasnya dengan
pekerjaan pengintaian.
Dia adalah
pengintai berbakat dan mata-mata kelas satu, tapi dia tidak diciptakan untuk
perang informasi.
Menyelinap ke
suatu tempat dan mencuri barang adalah hal yang sangat berbeda dengan jenis
pencarian informasi dan pemecahan teka-teki yang dibutuhkan pekerjaan ini.
Solusi alami
untuk masalah kami saat ini adalah menemukan informan yang bisa meringankan
beban kami, tapi orang yang bisa kupercayai sepenuhnya tidaklah tumbuh di
pohon.
Informan yang
diperkenalkan Nona Laurentius padaku tampaknya terlalu mudah dibeli, jadi aku
agak bingung.
Bukannya Nona
Laurentius tidak punya selera yang bagus terhadap orang. Masalahnya adalah kami
memiliki kolom koneksi masing-masing.
Informan itu
mungkin setia kepadanya, tapi satu-satunya kewajiban mereka kepadaku hanyalah
berasal dari beratnya pundi-pundi uang yang berpindah tangan.
Nona Laurentius
tidak bermaksud menipuku; dia sebenarnya merasa sangat tidak enak tentang
situasi itu sampai-sampai dia meminta maaf langsung kepadaku.
Itu melegakan,
tapi tidak membawaku ke mana-mana. Aku tidak menjadi lebih kaya satu assarius
pun atas upaya itu.
Bukan berarti dia
sepenuhnya bersalah. Nona Laurentius memiliki aura ganas dan klan besar untuk
bersandar, sedangkan aku sempat lengah karena koneksiku dengannya dan menjadi
terlalu akrab dengan tukang gosipnya.
"Siapa
sangka ternyata mengumpulkan grup kecil saja butuh kerja sebanyak ini..."
Saat matahari
mulai terbenam, aku menuju ke halaman Snoozing Kitten dengan Schutzwolfe di
pinggangku dan mulai melakukan peregangan.
Shymar mungkin
sedang menyiapkan makan malam, Fidelio kemungkinan sedang keluar berbelanja,
dan tuan tua hampir pasti sedang tidur siang di atap.
Pedagang sangat
sibuk di musim panas, jadi Snoozing Kitten hanya punya sedikit tamu. Jemuran
pun hanya berisi pakaianku sendiri.
"Aku
menyukai sisi lain dari petualangan ini, tapi aku tidak boleh membiarkan
keterampilan pedangku tumpul."
Aku mencabut
pedang kesayanganku dan melakukan beberapa ayunan latihan. Aku merasa tidak
tenang dengan perbedaan antara betapa ringannya tubuhku dan bagaimana tubuh ini
tidak bergerak persis seperti yang kuinginkan.
Jika kau memilih
untuk bermurah hati dengan fasilitas bagi anggota barumu, maka kau akan menarik
orang-orang yang hanya ingin makan gratis.
Jika kau memasang
harga tinggi untuk informasi, kau akan menarik individu-individu serakah yang
setara yang mencari keuntungan besar.
Ada seorang
samurai era Kamakura yang menyarankan bahwa seseorang harus menghiasi tamannya
dengan kepala-kepala yang baru dipenggal untuk memberikan kesan yang tepat bagi
tamunya; mungkin itu pertanda buruk bahwa aku mulai memahami jalan pikirannya.
Bukan ide yang
buruk untuk memberikan pernyataan tegas tentang wibawa sendiri demi memastikan
kau menghadapi sebagian besar pertemuan dengan posisi unggul.
Aku tidak
meramalkan sakit kepala seperti ini beberapa bulan yang lalu.
Aku bekerja keras
demi kota kami dan petualangan besar, jadi mengapa aku harus membuang waktu
mengurusi masalah administratif kecil dan orang-orang yang ingin klanku hancur?
Aku tahu aku
masih dalam perjalanan, tapi aku tidak bisa tidak merasa kagum pada kemampuan
Tuan Fidelio yang seolah-olah bisa dengan mudah menjadi pahlawan sejati dan
menemukan cinta dalam hidupnya.
Aku sering
bercanda tentang keberuntunganku, tapi aku mulai bertanya-tanya apakah seluruh
hidupku dikutuk dengan hasil dadu yang buruk...
Tidak, tetap
tenang, Erich. Tidak perlu terburu-buru.
Kau tidak sedang
dalam situasi di mana kau akan tamat jika tidak menyerahkan setiap informasi
yang kau punya tanpa cara untuk menyerang balik. Santai saja dan kau akan
menemukan jalan keluarnya.
Aku tidak boleh
membiarkan rasa frustrasiku mengacaukan segalanya. Aku akan terus memberikan yang terbaik dan
tidak mencoba mengambil jalan pintas yang tidak perlu.
Hatiku
mulai terasa lebih ringan saat aku terus melakukan ayunan pedang, keringat
tipis muncul di sore musim panas yang sejuk ini.
Ya,
santai saja, dan jangan meledak karena hal sepele. Kau tidak pernah bisa tahu
apa yang dipikirkan seseorang saat pertama kali bertemu, jadi tetaplah bersikap
sopan dan santun selama kau harus.
Kau akan
punya banyak waktu untuk menunjukkan taringmu setelah kau tahu mereka itu
jahat.
Fellowship of the Blade telah membangun reputasi sebagai
klan yang rajin dan teliti. Kami tidak merusak pekerjaan kami karena kami tidak
pernah terburu-buru—hal ini saja sudah membedakan kami dari klan lainnya.
Jika pemimpin klan mulai bertindak seperti orang bodoh yang
tidak sabaran, maka aku benar-benar akan mempermalukan diri sendiri.
"Kamu yang di sana," kataku, "aku tidak yakin
apa yang harus kupikirkan tentang seseorang yang menyembunyikan kehadirannya
dan masuk ke dalam jangkauan pedangku."
"Oho?"
Aku menyarungkan pedangku sebagai bentuk kesopanan umum dan
meletakkan tanganku di atas pommel. Ini adalah cara untuk menunjukkan
kepada lawan bicara bahwa kau tidak bermaksud jahat—lebih sulit untuk mencabut
pedang dengan cepat ketika telapak tanganmu berada tepat di ujungnya.
Sesaat kemudian, rasanya seolah-olah kain di depanku telah
berubah menjadi seorang wanita—begitu mulusnya cara dia menampakkan diri.
"Kau melihatku, ya?"
Dia adalah seorang bubastisian, dan sedikit lebih
tinggi dariku—kurasa tingginya sekitar 172 sentimeter. Dia mengenakan pakaian
wanita yang cukup umum untuk Marsheim, dan seluruh tubuhnya tertutup bulu
putih.
Mata emasnya sangat mencolok. Warna merah muda pucat pada
hidung dan telinganya benar-benar memesona, tapi aku tahu aku tidak boleh
lengah.
Tentu, melihatnya membuatmu ingin mencubit pipinya dan
memberitahunya betapa menggemaskannya dia, tapi dia berhasil menyelinap ke
jangkauanku tanpa aku menyadarinya. Dia sangat mahir dalam menyembunyikan kehadirannya.
"Hmm? Tapi
jangkauanmu, katamu? Aku masih berjarak dua puluh langkah darimu."
"Masih cukup
dekat untuk dijangkau dalam satu gerakan."
Aku tidak sedang
berpura-pura sombong—kumpulan keterampilanku saat ini memungkinkanku untuk
melakukan persis seperti yang baru saja kukatakan.
Asal tahu saja,
pada jarak tiga puluh langkah aku akan kesulitan—aku harus benar-benar
memperpendek jarak sebelum menebas—tapi pada jarak ini aku bisa menjatuhkannya
dalam satu ketukan.
"Apa yang
membuatmu begitu tertarik padaku? Kamu sudah ada di sana setidaknya selama tiga
puluh menit."
"Astaga... Menyadariku sejak aku sampai di sini, ya? Kamu tangguh juga, aku akui itu.
Seharusnya aku menjaga jarak."
Matanya menyipit
saat dia tersenyum.
Bubastisian itu imut di mata manusia (mensch),
entah mereka baru lahir atau sudah di ambang liang lahat, tapi aku belum pernah
bertemu seseorang secantik dia sebelumnya. Dia memiliki pancaran keanggunan
yang sulit dijelaskan—mungkin kemolekan.
Namun sekali lagi, aku tidak boleh membiarkan penampilan menipuku. Aku bisa merasakan rasa percaya diri yang besar di balik senyuman itu.
Lalu ada
aksennya. Cara bicaranya langsung membongkar asal-usulnya dari wilayah pusat
Kekaisaran. Aku pernah mendengarnya saat menghabiskan waktu di Berylin.
Aksen itu
terdengar sedikit lebih jelas daripada dialek Rhinian utara atau selatan, dan
memiliki semacam karisma yang unik.
Bahkan bahasa
istana yang ditulis kata demi kata dalam aksen tersebut akan terasa berirama
dan musikal—kualitas yang terpancar dari banyak penuturnya.
Wilayah pusat
terkenal dengan Sungai Rhine, yang menjadi asal nama Kekaisaran kami, dan
merupakan rumah bagi pelabuhan raksasa.
Anak-anak sungai
yang meliuk-liuk di daratan itu menjadikannya gerbang perdagangan bagi seluruh
Kekaisaran. Rasanya aneh melihat orang dari wilayah tengah berada sejauh ini di
barat.
"Aku
nggak boleh lengah, ya 'kan? Nggak bagus kalau sampai lupa ada orang yang lebih
tajam dariku. Tapi, ya ampun, kamu benar-benar menipuku. Kupikir mensch
itu cuma sekumpulan pisau tumpul. Ternyata kamu punya mata yang berkualitas
juga."
Bubastisian berbulu putih itu memangkas jarak
di antara kami dalam satu lompatan cepat. Dengan kaki digitigrade-nya,
gerakan itu terasa sangat alami.
"Maafkan
aku jika aku sedikit sensitif terhadap siapa pun yang berkeliaran dalam jarak
tikam. Terutama saat aku sedang menghunus pedang."
"Hah?
Jangan bilang kalau orang manis sepertimu terlibat dalam bisnis kotor yang
membuat orang-orang mengincar darahmu?"
Cara dia
mendekatiku begitu cair sehingga aku tidak merasakan penolakan internal sedikit
pun; aku nyaris tidak bisa menangkap gerakannya.
Caranya
menyelinap di bawah radar bahayaku memberitahuku bahwa bekerja dengannya akan
menjadi tantangan tersendiri—persis seperti kucing yang terlalu ramah, sungguh.
"Yah,
pekerjaanku melibatkan sedikit kekerasan, jadi kurasa kau bisa bilang begitu.
Meski aku tidak ingat pernah menebas siapa pun yang bakal dirindukan oleh dunia
ini."
"Ahh, aku
paham. Iya, si Nyonya bilang kalau kamu bisa jadi sedikit dingin sesekali. Agak
mirip wanita bangsawan. Sopan ke semua orang, tapi menyimpan kartunya
rapat-rapat."
"Kamu sudah
melakukan riset. Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi, kan?"
Tentu saja, dia
muncul dari bayang-bayang untuk memberiku indikasi samar bahwa dia mengenalku
lebih baik daripada aku mengenalnya, tapi nadanya begitu manis sehingga aku
tidak bisa tidak merasa tenang.
Aku tidak bisa
menemukan satu pun mantra pada dirinya yang bisa menjelaskan karismanya. Itu
adalah sesuatu yang dia miliki secara alami.
Tapi tak perlu
khawatir—aku bukan orang bodoh. Aku bukan tipe preman kacangan yang akan
terjatuh ke dalam perangkap madu yang nyata.
Aku merasa diriku
mulai tertarik, tapi aku tahu lebih baik daripada membiarkannya menang. Aku
membayangkan ini adalah perasaan yang mirip dengan saat menerima Absolute
Charisma—sebuah atribut yang sudah lama aku kumpulkan poin pengalamannya.
"Nee hee,
yup, kamu Erich dari Konigstuhl. Erich si Goldilocks. Erich si Pemotong
Batu. Dan yang terbaru, Erich, pemimpin Fellowship of the Blade. Mana yang kamu
suka?"
Sial,
pikirku, dia benar-benar punya faktor keimutan kucing itu... Dia sama sekali
tidak seperti Shymar yang memiliki pesona gadis tetangga yang jujur.
"Memikat" adalah kata yang paling cocok untuk gadis baru ini.
"Panggil
saja Erich."
"Beneran?
Kupikir kamu orangnya tipe yang kaku banget, kalau kamu paham maksudku."
Cara dia
memperpendek jarak di antara kami; pilihan katanya; gerakan tubuhnya; jarak
wajah kami; kumisnya yang berkedut saat bicara; ekornya yang bergoyang tepat di
luar pandangan—aku tidak yakin seberapa sadar dia melakukan itu semua, tapi
semuanya diperhitungkan untuk meruntuhkan impuls sinisku yang paling kuat.
Ini
adalah serangan konstan terhadap jiwaku yang berusaha menggoyahkan setiap kesan
yang kupunya tentangnya. Aku belum pernah bertemu seseorang yang begitu ramah
secara terbuka seperti ini, bahkan di hutan masyarakat kelas atas Berylin
sekalipun.
Mungkin
operator selicin ini memang ada di ibu kota, tapi faktanya aku harus membawa
diriku dengan cara yang sangat berbeda saat itu.
Aku harus
menjadi lebih tipis dari udara sambil berjalan di atas kulit telur, takut kalau
langkah yang salah bisa membuat kepalaku menggelinding ke permadani mewah di
bawah. Tidak peduli dengan siapa aku bersama, tugasku adalah menghindari
perhatian dari siapa pun yang penting.
Aku
menyempatkan diri untuk merasa kagum sekali lagi pada betapa beragamnya dunia
ini. Kau tidak akan bertemu orang seperti dia setiap hari.
"Baiklah.
Haruskah aku menyajikan diriku dengan cara yang lebih menyenangkan di matamu,
Nona muda? Maukah kau menghormatiku dengan memberitahukan namamu?"
"Oof,
itu baru namanya bahasa istana. Aku merasa kalau aku menyentuhmu sedikit saja
kamu bakal tumbang, kamu kaku banget! Rasanya seperti kamu membangun dinding
kecil, tepat di sini!"
Bubastisian itu tersenyum sambil memposisikan
ulang dirinya menghadapku.
"Panggil
aku Schnee. Senang bertemu denganmu, Erich. Aku menantikan hubungan kita yang
akan berkembang."
"Senang
bertemu denganmu juga, Schnee. Meskipun sifat hubungan kita masih belum diputuskan."
Schnee, ya?
Nama yang
sederhana—artinya "salju"—tapi itu bukan nama yang sering diberikan
orang-orang di Kekaisaran kepada anak-anak mereka.
Salju berarti
kefanaan, hal-hal yang cepat berlalu, dan kematian dingin yang merayap. Bukan
jenis nama yang ingin kau berikan kepada bayi perempuanmu tanpa sedikit pun
ironi.
Mungkin itu nama
samaran. Atau mungkin orang tuanya berasal dari tempat di mana salju
diasosiasikan dengan keindahan sebelum rasa dinginnya.
Apa pun kasusnya,
tidak ada yang bisa menggoyahkan kesan pertama yang dia berikan—seseorang yang
bisa menjadi tidak terlihat secara sosial selama setengah jam penuh dan
kemudian memunculkan kehadirannya secara maksimal sesuai perintah.
"Heh, ya,
kurasa kamu ada benarnya. Tapi, biar cepat, biar kukatakan saja kalau aku punya
hidung yang tajam soal rumor... Kamu paham kan?"
Seorang
informan?
Ini
benar-benar keberuntungan yang terlalu tepat waktu. Apakah dia menunggu sampai pilihanku habis?
Mungkin dia ingin
masuk ke dalam klan kami untuk mengumpulkan informasi bagi orang lain.
Aku sudah bekerja
keras untuk memastikan tidak ada yang tahu di mana aku tinggal secara permanen,
namun dia menemukanku.
Tidak hanya itu,
dia tahu kapan harus berada di sini. Dia pasti sudah memiliki jalur ke
operasiku.
Maksudku, tentu,
mungkin saja dia datang saat aku membutuhkannya karena alasan yang benar-benar
murni dan memilih untuk mencoba peruntungannya sekarang karena kebetulan, tapi
mengingat statistik keberuntunganku (luck), itu mustahil.
Aku sudah banyak
mengonsumsi media di mana seseorang yang penampilannya berteriak "Aku
tokoh utama wanita!" ternyata adalah pengkhianat.
Hal itu sudah
meresap ke dalam kesadaran budaya sehingga aku tahu banyak GM yang memanfaatkan
kiasan itu untuk memancing simpati yang penuh air mata dari pemain yang paling
tabah sekalipun.
Salah satu
prinsip yang menjagaku tetap aman adalah selalu memikirkan skenario terburuk.
Bahkan jika
seseorang menghampirimu dan berkata, "Halo, aku sekutumu," itu tidak
menjamin mereka akan mempertahankan peran itu sampai akhir.
Setiap orang
punya harganya masing-masing, dan kau tidak pernah tahu kapan orang lain
mungkin membayarnya.
"Oke deh,
gimana kalau kucicipi sedikit?"
Jari-jari tipis bubastisian
itu tertutup rambut pendek. Ujung jarinya (atau ujung kaki atau bantalan cakar
atau apa pun istilah yang tepat), ruas kedua, dan telapak tangannya memiliki
bantalan merah muda. Bubastisian tidak memakai sepatu, jadi aku bisa
melihat kakinya persis sama.
Terselip di
antara bantalan kaki itu adalah selembar kertas—benda murah yang terbuat dari
serat tumbuhan, bukan kulit domba yang mahal.
Ukurannya mungkin
sekitar A4 saat dibuka dan tampaknya tidak mengandung sihir apa pun.
Tidak ada yang
lebih berharga daripada barang gratis; aku menepis pikiran bahwa gim gacha
menggunakan logika yang sama untuk memancing orang lugu menuju kehancuran, lalu
mengambil kertas itu.
"Apa aku
bisa memercayai ini?"
"Kepercayaan
itu diputuskan oleh siapa pun yang menerima info itu, Erich. Bisnisku adalah
mengumpulkan info, mengirimkannya ke pihak yang tertarik, dan bertanya berapa
banyak yang ingin mereka bayar untuk itu. Sisanya terserah padamu."
Schnee dengan
lincah bergerak ke titik butaku, seolah ingin melarikan diri dari tatapanku
yang menyipit. Tanpa suara, dia bergerak ke pintu dapur.
"Kalau kamu
tertarik, hubungi aku kapan saja. Kamu tipe orang yang baru percaya kalau sudah
melihat sendiri, kan? The Empty Hive adalah salah satu tempat
nongkrongku, jadi mampirlah kapan pun kamu mau. Sampai jumpa."
Dia menyelinap
melalui celah pintu dan menghilang. Aku harus mengakui, dia melakukan penawaran
yang sangat agresif. Dia tahu apa yang paling menggangguku.
"Dia punya
nama setiap pemula yang bergabung setelah Martyn... juga dari mana asal mereka
semua."
Aku menghafal
kertas itu sebelum membakarnya menjadi abu. Nama, ras, tempat lahir, alasan
mereka menjadi petualang, pekerjaan mereka sebelumnya jika ada.
Evaluasi
setiap orang yang menyertainya semuanya benar. Tidak hanya itu, dia bahkan
menyertakan anggota dengan evaluasi buruk—dengan kata lain, mereka yang pergi
setelah merasa metodeku tidak cocok. Presentasi yang dingin dan klinis itu
sangat kontras dengan kepribadiannya yang santai.
Sialan... Aku merasakan hawa dingin merambat di tulang
belakangku melihat betapa akuratnya informasinya.
Bahkan aku tidak tahu segalanya tentang setiap anggota di
klanku; aku merasa agak mual.
Jika dia
menyelipkan satu kebohongan kecil saja, aku tidak yakin akan bisa
mendeteksinya.
"Aku...
perlu bicara dengan seseorang tentang ini... Aku merasa migrain mulai datang."
Saat Margit
kembali dari tugasnya, aku akan bicara dengannya. Tapi demi dewa-dewi, dia
menemukan markasku di sini dengan sangat cepat.
Aku selalu
mengambil tindakan untuk memastikan aku tidak diikuti—aku pernah menangkap
beberapa orang dengan cara ini—selalu mengambil rute berbeda, memakai pakaian
berbeda, bahkan meminta Margit untuk berjaga sesekali.
Apakah dia
membocorkan info ini ke klan lain?
Klan Laurentius
cukup terbuka soal markas mereka, dan Klan Baldur pun tidak sempurna dalam hal
ini.
Satu hal yang
kusyukuri adalah hubunganku dengan Siegfried dan yang lainnya cukup kuat untuk
tidak mencurigai mereka.
Bagaimanapun, aku
perlu mengevaluasi kembali keamanan operasi kami.
Akan sulit untuk
membawa para pemula ke standarku yang kedap air, tapi itu lebih baik daripada
tidak melakukan apa-apa.
"Tapi mata-mata, ya... Aku memang sempat berpikir salah
satu dari mereka agak mencurigakan, tapi beneran? Ugh, tidak menyangka aku
akhirnya paham apa yang membuat seorang bangsawan rela menghabiskan harta untuk
membasmi keresahan mereka..."
Aku menyeret tubuhku yang berat kembali ke dalam dan
meninggalkan pedang di kamarku sebelum keluar.
Margit akan kembali di sore hari, jadi aku memutuskan untuk
menghabiskan waktu berikutnya di pemandian. Pekerjaan bisa menunggu. Jika aku
tidak meredakan ketegangan dalam diriku ini, aku merasa akan gagal dalam Sanity
check berikutnya.
Karena tidak bisa memutuskan apakah aku telah menemukan
mukjizat atau mimpi buruk, aku membawa diriku ke kenyamanan pemandian air panas
yang menenangkan.
[Tips] Informan adalah elemen pokok dalam sistem TRPG
sebagai sarana untuk menyampaikan skenario baru dan peringatan akan bahaya yang
datang kepada karakter pemain.
Namun, ini bukanlah pekerjaan yang membutuhkan izin dari
siapa pun. Seorang pemain harus memercayai perkataan GM mereka atau melihat
dengan mata kepala sendiri apakah seorang informan adalah kawan atau lawan.
◆◇◆
Aku ingat kembali di duniaku dulu ada kiasan sitkom
"pasangan suami istri"—sang istri mencegat suaminya tepat saat dia
pulang kerja, ingin membahas masalah sekolah anak mereka, yang langsung
ditangkis oleh sang ayah dengan tampilan kelelahan yang singkat. Hari ini, aku menjadi sang istri
dalam skenario ini.
"Serius?
Sekarang banget?"
Margit
menghela napas panjang sambil melepaskan jubahnya. Jubah itu dibuat khusus
untuk membantunya menyatu dengan lingkungan sekitar—model bolak-balik, cokelat
kemerahan di satu sisi untuk menyamai bata Marsheim dan hampir hitam di sisi
lain untuk pekerjaan rahasia dalam kegelapan total.
Aku cukup
tahu drama TV untuk menahan lidahku alih-alih membalas bahwa aku juga sama
lelahnya, bekerja di depan kompor panas sepanjang hari untuk kami berdua.
Sebaliknya, aku berkata, "Aku benar-benar minta maaf. Shift yang berat di
pekerjaan pengintaian?"
"Secara
fisik, aku baik-baik saja. Tapi seseorang hanya bisa menonton orang asing
bermesraan selama beberapa waktu sebelum itu mulai terasa menyiksa."
Aku
mengambil jubah Margit, merapal Clean dengan cepat padanya, dan
menggantungnya. Lalu aku membantunya melepas pakaian yang berkeringat dan
berganti ke pakaian baru.
"Berita
bagusnya adalah kita punya semua bukti yang kita butuhkan. Aku punya nama objek
perselingkuhan target kita, di mana mereka bertemu, perkiraan nilai perhiasan
yang dia berikan padanya, dan rincian lengkap rutinitas harian mereka.
Kurasa
itu sudah cukup—dia tidak akan bisa mengelak dari yang satu ini."
Salah
satu pekerja bawah tanah terbaik di Marsheim melemparkan tumpukan kertas ke
atas meja dalam satu gerakan cepat.
Tentu
saja, kami tertinggal beberapa generasi kemajuan teknologi untuk bisa
memberikan pengacara klien kami sebuah map berisi dua puluh tujuh foto berwarna
ukuran delapan kali sepuluh inci dengan lingkaran dan anak panah, tapi tumpukan
bukti ini sudah cukup untuk menyudutkannya.
Aku
membolak-balik halaman dan melihat bahwa kami bahkan telah menguraikan setiap
makanannya dengan sangat detail. Bahkan karakter paling licin pun tidak bisa
lolos dari ini.
"Ugh...
Kamu bahkan menulis apa yang dia katakan di kamar tidur?"
"Aku
membaca gerak bibir, jadi anggaplah seperlima dari itu sebagai perkiraan
saja."
Kelelahan Margit
jelas sangat beralasan. Arachne jauh lebih baik daripada mensch
dalam hal diam dan berjaga, tapi harus melewati bahkan sebagian kecil dari
segala hal kotor yang membosankan ini akan menguji keinginan siapa pun untuk
hidup.
"Aku
benar-benar tidak mengerti kenapa pria itu membuang kesempatannya dengan
selingkuhan setelah menikah dengan keluarga pedagang yang kaya raya,"
kataku. "Saat istri dan ayah mertuanya mendapatkan ini, aku berani
bertaruh kepalanya akan melayang..."
Kasus
perselingkuhan ini dibawa ke perhatian kami tak lama setelah klien menyadari
adanya ketidakberesan dalam keuangan bisnis mereka.
Klien tersebut
adalah kepala baru dari keluarga pedagang yang mengambil alih operasi setelah
tuan tua—ayahnya—pensiun.
Awalnya, dia
mengira itu hanya kesalahan amatir dalam perhitungannya. Pada satu titik dia
berteori bahwa telah terjadi pencurian yang tidak disadari oleh keluarga.
Namun, saat dia
menjadi lebih waspada, dia mulai menerima laporan sporadis dari klien mereka,
yang mengatakan bahwa karyawan terbaru mereka—suami dari putri tuan rumah, yang
baru saja menikah dengan keluarga tersebut—tidak muncul dalam pertemuan.
Tak lama kemudian
dia menjadi tersangka utama. Sang tuan membuntutinya untuk mencari tahu ke mana
uang itu pergi; sangat jelas bahwa semuanya dialirkan ke kantong
selingkuhannya, tapi sang tuan tidak percaya diri dengan kemampuan
investigasinya sendiri, jadi perantaranya meminta kami untuk memberikan bukti
yang kuat.
Klien kami sangat
marah. Aku tidak bisa menyalahkan pria itu. Dia telah membiarkan putrinya
menikah karena cinta—prospek yang sulit bagi siapa pun di zaman sekarang—namun
pria itu telah mempermalukan tidak hanya putrinya, tapi juga ayahnya. Sang
putri akan patah hati.
Apa yang
meyakinkan suaminya untuk melibatkan diri dalam drama opera sabun seperti itu?
Akan ada darah yang tumpah. Aku yakin itu.
"Man, aku
tidak sabar ingin memberi pengarahan kepada perantara... Itu bahkan bukan
pernikahan yang dijodohkan! Kenapa dia membuang istrinya begitu saja?"
"Siapa yang
tahu. Dia cukup tampan; mungkin dia menipunya."
Margit melepas
ikatan rambutnya dan membiarkan rambut ikalnya tergerai.
Aku melihat
sekilas tengkuknya di sela-sela rambutnya, pemandangan itu membuat jantungku
berdegup kencang.
Margit
menatapku dengan ekspresi aneh.
"K-Kenapa?"
tanyaku.
"Aku
melihat caramu menatapku," katanya, seringai nakal bermain di bibirnya
saat dia duduk di tempat tidur. Aku menyadari bahwa dia mungkin menggeraikan
rambutnya seperti itu untuk memberi sinyal kepadaku bahwa dia lelah dan butuh
perhatian.
"Kupikir
aku tidak sejelas itu."
"Aku tidak
keberatan—malah, aku suka semua perhatian yang kudapatkan darimu."
Aku
mengambil sisir dan duduk di tempat tidur. Margit bergerak begitu anggun di
depanku sehingga seolah-olah dia melayang di sana, dan duduk di ruang di antara
kedua kakiku.
Dengan
bagian belakang kepalanya yang rentan dan terbuka, aku menikmati hak istimewa
spesial dan unik untuk menyentuh rambutnya.
Apakah si
bodoh itu tidak menyadari betapa beruntungnya hubungan semacam ini?
Aku tidak bisa
memahami kedalaman kebodohannya. Seberapa besar nafsu liar yang tidak
terkendali yang harus kau miliki untuk merusak hidupmu seperti itu?
"Ahh... Itu
rasanya menyenangkan."
Aku terkekeh.
"Aku membayangkan Nona pasti merasa cukup lelah."
"Ya, begitulah... Ini seperti di surga."
Sambil menyisir rambut Margit, aku mengambil kesempatan
untuk memberikan sedikit pijatan di kepalanya. Dia meleleh dalam dekapanku saat
stres dari pekerjaannya memudar.
"Kamu benar-benar hebat tadi, sungguh. Kamu menemukannya dua hari sebelum tenggat waktu
kita juga! Kamu menggali kuburnya, dan dia langsung masuk ke dalamnya. Rekanku
benar-benar tidak tertandingi."
"Mmm...
Pujianmu tidak akan memberimu apa-apa... tapi aku menghargainya."
Aku menggerakkan
tanganku ke lehernya, lalu bahu, lalu punggung, sambil menghilangkan setiap
simpul kecil stres.
Aku mengikat
rambutnya seperti biasa menjadi dua kuncir dan mencium bagian belakang
kepalanya. Dia beraroma samar keringat dan musk manisnya yang biasa.
"Aku
sejujurnya tidak percaya seberapa banyak informan itu berhasil menggali tentang
kita. Padahal aku tidak pergi selama itu. Aku penasaran bagaimana dia tahu di
mana kita tinggal," kata Margit, dengan ramah kembali ke topik yang
kulemparkan segera setelah dia masuk tadi.
Aku menegaskan
kembali kepada diriku sendiri betapa beruntungnya aku memiliki Margit—dia
menjagaku tetap aman, mengawasi tempat yang tidak bisa kulihat, bahkan
mengesampingkan kelelahannya untuk mendiskusikan masalah ini denganku.
"Kita bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk berpikir dan tetap tidak mendapatkan
jawaban yang layak. Aku ragu kita dalam bahaya—tidak ada yang cukup bodoh untuk
melakukan sesuatu di depan pintu rumah orang suci."
"Aku ragu
kita akan dibuntuti, tapi mari kita tetap waspada."
"Setuju.
Erich, aku menghargai betapa kau memercayaiku, tapi tolong jangan perlakukan
aku seperti agen yang sempurna. Siapa yang tahu kalau aku bahkan bisa
menyadarinya. Dia mungkin sengaja membiarkanmu menangkapnya di halaman, kau
tahu kan?" kata Margit. Aku mengagumi kerendahhatiannya meskipun dia
sehebat itu.
Tapi mungkin dia
benar—mungkin Schnee sedang mengujiku. Dia mungkin membuat dirinya nyaris tidak
terlihat untuk menguji apakah mataku cukup tajam untuk menemukannya.
Aku jauh lebih
suka ketika orang mengumumkan niat membunuh mereka secara terang-terangan.
Bahwa dia menjaga
pendekatannya dalam sudut pandangku sepanjang waktu membuatnya sulit untuk
menentukan cara bereaksi.
Aku masih dalam
proses membangun fondasi; aku lebih suka dia tidak menusuk titik terlemah
benteng kami.
"Setuju... Aku akan bicara dengan Zenab saat bertemu
dengannya nanti dan bertanya apakah dia punya jimat anti-pelacakan."
"Siapa yang
tahu jebakan sihir apa yang bisa menunggu kita? Siapa tahu, mungkin musuh kita
mempekerjakan pendekar pedang menakutkan dengan gudang rahasia berisi
mantra."
Ucapannya tepat
sasaran. Aku tidak bisa begitu saja mengesampingkan kemungkinan bahwa aku bukan
satu-satunya yang menolak untuk menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Lebih
baik untuk berhati-hati.
Kami memutuskan
bahwa tidak ada gunanya mengkhawatirkan atau bahkan mendiskusikan masalah ini
hanya berdua saja, jadi kami pergi ke Snowy Silverwolf untuk makan malam.
Akhir-akhir ini
kami ke sana sekali sehari untuk menjaga hubungan baik dengan anggota
Fellowship lainnya.
"Itu
kalian," kata Tuan John sesaat setelah kami baru melangkah masuk, bahkan
sebelum air minum putaran pertama disajikan—tentu saja, tidak ada yang
memberikan air keran bersih secara gratis di dunia ini. Dari nadanya, dia
sedang tidak senang dengan kami; aku langsung melakukan inventarisasi mental
tentang segala hal yang mungkin kulakukan untuk membuatnya kesal.
"Itu dia. Bukan orang yang sama, ya?"
"Hah? Apa... yang terjadi?"
Ucapan Tuan John ditujukan kepada seorang pria mensch
tua yang duduk tegak seperti tongkat di bangku dekat situ.
"Apakah dia
di sini untuk menemuiku?" tanyaku.
"Tidak juga," jawab Tuan John. "Kamu tidak pergi ke distrik Heidewitt di
awal musim panas, kan?"
"Heidewitt?
Aku sedang melakukan penyelidikan di bawah Mauser pada awal musim panas. Klien
memintaku untuk membereskan beberapa bajak laut sungai."
Aku tidak
tahu apa hubungan Heidewitt dengan ini—distrik itu berada di hulu sungai Mauser
dari sini.
Pergumulan
kecilku dengan kawanan bandit basah itu adalah tugas yang paling menyita waktu
dalam seluruh rangkaian pekerjaanku di sekitar awal musim panas.
Minggu-minggu
setelah itu aku sibuk dengan urusan klan—tidak ada waktu untuk melakukan
perjalanan empat hari ke timur menuju distrik di bawah yurisdiksi Altheim...
"U-Um, jika
boleh?" pria tua itu menyela. "Apakah Anda benar-benar...
Erich si Goldilocks?"
"Erich adalah nama yang cukup pasaran; aku yakin Anda
bisa menemukan banyak Erich di sekitar sini. Tapi di seluruh Ende Erde, sejauh
yang kutahu, Goldilocks cuma ada satu."
"D-Dan
rekan arachne Anda adalah...?"
"Margit
dari Konigstuhl. Namaku juga tidak terlalu langka."
Ekspresi
pria itu berubah. Darah mulai surut dari wajahnya yang tadinya merah padam
karena amarah, saat dia menyadari sesuatu.
"Jika
Anda mau, aku bisa menunjukkan tanda pengenal petualangku. Anda bisa mencatat
nomornya dan mengonfirmasi identitasku ke Asosiasi kalau mau."
Tatapannya terus
beralih dari wajahku ke arah lain. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku,
tapi tiba-tiba dia membungkuk dalam-dalam dari kursinya.
Di Kekaisaran,
kami tidak memiliki budaya membungkuk seperti di Jepang, tapi jika ada, aku
yakin keningnya sudah menempel di lantai kayu.
"M-Mohon
maaf sebesar-besarnya! S-Saya mohon pengampunan Anda!"
"Aku juga
harus minta maaf—aku sama sekali tidak tahu apa maksud semua ini. Bagaimana
kalau Anda menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri. Ada apa sebenarnya,
Tuan John?"
"Dia sudah
di sini sepanjang sore, berteriak-teriak ingin bertemu Erich si Goldilocks.
Katanya kamu memperlakukan cucunya dengan sangat buruk dan dia menuntut
kompensasi uang, setidaknya begitu."
"Kau bilang
apa?"
Nada suara yang
biasanya kusisihkan hanya untuk penjahat paling menjijikkan keluar begitu saja.
"Erich."
"Ah! Maaf, Margit..."
Ini tidak bagus. Aku sudah merasa tegang sejak insiden dengan Schnee.
Bisa saja
orang ini adalah pria terhormat, bukan sekadar tukang gosip kelas teri yang
perlu kubungkam mulut dustanya. Tidak baik bertindak seperti preman yang
memeras penduduk desa yang tidak bersalah. Faktanya memang terdengar
mengerikan, tapi menakuti pria malang ini bukanlah hal yang bijak.
"I-Izinkan
saya menjelaskan," pria itu akhirnya angkat bicara. "Beberapa waktu
lalu, k-kisah Anda sampai ke distrik kecil kami. T-Tak lama kemudian,
seorang pria muncul... mengaku bahwa dia adalah Erich si Goldilocks."
Gemetar pria itu semakin hebat; suaranya bergetar, entah
karena sedih atau frustrasi, aku tidak tahu.
Aku memukul dahiku sendiri dalam hati karena tidak sengaja
menunjukkan taringku—dia hanyalah pembawa pesan! Aku harus mengendalikan
emosiku jika ingin memperlakukan semua orang dengan rasa hormat. Aku memasang
wajah yang lebih tenang dan mendengarkan ceritanya dengan sabar.
Singkat ceritanya, namaku telah dicatut oleh seorang peniru.
Seorang pemuda dengan rambut emas dan mata biru—ciri yang
tidak umum di Kekaisaran—telah mengunjungi distrik pria ini dan mengaku sebagai
Erich si Goldilocks seperti yang diceritakan dalam lagu yang sedang populer.
Dia mengaku baru saja menyelesaikan perburuan bandit di
dekat sana dan memilih Heidewitt sebagai tempat peristirahatan berikutnya.
Penduduk setempat pun menyambut pahlawan gadungan ini dengan hangat.
Pria tua itu memberinya kamar, tapi "kembaranku"
ini membalasnya dengan cara yang paling buruk.
Dia tidak hanya meminta uang untuk "biaya
perjalanan," tapi dia juga meniduri cucu pria itu—bahkan di dunia yang
suram dan amoral seperti ini, itu adalah penyalahgunaan kepercayaan dan
pelanggaran martabat yang nyata mengingat klaim palsunya.
Sebelum pergi, si peniru itu berjanji akan kembali sebelum
tengah musim panas dengan uang pengganti dan lamaran pernikahan untuk cucunya.
Namun, si Goldilocks palsu tidak pernah kembali, sehingga
pria tua yang murka itu datang ke Marsheim untuk mencari pelakunya sendiri.
"Ugh... aku tidak percaya ini," gumamku.
"S-Saya sungguh minta maaf! Saya telah mengatakan hal-hal buruk tentang
Anda! M-Mohon maafkan
saya..."
"Sudah
kubilang padanya," sela Tuan John. "Dia mengeluh tentangmu sepanjang
sore, membuat keributan di sini; aku sudah membela karaktermu terhadap setiap
tuduhan yang dia lontarkan, tapi dia tetap saja mengamuk."
Tuan John
sepertinya tidak membenci pria itu secara pribadi—hanya perilaku kasarnya
saja—tapi ini tampaknya menjadi titik terendah bagi pemohon malang kami. Dia
terkulai dalam keputusasaan yang mendalam.
"Ini bukan
salahnya, Tuan John. Sebuah lagu adalah pengganti yang buruk untuk deskripsi
yang akurat. Itu adalah penipuan yang bisa dijalankan oleh siapa pun dengan
mata biru dan rambut emas."
Sudah sewajarnya
tidak ada yang menuntut standar jurnalistik yang ketat pada siklus lagu balada.
Itu bukanlah
karya biografi nonfiksi; hanya ada batas tertentu dari deskripsi tokoh di
dalamnya. Deskripsi itu jelas tidak akan membuatmu bisa mengenali orang yang
asli di barisan tersangka polisi.
Tanpa media massa
yang bisa diproduksi ulang atau identifikasi DNA, sulit untuk membuktikan bahwa
kamu adalah kamu tanpa keraguan sedikit pun.
Apalagi
bagi seseorang yang baru pertama kali bertemu. Kepercayaan sangatlah berharga
di sini. Aku tidak ingin menyalahkan pria ini karena berasumsi bahwa seseorang
yang memenuhi prinsip "jika terlihat seperti bebek, berenang seperti
bebek, dan bersuara seperti bebek" adalah orang yang mereka katakan.
Dia telah
dirugikan oleh Erich palsu ini, jadi aku juga tidak bisa menyalahkannya karena
meluapkan kemarahan di kedai petualang ini sepanjang hari.
Akan
mudah bagiku untuk balik meneriakinya karena dia ada di depanku, tapi orang
yang benar-benar bersalah di sini adalah bajingan yang menipu dan melecehkan
orang-orang di seluruh negeri menggunakan namaku.
"Tidak
hanya itu, ada begitu banyak insiden pemuda yang memangsa para ayah yang
kehilangan putra mereka dengan cara yang sama. Satu-satunya perbedaan nyata di sini adalah namaku
yang disalahgunakan."
Meskipun KTP
berfoto adalah hal yang lumrah di duniaku dulu, rakyat jelata di sini tidak
punya hal semacam itu.
Tentu saja, sihir
atau mukjizat bisa membereskan situasi seperti ini dengan mudah, tapi dalam
hampir semua kasus, kau harus mengandalkan ingatan, pemikiran kritis, dan
kata-kata baik orang lain.
Tidak
mengherankan jika para penipu merajalela. Hanya butuh sedikit riset untuk
mengetahui gambaran umum orang yang ingin ditiru, sedikit kata-kata manis, dan simsalabim,
penipuanmu berhasil.
Dari apa yang
bisa kutangkap dari kasus ini, tersangka kami adalah orang yang ahli. Dia
adalah penipu dengan skill Persuasion yang terlalu tinggi, tidak
diragukan lagi meninggalkan jejak hati yang hancur dan dompet yang kosong di
belakangnya.
Tuan John
menghela napas. "Kamu benar. Seharusnya aku tidak marah pada kalian
berdua."
Dia menggaruk
rambut hitamnya yang berantakan sebelum berjalan ke dapur dengan pesan tak
terucap bahwa dia akan menyerahkan urusan ini pada kami. Aku paham bahwa dia
tahu aku tidak akan tenang sampai aku menyelesaikan masalahku sendiri.
Sejujurnya,
ini datang di waktu yang salah. Aku sudah kurang tidur karena beban kerja saat
ini—sekarang aku harus membuang sumber daya untuk seorang peniru?
Demi para
dewa, jika pria ini tidak membawa leher musuh kami ke papan jagal untukku, aku
tidak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.
Aku
menekan amarah yang meluap sekali lagi—pria tua yang lesu ini bukanlah target
rasa frustrasiku. Dia dan aku sama-sama korban di sini. Tidak ada gunanya
mengeluh padanya; paling-paling, aku hanya akan dihujat karena menindas seorang
kakek malang di depan umum.
"Saya, um... Saya, uh, sungguh minta maaf, bagaimana
saya bisa..."
"Anda
benar-benar tidak perlu minta maaf lagi, Pak. Siapa nama Anda?"
"Ah! Maafkan
saya! Nama saya Guido dari Heidewitt."
Aku membantu
Guido berdiri dan membimbingnya ke sebuah meja. Aku menahan diri untuk tidak
membawanya ke kursi biasa kami—beberapa pemula yang kulatih pagi ini masih ada
di sana, menatapnya dengan tajam. Mereka pasti telah membela namaku sepanjang
hari.
Man, aku tidak
pernah merasa "bukti iblis" adalah istilah yang lebih tepat sampai
sekarang. Betapa sulitnya membuktikan bahwa kau tidak melakukan
sesuatu...
Aku mendudukkan
Guido dan meminta salah satu pelayan membawakannya segelas air. Setelah
beberapa teguk, gemetarnya akhirnya berhenti, dan dia sepertinya sudah mulai
tenang.
Nah, di sinilah
medan uji kesabaranku yang sebenarnya.
"Sekarang,
Guido. Anda menyebutkan bahwa Anda ditipu satu drachma. Keluarga
Anda pasti cukup kaya, bukan?"
"I-Iya... Kami telah menjadi tuan tanah distrik selama
tujuh generasi terakhir, dan kami memiliki lahan pertanian sederhana. Saya
sudah pensiun sejak lama dan telah menyisihkan uang itu untuk gaun sutra
pernikahan cucu saya nanti."
Ekspresi, gerak-gerik, bahasa tubuh, kata-kata—semuanya
tidak menunjukkan bahwa dia sedang berbohong. Tangannya menunjukkan usianya,
tapi kualitas kuku-kukunya mengungkapkan bahwa dia bukan seorang buruh kasar.
Sepertinya dia adalah tuan tanah tipikal yang mengorganisir
petani dan hidup dari hasil bumi tanpa melakukan kerja lapangan yang
sebenarnya.
Warna kulit wajahnya yang sedikit kecokelatan menunjukkan
bahwa meskipun dia tidak mencangkul sawah sendiri, dia mengawasi pekerjaan
mereka secara langsung. Tidak
terlihat seolah dia memalsukan bekas sengatan matahari hanya untuk menipuku.
Jika ini semua
hanyalah akting? Yah, aku akan dengan senang hati memberikan piala Oscar kepada
Guido. Jangan pedulikan aku—jika dia bisa menipu Tuan John, seorang veteran
sejati dalam bisnis ini, dia memang pantas mendapatkannya.
"Begitu...
Bisakah Anda mendeskripsikan pria itu sekali lagi untukku?"
"Dia...
tingginya sekitar satu lebar jari lebih tinggi darimu. Kalian berdua berambut
emas, tapi kau tidak punya bintik-bintik (freckles) seperti dia."
"Anda bilang
dia berambut emas, tapi apakah warnanya persis sama denganku? Bagaimana dengan
panjangnya?"
Memang benar
rambutku terkadang merepotkan karena panjangnya, tapi di antara rekan-rekan alfar
dan adikku yang manis—yang akan meraung jika aku memotongnya—aku punya alasan
untuk bangga menjaganya tetap bagus dan berkilau.
Pergi ke
pemandian adalah keharusan. Aku menyisirnya setiap hari. Aku mengoleskan minyak
rambut jika sempat. Sial, aku bahkan mengatur posisi tidurku untuk
meminimalisir rambut berantakan saat bangun tidur.
Aku pernah
mendengar pertunjukan lagu tentangku di mana si penyair menyanyi bahwa
"gadis-gadis kecil menggigit selimut mereka karena frustrasi melihat
rambutnya yang bercahaya," jadi maafkan aku jika aku sedikit sensitif soal
orang yang meremehkan rambut yang menjadi asal namaku ini.
"Ahh, yah... Sejujurnya, rambutnya tidak mirip
denganmu. Warnanya... sedikit lebih gelap. Memang panjang, tapi hanya sampai di
atas bahunya."
Ini informasi yang berguna. Dengan rambut kusam seukuran
bahu, bintik-bintik wajah, dan tinggi yang serupa, aku mulai menyusun gambaran
yang cukup lengkap tentang bajingan itu.
"Tapi pedangnya benar-benar asli. Bahkan saya pun
terkesan. Tangannya dipenuhi kapalan, seperti seorang penjaga sungguhan. Kurasa
itulah yang benar-benar menipu saya..."
Erich Palsu pastilah sesama petualang, atau tentara bayaran,
atau semacam buruh pengembara. Ini lebih dari cukup untuk menemukannya. Dia
pasti pernah mendengar ceritanya, melihat dirinya di cermin, dan berpikir
taruhan ini layak dicoba.
Guido sudah sering makan asam garam kehidupan, jadi dia
pasti tahu bahwa kisah-kisah kepahlawanan semacam ini cenderung menggunakan
banyak "improvisasi artistik".
Hal itu, pada gilirannya, memberinya ruang untuk meyakinkan
dirinya sendiri bahwa perbedaan penampilan itu bukanlah sebuah peringatan
bahaya.
"Terima kasih banyak, Guido. Ini sangat berguna. Aku
menghormati Anda karena telah datang jauh-jauh ke Marsheim demi cucu
Anda."
Ini sudah cukup bagiku untuk memulai. Sekarang yang harus kulakukan adalah menunjukkan
padanya betapa besarnya hatiku.
"Hm?!
T-Tidak, saya tidak bisa! Tolong, ambil kembali!"
Aku baru
saja meletakkan tiga koin emas di telapak tangannya dan mengatupkan
jari-jarinya untuk memastikan dia menyimpannya.
Beberapa drachmae
adalah harga yang murah untuk menebus nama baikku. Aku ingin dia menerimanya
bagaimanapun caranya.
"Dan
bawalah ini untuk cucu Anda."
Guido
sudah cukup bingung, jadi aku merasa agak tidak enak, tapi aku perlu memberinya
ini, setidaknya.
Aku telah
menggunakan Farsight untuk melihat kepalaku dari atas dan memotong
seikat rambutku. Aku memberikannya kepadanya, dibungkus hati-hati dalam
saputangan dengan sulaman yang kubuat sendiri.
"Ini
tidak akan cukup untuk menenangkan jiwanya setelah kehilangan kesuciannya
dengan begitu kejam, tapi aku harap ini bisa menjadi bukti bahwa Anda telah
melakukan yang terbaik untuknya."
"S-Saya
tidak mungkin menerimanya! Rambut ini adalah bahan legenda!"
"Aku
mohon, terimalah. Aku harap Anda akan menceritakan kepada cucu Anda apa yang
terjadi hari ini."
Ini
diharapkan bisa menjadi bukti bahwa dia telah marah dengan benar demi putrinya,
bahwa dia telah memohon maaf atas kebodohannya, dan bahwa dia telah menerimanya
dariku.
"Aku akan
memastikan keadilan ditegakkan bagi bajingan itu."
Setelah
itu, aku mengantar Guido pergi.
"Apa Anda
yakin, Bos? Bukankah dia bisa saja orang suruhan si penipu yang haus koin lebih
banyak?" Etan bertanya saat aku tersenyum puas atas pekerjaan yang
selesai.
Dia adalah juru
bicara de facto para pemula sekarang; jika dia yang mengatakannya,
mereka semua pasti memikirkan hal yang sama.
Aku mengeluarkan
pipaku dan menghisapnya dalam-dalam sebelum memberikan senyum lebar.
"Yah, kurasa
pelaku kita ini tidak melakukannya murni demi uang, Etan. Lagipula, apa kau
lihat wajah pria itu? Aku belum pernah bertemu seseorang yang lebih terhormat
dan lurus daripada tuan tanah kota kecil. Aku yakin tindakanku akan menjamin
bahwa namaku, meskipun sempat diseret ke lumpur oleh peniruku, akan tetap
dihormati di Heidewitt dan sekitarnya. Aku hanya sedang membeli asuransi kecil
untuk mencegah siapa pun di masa depan mencoba mencari ketenaran dan kekayaan
menggunakan namaku."
Tindakanku bukan
semata-mata karena simpati kepada Guido dan cucunya. Untuk segala maksud dan
tujuan, aku sedang memasarkan diriku sendiri.
Guido datang ke
sini dengan kemarahan yang meluap-luap, siap menghajar si bajingan, tapi
sebaliknya dia menemukan seseorang yang mau mendengarkan dengan murah hati. Aku
yakin dia akan membalas belas kasihanku dengan hal yang sama.
"Dan Etan,
tenang saja—aku mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi saat ini aku
benar-benar meledak karena amarah."
"Benarkah?"
Etan memiringkan
kepalanya bingung—dia tidak bisa menghubungkan kata-kataku dengan pembawaanku.
Meskipun aku pernah meninggikan suara di depan para pemula sebelumnya, aku
belum pernah benar-benar marah kepada mereka.
Bahkan saat
pertemuan pertama kami, ketika kami berakhir "berkelahi" di halaman,
aku menanggapi ejekannya dengan tenang.
Tapi ketahuilah
ini, Etan: Aku peduli dengan reputasiku, oke?
Aku masih seorang
petualang pemula, tapi aku punya teman-teman yang kubanggakan dan keluarga yang
mengagumiku.
Bagi seseorang
yang mengambil semua itu dan menggunakannya untuk menangkis kesalahan atas
perilaku keji dan rendah—yah, aku tidak akan pernah, pernah membiarkan mereka
lolos begitu saja.
"Mengejekku
berarti melemparkan lumpur ke wajah kawan-kawanku, keluargaku, dan orang-orang
yang kuhargai."
Tidak akan ada
lagi "jika" atau "tapi"—keadilan akan ditegakkan sampai
batas maksimalnya.
Aku telah bekerja
keras hari demi hari untuk membangun reputasi yang baik bagi diriku sendiri.
Aku tidak akan membiarkan seseorang menyalahgunakannya untuk tujuan menyimpang
seperti itu dan meninggalkanku untuk menanggung akibatnya.
"Aku akan
menemukannya bahkan jika itu berarti aku harus memancingnya keluar dari jamban
dengan tangan kosongku sendiri."
Namaku ini
diberikan oleh orang tuaku tercinta, pikirku, dan dengan satu atau lain cara,
kau akan menerima ganjaranmu karena telah menyalahgunakannya, kau bajingan
pencuri. Aku menyalurkan amarahku ke dalam senyum yang manis dan menghisap
pipaku sekali lagi.
Suara ketakutan
Etan memberitahuku bahwa mungkin aku belum sepenuhnya menghilangkan jejak
amarah dari wajahku. Dia
mundur dua langkah karena terkejut. Apakah aku benar-benar terlihat begitu
mengerikan sekarang?
"Mengesampingkan
soal hukuman untuk saat ini," kata Margit, "bagaimana caramu
menemukannya? Bahkan aku tidak bisa menjelajahi seluruh Ende Erde hanya untuk
mencari satu orang."
"Jangan
khawatir; untuk Rencana A sampai F, kau tidak perlu mengangkat satu kaki manis
pun. Pertemuan kecilku tadi mungkin memang yang terbaik pada akhirnya."
Aku menopang
tanganku di belakang kepala seperti telinga kucing. Aku punya banyak cara untuk
menemukan seseorang—banyak koneksi yang bisa ditarik (lama maupun baru), dan
banyak mantra untuk dijalin—tapi aku pikir ini mungkin uji coba yang sempurna
bagi teman kucing baru kita untuk membuktikan nilainya kepada kita.
[Tips] Di Kekaisaran, orang-orang harus mengandalkan
ingatan mereka—atau jika beruntung, lukisan—untuk melacak ciri identitas
seseorang.
Jika seorang anak meninggalkan keluarga selama
bertahun-tahun, bukan tantangan besar bagi seseorang dengan sedikit kemampuan
improvisasi dan tanpa rasa malu untuk merebut posisi anak tersebut.
Banyak penipu yang meraup kekayaan di atas penderitaan
keluarga yang berduka. Yang lain cenderung meniru sosok terkenal dalam
lagu-lagu kontemporer untuk mencuri prestasi mereka.
Di duniaku dulu, pria dan wanita lanjut usia sering kali
menjadi target penipuan telepon yang mengaku sangat membutuhkan uang dan
memohon kepada "kakek-nenek" mereka untuk mentransfer sejumlah besar
uang guna membebaskan mereka dari masalah.
◆◇◆
Hidup di dunia ini membuatku menyadari betapa sulitnya
melakukan kejahatan di Jepang zaman modern.
"T-Tolong! Lepaskan aku!"
Lagipula, ada kamera CCTV ke mana pun kau pergi, sebagian
besar mobil punya kamera dasbor, dan semua bentuk transportasi jarak jauh
memiliki keamanan.
Polisi juga tidak bisa diremehkan, karena mereka bisa
menggunakan kamera di toko dan rumah untuk mengunci mata pada seorang pecundang
bahkan jika mereka tidak melihat kejadian aslinya.
Anonimitas membuatmu tetap hidup jika hukum mengincarmu, dan
di duniaku dulu, itu adalah sumber daya yang cepat habis bagi kebanyakan orang.
"S-Saya
mohon! L-Lepaskan saya! Saya minta maaf, oke?!"
"Iya, iya;
berhenti bergerak atau kau akan membuatku mengacaukannya."
Di sana, kau
harus melewati jaringan garis pandang kamera dan algoritma pengenalan wajah
yang semakin ketat jika ingin lolos dari apa pun.
Itu membuat
segalanya lebih aman bagi mereka yang berada di jalan yang lurus—orang-orang
tidak hilang sesering itu, dan pembuat onar yang paling parah tidak pernah
lewat tanpa terdeteksi.
Kurasa cara
paling umum untuk menangkap penjahat di Kekaisaran adalah melalui sketsa poster
buronan. Ini jauh dari kata sempurna. Interpretasi seniman itu sendiri dan
ingatan saksi yang samar membuat produk akhirnya selalu beberapa langkah
jauhnya dari aslinya.
"Aku mohon!
Jangan bunuh aku!"
"Aku tidak
akan membunumu."
Kau tidak bisa
mengandalkan taktik jumlah massa untuk menyisir orang asing yang acak; kecuali
targetmu punya ciri pengenal khusus, kau akan cukup kesulitan memburu mereka
begitu mereka melarikan diri dari yurisdiksi lokalmu.
Pernah ada kasus
di masa lalu di mana orang-orang bodoh tertangkap karena mereka melarikan diri
kembali ke kampung halaman karena rasa rindu atau kembali begitu saja karena
keadaan tidak berjalan baik di luar negeri.
Baru pada abad
sebelumnya negara-negara mulai bekerja sama untuk bertukar penjahat secara
internasional di Bumi—itu menggambarkan betapa banyak keuntungan yang bisa kau
dapatkan dari sebuah "jarak" di dunia ini.
Jika kau ingin
benar-benar memastikan pelarianmu tanpa cela, kau bisa menggunakan sihir atau
mukjizat untuk menghapus jejakmu, tapi jika kau hanya pencuri kelas teri, kau
harus mengeluarkan banyak uang untuk menyewa seorang profesional. Transaksi itu
sendiri akan bergantung sepenuhnya pada kepercayaan.
Jika kau tidak
tahu apa-apa tentang sihir, kau tidak punya cara aman untuk memverifikasi
apakah mantra semacam itu benar-benar berhasil.
Tentu saja, jika
berhasil, akhirnya sisa mana akan lenyap, dan orang-orang yang melacakmu
mungkin menggunakan informasi terbatas mereka untuk menangkap orang yang salah,
dan kau akan bebas. Tetap saja, segala jenis pelarian datang dengan masalahnya
sendiri.
Meskipun banyak
rute terbuka untukmu, tidak ada yang namanya pelarian yang sempurna, dan itulah
hal yang terus membayangimu.
"Aku tidak
ingin mendapatkan reputasi sebagai tipe orang yang membunuh sesamanya karena
marah, meskipun mereka adalah penipu rendah."
Ada
beberapa profesional sejati di luar sana, orang-orang yang Selalu Mendapatkan
Target Mereka. Mereka adalah prototipe dari Detektif Hebat klasik—ahli dalam
investigasi lapangan, logika, dan forensik; cendekiawan jiwa manusia dan segala
tuntutannya yang tak terduga; peramal sejati, yang mampu menemukan target
mereka tanpa setetes mana pun. Akhir-akhir ini aku telah menyewa satu jenius
seperti itu.
"Airnya sudah bagus dan panas sekarang."
"Terima kasih banyak, Margit."
"Tolong! Toloooong! Apa yang sebenarnya mau kau lakukan padaku?!"
Mungkin kamu
menyadari ada seseorang yang memutus monolog batin kecilku tadi. Schnee
berhasil meringkus ular beludak yang malang ini hanya dalam waktu lima hari.
Dia merahasiakan
metodenya—bagaimanapun juga, dia harus melindungi mata pencahariannya—tapi dia
memberitahuku bahwa dia melihat seorang individu berambut pirang yang sedang
berfoya-foya di kota terdekat yang berpenduduk sekitar delapan ratus jiwa. Aku
membawa anggota klanku yang ketakutan bersamaku, mengepungnya, dan menyeretnya
kembali ke Marsheim.
Schnee
benar-benar hebat. Dia telah membuat sketsa wajah dan menemukan tempat
persembunyian kecilnya dalam waktu singkat. Aku takjub dengan efisiensinya dan
bersyukur betapa mudahnya bekerja dengannya.
"Sudahlah,
kubilang kan aku tidak akan membunumu! Kita cuma mau mengadakan pertunjukan
publik kecil-kecilan."
Kami berkumpul di Adrian Imperial Plaza. Saat itu tengah
hari, dan matahari bersinar cerah di atas taman Asosiasi Petualang yang berada
di dekat sana.
Kerumunan sudah mulai berkumpul, bertanya-tanya apa yang
sedang terjadi, tapi aku tidak dalam bahaya dibubarkan oleh penjaga.
Bagaimanapun, aku sudah memastikan untuk mendapat izin eksplisit guna melakukan
hukuman publik ini.
Nama adalah
satu-satunya aset yang dimiliki seorang petualang. Asosiasi, yang bekerja sama
dengan kami, juga akan merugi jika pekerja harian mereka difitnah secara tidak
adil dan ada peniru yang menyeret nama mereka ke lumpur.
Jika mereka tidak
mengambil tanggung jawab dalam masalah seperti ini, itu akan berdampak buruk
bagi bisnis.
Aku diberi izin
untuk membersihkan namaku dan mengambil tindakan yang kuanggap perlu, asalkan
aku tidak membunuhnya—demikianlah perjanjian yang telah kutandatangani.
Bisa dibilang,
Asosiasi suka menjauhkan tangan mereka dari urusan antar petualang.
Satu-satunya
hukuman untuk perkelahian sesama petualang adalah denda uang, karena mereka
tidak mau repot dengan urusan administrasi yang tidak perlu.
Dengan begitu,
para petualang bisa berduel, menyelesaikan argumen mereka, membayar denda, dan
semua orang bisa melanjutkan hidup. Ini adalah metode dengan beban administrasi
paling sedikit.
Kekaisaran Rhine
adalah negara yang sangat besar, tapi terkadang ia berperilaku seperti negara
kecil yang malas.
Bagaimanapun, apa
yang kulakukan hari ini bukanlah eksekusi, melainkan pertunjukan publik untuk
mempermalukan penipu ini dan memberinya pelajaran agar tidak pernah macam-macam
lagi dengan petualang.
Teguran
ringan saja tidak akan cukup—dia harus benar-benar merasa menyesal.
"Baiklah,
Etan, Mathieu—pegangi dia."
"Berhenti!
BERHENTIIII!"
Aku tidak
berencana menyiksa tubuhnya atau semacamnya, jadi aku mengikatnya di atas
tandu. Tetap saja, astaga,
dia suka sekali meronta. Dia seperti ikan yang menggelepar mencari laut, tapi
tanpa harapan untuk bisa kembali ke air. Maaf sobat, kamu akan langsung
dimasukkan ke dalam panci.
Aku menaburkan
bubuk khusus tertentu ke atas kepala si bodoh itu sementara dua pemulaku
menahannya, lalu mengguyurkan seember air panas ke arahnya.
Aku menguleni
bubuk itu ke rambutnya lalu memberikan tarikan yang mantap. Rambut itu lepas
dalam satu gerakan bersih seperti mencabut rumput liar dari tanah, meninggalkan
kepala botak yang mengkilap sebagai gantinya.
"Gwaaagh!"
teriak si bodoh itu.
Gumamman
ketidaksenangan merayap di antara kerumunan. Banyak orang yang hadir, secara
sadar atau tidak, memegangi rambut atau topi mereka sendiri.
"Iuh..."
"Pemandangan
yang tidak menyenangkan."
"S-Seluruh rambut di kepalanya lepas! Apa dia bakal botak
selamanya?"
"N-Nggak
mungkin..."
Petualang
sering kali berkeringat dan harus memakai helm. Meski begitu, banyak orang
menghargai rambut mereka dan mencoba merawatnya, terlepas dari keadaannya.
"Wah!
Lepasnya bersih sekali, persis seperti yang kau katakan!" kataku dengan
penuh rasa kagum.
"K-Kaya,
bagaimana bisa kamu menciptakan sesuatu yang sekejam ini?" ucap Siegfried
dengan suara gemetar.
"Menghancurkan
itu lebih mudah daripada menciptakan. Itu adalah pelajaran universal yang harus
selalu kau ingat, Dee," balas Kaya.
Bubuk yang
kugunakan adalah krim penghilang bulu merek buatan Kaya sendiri. Tentu saja,
aku tidak memintanya untuk membuatkan ini khusus untuk hari ini.
Baik pria maupun
wanita di Kekaisaran menganggap diri mereka beradab, dan karena itu mereka
berusaha menghilangkan bulu berlebih.
Di saat beberapa
orang menggunakan scrub di pemandian atau pergi ke spesialis, Kaya
meracik formulanya sendiri. Aku membeli sebotol darinya, dan itu benar-benar
membuat penghilangan bulu menjadi sangat mudah. Taburkan, tambah air panas, dan
kamu akan jadi mulus selicin sutra.
Varian milik Kaya
dirancang untuk tidak aktif kecuali jika dipicu oleh air panas, jadi meskipun
kami terciprat busanya, fakta bahwa kami masih kering berarti setiap helai
rambut di kepala kami sendiri tetap aman dan selamat.
Sejauh yang
kutahu, tidak ada cara untuk mempercepat pertumbuhan rambut di dunia ini.
"Apa yang
kau lakukan?! Lepaskan aku! TOLOOOONG!"
"Iya, iya,
berhenti merengek. Ini adalah ganjaran yang pantas untukmu. Aku harap kamu
memetik pelajarannya."
Dengan menjadi
orang pertama yang menggunakan namaku untuk tujuan terlarang, penipu ini telah
menjadi contoh bagi yang lain.
Menghukum satu
orang untuk mencegah seratus orang lainnya adalah prinsip yang umum. Tentu
saja, membunuh tidak termasuk dalam pilihan—itu membuat citraku buruk—jadi ini
adalah cara terbaik yang bisa kupikirkan untuk mendemonstrasikan apa yang
terjadi jika seseorang berani menentang Erich si Goldilocks.
Mengingat pria
ini menggunakan rambutku untuk menjalankan penipuannya, yah, jelas dia tidak
pantas memilikinya lagi. Ini sedikit bergaya abad pertengahan—sikap memotong
tangan seseorang untuk memastikan dia tidak mencuri lagi—tapi aku ini sangat
murah hati.
Rambut bisa
tumbuh kembali. Anggota tubuh tidak bisa. Ramuan Kaya benar-benar alami, jadi
bisa dibilang aku ini sebaik Bodhisattva.
"Berhenti
merengek. Aku bukan iblis! Aku
masih menyisakan alismu utuh."
"APA?! Kamu
jahat! A-Aku mengaku kalau aku berpura-pura menjadi dirimu, tapi aku tidak
mencuri uangmu, kan?!"
"Menjawab
dan mencoba membantah kejahatanmu? Maaf, tapi sepertinya kamu belum
kapok."
"Hah?!"
Supaya kamu paham
konteksnya di sini, orang yang botak—kecuali karena alasan alami—diperlakukan
sedikit seperti orang buangan sosial.
Beberapa wilayah
bahkan menggunduli kepala orang sebagai hukuman dan tanda fisik atas apa yang
telah mereka lakukan.
Sayangnya, gaya
kepala plontos hanya cocok untuk segelintir orang saja.
Kepala Tuan
Hansel dicukur dengan hati-hati, jadi sejujurnya terlihat cukup keren, tapi
kebotakan sukarela sangat langka sehingga dia menjadi terkenal karena itu,
persis seperti Uskup Agung Lempel "Si Botak" di masa lalu.
Aku sudah
menyiapkan fase kedua tergantung pada seberapa menyesal sikapnya; sikapnya yang
merepotkan menunjukkan bahwa dia tidak akan lolos hanya dengan kepala botak
hari ini.
"Siegfried,
ambil talinya."
"Serius?
Kita benar-benar bakal melakukan ini?"
Adegan
ini memang sudah mengerikan, aku tahu, tapi kamu tidak boleh lembek terhadap
seseorang yang tidak mau belajar dari kesalahannya, Sieg.
Jika aku
dikenal sebagai orang yang membiarkan begitu saja satu orang yang telah
menyalahgunakan namaku, maka aku akan mendapat banjir peniru di masa depan.
Aku
sepenuhnya mendukung hukuman yang kejam dan tidak biasa, selama itu benar-benar
berfungsi sebagai pencegah dan tidak melanggar batas hingga membahayakan nyawa
seseorang.
Tidak hanya itu,
aku yakin dia adalah pelakunya. Dia mencoba kabur begitu melihatku, dan dalam
interogasi yang sama sekali tanpa rasa sakit, dia mengakui semua yang telah
dilakukannya.
Dia tidak
mengarang cerita untuk bisa bebas juga—ceritanya cocok dengan penuturan Guido.
Jadi sekarang aku
harus menyelesaikan ini sampai akhir. Aku perlu membiarkan seluruh Ende Erde
tahu bahwa aku adalah orang yang tidak boleh diajak main-macam. Sekali lagi.
"Ooh, mulus
sekali. Kepalamu seperti telur rebus," kataku.
"Jangan
ngomong gitu, sobat," kata Siegfried sambil menyerahkan tali itu kepadaku.
"Aku nggak bakal bisa makan telur selama berhari-hari..."
"Rambutku!
RAMBUTKUUU!"
Aku menggunakan
sisa air untuk membilas sisa busa dan rambut yang masih menempel. Kepala
botaknya terpampang jelas bagi semua orang. Itu tidak memiliki rona kebiruan
seperti potongan buzz cut—bagaimanapun juga, rambutnya telah dicabut
dari akarnya.
Kaya
benar-benar meracik sesuatu yang luar biasa. Bisakah dia mengubah racikannya
untuk mencabuti bulu ayam, mungkin?
Itu
benar-benar bisa merampingkan urusan memasak, aku mempertimbangkan untuk bicara
padanya nanti soal menjual patennya... Tungguuu; tahan sebentar, pikirku, segera menyadari. Benda ini terlalu kuat
untuk dimiliki semua orang.
Seseorang mungkin
akan mengoleskannya ke kepala musuh mereka. Bagi sebagian orang, kematian
sosial karena penampilan mereka dirusak lebih buruk daripada kematian yang
sebenarnya.
"Baiklah,
saatnya. Gantung dia, kawan-kawan!"
"Kamu
benar-benar pria berhati dingin..." gumam Siegfried.
Terlepas dari
gerutuan Siegfried, akulah pihak yang telah dirugikan, jadi aku menggantung si
botak ini terbalik pada lampu jalan ajaib dengan papan bertuliskan, "Aku
adalah bajingan besar yang meniru orang lain."
"Ayolah,
kawan. Bayangkan jika seseorang menggunakan nama baikmu untuk mencuri uang
seorang pria tua dan kemudian melecehkan seorang wanita muda yang malang.
Bayangkan telunjuk yang menuding saat orang-orang secara bertahap berpikir
semakin buruk tentangmu."
"Ugh, iya
sih, aku mungkin bakal menikam orang itu, benar juga. Kurasa apa yang kau
lakukan lebih kejam dari itu, sejujurnya."
Aku bukan
pria yang kejam secara tidak adil. Orang hanya bisa bertahan dalam posisi ini
selama sekitar dua jam atau lebih—lebih dari itu, darah yang mengalir ke
kepalanya bisa melukai atau membunuhnya.
Aku akan
membiarkannya di sana selama sekitar sepuluh menit, dan jika dia masih belum
belajar, maka aku akan memberinya rotasi lambat yang bagus untuk istirahat
sejenak sebelum menaikkan kakinya ke udara lagi selama sepuluh menit lagi. Aku
akan memastikan untuk mengeceknya selama dia tetap tidak menyesal.
Ironisnya,
kebaikan adalah satu-satunya hal yang bisa merusak seluruh rencana ini. Seorang
pendekar pedang terkenal yang menyukai ikan koi menekankan pentingnya pesan
yang dibawa oleh suatu tindakan.
"Membunuh
itu tidak baik, Sieg. Itu akan membuat citraku buruk. Kita perlu memastikan orang-orang yang menonton
bisa menertawakan keangkuhan orang ini, bukan merengut melihat kekejaman kita. Jika
terlalu jauh, kita akan membuat Fellowship of the Blade terkesan kejam dan
tidak adil."
Aku adalah jiwa yang jauh lebih baik hati daripada
orang-orang yang kujadikan inspirasi. Dia tidak akan mengalami luka yang
bertahan lama, tidak ada cacat—hanya kepala botak yang akan tumbuh kembali.
Dia hanya perlu menjaga profil rendah untuk sementara waktu.
Jika dia mau, dia bisa pergi ke satu atau dua wilayah lain dan memulai hidup
baru di kota di mana tidak ada yang tahu namanya.
Tidak ada media sosial atau foto di sini—sangat mudah
dilakukan. Bahkan dengan pertunjukan ini, itu tidak akan mendapatkan bahkan
setengah dari pengaruh jangka panjang yang dihasilkan oleh malam kehancuran
penuh keadilan milik Fidelio.
Meski begitu, ini akan menghentikan siapa pun untuk
melakukan apa yang telah dilakukan si botak bodoh ini.
"Kalau aku jadi dia, aku mungkin akan menggorok leherku
sendiri karena malu," lanjut Siegfried, sambil menatap pria yang
tergantung itu.
"Orang seperti dia tidak punya nyali untuk melakukan
itu. Dia seorang penipu, pembicara yang manis—seseorang yang menghindari
tanggung jawab. Tapi santai saja. Tonton saja pertunjukannya, oke?"
Aku agak khawatir beberapa orang yang menonton menatapnya
dengan sedikit lebih banyak rasa prihatin daripada ejekan—rasanya berbeda dari
sorakan yang kudengar terjadi pada eksekusi publik—tapi itu tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan kepuasan yang kurasakan atas pekerjaan yang
terselesaikan dengan baik.
"Kerja
bagus," kataku pada Schnee.
"Astaga... Ketahuan lagi? Berapa lama kali ini?"
Bubastisian berbulu putih itu datang untuk menilai
hasil jerih payahnya; aku bisa melihat telinganya merata karena putus asa
setelah aku memanggilnya.
"Aku harus bilang, aku cukup terkesan padanya,"
bisik Margit ke telingaku.
Pujian dari Margit berarti pengintai cantikku berpikir bahwa
kemampuan Schnee untuk menghilang ke udara atau kerumunan mungkin lebih baik
daripada miliknya sendiri.
Schnee memiliki bonus rasialnya sendiri untuk dimanfaatkan—bubastisian
selincah rekan kucing mereka. Banyak dari mereka cenderung tidak tenang atau
mudah bosan, sehingga orang sering lupa bahwa mereka adalah pemburu yang
terampil.
"Apa-apaan—?!
Kapan kamu sampai di sini?!" kata Siegfried, sambil melangkah mundur. "Bulumu putih
sekali... Man, kamu punya kemampuan untuk menghilang begitu saja padahal
seharusnya kamu yang paling mencolok di sini."
"Tapi
aku mencolok sekali seperti jempol yang bengkak kalau gelap! Hee hee, aku beneran semangat bisa kerja
bareng kalian juga, Tuan Wakil Pemimpin."
Si bubastisian
mengayunkan ekornya saat dia menyaksikan pemandangan yang kontras di mana Kaya
dengan ramah menjelaskan kepada Sieg apa arti "semangat" (gassed)
sementara seorang pria botak yang terbalik meneriakkan sumpah serapah kepadaku.
"Aku
harus bilang, Erich, kamu memikirkan hal-hal paling lucu."
"Kupikir
mengadakan pertunjukan lebih baik daripada dibayar dengan darah. Aku penasaran berapa lama dia akan terus
berteriak bahwa dia akan menghabisiku..."
"Kira-kira
dia bakal tahan setengah jam? Dia itu kelas teri, hampir nggak layak buat diburu," kata Schnee
sambil menghela napas.
Dia benar, tentu
saja. Dia adalah penipu kacangan yang telah melakukan serangkaian kejahatan
kecil selain sumpah palsu.
Dia bahkan
memiliki cap kriminal dari wilayah lain. Ketika Schnee membawakan catatannya
tentang dia kepadaku, dia bertanya-tanya apa untungnya bagiku memburu seseorang
yang sekelas teri itu.
Di mataku, dia
adalah contoh yang sempurna untuk kubuat. Jika dia seekor hiu, bukan ikan teri,
dia tidak akan semudah itu untuk dimasak.
Jika seseorang dari organisasi berbahaya atau
keluarga bangsawan tertentu yang meniruku, maka aku harus mengubah taktik.
Seluruh sandiwara publik ini terasa sedikit terlalu kental gaya petualangnya.
Dia bekerja
sendiri, dan itu berarti aku tidak perlu khawatir dia memanggil bantuan untuk
melawanku. Yang bisa dia lakukan hanyalah berteriak bahwa dia akan membunuhku,
padahal dia tahu betul dia tidak akan pernah bisa melakukannya.
Aku akan aman,
tapi aku merasa sedikit kasihan pada orang-orang malang lainnya yang punya
masalah rambut seperti dia yang mungkin dikira sebagai mata keranjang. Untung
saja jumlah orang botak sangat sedikit, kurasa.
"Getaran di
kumisku yang membuatku bicara padamu, tapi aku harus bilang, sepertinya aku
harus lebih memercayai leluhur agung kami."
Dari apa yang
kutahu, bubastisian berasal dari negara ilahi di benua selatan yang
dulunya memiliki kekuatan besar tetapi telah kehilangan kekuatannya di era
sekarang.
Ada dewa kucing
dari bangsa ini yang masih memegang pengaruh besar, dan banyak teolog menduga
bahwa para raja kucing yang tinggal di seantero Kekaisaran memiliki
hubungan—mungkin makhluk ilahi tingkat rendah yang telah memisahkan diri dari
jajaran dewa tersebut.
Bagaimanapun, bubastisian
memiliki insting yang bagus.
"Aku nggak
yakin ini nyawaku yang keberapa dari sembilan nyawa, tapi aku yakin aku dapat
poin karena kerja bareng kamu."
Keyakinan agama
dan sikap mereka terhadap hidup dan mati lebih kompleks daripada milik kami.
Mereka bisa berkomunikasi dengan kucing cerdas dan menganggap mereka sebagai
rekan mereka.
Bubastisian percaya bahwa ada kesempatan untuk
terlahir kembali sebagai raja kucing setelah reinkarnasi ke dalam kehidupan
kesembilan mereka.
Ini bukanlah
semacam sistem kepercayaan yang terkodifikasi; itu lebih merupakan salah satu
keyakinan yang tertanam dalam diri orang-orang di tingkat molekuler.
Aku bukan tipe
orang yang meremehkan kepercayaan rakyat. Melihat tunas pohon ek raja kucing
tumbuh beberapa detik setelah jatuh ke tanah di gunung tandus di Zeufar itu,
aku memastikan untuk tetap berpikiran terbuka.
Aku
bertanya-tanya sekarang apakah dewa mereka sedang meletakkan cakar di atas
tenunan takdirku.
"Aku tahu
kamu mencari pekerjaan sebanyak aku mencari informan. Bagaimana menurutmu? Apa
aku cukup layak sebagai majikanmu?" tanyaku.
"Aku nggak
bisa berhenti nyengir melihat tontonan ini. Kamu lebih dari sekadar menarik.
Yang ingin kudengar adalah apakah kamu puas dengan kerjaku."
"Kurasa aku
sudah menunjukkan kepuasanku melalui sarana yang lebih bersifat materi."
Saat aku
mengatakan ini, Schnee mulai berkedut dengan cara tertentu.
Dia tidak
sedang kesakitan atau apa—ini adalah cara tertawa unik khas bubastisian.
Banyak
dari ras mereka merasa sulit untuk berbicara dalam standar Kekaisaran, dan
bahkan mereka yang nyaman dengan bahasa kami tetap tidak menggunakan pita suara
saat tertawa.
Shymar
adalah penutur asli Rhinian, jadi dia tertawa seperti kami, tapi Adham tertawa
seperti Schnee.
"Kamu
benar juga. Nggak ada kucing di dunia ini yang bisa kamu sogok dengan koin
berkilau, tapi seorang gadis kan harus membayar makan malamnya. Terima kasih
banyak, Erich."
Tampak
puas, Schnee mengangkat ekornya saat dia menyelinap ke tengah kerumunan dan
menghilang dari pandangan. Rasanya seperti melihat kabut yang memudar menjadi
ketiadaan.
"Dia
sulit dipegang, ya? Mirip kucing dalam banyak hal," kata Margit.
"Setuju. Dia
sama sekali tidak seperti Shymar."
"Aku
penasaran apakah Schnee itu lebih ke tipe bubastisian pada
umumnya..."
Setiap orang
berbeda. Itu adalah fakta sederhana di dunia ini. Tidak semua orang Rhinian
adalah orang kaku yang terobsesi dengan efisiensi dan tidak punya selera humor.
Tidak semua orang
dari kepulauan adalah pencinta daging yang gaduh. Tidak semua orang dari Seine
terobsesi dengan kenikmatan materi dunia.
"Kamu
BENAR-BENAR BAJINGAN! Kepalamu milikku! Akan kuhias kuburanmu dengan isi
perutmu!"
Apa yang mereka
katakan di duniaku dulu? "Roda keadilan berputar lambat tapi menghancurkan
dengan sangat halus"?
Aku memuaskan
diri dengan semangat teriakan si bodoh yang terus berkurang saat bergema di
Imperial Adrian Plaza.
Dari apa yang
bisa kutangkap, sejak hari ini dan seterusnya, tidak ada lagi yang berani
berpura-pura menjadi Erich si Goldilocks lagi. Sangat bagus. Seperti kata
mereka, "Kucing sedang berjemur, segalanya berjalan baik di dunia
ini"...
[Tips] Bubastisian memiliki kepercayaan agama yang
didasarkan pada sembilan nyawa—sebuah tradisi yang kemungkinan besar didasarkan
pada cerita rakyat kucing yang lebih luas.
Jika jiwa seekor kucing berhasil mengumpulkan cukup
banyak perbuatan baik selama delapan kehidupan, maka dikatakan mereka akan
mencapai pencerahan pada kehidupan kesembilan dan terlahir kembali sebagai
dewa. Terlepas dari perbedaan ukuran dan bentuk, bubastisian menganggap kucing
sebagai rekan mereka dan mendeskripsikan kematian sebagai "berganti
mantel." Gagasan
reinkarnasi seperti itu jarang terjadi di Kekaisaran.



Post a Comment