Hukuman
Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 1
Salju mulai
beterbangan. Butirannya perlahan mulai menumpuk di bawah kaki.
(—Sial, dingin
sekali.)
Aku mengembuskan
napas putih. Aku menatap tajam ke arah balik salju yang mulai turun.
Tempat ini
disebut Perbukitan Toujin-Touga.
Jalan raya utama
yang membentang dari Kota Pelabuhan Joff melintasi perbukitan ini menuju arah
timur laut. Jika berhasil melewati celah di antara dua gunung di sana, maka
tibalah di Ibukota Kedua, Seiarente.
Kini, kota itu
berada di bawah kendali Fenomena Raja Iblis Nomor 21, Abaddon.
"…Xylo.
Salju turun."
Teoritta memungut
butiran salju di kakinya.
Karena dia tidak
memakai sarung tangan, salju itu langsung mencair oleh suhu kulitnya. Tindakan
yang sia-sia.
Meski begitu,
Teoritta tampak tertarik memperhatikan salju yang mencair di ujung jarinya.
"Salju sedang turun. …Apa akan menumpuk?"
"Hanya
sebatas tidak mengganggu pertempuran saja."
Aku bisa
memastikannya karena wilayah ini seharusnya berada di bawah pengaruh kekuatan Goddess
yang mengendalikan cuaca. Kalaupun menumpuk, paling hanya setebal satu jari.
Terkadang,
aku berpikir apakah cuaca tidak bisa dimanipulasi agar sedikit lebih
menguntungkan bagi kami. Namun, aku pernah mendengar bahwa inti dari kekuatan Goddess
itu adalah Summon Wind and Cloud.
Dia tidak
bisa tiba-tiba menjatuhkan petir di atas kepala musuh atau membuat hujan turun
hanya di kamp lawan. Untuk
pertempuran, kemampuannya agak merepotkan.
"Tidak akan
turun sampai menimbun kita. Kuda dan Armored Artillery masih bisa
digunakan."
"Begitu
ya."
Meski begitu,
entah kenapa Teoritta tampak senang. Dia menggosokkan kedua tangannya dan
mengembuskan napas putih.
Aku
bukannya tidak mengerti perasaannya.
"Xylo, apa
kau pernah melihat salju yang menumpuk?"
"…Pernah.
Tapi, aku sama sekali tidak punya kenangan indah tentang salju."
"Kudengar Xylo
berasal dari wilayah selatan. Ternyata kau tahu tentang salju juga, ya?"
"Aku
pernah berpindah-pindah medan perang di barat dan utara. Pada dasarnya salju
itu musuh, jadi banyak hal yang harus diwaspadai. Contohnya—"
Aku
melepas sarung tangan, lalu menggenggam tangan Teoritta.
Ternyata
benar, tangannya dingin sekali. Mata Teoritta membulat karena terkejut, tapi saat ini aku harus
memperingatkannya dengan tegas.
"Pertama,
pakailah sarung tanganmu."
Teoritta
seharusnya juga mendapat jatah perlengkapan. Tentu saja, yang kualitasnya lebih
bagus daripada milik kami.
"Radang
dingin biasanya dimulai dari ujung jari. Jaga tubuhmu agar tetap hangat. Jangan
lupa masukkan Suriwaku yang dibungkus kain ke dalam ujung
sepatumu."
Suriwaku adalah buah kecil yang rasanya luar biasa
pedas. Biasanya dikeringkan untuk digunakan sebagai bumbu.
Namun, jika
dimasukkan ke dalam sepatu, efeknya bisa memperlancar aliran darah dan mencegah
radang dingin. Aku mendengarnya dari seseorang yang berasal dari utara.
Nama orang itu
adalah—aku mencoba mengingatnya, lalu berhenti.
"Xylo, aku
tidak suka buah itu. Rasanya… aneh saat dipakai berjalan, atau lebih tepatnya
tidak nyaman…"
"Tetap
masukkan saja. Kalau kau tidak mau jari kakimu dipotong karena radang dingin,
lakukan saja."
Aku mendorong
tangan Teoritta masuk ke dalam saku mantelnya.
"…Baiklah."
Teoritta
mengatupkan birainya rapat-rapat dan menunduk.
Meski sudah di
dalam saku, dia masih menggenggam jemariku dan tidak melepaskannya. Apa dia
baru sadar betapa dingin jemarinya sendiri?
Lebih baik dia
segera kembali ke tenda. Saat aku berbalik, aku melihat seorang pria sedang mendekat.
Seorang
pria dengan wajah kusam dan tubuh yang kurus kering. Dia adalah Venetim.
"Anu… Xylo-kun," panggil Venetim.
"Ada yang ingin aku konsultasikan sebentar. Mau
mendengarkan?"
"Aku sebenarnya tidak terlalu ingin dengar."
Aku mengeluarkan botol minuman keras dari saku dan
menegaknya.
Wiski dari wilayah utara. Mereknya dikenal sebagai Shishou
dari keluarga Eard.
Seharusnya, barang semacam ini tidak akan sampai ke tangan
Prajurit Hukuman seperti kami. Namun, karena Dotta ada di unit ini, batasan
seperti itu tidak berlaku.
"Jangan berkata begitu. Tolonglah… Operasi selanjutnya
sudah ditetapkan. Kita akan bergerak maju. Target akhirnya adalah Ibukota
Kedua."
"Sudah kuduga."
Itu hal yang sudah jelas. Kantor Administrasi Kota Joff
telah mengumpulkan kekuatan tempur dari wilayah sekitar secara sembarangan.
Karena bergerak dengan jumlah pasukan sebesar itu, tempat
yang dituju sudah pasti. Ibukota Kedua, Seiarente.
Merebut kembali tempat itu adalah prioritas utama dalam
segala hal. Siapa pun pasti paham.
Dan kami, para
Prajurit Hukuman, seluruhnya diikutsertakan dalam operasi ini. Kami
diperintahkan mendirikan tenda kumuh di sudut perkemahan militer.
"Eeto… Jadi, mengenai target operasi tahap
pertama," lanjut Venetim.
"Menghancurkan pasukan Abnormal Fairy yang
keluar dari Ibukota Kedua, lalu membangun pangkalan penyerangan di Gunung
Toujin."
Gunung Toujin adalah salah satu dari dua gunung kecil di
balik perbukitan ini. Bagian timur ngarai disebut Toujin, sedangkan bagian
barat disebut Gunung Touga.
"Operasinya seperti itu, kan?"
"Ah, iya.
Kau paham sekali, ya."
"Tentu
saja…"
Jika dipikir
sedikit saja, hal ini akan segera terlihat.
Saat ini, pasukan
Abnormal Fairy pasti sudah bergerak dari Ibukota Kedua. Mereka akan
menyerang desa-desa terdekat untuk memperkuat pasukan.
Untuk itu, target
terbesar yang harus mereka hancurkan hanyalah Kota Pelabuhan Joff. Mereka pasti
akan menuju ke sini.
Jadi,
pertama-tama kami perlu memukul mundur pasukan ini demi keselamatan kami
sendiri.
Lalu, jika ingin
merebut kembali Ibukota Kedua, diperlukan tempat yang bisa menjadi pangkalan.
Gunung Toujin—jika berhasil merebut tempat itu, pasokan dari timur bisa
diterima.
Anak sungai dari
Sungai Besar Kinja-Shiba mengalir di kakinya. Jalur logistik akan terhubung
dengan Kota Industri Rokka serta Ibukota Pertama.
Jika garis depan
bisa didorong sejauh itu, kerja sama yang layak dengan Galtuil bisa dilakukan.
Pihak militer
pasti berpikir bahwa bagaimanapun juga, Ibukota Kedua harus direbut kembali.
Ibukota Kedua
adalah sebuah simbol. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, lima negara bersatu
menjadi Kerajaan Serikat.
Ibukota dari dua
kerajaan paling berpengaruh disebut sebagai Ibukota Pertama dan Ibukota Kedua.
Aku sama sekali tidak tertarik pada alasan politik di baliknya.
Pokoknya,
pentingnya Ibukota Kedua terletak pada proses pembentukannya. Sebagai simbol
kesadaran manusia di seluruh dunia untuk bersatu.
Selain itu,
secara militer tempat itu juga sangat berbahaya. Sebab, lokasinya bisa
digunakan untuk mengincar Galtuil dan Ibukota Pertama.
"Lalu, apa
bagian kita?"
Aku bertanya
kembali pada Venetim.
"Kita harus
menjadi pemandu unit mana? Atau kita menjadi pasukan cadangan?"
Mengingat
Prajurit Hukuman adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipercaya, hal itu
mungkin saja terjadi. Tidak diterjunkan ke situasi penting, melainkan hanya
sebagai cadangan.
"Sebenarnya…
soal itu… Saya sudah berusaha keras dalam negosiasi, tapi…"
Venetim tampak
sangat sulit mengatakannya, membuat perasaanku menjadi suram.
"Katakan
dengan jelas. Apa yang disuruh mereka lakukan pada kita?"
"Kita tidak
akan tergabung dalam unit mana pun."
"…Apa
maksudnya?"
"Unit 9004
Prajurit Hukuman akan bergerak maju sendirian dan menduduki Perbukitan Keempat
Timur Laut Toujin-Touga. Amankan tempat itu dengan membangun benteng
lapangan!"
"Keberangkatan malam ini! …Begitulah bunyinya."
Venetim
membentangkan peta kertas besar. Ke arah timur laut dari titik ini, salah satu
bukit landai telah diberi tanda lingkaran.
Tampaknya
itu yang dimaksud dengan 'Perbukitan Keempat Timur Laut'. Begitu ya, aku mengerti.
Tapi—
"Apa kau
bercanda! Apa mereka bodoh?!"
"Hieee!"
"Xylo,
tenanglah. Venetim ketakutan."
Teoritta menepuk
punggungku seolah menenangkan. Namun, aku bukan binatang buas, jadi aku tidak
ingin ditenangkan dengan cara seperti itu.
"Operasi
macam apa itu?"
Aku melototi
peta. Hanya unit Prajurit Hukuman yang bergerak maju untuk mengamankan markas
di sini.
Ini lelucon yang
tidak lucu. Mereka pikir ada berapa banyak gerombolan Abnormal Fairy di
depan mata kita?
Ini
benar-benar seperti—
"—Benar.
Ini sepenuhnya adalah umpan."
Sebuah
suara terdengar seolah mengikuti pikiranku.
Dari
balik punggung Venetim, seorang wanita mendekat dengan suara denting
perlengkapan logam. Wajahnya tampak serius dan tidak senang.
Rambut
hitamnya diikat rapi, dengan tatapan mata tajam yang seolah bisa menusuk lawan
hingga mati.
"Markas
komando memerintahkan kita untuk menonjol di depan sebagai umpan."
Dia adalah
Patausche Kivia.
"Perintah
yang menurutku tidak memiliki banyak arti secara taktis. Sepertinya mereka
menyiapkan serangan untuk musuh yang datang ke arah kita, tapi entah seberapa
besar harapan yang bisa ditaruh."
Satu hal yang
membedakannya dari dirinya yang kukenal beberapa waktu lalu adalah adanya Segel
Suci di lehernya. Segel
Suci yang sama persis dengan milik kami—bukti sebagai Prajurit Hukuman.
"Begitu
ya. Kerja bagus, anak baru."
Aku
sengaja mengatakannya dengan nada remeh. Sebab, aku mulai jenuh melihat wajah
Patausche yang selalu terlihat suram.
"Berhenti
memanggilku begitu."
Patausche melotot
tajam ke arahku.
"Bahkan Jace
sampai mulai memanggilku seperti itu karena kau."
"Dia memang
payah dalam mengingat nama orang, jadi mau bagaimana lagi— Terlepas dari itu,
bagaimana menurutmu? Apa kau pikir kita bisa menduduki bukit itu
sendirian?"
Patausche ikut
hadir dalam rapat strategi bersama Venetim. Tujuannya untuk mencegah Venetim
mengatakan hal yang tidak jelas dan membawa informasi militer yang akurat.
Selama ini, jika
hanya Venetim, dia hanya membawa pulang garis besar perintah saja. Hal itu
membuatku yang sudah sibuk harus mencari informasi dua kali.
Ini adalah salah satu hal yang jelas membaik sejak Patausche bergabung dengan unit.
"Menduduki
bukit itu jelas mustahil."
Patausche
memberikan jawaban yang sudah kuprediksi sebelumnya.
"Untuk
menduduki dan mempertahankan posisi itu, kita butuh membangun benteng lapangan.
Aku tidak yakin para Abnormal Fairy itu akan diam saja menonton. Mereka
pasti mengerahkan pasukan untuk menghancurkan kita."
"Justru
itu yang diincar militer agar mereka bisa menyerang, kan?"
"Kalau
mereka benar melakukan itu, para Abnormal Fairy memang akan mendapat
pukulan telak. Tapi, unit kita yang berada di garis paling depan ini akan
musnah. Target operasi untuk menduduki perbukitan tidak akan tercapai."
Patausche
terus bicara dengan nada mendesak. Sembari berbicara, kerutan di antara alisnya perlahan semakin dalam.
"Kita
kekurangan jumlah prajurit. Setidaknya kita butuh pasukan pelapis untuk
membantu unit kita. Kalau bisa, pasukan penyergap."
Dia melipat
jari-jarinya, menghitung syarat satu per satu.
"Lalu
logistik. Bagaimana dengan pengangkutan logistik? Apa kita harus membawanya sambil berjalan kaki?
Kita butuh kuda. Aku ingin sepuluh ekor, termasuk untuk tungganganku. Xylo,
kau juga pasti akan menungganginya jika bertempur di medan seperti ini. …Lalu
keberangkatan malam ini juga benar-benar mustahil, kita butuh waktu persiapan. Kita juga harus mengisi energi Light
Storage pada Armored Artillery milik pria mengerikan bernama Rhino
itu."
Setelah
mengatakannya dalam satu helaan napas, dia menggelengkan kepala.
"Menjalankan
misi dalam situasi seperti ini. Benar-benar unit yang tidak masuk akal, yang
namanya Prajurit Hukuman ini."
Begitu dia
selesai mengomel, aku menepuk bahu Venetim.
"Dengar itu,
Komandan. Karena katanya butuh semua itu untuk sukses, tolong siapkan
syarat-syaratnya."
"…Hah?"
Venetim,
seperti biasa, hanya mengangguk samar dengan wajah yang tampak tidak mengerti.
"Maksudnya,
aku harus meminta prajurit untuk ikut, mencari kuda, dan mengulur waktu… begitu
kan?"
"Tepat
sekali. Lakukan dengan benar."
"Tunggu."
Patausche
menunjukkan wajah yang sangat bingung.
"Memangnya
ada celah untuk melakukan sesuatu? Ini adalah perintah yang diturunkan oleh
markas komando. Alokasi logistik sudah diputuskan, waktu dimulainya operasi,
dan penempatan prajurit pun tidak bisa diubah."
"Kalau
logistik mungkin bisa diatur. Soal waktu mulai operasi, yah… akan coba aku
kelabui."
"Justru itu, bagaimana cara mengelabui mereka? Markas komando itu bukan anak kecil."
"Eeto,
bagaimana ya. Mungkin bilang kalau siang hari adalah waktu yang lebih baik
untuk menjadi umpan, dan kita juga pasti akan lebih cepat musnah, atau
semacamnya…? Kalau ada surat perintahnya sih enak…"
"Kalau
begitu, ayo kita buat surat perintahnya."
Aku memutuskan
untuk mengusulkan cara yang terkadang kami lakukan.
"Mari pakai
metode itu. Kita butuh stempel resmi, pertama-tama kita harus
mendapatkannya."
"Stempel
yang dicuri tempo hari mungkin masih disimpan oleh Baginda," sahut Venetim.
"Begitu ya.
Dia pasti sudah menganggap benda itu sepenuhnya miliknya sendiri."
"Sisanya…
mungkin suap…?"
"Itu dia! Dotta juga bakal berperan besar. Apa alasan untuk menempatkan pasukan
bantuan?"
"Aa—… Mari kita jadikan mereka pengawal utusan dari
Galtuil. Mereka akan pulang tepat
saat kita berangkat. Dengan kesan seperti itu… apa sulit ya? Haruskah kita
pikirkan cara lain…?"
"…Kalian
ini."
Sambil
mendengarkan pembicaraan kami, kerutan di dahi Patausche semakin dalam.
"Betapa serampangan. …Apa kalian selalu bertempur
dengan cara seperti itu?"
"Fufu. Apa
kau terkejut?"
Entah kenapa,
Teoritta membusungkan dada. Wajahnya terlihat jauh lebih angkuh dari biasanya.
Tidak salah lagi. Anak ini sedang berlagak menjadi 'senior'.
"Inilah para
pahlawanku!"
Teoritta
mendengus kecil dengan bangga.
Rasanya
aku harus memberitahunya bahwa ini bukan hal yang patut dibanggakan.
Kenyataannya, Patausche pun tampak terperangah—kalau dipikir-pikir, dia memang
belum tahu cara kerja kami.
Entah kenapa, aku
teringat kembali saat pertama kali Patausche bergabung dengan unit kami dalam
'pertemuan pertama'.
Waktu itu, dia—
◆
"Aku Patausche
Kivia."
Dia
memperkenalkan diri dengan wajah kaku dan cemberut.
Kejadiannya
di dalam tenda, saat kami para Prajurit Hukuman dipanggil dalam 'pemanggilan
darurat'.
"Kurasa
tidak perlu memperkenalkan diri lagi sekarang. Aku sudah tahu siapa kalian."
Saat ini, hampir
semua orang di unit ini sudah tahu wajah dan namanya. Konsisten sejak kesan
pertama, dia adalah tipe teladan yang terlalu serius, seorang militer sejati
yang cerewet soal disiplin.
Satu-satunya yang
berbeda dari saat pertama bertemu adalah Segel Suci yang terukir di lehernya.
Dengan kata lain, bukti sebagai Prajurit Hukuman.
Karena itulah
semua orang terdiam. Pasti mereka tidak mengerti. Mengapa Komandan Ksatria Suci
yang lurus dan kaku ini sampai dijatuhi Hukuman Pahlawan?
Hanya saja, aku
punya sedikit dugaan.
—Tuduhannya
adalah pembunuhan, serta percobaan makar.
Kudengar dia
membunuh Imam Besar Marlen Kivia yang merupakan pamannya sendiri, dan seorang
pria bernama Rajit yang merupakan bawahannya. Apakah benar dia membunuh
keduanya karena hilang akal seperti yang tertulis dalam dokumen pembuktian
kesalahan? Ataukah
dia seorang kriminal besar yang bersekongkol dengan sekte sesat pemuja Fenomena
Raja Iblis?
Mungkin tidak.
Mana mungkin dia orang yang bisa melakukan hal selicik itu. Menurutku itu
sangat mustahil.
Kenyataannya
pasti sebaliknya. Pasti ada sesuatu pada Imam Besar—atau Rajit itu. Jika tidak,
aktingnya akan terlalu sempurna.
Karena itu, aku
berniat melontarkan lelucon bodoh.
Aku muak dengan
wajah yang terlalu serius. Dia sendiri pasti tidak ingin menyatakan 'kebenaran'
di tempat seperti ini. Karena aku pun begitu. Sudah terlambat untuk menyatakan
diri tidak bersalah. Jadi—
"Uwoooh,
hebat! Memang luar biasa, Kakak!"
Namun, sebelum
aku sempat membuka mulut, si bodoh Tsav sudah berteriak kagum. Malah, dia
sampai bertepuk tangan segala.
"Sejak dulu
aku sudah mengira kalau Kakak itu senjata pembantai yang berdarah dingin dan
jahat. Hei, ingat tidak? Waktu di tengah kota Joff, aku bilang ayo kita jadikan
warga sipil sebagai tameng daging untuk melindungi Teoritta-chan! Saat Anda menolak itu, aku
langsung berpikir orang ini gila ya."
Tsav
terus nyerocos tanpa memberi celah bagi kami—atau Teoritta—untuk memotong,
sambil merentangkan kedua tangannya.
"Selamat
datang! Ah, tapi tolong jangan bunuh kami ya. Kalau bertarung secara frontal,
aku tidak tahu apa aku bisa menang melawan Kak Patausche atau tidak."
Perkataan
Tsav terlalu konyol dan kacau balau. Isi pembicaraannya murni berdasarkan
standar nilai unik miliknya sendiri—karena itulah Patausche pun tidak bisa
bereaksi apa-apa.
"Hei!
Kalian semua juga menyambutnya, kan?"
Saat Tsav
menoleh, Venetim dan Dotta membuang muka hampir secara bersamaan.
"Yah,
begitulah… emm… bukankah itu bagus? Sebagai komandan, aku memang mengharapkan
adanya tambahan anggota unit," ucap Venetim dengan wajah yang jelas-jelas
ketakutan.
"Kalau
aku bilang tidak menyambutnya, apa leherku bakal dipatahkan…?"
Dotta
membungkukkan punggungnya dan mundur selangkah, siap untuk melarikan diri kapan
saja. Hal ini membuat Patausche mengerutkan dahi dengan tidak senang.
"Aku
tidak akan mematahkan lehermu."
"Kalau
begitu, tulang kaki…?"
"Tidak
akan. Kau pikir aku ini sejenis binatang buas yang ganas, ya?"
"Ti-tidak
kok!"
Pasti dia
berpikir begitu, aku yakin sekali. Ada ketakutan di mata Dotta. Patausche mencoba
membalas, ragu selama beberapa detik, dan akhirnya menggelengkan kepala dengan
kuat.
"…Saat ini,
apa pun yang kukatakan hanya akan terdengar seperti alasan. Aku juga tidak
berniat menyuruh kalian memercayaiku. Tapi, perintah adalah perintah. Sebagai
Prajurit Hukuman, aku akan bertarung bersama kalian."
"Umu.
Baiklah."
Yang mengangguk
dengan berat adalah Norgalle, yang duduk dengan gagah di kursi bak seorang raja,
didampingi oleh Tatsuya di sisinya.
"Aku
izinkan. Bekerjalah sekuat tenaga sebagai elitku. Dengarkan baik-baik perintah Jenderal Tatsuya,
ya."
"Vuvu."
Tatsuya
mengeluarkan suara bergumam dari balik tenggorokannya, mungkin tanda
setuju—atau bisa jadi itu hanya suara napas yang kasar. Pendapat Norgalle dan
Tatsuya, yah, dalam situasi seperti ini sama sekali tidak bisa dijadikan
referensi, jadi abaikan saja.
Yang
membuatku penasaran adalah—
"Anak
baru ya. Yah, lakukan sesukamu."
Jace
sendirian di sudut tenda, sedang sibuk mengutak-atik perlengkapan logam. Dia
memukul dan memutar alat yang tampak seperti sanggurdi untuk pelana. Dia bahkan
tidak mengangkat wajah untuk melihat Patausche.
"Asal
jangan mengganggu kami, itu sudah cukup. Sudah menyapa Neely?"
"…Sudah."
"Dia bilang sesuatu?"
"Aku
tidak mengerti bahasa Neely. Sepertinya dia mendengkur pelan tadi…"
"Berarti
Neely juga tidak keberatan. Kalau ada si bodoh mendekat, dia akan
mengabaikannya. Lagipula soal pertempuran darat, Xylo dan Rhino, kalianlah yang
urus."
Sudah kuduga Jace
akan mengatakan itu. Aku merasa kesal seolah-olah diperintah dan tidak menjawab
apa-apa, tapi orang lain yang namanya dipanggil tidak begitu.
"Begitu
rupanya!"
Seseorang
menyahut dengan penuh kegembiraan. Itu Rhino.
"Berarti ini
artinya rekan yang bisa diandalkan telah bertambah."
Kalau
dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia bertemu muka dengan Patausche.
"Aku
menyambutmu. Karena kawan Xylo memujimu, adalah suatu kehormatan bisa bertarung
bersamamu."
"Za,… Xylo? Memujiku?"
Patausche menatapku sejenak dengan bingung. Dia berdehem
sekali.
"…Sebagai referensi ke depannya, aku ingin tahu, apa
yang dia katakan?"
"Ah! Kudengar kau adalah ksatria yang sangat terampil. Tentara pemberani dengan kekuatan
pendobrak yang seperti beruang ganas."
"Hentikan,
Rhino. Aku tidak memujinya sehebat itu."
"Tidak,
tunggu… siapa yang kau sebut beruang?"
Mungkin aku
sedikit berlebihan memujinya. Mendengar hal itu didengar langsung oleh Patausche
sendiri entah kenapa terasa canggung—tapi sebelum aku sempat membungkam Rhino,
Patausche sudah melotot padaku.
"Aneh, kan!
Kau, apanya yang barusan itu disebut memuji!"
"Itu pujian,
tahu. Beruang Kobiki di perbatasan barat itu pintar sampai bisa memasang
jebakan, dan Beruang Sasagane di wilayah selatan punya tengkorak yang sangat
kuat sampai tembakan tongkat petir pun tidak tembus."
"Kau—"
"Ya, ya!
Sampai di situ saja! Upacara penyambutan rekan baru selesai!"
Sesosok
bayangan mungil melompat di antara aku dan Patausche.
Itu Teoritta. Dia
melambaikan kedua tangan di atas kepala, menghalangi pandangan antara aku dan
Patausche. Hal ini membuat Patausche tampak termangu.
"Teoritta-sama.
Mohon maaf, tapi saat ini saya ingin menginterogasi pria ini…"
"Kita adalah
rekan! Karena kita adalah rekan yang memiliki tujuan yang sama. Benar, kan? Tidak perlu ada
interogasi. Begitu kan!"
"Ha,
haa…"
"Patausche.
Apa pun yang sebenarnya terjadi padamu. Dosa apa pun yang harus kau tanggung.
Aku tidak akan menanyakan alasan itu untuk sekarang—"
Teoritta menarik
napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Aku berpikir, mungkin
dia sedang berusaha keras memasang wajah layaknya seorang Goddess.
"Kami
menyambutmu, Patausche Kivia."
Cara bicaranya
benar-benar seperti seorang Goddess, pikirku. Termasuk senyuman yang menyusul setelahnya.
"Selamat
datang di Unit 9004 Prajurit Hukuman. Mari kita satukan kekuatan untuk
memusnahkan Fenomena Raja Iblis dan meraih masa depan yang gemilang."
Dengan kata-kata
kuat dari Teoritta itu, situasi pun mereda.
Lalu kami pun
diikutsertakan dalam operasi perebutan kembali Ibukota Kedua, dan ditugaskan
sebagai unit pengalih perhatian di Perbukitan Toujin-Touga—
Dan kini, seperti
biasa, kami dipusingkan oleh berbagai kekurangan logistik dan waktu.
Hukuman
Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 2
"Eh, kuda?
Kau bilang kita butuh sepuluh ekor sekarang juga... Tidak, itu mustahil,
kan."
Begitu kembali ke
tenda, Dotta langsung berucap dengan wajah lesu. Dia berbaring bermalas-malasan sambil membaca
sesuatu yang tampak seperti surat kabar militer.
Aku juga
sudah membacanya. Tulisan yang buruk. Bagian "Jatuhnya Ibukota Kedua"
tertulis besar-besar, dan operasi perebutannya digambarkan seolah-olah
merupakan pencapaian heroik yang menjanjikan.
Padahal
jika hanya membaca faktanya saja, surat kabar ini lebih banyak mengandung
elemen pesimistis. Keberadaan Putri Ketiga dan Pangeran Ketiga yang tinggal di
Ibukota Kedua masih belum diketahui.
Dipimpin
oleh Abaddon, beberapa Fenomena Raja Iblis telah menduduki Ibukota
Kedua. Mengenai kekuatan musuh, setidaknya keberadaan Fenomena Raja Iblis Rhyneck
dan Furiae telah dikonfirmasi, dan kawanan Abnormal Fairy terus
bertambah luas.
—Ini
benar-benar membuat semangat runtuh. Mungkin sikap Dotta juga merupakan
cerminan dari hal itu.
"Biar
kuperjelas, aku ini bukan Goddess agung nan praktis yang bisa memanggil
alat apa pun sesuai keinginan kalian."
Dotta menegaskan
hal itu. Aku tahu betul soal itu. Teoritta yang berada di sampingku juga
memasang wajah tidak senang. Gumaman "Muu" sempat lolos dari
bibirnya.
"Aku juga
tidak bisa berubah jadi kabut atau asap. Jadi, meskipun kau menyuruhku
mencurinya semudah itu, kalau tidak bisa ya tidak bisa."
"Kalau
barang berharga, harusnya kau bisa mengaturnya, kan?"
"Yah,
kalau cuma barang berharga sih bisa saja. Tapi kalau kuda itu benar-benar
berat, tahu! Apalagi sepuluh ekor! Di sekitar sini juga tidak ada tempat untuk
menyembunyikannya."
"—Kalau
begitu, sepertinya kau butuh bantuanku, Kawan Dotta."
Suara itu
berasal dari Rhino. Di dalam tenda yang dijatahkan untuk kami hanya ada mereka
berdua. Jace pasti sedang berada di tempat Neely.
Norgalle,
Tsav, dan Tatsuya berada di tim pemeliharaan. Bukan hanya Armored Artillery,
mereka juga perlu menyiapkan tongkat petir dan material untuk membangun benteng
lapangan.
"Haruskah
aku membuat kekacauan? Contohnya,
jika aku membakar kandang kuda sementara, pasti akan terjadi kepanikan.
Kuda-kudanya tinggal dibunuh lalu dikubur saja."
"Jangan,
jangan, jangan! Kami
tidak butuh kuda mati!"
"Berhenti
berpikiran membakar sesuatu, itu bukan sekadar kekacauan namanya."
Begitu
kami menolak mentah-mentah, Rhino menunjukkan wajah sedih yang terlihat sangat
dibuat-buat.
"Begitu ya. Jadi kalian ingin kuda yang masih hidup...
Kalau begitu, sulit juga ya."
Sambil melirik Rhino yang mulai berpikir, Patausche menyikut
lenganku. "Ada apa dengan pria ini? Dia agak aneh."
"Bukan agak lagi, dia hampir sepenuhnya aneh. Akal sehat tidak berlaku
padanya."
"Kau keras
sekali. Tapi kalau kau yang mengatakannya, mungkin memang begitu—karena itu,
Kawan Patausche."
Rhino kembali
memberikan senyum teatrikal pada Patausche. Bahu wanita itu sedikit bergidik saat
dipanggil 'Kawan'. Dia pasti merasakan rasa jijik yang tidak jelas asalnya. Aku
paham betul rasanya.
"Sepertinya
aku memang kekurangan bagian akal sehat yang umum. Jika kau menyadari sesuatu,
tolong jangan ragu untuk menegurku seperti tadi. Aku akan memperbaiki bagian
yang bisa diperbaiki."
"Be...
begitu ya..."
Sekarang giliran
Patausche yang kebingungan. "Apa itu memang masalahnya? Dalam hal
ini...?"
"Patausche,
percuma saja dipikirkan. Aku pun sering dibuat bingung. Setiap kali dia mengatakan hal yang
jelas-jelas tidak normal, kita hanya bisa menegurnya saat itu juga. Kau hanya
perlu terbiasa."
Teoritta
memberikan nasihat layaknya seorang 'senior'. Mengenai pria bernama Rhino ini,
aku agak ragu soal kata 'terbiasa', tapi setidaknya kami harus mencoba bekerja
sama selama tidak mengganggu tugas.
"—Pokoknya!
Mencuri kuda itu sulit jadi aku tidak mau. Aku tidak akan melakukan pencurian
yang akan gagal."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau bukannya mencuri, tapi kita membelinya?" ucap Rhino
dengan tenang saat Dotta kembali berbaring.
"Dengan
begini akan selesai secara damai, kan? Jika kuda itu sudah dibeli, kita tinggal
menitipkannya pada pedagang sampai waktunya dibutuhkan. Untungnya, Kawan Dotta
bilang dia 'bisa mencuri barang berharga'."
"……Aaah."
Kurasa
aku mengeluarkan suara yang sangat bodoh. Benar juga. Perusahaan Pengembangan
Varkle selalu menempel pada pergerakan militer seperti biasa untuk menjual
barang mewah dan logistik. Mereka punya kereta kuda dan kuda untuk mengangkut
barang dagangan.
Kalau membelinya
dari mereka, urusannya akan cepat selesai.
"Itu cara yang bagus. Benar-benar luput dari
perhatianku. Tapi sepuluh ekor itu
harganya sangat mahal—Dotta, kalau kau punya harta yang kau sembunyikan,
gunakan sekarang. Kau mengerti, kan?"
"I-iya, aku mengerti. ...Maksudku, begitu ya... Aku
sama sekali tidak terpikir untuk membeli."
"……Bukankah
itu karena kalian selalu mencoba menyelesaikan segala sesuatu dengan tindak
kriminal?"
"Secara
akurat, mencuri harta benda itu sendiri sudah termasuk kriminal, lho."
Rhino mengatakan
hal yang tidak penting, tapi biarlah aku abaikan untuk saat ini. Rencana itu
bisa digunakan.
"Kalau mau
mencuri barang berharga, enaknya di mana ya?"
Dotta tampak
mulai bersemangat. Dia berguling menghadap ke arah kami. Bagaimanapun juga, itu
sudah seperti hobi bagi pria ini.
"Para
bangsawan ikut berpartisipasi, kan?"
"Yang
memegang komando tertinggi operasi adalah Ksatria Suci Kesembilan. Selain itu
ada bangsawan sekitar Joff, unit yang kalah dari Ibukota Kedua, tentara
bayaran, dan pendeta bersenjata."
"……Serta
Ksatria Suci Ketigabelas. Meski sekarang ada kata 'mantan' di depannya."
Patausche
menambahkan dengan suara yang sengaja menekan emosinya. Benar—mereka juga ada.
Pasukan yang jumlahnya hampir dua ribu orang saat pertahanan Joff selesai itu
langsung dimasukkan ke dalam operasi perebutan Ibukota Kedua.
Di sisi lain,
Frensy dan yang lainnya kembali ke Wilayah Ngarai Selatan. Mereka berniat
mengumpulkan pasukan dan bergabung di sini secepat mungkin. Tentu saja, aku
tidak bisa menghentikan ini. Jatuhnya Ibukota Kedua bukanlah urusan orang lain
bagi siapa pun.
Kesempatan untuk
menyarankan ayah Frensy agar menghentikan putrinya pun telah hilang.
"Aku
mengerti," ucap Dotta. "Asal ada barang yang cukup untuk membeli
sepuluh kuda, kan?"
"Kuserahkan
padamu. Negosiasi dengan pihak Varkle biar Venetim yang urus."
"Kalau
begitu Xylo, aku punya satu syarat."
"Katakan."
"Gantikan
tugas memasak Tsav hari ini. Sudah lama tidak ada daging babi yang layak. Ada
yang lengkap dengan jeroannya juga."
Begitu ya, aku
paham maksudnya. Masakan buatan Tsav itu jenis masakan yang seolah berkata
'asal nutrisinya terpenuhi'. Bumbunya kacau balau, dan dia sendiri yang
mencicipinya hanya punya standar:
"Makanan ini
tidak beracun! Bahan-bahannya sepertinya juga tidak busuk!"
Teoritta bahkan
sampai bilang "rasanya tidak ada sama sekali". Kalau daging babi dan
jeroannya ada, lebih baik dijadikan masakan rebusan agar Jace tidak protes.
Direbus menggunakan pasta buah.
Jace berasal dari
dataran selatan. Dia sepertinya punya penolakan terhadap daging yang
dipanggang. Katanya, kalau dipanggang sari dagingnya akan tumpah, jadi lebih
enak jika direbus. Dalam poin ini pun, aku dan Jace berseberangan.
"Baiklah.
Hari ini aku yang menggantikan jadwal memasak."
Aku mengangguk
lalu menoleh ke arah Patausche. "Ngomong-ngomong, karena kau sudah
ditempatkan di unit kami, aku mau tanya. Seberapa mahir kau dalam
memasak?"
"Nn."
Patausche bergumam
pelan dan terdiam selama sepuluh detik lebih. Lama sekali. Reaksinya seolah
pertanyaan itu adalah serangan mendadak yang fatal dari luar kesadarannya.
"……Kurasa
secara garis besar aku bisa melakukannya tanpa masalah. Hal seperti itu sudah
sewajarnya."
Instingku
mengatakan kalau itu bohong. Di luar salju terus turun, dan matahari mulai
condong ke barat.
Beberapa jam
lagi, malam akan tiba.
◆
Di celah
awan yang retak, rembulan terlihat. Bulan besar berwarna ungu.
Raikuel
menengadah dan terpesona sejenak oleh bulan itu. Sudah lama dia tidak melihat
bulan secerah ini. Mungkin sejak terakhir kali dia menemani kakaknya berburu.
Bulan itu
pun segera tersembunyi. Salju mulai turun lagi. Salju yang seolah menempel di
tubuh.
"Raikuel.
—Raikuel!"
Kakak
perempuannya memanggil namanya. Suaranya tidak bertenaga. Dia tahu kakaknya
menggigil kedinginan. Kakaknya
juga sudah kehabisan tenaga—dia merasa harus tegar.
"Raikuel.
Jangan menjauh. Kita bisa terpisah nanti."
Kakaknya
menggenggam tangan Raikuel. Kekuatan dari balik sarung tangan tebal itu terasa
jelas sudah melemah. Raikuel menggenggamnya balik. Lalu menjawab dengan suara
lantang agar kakaknya tidak khawatir.
"Iya, Kak.
Aku di sini."
Raikuel
memikirkan tanggung jawabnya. Dia tidak boleh mengeluh. Melarikan diri dari Ibukota Kedua
sambil dilindungi—dan menyambung hidup seperti ini. Prajurit pengawal satu per
satu berkurang demi menahan musuh. Kini, hanya dia yang bisa melindungi
kakaknya.
"Melindungi
Kakak adalah tugasku. Demi Kakak, aku rela berkorban apa pun."
"Kau sangat
pemberani. Tapi dengarlah—Raikuel."
Kakaknya menatap
Raikuel dengan mata yang seolah membeku biru. Ada yang bilang mata itu
menakutkan. Namun bagi Raikuel, itu adalah binar yang membuatnya merasa menjadi
orang paling bangga di dunia.
"Nyawa
anggota keluarga kerajaan... tidak, nyawa orang yang berniat mengabdi pada
publik, adalah milik rakyat banyak."
Kata-kata
kakaknya seolah dikunyah oleh dirinya sendiri satu per satu.
"Bukan untuk
keluarga. Harus digunakan demi rakyat. Jika dengan membiarkanku mati bisa
berguna bagi seseorang yang bahkan tidak kau kenal wajahnya, maka lakukanlah
hal itu."
Raikuel
merasa sedang diberitahu hal yang tidak masuk akal. Kualitas seorang raja. Dia
selalu menganggap hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan
Pangeran Ketiga—dia punya dua kakak laki-laki dan tiga kakak perempuan. Dia
pikir gilirannya tidak akan pernah datang.
"Itu
adalah kata-kata dari seseorang yang kuhormati."
Kakaknya
menyipitkan mata birunya hingga membentuk senyuman. Raikuel sedikit penasaran
akan hal itu.
"Seseorang
yang Kakak hormati? Orang seperti apa itu?"
"Dia teman
sekolah Kakak Rowtsir saat belajar di kuil. Seseorang yang punya pandangan
mendalam mengenai masa depan Kerajaan Serikat."
"Orang yang
pintar ya."
"Iya. Pasti
yang terbaik di kuil. Mungkin sekarang dia sudah menjadi Imam Besar."
Lalu, kakaknya
tersenyum lagi.
"Karena itu,
jangan buang nyawamu dengan mudah. Waktunya membuang nyawa hanyalah saat itu
berguna bagi rakyat. Sekarang, lindungilah apa yang kau pikul melebihi
diriku."
Apa yang dipikul.
Arti dari kata-kata itu bukanlah soal rakyat—Raikuel teringat benda yang ada di
punggungnya. Bungkusan panjang seperti belati yang memiliki berat yang nyata.
Sesuatu yang berhasil dia bawa saat melarikan diri dari Ibukota Kedua.
Sesuai kata
kakaknya, dia merasa harus melindungi benda ini bagaimanapun juga.
"Ayo
cepat."
Kakaknya menarik
tangan Raikuel dan mulai berjalan lagi.
"Sampai saat
itu tiba, jangan pernah putus asa. Menuju selatan. Ke Kota Pelabuhan Joff.
...Hanya itu jalan bagi kita untuk bertahan hidup."
Putri Ketiga dan
Pangeran Ketiga. Dua bersaudara itu mempercepat langkah. Hawa keberadaan
Abnormal Fairy belum terasa di belakang mereka.
Tujuan mereka tertutup oleh salju yang terus turun dan
kegelapan malam.
Hukuman
Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 3
Waktu dimulainya
misi kami ditetapkan besok sore.
Artinya, Venetim
berhasil mengulur waktu lebih dari satu hari dalam negosiasinya dengan markas
komando. Sebagai gantinya, kami dipaksa mengerjakan berbagai tugas kasar
militer sampai nyaris mati, tapi apa boleh buat. Tatapan dingin dari
orang-orang sekitar memang memuakkan, tapi selama bisa menahannya, itu bukan
masalah besar.
Sejujurnya, aku
sangat mengerti kenapa mereka membenci kami. Melihat para kriminal seperti kami berkeliaran
bebas di perkemahan militer—meskipun dengan kalung Segel Suci—pasti akan
menimbulkan perasaan tidak nyaman. Aku merasa hal itu wajar saja.
Terutama Komandan
Ksatria Suci Kesembilan. Namanya kalau tidak salah adalah Hord Klivios—putra
berbakat dari keluarga Klivios yang terkenal dengan produksi anggurnya. Tatapan
matanya saat melihatku dan Patausche benar-benar mengerikan.
Sejak aku masih
menjabat sebagai Komandan Ksatria Suci pun, aku memang sudah tidak memiliki
kesan yang baik di mata orang-orang. Seingatku, aku memang sangat keras
mengenai disiplin militer serta sikap dan perilaku sebagai komandan. Mungkin
dia orang yang gila kebersihan.
"Sepertinya
kau punya keluhan terhadap operasi ini, Xylo Forbarts," ucap Hord Klivios
secara langsung kepadaku.
"Aku sudah
dengar dari komandan kalian. Katanya ketidakpuasanmu terhadap operasi ini
sangat besar sampai nyaris meledak. Kau bahkan terlihat seolah bisa saja mulai
membakar perkemahan ini kapan saja—begitu, kan?"
Si Venetim itu.
Bajingan itu berani sekali bicara sembarangan, pikirku, namun aku tetap diam.
Ada kemungkinan dia menggunakan itu sebagai salah satu elemen dalam negosiasi.
Terlepas dari itu, aku akan menginterogasinya nanti.
"Biar
kukatakan, aku sama sekali tidak memercayai kalian. Aku menganggap menyertakan
kalian dalam pasukan adalah hal yang merugikan."
Itu adalah
kata-kata yang luar biasa dari sang panglima tertinggi. Meski begitu, aku hanya
bisa mendengarkannya dalam diam.
"Aku
memerintahkan operasi ini kepada kalian karena itu adalah hukuman, dan juga
karena instruksi dari Galtuil. Aku pribadi bahkan berpikir kalian seharusnya
dieksekusi saja sebelum pertempuran dimulai."
Dalam arti
tertentu, dia sepenuhnya benar. Aku semakin terdiam—dan sebelum benar-benar
meledak marah, aku meninggalkan tempat itu. Terus-menerus mendengarkan cacian
membosankan seperti itu hanya akan membuat suasana hatiku semakin buruk. Bukan
hanya soal Hord. Bisikan-bisikan dari para prajurit biasa pun sama saja.
Bahkan saat
melakukan tugas kasar di kamp, ada gumaman yang sampai ke telingaku.
"…Kenapa
Prajurit Hukuman ada di sini? Apa mereka benar-benar akan ikut dalam
operasi?"
"Jangan
bercanda. Di sana ada si Goddess Killer, bahkan sampai ada Tsav si Cannibal
juga."
"Jangan
biarkan para pendosa itu mendekati Tuan Tanah kita. Tidak ada yang tahu apa
yang akan mereka lakukan."
Jika hanya
sekadar kata-kata saja masih mending. Namun yang lebih mencolok, jatah makanan
dan pakaian dilemparkan begitu saja ke tanah saat diberikan. Selain itu,
sepertinya isinya pun sudah dikurangi sedikit.
Ksatria Suci
memang tidak akan melakukan kecurangan sampai sejauh itu, tapi para prajurit
yang dibawa oleh persatuan bangsawan melakukannya tanpa rasa bersalah.
Benar-benar banyak bangsawan yang berpartisipasi dalam perang ini—aku mengenali
banyak lambang keluarga pada bendera-bendera yang berkibar. Lambang burung
bular yang terbang menembus badai adalah keluarga Kurdel, raksasa yang meniup
seruling adalah keluarga Junury, dan singa yang menggigit kapak perang adalah
keluarga Dasmitea.
Latar belakang
dan asal-usul mereka beragam, tapi ada satu kesamaan. Yaitu, mulut mereka semua
sangat tajam. Dan semakin kaya bangsawan agung itu, semakin berani dan
terang-terangan mereka mencaci-maki.
Bahkan aku saja,
hanya karena sedang berjalan, langsung dicari-cari kesalahannya. "Jalanlah
lebih menepi lagi, dasar budak-budak berkalung kotor!" Begitulah mereka
menyumpah.
(Benar-benar luar
biasa.)
Orang-orang di
pangkalan ini pasti mengira kami akan mati dalam misi kali ini, atau setidaknya
akan datang memohon pada mereka. Memikirkan hal itu membuatku marah, dan aku
jadi tidak sudi melihat wajah mereka lagi.
Karena itu, aku
mencari celah dan mengambil istirahat taktis di kandang naga milik Jace. Jace
memang orang yang sangat menyebalkan, tapi setidaknya dia tidak akan mencaci
dari belakang. Selain itu, kandang naga itu luas. Hal itu karena naga-naga yang
berhasil melarikan diri dari Ibukota Kedua ditampung di sana. Katanya jumlahnya
mencapai sekitar empat puluh ekor.
Dan entah dengan
prinsip apa, Jace sepertinya berhasil memenangkan hati hampir semua naga yang
ada di sana.
Saat aku
mengunjungi kandang naga, dia sedang beristirahat dengan mewahnya sambil
menjadikan perut Neely sebagai bantal. Ada naga yang mencoba mendekati Jace
sambil menggigit daging, tapi setiap kali itu terjadi, Neely akan memamerkan
taringnya untuk mengintimidasi. Kedudukan yang cukup bagus, pikirku.
"…Sepertinya
akan menjadi pertempuran udara dalam skala yang cukup besar," ucap Jace.
Sambil menyeruput sesuatu yang mirip bubur dengan sendok kayu, dia menatapku
dengan tatapan terganggu.
"Pihak lawan
juga punya kekuatan tempur udara. Kita harus bersiap."
Itu sudah pasti.
Di Ibukota Kedua seharusnya ada jauh lebih banyak naga daripada yang berjejer
di sini. Fakta bahwa kota itu tetap kalah setelah area perkotaan diserbu
menunjukkan bahwa mereka punya kekuatan udara yang luar biasa.
Meski begitu,
jika ditanya apakah musuh bisa mengerahkan semuanya ke garis depan ini,
jawabannya adalah tidak juga. Karena ada Benteng Galtuil dan Ibukota Pertama.
Mereka harus membagi kewaspadaan ke sana juga.
"Kenapa?
Jace, kau sepertinya tidak percaya diri?"
"Bukan itu
maksudku."
Aku berniat
memprovokasinya, tapi tumben sekali Jace tidak terpancing.
"Katanya ada
Fenomena Raja Iblis tipe terbang. Namanya Furiae. Dia itu—bagaimana ya
mengatakannya, dia menembakkan sesuatu seperti tombak cahaya. Jarak tembaknya
jauh berbeda dibandingkan Abnormal Fairy tipe terbang biasa."
"Kau bicara
seolah-olah sudah melihatnya sendiri."
"Aku dengar
dari Moira."
"Siapa
itu?"
"Ada di
sana. Anak yang tampak tenang dengan tanduk yang melingkar ke arah luar itu…
dia sedang melihat ke sini sekarang… Berhenti, Neely. Jangan mengintimidasi
dia."
"Maksudmu
naga?"
"Ya,
naga," jawab Jace.
Tapi mana
mungkin dia bisa bercakap-cakap dengan naga. Kemungkinan besar dia mendengarnya
dari penunggang naga lain. Hampir tidak ada prajurit yang mau bicara dengan
unit Prajurit Hukuman, tapi sesama penunggang naga mungkin punya rasa
solidaritas yang berbeda.
"…Pokoknya,
ini akan cukup merepotkan, tapi jika Furiae muncul, aku yang akan
membunuhnya," ucap Jace dengan tegas dan nada tidak senang.
"Sudah
banyak naga yang terbunuh. Aku tidak bisa memaafkannya."
Saat
menghitung naga, Jace menyebutnya dengan satuan 'sayap'. Itu adalah istilah
yang cukup kuno, tapi jika kau menyebutnya dengan 'ekor' di depan Jace, kau
akan langsung menjadi sasaran serangan yang hebat tanpa ragu. Setidaknya aku
tidak sebodoh itu sampai mau berkelahi dengan Jace di dalam kandang naga ini.
"Aku akan
mengurus supremasi udara. Untuk jalur darat, kalian harus menembusnya meski
harus mati, bahkan mati beneran pun tidak apa-apa."
Aku bingung harus
menjawab apa. Rasanya aku ingin melontarkan satu atau dua kalimat sinis—dia
terlalu serius. Karena tidak ada hal baik yang didapat dari menjadi terlalu
serius.
Saat itu,
terdengar suara keras dari bagian dalam kandang naga, seperti suara kayu yang
roboh. "Uwo—waa!"
Dari nada
suaranya yang konyol, aku langsung tahu siapa itu. Tsav. Dia terjatuh dan
tertimbun kotak kayu. Pantas saja tidak kelihatan, ternyata dia disuruh
membantu mengurus kandang naga.
"Si
bodoh ini," ucap Jace dengan nada jengah. "Apa yang kau lakukan? Jangan lengah."
"Bukan
begitu, Jace-san! Barusan aku hampir dipukul pakai ekor oleh anak ini, aku
langsung berpikir 'wah gawat'! Bukankah aku hebat karena tidak menumpahkan isi
kotaknya?"
"Lihat saja
punggungnya, kau kan tahu! Jangan dekati anak itu dari arah ekor!"
"Ke-kenapa?"
"Apa kau
tidak lihat luka di sisiknya? Apa matamu itu terbuat dari timah? Itu artinya
dia pernah dilukai dari arah sana, dia jadi sensitif terhadap siapa pun yang
mendekat dari belakang."
"Mana
mungkin aku tahu sampai sejauh itu hanya dengan melihat!"
Suara
Tsav terdengar seperti jeritan, dan aku bisa mengerti perasaannya. Instruksi
Jace mengenai pengurusan naga terkadang terasa sangat tidak masuk akal.
"Bukankah
lebih baik menyuruh Norgalle atau Dotta membantu daripada Tsav? Anak ini memang cekatan, tapi dia sama
sekali tidak punya kepekaan terhadap makhluk hidup."
"Mereka
berdua sedang sibuk. Lagipula," Jace menggeleng menanggapi pertanyaanku.
"Kali ini
aku punya sedikit rencana. Dengan menggunakan Tsav—ah, tunggu sebentar."
Tengah
berbicara, Jace mengerutkan dahi. Dia menyodorkan bubur yang sedang
diseruputnya.
"Siapa
yang piket masak siang ini?"
"Patausche
Kivia."
"…Si anak
baru itu, ya? Pantas saja rasanya hambar, ternyata di bagian bawahnya ada
banyak gumpalan garam dan gandum yang mengendap… Bagaimana bisa jadi
begini?"
Jace menggeram
tidak senang. "Seseorang, ajari si anak baru itu cara memasak."
"Mungkin
saja, itu adalah tugas yang paling mendesak sekarang."
"Di
mana si anak baru itu sekarang?"
"Sedang
bekerja, setidaknya begitulah. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil, tapi ini
sebuah pertaruhan—"
Lebih dari itu,
ini pasti hal yang enggan dia lakukan secara pribadi. Meski begitu, ini adalah
hal yang kami butuhkan. Sangat mustahil bagi unit Prajurit Hukuman sendirian
untuk menghadapi lawan yang berjumlah ribuan. Kami butuh kekuatan tempur untuk
pengalih perhatian, meskipun hanya untuk bergerak di sekitar musuh agar mereka
waspada, atau bahkan jika mereka hanya diam saja.
Tergantung
kondisinya, mungkin ada pihak yang bersedia menanggapi. Yang paling
memungkinkan adalah—ya, Ksatria Suci Ketigabelas yang sekarang telah
dibubarkan.
◆
Dulu di Ksatria
Suci Ketigabelas, pria bernama Zofrek Ostbish adalah seorang kavaleri yang luar
biasa. Dia memiliki penilaian yang cepat dan kegigihan.
Sepanjang
pengetahuan Patausche, awalnya dia berpindah-pindah medan perang sebagai tentara
wilayah utara dan meraih banyak jasa terutama dalam penyelamatan pemukiman
perintis. Lalu, dia ditarik masuk ke Ksatria Suci.
Dalam membentuk
organisasi Ksatria Suci yang baru, tidak ada ruginya memiliki banyak orang
berbakat. Itulah yang dikatakan paman Patausche, orang yang bertanggung jawab
penuh dalam urusan tersebut. Sekarang beliau sudah tidak ada.
Dirinya
sendirilah yang membunuhnya. Hal itu sama saja dengan menghancurkan masa depan
seluruh personel Ksatria Suci, bukan hanya masa depan Patausche sendiri.
Karena itulah,
sejak awal ini adalah pekerjaan yang enggan dia lakukan. Dia sudah bisa
membayangkan jawaban dari Zofrek, dan kenyataannya, jawaban yang sama memang
keluar.
"—Bukankah
itu permintaan yang terlalu enak sendiri? Mantan Komandan."
Sebuah perkataan
yang penuh sindiran. Dengan senyum yang dipaksakan di bibirnya, Zofrek
menggelengkan kepala.
"Setelah
situasi jadi begini, apa Anda pikir ada prajurit yang mau mendengarkan
kata-kata Anda?"
(Wajar saja.)
Patausche juga berpikir demikian. (Ini permintaan yang mustahil.)
Dia tidak bisa
memberikan pembelaan apa pun kepada Zofrek dan yang lainnya. Meski begitu,
Patausche tetap menatap lurus ke depan tanpa menundukkan pandangannya.
Dia bisa
merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya yang menusuk tajam, bukan hanya
Zofrek. Patausche merasa itu mendekati permusuhan.
Atau mungkin
keterkejutan. Mereka pasti tidak menyangka dia akan datang berkunjung. Di dalam
tenda yang tidak terlalu luas itu, para perwira utama dari mantan Ksatria Suci
Ketigabelas sedang berkumpul.
"Aku ingin
tahu, kenapa kami harus patuh? Membantu operasi para Prajurit Hukuman yang sama
saja dengan eksekusi mati itu? Sebenarnya, berbicara dengan Anda saja dilarang
bagi kami, lho."
Dia sudah mengira
akan begitu. Karena itulah dia berkunjung secara rahasia—meskipun itu bidang
yang tidak dikuasainya, dia menggunakan tanda dari Dotta untuk memanfaatkan
celah saat patroli agar bisa mendatangi tenda mereka seperti ini. Tujuannya
hanya satu.
"Untuk
menang," tegas Patausche.
Tatapan dari
sekelilingnya menjadi semakin tajam. Beberapa orang bahkan memasang ekspresi terperangah.
"Kami
akan menancapkan pasak di wilayah perbukitan ini dan memancing kekuatan musuh.
Jika berhasil, pasukan utama akan bisa memulai pertempuran dengan kondisi yang
sangat menguntungkan."
"Mana
mungkin berhasil."
Zofrek
tampak terperangah. Dia menunjuk peta yang ditempel di papan di bagian dalam
tenda.
"Anda pikir
ada berapa ribu musuh di sana? Prajurit Hukuman hanya sembilan orang. Bahkan
jika ditambah naga dan Yang Mulia Goddess sekalipun, kita hanya akan
berakhir terinjak-injak sampai mati."
"Asal
tidak terinjak saja tidak masalah."
Patausche
mendekati peta. Dengan ujung jarinya, dia menunjukkan bukit tempat Prajurit
Hukuman berencana menempati posisi.
"Kita bisa
melakukan serangan menjepit dengan pasukan utama Ksatria Suci Kesembilan. Dan
itu dilakukan dengan menjepit musuh menggunakan benteng lapangan."
"Hanya
sembilan orang, serangan menjepit apa maksudnya? Aku tahu ada naga dan
penunggang naga. Si Jace dari keluarga Partilact itu. Katanya dia hampir
menjatuhkan ibukota saat pemberontakan… tapi itu saja tidak akan cukup."
Sambil
menggeleng, kata-kata Zofrek terdengar sangat masuk akal. Dirinya sendiri pun pasti akan menilai demikian.
Namun—pikir
Patausche sekarang. Di penjara itu, dia telah diberitahu mengenai makna dari
Prajurit Hukuman. Dan yang terpenting, dia telah mengetahui seberapa banyak
operasi ajaib dan konyol yang berhasil diselesaikan oleh Xylo dan para Prajurit
Hukuman lainnya.
Karena itulah,
sekarang dia bisa mengatakannya dengan kuat. "Jika itu kami, kami
bisa."
Patausche melihat
sekeliling. Beberapa orang tampak jelas merasa ragu.
"Kalian pun
pasti menyadarinya. Nilai kekuatan tempur Prajurit Hukuman itu sangat tinggi
sampai sulit dipercaya. Mereka berhasil mempertahankan Benteng Myurid dan
membasmi Fenomena Raja Iblis di Kota Joff. Jika ada dukungan yang tepat,
serangan menjepit pasti akan berhasil."
"Anda
menyuruh kami percaya pada cerita seperti itu? Menyuruh kami percaya pada Anda
sekarang ini…?"
Kata-kata Zofrek
berubah menjadi desahan di bagian akhir. "Itu mustahil, Mantan
Komandan."
"—Benar
sekali. Benar-benar
tidak bisa dijadikan bahan pembicaraan."
Terdengar
suara dari sudut tenda. Seorang pria dengan pakaian jubah putih. Bukan seorang
kavaleri. Dia mengenakan Segel Suci besar dari besi yang merupakan bukti
sebagai pendeta di lehernya—seorang pendeta militer.
Dia menatap Patausche dengan pandangan gelap.
"Akibat
tindakan pengkhianatan Anda, masa depan semua orang di sini seolah telah
terputus. Bagaimana mungkin kami bisa memercayai perkataan seseorang yang
membunuh anggota keluarganya sendiri dan membantai bawahannya?"
Patausche tidak
mengatakan apa-apa. Dia hanya berusaha keras agar ekspresi wajahnya tidak
berubah. Dia membekukan hatinya layaknya es, tidak membiarkan sedikit pun
guncangan emosi terlihat. Sedari awal, dia benar-benar tidak merasa tindakannya
salah.
Jika ada yang dia
sesali, itu hanyalah soal bawahannya. Mungkin seharusnya ada cara lain yang
sedikit lebih baik. Dia tidak bisa melakukannya. Hasilnya adalah ini. Pria
pendeta militer ini pun pasti dimintai pertanggungjawaban. Fakta bahwa dia
masih menyertai mantan Ksatria Suci Ketigabelas yang telah dibubarkan dan
diletakkan di bawah pengawasan adalah buktinya.
"Ketahuilah
rasa malu, Patausche Kivia."
Pria pendeta
militer itu memberikan teguran dengan kata-kata yang keras. Dalam suaranya,
terasa adanya kebencian. "Silakan pergi dari sini. Sekarang juga."
"Aku tidak
menyuruh kalian untuk melakukan tindakan tempur," Patausche tetap mencoba
bertahan.
"Hanya
intimidasi saja tidak apa-apa. Bukan, sekadar mengambil posisi dukungan samping saja pun boleh. Atau
mungkin—"
"Apa
Anda tidak dengar saya menyuruh Anda pergi?"
Pria pendeta
militer itu tampak jelas mulai kesal. Suaranya meninggi. "Mana mungkin ada
satu pun orang di sini yang mau mendengarkan perkataan Anda sekarang! Kami pun
tidak punya kewajiban lagi untuk mematuhi perintah Anda."
"—Kalau
begitu, tidak perlu menyelamatkan kami para Prajurit Hukuman. Aku tidak berniat
untuk selamat. Namun, Goddess Teoritta adalah pengecualian. Meskipun
kami semua musnah, setidaknya aku ingin kalian menyelamatkannya."
Dalam pertempuran
ini, setidaknya hanya itulah peran yang harus mereka emban. Namun, sang pendeta
militer menggelengkan kepala dengan tegas.
"Aku
tidak mengakui Goddess itu sebagai seorang Goddess."
Di dalam
kuil, dia tahu memang ada faksi seperti itu. Goddess yang terus
berpindah medan perang bersama Prajurit Hukuman. Penilaian terhadapnya terbagi
dua; faksi yang memujinya dan mengakuinya sebagai Goddess sejati, serta
faksi yang masih menunda penilaian. Selain itu, mulai muncul faksi yang
menyatakan bahwa dia adalah Goddess palsu yang berpihak pada para
pendosa.
Sudah
tidak perlu dipastikan lagi pendeta militer ini termasuk faksi yang mana
sekarang. Meski begitu, Patausche menundukkan kepalanya.
"…Aku
mohon. Berbeda dengan kami, Yang Mulia Teoritta tidak memiliki dosa."
Hening.
Tidak ada jawaban dari siapa pun. Tidak, hanya ada satu orang.
"Akan
kukatakan sekali lagi. Pergilah dari sini," ucap pria pendeta militer itu
dengan suara yang ditekan. "Dasar kotor."
◆
Saat keluar dari
tenda, Dotta dan Venetim sudah menunggu. Keduanya memiliki tatapan mata yang
sama-sama tampak cemas. Begitu Patausche melirik sekilas, rasa cemas itu berubah
menjadi rasa takut. Meski begitu, ada pria yang sifatnya tidak bisa diam saja.
"Anu… mohon
maaf, bagaimana hasilnya?" tanya Venetim sebagai pembuka.
"Perasaanku
sebenarnya tidak enak, tapi aku akan tanya untuk memastikan… Apa mereka bisa
digerakkan?"
"Mustahil,"
jawab Patausche dengan jujur.
"Mantan
Ksatria Suci Ketigabelas tidak akan bergerak. Artinya kita harus bertarung
sendirian."
"Kalau
begitu, bukankah itu sama saja dengan mati? Aku tidak mau. Tapi kalau
begitu…"
Venetim
menunjukkan ekspresi muram yang mendalam, lalu menyentuhkan jari ke bibirnya
seolah sedang memikirkan sesuatu.
"…Baiklah.
Biar aku yang mencoba membujuk mereka. Patausche-san, tolong beritahu informasi
keluarga dari para komandan setiap regu. Di mana mereka tinggal, atau apakah
mereka sudah menikah. Jika mereka punya anak kecil…"
"Apa yang
kau pikirkan, dasar bodoh. Hentikan itu."
Patausche
mencengkeram kerah baju Venetim. Terdengar jeritan kecil. "Sejak awal
mencoba melibatkan mereka adalah sebuah kesalahan. Itu hanya akan membuat kita
semakin diawasi dari atas. Kita lakukan ini sendirian."
"Mana bisa
begitu! Kalau—kalau begitu bagaimana caranya? Kali ini menyewa tentara bayaran
atau apa… tapi kita tidak punya uang."
"Hei,
terserah apa pun itu, tapi..."
Dotta memotong
pembicaraan. Dia menepuk lengan Patausche dengan sopan. "Ayo cepat pergi.
Akan merepotkan kalau patroli berikutnya lewat. Ini bukan waktunya untuk
bermain-main selamanya."
Patausche
mengernyitkan dahi. Dia tidak terima dibilang sedang bermain-main, tapi apa
yang dikatakannya benar. Dia gagal membujuk mantan Ksatria Suci Ketigabelas.
Sebaiknya mereka pergi.
"Baiklah.
Ayo pergi."
Begitu dia
menyeret Venetim dan berniat kembali, saat itulah—
"—Patausche
Kivia, Mantan Komandan Ksatria Suci."
Zofrek
melongokkan kepalanya dari balik tenda. Wajahnya tersenyum kecut.
Patausche mengenal baik wajah ini. Yaitu
saat Rajit sang komandan infanteri atau Sienna sang komandan penembak jitu
meminta hal yang tidak masuk akal pada pasukan kavaleri. Atau saat dirinya
sendiri meminta pertempuran dengan kondisi yang terlalu berat.
"Aku
sebenarnya keberatan, tapi… orang-orang yang lain, dan si Sienna itu…"
Zofrek membiarkan
senyum sarkastik muncul di matanya. "Katanya bagaimanapun juga, sekali ini
saja. Yah—siapa tahu kalau berhasil ini akan jadi prestasi besar dan kami bisa
kembali ke posisi semula. Rahasiakan ini dari Tuan Pendeta Militer, ya."
"Kau berniat
melakukannya, Komandan Kavaleri Zofrek?"
"Jangan
salah sangka, tidak semua orang di ksatria suci yang ikut dalam pembicaraan
ini. Paling hanya dua ratus, atau paling banyak tiga ratus orang. Lagipula, ini
masalah pribadi, sih…"
Zofrek sedikit
ragu, lalu dengan lihai mengedipkan sebelah matanya. "Sepertinya aku tidak akan bisa akur
dengan si Xylo itu."
"Wajar
saja," Patausche mengangguk setuju.
Memang,
sifat kaku dan ketidakramahan pria itu benar-benar luar biasa.
◆
Pengurusan
baru Ibukota Kedua sepertinya sudah mencapai satu titik ketenangan. Lentby
Kisco mengembuskan napas panjang saat melihat tumpukan dokumen yang tersebar di
meja kerjanya.
Di dalamnya
terdapat laporan hukuman. Tadi malam, ada empat orang yang mencoba melarikan diri. Mereka adalah
sebuah keluarga dengan dua orang anak.
Ini harus
dilakukan dengan cara yang sekejam mungkin, yaitu membunuh mereka semua.
Begitulah perintah dari 'atasan'-nya. Tujuannya adalah sebagai peringatan bagi
orang-orang sekitar.
Penting
untuk memberi pelajaran menyeluruh tentang apa yang terjadi pada pelarian.
Lentby pun merasa itu tidak bisa dihindari—hasilnya, itu akan berujung pada
pengamanan manusia yang tinggal di ibukota.
Hasil
dari kegiatan tersebut sudah terlihat; dibandingkan sepuluh hari pertama,
jumlah manusia yang mencoba melarikan diri telah berkurang drastis.
Penempatan
personel baru pun sudah dilakukan—tidak banyak orang yang memiliki jabatan
untuk menangani pekerjaan 'manajemen' seperti ini. Hampir semua pejabat yang
ada di Ibukota Kedua telah diturunkan pangkatnya menjadi sekadar 'pihak yang
dimanajeri'.
Dirinya
yang bisa tetap berada di posisi 'manajer' mungkin termasuk dalam kategori yang
beruntung.
Fakta
bahwa dia menguasai satu pasukan penjaga kota dan dengan cepat berkhianat untuk
membantu pengambilalihan area perkotaan telah berujung pada penilaian tersebut.
Meski
begitu, posisinya belum bisa dibilang aman. Dia baru saja diakui sebagai faksi
simbiosis baru-baru ini, dan dia tahu betul basis kedudukannya masih rapuh. Dia harus terus memberikan hasil dan
menunjukkannya. Kepada Fenomena Raja Iblis ini.
"—Jadi,
Lentby Kisco. Apakah laporannya sudah selesai sampai di sini?" ucap
bayangan itu—Fenomena Raja Iblis Abaddon.
Saat berhadapan
langsung dengannya, rasanya seolah terintimidasi. Fenomena Raja Iblis ini,
sekilas tampak seperti pria manusia dengan wajah yang sangat lembut. Jika tidak tahu, orang akan
menganggapnya seperti pegawai sipil di daerah. Namun, di matanya yang sipit itu
ada sesuatu yang tidak terukur kedalamannya.
Sebuah
pupil organik yang mengingatkan pada serangga, yang bahkan tidak bisa dipahami
oleh Lentby.
"Sepertinya
keamanan manusia sudah stabil ya. Berapa jumlah pelariannya?"
"Iya.
Setelah satu malam berlalu, jumlahnya berkurang drastis. Saya rasa tidak
masalah meskipun kita mengurangi personel yang dialokasikan untuk
penjagaan."
"Baguslah kalau begitu. Meskipun agak berlebihan, kurasa membunuh mulai dari anak-anak dengan cara mencincangnya mulai dari ujung jari telah memberikan efek yang bagus. Aku puas dengan kemampuanmu."
Abaddon berbicara dengan suara seolah sedang
membujuk seorang anak kecil.
Meski begitu,
Lentby sama sekali tidak bisa tenang. Dia telah melihat sendiri bagaimana sosok
ini, sambil berbicara dengan nada suara seperti itu, bisa menghancurkan seorang
manusia menjadi serpihan hanya dengan satu tangan di saat berikutnya.
"Kau
tidak perlu setegang itu, kan?"
Seolah
menyadari apa yang ada di dalam hati Lentby, Abaddon memasang ekspresi
seperti senyum pahit.
"Apa
wajahku semenakutkan itu? Aku sering diberitahu begitu. Haruskah aku
mengubahnya menjadi wajah yang sedikit lebih ramah? Menurut pandanganmu,
bisakah kau membawakan manusia yang memiliki wajah seperti itu? Hanya bagian leher ke atas saja pun tidak
apa-apa."
"Ha…?"
Jawaban
seperti apa yang harus ia berikan? Di tengah kebingungannya, Abaddon
menepukkan kedua telapak tangannya.
"Bercanda!
Apa sulit dimengerti ya? Perasaan seperti ini memang benar-benar sulit."
Meski
mereka terlihat seperti manusia, mereka benar-benar berbeda. Struktur mental
mereka tidak dapat dipahami. Lentby kembali menyadari kenyataan itu sekali lagi.
"Keamanan
kota sudah meningkat. Secara
garis besar manajemen berjalan dengan baik. Walaupun begitu—"
Suara Abaddon
sedikit merendah.
"Sepertinya
jumlah manusia masih agak terlalu banyak. Di daerah perkotaan seperti ini, rasio manusia
yang dibutuhkan sebenarnya sedikit."
Yang mereka
maksud dengan manusia yang dibutuhkan adalah para pekerja agrikultur. Selain
itu, manusia dianggap hanya sebagai asisten pekerja agrikultur, tenaga kerja
kasar, atau sebagai bahan pangan.
Ya—bahan pangan
itu sendiri. Atau produsennya. Sepertinya, itulah nilai manusia di mata
Fenomena Raja Iblis. Mereka tampak hampir tidak mengakui adanya peradaban
maupun budaya.
Setelah mengamati
mereka, Lentby menyadari satu hal lagi—Fenomena Raja Iblis dan Abnormal
Fairy juga makan. Namun, mereka tidak memakan sesamanya. Jika kelaparan,
mereka akan masuk ke kondisi mati suri dan sanggup bertahan dalam kondisi itu
selama puluhan hari.
Dan hal yang
paling disukai oleh Fenomena Raja Iblis maupun Abnormal Fairy adalah
darah dan daging manusia.
Sepertinya,
mereka mendapatkan semacam nutrisi—entah apakah itu istilah yang tepat—tapi
intinya mereka menyerap semacam energi dari manusia. Setelah memangsa manusia,
mereka terlihat sangat jelas dipenuhi oleh vitalitas. Sepertinya hal itu tidak
berlaku jika mereka memakan sapi, babi, ataupun tanaman pangan.
"Aku ingin
lebih mengurangi tenaga yang dibutuhkan untuk mengawasi manusia."
Karena itulah Abaddon
menyampaikan niatnya dengan sangat jelas.
"Akan ada
pertempuran. Di Galtuil—lalu Joff. Sisanya adalah para penguasa wilayah utara
yang sedikit merepotkan. Karena kita akan menghadapi musuh dari berbagai arah,
lebih baik jika kekuatan tempur kita banyak."
"Itu
artinya,"
Lentby merasa
suaranya sendiri terdengar seperti suara orang lain.
"Kita harus
melakukan penyortiran?"
"Benar.
Pilih manusia berusia dua puluh hingga tiga puluh tahun secara acak, lalu
cobalah pukul mereka dengan gada besi sebanyak sepuluh kali."
Abaddon mengatakannya seolah sedang menguji suatu
produk industri.
"Individu
tangguh yang sanggup bertahan dan tetap hidup akan dipromosikan menjadi
prajurit sebagai Abnormal Fairy. Individu lemah yang mati akan digunakan
sebagai bahan pangan. Begitulah... aku ingin kau mengurangi total populasinya
sebanyak sepuluh persen."
Instruksi yang
teramat sederhana. Tidak mungkin baginya untuk menolak.
Lentby memaksa
dirinya sendiri untuk berpikir bahwa ia adalah orang yang kejam dan egois. Ia
meyakinkan diri bahwa ia tidak peduli pada orang lain.
Saat ini, ia
sudah cukup kesulitan hanya untuk bertahan hidup, jadi apa boleh buat.
(Hanya untuk
sekarang,) pikir Lentby.
(Tahanlah
sekarang. Mungkin suatu saat perlakuan terhadap umat manusia akan membaik. Jika
manajemen sudah stabil, hal seperti ini mungkin tidak akan ada lagi.)
Karena itu,
sekarang ia harus memalsukan dirinya sendiri. Selama ia masih memiliki
"diri yang asli" yang sadar bahwa ia sedang berpura-pura, maka
semuanya akan baik-baik saja—Lentby terus meyakinkan dirinya sendiri.
"Wajahmu
pucat sekali."
Tanpa disadari, Abaddon
sudah menatap tajam ke arah wajah Lentby.
Mata itu. Entah
kenapa Lentby merasa pusing. Itu adalah tatapan yang seolah mengintip ke dalam
isi kepalanya.
"Apa
kau bisa tidur dengan nyenyak? Katanya kebahagiaan manusia ditopang oleh
kesehatan dan tidur yang berkualitas. Agar kau bisa tidur dengan nyenyak, aku
tidak keberatan menyanyikan semacam lagu pengantar tidur untukmu."
"Anu,
itu..."
"Bercanda.
Yang barusan itu mudah dimengerti, kan?"
Abaddon menepukkan kedua telapak
tangannya, lalu memasang senyum bersahabat—atau setidaknya terlihat seperti
itu.
"Jangan
begitu tegang, Lentby Kisco. Kami mengakui nilaimu. Dalam pengelolaan manusia, sistem keamanan, hingga
manajemen logistik dari arah barat."
Seolah
menyuruhnya tenang, Abaddon mengarahkan telapak tangannya ke bawah.
"Kupikir
kemampuanmu cukup hebat. Karena itu, aku ingin kau memimpin pasukan dalam
pertempuran di arah Kota Joff nanti."
Rasanya ia ingin
berteriak memohon agar dibebaskan. Apa ia harus bertempur lagi melawan pasukan
manusia?
"Aku ingin
kau membantu Nona Trishir. Kau akan menjadi wakilnya. Itu akan jadi kombinasi
yang bagus."
Suasana hati
Lentby menjadi suram.
Trishir adalah
pemimpin unit manusia yang menyerang kota ini. Kudengar awalnya dia adalah
seorang tentara bayaran.
Wanita yang
tega-teganya disewa oleh Fenomena Raja Iblis dengan uang, diizinkan melakukan
penjarahan, dan terus berpindah medan perang dari arah barat.
Ia mengingat cara
wanita itu bertempur—dia melompat masuk ke area perkotaan dengan wajah penuh
kegirangan.
Melihat cara
bertarung itulah yang membulatkan tekad Lentby untuk berkhianat.
"Kenapa kau
begitu ketakutan? Apa keberadaan kami sangat mengerikan bagimu?"
Abaddon bertanya seolah bisa melihat isi hatinya.
Benar-benar dengan
nada bicara seperti membujuk anak kecil.
"Percayalah.
Kami tidak berniat membunuhmu. Malah bukankah kami sedang melindungimu?
Ya—seperti Nona Trishir, kau juga sebaiknya memantapkan hati untuk menjadi
orang jahat."
Abaddon kembali memasang ekspresi yang tampak
seperti senyuman.
"Mari kita
lumat umat manusia bersama-sama. Kau harus menikmatinya. Karena kau telah
terpilih menjadi pihak yang bertahan hidup, maka nikmatilah hidup itu
sepuasnya. Manusia hidup untuk menjadi bahagia, kan? Benar begitu?"
"—Benar."
Lentby hanya bisa
menjawab seperti itu. Abaddon mengangguk puas.
"Kalau
begitu, mari bicara soal pekerjaan. Aku telah memutuskan untuk mengirim empat
kavaleri Raja Iblis ke wilayah perbukitan Toujin-Touga. Karena Goddess
dan Ksatria Suci itu cukup tangguh. Lihatlah ke luar jendela, itu mereka. Biar
kuperkenalkan."
Abaddon menunjuk ke arah jendela di belakangnya.
Tanpa disuruh
pun, sejak tadi sosok-sosok itu sudah masuk ke dalam penglihatannya mau tidak
mau. Empat kavaleri. Mereka sudah bersiaga di lapangan yang ada di depan mata.
"Pertama, Ammit.
Masalahnya hanyalah nafsu makannya yang terlalu besar, tapi dia sangat
berdedikasi dan berani."
Sesosok tubuh
raksasa menyerupai ulat yang menggeliat hitam pekat.
Sambil bergerak
merayap perlahan di jalanan kota, dia sepertinya sedang makan, membuka mulut
lebarnya yang besar untuk menyantap sesuatu.
Ia bahkan tidak
sudi memastikan apa yang sedang dimakan makhluk itu.
(Manusia.
Terlihat hanya sesaat, tapi tidak salah lagi...)
Perkenalan
sebagai sosok yang "berdedikasi dan berani" itu sama sekali tidak
terasa seperti sebuah penghiburan.
"Selanjutnya,
Charon. Dia seorang pria budiman yang tenang. Hanya saja, dia sedikit
sensitif. Sebaiknya jangan mendekat sembarangan."
Di sudut
lapangan. Sesosok anomali putih yang mendekam di sana. Wujudnya menyerupai
laba-laba atau kepiting yang tersusun dari berbagai kerajinan tulang hewan.
Yang satu ini
jauh lebih raksasa daripada Ammit, ukurannya sebesar rumah besar, dan
hampir tidak bergerak sama sekali. Jika tidak diperkenalkan, mungkin ia akan
mengira itu adalah sebuah bangunan.
Ini pun juga, di
bagian mana dia disebut pria budiman yang tenang—ia merasa itu hanya lelucon
buruk.
"Dan dia
adalah Furiae. Jika kau butuh berkomunikasi, kau bisa melakukan kontak
dengannya."
Lalu kavaleri
ketiga. Sosoknya tidak terlihat selain seperti manusia.
Seorang wanita
berbentuk manusia yang berdiri diam dengan rambut putih yang berkibar,
menengadah menatap langit. Parasnya bisa dibilang sangat cantik.
Wajahnya yang
tertata halus melirik Lentby sekilas melalui jendela dan tersenyum—namun, pupil
matanya sama seperti Abaddon, sama sekali tidak memperlihatkan emosi.
"Terakhir
adalah Rhyneck—ah, yang satu ini sulit diperkenalkan. Aku lewatkan saja.
Aku ingin kalian bekerja sama dengan mereka dan membasmi pasukan manusia. Tidak
perlu membiarkan satu orang pun tetap hidup. Mohon bantuannya ya, Lentby."
Fenomena Raja
Iblis Abaddon kembali memanggil namanya dengan suara yang dingin namun
tenang.
"Aku menaruh
harapan pada kalian."
Itu bermakna:
jangan pernah mengkhianati harapan tersebut.
(……Untuk bertahan
hidup, aku harus melakukannya.)
Lentby berpikir
bahwa ia akan melakukan hal kejam lagi.
(Tapi, ini adalah
diriku yang palsu.)
Diri yang asli
jauh lebih baik, dan bisa hidup demi kebahagiaan orang lain. Sampai situasi
memungkinkan baginya untuk melakukan itu, sekarang ia hanya bisa bertahan.
"Nah—aku
tidak terlalu paham, tapi jika ini pertempuran manusia, apakah perlu upacara
keberangkatan? Kalau begitu, aku akan menyuruh mereka menyiapkan beberapa
tumbal. Aku ingin kau meningkatkan semangat tempur dengan darah mereka."
"E-eh,
itu..."
Setelah sempat
ragu, Lentby akhirnya bertanya.
"Apakah
itu... juga bercanda?"
"Tidak. Yang ini aku serius—apa ada yang
salah?"
Hukuman
Pengalihan Penyerangan Bukit Toujin-Touga 4
Dotta, yang telah
memacu kudanya terlebih dahulu, tampak sedang mengayunkan tongkat petirnya di
kejauhan.
Dari percikan api
yang menyebar di ujung tongkat itu, aku tahu laporannya tidak bagus. Warnanya
merah—artinya bahaya, diperlukan kewaspadaan tingkat tinggi.
Tongkat petir
tidak hanya berguna untuk menembak. Alat itu bisa digunakan untuk sekadar
membuat suara gaduh, atau seperti sekarang, menggunakan beberapa warna percikan
api sebagai sinyal.
"Apakah
terjadi sesuatu?" tanya Teoritta yang masih mendekap erat punggungku.
"Sepertinya
dia sangat panik. Dia mengayunkannya dengan penuh semangat! Jika terus begitu,
kudanya pun mungkin akan bingung, kan?"
Selain Dotta yang
berada di depan, yang menunggangi kuda saat ini adalah aku dan Patausche. Aku
tidak punya pilihan selain membonceng Teoritta di belakangku.
"Dia memang
hampir selalu begitu. Dia
tipe orang yang—setelah Venetim—paling tidak cocok berada di medan
perang."
"Apakah
itu hal yang benar bagi seorang prajurit? Dia terlihat sangat berbahaya dan
tidak meyakinkan."
Mendengar
perkataan Patausche, aku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Tentu saja
tidak benar. Hanya saja, kau tahu sendiri kemampuan pengintaiannya sangat
tinggi. Karena dia bilang 'waspada', itu berarti—Patausche. Aktifkan Segel Suci,
kita akan berkomunikasi."
Aku menyentuh
Segel Suci di leherku dengan jari. Patausche pun mengikuti.
『Xylo!
Keadaannya gawat!』
Seketika, kalimat
familiar Dotta terdengar.
『Para Abnormal
Fairy berada lebih dekat dari dugaan! Mereka bergerak maju. Mungkin kita
sudah ketahuan.』
Dotta tampak
mengkhawatirkan langit di atas kepalanya. Langit sudah gelap. Dari celah awan
salju, bulan ungu mengintip—aku merasa cahaya bulan yang entah mengapa terasa
tidak menyenangkan itu menyinari sayap-sayap yang terbang di angkasa.
Ada jenis
Abnormal Fairy yang bisa terbang.
Kami
menyebut mereka Gremlin. Semua spesies kecil dengan sayap selaput
dikategorikan ke sini. Meski kekuatan mereka lemah dan jumlah individunya
sedikit, fakta bahwa mereka bisa terbang saja sudah merepotkan. Lebih baik kita
bergerak dengan asumsi bahwa posisi kita sudah ketahuan.
"Berapa
jumlah dan jenis musuhnya?" tanyaku.
『Sekitar tiga
puluh. Kebanyakan adalah Fuath dan Bogey!』
Keduanya adalah
jenis Abnormal Fairy yang memiliki kecepatan gerak sangat tinggi.
Apakah pihak
lawan juga mengerahkan unit pengintai? Namun ini unit kecil. Artinya, kami baru
saja bersentuhan dengan salah satu "ujung jari" pencarian yang mereka
ulurkan.
"……Jika itu
benar, bukankah kecepatan gerak maju mereka di luar dugaan?"
Patausche memasang
wajah masam dan memanggil Dotta.
"Apa
informasi ini akurat, Dotta? Kenapa mereka bergerak maju seolah... sengaja
ingin berpapasan dengan kita?"
『Ma-mana aku
tahu! Bagaimana mungkin aku mengerti hal seperti itu!』
Aku bisa memahami
mengapa Patausche merasa curiga.
Rencana awal kami
adalah merebut bukit yang ada di depan mata ini, lalu mulai membangun
pertahanan lebih dulu untuk menarik perhatian musuh. Bisa dibilang situasinya
tiba-tiba berubah menjadi tidak menguntungkan.
"Xylo. Apa
menurutmu kita harus mendesak unit di belakang untuk bergegas?"
Di belakang kami,
ada Rhino, Tsav, dan Tatsuya yang mengangkut logistik menggunakan kereta luncur
yang ditarik kuda. Diikuti oleh Venetim yang terengah-engah sambil memeluk
jatah makanan minimal. Jace nanti akan menyusul dengan terbang.
Norgalle sendiri
kali ini berada di atas kereta luncur bersama kuda-kuda. Aku ingin dia fokus
memproses Segel Suci sampai sesaat sebelum tiba, dan yang terpenting, dalam
operasi kali ini aku tidak ingin stamina Yang Mulia yang mulia itu terkuras
sedikit pun.
Katanya, kali ini
Yang Mulia Norgalle telah menyiapkan "senjata baru yang revolusioner".
"Aku tetap
berpendapat bahwa lebih bijak jika kita maju setelah bergabung dengan unit
belakang. Tempat ini sangat penting—"
『Tu-tunggu
sebentar, aku tidak mau!』
Suara Dotta
terdengar seperti jeritan.
『Maksud
kalian, aku harus berada di depan mereka sendirian? Ini sangat menakutkan, mustahil, cepatlah datang
ke sini sekarang juga! Aku bisa mati!』
"Apa yang
kau katakan. Ini bukan soal takut atau mustahil. Ini adalah strategi demi kemenangan."
"Tidak.
Memang benar, kalau menunggu bergabung dulu, itu akan terlambat."
Bukannya
aku membela Dotta, tapi aku ikut angkat bicara dari samping.
"Mari kita
ambil inisiatif dan amankan posisi sesuai rencana. Itu akan jadi yang paling menguntungkan. Aku
setuju untuk mendesak mereka yang di belakang, tapi kita harus lebih cepat
lagi."
"……Artinya,
pemusnahan unit pengintai? Hanya dengan kita berdua?"
Dalam kepala
Patausche, sepertinya Dotta tidak dihitung sebagai kekuatan tempur. Dalam hal
itu, pemikiranku pun sama.
"Kau
terlihat kurang percaya diri, Patausche Kivia."
"Tidak."
Patausche memasang wajah rumit.
"……Boleh
juga. Asalkan kau bisa mengimbangiku."
"Sudah
diputuskan. Teoritta!"
"Baiklah.
Aku, sang Goddess, akan memberkati pertarungan kalian—"
"Bukan itu.
Pegangan yang erat, dan jangan bicara. Nanti lidahmu tergigit!"
"Yang Mulia
Teoritta. Mohon perlindungan-Nya!"
"Ah, jadi
maksudnya begitu—"
Aku tidak
mendengarkan sisa kalimat Teoritta.
Aku dan Patausche
memacu kuda kami dengan cepat. Jarak menuju bukit yang dituju terasa sangat
singkat—perbukitan biasa dengan tumpukan salju tipis. Kami harus membangun
pertahanan lapangan di sini dan mempertahankannya sampai mati.
"Kau dengar itu, Venetim! Cepatlah menyusul!"
『Me-meskipun Anda bilang begitu, aku saat ini sudah
mencapai batas—』
『Dimengerti! Rhino-san, bisa lebih cepat lagi?』
『Tentu, aku bisa. Apa sebaiknya Kawan Venetim kita ikat dengan tali lalu diseret saja?』
『Aaah! Seperti
dugaan, itu ide cemerlang tanpa rasa kemanusiaan dari Rhino-san! Venetim-san,
bagaimana? Mau diseret saja?』
『A-aku akan
lari! Aku bisa lari kok, jadi kalian berdua jangan lihat aku! Mata kalian
menakutkan!』
Tsav dan Rhino
mungkin secara insting tahu cara membuat Venetim bekerja. Biarkan saja mereka
menggunakan cara itu. Aku membuang pikiran tentang orang-orang di belakang dan
memfokuskan pandangan ke depan.
Di jalan yang
kami lalui, tampak tentara Abnormal Fairy. Rasanya memang seperti unit
pengintai kecil. Perkiraan Dotta akurat—jumlahnya sedikit kurang dari tiga
puluh.
"Xylo, Xylo,
mereka sudah di depan mata! Bagaimana ini!"
Aku melewati
Dotta yang ketakutan. Terang saja, dalam situasi seperti ini, hampir tidak ada
yang bisa dilakukan Dotta.
"Jangan
sampai salah tembak. Kalau kau melakukannya, kubunuh kau. Aku dan Patausche yang
akan membereskannya."
"Apa itu
berarti aku dianggap di luar kekuatan tempur? Kalau iya aku sih senang, tapi
tolong cepat bereskan mereka!"
Aku mengabaikan
permohonan Dotta. Di depan mata, para Abnormal Fairy mulai bergerak.
Mereka sudah menyadari kehadiran kami sejak lama. Mereka juga tahu kami hanya
bertiga.
Karena itu,
taktik yang mereka ambil sangat sederhana; mengepung dari kiri dan kanan.
Sekitar sepuluh di tengah, dan masing-masing sepuluh di kiri dan kanan mencoba
melebar untuk mengurung kami.
"Patausche.
Kau tahu apa kemampuan utama kavaleri yang sebenarnya?"
"Aku tidak
tahu apa yang sedang kau uji dalam situasi seperti ini, tapi itu sederhana.
Kemampuan utamanya adalah mobilitas."
Seperti yang
kuduga, Patausche adalah kavaleri yang unggul.
Mobilitas. Cukup pahami hal itu. Ada orang yang bilang itu
adalah daya dobrak atau daya serang, tapi aku diajarkan bahwa hal-hal semacam
itu hanyalah bonus.
"Hancurkan
dari sisi kanan. Aku serahkan pengamanan sektor belakang padamu."
"Dimengerti."
Patausche memacu
kudanya lebih cepat lagi. Di saat yang sama, dia menyiapkan tombak penunggang
kudanya.
"Ayo,
Teoritta."
Aku menyampaikan
niat bertarung dan rencana operasi kepada Teoritta—dengan posisi dia mendekapku
seperti ini, komunikasi jadi mudah dilakukan.
"Pertama-tama,
buat lubang di depan!"
"Baik."
Teoritta
merespons dengan cepat. Saat dia mengusap udara, hujan pedang turun menyiram
para Abnormal Fairy di depan kami. Serangannya sangat akurat. Hal itu
saja sudah memberikan kerusakan besar pada gerombolan tengah.
Terciptalah
celah besar. Patausche menerjang melewati celah itu tanpa hambatan sama sekali.
"Uwaaa!"
Dotta
berteriak sambil menembak sembarangan.
Sama sekali tidak
kena—tapi, setidaknya itu berguna untuk sedikit menarik perhatian. Setidaknya
itu memberiku waktu untuk menyerang gerombolan Abnormal Fairy di sisi
kanan. Aku mencabut pisau dan melemparkannya ke arah mereka.
Kilatan cahaya,
ledakan. Aku melakukannya dua kali.
Kemudian, Patausche
menyerang dari belakang. Rangkaian Shield Art yang terukir di baju zirah
miliknya aktif—sebuah penghalang yang menyerupai anyaman rantai cahaya
membentang di ujung mata tombaknya.
Para Abnormal
Fairy yang menyentuhnya hangus terbakar, atau terpental dalam kondisi
kejang. Artinya, tidak butuh waktu lama bagi gerombolan sayap kanan untuk
musnah. Kata "menyapu bersih" adalah istilah yang tepat. Tombaknya
menusuk musuh dengan akurat, lalu sambil tetap menancap, tombak itu diayunkan
untuk menjatuhkan musuh lain yang melompat menyerang dengan nekat.
Dalam sekejap, sayap kanan hancur total.
Benar-benar
kemampuan utama kavaleri. Sebuah terobosan tengah dan pengamanan sektor
belakang yang seolah keluar dari buku teks—terlihat bahwa Patausche menunjukkan
nilai aslinya dalam pertempuran semacam ini.
"Xylo."
Dia bahkan sempat
memberiku instruksi. Sambil mengangkat tombak yang terukir Segel Suci, dia
mulai memacu kudanya lagi.
"Kita
bereskan sisanya. Habisi semuanya, jangan biarkan ada informasi lebih lanjut
yang dibawa kembali!"
"Aku
tahu."
Dengan begini,
seorang kavaleri telah bergabung dalam unit Prajurit Hukuman. Maknanya sama
sekali tidak kecil.
◆
"……Ada unit
pengintai yang belum kembali, ya?" ucap Trishir.
Dia menatap para Abnormal
Fairy yang kembali sambil terbang di angkasa dengan tatapan penuh minat.
Dia adalah wanita dengan rambut merah kusam yang mengenakan mantel bulu tebal.
Meski memiliki kesan agak buas, di mata Lentby pun dia bisa dibilang cantik. Di
bawah sinar bulan ungu, profil wajahnya memiliki kecantikan liar tersendiri.
Namun, tiba-tiba
wajah itu menoleh ke arah sini.
"Menurut
laporan dari Gremlin, setelah berpapasan dengan hanya tiga kavaleri,
kabar dari unit tersebut terputus sepenuhnya. Bagaimana menurutmu, Lentby?
Berikan pendapat yang cemerlang layaknya seorang wakil."
"Baik."
Lentby Kisco
berusaha menjawab sesingkat dan sejelas mungkin. Dia tahu itulah yang
diinginkan Trishir. Saat ini, dia harus memainkan peran sebagai "wakil
yang tenang" ini sampai akhir.
"Dari tiga
kavaleri itu, dua di antaranya bergerak aktif dan menghancurkan para Abnormal
Fairy. Satu orang di tengah tidak bergerak, hanya memberi sinyal dengan
tongkat petir—kemungkinan besar dia adalah komandannya."
"Aku juga
sependapat. Lalu apa artinya itu?"
"Pasukan
musuh telah memajukan unit elite mereka jauh ke depan. Dalam situasi ini, aku
berasumsi tujuan mereka adalah skenario terburuk... yaitu perlindungan terhadap
Putri Ketiga dan Pangeran Ketiga. Ketiga kavaleri tersebut kemungkinan adalah
elite di antara para elite."
Selalu
membayangkan skenario terburuk dan bersiaga maksimal. Dia sudah tahu bahwa
itulah cara yang disukai oleh pemimpin tentara bayaran bernama Trishir ini.
"Maksudmu,
entah bagaimana caranya, mereka tahu bahwa kedua orang itu melarikan
diri?"
Mendengar ucapan
Trishir yang seolah menguji, Lentby menjawab tanpa lengah.
"Benar.
Setidaknya, aku menyarankan agar kita bertempur dengan asumsi seperti
itu."
"Menilai
musuh terlalu tinggi bukankah melanggar prinsip konsentrasi pasukan? Bisa saja itu adalah pengalih
perhatian."
"Meskipun
begitu, lawan kita adalah Pangeran dan Putri. Harapan bagi umat manusia.
Kupikir mereka layak dijadikan target prioritas utama kita."
Apakah dia sudah
bisa bersikap natural sebagai musuh umat manusia?
Lentby bertanya
pada diri sendiri dan kembali memperingatkan dirinya. Ini hanyalah akting
semata—dirinya yang asli berbeda. Di saat seperti ini, Lentby membayangkan
sebuah kotak putih yang bersih. Di sanalah dia berada. Selama dia bisa
melindungi dirinya yang asli itu, semuanya akan baik-baik saja.
Jika bisa
berpikir begitu, dia bisa memalsukan dirinya sebanyak apa pun. Dia bisa
berpura-pura menjadi musuh umat manusia.
"Baiklah.
Aku akan mengingat saranmu. Menarik juga, kan."
Trishir
tersenyum tipis. Senyum itu
mengingatkan pada bilah tajam yang haus akan firasat pertempuran.
"Apakah
lawannya adalah Ksatria Suci pengguna racun yang membawa Goddess,
ataukah—unit 'Pahlawan' yang sedang dirumorkan itu?"
Trishir jelas
terlihat sangat bersemangat.
Struktur mental
yang tidak bisa dipahami oleh Lentby—sepertinya, dia memang menyukai
pertempuran itu sendiri. Bukan, atau mungkin dia menyukai kemenangan dari
pertempuran? Dia pernah bercerita sendiri bahwa dia sangat suka melumat habis
lawan yang telah dikalahkannya.
Dan saat itu,
katanya, semakin tangguh lawannya maka akan semakin bagus.
"Aku ingin
mendapatkan komandannya. Berani sekali dia muncul sendiri di garis terdepan,
orang yang menarik. Benar-benar menarik."
Mungkin karena
pengaruh cahaya bulan, bibirnya terlihat merah secara tidak wajar.
"Kita
berangkat sekarang juga. Siapkan zirahku. Jika lawannya kavaleri, aku akan
menghadapinya dengan rangkaian Impact Art milik Digraap."



Post a Comment