Hukuman
Pasokan Logistik Darurat Kelpressie 1
Kemunculan Tuan
Putri Ketiga, Melneatis, memberikan efek yang luar biasa dalam rapat militer
tersebut.
Bisa dikatakan,
keberadaan dirinya saja sudah cukup untuk mematahkan argumen Aliansi Bangsawan.
Selama mereka masih bersumpah setia pada Keluarga Kerajaan Serikat dan hak atas
wilayah mereka dijamin oleh kerajaan, Aliansi Bangsawan tidak punya pilihan selain
bungkam. Mereka tidak bisa mengabaikan keabsahan tuntutan Melneatis. Dalam
situasi ini, jika mereka memisahkan diri sambil membawa prajurit yang masih
sanggup bertempur, entah berapa banyak kecaman yang akan mereka terima
nantinya.
Tindakan semacam
itu sama saja dengan menjadikan Pasukan Ksatria Suci, para Goddess, dan
pihak Kuil sebagai musuh.
"……Apa pun
yang terjadi, kita akan merebut Gunung Toujin," ucap Horde akhirnya.
Rapat sempat
dihentikan sejenak untuk pembicaraan tegang antara Horde, para bangsawan, dan
sang Tuan Putri sebelum akhirnya dimulai kembali. Tentu saja, tidak ada celah
bagi kami untuk ikut campur dalam percakapan itu. Hasilnya, aku benar-benar
merasa bosan, sementara Venetim bahkan hampir jatuh tertidur.
"Jika kita
bergerak maju... seperti kata para Prajurit Hukuman ini, para Raja Iblis tidak
punya pilihan selain mengejar. Begitu kita mengamankan Gunung Toujin, justru
merekalah yang akan terisolasi. Membasmi dua entitas yang tersisa pun akan
menjadi mudah."
Sambil berbicara,
Horde mengarahkan pandangannya padaku dan Venetim.
Hanya sekali. Itu
pun dengan sorot mata yang sangat tajam. Seolah ada rasa tidak suka yang
tersirat di sana, menegaskan bahwa dia sama sekali tidak sudi mengakui kami.
"Bagaimana
menurut Anda, Yang Mulia Melneatis?" Horde segera mengalihkan pandangannya
kembali pada Melneatis. "Apakah pengiriman unit logistik dan Pasukan
Ksatria Suci ke titik pertemuan bisa dikabulkan?"
"Ya. Aku
akan memintanya atas namaku dan adik laki-lakiku."
Melneatis
mengangguk, lalu mengusap cincin di tangan kanannya.
Itu
adalah cincin dengan ukiran segel keluarga kerajaan—aku pernah mendengar
selentingan tentangnya. Katanya, cincin itu sendiri adalah sebuah Seal,
dan mampu membubuhkan 'tanda' khusus pada dokumen yang hanya bereaksi terhadap
garis darah kerajaan.
"Melihat
situasi saat ini, kemungkinan besar Pasukan Ksatria Suci Kedelapan yang akan
datang."
Serius? Aku
mencoba tetap diam dan memasang wajah datar, tapi sepertinya aku gagal.
Pasukan Ksatria
Suci Kedelapan—sang Goddess 'Bayangan' Kelflora dan Ksatria Suci-nya.
Sejujurnya, mereka adalah tipe orang yang paling tidak kusukai. Aku sudah
merasa tidak akan bisa akur dengan mereka. Aku teringat sorot mata Ksatria Suci
mereka yang sinis dan penuh sandiwara. Lalu, tatapan dingin dan jengah dari
sang Goddess.
"Kalau
begitu, kita bergerak maju dengan kecepatan maksimal. Begitu kita memiliki
pijakan di gunung, menghadang musuh akan jadi mudah. Tentu saja, para Raja
Iblis akan melakukan pengejaran. Ditambah dengan sisa-sisa pasukan tentara
bayaran yang kabur ke barat, diperkirakan akan terjadi serangan yang
sengit."
Dengan kata lain,
jika kami bisa menahan serangan itu, hampir tidak ada lagi penghalang untuk
merebut Gunung Toujin. Kami akan bisa membangun kamp dengan leluasa dan
mengubahnya menjadi benteng.
Oleh sebab itu,
masalahnya adalah...
"……Unit 9004
Prajurit Hukuman. Kalian diperintahkan untuk menahan laju Fenomena Raja
Iblis."
Horde
mengatakannya dengan suara berat.
Mata birunya kali
ini menatapku lurus-lurus. Jika berhadapan seperti ini, dia terlihat masih
sangat muda. Mungkin usianya di bawahku.
"Jangan
biarkan mereka mendekati pasukan utama. Untuk itu, wewenang komando atas
kavaleri dan unit penembak jitu dari mantan Pasukan Ksatria Suci Ketiga belas
akan tetap dipercayakan padamu. Aku serahkan cara bertarungnya padamu, tapi
lakukanlah sambil terus bergerak. Ada pertanyaan?"
Artinya aku harus
melakukannya dengan jumlah pasukan yang sama seperti pertempuran tadi malam? Total kavaleri dan penembak jitu
tidak sampai empat ratus orang. Ini benar-benar terlalu sedikit. Karena itu, aku menyikut lengan Venetim.
"……Anu, Xylo-kun.
Kode sikutanmu itu rasanya sakit sekali, lho... Tidak bisakah kau lebih lembut
sedikit?"
"Ini sudah
sangat lembut. Cepat lakukan sesuatu," bisikku pelan.
Wajah Venetim
tampak mual. "Tentara, ya? Anu... kira-kira butuh berapa banyak...?"
"Aku mau dua
kali lipat. Pertama unit zeni, tidak perlu teknisi, dua ratus orang saja cukup.
Yang penting mereka cukup cekatan. ……Bagaimanapun juga, Norgalle terluka. Kami
butuh 'tangan dan kaki' yang bisa mendengar instruksinya lalu
menjalankannya."
"……A-ada
lagi? Apa itu saja tidak cukup?"
"Infanteri.
Orang-orang yang bisa bergerak selaras dengan penembak jitu. Ini juga minimal dua ratus... kalau boleh
minta lebih, aku mau empat ratus."
"Rasanya
jumlahnya jadi banyak sekali ya……"
"Kuserahkan
padamu."
Venetim menghela
napas sejenak. Lalu, dia bersuara. Tetap dengan suara yang luar biasa keras.
"Mohon maaf
atas kelancangan saya, tapi izinkan saya menyampaikan pendapat! Tuan Komandan
Ksatria Suci. Mengenai kekuatan militer, kami membutuhkan sedikit lagi dukungan
agar bisa menuntaskan operasi ini. Karena—"
"Aku
mengerti."
Di luar
dugaan, Horde mengangguk sebelum Venetim menyelesaikan kalimatnya.
Aku
terkejut—sempat terpikir apakah Venetim akhirnya mendapatkan kemampuan semacam
hipnotis. Namun, melihat wajah Venetim, dia sendiri tampak lebih terkejut
dariku. Entah kenapa dia menunjuk dirinya sendiri, tapi kalau dipikir-pikir
lagi, aku ingin menyebutnya bodoh. Mana mungkin kemampuan khusus semacam itu
bisa bangkit dalam dirimu.
"Akan
kukabulkan, Venetim. Berapa banyak personel yang kalian butuhkan?"
Apakah Horde
sudah mendapatkan kembali ketenangannya? Ataukah dia sudah memiliki kelapangan
hati untuk mendengarkan pendapat kami? Ataukah—
Seolah mendahului
imajinasiku, Horde menoleh ke arah Tuan Putri yang berdiri di belakangnya.
"Ini juga
merupakan keinginan dari Yang Mulia Melneatis."
Kata-kata Horde
itu lebih terdengar seperti sedang meyakinkan para bangsawan di sekitarnya, dan
yang terpenting, meyakinkan dirinya sendiri.
"Sebagai
komandan, aku akan menghargai dukungan bagi kalian yang akan menjalani
pertempuran paling brutal dalam operasi ini semaksimal mungkin. Karena
diperkirakan akan terjadi pertempuran melawan dua Raja Iblis yang tersisa. Jika
hanya soal personel, aku bisa mengaturnya."
"Horde
Krivios. Terima kasih telah menerima pendapat dari orang sepertiku."
Suaranya
tenang dan terkendali. Jelas ada sesuatu yang mendasar yang berbeda darinya
dibandingkan Venetim. Di tengah suasana yang hampir jatuh dalam kekacauan, itu
adalah jenis suara yang membuat siapa pun tanpa sadar akan memasang telinga.
Pemilik
suara itu—Tuan Putri Ketiga Melneatis—mengarahkan wajahnya padaku dan Venetim.
"Aku dan
adikku diselamatkan oleh mereka. Meski mereka tidak mengetahui identitas kami, mereka tetap mengambil
risiko dan datang menolong."
Mendengar
ini, tidak ada yang bersuara. Orang yang punya posisi untuk mendebat kata-kata
anggota keluarga kerajaan di sini hanyalah Horde Krivios, namun meski wajahnya
tampak masam, dia tetap bungkam.
"Unit
Prajurit Hukuman bisa dipercaya. Baik kemampuan mereka, maupun keluhuran jiwa
mereka."
Kau berlebihan, pikirku. Mata Tuan Putri ini pasti
bermasalah.
Membicarakan soal
keluhuran jiwa hanya akan membuatku repot. Terutama unit kami yang isinya pada
dasarnya hanyalah orang-orang yang moralnya sudah hancur, atau orang-orang yang
sejak awal memang sudah tidak beres.
"Unit
Prajurit Hukuman. Jika kalian berniat menjadikan mereka tameng kembali, maka
kalian tidak boleh pelit dalam memberikan dukungan sebisa mungkin."
Kata-kata
Melneatis terdengar lembut, namun di sana terdapat ketajaman yang tidak
mengizinkan bantahan. Para bangsawan tampak tidak puas, tapi bagaimanapun juga
mereka tetap diam. Inilah yang disebut dengan wibawa darah kerajaan.
"Aku percaya
pada kalian. Orang-orang
yang pemberani."
Melneatis
tersenyum ke arahku dan Venetim. Itu adalah senyuman dari seseorang yang sudah
sangat terbiasa mengarahkan ekspresi seperti itu kepada orang lain.
"……Begitulah.
Aku pun telah mencapai kesimpulan yang sama, murni hanya dari sudut pandang
taktik militer. Kalian telah
menunjukkan kemampuan kalian. Aku terpaksa menilai bahwa kalian layak
mendapatkan dukungan itu. Namun—"
Horde memejamkan
matanya sedikit.
"Jangan
salah paham. Logistik kita tidak melimpah. Yang bisa kuberikan hanyalah personel
tambahan."
Sudah kuduga, pikirku. Sebenarnya, di situlah letak
kelemahan tentara ini. Maksudnya, dia boleh saja menyiapkan personel, tapi
'selain itu' kami harus mengaturnya sendiri.
"Kalau
begitu, Komandan Ksatria Suci Krivios. Ada hal yang ingin kusampaikan secara
pribadi."
Melneatis berkata
dengan suara berbisik yang lirih.
"Mengenai
alasan kenapa kami melarikan diri dari Ibu Kota Kedua. —Tentang kunci yang
dimaksud itu."
◆
Seperti yang
sudah diperkirakan, aku diusir dari pembicaraan rahasia antara Tuan Putri dan
Horde. Sebenarnya, aku berniat langsung menjenguk Norgalle. Aku perlu
memberitahunya bahwa dia mendapatkan dua ratus bawahan sementara, dan aku harus
memaksanya untuk memimpin mereka.
Namun di tengah
jalan, aku melihat sesuatu yang merepotkan.
Jace.
Terlebih
lagi, dia sedang membentak—kepada belasan prajurit. Mungkin mereka yang
dibentak semuanya adalah penunggang naga. Mereka memakai pakaian penahan dingin
yang tebal, mirip dengan yang dipakai Jace. Namun, semuanya tampak duduk di
atas salju dengan bahu merosot, benar-benar kelelahan. Atau mungkin, mereka
sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri.
Neely
tidak ada di samping Jace. Ini adalah situasi yang sangat gawat. Artinya, sosok
langka yang bisa menghentikan Jace sedang tidak ada. Jika bukan Neely yang
memegang kendalinya, pria bernama Jace ini bisa menjadi terlalu buas bagi
manusia.
"Jangan
bercanda, kalian bajingan sialan!" bentak Jace.
Dia tampak jauh
lebih marah daripada biasanya.
"Kenapa
kalian meninggalkannya? Dengan muka apa orang-orang seperti kalian bisa selamat
sampai ke sini? Semuanya bertarung demi kalian, tahu!"
Jace tampak
seperti sedang menangis. Dia mencengkeram kerah baju salah satu ksatria naga,
memelototinya dengan mata yang bahkan memancarkan niat membunuh. Pria itu masih
muda. Menghadapi kemarahan Jace, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata.
"Cordelia
itu! Dia mengkhawatirkanmu, tahu! Karena kau terlalu lemah dan terlalu naif,
dia takut kau tidak bisa pulang dengan selamat—tapi kau, kenapa! Kenapa kau
meninggalkannya dan datang ke sini!"
Apa Cordelia itu
nama naga? ……Aku tidak tahu alasan kemarahan Jace.
Aku juga
tidak bisa menghentikan Jace yang sedang mengamuk. Aku bahkan tidak berniat
menghentikannya. Saat Jace marah, itu selalu demi naga. Dia tidak pernah marah
demi dirinya sendiri. Karena itu, tidak ada kata-kata untuk menghentikannya.
Saat aku
sedang bimbang bagaimana harus campur tangan, sebuah suara menyapaku dari
belakang.
"Lebih baik
biarkan saja, Kamerad Xylo. Itu tidak bisa dihindari."
Itu Rhino.
Dia meletakkan Armor
Cannon-nya begitu saja di atas padang salju dan dengan anggunnya sedang
membaca buku. Itu adalah pemandangan yang biasa kulihat. Selama matahari masih
ada, dia akan mengisi sedikit cahaya ke dalam Armor Cannon. Dan Rhino
sangat suka buku. Dia benar-benar membaca apa saja. Meski aku agak ragu apakah
dia benar-benar memahaminya atau tidak.
Buku yang dia
baca hari ini berjudul 'Kiv Bezalfipe'. Sepertinya buku tentang masakan serangga.
Menurutku itu jenis buku yang isinya sebaiknya segera dilupakan.
"Kamerad
Jace marah soal naga."
"Itu
aku tahu. Aku tidak pernah melihat Jace marah soal hal lain."
"Benar.
Tampaknya Kamerad Jace sangat murka karena naga-naga yang ditinggalkan begitu
saja oleh para ksatria naga itu."
Rhino
membalik halaman bukunya dengan senyum yang tampak tenang seperti biasanya. Di
sana ada ilustrasi serangga aneh yang digambarkan secara mendetail.
"Sepertinya
mereka melarikan diri dan meninggalkan naga-naga itu dalam keadaan terikat di
kandang naga di markas utama."
"Begitu
rupanya."
Aku tahu sifat
Jace. Jika masalahnya seperti itu, tidak ada yang bisa kulakukan.
"Wajar kalau
Jace marah. Kuharap dia tidak sampai membunuh mereka secara tidak
sengaja."
"Kamerad
Jace tidak akan membunuh orang yang sedang merenung, menyesal, dan putus asa.
Karena itulah dia hanya melakukan sejauh itu. Jika mereka adalah lawan yang
tidak bisa diajak bicara, Kamerad Jace pasti sudah membunuh mereka
seketika."
"……Yah,
benar juga."
Aku menatap Rhino
sekali lagi.
Orang ini
sepertinya sama sekali tidak paham soal moral manusia, tapi dia sangat tahu
soal bagaimana pola pikir kami masing-masing.
"Kalau
begitu syukurlah. Karena untuk operasi berikutnya, aku benar-benar butuh
Jace."
"Berarti,
sudah diputuskan ya?"
Rhino akhirnya
mengangkat wajahnya dari buku. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Kita rebut Gunung
Toujin. Kita akan menjaga barisan paling belakang dari pasukan utama yang
bergerak maju."
"Sedikit
disayangkan, tapi mau bagaimana lagi. Hanya saja—ada masalah."
Rhino menghela
napas dan menutup bukunya.
"Armor
Cannon-ku kehabisan peluru, dan tidak ada kejelasan soal pasokan ulang. Aku
tidak bisa bertarung dalam kondisi begini. Pasokan lainnya juga pasti kurang,
kan? Piringan kosong untuk ukiran Seal, magasin pengumpul cahaya……"
"Aku
tahu."
Sudah sewajarnya,
dalam urutan pasokan, unit Prajurit Hukuman selalu jadi yang terakhir. Kami
tidak akan bisa mendapatkannya dengan cara yang normal. Aku bisa saja menyuruh
Dotta, tapi untuk saat ini aku tidak boleh mengandalkan keahlian mencurinya.
Mengingat semua pasokan sedang menipis, itu bisa merugikan unit lain.
"……Biar aku
yang urus. Kau pikirkan saja cara membunuh Raja Iblis, jangan lakukan hal yang
tidak perlu."
"Luar biasa.
Kata-katamu menyenangkan sekali."
Rhino tampaknya
menemukan semacam kegembiraan dari jawaban sarkastikku. Dia tersenyum dengan
wajah segar yang membuatku ingin meninjunya.
"Aku akan
mengikutimu ke mana pun. Sejujurnya, aku kagum padamu. Aku akan jujur
padamu—secara pribadi, kau dan Kamerad Jace adalah tujuanku."
"Jangan
samakan aku dengan Jace. Dipuji olehmu pun aku tidak senang."
Aku memelototi Rhino
dengan wajah seseram mungkin.
"Kau
itu benar-benar mencurigakan setengah mati."
"Begitukah?
Lebih mencurigakan daripada Kamerad Venetim?"
"Perbandingannya
buruk."
"Begitu
ya, ada benarnya juga."
Sepertinya Rhino setuju dengan hal itu. Lalu tiba-tiba dia
mulai berbicara dengan cepat.
"Kalau begitu, aku ingin segera berdiskusi soal cara
membunuh Raja Iblis. Misalnya, Charon. Soal Raja Iblis itu. Aku sudah
punya dugaan soal jati dirinya, tapi aku ingin sekali mendengar pendapat
Kamerad Xylo."
"……Kau sudah memikirkan cara membunuhnya?"
"Setidaknya aku punya petunjuk. Sebenarnya, Fenomena
Raja Iblis itu—"
Jika Rhino sudah masuk ke mode ini, dia tidak akan berhenti
sampai merasa puas. Aku terpaksa harus menemaninya sampai dia tuntas
menceritakan metode pembunuhan Raja Iblis itu dalam satu tarikan napas.
—Pokoknya, dengan
begini operasi kami pun dimulai.
Hukuman
Pasokan Logistik Darurat Kelpressie 2
Saat akhirnya aku
pergi menjenguk, Norugayu sudah tertidur lelap. Mungkin karena efek racun yang
disebutkan oleh Goddess Kesembilan.
Di samping Norugayu yang terlelap seperti
orang mati, ada Teoritta dan—tak disangka—Dotta. Awalnya Teoritta-lah yang
harus berbaring karena kelelahan hebat setelah menggunakan Holy Sword,
tapi kenapa ikatan Dotta sudah dilepas?
Bukankah
seharusnya Tsav yang mengawasinya dalam penahanan?
Saat akhirnya aku
pergi menjenguk, Norugayu sudah tertidur lelap. Mungkin karena efek racun yang
disebutkan oleh Goddess Kesembilan. Di samping Norugayu yang terlelap
seperti orang mati, ada Teoritta dan—tak disangka—Dotta. Awalnya Teoritta-lah
yang harus berbaring karena kelelahan hebat setelah menggunakan Holy Sword,
tapi kenapa ikatan Dotta sudah dilepas? Bukankah seharusnya Tsav yang
mengawasinya dalam penahanan?
"Dotta.
...Kenapa kau bisa bebas begini? Di mana Tsav?"
"Anu, itu,
katanya ada 'hal yang harus dikerjakan' lalu dia pergi entah ke mana..."
ucap Dotta dengan raut wajah tidak enak.
Aku merasakan
sedikit pening di kepala. Seharusnya aku tidak menyerahkan pengawasan kepada
Tsav di saat seperti ini.
"Judi. Sudah
pasti itu."
"Sepertinya
begitu. Tapi, sebagai gantinya aku malah dipaksa mengerjakan tugasnya. Katanya
Norugayu dan Teoritta tidak bisa bergerak untuk sementara, jadi aku yang harus
mengurus mereka..."
"Tidak.
Itu... salah."
Teoritta
mengangkat sedikit tubuh bagian atasnya dari tempat tidur. Gerakan sederhana
itu saja sudah membuatnya tampak kesakitan.
"Aku sendiri
yang... mengawasi dua anak bermasalah ini sekaligus..."
Teoritta
membusungkan dada dengan bangga. Hebat juga dia bisa bersikap begitu dengan
wajah yang pucat pasi.
"Luar
biasa, bukan? Aku hebat, kan?"
"...Kerja
bagus."
Karena tidak ada
pilihan lain, aku mengakuinya. Teoritta mendengus bangga.
"Tentu saja.
Karena aku adalah Goddess yang melindungi unit ini."
"Eh...? Kau
masih bisa bicara begitu dalam kondisi seperti itu? Padahal yang merawat itu
aku, lho... Aku juga yang menyiapkan makanan. Kalian berdua kan sama sekali
tidak bisa bergerak."
"Aku memang
berterima kasih soal makanannya. Tapi, aku sudah tidak apa-apa... Aku bisa...
berangkat bertempur kapan saja. Lihat..."
Teoritta
mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, melakukan gerakan aneh seperti
senam. Bohong, pikirku. Tubuh bagian atasnya jelas-jelas terlihat goyah.
Setidaknya, untuk
sementara dia tidak bisa menggunakan Holy Sword. Kami harus bertarung
tanpa kartu as itu.
"Hentikan.
Tidurlah."
"Ugh.
Tapi—"
"Besok pagi
kita berangkat. Begitu lelahmu hilang, aku akan mempekerjakanmu sekuat
tenaga."
Jika dikatakan
seperti ini, Teoritta baru akan benar-benar beristirahat. Benar saja, dia
tampak lega, menarik selimutnya hingga ke ujung hidung, lalu kembali terbaring.
"...Serahkan
padaku! Aku akan... beristirahat seperti ini, lalu berjuang dalam kondisi
prima. Tolong beri tahu aku soal rencana operasi berikutnya."
"Ah. Benar
juga. Soal itu."
Dotta ikut mencondongkan tubuh dengan cemas.
"Xylo, apa
yang akan kita lakukan selanjutnya? Kita sudah bekerja terlalu keras, apa kita
sudah boleh ditarik mundur?"
"Mana
mungkin. Setelah ini kita pindah ke Utara. Kita bertugas sebagai pengawal, dan
kita harus menghentikan siapa pun yang mengejar."
"Aaah..."
Wajah Dotta
tampak putus asa.
"Itu
artinya... kita masih harus bertarung melawan Fenomena Raja Iblis?"
"Wajahmu
tidak punya semangat sekali, Dotta. Berusahalah lebih keras. Itu artinya
pencapaian kita diakui, kita sedang diandalkan."
Teoritta
menegurnya, tapi hal seperti itu tidak akan membuat suasana hati Dotta membaik.
"Jangan
murung. Memang ada sedikit masalah, tapi jika itu terselesaikan, kita masih
bisa bertarung."
"Bagian
'sedikit masalah' itu justru sangat mengusik pikiranku."
"Persediaan
kita kurang. Amunisi untuk Rhino, dan material agar Norugayu bisa bekerja.
Termasuk makanan juga."
"Aaah..."
Dotta
mengacak-acak rambutnya. Hal yang biasa, jika boleh dibilang begitu. Namun kali
ini, pasukan utama pun kekurangan pasokan, jadi situasinya semakin parah.
"Lalu,
apa... aku harus mencarikannya? Tapi kalau semuanya sekaligus, itu
mustahil."
"Tidak.
Kali ini, kau jangan bergerak. Tolong, jangan lakukan apa pun. Jika kau mencuri dengan mencolok dari
pasukan reguler yang pasokannya saja sudah menipis, itu akan jadi fatal."
Hord
Krivios adalah komandan yang lurus dan teliti. Hal itu pasti berlaku juga dalam
manajemen logistiknya. Jika melakukan hal yang tidak perlu, itu hanya akan
menghambat semuanya, dan bahayanya akan berbalik kepada kita sendiri.
"Daripada
itu, kali ini kau sudah membuat jasa yang benar selain mencuri, ya."
"Eh? A-Apa
maksudmu? Aku jadi merasa tidak tenang kalau kau bicara begitu, Xylo."
"Soal Tuan
Putri dan Pangeran. Dua anak yang waktu itu kau katakan dengan bodohnya 'ayo
kita tolong'. Apa kau menyadari sesuatu saat itu?"
"Ah...
Hmm... Entahlah."
Dotta tersenyum
ragu.
"Bagaimana,
ya? Apa aku melakukan itu karena menyadari sesuatu?"
"Apa-apaan
itu, aku tidak tahu."
"...Yah,
tidak apa-apa juga. Kalau begitu, apa artinya kali ini aku tidak perlu
melakukan hal yang khusus?"
"Bodoh. Mana
mungkin."
Aku harus segera
menghancurkan pemikiran manis Dotta itu.
"Tidak
mungkin ada orang yang bisa dibiarkan bermain-main di unit kita. Lagipula,
sudah saatnya kau mendapat giliran kerja yang sesungguhnya."
"Eh."
Wajah Dotta
menegang.
"...Maksudnya?"
"Sejak awal,
aku memeliharamu bukan untuk mencuri pasokan dari pasukan kawan. Mulai
sekarang, kau harus bekerja dengan serius."
"Eeeh... Kau
serius?"
"Aku serius.
Jika kau melakukannya dengan baik, semua orang akan selamat."
"Aku
merasa tidak bersemangat... Ini pasti tugas yang sangat berbahaya, kan?"
"Memang
berbahaya, tapi ini peran yang diperlukan. Jika ini berhasil, pengorbanan akan
berkurang. Dengar, pertama-tama—"
Saat aku
baru saja ingin mulai membujuk Dotta. Sebuah suara terdengar dari arah pintu
masuk tenda.
"Permisi."
Suara yang
lembut, namun entah kenapa terdengar jelas di telinga. Aku sudah mendengar
suara ini tadi. Aku segera menoleh.
"—Kalian
adalah anggota Unit Pasukan Hukuman 9004, bukan? Maafkan kunjungan mendadak
ini."
Putri Ketiga
Merneatis berdiri di sana. Mungkin karena pantulan sinar matahari, dia tampak
seolah memancarkan cahaya suci. Karena kunjungannya yang terlalu tiba-tiba, aku
terkejut, sementara Dotta entah kenapa mencoba bersembunyi di belakangku.
"Tuan Xylo Forbartz,
kita sudah bertegur sapa tadi, ya. Dan yang di sana, apakah Anda adalah Goddess
Teoritta-sama?"
"I-Iya...
benar."
Teoritta
juga mengangguk dengan agak kaku dan menegakkan punggungnya. Aku bisa mengerti
perasaannya. Lawan bicaranya memang memiliki aura yang seperti itu.
"Bersama
Ksatria Suci Xylo, aku adalah Goddess Pedang, Teoritta, yang memberikan
berkat kepada para pahlawan!"
"Suatu
kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Saya telah mendengar tentang pencapaian
Anda dan para pahlawan sekalian."
Mendengar
tentang pencapaian kami, ya. Dari siapa dia mendengarnya—pasti Venetim. Si
bajingan itu pasti sudah membisikkan segala macam hal, baik yang benar maupun
yang tidak, dalam waktu singkat setelah rapat strategi selesai.
"Lalu, Tuan
Dotta. ...Saya berterima kasih karena Anda telah menyarankan untuk
menyelamatkan kami. Saya mewakili adik saya mengucapkan terima kasih."
"A-Ah, ya,
anu... Berkat doa Anda, saya sehat-sehat saja. Terima kasih banyak..."
Dotta menjawab
dengan terbata-bata dan tidak jelas, lalu menundukkan kepala. Dan kali ini dia benar-benar
bersembunyi di belakangku.
"Saya
dengar Anda orang yang pemberani. Katanya Anda dulunya adalah seorang pemburu. Saya
pernah mendengar cerita tentang para pemburu Fairy di Pegunungan Quadaie."
"Eh? Ah, iya...?"
"Katanya dengan mata dan telinga yang tajam, serta
pengalaman dan insting, Anda telah berkali-kali menyelamatkan unit dari
bahaya."
"Hah...?"
Aku bisa melihat
Dotta semakin bingung. Aku tidak tahu dia sedang membicarakan siapa, tapi ini
pasti informasi dari Venetim. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk
mengoreksinya satu per satu.
"Selain itu,
Tuan Norugayu. ...Tak disangka bisa bertemu Anda di tempat seperti ini."
"Ah."
Tanpa sadar aku
mengeluarkan suara.
"Soal
itu. Tuan Putri, apakah Anda mengenal orang ini?"
Aku
melirik Norugayu yang masih tertidur. Dari samping, wajahnya entah kenapa
terlihat berwibawa. Mungkin karena janggutnya yang sangat luar biasa itu.
"Tuan
Norugayu adalah seorang sarjana yang menempuh pendidikan di akademi kuil yang
sama dengan kakak saya—Routsir."
Sarjana.
Aku memang pernah mendengar rumornya. Katanya Norugayu adalah teknisi Segel
Suci yang jenius dan sarjana yang masa depannya sangat menjanjikan. Memang
kemampuannya tidak akan masuk akal jika bukan karena latar belakang seperti
itu.
"Kami
sudah sering mengobrol. Sama
seperti Kakak, dia juga sangat baik kepadaku. Dia rendah hati, tenang... aku
sempat berpikir orang ini pasti tahu segalanya tentang dunia ini..."
Tuan Putri
Merneatis menatap Norugayu seolah-olah sedang melihat pemandangan yang jauh.
"Waktu kecil
aku berpikir begitu. Aku dengar dia meninggalkan akademi segera setelah Kakak
menghilang, tapi tak disangka... keadaannya menjadi seperti ini."
Sepertinya
dia tidak tahu tentang teror skala besar yang disebabkan oleh Norugayu.
Faktanya, aku sendiri pun awalnya tidak tahu nama dalangnya. Sesuai pengumuman
Galtuir, aku pikir itu adalah ulah faksi ekstremis mantan keluarga kerajaan
Metto yang menentang Kerajaan Persatuan. Baru setelah bergabung dengan unit ini
aku mendengar bahwa individu bernama Norugayu Senridge-lah yang menyebabkan
teror tersebut.
Jika seorang
sarjana yang menjanjikan melakukan tindakan keji seperti itu karena gangguan
mental, pihak kuil mana mungkin memublikasikannya. Terutama kepada keluarga
kerajaan, mereka pasti melakukan penutupan informasi secara menyeluruh. Mungkin
hanya Raja sendiri dan Putra Mahkota yang tahu siapa dalang sebenarnya dari
insiden itu.
"...Tuan
Norugayu itu. Menyebutku sebagai adiknya."
Aku
menyadari suara Merneatis sedikit bergetar.
"Aku
tidak tahu apa yang telah terjadi pada Tuan Norugayu. Tapi..."
Dia mencoba
mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"...Setidaknya,
aku harus bersyukur karena dia masih mengingat wajah ini."
Gadis ini
pasti sangat mengagumi sosok bernama Norugayu Senridge. Entah kenapa, aku merasa kami harus keluar dari
tenda lebih dulu.
◆
Setelah keluar
dari tenda, aku berjalan sebentar. Sinar matahari senja yang merah menyinari
sungai yang mengalir di samping desa, terasa menyilaukan. Pohon-pohon kenari
yang berjajar di sepanjang sungai tampak agak kusam, mungkin karena sering
terpapar angin dan salju.
Desa Kelplessi
ternyata merupakan pemukiman dengan skala yang lumayan besar, berbeda dengan
kesan pertamaku. Ada bangunan yang tampak seperti penginapan, kuil kecil, dan
pemandian air panas umum. Meski penduduknya sudah tidak ada, ada jejak bahwa
fasilitas pemandian itu masih digunakan hingga baru-baru ini, dan kondisinya
tidak terlalu terbengkalai.
Di Kerajaan
Persatuan, seiring dengan perkembangan teknologi Segel Suci, teknologi
pengeboran mata air panas juga mengalami kemajuan pesat. Sekarang, selama bukan
daerah yang sangat terpencil, hampir setiap komunitas memiliki setidaknya satu
fasilitas pemandian air panas.
Kalau
dipikir-pikir, sebelum menjadi Komandan Ksatria Suci—saat masih menjadi
pelajar—aku sering mengunjungi pemandian air panas di berbagai daerah. Saat itu
aku punya teman, dan kurasa kami sering melakukan hal-hal konyol. Terkadang
sambil pergi ke daerah pedesaan, kami pergi memburu bandit untuk sekadar
menyegarkan pikiran.
Masalah
mendesak—kekurangan pasokan—sama sekali tidak menemukan jalan keluar, tapi aku
malah teringat hal-hal tidak penting seperti itu.
(Sadarlah.
Sekarang bukan waktunya untuk itu.)
Aku memantapkan
niat kembali. Bagaimanapun juga, aku butuh amunisi dan pelat dasar untuk
penyelarasan Segel Suci. Tidak harus pelat besi berkualitas, papan kayu pun
jadi. Tanpa itu, nilai taktis Rhino dan Norugayu akan merosot tajam.
(Pikirkan
caranya.)
Cara untuk
mendapatkan pasokan. Jika menggunakan cara mencuri secara ilegal, sekarang bisa
berakibat fatal bagi unit kawan. Kalau begitu, aku tidak punya pilihan selain
meminta pasokan secara baik-baik dari unit yang kooperatif dengan kita.
(Unit yang
kooperatif dengan kita?)
Mana ada hal
seperti itu. Kalaupun ada, paling hanya orang-orang dari mantan Ksatria Suci
Ketiga Belas, dan mereka hanyalah kavaleri. Aku tidak yakin mereka punya sisa
amunisi untuk Armor Meriam dan material untuk penyelarasan Segel Suci.
Singkatnya, jalan
buntu.
Saat sedang
berpikir begitu, aku malah harus melihat hal yang tidak ingin kulihat. Di bawah
naungan pohon di tepi sungai, para prajurit berkumpul dan sedang mengocok dadu.
Sudah pasti itu judi. Dan tentu saja, ada wajah yang kukenal di
antaranya—Tsav. Apalagi hari ini tidak hanya dia. Di sampingnya ada Rhino dan
Tatsuya juga.
"Apa yang
kalian lakukan?"
Melihat kombinasi
yang tidak masuk akal ini, aku terpaksa ikut campur. Padahal aku baru saja
melarang Rhino melakukan hal yang tidak perlu.
"Ah!
Kakak, sekarang ini benar-benar lagi seru-serunya!"
Tsav
melambaikan tangannya dengan riang.
"Setelah
sekian lama, keberuntungan akhirnya datang! Kita bisa menang kalau ada
Tatsuya-san!"
"Kau...
jangan ajari mereka permainan yang aneh-aneh..."
"Bicara apa
sih! Padahal kami sedang berusaha membantu menyelesaikan masalah kekurangan
pasokan unit kita."
Benar-benar
alasan yang konyol. Sisa barang yang dijadikan taruhan oleh penjudi mana
mungkin bisa menutupi jumlah yang dibutuhkan untuk pertempuran.
"Kurasa
ini lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa," ucap Rhino yang entah
kenapa mengacungkan jempol dengan bangga.
"Dalam
situasi sulit begini, aku akan berkontribusi dalam pengadaan pasokan meski
sedikit. Kamerad Tatsuya sepertinya juga sedang bersemangat hari ini—ayo,
giliranmu. Kocok dadunya."
"Gruuuulruuu,
ruuuuulguuuge."
Tatsuya
mengeluarkan erangan yang tidak jelas, lalu mengocok banyak dadu sesuai
instruksi Rhino. Suara dadu dari tulang yang bergulir di dalam mangkuk
terdengar nyaring. Judi yang dimainkan mungkin adalah yang disebut 'Zuda-Hare'.
Pemain bersaing mendapatkan kombinasi angka tertentu. Karena kombinasi terendah
disebut "Zuda" dan kombinasi tertinggi disebut "Hare",
itulah asal nama permainannya.
Sekali
lempar, Tatsuya mendapatkan angka kembar—kombinasi yang keluar adalah
"Oo-Hare". Dan orang-orang di sekitarnya berteriak.
"Apa-apaan
orang ini!"
"Keberuntungannya
terlalu bagus, bagaimana bisa? Aku menyerah kalau melawan dia."
"Pasti
curang. Mana mungkin 'Hare' keluar sesering ini? Hei, kau, kau melakukan
sesuatu ya?"
"Vaaaa,
kekekekekikikiki!"
"Tolong
jangan menuduh sembarangan! Tatsuya-san hanya sedang sangat beruntung!"
Tatsuya
mengeluarkan suara aneh seolah tenggorokannya tertarik, sementara Tsav
merentangkan kedua tangannya seolah ingin melindunginya.
"Aku saja
sejak tadi kalah terus! Rhino-san juga cuma pintar bicara tapi tidak
banyak menang."
"Ya. Itu yang aneh. Berdasarkan kalkulasi probabilitas,
seharusnya aku bertaruh untuk menang."
"Kalau sudah mulai menghitung probabilitas dalam judi
dadu, itu tandanya kiamat! Cepat buang buku catatan penelitianmu yang sama
sekali tidak berguna itu!"
Sepertinya yang menang hanya Tatsuya, sementara Tsav dan Rhino
sama sekali tidak beruntung. Jika begini terus, paling mereka hanya pulang
dengan kemenangan kecil. Artinya,
sama sekali tidak bisa diandalkan untuk pasokan logistik.
Aku melambaikan
tangan dan berniat pergi. Namun—
"...Omong-omong
Kakak, kau sadar tidak?"
Tiba-tiba
Tsav berdiri dan berbisik pelan di telingaku.
"Kau sedang
diikuti."
"Hah? Oleh
siapa?"
"Aku tidak
tahu sampai sejauh itu. Bukan aku yang dikuntit, dan aku baru saja merasakan
kehadirannya sekilas. Tapi, entah kenapa haus darahnya sangat kuat... ah, tapi
entahlah. Mungkin bukan satu orang, tapi sebuah organisasi."
"Bagaimana
mungkin sebuah organisasi bisa menyusup ke desa ini dan menguntitku?"
"Mana aku
tahu. Jadi..."
Tsav menepuk
punggungku.
"Sekarang
aku sedang sibuk dengan operasi pengadaan pasokan, jadi Kakak urus saja sendiri
dengan baik! Yah, meski pembunuh bayaran pun, kau tidak akan mati, kan? Kalau
itu Kakak."
"Jangan
memberikan kemungkinan yang mengerikan begitu..."
Suasana hatiku
menjadi sangat buruk. Sebagai balasan, aku pun meninggalkan sepatah kata untuk
Tsav.
"Omong-omong,
tadi Jace yang sedang marah mencarimu, jadi sebaiknya kau cepat kembali ke
kandang naga."
"Eh."
Tawa ringan Tsav
membeku dengan cara yang jarang terjadi, membuatku merasa sedikit puas saat
mulai berjalan pergi.
(Lalu—penguntit,
ya.)
Faktanya, aku
tidak terlalu percaya diri bisa mengatasi serangan pembunuh bayaran.
Orang-orang seperti itu akan menyerang saat ada celah dalam kewaspadaan. Sulit
untuk membaca taktik mereka, dan bagi prajurit biasa, bersiap menghadapi mereka
itu sulit, butuh ahli untuk melakukannya. Lebih baik aku memancingnya keluar
dan menghadapinya segera.
Maka aku
mempercepat langkahku. Sampai pada kecepatan di mana lawan pun terpaksa harus
bergegas. Aku terus mempercepat hingga hampir mencapai kecepatan lari.
Di sana, aku
tiba-tiba berbalik.
(...Apa-apaan
ini.)
Aku merasa
konyol. Karena aku bisa melihat wajah yang sama sekali tidak terlihat seperti
pembunuh bayaran, dengan cepat bersembunyi di balik bayangan pohon kenari. Aku
menghentikan langkah dan memanggil namanya.
"Patausche.
Apa yang kau lakukan?"
"...Tidak."
Patausche
bersedekap sambil bersandar pada pohon kenari. Dengan ekspresi wajah yang sangat masam.
"Aku...
tidak sedang melakukan apa-apa? Aku hanya sekadar jalan-jalan."
"Bohong,
sejak tadi kau menguntitku, kan?"
"Yah...
itu, memang benar aku menguntitmu! Tapi itu untuk mengawasimu agar tidak malas-malasan. Aku belum mengakuimu
sebagai komandan unitku."
Patausche
mengeluarkan logika yang luar biasa konyol. Komandannya adalah Venetim, tapi
aku memilih untuk tidak mengatakannya. Tidak ada gunanya juga.
"Karena kau
tampak... sedang galau, tidak seperti biasanya. Aku hanya ingin memperingatkan
bahwa dengan kondisi seperti itu, kau tidak akan bisa menjalankan tugas sebagai
komandan. Sikap yang membuat anggota unit cemas itu tidak baik."
"Itu
benar."
Aku hanya bisa
tertawa pahit. Jika dikatakan oleh Patausche yang mantan perwira, aku tidak
bisa membantahnya.
"Maaf soal
itu. Aku akan bersikap lebih baik."
"Lakukanlah.
...Tapi, jika ada masalah, tidak ada salahnya aku mendengarkannya, kan?"
Sepertinya itu
tujuan utamanya. Patausche menatapku dengan mata tajam. Tentu saja. Jika
komandan unitnya sedang galau, wajar jika dia ingin mencari tahu penyebabnya.
"Apa
masalahnya. Katakan saja."
"Pasokan
kita kurang. Semuanya. Aku butuh pasokan segera tanpa mengandalkan Venetim atau
Dotta."
"...Eh.
Itu... itu... sulit juga, ya."
Apa dia tadi
punya kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah apa pun? Setelah ragu
sejenak, Patausche mengangguk perlahan.
"Kau,
bagaimana caramu mengatur urusan logistik dulu? Sepertinya kau tipe yang
payah dalam hal itu."
"Ksatria Suci sudah punya jatah yang ditentukan. Jadi aku tidak terlalu kesulitan. Jika ada bagian yang sangat diperlukan,
aku minta tolong pada teman... Tunggu sebentar. Bukankah kau juga payah dalam
hal ini?"
"Ke-Kenapa
kau berpikir begitu!"
"Aku minta
maaf kalau aku salah, tapi kau memang payah, kan?"
"...Dalam
kasusku juga... aku lebih sering mengandalkan teman yang pandai dalam lobi
semacam itu..."
Patausche
menunduk dan menjawab dengan suara agak pelan. Sudah kuduga. Ternyata kami
berdua sama-sama payah. Aku tertawa.
"Sama saja,
kan."
"Tatapan apa
itu! Aku berbeda denganmu! Ya... kalau aku meminta tolong pada mantan rekan di
Ksatria Suci Ketiga Belas... mungkin bisa meminjam sedikit..."
"Jangan
lakukan itu. Kita tidak punya prospek untuk melunasi, dan mereka juga tidak
punya pasokan berlebih. Mau bagaimana lagi."
Maka aku
memasukkan tangan ke saku mantel, mencari bungkusan kecil di dalamnya. Saat aku
menjulurkan kepalanku, Patausche menunjukkan wajah bingung.
"Apa? Ini
apa?"
"Buah
kering yang direndam madu. Anggur atau apel. Kau pasti tidak bisa menyiapkan
bekal perjalanan sendiri, kan?"
"Belum
dibagikan."
"Pasukan
Hukuman tidak akan diberi barang seperti ini. Buatlah saat ada waktu luang.
Termasuk daging asap juga."
"Tunggu...
ini membuatku kesulitan. Aku yang sekarang tidak bisa membalas apa-apa."
"Kalau
begitu, balaslah nanti."
"F-Fuwaaa!"
Saat aku
memegang tangan Patausche dan memaksanya menggenggam bungkusan itu, dia
tiba-tiba mengeluarkan suara seperti teriakan.
"Apa
yang kau lakukan!"
"Barang-barang
seperti ini dibuat sendiri secara bergantian. Kau juga harus segera bisa
membuatnya. Kalau tidak—ah?"
"A-Apa! Ada apa, dengan...!"
Patausche terdiam dan tangannya meraih pedang di
pinggangnya. Tapi reaksi itu bisa dimengerti. Karena faktanya, aku pun
terkejut. Secara refleks, aku menggenggam pisau. Bersiap untuk mencabutnya
dalam satu gerakan.
(Lima orang—atau enam?)
Kami dikepung. Apakah mereka juga yang tadi menguntit? Sekarang aku mengerti maksud Tsav
soal 'organisasi'.
Namun, anehnya
tidak ada aura permusuhan. Semuanya mengenakan pakaian prajurit. Prajurit dari
aliansi bangsawan, mereka menjahit lambang keluarga di pakaian mereka. Singa
yang menggigit kapak perang. Keluarga Dasmitea? Kalau dipikir-pikir, ada wajah
yang kukenal juga. Prajurit yang tampak seperti anak-anak.
Merekakah
orang-orang yang dipaksa berada di posisi paling belakang saat mundur?
"Anu,"
prajurit muda itu bersuara lebih dulu. Dia melangkah maju satu langkah.
"Hm.
Kau."
"Hentikan.
Kau tahu sendiri mereka tidak punya niat jahat, kan?"
Aku menahan Patausche
yang hampir mencabut pedangnya.
"Siapa
kau?"
"Sa-Saya,
nama saya Sifrit."
Prajurit muda itu
tampak sedikit ketakutan, namun dia mengambil napas dalam-dalam dan bersuara
lagi.
"Saya dengar
para anggota Pasukan Hukuman sedang... kesulitan dengan pasokan logistik."
"Sedikit,
ya. Tapi semua orang juga sedang kesulitan, kan?"
"Tidak. Di
unit kami, ada banyak kelebihan. Amunisi, juga pelat dasar untuk penyelarasan
Segel Suci."
Aku tidak
percaya. Benar-benar sesuai reputasi bangsawan besar Dasmitea. Hebat juga
mereka bisa membawanya sampai ke tempat seperti ini. Tapi, kenapa bisa sisa
sebanyak itu? —pertanyaan itu terjawab dengan jawaban terburuk.
"Tuan
Dasmitea sampai saat ini belum pernah melakukan pertempuran serius sekali pun.
Dan, sepertinya beliau juga tidak berencana melakukannya ke depan. Dalam
perjalanan berikutnya pun, kami ditempatkan di belakang Ksatria Suci
Kesembilan."
"Begitu
ya."
Bisa dibilang itu
adalah posisi paling aman. Sepertinya keluarga Dasmitea sangat bangga dengan
kekuatan politik mereka. Hord Krivios pun sepertinya kesulitan menghadapi
mereka.
"...Oleh
karena itu, kami ingin kalian menggunakannya. Untuk Unit Pasukan Hukuman."
"Apa katamu?
Tunggu sebentar."
"Tolong beri
tahu kami barang apa saja yang dibutuhkan. Malam ini akan kami antarkan."
"Aku
bilang tunggu. Itu jelas-jelas tindakan ilegal. Apa Dasmitea akan mengizinkan hal itu?"
"Mungkin
tidak. Tapi bagi kami, itu tidak masalah."
Mungkin seperti
kata Sifrit. Para prajurit keluarga Dasmitea yang ada di sana semuanya
menatapku dengan wajah serius. Atau lebih tepatnya, dengan ekspresi seperti sedang berdoa.
"Anda
telah menyelamatkan kami."
Seorang
prajurit berkata dengan nada berat. Diikuti oleh orang lainnya. Lalu satu orang lagi angkat bicara.
"Jika Anda
tidak datang, kami pasti sudah musnah."
"Jika Anda
bisa berbuat sesuatu untuk perang ini, kami akan membantu semampu kami. Atasan
kami hanya memikirkan diri mereka sendiri, dan paling jauh hanya memikirkan
keluarga mereka."
(Tolong,
jangan begitu,) pikirku dengan kuat. Aku kesulitan menghadapi wajah-wajah
seperti itu. Aku tidak pandai memikul harapan orang lain.
"Kami
yakin Unit Pasukan Hukuman-lah yang akan membawa perang ini menuju kemenangan. Kami berpikir begitu."
"...Jangan
katakan itu pada orang-orang di sekitar. Nanti kau dikira sudah gila."
"Tidak!
Apakah Anda tidak tahu? Prajurit
dari unit lain pun begitu. Ada orang-orang yang mengagumi kalian. Terutama... Thunderbolt Hawk,
Tuan Xylo Forbartz. Rumor tentang Anda sangat terkenal."
"Apakah
Goddess Slayer seterkenal itu?"
"Mana
mungkin! Bukan itu. Anda adalah—ah, anu, benar juga. Saya ingin minta tanda tangan Anda—"
"Tunggu.
Terlalu dekat."
Tiba-tiba, suara
dingin Patausche menyela dari samping. Dia berdiri menghalangi depanku, dan
tatapannya membuat Sifrit tampak ciut.
"Kami adalah
Pasukan Hukuman. Kontak dengan prajurit biasa tidak disarankan."
"Eh, tidak,
tapi tadi di tepi sungai ada tempat judi... anggota Pasukan Hukuman juga ada di
sana."
"Itu juga
tidak disarankan."
Kata-katanya
mengandung tekanan yang tidak bisa dibantah. Sifrit mundur sedikit, mencoba
mengatakan sesuatu. Namun akhirnya dia menelannya kembali dan hanya menundukkan
kepala.
"...Pokoknya,
terima kasih banyak untuk waktu itu. Barang-barang yang kalian butuhkan untuk
bertempur pasti akan kami antarkan! Nanti kami akan datang ke tempat
kalian!"
"Ya,"
hanya itu yang bisa kujawab. Seolah itu adalah isyarat, prajurit muda itu
segera berlari pergi, dan prajurit lainnya juga menundukkan kepala padaku
sebelum meninggalkan tempat itu. Kini tinggal aku dan Patausche saja.
"...Aku
yakin kau sudah tahu, tapi ada satu hal yang ingin kukatakan."
Patausche
tiba-tiba berbalik. Tatapannya jauh lebih tajam dari sebelumnya.
"Jangan
besar kepala hanya karena dipuji oleh gadis muda. Kita harus tahu diri dengan
posisi kita."
"Hah?"
"Prajurit
yang tadi itu."
"Bocah
itu?"
"Bukan
bocah. Apa matamu itu buta?"
Aku terdiam.
Pantas saja dia terlihat jauh lebih ramping daripada rata-rata prajurit muda
seusianya. Terlepas dari itu, masalahnya sudah selesai. Amunisi, dan pelat
dasar untuk penyelarasan Segel Suci. Selama ada persediaan, kami bisa
bertarung. Aku mengepalkan tangan, lalu membukanya kembali.
Aku merasa bisa
melakukannya. Hanya saja—harapan seperti itu benar-benar menjadi beban yang
berat.
◆
"...Operasi
berikutnya."
Trisill
berkata demikian di depan papan strategi. Dia menatap Rentby dengan mata yang
memancarkan cahaya redup dari dasarnya. Di wajahnya yang tajam dan rupawan,
sekarang aku merasa ada bayangan gelap yang bertambah.
Mungkin karena
lengan kanan yang baru. Tanpa sadar Rentby memperhatikan lengan kanan Trisill.
Lengan yang seharusnya telah tertebas putus oleh kavaleri musuh waktu itu—di
tempat yang seharusnya hilang itu, sekarang ada lengan yang ditutupi sisik
hitam dengan kuku-kuku tajam.
Itu adalah lengan
milik Fairy.
Fenomena Raja
Iblis bernama 'Charon' itu memberikan lengan tersebut kepadanya saat dia
kembali dalam keadaan terluka. Charon melemparkan lengan Dullahan yang
dipungutnya begitu saja, dan 'Furiae' memerintahkan agar lengan itu ditekan ke
luka Trisill.
Sejak saat itu,
semuanya tampak seperti sihir jahat. Lengan yang ditempelkan ke bekas potongan lengan Trisill itu menyatu.
Lukanya berbuih-buih, dan itu berlangsung selama setengah hari. Selama
pengobatan, Trisill tampak merasakan penderitaan yang luar biasa, namun dia
membiarkan dirinya diikat di tempat tidur agar tidak bergerak, dan dia berhasil
bertahan.
Setelah
selesai, dia mendapatkan lengan baru. Lengan yang hitam, janggal, dan membawa
firasat buruk.
"Musuh
kita adalah Unit Pasukan Hukuman."
Trisill
mengeluarkan geraman penuh kebencian.
"Rentby.
Kita sudah tidak punya jalan mundur. Bagaimanapun caranya, kita harus menghabisi mereka—masalahnya
adalah..."
Rentby bisa
membayangkan kalimat selanjutnya.
"Komandan
para bajingan Pasukan Hukuman itu. Hangman Fox. Jika kita bisa
menghabisinya saja...!"
"Apakah kita
akan mencoba melakukan penembakan runduk?"
"Itu sudah
pasti. Kita akan lakukan apa pun yang bisa dilakukan."
Mendengar
kata-kata Rentby, Trisill menolehkan tatapan matanya yang dingin.
"Kau juga,
pikirkan strateginya. Jika kita gagal lagi, nyawa kita terancam. Bagaimanapun
caranya, pikirkan cara untuk membunuh Hangman Fox. Tanpa dia, Pasukan
Hukuman hanyalah sekumpulan orang tak berguna."
Komandan ini
sudah tersudut, pikir Rentby. Mungkin sudah saatnya untuk meninggalkannya.
Dirinya masih memiliki hal yang harus dilakukan. Meskipun sekarang dia memihak
Raja Iblis, sebenarnya dia ingin bertarung demi umat manusia, dan pada akhirnya
ingin dikatakan sebagai orang yang luar biasa.
Mungkin ini
hanyalah kesombongan belaka. Meski begitu.
(...Suatu saat
aku akan membunuh wanita ini dan menjadi komandannya.)
Dengan begitu,
dia bisa bertahan hidup sedikit lebih lama lagi. Jika dia bisa mengambil hati
Fenomena Raja Iblis dan berpura-pura menjadi budak yang setia, nyawanya pasti
akan sedikit lebih terjamin. Selama masih hidup, kesempatan akan selalu ada.
(Suatu hari
nanti, hari itu pasti akan datang.)
Sampai saat itu
tiba, dia akan melakukan apa pun untuk tetap hidup. Dia bisa melakukan hal-hal
kejam sekalipun. Dia telah menjatuhkan orang lain, mengundang musuh masuk ke
kota, dan membunuh orang-orang yang seharusnya dilindungi. Dia membunuh orang
tua dan anak-anak dengan alasan pengurangan populasi. Untuk menghapus semua
dosa-dosa ini, dia tidak punya pilihan selain terus bertahan hidup.
Dia ingin
membuktikan bahwa dirinya sebenarnya tidak jahat, bahwa sebenarnya dia berniat
melakukan hal yang benar. Bahwa apa yang dia lakukan sekarang hanyalah
kepura-puraan semata.
(Benar—semua ini
bohong.)
Hasil bukanlah
segalanya. Proses
dari tindakan pun seharusnya dipertimbangkan. Jika demikian, karena dia sudah merasa sangat
menyesal dan menderita seperti ini, bukankah dia sudah menerima hukuman yang
cukup.
(...Jadi, maafkan
aku.)
Rentby menatap
profil wajah Trisill dengan mata yang gelap.
Hukuman
Pemblokiran Mematikan Ngarai Tuzin 1
Matahari
terbit, lalu terbenam lagi. Malam kembali datang menyapa.
Setelah
meninggalkan Desa Kelplessi, kami terus berjalan tanpa henti.
Di sela-sela
barisan, kami beristirahat sesingkat mungkin dan memakan ransum tempur yang
rasanya sangat menjijikkan. Ini adalah ransum terburuk dari yang terburuk yang
disebut "Nikufu"—campuran lemak, daging asap, dan buah kering yang
ditumbuk menjadi satu. Aku diam-diam bersumpah suatu hari nanti akan
memperbaiki ransum ini dari dasarnya.
"Aku akan
menjelaskan operasinya," ucapku pada Venetim sambil mencoba membilas rasa
Nikufu dari mulutku dengan air.
"Pasukan
Hukuman kita akan bertugas sebagai pasukan belakang untuk melakukan pertempuran
penahan."
"Begitu ya.
Jadi kita menjadi pasukan belakang untuk pertempuran penahan—begitu?"
Venetim
bersedekap dan mengangguk sambil mengelus dagunya, tapi aku sama sekali tidak
mempercayai sikapnya itu.
"Kau
dan Tatsuya harus bergerak bersama Hord dan yang lainnya. Sebagai pengawal
untuk berjaga-jaga. Aku sudah mendapatkan izin untuk itu."
"Eh?"
"Karena
saat ini, di dalam pasukan kita, kalian adalah kekuatan tempur tunggal terkuat.
Jika terjadi sesuatu yang buruk, setidaknya kalian bisa mengulur waktu."
"Sesuatu
yang buruk...? Lalu, apa peranku?"
"Sesuatu
yang buruk ya sesuatu yang buruk. Tugasmu adalah mengendalikan Tatsuya.
Lagipula kau tidak akan berguna jika terjadi tawuran di pihak sini."
"Benar juga. Saya punya kepercayaan diri soal
itu."
"Kau jujur sekali, ya."
Venetim mengangguk sambil tersenyum, jadi aku hanya bisa
tertawa pasrah, dan urusan pun selesai. Sejak awal Venetim memang tidak punya opini militer, jadi dia malah
senang mengikuti unit Hord. Mungkin
dia pikir itu lebih aman daripada menjadi pasukan belakang. Dia tidak salah.
(Dengan ini,
semua yang bisa dilakukan sudah selesai.)
Sisanya hanyalah
bergerak secepat mungkin. Kami harus mencapai Gunung Toujin sesegera mungkin.
Angin dingin
mulai berembus. Tengah malam nanti mungkin salju akan turun lagi. Aku
mengembuskan napas putih dan menatap tajam Gunung Toujin yang menjulang di
Utara.
Norugayu dan dua
ratus zeni yang ditempatkan di bawahnya telah berangkat lebih dulu dari kami.
Mereka punya tugas yang harus dilakukan. Yaitu memasang jebakan di wilayah
Barat Laut.
Spesifiknya,
aku menginginkan jebakan tipe yang dipasang secara luas dan tersebar. Jika para
Fenomena Raja Iblis mencoba mengejar pasukan utama, setidaknya itu bisa
menghambat langkah mereka sedikit. Jika itu Norugayu, dalam waktu singkat ini
dia pasti akan melakukan pekerjaan yang lebih baik dari yang kubayangkan.
Sesaat
sebelum berangkat, aku sempat berbincang sedikit dengan Norugayu.
"Merneatis
dan Raequel adalah adik perempuan dan laki-lakiku yang memiliki darah yang sama
denganku."
Yang
Mulia, yang entah bagaimana sudah bisa bergerak kembali, memperingatkanku
dengan tegas.
"Panglima Xylo,
kuserahkan mereka padamu. Lindungi mereka berdua. Mengerti?"
"Aku
mengerti."
Dia
menatapku dengan tatapan mata yang mengerikan, tapi sejujurnya, aku tidak bisa
berbuat banyak. Mereka berdua adalah bangsawan. Mereka akan bergerak di tempat
yang paling aman mengikuti Hord dan yang lainnya. Untuk berjaga-jaga, aku juga
menempatkan Tatsuya bersama mereka.
"Kau
sendiri, pastikan pekerjaanmu beres, ya."
"Tentu saja.
Akan kubuat mereka menyesal karena telah menduduki Ibu Kota Kedua
milikku."
"Kau
punya bawahan sekarang, jadi jangan bertengkar dengan mereka."
Sejujurnya,
itulah yang paling kukhawatirkan.
Saat perkenalan
pertama, Norugayu tiba-tiba mengaku sebagai Raja dari Kerajaan Persatuan di
depan para zeni. Seorang zeni yang mungkin masih muda bertanya dengan jujur,
"Apa maksud Anda dengan Yang Mulia?", dan langsung dibalas dengan
makian kemarahan yang hebat.
Jika Venetim
tidak segera menolong, hal itu mungkin akan memicu kebingungan dan keributan
yang tidak perlu.
"Itu bukan
pertengkaran! Itu adalah teguran yang benar. Terlalu banyak orang yang bicara
tidak sopan padaku."
"Itu...
mungkin karena mereka tegang."
Karena aku tidak
ingin merusak suasana hati Yang Mulia di saat seperti ini, aku hanya asal
bicara. Jika itu Venetim, apakah dia akan mengatakan sesuatu yang lebih baik?
"Prajurit
rendahan mana mungkin tahu cara bicara kepada seorang Raja."
"Hmm...
mungkin benar. Pendidikan memang diperlukan."
Yang
Mulia Norugayu mengelus janggutnya dan bergumam dengan tatapan mata yang tajam.
"Situasi
saat ini di mana akademi dimonopoli oleh kuil sangatlah tidak baik. Kita harus
membuka kas negara dan membangun akademi kerajaan. Dengar, Panglima Xylo.
Kekayaan sebuah negara itu pertama-tama harus dibangun dari dasarnya..."
Karena ceritanya
sepertinya akan panjang, aku diam-diam menutup hatiku.
Konsep negara
Yang Mulia Norugayu terdengar sangat sia-sia, dan yang terpenting, aku sama
sekali tidak mengerti. Setelah membiarkan Yang Mulia menceritakan visi
besarnya, aku memintanya berangkat menuju Utara.
Setelah Norugayu
dan pasukannya pergi duluan, diikuti Dotta dengan segelintir pasukan, barulah
barisan utama mulai bergerak.
Sambil
mengerahkan pengintai, kami maju melewati daerah perbukitan dengan kecepatan
maksimal.
Dari Desa
Kelplessi ke Gunung Toujin memakan waktu sekitar satu hari lebih sedikit jika
berjalan tanpa istirahat—setelah itu barulah kami mulai mendaki.
Seberapa banyak
kami bisa memangkas waktu perjalanan?
Jika pihak
Fenomena Raja Iblis menyadari pergerakan kami, mereka pun pasti akan mulai
bergerak.
Mereka pasti akan
segera sadar bahwa menutup komunikasi dengan Kota Jof adalah hal yang sia-sia.
"Xylo. Apa
menurutmu mereka sudah menyadari pergerakan kita?"
Di tengah
perjalanan, Patausche memacu kudanya ke sampingku.
"Apakah kita
bisa mencapai Gunung Toujin atau tidak. Bagaimana prediksimu?"
Mungkin ini hanya
sekadar basa-basi.
Bukannya dia
ingin membicarakan taktik sekarang. Dia hanya ingin meredakan ketegangan.
Kurasa Patausche memiliki pengetahuan militer dan kemampuan memimpin yang cukup
sebagai pemimpin ksatria suci, tapi mengingat usianya yang masih muda, dia
mungkin sangat kurang dalam pengalaman tempur yang sesungguhnya.
Aku mulai
memahami sosok bernama Patausche Kivia ini sedikit demi sedikit.
Mungkin karena
alasan "sedang dalam tugas", dia tidak tahu bagaimana cara
berbasa-basi selain topik kaku seperti ini. Di Pasukan Hukuman, tidak ada
prajurit yang benar-benar berperilaku layaknya prajurit seperti dia.
Jika ini Tsav,
dia pasti akan tanpa ragu melemparkan obrolan sampah yang tidak penting atau
cerita masa lalu yang tragis, dan jika ini Venetim, dia akan mulai membual
tanpa ada kaitannya dengan apa pun.
Maka aku menjawab
dengan santai.
"Kalau
beruntung, kita akan sampai."
"Mengandalkan
keberuntungan?"
"Kurasa kita
punya peluang menang yang cukup jika keberuntungan memihak kita."
"Pria yang
aneh. Kau selalu begitu. Apa kau tidak berniat berpikir serius?"
Kata-katanya
tajam, tapi tidak bersungguh-sungguh. Aku merasa dia hanya tidak tahu cara lain
untuk mengatakannya. Faktanya, Patausche tampak sedikit tersenyum.
"Tapi, mau
tidak mau kita memang harus berdoa untuk keberuntungan. Taruhan ini, jika
menang, akan menjadi langkah besar untuk merebut kembali Ibu Kota Kedua."
"Mengejutkan.
Patausche, kau suka judi?"
"Aku
tidak melakukan hiburan dekaden seperti itu."
"Berarti
kau payah, ya. Jika ada orang yang payah dalam taruhan, aku jadi cemas soal
arah operasi ini."
"...Aku
tidak payah. Seharusnya. Hanya saja, aku tidak melakukannya. Karena itu
dekaden!"
Hanya itu
yang dia katakan sebelum memacu kudanya lebih cepat, kembali ke barisan
kavaleri.
Segitu
saja sudah cukup. Ketegangannya pasti sudah reda. Entah kenapa, bertukar kata
dengan prajurit yang benar-benar berperilaku seperti prajurit terasa sangat
merindukan.
—Namun,
di tempat ini ada satu orang lagi yang mendengar ucapanku.
"Mengandalkan
keberuntungan, itu adalah ucapan yang bermasalah, Xylo Forbartz."
Hord
Krivios. Tanpa sadar dia sudah ada di belakangku—dengan Pelmelly yang
mengikutinya, dia mengendalikan kendali kuda dengan wajah muram. Sepertinya dia
menelan bulat-bulat ucapanku soal "mengandalkan keberuntungan".
"Operasi
ini adalah sesuatu yang juga kusujui dan kuterima. Kumohon berhentilah mengeluarkan ucapan yang
merendahkan keputusan itu."
"Yah, maaf
soal itu."
Karena malas
meladeni, aku melambaikan tangan untuk mendiamkannya.
"Maaf
aku banyak bicara hal yang tidak berguna."
"Aku
sudah lama memikirkan ini, tapi sikapmu benar-benar buruk, Xylo Forbartz. Sejak
dulu saat kau masih menjadi pemimpin ksatria suci kelima, aku sudah berpikir
bahwa posisi itu adalah sebuah kesalahan."
Sepertinya
aku sangat dibenci. Kalau diingat kembali, saat aku masih menjadi pemimpin
dulu, aku tidak punya kesan yang kuat terhadap pria bernama Hord ini. Karena
kami hampir tidak pernah mengobrol. Tapi, apakah itu hanya karena aku dibenci?
Aku baru menyadarinya sekarang.
Hord
menatapku tajam seolah sedang melihat sesuatu yang terkutuk.
"Pemikiranku
ternyata benar. Pilihanmu sebagai ksatria suci, memang adalah sebuah
kesalahan."
Aku
mencoba membalas sesuatu. Karena itu adalah topik yang tidak terlalu kuberikan
perhatian. Bahwa aku pernah menjadi pemimpin ksatria suci, mungkin memang
sebuah kesalahan.
Membunuh Goddess—ksatria
suci seperti itu tidak seharusnya ada. Mengenai kebenaran di baliknya, aku
tidak berpikir orang lain akan percaya meski aku menceritakannya.
Selain hinaan
tentang Cenerva, aku sudah terbiasa menerimanya dalam diam.
Namun, di
tempat ini ada seseorang yang tidak bisa diam saja.
"Cukup
sampai di situ. Ucapan Anda sudah keterlaluan."
Yang melongokkan
wajah dari punggungku dan menegurnya tentu saja adalah Teoritta. Meskipun sudah
bisa bergerak setelah istirahat semalam, dia masih tidak banyak bicara. Sebagai
gantinya, sekali dia bicara, dia akan bicara banyak sekaligus seolah ingin
melampiaskan kekesalan.
"Xylo adalah
ksatria suci pilihanku."
Sejak berangkat
tadi, dia terus memainkan Bisty (Batu Pemanas Abadi) yang kumasukkan ke
dalam kantong jaketku. Karena terasa geli, aku ingin dia menyentuh miliknya
sendiri, tapi sepertinya dia sama sekali tidak berniat mendengarkan.
Bisty adalah alat Segel Suci yang sering
digunakan dalam perjalanan barisan di musim dingin, dan memiliki fungsi
menghasilkan panas.
Karena segel suci
diukir pada batu mineral dari Zewan-Gun, harganya cukup mahal. Di dalam barang bantuan dari
keluarga Dasmitea, bahkan ada barang-barang mendetail seperti ini. Persiapan
mereka sepertinya sangat lengkap.
"Hord
Krivios. Aku tidak mengizinkan ucapan tidak sopan terhadap ksatriaku."
"...Itu
adalah—"
Hord
tampak bingung sejenak. Dia pasti tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap
keberadaan yang terlalu istimewa ini, seorang Goddess yang tergabung
dalam Pasukan Hukuman.
Namun,
dia segera memicingkan mata dan akhirnya memilih untuk mengikuti prinsipnya
sendiri.
"Maafkan
saya, Goddess Teoritta."
"Baguslah
jika Anda mengerti. Terpilihnya
Xylo dulu, sama sekali bukan sebuah kesalahan."
Teoritta
mendengus bangga.
Lalu, meski
sebaiknya tidak dilakukan, dia tersenyum kepada Pelmelly yang tampak ketakutan
di belakang Hord. Aku merasa itu adalah senyum seolah sedang menasihati adik
perempuannya.
"Goddess
Pelmelly. Kurasa Anda harus membimbing cara bicara ksatria Anda. Memang butuh
usaha keras, tapi membimbing manusia adalah tugas kita."
"...Eh...
itu, iya. Saya mengerti. Tapi..."
Pelmelly
sedikit menunduk. Dengan begitu, rambut hitam panjangnya menutupi matanya,
sehingga ekspresinya tidak terbaca dengan jelas.
"...Ksatria
saya, Hord, sama sekali tidak bermaksud buruk dengan ucapannya. Hanya saja...
dia sedikit terlalu perfeksionis, atau..."
"Jangan
bicara yang tidak perlu, Pelmelly."
Hord dengan cepat memotong kata-katanya.
"Aku
benci orang yang mengabaikan disiplin dan bertindak sesuka hati. Mengarang
kebohongan yang tidak masuk akal, mencuri pasokan, dan bersikap
sewenang-wenang. Saat aku berhasil mendapatkan buktinya nanti, aku akan segera
menghukum kalian tanpa ampun."
"Begitu
ya."
Semoga saja kau
bisa melakukannya, pikirku.
Bahkan para
Inspektur Mobilisasi dari Kantor Administrasi Persatuan yang sangat mereka
banggakan saja tidak bisa menangkap orang-orang ini sampai saat-saat terakhir.
Bagaimana dia
bisa melakukannya sambil menjalankan tugas utamanya memimpin pasukan?
"Kau
orang yang sangat serius, ya. Aku jadi paham kenapa kau bisa menyatukan
prajurit sebanyak ini saat sedang dipukul mundur."
Prinsip
militer tentang 'Penghargaan dan Hukuman yang Tegas' memang sering diucapkan,
namun perwira yang benar-benar bisa menjalankannya secara konsisten adalah
sosok yang sangat berharga.
Jika
ingin memimpin tentara dengan semacam "kebersihan" moral seperti itu,
dia sendiri harus menjadi perwujudan dari disiplin itu sendiri. A
tau, dia harus
punya wakil komandan hebat yang mau melakukan pekerjaan kotor untuknya.
Dulu, saat aku
masih menjadi Ksatria Suci, unitku adalah tipe yang kedua. Aku menyerahkan
tugas memarahi bawahan kepada wakil komandanku. Itulah sebabnya, meski tipe
seperti Hord ini menyebalkan, aku tidak membencinya.
"Tolong
biarkan prajuritmu bertahan hidup sebanyak mungkin."
"Itu adalah
hal yang wajar dilakukan bagi seorang komandan. Pujian semacam itu tidak akan
mengubah perasaan suka atau benciku, dan aku tidak berniat mengubah perlakuanku
pada kalian hanya karena perasaan pribadi," ucap Hord tanpa mengubah ekspresi
wajahnya. Aku tahu dia bicara sungguhan.
Itu artinya,
meskipun Hord membenci kami, selama kami menjalankan pekerjaan kami, kami tidak
akan saling menjegal. Sangat mudah dimengerti.
"...Anu...
bagaimana menurut Anda? Kontraktor saya juga... k-ksatria suci yang luar biasa,
kan?" Pelmelly tersenyum canggung. Hal ini sepertinya memicu rasa
persaingan dalam diri Teoritta.
"Yah, dia
lumayan juga, kurasa. Tapi, Xylo-ku juga luar biasa, lho. Sama sekali bukan
berlebihan jika kukatakan dia sangat, sangat luar biasa! Sekarang akan
kujelaskan secara mendetail, pertama-tama—"
Hentikan, aku
baru saja hendak mengatakannya, tapi pada akhirnya aku tidak perlu
menghentikannya.
Sebab,
suara terompet tanduk bergema, menenggelamkan suara Teoritta. Suara itu panjang
melengking, ditiup dua kali. Berasal dari arah Barat—para pengintai yang
dikerahkan ke sana sedang mengirimkan sinyal.
Artinya, musuh
telah ditemukan.
"Mereka
datang. Pergerakan kita ketahuan. Pasukan musuh dari arah Barat Daya, jumlahnya
ribuan."
Hord menyentuh
sesuatu yang tampak seperti perisai kecil yang terpasang di sabuk pinggangnya.
Itu adalah benda
yang diukir dengan Segel Suci untuk komunikasi. Mereka menyebutnya Wind Echo
Seal atau Echo. Harganya jauh lebih mahal daripada Bisty, dan
jika ukurannya sekecil itu, nilainya pasti cukup untuk membuat Dotta tidak bisa
melepaskan pandangannya.
"Semuanya,
pakai armor kalian! Persiapan tempur!" teriak Hord, lalu dia mengenakan
sesuatu yang tampak seperti topeng ke wajahnya. Itu adalah topeng baja berwarna
abu-abu kusam yang menutupi seluruh wajah, terlihat sangat menyeramkan. Jadi
ini adalah Poison-Breaker Mask yang terkenal dari Ksatria Suci
Kesembilan. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Katanya mereka
melindungi diri seperti ini saat bertempur agar bisa bertarung bersama Goddess
Pelmelly yang menggunakan racun secara taktis.
"Kau bisa
melakukannya, kan, Pelmelly?"
"...Iya.
Sebelum itu... maukah Anda mengatakan bahwa... jika itu aku, aku pasti bisa
melakukannya, Hord?"
"Jika itu
kau, kau pasti bisa."
"Kalau
begitu... aku bisa."
Pelmelly yang
sedari tadi menunduk sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Aku jadi
paham kenapa sikap Hord terhadap Pelmelly terasa begitu dingin dan mekanis.
Hord adalah orang yang terlalu serius. Dia mencoba melakukan apa yang diminta,
persis seperti yang diminta.
Dia percaya bahwa
itulah perlakuan yang benar. Aku merasa begitu.
"Xylo.
...Kami akan melakukan terobosan ke Utara dengan kekuatan penuh. Pasukan
Hukuman, tahan musuh yang mengejar. Begitu kami mengamankan posisi, aku akan
memberi sinyal. Sampai saat itu tiba, kalian harus mengulur waktu."
"Kata
'harus' itu agak merepotkan, ya. Tidak ada yang pasti di medan perang."
Sengaja
aku bicara dengan gaya yang dibenci Hord.
"Tapi,
aku akan mencobanya agar kau tidak punya alasan untuk mengeluh."
Bagi
lawan yang perfeksionis seperti ini, 'berusaha agar tidak dikeluhkan' adalah
tugas yang sangat berat.
Untuk
membungkam Hord, aku tidak punya pilihan selain menang telak.
—Dan jika itu tidak berhasil, kehancuranlah yang menanti kami.



Post a Comment