NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 3 Chapter 1 - 4

Hukuman

Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 1


Salju mulai beterbangan. Butirannya perlahan mulai menumpuk di bawah kaki.

(—Sial, dingin sekali.)

Aku mengembuskan napas putih. Aku menatap tajam ke arah balik salju yang mulai turun.

Tempat ini disebut Perbukitan Toujin-Touga.

Jalan raya utama yang membentang dari Kota Pelabuhan Joff melintasi perbukitan ini menuju arah timur laut. Jika berhasil melewati celah di antara dua gunung di sana, maka tibalah di Ibukota Kedua, Seiarente.

Kini, kota itu berada di bawah kendali Fenomena Raja Iblis Nomor 21, Abaddon.

"…Xylo. Salju turun."

Teoritta memungut butiran salju di kakinya.

Karena dia tidak memakai sarung tangan, salju itu langsung mencair oleh suhu kulitnya. Tindakan yang sia-sia.

Meski begitu, Teoritta tampak tertarik memperhatikan salju yang mencair di ujung jarinya.

"Salju sedang turun. …Apa akan menumpuk?"

"Hanya sebatas tidak mengganggu pertempuran saja."

Aku bisa memastikannya karena wilayah ini seharusnya berada di bawah pengaruh kekuatan Goddess yang mengendalikan cuaca. Kalaupun menumpuk, paling hanya setebal satu jari.

Terkadang, aku berpikir apakah cuaca tidak bisa dimanipulasi agar sedikit lebih menguntungkan bagi kami. Namun, aku pernah mendengar bahwa inti dari kekuatan Goddess itu adalah Summon Wind and Cloud.

Dia tidak bisa tiba-tiba menjatuhkan petir di atas kepala musuh atau membuat hujan turun hanya di kamp lawan. Untuk pertempuran, kemampuannya agak merepotkan.

"Tidak akan turun sampai menimbun kita. Kuda dan Armored Artillery masih bisa digunakan."

"Begitu ya."

Meski begitu, entah kenapa Teoritta tampak senang. Dia menggosokkan kedua tangannya dan mengembuskan napas putih.

Aku bukannya tidak mengerti perasaannya.

"Xylo, apa kau pernah melihat salju yang menumpuk?"

"…Pernah. Tapi, aku sama sekali tidak punya kenangan indah tentang salju."

"Kudengar Xylo berasal dari wilayah selatan. Ternyata kau tahu tentang salju juga, ya?"

"Aku pernah berpindah-pindah medan perang di barat dan utara. Pada dasarnya salju itu musuh, jadi banyak hal yang harus diwaspadai. Contohnya—"

Aku melepas sarung tangan, lalu menggenggam tangan Teoritta.

Ternyata benar, tangannya dingin sekali. Mata Teoritta membulat karena terkejut, tapi saat ini aku harus memperingatkannya dengan tegas.

"Pertama, pakailah sarung tanganmu."

Teoritta seharusnya juga mendapat jatah perlengkapan. Tentu saja, yang kualitasnya lebih bagus daripada milik kami.

"Radang dingin biasanya dimulai dari ujung jari. Jaga tubuhmu agar tetap hangat. Jangan lupa masukkan Suriwaku yang dibungkus kain ke dalam ujung sepatumu."

Suriwaku adalah buah kecil yang rasanya luar biasa pedas. Biasanya dikeringkan untuk digunakan sebagai bumbu.

Namun, jika dimasukkan ke dalam sepatu, efeknya bisa memperlancar aliran darah dan mencegah radang dingin. Aku mendengarnya dari seseorang yang berasal dari utara.

Nama orang itu adalah—aku mencoba mengingatnya, lalu berhenti.

"Xylo, aku tidak suka buah itu. Rasanya… aneh saat dipakai berjalan, atau lebih tepatnya tidak nyaman…"

"Tetap masukkan saja. Kalau kau tidak mau jari kakimu dipotong karena radang dingin, lakukan saja."

Aku mendorong tangan Teoritta masuk ke dalam saku mantelnya.

"…Baiklah."

Teoritta mengatupkan birainya rapat-rapat dan menunduk.

Meski sudah di dalam saku, dia masih menggenggam jemariku dan tidak melepaskannya. Apa dia baru sadar betapa dingin jemarinya sendiri?

Lebih baik dia segera kembali ke tenda. Saat aku berbalik, aku melihat seorang pria sedang mendekat.

Seorang pria dengan wajah kusam dan tubuh yang kurus kering. Dia adalah Venetim.

"Anu… Xylo-kun," panggil Venetim.

"Ada yang ingin aku konsultasikan sebentar. Mau mendengarkan?"

"Aku sebenarnya tidak terlalu ingin dengar."

Aku mengeluarkan botol minuman keras dari saku dan menegaknya.

Wiski dari wilayah utara. Mereknya dikenal sebagai Shishou dari keluarga Eard.

Seharusnya, barang semacam ini tidak akan sampai ke tangan Prajurit Hukuman seperti kami. Namun, karena Dotta ada di unit ini, batasan seperti itu tidak berlaku.

"Jangan berkata begitu. Tolonglah… Operasi selanjutnya sudah ditetapkan. Kita akan bergerak maju. Target akhirnya adalah Ibukota Kedua."

"Sudah kuduga."

Itu hal yang sudah jelas. Kantor Administrasi Kota Joff telah mengumpulkan kekuatan tempur dari wilayah sekitar secara sembarangan.

Karena bergerak dengan jumlah pasukan sebesar itu, tempat yang dituju sudah pasti. Ibukota Kedua, Seiarente.

Merebut kembali tempat itu adalah prioritas utama dalam segala hal. Siapa pun pasti paham.

Dan kami, para Prajurit Hukuman, seluruhnya diikutsertakan dalam operasi ini. Kami diperintahkan mendirikan tenda kumuh di sudut perkemahan militer.

"Eeto… Jadi, mengenai target operasi tahap pertama," lanjut Venetim.

"Menghancurkan pasukan Abnormal Fairy yang keluar dari Ibukota Kedua, lalu membangun pangkalan penyerangan di Gunung Toujin."

Gunung Toujin adalah salah satu dari dua gunung kecil di balik perbukitan ini. Bagian timur ngarai disebut Toujin, sedangkan bagian barat disebut Gunung Touga.

"Operasinya seperti itu, kan?"

"Ah, iya. Kau paham sekali, ya."

"Tentu saja…"

Jika dipikir sedikit saja, hal ini akan segera terlihat.

Saat ini, pasukan Abnormal Fairy pasti sudah bergerak dari Ibukota Kedua. Mereka akan menyerang desa-desa terdekat untuk memperkuat pasukan.

Untuk itu, target terbesar yang harus mereka hancurkan hanyalah Kota Pelabuhan Joff. Mereka pasti akan menuju ke sini.

Jadi, pertama-tama kami perlu memukul mundur pasukan ini demi keselamatan kami sendiri.

Lalu, jika ingin merebut kembali Ibukota Kedua, diperlukan tempat yang bisa menjadi pangkalan. Gunung Toujin—jika berhasil merebut tempat itu, pasokan dari timur bisa diterima.

Anak sungai dari Sungai Besar Kinja-Shiba mengalir di kakinya. Jalur logistik akan terhubung dengan Kota Industri Rokka serta Ibukota Pertama.

Jika garis depan bisa didorong sejauh itu, kerja sama yang layak dengan Galtuil bisa dilakukan.

Pihak militer pasti berpikir bahwa bagaimanapun juga, Ibukota Kedua harus direbut kembali.

Ibukota Kedua adalah sebuah simbol. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, lima negara bersatu menjadi Kerajaan Serikat.

Ibukota dari dua kerajaan paling berpengaruh disebut sebagai Ibukota Pertama dan Ibukota Kedua. Aku sama sekali tidak tertarik pada alasan politik di baliknya.

Pokoknya, pentingnya Ibukota Kedua terletak pada proses pembentukannya. Sebagai simbol kesadaran manusia di seluruh dunia untuk bersatu.

Selain itu, secara militer tempat itu juga sangat berbahaya. Sebab, lokasinya bisa digunakan untuk mengincar Galtuil dan Ibukota Pertama.

"Lalu, apa bagian kita?"

Aku bertanya kembali pada Venetim.

"Kita harus menjadi pemandu unit mana? Atau kita menjadi pasukan cadangan?"

Mengingat Prajurit Hukuman adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipercaya, hal itu mungkin saja terjadi. Tidak diterjunkan ke situasi penting, melainkan hanya sebagai cadangan.

"Sebenarnya… soal itu… Saya sudah berusaha keras dalam negosiasi, tapi…"

Venetim tampak sangat sulit mengatakannya, membuat perasaanku menjadi suram.

"Katakan dengan jelas. Apa yang disuruh mereka lakukan pada kita?"

"Kita tidak akan tergabung dalam unit mana pun."

"…Apa maksudnya?"

"Unit 9004 Prajurit Hukuman akan bergerak maju sendirian dan menduduki Perbukitan Keempat Timur Laut Toujin-Touga. Amankan tempat itu dengan membangun benteng lapangan!"

"Keberangkatan malam ini! …Begitulah bunyinya."

Venetim membentangkan peta kertas besar. Ke arah timur laut dari titik ini, salah satu bukit landai telah diberi tanda lingkaran.

Tampaknya itu yang dimaksud dengan 'Perbukitan Keempat Timur Laut'. Begitu ya, aku mengerti.

Tapi—

"Apa kau bercanda! Apa mereka bodoh?!"

"Hieee!"

"Xylo, tenanglah. Venetim ketakutan."

Teoritta menepuk punggungku seolah menenangkan. Namun, aku bukan binatang buas, jadi aku tidak ingin ditenangkan dengan cara seperti itu.

"Operasi macam apa itu?"

Aku melototi peta. Hanya unit Prajurit Hukuman yang bergerak maju untuk mengamankan markas di sini.

Ini lelucon yang tidak lucu. Mereka pikir ada berapa banyak gerombolan Abnormal Fairy di depan mata kita?

Ini benar-benar seperti—

"—Benar. Ini sepenuhnya adalah umpan."

Sebuah suara terdengar seolah mengikuti pikiranku.

Dari balik punggung Venetim, seorang wanita mendekat dengan suara denting perlengkapan logam. Wajahnya tampak serius dan tidak senang.

Rambut hitamnya diikat rapi, dengan tatapan mata tajam yang seolah bisa menusuk lawan hingga mati.

"Markas komando memerintahkan kita untuk menonjol di depan sebagai umpan."

Dia adalah Patausche Kivia.

"Perintah yang menurutku tidak memiliki banyak arti secara taktis. Sepertinya mereka menyiapkan serangan untuk musuh yang datang ke arah kita, tapi entah seberapa besar harapan yang bisa ditaruh."

Satu hal yang membedakannya dari dirinya yang kukenal beberapa waktu lalu adalah adanya Segel Suci di lehernya. Segel Suci yang sama persis dengan milik kami—bukti sebagai Prajurit Hukuman.

"Begitu ya. Kerja bagus, anak baru."

Aku sengaja mengatakannya dengan nada remeh. Sebab, aku mulai jenuh melihat wajah Patausche yang selalu terlihat suram.

"Berhenti memanggilku begitu."

Patausche melotot tajam ke arahku.

"Bahkan Jace sampai mulai memanggilku seperti itu karena kau."

"Dia memang payah dalam mengingat nama orang, jadi mau bagaimana lagi— Terlepas dari itu, bagaimana menurutmu? Apa kau pikir kita bisa menduduki bukit itu sendirian?"

Patausche ikut hadir dalam rapat strategi bersama Venetim. Tujuannya untuk mencegah Venetim mengatakan hal yang tidak jelas dan membawa informasi militer yang akurat.

Selama ini, jika hanya Venetim, dia hanya membawa pulang garis besar perintah saja. Hal itu membuatku yang sudah sibuk harus mencari informasi dua kali.

Ini adalah salah satu hal yang jelas membaik sejak Patausche bergabung dengan unit.




"Menduduki bukit itu jelas mustahil."

Patausche memberikan jawaban yang sudah kuprediksi sebelumnya.

"Untuk menduduki dan mempertahankan posisi itu, kita butuh membangun benteng lapangan. Aku tidak yakin para Abnormal Fairy itu akan diam saja menonton. Mereka pasti mengerahkan pasukan untuk menghancurkan kita."

"Justru itu yang diincar militer agar mereka bisa menyerang, kan?"

"Kalau mereka benar melakukan itu, para Abnormal Fairy memang akan mendapat pukulan telak. Tapi, unit kita yang berada di garis paling depan ini akan musnah. Target operasi untuk menduduki perbukitan tidak akan tercapai."

Patausche terus bicara dengan nada mendesak. Sembari berbicara, kerutan di antara alisnya perlahan semakin dalam.

"Kita kekurangan jumlah prajurit. Setidaknya kita butuh pasukan pelapis untuk membantu unit kita. Kalau bisa, pasukan penyergap."

Dia melipat jari-jarinya, menghitung syarat satu per satu.

"Lalu logistik. Bagaimana dengan pengangkutan logistik? Apa kita harus membawanya sambil berjalan kaki? Kita butuh kuda. Aku ingin sepuluh ekor, termasuk untuk tungganganku. Xylo, kau juga pasti akan menungganginya jika bertempur di medan seperti ini. …Lalu keberangkatan malam ini juga benar-benar mustahil, kita butuh waktu persiapan. Kita juga harus mengisi energi Light Storage pada Armored Artillery milik pria mengerikan bernama Rhino itu."

Setelah mengatakannya dalam satu helaan napas, dia menggelengkan kepala.

"Menjalankan misi dalam situasi seperti ini. Benar-benar unit yang tidak masuk akal, yang namanya Prajurit Hukuman ini."

Begitu dia selesai mengomel, aku menepuk bahu Venetim.

"Dengar itu, Komandan. Karena katanya butuh semua itu untuk sukses, tolong siapkan syarat-syaratnya."

"…Hah?"

Venetim, seperti biasa, hanya mengangguk samar dengan wajah yang tampak tidak mengerti.

"Maksudnya, aku harus meminta prajurit untuk ikut, mencari kuda, dan mengulur waktu… begitu kan?"

"Tepat sekali. Lakukan dengan benar."

"Tunggu."

Patausche menunjukkan wajah yang sangat bingung.

"Memangnya ada celah untuk melakukan sesuatu? Ini adalah perintah yang diturunkan oleh markas komando. Alokasi logistik sudah diputuskan, waktu dimulainya operasi, dan penempatan prajurit pun tidak bisa diubah."

"Kalau logistik mungkin bisa diatur. Soal waktu mulai operasi, yah… akan coba aku kelabui."

"Justru itu, bagaimana cara mengelabui mereka? Markas komando itu bukan anak kecil."

"Eeto, bagaimana ya. Mungkin bilang kalau siang hari adalah waktu yang lebih baik untuk menjadi umpan, dan kita juga pasti akan lebih cepat musnah, atau semacamnya…? Kalau ada surat perintahnya sih enak…"

"Kalau begitu, ayo kita buat surat perintahnya."

Aku memutuskan untuk mengusulkan cara yang terkadang kami lakukan.

"Mari pakai metode itu. Kita butuh stempel resmi, pertama-tama kita harus mendapatkannya."

"Stempel yang dicuri tempo hari mungkin masih disimpan oleh Baginda," sahut Venetim.

"Begitu ya. Dia pasti sudah menganggap benda itu sepenuhnya miliknya sendiri."

"Sisanya… mungkin suap…?"

"Itu dia! Dotta juga bakal berperan besar. Apa alasan untuk menempatkan pasukan bantuan?"

"Aa—… Mari kita jadikan mereka pengawal utusan dari Galtuil. Mereka akan pulang tepat saat kita berangkat. Dengan kesan seperti itu… apa sulit ya? Haruskah kita pikirkan cara lain…?"

"…Kalian ini."

Sambil mendengarkan pembicaraan kami, kerutan di dahi Patausche semakin dalam.

"Betapa serampangan. …Apa kalian selalu bertempur dengan cara seperti itu?"

"Fufu. Apa kau terkejut?"

Entah kenapa, Teoritta membusungkan dada. Wajahnya terlihat jauh lebih angkuh dari biasanya. Tidak salah lagi. Anak ini sedang berlagak menjadi 'senior'.

"Inilah para pahlawanku!"

Teoritta mendengus kecil dengan bangga.

Rasanya aku harus memberitahunya bahwa ini bukan hal yang patut dibanggakan. Kenyataannya, Patausche pun tampak terperangah—kalau dipikir-pikir, dia memang belum tahu cara kerja kami.

Entah kenapa, aku teringat kembali saat pertama kali Patausche bergabung dengan unit kami dalam 'pertemuan pertama'.

Waktu itu, dia—

"Aku Patausche Kivia."

Dia memperkenalkan diri dengan wajah kaku dan cemberut.

Kejadiannya di dalam tenda, saat kami para Prajurit Hukuman dipanggil dalam 'pemanggilan darurat'.

"Kurasa tidak perlu memperkenalkan diri lagi sekarang. Aku sudah tahu siapa kalian."

Saat ini, hampir semua orang di unit ini sudah tahu wajah dan namanya. Konsisten sejak kesan pertama, dia adalah tipe teladan yang terlalu serius, seorang militer sejati yang cerewet soal disiplin.

Satu-satunya yang berbeda dari saat pertama bertemu adalah Segel Suci yang terukir di lehernya. Dengan kata lain, bukti sebagai Prajurit Hukuman.

Karena itulah semua orang terdiam. Pasti mereka tidak mengerti. Mengapa Komandan Ksatria Suci yang lurus dan kaku ini sampai dijatuhi Hukuman Pahlawan?

Hanya saja, aku punya sedikit dugaan.

—Tuduhannya adalah pembunuhan, serta percobaan makar.

Kudengar dia membunuh Imam Besar Marlen Kivia yang merupakan pamannya sendiri, dan seorang pria bernama Rajit yang merupakan bawahannya. Apakah benar dia membunuh keduanya karena hilang akal seperti yang tertulis dalam dokumen pembuktian kesalahan? Ataukah dia seorang kriminal besar yang bersekongkol dengan sekte sesat pemuja Fenomena Raja Iblis?

Mungkin tidak. Mana mungkin dia orang yang bisa melakukan hal selicik itu. Menurutku itu sangat mustahil.

Kenyataannya pasti sebaliknya. Pasti ada sesuatu pada Imam Besar—atau Rajit itu. Jika tidak, aktingnya akan terlalu sempurna.

Karena itu, aku berniat melontarkan lelucon bodoh.

Aku muak dengan wajah yang terlalu serius. Dia sendiri pasti tidak ingin menyatakan 'kebenaran' di tempat seperti ini. Karena aku pun begitu. Sudah terlambat untuk menyatakan diri tidak bersalah. Jadi—

"Uwoooh, hebat! Memang luar biasa, Kakak!"

Namun, sebelum aku sempat membuka mulut, si bodoh Tsav sudah berteriak kagum. Malah, dia sampai bertepuk tangan segala.

"Sejak dulu aku sudah mengira kalau Kakak itu senjata pembantai yang berdarah dingin dan jahat. Hei, ingat tidak? Waktu di tengah kota Joff, aku bilang ayo kita jadikan warga sipil sebagai tameng daging untuk melindungi Teoritta-chan! Saat Anda menolak itu, aku langsung berpikir orang ini gila ya."

Tsav terus nyerocos tanpa memberi celah bagi kami—atau Teoritta—untuk memotong, sambil merentangkan kedua tangannya.

"Selamat datang! Ah, tapi tolong jangan bunuh kami ya. Kalau bertarung secara frontal, aku tidak tahu apa aku bisa menang melawan Kak Patausche atau tidak."

Perkataan Tsav terlalu konyol dan kacau balau. Isi pembicaraannya murni berdasarkan standar nilai unik miliknya sendiri—karena itulah Patausche pun tidak bisa bereaksi apa-apa.

"Hei! Kalian semua juga menyambutnya, kan?"

Saat Tsav menoleh, Venetim dan Dotta membuang muka hampir secara bersamaan.

"Yah, begitulah… emm… bukankah itu bagus? Sebagai komandan, aku memang mengharapkan adanya tambahan anggota unit," ucap Venetim dengan wajah yang jelas-jelas ketakutan.

"Kalau aku bilang tidak menyambutnya, apa leherku bakal dipatahkan…?"

Dotta membungkukkan punggungnya dan mundur selangkah, siap untuk melarikan diri kapan saja. Hal ini membuat Patausche mengerutkan dahi dengan tidak senang.

"Aku tidak akan mematahkan lehermu."

"Kalau begitu, tulang kaki…?"

"Tidak akan. Kau pikir aku ini sejenis binatang buas yang ganas, ya?"

"Ti-tidak kok!"

Pasti dia berpikir begitu, aku yakin sekali. Ada ketakutan di mata Dotta. Patausche mencoba membalas, ragu selama beberapa detik, dan akhirnya menggelengkan kepala dengan kuat.

"…Saat ini, apa pun yang kukatakan hanya akan terdengar seperti alasan. Aku juga tidak berniat menyuruh kalian memercayaiku. Tapi, perintah adalah perintah. Sebagai Prajurit Hukuman, aku akan bertarung bersama kalian."

"Umu. Baiklah."

Yang mengangguk dengan berat adalah Norgalle, yang duduk dengan gagah di kursi bak seorang raja, didampingi oleh Tatsuya di sisinya.

"Aku izinkan. Bekerjalah sekuat tenaga sebagai elitku. Dengarkan baik-baik perintah Jenderal Tatsuya, ya."

"Vuvu."

Tatsuya mengeluarkan suara bergumam dari balik tenggorokannya, mungkin tanda setuju—atau bisa jadi itu hanya suara napas yang kasar. Pendapat Norgalle dan Tatsuya, yah, dalam situasi seperti ini sama sekali tidak bisa dijadikan referensi, jadi abaikan saja.

Yang membuatku penasaran adalah—

"Anak baru ya. Yah, lakukan sesukamu."

Jace sendirian di sudut tenda, sedang sibuk mengutak-atik perlengkapan logam. Dia memukul dan memutar alat yang tampak seperti sanggurdi untuk pelana. Dia bahkan tidak mengangkat wajah untuk melihat Patausche.

"Asal jangan mengganggu kami, itu sudah cukup. Sudah menyapa Neely?"

"…Sudah."

"Dia bilang sesuatu?"

"Aku tidak mengerti bahasa Neely. Sepertinya dia mendengkur pelan tadi…"

"Berarti Neely juga tidak keberatan. Kalau ada si bodoh mendekat, dia akan mengabaikannya. Lagipula soal pertempuran darat, Xylo dan Rhino, kalianlah yang urus."

Sudah kuduga Jace akan mengatakan itu. Aku merasa kesal seolah-olah diperintah dan tidak menjawab apa-apa, tapi orang lain yang namanya dipanggil tidak begitu.

"Begitu rupanya!"

Seseorang menyahut dengan penuh kegembiraan. Itu Rhino.

"Berarti ini artinya rekan yang bisa diandalkan telah bertambah."

Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia bertemu muka dengan Patausche.

"Aku menyambutmu. Karena kawan Xylo memujimu, adalah suatu kehormatan bisa bertarung bersamamu."

"Za,… Xylo? Memujiku?"

Patausche menatapku sejenak dengan bingung. Dia berdehem sekali.

"…Sebagai referensi ke depannya, aku ingin tahu, apa yang dia katakan?"

"Ah! Kudengar kau adalah ksatria yang sangat terampil. Tentara pemberani dengan kekuatan pendobrak yang seperti beruang ganas."

"Hentikan, Rhino. Aku tidak memujinya sehebat itu."

"Tidak, tunggu… siapa yang kau sebut beruang?"

Mungkin aku sedikit berlebihan memujinya. Mendengar hal itu didengar langsung oleh Patausche sendiri entah kenapa terasa canggung—tapi sebelum aku sempat membungkam Rhino, Patausche sudah melotot padaku.

"Aneh, kan! Kau, apanya yang barusan itu disebut memuji!"

"Itu pujian, tahu. Beruang Kobiki di perbatasan barat itu pintar sampai bisa memasang jebakan, dan Beruang Sasagane di wilayah selatan punya tengkorak yang sangat kuat sampai tembakan tongkat petir pun tidak tembus."

"Kau—"

"Ya, ya! Sampai di situ saja! Upacara penyambutan rekan baru selesai!"

Sesosok bayangan mungil melompat di antara aku dan Patausche.

Itu Teoritta. Dia melambaikan kedua tangan di atas kepala, menghalangi pandangan antara aku dan Patausche. Hal ini membuat Patausche tampak termangu.

"Teoritta-sama. Mohon maaf, tapi saat ini saya ingin menginterogasi pria ini…"

"Kita adalah rekan! Karena kita adalah rekan yang memiliki tujuan yang sama. Benar, kan? Tidak perlu ada interogasi. Begitu kan!"

"Ha, haa…"

"Patausche. Apa pun yang sebenarnya terjadi padamu. Dosa apa pun yang harus kau tanggung. Aku tidak akan menanyakan alasan itu untuk sekarang—"

Teoritta menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Aku berpikir, mungkin dia sedang berusaha keras memasang wajah layaknya seorang Goddess.

"Kami menyambutmu, Patausche Kivia."

Cara bicaranya benar-benar seperti seorang Goddess, pikirku. Termasuk senyuman yang menyusul setelahnya.

"Selamat datang di Unit 9004 Prajurit Hukuman. Mari kita satukan kekuatan untuk memusnahkan Fenomena Raja Iblis dan meraih masa depan yang gemilang."

Dengan kata-kata kuat dari Teoritta itu, situasi pun mereda.

Lalu kami pun diikutsertakan dalam operasi perebutan kembali Ibukota Kedua, dan ditugaskan sebagai unit pengalih perhatian di Perbukitan Toujin-Touga—

Dan kini, seperti biasa, kami dipusingkan oleh berbagai kekurangan logistik dan waktu.


Hukuman

Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 2

"Eh, kuda? Kau bilang kita butuh sepuluh ekor sekarang juga... Tidak, itu mustahil, kan."

Begitu kembali ke tenda, Dotta langsung berucap dengan wajah lesu. Dia berbaring bermalas-malasan sambil membaca sesuatu yang tampak seperti surat kabar militer.

Aku juga sudah membacanya. Tulisan yang buruk. Bagian "Jatuhnya Ibukota Kedua" tertulis besar-besar, dan operasi perebutannya digambarkan seolah-olah merupakan pencapaian heroik yang menjanjikan.

Padahal jika hanya membaca faktanya saja, surat kabar ini lebih banyak mengandung elemen pesimistis. Keberadaan Putri Ketiga dan Pangeran Ketiga yang tinggal di Ibukota Kedua masih belum diketahui.

Dipimpin oleh Abaddon, beberapa Fenomena Raja Iblis telah menduduki Ibukota Kedua. Mengenai kekuatan musuh, setidaknya keberadaan Fenomena Raja Iblis Rhyneck dan Furiae telah dikonfirmasi, dan kawanan Abnormal Fairy terus bertambah luas.

—Ini benar-benar membuat semangat runtuh. Mungkin sikap Dotta juga merupakan cerminan dari hal itu.

"Biar kuperjelas, aku ini bukan Goddess agung nan praktis yang bisa memanggil alat apa pun sesuai keinginan kalian."

Dotta menegaskan hal itu. Aku tahu betul soal itu. Teoritta yang berada di sampingku juga memasang wajah tidak senang. Gumaman "Muu" sempat lolos dari bibirnya.

"Aku juga tidak bisa berubah jadi kabut atau asap. Jadi, meskipun kau menyuruhku mencurinya semudah itu, kalau tidak bisa ya tidak bisa."

"Kalau barang berharga, harusnya kau bisa mengaturnya, kan?"

"Yah, kalau cuma barang berharga sih bisa saja. Tapi kalau kuda itu benar-benar berat, tahu! Apalagi sepuluh ekor! Di sekitar sini juga tidak ada tempat untuk menyembunyikannya."

"—Kalau begitu, sepertinya kau butuh bantuanku, Kawan Dotta."

Suara itu berasal dari Rhino. Di dalam tenda yang dijatahkan untuk kami hanya ada mereka berdua. Jace pasti sedang berada di tempat Neely.

Norgalle, Tsav, dan Tatsuya berada di tim pemeliharaan. Bukan hanya Armored Artillery, mereka juga perlu menyiapkan tongkat petir dan material untuk membangun benteng lapangan.

"Haruskah aku membuat kekacauan? Contohnya, jika aku membakar kandang kuda sementara, pasti akan terjadi kepanikan. Kuda-kudanya tinggal dibunuh lalu dikubur saja."

"Jangan, jangan, jangan! Kami tidak butuh kuda mati!"

"Berhenti berpikiran membakar sesuatu, itu bukan sekadar kekacauan namanya."

Begitu kami menolak mentah-mentah, Rhino menunjukkan wajah sedih yang terlihat sangat dibuat-buat.

"Begitu ya. Jadi kalian ingin kuda yang masih hidup... Kalau begitu, sulit juga ya."

Sambil melirik Rhino yang mulai berpikir, Patausche menyikut lenganku. "Ada apa dengan pria ini? Dia agak aneh."

"Bukan agak lagi, dia hampir sepenuhnya aneh. Akal sehat tidak berlaku padanya."

"Kau keras sekali. Tapi kalau kau yang mengatakannya, mungkin memang begitu—karena itu, Kawan Patausche."

Rhino kembali memberikan senyum teatrikal pada Patausche. Bahu wanita itu sedikit bergidik saat dipanggil 'Kawan'. Dia pasti merasakan rasa jijik yang tidak jelas asalnya. Aku paham betul rasanya.

"Sepertinya aku memang kekurangan bagian akal sehat yang umum. Jika kau menyadari sesuatu, tolong jangan ragu untuk menegurku seperti tadi. Aku akan memperbaiki bagian yang bisa diperbaiki."

"Be... begitu ya..."

Sekarang giliran Patausche yang kebingungan. "Apa itu memang masalahnya? Dalam hal ini...?"

"Patausche, percuma saja dipikirkan. Aku pun sering dibuat bingung. Setiap kali dia mengatakan hal yang jelas-jelas tidak normal, kita hanya bisa menegurnya saat itu juga. Kau hanya perlu terbiasa."

Teoritta memberikan nasihat layaknya seorang 'senior'. Mengenai pria bernama Rhino ini, aku agak ragu soal kata 'terbiasa', tapi setidaknya kami harus mencoba bekerja sama selama tidak mengganggu tugas.

"—Pokoknya! Mencuri kuda itu sulit jadi aku tidak mau. Aku tidak akan melakukan pencurian yang akan gagal."

"Kalau begitu, bagaimana kalau bukannya mencuri, tapi kita membelinya?" ucap Rhino dengan tenang saat Dotta kembali berbaring.

"Dengan begini akan selesai secara damai, kan? Jika kuda itu sudah dibeli, kita tinggal menitipkannya pada pedagang sampai waktunya dibutuhkan. Untungnya, Kawan Dotta bilang dia 'bisa mencuri barang berharga'."

"……Aaah."

Kurasa aku mengeluarkan suara yang sangat bodoh. Benar juga. Perusahaan Pengembangan Varkle selalu menempel pada pergerakan militer seperti biasa untuk menjual barang mewah dan logistik. Mereka punya kereta kuda dan kuda untuk mengangkut barang dagangan.

Kalau membelinya dari mereka, urusannya akan cepat selesai.

"Itu cara yang bagus. Benar-benar luput dari perhatianku. Tapi sepuluh ekor itu harganya sangat mahal—Dotta, kalau kau punya harta yang kau sembunyikan, gunakan sekarang. Kau mengerti, kan?"

"I-iya, aku mengerti. ...Maksudku, begitu ya... Aku sama sekali tidak terpikir untuk membeli."

"……Bukankah itu karena kalian selalu mencoba menyelesaikan segala sesuatu dengan tindak kriminal?"

"Secara akurat, mencuri harta benda itu sendiri sudah termasuk kriminal, lho."

Rhino mengatakan hal yang tidak penting, tapi biarlah aku abaikan untuk saat ini. Rencana itu bisa digunakan.

"Kalau mau mencuri barang berharga, enaknya di mana ya?"

Dotta tampak mulai bersemangat. Dia berguling menghadap ke arah kami. Bagaimanapun juga, itu sudah seperti hobi bagi pria ini.

"Para bangsawan ikut berpartisipasi, kan?"

"Yang memegang komando tertinggi operasi adalah Ksatria Suci Kesembilan. Selain itu ada bangsawan sekitar Joff, unit yang kalah dari Ibukota Kedua, tentara bayaran, dan pendeta bersenjata."

"……Serta Ksatria Suci Ketigabelas. Meski sekarang ada kata 'mantan' di depannya."

Patausche menambahkan dengan suara yang sengaja menekan emosinya. Benar—mereka juga ada. Pasukan yang jumlahnya hampir dua ribu orang saat pertahanan Joff selesai itu langsung dimasukkan ke dalam operasi perebutan Ibukota Kedua.

Di sisi lain, Frensy dan yang lainnya kembali ke Wilayah Ngarai Selatan. Mereka berniat mengumpulkan pasukan dan bergabung di sini secepat mungkin. Tentu saja, aku tidak bisa menghentikan ini. Jatuhnya Ibukota Kedua bukanlah urusan orang lain bagi siapa pun.

Kesempatan untuk menyarankan ayah Frensy agar menghentikan putrinya pun telah hilang.

"Aku mengerti," ucap Dotta. "Asal ada barang yang cukup untuk membeli sepuluh kuda, kan?"

"Kuserahkan padamu. Negosiasi dengan pihak Varkle biar Venetim yang urus."

"Kalau begitu Xylo, aku punya satu syarat."

"Katakan."

"Gantikan tugas memasak Tsav hari ini. Sudah lama tidak ada daging babi yang layak. Ada yang lengkap dengan jeroannya juga."

Begitu ya, aku paham maksudnya. Masakan buatan Tsav itu jenis masakan yang seolah berkata 'asal nutrisinya terpenuhi'. Bumbunya kacau balau, dan dia sendiri yang mencicipinya hanya punya standar:

"Makanan ini tidak beracun! Bahan-bahannya sepertinya juga tidak busuk!"

Teoritta bahkan sampai bilang "rasanya tidak ada sama sekali". Kalau daging babi dan jeroannya ada, lebih baik dijadikan masakan rebusan agar Jace tidak protes. Direbus menggunakan pasta buah.

Jace berasal dari dataran selatan. Dia sepertinya punya penolakan terhadap daging yang dipanggang. Katanya, kalau dipanggang sari dagingnya akan tumpah, jadi lebih enak jika direbus. Dalam poin ini pun, aku dan Jace berseberangan.

"Baiklah. Hari ini aku yang menggantikan jadwal memasak."

Aku mengangguk lalu menoleh ke arah Patausche. "Ngomong-ngomong, karena kau sudah ditempatkan di unit kami, aku mau tanya. Seberapa mahir kau dalam memasak?"

"Nn."

Patausche bergumam pelan dan terdiam selama sepuluh detik lebih. Lama sekali. Reaksinya seolah pertanyaan itu adalah serangan mendadak yang fatal dari luar kesadarannya.

"……Kurasa secara garis besar aku bisa melakukannya tanpa masalah. Hal seperti itu sudah sewajarnya."

Instingku mengatakan kalau itu bohong. Di luar salju terus turun, dan matahari mulai condong ke barat.

Beberapa jam lagi, malam akan tiba.

Di celah awan yang retak, rembulan terlihat. Bulan besar berwarna ungu.

Raikuel menengadah dan terpesona sejenak oleh bulan itu. Sudah lama dia tidak melihat bulan secerah ini. Mungkin sejak terakhir kali dia menemani kakaknya berburu.

Bulan itu pun segera tersembunyi. Salju mulai turun lagi. Salju yang seolah menempel di tubuh.

"Raikuel. —Raikuel!"

Kakak perempuannya memanggil namanya. Suaranya tidak bertenaga. Dia tahu kakaknya menggigil kedinginan. Kakaknya juga sudah kehabisan tenaga—dia merasa harus tegar.

"Raikuel. Jangan menjauh. Kita bisa terpisah nanti."

Kakaknya menggenggam tangan Raikuel. Kekuatan dari balik sarung tangan tebal itu terasa jelas sudah melemah. Raikuel menggenggamnya balik. Lalu menjawab dengan suara lantang agar kakaknya tidak khawatir.

"Iya, Kak. Aku di sini."

Raikuel memikirkan tanggung jawabnya. Dia tidak boleh mengeluh. Melarikan diri dari Ibukota Kedua sambil dilindungi—dan menyambung hidup seperti ini. Prajurit pengawal satu per satu berkurang demi menahan musuh. Kini, hanya dia yang bisa melindungi kakaknya.

"Melindungi Kakak adalah tugasku. Demi Kakak, aku rela berkorban apa pun."

"Kau sangat pemberani. Tapi dengarlah—Raikuel."

Kakaknya menatap Raikuel dengan mata yang seolah membeku biru. Ada yang bilang mata itu menakutkan. Namun bagi Raikuel, itu adalah binar yang membuatnya merasa menjadi orang paling bangga di dunia.

"Nyawa anggota keluarga kerajaan... tidak, nyawa orang yang berniat mengabdi pada publik, adalah milik rakyat banyak."

Kata-kata kakaknya seolah dikunyah oleh dirinya sendiri satu per satu.

"Bukan untuk keluarga. Harus digunakan demi rakyat. Jika dengan membiarkanku mati bisa berguna bagi seseorang yang bahkan tidak kau kenal wajahnya, maka lakukanlah hal itu."

Raikuel merasa sedang diberitahu hal yang tidak masuk akal. Kualitas seorang raja. Dia selalu menganggap hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan Pangeran Ketiga—dia punya dua kakak laki-laki dan tiga kakak perempuan. Dia pikir gilirannya tidak akan pernah datang.

"Itu adalah kata-kata dari seseorang yang kuhormati."

Kakaknya menyipitkan mata birunya hingga membentuk senyuman. Raikuel sedikit penasaran akan hal itu.

"Seseorang yang Kakak hormati? Orang seperti apa itu?"

"Dia teman sekolah Kakak Rowtsir saat belajar di kuil. Seseorang yang punya pandangan mendalam mengenai masa depan Kerajaan Serikat."

"Orang yang pintar ya."

"Iya. Pasti yang terbaik di kuil. Mungkin sekarang dia sudah menjadi Imam Besar."

Lalu, kakaknya tersenyum lagi.

"Karena itu, jangan buang nyawamu dengan mudah. Waktunya membuang nyawa hanyalah saat itu berguna bagi rakyat. Sekarang, lindungilah apa yang kau pikul melebihi diriku."

Apa yang dipikul. Arti dari kata-kata itu bukanlah soal rakyat—Raikuel teringat benda yang ada di punggungnya. Bungkusan panjang seperti belati yang memiliki berat yang nyata. Sesuatu yang berhasil dia bawa saat melarikan diri dari Ibukota Kedua.

Sesuai kata kakaknya, dia merasa harus melindungi benda ini bagaimanapun juga.

"Ayo cepat."

Kakaknya menarik tangan Raikuel dan mulai berjalan lagi.

"Sampai saat itu tiba, jangan pernah putus asa. Menuju selatan. Ke Kota Pelabuhan Joff. ...Hanya itu jalan bagi kita untuk bertahan hidup."

Putri Ketiga dan Pangeran Ketiga. Dua bersaudara itu mempercepat langkah. Hawa keberadaan Abnormal Fairy belum terasa di belakang mereka.

Tujuan mereka tertutup oleh salju yang terus turun dan kegelapan malam.


Hukuman

Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 3

Waktu dimulainya misi kami ditetapkan besok sore.

Artinya, Venetim berhasil mengulur waktu lebih dari satu hari dalam negosiasinya dengan markas komando. Sebagai gantinya, kami dipaksa mengerjakan berbagai tugas kasar militer sampai nyaris mati, tapi apa boleh buat. Tatapan dingin dari orang-orang sekitar memang memuakkan, tapi selama bisa menahannya, itu bukan masalah besar.

Sejujurnya, aku sangat mengerti kenapa mereka membenci kami. Melihat para kriminal seperti kami berkeliaran bebas di perkemahan militer—meskipun dengan kalung Segel Suci—pasti akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Aku merasa hal itu wajar saja.

Terutama Komandan Ksatria Suci Kesembilan. Namanya kalau tidak salah adalah Hord Klivios—putra berbakat dari keluarga Klivios yang terkenal dengan produksi anggurnya. Tatapan matanya saat melihatku dan Patausche benar-benar mengerikan.

Sejak aku masih menjabat sebagai Komandan Ksatria Suci pun, aku memang sudah tidak memiliki kesan yang baik di mata orang-orang. Seingatku, aku memang sangat keras mengenai disiplin militer serta sikap dan perilaku sebagai komandan. Mungkin dia orang yang gila kebersihan.

"Sepertinya kau punya keluhan terhadap operasi ini, Xylo Forbarts," ucap Hord Klivios secara langsung kepadaku.

"Aku sudah dengar dari komandan kalian. Katanya ketidakpuasanmu terhadap operasi ini sangat besar sampai nyaris meledak. Kau bahkan terlihat seolah bisa saja mulai membakar perkemahan ini kapan saja—begitu, kan?"

Si Venetim itu. Bajingan itu berani sekali bicara sembarangan, pikirku, namun aku tetap diam. Ada kemungkinan dia menggunakan itu sebagai salah satu elemen dalam negosiasi. Terlepas dari itu, aku akan menginterogasinya nanti.

"Biar kukatakan, aku sama sekali tidak memercayai kalian. Aku menganggap menyertakan kalian dalam pasukan adalah hal yang merugikan."

Itu adalah kata-kata yang luar biasa dari sang panglima tertinggi. Meski begitu, aku hanya bisa mendengarkannya dalam diam.

"Aku memerintahkan operasi ini kepada kalian karena itu adalah hukuman, dan juga karena instruksi dari Galtuil. Aku pribadi bahkan berpikir kalian seharusnya dieksekusi saja sebelum pertempuran dimulai."

Dalam arti tertentu, dia sepenuhnya benar. Aku semakin terdiam—dan sebelum benar-benar meledak marah, aku meninggalkan tempat itu. Terus-menerus mendengarkan cacian membosankan seperti itu hanya akan membuat suasana hatiku semakin buruk. Bukan hanya soal Hord. Bisikan-bisikan dari para prajurit biasa pun sama saja.

Bahkan saat melakukan tugas kasar di kamp, ada gumaman yang sampai ke telingaku.

"…Kenapa Prajurit Hukuman ada di sini? Apa mereka benar-benar akan ikut dalam operasi?"

"Jangan bercanda. Di sana ada si Goddess Killer, bahkan sampai ada Tsav si Cannibal juga."

"Jangan biarkan para pendosa itu mendekati Tuan Tanah kita. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan."

Jika hanya sekadar kata-kata saja masih mending. Namun yang lebih mencolok, jatah makanan dan pakaian dilemparkan begitu saja ke tanah saat diberikan. Selain itu, sepertinya isinya pun sudah dikurangi sedikit.

Ksatria Suci memang tidak akan melakukan kecurangan sampai sejauh itu, tapi para prajurit yang dibawa oleh persatuan bangsawan melakukannya tanpa rasa bersalah. Benar-benar banyak bangsawan yang berpartisipasi dalam perang ini—aku mengenali banyak lambang keluarga pada bendera-bendera yang berkibar. Lambang burung bular yang terbang menembus badai adalah keluarga Kurdel, raksasa yang meniup seruling adalah keluarga Junury, dan singa yang menggigit kapak perang adalah keluarga Dasmitea.

Latar belakang dan asal-usul mereka beragam, tapi ada satu kesamaan. Yaitu, mulut mereka semua sangat tajam. Dan semakin kaya bangsawan agung itu, semakin berani dan terang-terangan mereka mencaci-maki.

Bahkan aku saja, hanya karena sedang berjalan, langsung dicari-cari kesalahannya. "Jalanlah lebih menepi lagi, dasar budak-budak berkalung kotor!" Begitulah mereka menyumpah.

(Benar-benar luar biasa.)

Orang-orang di pangkalan ini pasti mengira kami akan mati dalam misi kali ini, atau setidaknya akan datang memohon pada mereka. Memikirkan hal itu membuatku marah, dan aku jadi tidak sudi melihat wajah mereka lagi.

Karena itu, aku mencari celah dan mengambil istirahat taktis di kandang naga milik Jace. Jace memang orang yang sangat menyebalkan, tapi setidaknya dia tidak akan mencaci dari belakang. Selain itu, kandang naga itu luas. Hal itu karena naga-naga yang berhasil melarikan diri dari Ibukota Kedua ditampung di sana. Katanya jumlahnya mencapai sekitar empat puluh ekor.

Dan entah dengan prinsip apa, Jace sepertinya berhasil memenangkan hati hampir semua naga yang ada di sana.

Saat aku mengunjungi kandang naga, dia sedang beristirahat dengan mewahnya sambil menjadikan perut Neely sebagai bantal. Ada naga yang mencoba mendekati Jace sambil menggigit daging, tapi setiap kali itu terjadi, Neely akan memamerkan taringnya untuk mengintimidasi. Kedudukan yang cukup bagus, pikirku.

"…Sepertinya akan menjadi pertempuran udara dalam skala yang cukup besar," ucap Jace. Sambil menyeruput sesuatu yang mirip bubur dengan sendok kayu, dia menatapku dengan tatapan terganggu.

"Pihak lawan juga punya kekuatan tempur udara. Kita harus bersiap."

Itu sudah pasti. Di Ibukota Kedua seharusnya ada jauh lebih banyak naga daripada yang berjejer di sini. Fakta bahwa kota itu tetap kalah setelah area perkotaan diserbu menunjukkan bahwa mereka punya kekuatan udara yang luar biasa.

Meski begitu, jika ditanya apakah musuh bisa mengerahkan semuanya ke garis depan ini, jawabannya adalah tidak juga. Karena ada Benteng Galtuil dan Ibukota Pertama. Mereka harus membagi kewaspadaan ke sana juga.

"Kenapa? Jace, kau sepertinya tidak percaya diri?"

"Bukan itu maksudku."

Aku berniat memprovokasinya, tapi tumben sekali Jace tidak terpancing.

"Katanya ada Fenomena Raja Iblis tipe terbang. Namanya Furiae. Dia itu—bagaimana ya mengatakannya, dia menembakkan sesuatu seperti tombak cahaya. Jarak tembaknya jauh berbeda dibandingkan Abnormal Fairy tipe terbang biasa."

"Kau bicara seolah-olah sudah melihatnya sendiri."

"Aku dengar dari Moira."

"Siapa itu?"

"Ada di sana. Anak yang tampak tenang dengan tanduk yang melingkar ke arah luar itu… dia sedang melihat ke sini sekarang… Berhenti, Neely. Jangan mengintimidasi dia."

"Maksudmu naga?"

"Ya, naga," jawab Jace.

Tapi mana mungkin dia bisa bercakap-cakap dengan naga. Kemungkinan besar dia mendengarnya dari penunggang naga lain. Hampir tidak ada prajurit yang mau bicara dengan unit Prajurit Hukuman, tapi sesama penunggang naga mungkin punya rasa solidaritas yang berbeda.

"…Pokoknya, ini akan cukup merepotkan, tapi jika Furiae muncul, aku yang akan membunuhnya," ucap Jace dengan tegas dan nada tidak senang.

"Sudah banyak naga yang terbunuh. Aku tidak bisa memaafkannya."

Saat menghitung naga, Jace menyebutnya dengan satuan 'sayap'. Itu adalah istilah yang cukup kuno, tapi jika kau menyebutnya dengan 'ekor' di depan Jace, kau akan langsung menjadi sasaran serangan yang hebat tanpa ragu. Setidaknya aku tidak sebodoh itu sampai mau berkelahi dengan Jace di dalam kandang naga ini.

"Aku akan mengurus supremasi udara. Untuk jalur darat, kalian harus menembusnya meski harus mati, bahkan mati beneran pun tidak apa-apa."

Aku bingung harus menjawab apa. Rasanya aku ingin melontarkan satu atau dua kalimat sinis—dia terlalu serius. Karena tidak ada hal baik yang didapat dari menjadi terlalu serius.

Saat itu, terdengar suara keras dari bagian dalam kandang naga, seperti suara kayu yang roboh. "Uwo—waa!"

Dari nada suaranya yang konyol, aku langsung tahu siapa itu. Tsav. Dia terjatuh dan tertimbun kotak kayu. Pantas saja tidak kelihatan, ternyata dia disuruh membantu mengurus kandang naga.

"Si bodoh ini," ucap Jace dengan nada jengah. "Apa yang kau lakukan? Jangan lengah."

"Bukan begitu, Jace-san! Barusan aku hampir dipukul pakai ekor oleh anak ini, aku langsung berpikir 'wah gawat'! Bukankah aku hebat karena tidak menumpahkan isi kotaknya?"

"Lihat saja punggungnya, kau kan tahu! Jangan dekati anak itu dari arah ekor!"

"Ke-kenapa?"

"Apa kau tidak lihat luka di sisiknya? Apa matamu itu terbuat dari timah? Itu artinya dia pernah dilukai dari arah sana, dia jadi sensitif terhadap siapa pun yang mendekat dari belakang."

"Mana mungkin aku tahu sampai sejauh itu hanya dengan melihat!"

Suara Tsav terdengar seperti jeritan, dan aku bisa mengerti perasaannya. Instruksi Jace mengenai pengurusan naga terkadang terasa sangat tidak masuk akal.

"Bukankah lebih baik menyuruh Norgalle atau Dotta membantu daripada Tsav? Anak ini memang cekatan, tapi dia sama sekali tidak punya kepekaan terhadap makhluk hidup."

"Mereka berdua sedang sibuk. Lagipula," Jace menggeleng menanggapi pertanyaanku.

"Kali ini aku punya sedikit rencana. Dengan menggunakan Tsav—ah, tunggu sebentar."

Tengah berbicara, Jace mengerutkan dahi. Dia menyodorkan bubur yang sedang diseruputnya.

"Siapa yang piket masak siang ini?"

"Patausche Kivia."

"…Si anak baru itu, ya? Pantas saja rasanya hambar, ternyata di bagian bawahnya ada banyak gumpalan garam dan gandum yang mengendap… Bagaimana bisa jadi begini?"

Jace menggeram tidak senang. "Seseorang, ajari si anak baru itu cara memasak."

"Mungkin saja, itu adalah tugas yang paling mendesak sekarang."

"Di mana si anak baru itu sekarang?"

"Sedang bekerja, setidaknya begitulah. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil, tapi ini sebuah pertaruhan—"

Lebih dari itu, ini pasti hal yang enggan dia lakukan secara pribadi. Meski begitu, ini adalah hal yang kami butuhkan. Sangat mustahil bagi unit Prajurit Hukuman sendirian untuk menghadapi lawan yang berjumlah ribuan. Kami butuh kekuatan tempur untuk pengalih perhatian, meskipun hanya untuk bergerak di sekitar musuh agar mereka waspada, atau bahkan jika mereka hanya diam saja.

Tergantung kondisinya, mungkin ada pihak yang bersedia menanggapi. Yang paling memungkinkan adalah—ya, Ksatria Suci Ketigabelas yang sekarang telah dibubarkan.

Dulu di Ksatria Suci Ketigabelas, pria bernama Zofrek Ostbish adalah seorang kavaleri yang luar biasa. Dia memiliki penilaian yang cepat dan kegigihan.

Sepanjang pengetahuan Patausche, awalnya dia berpindah-pindah medan perang sebagai tentara wilayah utara dan meraih banyak jasa terutama dalam penyelamatan pemukiman perintis. Lalu, dia ditarik masuk ke Ksatria Suci.

Dalam membentuk organisasi Ksatria Suci yang baru, tidak ada ruginya memiliki banyak orang berbakat. Itulah yang dikatakan paman Patausche, orang yang bertanggung jawab penuh dalam urusan tersebut. Sekarang beliau sudah tidak ada.

Dirinya sendirilah yang membunuhnya. Hal itu sama saja dengan menghancurkan masa depan seluruh personel Ksatria Suci, bukan hanya masa depan Patausche sendiri.

Karena itulah, sejak awal ini adalah pekerjaan yang enggan dia lakukan. Dia sudah bisa membayangkan jawaban dari Zofrek, dan kenyataannya, jawaban yang sama memang keluar.

"—Bukankah itu permintaan yang terlalu enak sendiri? Mantan Komandan."

Sebuah perkataan yang penuh sindiran. Dengan senyum yang dipaksakan di bibirnya, Zofrek menggelengkan kepala.

"Setelah situasi jadi begini, apa Anda pikir ada prajurit yang mau mendengarkan kata-kata Anda?"

(Wajar saja.) Patausche juga berpikir demikian. (Ini permintaan yang mustahil.)

Dia tidak bisa memberikan pembelaan apa pun kepada Zofrek dan yang lainnya. Meski begitu, Patausche tetap menatap lurus ke depan tanpa menundukkan pandangannya.

Dia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya yang menusuk tajam, bukan hanya Zofrek. Patausche merasa itu mendekati permusuhan.

Atau mungkin keterkejutan. Mereka pasti tidak menyangka dia akan datang berkunjung. Di dalam tenda yang tidak terlalu luas itu, para perwira utama dari mantan Ksatria Suci Ketigabelas sedang berkumpul.

"Aku ingin tahu, kenapa kami harus patuh? Membantu operasi para Prajurit Hukuman yang sama saja dengan eksekusi mati itu? Sebenarnya, berbicara dengan Anda saja dilarang bagi kami, lho."

Dia sudah mengira akan begitu. Karena itulah dia berkunjung secara rahasia—meskipun itu bidang yang tidak dikuasainya, dia menggunakan tanda dari Dotta untuk memanfaatkan celah saat patroli agar bisa mendatangi tenda mereka seperti ini. Tujuannya hanya satu.

"Untuk menang," tegas Patausche.

Tatapan dari sekelilingnya menjadi semakin tajam. Beberapa orang bahkan memasang ekspresi terperangah.

"Kami akan menancapkan pasak di wilayah perbukitan ini dan memancing kekuatan musuh. Jika berhasil, pasukan utama akan bisa memulai pertempuran dengan kondisi yang sangat menguntungkan."

"Mana mungkin berhasil."

Zofrek tampak terperangah. Dia menunjuk peta yang ditempel di papan di bagian dalam tenda.

"Anda pikir ada berapa ribu musuh di sana? Prajurit Hukuman hanya sembilan orang. Bahkan jika ditambah naga dan Yang Mulia Goddess sekalipun, kita hanya akan berakhir terinjak-injak sampai mati."

"Asal tidak terinjak saja tidak masalah."

Patausche mendekati peta. Dengan ujung jarinya, dia menunjukkan bukit tempat Prajurit Hukuman berencana menempati posisi.

"Kita bisa melakukan serangan menjepit dengan pasukan utama Ksatria Suci Kesembilan. Dan itu dilakukan dengan menjepit musuh menggunakan benteng lapangan."

"Hanya sembilan orang, serangan menjepit apa maksudnya? Aku tahu ada naga dan penunggang naga. Si Jace dari keluarga Partilact itu. Katanya dia hampir menjatuhkan ibukota saat pemberontakan… tapi itu saja tidak akan cukup."

Sambil menggeleng, kata-kata Zofrek terdengar sangat masuk akal. Dirinya sendiri pun pasti akan menilai demikian.

Namun—pikir Patausche sekarang. Di penjara itu, dia telah diberitahu mengenai makna dari Prajurit Hukuman. Dan yang terpenting, dia telah mengetahui seberapa banyak operasi ajaib dan konyol yang berhasil diselesaikan oleh Xylo dan para Prajurit Hukuman lainnya.

Karena itulah, sekarang dia bisa mengatakannya dengan kuat. "Jika itu kami, kami bisa."

Patausche melihat sekeliling. Beberapa orang tampak jelas merasa ragu.

"Kalian pun pasti menyadarinya. Nilai kekuatan tempur Prajurit Hukuman itu sangat tinggi sampai sulit dipercaya. Mereka berhasil mempertahankan Benteng Myurid dan membasmi Fenomena Raja Iblis di Kota Joff. Jika ada dukungan yang tepat, serangan menjepit pasti akan berhasil."

"Anda menyuruh kami percaya pada cerita seperti itu? Menyuruh kami percaya pada Anda sekarang ini…?"

Kata-kata Zofrek berubah menjadi desahan di bagian akhir. "Itu mustahil, Mantan Komandan."

"—Benar sekali. Benar-benar tidak bisa dijadikan bahan pembicaraan."

Terdengar suara dari sudut tenda. Seorang pria dengan pakaian jubah putih. Bukan seorang kavaleri. Dia mengenakan Segel Suci besar dari besi yang merupakan bukti sebagai pendeta di lehernya—seorang pendeta militer.

Dia menatap Patausche dengan pandangan gelap.

"Akibat tindakan pengkhianatan Anda, masa depan semua orang di sini seolah telah terputus. Bagaimana mungkin kami bisa memercayai perkataan seseorang yang membunuh anggota keluarganya sendiri dan membantai bawahannya?"

Patausche tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berusaha keras agar ekspresi wajahnya tidak berubah. Dia membekukan hatinya layaknya es, tidak membiarkan sedikit pun guncangan emosi terlihat. Sedari awal, dia benar-benar tidak merasa tindakannya salah.

Jika ada yang dia sesali, itu hanyalah soal bawahannya. Mungkin seharusnya ada cara lain yang sedikit lebih baik. Dia tidak bisa melakukannya. Hasilnya adalah ini. Pria pendeta militer ini pun pasti dimintai pertanggungjawaban. Fakta bahwa dia masih menyertai mantan Ksatria Suci Ketigabelas yang telah dibubarkan dan diletakkan di bawah pengawasan adalah buktinya.

"Ketahuilah rasa malu, Patausche Kivia."

Pria pendeta militer itu memberikan teguran dengan kata-kata yang keras. Dalam suaranya, terasa adanya kebencian. "Silakan pergi dari sini. Sekarang juga."

"Aku tidak menyuruh kalian untuk melakukan tindakan tempur," Patausche tetap mencoba bertahan.

"Hanya intimidasi saja tidak apa-apa. Bukan, sekadar mengambil posisi dukungan samping saja pun boleh. Atau mungkin—"

"Apa Anda tidak dengar saya menyuruh Anda pergi?"

Pria pendeta militer itu tampak jelas mulai kesal. Suaranya meninggi. "Mana mungkin ada satu pun orang di sini yang mau mendengarkan perkataan Anda sekarang! Kami pun tidak punya kewajiban lagi untuk mematuhi perintah Anda."

"—Kalau begitu, tidak perlu menyelamatkan kami para Prajurit Hukuman. Aku tidak berniat untuk selamat. Namun, Goddess Teoritta adalah pengecualian. Meskipun kami semua musnah, setidaknya aku ingin kalian menyelamatkannya."

Dalam pertempuran ini, setidaknya hanya itulah peran yang harus mereka emban. Namun, sang pendeta militer menggelengkan kepala dengan tegas.

"Aku tidak mengakui Goddess itu sebagai seorang Goddess."

Di dalam kuil, dia tahu memang ada faksi seperti itu. Goddess yang terus berpindah medan perang bersama Prajurit Hukuman. Penilaian terhadapnya terbagi dua; faksi yang memujinya dan mengakuinya sebagai Goddess sejati, serta faksi yang masih menunda penilaian. Selain itu, mulai muncul faksi yang menyatakan bahwa dia adalah Goddess palsu yang berpihak pada para pendosa.

Sudah tidak perlu dipastikan lagi pendeta militer ini termasuk faksi yang mana sekarang. Meski begitu, Patausche menundukkan kepalanya.

"…Aku mohon. Berbeda dengan kami, Yang Mulia Teoritta tidak memiliki dosa."

Hening. Tidak ada jawaban dari siapa pun. Tidak, hanya ada satu orang.

"Akan kukatakan sekali lagi. Pergilah dari sini," ucap pria pendeta militer itu dengan suara yang ditekan. "Dasar kotor."

Saat keluar dari tenda, Dotta dan Venetim sudah menunggu. Keduanya memiliki tatapan mata yang sama-sama tampak cemas. Begitu Patausche melirik sekilas, rasa cemas itu berubah menjadi rasa takut. Meski begitu, ada pria yang sifatnya tidak bisa diam saja.

"Anu… mohon maaf, bagaimana hasilnya?" tanya Venetim sebagai pembuka.

"Perasaanku sebenarnya tidak enak, tapi aku akan tanya untuk memastikan… Apa mereka bisa digerakkan?"

"Mustahil," jawab Patausche dengan jujur.

"Mantan Ksatria Suci Ketigabelas tidak akan bergerak. Artinya kita harus bertarung sendirian."

"Kalau begitu, bukankah itu sama saja dengan mati? Aku tidak mau. Tapi kalau begitu…"

Venetim menunjukkan ekspresi muram yang mendalam, lalu menyentuhkan jari ke bibirnya seolah sedang memikirkan sesuatu.

"…Baiklah. Biar aku yang mencoba membujuk mereka. Patausche-san, tolong beritahu informasi keluarga dari para komandan setiap regu. Di mana mereka tinggal, atau apakah mereka sudah menikah. Jika mereka punya anak kecil…"

"Apa yang kau pikirkan, dasar bodoh. Hentikan itu."

Patausche mencengkeram kerah baju Venetim. Terdengar jeritan kecil. "Sejak awal mencoba melibatkan mereka adalah sebuah kesalahan. Itu hanya akan membuat kita semakin diawasi dari atas. Kita lakukan ini sendirian."

"Mana bisa begitu! Kalau—kalau begitu bagaimana caranya? Kali ini menyewa tentara bayaran atau apa… tapi kita tidak punya uang."

"Hei, terserah apa pun itu, tapi..."

Dotta memotong pembicaraan. Dia menepuk lengan Patausche dengan sopan. "Ayo cepat pergi. Akan merepotkan kalau patroli berikutnya lewat. Ini bukan waktunya untuk bermain-main selamanya."

Patausche mengernyitkan dahi. Dia tidak terima dibilang sedang bermain-main, tapi apa yang dikatakannya benar. Dia gagal membujuk mantan Ksatria Suci Ketigabelas. Sebaiknya mereka pergi.

"Baiklah. Ayo pergi."

Begitu dia menyeret Venetim dan berniat kembali, saat itulah—

"—Patausche Kivia, Mantan Komandan Ksatria Suci."

Zofrek melongokkan kepalanya dari balik tenda. Wajahnya tersenyum kecut. Patausche mengenal baik wajah ini. Yaitu saat Rajit sang komandan infanteri atau Sienna sang komandan penembak jitu meminta hal yang tidak masuk akal pada pasukan kavaleri. Atau saat dirinya sendiri meminta pertempuran dengan kondisi yang terlalu berat.

"Aku sebenarnya keberatan, tapi… orang-orang yang lain, dan si Sienna itu…"

Zofrek membiarkan senyum sarkastik muncul di matanya. "Katanya bagaimanapun juga, sekali ini saja. Yah—siapa tahu kalau berhasil ini akan jadi prestasi besar dan kami bisa kembali ke posisi semula. Rahasiakan ini dari Tuan Pendeta Militer, ya."

"Kau berniat melakukannya, Komandan Kavaleri Zofrek?"

"Jangan salah sangka, tidak semua orang di ksatria suci yang ikut dalam pembicaraan ini. Paling hanya dua ratus, atau paling banyak tiga ratus orang. Lagipula, ini masalah pribadi, sih…"

Zofrek sedikit ragu, lalu dengan lihai mengedipkan sebelah matanya. "Sepertinya aku tidak akan bisa akur dengan si Xylo itu."

"Wajar saja," Patausche mengangguk setuju.

Memang, sifat kaku dan ketidakramahan pria itu benar-benar luar biasa.

Pengurusan baru Ibukota Kedua sepertinya sudah mencapai satu titik ketenangan. Lentby Kisco mengembuskan napas panjang saat melihat tumpukan dokumen yang tersebar di meja kerjanya.

Di dalamnya terdapat laporan hukuman. Tadi malam, ada empat orang yang mencoba melarikan diri. Mereka adalah sebuah keluarga dengan dua orang anak.

Ini harus dilakukan dengan cara yang sekejam mungkin, yaitu membunuh mereka semua. Begitulah perintah dari 'atasan'-nya. Tujuannya adalah sebagai peringatan bagi orang-orang sekitar.

Penting untuk memberi pelajaran menyeluruh tentang apa yang terjadi pada pelarian. Lentby pun merasa itu tidak bisa dihindari—hasilnya, itu akan berujung pada pengamanan manusia yang tinggal di ibukota.

Hasil dari kegiatan tersebut sudah terlihat; dibandingkan sepuluh hari pertama, jumlah manusia yang mencoba melarikan diri telah berkurang drastis.

Penempatan personel baru pun sudah dilakukan—tidak banyak orang yang memiliki jabatan untuk menangani pekerjaan 'manajemen' seperti ini. Hampir semua pejabat yang ada di Ibukota Kedua telah diturunkan pangkatnya menjadi sekadar 'pihak yang dimanajeri'.

Dirinya yang bisa tetap berada di posisi 'manajer' mungkin termasuk dalam kategori yang beruntung.

Fakta bahwa dia menguasai satu pasukan penjaga kota dan dengan cepat berkhianat untuk membantu pengambilalihan area perkotaan telah berujung pada penilaian tersebut.

Meski begitu, posisinya belum bisa dibilang aman. Dia baru saja diakui sebagai faksi simbiosis baru-baru ini, dan dia tahu betul basis kedudukannya masih rapuh. Dia harus terus memberikan hasil dan menunjukkannya. Kepada Fenomena Raja Iblis ini.

"—Jadi, Lentby Kisco. Apakah laporannya sudah selesai sampai di sini?" ucap bayangan itu—Fenomena Raja Iblis Abaddon.

Saat berhadapan langsung dengannya, rasanya seolah terintimidasi. Fenomena Raja Iblis ini, sekilas tampak seperti pria manusia dengan wajah yang sangat lembut. Jika tidak tahu, orang akan menganggapnya seperti pegawai sipil di daerah. Namun, di matanya yang sipit itu ada sesuatu yang tidak terukur kedalamannya.

Sebuah pupil organik yang mengingatkan pada serangga, yang bahkan tidak bisa dipahami oleh Lentby.

"Sepertinya keamanan manusia sudah stabil ya. Berapa jumlah pelariannya?"

"Iya. Setelah satu malam berlalu, jumlahnya berkurang drastis. Saya rasa tidak masalah meskipun kita mengurangi personel yang dialokasikan untuk penjagaan."

"Baguslah kalau begitu. Meskipun agak berlebihan, kurasa membunuh mulai dari anak-anak dengan cara mencincangnya mulai dari ujung jari telah memberikan efek yang bagus. Aku puas dengan kemampuanmu."




Abaddon berbicara dengan suara seolah sedang membujuk seorang anak kecil.

Meski begitu, Lentby sama sekali tidak bisa tenang. Dia telah melihat sendiri bagaimana sosok ini, sambil berbicara dengan nada suara seperti itu, bisa menghancurkan seorang manusia menjadi serpihan hanya dengan satu tangan di saat berikutnya.

"Kau tidak perlu setegang itu, kan?"

Seolah menyadari apa yang ada di dalam hati Lentby, Abaddon memasang ekspresi seperti senyum pahit.

"Apa wajahku semenakutkan itu? Aku sering diberitahu begitu. Haruskah aku mengubahnya menjadi wajah yang sedikit lebih ramah? Menurut pandanganmu, bisakah kau membawakan manusia yang memiliki wajah seperti itu? Hanya bagian leher ke atas saja pun tidak apa-apa."

"Ha…?"

Jawaban seperti apa yang harus ia berikan? Di tengah kebingungannya, Abaddon menepukkan kedua telapak tangannya.

"Bercanda! Apa sulit dimengerti ya? Perasaan seperti ini memang benar-benar sulit."

Meski mereka terlihat seperti manusia, mereka benar-benar berbeda. Struktur mental mereka tidak dapat dipahami. Lentby kembali menyadari kenyataan itu sekali lagi.

"Keamanan kota sudah meningkat. Secara garis besar manajemen berjalan dengan baik. Walaupun begitu—"

Suara Abaddon sedikit merendah.

"Sepertinya jumlah manusia masih agak terlalu banyak. Di daerah perkotaan seperti ini, rasio manusia yang dibutuhkan sebenarnya sedikit."

Yang mereka maksud dengan manusia yang dibutuhkan adalah para pekerja agrikultur. Selain itu, manusia dianggap hanya sebagai asisten pekerja agrikultur, tenaga kerja kasar, atau sebagai bahan pangan.

Ya—bahan pangan itu sendiri. Atau produsennya. Sepertinya, itulah nilai manusia di mata Fenomena Raja Iblis. Mereka tampak hampir tidak mengakui adanya peradaban maupun budaya.

Setelah mengamati mereka, Lentby menyadari satu hal lagi—Fenomena Raja Iblis dan Abnormal Fairy juga makan. Namun, mereka tidak memakan sesamanya. Jika kelaparan, mereka akan masuk ke kondisi mati suri dan sanggup bertahan dalam kondisi itu selama puluhan hari.

Dan hal yang paling disukai oleh Fenomena Raja Iblis maupun Abnormal Fairy adalah darah dan daging manusia.

Sepertinya, mereka mendapatkan semacam nutrisi—entah apakah itu istilah yang tepat—tapi intinya mereka menyerap semacam energi dari manusia. Setelah memangsa manusia, mereka terlihat sangat jelas dipenuhi oleh vitalitas. Sepertinya hal itu tidak berlaku jika mereka memakan sapi, babi, ataupun tanaman pangan.

"Aku ingin lebih mengurangi tenaga yang dibutuhkan untuk mengawasi manusia."

Karena itulah Abaddon menyampaikan niatnya dengan sangat jelas.

"Akan ada pertempuran. Di Galtuil—lalu Joff. Sisanya adalah para penguasa wilayah utara yang sedikit merepotkan. Karena kita akan menghadapi musuh dari berbagai arah, lebih baik jika kekuatan tempur kita banyak."

"Itu artinya,"

Lentby merasa suaranya sendiri terdengar seperti suara orang lain.

"Kita harus melakukan penyortiran?"

"Benar. Pilih manusia berusia dua puluh hingga tiga puluh tahun secara acak, lalu cobalah pukul mereka dengan gada besi sebanyak sepuluh kali."

Abaddon mengatakannya seolah sedang menguji suatu produk industri.

"Individu tangguh yang sanggup bertahan dan tetap hidup akan dipromosikan menjadi prajurit sebagai Abnormal Fairy. Individu lemah yang mati akan digunakan sebagai bahan pangan. Begitulah... aku ingin kau mengurangi total populasinya sebanyak sepuluh persen."

Instruksi yang teramat sederhana. Tidak mungkin baginya untuk menolak.

Lentby memaksa dirinya sendiri untuk berpikir bahwa ia adalah orang yang kejam dan egois. Ia meyakinkan diri bahwa ia tidak peduli pada orang lain.

Saat ini, ia sudah cukup kesulitan hanya untuk bertahan hidup, jadi apa boleh buat.

(Hanya untuk sekarang,) pikir Lentby.

(Tahanlah sekarang. Mungkin suatu saat perlakuan terhadap umat manusia akan membaik. Jika manajemen sudah stabil, hal seperti ini mungkin tidak akan ada lagi.)

Karena itu, sekarang ia harus memalsukan dirinya sendiri. Selama ia masih memiliki "diri yang asli" yang sadar bahwa ia sedang berpura-pura, maka semuanya akan baik-baik saja—Lentby terus meyakinkan dirinya sendiri.

"Wajahmu pucat sekali."

Tanpa disadari, Abaddon sudah menatap tajam ke arah wajah Lentby.

Mata itu. Entah kenapa Lentby merasa pusing. Itu adalah tatapan yang seolah mengintip ke dalam isi kepalanya.

"Apa kau bisa tidur dengan nyenyak? Katanya kebahagiaan manusia ditopang oleh kesehatan dan tidur yang berkualitas. Agar kau bisa tidur dengan nyenyak, aku tidak keberatan menyanyikan semacam lagu pengantar tidur untukmu."

"Anu, itu..."

"Bercanda. Yang barusan itu mudah dimengerti, kan?"

Abaddon menepukkan kedua telapak tangannya, lalu memasang senyum bersahabat—atau setidaknya terlihat seperti itu.

"Jangan begitu tegang, Lentby Kisco. Kami mengakui nilaimu. Dalam pengelolaan manusia, sistem keamanan, hingga manajemen logistik dari arah barat."

Seolah menyuruhnya tenang, Abaddon mengarahkan telapak tangannya ke bawah.

"Kupikir kemampuanmu cukup hebat. Karena itu, aku ingin kau memimpin pasukan dalam pertempuran di arah Kota Joff nanti."

Rasanya ia ingin berteriak memohon agar dibebaskan. Apa ia harus bertempur lagi melawan pasukan manusia?

"Aku ingin kau membantu Nona Trishir. Kau akan menjadi wakilnya. Itu akan jadi kombinasi yang bagus."

Suasana hati Lentby menjadi suram.

Trishir adalah pemimpin unit manusia yang menyerang kota ini. Kudengar awalnya dia adalah seorang tentara bayaran.

Wanita yang tega-teganya disewa oleh Fenomena Raja Iblis dengan uang, diizinkan melakukan penjarahan, dan terus berpindah medan perang dari arah barat.

Ia mengingat cara wanita itu bertempur—dia melompat masuk ke area perkotaan dengan wajah penuh kegirangan.

Melihat cara bertarung itulah yang membulatkan tekad Lentby untuk berkhianat.

"Kenapa kau begitu ketakutan? Apa keberadaan kami sangat mengerikan bagimu?"

Abaddon bertanya seolah bisa melihat isi hatinya. Benar-benar dengan nada bicara seperti membujuk anak kecil.

"Percayalah. Kami tidak berniat membunuhmu. Malah bukankah kami sedang melindungimu? Ya—seperti Nona Trishir, kau juga sebaiknya memantapkan hati untuk menjadi orang jahat."

Abaddon kembali memasang ekspresi yang tampak seperti senyuman.

"Mari kita lumat umat manusia bersama-sama. Kau harus menikmatinya. Karena kau telah terpilih menjadi pihak yang bertahan hidup, maka nikmatilah hidup itu sepuasnya. Manusia hidup untuk menjadi bahagia, kan? Benar begitu?"

"—Benar."

Lentby hanya bisa menjawab seperti itu. Abaddon mengangguk puas.

"Kalau begitu, mari bicara soal pekerjaan. Aku telah memutuskan untuk mengirim empat kavaleri Raja Iblis ke wilayah perbukitan Toujin-Touga. Karena Goddess dan Ksatria Suci itu cukup tangguh. Lihatlah ke luar jendela, itu mereka. Biar kuperkenalkan."

Abaddon menunjuk ke arah jendela di belakangnya.

Tanpa disuruh pun, sejak tadi sosok-sosok itu sudah masuk ke dalam penglihatannya mau tidak mau. Empat kavaleri. Mereka sudah bersiaga di lapangan yang ada di depan mata.

"Pertama, Ammit. Masalahnya hanyalah nafsu makannya yang terlalu besar, tapi dia sangat berdedikasi dan berani."

Sesosok tubuh raksasa menyerupai ulat yang menggeliat hitam pekat.

Sambil bergerak merayap perlahan di jalanan kota, dia sepertinya sedang makan, membuka mulut lebarnya yang besar untuk menyantap sesuatu.

Ia bahkan tidak sudi memastikan apa yang sedang dimakan makhluk itu.

(Manusia. Terlihat hanya sesaat, tapi tidak salah lagi...)

Perkenalan sebagai sosok yang "berdedikasi dan berani" itu sama sekali tidak terasa seperti sebuah penghiburan.

"Selanjutnya, Charon. Dia seorang pria budiman yang tenang. Hanya saja, dia sedikit sensitif. Sebaiknya jangan mendekat sembarangan."

Di sudut lapangan. Sesosok anomali putih yang mendekam di sana. Wujudnya menyerupai laba-laba atau kepiting yang tersusun dari berbagai kerajinan tulang hewan.

Yang satu ini jauh lebih raksasa daripada Ammit, ukurannya sebesar rumah besar, dan hampir tidak bergerak sama sekali. Jika tidak diperkenalkan, mungkin ia akan mengira itu adalah sebuah bangunan.

Ini pun juga, di bagian mana dia disebut pria budiman yang tenang—ia merasa itu hanya lelucon buruk.

"Dan dia adalah Furiae. Jika kau butuh berkomunikasi, kau bisa melakukan kontak dengannya."

Lalu kavaleri ketiga. Sosoknya tidak terlihat selain seperti manusia.

Seorang wanita berbentuk manusia yang berdiri diam dengan rambut putih yang berkibar, menengadah menatap langit. Parasnya bisa dibilang sangat cantik.

Wajahnya yang tertata halus melirik Lentby sekilas melalui jendela dan tersenyum—namun, pupil matanya sama seperti Abaddon, sama sekali tidak memperlihatkan emosi.

"Terakhir adalah Rhyneck—ah, yang satu ini sulit diperkenalkan. Aku lewatkan saja. Aku ingin kalian bekerja sama dengan mereka dan membasmi pasukan manusia. Tidak perlu membiarkan satu orang pun tetap hidup. Mohon bantuannya ya, Lentby."

Fenomena Raja Iblis Abaddon kembali memanggil namanya dengan suara yang dingin namun tenang.

"Aku menaruh harapan pada kalian."

Itu bermakna: jangan pernah mengkhianati harapan tersebut.

(……Untuk bertahan hidup, aku harus melakukannya.)

Lentby berpikir bahwa ia akan melakukan hal kejam lagi.

(Tapi, ini adalah diriku yang palsu.)

Diri yang asli jauh lebih baik, dan bisa hidup demi kebahagiaan orang lain. Sampai situasi memungkinkan baginya untuk melakukan itu, sekarang ia hanya bisa bertahan.

"Nah—aku tidak terlalu paham, tapi jika ini pertempuran manusia, apakah perlu upacara keberangkatan? Kalau begitu, aku akan menyuruh mereka menyiapkan beberapa tumbal. Aku ingin kau meningkatkan semangat tempur dengan darah mereka."

"E-eh, itu..."

Setelah sempat ragu, Lentby akhirnya bertanya.

"Apakah itu... juga bercanda?"

"Tidak. Yang ini aku serius—apa ada yang salah?"


Hukuman

Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 4

Dotta, yang telah memacu kudanya terlebih dahulu, tampak sedang mengayunkan tongkat petirnya di kejauhan.

Dari percikan api yang menyebar di ujung tongkat itu, aku tahu laporannya tidak bagus. Warnanya merah—artinya bahaya, diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi.

Tongkat petir tidak hanya berguna untuk menembak. Alat itu bisa digunakan untuk sekadar membuat suara gaduh, atau seperti sekarang, menggunakan beberapa warna percikan api sebagai sinyal.

"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Teoritta yang masih mendekap erat punggungku.

"Sepertinya dia sangat panik. Dia mengayunkannya dengan penuh semangat! Jika terus begitu, kudanya pun mungkin akan bingung, kan?"

Selain Dotta yang berada di depan, yang menunggangi kuda saat ini adalah aku dan Patausche. Aku tidak punya pilihan selain membonceng Teoritta di belakangku.

"Dia memang hampir selalu begitu. Dia tipe orang yang—setelah Venetim—paling tidak cocok berada di medan perang."

"Apakah itu hal yang benar bagi seorang prajurit? Dia terlihat sangat berbahaya dan tidak meyakinkan."

Mendengar perkataan Patausche, aku hanya bisa menggelengkan kepala.

"Tentu saja tidak benar. Hanya saja, kau tahu sendiri kemampuan pengintaiannya sangat tinggi. Karena dia bilang 'waspada', itu berarti—Patausche. Aktifkan Segel Suci, kita akan berkomunikasi."

Aku menyentuh Segel Suci di leherku dengan jari. Patausche pun mengikuti.

Xylo! Keadaannya gawat!

Seketika, kalimat familiar Dotta terdengar.

Para Abnormal Fairy berada lebih dekat dari dugaan! Mereka bergerak maju. Mungkin kita sudah ketahuan.

Dotta tampak mengkhawatirkan langit di atas kepalanya. Langit sudah gelap. Dari celah awan salju, bulan ungu mengintip—aku merasa cahaya bulan yang entah mengapa terasa tidak menyenangkan itu menyinari sayap-sayap yang terbang di angkasa.

Ada jenis Abnormal Fairy yang bisa terbang.

Kami menyebut mereka Gremlin. Semua spesies kecil dengan sayap selaput dikategorikan ke sini. Meski kekuatan mereka lemah dan jumlah individunya sedikit, fakta bahwa mereka bisa terbang saja sudah merepotkan. Lebih baik kita bergerak dengan asumsi bahwa posisi kita sudah ketahuan.

"Berapa jumlah dan jenis musuhnya?" tanyaku.

Sekitar tiga puluh. Kebanyakan adalah Fuath dan Bogey!

Keduanya adalah jenis Abnormal Fairy yang memiliki kecepatan gerak sangat tinggi.

Apakah pihak lawan juga mengerahkan unit pengintai? Namun ini unit kecil. Artinya, kami baru saja bersentuhan dengan salah satu "ujung jari" pencarian yang mereka ulurkan.

"……Jika itu benar, bukankah kecepatan gerak maju mereka di luar dugaan?"

Patausche memasang wajah masam dan memanggil Dotta.

"Apa informasi ini akurat, Dotta? Kenapa mereka bergerak maju seolah... sengaja ingin berpapasan dengan kita?"

Ma-mana aku tahu! Bagaimana mungkin aku mengerti hal seperti itu!

Aku bisa memahami mengapa Patausche merasa curiga.

Rencana awal kami adalah merebut bukit yang ada di depan mata ini, lalu mulai membangun pertahanan lebih dulu untuk menarik perhatian musuh. Bisa dibilang situasinya tiba-tiba berubah menjadi tidak menguntungkan.

"Xylo. Apa menurutmu kita harus mendesak unit di belakang untuk bergegas?"

Di belakang kami, ada Rhino, Tsav, dan Tatsuya yang mengangkut logistik menggunakan kereta luncur yang ditarik kuda. Diikuti oleh Venetim yang terengah-engah sambil memeluk jatah makanan minimal. Jace nanti akan menyusul dengan terbang.

Norgalle sendiri kali ini berada di atas kereta luncur bersama kuda-kuda. Aku ingin dia fokus memproses Segel Suci sampai sesaat sebelum tiba, dan yang terpenting, dalam operasi kali ini aku tidak ingin stamina Yang Mulia yang mulia itu terkuras sedikit pun.

Katanya, kali ini Yang Mulia Norgalle telah menyiapkan "senjata baru yang revolusioner".

"Aku tetap berpendapat bahwa lebih bijak jika kita maju setelah bergabung dengan unit belakang. Tempat ini sangat penting—"

Tu-tunggu sebentar, aku tidak mau!

Suara Dotta terdengar seperti jeritan.

Maksud kalian, aku harus berada di depan mereka sendirian? Ini sangat menakutkan, mustahil, cepatlah datang ke sini sekarang juga! Aku bisa mati!

"Apa yang kau katakan. Ini bukan soal takut atau mustahil. Ini adalah strategi demi kemenangan."

"Tidak. Memang benar, kalau menunggu bergabung dulu, itu akan terlambat."

Bukannya aku membela Dotta, tapi aku ikut angkat bicara dari samping.

"Mari kita ambil inisiatif dan amankan posisi sesuai rencana. Itu akan jadi yang paling menguntungkan. Aku setuju untuk mendesak mereka yang di belakang, tapi kita harus lebih cepat lagi."

"……Artinya, pemusnahan unit pengintai? Hanya dengan kita berdua?"

Dalam kepala Patausche, sepertinya Dotta tidak dihitung sebagai kekuatan tempur. Dalam hal itu, pemikiranku pun sama.

"Kau terlihat kurang percaya diri, Patausche Kivia."

"Tidak."

Patausche memasang wajah rumit.

"……Boleh juga. Asalkan kau bisa mengimbangiku."

"Sudah diputuskan. Teoritta!"

"Baiklah. Aku, sang Goddess, akan memberkati pertarungan kalian—"

"Bukan itu. Pegangan yang erat, dan jangan bicara. Nanti lidahmu tergigit!"

"Yang Mulia Teoritta. Mohon perlindungan-Nya!"

"Ah, jadi maksudnya begitu—"

Aku tidak mendengarkan sisa kalimat Teoritta.

Aku dan Patausche memacu kuda kami dengan cepat. Jarak menuju bukit yang dituju terasa sangat singkat—perbukitan biasa dengan tumpukan salju tipis. Kami harus membangun pertahanan lapangan di sini dan mempertahankannya sampai mati.

"Kau dengar itu, Venetim! Cepatlah menyusul!"

Me-meskipun Anda bilang begitu, aku saat ini sudah mencapai batas—

Dimengerti! Rhino-san, bisa lebih cepat lagi?

Tentu, aku bisa. Apa sebaiknya Kawan Venetim kita ikat dengan tali lalu diseret saja?

Aaah! Seperti dugaan, itu ide cemerlang tanpa rasa kemanusiaan dari Rhino-san! Venetim-san, bagaimana? Mau diseret saja?

A-aku akan lari! Aku bisa lari kok, jadi kalian berdua jangan lihat aku! Mata kalian menakutkan!

Tsav dan Rhino mungkin secara insting tahu cara membuat Venetim bekerja. Biarkan saja mereka menggunakan cara itu. Aku membuang pikiran tentang orang-orang di belakang dan memfokuskan pandangan ke depan.

Di jalan yang kami lalui, tampak tentara Abnormal Fairy. Rasanya memang seperti unit pengintai kecil. Perkiraan Dotta akurat—jumlahnya sedikit kurang dari tiga puluh.

"Xylo, Xylo, mereka sudah di depan mata! Bagaimana ini!"

Aku melewati Dotta yang ketakutan. Terang saja, dalam situasi seperti ini, hampir tidak ada yang bisa dilakukan Dotta.

"Jangan sampai salah tembak. Kalau kau melakukannya, kubunuh kau. Aku dan Patausche yang akan membereskannya."

"Apa itu berarti aku dianggap di luar kekuatan tempur? Kalau iya aku sih senang, tapi tolong cepat bereskan mereka!"

Aku mengabaikan permohonan Dotta. Di depan mata, para Abnormal Fairy mulai bergerak. Mereka sudah menyadari kehadiran kami sejak lama. Mereka juga tahu kami hanya bertiga.

Karena itu, taktik yang mereka ambil sangat sederhana; mengepung dari kiri dan kanan. Sekitar sepuluh di tengah, dan masing-masing sepuluh di kiri dan kanan mencoba melebar untuk mengurung kami.

"Patausche. Kau tahu apa kemampuan utama kavaleri yang sebenarnya?"

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau uji dalam situasi seperti ini, tapi itu sederhana. Kemampuan utamanya adalah mobilitas."

Seperti yang kuduga, Patausche adalah kavaleri yang unggul.

Mobilitas. Cukup pahami hal itu. Ada orang yang bilang itu adalah daya dobrak atau daya serang, tapi aku diajarkan bahwa hal-hal semacam itu hanyalah bonus.

"Hancurkan dari sisi kanan. Aku serahkan pengamanan sektor belakang padamu."

"Dimengerti."

Patausche memacu kudanya lebih cepat lagi. Di saat yang sama, dia menyiapkan tombak penunggang kudanya.

"Ayo, Teoritta."

Aku menyampaikan niat bertarung dan rencana operasi kepada Teoritta—dengan posisi dia mendekapku seperti ini, komunikasi jadi mudah dilakukan.

"Pertama-tama, buat lubang di depan!"

"Baik."

Teoritta merespons dengan cepat. Saat dia mengusap udara, hujan pedang turun menyiram para Abnormal Fairy di depan kami. Serangannya sangat akurat. Hal itu saja sudah memberikan kerusakan besar pada gerombolan tengah.

Terciptalah celah besar. Patausche menerjang melewati celah itu tanpa hambatan sama sekali.

"Uwaaa!"

Dotta berteriak sambil menembak sembarangan.

Sama sekali tidak kena—tapi, setidaknya itu berguna untuk sedikit menarik perhatian. Setidaknya itu memberiku waktu untuk menyerang gerombolan Abnormal Fairy di sisi kanan. Aku mencabut pisau dan melemparkannya ke arah mereka.

Kilatan cahaya, ledakan. Aku melakukannya dua kali.

Kemudian, Patausche menyerang dari belakang. Rangkaian Shield Art yang terukir di baju zirah miliknya aktif—sebuah penghalang yang menyerupai anyaman rantai cahaya membentang di ujung mata tombaknya.

Para Abnormal Fairy yang menyentuhnya hangus terbakar, atau terpental dalam kondisi kejang. Artinya, tidak butuh waktu lama bagi gerombolan sayap kanan untuk musnah. Kata "menyapu bersih" adalah istilah yang tepat. Tombaknya menusuk musuh dengan akurat, lalu sambil tetap menancap, tombak itu diayunkan untuk menjatuhkan musuh lain yang melompat menyerang dengan nekat.

Dalam sekejap, sayap kanan hancur total.

Benar-benar kemampuan utama kavaleri. Sebuah terobosan tengah dan pengamanan sektor belakang yang seolah keluar dari buku teks—terlihat bahwa Patausche menunjukkan nilai aslinya dalam pertempuran semacam ini.

"Xylo."

Dia bahkan sempat memberiku instruksi. Sambil mengangkat tombak yang terukir Segel Suci, dia mulai memacu kudanya lagi.

"Kita bereskan sisanya. Habisi semuanya, jangan biarkan ada informasi lebih lanjut yang dibawa kembali!"

"Aku tahu."

Dengan begini, seorang kavaleri telah bergabung dalam unit Prajurit Hukuman. Maknanya sama sekali tidak kecil.

"……Ada unit pengintai yang belum kembali, ya?" ucap Trishir.

Dia menatap para Abnormal Fairy yang kembali sambil terbang di angkasa dengan tatapan penuh minat. Dia adalah wanita dengan rambut merah kusam yang mengenakan mantel bulu tebal. Meski memiliki kesan agak buas, di mata Lentby pun dia bisa dibilang cantik. Di bawah sinar bulan ungu, profil wajahnya memiliki kecantikan liar tersendiri.

Namun, tiba-tiba wajah itu menoleh ke arah sini.

"Menurut laporan dari Gremlin, setelah berpapasan dengan hanya tiga kavaleri, kabar dari unit tersebut terputus sepenuhnya. Bagaimana menurutmu, Lentby? Berikan pendapat yang cemerlang layaknya seorang wakil."

"Baik."

Lentby Kisco berusaha menjawab sesingkat dan sejelas mungkin. Dia tahu itulah yang diinginkan Trishir. Saat ini, dia harus memainkan peran sebagai "wakil yang tenang" ini sampai akhir.

"Dari tiga kavaleri itu, dua di antaranya bergerak aktif dan menghancurkan para Abnormal Fairy. Satu orang di tengah tidak bergerak, hanya memberi sinyal dengan tongkat petir—kemungkinan besar dia adalah komandannya."

"Aku juga sependapat. Lalu apa artinya itu?"

"Pasukan musuh telah memajukan unit elite mereka jauh ke depan. Dalam situasi ini, aku berasumsi tujuan mereka adalah skenario terburuk... yaitu perlindungan terhadap Putri Ketiga dan Pangeran Ketiga. Ketiga kavaleri tersebut kemungkinan adalah elite di antara para elite."

Selalu membayangkan skenario terburuk dan bersiaga maksimal. Dia sudah tahu bahwa itulah cara yang disukai oleh pemimpin tentara bayaran bernama Trishir ini.

"Maksudmu, entah bagaimana caranya, mereka tahu bahwa kedua orang itu melarikan diri?"

Mendengar ucapan Trishir yang seolah menguji, Lentby menjawab tanpa lengah.

"Benar. Setidaknya, aku menyarankan agar kita bertempur dengan asumsi seperti itu."

"Menilai musuh terlalu tinggi bukankah melanggar prinsip konsentrasi pasukan? Bisa saja itu adalah pengalih perhatian."

"Meskipun begitu, lawan kita adalah Pangeran dan Putri. Harapan bagi umat manusia. Kupikir mereka layak dijadikan target prioritas utama kita."

Apakah dia sudah bisa bersikap natural sebagai musuh umat manusia?

Lentby bertanya pada diri sendiri dan kembali memperingatkan dirinya. Ini hanyalah akting semata—dirinya yang asli berbeda. Di saat seperti ini, Lentby membayangkan sebuah kotak putih yang bersih. Di sanalah dia berada. Selama dia bisa melindungi dirinya yang asli itu, semuanya akan baik-baik saja.

Jika bisa berpikir begitu, dia bisa memalsukan dirinya sebanyak apa pun. Dia bisa berpura-pura menjadi musuh umat manusia.

"Baiklah. Aku akan mengingat saranmu. Menarik juga, kan."

Trishir tersenyum tipis. Senyum itu mengingatkan pada bilah tajam yang haus akan firasat pertempuran.

"Apakah lawannya adalah Ksatria Suci pengguna racun yang membawa Goddess, ataukah—unit 'Pahlawan' yang sedang dirumorkan itu?"

Trishir jelas terlihat sangat bersemangat.

Struktur mental yang tidak bisa dipahami oleh Lentby—sepertinya, dia memang menyukai pertempuran itu sendiri. Bukan, atau mungkin dia menyukai kemenangan dari pertempuran? Dia pernah bercerita sendiri bahwa dia sangat suka melumat habis lawan yang telah dikalahkannya.

Dan saat itu, katanya, semakin tangguh lawannya maka akan semakin bagus.

"Aku ingin mendapatkan komandannya. Berani sekali dia muncul sendiri di garis terdepan, orang yang menarik. Benar-benar menarik."

Mungkin karena pengaruh cahaya bulan, bibirnya terlihat merah secara tidak wajar.

"Kita berangkat sekarang juga. Siapkan zirahku. Jika lawannya kavaleri, aku akan menghadapinya dengan rangkaian Impact Art milik Digraap."




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close