NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 2 Chapter 4 - 7

Hukuman

Penyamaran Liburan di Kota Pelabuhan Yof 4


Ada banyak barang langka yang datang dari wilayah barat melintasi Teluk Corio.

Wilayah itu memiliki budaya yang unik karena jalur daratnya terhalang oleh pegunungan.

Barat juga merupakan negara kelima yang paling terakhir bergabung ketika Kerajaan Serikat dibentuk dan lima keluarga kerajaan bersatu.

Konon, wilayah barat awalnya tidak menganut sistem kerajaan, melainkan semacam sistem pemilihan kepala suku.

Mereka bahkan tidak memiliki nama negara yang resmi, hanya sering disebut sebagai Wong Daolang untuk merujuk wilayah tersebut secara umum.

Kudengar perwakilan yang menyatukan berbagai suku di sana menyandang jabatan yang disebut "Wong" untuk memerintah rakyatnya.

Kayu gaharu yang khas, barang kerajinan, tenunan, hingga tembikar—ada berbagai macam barang istimewa yang semuanya sangat mencolok mata, terutama populer di kalangan wanita dan anak-anak.

Hal yang sama sepertinya berlaku bagi sang Goddess.

"Lihat ini, Xylo!"

Goddess Teoritta berkali-kali menarik lengan bajuku.

"Aku baru pertama kali melihat kain seperti itu. Bukankah itu terlihat seperti berkilauan? Lihat, warna merah itu! ──Luar biasa, kan, Xylo! Iya, kan!"

Dia menatapku dengan mata berbinar, seolah tidak bisa menahan rasa senangnya. Syukurlah, sepertinya dia berniat memperlihatkan barang-barang langka itu kepadaku.

"Tidakkah menurutmu itu akan cocok untukku? Lihat, gelang itu juga. Alangkah indahnya…… bentuknya seperti burung, lihat, yang itu!"

"Itu batu giok. Apalagi itu giok keras, barang mewah itu…… kainnya juga produk unggulan dari barat."

Barang-barang seperti itu biasanya dikenakan oleh kaum bangsawan di pesta malam. Dulu, saat aku terpaksa menemani Senerva ke perjamuan keluarga kerajaan, aku sempat tercengang setelah mengetahui harganya. Aku masih ingat hal itu.

"Harga kain itu saja cukup untuk membeli sebuah rumah. Kalau dijadikan pakaian, biayanya bisa setara dengan membangun benteng. Aku benar-benar tidak ingin membawa Dotta ke sini."

"Aku tidak bertanya soal harga. Aku juga tidak sedang mempermasalahkan Dotta sekarang."

Penjelasanku sepertinya tidak memuaskan bagi Teoritta.

"Nikmatilah dengan melihatnya, nikmatilah dengan membayangkannya. Sebagai Ksatriaku, kau harus mengerti hal itu."

"Nona Teoritta, mohon maaf sebelumnya, tapi aku rasa hal itu sulit bagi orang ini."

Kivia masih memasang wajah tidak senang dan tidak mau menatap mataku. Seingatku, aku bahkan belum pernah melihat orang ini dalam suasana hati yang baik.

"Dia adalah orang yang kurang imajinasi. Wajar saja jika dia tidak bisa memahami keindahan barang-barang seperti ini."

"Begitu ya. Benar juga."

Teoritta menatapku seperti sedang melihat anak kecil yang kurang didikan.

"Kalau begitu Kivia, beri tahu aku. Toko mana yang memiliki banyak kain dan hiasan seperti itu?"

"Serahkan padaku. Aku tahu betul toko-toko ternama di sekitar sini. ……Tunggu, Xylo. Kenapa matamu seperti itu?"

"Tidak."

Karena dipelototi oleh Kivia, aku pun menggeleng.

"Bukan apa-apa."

"Kota ini dekat dengan markas Unit Ksatria Suci ke-13. Aku juga sering berkunjung ke sini."

"Aku tidak bilang apa-apa sekarang."

"Karena itu, aku cukup tahu untuk bisa memandu kalian. Jauh lebih tahu daripadamu. Terlebih lagi, pakaianku hari ini juga sudah mempertimbangkan sifat misi kita, makanya aku sengaja mengurangi hiasan yang berlebihan."

"Aku tidak bilang apa-apa……"

"Meskipun begitu, ini sama sekali bukan pakaian pria."

Kivia melotot tajam ke arahku, lalu mempercepat langkahnya agar tidak menjauh dari Teoritta.

"Xylo, kau awasi saja bagian belakang dengan benar. Kau sadar, kan?" bisiknya saat melintas di sampingku.

Sepertinya Kivia juga sudah merasakan hawa keberadaan itu. Karena sudah begitu, aku tidak punya pilihan selain mengikuti punggung mereka berdua.

"Kak, sepertinya Kakak sedang kesulitan ya," ucap Tsav dengan nada yang sangat santai.

Tadi dia terus-menerus mengobrol dengan pedagang di kios sebelah.

Dari yang sempat kuping, sepertinya Tsav bercerita soal tikus yang baru-baru ini dia tangkap yang memiliki tanda lahir seperti wajah manusia di punggungnya, dan dia bilang, "Ini sangat langka jadi bayarlah kalau mau lihat, sekalian traktir aku makan juga." Dasar bodoh.

"Tapi ya, sepertinya misi ini tidak akan sia-sia. Mereka sudah mulai mendekat sekarang."

"Begitu ya."

Pekerjaan aku dan Kivia adalah bertarung di medan perang, jadi pengawalan di kota atau menghadapi pembunuhan bukanlah keahlian kami.

Meskipun kami bisa merasakan niat jahat atau hawa keberadaan musuh, kami tidak tahu secara spesifik seperti apa wujudnya atau metode apa yang akan mereka gunakan.

"Tsav. Jika kau yang harus menghabisi Goddess di sini, apa yang akan kau lakukan?"

Oleh karena itu, aku memutuskan untuk meminta pendapat dari ahlinya.

"Apa kau akan menunggu di gang yang sepi? Ataukah kau akan melakukan penembakan jitu?"

"Cuma ada dua pilihan itu? Kalau aku sih ogah dua-duanya."

Tsav berbicara dengan mulut penuh sambil mengunyah sate ayam bakar yang entah kapan dia beli.

"Kultus itu tidak punya ratusan pembunuh bayaran, lho. Paling banyak yang bisa mereka terjunkan sekaligus cuma lima atau enam orang…… mungkin."

"Kalau begitu, gang sepi adalah pilihan yang buruk."

"Kan? Targetnya adalah Goddess. Pasti ada lebih dari sepuluh pengawal yang mengintai di suatu tempat, dan semakin sepi tempatnya, kerugian jumlah personil akan semakin fatal, kan? Aku rasa tidak akan bisa mendekat."

Kenyataannya, di sekitar jalan ini memang sudah ditempatkan pasukan dari Unit Ksatria Suci ke-13. Melihat sifat Kivia yang merencanakan ini, setidaknya ada dua puluh orang.

"Jika tidak bisa mendekat, berarti sisanya tinggal penembakan jitu, kan?"

"Kak, jangan gunakan standar si jenius ajaib Tsav-kun sebagai patokan dong. Kalau aku sih memang ada kemungkinan sukses, tapi aku tidak akan melakukannya di sini."

Tsav mendongak ke atas. Langit sangat cerah, tetapi kain berwarna-warni yang terbentang di antara kios-kios serta atap bangunan yang menjorok menghalangi sinar matahari.

"Kalau benar-benar tidak ingin gagal, mereka pasti akan melakukannya dengan cara yang lebih pasti."

"Artinya, melakukannya di tengah keramaian."

"Benar sekali. Seperti serangan acak di tengah kerumunan."

Memang benar, pejalan kaki di sini sangat banyak. Kivia bergerak dengan sangat hati-hati agar orang-orang tidak mendekati Teoritta, tapi tetap saja ada batasnya. Tepat saat aku berpikir untuk mendekat dan melindungi mereka, Teoritta menoleh.

"Xylo!"

Sepertinya itu adalah kios peralatan logam. Di depan toko yang memajang panci, pelat besi, dan benda tajam, Teoritta melambaikan tangannya.

"Kalau ini, kau pasti bisa menilai kualitasnya, kan?"

Dengan gaya angkuh, Teoritta menunjuk ke arah pisau-pisau yang berjejer di depan toko.

"Pilihlah satu. Ini adalah oleh-oleh untuk memperingati hari ini."

"Peringatan apa?"

Aku sedikit tertawa, tapi Teoritta tampak serius.

"Peringatan bagi Goddess Teoritta yang telah memberkati jalan utama di kota ini."

"Terserah kau saja kalau begitu."

Aku memperhatikan pisau-pisau di depan toko. Semuanya adalah benda tajam dengan pengerjaan yang halus, tapi fungsinya paling-paling hanya pisau kecil untuk memotong buah.

"Benda tajam itu berbahaya, lho."

"Cara pakainya akan kupelajari dari Xylo. Itu kan keahlianmu. Sudahlah, pilih saja."

Karena dia bilang begitu, mau bagaimana lagi. Aku melihat kualitas baja dari mata pisau yang berjejer di sana.

Pisau buatan barat memiliki kualitas yang baik. Karena dibuat dengan metode pembuatan yang unik, muncul pola seperti gelombang pada mata pisaunya.

Metode ini disebut "Produksi Segel Barat". Bahkan ada bangsawan yang menjadi kolektornya.

Aku mengambil salah satu di antaranya dan memutuskan untuk membelinya dengan kupon militer.

Setelah menukar secarik kertas berstempel yang tak seberapa harganya itu dengan sebuah pisau, aku memilihkan tali kulit yang cocok untuk dijadikan ikat pinggang pedang bagi Teoritta.

Tali kulit rusa dengan pewarna yang berkilau sepertinya bagus. Saat aku hendak mengambil salah satunya, tanganku terhenti.

"Kivia."

Aku mencabut pisau yang baru saja kubeli dari sarungnya dan mengangkatnya setinggi mata.

"Kelihatan?"

"Ya."

Pada mata pisau dengan polesan halus seperti cermin itu, memang ada sesuatu yang terpantul. Sosok manusia yang sedang mendekat dari belakang.

Dua orang yang menerobos kerumunan dengan sedikit memaksa. Pakaian mereka tampak seperti warga sipil yang sedang berbelanja.

Namun, tangan mereka tersembunyi di balik lengan baju yang panjang, sehingga tidak terlihat.

"Lalu──siapa yang akan menjaga Teoritta?"

"Kau, Xylo. Jangan menjauh darinya."

"Hah?"

Kivia mengangguk, sementara Teoritta memiringkan kepalanya. Tsav dengan santainya menggigit sisa daging ayam dari tusukannya.

"Teoritta. Gunakan ini jika terjadi sesuatu, jadikan sebagai perisai."

Setelah membiarkannya menggenggam gagang pisau yang sudah kuikat dengan tali, aku mulai bergerak sealami mungkin. Aku memegang bahu Teoritta yang bingung seolah sedang merangkulnya.

Pada saat itu, Kivia sudah menghunuskan pedangnya. Sebuah belati tipis yang panjangnya sekitar satu hasta dari siku. Jenis pedang yang digunakan untuk menusuk.

"Jatuhkan senjata kalian."

Satu peringatan singkat.

Pedang Kivia berkilat, dan dalam sekejap mata, salah satu dari dua orang mencurigakan itu tertusuk bahunya. Pisau jatuh dari tangannya.

Darah menetes. Meski begitu, orang itu tidak menyerah dan mencoba menerjang Teoritta, namun kali ini bagian pahanya tertusuk. Terlebih lagi, hampir di kedua kaki secara bersamaan.

Orang mencurigakan itu ambruk dengan teriakan seperti suara burung.

"Aku sudah memperingatkanmu."

Teknik pedang Kivia bisa dibilang sangat luar biasa. Setidaknya soal pedang, dia lebih unggul dariku yang dulu menjalani latihan dengan asal-asalan.

Dia bahkan masih punya ruang untuk menodongkan pedang ke leher pria yang sudah tersungkur itu.

"Ups. Maaf ya, Kak."

Tsav mengeluarkan suara yang terdengar merasa bersalah.

Dia sendiri sudah membereskan orang mencurigakan yang satunya lagi. Orang itu benar-benar sudah tewas.

Tusukan sate yang tadi digigit Tsav tertancap hingga ke pangkal di tenggorokannya. Mata kirinya juga hancur.

"Anu…… tadi aku bilang paling banyak cuma lima atau enam orang, tapi……"

Tsav melirik ekspresi wajahku. Dia memasang wajah seolah-olah baru saja melakukan kesalahan besar.

"Kau berbohong ya."

"Bukan begitu, anu, begini. Aku benar-benar tidak tahu kalau kultus itu sudah jadi sebesar ini sekarang. Tolong jangan beri aku hukuman ya."

"Tidak akan. Sekarang bukan saatnya untuk itu."

Aku melihat ke arah kerumunan, sosok-sosok mencurigakan mulai mendekat satu demi satu.

Orang-orang yang memaksa menerobos kerumunan itu, berapa pun aku menghitungnya, ada lebih dari sepuluh orang. Berapa banyak Ksatria Suci yang telah mereka lumpuhkan? Jumlahnya terlalu banyak. Jangan-jangan ada hampir lima puluh orang yang dikerahkan.

Terlebih lagi, keributan mulai menyebar di tengah kerumunan akibat pertarungan tadi──seseorang berteriak saat melihat mayat orang mencurigakan itu. Seseorang terjatuh, dan yang lain mulai berlarian.

Barang-barang di kios terguling, situasi menjadi semakin kacau. Ini tidak bagus.

"Xylo!"

Kivia menusukkan pedangnya ke orang mencurigakan lainnya, lalu berteriak sambil menariknya keluar.

"Kita pindah dari sini! Rencana berubah, kita gunakan rute nomor dua!"

"Dimengerti."

Aku menjawab sambil menendang perut orang mencurigakan lainnya. Holy Seal Flight aktif, dan aku rasa aku telah menghancurkan organ dalam orang itu. Tubuhnya bahkan sedikit melayang sebelum akhirnya terguling di tanah.

"Hebat, Kak."

Tsav memujiku dengan suara yang terdengar agak ngeri.

"Kakak benar-benar tidak kenal ampun ya! Tipe orang yang membuat lawan jadi daging cincang sebelum membunuhnya…… seram……"

"Aku tidak membunuhnya dan tidak membuatnya jadi daging cincang. Jangan samakan aku denganmu."

Sambil membalasnya, aku menggenggam tangan Teoritta yang masih tampak bingung. Tangannya terasa sedikit dingin. Dengan ekspresi tegang seolah sedang menahan kecemasan, dia menengadah menatapku.

"Ksatriaku. Apakah sudah dimulai? Lalu bagaimana dengan hari liburku……?"

"Maaf ya, tapi kita harus mengubah rencana. Kita akan jalan-jalan lewat jalan yang lain sebentar."

Dalam hati aku berharap tidak ada lagi perubahan rencana setelah ini. Namun, aku juga tahu betul bahwa harapan semacam itu tidak pernah terwujud.


Hukuman

Penyamaran Liburan di Kota Pelabuhan Yof 5

Pokoknya, lokasinya sangat buruk. Terlalu banyak warga sipil di sini.

Ditambah lagi suasananya sangat kacau, membuatku sulit untuk bergerak. Aku tidak bisa melepaskan tangan Teoritta begitu saja.

"Kivia!"

Aku menendang sebuah tong, membuat sosok yang tampak seperti pembunuh yang mencoba mendekat itu jatuh tersungkur dengan keras.

"Lakukan sesuatu, ini benar-benar menyulitkan!"

Entah dia mendengar permintaanku atau tidak, Kivia langsung bertindak.

"──Kami adalah Ksatria Suci. Warga sipil, segera menjauh! Kami akan memblokade jalan ini!"

Kivia mengangkat tongkat pendek ke atas kepalanya. Ujung tongkat itu mengeluarkan kilatan cahaya yang disertai suara dentuman keras.

Itu juga merupakan Thunder Staff. Hanya saja, alat itu disetel untuk mengeluarkan output suara yang besar. Kekuatannya tidak akan seberapa jika tidak digunakan dalam jarak yang sangat dekat.

Itu adalah alat milik penjaga kota yang digunakan untuk memberi peringatan. Karena sering digunakan untuk memberi komando pasukan, beberapa komandan selalu membawanya ke mana-mana.

"Siapa pun yang bergerak ke arah kami akan dianggap sebagai musuh!"

Kivia menyatakan hal itu dan langsung membuktikannya melalui tindakan. Ia menghujamkan pedangnya ke lengan kanan seorang pria yang tampak terhuyung keluar dari kerumunan orang yang saling berdesakan.

"Guh!"

Pria itu meringis kesakitan. Sepertinya dia memegang pisau, karena terdengar suara denting logam yang jatuh dan memantul di atas tanah. Namun, Kivia tidak berhenti di situ.

"Sudah kubilang jangan mendekat. Apa kau tidak dengar?"

Kivia tidak mengendurkan serangannya. Meski telah kehilangan pisaunya, pria itu tetap mencoba menerjang, namun Kivia langsung menjatuhkannya dengan satu tebasan ke arah kaki.

Teknik yang luar biasa. Mirip dengan teknik tombak pendek, tapi sepertinya itu adalah aliran ilmu pedang Utara.

Dia mengambil posisi menyamping yang terasa agak ekstrem, lalu memfokuskan diri pada tusukan dan serangan balik. Ini benar-benar berbeda dari ilmu pedang Selatan yang aku pelajari, yang lebih mengutamakan ayunan bilah untuk menebas lawan.

"Ah—tidak, tidak, tidak, Nona Kivia. Bukankah lebih baik kita meminta bantuan warga sipil di sini?"

Sosok yang mengatakan hal tidak perlu itu adalah Tsav.

Dia juga sedang menyayat tenggorokan orang yang tampak seperti pembunuh dengan sebilah pisau seukuran telapak tangan. Mungkin itu adalah barang yang baru saja dia ambil tanpa izin dari kios terdekat.

"Lebih baik kita menggunakan warga sipil sebagai perisai. Ah, kalau bisa anak kecil saja!"

"A-apa...? Bajingan, apa maksudmu?"

"Mari kita biarkan Teoritta-chan menggendong seorang anak sebagai perisai, lalu kita pindah ke tempat yang aman. Aku ragu itu akan terjadi, tapi aku takut dengan serangan penembak jitu yang nekat!"

Tsav mungkin mengatakannya dengan serius, tapi nada bicaranya terlalu santai dan ceria. Hal ini sudah cukup untuk memicu kemarahan Kivia, dan nada bicaranya itu benar-benar menyiramkan bensin ke dalam api.

Mata tajam Kivia seolah-olah menyemburkan api.

"Apa yang kau katakan, dasar brengsek! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu!"

"Eeh?"

Tsav menatapku dengan wajah heran.

"Kenapa? Apa kau tidak mau melindungi Teoritta-chan? Padahal tadi kalian terlihat akrab... Hei, Kakak Xylo, katakan sesuatu! Orang ini dingin sekali!"

"Aku tidak akan mengatakannya. Sebaiknya kau pikirkan cara agar tidak ada korban di sekitar sini."

Aku menarik tangan Teoritta yang tampak ketakutan, lalu berusaha keluar dari jalan utama yang ramai.

"Jangan mencoba menjadikan orang asing yang tidak bersalah sebagai perisai, bodoh."

"Serius nih?"

Tsav mengerang dengan wajah pucat.

"Tidak, orang ini benar-benar serius, ya? Ini gawat, dia benar-benar tidak normal..."

Sambil mengerang, Tsav kembali membereskan satu orang lagi yang menerjang ke arahnya. Dia menjatuhkannya dan menghancurkan kepalanya.

Entah ilmu bela diri apa yang dia gunakan, tapi itu adalah teknik yang unik. Begitu dia mencengkeram bagian tubuh lawan, keseimbangan mereka langsung hancur, dan dia langsung menghabisinya.

(Apa yang dikatakan Tsav ada benarnya. Jika hanya memikirkan keselamatanku dan orang-orang terdekatku saja.)

Aku menyembunyikan pemandangan itu dari mata Teoritta dan berpikir sejenak. Memang, di dalam unit kami, hanya aku, Norgalle, dan Rhino yang melarang taktik biadab seperti yang dikatakan Tsav.

"Xylo! Masih ada yang datang!"

Teoritta memperingatiku.

Di depan arah kami berlari, seorang pria muncul dari celah gang. Dia menutup jalan kami dan jelas-jelas menjadikan kami sebagai targetnya. Jika dia tidak memegang pedang di satu tangannya, aku mungkin akan mempertimbangkan identitasnya sedikit lebih lama.

(Tapi—)

Apa yang sedang dilakukan para Ksatria Suci bawahan Kivia? Keributan terjadi di mana-mana di sepanjang jalan utama. Apakah ada penyerang lain, dan mereka sedang sibuk menanganinya? Sial.

"Xylo, jika lawannya adalah manusia, aku—"

Suara gumaman Teoritta menyiratkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Kecemasan itu, terlebih lagi, bukan karena nyawanya sendiri terancam. Aku yang memegang tangannya bisa merasakannya dengan jelas.

"Mungkin aku tidak bisa membantu. Aku tidak bisa menyerang mereka."

"Jangan dipikirkan. Biar kami yang menangani manusia."

Aku merangkul Teoritta. Aku merasakan percikan api kecil dari ujung jariku yang menyentuh rambutnya. Kemarahanku saat mengatakan "jangan dipikirkan" tadi pasti tersampaikan dengan jelas kepada Teoritta.

Para pembunuh dari ordo sialan ini hanya bisa memberikan masalah saja.

Begitulah kemarahanku.

"Teoritta. Pegang erat-erat, jangan lepaskan tanganku."

"──Baik."

Teoritta mengangguk mantap.

"Aku serahkan semuanya padamu."

Hanya itu yang perlu kudengar.

"Tsav! Kau bereskan kroco-kroco yang mendekat!"

"Ah. Jadi aku bagian menangani kroco, ya?"

"Sudah pasti kau, kan!"

Setelah membalasnya, aku menendang tanah. Aku mengaktifkan Flight Sign. Aku melompati kepala pria yang menutup gang itu, menendang dinding, lalu mengaktifkannya lagi—lompatan kedua. Aku mendarat dan berlari tanpa menoleh ke belakang.

Pria pembunuh yang menerjang tadi pasti merasa bingung. Haruskah dia mengejarku? Tapi jika dia melakukannya, dia akan membelakangi Kivia atau Tsav. Dalam kebingungan itu, semuanya pasti sudah berakhir. Salah satu dari Kivia atau Tsav pasti sudah menghabisinya, tapi aku tidak akan memastikan hal itu.

Sejak awal, ini memang pembagian peran yang sudah kami tentukan.

Aku, yang memiliki mobilitas tinggi dan komunikasi cepat, bertugas membawa Teoritta melarikan diri. Urusan kasar diserahkan kepada Kivia dan Tsav. Kali ini aku bisa bersantai sedikit.

Pokoknya, dengan begini aku berhasil masuk ke gang belakang dengan selamat. Ini adalah salah satu rute evakuasi yang telah dipersiapkan Kivia. Rute darurat jika terjadi hal yang tidak terduga di jalan utama. Aku juga sudah menghafal petanya di kepalaku.

Tujuan kami adalah sebuah sudut kota yang disebut "Cangkang Sodric".

Ini adalah area yang dikelilingi oleh gang-gang rumit, yang bisa dibilang sebagai sisi gelap kota Yof ini. Sejujurnya, keamanannya buruk, dan bahkan di siang hari pun jarang ada orang yang lewat. Jika petanya benar, di ujung gang ini ada tempat terbuka, dan para Ksatria Suci seharusnya sudah mengamankan daerah sekitarnya.

Di sana, perbedaan jumlah personel akhirnya akan terasa. Dalam pertempuran yang terorganisir, pada dasarnya pembunuh bukanlah tandingan bagi tentara. Meskipun ada pengecualian, memang begitulah sifat para pembunuh.

Namun, setelah berbelok dua kali di gang tersebut, aku terpaksa menghentikan langkahku.

(Ini buruk.)

Bahkan setelah sampai di sini, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ksatria Suci sama sekali. Aku merasakan firasat buruk, semacam rasa cemas yang membuat tengkukku merinding. Tergantung pada situasi dan kondisinya, aku biasanya berusaha untuk tidak mengabaikan intuisi semacam ini.

"──Xylo. Kau juga merasa ada yang aneh?"

Selagi aku berhenti, Kivia dan Tsav menyusul. Keduanya masih melangkah dengan ringan dan tidak tampak kehabisan napas.

"Sepertinya rute ini juga mulai sulit untuk dilewati."

Kivia rupanya juga memahami situasinya. Dia menyeka pedangnya yang berlumuran darah dengan jubahnya, lalu mengerutkan kening.

"Personel Ksatria Suciku tidak ada di sini. Padahal aku sudah menempatkan infanteri di distrik ini. Aku hanya bisa berasumsi bahwa sesuatu telah terjadi."

"Haa. Kalau begitu, bukankah itu berarti mereka sudah disingkirkan?"

Entah apa yang dikhawatirkannya sekarang, Tsav sibuk menepuk-nepuk pakaiannya yang berpasir.

"Setelah mencoba membunuh mereka, aku sadar bahwa orang-orang ini bukanlah pembunuh ordo yang sesungguhnya. Rasanya mereka tidak terlatih."

"Maksudmu mereka terlalu lemah?"

Mendengar pertanyaanku, Tsav menyeringai dan mengangguk.

"Yah, aku tidak merasa ada yang sekuat aku, tapi rasanya mereka memang terlalu payah. Hanya saja, senjata mereka memang milik ordo."

Rupanya dia mengambilnya tanpa kusadari, Tsav mengangkat sebuah pisau untuk diperlihatkan.

Aku bisa melihat sebuah simbol berbentuk baji segitiga terukir di bilahnya.

"Simbol ini milik pengikut ordo Nguyen Morsa. Yang mereka sebut sebagai 'Segel Suci Sejati'. Berbeda dengan simbol garis lurus dalam lingkaran yang diakui oleh kuil, kan?"

"Kalau begitu, keributan ini lebih ke arah..."

Hal semacam ini tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Aku mengutarakan satu kemungkinan.

"Apakah mereka melakukannya untuk menyamar sebagai tangan ordo? Memang benar, untuk ukuran ordo pembunuh dunia bawah, jumlah mereka terlalu banyak. Benar-benar kacau. Sebenarnya siapa mereka?"

"Mungkin ini adalah faksi yang memihak pada Fenomena Raja Iblis."

Kivia tampak memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ekspresi kaku di wajahnya tidak berubah. Namun, aku bisa merasakan nada suaranya mengandung getaran yang menyakitkan.

"Faksi Simbiosis? Kebetulan belakangan ini mereka juga mulai mengusikku."

"Ya. Setidaknya, mereka adalah orang-orang yang akan diuntungkan dengan membunuh Sang Goddess... Aku tidak pernah menyangka orang-orang seperti itu bisa menyusup ke dalam militer atau Ksatria Suci. Tapi—"

Kivia menyeka pedangnya dengan jubah, membersihkan noda pada segel suci di bilahnya.

"Sekarang, kita harus melewati tempat ini."

Dia mengatakannya sambil menatap tajam ke ujung gang.

Benar saja, aku juga sudah menduga mereka akan datang dari sana. Terdengar beberapa suara langkah kaki. Dan kemudian,

"Ugeh, apa-apaan itu!"

Tsav mengeluarkan suara yang tercekat.

Sekelompok orang yang tampak seperti pembunuh baru itu mengenakan helm pelindung hingga pelindung kaki. Ada tiga orang. Terlebih lagi, mereka memegang tongkat dengan kedua tangan.

"Bukankah itu Thunder Staff! Apa itu diperbolehkan!"

"Tentu saja tidak."

Kivia menegaskannya dengan wajah kesal, lalu mulai bergerak.

"Sialan. Bagaimana mungkin Thunder Staff bisa bocor keluar? Bagaimana pengawasan militer!"

Dia mengumpat seperti sedang mengeluh.

Seperti yang dikatakan Tsav, yang mereka pegang adalah Thunder Staff.

Senjata jenis ini distribusinya dikuasai secara eksklusif oleh militer, dan hampir tidak pernah beredar di masyarakat umum.

Kualifikasi kepemilikannya dikelola dengan ketat, dan jumlah produksinya pun sangat terbatas sejak awal.

Tidak peduli seberapa kuatnya orang-orang di dunia bawah, seharusnya mereka tidak bisa mendapatkannya dengan mudah.

"Apa yang sebenarnya terjadi, sih."

Aku ikut mengeluh sambil melindungi Teoritta di belakang punggungku.

Thunder Staff milik para pembunuh itu mengeluarkan kilatan cahaya—setidaknya bidikan mereka buruk. Dua dari tiga tembakan itu meleset jauh sejak awal, dan sisanya sudah diatasi oleh Kivia.

"Niskev."

Kivia bergumam, lalu menyentuhkan ujung pedangnya ke tanah dengan pelan.

Itu adalah kata untuk mengaktifkan Holy Sign. Terdengar suara seperti udara yang bergetar, dan sesuatu seperti tirai kabut biru tipis tercipta. Itu adalah perisai yang menghalangi tembakan dari Thunder Staff. Petir tersebut tertahan dan menghilang menjadi percikan api kecil.

Ini adalah teknik yang umum, disebut Shield Sign Niskev. Durasinya singkat, tetapi menghasilkan pelindung pertahanan yang kuat terhadap panas dan dampak fisik.

Sementara itu, aku sudah menyelesaikan seranganku.

Karena kali ini aku hanya bisa membawa dua buah pisau, aku menggunakan sesuatu yang lain. Aku merogoh saku dan mengambil koin.

Koin Kerajaan Baru yang diterbitkan oleh Kantor Administrasi Perserikatan.

Dibandingkan dengan koin Kerajaan Lama yang terbuat dari emas atau perak asli, nilainya masih rendah.

Aku menyusupkan kekuatan dari Zatte Finde Holy Sign ke dalamnya, lalu menjentikkannya dengan ujung jari.

Cukup pelan saja. Koin yang dijentikkan itu terbang ke hadapan para pembunuh, lalu meledak bersama kilatan cahaya.

Karena tidak diaktifkan dengan menusukkannya seperti pisau, daya hancurnya tidak sampai meledakkan tubuh dari dalam.

Tapi jika lawannya manusia, sangat mudah untuk membuat mereka terpental dan tidak berdaya. Dan itu langsung mengenai ketiganya sekaligus.

"Bagus. Kalau tidak ada orang asing di sekitar sini, ini jadi sangat mudah."

"Ah, tidak—"

Kivia menoleh, mungkin dia berniat untuk melontarkan candaan.

Namun matanya yang sempat mengendur itu kembali menyipit tajam.

"Tsav! Di atas kepalamu!"

"Owa."

Tsav mengeluarkan suara terkejut yang aneh, dan aku pun sedikit terkejut.

Benar saja, sosok itu jatuh dari atas kepala.

Sesosok bayangan kurus berpakaian serba hitam. Dia mengangkat lengan kanannya—apakah ada bilah di telapak tangannya? Bukan. Dia tidak memegang apa pun. Dia hanya mengayunkan tangan kosongnya ke bawah.

Tsav membalas serangan itu dengan reaksi seperti binatang buas.

Mungkin itu adalah naluri yang sudah mendarah daging. Dia menghindari serangan tangan kosong itu dengan mudah, lalu mengangkat pisau di tangannya, membidik leher lawan. Gerakannya akurat dan tanpa cela.

Namun, serangannya berhasil dihindari.

Tsav tetap tidak goyah, dia memutar bilah pisaunya dan mencoba menusukkannya ke arah lawan.

Di saat yang sama, dia juga mencampurkan gerakan menjegal kaki dan mencengkeram kerah baju lawan. Itu adalah pergerakan tubuh yang mulus dan teknik tajam yang dihasilkan darinya.

Tepat saat kupikir pertarungan itu akan berakhir, Tsav melompat ke belakang seperti seekor belalang.

Terdengar suara keras yang tajam berkali-kali.

Di mataku, tampak seolah-olah bayangan kurus yang melompat turun itu menangkis pisau dengan tangan kiri, lalu mendaratkan tamparan tangan terbuka ke pinggang Tsav. Tsav seharusnya sudah menangkis itu juga. Tapi ini—

"Tunggu sebentar, tidak mungkin..."

Senyum paksa muncul di wajah Tsav.

Meskipun wajahnya masih terlihat santai, terlihat keringat dingin akibat rasa sakit mengucur di dahinya. Darah menetes dari lengan kirinya yang digunakan untuk menangkis. Darah itu terciprat ke tanah dan mengalir deras.

"Apa-apaan orang ini."

Lengan kiri Tsav mengalami luka parah. Hingga ke bagian lengan atasnya tampak hancur terkoyak.

"Dia melakukan sesuatu yang jahat, Kakak... Sial, ini sakit sekali..."

Ada banyak bekas tusukan seolah-olah binatang buas telah menancapkan taringnya—apa yang telah dilakukan padanya? Pisau di tangan kanannya juga patah. Setelah itu, Tsav berlutut di tanah.

Bayangan kurus berpakaian serba hitam itu menoleh ke arah kami.

Wajahnya juga ditutupi kain hitam pekat. Melalui matanya yang sedikit terlihat dari balik kain itu, kupikir dia sedang menatapku dan Teoritta.

Mata yang seperti binatang buas.

Jaraknya terlalu dekat, pikirku.


Hukuman

Penyamaran Liburan di Kota Pelabuhan Yof 6

Pembunuh kurus berpakaian hitam itu tidak banyak bicara. Dia mengulurkan tangan kanannya ke depan, seolah-olah mengajak bersalaman.

Apakah itu kuda-kudanya?

Itu adalah posisi bela diri yang tidak biasa. Dia tidak merendahkan pinggul, juga tidak mengepalkan tinju.

Tangan kirinya ditarik ke depan pinggang dalam posisi menengah. Jarak di antara kami hanya empat langkah, dan di belakangku ada Teoritta.

(Ini tidak bagus.)

Pilihan untuk menghindar hampir tertutup sepenuhnya. Ataukah aku harus segera mendekap Teoritta dan menggunakan Flight Sign untuk menjauh—tapi untuk itu, sesaat aku harus membelakangi musuh.

"Xylo. ...Aku,"

"Jangan menjauh. Jangan memunculkan wajahmu dari punggungku."

Aku memperingatkan Teoritta dengan tegas.

"Akan kuselesaikan dengan cepat."

"……Jika itu ksatria milikku, sudah sewajarnya."

Teoritta mencengkeram ujung baju di punggungku sekali dengan kuat. Sedikit sesak memang, tapi tingkat bahaya seperti ini bahkan belum masuk hitungan krisis. Memangnya dia pikir sudah berapa banyak situasi mengerikan yang telah dilalui Unit Pasukan Berani Mati kami?

Karena itu, aku masih santai. Aku menyapa Tsav yang sedang meringkuk.

"Tsav, kau juga jangan melakukan hal yang tidak perlu."

"Aduh, jangankan itu, bergerak saja aku tidak bisa. Ini gawat."

Tsav mencoba menghentikan pendarahan di lengan kirinya tepat di bagian bahu. Luka itu tampak seperti gigitan dalam dari binatang buas. Meski kehilangan banyak darah, dia tetap tersenyum santai dengan wajah yang bersimbah keringat dingin.

"Lenganku tidak bisa dipakai lagi."

"Wah, merepotkan ya."

"Tapi, Kakak, apa kau lihat? Tadi, kedua lengan orang ini──"

Sebelum Tsav selesai bicara, pembunuh kurus itu bergerak. Atau lebih tepatnya, dia hanya memindahkan sedikit berat badannya. Dari situ aku tahu dia akan menyerang. Sebuah awal gerakan yang bahkan tidak bisa disebut celah.

(Bertahan adalah langkah yang buruk.)

Terutama saat menghadapi seorang pembunuh. Akhirnya, aku memilih untuk menyerang. Aku mencabut pisau dari sabuk. Melemparnya dalam satu gerakan berkesinambungan. Aku sudah melatih lemparan pisau secepat kilat ini hingga mual. Aku, yang tidak pernah meleset saat melempar pisau dari udara, tidak mungkin melakukan kesalahan saat berada di darat.

Targetnya adalah di antara kedua alis lawan. Aku mengira tubuhnya akan goyah saat mencoba menghindari serangan ini, namun lawan memilih untuk menangkisnya. Dia menangkis pisau itu dengan pelindung lengan di tangan kanannya.

Pada saat itu, Zatte Finde Holy Sign meledak.

Dalam jarak sedekat ini, aku tidak bisa menggunakan ledakan yang terlalu kuat, namun seharusnya itu cukup kuat untuk menghancurkan lengan manusia. Namun, pembunuh kurus itu terus merangsek maju menembus kilatan cahaya dan gelombang ledakan.

Lengan kanannya baik-baik saja. Tanpa luka sedikit pun──kenapa? Ujung jari pembunuh itu membelah angin, merentang tepat ke depan mataku. Aku menjatuhkan tubuh ke belakang dengan sekuat tenaga──lalu bayangan tinggi berambut hitam menghalangi pandanganku.

"Huh."

Hanya sebuah embusan napas pendek. Itu adalah pedang Kivia. Dia menusukkannya dari samping ke arah lengan kanan pembunuh itu. Terdengar suara dentuman logam yang tajam. Saat benturan terjadi, Kivia menahan napas, dan sang pembunuh menyipitkan mata. Apa dia tersenyum? Lengan kirinya yang kurus bergerak. Membidik perut Kivia.

Pada saat itu, aku juga bisa melihatnya. Kivia berniat untuk merangsek maju.

"Jangan!"

Aku menarik bahu Kivia yang hendak meluncurkan tusukan berikutnya dengan sekuat tenaga. Untungnya aku sempat. Kami berdua jatuh terduduk dengan posisi yang konyol, dan Kivia menatapku dengan tatapan mencela, tapi aku tidak peduli. Luka fatal berhasil dihindari.

Suara berderak bakin bergema. Itu adalah lengan pembunuh berpakaian hitam tersebut. Lebih tepatnya, pelindung lengan berwarna abu-abu timah yang menutupinya. Saat dia menyodorkan tangan kanannya, pelindung lengan aneh itu──tampak terurai berantakan.

Benda yang terlihat seperti pelindung lengan itu rupanya adalah kumpulan tali. Atau mungkin kabel yang terbuat dari baja. Benda itu terurai, berubah bentuk, dan menekuk berulang kali. ──Lalu, terbentuklah banyak sudut tajam seperti taring. Benar-benar mirip dengan rahang binatang buas.

Benda itu mengatup seolah menggigit tepat di depan mata Kivia.

"Guh."

Suara erangan keluar dari tenggorokan putih Kivia. Jika lehernya sedikit saja lebih maju, dia pasti sudah tercabik-cabik. Rahasia di balik lengan Tsav yang hancur berantakan juga rupanya berasal dari mekanisme pelindung lengan ini. Sepertinya ledakanku juga ditahan dengan menyusun kabel-kabel baja itu menjadi perisai kecil. Pelindung lengan itu memiliki kemampuan untuk berubah bentuk dengan sangat fleksibel dan dalam kecepatan yang luar biasa.

(Pasti ini adalah semacam kumpulan Sign.)

Terlebih lagi, ini mungkin barang spesial yang belum diadopsi oleh militer. Melihat sifatnya, ini mungkin salah satu dari kumpulan Strike Sign. Pasti ada efek untuk meningkatkan kemampuan fisik juga. Setelah diketahui ternyata sederhana, namun bisa dibilang sangat kuat dalam pertarungan jarak dekat. Untuk menghancurkannya, diperlukan ledakan yang sangat kuat.

Tapi, bisakah? Seberapa besar skala ledakan yang memungkinkan? Jika aku melakukan hal ceroboh di gang belakang seperti ini, kami juga bisa terjebak dalam reruntuhan bangunan. Karena ada Teoritta di sini, aku terpaksa mencobanya dengan kekuatan minimal yang paling mepet.

Pembunuh kurus itu hendak melakukan serangan lanjutan pada kami yang terjatuh. Namun, tidak semudah itu──sambil terjatuh, aku melemparkan koin dengan tangan kiriku.

(Rasakan ini, bodoh.)

Tepat di atas kepalanya. Ledakan dan guncangan yang lebih kuat dari sebelumnya terjadi. Sang pembunuh secara refleks menangkisnya lagi dengan pelindung lengannya, namun dia melompat mundur dan mendarat dengan posisi seperti binatang yang merayap di tanah.

Hanya saja, dia tidak sepenuhnya tanpa luka. Penutup wajah hitamnya terkelupas akibat ledakan, memperlihatkan wajah seorang wanita kurus.

Dari postur dan gerakannya, aku memang merasa seperti itu. Tatapan matanya yang seperti binatang buas itu menatapku, Kivia, dan Teoritta secara bergantian.

Tatapan yang seolah sedang menilai kembali targetnya. Mungkin dia sedang memikirkan urutan siapa yang akan dihabisi terlebih dahulu.

"……Terima kasih bantuannya."

Kivia mengerang pelan. Sambil tetap menatap tajam ke arah musuh dengan wajah ketusnya. Aku menyadari bahwa sikap tersebut adalah caranya menunjukkan rasa terima kasih. Kalau begitu, kita masih bisa beraksi.

"Bisa lanjut, Kivia? Kalau kau lelah, kau boleh tidur saja."

"Beraninya kau bicara begitu padaku."

Sambil merengut, Kivia perlahan berdiri.

"Jangan banyak bicara."

Dia mengambil posisi menyamping dan menyiapkan pedangnya. Dia maju ke depan──aku mundur selangkah. Posisi kami sekarang adalah aku dan Kivia mengapit Teoritta. Itu perlu dilakukan.

Karena situasinya terus memburuk. Dari belakang, terdengar lagi beberapa suara langkah kaki──dari arah gang yang berlawanan, muncul lagi enam pembunuh baru. Lima di antaranya membawa Thunder Staff.

(Benar-benar, apa yang sedang terjadi sih.)

Aku mulai muak dengan mereka semua. Bukankah ini berarti ada organisasi yang seratus kali lebih besar dari yang kubayangkan sedang bergerak?

"……Cukup sampai di situ, Shiji Bau."

Dari arah kelompok baru di belakang, terdengar suara yang parau seperti berkarat. Aku memutar tubuh dan mengarahkan pandangan ke sana.

"Jika kau menghadapi Pasukan Berani Mati yang didampingi oleh Goddess, kemungkinan menangmu hanya satu banding seribu. Sebaiknya tarik diri sekarang. Tidak ada keuntungan sedikit pun untuk melanjutkan pertarungan yang tidak berarti ini."

Suara yang lesu. Mengenakan pakaian hitam yang dekil──yang ini jelas seorang pria. Di antara kelompok baru itu, hanya dia yang tidak membawa Thunder Staff. Punggungnya sangat bungkuk, tapi jika dia berdiri tegak, mungkin tingginya akan setara denganku. Wajahnya pucat dan tampak tidak sehat. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun terdengar seperti gumaman yang suram.

"Apa kau dengar? Shiji Bau. Kau bilang kau adalah seorang profesional, kan? Spesialis pembunuhan. Jika begitu, kau seharusnya tahu kapan waktunya untuk mundur."

"Kau benar-benar seorang amatir ya……"

Wanita yang dipanggil Shiji Bau itu merengut terang-terangan.

"Jangan memanggil nama orang sembarangan. Tidak ada satu pun hal yang boleh diketahui orang lain. Itu adalah pengetahuan umum bagi profesional, Boojum."

Seolah membalas, Shiji Bau memanggil nama pria bungkuk itu. Boojum. Apakah itu namanya, ataukah nama julukannya? Menanggapi hal itu, Boojum dengan sopan menundukkan kepalanya sedikit.

"Begitu ya, rupanya seperti itu. Aku paham. Aku tidak tahu etika umum di industri ini. Mohon bimbingannya di masa depan sebagai seniorku──"

"T-tunggu sebentar, Tuan. Ini bukan waktunya melakukan hal seperti itu."

Kata-kata Boojum yang sepertinya akan panjang itu dipotong oleh pembunuh lain yang membawa Thunder Staff. Mungkin dia merasa cemas dengan percakapan santai ini.

"Kita harus segera mundur! Jika tidak cepat, para Ksatria Suci akan──"

"Maaf. Tolong diam."

Boojum melambaikan tangan kirinya dengan ringan ke arah belakang.

"Aku sedang berbicara dengan Shiji Bau. Memotong pembicaraan seharusnya adalah hal yang tidak sopan."

Gerakan itu seperti sebuah tamparan. Dari pandanganku, hanya itu yang terlihat. Namun hanya dengan itu saja, rahang bawah pria yang berbicara tadi menghilang──bukan, apakah itu meledak? Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi pria itu jatuh berlutut sambil menjerit melengking. Dia merangkak sambil menumpahkan darah.

Aku bisa melihat Teoritta membelalakkan mata dan menahan napas. Aku menutupi pandangannya dengan telapak tanganku.

"Hmph."

Shiji Bau melirik sekilas ke arah pria yang rahangnya hancur itu, lalu mendengus tidak senang.

"Kau berlebihan. Apa kau lupa kalau kau dilarang membunuh tanpa alasan?"

"Membunuh? Aku tidak melakukan hal itu, bukankah itu kasihan?"

"Tapi kau menghancurkan rahangnya. Kau benar-benar pria yang konyol──"

Sambil berbicara dengan nada seperti mengobrol biasa, Shiji Bau diam-diam melangkahkan kakinya ke depan. Secara intuitif aku tahu bahwa itu adalah pertanda serangan. Begitu juga bagi Kivia. Aku sudah tahu trik musuh. Karena itu, aku tidak akan meladeni pertarungan jarak dekat secara jujur.

"Kivia. Kita bagi tugas, kelompok yang baru datang itu sepertinya juga berbahaya."

"Ya. Wanita pelindung lengan itu, bagianku."

Kivia bergerak untuk menghalangi langkah Shiji Bau. Ujung pedangnya menghujam tanah dan memancarkan cahaya.

"Niskev!"

"Cih."

Dinding pelindung berwarna biru pucat pun terbentuk, membuat Shiji Bau berdecak kesal. Tinju yang dilancarkannya, serta serangan seperti taring dari perubahan bentuk pelindung lengannya, tertahan oleh dinding tersebut. Terdengar suara benturan yang keras.

Jika petarung selevel Kivia berkonsentrasi penuh pada pertahanan dengan Holy Sign, tidak akan semudah itu untuk menembusnya. Sementara itu, aku akan membereskan kelompok yang baru datang. Untuk itu, aku mencabut pisau. Pisau yang sudah kukumpulkan dengan baik, milik pembunuh dari Ordo Nguyen Morsa yang tadi digunakan.

"Shiji Bau tampaknya bersemangat. Aku juga akan maju──Jangan tembakkan Thunder Staff. Jika terkena punggungku, itu akan sedikit sakit."

Boojum melangkah maju dengan langkah yang seolah menyeret tanah.

"Permisi."

Sambil menyipitkan mata, Boojum berakselerasi dengan tiba-tiba. Dia jauh lebih cepat dari yang kuduga. Dia melompat ke kiri. Menendang dinding. Ke atas. Dia juga menggunakan gang sempit ini secara tiga dimensi dalam cara bertarungnya.

(Langsung dari atas kepalaku, ya!)

Aku melemparkan pisau ke arah sana. Karena aku mengira dia tidak akan bisa melakukan gerakan menghindar yang berarti di udara. Namun, itu adalah kesalahan. Di atas kepalaku──Boojum memutar tubuhnya dari sana dan berakselerasi. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan dan bagaimana caranya. Hanya saja sesaat, aku merasa lengan kanannya melecut seperti cambuk. Terdengar suara bergejolak seperti sesuatu yang berbuih.

(Siapa sebenarnya orang ini?)

Pisau yang kulemparkan untuk menghadang meleset dan meledak di udara. Cahaya, suara, dan guncangan. Mungkin itu mengejutkan lawan. Jika tidak, aku tidak tahu alasan mengapa dia bisa menghindari serangan itu dengan mundur seketika. Meski aku berakhir jatuh dengan posisi yang tidak elegan, setidaknya aku berhasil menghindari serangan yang fatal.

Terdengar lagi suara seperti sesuatu yang berbuih. Suara itu telah mengoyak tempat aku berada tadi.

Aku baru saja berhasil menghindar pada detik terakhir. Tanah. Begitu juga dinding.

Terdapat luka seolah-olah telah disayat oleh pedang atau sesuatu yang serupa.

Apa yang telah dia lakukan?

Senjata apa yang dia gunakan?

Dia tidak tampak memegang apa pun, tapi apakah itu senjata rahasia yang sama seperti milik Shiji Bau?

Banyak sekali tanda tanya. Namun, tidak ada waktu untuk berpikir pelan-pelan.

"……Ledakan. Kekuatan Holy Sign, ya. Pasukan Berani Mati──apakah kau Xylo Forbarz yang dirumorkan itu?"

Tanpa kusadari, Boojum telah mengambil jarak dariku. Kecepatan yang tidak bisa dipercaya. Benar-benar seperti jenis binatang buas. Dengan punggung yang sangat bungkuk, dia menatapku dengan pandangan melirik ke atas. Di sana terdapat pancaran kekaguman yang luar biasa murni.

"Aku tidak menyangka akan bertemu di sini. Di dalam bayanganku pun, ini adalah salah satu situasi yang paling sulit."

"Apa maumu?"

Sambil berhati-hati membangunkan tubuhku, aku memutuskan untuk mencoba mengajaknya bicara. Dia adalah lawan yang identitasnya benar-benar tidak diketahui.

Bagaimana dia bisa membuat lintasan seperti itu di udara?

Bekas luka seperti cakaran di dinding dan tanah itu apa?

Orang ini tidak mengenakan pelindung lengan senjata Holy Sign seperti Shiji Bau.

Penampilannya hanyalah seorang pria bungkuk yang tampak sangat tidak sehat. Seharusnya hanya itu saja, tapi perasaanku sangat gelisah.

"Kau, kau bilang namamu Boojum ya. Apa yang baru saja kau lakukan tadi? Cara menghindarmu luar biasa sekali. Apa kau dulunya anggota kelompok akrobat sirkus?"

"Bukan."

Boojum tidak menanggapi candaanku. Tatapan matanya yang dingin hanya terpancar dengan serius dan tajam.

"Kaulah yang memiliki keterampilan luar biasa. Terutama presisi lemparan pisaumu sangat hebat. Bukankah kau yang lebih pantas berada di sirkus?"

"Sebenarnya, aku sudah melakukannya sekitar tiga tahun. Aku adalah ahli lempar pisau, dan aku juga mahir bermain ayunan trapeze."

Aku melontarkan candaan konyol. Boojum tidak tertawa, dia hanya mengangguk.

"Begitu ya. Pantas saja kau memiliki keterampilan seperti itu."

Serius? Orang ini benar-benar menelan mentah-mentah semua candaanku.

"Sejauh yang aku tahu, tidaklah berlebihan jika aku menyebutmu sebagai ahli nomor satu di dunia. Aku menghormatimu."

"Boojum. Kau terlalu banyak bicara, bodoh."

Shiji Bau memberikan teguran dengan suara rendah.

"Jangan memberikan informasi yang tidak perlu. Apa kau benar-benar seorang amatir?"

"Begitu ya. Seorang profesional tidak memberikan penjelasan seperti itu. Aku paham lagi sekarang."

"……Hahaha. Orang-orang ini gawat ya."

Tanpa kusadari, Tsav yang merangkak mendekati kakiku bergumam pelan.

"Pria bungkuk itu gawat, tapi Shiji Bau…… kalau nama wanita yang di sana, aku pun pernah mendengarnya. Dia adalah petualang terkenal. Ternyata dia memang bukan pembunuh dari ordo."

"Tidak seperti kau, sepertinya tingkat keberhasilan pembunuhannya tinggi ya."

"Benar kan. Karena wajahnya terlihat sangat bengis. Dalam hal itu, aku adalah orang baik yang memiliki daya tarik…… hehe……"

Meskipun membalas candaanku, darah yang mengalir dari tubuh Tsav sudah terlalu banyak. Suaranya pun kurang bertenaga.

"Teoritta-chan, lebih baik jangan bergerak. Ayo kita duduk dan menonton di sini saja. Kakak dan kakak perempuan di sana sangat kuat…… jadi mungkin akan baik-baik saja……"

"Hentikan. Siapa yang kau panggil kakak perempuan?"

Kivia yang merengut masih memiliki ketenangan untuk menanggapi candaan tersebut. Syukurlah. Orang yang kehilangan ketenangan akan menjadi kaku dalam gerakan maupun pemikiran. Memang benar, Kivia memang layak menjadi komandan Ksatria Suci di usia semuda ini.

Namun, tidak demikian dengan Teoritta.

"Xylo."

Teoritta kembali mencengkeram ujung baju di punggungku.

"……Apakah keselamatan diperlukan? Ksatriaku. Jika itu aku…… pasti……"

Wajahnya yang pucat terlihat sangat serius, aku tahu dia sedang berusaha memantapkan tekadnya.

"Aku bisa membantu kalian. Dengan menjatuhkan pedang, hujan pedang……"

"Hentikan."

Aku memegang bahu Teoritta.

Dia memaksakan diri. Dia gemetar. Dia sedang mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya untuk melawan rasa takut, dan yang terpenting, melawan sesuatu yang bisa dibilang sebagai insting di dalam dirinya. Aku tahu betapa menderitanya bagi seorang Goddess ketika dia mencoba menyakiti manusia.

(Benar. Mana mungkin aku lupa.)

Aku pasti tahu itu. Aku ingat. Aku berusaha keras untuk mengingat saat-saat itu.

"Hentikan, Teoritta. Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu, dan itu bukan tugasmu."

"Jika itu aku, aku bisa menyelamatkan kalian. Seharusnya aku bisa……!"

Dengan berulang kali menggunakan kata "menyelamatkan", dia mencoba membenarkan tindakannya sendiri.

"Hentikan."

Aku kembali mencengkeram bahu Teoritta dengan kuat.

"Tidak apa-apa."

"Tapi,"

Teoritta balas mencengkeram tanganku.

"……Ada sesuatu yang aneh. Perasaan yang sangat aneh…… pria itu……"

"Tunggu! Teoritta-chan, Kakak, mereka datang!"

Teoritta hendak mengatakan sesuatu. Aku mencoba mendengarkan kelanjutan kata-katanya, namun Tsav berbisik dengan tajam seolah mengganggunya. Aku mengangguk kembali padanya. "Membuatku menunggu saja," pikirku.

"Tepat waktu ya. Jadi jangan memaksakan diri, Teoritta."

"Eh?"

"Kita tidak bertarung hanya berdua saja."

Aku mendongak ke atas. Sebuah bayangan hitam besar melintasi langit.

"Tiarap!"

Aku memegang kepala Teoritta dan membuatnya tiarap di tempat. Kivia pun segera bereaksi. Shiji Bau juga melompat mundur seketika. Yang tidak sempat bereaksi adalah orang-orang selain mereka.

Api seolah tersembur jatuh dari langit. Api yang begitu dahsyat hingga seolah mampu membakar sampai ke tulang. Api itu menyinari gang belakang dengan warna merah membara, memenuhi tempat itu, dan meluap dalam sekejap mata. Manusia dibakar hidup-hidup.

Para pembunuh itu menjerit kesakitan dan terhuyung-huyung di tanah seolah sedang menari. Boojum pun tidak terkecuali. Dia diliputi api, terhuyung, dan menabrak dinding.

Neraka muncul secara tiba-tiba. Kivia pun tampak terpana──aku menutupi mata Teoritta dengan telapak tanganku.

Karena tragedi itu belum berakhir. Di tengah kobaran api, seorang pembunuh mencoba melarikan diri.

Bagian kepalanya hancur oleh ujung tombak. Tombak yang dilemparkan dari langit telah menghancurkan tengkoraknya.

"Oh."

Terdengar suara datar dari atas kepala. Seekor naga biru dengan sayap terlipat──Neely, dan juga Jace turun mendarat. Rupanya Tsav sudah memanggil mereka.

Karena penunggang naga ini telah kembali ke Unit Pasukan Berani Mati, kami tidak akan terisolasi di medan perang.

"Kau memanggilku ke tempat sesempit ini."

Kata Jace. Dengan wajah tidak senang seperti biasanya.

"Tadinya aku ingin menolak, tapi berterima kasihlah pada Neely. Ini hutang budi ya."

"Aku mengerti."

Aku menyerah. Sepertinya nanti aku harus mentraktirnya. Tsav pun memasang senyum kaku.

"Maaf ya, Neely."

"Terima kasih atas bantuannya, Kak Neely."

Mendengar kata-kata aku dan Tsav, Neely mendengus—hyu—.

Entah dia sedang menjawab, ataukah dia hanya tertawa. Bagaimanapun juga, dia menjulurkan lehernya, dan Jace mengusap bagian tenggorokannya.

"Ah, tidak apa-apa? Kau baik sekali, Neely. ……Tentu saja begitu, kita ulangi lagi liburannya. Besok kita akan terbang sampai ke lepas pantai."

Melihat Jace dan Neely di tengah kobaran api terasa agak tidak masuk akal, tapi entah kenapa pemandangan itu terasa sangat pas.

"──Panggil tim pemadam api!"

Kivia berteriak dengan panik dan berdiri.

"Xylo, segera hubungi kantor pusat! Kita harus mencegah apinya merembet!"

──Inilah masalahnya saat menggunakan Jace.

Orang ini sama sekali tidak mempertimbangkan kerusakan pada orang-orang di sekitarnya.

Sejak awal, dia memang merasa tidak perlu mempertimbangkannya.

Jika tidak diikat dengan kuat menggunakan Holy Sign, biasanya hasilnya akan berakhir buruk.

Karena melibatkan naga, kerusakannya jauh lebih besar daripada membiarkan Tsav melakukan apa pun sesukanya.

(Sepertinya kita akan dimarahi lagi setelah ini.)

Aku menoleh ke belakang dengan perasaan suram. Begitu aku sadar, tentu saja sosok Shiji Bau──wanita itu sudah lama menghilang. Tentu saja dia akan kabur.

Namun, masalahnya tinggal satu orang lagi. Boojum.

Di antara para pembunuh yang terbakar, hanya dia yang tidak menjerit kesakitan. Sambil terbakar, dia menatapku dengan wajah tenang.

"Kau memanggil bantuan naga, ya. Luar biasa, Pasukan Berani Mati."

Sambil berbicara, aku bisa melihat kulitnya melepuh dan berbuih. Tampak seolah-olah daging yang terbakar itu langsung sembuh di saat yang bersamaan.




"Begitu rupanya. Api naga memang panas dan tak tertahankan. Darahku pun tidak cukup. Ini pelajaran yang berharga... Aku izin pamit... duluan..."

Aku sempat bimbang sejenak, apakah harus menanyakan sesuatu padanya.

"Sampai jumpa lagi."

Hanya itu yang diucapkannya sebelum Boojum melompat. Meninggalkan percikan api, dia menendang dinding dan melesat ke atas—menuju atap bangunan di gang sempit itu.

Itu bukan lagi level binatang liar. Kemampuan fisiknya sudah seperti monster.

Jace menatap kepergiannya dengan wajah tercengang.

"Dia kabur? Apa-apaan orang itu. Dia baru saja terpanggang api Neely, lho."

"Entahlah. Hanya saja—"

Aku menghentikan kalimatku, bingung harus mengatakan apa.

Boojum. Dia benar-benar pria yang tidak bisa dimengerti.

Meski tubuhnya dilalap api, dia sama sekali tidak terlihat seperti akan mati. Hal itu benar-benar terlalu jauh dari batas kewajaran manusia.

"Teoritta."

Aku memanggil sang Goddess yang masih menggenggam tanganku dengan erat.

"Apa yang ingin kau katakan tadi? Tentang pria bungkuk itu. Apanya yang aneh?"

"Aku tidak tahu pastinya. Hanya saja... saat aku berniat menyerangnya, entah kenapa hanya pada pria itu, rasa penolakannya... terasa sedikit..."

Suaranya perlahan melemah seiring kalimatnya berlanjut. Sepertinya dia sendiri tidak yakin dengan perasaannya.

"Tidak apa-apa, katakan saja. Katakan apa yang kau pikirkan, gunakan saja intuisimu."

"...Mungkin saja, pria itu bukanlah manusia."

Begitu rupanya. Kemungkinan itu sudah lebih dari cukup.

(Kalau begitu, apa dia itu Spriggan?)

Raja Iblis yang menyamar menjadi manusia. Sosok yang selama ini dikejar oleh Frencie dan yang lainnya.

Dia mengaku bernama Boojum, tapi itu pasti nama palsu. Tidak ada orang bodoh yang sudi menyebutkan nama aslinya di situasi seperti ini.

Apakah ada petunjuk pada jejak yang dia tinggalkan? Saat aku mendongak untuk mencarinya, aku melihat para kavaleri dari Ordo Ksatria Suci baru saja tiba.

Di antara mereka, ada yang terlihat sangat kelelahan dan terluka.

(Tampaknya mereka juga mengalami hal buruk di sana. Tapi, kenapa?)

Shigi Bau dan Boojum. Ditambah lagi para pembunuh gelap itu.

Apa mereka begitu ingin membunuh Teoritta? Mengapa kelompok berskala besar seperti ini bisa bergerak?

Penjagaan Ordo Ksatria Suci pun ditembus dengan mudah. Aku hanya bisa berpikir bahwa posisi penjagaan telah dibocorkan sebelumnya.

(Merepotkan sekali.)

Aku menatap api yang mulai merambat luas.

(Akan kupikirkan nanti.)

Mengenai dampak kerusakan akibat kebakaran hari ini, Venetim pasti lebih tahu detailnya.

Setidaknya, berkat instruksi evakuasi yang cepat, tidak ada korban jiwa yang jatuh—dan itu adalah satu-satunya keberuntungan di sini.


Hukuman

Akhir Penyamaran Liburan di Kota Pelabuhan Yof

Kesimpulannya, memang ada pengkhianat di antara kita. Jika tidak, semua ini tidak akan masuk akal.

Jaringan keamanan yang telah disiapkan Kivia terputus di berbagai titik. Cukup dengan melihat peta, hal itu langsung terlihat jelas.

Musuh memusatkan serangan mereka dengan sangat tepat untuk memutus koordinasi dan mengisolasi kami. Dari seratus anggota Ordo Ksatria Suci yang dikerahkan, hampir separuhnya tewas atau luka-luka.

Kabarnya, semua itu terjadi karena serangan kejutan yang sempurna. Ini bukan pekerjaan amatir.

Meski kami berhasil menangkap banyak tawanan, sebagian besar hanyalah petualang yang tak berbeda dengan preman.

Sisanya langsung mati menggunakan racun yang mereka sembunyikan. Aku sempat berpikir, andai saja Jace bisa sedikit menahan diri saat itu.

Kami mendiskusikan hal ini di salah satu sudut barak militer.

"Kami" yang dimaksud adalah Kivia dan para petinggi Ordo Ksatria Suci di bawah komandonya. Lalu, dari Pasukan Unit Penghukum 9004, hanya aku sendiri yang hadir.

Sejujurnya, aku tidak ingin Teoriitta mendengar hal ini. Seharusnya, orang yang duduk di sini sebagai perwakilan kami adalah Venetim, yang secara nominal adalah komandan kami.

Namun, aku sama sekali tidak bisa mengharapkan respons militer dari Venetim. Dia juga sedang sibuk menulis laporan pertanggungjawaban. Jadi, lewat metode eliminasi, hanya aku yang bisa datang.

"...Kalau begitu, artinya, Komandan Kivia."

Seorang pria muda mengangkat wajahnya dari peta sambil mengerang tidak puas. Sepertinya dia adalah pemimpin unit infanteri.

Kalau tidak salah namanya Razit. Wajahnya tipe pria yang terlihat sangat cocok memakai seragam militer, bahkan terkesan kaku dan membosankan.

"Apakah itu berarti ada pengkhianat di dalam unit kita?"

"Belum bisa dipastikan."

Kivia menjawab dengan tenang, namun suaranya terdengar sangat datar hingga terasa berlebihan.

"Hal ini tidak terbatas pada unit kita saja. Aku sudah melaporkan sistem keamanan kali ini kepada Galtuile. Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan Departemen Pertahanan kantor administrasi Kota Yof ini."

Keduanya adalah langkah yang wajar bagi seorang militer. Jika boleh kutambahkan, dia bisa saja memasang jebakan atas inisiatif sendiri, tapi sifatnya sepertinya bukan tipe yang suka mengambil risiko sebesar itu. Aku bisa memahaminya, dan itu bukan hal buruk.

"...Yah. Meski begitu, tidak akan ada bedanya, kan?"

Seorang pria yang merupakan pemimpin unit kavaleri menggelengkan kepalanya sambil bersedekap. Kalau tidak salah namanya Zofrek. Postur tubuhnya tegak dan bagus, tapi cara bicaranya cenderung santai dan dia selalu menunjukkan senyum sinis yang aneh.

"Entah itu di dalam unit, di jajaran petinggi, atau di pasukan sekutu. Jika rekan sendiri tidak bisa dipercayai, kita tidak bisa berperang dengan benar. Ini terlalu menyulitkan."

Setelah menghela napas yang dibuat-buat, Zofrek menoleh ke ujung meja.

"Benar kan, Kepala Penembak Jitu Siena?"

"...Aku setuju."

Seorang wanita mungil menjawab dengan suara yang tertahan. Namanya Siena, pemimpin para penembak jitu. Sejak tadi, pembawaannya sangat tenang. Aku bahkan ingin memberikan separuh dari ketenangannya itu kepada penembak jitu di unitku.

"Unit kami mengalami kerugian paling parah. Penembak jitu yang dikerahkan hampir semuanya musnah."

"Kalau begitu, kita harus segera menyiapkan tindakan pencegahan."

Razit, si pemimpin infanteri, mengangguk dengan wajah serius.

"Komandan Kivia. Aku rasa sistem pengawalan Goddess Teoriitta juga perlu ditinjau ulang. Kita harus merencanakannya hanya dengan orang-orang yang bisa dipercayai—"

"Entahlah. Kurasa itu tidak akan banyak gunanya."

Meskipun aku berpikir lebih baik diam saja, aku akhirnya malah menyela.

Mau bagaimana lagi. Jika sudah menyangkut keamanan Teoriitta, aku tidak punya pilihan lain. Aku merasa sedikit muak pada diriku sendiri karena memikirkan hal itu.

(...Mungkin, aku...)

Pikirku dalam hati.

Apakah kali ini, aku benar-benar mencoba melindungi sang Goddess?

Apakah aku berpikir bisa mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari diriku dengan melakukan ini? Sial. Teoriitta sama sekali bukan pengganti Selenerva.

Meski begitu, aku tetap melanjutkan kata-kataku.

"Orang-orang yang kalian sebut 'bisa dipercaya' itu justru yang paling mencurigakan. Orang-orang yang ada di sini pun patut dicurigai."

"...Kurang ajar sekali kau."

Sesuai dugaan, Razit memelototiku.

"Itu juga berlaku untukmu, Prajurit Penghukum. ...Seorang pendosa 'Pembunuh Goddess' sepertimu justru berada di urutan pertama daftar tersangka."

Dia benar juga.

(Aku tidak punya kata-kata untuk membantahnya.)

Aku tersenyum kecut, dan Zofrek si pemimpin kavaleri malah tertawa mendengarnya.

"Luar biasa, Tuan Pemimpin Infanteri! Anda benar sekali. Komandan Kivia, apakah tidak apa-apa membiarkan Prajurit Penghukum ini ikut dalam rapat?"

Meskipun nadanya bercanda, ada duri dalam perkataan Zofrek.

"Tentu saja, aku merasa merekalah yang mencurigakan. Bagaimanapun juga, merekalah yang pertama kali mencuri Sang Goddess dari unit kami. Tindakan mereka benar-benar tidak masuk akal."

Suasananya benar-benar buruk. Razit yang tajam dan Zofrek yang sinis. Sedangkan Siena, si pemimpin penembak jitu, hanya menatapku diam-diam dengan tatapan yang sulit dibaca. Khas seorang penembak jitu, mungkin.

Namun, aku tidak boleh menyerah begitu saja.

"Setidaknya, penyelidikan internal sangat diperlukan. Sebaiknya kita menghubungi Ordo Ksatria Suci Ke-12 melalui Galtuile."

Aku tahu tentang unit itu.

Di antara Ordo Ksatria Suci, mereka adalah unit yang spesialis dalam intelijen. Bisa dikatakan mereka memiliki peran yang sangat khusus.

Hanya mereka yang tidak pernah muncul di depan publik. Orang yang mengenal wajah mereka pun sangat terbatas. Bahkan saat aku masih menjabat sebagai komandan dulu, aku belum pernah bertemu dengan mereka. Sampai-sampai ada rumor bahwa unit itu sebenarnya tidak ada.

Namun, orang-orang yang mengurus departemen itu memang benar adanya. Mereka adalah unit intelijen negara.

"Kita tidak bisa bertempur jika tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Itu benar seperti yang kalian katakan. Tentu saja orang sepertiku akan jadi tersangka utama, tapi dalam situasi di mana semua orang mencurigakan, kita tidak punya pilihan."

"...Aku sudah mengerti pendapat kalian masing-masing."

Kivia berdiri perlahan.

Lalu, alih-alih menatap meja operasi, dia menyapa seseorang yang duduk di meja paling belakang ruangan ini.

"Bagaimana menurut Anda, Paman? Aku rasa kita harus meninjau kembali rencana pengawalan sekaligus melaporkan situasi ini ke Galtuile untuk melakukan penyelidikan internal."

"Ya."

Suaranya berat dan terdengar agak parau.

Namanya adalah Uskup Agung Marlyn Kivia. Dia adalah paman Kivia dan salah satu tokoh penting dalam Konsili Suci. Artinya, dia berada hampir di puncak struktur organisasi kuil.

Pria itu sudah berumur, tubuhnya kurus, dan rambutnya banyak yang memutih, seolah menunjukkan beban pikiran yang berat. Seperti yang diharapkan dari kerabat Kivia, ekspresinya sangat serius, yang dalam kasus paman ini, memberikan kesan yang sangat kaku.

Mungkin karena tatapan matanya jauh lebih tajam daripada Kivia.

"Aku sendiri baru saja menjabat sebagai penanggung jawab masalah ini."

Tepat sekali.

Marlyn Kivia baru saja tiba di ruang rapat ini. Dia dikirim dari Ibukota Pertama sebagai penasihat Departemen Pertahanan yang ditugaskan di kantor administrasi Kota Yof.

Sepertinya dia sudah melakukan penyesuaian sejak sepuluh hari lalu untuk memahami situasi dan mengambil alih wewenang utama.

Dalam hal ini, pembagian tugas antara militer dan kuil memang agak rumit. Selama masalahnya berkaitan dengan Goddess, akan selalu ada pengecualian. Bisa dikatakan penanggung jawab masalah ditentukan oleh keseimbangan kekuatan dan pengaruh politik saat itu.

"—Apakah lawan bisa dipercaya atau tidak, termasuk diriku sendiri, adalah masalah yang krusial."

Sambil berkata demikian, Marlyn Kivia mengetukkan jarinya dengan gelisah ke meja operasi.

"Namun, aku tidak tahu apakah Ordo Ksatria Suci Ke-12 bisa bergerak atau tidak. ...Karena itu, revisi rencana pengawalan akan menjadi tugas yang lebih mendesak. Aku rasa tidak ada pilihan lain selain menempatkan personel sebanyak mungkin untuk melindungi fisik Sang Goddess—"

Lalu, dia menghela napas. Itu adalah helaan napas panjang yang menunjukkan kelelahan yang luar biasa dalam.

"Sekali lagi, sangat disayangkan kita tidak bisa mendapatkan tawanan yang berguna. Bagaimana hasil interogasinya, Pathoche?"

Pathoche sepertinya adalah nama asli Kivia. Aku hampir melupakannya karena jarang sekali ada kesempatan untuk memanggilnya begitu.

"Hasilnya tidak memuaskan."

Kivia menjawab dengan punggung tegak. Aku bisa merasakan dia sedang tegang.

"Sebagian besar dari mereka yang tertangkap hidup-hidup adalah petualang. Kenyataannya, hubungan mereka sangat lemah—tampaknya mereka tidak tahu apa-apa tentang siapa pemberi tugasnya."

"Begitu ya."

Uskup Agung Marlyn Kivia mengangguk dingin.

Paman dan keponakan ini terasa sangat canggung. Atau lebih tepatnya, terlalu kaku. Mungkin itu karena kepribadian Pathoche Kivia. Tidak, aku yakin itu memang alasannya.

"Mohon maaf. Seandainya saja aku bisa menangkap pembunuh yang diduga mengetahui situasinya..."

Kivia menundukkan kepalanya dengan sopan. Uskup Agung Marlyn tersenyum tipis di sudut bibirnya.

"Jangan dipikirkan. Kau terlalu merasa bertanggung jawab atas tindakanmu. Penyesalan atau ketegangan yang berlebihan tidak akan membawa hasil yang baik."

"Akan aku ingat baik-baik."

"Kau masih terlalu serius. Yah, sudahlah. Itulah Pathoche Kivia."

Uskup Agung Marlyn mengembuskan napas seperti sedang berbisik. Mungkin itulah caranya tertawa. Sama seperti keponakannya, mungkin dia tidak tahu cara tertawa yang ceria.

"Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan hanyalah bersiap untuk serangan berikutnya—"

"Tidak, Tuan Uskup Agung."

Lagi-lagi, meskipun aku berpikir lebih baik tidak mengatakannya, aku mengangkat tangan dan berbicara.

"Ada hal lain yang bisa kita lakukan."

Saat aku bersuara, mata Uskup Agung Marlyn menatapku. Menurutku, itu bukan tatapan memelototi, melainkan tatapan yang terlihat tertarik.

"Wah—ini merepotkan. Sebenarnya aku tidak memintamu bicara, Prajurit Penghukum Xylo. Meskipun kau adalah kontraktor Sang Goddess, organisasi tidak akan bisa berjalan jika aturan dan urutan bicara di tempat seperti ini diabaikan."

"Benar juga. Tapi, pendapatku pasti akan berguna."

"Xylo! Hentikan, kau—"

Kivia bergegas mencengkeram sikuku, tapi sudah terlambat bagiku untuk diam.

"Mungkin kita bisa menggali informasi dari orang-orang yang menjadi perantara bagi para petualang itu."

Uskup Agung Marlyn tidak menyuruhku diam. Dia hanya semakin menyipitkan tatapan matanya yang tajam.

"...Apakah kau punya petunjuk?"

"Punya. Setidaknya, ada pihak yang harus diselidiki dengan prioritas utama."

Aku menjawab seketika. Lalu, kepada Kivia yang menatapku dengan cemas, aku tersenyum tipis dan mengangguk. Aku menepuk pelan tangannya yang mencengkeram sikuku. Maksudku adalah agar dia tenang, tapi sepertinya pesan itu tidak tersampaikan.

"Ngh..."

Mata Kivia membulat dan entah kenapa dia memalingkan wajahnya. Melihat itu, Uskup Agung Marlyn kembali mengembuskan napas seperti berbisik.

"Huh! Baiklah. Aku izinkan kau bicara. Apa kau punya ide bagus?"

"Yah, kurang lebih begitu. Kalau tidak, aku tidak akan mengangkat tangan di depan orang hebat seperti Anda."

"Kau pria yang provokatif, tapi punya cara bicara yang bisa mencairkan suasana. Pathoche, kau juga harus menjadikannya referensi. Tidak perlu sampai sekacau dia, tapi ada beberapa hal yang bisa dipelajari."

Mendengar perkataan pamannya, Kivia menelan kembali kata-katanya. Dia terdiam dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia tidak setuju.

"Jadi, Prajurit Penghukum Xylo. Siapa pihak yang harus diselidiki?"

"—Aku rasa lebih baik kita memeriksa agen perantara petualang di kota ini."

"Sepertinya kau sangat mengenal dunia bawah. Siapa agen yang kau maksud?"

"Bukan individu. Maksudku adalah—"

Aku menyebutkan nama itu.

"Kita harus menyelidiki Guild Petualang."

Ada satu hal lagi yang harus kutambahkan pada kejadian ini.

Setelah rapat berakhir, Venetim sudah menungguku pulang.

"...Apa Anda baik-baik saja?"

Tanyanya.

Di bawah kakinya, Dotta yang sepertinya mabuk berat sedang mendengkur sambil memegang botol minuman keras.

"Apanya?"

"Bukan, itu..."

Karena aku balik bertanya karena tidak paham maksudnya, Venetim menunjukkan senyum canggung.

"Maksud saya... apakah Anda dipaksa menerima hukuman baru, atau semacamnya..."

"Tidak ada. Tidak ada gangguan semacam itu. Uskup Agung itu orang yang serius. Mirip sekali dengan keponakannya."

"...Begitu ya."

Venetim menutup mulut dengan tangannya, seolah sedang menahan helaan napas. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ingin dia katakan.

"Lalu... anu, bagaimana keadaan semua orang yang ikut rapat?"

"Apa sih. Ada seseorang yang membuatmu penasaran? Jangan bilang kau berniat mendekati wanita pemimpin penembak jitu itu? Hentikan saja. Aku rasa itu akan sulit, dan aku tidak mau ikut campur."

"Bukan..."

Venetim ragu-ragu sejenak, lalu akhirnya menggelengkan kepala.

"Bukan apa-apa."

"Apa-apaan itu."

Aku semakin tidak mengerti maksudnya.

Karena itu, aku mengabaikannya dan merampas botol minuman dari tangan Dotta yang sedang tidur. Mungkin—untuk pekerjaan mulai besok, aku akan butuh bantuannya.

"Ada tugas baru, Venetim. Temani aku berdiskusi soal pemilihan personel."

Pada akhirnya, hanya Venetim di unit kami yang bisa diajak bicara soal hal seperti ini. Meski tanggapannya tidak berarti atau komentarnya tidak memahami inti strategi, itu tetap membantu dalam merapikan pikiranku.

"Rapat strategi sambil minum? Yah, saya akan menemani Anda."

"Lagipula kau sedang senggang, kan. Sebagai gantinya, aku bisa mendengarkan keluhanmu. Kalau melihat gelagatmu tadi, sepertinya kau punya masalah sepele yang mengganggu pikiranmu."

"Bukan begitu."

Cara tertawa Venetim terasa agak kurang meyakinkan.

"Bukan seperti itu. Sama sekali bukan seperti itu."

Venetim memang orang yang sulit dimengerti.

Mungkin begitulah sifat seorang penipu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close