Prolog
Malam Sebelum Upacara Pernikahan
Aku mengunjungi Renalute untuk melangsungkan upacara
pernikahan bersama Farah, dan beberapa hari belakangan ini, aku menjalani
hari-hari yang sibuk karena harus mengurus detail persiapan upacara.
Khusus hari ini, bahkan diadakan pertemuan persahabatan
dengan para bangsawan, dan aku benar-benar kelelahan.
Sebenarnya, hanya pengecekan detail persiapan saja tidak
akan menguras tenagaku.
Namun, selama pertemuan persahabatan, aku tidak hanya
dikelilingi oleh para bangsawan, tapi juga oleh putri-putri bangsawan yang
sebaya denganku, yang membuatku terus menerus merasa khawatir.
Karena Elf Kegelapan memiliki tingkat kelahiran yang rendah,
para bangsawan dan keluarga kerajaan rupanya menganggap wajar untuk memiliki
selir.
Berkat budaya itulah, banyak putri bangsawan yang mengincar
posisi selir datang mengerumuniku. Aku bisa memahami perasaan mereka, tapi
menolak dengan sopan tanpa melukai hati mereka benar-benar menguras syarafku.
Menolak itu mudah, tapi aku tidak bisa bersikap kasar.
Apapun alasannya, aku tidak boleh memberikan luka batin yang besar kepada
seorang putri bangsawan yang telah berani menyatakan perasaannya.
Setelah pertemuan persahabatan dengan para bangsawan itu
berakhir, aku berpisah dengan Farah dan yang lainnya.
Aku kembali ke wisma negara dan membasuh rasa lelah seharian
dengan berendam di pemandian air panas.
Kemudian, aku kembali ke kamar yang telah disiapkan,
menjatuhkan diri ke tempat tidur, dan menenggelamkan wajahku ke bantal.
Keharuman dan sentuhan lembut seprai yang bersih terasa sedikit menenangkan.
Setelah upacara ini selesai dan aku kembali ke Baldia,
selanjutnya aku harus segera pergi ke Ibukota Kekaisaran, ya. Jadwal yang cukup
melelahkan.
Sebagai anggota keluarga kerajaan, ketika Farah menikah
dengan Kekaisaran, sudah menjadi urusan negara dan etiket bagi kami untuk
memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri.
Namun, tujuanku bukan hanya sekadar memberi salam. Ini
adalah kesempatan emas untuk menjual produk-produk yang dikembangkan di wilayah
Baldia, seperti arloji saku dan mobil bertenaga arang, kepada para bangsawan
Kekaisaran.
Selain itu, ada juga rencana untuk meminta proyek pekerjaan
umum di dalam Kekaisaran bagi Second Knight Order yang baru didirikan.
Jika semua ini berhasil, ditambah dengan perjanjian dagang
yang telah kami sepakati dengan Renalute, rencana pembangunan Baldia pasti akan
maju selangkah lagi.
Hal ini akan semakin memperkuat pengaruh kami untuk
menghindari penghakiman di masa depan. Kegagalan tidak dapat dimaingi.
Meskipun begitu, besok adalah upacara pernikahan dan resepsi
dengan Farah. Aku harus memusatkan pikiran agar tidak mempermalukan dia dan
Keluarga Baldia.
Ngomong-ngomong,
melakukan upacara pernikahan pada usia tujuh tahun, ini memang terasa seperti
dunia lain, ya.
Di kehidupanku
yang dulu, ini adalah usia untuk perayaan Shichi-Go-San (perayaan
tujuh-lima-tiga).
Satu-satunya
pernikahan politik pada usia ini yang terlintas di pikiranku adalah pernikahan
para komandan militer di Zaman Negara-Negara Berperang. Meskipun begitu, pasti
ada pasangan yang berhasil membangun rumah tangga bahagia meskipun menikah
secara politik di masa itu.
Seperti yang
pernah Ayah katakan sebelumnya, jika aku mencintai dan menjaganya lebih dari
siapapun, aku pasti bisa membuat Farah bahagia...
Tidak, aku harus
melakukannya. Saat aku mengambil keputusan itu, mungkin karena kesibukan
beberapa hari terakhir ini, tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk, dan perlahan
aku memejamkan mataku.



Post a Comment