NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 8 Chapter 6 -

Chapter 6

Krisis dan Pertemuan


"Wow, Tuan Reed. Kota Baldia sangat ramai, ya. Selain itu, tata kota ini berbeda dengan Renalute, benar-benar menarik."

"Begitukah? Haha, syukurlah kalau kau menyukainya. Tapi, sampai beberapa waktu lalu, tempat ini hanyalah kota kecil dan tidak ada begitu banyak orang yang lalu-lalang."

"Eh, benarkah?"

Kepada Farah yang memiringkan kepalanya, aku kembali menjelaskan kejadian beberapa tahun terakhir ini sembari kami berjalan menyusuri kota.

Hari ini, aku pergi ke kota di dalam wilayah bersama Farah. Pengawal kami, Diana dan Asna, mengikuti di belakang. Omong-omong, pakaian kami sengaja dibuat lebih sederhana dari biasanya agar identitas kami tidak mudah dikenali.

Akhir-akhir ini banyak Dark Elf dari Renalute yang datang berkunjung sebagai turis, jadi Farah dan Asna tidak perlu menyembunyikan telinga mereka.

Tujuanku datang melihat kondisi kota adalah untuk inspeksi rutin. Selain itu, aku ingin menyelidiki masalah yang belakangan ini sering terjadi di berbagai sudut wilayah.

Selain 'Lotion', 'Amazake', dan 'Jam Saku' yang kami persembahkan kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri di Ibu Kota, Baldia juga memproduksi berbagai barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

Selain itu, bahan makanan di sini sangat melimpah karena adanya gudang pendingin sederhana yang menggunakan sihir atribut es milikku serta bantuan anak-anak Beastkin.

Namun, belakangan ini sering terjadi kasus di mana komplotan penjahat mengincar produk-produk dan bahan makanan tersebut dengan menyerang para pedagang.

Mereka kemudian membawa barang jarahan itu ke Balst atau Zvera.

Berkat keaktifan Pasukan Ksatria Pertama dan Kedua, sebagian besar pelaku segera ditangkap.

Namun, sepertinya ada sebagian kelompok yang bergerak secara terorganisir dan berhasil lolos dari penangkapan.

Karena itulah aku memutuskan untuk melakukan inspeksi rutin ke berbagai kota di wilayah kami, berharap bisa mendapatkan informasi baru sekecil apa pun.

Alasan aku mengajak Farah adalah karena sejak dulu ia tertarik dengan pemandangan kota di wilayah ini.

Selain itu, aku mengajaknya sebagai ucapan terima kasih karena ia selalu membantuku dalam urusan administrasi Pasukan Ksatria Kedua, sekaligus untuk menyegarkan pikiran.

Saat aku mengajaknya, dia terlihat sangat gembira. Meski sempat merepotkan saat Mel entah bagaimana mendengar rencana ini dan merengek ingin ikut ke kota.

Tentu saja aku tidak bisa membawanya, jadi Mel terpaksa tinggal di rumah. Tapi, dia tadi terlihat sangat cemberut.

Mungkin sekarang dia sedang mengamuk saat latihan bersama Tice dan anak-anak Ksatria Kedua lainnya.

"……Jadi begitulah, perjanjian yang dibuat Ayah serta kekuatan Kamar Dagang Christy sangat berpengaruh besar."

Setelah penjelasanku selesai, Farah mengangguk kagum.

"Begitu rupanya. Tapi, orang yang tidak hanya membiarkan ide dan konsep itu berakhir di dalam imajinasi, melainkan mewujudkannya hingga menjadi seperti sekarang adalah Tuan Reed. Karena itulah, menurutku yang paling hebat tetaplah Tuan Reed."

"Be-begitukah?"

Tepat saat aku menggaruk pipi untuk menutupi rasa malu, suara Salvia terdengar dari 'Alat Penerima Sihir Komunikasi' yang kubawa.

"Tuan Reed, Tuan Reed. Ini darurat. Mohon menjawab jika Anda mendengar ini."

'Darurat'…… Begitu kata itu terdengar oleh orang-orang di sekitarku, ekspresi mereka langsung menegang. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengaktifkan sihir komunikasi.

"Di sini Reed. Salvia, apa maksudnya dengan keadaan darurat?"

"Salah satu bengkel kerja yang dikelola Pasukan Ksatria Kedua telah diserang oleh pihak tak dikenal. Selain adanya korban luka, beberapa orang dari Kitsune-jin dilaporkan hilang. Kemungkinan besar mereka telah diculik."

"……!? Lalu, bagaimana dengan jejak para penyerang? Apa kata Aria dan tim unit udara?"

"Itu…… para penyerang sepertinya memahami pergerakan unit udara. Mereka memasang tabir asap dan berpencar menjadi lima kelompok ke arah yang berbeda-beda. Saat ini, unit udara hanya berhasil membuntuti dua kelompok di antaranya."

"Apa……!?"

Berdasarkan laporan tersebut, ini adalah kejahatan terencana yang melibatkan taktik untuk mengelabui pengawasan unit udara.

Ini bukan gerakan yang dilakukan oleh sekadar bandit jalanan.

Ini adalah tindakan organisasi yang terorganisir…… bahkan bisa dibilang ini adalah tindakan militer yang terlatih.

"Baiklah. Beritahukan kepada seluruh anggota Pasukan Ksatria Kedua di wilayah ini bahwa keadaan darurat telah terjadi. Pastikan posisi masing-masing dan segera lapor jika melihat pergerakan mencurigakan. Lalu, perintahkan Aria dan tim unit udara untuk segera menuju perbatasan Balst dan Zvera. Aku sendiri yang akan menghubungi Ayah."

"Dimengerti. Kalau begitu, saya akhiri komunikasi ini."

Setelah komunikasi berakhir, Farah menatapku dengan cemas.

"Tuan Reed, apakah Anda baik-baik saja?"

"Ya. Tapi maaf, sepertinya inspeksi kita berakhir di sini. Farah, maaf merepotkan, tapi aku ingin kau kembali ke asrama dan bergabung dengan Salvia dan yang lainnya. Mungkin akan ada situasi yang sulit diputuskan oleh mereka sendiri, tapi jika kau ada di sana sebagai wakilku, kurasa tidak akan ada masalah."

"Saya mengerti. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa berguna bagi Tuan Reed."

"Terima kasih."

Aku tersenyum kepada Farah yang tampak penuh tekad, lalu mengalihkan pandanganku.

"Asna, musuh kita kali ini identitasnya belum diketahui, tapi kemungkinan besar mereka adalah orang-orang terlatih dari suatu organisasi. Ada kemungkinan Farah juga menjadi incaran. Tolong berhati-hatilah."

"Dimengerti. Kalau begitu, Tuan Putri, mari kita segera berangkat."

"Ya."

Setelah mengantar kepergian mereka, aku menggunakan sihir komunikasi untuk melaporkan situasi kepada Ayah.

Ayah tidak memiliki bakat atribut petir sehingga tidak bisa berbicara secara langsung.

Namun, karena ada anak dari Nezumi-jin (kaum tikus) yang bisa menggunakan sihir komunikasi di sisinya, penyampaian informasi dapat dilakukan tanpa kendala.

"Pesan dari Tuan Reiner: 'Situasi sudah dipahami. Kami akan segera merespons ini sebagai keadaan darurat. Selain itu, untuk sementara waktu, Reed diberikan wewenang yang setara dengan diriku.' Demikian pesannya."

"Baiklah. Sampaikan pada Ayah bahwa aku akan segera melapor begitu ada informasi baru. Komunikasi berakhir."

"Dimengerti. Akan saya sampaikan."

Setelah mengakhiri sihir komunikasi, aku menghela napas panjang.

"Tuan Reed, apakah Anda tidak apa-apa?"

"Eh, ya. Terima kasih. Tapi, siapa pun mereka, aku akan memastikan mereka benar-benar menyesal karena telah berani menyentuh Baldia."

Saat aku menjawab sambil menahan amarah, Diana menarik napas melihat ekspresi wajahku. Saat itulah, dari kejauhan terlihat telinga dan ekor Kitsune-jin. Aku terperanjat dan mulai berlari.

"Maaf. Bisa minta waktunya sebentar?"

Saat aku memanggil, di antara beberapa orang Kitsune-jin, seorang laki-laki yang seumuran denganku menoleh ke arahku.

"Ada apa?"

Dia memiliki rambut kuning yang indah dan wajah yang tampan, serta telinga rubah di kepalanya. Tidak salah lagi, dia adalah anak laki-laki dari Kitsune-jin. Namun, dia bukan salah satu anak dari Pasukan Ksatria Kedua yang kukenal.

"Ah…… mohon maaf. Sepertinya aku salah orang."

"Salah orang…… ya? Menarik sekali kau bisa salah mengenali orang di sini. Jangan-jangan kau adalah seseorang yang memiliki hubungan dengan Pasukan Ksatria Kedua atau keluarga Baldia?"

Aku membelalak mendengar analisisnya yang tajam, sementara dia menyunggingkan senyum.

"Haha, maaf jika aku tidak sopan. Namaku Almond, aku mengelola sebuah kamar dagang di wilayah Kitsune-jin di Zvera. Jika kau sedang dalam kesulitan, mungkin aku bisa membantu. Kalau tidak keberatan, maukah kau menceritakan masalahnya?"

Anak laki-laki yang mengaku bernama Almond itu menatapku lekat-lekat dengan mata yang sangat jernih.

Apakah dia tahu sesuatu? Hanya dengan kata-kata 'salah orang', dia langsung bisa menebak identitasku. Itu berarti dia memahami situasi internal keluarga Baldia sampai batas tertentu.

Fakta bahwa keluarga Baldia merekrut anak-anak Beastkin ke dalam Pasukan Ksatria Kedua memang sudah cukup dikenal. Namun, sebagian besar anak-anak Kitsune-jin bekerja di bengkel kerja. Meski begitu, dia sengaja mengungkit tentang Kitsune-jin.

Artinya, ada kemungkinan besar dia tahu bahwa Kitsune-jin menempati posisi penting dalam keluarga Baldia. Sebaliknya, bisa jadi dia juga memiliki suatu informasi.

Waktu sangat berharga. Apa yang harus kulakukan? Saat aku sedang memutar otak, seorang anak perempuan seumuran Mel yang berada di samping Almond memiringkan kepalanya.

"Kakak. Apakah orang ini kenalanmu?"

Gadis Kitsune-jin itu memiliki rambut hitam pendek dan mata hitam. Menanggapi pertanyaannya, Almond menyipitkan matanya dengan lembut.

"Bukan, ini pertama kalinya kami bertemu. Tapi, sepertinya dia sedang kesulitan, jadi aku pikir mungkin aku bisa membantu."

"Hee~. Begitu ya."

Saat gadis itu mengangguk dengan nada tidak tertarik, seorang wanita Kitsune-jin datang dari tempat yang agak jauh.

Namun, saat dia mendekat, aku bingung harus membuang muka ke mana. Pasalnya, wanita yang datang itu memiliki tubuh yang sangat sintal dan pakaian yang sangat terbuka.

Karena tidak sopan jika terus menatapnya, aku memalingkan pandangan seadanya, dan menyadari bahwa pria-pria di sekitar kami sedang menatapnya dengan mata yang melotot.

"Tuan Reed. Tolong kuatkan diri Anda."

Suara dingin Diana terdengar dari belakangku, membuat punggungku merinding sesaat.

"Kalian ini, kalau tidak cepat akan kutinggalkan lho…… eh, wah. Fufu, anak laki-laki yang manis ya."

Setelah memanggil Almond dan yang lainnya, wanita itu memberikan senyuman menggoda saat menyadari keberadaan kami.

Dia memiliki mata, kulit, dan rambut putih seperti salju, ditambah telinga dan ekor rubah putih. Melihat auranya, sepertinya dia dan Almond adalah kakak beradik atau semacamnya.

"Salam kenal, maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Nama saya Rid…… saya tidak punya nama keluarga."

Saat aku memberikan penekanan pada kalimatku, ekspresi Almond dan wanita itu tampak terkejut sesaat. Namun, mereka segera menyipitkan mata.

"Begitu ya. Aku mengerti, kau hanyalah 'Rid', kan. Izinkan aku memperkenalkan diri lagi. Ini adikku…… Ridley. Dan……"

Begitu Almond berkata demikian, wanita itu tersenyum.

"Aku…… mari kita lihat. Untuk saat ini, panggil saja aku Lifa. Lalu, Nona Pelayan yang sedari tadi menatapku dengan wajah seram. Siapa namamu?"

Wanita yang mengaku bernama Lifa itu mengalihkan pandangannya pada Diana yang bersiap di belakangku.

"……Nama saya Diana, seorang pengawal."

"Fufu, salam kenal ya. Nona…… Diana."

Lifa menyipitkan matanya dengan misterius. Diana sedikit mengernyit melihat tingkahnya, namun ia mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Setelah perkenalan selesai, aku segera mengalihkan pembicaraan ke topik utama.

"Baiklah. Tuan Almond, Ridley, dan Nona Lifa. Mengenai masalah utamanya……"

Tepat saat aku hendak melanjutkan pembicaraan, suara kembali menggema dari radio nirkabel.

"Tuan Reed. Ini Salvia dari pusat informasi. Mohon segera menjawab jika mendengar ini. Sekali lagi, mohon segera menjawab!"

Aku terperanjat menyadari bahwa aku belum mematikan radio tersebut, sementara Almond menatapku dengan tatapan curiga.

"……Aku mendengar suara seseorang, bolehkah aku bertanya itu suara apa?"

"Anu, aku tidak bisa menjelaskan apa ini sekarang, maaf ya. Dan juga, tolong tunggu sebentar."

"Baiklah."

Begitu Almond mengangguk, aku mematikan radio nirkabel dan mengaktifkan sihir komunikasi. Dengan ini, suara dari radio tidak akan bocor dan hanya aku yang bisa mendengarnya.

(Maaf, Salvia. Aku sedang berbicara dengan seseorang jadi responsnya lambat.)

Begitu aku mengaktifkan sihir komunikasi, suaranya langsung terdengar di benakku.

(Ah, mohon maaf. Apakah sekarang sudah tidak apa-apa?)

(Ya. Lebih penting lagi, apakah ada perkembangan baru?)

(Benar. Mengenai lima kelompok penyerang tak dikenal yang berpencar tadi. Dua kelompok yang dibuntuti unit udara ternyata membuang muatan mereka di tengah jalan dan melarikan diri. Mereka masuk ke dalam hutan sehingga unit udara kehilangan jejak. Selain itu, Divisi Kelima yang dipimpin Mia dari Pasukan Ksatria Kedua dan Divisi Kedelapan yang dipimpin Overia telah tiba di lokasi. Mereka mengonfirmasi bahwa muatan yang dibuang itu berisi beberapa orang Kitsune-jin yang diculik dan pasokan logistik yang diduga dicuri.)

(Begitu ya. Untuk sekarang, sampaikan terima kasihku kepada unit udara, Divisi Kelima, dan Divisi Kedelapan. Tapi, jika hanya 'beberapa orang', berarti tidak semua orang yang diculik ada di sana, kan?)

Aku bertanya balik sambil menahan amarah yang membuncah di tengah rasa lega, dan suara Salvia terdengar sedikit bergetar.

(……Benar. Sayangnya, pasukan tak dikenal itu sepertinya membawa para sandera secara terpisah dalam lima kelompok tersebut. Selain itu, menurut beberapa orang yang berhasil diselamatkan, para penyerang itu memiliki rupa yang sangat mirip dengan orang-orang yang bekerja di keluarga Baldia, seperti Nona Diana atau Nona Danae. Karena itulah, muncul kelengahan dan kekacauan di bengkel kerja.)

"Apa……!?"

"Tuan Reed. Apakah Anda tidak apa-apa?"

Diana menatapku dengan cemas. Sepertinya aku tanpa sadar mengeluarkan suara karena terlalu terkejut.

"Ah, ya. Omong-omong, Diana, kau tidak punya saudara kembar atau saudara perempuan yang sangat mirip dengannmu, kan?"

"……? Tidak. Saya anak tunggal, tapi memangnya kenapa?"

Setelah dia memiringkan kepala, aku menjadi yakin.

Mengingat pergerakan serangan ini, kemungkinan besar ada keterlibatan dari Tanuki-jin (Tanuki-jin) atau Kitsune-jin yang mampu menggunakan Illusion Magic tingkat tinggi.

(Aku mengerti, terima kasih atas informasi pentingnya. Lanjutkan pencarian tiga kelompok tak dikenal lainnya sebagai prioritas utama. Tapi ingat, musuh kali ini sangat mahir. Jika kalian menemukan mereka, jangan langsung menyerang, sampaikan pada semua orang untuk menunggu instruksiku. Selain itu, tolong kirimkan satu Mobil Arang ke sini secepatnya.)

(Dimengerti. Akan segera saya siapkan. Komunikasi berakhir.)

"Fuu……"

Setelah menghela napas, aku menatap Almond dengan mantap.

"Sekali lagi, ada banyak hal yang ingin kukonsultasikan dengan kalian."

"Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang sangat gawat, ya. Seperti yang kubilang tadi, jika kau tidak keberatan, aku akan membantu sebisaku."

Almond tersenyum simpul. Apakah dia kawan atau lawan, aku masih belum tahu. Namun, aku tidak punya waktu untuk bimbang jika ingin mendapatkan informasi penting.

"Meski begitu, aku tidak bisa membicarakan detailnya di tengah kota yang ramai begini. Mari pindah ke tempat yang lebih tenang untuk bicara."

"Baiklah. Kalau begitu, mari ke tempat kami menginap. Dekat dari sini, kok."

Atas usul Almond, kami pindah ke penginapan. Begitu tiba, dalam hati aku terkejut. Tempat mereka menginap bisa dibilang sebagai penginapan termewah di kota ini. Katanya dia menjalankan kamar dagang di Zvera, tapi sepertinya dia menyimpan rahasia besar.

Begitu masuk ke dalam kamar, seorang pemuda menyambut kami.

"Selamat datang kembali, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya."

"Kami pulang, Rick."

Almond menjawab dengan cepat, dan aku merasa dia sempat memberikan semacam isyarat mata. Saat Rick mengalihkan pandangan ke arah kami, Almond menyipitkan mata.

"Kami bertemu di kota. Karena sepertinya mereka sedang kesulitan, aku pikir ingin membantu."

Rick memiliki rambut kuning dan mata cokelat yang tampak ramah. Bentuk telinganya sedikit berbeda dengan Almond, telinganya tegak berdiri. Pakaiannya mirip dengan apa yang biasa dikenakan Capella atau Galun.

"Salam kenal, namaku Reed. Dan ini Diana, pengawalku."

Aku melangkah maju mewakili yang lain.

"……Mohon bantuannya."

Alis Rick sempat berkedut, tapi dia segera bersikap hormat.

"Terima kasih atas keramahan Anda berdua. Namun, ini sebenarnya ada apa……"

Dia mendongak dan menatap Almond dengan wajah bingung.

"Yah, banyak hal yang terjadi. Lebih baik kita bentangkan peta yang kita punya di atas meja itu."

"……Baik, Tuan."

Saat mereka berdua pergi ke bagian dalam kamar, Lifa dan Ridley mengambil minuman yang sudah tersedia dan duduk di kursi.

Ketika Almond dan Rick kembali membawa peta, mereka membentangkannya di atas meja terbesar di ruangan itu.

Begitu melihat peta tersebut, aku dan Diana mengerutkan dahi. Pasalnya, peta itu tidak kalah detail dibandingkan peta wilayah yang dikelola keluarga Baldia. Malah, detail di bagian perbatasan mungkin sedikit lebih presisi di peta ini.

Di duniaku sebelumnya, peta adalah sesuatu yang lumrah dilihat di internet atau dibeli di toko buku. Namun, peta sebenarnya adalah informasi yang sangat vital.

Dari sisi militer, baik untuk menyerang maupun bertahan, memiliki informasi geografis yang mendetail berarti bisa bergerak lebih efisien dan unggul.

Bagi sebuah negara, mengetahui bahwa negara lain memiliki peta detail wilayahnya adalah ancaman yang nyata. Entah menyadari kegelisahanku dan Diana atau tidak, Almond tetap tersenyum.

"Aku akan membantumu…… Begitu kan janjiku? Mungkin sekarang ada hal-hal yang belum bisa kita ceritakan satu sama lain. Tapi, satu hal yang ingin kutegaskan kembali. Aku adalah kawanmu."

Melihat peta yang terbentang di depan mata dan mendengar ucapan penuh makna itu, tatapan mata Diana berubah.

Dalam sekejap, dia memancarkan aura yang bisa dibilang siap bertempur.

Namun, Rick yang bersiaga di samping Almond pun melakukan hal yang sama. Suasana di dalam ruangan seketika menjadi tegang dan mencekam.

Sekarang, yang terpenting adalah apakah aku memercayai kata-kata Almond atau tidak.

Namun, jika dia benar-benar berniat memusuhiku, dia tidak perlu repot-repot mengajakku ke penginapannya.

Dia cukup mengabaikanku saja, dan tidak perlu memperlihatkan peta ini. Jika Almond benar-benar kaki tangan musuh, tindakannya ini sangat tidak masuk akal.

"Baiklah, Almond. Aku akan memercayaimu. Tapi, jika kau menipuku dan terjadi sesuatu pada anak-anak yang diculik itu, aku…… tidak akan pernah memaafkanmu."

Mungkin karena sihirku merespons emosi terhadap para penyerang, udara di ruangan itu menjadi semakin berat, dan terdengar suara derit halus dari dinding kamar.

Almond tampak terpengaruh oleh tekanan sihir yang kupancarkan, ia berkeringat dingin di dahi dan menelan ludah.

"……Itu menakutkan sekali. Akan kucamkan baik-baik."

Aku menarik napas dalam, lalu menjelaskan detail kasus penculikan itu kepada mereka.

"Dalam kasus ini, menurutku kemungkinan besar pelakunya adalah pihak yang berasal dari Zvera."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

Almond memiringkan kepala.

"Melalui proses eliminasi. Pertama, jika bangsawan Kekaisaran adalah dalangnya, risiko ketahuan terlalu tinggi. Anak-anak Beastkin terlalu mencolok di Kekaisaran. Selain itu, jika barang-barang yang hanya dibuat di Baldia muncul di wilayah lain dalam negara yang sama, itu akan segera ketahuan. Lalu, melihat hubungan antara Balst dan Baldia, mereka tidak perlu mengambil risiko berbahaya seperti ini. Renalute juga sama. Negara lain jaraknya terlalu jauh dari Baldia, jadi secara otomatis Zvera adalah kemungkinan yang paling kuat."

"Begitu ya. Tapi, jika kau sudah tahu sejauh itu, bukankah sebaiknya blokade saja perbatasan menuju Zvera?"

Aku menggelengkan kepala atas usulnya.

"Seluruh garis perbatasan terlalu luas, tidak mungkin. Lagipula, belum tentu para penyerang langsung menuju Zvera. Ada kemungkinan mereka masuk ke Zvera lewat Balst. Para penyerang terbagi menjadi lima kelompok. Mereka pasti akan berkumpul sekali lagi di dalam wilayah Baldia. Masalahnya adalah di mana tempat itu……"

"Humu……"

Almond bergumam, lalu mengalihkan pandangan ke arah Lifa yang sedang bermain sambil memeluk Ridley yang meronta-ronta.

"Kakak, bagaimana menurutmu?"

"Ara? Kenapa bertanya padaku?"

"Andaikata 'Kakak' adalah penyerangnya, rencana seperti apa yang akan Kakak susun? Aku ingin tahu sebagai referensi saja."

Aku merasa ada yang janggal dalam percakapan mereka, tapi Lifa melepaskan Ridley dan bangkit dari kursi. Dia melirik peta sejenak, lalu menyipitkan mata menatap Almond.

"Aku…… tidak, 'Kakakmu ini' pasti akan menyusun rencana seperti ini."

Lifa bergumam, lalu menyipitkan mata dengan misterius dan tersenyum simpul.

"Pertama, untuk menculik Kitsune-jin di Baldia, aku akan menyelidiki bagian dalam wilayah Baldia, lokasi bengkel, dan orang-orang yang keluar masuk secara mendalam terlebih dahulu. Barulah setelah itu aku beraksi."

Dia berbicara dengan sangat percaya diri, seolah-olah dia mengetahui segalanya. Aku menatap Lifa dengan curiga, tapi dia tidak peduli. Malah, dia tampak senang.

"Setelah menyerang bengkel, aku akan membagi pasukan agar informasi bisa dibawa pulang dengan pasti. Tapi, aku tidak ingin membawa anak-anak yang diculik itu dalam kelompok kecil yang terpisah-pisah. Itu memakan waktu dan tenaga, jadi agar bisa berpindah dengan efisien, seperti katamu, kami akan bertemu di suatu tempat di dalam wilayah Baldia sebelum menyeberangi perbatasan."

Lifa tersenyum sambil melirikku.

Meski aku merasa tidak enak dengan sikapnya, aku tetap berusaha tenang.

"Nona Lifa juga berpikir begitu, ya. Masalahnya adalah di mana tempat mereka bertemu. Jika Anda, di mana tempat itu?"

"Mari kita lihat……"

Lifa meletakkan tangan di mulutnya, lalu perlahan menunjuk sebuah titik di peta dengan jari telunjuk kanannya.

Tempat itu adalah lokasi kosong sedikit ke arah selatan dari titik pertemuan perbatasan Kitsune-jin, Balst, dan Baldia.

"Kalau aku, akan kupilih di sini. Tempat ini tidak tercantum di peta, tapi di dekat sini ada beberapa gubuk yang dibangun secara rahasia dan digunakan para pedagang untuk beristirahat atau bertransaksi. Di sana, jika anak-anak yang diculik itu dimasukkan ke dalam kereta kuda yang menyamar sebagai kereta kamar dagang, mereka bisa menyeberangi perbatasan Zvera maupun Balst tanpa dicurigai."

"Apa……!?"

Tentang adanya gubuk-gubuk rahasia milik pedagang, aku belum pernah mendengar informasi itu. Saat aku menoleh untuk memastikan, Diana mengangguk dengan perasaan bersalah.

"Benar, daerah itu memang sering menjadi tempat berkumpulnya para pedagang. Seperti kata Nona Lifa, beberapa tahun lalu patroli ksatria pernah menemukan gubuk-gubuk yang dibangun di sana."

"Saat itu, apa kata Ayah?"

"Waktu itu Tuan Reiner berkata bahwa jika kita terlalu membatasi, itu akan memicu penolakan dan ketidakpuasan para pedagang. Beliau memerintahkan untuk memberi peringatan saja dan mendiamkannya selama tidak keterlaluan."

"Jadi begitu……"

Saat para ksatria menemukannya beberapa tahun lalu, Baldia belum berkembang sepesat sekarang. Aku bisa memahami pemikiran Ayah yang mendiamkannya demi mengembangkan wilayah.

Masalahnya adalah bagaimana menanggapi pendapat yang diberikan oleh Lifa yang sedang tersenyum misterius ini. Tepat ketika aku sedang berpikir, suara Salvia terdengar dari radio nirkabel, "Tuan Reed, mohon segera menjawab."

"Maaf. Aku permisi sebentar."

Aku keluar ruangan sejenak dan mengaktifkan sihir komunikasi.

(Salvia. Apakah ada informasi baru?)

(Benar. Aria dari Skuadron Udara Pertama telah menemukan pihak yang diduga penyerang. Saat ini, mereka sedang dibuntuti dari ketinggian semaksimal mungkin agar tidak ketahuan.)

(……!? Begitu ya, terima kasih. Apakah arah yang dituju para penyerang itu sedikit ke selatan dari titik pertemuan perbatasan Baldia, Zvera, dan Balst?)

(E-etoo, mohon tunggu sebentar……)

Setelah jeda sesaat, suara Salvia kembali terdengar di benakku.

(Ah, benar sekali. Tapi, bagaimana Anda bisa tahu?)

(Di sini juga ada sedikit perkembangan. Tolong minta Aria dan yang lainnya untuk terus membuntuti dan melapor. Lalu, divisi mana yang paling dekat dengan para penyerang?)

(Eee-to…… Divisi Keenam.)

Divisi Keenam adalah divisi yang dipimpin oleh Lagard dari Kitsune-jin sebagai kapten, dan Noir sebagai wakil kapten.

(Baiklah. Tolong sampaikan pada Lagard agar jangan menyerang sampai kami tiba. Aku akan segera ke sana begitu Mobil Arang sampai.)

(Dimengerti. Akan saya sampaikan.)

Komunikasi dengan Salvia berakhir. Saat aku menghela napas, suara lain terdengar dari radio.

"Di sini, Serbia. Tuan Reed, mohon menjawab."

(Ada apa, Serbia?)

Dia adalah adik dari Salvia dan si bungsu dari tiga bersaudara. Aku segera mengaktifkan sihir komunikasi untuk menjawab, dan suaranya kembali terdengar dari radio.

"Mobil Arang yang aku tumpangi akan segera tiba di penginapan yang ditentukan oleh Tuan Reed."

(Begitu…… eh, Serbia juga ikut naik?)

"Benar. Karena sihir komunikasi kami bersaudara adalah yang terbaik, saya terpilih untuk misi ini. Mohon bantuannya."

(Baiklah. Kalau begitu kami akan menunggu di luar penginapan.)

(Dimengerti.)

Setelah komunikasi selesai, aku kembali ke dalam kamar dan memberi tahu Almond dan yang lainnya.

"Baru saja aku mendapat informasi baru. Sepertinya, apa yang dikatakan Nona Lifa tadi benar."

Lifa menyipitkan mata dengan penuh rahasia.

"Begitu ya, syukurlah kalau bisa membantu."

Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkannya. Aku diam-diam mengaktifkan Electric Field, tapi emosi yang terpancar darinya terasa 'riang dan ceria', sepertinya tidak ada permusuhan.

"Jadi, Reed. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Tentu saja aku akan menuju lokasi. Aku sudah menyiapkan kendaraan untuk itu."

"Begitu ya……"

Almond bergumam pelan, lalu menunjukkan ekspresi penuh tekad.

"Reed, aku punya permintaan. Bolehkah aku ikut bersamamu? Bertemu denganmu begini adalah sebuah takdir. Izinkan aku membantu sampai akhir."

"Almond……"

Emosi yang kurasakan melalui Electric Field terasa kuat dan hangat, tanpa ada permusuhan.

Jika aku tidak bertemu dengannya, aku tidak akan bisa melacak pergerakan penyerang sejauh ini.

Meski aku penasaran tentang Lifa, mungkin aku bisa memercayai Almond. Lagipula, ada banyak hal yang masih ingin kutanyakan padanya.

"Baiklah. Aku sendiri yang memohon bantuanmu."

"……! Terima kasih."

Saat dia mengangguk senang, Rick yang bersiaga di sampingnya membungkuk.

"Mohon maaf, sebagai pengawal Tuan Almond, saya juga ingin ikut serta. Apakah diperbolehkan?"

"Baiklah. Tidak apa-apa."

Setelah menjawab begitu, aku mengalihkan pandangan.

"Nona Lifa. Bagaimana dengan Anda?"

"Aku…… mari kita lihat. Kedengarannya menarik, tapi aku akan tinggal di penginapan bersama Ridley. Sepertinya aku terlalu bersemangat menikmati kota Baldia, jadi aku sedikit lelah."

Saat dia tersenyum misterius ke arah Ridley yang meringkuk di kursi belakang, telinga dan ekor Ridley seketika berdiri tegak karena merinding.

"Tuan Reed, boleh bicara sebentar?"

"Ya. Ada apa?"

Diana berbisik padaku, dan kami keluar ruangan sejenak hanya berdua.

"Tuan Reed, menurut saya sangat berbahaya untuk memercayai mereka begitu saja. Ada kemungkinan mereka adalah bagian dari kelompok penyerang dan sedang menjebak kita."

Menanggapi peringatannya, aku memperlihatkan gigi putihku. "Tentu saja aku tahu."

"Tapi, terlepas dari Lifa, kurasa aku bisa memercayai Almond sedikit. Lagipula, mengingat saran dan peta tadi, membiarkan mereka pergi begitu saja justru lebih berbahaya. Tapi kita juga tidak bisa menahan mereka. Jadi, lebih baik mengawasi mereka di dekat kita."

"Namun……"

Diana hendak mengatakan sesuatu, tapi setelah menatap mataku, dia menghela napas dan menggelengkan kepala tanda menyerah.

"Saya mengerti. Namun, mengenai masalah ini, mohon agar Anda melaporkan semuanya tanpa terkecuali kepada Tuan Reiner."

"U-uhm. Tentu saja……"

Membayangkan ekspresi Ayah saat aku melapor secara langsung terasa sedikit menakutkan, tapi aku harus siap mental. Tepat saat itu, suara dari radio terdengar, "Tuan Reed, ini Serbia. Saya hampir tiba." Aku mengaktifkan sihir komunikasi dan membalas, (Baiklah. Aku segera keluar penginapan), lalu kembali ke dalam kamar.

Di dalam kamar, Lifa sudah kembali ke tempat duduknya semula dan lagi-lagi memeluk Ridley sampai berantakan. Aku menatap Almond dan Rick.

"Baru saja ada kabar, jemputan akan segera tiba. Mari kita keluar penginapan."

"Baik."

Almond mengangguk, lalu tersenyum lembut ke arah Ridley yang kepalanya sedang dielus oleh Lifa hingga tampak seperti boneka.

"Kalau begitu, Ridley. Tinggallah bersama Kakak di sini, ya."

"Uuuu…… baiklah……"

Ridley tampak hampir menangis, tapi Lifa tidak menghentikan tangannya dan malah menyipitkan mata.

"Ara ara. Jangan membenciku begitu, dong. Kau kan sangat manis. Ufufu."

Tepat saat Almond tersenyum pahit melihat tingkah mereka berdua dan hendak keluar kamar bersama kami, Lifa bergumam seolah ingin menahan kami.

"Ah, benar juga."

"Tentang kereta kuda yang menyamar tadi, jika aku yang melakukannya, aku akan menyamar sebagai kereta dari kamar dagang yang paling dipercaya di Baldia."

"Kamar dagang yang paling dipercaya di Baldia……"

Aku mengernyitkan dahi memikirkan kata-katanya, tapi kemudian aku terperanjat. Lifa menatapku sambil memeluk Ridley, lalu menyunggingkan senyum angkuh.

"Benar…… Kamar Dagang Christy."

Begitu keluar penginapan bersama Almond dan Rick, aku melihat sesuatu yang datang ke arah kami sambil menerjang debu.

"Sepertinya waktunya pas, ya."

"……Benda apa itu?"

Kepada mereka berdua yang menatap debu itu dengan heran, aku menyipitkan mata.

"Itulah Mobil Arang."

Tak lama kemudian, sebuah Mobil Arang yang menarik gerobak muatan tiba di depan kami dan berhenti. Namun, bentuknya sedikit berbeda dengan Mobil Arang yang aku tahu.

Bisa dibilang, ukurannya lebih besar dari biasanya, dan sepertinya telah dimodifikasi di berbagai bagian.

"Jadi ini Mobil Arang yang tersohor itu. Baru kali ini aku melihatnya langsung."

"Luar biasa benda dari besi seperti ini bisa bergerak. Teknologi Baldia sungguh menakjubkan."

Almond dan Rick terkagum-kagum, tapi bagiku yang tahu bentuk aslinya, kendaraan ini memancarkan aura yang agak mencurigakan.

"Haha. Terima kasih."

Saat aku tersenyum pahit, pintu kursi penumpang terbuka dan sosok yang tidak terduga turun dari sana. "Tuan Reed, maaf membuat Anda menunggu."

"Eh……? Alex, kau juga datang?"

"Benar, karena di antara anak-anak yang diculik, ada yang bekerja di bawah perintahku. Bengkel sudah aman karena ada Kakak. Tapi sebagai gantinya, aku membawakan Mobil Arang Custom yang sedang kami kembangkan. Dengan ini, kita pasti bisa segera sampai ke lokasi."

"Begitu ya. Ini sangat membantu, terima kasih."

Pintu kursi belakang terbuka dan Serbia turun.

"Tuan Reed, maaf menunggu lama. Lalu, ada pesan dari Kakak Salvia bahwa semua unit udara yang bisa bergerak sudah dikerahkan ke lokasi sesuai instruksi Tuan Reed. Selain itu, Divisi Keenam yang dipimpin Lagard juga sudah hampir sampai di lokasi."

"Baiklah. Kalau begitu mari kita segera berangkat."

Begitu aku mengangguk, Alex menyadari keberadaan Almond dan Rick lalu memiringkan kepala.

"Tuan Reed. Omong-omong, siapa mereka?"

"Jangan khawatir, mereka adalah rekan kita. Detailnya akan kujelaskan di jalan."

Setelah menjawab begitu, kami masuk ke dalam kendaraan.

Almond dan Rick tampak sangat antusias dengan struktur Mobil Arang, mereka menoleh ke sana kemari di dalam kabin. Namun, saat melihat wajah orang yang duduk di kursi pengemudi, mataku terbelalak.

"Kenapa Capella yang menyetir?"

"Jangan khawatir. Urusan kekacauan setelah penyerangan sudah saya tangani. Alasan saya datang adalah atas permintaan Ellen dan instruksi dari Nona Farah. Saya akan menceritakan detailnya sambil menyetir, jadi mari kita bergegas sekarang."

"Be-benar juga. Kalau begitu, silakan berangkat."

"Dimengerti."

Setelah memastikan semua penumpang sudah naik dan mengenakan sabuk pengaman, Capella memegang kemudi dengan tangan kanan, sementara kaki kirinya menginjak pedal kopling. Lalu, tangan kirinya menggerakkan tuas transmisi dengan lihai.

"Kita berangkat. Saya akan melakukan akselerasi mendadak, jadi harap berhati-hati agar lidah tidak tergigit atau kepala tidak terbentur."

"Eh……?"

Apa Mobil Arang bisa melakukan akselerasi mendadak?

Sesaat setelah aku bingung, suara gemuruh terdengar dari kendaraan ini.

Di saat yang sama, mobil ini melesat dengan akselerasi yang tidak terbayangkan untuk sebuah Mobil Arang.

"Eeeh!?"

Aku berteriak kaget, sementara Almond berseru dengan penuh semangat, "Luar biasa!"

"Bisa mengembangkan kendaraan seperti ini, Dwarf memang…… tidak, Tuan Alex benar-benar orang yang hebat."

Menanggapi pujian itu, Alex berdehem dengan bangga.

"Izinkan aku menjelaskan. Mobil Arang Custom ini adalah mesin uji coba yang aku kembangkan bersama Kakak dengan tujuan meningkatkan performa. Pengendaliannya sangat sulit, tapi karena yang menyetir adalah Tuan Capella yang biasanya membantu eksperimen kami, tidak ada masalah. Terlebih lagi, sebagai fitur eksperimental, kami menggunakan bahan bakar khusus hasil racikan arang dengan Flame Stone dan Clear Water Stone, sehingga tenaganya jauh lebih kuat dibanding mobil biasa."

"A-apa...!? Aku tidak pernah mendengar laporan seperti itu."

"Ya. Ini adalah apa yang disebut sebagai 'laporan setelah kejadian' yang menjadi keahlian Tuan Reed," jawab Alex sambil menyunggingkan senyum licik. Aku terpana mendengarnya, tapi dia mengabaikanku dan melanjutkan penjelasannya.

"Namun, masih ada fungsi lainnya. Capella-san, kita sudah keluar dari area kota, silakan dilakukan."

Aku tersentak dan melihat ke luar jendela. Kami memang sudah berada di luar kota. Modifikasi macam apa yang sebenarnya mereka lakukan? Kecepatan ini sama sekali tidak terasa seperti mobil arang biasa.

"Dimengerti. Semuanya, harap berhati-hati agar lidah tidak tergigit atau kepala tidak terbentur lagi."

"Hah...?"

Aku tercengang mendengar kata-kata Capella. Kenapa dia perlu memberikan peringatan seperti itu?

Saat aku sedang kebingungan, dia menarik tuas yang ada di kiri bawah kemudi ke arahnya.

Detik berikutnya, suara dentuman 'DUM' terdengar dari belakang mobil diikuti guncangan hebat, dan kecepatan mobil arang itu meningkat drastis.

"A-apa lagi kali ini!?"

Saat aku berteriak karena terkejut, Alex yang berwajah licik itu tertawa nakal.

"Ini adalah perangkat pembantu akselerasi yang aku dan kakakku buat dengan berbagai inovasi. Nah, Capella-san. Mari kita pergi dengan kecepatan penuh menuju tempat semua orang yang sedang menunggu bantuan kita."

Capella melirikku yang duduk di kursi belakang dan bergumam.

"Kalau begitu, Tuan Reed. Apakah boleh aku menggunakan 'kecepatan penuh'?"

"Eh!? Ya, ya... Yah, untuk saat ini yang terpenting adalah tiba di lokasi secepat mungkin, jadi tidak apa-apa."

"Dimengerti. Kalau begitu, mari kita mulai lagi."

"Ah, tapi, tetap berkendaralah dengan aman—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, suara menderu yang memekakkan telinga terdengar dari belakang mobil arang, menelan suaraku sepenuhnya.

Charcoal Car Custom semakin menambah kecepatannya, melesat menuju lokasi yang kami duga menjadi tempat berkumpulnya para penyerang.

"Begitu ya. Jadi itu yang terjadi."

Aku telah menyampaikan kepada Capella bahwa berdasarkan saran dari Almond dan informasi yang terkumpul, kami telah menentukan lokasi di mana anak-anak Kitsune-jin yang diculik dari bengkel berada.

"Meski begitu, aku tidak menyangka Capella yang akan mengemudikan mobil arang ini."

"Maaf karena telah mengejutkan Anda. Sebenarnya..."

Sambil mengemudi, Capella menceritakan kronologi kejadiannya.

Ketika bengkel diserang, Ellen dan Alex yang bertugas menjaga bengkel berada di lokasi, namun karena mereka bukan pejuang, mereka tidak bisa melawan para penyerang.

Tidak sulit untuk membayangkan penyesalan mereka berdua saat melihat anak-anak diculik di depan mata tanpa bisa berbuat apa-apa.

Di tengah keputusasaan, Ellen yang mendengar tentang pengaturan 'mobil arang' bersikeras untuk ikut.

Meskipun Alex mencoba menenangkannya, dia tetap tidak mau mendengarkan, sehingga Capella yang harus membujuk Ellen. Tepat pada saat itu, Farah kembali ke asrama dan berbicara kepada Capella.

"Aku akan mengambil alih tugas-tugas asrama yang tersisa. Capella-san, tolong kendarai mobil arang yang diminta oleh Tuan Reed dan pergilah ke lokasi kejadian. Tuan Reed pasti akan mengejar para penyerang untuk menyelamatkan anak-anak yang diculik. Saat itu, kekuatanmu pasti akan sangat bisa diandalkan."

Mengikuti instruksinya, Capella menyerahkan tugasnya dan pergi ke tempat mobil arang berada. Di sana, dia membujuk Ellen.

"Aku mengerti. Tapi, pastikan untuk membawa anak-anak itu kembali ya."

"Ya, pasti."

Setelah bertukar janji dengannya, Capella mengemudikan mobil arang itu dan datang ke sini bersama yang lain.

"Begitu ya."

"Selain itu, ekspresi agung dan bermartabat yang ditunjukkan Nona Farah saat memberikan instruksi padaku... Sangat mirip dengan Nona Eltia."

"Mirip Ibu? Hehe, aku mengerti. Farah pasti akan senang mendengarnya, jadi aku akan menyampaikannya padanya saat pulang nanti."

"Maaf mengganggu pembicaraan Anda."

Suara Serbia yang memasang ekspresi tegang terdengar, membuat semua perhatian di dalam mobil tertuju padanya.

"Baru saja ada kontak dari Kakak Salvia. Aria dari skuadron terbang pertama telah mencapai titik yang diduga menjadi tempat musuh yang dicurigai oleh Tuan Reed. Di sana, sesuai dengan apa yang Anda katakan, terdapat gubuk yang tidak terdaftar di peta serta kereta kuda dan gerobak yang sepertinya milik Kamar Dagang Christy. Pasukan darat dari divisi keenam yang dipimpin oleh Lagard berada di dekat sana dan sedang menunggu perintah. Apa yang harus kita lakukan?"

Aku meletakkan tangan di mulut dan menunduk.

Para penyerang berpindah dengan membagi diri menjadi lima kelompok. Kelompok yang diikuti oleh Aria hanyalah salah satunya.

Dua dari lima kelompok tersebut melarikan diri dengan meninggalkan anak-anak yang diculik untuk memutus pengejaran. Artinya, keberadaan dua kelompok dari penyerang yang memisahkan diri itu masih belum diketahui.

Dalam situasi ini, kemungkinan terburuk jika kita bergerak adalah jika dua kelompok yang hilang itu belum bergabung.

Jika mereka menyadari titik kumpul telah dikuasai, dua kelompok itu pasti akan melarikan diri ke tempat lain.

Jika itu terjadi, akan sulit untuk menyelamatkan semua anak yang diculik.

Hmm, apa yang harus kulakukan?

"Reed. Boleh aku bicara sebentar?"

Almond berbicara dengan suara pelan.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa, tapi para penyerang terbagi menjadi lima kelompok, kan? Kalian baru bisa mengonfirmasi tiga kelompok. Sisa dua kelompok lainnya masih belum diketahui rimbanya. Jika begitu, menurutku sebaiknya jangan bergerak sampai mereka mulai menjalankan kereta kudanya."

Di bawah perhatian semua orang di dalam mobil, dia melanjutkan dengan tenang.

"Saat kereta kuda mulai bergerak, itu berarti semua penyerang telah berkumpul. Selain itu, menyerang bengkel di wilayah Baldia berarti tujuan utama mereka kemungkinan besar adalah informasi dan teknologi bengkel tersebut. Jika benar begitu, kecil kemungkinan mereka akan melukai anak-anak yang diculik. Kurasa sebaiknya kita menahan diri dan menunggu kesempatan... Bagaimana menurutmu?"

"Kebetulan sekali. Aku juga memikirkan hal yang sama."

Aku mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke Serbia.

"Saat penyerang mulai bergerak, kita akan menggunakan mobil arang ini untuk mendahului mereka menuju tujuan mereka. Beritahu Lagard dan yang lainnya agar jangan bergerak dengan alasan tadi. Jika kereta kuda mulai bergerak, ikuti mereka tanpa ketahuan. Dengan begitu, kita bisa menjepit mereka bersama pasukan Lagard."

"Dimengerti. Kalau begitu, akan saya sampaikan kepada Kakak Salvia."

Tepat saat dia hendak mengaktifkan sihir komunikasi, aku mendekatkan wajah ke telinganya dan berkata, "Ah, tunggu sebentar."

"Tolong beritahu semua anggota skuadron terbang yang berkumpul di lokasi untuk melaporkan arah pergerakan kereta kuda penyerang kepada kita. Berdasarkan informasi itu, kita akan menentukan tujuan penyerang dan mendahului mereka. Namun, minta Aria dan yang lainnya untuk tetap siaga memantau dari ketinggian kecuali terjadi sesuatu yang luar biasa. Katakan pada mereka agar tidak menampakkan diri atau ikut campur meskipun terjadi pertempuran antara kita dan penyerang."

"Eh... Tapi, itu kan—"

Serbia memasang wajah bingung.

"Tujuan utama para penyerang itu kemungkinan besar adalah 'informasi Baldia'. Untuk saat ini, mereka pasti hanya menganggap keberadaan Aria dan yang lainnya sebagai 'sistem pengawasan oleh Tori-jin (kaum burung)'. Jika kita bisa menanganinya sendiri, tidak perlu menunjukkan 'kekuatan sejati' dari skuadron terbang, kan?"

"...! Dimengerti."

Sepertinya dia memahami maksudku, dia pun mengaktifkan sihir komunikasi dan mulai berbicara dengan suara pelan. Melihat hal itu, Almond menatapku dengan penuh rasa ingin tahu.

"Apakah dia sedang menggunakan semacam sihir khusus?"

"Maaf, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu."

"...Begitu ya."

Almond tampak sedikit kecewa, tapi dia segera mengubah ekspresinya dan mulai bicara lagi, "Ngomong-ngomong..."

"Kudengar akhir-akhir ini di wilayah Baldia, anak-anak Beastkin bekerja di divisi ksatria kedua yang berada langsung di bawah keluarga Baldia. Seperti dia contohnya."

Sambil melirik Serbia, dia menatapku dengan penuh makna.

"...Sepertinya begitu ya."

Saat aku sedang mencoba menebak tujuannya, dia tersenyum tipis dan melanjutkan ceritanya.

"Terlebih lagi, kudengar mereka awalnya adalah budak yang akan diperjualbelikan di Balst. Namun, katanya putra mahkota keluarga Baldia merasa marah karena anak-anak sebaya diperjualbelikan sebagai budak, meskipun mereka Beastkin. Lalu, dia membeli mereka melalui Kamar Dagang Christy. Dia melindungi mereka di Baldia ini dan memberi mereka tugas publik sebagai ksatria divisi kedua. Itu adalah sesuatu yang tidak terpikirkan dalam keadaan normal."

Keluarga Baldia membeli budak melalui Kamar Dagang Christy. Aku belum pernah mendengar rumor seperti itu menyebar. Mungkin, itu adalah informasi yang dia dapatkan sendiri.

"Memang... itu mungkin cerita yang sedikit aneh. Itu jika ceritanya benar..."

Saat aku menanggapi dengan nada menghindar, Almond tersenyum dengan wajah yang tampak senang.

"Hehe, itu hanyalah rumor belaka. Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi, aku akan bicara dengan asumsi bagian selanjutnya adalah fakta. Sebagai anggota Beastkin, aku merasa ada hal yang jauh lebih hebat."

"Apa itu?"

Saat aku bertanya balik dengan tenang, matanya memancarkan cahaya kuat seperti harapan.

"Anak-anak yang dijual sebagai budak itu... Seharusnya mereka semua adalah anak-anak yang dibuang karena dianggap 'tidak memiliki bakat sebagai yang kuat' menurut pemikiran hukum rimba Beastkin. Namun, sejauh yang kudengar, anak-anak Beastkin di Baldia ini kemungkinan besar lebih kuat daripada anak-anak sebaya mereka di dalam negeri Zvera. Selain itu, mereka juga memiliki tata krama. Sebenarnya, apa yang dipikirkan dan apa yang ingin dicapai oleh keluarga Baldia?"

Tanpa kusadari, dia menatapku dengan tatapan serius. Seolah-olah dia sedang mencoba menilai diriku.

Aku bisa saja memberikan jawaban ambigu, tapi kurasa di sini aku harus menjawab dengan serius.

"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan keluarga Baldia, tapi setidaknya siapa yang berhak menentukan bahwa seseorang 'tidak memiliki bakat sebagai yang kuat'? Apakah manusia yang menentukan bakat atau takdir manusia lain itu merasa dirinya sudah menjadi Tuhan? Kurasa itu sangat sombong, tapi bagaimana menurutmu, Almond?"

"Itu... aku juga berpikir begitu."

"Lagipula, pemikiran hukum rimba itu sendiri adalah hal yang aneh. Manusia, Beastkin, dark elf, dwarf, elf... Meskipun rasnya berbeda, manusia tidak bisa hidup sendirian. Tidak peduli seberapa sering seseorang memaki orang lain sebagai yang lemah dan menganggap dirinya kuat, dia tidak akan bisa hidup tanpa hasil tani, pakaian, air, dan berbagai hal lainnya yang disediakan oleh banyak orang. Melupakan hal itu... tidak, menganggap diri kuat tanpa menyadari hal itu adalah puncak kebodohan."

"Kalau begitu, Reed. Menurutmu apa itu 'orang kuat'?"

"Mari kita lihat."

Saat aku memikirkannya, percakapan saat pelatihan pewaris dengan Ayah tiba-tiba terlintas di benakku. Kalau tidak salah, waktu itu juga ada pertanyaan yang serupa.

"Dalam kasusku, mungkin 'orang yang menjalankan tanggung jawabnya'."

"Orang yang menjalankan tanggung jawabnya..."

Melihat Almond memasang wajah serius sambil mengulang kata-kataku, aku jadi merasa sedikit malu sendiri dan menggaruk pipiku.

"Ahaha. Yah, itu adalah kata-kata dari seseorang yang aku kagumi sih. Tapi seperti yang dikatakan orang itu, kriteria 'orang kuat' itu berbeda-beda tergantung posisi seseorang. Jika seorang politisi maka kekuatan politiknya, jika seorang pedagang maka kemampuan manajemennya, dan jika seorang ahli bela diri maka kekuatan tempurnya. Bagaimanapun, 'hukum rimba' di negara Beastkin itu terlalu ekstrem."

Ngomong-ngomong, 'orang itu' adalah Ayah.

"Begitu ya... Reed, aku mendengarkan cerita yang sangat bagus. Berkat itu, tekadku juga sudah bulat. Terima kasih."

"Ya, ya... Aku tidak terlalu mengerti, tapi syukurlah kalau bisa membantu."

Kenapa dia memasang ekspresi seperti itu? Saat aku sedang memiringkan kepala karena Almond berterima kasih dengan wajah yang entah kenapa tampak lega, Serbia bergumam, "Tuan Reed, bolehkah saya bicara?"

"Ya. Ada apa?"

"Ada pergerakan dari para penyerang, sepertinya kereta kuda mulai bergerak."

Hanya dengan satu kalimat itu, ekspresi semua orang di dalam mobil menjadi tegang, dan suasana menjadi mencekam.

"Dimengerti. Kalau begitu, segera hubungi Aria dan yang lainnya untuk memastikan arah pergerakan penyerang. Kali ini kita yang akan menyerang lebih dulu."

"Baik. Dimengerti."

Mobil arang custom yang kami tumpangi mulai bergerak untuk mendahului lokasi tujuan para penyerang, dengan mengandalkan informasi yang dikirimkan dari skuadron terbang dan markas informasi.

"Tuan Reed. Sesaat lagi, kereta kuda yang seharusnya dinaiki para penyerang akan mulai terlihat."

Saat bergerak dengan mobil arang custom, wajah Serbia yang duduk di kursi belakang paling ujung tampak menegang.

"Dimengerti. Kalau begitu, Diana dan Capella, tolong lakukan sesuai rencana ya."

Saat aku memanggil mereka, keduanya mengangguk mantap.

"Baik. Akan kuperlihatkan betapa mereka akan menyesal karena telah mengusik Baldia."

"Aku sama sekali tidak berniat memaafkan mereka karena telah membuat istriku menangis."

"Ahaha... Yah, aku mengerti perasaan kalian, tapi tetaplah tenang ya."

Setelah menjawab dengan nada menenangkan, aku mengalihkan pandangan ke Almond dan Rick.

"Lalu, kalian berdua tolong jaga mobil arang custom ini, serta lindungi Alex dan Serbia ya."

"Dimengerti."

Rick mengangguk, tapi Almond tampak berpikir sejenak lalu menatapku dengan tatapan penuh tekad.

"Reed, Rick itu kuat. Jika ada dia, menjaga mobil arang dan mereka berdua seharusnya tidak masalah. Aku ingin ikut menghadapi para penyerang bersama kalian. Karena kemungkinan besar penyerang adalah Kitsune-jin, akan lebih mudah menghadapi situasi tidak terduga jika aku yang sesama ras berada di dekat kalian."

"Almond..."

Ekspresinya sangat serius. Sepertinya dia tidak akan mendengarkan meskipun aku melarangnya.

"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin Almond tetap berada di sisiku."

"Terima kasih, Reed."

Setelah mendengar jawabanku, aku juga memanggil Alex yang duduk di kursi penumpang.

"Lalu Alex, tetaplah bersiap di kursi pengemudi agar mobil arang custom ini bisa segera bergerak kapan saja ya."

"Baik. Aku mengerti."

Tepat saat Alex menjawab, suara Capella menggema di dalam mobil.

"Aku sudah melihat kereta kuda penyerang. Aku akan memotong jalan mereka. Semuanya, tolong berpegangan pada sesuatu dengan kuat."

Capella sekali lagi menarik tuas di kiri bawah kemudi, dan suara dentuman serta guncangan 'DUM' kembali bergema dari belakang badan mobil. Kemudian, mobil arang itu mengejar dan menyalip kereta kuda yang dinaiki penyerang.

"Kita mulai."

Suara Capella bergema di dalam mobil saat mobil itu melakukan gerakan meluncur ke samping yang hebat... drift, lalu berhenti sedemikian rupa sehingga menghalangi jalan kereta kuda tersebut.

"Tu-tunggu, cara mengemudimu kasar sekali."

Melihat gerakan yang begitu agresif, aku benar-benar tercengang, dan dia pun menundukkan kepala.

"Mohon maaf. Karena prioritas utamanya adalah kecepatan."

"Tuan Reed. Mohon maaf, tapi kali ini saja aku setuju dengan Capella-san. Nah, lebih baik kita turun sekarang."

"Haa... Benar juga. Kalau begitu semuanya, tolong lakukan sesuai rencana ya."

Saat kami turun dari mobil arang, kuda-kuda yang menarik kereta tampak terkejut oleh mobil arang tersebut, mereka mengangkat kaki depan dan meringkik keras.

Sepertinya sang kusir sedang berusaha keras untuk menenangkan mereka. Yah, jangankan kuda, siapa pun pasti akan terkejut jika jalannya dipotong seperti itu.

"Kami adalah orang-orang yang berafiliasi dengan keluarga Baldia. Kami melihat kereta kuda itu adalah milik Kamar Dagang Christy. Karena suatu alasan, kami ingin memeriksa kereta kuda dan muatan kalian. Apakah ada perwakilan di sini?"

Saat Capella meneriakkan suara yang penuh tekanan, pintu kereta kuda perlahan terbuka.

Lalu, seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat karena memakai tudung yang dalam, turun diikuti oleh seorang gadis kecil dan seorang pemuda.

Dia berjalan perlahan ke arah kami, lalu melepas tudungnya dan menyunggingkan senyum licik. Namun, aku terbelalak melihat wajah aslinya.

"Maaf membuat kalian menunggu. Akulah perwakilan dari kereta kuda ini."

Wajah wanita yang tertawa misterius itu benar-benar mirip dengan Chris. Namun, meskipun wajahnya identik, auranya jelas berbeda.

Pakaiannya juga sangat mirip dengan Chris, tapi dia membukanya sembarangan di sana-sini, dan yang paling mencolok adalah bagian dadanya yang besar.

Itu bisa dibilang sebagai salah satu ciri fisik yang tidak dimiliki oleh Chris yang asli.

Bagaimanapun, meskipun wajahnya sama dengan Chris, dia tampak sangat sensual dan menggoda hingga sama sekali tidak mirip dengan aslinya.

"Wajahnya sama dengan Nona Chris tapi penampilannya seperti itu. Benar-benar tidak berkelas ya."

Diana yang bersiaga di sebelah kananku menunjukkan rasa jijik. Dia tampak sedikit lebih menakutkan dari biasanya.

Jika diperhatikan dengan saksama, selain pemuda dan gadis di samping wanita yang mirip Chris itu, sisanya adalah wajah-wajah yang sepertinya pernah kulihat di Kamar Dagang Christy.

"...Jadi dengan cara seperti ini kalian menyamar sebagai personel keluarga Baldia dan menyerang bengkel, ya."

"Sepertinya begitu..."

Capella melangkah maju.

"Melihat kereta kuda dan pakaian kalian, kalian tampak seperti rombongan Kamar Dagang Christy. Apakah kalian memiliki sesuatu yang bisa membuktikannya? Selain itu, aku ingin menanyakan namamu."

"Namaku? Hehe, mari kita lihat. Panggil saja aku Claire. Lalu, aku tidak punya barang untuk membuktikannya. Alasannya, kalian yang bergegas datang ke sini pasti adalah yang paling mengerti, kan?"

Kenyataan bahwa mereka adalah penyerang sudah menjadi pasti, dan ekspresi semua orang di sini menjadi tajam.

"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan... tapi pertama-tama, kembalikan rekan-rekanku yang berharga."

Saat aku menjawab dengan nada mengancam penuh amarah, Claire menatapku dan menyipitkan matanya dengan heran.

"Ara, kau adalah..."

Dia bergumam pelan, lalu mengangguk, "Ya, baiklah."

Saat aku mengerutkan dahi, dia melanjutkan pembicaraannya dengan riang.

"Seandainya terkejar, sejak awal aku memang berniat menyerah soal anak-anak itu. Tapi, hehe. Sebagai gantinya, maukah kalian membiarkan kami pergi?"

"Mana mungkin aku membiarkan hal itu. Kami akan mengambil kembali anak-anak itu. Dan, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, kami tidak akan segan-segan."

Meskipun aku menyatakannya dengan tenang, Claire tidak bergeming.

"Tentu saja begitu ya. Kalau begitu, aku akan bermain sebentar dengan bocah ini. Rosen, Lilie. Kalian berdua tolong urus pelayan dan dark elf itu."

"Tuanku. Kalau begitu, aku ingin melawan pelayan itu. Karena, kakak perempuan yang berkemauan keras seperti itu adalah seleraku," jawab sang pemuda sambil bertanya kepada Claire.

"Ara, Rosen. Seleramu memang bagus seperti biasanya ya."

Saat keduanya tertawa misterius, gadis yang tersisa menunjuk Capella dengan wajah tidak puas.

"Eeeh!? Jadi aku harus melawan si wajah kaku itu? Aku tidak mau. Dia punya bau yang sama dengan kita."

"Jangan bicara begitu, Lilie. Hari ini kau adalah 'adik perempuan', kan? Kalau begitu, dengarkan apa kata kakakmu."

"Ugh... Baiklah. Haa, kenapa ya tadi aku pilih sisi depan koinnya. Kalau belakang, pasti aku yang jadi 'kakak perempuan' nya."

Gadis bernama Lilie itu tampak murung setelah dinasehati, tapi Rosen yang mengedikkan bahunya mulai tertawa.

"Haha. Itu adalah 'keberuntungan', sama seperti saat kita lahir. Apa boleh buat."

"Cih... apa boleh buat. Kalau begitu, aku akan menjadi lawan si wajah kaku itu."

"Terima kasih, Lilie. Kalau begitu, aku akan menjadi lawan si kakak pelayan itu."

"Hehe, kalian anak-anak yang manis ya."

Rafa, Rosen, dan Lilie tampak bersenang-senang, tetapi gerakan dan aura mereka memancarkan tekanan yang luar biasa, tidak ada celah dan berbahaya jika dihadapi sembarangan. Saat aku sedang mengamati, Rosen maju ke depan Diana, dan Lilie maju ke depan Capella.

"Mohon bantuannya ya, Kakak."

"Perlu kukatakan, aku tidak tertarik pada bocah sepertimu."

"Hmm. Bagus. Bagian itu juga seleraku. Aku sangat ingin melihatmu menangis dengan menyedihkan sambil memohon ampun."

Diana memelototi Rosen, tetapi Rosen sepertinya malah menikmati tatapan itu.

"Haa... lawanku si wajah kaku ya. Hei, kau pasti tidak punya kekasih atau pengalaman cinta, kan?"

"Anda sangat tidak sopan kepada orang yang baru pertama kali ditemui ya. Sayangnya, saya adalah pria yang sudah menikah."

"……!? Ahaha. Itu menarik sekali. Baiklah. Karena aku sedikit tertarik padamu, aku akan meladeni kalian. Saat wajah kaku itu menangis tersedu-sedu, aku akan menertawakannya sepuas hati."

Warna mata Lilie yang tadinya tidak bersemangat kini dipenuhi rasa ketertarikan. Claire, yang menonton interaksi mereka dengan senang, memutar arah pandangannya ke arah kami dengan mata yang berkilat misterius.

"Akulah yang akan menjadi lawan kalian. Terutama si 'Bocah' ini, dia terus membuatku penasaran. Bisa bertemu langsung seperti ini, mungkinkah kita dibimbing oleh takdir?"

Dia menunjuk ke arahku sambil menyipitkan mata dengan gembira.

"Sayang sekali, jika memang ada takdir... kurasa itu adalah takdirmu untuk tertangkap."

"Ara, dingin sekali ya."

Claire tertawa angkuh, tapi saat berhadapan langsung dengannya, aura intimidasi yang terpancar darinya sungguh luar biasa, sangat jauh dari kata-katanya yang tak terduga. Saat aku menahan napas, Almond yang berada di sampingku bergumam, "Reed."

"Apakah kamu pernah berhadapan dengan Kitsune-jin yang bisa melakukan Beast Transformation?"

"Tidak... sayangnya belum pernah."

"Apakah Diana dan Capella juga sama?"

Diana pernah menjadi anggota ksatria, dan Capella mantan anggota unit rahasia. Rasanya tidak mungkin mereka benar-benar tidak berpengalaman. Namun, hampir tidak pernah terdengar ada petarung kuat dari Beastkin yang mengamuk di Kekaisaran atau Renalute.

"Aku tidak tahu pastinya, tapi kurasa jarang sekali."

"Begitu ya. Kalau begitu..."

Almond mengeraskan suaranya.

"Dengarkan baik-baik. Saat Kitsune-jin melakukan Beast Transformation, jumlah ekor mereka akan bertambah sesuai dengan total mana, atau bisa dibilang 'kekuatan orang tersebut'. Tentu saja, semakin banyak ekornya, semakin kuat lawannya. Jangan lengah!"

Saat suaranya bergema di sekitar, Claire dan yang lainnya tersenyum serempak.

"Terima kasih sudah menjelaskan tentang kami. Kalau begitu, mari kita mulai saja."

Claire berbalik ke arah orang-orang yang bersiaga di sekitar kereta kuda yang dinaikinya tadi.

"Kalian hanya akan jadi penghalang di sini. Biar kami yang mengurus bocah-bocah ini. Tinggalkan kereta dan muatannya, pergilah duluan."

"Dimengerti."

Kata-kata itu menjadi aba-aba bagi para anak buahnya, kecuali Claire, Rosen, dan Lilie, untuk mulai berlari serentak.

"……!? Tidak akan kubiarkan kalian kabur!"

Aku mencoba merapalkan sihir secara spontan, tapi dalam sekejap Claire sudah memangkas jarak di antara kami.

"Apa...!?"

"Lawan si Bocah adalah aku, kan? Kamu harus memperhatikanku saja."

Entah dari mana dia mengeluarkannya, dia mengayunkan senjata yang mirip tongkat sakti dan melancarkan serangan bertubi-tubi dengan teknik tongkat agar aku tidak bisa menggunakan sihir. Ini benar-benar berbeda dari latihan.

Ditambah dengan haus darah yang nyata, teknik tongkatnya sangat tidak beraturan dan gerakannya baru pertama kali kulihat. Karena itu, responsku menjadi lambat dan aku tidak bisa mengaktifkan sihir.

"Reed!"

Berkat Almond yang masuk memberikan bantuan, aku entah bagaimana bisa mengambil jarak dari Claire.

"Fufu. Kalian berdua akrab sekali ya."

Dia menyipitkan mata dan tersenyum melihat interaksi kami. Saat aku melihat sekeliling, anak buahnya sudah berlari jauh ke belakang kami. Selain itu, Rosen dan Lilie sepertinya petarung yang sangat ahli, karena Diana dan Capella pun tampak kewalahan.

"……Kita kecolongan."

Apakah seharusnya aku bergerak lebih agresif?

Tidak, jika aku bergerak gegabah, aku malah bisa memberikan informasi kepada musuh.

Dengan kekuatanku yang sekarang, mencegah penculikan ke luar wilayah saja sudah menguras seluruh kemampuanku... menyedihkan sekali.

"Reed, kamu tidak apa-apa?"

"Ya, terima kasih sudah membantuku, Almond."

"Fufu, tenang saja. Di dalam kereta itu, semua anak-anak yang ingin kamu ambil kembali pasti ada di sana. Jadi sekarang, bermainlah denganku dan buatlah aku merasa terhibur."

Meski kesal dengan kata-kata provokatif Claire, aku merasa ada yang janggal dengan situasi ini.

"Apa sebenarnya tujuan kalian? Kalian menyerang bengkel Baldia dan menculik para teknisi. Meski sudah mengambil risiko sebesar itu, kalian malah membuang muatan dan tawanan saat terdesak. Tindakan kalian sama sekali tidak konsisten. Kacau sekali."

"Fufu, jangan berpikir kalau semua tindakan itu harus punya makna. Aku hanya setia pada apa yang menurutku terlihat menarik."

"Maksudmu, kamu menyerang bengkel hanya karena kelihatannya menarik?"

Aku menatapnya tajam dengan amarah, tapi dia hanya mengangkat bahu sambil bercanda.

"Yah, entahlah. Tapi merencanakan penyerangan bengkel itu sangat menyenangkan. Ada pepatah bilang, 'Persiapan sudah matang, sekarang saksikan hasilnya', kan? Yah, meski sedikit mengejutkan akhirnya terkejar seperti ini, tapi sampai saat itu tadi pergerakan kami cukup bagus, kan?"

"Begitu ya. Kalau begitu, maukah kamu memberitahuku alasan di balik rencana itu?"

"Ara, jangan berpikir aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Anak laki-laki terkadang perlu sedikit memaksa, lho."

Sambil memasang senyum memikat, Claire memasang kuda-kuda dengan senjatanya seolah memancingku.

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembicaraan ini setelah aku mengikatmu."

"Tatapan yang menakutkan. Menarik juga. Tidak kusangka kamu bisa memasang wajah seperti itu. Sangat menggoda."

Benar-benar tidak bisa diajak bicara. Saat aku mengaktifkan Physical Enhancement dan memasang kuda-kuda tangan kosong, dia menyunggingkan senyum senang.

"Rosen, Lilie. Mulai sekarang, aku akan sedikit serius. Kalian juga tunjukkanlah kekuatan kalian."

"Dimengerti."

Mendengar jawaban mereka berdua, Claire kembali menatapku.

"Nah, buatlah aku terhibur. Jangan mengecewakanku ya."

Penampilannya mulai berubah drastis sambil tetap memegang senjatanya.

Claire yang telah berubah wujud sepenuhnya tertutup bulu putih, dan penampilannya menjadi rubah putih mistis dengan lima ekor.

"Reed. Menghadapi dia sepertinya akan sangat menguras tenaga."

Ekspresi Almond menjadi tegang.

"Kenapa begitu?"

Aku bisa merasakannya dari jumlah mana dan tekanan yang dipancarkan Claire. Namun, saat aku sengaja bertanya, dia tersenyum pahit.

"Apakah kamu tahu kalau di Zvera ada turnamen untuk menentukan 'Beast King' setiap beberapa tahun sekali?"

"Ya. Tapi aku tidak tahu detailnya."

"Saat Kitsune-jin memilih perwakilan untuk turnamen tersebut, syarat minimalnya adalah memiliki lima ekor saat Beast Transformation. Keadaan itu disebut sebagai 'Rubah Putih' (Byakko)."

Aku sedikit terkejut mengetahui kalau Kitsune-jin memiliki sebutan khusus untuk setiap jumlah ekor yang bertambah saat berubah wujud.

"Maksudmu, Claire adalah rubah yang sangat kuat. Begitu ya."

"Begitulah."

"Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Almond?"

Tiba-tiba aku penasaran dan bertanya, tapi dia menggelengkan kepala.

"Aku baru tiga ekor. Keadaan yang disebut sebagai 'Rubah Abadi' (Senko). Sayang sekali, ya."

"Begitu. Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan petarung kuat Kitsune-jin yang bisa menggunakan Beast Transformation.

Selain itu, kami belum tahu kemampuan dan jumlah mana masing-masing.

Jika kami bertarung bersama sekarang, ada kemungkinan besar kami malah akan saling mengSayat.

Beast Transformation meningkatkan kemampuan fisik secara drastis, tapi sebagai gantinya, mana akan terus terkuras selama aktif.

Oleh karena itu, tergantung pada jumlah mana si pengguna, perubahan wujud biasanya tidak cocok untuk pertempuran jangka panjang.

Sedangkan aku, aku cukup percaya diri dengan jumlah manaku. Ditambah lagi, tak lama lagi bantuan dari divisi ksatria kedua seharusnya akan tiba.

Pilihan terbaik adalah mengalahkan dan menangkap Claire. Pilihan kedua adalah bertahan dalam pertempuran jangka panjang agar Claire tidak kabur, sambil menunggu bantuan datang.

"……Mari gunakan rencana itu."

"Bukankah itu akan sangat membebanimu?"

"Mungkin saja. Tapi, begini-begini aku juga sedang sangat marah. Jadi, biarkan aku melakukannya."

Almond menatap wajahku, lalu menelan ludah.

"Baiklah. Aku akan mengikuti instruksimu."

"Terima kasih, Almond."

Setelah berterima kasih, aku melangkah maju ke depan Claire.

"Apakah rapat strateginya sudah selesai?"

"Kurang lebih begitu. Claire, kan? Akan kukatakan dulu. Aku..."

"Apa?"

Tepat saat dia memiringkan kepala, aku melepaskan mana sekaligus. Dalam sekejap aku menerjang ke arah Claire, lalu menghunjamkan serangan tangan pisau yang dialiri mana ke perutnya.

Karena aku menyerang saat dia lengah, ekspresinya berubah kesakitan. "Guh...!? A-apa ini!?"

Tapi, ini belum berakhir.

"Aku benar-benar sedang marah. Meledaklah!"

Mana meledak di ujung tangan pisau yang menghunjamnya, mementalkannya jauh.

Namun, Claire berhasil memperbaiki posisinya di udara dan mendarat dengan posisi berjongkok seolah tidak terjadi apa-apa.

Sambil berdiri perlahan, dia menjilat bibirnya dan menyipitkan mata.

"Bagus. Kalau tidak begini, tidak akan seru."

"Aku tidak akan memaafkanmu. Akan kubuat mulut besarmu itu tidak bisa bicara lagi selamanya."

"Ahaha. Luar biasa. Bocah, kamu yang terbaik. Kalau begitu, sekarang giliranku ya."

Belum sempat kata-katanya selesai, Claire menerjang ke arahku. Sebagai balasan, aku merapalkan Full Ten Magic Spears Great Wheel dan mengaktifkannya dengan kekuatan maksimal.

Seketika, tombak sihir dari semua elemen tercipta dalam jumlah besar di sekelilingku dan meluncur satu demi satu ke arahnya.

"Ahahahaha! Aku belum pernah melihat sihir sehebat ini. Tapi, apakah kamu bisa mengenainya!?"

Claire berteriak senang sambil menerjang lurus ke arah hujan tombak sihir.

Dia menghindari banyak tombak sihir, terkadang menetralisirnya dengan sihir, dan di lain waktu memangkisnya dengan tongkat, terus mendekat ke arahku.

"Sebentar lagi aku akan sampai di depanmu, Bocah. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"

"Selanjutnya adalah ini."

Sambil menjawab, aku mengaktifkan sihir elemen tanah dan menciptakan dinding tanah tepat di depannya.

"A-apa ini sihir elemen tanah!?"

Perhatian Claire teralihkan oleh dinding tanah yang muncul tiba-tiba di depannya, dan gerakannya pun terhenti.

"Masih terlalu dini untuk terkejut. Dengan ini aku akan menangkapmu."

Merespons kata-kataku, dinding tanah itu meliuk, mengepung Claire dan memadat menjadi bentuk kubah. Karena di dalamnya hampa, secara teknis aku berhasil menangkapnya.

"Dengan begini, apakah kamu bisa jadi sedikit lebih penurut?"

Namun, tak lama kemudian kubah dinding tanah itu hancur dengan suara hantaman keras, dan dia memangkas jarak dengan kecepatan tinggi.

"Ternyata, level segini pun tidak bisa menghentikanmu ya."

Dengan jarak sedekat ini, sihir sudah tidak akan sempat lagi.

Tepat saat aku menjangkau pedang sihir yang tergantung di pinggangku, suara pekikan logam yang beradu bergema.

"Akhirnya, aku bisa melihat wajahmu dari dekat, Bocah."

"Itu berlaku untuk kita berdua, kan?"

Setelah saling menatap tajam sambil mengadu senjata, kami saling menjauh untuk mengambil jarak. Jaraknya lebih dekat dari awal, tapi ini saatnya memulai kembali.

Melalui sudut mataku, aku melihat situasi Diana dan Capella. Sepasang kakak beradik Rosen dan Lilie juga telah melakukan Beast Transformation, dan mereka memiliki empat ekor. Wujud mereka sepenuhnya hitam, seperti 'Rubah Hitam' (Kuroko).

"Fufu. Dark elf dan pelayan itu. Bisa bertarung setara melawan Rosen dan Lilie, mereka cukup hebat ya."

Mungkin menyadari tatapanku, Claire juga melihat ke arah mereka dan tertawa angkuh.

"Tapi, kamu harus terus memperhatikanku saja, lho."

"Aku semakin tidak mengerti. Dengan kekuatan sebesar ini, kalian seharusnya bisa melarikan diri dari kami. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"

Aku mencoba bertanya lagi untuk menggali informasi sekecil apa pun, tapi dia menggelengkan kepala.

"Ara, bukankah tadi sudah kukatakan? Jangan berpikir kalau semua pertanyaanmu akan dijawab. Yah, tapi akan kuberi tahu kalau penyerangan ini hanyalah permainan terakhir."

"Permainan... terakhir?"

Jika ini adalah 'permainan terakhir', berarti apa yang dilakukan sebelumnya adalah tujuan utamanya. Benar juga, mengumpulkan informasi tentang Baldia dan membawanya pulang adalah tujuan sebenarnya.

"Benar, bagiku ini hanyalah sebuah permainan. Lagipula, jika memang ada takdir, aku yakin kamu akan datang ke sini. Fufu, mungkin kita terikat oleh 'benang merah takdir' ya."

"Sayang sekali, aku sudah menikah. Jika kamu mencari belahan jiwamu, silakan cari di tempat lain."

"Fufu. Masih sangat muda tapi sudah menikah, menjatuhkanmu sepertinya akan sangat menyenangkan. Tapi tenang saja, aku tidak peduli kamu sudah menikah atau belum. Manusia itu seharusnya lebih menikmati momen dan setia pada nafsu mereka. Ini adalah nasihat untuk masa depanmu."

"Begitu ya. Sekarang aku tahu kalau cara berpikir kita memang tidak sejalan."

"Sayang sekali ya."

Claire mengangkat bahu sambil mendengus, lalu menerjang ke arahku dengan kuat. Kemudian, dia dan aku saling membenturkan sihir dan seni bela diri dengan sengit.

"Haa... haa... ini di luar dugaanku. Inilah Beast Transformation dari orang yang kuat ya."

Pertarungan dengan Claire jauh lebih sengit dari apa pun yang pernah kualami. Sepertinya aku tidak akan bisa menang sendirian.

"Ara ara. Akhirnya kamu mulai kehabisan napas ya. Tapi, untuk anak seusiamu bisa melakukan sejauh ini saja sudah luar biasa. Benar-benar masa depan yang menjanjikan."

Dia melepaskan kuda-kudanya dengan santai. Sepertinya dia masih sangat tenang.

"Begitu ya. Tapi aku belum menyerah."

Aku memasang kuda-kuda dengan pedang sihirku dan menatap lurus ke arah Claire. Benar, aku belum boleh menyerah.

"Tatapan mata yang cahayanya tidak pernah padam itu. Sangat bagus. Kalau begitu, apakah kamu bisa menerima yang satu ini?"

Begitu masuk ke jarak serangnya, Claire melancarkan serangan bertubi-tubi yang tajam dan tidak beraturan menggunakan teknik tongkatnya.

"Guh...!?"

Saat aku hanya bisa bertahan, dia menyunggingkan senyum.

"Kekuatan tempur, mana, kemampuan fisik, keberanian, imajinasi, kreativitas, wawasan, daya pikir, kemampuan analisis, kemampuan penilaian, hingga pengambilan keputusan. Semua 'kekuatan' yang kamu miliki dipenuhi talenta yang luar biasa. Tapi, itu saja tidak cukup. Kamu benar-benar kekurangan 'pengalaman pertempuran' yang mempertaruhkan nyawa."

Setelah berujar demikian, Claire menepis pedang sihirku dengan satu serangan tajam.

"Guh...!?"

"Rasakanlah sekali-kali rasanya berada di ambang kematian. Fox Fire - Flame!"

Secara spontan aku membentangkan Magic Barrier, tapi kekuatan sihir Claire begitu dahsyat hingga aku terhempas bersama suara ledakan yang memekakkan telinga.

"Guaaaaaaaa!?"

Namun saat itu, seorang anak laki-laki Kitsune-jin yang telah berubah wujud menangkapku dengan kedua tangannya.

"Reed, kamu tidak apa-apa? Kamu terlalu memaksakan diri."

"Haha, terima kasih. Jadi inilah wujud Beast Transformation milikmu ya, Almond."

Saat kulihat, seluruh tubuhnya tertutup bulu kuning pekat, dan tiga ekornya yang cerah melambai-lambai.

"Ya, maaf sudah membuatmu terkejut. Sepertinya aku tidak bisa hanya menonton lebih lama lagi. Ngomong-ngomong, apakah kamu masih bisa bertarung?"

Sambil berkata demikian, dia membantuku berdiri dengan cemas.

"Tentu saja. Malah, pertempuran sebenarnya baru akan dimulai sekarang."

Aku tersenyum tipis, lalu membuang jas yang hangus terbakar dan compang-camping akibat sihir Claire. Almond tertegun sejenak, lalu mengangkat bahu.

"Ya ampun. Setelah menerima sihir tadi pun kamu sama sekali tidak gentar. Keberanianmu benar-benar tidak normal."

"Benarkah? Memang Claire itu kuat. Tapi mungkin karena aku mengenal seseorang yang lebih kuat dan lebih menakutkan darinya. Meski takut, kakiku tidak gemetar. Aku masih sanggup."

"Boleh aku tahu siapa orang itu?"

"Eh, ya. Dia... Papaku."

"Be-begitu ya. Pasti dia adalah 'Papa' yang sangat menakutkan ya."

Karena aku belum memberitahu identitas atau latar belakangku padanya, aku berbohong dengan tidak menyebutkan kata 'Ayah'.

"Kalian berdua, sejak kapan jadi seakrab itu? Tapi, mau satu atau dua orang, hasilnya tidak akan berubah."

Claire menatap kami sambil berjalan dengan santai.

"Entahlah. Tubuhku baru saja mulai memanas sekarang."

Aku mendengus sambil memutar leher seolah memprovokasi, dan Claire menyipitkan matanya dengan misterius.

"Heh, boleh juga bicaramu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"

"Sudah pasti. Mulai sekarang, babak kedua akan dimulai. Ayo, Almond!"

"Dimengerti!"

Saat aku melangkah maju, Almond menyusul di belakangku.

"Bodoh sekali. Kerja sama dadakan seperti itu hanya akan saling mengSayat saja."

"Yah, kita lihat saja nanti."

"Jangan mengira aku hanya menonton saja saat kamu bertarung dengan Reed tadi."

Begitu masuk ke jarak serang, aku menyerang lebih dulu. Dalam gerakan tersebut, Almond memberikan dukungan dengan sangat tepat.

"Kalian berdua benar-benar akrab ya. Aku jadi sedikit cemburu."

Claire merasa kerja sama kami seolah 'kebetulan berjalan lancar', namun ekspresinya segera berubah menjadi tegang. Saat aku bertarung satu lawan satu dengannya tadi, aku sudah meminta Almond untuk memperhatikan gerakan kami dengan saksama.

Aku mengulur waktu agar dia bisa memahami pergerakan kami berdua.

Meski tetap disebut 'dadakan', ini jauh lebih baik daripada melakukannya secara langsung tanpa tahu cara bergerak satu sama lain sama sekali.

Di tengah sengitnya jual beli serangan, perlahan kami mulai berada di atas angin.

"Almond, sekarang!"

"Aku tahu!"

Tepat saat aku membongkar pertahanannya dan Almond hendak mendaratkan serangan, Claire tersenyum angkuh dan melepaskan mana. Gelombang kejut mementalkan kami berdua.

"Ahaha. Ternyata kalian lebih hebat dari dugaanku."

Setelah melakukan pendaratan darurat di tempat kami terhempas, aku segera memasang kuda-kuda samping.

"Guh...!? Padahal tinggal selangkah lagi."

"Benar. Tapi jika kita mendekat, kita mungkin akan terpental lagi seperti tadi. Apakah ada ide bagus?"

"Kalau itu, aku punya rencana."

Aku membisikkan sebuah usul ke telinga Almond.

"……!? Dimengerti. Kalau begitu, mari kita gunakan rencana itu."

"Terima kasih. Tolong bantuannya ya."

Saat aku kembali menatap Claire, kali ini Almond yang menerjang lebih dulu.

"Ara, kejutan apa lagi yang akan kalian tunjukkan padaku?"

"Entahlah."

Karena mereka berdua sama-sama sedang dalam wujud Beast Transformation, gerakan mereka sungguh luar biasa. Sambil memberikan dukungan, aku terus mengumpulkan mana. Ini adalah jurus andalanku untuk mengalahkan Claire dalam satu serangan.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkannya tidak terlalu lama. Namun, saat ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Di tengah pertempuran sihir dan bela diri yang sengit, akhirnya manaku terkumpul.

Saat aku memberikan isyarat lewat tatapan mata, Almond mengangguk dan meningkatkan intensitas serangannya seolah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Sangat bersemangat dan mengagumkan. Tapi jika kamu memaksakan diri seperti itu, kamu tidak akan sanggup bertahan lama."

Claire memasang senyum tenang sambil menangkis serangan Almond. Dan tepat saat Almond hendak melancarkan serangan besar, Claire berbalik menyerang dengan memanfaatkan celah tersebut.

"Lihat, karena terlalu bernafsu, seranganmu jadi berantakan."

Wajah Almond menegang seolah berkata "Gawat!", tapi dia segera tersenyum licik.

"Sekarang, Reed!"

Almond memutar tubuhnya dan bertukar posisi denganku.

"Apa...!?"

Gerakan tiba-tiba itu membuat Claire tercengang dan gerakannya terhenti.

"Full Ten Magic Spears Concentration - Spiral Spear!"

Aku pasti akan mengenainya. Tombak sihir dari semua elemen tercipta dan menyatu secara bersamaan, menjadi sebuah tombak sihir raksasa yang berputar membentuk spiral, melesat ke arah perut Claire.

Spiral Spear adalah teknik yang aku kembangkan setelah secara diam-diam meneliti fenomena di mana Full Ten Magic Spears Great Wheel secara tidak sengaja menyatu menjadi satu tombak saat turnamen Hachimaki. Kekuatannya bisa dibilang yang terdahsyat dari semua sihir yang kukuasai.

Dia segera membentangkan Magic Barrier, tapi dia langsung tersentak.

"A-apa... Magic Barrier-ku tidak sanggup menahannya...!?"

Suara denting kaca yang pecah bergema di sekitar saat perisai sihirnya hancur berkeping-keping, diikuti oleh jeritan Claire yang tergulung dan terpental oleh Spiral Spear.

"Aaaaaaaaa!?"

"Kekuatan penuh...!!!!"

Sambil mengalirkan mana lebih banyak lagi, aku meningkatkan output dari Spiral Spear.

Akhirnya, Spiral Spear menghantam Claire ke sebuah batu besar dan meledak. Suara ledakan menggelegar di sekitar, dan debu tanah membubung tinggi. Almond yang menyaksikan seluruh rangkaian kejadian itu dari dekat hanya bisa terpana. "Luar... luar biasa..."

"Haa... haa... bagaimana... sudah kapok, kan? Rasakanlah kemarahanku..."

Aku mendengus sambil menatap ke arah Claire terpental, namun karena efek samping dari menggunakan mana secara sekaligus, seluruh tenagaku terkuras habis dan tanpa sadar aku bertumpu pada satu lutut.

"Reed, kamu tidak apa-apa!?"

"Eh...? Ah, ya. Ini efek samping menggunakan mana sekaligus. Aku tidak apa-apa."

Sambil tersenyum menjawab Almond yang menghampiriku, aku memasukkan tangan ke saku celana dan mengeluarkan kantong kecil. Lalu, aku mengambil beberapa butir tablet dari dalam kantong dan memasukkannya ke mulut.

"Itu apa?"

"Hanya semacam suplemen nutrisi. Rasanya sangat buruk jika tidak ditelan dengan air."

"Suplemen nutrisi?"

Almond tampak bingung, tapi aku tidak bisa menjelaskan detailnya.

Identitas asli tablet itu adalah 'Ramuan Pemulihan Mana'. Aku membawanya untuk berjaga-jaga, tapi tidak kusangka penyerangnya akan sekuat ini.

Namun, saat aku mengira ini sudah berakhir... aku tersentak karena merasakan mana dan aura yang luar biasa, lalu segera memasang kuda-kuda.

Aku menatap tajam ke arah 'dia' yang seharusnya berada di dalam debu yang membubung itu.

"Ahaha. Tidak kusangka kamu punya kartu truf seperti itu. Yang tadi itu sedikit sakit, lho. Padahal aku hanya ingin bermain-main... tapi sepertinya kamu benar-benar membuatku serius ya."

Melihat sosok Claire yang muncul dari dalam debu, aku terbelalak. Jumlah ekornya kini menjadi enam, dan penampilannya telah berubah dari rubah putih menjadi rubah perak yang bersinar keperakan.

"Jadi maksudmu yang tadi itu benar-benar hanya main-main saja ya."

"Sepertinya begitu. Jika lawannya rubah perak, sepertinya akan sulit jika hanya kita berdua. Apa yang harus kita lakukan, Reed?"

Jika sihir tadi tidak mempan... maka saat ini kita hanya bisa menunggu sampai bantuan tiba.

"Mengulur waktu. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang."

"Baik. Mari kita coba sebisanya."

Kami berdua segera memangkas jarak dengan Claire dan melancarkan serangan kerja sama lagi.

Namun, Claire dalam wujud rubah perak dapat menghindari dan menangkis serangan tersebut dengan mudah.

"Ahaha. Memang menyenangkan, tapi sepertinya sudah waktunya untuk berakhir ya."

Setelah menghindari serangan kami, dia masuk ke dalam jarak serang Almond dan menyunggingkan senyum misterius.

"Kamu sedikit mengganggu. Minggirlah ke sana!"

"Apa... Guaaaaaa!?"

"Almond!"

Claire melepaskan sihir dalam jarak dekat, mementalkan Almond jauh sekali.

"Jangan melihat ke tempat lain, Bocah."

"……!? Belum... aku belum kalah!"

Aku berteriak seolah menyemangati diri sendiri, mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk melawan, namun seranganku sama sekali tidak mempan.

Akhirnya, dia berhasil memanfaatkan celah dan mencengkeram leherku dengan tangan kirinya, lalu mengangkatku tinggi-tinggi.




"Guh... le-lepaskan!?"

"Fufu, bagus sekali. Sudah lama aku tidak bertemu lawan yang bisa membuatku bersenang-senang sampai seperti ini. Padahal kamu masih sekecil ini ya. Seperti dugaan, aku benar-benar menyukaimu."

"A-apa yang mau kamu lak... nnh!?"

Aku terbelalak karena kejadian yang terlalu tiba-tiba dan di luar dugaan. Claire menempelkan bibirnya ke bibirku.

"Nnhhh!?"

Aku berusaha keras memberontak, tapi tidak berdaya. Akhirnya, seolah sudah merasa puas, Claire menjilat bibirnya sendiri dan melepaskan ciumannya.

"Fufu, tidak perlu sampai merasa jijik begitu, kan?"

"Ja-jangan bercanda...!?"

Tepat saat aku meluapkan amarahku, dia menatap ke kejauhan dan tersenyum tipis.

"Sayang sekali, waktu bermainnya sampai di sini saja. Sampai jumpa, Reed."

Dia melemparku begitu saja.

"Uaaaaaa!"

"Reed!"

Almond menangkapku dengan kedua tangannya, sementara Claire yang menyipitkan mata dengan misterius berteriak lantang.

"Rosen, Lilie. Bermainnya cukup sampai di sini, kita mundur!"

"Dimengerti."

Setelah kedua orang itu menyahut dan berkumpul, Claire menatapku tajam.

"Kalau begitu, aku permisi dulu untuk hari ini. Oh ya, aku akan memberitahu satu hal bagus untuk Reed. Dalam waktu dekat, kamu pasti akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih kuat dariku. Orang itu tidak akan selembut diriku. Jadi, berusahalah agar tidak mati ya."

"Apa...!? Apa maksudmu!?"

Kabut putih mulai menyelimuti area di sekitar Claire dan kawan-kawannya.

Mungkin ini juga salah satu sihir mereka. Dari balik kabut, terdengar suara derap langkah kuda yang mendekat ke arah kami.

"Kalau begitu, Reed. Aku juga harus berpisah denganmu di sini."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Masih banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!"

Saat aku hendak mencengkeram tangannya, seekor kuda menyelinap masuk ke sela-sela kami.

"Tuan Almond. Berikan tangan Anda."

"Guh... suara itu, Rick!? Almond!"

"Maafkan aku, Reed. Jika ada kesempatan untuk bertemu lagi, saat itulah aku akan menceritakan banyak hal padamu."

Setelah meninggalkan kata-kata itu, dia pergi menghilang ke dalam kabut bersama suara derap langkah kuda.




Saat hawa kehadiran Claire, Almond, dan yang lainnya menghilang, kabut di sekitar perlahan mulai menipis. Sudah kuduga, identitas asli kabut ini adalah sihir yang diaktifkan oleh kelompok Claire.

"Tuan Reed."

"Apakah Anda baik-baik saja?"

Suara pria dan wanita terdengar, diikuti oleh bayangan orang yang mendekat.

"Ya, aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Capella dan Diana?"

Saat melihat mereka berdua dari dekat, pakaian mereka sudah compang-camping. Rosen dan Lilie, kakak beradik Kitsune-jin  (Kitsune-jin) itu, pastilah petarung yang sangat ahli.

"Kami baik-baik saja. Namun, sebagai pengawal, kami memohon maaf karena tidak bisa berada di sisi Anda di saat yang genting."

Keduanya berlutut dan menundukkan kepala.

"Kalian berdua, jangan terlalu formal begitu. Angkat kepala kalian."

Aku bergegas meminta mereka mengangkat wajah.

"Berkat kalian berdua ada di sini, kalian bisa menahan Rosen dan Lilie, kan? Jika Claire bekerja sama dengan mereka berdua, situasinya pasti akan sangat sulit. Sejujurnya, aku tidak menyangka lawan akan sekuat itu. Ini sepenuhnya adalah kecerobohanku."

Jika Almond tidak ada, aku mungkin tidak akan bisa bertahan sejauh ini menghadapi Claire. Tidak, sebenarnya dia bisa saja mengalahkan atau melarikan diri dari kami kapan saja.

Meski begitu, dia menikmati pertempuran dan penyerangan ini dengan menyebutnya sebagai 'permainan'. Rasanya menyakitkan, tapi aku harus mengakui bahwa ini adalah kekalahan telak.

"Tuan Reed..." "Ah, benar juga. Aku harus memeriksa muatan kereta kuda yang mereka naiki tadi. Capella, ikut aku. Diana, tolong jaga Alex dan Serbia yang ada di mobil arang."

"Dimengerti."

Saat aku dan Capella memeriksa muatan di bagian belakang kereta yang ditinggalkan Claire dan kawan-kawannya, aku melihat anak-anak dengan wajah yang kukenali tergeletak di sana.

Tidak salah lagi, mereka adalah anak-anak yang diculik dari bengkel. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu anak, dan aku tersentak.

"……!? Tonaj!"

Aku bergegas naik ke bak muatan dan mengangkatnya. "Ugh... nngh," dia mengerang pelan.

Syukurlah, sepertinya dia hanya pingsan.

"Tuan Reed, harap tenang. Sepertinya mereka semua, termasuk dia, hanya kehilangan kesadaran saja."

"Begitu ya. Terima kasih."

Pada saat itu, suara teriakan "Ketemu!" terdengar dari luar kereta. Saat aku melongokkan kepala dari bak muatan, tampak anggota divisi keenam yang dipimpin Lagard, ditambah pasukan ksatria divisi pertama yang dipimpin oleh wakil komandan Cross telah tiba.

Sepertinya aku harus memberitahu mereka kalau para penyerang sudah tidak ada di sini.

Saat aku melambaikan tangan dari bak muatan, Cross melesat keluar dari barisan dan berlari mendekat.

"Tuan Reed, mohon maaf atas keterlambatan kami. Apakah Anda terluka?"

"Ya, ya. Aku baik-baik saja. Tapi, aku tidak berhasil menangkap para penyerang itu..."

Saat aku menunduk, Cross memastikan tidak ada luka di tubuhku.

"Itu sangat disayangkan, namun yang terpenting adalah keselamatan Tuan Reed. Apakah anak-anak yang diculik ada di dalam bak muatan ini?"

"Ya. Dari yang kulihat, sepertinya semuanya ada di sini."

"Syukurlah. Kalau begitu, mari segera bawa mereka kembali ke kediaman."

Cross tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang putih.

Setelah menyerahkan pemeriksaan tempat kejadian perkara kepada anggota ksatria bantuan, kami meminta bantuan mereka untuk menyambungkan gerobak muatan milik penyerang ke Charcoal Car Custom.

Kemudian, dengan pengawalan dari pasukan Cross dan Lagard, kami memulai perjalanan pulang menuju kediaman.

Untungnya, aku telah mengonfirmasi bahwa seluruh tawanan ada di dalam gerobak tersebut. Namun, kata-kata yang diucapkan Claire tetap membekas di hatiku.

"Dalam waktu dekat, kamu pasti akan bertemu dengan seseorang yang jauh lebih kuat dariku."

Itu berarti, semacam niat jahat sedang diarahkan menuju wilayah Baldia.

"……Apa pun itu, mengusik Baldia... adalah hal yang tidak akan pernah kumaafkan."

Di dalam mobil arang yang melaju menuju kediaman, aku menekan kuat-kuat gejolak amarah yang membara di dalam dada.


Chapter 7

Identitas Pelaku Penyerangan

Mobil arang tiba di asrama Divisi Ksatria Kedua. Anak-anak yang diculik disambut dengan hangat oleh para pelayan yang telah disiapkan oleh Farah.

Mungkin karena benang ketegangan mereka akhirnya putus setelah merasa aman, beberapa dari mereka mulai menangis tersedu-sedu.

Setelah diperiksa, tidak ada anak yang terluka dalam insiden ini, dan tidak ada yang hilang. Meski untuk sementara aku bisa bernapas lega, persoalannya tidaklah sesederhana itu.

Saat aku selesai menurunkan anak-anak dari bak muatan, seseorang memanggilku, "Tuan Reed." Ketika aku menoleh, Farah sedang tersenyum. Asna juga berdiri siaga di sampingnya.

"Aku bersyukur Anda kembali dengan selamat."

"Terima kasih, Farah. Tapi, para penyerang itu bukan orang sembarangan. Selain itu, aku merasakan firasat yang buruk."

"Apa maksud Anda?"

Dia memiringkan kepalanya dengan cemas.

"Tidak enak bicara di sini, bagaimana kalau kita bicarakan kelanjutannya di ruang kerja?"

Aku menjelaskan kronologi kejadian kepada Farah dan Asna, seolah-olah sedang mengonfirmasinya untuk diriku sendiri. Selain itu, aku juga menerima laporan dari mereka mengenai pergerakan di asrama.

"Begitu ya. Kalian sudah berjuang keras. Terima kasih banyak, Farah."

"Sama sekali bukan apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Meski begitu, aku terkejut mengetahui bahwa kelompok penyerang itu ternyata sekuat itu."

"Ya. Karena mereka berani mengusik Baldia, aku sudah menduga level mereka sampai batas tertentu. Tapi ini di luar dugaanku."

Sosok yang memimpin para penyerang adalah Claire, seorang wanita dari Kitsune-jin. Di hadapannya, aku benar-benar tidak berdaya. Jika Almond tidak ada di sana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Jika terus begini, aku tidak akan bisa melindungi diriku sendiri maupun Baldia. Saat aku menundukkan pandangan dengan tangan gemetar, Farah menggenggam tanganku dengan erat.

"Tidak apa-apa. Tuan Reed pasti bisa melewati kesulitan apa pun. Bukankah selama ini juga selalu begitu? Kali ini pun Anda pasti bisa menang. Aku juga akan membantu apa pun agar bisa menjadi kekuatan bagi Anda."

"Farah..."

Tangannya kecil dan lembut, namun terasa sangat hangat. Kecemasan samar yang kurasakan entah bagaimana mereda, dan aku merasakan hatiku menjadi tenang. Tanpa sadar, aku menatapnya dengan lekat.

"Atau, apakah aku tidak bisa menjadi kekuatan bagi Anda?"

Telinga Farah terkulai, dan dia menunduk lesu.

"Ti-tidak, bukan begitu. Kamu sangat bisa diandalkan... dan, itu, aku hanya sedang terpesona, atau semacamnya."

"Eh..."

Pipi Farah merona merah, dan telinganya mulai bergerak-gerak naik turun. Namun, dia segera tersadar, menutupi telinganya, dan menunduk malu.

"Ih, Tuan Reed selalu saja melakukan serangan mendadak."

"Ahaha..."

Suasana yang tadinya berat terasa tiba-tiba menjadi cerah.

Seperti yang dikatakan Farah, apa yang harus kulakukan tetaplah sama.

Untuk melindungi hal-hal yang berharga, jika aku butuh kekuatan untuk menghadapi kesulitan, maka aku hanya perlu mengasah diriku sendiri.

Demi mendapatkan kekuatan yang tidak akan kalah oleh niat jahat apa pun.

"Terima kasih, Farah. Berkatmu perasaanku jadi tenang."

"I-iya."

Setelah memberikan senyum kepada Farah yang tampak bengong, aku mengalihkan pandangan kepada Diana dan Capella.

"Hei, bagaimana kesan kalian terhadap Lilie dan Rosen yang kalian lawan tadi? Jika ada sesuatu yang mengganjal, tolong katakan apa saja."

"Begitu ya. Sosok bernama 'Rosen' yang kulawan tadi..."

Setelah bergumam seolah sedang mengingat kembali, Diana mengerutkan dahi dan menunjukkan rasa jijik yang terang-terangan. Agak menakutkan.

"Jika harus digambarkan dalam satu kata, dia itu 'bocah ingusan yang sok tua'."

"Eh, maksudnya bagaimana?"

Kata-kata kasar yang tidak biasa keluar darinya membuat semua orang di sana tercengang. Namun, hanya Capella yang mengangguk-angguk setuju. Diana tersadar melihat wajah kami, lalu berdeham.

"Maafkan saya. Dia adalah seorang Kitsune-jin yang sama sekali tidak punya tata krama terhadap atasan maupun lawan jenis, bicaranya kasar dan sangat tidak sopan. Seluruh ucapan dan tindakannya benar-benar menguji kesabaran dan sangat menyebalkan. Jika dibandingkan dengannya, Ovelia atau Mia saat pertama kali datang ke sini masih jauh lebih sopan."

"Ah, iya. Aku mengerti garis besarnya."

Bukankah itu tadi hanya sekadar menjabarkan kata 'bocah ingusan yang sok tua' dengan kalimat yang lebih spesifik? Pikirku begitu, tapi aku memilih untuk tidak berkomentar.

"Tuan Reed. Boleh saya menambahkan sesuatu?"

Capella mengangguk dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Mengenai gadis bernama Lilie yang saya lawan, penilaian saya terhadap ucapan dan tindakannya kurang lebih sama dengan Nona Diana. Namun, saya terganggu dengan perkataannya saat dia menatap saya dan berkata, 'Kamu punya aroma yang sama dengan kami'."

Claire, Lilie, Rosen. Saat mereka pertama kali berhadapan dengan kami, aku memang merasa gadis bernama Lilie itu menggumamkan hal semacam itu.

Capella punya aroma yang sama dengan Lilie dan yang lainnya? Padahal kepribadian maupun gaya bicara Capella dan kedua orang itu sangat berbeda... Saat memikirkan hal itu, sebuah kilatan pemikiran melintas di otakku.

"Begitu ya, jadi itu maksudnya."

Ketika aku bertanya balik untuk mengonfirmasi kepada Capella, dia mengangguk.

"Seperti yang Tuan Reed duga, identitas asli para penyerang kali ini bukanlah kelompok bandit atau tentara bayaran."

"Kemungkinan besar adalah agen intelijen milik Kitsune-jin, atau organisasi yang setara dengan itu, ya."

"Tuan Reed. Mohon maaf sebelumnya, mengapa kemiripan atmosfer dengan Tuan Capella bisa dikaitkan dengan agen intelijen?"

Yang bertanya adalah Asna dengan ekspresi heran. Farah pun sepertinya memikirkan hal yang sama dan memiringkan kepalanya.

"Kalian berdua belum tahu ya. Capella dulu termasuk dalam agen intelijen Renalute. Sekarang, karena berbagai hal, dia telah menjadi pengikut setiaku."

"Eh...!? Jadi begitu rupanya?"

"Sungguh tidak disangka..."

Mereka berdua membelalakkan mata dan menatap Capella.

"Apa yang dikatakan Tuan Reed semuanya adalah fakta."

"Namun, saya masih belum bisa menerimanya sepenuhnya. Jika diasumsikan bahwa penyerangan kali ini dilakukan oleh agen intelijen Kitsune-jin, ini tidak akan berakhir sebagai insiden biasa. Ini adalah tindakan berbahaya yang bisa berujung pada konflik antarnegara. Mohon maaf jika saya lancang, namun meskipun ini sebuah pertimbangan, bukankah terlalu prematur untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah agen intelijen Kitsune-jin?"

Pernyataan Asna memang masuk akal. Kitsune-jin dan Baldia adalah tetangga yang wilayah dan perbatasannya saling bersinggungan. Jika terjadi perselisihan, situasi akan mudah menjadi tegang.

Jika mereka melakukan ini dengan kesadaran penuh akan hal tersebut, itu tidak lain adalah pernyataan sikap bahwa 'tidak masalah jika situasi menjadi tegang'.

Keputusan yang terburu-buru dikhawatirkan akan membuat kita terjebak dalam rencana dan tipu muslihat lawan. Itulah mengapa Asna menyarankan agar kita berpikir dan bergerak dengan hati-hati.

"Iya, aku mengerti apa yang kamu katakan. Tapi, pergerakan para penyerang yang terencana dan terorganisir itu bukan milik 'tentara bayaran' atau 'kelompok bandit' biasa. Selain itu, aku terganggu dengan apa yang dikatakan oleh Claire, wanita Kitsune-jin yang kuhadapi."

"Apa yang dia katakan?"

Farah memiringkan kepalanya.

"Dia bilang, 'Penyerangan bengkel dan penculikan ini hanyalah permainan terakhir'. Artinya, bagi Claire dan yang lainnya, tujuan utama mereka yang sebenarnya sudah tercapai pada saat penyerangan itu terjadi."

Diana menimpali dengan gumaman, "Begitu rupanya..."

"Mengumpulkan informasi tentang Baldia sampai pada titik di mana mereka bisa menyerang bengkel. Itulah tujuan utama mereka yang sebenarnya, begitu ya."

"Benar. Kurasa itu adalah pemikiran yang paling masuk akal."

Saat aku mengangguk, ekspresi Asna dan Farah semakin mendung.

"Tapi, jika tujuan utamanya adalah mengumpulkan informasi, bukankah penyerangan bengkel itu terlalu mencolok? Lagipula, jika salah langkah, seperti yang dikatakan Asna, hubungan antarwilayah bisa menjadi tegang—"

Tepat saat Farah mengatakan itu, dia dan Asna seolah menyadari sesuatu dan tersentak.

"Para penyerang sudah menyelesaikan tujuan utama mereka. Artinya, kemungkinan besar informasi tersebut sudah disampaikan kepada atasan mereka. Dalam situasi itu, fakta bahwa mereka tetap melakukan penyerangan berarti kita harus menganggap bahwa tujuan mereka sudah berpindah ke tahap berikutnya."

"Apakah maksud Anda, tujuan dari penyerangan dan penculikan kali ini adalah... agar Baldia dan Kitsune-jin berada dalam situasi tegang?"

Menanggapi pertanyaan Asna, aku mengangguk pelan.

"Yah, ini masih sebatas dugaan. Karena Claire dan yang lainnya menyebut penyerangan ini sebagai 'permainan', mungkin bagi mereka penculikan itu berhasil atau tidak bukanlah masalah. Menurutku, daripada bersikap optimis, lebih baik kita memikirkan 'kemungkinan terburuk' dalam masalah ini."

"Saya juga setuju dengan pemikiran Tuan Reed."

Capella membungkuk hormat, lalu melanjutkan, "Namun..."

"Hm? Ada apa?"

"Mengenai Almond, pemuda Kitsune-jin yang menawarkan kerja sama kepada Tuan Reed. Dan juga wanita Kitsune-jin bernama 'Leafa' yang memberikan saran untuk menyelesaikan kasus ini. Menurut Anda, bagaimana posisi mereka?"

Begitu dia mengatakan itu, perhatian semua orang tertuju padaku. Sepertinya semua orang juga penasaran akan hal itu.

"Benar juga. Masih belum bisa dipastikan, tapi meminjam kata-kata Ayah, 'Negara mana pun belum tentu sepenuhnya bersatu'."

"Artinya, Tuan Reed berpikir bahwa di dalam Kitsune-jin ada faksi yang menginginkan ketegangan dengan Baldia dan faksi yang tidak menginginkannya. Dan dua orang bernama Almond serta Leafa itu termasuk dalam faksi yang tidak menginginkannya. Begitukah?"

"Aku tidak bisa memastikannya. Tapi yah, kurasa tidak tepat-tepat amat tapi juga tidak melesat jauh."

"Saya mengerti. Terima kasih telah menjawab."

Dia sengaja bertanya agar pemikiranku bisa dibagikan kepada semua orang di sini. Melihat sekeliling, Farah, Asna, dan Diana juga mengangguk dengan ekspresi serius.

"Lalu, kurasa sebentar lagi akan ada kontak."

Aku melirik waktu pada jam yang tergantung di dinding.

"Kontak?"

Mengangguk pada pertanyaan Farah, aku meletakkan alat penerima sihir komunikasi yang terpasang di pinggangku ke atas meja.

Di tengah kebingungan semua orang, sebuah suara terdengar, "Di sini Salvia dari markas komunikasi. Tuan Reed, mohon menjawab." Saat semua orang terkejut, aku mengaktifkan sihir komunikasi.

Karena saat menggunakan sihir komunikasi aku juga perlu mengeluarkan suara sedikit banyak, percakapan dengan Salvia bisa didengar oleh semua orang.

"Di sini Reed. Salvia, apakah kontak ini mengenai 'hal itu'?"

Sebenarnya, saat aku berangkat dari penginapan bersama Almond dan Rick setelah berpisah dengan Leafa dan yang lainnya, diam-diam aku telah memberikan sebuah instruksi melalui Serbia. Itulah yang kumaksud dengan 'hal itu'.

"Benar. Sesuai instruksi Tuan Reed, kami telah mengirimkan beberapa ksatria dari Divisi Pertama serta tim Ovelia dan Mia dari Divisi Kedua ke penginapan di kota yang ditentukan. Namun, saat mereka sampai di sana, kamar yang ditempati oleh orang-orang Kitsune-jin, termasuk wanita bernama Leafa, sudah kosong melompong."

"Begitu ya. Apakah ada petunjuk lain yang tertinggal?"

Ini sudah kuduga sampai batas tertentu, tapi ternyata tetap gagal ya.

"Ah, itu, soal itu..."

"Ada apa? Jika ada sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya."

"I-iya. Itu, sebenarnya, katanya ada satu surat yang ditinggalkan. Isinya tertulis, 'Reed, mari kita bertemu lagi jika ada kesempatan. Dan juga, aku menyukaimu', dan di akhir tulisan ada lampiran sebuah 'bekas kecupan' (kis-mark)."

"Be-begitu ya. Kalau begitu, surat itu kemungkinan besar memang ditinggalkan oleh Leafa."

Tiba-tiba aku merasakan tatapan tajam dan ketika menoleh, Farah sedang menatapku dengan tatapan dingin. Agak menakutkan.

"Tuan Reed. Surat yang ditinggalkan oleh orang bernama 'Leafa' itu. Tolong sampaikan agar surat itu harus dibawa ke hadapanku."

"Eh, soal itu sih tidak masalah... Ta-tapi kenapa?"

Saat aku bertanya balik sambil merasa tertekan oleh sikap Farah yang tidak seperti biasanya, dia menyempitkan matanya dengan misterius.

"Sebab dikatakan bahwa tulisan tangan mencerminkan kepribadian seseorang, jadi mungkin ada sesuatu yang bisa diketahui dari surat yang ditulis oleh orang bernama Leafa itu. Atau, apakah akan merepotkan jika aku melihatnya?"

"Ti-tidak, sama sekali tidak begitu kok."

Entah kenapa aku malah menggelengkan kepala dengan panik.

"Kalau begitu, aku mohon."

"I-iya."

Sambil mengangguk dengan wajah kaku, aku melanjutkan komunikasi sihir.

"E-eh, Salvia. Tolong kirimkan surat itu ke ruang kerja di asrama. Mungkin kami bisa menemukan sesuatu jika memeriksanya di sini."

"Dimengerti. Akan segera saya atur. Selain itu, ada pesan dari Tuan Rainer untuk Tuan Reed agar segera melapor ke ruang kerja di kediaman utama begitu urusan di sana sudah selesai."

"Paham. Tolong sampaikan kepada Ayah bahwa aku akan segera pergi melapor secepat mungkin."

"Dimengerti. Kalau begitu, komunikasi selesai."

Setelah suara itu menghilang, aku mengambil alat penerima di atas meja dan memasangnya kembali di pinggang.

"Baiklah. Kalau begitu, setelah memeriksa kondisi anak-anak yang diculik dan mengecek bengkel yang diserang, mari kita semua pergi ke tempat Ayah."

"Baik."

Setelah semua orang mengangguk, Farah berdeham "Ekhem."

"Terlepas dari itu. Mengenai apa saja yang Tuan Reed bicarakan dengan wanita Kitsune-jin bernama Leafa itu. Meski lancang, saya sangat tertarik mendengarnya. Demi mendapatkan informasi sekecil apa pun dengan menganalisis tulisan tangannya, Anda akan menceritakan semuanya mulai dari isi percakapan hingga penampilan fisik pihak lawan, kan?"

Melihat atmosfernya yang diselimuti aura hitam yang tidak biasa, aku hanya bisa mengangguk pasrah.

"E-eh... itu sih tidak masalah sama sekali. Tapi Farah, mungkinkah kamu sedang marah?"

"Tidak, aku tidak marah kok."

Dia menjawab dengan senyuman, tapi matanya sama sekali tidak tertawa.

Mengenai Leafa, tidak perlu dikatakan lagi bahwa aku harus menguras energi untuk menjelaskan secara mendetail agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pada Farah.

Aku berjanji dalam hati, jika ada kesempatan bertemu lagi dengan Leafa, aku akan menyampaikan dengan tegas agar dia berhenti meninggalkan surat yang bisa mengundang kesalahpahaman di masa depan.

Diskusi di ruang kerja asrama berakhir, dan meskipun kami telah mengumpulkan keterangan dari Tonaj dan kawan-kawan yang berhasil diselamatkan, tidak ada informasi baru yang didapatkan.

Selanjutnya, kami mampir ke bengkel yang menjadi lokasi penyerangan untuk mengonfirmasi situasi saat itu kepada Ellen dan Alex.

Terutama Ellen, dia sangat terharu mengetahui bahwa semua orang telah diselamatkan dengan selamat.

"Tuan Reed. Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan semuanya."

"Tidak perlu sungkan. Bagiku pun mereka adalah keberadaan yang tak tergantikan. Aku hanya melakukan hal yang sudah seharusnya. Lagipula, Mobil Arang Custom sangat membantu tadi. Terima kasih, Ellen."

"Sama-sama. Saya senang jika itu bisa sedikit membantu."

Meski Ellen dan Alex tampak senang, ada satu hal yang harus kusampaikan.

"Tapi ya. Lain kali kalau mau memodifikasi mobil arang, tolong lapor dengan benar ya. Karena aku juga harus menganggarkan anggaran yang diperlukan."

"A-ahaha. Benar juga ya. Mohon maaf."

Alex menjawab sambil mereka berdua menundukkan kepala. Setelah itu kami kembali mengonfirmasi soal penyerangan, namun tetap tidak ada informasi baru.

Tapi, mereka berdua memiringkan kepala karena ada satu hal yang mengganjal.

"Bengkelnya utuh tanpa ada aksi perusakan."

Saat aku bertanya balik, Alex mengangguk.

"Benar. Memang tujuan penyerang bukanlah perusakan. Karena mereka menyusup dengan tujuan menculik teknisi, itu mungkin hal yang wajar, tapi..."

"Aku juga memikirkan hal itu. Jika melakukan penyerangan seperti ini, pengamanan pasti akan diperketat. Namun, fakta bahwa mereka tidak melakukan sabotase atau perusakan sama sekali membuatku merasa seolah ini berhubungan dengan tujuan lain. Yah, ini bukan berarti aku punya bukti kuat sih..."

"Paham. Itu mungkin juga bisa menjadi petunjuk, jadi kalau kalian menyadari sesuatu lagi, tolong beri tahu aku ya."

"Baik. Kami mengerti."

Setelah berpisah dengan mereka berdua yang menjawab dengan penuh semangat, kami pun berpindah menuju kediaman utama tempat Ayah menunggu.

Setibanya di kediaman utama, aku bersama Farah dan yang lainnya mengunjungi ruang kerja.

Di dalam ruangan, Ayah sedang menatap dokumen dengan wajah serius, namun ketika kami masuk, dia mengalihkan pandangannya ke arah kami.

"Kalian sudah datang. Nah, duduklah."

"Baik. Permisi."

Sesuai instruksi, kami duduk di sofa. Diana, Capella, dan Asna juga ada di sana, namun mereka tidak duduk dan berdiri siaga membelakangi dinding.

Ayah merapikan dokumen di meja kerjanya lalu berdiri, dan duduk perlahan di sofa yang berhadapan denganku dengan meja di tengah. Bersamaan dengan itu, aku mulai bicara.

"Mohon maaf karena telah membuat Anda menunggu."

"Jangan dipikirkan. Terlepas dari itu, aku dengar kalian telah melewati banyak hal sulit, tapi semua orang yang diculik telah selamat. Kerja bagus."

"Terima kasih banyak. Namun, ini bukan berkat kekuatanku sendiri. Ini berkat semua orang di sini, dan semua pihak yang terlibat."

"Umu. Jangan lupakan sikap rendah hati itu. Kalian semua juga telah bekerja keras."

Saat Ayah menatap semua orang di ruangan itu, Farah membungkuk mewakili yang lain. Diana dan yang lainnya juga menundukkan kepala dan memberi hormat.

"Sama sekali bukan apa-apa, Ayah. Kami pun hanya melakukan apa yang kami bisa."

"Umu."

Ayah menanggapi dengan nada kagum, lalu kembali menatapku dengan ekspresi yang berubah menjadi serius.

"Nah, terlepas dari itu. Aku ingin mendengar berbagai hal secara langsung dari mulut kalian sendiri."

"Dimengerti."

Aku menjelaskan insiden penyerangan kali ini secara mendetail.

Para penyerang telah mengumpulkan informasi secara saksama di dalam wilayah Baldia sebelumnya, dan merencanakan penyerangan ini berdasarkan informasi tersebut.

Terlebih lagi, dalam pengumpulan informasi dan saat melakukan aksi, ada kemungkinan besar mereka menggunakan sihir rasial 'Hange' (Transformasi) yang bisa digunakan oleh Tanuki-jin atau Kitsune-jin, sehingga penyerangan tersebut bersifat mendadak.

Secara objektif, harus diakui bahwa respons Baldia terlambat. Namun, respons dari bengkel yang diserang cukup tenang.

Mereka dengan cepat mengonfirmasi orang yang terluka dan hilang, lalu menghubungi biro informasi Divisi Ksatria Kedua.

Informasi tersebut segera dibagikan kepada Divisi Pertama dan Kedua untuk membentuk tim pengejar.

Karena aku yang sedang melakukan inspeksi di kota juga menerima laporan, koordinasi dan respons cepat dapat dilakukan.

Di saat yang sama, berdasarkan informasi dan bantuan dari empat orang Kitsune-jin—Almond, Leafa, Ridley, dan Rick—yang aku temui secara kebetulan di kota saat inspeksi, kami berhasil memprediksi pergerakan penyerang.

Setelah itu, pengejaran dimulai menggunakan mobil arang yang telah disiapkan melalui Salvia dari biro informasi.

Tak lama kemudian, kami berhasil menyusul kelompok Kitsune-jin yang diduga penyerang dan terlibat pertempuran.

Meski sempat kesulitan menghadapi orang yang diduga pemimpin penyerang, bantuan kami tiba dan para penyerang pun melarikan diri.

Mempertimbangkan kekuatan musuh, kami tidak melakukan pengejaran terlalu jauh.

Melalui pengawasan udara oleh skuadron penerbang pertama yang dipimpin Aria, para penyerang diduga telah masuk ke wilayah Kitsune-jin.

Aku ingin mendengar lebih banyak detail dari Almond dan yang lainnya yang telah membantu, namun mereka pergi memanfaatkan kekacauan saat penyerang melarikan diri.

Kami telah mengirim ksatria ke penginapan mereka, namun sudah kosong.

Selain itu, aku juga menceritakan apa yang kami bicarakan dengan Farah dan yang lainnya di ruang kerja asrama.

"……Demikian isi utama dan analisis kami mengenai penyerangan kali ini."

"Fumu. Penyerang berasal dari agen intelijen Kitsune-jin atau organisasi semacam itu. Tujuan mereka adalah mengumpulkan informasi tentang Baldia, dan penyerangan kali ini hanyalah 'sampingan' belaka, ya."

"Benar. Atau, kemungkinan ada tujuan lain. Meski ini masih sebatas spekulasi..."

Saat aku menjawab dengan nada ragu, keheningan yang berat menyelimuti ruangan. Setelah jeda singkat, Ayah yang masih memasang wajah serius perlahan membuka suara.

"Sebenarnya begini. Tak lama setelah informasi penyerangan muncul, seorang sosok mencurigakan ditemukan di kediaman, dan Nels serta yang lainnya dari Divisi Pertama telah menangkapnya."

"Apa...!?"

Di tengah keterkejutan kami, Ayah melanjutkan dengan tenang.

Begitu mendengar kabar penyerangan bengkel, Ayah segera memberikan instruksi melalui biro informasi Divisi Kedua untuk memberlakukan status siaga di dalam wilayah.

Tempat-tempat penting di Baldia seperti kediaman utama, kediaman baru, dan asrama tentu saja termasuk di dalamnya.

Di tengah pembagian informasi mengenai kemungkinan Kitsune-jin bersembunyi menggunakan 'Hange', kabarnya raungan 'Cookie' (anjing penjaga) bergema di dekat kediaman.

Saat Nels dan yang lainnya yang sedang berpatroli datang, seorang pelayan keluarga Baldia mengeluarkan senjata dan sedang berhadapan dengan Cookie.

Berdasarkan situasi tersebut, Nels dan yang lainnya menilai bahwa ada seseorang yang menyamar menjadi pelayan, lalu bekerja sama dengan Cookie untuk menangkap pelayan tersebut.

"Ternyata ada kejadian seperti itu ya. Lalu, di mana pelayan yang tertangkap itu sekarang?"

Saat aku bertanya balik, dahi Ayah berkerut.

"……Dia mati."

"Eh..." Semua orang tersentak.

"Pelayan yang ditangkap Nels dan yang lainnya itu tiba-tiba terbakar dan melakukan bunuh diri dengan membakar diri. Cara bakarnya sangat hebat hingga jenazahnya bahkan sulit untuk diidentifikasi rasnya. Mengingat mereka melakukan tindakan se-ekstrem ini, ditambah interaksi kalian dengan penyerang yang kalian hadapi, kita harus menganggap bahwa Zvera atau Kitsune-jin terlibat di dalamnya."

Ketika Ayah berkata demikian, atmosfer di ruangan berubah menjadi tegang.

Mereka tidak hanya menyerang bengkel, tapi juga merencanakan sesuatu yang lain di kediaman utama.

Ini sangat mengejutkan, namun fakta bahwa agen intelijen pihak lawan melakukan bunuh diri dengan membakar diri demi menjaga rahasia menunjukkan bahwa ini bukan persoalan biasa.

Kekuatan organisasi di balik penyerangan ini mungkin di luar imajinasi. Saat aku sedang merenung dengan getir, Ayah tiba-tiba mengendurkan ekspresinya.

"Yah, jangan memasang wajah seserius itu. Rasa panik dan kegalauan di saat seperti ini hanya akan melahirkan rasa saling curiga. Jika itu terjadi, kalian tidak akan bisa membuat keputusan yang objektif dan tenang. Itulah yang diharapkan musuh. Apa yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan evaluasi terhadap insiden penyerangan ini, lalu memikirkan bagaimana kita harus bergerak ke depannya."

Benar, jika di sini aku panik dan menjadi penuh kecurigaan, itu hanya akan menyerahkan kendali kepada pihak lawan yang berniat jahat.

Fakta bahwa kami kecolongan oleh penyerang. Setelah mengakui kekurangan kekuatan kami saat ini, hal yang harus dilakukan sekarang adalah memikirkan dan melaksanakan persiapan.

"……Benar juga. Siapa pun lawannya, aku akan membuat mereka menyesal karena telah mengusik Baldia."

"Umu, itu baru semangat."

Ayah mengangguk, lalu Farah menggenggam tanganku dengan lembut. Dia menatap mataku dan Ayah secara bergantian.

"Ayah, Tuan Reed. Kami juga akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi kekuatan bagi Anda semua."

Capella, Diana, dan Asna maju selangkah mengikuti perkataannya lalu menundukkan kepala.

"Iya. Terima kasih, Farah. Dan juga kalian semua. Ini sangat menguatkan hatiku."

Setelah laporan selesai secara garis besar, topik beralih ke: Apa yang harus dilakukan ke depan?

Karena insiden penyerangan ini adalah hal yang merusak hubungan dengan Baldia, pertama-tama diputuskan untuk mengirimkan surat resmi kepada Zvera dan Kitsune-jin untuk meminta kerja sama dalam penyelidikan guna mengidentifikasi penyerang.

Tergantung pada balasan surat tersebut, dalang di balik penyerangan serta niat Almond dan kawan-kawan seharusnya akan terlihat sedikit demi sedikit.

Selain itu, saat topik beralih ke peninjauan ulang sistem keamanan bengkel, langkah pencegahan terhadap 'Hange', dan perlunya penguatan organisasi di Divisi Pertama dan Kedua, sebuah masalah muncul.

"Untuk memperkuat organisasi Divisi Ksatria Kedua, kita butuh seseorang yang punya pengalaman tempur nyata sebagai komandan. Namun, kita tidak punya kelebihan personel dari Divisi Pertama untuk dipindahkan ke Divisi Kedua, termasuk Dinas atau Cross."

"Itu masalah yang sulit ya. Karena Divisi Kedua tadinya dimaksudkan untuk memperkuat organisasi secara bertahap sambil menjalankan tugas praktis."

Ayah dan aku sama-sama menaruh tangan di dagu. Untuk memperkuat organisasi, kami butuh komandan yang bisa mengoordinasi Divisi Kedua secara keseluruhan.

Capella dan Diana pada dasarnya adalah pengikutku, bukan komandan.

Meski mereka membantu manajemen Divisi Kedua, untuk penguatan organisasi, sebaiknya kami menyiapkan komandan berbakat secara terpisah.

"Tuan Reed, Ayah. Bolehkah saya bicara sebentar?"

"Iya. Ada apa?"

"Fufu. Mengenai komandan berbakat yang dibutuhkan Divisi Kedua. Saya punya seseorang dalam pikiran saya."

"Eh?"

Saat aku memiringkan kepala, Farah mengalihkan pandangannya ke arah Asna.

"Benar kan, Asna? Bagaimana kalau kita menghubungi kakekmu, Tuan Curtis?"

"Ha...? Ke-kepada Kakekanda!?"

Jarang-jarang Asna tampak gugup begitu. Nama Curtis terdengar familier. Di mana aku pernah mendengarnya ya? Saat aku memutar otak untuk mengingat, sosok Dark Elf yang tertawa terbahak-bahak muncul di benakku.

"Ah, kalau tidak salah orang yang menyapa saat resepsi pernikahan di Renalute itu ya."

"Benar, tepat sekali. Sosok yang dimaksud Tuan Putri adalah kakek saya, Curtis Lanmark."

Asna menjawab dengan formal, lalu Farah menambahkan dengan senyum lebar.

"Tuan Curtis telah menyerahkan kepemimpinan keluarga kepada putranya, Tuan Orthros, dan beliau sendiri sudah pensiun. Oleh karena itu, jika aku dan Asna yang memintanya, beliau pasti akan mengabulkannya."

"Fumu. Aku juga pernah mendengar tentang Tuan Curtis. Dia adalah salah satu pendekar terkemuka di Renalute, dan kabarnya di masa lalu dia pernah memimpin pasukan untuk menghadapi invasi Kekaisaran dan Balst."

"Memang saya dengar Kakekanda beberapa kali menghadapi invasi Kekaisaran dan Balst di masa lalu. Namun..." Asna memasang ekspresi tidak enak.

"Namun... kenapa?"

"Itu, kepribadian dan bicaranya sedikit terlalu 'bersemangat', atau bisa dibilang dia punya sisi yang terlalu bebas, sehingga dia adalah tipe orang yang disukai atau dibenci secara terang-terangan. Karena itu, saya sangat khawatir jika beliau melakukan tindakan tidak sopan yang membuat Anda sekalian merasa tidak nyaman."

"Aaah—..."

Aku mengerti maksudnya dan tanpa sadar bergumam. Saat resepsi pernikahan dengan Farah, Curtis tiba-tiba mengarahkan haus darah hanya kepadaku.

Tentu saja, dia tidak bermaksud serius, tapi sepertinya dia melakukannya dengan niat untuk mengujiku.

Mungkin ucapan dan tindakan Curtis yang dikhawatirkan Asna adalah hal semacam itu. Ayah juga sepertinya mengerti maksudnya, dia mengangguk sambil tersenyum pahit.

"Begitu ya. Reed, ini adalah masalah yang berkaitan dengan masa depan Divisi Kedua yang berada di bawah komandomu langsung. Aku serahkan keputusan ini padamu. Apa yang ingin kamu lakukan?"

"Begitu ya... Baiklah."

Seorang komandan Dark Elf dengan pengalaman tempur yang kaya. Dia adalah sosok yang sangat tepat untuk mengisi kekurangan di Divisi Kedua.

Penyerangan kali ini mungkin hanyalah permulaan, dan kita tidak tahu gerakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dalam situasi seperti ini, kita tidak boleh terlalu pilih-pilih.

"Kita tidak akan tahu cocok atau tidaknya jika belum bertemu. Menurutku, pertama-tama kita harus menghubungi Tuan Curtis dan mencoba bicara dengannya."


Chapter 8

Sihir yang Diajarkan Rainer

"Ibu, tahu tidak? Ilmu bela diri dan sihirku sudah semakin hebat, lho."

"Begitu ya. Itu hal yang bagus. Tapi, Mel, jangan cuma itu saja. Kamu juga harus belajar tata krama dengan benar."

"Iyaaa."

Mel bercerita dengan riang di samping tempat tidur Ibu, namun ekspresi Ibu tampak sedikit khawatir. Sambil memperhatikan interaksi mereka, Farah yang berdiri di sampingku bertanya kepada Ibu dengan wajah cemas.

"Ibu, bagaimana kondisi tubuh Ibu?"

"Ya, jauh lebih baik dari sebelumnya. Akhir-akhir ini, aku sudah mulai melakukan olahraga ringan sambil diawasi oleh Sandra."

"Kalau begitu, suatu saat nanti kita harus pergi jalan-jalan bersama ya."

Mendengar usulanku, Ibu tersenyum dan mengangguk.

"Tentu. Ah, saat itu nanti, aku ingin mencoba naik mobil arang. Rasanya pasti jauh berbeda dengan kereta kuda, kan?"

"Iya. Tergantung jalannya juga sih, tapi kurasa guncangannya tidak akan separah kereta kuda."

Begitu aku menjawab, Mel mencondongkan badannya sambil melirikku.

"Ah, tapi Ibu harus tahu. Meskipun begitu, Kakak tetap saja cepat mabuk kendaraan."

"Astaga, benarkah? Fufu, itu merepotkan ya."

"Ahaha. Begitulah. Kenapa ya bisa begitu?"

Sambil menggaruk pipi dan tertawa kecut menerima tatapan Ibu, terdengar suara tawa kecil dari orang-orang di sekitar.

"Ah, hei hei, Ibu. Selain itu..."

Mel mengalihkan topik pembicaraan, dan Ibu beserta yang lainnya kembali asyik bercengkerama. Melihat pemandangan itu dengan hangat, aku bisa merasakan bahwa Ibu perlahan-lahan mulai pulih.

Belakangan ini kondisi Ibu sangat baik. Seperti yang dikatakannya, beliau sudah mulai olahraga ringan untuk rehabilitasi.

Sandra juga mendiagnosis bahwa kesembuhan total tidak akan lama lagi. Tak perlu dikatakan lagi betapa gembiranya kami dan semua pelayan keluarga Baldia mendengar diagnosis itu.

Mengenai insiden penyerangan dan kejadian di sekitar kediaman utama, kami memutuskan untuk merahasiakannya dari Ibu dan Mel. Ini adalah pertimbangan agar mereka tidak perlu merasa khawatir yang tidak perlu.

Ngomong-ngomong, setelah ini aku dijadwalkan untuk menerima pelatihan khusus dari Ayah.

Beberapa hari yang lalu, segera setelah rapat pasca-insiden penyerangan berakhir, Ayah langsung mengirimkan surat protes resmi kepada Kerajaan Beast Zvera, khususnya kepada kepala suku Kitsune-jin, Gareth Grandoke.

Surat resmi mengenai insiden ini juga telah dikirimkan kepada Kaisar di Ibukota Kekaisaran. Ayah bilang beliau sendiri akan segera pergi ke Ibukota untuk memberikan penjelasan secara langsung.

Di saat yang sama, surat resmi atas nama Farah dan Asna juga dikirimkan kepada "Curtis Lanmark" di Renalute.

Meskipun belum ada jawaban dari pihak mana pun, hal-hal yang bisa dilakukan saat ini sudah mulai berjalan.

Dimulai dari peninjauan ulang sistem keamanan bengkel, langkah pencegahan terhadap Hange dengan bantuan Dan dan kawan-kawan, hingga pengetatan pemeriksaan imigrasi dari Zvera dan Balst di perbatasan.

Sejauh ini belum ada masalah baru yang muncul, tapi kami tidak boleh lengah.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sopan.

"Tuan Reed. Tuan Rainer memanggil Anda untuk datang ke lapangan latihan dengan membawa pedang kayu."

"Dimengerti. Aku akan segera ke sana."

Setelah menjawab suara Galun dari balik pintu, aku membungkuk hormat kepada Ibu.

"Kalau begitu, saya permisi dulu untuk hari ini."

"Iya. Reed, pastikan jangan sampai terluka ya."

"Tentu saja. Akan kusampaikan pesan itu kepada Ayah juga."

Mendengar jawabanku, Farah dan Mel tersenyum cerah.

"Tuan Reed, berhati-hatilah."

"Kakak, semangat ya!"

"Terima kasih kalian berdua. Kalau begitu, aku pergi dulu."

Setelah memberikan senyum kepada semuanya, aku keluar ruangan bersama Diana dan Capella, lalu menuju lapangan latihan tempat Ayah menunggu.

"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu."

Begitu aku menyapa, Ayah yang memegang pedang kayu di satu tangannya perlahan berbalik.

"Kamu datang lebih cepat dari dugaan. Tadi sedang bersama Nanally, kan?"

"Iya. Ibu berpesan agar aku maupun Ayah jangan sampai ada yang terluka."

"Begitu ya. Kita memang harus berhati-hati agar tidak terjadi 'luka parah'."

"E-eh, Ayah?"

Merasakan aura yang tidak menyenangkan, aku mundur selangkah. Ayah tersenyum penuh tantangan, memasang kuda-kuda dengan pedang kayunya, dan mengarahkan ujung pedangnya kepadaku.

"Baiklah. Instingmu cukup tajam rupanya. Pertama-tama, tunjukkan padaku seberapa besar kemampuanmu saat ini. Urusan bicara kita lakukan setelah itu."

Aura yang dilepaskan Ayah memiliki haus darah yang lebih kuat dari biasanya. Seketika tengkukku merinding, keringat dingin mengalir di sekujur tubuh, dan aku menahan napas.

"Jadi ini artinya 'tanpa banyak tanya', ya."

"Umu. Anggap aku sebagai wanita Kitsune-jin itu. Gunakan sihir, Body Enhancement, semuanya. Datanglah padaku dengan seluruh kekuatanmu. Diana, Capella, kalian jangan ikut campur."

"Dimengerti."

Setelah mereka berdua berdiri siaga di tempat yang agak jauh, Ayah kembali menatapku dengan sorot mata tajam yang seolah menembus jantung.

"Ayo, kapan pun kamu siap."

"Paham. Kalau begitu, saya mulai!"

Aku mengambil napas dalam-dalam lalu mengaktifkan Body Enhancement.

Kemudian, seperti saat bertarung melawan Claire, aku menyerang Ayah dengan segenap tenaga sambil mengerahkan sihirku.

Namun, perbedaan kekuatan kami sangat sulit untuk ditutupi. Serangan jarak dekatku terbaca sepenuhnya. Berkali-kali ujung pedang kayu Ayah diarahkan tepat ke tenggorokan atau di depan mataku.

Saat aku mencoba menjaga jarak dan mengetes sihir, Ayah melakukan Mana Enchantment pada pedang kayunya, lalu menebas dan membatalkan sihirku dengan tenang.

Biasanya, jika seseorang melakukan Mana Enchantment berkali-kali, pedang kayu tidak akan tahan dan akan patah.

Tapi sepertinya Ayah hanya menebas peluru sihir yang benar-benar perlu saja, dan mengatur agar pedang kayunya tidak menerima beban yang sia-sia.

Rasanya Ayah agak sedikit kekanak-kanakan karena tidak mau mengalah.

"Ada apa? Kenapa tidak menggunakan sihir andalanmu yang melepaskan semua elemen itu? Jangan sungkan-sungkan."

Meskipun pertarungan sudah cukup sengit, Ayah sama sekali tidak tampak kehabisan napas. Malah, beliau dengan tenang mengarahkan ujung pedang kayunya kepadaku.

"Hah... hah... Anda sendiri yang mengatakannya ya. Jangan menyesal."

Aku melakukan salto ke belakang untuk mengambil posisi di mana jalur tembakku hanya mengarah ke Ayah.

"Rasakan ini! All-Element Magic Spear Great Wheel!"

Bersamaan dengan rapalan mantra, tombak-tombak sihir dari seluruh elemen tercipta satu demi satu dan melesat ke arah Ayah. Namun, Ayah hanya mengangguk seolah sedang mengobservasi.

"Begitu ya. Memang tidak ada celah. Sihir yang luar biasa. Namun..."

Ayah menebas tombak-tombak sihir yang menyerbu, lalu berlari menerjang ke arahku.

"Mengaktifkan semua elemen secara bersamaan memang ide bagus, tapi pada akhirnya itu hanya gertakan sambal. Jika sudah terbaca, itu bukan apa-apa."

"Apa!?"

Di saat aku terpana, Ayah sudah berada dalam jarak sangat dekat dan menyeringai.

"Aku sudah masuk ke jarak serangmu."

"Guh...!?"

Aku mencoba merespons dengan pedang kayuku, tapi sudah terlambat. Dalam sekejap, aku sudah dijatuhkan dan ujung pedang kayu Ayah sudah berada di depan hidungku. Di sana, kulihat wajah Ayah yang tampak segar bugar tanpa setetes keringat pun.

"……Saya menyerah."

"Umu. Masih jauh ya. Tapi, untuk usiamu, bisa bergerak sejauh itu sudah lebih dari cukup."

Ayah melepaskanku, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku menggenggam tangan itu dan bangkit berdiri.

"Terima kasih. Tapi, dengan kekuatanku yang sekarang, aku sama sekali bukan tandingan pemimpin penyerang itu. Aku harus menjadi jauh lebih kuat lagi."

Mendengar ucapanku yang penuh penyesalan, ekspresi Ayah melunak.

"Semangat yang bagus. Meski agak terlalu dini, aku akan mengajarkan sihir baru kepadamu."

"Sihir baru?"

"Ya, benar. Tapi meski disebut sihir, ini adalah teknik untuk meningkatkan output dengan menambah jumlah mana yang digunakan dalam Body Enhancement secara sengaja oleh penggunanya. Teknik ini disebut Body Enhancement: Second Form."

"Body Enhancement: Second Form!?"

Mendengar sihir baru yang belum pernah kudengar sebelumnya, jantungku berdegup kencang karena antusias.

"Benar. Body Enhancement yang kamu gunakan selama ini hanyalah tahap yang paling dasar."

"Hanya tahap dasar?"

"Ini kesempatan bagus. Akan kuajarkan tentang Body Enhancement dan apa yang ada di baliknya, yaitu Body Enhancement: Second Form."

"Baik! Mohon bimbingannya!"

Selama ini aku sudah meneliti berbagai sihir, tapi aku tidak pernah terpikir bahwa Body Enhancement memiliki tingkatan yang lebih tinggi.

Rasanya seperti baru saja mendapatkan pencerahan besar. Melihatku yang begitu bersemangat sampai condong ke arahnya, Ayah hanya mengangkat bahu seolah berkata "astaga".

Sekadar meninjau kembali, syarat minimal untuk bisa menggunakan Body Enhancement adalah sebagai berikut:

1.    Bisa menggunakan Mana Conversion.

2.    Memiliki kemampuan bela diri di atas level tertentu.

Setelah syarat nomor 1 dan 2 terpenuhi, seseorang harus menangkap sensasi di mana mana mengalir selaras dengan gerakan tubuh.

Rubens, orang yang pertama kali mengajariku Body Enhancement, pernah bilang: "Dalam Body Enhancement, jangan pikirkan mananya, tapi rasakanlah." Kenyataannya, saat menggunakan teknik ini, aku bisa merasakan mana mengalir dan menyebar ke seluruh tubuh, jadi ucapan itu memang benar.

Asalkan sudah menangkap sensasinya, Body Enhancement tidaklah terlalu sulit.

Hanya saja, kita harus berhati-hati karena mana akan terus terkuras selama teknik ini aktif.

Dalam kasusku, mungkin karena jumlah manaku yang sangat besar, aku hampir tidak pernah mengalami kehabisan mana akibat penggunaan teknik ini.

"Body Enhancement adalah sihir yang mengalirkan mana ke dalam tubuh untuk meningkatkan kemampuan fisik. Namun, jumlah mana yang dikonsumsi secara konstan saat itu biasanya tetap pada level tertentu, meski ada perbedaan individu. Kamu pasti bisa merasakan hal ini secara insting, kan?"

"Benar juga. Kalau dipikir-pikir, saat mengaktifkan Body Enhancement, aku tidak merasa jumlah mana yang terkonsumsi tiba-tiba melonjak atau berkurang drastis. Ah, tapi, aku pernah merasa mana bereaksi terhadap emosi yang kuat."

Mendengar jawabanku, Ayah mengangguk kagum.

"Kalau kamu pernah merasakannya, pembicaraan ini jadi lebih mudah."

"Eh?"

"Sumber mana adalah kekuatan hidup penggunanya. Saat emosi pengguna memuncak, kekuatan hidup akan ditarik melebihi batas normal, dan mana yang digunakan untuk Body Enhancement bisa meningkat secara sementara. Lalu, tubuh akan diperkuat lebih jauh seolah merespons keinginan kuat sang pengguna."

"Begitu ya. Jadi sensasi 'mana yang bereaksi terhadap emosi kuat' yang pernah kurasakan dulu adalah hal itu."

"Benar. Namun, pengguna yang sudah terbiasa dengan Body Enhancement juga bisa mengendalikan mana yang dikonsumsi secara sengaja. Seperti ini."

Tiba-tiba, terdengar suara seperti ledakan kecil dan gelombang mana ringan memancar dari tubuh Ayah.

"Uwah!?"

Gelombang mana yang mendadak itu membuatku jatuh terduduk, tapi aku membelalak melihat sosok Ayah yang berdiri di depanku.

Dari sekujur tubuh Ayah memancar mana yang begitu besar hingga bisa dirasakan secara fisik, seolah-olah udara di sekitarnya bergoyang karena panas.

Selain itu, rambut Ayah yang biasanya diikat rapi di belakang kini tergerai lepas.




"Ini adalah Body Enhancement: Second Form."

"L-luar biasa..."

Suara ledakan kecil yang terdengar bersamaan dengan gelombang mana tadi rupanya berasal dari tali pengikat rambut Ayah yang putus akibat aktivasi teknik tersebut.

"Fumu. Kurasa sulit untuk memahaminya hanya dengan melihat penampilan saja. Reed, pasang kuda-kuda dengan pedang kayumu."

"Eh!? I-iya!"

Aku terburu-buru memasang kuda-kuda sesuai instruksi, lalu mengaktifkan Body Enhancement biasa dan mengambil jarak. Meski aku sama sekali tidak merasa bisa menang, jantungku berdegup kencang karena antusias melihat kemampuan Ayah dalam wujud Second Form.

"Bagus. Seranglah sesukamu dengan seluruh kekuatanmu sejak awal."

"Dimengerti. Mohon bimbingannya."

Begitu kata-kata itu keluar, aku segera melepaskan All-Element Magic Spear Great Wheel tanpa mantra untuk memberikan kejutan. Ayah secara instan melakukan gerakan menghindar, namun justru itulah incaranku.

"Ayah, aku bisa melihat gerakanmu! Fire Spear: Second Form - Sixteen Spears!"

Fire Spear: Second Form adalah sihir yang melepaskan tombak mana kecil yang mengejar target yang terlihat, dan angka enam belas adalah jumlahnya.

Aku sengaja menggunakan serangan besar sebelumnya agar beliau menghindar, lalu menembakkan sihir tipe pengejar ke posisi tersebut.

Dengan begitu, jika aku merangsek maju, Ayah seharusnya akan kewalahan menangkis semuanya.

Namun, gerakan Ayah secara mengejutkan terasa lamban. Dengan begini, tombak apinya akan kena.

Tepat saat aku mengira keenam belas tombak sihir itu berhasil mengenai sasaran, semuanya justru menembus tubuh Ayah—bukan, tombak-tombak itu hanya melewati udara kosong.

"A-are...?"

Di tengah kebingunganku, detik berikutnya pedang kayu sudah menempel di leherku, membuat bulu kudukku berdiri.

"Reed. Kenapa kamu begitu bersemangat? Apa kamu baru saja melihat bayanganku?"

"A-ahaha. Sepertinya begitu ya."

Suara Ayah terdengar lebih berat dari biasanya, ditambah dengan tekanan mana yang menyelimuti tubuhnya dalam wujud Second Form.

Mungkin ini yang disebut dengan Mana Pressure. Aura yang mengerikan itu membuat keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku.

Saat berlatih tanding dengan Body Enhancement biasa, aku masih merasa bisa mengimbangi sedikit.

Tapi aku tidak menyangka akan ada perbedaan sejauh ini antara First Form dan Second Form.

Di hadapan perbedaan kekuatan yang absolut ini, aku hanya bisa tertawa pasrah.

Namun, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku memutar tubuh sambil menangkis pedang kayu di leherku menggunakan pedang kayuku sendiri.

"Hou, seperti yang diharapkan dari putraku. Jika tidak begini, maka tidak akan menarik."

"Ini baru saja dimulai, Ayah."

Aku menantang Ayah dalam pertarungan jarak dekat. Namun, hasilnya sudah bisa ditebak.

Ayah sama sekali tidak bergeser dari posisinya, beliau membaca seluruh alur seranganku dan menangkisnya dengan mudah.

Sesekali, pedang kayunya mendarat di titik-titik vital seperti ujung hidung, leher, dan dadaku.

Merasa tidak ada celah untuk menang, saat pedang kayu kembali menempel di leherku, aku mengangkat kedua tangan sambil terengah-engah.

"Hah... hah... Ayah, saya menyerah. Saya kalah telak."

"Begitu ya. Namun, semangatmu yang tidak padam meski menghadapi perbedaan kekuatan sebesar ini sungguh mengagumkan. Jangan lupakan perasaan itu."

Ayah sepertinya telah menonaktifkan Second Form, karena aura Mana Pressure yang tadi menyelimuti ruangan telah menghilang. Kemudian, Diana yang sejak tadi menonton dari kejauhan berjalan mendekat.

"Tuan Rainer, ini."

Dia mengulurkan tali yang tadi digunakan Ayah untuk mengikat rambutnya. Sepertinya dia memungutnya saat kami sedang bertarung tadi.

"Umu. Terima kasih."

Ayah menerima tali itu, lalu dengan cepat merapikan rambutnya kembali ke gaya biasanya.

"Nah, bagaimana perasaanmu mengenai peningkatan kemampuan fisik dari Body Enhancement: Second Form?"

"Saya hanya bisa mengatakan bahwa itu luar biasa dominan."

Saat aku menjawab dengan nada menyesal karena benar-benar tidak berdaya, Ayah mengangguk puas.

"Bagus. Jika kamu sudah merasakannya secara langsung, maka selanjutnya kita akan memulai latihan agar kamu bisa mengaktifkan Body Enhancement: Second Form."

"Benarkah!?"

"Bukankah sudah kukatakan di awal bahwa aku akan menurunkan sihir baru padamu?"

"Baik! Mohon bimbingannya!"

Ayah mengangkat bahu seolah berkata "astaga", lalu menjelaskan mekanisme dari Second Form.

Body Enhancement biasa adalah teknik mengalirkan mana ke seluruh tubuh dan menyelaraskannya dengan gerakan tubuh secara tidak sadar.

Mengatakan 'menyelaraskan secara tidak sadar' mungkin terdengar sulit, namun siapa pun yang sudah bisa menggunakan mana dan bela diri sampai tingkat tertentu akan bisa menangkap sensasi itu dengan latihan.

Selain itu, penjelasan Ayah selanjutnya sangat menarik.

"Artinya... kita harus menyadari jumlah mana yang selama ini digunakan secara tidak sadar dalam Body Enhancement, lalu secara paksa meningkatkan jumlah mana tersebut untuk menaikkan output-nya?"

"Benar. Mereka yang belum terbiasa menggunakan Body Enhancement tidak akan punya kelonggaran untuk menyadari seberapa banyak mana yang sedang digunakan. Oleh karena itu, prioritas pertama adalah menyelaraskan gerakan tubuh dengan mana. Second Form adalah teknik yang berada di tingkatan setelah itu."

"Sangat menarik."

Kalau dipikir-pikir, aku memang tidak pernah menyadari secara spesifik berapa konsumsi mana saat melakukan Body Enhancement.

Bukannya aku tidak merasakannya sama sekali, tapi aku tidak pernah terlalu memikirkannya.

"Yah, mengatakannya memang mudah, tapi melakukannya sulit. Banyak orang yang sudah puas hanya dengan bisa menggunakan Body Enhancement tanpa tahu keberadaan Second Form. Tapi kamu berbeda. Tunjukkan padaku bahwa kamu bisa menguasainya."

"Baiklah. Kalau begitu, mohon segera ajarkan caranya."

"Jangan terburu-buru. Penjelasanku belum selesai."

"Ah, mohon maaf."

Ayah kemudian menjelaskan kekurangan dari Second Form.

Karena teknik ini meningkatkan efek dengan menambah jumlah mana yang digunakan secara sengaja, tentu saja konsumsi mananya jauh lebih besar daripada Body Enhancement biasa.

Singkatnya, kemampuan fisik meningkat drastis, tapi efisiensi mananya buruk.

"Selain itu, ada masalah mengenai sejauh mana tubuh kecilmu bisa menahan mana yang digunakan untuk Second Form."

"Eh, apa maksudnya?"

"Ternyata kamu belum menyadarinya ya. Karena Body Enhancement mengalirkan mana ke dalam tubuh, beban yang diterima fisik pengguna sebenarnya cukup besar. Alasan mengapa seseorang perlu belajar bela diri sebelum mengaktifkan teknik ini bukan hanya untuk persiapan penyelarasan tubuh dan mana, tapi juga bertujuan untuk membentuk tubuh yang sanggup menahan beban mana tersebut."

"Begitu rupanya..."

Aku teringat sesuatu. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali aku bisa menggunakan Body Enhancement, sekarang tubuhku terasa jauh lebih ringan setelah menggunakannya.

Selain karena kemampuan bela diri dan sihirku meningkat, faktor pertumbuhan tubuhku sendiri pasti berpengaruh.

"Bahkan orang dewasa pun merasakan beban yang cukup berat saat menggunakan Second Form. Jika digunakan oleh anak seusiamu dengan tubuh sekecil itu, bebannya pasti akan lebih besar lagi. Pahami hal itu sebelum memulai latihan. Mengerti?"

"Baik, saya mengerti."

Melihat jawabanku, sudut bibir Ayah terangkat membentuk senyuman senang.

Setelah penjelasan selesai, akhirnya latihan Body Enhancement: Second Form dimulai.

Meski aku sempat tegang mengira akan menjalani latihan yang sangat keras, isinya ternyata cukup sederhana.

"Bermeditasi... sambil mengaktifkan Body Enhancement?"

"Umu. Karena saat mengaktifkan Body Enhancement biasanya kita sedang menggerakkan tubuh dengan aktif, kesadaran pengguna cenderung terfokus pada dirinya sendiri atau lawan, sehingga tidak ada kesempatan untuk menyadari jumlah konsumsi mana. Oleh karena itu, kamu perlu membuat waktu terpisah untuk menyadarinya."

"Be-begitu ya. Jadi bukan berarti aku harus terus-menerus berlatih tanding dengan Ayah atau Diana?"

"Tentu saja. Jika begitu, kamu tidak akan punya waktu untuk menyadari konsumsi mana. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menggunakan Second Form."

Demikianlah, aku mulai duduk bersila dan bermeditasi sambil mengaktifkan Body Enhancement, mencoba mencari aliran mana di dalam diriku.

Namun, tak lama kemudian aku mengernyit heran.

"Ada apa?"

"Ti-tidak. Tekniknya baru saja terputus..."

"Tentu saja. Kamu sedang mencoba menyadari dan mengendalikan secara sengaja hal yang selama ini kamu lakukan tanpa sadar. Itu tidak semudah itu."

"Ah, jadi begitu ya."

Meski kegiatannya terlihat membosankan, mungkin berlatih tanding dengan Ayah atau Diana justru terasa lebih ringan daripada ini.

Setelah lewat setengah hari, akhirnya aku mulai bisa merasakan konsumsi mana sambil tetap mengaktifkan Body Enhancement.

"Guh..."

"Bagus. Sepertinya kamu sudah bisa merasakannya. Sekarang, alirkan mana secara sengaja ke dalam aliran konsumsi mana tersebut."

"Baik... saya laksanakan."

Dengan keringat mengucur di dahi, aku semakin berkonsentrasi. Aku mencoba mengalirkan mana sesuai instruksi Ayah, namun sensasi Body Enhancement seolah akan terputus setiap saat.

"Jangan panik, konsentrasi."

Tepat saat Ayah menyentuhkan ujung jarinya dengan lembut di dahiku, entah bagaimana aku berhasil mengembalikan sensasi Body Enhancement yang hampir hilang.

Aku mengambil napas dalam, mengangguk, lalu kembali mengalirkan mana. Detik berikutnya, mana dalam jumlah yang jauh berbeda dari sebelumnya mulai mengalir di sekujur tubuhku.

Bersamaan dengan itu, gelombang mana bertiup kencang di sekelilingku.

"Umu. Sepertinya kamu sudah berhasil mengaktifkannya."

Ayah menurunkan jari yang tadi menempel di dahiku.

"Iya. Sepertinya... saya berhasil."

Aku melepaskan posisi dudukku dan perlahan bangkit berdiri. Namun, napasku mulai memburu karena konsumsi mana yang jauh berkali-kali lipat dari biasanya.

"Saat ini, mana mengalir keluar dan terkonsumsi dalam jumlah besar dari wadah manamu tanpa henti. Biasanya, pengguna memberikan batasan secara tidak sadar agar hal itu tidak terjadi. Itulah sebabnya konsumsi mana pada Body Enhancement biasa tergolong sedikit, namun output-nya pun terbatas."

"Jadi... begitu ya... gugh."

Aku sudah mencapai batas hanya untuk mempertahankan wujud Second Form.

Saat mencoba menjawab, konsentrasiku goyah dan aku refleks berlutut dengan satu kaki.

Ayah kembali menyentuhkan ujung jarinya ke dahiku dengan lembut.

"Bisa melakukan sejauh ini pada percobaan pertama saja sudah sangat bagus. Selanjutnya, aturlah mana yang mengalir tanpa henti itu. Jangan terburu-buru, konsentrasi."

"Ba-baik..."

Sambil tetap berlutut, aku memejamkan mata dan kembali berkonsentrasi pada mana yang mengalir di tubuhku. Lalu, aku menelusuri aliran mana itu hingga menemukan sumbernya.

"Jika aku mengatur ini..."

(Hei, Reed. Sepertinya kamu sedang kesulitan ya.)

Tiba-tiba sebuah suara bergema di dalam kepalaku.

(Memory!? Ada apa tiba-tiba? Maaf, tapi aku sedang sibuk sekarang.)

(Aku tahu, makanya aku bicara padamu. Jumlah manamu itu luar biasa banyak, lho. Mungkin.)

(Aku senang mendengarnya... tapi apa hubungannya?)

(Maksudku, karena manamu terlalu banyak, akan sulit bagimu untuk mengatur Body Enhancement: Second Form ini hanya dengan kekuatanmu sendiri.)

(Sombong sekali ya. Tapi kan aku belum mencoba.)

(Fufu, aku tahu kamu akan bilang begitu. Tapi untungnya, di dalam dirimu ada 'Aku'. Aku memang perwujudan memorimu, tapi aku juga adalah mana yang mengalir di dalam dirimu. Jadi, kamu tinggal minta tolong padaku untuk mengatur jumlah mananya.)

(...!? Apa hal seperti itu benar-benar mungkin?)

(Tentu saja. Mungkin saat kamu sudah dewasa nanti, kamu tidak butuh lagi bantuan kendaliku. Tapi untuk sekarang, lebih baik mengandalkanku. Jika kamu sembarangan melepaskan mana yang tertidur di dalam dirimu, 'Wadah'-mu sendiri bisa hancur seperti sebelumnya.)

Kehancuran wadah. Artinya, tubuhku bisa rusak karena manaku sendiri.

Aku memang ingin kekuatan untuk menghadapi niat jahat yang mengancam, tapi akan sia-sia jika aku malah hancur oleh manaku sendiri.

(Baiklah, Memory. Aku mohon bantuanmu.)

(Sip. Mohon bantuannya lagi ya, Reed.)

(Lalu, apa yang harus kulakukan setelah ini? Aku sudah hampir mencapai batas...)

Mengatur jumlah mana dalam Second Form rasanya seperti mencoba mengecilkan lubang besar yang baru saja kaubuat sendiri pada tangki air raksasa yang penuh.

Tentu saja, jika aku kalah kuat oleh desakan air yang meluap, teknik ini akan gagal.

Selama berbicara dengan Memory di dalam hati pun, aku terus menahan sensasi itu untuk mengecilkan 'lubang' tersebut, tapi tenagaku mulai habis.

(Fufu, benar juga. Saat kamu berniat mengaktifkan Body Enhancement: Second Form, panggillah namaku di dalam hatimu. Dengan begitu, aku akan membantu mengendalikan mananya.)

(Begitu ya. Kalau begitu, aku mohon sekali lagi, Memory.)

(Oke, serahkan padaku.)

Begitu aku memanggil namanya, mana yang mengalir di dalam diriku tiba-tiba mulai stabil.

Kemudian, kekuatan besar yang jelas berbeda dari sebelumnya mulai mengalir di sekujur tubuhku.

Sepertinya aku sempat menahan napas tanpa sadar, karena begitu tersadar aku langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Hah... hah..."

"Melihat kondisimu, sepertinya kamu sudah bisa mengendalikannya."

"Iya, Memory telah membantuku."

Alis Ayah terangkat sedikit.

"Hm? Apa katamu?"

"Ah, tidak, maksudku berkat ujung jari Ayah yang menempel di dahi tadi, aku jadi bisa berkonsentrasi. Terima kasih banyak."

"Mu... begitu ya."

Sambil mengangguk dengan wajah yang tampak sedikit senang, Ayah berdeham untuk mengalihkan topik.

"Nah, selanjutnya kita akan melakukan latihan tanding sambil mempertahankan wujud Second Form agar tubuhmu terbiasa, tapi..."

Setelah menatapku, Ayah mengangguk pelan.

"Sepertinya untuk hari ini sudah tidak mungkin ya."

"Mohon maaf."

Aku menunduk dengan nada menyesal, namun pertimbangan beliau sangat membantuku. Sejujurnya, aku sudah terengah-engah dan berdiri saja sudah merupakan perjuangan. Mungkin sudah lama aku tidak merasa selelah ini.

Setelah disuruh duduk istirahat di tempat, aku menjatuhkan diriku ke tanah. Ayah kemudian mengalihkan pandangannya kepada Diana dan Capella.

"Kalian berdua seharusnya bisa menggunakan Body Enhancement: Second Form, namun tetap kesulitan menghadapi Kitsune-jin yang melakukan Beastification (Transformasi Binatang), ya."

"……Mohon maaf. Seperti yang Anda katakan."

"Aku tidak sedang menyalahkan kalian. Lagipula, Beastification adalah sihir penguatan khas Beastkin. Meski menggunakan Second Form, keadaan bisa menjadi sulit tergantung kemampuan lawan. Terlepas dari itu, saat Kitsune-jin tersebut bertransformasi, ada berapa ekornya?"

"Pemuda Kitsune-jin bernama Rosen yang saya hadapi, pada akhirnya memiliki empat ekor."

"Gadis bernama Lilie juga sama."

Mendengar jawaban datar dari Diana dan Capella, Ayah mengangguk paham lalu kembali menatapku.

"Sosok bernama 'Claire' yang kau hadapi, yang diduga pemimpin para penyerang, kau bilang dia punya enam ekor ya."

"Benar. Aku sempat bertarung bersama Almond, anak Kitsune-jin yang punya tiga ekor saat bertransformasi, namun kami berdua sama sekali tidak berdaya melawannya."

Mengingat kejadian itu, tanganku refleks mengepal dan gemetar.

"Keberanianmu untuk menghadapi lawan dengan perbedaan kekuatan sebesar itu, dan fakta bahwa kamu bisa bertahan hidup, sungguh luar biasa. Pengalaman itu pasti akan berguna bagimu di masa depan."

Ayah meletakkan tangannya dengan lembut di atas kepalaku.

"……?"

Saat aku mendongak, kulihat ada binar kecemasan dan kelegaan di mata Ayah. Kalau dipikir-pikir, Claire bisa saja membunuhku kapan pun dia mau.

Namun, mungkin karena aku menghadapinya secara terang-terangan, sebuah jalan hidup pun terbuka.

Dia seolah-olah menemukan mainan baru, dan melepaskanku karena dia merasa menyukaiku dalam arti tertentu.

Jika saat itu aku menunjukkan sikap pengecut dan melarikan diri, mungkin aku benar-benar sudah dibunuh.

Memikirkan hal itu, kata-kata Ayah bahwa aku 'bisa bertahan hidup' terasa sangat berat maknanya.

Rasa sesal kembali membuncah hingga aku menunduk, namun Ayah menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut.

"Kamu masih anak-anak. Tapi, kamu adalah anak yang penuh bakat. Mulai sekarang, kamu akan terus menjadi kuat. Bahkan suatu saat nanti, kamu akan melampauiku."

"Ayah..."

"Namun, jangan terburu-buru. Oleh karena itu, aku juga akan memberitahumu tentang tingkatan setelah Body Enhancement: Second Form."

"Eh... ada tingkatan setelah Second Form?"

"Astaga, setiap bicara soal sihir kamu pasti langsung bersemangat begini. Dengar, Reed. Tingkatan setelah Second Form memang ada, tapi beban yang diterima tubuh akan jauh lebih besar lagi. Pertama-tama, kuasailah Second Form dulu."

"Ba-baik, saya mengerti. Tapi, itu, agar saya punya target, saya ingin melihatnya sekali saja."

Meski agak ciut melihat wajah Ayah yang bersiap memberikan ceramah, aku memberanikan diri meminta sambil memasang wajah memelas.

Ini adalah trik yang sering digunakan Mel, dan Ayah memang lemah terhadap tatapan memelas kami.

Meski trik ini jarang mempan pada Ibu. Ayah menghela napas panjang.

"Yah, memang dari awal aku berniat menunjukkannya sih."

"Terima kasih banyak!"

"Fuu, aku memang terlalu memanjakanmu. Menjauhlah sedikit."

Begitu aku berlari mendekati Diana dan Capella, Ayah mengambil napas dalam dan berkonsentrasi.

"……Baiklah, rasanya sudah pas."

Begitu Ayah bergumam, gelombang mana yang lebih kuat dan lebih panas dari sebelumnya meledak ke segala arah.

Debu beterbangan dengan dahsyat hingga pandangan menjadi kabur. Tanpa sadar, aku menyilangkan kedua lenganku di depan wajah untuk melindungi diri.

Saat gelombang mana yang mengamuk mulai mereda, aku perlahan menurunkan lenganku. Begitu sosok Ayah terlihat, aku tersentak kaget.

Sama seperti Body Enhancement: Second Form, mana di sekujur tubuhnya bergoyang-goyang seperti uap panas, namun kali ini mana tersebut berwarna merah.

Terlihat seolah-olah beliau sedang diselimuti oleh api.

"L-luar biasa..."

Di tengah rasa terpana dan takjubku, Ayah berjalan dengan tenang menghampiriku.

"Ini adalah teknik yang menggabungkan Body Enhancement: Second Form dengan atribut api, yang disebut Body Enhancement: Blazing Fire."

"Menggabungkan Second Form dengan atribut... Body Enhancement: Blazing Fire, ya?"

Rasa ingin tahuku tak ada habisnya mendengar sesuatu yang melampaui imajinasiku ini. Dadaku berdegup kencang karena semangat penelitian dan rasa penasaran.

Mengetahui keberadaan Body Enhancement: Second Form saja sudah mengejutkan, tapi ternyata sihir masih memiliki kedalaman yang luar biasa.

Saking bersemangatnya, aku sampai melupakan rasa lelahku tadi dan mencoba menyentuh mana yang bergoyang seperti api merah di tubuh Ayah. Ternyata, aku tidak merasakan panas yang berarti.

"Wahhh~"

Sambil mengagumi, aku meraba-raba tubuh Ayah di sana-sini, tapi tidak ada perubahan fisik yang nyata. Saat aku sedang asyik mengobservasi, terdengar suara Ayah berdehem.

"Ah, m-maaf. Aku terlalu bersemangat."

"Kamu ini... benar-benar hilang kendali kalau sudah bicara soal sihir, ya."

Ayah menghela napas lalu melanjutkan penjelasannya.

"Selama mengaktifkan Body Enhancement: Blazing Fire, kekuatan 'Sihir Atribut Api' pengguna akan meningkat, dan mendapatkan penguatan fisik yang melebihi Second Form. Serangan ringan bahkan bisa ditangkis dengan mana yang menyelimuti tubuh ini. Namun sebagai gantinya, konsumsi mana dan beban pada tubuh jauh lebih besar. Karena itu, teknik ini tidak akan digunakan kecuali menghadapi lawan yang sangat tangguh."

"Begitu ya..."

Body Enhancement biasa dan Second Form hanya meningkatkan kemampuan fisik pengguna melalui mana.

Sedangkan Body Enhancement: Blazing Fire, dengan menggabungkan penguatan fisik dan atribut yang dimiliki pengguna, mampu meningkatkan kemampuan fisik melampaui Second Form.

Selain itu, kekuatan sihir atribut dan pertahanan juga meningkat. Bisa dibilang, teknik ini juga memiliki efek seperti sihir pendukung. Tiba-tiba sebuah ide muncul, dan aku sengaja menatap Ayah dengan pandangan memohon.

"Ayah. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana teknik itu menangkis serangan. Bolehkah aku melepaskan sihir yang lemah?"

"Yah, aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu. Baiklah, cobalah sesukamu."

"Aha! Terima kasih, Ayah. Kalau begitu, aku akan segera mencobanya."

Aku mengambil jarak sedikit, lalu segera melepaskan Water Spear dengan kekuatan yang dikurangi. Ayah mengulurkan tangan kanannya dan menangkap tombak air tersebut. Seketika, Water Spear itu lenyap seolah-olah menguap.

"Hebat... benar-benar hebat."

"Umu. Saat kamu sudah bisa menguasai Second Form sepenuhnya, inilah targetmu selanjutnya. Target yang bagus, bukan?"

"Iya!"

Setelah Second Form, kini aku mengetahui tentang Blazing Fire. Kegembiraan dan antusiasmeku sudah mencapai puncaknya. Meskipun mungkin mustahil, aku ingin mencoba menantang Blazing Fire.

"Baiklah..."

Aku menarik napas dalam dan mulai berkonsentrasi.

"Tapi Reed, Body Enhancement: Blazing Fire ini seperti yang kubilang tadi..."

Ayah yang sudah menonaktifkan penguatannya mengatakan sesuatu, tapi suaranya tidak sampai ke telingaku yang sedang fokus.

Aku mulai membayangkan dengan jelas di dalam benakku tentang aktivasi Second Form dan sosok yang diselimuti 'api' seperti Ayah.

Tapi, ini saja tidak cukup... aku harus mencampurkan sensasi mengaktifkan Second Form dan Fire Spear secara bersamaan, menyatukan mana yang ada di dalam diriku.

"Hm? Reed, apa kamu mendengarkan bicaraku?"

Pada saat itu, secara intuitif aku merasa, 'Kalau begini pasti bisa.'

"...Body Enhancement: Blazing Fire!"

Detik berikutnya, rasa panas yang seolah membuat darah mendidih membuncah dari dalam tubuhku.

Kemudian, gelombang mana yang terasa panas meledak dengan aku sebagai pusatnya, persis seperti saat Ayah mengaktifkannya tadi.

"Apa-apaan...!?"

"Tuan Reed!?"

Aku mendengar suara semua orang, tapi aku tidak punya kelonggaran untuk merespons.

Rasa panas yang keluar dari dalam membuatku merasa seolah tubuhku sedang terpanggang.

Namun, aku yakin bahwa melampaui rasa ini adalah kunci dari Body Enhancement: Blazing Fire.

(Memory!)

Saat aku memanggilnya di dalam hati, suara yang terdengar sangat jengah bergema di kepalaku.

(Reed. Kamu selalu saja berbuat nekat. Sudah kubilang, kan? Wadahmu tidak akan kuat.)

(Ahaha, maaf ya. Tapi karena ada kamu, aku merasa ini pasti bisa dilakukan.)

(Haa... aku akan membantumu. Tapi setelah itu, aku tidak mau tahu ya.)

Setelah percakapan berakhir, rasa panas yang memancar dari dalam mulai mereda dan menjadi stabil. Saat tersadar dan melihat tanganku sendiri, aku menyadari bahwa mana berwarna merah sedang bergoyang-goyang di sana.

"Berhasil... Ayah, lihat. Aku berhasil mengaktifkan Body Enhancement: Blazing Fire!"

"A...!?"

Ayah dan Diana serta yang lainnya membelalakkan mata, terpaku tak percaya. Tanpa ragu lagi, aktivasi Body Enhancement: Blazing Fire telah sukses.

"Aku berhasil menguasai Body Enhancement: Second Form dan Blazing Fire!!!"

Saking gembira dan bersemangatnya, aku mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi ke langit.

Namun detik berikutnya, Body Enhancement: Blazing Fire tiba-tiba terlepas tanpa sengaja. Rasa lemas yang luar biasa dan pusing hebat menyerangku, hingga pandanganku mulai berbayang.

"A-are...?"

Aku refleks memegang dahi, namun aku tidak bisa mempertahankan posisi berdiriku dan jatuh terhuyung-huyung.

"Reed!"

Tepat sebelum jatuh ke tanah, aku sudah didekap dalam pelukan Ayah.

"Bodoh! Sudah kubilang kalau Blazing Fire mengonsumsi mana jauh lebih banyak dari Second Form, dan beban pada tubuh juga sangat besar!"

"Ahaha. Mohon maaf."

Meskipun beliau marah seperti api yang berkobar, mataku bisa melihat gurat kecemasan di mata Ayah.

"Ini adalah sesuatu yang sudah kusiapkan untuk berjaga-jaga. Minumlah."

Ayah mengeluarkan Mana Recovery Potion dari balik sakunya.

"I-iya..."

Di tengah kesadaran yang mulai kabur, aku memasukkan obat tablet itu ke mulut. Diana yang bersiaga di samping segera memberikan segelas air dari botol minumnya.

"Tuan Reed, silakan."

"Terima kasih."

Aku menelan tiga tablet obat pemulih mana itu dengan air yang diberikan.

Tak lama kemudian, kesadaranku yang tadinya kabur mulai pulih, meski rasa lemas di tubuhku tidak hilang.

Melihat warna wajahku yang sedikit membaik, Ayah menghela napas lega.

"Sepertinya kamu sudah lebih baik. Aku akui, keberhasilanmu mengaktifkan Body Enhancement: Blazing Fire itu luar biasa. Tapi, kalau salah sedikit saja, nyawamu bisa melayang, tahu!"

"Ugh..."

Dalam dekapan Ayah, aku ciut melihat wajahnya yang menyeramkan seperti iblis dari jarak sedekat itu. Rasanya aku ingin menangis sedikit.

"Kalau kamu berbuat nekat lagi, aku akan melarang semua penelitian sihirmu. Mengerti?"

"I-iya. Saya mengerti."

Ini murni kesalahanku karena terlalu gegabah. Saat aku mengangguk patuh, Ayah langsung menggendongku dengan kedua tangannya. Istilahnya, gendongan ala putri (princess carry).

"A-Ayah. I-ini sedikit memalukan."

"Apa katamu? Kamu tidak sadar sudah seberapa besar membebani tubuhmu? Demi keamanan, aku akan membawamu begini sampai ke kamarmu di kediaman utama. Kalau mataku lepas darimu sedikit saja, aku tidak tahu lagi hal nekat apa yang akan kamu lakukan."

"Tu-tunggu dulu..."

Dilihat oleh semua orang di kediaman saat digendong seperti putri... membayangkannya saja sudah membuat wajahku panas karena malu.

Tapi, Ayah tetap bersikukuh dan tidak mau mengalah. Saat aku pasrah dan menunduk, Ayah mengalihkan pandangannya pada Diana.

"Maaf, tolong segera hubungi Sandra dan katakan padanya bahwa Reed berbuat nekat dengan sihirnya. Aku ingin dia segera memeriksanya."

"Dimengerti."

Setelah Diana membungkuk hormat, Ayah mengalihkan pandangan pada Capella.

"Sampaikan pada Farah bahwa Reed telah berbuat nekat. Dan katakan padanya, sebagai calon istri, dia harus memberinya teguran keras."

"Baik, saya laksanakan."

Capella juga membungkuk, tapi aku tersentak kaget mendengar instruksi itu dan menatap Ayah.

"Kenapa jadi begitu!?"

"Karena kamu sudah berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama. Ini agar di masa depan kamu tidak berbuat nekat lagi, aku hanya menutup semua jalan pelarianmu. Renungkanlah baik-baik perbuatanmu itu."

"Uuu..."

Aku tidak bisa membantah sama sekali. Saat aku tertunduk lesu, sudut bibir Ayah terangkat sedikit.

"Fumu. Sepertinya kali ini kamu benar-benar tidak bisa berkutik, ya."

"...Guh."

Saat aku menggembungkan pipi karena kesal, Ayah malah tertawa terbahak-bahak.

Dan akhirnya, aku benar-benar dibawa menuju kediaman dengan gendongan ala putri.

Benar-benar gawat. Aku pasti akan diejek habis-habisan oleh Mel dan yang lainnya.

"Terlepas dari bagaimana prosesnya, bisa mengaktifkan Body Enhancement: Blazing Fire dengan kekuatan sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan. Benar-benar putraku... yang mewarisi darah Baldia."

"...!? E-eh, itu, terima kasih banyak."

Mendapat pujian tiba-tiba, aku tidak tahu harus merespons bagaimana. Karena malu, aku menjawab sambil menutupi wajah.

Namun, hatiku terasa sangat hangat, dan rasa bahagia perlahan mulai meluap. Karena malu, aku tertawa kecil diam-diam agar tidak ketahuan.

Dalam perjalanan pulang, saat aku mencoba meminta beliau mengulangi kata-kata tadi sekali lagi, Ayah hanya tertawa kecut sambil berkata, "Yah, kapan-kapan saja."

Begitu sampai di kediaman, semua orang yang melihatku digendong ala putri oleh Ayah, seperti yang sudah kuduga, langsung membelalakkan mata mereka.

Wajahku panas karena rasa malu. Pasti wajahku sudah merah padam sekarang. Puncaknya, Mel juga melihat dengan jelas sosokku yang sedang digendong ala putri itu.




"Wah~ Kalau digendong begitu, Kakak jadi terlihat sangat imut, seperti seorang putri yang sedang menyamar jadi laki-laki ya!"

"Fufu. Benar kata Mel, mungkin memang terlihat seperti itu."

"Menyamar apa maksudnya. Aku ini anak laki-laki tulen, tahu!"

Aku menatap Ayah dengan pandangan sebal karena beliau malah ikut-ikutan meledekku, tapi Ayah hanya tertawa.

Begitu sampai di kamar, Ayah membaringkan tubuhku perlahan di atas tempat tidur.

"Untuk urusan ganti baju, aku akan instruksikan pada Diana atau Danae."

"Kalau cuma ganti baju, aku bisa melakukannya sendiri kok."

Saat aku mencoba bangkit untuk duduk, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. "Ugh...!?" Aku pun meringis kesakitan.

"Sudah kuduga. Beban yang diterima tubuhmu pasti sangat berat. Sepertinya untuk sementara kamu tidak akan bisa bergerak."

Ayah menatapku dengan sorot mata penuh kecemasan.

"Mohon maafkan aku."

Merasakan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuh, barulah aku menyadari betapa gegabahnya aku saat mengaktifkan Body Enhancement: Blazing Fire tadi.

Benar-benar deh, kalau salah langkah sedikit saja, mungkin hal yang sangat buruk sudah terjadi.

"Akhirnya kamu paham juga betapa seriusnya hal ini."

Ekspresi Ayah melunak, lalu beliau melanjutkan bicaranya.

"Masih ada sedikit waktu sampai Sandra tiba. Sebaiknya kamu tidur sebentar."

"Iya, aku akan melakukannya. Ayah sendiri mau bagaimana?"

Mendengar pertanyaanku, Ayah mengusap kepalaku dengan lembut.

"Aku mengkhawatirkan kondisimu. Jadi, aku berniat untuk tetap di sini menemanimu sebentar."

Mendengar kata-kata itu, sepertinya benang keteganganku putus. Seketika itu juga, rasa kantuk yang sangat berat menyerangku.

"Terima... kasih... A... yah..."





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close