Chapter 9
Beban dan Kebangkitan
"U... uun."
Merasakan
cahaya matahari merasuk melalui jendela, aku perlahan membuka mata.
Namun, tepat
saat aku mengerahkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, rasa sakit seperti
nyeri otot yang luar biasa—bukan, rasa sakit yang menusuk menjalar ke seluruh
tubuhku.
"Ugh!?"
Aku meringis
karena rasa sakit yang tiba-tiba, membuat Danae yang berada di samping tempat
tidur membelalakkan mata.
"Tuan Reed, Anda sudah sadar! Saya akan segera memanggil Nona
Sandra dan yang lainnya."
"Eh...
tu-tunggu se-sebentar... Agh!?"
Tanpa sempat
mencerna situasi, aku mencoba mengulurkan tangan untuk menghentikan Danae yang
berlari keluar kamar, tapi rasa sakit yang menyerang kembali membuatku
merintih.
Aku
bahkan tidak bisa menggerakkan lenganku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
(Reed.
Kan sudah kubilang, aku tidak mau tahu apa yang terjadi setelahnya.)
(Me-Memory? Ah, benar juga. Ini efek
samping dari Body Enhancement: Second Form dan Blazing Fire.)
Kejadian
kemarin lusa. Aku ingat dengan sangat jelas betapa nekatnya aku saat latihan
penguatan tubuh.
(Tepat
sekali. Karena kamu mengabaikan peringatan Ayah dan bertindak gegabah, tubuhmu
tidak sanggup menahan bebannya. Yah, nikmati saja 'teguran keras' dari semua
orang.)
(Se-semua
orang?)
(Iya.
Semua orang yang menyayangimu. Lagipula, kamu sudah pingsan selama satu hari penuh. Terhitung dari hari
latihan itu, ini sudah hari kedua.)
(Apa...!?)
Tepat saat
aku tertegun mendengar situasi yang melampaui imajinasiku, pintu kamar terbuka
lebar. Farah dan Asna merangsek masuk.
"Tuan Reed!"
Farah
meneriakkan namaku dan langsung berlari ke samping tempat tidur.
Matanya
berkaca-kaca, membuatku didera rasa sesal karena telah membuatnya begitu
khawatir.
Sambil
menahan rasa sakit, aku mengusap pipinya dengan lembut.
"Farah,
maaf sudah membuatmu khawatir."
"Benar!
Apa Anda tahu seberapa cemasnya kami semua jika Anda melakukan hal senekat
itu!?"
Menatap mata Farah
yang memancarkan kemarahan dengan emosi yang belum pernah kulihat sebelumnya,
aku hanya bisa berbisik, "Maaf."
"Saya
benar-benar lega Tuan Reed baik-baik saja. Saya marah, dan saya tidak bisa
memaafkan kenekatan Anda yang membuat kami cemas. Tapi, karena Anda sudah
sadar, saya akan memaafkan Anda."
Farah
menggenggam tanganku dengan kedua tangannya yang lembut.
"Iya.
Aku benar-benar minta maaf."
Setelah itu,
Ayah, Diana, Galun, Sandra, Mel, dan yang lainnya datang silih berganti.
Di bawah
pengawasan mereka semua, Sandra mulai memeriksaku.
Karena
tubuhku tidak bisa digerakkan dengan benar, pemeriksaan dilakukan sambil aku
tetap berbaring di tempat tidur.
Menyedihkannya,
aku bahkan tidak bisa mengangkat kaus yang kukenakan sendiri.
Dengan
bantuan Diana dan Danae yang mengikuti instruksi Sandra, pemeriksaan pun
berlangsung. Akhirnya, Sandra menghela napas lega.
"Ya.
Kesadarannya sudah stabil, jadi sekarang sudah aman. Penyebab Anda tertidur
selama sehari penuh kemungkinan karena beban dari Body Enhancement melampaui
kemampuan pemulihan alami mana dan stamina Anda. Itulah sebabnya pemulihannya
memakan waktu lebih lama dari biasanya."
"Jadi,
rasa sakit di sekujur tubuh ini karena kerusakan akibat beban itu belum sembuh
total?"
"Kemungkinan
besar begitu. Oleh karena itu, Tuan Reed harus fokus pada pengobatan. Hari ini
dan besok adalah masa observasi. Oh ya, nanti saya akan membawakan 'obat' hasil
riset bersama Tuan Nikiku dan Tuan Bisika. Itu pasti akan meningkatkan daya
pemulihan Anda."
"Ahaha.
Obat buatan mereka berdua, ya. Aku punya firasat buruk soal itu."
Sandra, Nikiku,
Bisika. Aku merasa rasa penasaran dan semangat penelitian mereka terkadang
terlalu berlebihan.
Saat aku
tertawa kecut sambil menahan sakit, Sandra menggelengkan kepalanya.
"Apa
yang Anda katakan? Kami sudah melaku—maksud saya, mencobanya pada Rust-kun dari
Ookami-jin, jadi tidak ada masalah."
"Tadi
kamu mau bilang 'eksperimen', kan?"
Aku menatapnya dengan pandangan curiga,
tapi dia langsung memalingkan wajah.
"Reed. Terlepas dari itu, fakta
bahwa kamu sudah sadar kembali adalah hal yang menggembirakan. Tapi, ketahuilah
bahwa semua orang di sini merasa sangat tidak tenang, seolah-olah kamu tidak
akan pernah bangun lagi. Camkan hal itu baik-baik di dalam hatimu."
"Ugh... saya mengerti. Saya tidak punya pembelaan."
"Haa.
Kamu memang selalu saja pintar menjawab."
Setelah
berkata demikian, Ayah menepukkan tangannya ke bahu Sandra.
"Aku
mengizinkanmu. Gunakan cara apa pun. Pulihkan stamina Reed secepat
mungkin."
"Dimengerti."
Setelah
Sandra mengangguk, Ayah berbalik dan meninggalkan ruangan. Selanjutnya, Mel
datang ke samping tempat tidur.
"Kakak.
Ibu juga sangat, sangat khawatir, tahu. Mungkin nanti beliau akan datang, jadi
Kakak lebih baik bersiap-siap ya."
"Be-begitu ya. Yah, memang sudah
seharusnya begitu."
Ini salahku
sendiri, jadi aku akan menerima omelan itu dengan lapang dada.
Sambil
menatap langit-langit, aku mengenang latihan tempo hari. Beban dari Second Form
dan Blazing Fire benar-benar bisa digambarkan dengan satu kata: 'Mengerikan'.
Namun,
tidak diragukan lagi bahwa penguatan yang didapat sebanding dengan bayarannya.
Lagipula,
ada kemungkinan bebannya akan berkurang jika aku sudah terbiasa. Meski sulit dikendalikan, aku pasti
akan menguasainya.
"Aduh!?
A-apa ini?"
Tiba-tiba
rasa sakit menjalar di pipiku, membuatku tersadar. Farah sedang tersenyum
sambil memancarkan aura hitam yang luar biasa pekat.
"Tuan
Reed. Anda baru saja memikirkan soal sihir lagi, kan?"
"Eh,
I-itu..."
Dengan
wajah serba salah, aku pun berakhir menerima ceramah dari semua orang, dengan Farah
sebagai pemimpinnya.
◇
"Nah,
Tuan Reed. Silakan buka mulutnya."
Sambil
memegang wadah mirip teko yang berisi penuh cairan obat, Farah tersenyum manis.
Dan
aku mengenali aroma yang samar-samar tercium dari obat itu.
Merasakan
wajahku mulai pucat, aku melirik Sandra yang bersiaga di samping Farah.
"Apa
aku benar-benar harus meminum semuanya?"
"Tentu
saja. Itu adalah ekstrak distilasi dari Gekkou-sou (Rumput Cahaya Bulan) yang
diharapkan memberikan efek pemulihan mana lebih maksimal. Yah, ini adalah
'cairan murni' sebelum dijadikan tablet. Karena Tuan Rainer meminta cara yang
paling cepat, ini adalah pilihan terbaik."
Sandra
mengangguk sambil menyipitkan matanya dengan misterius.
Meskipun
ini salahku sendiri, aku hanya bisa tertunduk lesu di atas tempat tidur, tidak
bisa bergerak dan terpaksa menerima obat itu. Dan aku pun teringat kejadian
kemarin.
Dimulai
dari Farah, semua orang yang mengkhawatirkanku silih berganti memberikan
teguran dan keluhan.
Di
antara sekian banyak teguran, momen saat Ayah dan Ibu yang duduk di kursi roda
berada di samping tempat tidurku—ceramah yang hanya dilakukan bertiga
saja—adalah yang paling meresap ke dalam hati.
Ayah
tidak menunjukkan kemarahannya secara terang-terangan dan tetap tenang, itulah
yang paling berkesan bagiku.
Justru hal
itu terasa sangat menakutkan, dan kata-katanya menusuk dalam ke dadaku.
Setelah
selesai bicara, Ayah meninggalkan ruangan lebih dulu.
Saat tinggal
berdua dengan Ibu, beliau bertanya dengan lembut, "Mengapa hal seperti ini
bisa terjadi? Apa kamu mengerti?"
Pertanyaan
yang membimbingku untuk kembali menyadari betapa kenekatanku kali ini telah
membuat banyak orang khawatir. Akhirnya, Ibu mengusap kepalaku dan berkata
dengan penuh kasih.
"Reed.
Kamu dicintai oleh banyak orang. Tentu saja, olehku dan Ayah juga. Namun, bukan
berarti kamu boleh melakukan apa pun sesukamu. 'Orang yang mencintai, akan
dicintai'. Jangan pernah mengabaikan orang-orang yang mencintaimu."
"Iya,
maafkan aku karena telah membuat Ibu khawatir."
"Tapi,
tidak apa-apa. Meski kamu masih kecil, kamu sudah tahu cara mencintai dan
menghargai orang lain. Aku dan Ayah memang marah karena kenekatanmu, tapi kami
juga bangga padamu. Jangan lupakan hal itu juga."
"……Terima
kasih."
Tatapan dan
kata-kata Ibu mengandung kasih sayang yang begitu dalam, hingga tanpa sadar
mataku berkaca-kaca.
Meski aku
memalingkan wajah untuk menyembunyikannya, Ibu terus mengusap kepalaku dengan
lembut untuk beberapa saat.
"Fuu,
benar juga. Aku harus segera sembuh."
Farah
yang berada di samping tempat tidur tersenyum cerah.
"Itu
semangat yang bagus. Nah, sekarang silakan minum obatnya."
"I-iya.
Tapi, tolong sedikit-sedikit saja ya."
Sambil
menciut melihat senyum Farah yang penuh tekanan, aku membuka mulutku dengan
ragu.
Gekkou-sou,
bahan dasar obat pemulih mana, memiliki rasa yang sangat mengerikan jika tidak
diolah menjadi tablet.
Dulu, saat
aku berpartisipasi dalam uji klinis—maksudku, eksperimen Sandra—aku pernah
hampir pingsan karena rasanya.
Entah tahu atau tidak soal itu, Farah tetap mempertahankan senyumnya dan mulai menuangkan cairan obat dari teko itu ke mulutku secara perlahan.
Detik berikutnya, rasa kesat dan aroma tak sedap
dari Gekkou-sou menyerang indra penciumanku. Itu adalah rasa yang melampaui
pengalaman masa laluku, sebuah rasa yang tidak bisa lagi dideskripsikan dengan
kata-kata.
"Ugh!?"
Saat aku
merintih karena rasa yang tak terbayangkan itu, aliran obat dari teko sempat
terhenti. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak memuntahkannya dan menelannya,
namun aku tetap berakhir tersedak.
"Hah...
hah... ini, rasanya luar biasa ya."
"Sepertinya
begitu. Dalam laporan Tuan Bisika dan yang lainnya, disebutkan bahwa Rust-kun
yang membantu uji klinis sampai mengerang kesakitan karena rasanya. Namun,
khasiatnya sudah terjamin."
Sandra
menjawab dengan senyum lebar di wajahnya.
Begitu ya,
jadi dia juga sudah merasakan ini.
Ngomong-ngomong,
Rust adalah adik dari Sheryl, seorang Ookami-jin yang menjabat sebagai komandan
peleton di Second Knight Order.
Dia menderita
'Penyakit Kekurangan Mana' yang sama dengan Ibu, dan saat ini sedang membantu
uji klinis di laboratorium riset Renalute. Berkat Rust, penelitian yang dilakukan di Renalute
bisa berjalan dengan lancar.
Yah,
meski Bisika adalah dokter yang tampak seperti ilmuwan gila—maksudku, kumpulan
rasa penasaran dan semangat penelitian—dan Nikiku sang apoteker, sepertinya
Rust berhasil menghadapi mereka dengan baik.
Entah
kenapa, mendengar ada anak lain yang sudah mengalami rasa ini membuat hatiku
sedikit lebih tenang.
Namun, aku
segera menyadari bahwa itu hanya perasaanku saja.
"Tuan
Reed. Mohon maaf, tapi Anda bahkan belum meminum setengahnya. Lagipula sejak
dulu ada pepatah mengatakan 'obat mujarab itu pahit rasanya'. Jika sendirian,
tekad Anda untuk minum pasti akan goyah. Karena itu, sebagai istri, saya akan
mengeraskan hati untuk membantu Anda. Mari, demi menghilangkan kekhawatiran
semua orang, kita habiskan sekaligus."
Farah
mendekatkan teko berisi penuh obat itu ke mulutku tanpa ampun.
"Eh...!?
I-iya, tu-tunggu se-bent—uguu!?"
"Fufu.
Saya sudah menunggu sangat lama sampai Tuan Reed terbangun. Lagipula, hanya
dengan menunggu tidak akan membuat tubuh Anda membaik, kan?"
Senyum
Farah tidak luntur sedikit pun. Dia mempertahankan sikap tanpa belas kasihannya
dan terus mencekokiku dengan obat tanpa henti selagi aku tidak bisa bergerak.
Bahkan
Sandra sampai pucat melihat tindakan dan atmosfer Farah yang benar-benar
berbeda dari biasanya.
Asna,
pengawal yang melihat seluruh kejadian itu dari jarak dekat, kemudian bercerita
di lain hari:
"Sikap
dingin dan kejam yang ditunjukkan Tuan Putri saat itu... benar-benar
mengingatkan saya pada Nyonya Eltea. Saya jadi yakin bahwa mereka berdua memang
ibu dan anak."
Mendengar
cerita itu, aku berjanji dalam hati untuk berhati-hati agar tidak membuat Farah
marah.
◇
Beberapa
hari setelah dirawat oleh Sandra dan Farah.
Berkat
bantuan mereka, kondisiku membaik. Dalam pemeriksaan Sandra pun, dia menyatakan
"Ya, sudah tidak apa-apa," dan mendiagnosisku sudah pulih total.
Sejak hari
itu, aku mendapat izin dari Ayah untuk kembali ke kehidupan sehari-hari dan
tugas-tugas yang berkaitan dengan Second Knight Order.
"Selamat
datang kembali, Tuan Reed. Saya senang Anda sudah
sehat."
"Tidak, tidak. Aku yang seharusnya
minta maaf karena membuat kalian khawatir."
Didampingi oleh Farah, Asna, dan Diana,
aku mengunjungi ruang kerja di asrama setelah sekian lama, dan Capella
menyambutku di sana. Aku
pun duduk di kursi meja kerja.
"Jadi,
selama aku tidur beberapa hari ini, apakah ada masalah?"
"Tidak,
tidak ada hal khusus yang terjadi. Namun, ada surat untuk Anda, Tuan Reed."
Dia menunjuk
ke sebuah amplop yang tergeletak di atas meja kerja. Begitu memeriksa nama
pengirimnya, alisku berkerut.
"...Dari
Valerie di Ibukota, ya?"
Aku memang
rutin bertukar surat dengannya, tapi kali ini bukan waktunya kami berjanji
untuk berkirim kabar.
Apakah ada
pergerakan mencurigakan di Ibukota?
"Reed,
apa kabarmu? Aku entah bagaimana berhasil menjalin hubungan baik dengan
Pangeran David... meski aku tidak terlalu percaya diri. Nah, daripada itu,
langsung saja ke intinya. Akhir-akhir ini, keluarga kalian yang prestasinya
sedang melejit mulai mendapat tekanan dari para bangsawan Kekaisaran yang iri.
Terutama klaim bahwa meski kalian bilang 'melindungi' anak-anak Beastkin,
kenyataannya itu tidak ada bedanya dengan budak. Bukankah ini ilegal? Klaim
semacam itu muncul dari berbagai faksi tanpa terkecuali. Yang Mulia Kaisar dan
Permaisuri, serta Marquis Berlutti—dan juga ayahku—sepertinya sedang berusaha
meredam klaim tersebut. Tapi, sebaiknya kalian waspada. Aku merasakan firasat
yang buruk. Itulah alasanku menulis surat ini. Kita tidak tahu apa yang akan
terjadi, jadi berhati-hatilah. Dari Valerie Elasenize."
"Ini
mulai tercium bau yang tidak sedap."
"Apakah
ada sesuatu, Tuan Reed?"
Farah sedikit
memiringkan kepalanya.
"Iya,
sedikit. Ini, bagaimana menurut kalian?"
"Izinkan
saya membacanya."
Farah
menerima surat itu dengan sopan dan mulai membaca isinya.
"Kalau
boleh, aku ingin kalian semua membaca dan memberikan pendapat."
Setelah Farah
selesai, surat itu juga dibaca oleh Diana, Capella, dan Asna. Mereka semua
menunjukkan ekspresi wajah yang curiga.
"Bagaimana
menurut kalian?"
Saat aku
bertanya, secara mengejutkan Asna yang pertama kali bereaksi.
"Apakah
ini yang disebut 'paku yang menonjol akan dipukul'? Namun, tidak ada fakta
bahwa keluarga Baldia memperlakukan anak-anak Beastkin sebagai budak. Itu akan
langsung jelas jika melihat mereka sendiri. Seperti yang tertulis di surat,
bukankah ini hanya 'tuduhan tak berdasar karena rasa iri'?"
"Paku
yang menonjol akan dipukul, ya... benar juga. Bagaimana menurutmu, Diana dan Farah?"
Saat ditanya,
mereka saling pandang. Kemudian, Farah tampak berpikir sejenak.
"Saya
sependapat dengan Asna. Namun, jika harus memberikan pendapat berbeda, fakta
bahwa 'klaim ini muncul dari berbagai faksi tanpa terkecuali' adalah hal yang
mengganggu saya. Meski saya dengar Baldia adalah faksi netral, jadi mungkin itu
tidak terlalu aneh, tapi tetap saja..."
"Mohon
maaf, saya juga sependapat dengan Nona Farah dan Asna. Wilayah Baldia
berprestasi sangat gemilang berkat berbagai produk yang dikembangkan Tuan Reed dan
Nona Ellen. Wajar jika rasa iri meledak tanpa memandang faksi."
"Fumu."
Aku
mengangguk mendengar pendapat mereka berdua, lalu menatap Capella.
"Sebagai
mantan anggota unit bayangan, bagaimana pendapatmu?"
"Begitulah.
Sebagian besar pendapat saya sama dengan yang lain, namun mengenai poin Nona Farah
tentang 'klaim dari berbagai faksi', ada satu hal lagi yang mengganjal di
pikiran saya."
"Mengenai...
waktunya, ya?"
Saat Capella
mengangguk perlahan, Asna memiringkan kepalanya.
"Tuan Reed, apa maksudnya dengan
'waktunya'?"
"Artinya sederhana. Memang benar
paku yang menonjol akan dipukul. Aku juga yakin ada rasa iri. Tapi, bisa juga
dianggap bahwa klaim itu mulai muncul di Ibukota bertepatan dengan waktu
penyerangan terhadap Baldia. Begitu kan, Capella?"
"Benar, tepat seperti dugaan Anda.
Alasan mengapa klaim itu muncul dari berbagai faksi kemungkinan agar sumber
aslinya tidak bisa dilacak. Selain itu, mereka mungkin ingin mengumpulkan lebih
banyak pendukung untuk klaim tersebut. Dalam skenario terburuk, ada kemungkinan
bangsawan Kekaisaran terlibat di balik layar penyerangan Baldia kali ini."
"Apa...!?"
Kecuali aku, semua orang di ruangan itu
membelalak mendengar perkataannya.
"Tuan
Capella, apakah Anda serius mengatakannya?"
Diana
bertanya dengan ekspresi tajam, namun akulah yang menjawabnya.
"Mungkin
ini hanya kebetulan, tapi mungkin juga ada bangsawan Kekaisaran yang terlibat.
Namun, menurutku kita harus bergerak dengan mengasumsikan skenario
terburuk."
"Saya
setuju dengan pendapat Tuan Reed. Meski saya tidak bisa memberitahukan
detailnya, saat saya masih di unit bayangan, saya pernah melihat pergerakan
yang mirip dengan ini dari dekat. Waktu dan situasinya mirip dengan pergerakan
saat itu. Setidaknya, kita harus waspada."
Penjelasan
tambahan Capella yang menyertakan pengalaman pribadinya membuat semua orang
tercengang.
Yah,
tergantung cara melihatnya, karena kami secara paksa menghubungkan penyerangan
kali ini dengan pergerakan di Ibukota.
Mungkin wajar
jika sulit diterima. Di tengah atmosfer berat yang menyelimuti ruangan, Farah
membuka suara.
"Benar.
Daripada hanya menganggap semua ini sebagai kebetulan belaka, lebih baik kita
waspada. Jika ternyata tidak terjadi apa-apa, maka itu lebih baik."
"Terima
kasih, Farah. Yah, bagaimana pun juga, jawaban apakah ini kebetulan atau
kesengajaan pasti akan segera muncul."
"Maksud
Anda?"
Diana
memiringkan kepalanya.
"Hm? Ah,
itu karena sebentar lagi Ayah akan pergi ke Ibukota untuk urusan ini. Jika kita
menyampaikan apa yang kita bicarakan di sini kepadanya, aku yakin kita akan
mengetahui sesuatu."
Meskipun Ayah
memiliki wewenang tertentu karena wilayah kami berada di perbatasan, Baldia
tetaplah wilayah di bawah Kekaisaran.
Jika wilayah
kami diserang oleh pasukan yang diduga berkewarganegaraan asing, itu adalah
masalah diplomatik.
Dalam waktu
dekat, Ayah akan berangkat ke Ibukota.
Tiba-tiba,
kalimat dalam surat Valerie yang berbunyi 'Aku merasakan firasat yang buruk'
menarik perhatianku.
Claire,
pemimpin para penyerang itu, pernah berkata bahwa suatu saat nanti aku akan
bertemu dengan lawan yang lebih kuat darinya. Lawan itu, mungkinkah seorang
bangsawan Kekaisaran?
Apa pun itu,
siapa pun lawannya, itu tidak masalah. Aku pasti akan melindungi Baldia dan
semuanya. Untuk itu, pertama-tama aku sendiri harus menjadi lebih kuat. Aku
kembali memantapkan tekadku.
Chapter 10
Dimulainya Kembali Pelatihan dan Sebuah Kesadaran
"Nah,
Tuan Reed. Mari kita segera mulai latihannya."
"Ya.
Mohon bantuannya, Cross."
Hari ini
adalah latihan pertama setelah beberapa hari istirahat. Tujuan utamanya adalah
membiasakan tubuh dengan Body Enhancement: Second Form, agar suatu saat nanti
aku bisa menguasai Body Enhancement: Blazing Fire (atau nama resminya: Body
Attribute Enhancement).
Sebenarnya,
aku berencana berlatih dengan Ayah. Namun, rencana itu berubah saat aku
melaporkan informasi dari surat Valerie kepada beliau di ruang kerja beberapa
hari lalu.
"Mengenai
masalah itu, aku juga sudah menerima laporan dari Burns dan para bangsawan
kenalanku. Situasinya bergerak ke arah yang tidak baik. Oleh karena itu,
termasuk masalah penyerangan kemarin, aku berniat segera melakukan audiensi
dengan Yang Mulia Kaisar. Maaf, tapi aku akan berangkat ke Ibukota dalam
beberapa hari ke depan."
Ayah
sepertinya juga merasakan firasat buruk dari situasi di Ibukota; atmosfer di
sekitarnya terasa lebih tegas dari biasanya.
"Saya
mengerti. Ah, tapi kalau begitu, bagaimana dengan latihan saya?"
"Jangan
khawatir. Aku sudah memberikan instruksi kepada Cross untuk menggantikanku. Dia
juga salah satu ksatria yang mampu menggunakan Second Form dan Blazing
Fire."
"Eh,
benarkah?"
"Tentu
saja. Dia tidak menjabat sebagai Wakil Komandan Ksatria Baldia hanya untuk
pajangan."
◇
Aku kembali
memperhatikan sosok Cross dari atas sampai bawah. Di antara anggota ksatria
lainnya, dia tergolong mungil dengan tatapan mata yang lembut.
Dia tidak
memberikan kesan seorang ksatria yang sangar; lebih mirip sosok kakak laki-laki
yang bisa diandalkan.
"Hm? Ada
apa, Tuan Reed?"
"Tidak,
bukan apa-apa. Hanya saja, aku mendengar dari Ayah kalau Cross juga bisa
menggunakan Second Form dan Blazing Fire. Benar begitu?"
Saat
aku bertanya untuk memastikan, dia mengangguk mantap.
"Benar
sekali. Yah, akan lebih cepat jika saya menunjukkannya langsung. Saya akan
mengaktifkan Blazing Fire, jadi silakan lihat dari dekat Nona Diana."
"Baiklah."
Aku
segera berlari ke samping Diana. Farah dan Capella tidak ada di sini karena
mereka sedang mengerjakan tugas administratif di asrama.
Meski begitu,
Farah sempat memberiku peringatan keras: "Tolong, jangan memaksakan
diri... Janji ya?"
Begitu aku
menjauh, Cross memejamkan mata, menarik napas dalam, dan berkonsentrasi.
Saat dia
perlahan membuka mata, gelombang mana bergejolak di sekitarnya, dan seluruh
tubuhnya diselimuti mana berwarna merah.
Sosok
itu persis seperti Blazing Fire yang ditunjukkan Ayah.
"Ooh,
hebat!"
Saat
aku mendekat, Cross menyipitkan mata dan tersenyum lebar. Namun, tak lama kemudian dia mengembuskan napas dan
melepaskan tekniknya.
"Lho?
Kenapa sudah berhenti?"
"Haha.
Teknik ini sangat menguras tenaga. Karena kita akan melakukan latihan Second
Form setelah ini, saya tidak boleh membuang-buang mana secara percuma."
"Benar
juga. Kalau begitu, mohon bantuannya sekali lagi, Cross."
"Baik. Serahkan pada saya."
Latihan Body Enhancement: Second Form
pun dimulai. Untuk sementara, Blazing Fire disimpan dulu karena fokus utamanya
adalah membiasakan fisikku.
"Nah,
Tuan Reed. Silakan aktifkan Second Form Anda."
"Oke,
mengerti."
Aku
menarik napas dalam, memanggil Memory di dalam hati, dan mengaktifkan Second
Form.
Sip,
berhasil.
Tapi, rasanya ada yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Eh...
perasaan ini..."
"Tuan Reed,
ada masalah?"
"Tidak,
hanya saja... aku merasa mana ini terasa jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Bebannya juga tidak seberat saat pertama kali aku mengaktifkannya."
"Fumu..."
Cross
menempelkan tangan ke dagunya.
Satu-satunya
perbedaan dari sebelumnya adalah kali ini aku menggunakan bantuan Memory sejak
awal.
Namun, meski
memperhitungkan hal itu, tubuhku terasa jauh lebih ringan.
"Kalau
tidak salah, Tuan Reed pingsan selama sehari penuh setelah mengaktifkan Second
Form dan Blazing Fire di hari yang sama, kan?"
"Iya.
Tapi karena setelah bangun pun aku hanya bisa terbaring sambil minum obat,
sebenarnya aku tidak bisa bergerak selama dua hari penuh."
"Bicara soal obat, apakah itu Mana
Recovery Potion?"
"Benar, tapi ada apa dengan
itu?"
Aku memiringkan kepala, bingung dengan
arah pertanyaannya. Komandan Dynas dan Wakil Komandan Cross memang tahu soal
keberadaan obat itu, meski Ayah sudah melarang keras mereka membocorkannya.
"Ini
hanya dugaan saya saja..." Cross memulai penjelasannya. "Aktivitas
Second Form dan Blazing Fire memberikan beban yang luar biasa pada tubuh Tuan Reed.
Normalnya,
seseorang tidak akan bisa bergerak secepat ini dalam hitungan hari."
"Eh...
benarkah?"
"Ya.
Saya sendiri sangat kesulitan saat mempelajari keduanya. Dulu, saat pertama
kali saya mengaktifkan Blazing Fire setelah terbiasa dengan Second Form, saya
tidak bisa bergerak secara normal selama seminggu penuh karena efek
sampingnya."
"Apa!?"
Aku tercengang.
Cross baru
mempelajari teknik itu saat sudah dewasa, artinya saat kondisi fisiknya sudah
sempurna. Namun, dia tetap tumbang selama seminggu. Itu membuktikan betapa
mengerikannya beban teknik tersebut. Aku benar-benar beruntung.
(Akhirnya
kamu sadar juga ya,)
suara Memory bergema pelan di benakku.
"Ada
tiga cara utama untuk membentuk tubuh yang sanggup menahan beban mana. Pertama,
pertumbuhan fisik seiring bertambahnya usia. Kedua, melatih fisik. Ketiga,
membiasakan tubuh dengan beban mana itu sendiri. Dalam kasus ini, Tuan Reed secara
tidak sengaja melakukan cara ketiga."
"Begitu
ya..."
"Tapi,
secara logika, tidak ada orang waras yang mau melakukan cara ketiga."
"Kenapa?"
"Membiasakan
tubuh dengan beban mana... mengucapkannya memang mudah, tapi jika salah
langkah, alih-alih beberapa hari, Anda bisa lumpuh selama sebulan. Dalam kasus
Tuan Reed, Anda meminum obat pemulih mana dalam jumlah besar, bukan? Berkat
itu, pemulihan Anda menjadi sangat cepat, dan hasilnya mana tersebut 'terpaksa'
menyatu dan terbiasa dengan tubuh Anda. Itulah analisis saya."
"Ah,
jadi begitu ya. Ahaha, benar-benar berkah di balik musibah."
Tepat saat
aku tertawa lebar karena sudah paham, aku merasakan tatapan tajam menusuk dari
belakang.
Bulu kudukku
berdiri. Saat aku menoleh dengan wajah pucat,
Diana
sedang menatapku dengan mata dingin dan ekspresi seperti iblis.
"Tuan
Reed. Mohon untuk mendapatkan berkah tanpa harus ada musibah, agar kami
tidak perlu merasa khawatir lagi."
"I-iya.
Maaf, aku akan hati-hati."
Melihatku
menciut, Cross berdehem.
"Yah,
terlepas dari itu, berkat bakat sihir Anda dan bantuan obat pemulih mana, tubuh
Anda sudah sedikit terbiasa dengan beban Second Form. Nah, mari kita lanjutkan
latihannya. Siap?"
"Ya!
Mohon bimbingannya!"
Aku
pun merangsek maju menantang Cross sambil mempertahankan wujud Second Form.
◇
Beberapa
hari telah berlalu sejak latihan dimulai kembali. Pemeriksaan tempat kejadian perkara dan penanganan
pasca-penyerangan sudah mulai tenang.
Divisi
pengembangan teknologi yang dipimpin Ellen dan Alex juga sudah beroperasi
normal.
Sistem
keamanan diperketat. Sekarang, bahkan aku pun harus mengajukan izin terlebih
dahulu untuk masuk ke area bengkel.
Meski
ini masih lemah sebagai pencegahan terhadap Hajutsu (Sihir
Transformasi), lebih baik daripada tidak sama sekali.
Selain
itu, Badan Intelijen Perbatasan dari Second Knight Order sedang menyelidiki
jejak para penyerang dan kegiatan spionase apa saja yang mereka lakukan,
terutama di titik perbatasan dengan Zuvaila.
Melihat
betapa lihainya Claire dan kelompoknya, mungkin informasi yang didapat akan
terbatas. Tapi aku berharap ada sedikit petunjuk.
Saat
aku menjelaskan detail penyerangan kepada anak-anak Second Knight Order, banyak
dari mereka yang marah besar. "Sudah membuang kami, sekarang malah mau
menculik? Benar-benar meremehkan!" teriak mereka. Menenangkan mereka
cukup merepotkan.
Lalu,
baru kemarin Ayah berangkat ke Ibukota. Tujuannya adalah melaporkan detail
penyerangan dan memastikan sumber dari rumor mencurigakan yang menyebut 'Baldia
memperlakukan anak Beastkin sebagai budak'. Beliau berencana membungkam klaim
tersebut jika diperlukan.
Keluarga
kami memang tidak memperbudak mereka. Namun, fakta bahwa kami menggunakan celah
hukum Kekaisaran untuk melindungi dan menerima mereka di Baldia adalah benar.
Mungkin
ini hanya ulah segelintir bangsawan yang iri, tapi waktu kemunculan rumor ini
yang bertepatan dengan penyerangan terasa terlalu pas untuk disebut kebetulan.
Itulah yang ingin diselidiki Ayah.
Semua
orang sedang bergerak maju untuk mempersiapkan langkah selanjutnya.
Dan
aku, merenungi ketidakberdayaanku saat melawan Claire, terus berlatih setiap
hari untuk menguasai Second Form dan Blazing Fire.
Tapi,
beberapa hari ini aku tidak hanya sekadar berlatih. Sebenarnya, aku baru saja
memikirkan sebuah 'rencana rahasia' agar bisa menjadi kuat dengan lebih cepat.
Hari
ini, saat tiba di lapangan latihan tempat Cross menunggu, aku menurunkan sebuah
kotak kayu berisi botol-botol dengan hati-hati.
"Hup...
selesai."
Kotak
itu berisi banyak botol berisi 'cairan tertentu'. Melihat hal itu, Cross
mengernyitkan dahi.
"Tuan
Reed, apa itu? Dan kenapa hari ini tidak hanya Diana, tapi Nona Farah, Nyonya Asna,
bahkan Nona Sandra ikut serta?"
"Iya.
Hari ini aku ingin mencoba metode latihan baru. Latihan Penguatan Khusus."
"Latihan
Penguatan... Khusus?" Cross mengerjap bingung.
Di
belakangku, Diana dan Farah menghela napas panjang, sementara Sandra tertawa
senang. Asna menatapku dengan binar penuh harapan.
Ide ini
muncul beberapa hari lalu. Setelah pingsan dua hari karena beban mana, aku
menyadari bahwa tubuhku menjadi lebih kuat menahan beban Second Form. Itu
adalah 'berkah di balik musibah'.
Menurut
Cross, ada tiga cara memperkuat tubuh, dan secara tidak sengaja aku telah
melakukan poin kedua (melatih fisik) dan ketiga (membiasakan beban mana).
Biasanya,
pingsan karena beban mana membutuhkan waktu lama untuk pulih secara alami. Tapi
di Baldia, kami punya Mana Recovery Potion.
Aku baru tahu
kalau saat aku pingsan kemarin, aku terus-menerus dicekoki obat itu.
Berdasarkan pengalaman itu dan penjelasan Cross, aku dan Sandra merancang
metode 'Latihan Penguatan Khusus' ini.
Saat aku
menjelaskan isinya, wajah Cross memucat dan kaku.
"Jadi
maksud Anda... saya harus menggunakan Second Form sampai batas beban maksimal,
lalu setelah itu langsung menenggak habis 'cairan murni' obat pemulih mana,
istirahat sejenak, lalu mengulangi latihannya lagi? Begitu terus?"
"Yup.
Makanya aku bawa banyak botol 'cairan murni' yang efeknya sangat kuat. Dan
sebagai jaga-jaga, aku mengajak Sandra juga."
"Be-begitu
ya. Lalu, kenapa Nona Farah dan Nyonya Asna ada di sini?"
"Haa...
saya datang bersama Diana-san sebagai pengawas agar Tuan Reed tidak bertindak
terlalu jauh," jawab Farah.
Aku sudah
melaporkan rencana ini pada Ayah. Awalnya beliau menolak, tapi akhirnya luluh
karena tekadku.
Syaratnya
adalah Sandra harus mendampingi untuk menangani keadaan darurat. Farah juga
bersikeras tidak mau kalah dan ingin ikut mengawasi.
"Tapi
Cross, ada satu hal yang perlu kukhawatirkan dari latihan ini."
"Apa
itu?"
"Karena
kamu menemaniku berlatih, kurasa kamu juga harus ikut meminum 'cairan murni'
itu." Aku menunjuk ke kotak botol obat itu. "Mohon persiapkan
mentalmu."
"Mental?
Kenapa harus menyiapkan mental hanya untuk minum obat?"
"Fufu.
Kamu akan tahu setelah meminumnya. Tapi ingat ya, Cross tidak boleh menolak."
"Ha-hah?
Yah, selama sudah ada izin dari Tuan Rainer, kurasa tidak masalah. Baik, mari kita coba 'Latihan Penguatan
Khusus' rancangan Tuan Reed dan Nona Sandra ini."
"Oke!
Mari berjuang bersama!"
Aku dan Cross
mengaktifkan Second Form, memacu beban mana sampai batas maksimal, lalu meminum
obat dan beristirahat. Kami mengulangi siklus itu berkali-kali.
Hasilnya
sangat memuaskan; dalam waktu singkat, tubuh kami mulai terbiasa dengan beban
mana. Metode ini benar-benar sukses besar!
Tapi sebagai
gantinya, setiap kali meminum cairan murni itu, aku dan Cross mengerang
kesakitan karena rasanya yang mengerikan.
Saat rasa
pahit itu membuat kami ragu untuk menelan, Farah akan tersenyum dan mencekoki
kami tanpa ampun.
Melihat sisi
dingin dan kejam Farah yang jarang terlihat, Cross berbisik ke telingaku sambil
gemetar:
"Tuan Reed.
Nona Farah adalah orang yang benar-benar tidak boleh dibuat marah, ya..."
"Ahaha...
benar sekali. Aku akan berhati-hati."
Demikianlah,
hari-hari kami diisi dengan 'Latihan Penguatan Khusus' bersama Cross.
Chapter 11
Tamu yang Dinanti
Hari
itu, di ruang kerja asrama, orang-orang seperti biasa telah berkumpul; ada aku,
Farah, Diana, Asna, dan Capella.
"Hari
ini kita mungkin akan kedatangan tamu kehormatan, jadi kita harus menyelesaikan
pekerjaan administrasi ini secepatnya."
Sambil
terus bekerja, aku berucap demikian. Farah yang berada di sampingku mengangguk
mantap.
"Benar.
Kami juga akan membantu."
"Iya.
Terima kasih, semuanya."
Setelah
menyampaikan rasa terima kasih kepada semua yang ada di ruangan, kami mulai
membagi tugas untuk menyelesaikan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Second
Knight Order.
Beberapa
waktu telah berlalu sejak aku memulai Latihan Penguatan Khusus bersama Cross
untuk menguasai Body Enhancement: Second Form dan Body Attribute Enhancement:
Blazing Fire.
Efek
dari latihan ini bisa dibilang luar biasa. Aku sudah mulai bisa mengendalikan
Second Form sampai tingkat tertentu.
Jika
terus berusaha seperti ini, hari di mana aku bisa menggunakan teknik tingkat
atasnya, yaitu Blazing Fire, pasti sudah dekat.
Omong-omong,
Cross juga kabarnya mengalami peningkatan kemampuan yang drastis dalam waktu
singkat.
Sebagai
percobaan, aku sempat meminta para komandan peleton dan wakil komandan Second
Knight Order untuk ikut serta dalam Latihan Penguatan Khusus, namun semuanya
berakhir dengan kegagalan total.
Sepertinya
anak-anak Beastkin memiliki indra penciuman dan perasa yang jauh lebih sensitif
dibandingkan kami manusia.
Begitu
cairan murni obat pemulih mana menyentuh mulut mereka, mereka langsung
menunjukkan reaksi penolakan; meronta-ronta seolah-olah nyawa mereka sedang
melayang ke surga.
Terutama
anak-anak Usagi-jin yang memiliki indra perasa luar biasa—yang konon bisa
mereplikasi sebuah masakan hanya dengan satu suapan.
Reaksi
penolakan mereka benar-benar luar biasa. Meski begitu, Ovelia tetap mencoba
menantang maut dengan berani demi menjadi lebih kuat.
"Gueeeehh!
Ta... tapi, kalau ini bisa buat gue jadi kuat... gue... gue bakal lakuin!"
Sambil
berkata begitu, dia menenggak cairan murni itu sekaligus. Karena pemandangannya
terasa sangat mengerikan, tanpa sadar aku merasa khawatir dan menyahutnya.
"O-Ovelia!
Kamu tidak perlu memaksakan diri, tahu? Kalau cairan murni itu mustahil, kita
bisa pakai cara la—lho?"
Tiba-tiba aku
menyadari mata Ovelia sudah memutih. Tangan yang memegang gelas terkulai lemas,
dan saat gelas itu menggelinding jatuh ke tanah, tubuhnya ikut ambruk ke depan.
"Ovelia!?"
Aku bergegas
menangkap tubuhnya, tapi sama sekali tidak ada respons. Aria yang melihat
kejadian itu bergumam pelan dari samping.
"Nggak
ada jawaban. Udah kayak mayat aja."
"Heei,
jangan ngomong yang aneh-aneh! Seseorang, cepat panggil Sandra ke sini!"
Beruntung,
dia hanya kehilangan kesadaran dan tidak terjadi sesuatu yang serius. Namun,
menurut penuturan Ovelia sendiri: "Kakek gue yang udah meninggal melambai
dari seberang sungai, katanya jangan datang dulu..."
Sejak
insiden itu, Latihan Penguatan Khusus menggunakan cairan murni dilarang
sementara bagi anak-anak Beastkin.
Aku
berniat mengolah cairan itu ke dalam bentuk kapsul atau cara lain agar suatu
saat mereka juga bisa melakukannya.
Beberapa
hari lalu, Ayah sudah berangkat menuju Ibukota untuk melaporkan detail
penyerangan kepada Yang Mulia Kaisar. Saat mengantarnya, Ayah menunjukkan
ekspresi yang sangat serius.
"Aku
mengkhawatirkan pergerakan Zuvaila dan Kitsune-jin, tapi aku harus tetap pergi
ke Ibukota. Selama aku pergi, aku mengandalkanmu."
"Baik,
saya mengerti."
"Umu,"
Ayah mengangguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, hampir saja lupa.
Mengenai surat pribadi yang kukirimkan kepada Curtis Lanmark di Renalute, aku
sudah menerima balasan persetujuan dari pihak mereka dan Raja Elias. Detailnya
bisa kamu pastikan pada Galun nanti."
"Dimengerti.
Saya tidak sabar bertemu beliau. Tapi, Ayah, kenapa balasan persetujuannya juga datang dari Raja
Elias?"
Surat itu
seharusnya ditujukan kepada keluarga Lanmark. Kenapa sang Raja ikut turun
tangan?
"Meski
sudah pensiun, Tuan Curtis dulunya adalah militer Renalute. Pasti ada berbagai
batasan baginya."
"Ah,
begitu ya."
"Aku
juga sudah menyampaikan kemungkinan bahwa aku sedang berada di Ibukota saat
beliau datang. Jika pihak mereka tiba saat aku tidak ada, pastikan untuk
menyambut mereka dengan sopan dan ramah."
"Baik.
Akan saya sampaikan juga kepada orang-orang di kediaman."
"Bagus.
Kalau begitu, kuserahkan sisanya padamu."
Setelah
berkata demikian, Ayah naik ke kursi pengemudi mobil bertenaga uap dan
berangkat menuju Ibukota.
Karena
pembangunan jalan dan pos pengisian daya dari Baldia ke Ibukota sudah selesai,
waktu perjalanan seharusnya jauh lebih singkat dari sebelumnya. Itulah sebabnya
Ayah bisa segera berangkat.
Sambil
mengenang kejadian-kejadian belakangan ini, aku terus mengerjakan administrasi.
Tiba-tiba,
suara terdengar dari 'alat penerima' yang terpasang di pinggangku.
"Tuan Reed.
Di sini Salvia. Mohon dijawab."
Aku segera
mengaktifkan sihir komunikasi.
"Ini Reed.
Ada apa, Salvia?"
"Mohon
maaf mengganggu waktu sibuk Anda. Baru saja Tuan Galun dari kediaman utama
memberi kabar bahwa 'Tuan Curtis Lanmark' telah tiba."
"Dimengerti.
Tolong sampaikan pada Galun kalau kami akan segera menuju kediaman utama."
"Baik.
Akan saya sampaikan segera."
Setelah
mengakhiri sihir komunikasi, aku menghela napas panjang. Farah menatapku dengan
cemas.
"Ada
apa, Tuan Reed?"
"Sepertinya
Tuan Curtis Lanmark sudah tiba di kediaman utama. Ayo kita tunda dulu urusan
administrasi ini dan pergi ke sana bersama-sama."
Demikianlah
kami mulai bergerak untuk menemui Curtis Lanmark.
Farah
terlihat sangat senang karena bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian
lama, namun aku terkesan melihat Asna yang justru mengerutkan dahi dengan
ekspresi khawatir.
Aku sendiri
baru pernah bertemu beliau sekali saat resepsi pernikahan.
Yah, waktu
itu beliau terlihat seperti orang yang sangat gagah dan blak-blakan. Mari kita
lihat akan jadi seperti apa pertemuan ini. Aku menantikannya.



Post a Comment