NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 1 Interlude 1

Catatan Pengadilan Kerajaan

Xylo Forbartz


Xylo Forbartz. Komandan Divisi Kelima Orde Ksatria Suci Kerajaan Perserikatan.

—Seseorang membacakan gelar jabatanku seperti itu.

Suaranya sangat dingin hingga membuatku depresi. Aku hanya mendengarkan pengantar panjang yang menyerupai rapalan mantra itu dengan setengah melamun. Jika tidak melakukannya, rasanya aku bisa langsung memukul mati seseorang saat ini juga.

"Terdakwa, Xylo Forbartz."

Seseorang kembali memanggil namaku.

Dia adalah Inkuisitor. Inkuisitor adalah ketua dalam pengadilan kerajaan, sekaligus pemegang otoritas tertinggi. Jabatan ini diwajibkan untuk diisi oleh anggota keluarga kerajaan dari Kerajaan Perserikatan.

Aku tidak tahu dia dipilih dari keluarga kerajaan yang mana di antara kelima garis keturunan yang ada, tapi dia pasti berasal dari keluarga yang cukup terpandang.

Pasalnya, ini adalah pengadilan Goddess Killer pertama dalam sejarah.

"—Xylo Forbartz. Kamu memimpin Orde Ksatria Suci milikmu sendiri, dan sejak malam sebelum hari kejadian, kamu mendekati Fenomena Raja Iblis Nomor 11."

Aku tidak bisa melihat wajah Inkuisitor yang melanjutkan bicaranya itu. Sebuah kain penutup tipis menghalangi pandanganku dengan Inkuisitor serta jajaran komite pemeriksaan.

Beginilah sistem pengadilan di Kerajaan Perserikatan.

Awalnya, Kerajaan Perserikatan terbentuk dari penyatuan sekitar lima negara. Saat itu, mereka mengambil sistem dari masing-masing negara hingga menetap menjadi bentuk seperti ini.

"Lalu, sebelum fajar menyingsing. Kamu bersama Goddess Senelva terlibat dalam pertempuran. Tidak ada kesalahan dalam laporan ini, bukan?"

Meskipun bernada mutlak, dia tetap bertanya padaku.

Saat itu seluruh tubuhku dililit rantai, tertahan hampir menyerupai binatang, namun hanya penutup mulutku yang dilepaskan. Karena itu, aku berpikir bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi padaku—betapa bodohnya aku.

"Tidak ada kesalahan dalam laporan itu."

Aku menjawab dengan jujur.

"Aku bertarung melawan Fenomena Raja Iblis Nomor 11. Itu sangat berat, lagipula bantuan yang dijanjikan tidak kunjung datang."

"Terdakwa hanya boleh menjawab pertanyaan saja."

Inkuisitor memotong perkataanku. Ada nada ketidaksenangan di sana.

"Kami lanjutkan konfirmasi faktanya. Terdakwa yang membawa ksatria suci bawahan serta Goddess, melakukan pertempuran atas keputusan sepihak, dan menyebabkan kerusakan fatal dalam pertempuran tersebut. Tidak ada kesalahan dalam laporan ini—"

"Ada."

Ucapku dengan tegas.

"Bukan keputusan sepihak. Ada perintah."

"Benteng Galtuille tidak pernah mengeluarkan perintah. Tidak ada catatan seperti itu."

"Itu bohong."

Aku bisa menegaskannya.

Utusan yang memacu kudanya dengan cepat itu membawa surat perintah resmi. Itu adalah surat perintah dari markas komando Galtuille yang dibuktikan dengan Segel Suci yang terukir di sana.

"Katanya ada pasukan kawan yang terisolasi dan butuh penyelamatan. Makanya kami segera bergerak. Menurut surat perintah itu, Infanteri 7110 wilayah Yutobu—"

"Unit seperti itu tidak pernah ada."

Inkuisitor berucap dengan nada mengeram. Atau mungkin ada nada mengintimidasi di dalamnya.

"Kamu, atas keputusan sepihak, haus akan jasa, dan memaksakan pertempuran nekat kepada bawahan serta Goddess milikmu."

"Salah. Aku—"

"Sejak dulu, unitmu sering terlihat melakukan tindakan semena-mena. Aku juga mendengar bahwa kamu melakukan berbagai pelanggaran demi mendapatkan kedudukanmu yang sekarang."

Baru saat itulah aku mengerti apa yang membuat Inkuisitor merasa tidak senang. Apa keberadaanku sendiri memang menjijikkan baginya?

"Ini medan perang. Ada kalanya penilaian di lapangan sangat dibutuhkan, dan aku punya wewenang itu."

"Itu wewenang yang diberikan oleh Keluarga Kerajaan Perserikatan. Kamu sudah salah menyalahgunakannya. Terlebih lagi, pada akhirnya, kamu—"

Inkuisitor menghentikan kata-katanya sejenak, seolah-olah hal itu terlalu mengerikan untuk diucapkan.

"Membunuh Goddess Senelva. Ini pun tidak ada kesalahan, kan?"

"Tidak salah."

Begitu aku menjawab, kegaduhan mulai terdengar.

Itu berasal dari balik kain penutup. Aku tahu jajaran komite pemeriksaan yang berbaris di sana sedang saling berbisik satu sama lain.

"Tapi itu karena tidak ada cara lain. Pasukan yang diperintahkan untuk diselamatkan itu tidak ada, dan bala bantuan yang seharusnya bergabung pun tidak datang. Kami terisolasi dan—"

"Mana mungkin mereka datang. Sejak awal perintah itu tidak pernah ada, dan itu semua adalah keputusan sepihakmu."

"Salah!"

Begitu aku berteriak, para komite pemeriksaan menjadi semakin gaduh.

"Senelva—Goddess itu sudah mencapai batasnya. Dia telah kehabisan kekuatan. Demi dipuji oleh kami, dia terpaksa bertarung mempertaruhkan nyawanya."

"Itu adalah tanggung jawabmu. Kamu bertempur demi ambisi pribadimu."

"Senelva mengira dia akan sangat berterima kasih oleh pasukan yang dia selamatkan."

Aku sudah mengabaikan kata-kata Inkuisitor. Aku tidak peduli lagi.

Lebih dari itu, aku berpikir harus menyampaikan apa yang terjadi saat itu—demi Senelva. Tentang apa yang coba dia lindungi dengan nyawanya.

"Apa ada di antara kalian yang tahu apa yang terjadi jika seorang Goddess kehilangan kekuatannya? Dia akan melemah dan tidak berdaya. Dia akan dicemari oleh Fenomena Raja Iblis."

"Kejadian seperti itu tidak pernah dilaporkan. Kemungkinan itu juga telah dibantah oleh Kuil."

"Apa kalian bodoh? Orang-orang Kuil mana mungkin mau mengakui hal semacam itu."

Aku tahu alasannya. Orang-orang di Kuil memiliki dogma.

Seorang Goddess haruslah sempurna. Jika berpikir berdasarkan dogma itu, kurasa itu adalah fakta yang tidak boleh mereka akui. Namun, pihak militer—para prajurit yang bertarung melawan Fenomena Raja Iblis di dunia nyata—perlu mempertimbangkan hal itu.

Saat ini, yang kuharapkan adalah pihak militer. Jika militer, aku pikir mereka bisa mempertimbangkan seberapa besar ancaman dari kesaksianku ini. Fakta mengenai Goddess yang berada di ambang kematian, hal yang belum pernah dicoba sebelumnya dan bahkan tidak diizinkan untuk diucapkan.

Ini seharusnya membawa perubahan besar bagi penggunaan Goddess di masa depan.

"Sudahlah, dengarkan ceritaku! Tidak ada keberadaan yang lebih berbahaya daripada Goddess yang telah dicemari oleh Fenomena Raja Iblis."

Bahkan ada kemungkinan lahirnya Raja Iblis yang menggunakan kekuatan Goddess. Hanya hal itu yang harus dihindari.

"Senelva menyadari hal itu. Pencemaran sudah dimulai, karena itu, aku—"

"Inkuisitor."

Salah satu komite pemeriksaan angkat bicara.

Suaranya terdengar tenang, namun sangat jelas. Aku ingat suara itu. Suara yang membekas di gendang telingaku, yang tidak pernah kulupakan.

"Terdakwa terus-menerus melontarkan pernyataan yang menistakan Goddess yang suci. Konfirmasi fakta mengenai poin-poin penting sudah selesai dilakukan. ...Setelah ini, kurasa pernyataannya harus dilarang."

"Sepertinya memang begitu."

Inkuisitor mengangguk dengan sangat berat menanggapi ucapan komite pemeriksaan.

Dari percakapan itu, ada satu hal yang aku sadari. Apa yang terjadi di pengadilan ini sudah diputuskan sejak awal. Ini tak lebih dari sekadar panggung sandiwara. Sudah terlambat bagiku untuk menyadarinya sekarang.

"Tunggu dulu. Kalian harus mendengarku!"

Sambil kedua sisiku dipegang erat oleh pengawal, aku meninggikan suaraku.

"Ini akan menjadi masalah gawat! Aku tidak tahu keuntungan apa yang didapat! Baik di Kuil maupun Militer, ada orang di tingkat atas yang merencanakan sandiwara seperti ini."

Kedua bahuku ditekan dan aku dihantamkan ke lantai. Sangat kuat. Kepalaku terasa pening.

"Ini bukan saatnya mengurusi orang sepertiku, cepat temukan mereka secepat mungkin—"

Lalu dampak fisik lainnya datang. Kesadaranku hampir hilang lagi. Penutup mulut dipaksakan masuk. Saat aku menggelengkan kepala untuk menolak, aku dipukul lagi.

"Temukan mereka..."

Aku, Orde Ksatria Suci milikku, dan mereka yang menjebak Senelva.

"Aku pasti akan membunuh kalian."

"—Apa katamu?"

"Ah?"

Tiba-tiba, sebuah suara menyapaku dari atas kepala.

Dari langit? Bukan. Aku hanya sedang berbaring—di atas tempat tidur tahanan yang sangat sederhana.

Aku mengerjapkan mata dan melihat sekeliling. Ruangan sempit. Jeruji besi. Dinding batu tanpa jendela.

Dilihat dari mana pun, ini adalah penjara. Ruangan yang diberikan padaku. Kamar yang diizinkan untuk digunakan oleh Unit Pahlawan umumnya hanya ruangan semacam ini.

"Apa kamu sedang memimpikan sesuatu?"

Yang menatapku dari atas adalah seorang gadis berambut emas yang tidak cocok dengan ruangan semacam ini.

Yaitu Goddess Teoritta. Dia membusungkan dadanya dengan angkuh, bahkan sampai melipat tangan.

"Seorang pria yang tampak lemah bernama Benetim menyuruhku untuk membangunkanmu. Bersyukurlah, dan pujilah aku."

"Begitu ya. Dia hebat juga, ya, terima kasih bantuannya."

Aku berucap sambil tetap berbaring.

"Beri tahu Benetim aku akan segera ke sana."

"Itu tidak bisa. Jika aku melepaskan pandanganku, kamu pasti akan tidur lagi."

"Benar sekali."

"Kejujuran adalah kebajikan, tapi bukan berarti jujur saja sudah cukup! Selain itu, pujilah aku lebih sungguh-sungguh karena sudah datang membangunkanmu!"

"Ya, ya."

Aku mengerang. Benar-benar pembicaraan yang membuatku tidak bersemangat.

Fakta bahwa Benetim mengumpulkan kami berarti misi berikutnya akan dimulai. Mungkin saja segera setelah ini. Mematahkan seluruh tulang Dotta memang berlebihan—kali ini aku akan dipasangkan dengan kelompok yang lebih merepotkan.

Aku sudah bisa merasakan tandanya. Karena dari kejauhan di ujung lorong, terdengar suara teriakan. Teoritta mengerutkan dahi dan menoleh ke arah sana.

"Xylo. Suara teriakan yang terdengar dari tadi itu apa?"

"Itu adalah Yang Mulia Raja."

Teoritta tampak bingung saat aku menjawab sambil menguap.

"Apa maksudnya itu?"

"Ya begitu. Dia memanggil dirinya sendiri Yang Mulia. Mantan teroris yang yakin kalau dirinya adalah raja sebuah negara. Dia adalah teknisi di unit kita."

"Hah...?"

Mengabaikan Teoritta yang masih memasang wajah heran, aku bangun.

Karena ada hal yang harus dikerjakan. Sialan. Rasanya aku sendiri ingin muntah. Meskipun begitu, jika aku tidak melakukannya, Goddess ini akan berisik sepanjang hari.

"Ayo pergi. ...Kerja bagus sudah membangunkan aku, Goddess Teoritta."

"Fufun."

Teoritta menyisir rambut emasnya dengan tangan, seolah bersiap untuk dielus.

"Tentu saja!"

Saat aku mengelusnya dengan sedikit kasar, rambutnya menjadi berantakan, namun dia memasang senyuman yang sangat lebar.

Mungkin gara-gara mimpi tadi—pagi ini, wajah itu terasa menyesakkan bagiku.


Perintah Operasi

Ringkasan Misi Penaklukan Zewangan

SURAT PERINTAH / SEGEL SOLDA KATEGORI I / NO. 01360019

Ditujukan Kepada: Komandan Orde Ksatria Suci Ketiga Belas, PatauscheKivia

Perintah: Misi pengawalan dilanjutkan. Hindari pertempuran sebisa mungkin, dan diperintahkan untuk mengantarkan Goddess Nomor 13 ke Galtuille sesuai jadwal yang ditentukan. Selain itu, penggunaan Pahlawan Hukuman dilarang untuk sementara waktu hingga pemulihan cedera anggota unit selesai.

Disetujui Oleh: Gubernur Jenderal Wilayah Keempat Utara, Ebras Herelc

 

── Instruksi di atas ditarik kembali.

Ditujukan Kepada: Komandan Orde Ksatria Suci Ketiga Belas, Patausche Kivia

Perintah: Misi pengawalan dihentikan. Dengan ini diperintahkan misi baru untuk penaklukan Terowongan Zewan-Gun. Selain itu, Goddess Nomor 13 serta Unit Pahlawan Hukuman berada di bawah pengawasan Orde Ksatria Suci Ketiga Belas, dan harus digunakan untuk mendukung pengamanan wilayah.

Disetujui Oleh: Pelaksana Tugas Gubernur Jenderal Wilayah Keempat Utara, Simreed Colmadino

Alasan Penarikan Instruksi: Peninjauan kembali kebijakan dikarenakan dugaan pengkhianatan serta kematian pemberi persetujuan di atas.







Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close