NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 4 Chapter 7 - 9

Hukuman

Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 1


Ada tiga jalan yang dianggap sebagai "Jalan Utama" di Ibu Kota Kedua, Zeialente.

Di antara ketiganya, yang paling makmur secara komersial pastilah Jalan Utama Perak, Asgarsha, di bagian timur.

Jalan yang paling besar mungkin adalah Jalan Utama Agung yang digunakan para bangsawan, dan Jalan Utama Terpelajar yang membelah distrik mahasiswa juga tampak luar biasa, tapi Asgarsha memiliki makna yang sedikit berbeda. Jalan ini membentang lurus dari Gerbang Timur kota hingga ke Alun-Alun Pusat, menjadikannya jantung komersial Ibu Kota Kedua.

Selain itu, Jalan Utama Asgarsha adalah jalan yang memiliki dua sisi. Jalan ini berhubungan erat dengan Distrik Timur yang dijuluki "Tempat Pembuangan Abu". Jika sedikit melipir dari jalan besar Asgarsha yang megah, kamu akan sampai di gang-gang belakang tempat para berandalan seperti petualang berkeliaran.

Dulu aku juga sering datang ke sana untuk bermain saat senggang. Ada pemandian umum besar yang menggunakan mata air panas, dan teater baru yang tertata rapi juga dekat dari sana. Bagusnya, di sini lebih sedikit orang yang mengenalku dibandingkan di Ibu Kota Pertama. Aku bahkan pernah minum-minum sampai pagi bersama Komandan Ordo Ksatria Suci Keenam layaknya mahasiswa.

Karena itulah aku cukup menguasai medan.

──Yah, setidaknya "cukup menguasai".

Untuk detail kecilnya, tidak cukup hanya melihat peta, tapi perlu memeriksa lokasi secara langsung. Aku sama sekali tidak bisa mempercayakan hal itu pada para petualang dari "Organisasi Perlawanan". Dari senja hingga fajar, memanfaatkan celah waktu aktivitas antara manusia dan para Fairy, aku, Rhino, dan Frensi berlarian sambil meredam suara langkah kaki.

Kesimpulannya adalah begini.

"…Bahan-bahannya tidak cukup."

Aku hanya bisa mengatakan itu.

"Sama sekali tidak cukup."

Kami berada di sebuah ruang bawah tanah di sudut "Tempat Pembuangan Abu" yang menjadi markas baru Organisasi Perlawanan.

Di depanku berjajar bahan-bahan untuk mengukir Holy Seal yang berhasil dikumpulkan. Aku tahu mustahil menyiapkan pelat dasar yang layak. Jadi, yang ada hanyalah pelat besi atau kepingan yang sebisa mungkin tidak berkarat. Cat fosfor, cairan pelindung, pelarut, alat ukir, dan banyak potongan kertas untuk desain.

Meski sebanyak ini, dalam kasusku pasti akan ada produk gagal, jadi rasanya agak mencemaskan. Aku tidak begitu percaya pada kemampuanku sendiri. Mengukir Holy Seal secara dadakan adalah kemampuan yang benar-benar khusus. Bukannya aku yang terlalu buruk, tapi Norgalle-lah yang memang aneh.

Untuk mengumpulkan pasokan ini meski hanya sedikit, Rhino saat ini masih mencari-cari di seluruh kota bersama anggota Organisasi Perlawanan.

Namun, kami tidak bisa sembarangan menyerang gudang logistik. Penjagaannya lumayan ketat, dan aku tidak bisa memaksakan hal itu pada orang-orang di sini. Secara teknis pun mustahil. Dalam kondisi begini, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa demi keberhasilan dan bekerja keras mengukir Holy Seal.

"Tanganmu berhenti, Xylo. Kelihatannya situasinya tidak begitu bagus, ya."

Frensi mengintip ke arah tanganku dengan wajah tanpa ekspresi. Aku meregangkan punggungku yang kaku, lalu melihat ke arah tangan Frensi juga. Aku pun berucap.

"Kau juga. Melakukannya dengan sangat hati-hati, ya."

"…Setelah dipikir-pikir, aku juga tidak pandai dalam pekerjaan seperti ini."

Dia sendiri sejak tadi tampak berkonsentrasi pada pencampuran cairan.

Pengenceran dan pengadukan cat fosfor membutuhkan ketelitian. Jika rasionya salah, durasi aktifnya akan kurang atau kekuatannya tidak akan maksimal. Dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian seperti ini, tak disangka Frensi tampak kesulitan.

Dia sudah mencampur cukup banyak cat yang gagal. Benar juga──seingatku sejak dulu Frensi memang bukan tipe yang terampil dengan tangannya. Aku juga ingat dia tipe yang tidak suka memikirkan hal-hal detail di kepalanya. Terutama aritmetika.

Buktinya, dia bahkan pernah kabur dari pelajaran aritmetika bersama guru privatnya dan lari ke kediaman tempatku tinggal dulu. Aku terkadang melihatnya di taman.

"Dibandingkan aritmetika, aku seratus kali lebih suka puitika."

Begitu katanya dulu, dan aku setuju soal itu.

Namun, tetap saja dia masih lebih baik daripada orang awam. Setidaknya tidak ada satu pun dari para petualang Organisasi Perlawanan yang bisa dipercaya untuk pekerjaan semacam ini.

Aku sempat berpikir apakah sebaiknya aku meminta Rhino membantu, tapi dia sendiri secara tak terduga sangat ahli dalam tindakan infiltrasi. Kalau dipikir-pikir itu masuk akal, mengingat betapa seringnya dia meninggalkan pos tugasnya dan menghilang dari hadapan kami. Dia punya kemampuan mendeteksi bahaya sekaligus kemampuan untuk kabur.

Oleh karena itu, Rhino tidak bisa dilepaskan dari tugas pengintaian. Saat ini pun dia sedang berada di luar.

Selain itu, Frensi bersikeras ingin melakukan pekerjaan ini. Dia pasti sedang keras kepala. Gadis ini sepertinya tipe yang sangat benci jika diremehkan.

"…Setidaknya, andai saja kita bisa mengumpulkan sedikit lebih banyak bahan."

Meski tahu itu sia-sia, aku menyuarakan keinginan yang mustahil.

"Karena tidak boleh gagal jadi aku terlalu berhati-hati, rasanya waktu yang terbuang jadi lebih banyak."

"Permintaan yang benar-benar tidak berguna," Frensi memotong perkataanku dalam sekejap.

"Kita hanya bisa bertarung dengan kartu yang ada di tangan sekarang. Bukankah kau sendiri yang biasanya mengatakan itu? Apa kau punya ide cemerlang untuk mengumpulkan bahan?"

"Tidak, tidak ada sama sekali."

"Kalau begitu, diam dan kerjakanlah. Atau kau mau menggunakan cara bertarung yang lain? Kalau ada ide katakan saja. Aku akan menjabarkan kecacatannya satu per satu dengan teliti."

Aku terdiam. Lagipula, saat aku memikirkan cara bertarung ini pun, dia sudah puas menjabarkan kecacatannya padaku.

Dari sekian banyak pilihan, aku memutuskan menjalankan rencana yang dianggap paling mendingan. Setidaknya ini punya peluang berhasil daripada mengharapkan simpati massa untuk pemberontakan bersenjata atau menyusun rencana pembunuhan.

(…Kecacatan rencana ini hanyalah kurangnya tenaga dan bahan.)

Aku menggambar peta di dalam kepalaku. Merespons serangan dari luar dengan memulai sabotase dari dalam. Semakin besar skalanya semakin baik, dan akan lebih bagus lagi jika terjadi secara serentak di banyak titik.

Aku sudah menentukan lokasi peledakan. Menghindari pemukiman warga dan menargetkan titik-titik militer yang tersebar. Misalnya gudang logistik, atau fasilita prajurit penjaga dan Fairy yang berpatroli.

Mereka pasti akan segera menyadari kalau itu hanya pengalihan isu, tapi mereka tidak akan bisa mengabaikannya. Mau tak mau mereka harus mengerahkan sebagian pasukan ke sana. Memanfaatkan kekacauan itu, kami sendiri akan menuju gerbang kota. Menyerang dari dalam untuk mendukung invasi dari luar.

──Untuk menyukseskan itu, dibutuhkan Holy Seal dengan mekanisme bom waktu.

Hanya saja, ini berbeda dengan bom lempar biasa, dibutuhkan teknik yang cukup tinggi. Atau, tindakan operasi terkoordinasi yang presisi oleh banyak orang sebagai penggantinya.

Dan jika bicara soal kekuatan tempur untuk operasi semacam itu...

"Owaaa!"

Terdengar suara dari ruangan sebelah.

Aku ingin mereka berhenti berteriak karena bisa saja terjadi sesuatu yang buruk, tapi sudah berapa kali pun diperingatkan, tidak ada tanda-tanda mereka akan berubah.

"Gawat, gagal lagi. Ada retakannya! Sial, tidak berjalan lancar."

"Lagipula ini panas sekali. Apa kau melakukan hal seperti ini setiap hari? Aku menyerah..."

Yang berisik itu adalah anggota Organisasi Perlawanan.

Karena di antara mereka ada yang mengaku pernah menjadi pandai besi, aku mencoba meminta mereka menempa pisau. Untuk kugunakan sendiri.

Aku tidak berharap mereka membuat sesuatu yang hebat, tapi sepertinya masalahnya jauh sebelum itu. Orang yang menerima tugas itu kemampuannya sangat buruk──dia merengek karena tidak ada peralatan yang layak di sini, tapi intinya dia terus-menerus gagal.

"Guru, maafkan kami!"

Ditambah lagi, ini. Tanpa mengetuk, pintu ruang kerja dibuka dengan tidak sopan.

Orang-orang sering sekali datang kemari. Terlebih lagi, mereka memanggilku "Guru". Apa mereka pikir aku ini semacam pengawal atau apa? Ini benar-benar merusak konsentrasiku.

"Kakek Oldo minum-minum lagi! Sekarang dia teler dan sedang tidur."

"…Dia masih punya simpanan alkohol? Siapa yang memberinya?"

"Itu, si brengsek Harbo. Katanya kalau tidak minum tangannya gemetar, jadi ya mau bagaimana lagi."

"Jangan bercanda!"

Saat aku membentak, anggota Organisasi Perlawanan itu sangat ketakutan. Mungkin dia pikir aku akan melempar sesuatu, jadi dia bersembunyi di balik pintu.

"Sial. Biarkan saja Kakek Oldo, lagipula sejak awal dia tidak bekerja sama sekali, kan."

"Benar juga. Katanya dulu dia tentara bayaran atau petualang hebat, tapi karena tidak ada pedang jadi tidak ada yang bisa dikerjakan... begitulah kelakuannya dari siang hari."

"Kalau begitu cepat tempa pedang untuknya. Kau yang bilang kau mantan pandai besi, kan."

"Hehe... saya sedang berusaha. Sedang berusaha, tapi... anu..."

"Pokoknya siapkan pisau yang layak sebanyak mungkin! Kalau tidak bisa, akan kupatahkan tulangmu dan kujadikan senjata."

"S-siap!"

Dia buru-buru menarik wajahnya dan menutup pintu. Rasanya aku ingin menghela napas. Sebagai gantinya, aku mendecak. Frensi sepertinya merasakan hal yang sama.

"…Kau benar-benar berniat mengandalkan orang-orang itu?"

"Aku tidak mengandalkan mereka. Tapi, tidak ada orang lain lagi."

"Seseorang mungkin akan berkhianat."

"Kalau soal itu, si mantan pandai besi tadi sepertinya bisa diandalkan. Katanya dia mencoba menggoda istri Kevin, orang yang pertama kali berkhianat... kalau dia menyerah pun dia bakal dibunuh. Tragis memang, tapi orang semacam itu justru lebih bisa dipercaya."

"Itu kalau ceritanya benar."

"Kalau mulai curiga tidak akan ada habisnya. Lagipula, aku tidak berniat memberitahu detail operasinya sampai detik terakhir."

Orang yang tangannya gemetar kalau tidak minum alkohol, atau kakek-kakek pemabuk, jika mereka berkhianat pun pasti hanya akan berakhir jadi bahan makanan bagi musuh. Anggota yang lain pun masing-masing punya kecacatan dalam sifat sosial mereka.

Mungkin terdengar ironis, tapi orang-orang seperti itulah yang justru lebih bisa dipercaya dan digunakan.

"Situasi yang menyedihkan. Bukankah ini semacam hukuman untukmu yang biasanya bermalas-malasan?"

"Kalau hukuman, aku selalu menerimanya."

Karena kami adalah Unit Hukuman. Aku juga tidak merasa kami disukai oleh para dewa.

"Maaf ya, Frensi. Situasinya parah. Kau pasti marah, kan."

"Tidak juga. Aku tidak marah."

"Bohong."

Ada hal yang kusadari──sejak terkurung di kota ini, frekuensi Frensi menyentuh rambutnya jadi lebih sering.

"Kau menyentuh rambutmu. Itu artinya kau sedang marah."

"Hah? …Kenapa? Sama sekali tidak benar. Kenapa kau bisa mengambil kesimpulan begitu? Itu bukti kalau daya observasimu lebih rendah daripada lumut yang tumbuh di sana. Aku benar-benar heran."

Dia mencercaku bertubi-tubi. Aku pun yakin, dia memang marah. Pasti itu.

"Sebaliknya, aku menikmati situasi saat ini."

"Itu baru bohong. Lihat situasinya. Terkurung di kota yang dikuasai Fenomena Raja Iblis, sekutunya cuma Rhino dan orang-orang tidak berguna. Hilal keberhasilan operasi pun belum kelihatan."

"Tidak, aku menikmatinya. Mungkin ini yang paling menyenangkan dalam beberapa tahun terakhir."

Frensi menodongkan kuas yang digunakannya untuk mengaduk larutan tepat di depan mataku.

Karena itu cairan yang cukup berbahaya aku ingin dia berhenti, tapi tatapan mata Frensi terlihat serius. Dia memang wanita yang sulit dibaca emosinya, tapi dia tidak berbohong dengan tatapan seperti itu.

"Bagaimana denganmu?"

"Aku?"

"Apa situasi ini hanya memberimu penderitaan? Ataukah kau sedikit merasa senang?"

Aku mencoba memikirkannya. Menikmati adalah hal yang mustahil kuucapkan dalam situasi seperti ini. Itu salah sebagai seorang tentara.

"Aku itu ya, Xylo. Bersamamu begini──"

"Agoh!"

Kalimat Frensi tiba-tiba terputus oleh jeritan yang terdengar mendadak.

Disusul suara pintu yang terbuka dengan keras. Kerutan jarang terlihat muncul di antara alis Frensi. Aku pikir orang-orang Organisasi Perlawanan berbuat ulah lagi──tapi aku terkejut melihat sosok yang melompat masuk.

Karena itu adalah wajah manusia yang benar-benar tidak terduga.

"…Sakit. Parah sekali…"

Pria mungil itu mengerang sambil memegangi bagian punggungnya.

"Dotta?"

Aku memanggil nama penyusup yang sangat tak disangka-sangka itu.

Aku sama sekali tidak bisa mencerna apa yang terjadi.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Atau lebih tepatnya, kenapa kau bisa ada di sini?"

Frensi sepertinya merasakan hal yang sama. Baginya ini pasti juga di luar dugaan.

"Yo, Xylo. Sepertinya situasinya gawat, ya… Sebenarnya aku juga sama. Aku diusir dari bengkel perbaikan sampai ke sini dengan kecepatan luar biasa…"

Dotta tertawa lemas dengan wajah yang tampak ketakutan.

"…Aku menyelinap ke kota ini, dan begitulah, aku dipaksa bergabung dengan kalian."

"Menyelinap katamu, bagaimana caranya? Semua jalan diblokir, kan. Apa kau memanjat tembok benteng?"

"Eh, ehhh? Xylo bisa melakukan hal seperti itu?"

"Tidak, mungkin aku tidak bisa, tapi…"

"Aku juga tidak mau, itu melelahkan… Sepertinya di dekat sini Fairy baru saja bentrok dengan tentara lokal. Banyak mayat manusia, jadi aku menyelinap masuk dengan berpura-pura menjadi salah satunya."

Apa-apaan itu, pikirku. Ada cara seperti itu?

Menyelinap dengan berpura-pura menjadi mayat. Apa yang akan dia lakukan kalau di tengah jalan dia malah dimakan? Terlalu berbahaya. Pihak Fairy saja pasti butuh kerja sama untuk itu.

"Sebenarnya, itu… aku dibantu oleh semacam asisten yang jago meniru Fairy, atau orang yang mirip sipir penjara… aku dibantu orang semacam itu."

"Salah. Bukan asisten atau sipir, tapi ajudan."

Dari pintu tempat Dotta masuk, terdengar suara yang rendah dan tertahan. Seorang wanita dengan rambut merah kusam. Lengan kanannya dibalut perban. Aku samar-samar mengenalinya.

Orang yang memungut dan membawa Dotta saat pertempuran Touzin-Touga, ya.

"Kau itu, perkenalkan ajudanmu sendiri dengan benar."

Dia menatap rendah ke arah Dotta dengan tajam. Dotta jelas ketakutan dan bahkan melangkah mundur.

"Eh, a-ajudan? Setting apa itu? Aku baru pertama kali mendengarnya…"

"…Kalau begitu, sudahlah. Aku perkenalkan diri sendiri. Aku Trisill… yang mengawasi dan membimbing pria ini. Itulah tugasku."

Trisill menyatakan itu dengan wajah yang sangat cemberut. Mungkin saja dia adalah pejabat yang ditugaskan militer untuk mengawasi Dotta yang terus-menerus melakukan pencurian gila.

Benar-benar seperti sipir. Jika begitu, tatapan matanya yang sangat gelap itu cukup mengusikku. Tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu.

Poin pentingnya adalah Dotta telah bergabung di sini.

Kemampuan pengadaan logistik dan kemampuan pengintaian──keduanya akan melonjak drastis. Cakupan operasi akan meluas. Hal yang bisa dilakukan akan bertambah pesat. Dan di antara semua itu, yang paling efisien adalah──

"Bagus, Dotta. Langsung saja, kau harus bekerja."

"Eeeh? Anu, aku baru saja sampai, dan ada pesan dari luar…"

"Hal semacam itu dengarkan saja nanti lewat komunikasi rutin. Pokoknya kumpulkan bahan. Minyak. Lalu senjata. Pisau, sebanyak apa pun tidak masalah."

Aku melihat senjata Holy Seal buatanku yang masih kasar. Beberapa mungkin bisa digunakan, tapi tidak semuanya. Karena tidak bisa diuji coba, aku tidak bisa menjamin akurasi dan keandalannya. Setidaknya, rencana bom waktu harus dibuang.

Karena Dotta sudah bergabung, ada cara yang jauh lebih baik.

"Bergembiralah, Dotta. Kau bisa menunjukkan aksi hebatmu."

"Hoh."

Entah kenapa, Trisill yang merespons hal ini. Dia menyeringai dengan cara yang agresif.

"Bagus kalau begitu. Berikan dia tanggung jawab seberat apa pun."

"Kenapa Trisill yang menjawab! Jangan seenaknya──"

"Setelah makan sedikit kita berangkat. Frensi, kita pakai daging kering yang disimpan. Karena orang ini sudah datang, mulai malam ini kita tidak akan kekurangan makanan."

"Berita bagus. Karena mumpung ada dia, mari kita pakai kejunya juga."

"Ah, sepertinya pendapatku tidak ada artinya di sini…"


Hukuman

Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 2

Berdasarkan informasi dari Venetim, rencana penyerangan ke Kota Kerajaan Kedua mengalami perdebatan sengit sampai detik terakhir.

Ada dua masalah utama.

Pertama, Kota Kerajaan Kedua adalah kota yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok. Terdapat tiga gerbang—Timur, Barat, dan Selatan—serta terowongan bawah tanah. Pertanyaannya adalah titik mana yang harus ditembus. Sebenarnya ada gerbang di Utara untuk melarikan diri dari kastel, tapi penjagaan di sana terlalu ketat dan jalannya tidak bisa dilewati pasukan besar, sehingga tidak cocok untuk penyerangan.

Masalah kedua adalah bagaimana cara membuat sang "Saint" bertarung.

Untungnya, kami sebagai tim penyusup internal diberikan misi gangguan dengan wewenang yang cukup luas. Kami bebas bertindak berdasarkan penilaian sendiri untuk mendukung serangan. Target operasi utama adalah penguasaan gerbang menggunakan Holy Key Cale Vork. Singkatnya, kami harus membuka jalan agar pasukan utama bisa merangsek masuk.

Namun, titik target penguasaan yang ditentukan benar-benar buruk.

Target yang diperintahkan adalah Gerbang Selatan.

Sepertinya Tuan Panglima Tertinggi yang baru menjabat berniat meluncurkan serangan terbuka dari depan dengan gagah berani. Setelah kuperiksa kembali, Gerbang Selatan memang gerbang terbesar, tapi karena itulah pertahanannya sangat tebal. Kami akan langsung terjun ke tengah-tengah musuh yang sudah bersiaga. Bahkan bagi kami pun, menguasai gerbang itu terlalu mustahil.

Jika ingin menyerang, seharusnya dari Gerbang Timur. Itulah kesimpulanku. Prajurit di sana lebih sedikit daripada di Gerbang Selatan, dan meskipun mereka menutupinya dengan penempatan fasilitas garnisun, masih ada cara untuk membuat kekacauan.

Seharusnya pendapat ini sudah disampaikan melalui Venetim.

Namun, instruksi yang kembali justru seolah mengabaikan segalanya—"Berikan ketakutan pada musuh dengan unjuk kekuatan pasukan besar dari depan, sekaligus menenangkan hati rakyat di Kota Kerajaan Kedua." Ada kemungkinan pesan lewat Venetim tidak tersampaikan dengan baik, tapi pola pikir itu sendiri sudah melenceng. Mana mungkin Fenomena Raja Iblis bisa merasa takut.

Karena itu, aku memutuskan untuk mengambil tindakan tegas.

"Kuasai Gerbang Timur. Datanglah lewat jalan raya Asgarsha," ucapku pada Venetim.

Di sekitar markas "organisasi perlawanan" ini, alias di dalam Distrik Timur, aku sudah menjalankan beberapa langkah gangguan. Dengan memanfaatkan gang-gang sempit dan saluran air bawah tanah, tingkat keamanan setidaknya akan sedikit meningkat.

Aku tahu dalam situasi ini kata "aman" itu omong kosong, tapi aku tetap harus mengerahkan seluruh kemampuanku. Para petualang di "organisasi perlawanan" ini—orang-orang yang gagal atau sudah habis masa jayanya—bukanlah tentara. Secara sosial mereka adalah bajingan yang hanya peduli pada nyawa sendiri, tapi menyusun rencana dengan asumsi mengorbankan nyawa mereka adalah hal yang salah.

Begitulah pikirku. Hanya di dalam hati. Aku tidak mengatakannya pada siapa pun.

Karena Rhino adalah orang pertama yang setuju dengan kebijakan ini, aku memilih untuk semakin bungkam.

(Tapi—aku merasa seolah sedang digiring untuk menyerang Gerbang Timur.)

Mulai dari insiden pembakaran di Gerbang Selatan, aku merasakan firasat itu. Namun, aku tidak punya pilihan selain mengikuti arus. Meski ada banyak jebakan di Gerbang Timur, itu masih lebih baik daripada Gerbang Selatan atau Barat. Tugas kami sebagai tim operasi internal adalah mendeteksi letak jebakan lebih awal dan mengatasinya—atau menjadi tumbal pertama untuk menyingkap bahaya yang ada.

"Begitu ya. Jadi lewat Gerbang Timur?" tanya Venetim dengan nada bingung melalui komunikasi rutin tersebut.

"Sulit ya. Benar-benar sulit. Kebijakan umum sudah diputuskan soalnya."

Saat orang ini menggunakan kata "sulit", artinya "aku rasa itu mustahil, tapi kalau aku bilang langsung nanti kau marah atau menganggapku tidak becus, jadi lebih baik jangan".

Dengan kata lain, justru di saat seperti inilah Venetim harus bekerja.

"Dengar, berkat kalian, informasi internal sudah diketahui, kan? Setidaknya ada tiga ekor Fenomena Raja Iblis, bukan?"

Pemimpin Fenomena Raja Iblis yang sudah pasti ada tiga ekor. Begitulah yang kusampaikan.

Pertama, sang panglima tertinggi, "Abaddon". Detailnya tidak diketahui.

Lalu unit tempur udara, "Shugar". Dia menggunakan semacam senjata jarak jauh yang mengejar target lalu meledak.

Dan "Arvank" yang mengawasi para pelarian. Raja Iblis yang gerakannya lambat tapi luar biasa buas, dengan serangan tebasan yang sangat tajam. Dia bahkan sanggup menebas roboh Menara Radiant Heat.

Lalu mungkin ada satu atau dua ekor Fenomena Raja Iblis lainnya.

"Pertama, terowongan bawah tanah akan ditangani oleh Ksatria Suci Kesembilan dan <<Goddess>> Racun. Sejak awal, bertarung di ruang tertutup adalah keahlian mereka."

"Benar. Kurasa itu penempatan yang tepat."

Pasukan Ksatria Suci Kesembilan yang dipimpin oleh Horde Krivios memang menunjukkan daya hancur tinggi di lingkungan seperti itu. Sepertinya mereka akan melakukannya dengan baik.

"...Lalu, pasukan utama yang dipimpin Sang Saint beserta seluruh sisa tentara akan menyerang secara terbuka dari Gerbang Selatan... Begitulah rencananya."

"Terlalu optimis. Siapa yang menyusun rencana itu?"

Pemusatan kekuatan memang hal yang bagus. Terowongan bawah tanah juga punya daya tekan yang cukup, dan keduanya bisa menjadi target utama. Dengan serangan total seluruh pasukan, kemungkinan menembus Gerbang Selatan memang tinggi.

(Tapi, berapa banyak nyawa yang akan melayang?)

Mengonsumsi nyawa prajurit seperti membuang air, memakan banyak waktu, dan terus merangsek masuk tidak peduli seberapa besar kerusakan yang terjadi. Itu adalah taktik yang hanya mengandalkan kekuatan otot. Jika pertempuran berlarut-larut, kemungkinan penduduk kota digunakan sebagai sandera akan meningkat. Para tentara bayaran pasti akan menjarah tanpa ampun sebelum melarikan diri.

Lagi pula, kami mungkin akan mati. Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin sulit untuk mempertahankan penguasaan wilayah.

(Seharusnya, kita butuh cara bertarung yang cepat dan menentukan dalam satu serangan.)

—Di dalam kepalaku, aku membayangkan wajah dua pria yang kemungkinan memegang komando dalam pertempuran kali ini.

Wajah kaku nan serius milik Horde Krivios dari Ksatria Suci Kesembilan.

Dan seringai sinis yang merendahkan orang lain milik Adif Twibel dari Ksatria Suci Kedelapan.

Mungkinkah mereka berdua menyusun rencana seperti ini? Aku tidak terlalu mengenal Horde, tapi Adif, yang biasa mengoperasikan para pelayan "Bayangan", memiliki catatan prestasi yang cukup bagus dalam melawan Fenomena Raja Iblis di wilayah barat. Aku pernah bertarung bersamanya. Taktik Adif lebih cenderung teliti daripada mahir atau berani.

Mungkinkah dia melakukan hal seceroboh ini?

"Anu... ini adalah perintah dari Tuan Panglima Tertinggi yang datang dari Galtuil," ucap Venetim, menyampaikan hal yang mengerikan seperti dugaanku.

"Marcolas Esgain, Gubernur Jenderal Angkatan Darat Wilayah Kedua Utara. Dia adalah salah satu bangsawan penyumbang dana besar bagi operasional Ksatria Suci. Sepertinya dia memiliki hak suara yang sangat kuat..."

"Esgain, ya. Jadi dia sudah kembali."

Venetim pasti mendengar decakan lidahku. Begitulah betapa merepotkannya orang itu.

Dalam sistem Galtuil, di bawah Panglima Tertinggi terdapat jabatan Gubernur Jenderal Wilayah. Jika menggunakan istilah Kerajaan lama, ini setara dengan pangkat "Jenderal". Sebagai orang yang mengoordinasi garis depan di setiap wilayah, seingatku ada tujuh atau delapan orang. Sekarang mungkin lebih banyak. Di antaranya, Esgain terkenal sebagai Gubernur Jenderal yang hanya mengandalkan kemuliaan nama keluarganya. Karena dia sudah ada sejak aku masih menjadi Ksatria Suci, sepertinya dia belum juga lengser.

Keluarga Esgain banyak memberikan bantuan dana, sehingga sedikit orang di militer yang berani memprotesnya.

Namun, ini adalah salah satu kasus terburuk. Ibarat seorang penyumbang dana yang suka menonton pertunjukan, lalu mendirikan kelompok teater sendiri dan merangkap jadi penulis naskah, pemeran utama, sekaligus sutradara. Orang yang bisa melakukan hal seperti itu hanyalah segelintir genius yang muncul sekali dalam beberapa ratus tahun sejarah.

Marcolas Esgain merasa dirinya adalah salah satu dari segelintir orang genius itu.

"Jika ingin menyerang, lewatlah Gerbang Timur. Lakukan sesuatu untuk mengubah rencana itu."

"Meskipun Anda bilang begitu, itu sulit..."

"Jika tidak bisa seluruh pasukan, kalian saja sudah cukup. Kirimkan Patausche dan Teoritta kepadaku."

Aku menyebutkan syarat minimal yang bisa kupikirkan.

"Terutama Patausche. Dia pasti bisa melakukannya dengan baik."

Maksudku, dia pasti bisa menerobos dan sampai ke sini. Patausche Kivia sangat mengerti cara menangani kavaleri. Dalam pertempuran barisan belakang di Perbukitan Tujin Tuga beberapa waktu lalu, dia berkali-kali berhasil menembus kepungan musuh untuk memulihkan formasi kawan yang hampir hancur.

Tentara yang benar-benar bisa diandalkan adalah mereka yang mampu menunjukkan kekuatannya justru dalam kondisi terdesak seperti itu.

"Mungkin dengan begitu, kita bisa melakukan sesuatu. Mungkin. ...Jika kita beruntung."

"Anu, apa yang harus kulakukan dengan permintaan mustahil itu?"

"Minta tolonglah pada Adif. Dia adalah tipe orang yang mungkin—hanya mungkin—bisa diajak bicara kalau kau menjelaskannya."

"Eeeh... anu, bukankah itu terlalu sembrono?"

"Aku tidak mau dengar itu darimu. Lalu, jangan lupa bawa Magical Cannon Armor milik Rhino saat kita bergabung nanti. Sisanya kuserahkan padamu."

"Ah, Xylo-kun, tunggu sebentar..."

Venetim masih ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak mau mendengarnya. Aku memutus komunikasi dan berbalik.

Tepatnya, berbalik ke arah Rhino dan Dotta.

"Venetim bilang segalanya berjalan lancar, jadi mari kita semua berjuang."

"Itu pasti bohong!" seru Dotta seperti menjerit.

Dia sangat lemah akibat kerja paksa selama dua hari terakhir, dan wajahnya pucat pasi. Dia baru saja bisa beristirahat sejenak dan memakan bubur gandum serta babi panggang rempah yang agak mendingan.

"Begitu Venetim mengatakannya, Venetim sudah tidak bisa dipercaya, dan begitu Xylo yang menyampaikannya, tingkat ketidakpercayaannya makin bertambah! Ada dua poin yang tidak bisa dipercaya di sini!"

"Bukankah kalau sudah berputar satu lingkaran penuh malah jadi bisa dipercaya?"

"Tidak mungkin!"

Dotta menunjukkan wajah putus asa. "Kenapa jadi begini... Padahal aku baru saja kembali dari tempat perbaikan, aku ini masih dalam masa pemulihan tahu!"

"Tapi kau terlihat sehat, itu yang terpenting. Kawan Dotta," ucap Rhino sendirian, memberikan komentar yang meleset. Seperti biasa, dengan senyuman mencurigakan yang tertempel di wajahnya, dia menenggak anggur curian Dotta yang dicampur buah kering dan dihangatkan.

Orang ini tidak pernah terlihat mabuk seberapa banyak pun dia minum. Seolah-olah dia hanya meminum air hangat.

"Lagi pula, sepertinya kau memiliki ajudan prajurit yang cukup menarik ya. Siapa namanya?"

"Trisir... Tidak, jabatan ajudan itu juga cuma pengakuannya sendiri. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya." Dotta membantah dengan sangat keras.

Untungnya, Trisir tidak ada di sini. Dia sedang membersihkan diri bersama Frensi di fasilitas pemandian bawah tanah yang memanfaatkan mata air panas. Kota Kerajaan Kedua memang memiliki fasilitas air bersih yang lengkap. Selain itu, Trisir entah kenapa tampak sangat akrab dengan Frensi. Mungkin karena kepribadian mereka mirip.

"Benar juga. Trisir." Rhino bergumam pelan, lalu menunjukkan tatapan jauh seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Lengan kanannya cukup menarik. Sepertinya itu bukan milik manusia, ya?"

"Ah, iya. Katanya... lengan kanan Variant Fairy ditanamkan ke tubuhnya. Berkat itu, dia bisa dengan mudah membaur di antara kawanan Variant Fairy, dan itu sangat membantu saat kami menyelinap ke sini."

"Hah?" Aku spontan berteriak. Saking terkejutnya.

"Apa-apaan itu? Apa lengan kanan Variant Fairy bisa ditanamkan ke tubuh manusia?"

"Sepertinya bisa. Katanya kekuatan fisiknya juga jadi kuat hanya di lengan kanan itu."

"Kenapa kau menerimanya begitu saja! Harusnya kau lebih heran, tahu!"

"Itu bukan hal yang mustahil, Kawan Xylo," ucap Rhino sambil mengangguk dengan ketenangan yang menjengkelkan.

"Variant Fairy pada dasarnya adalah makhluk yang telah menjadi Raja Iblis. Mereka punya kekuatan untuk menginvasi dan menyerap makhluk hidup lain. Jika daya tahan orang tersebut... sebut saja kekuatan hidup... atau kekuatan jiwa mereka seimbang, ada kemungkinan proses asimilasi terhenti di tengah jalan."

"Kau tahu banyak ya. Apa kau membawa pulang daging Variant Fairy sesekali karena sedang melakukan eksperimen semacam itu?"

"Yah, begitulah."

"Eeeh...? Kalau begitu, Rhino... aku juga sudah lama ingin menanyakannya," ucap Dotta dengan suara ragu-ragu.

"Bukan cuma mayat Variant Fairy, bukankah terkadang kau juga membawa pulang mayat manusia?"

"Itu hanya perasaanmu saja. Untuk apa aku perlu membawa pulang mayat manusia?"

"Kalau ditanya begitu aku tidak bisa menjelaskannya, tapi... anu, seperti membedah atau memakannya..."

"Untuk apa aku melakukan hal itu?"

"Ti-tidak, maksudku kalau Rhino yang melakukannya sepertinya masuk akal saja..."

"Kenapa harus aku?"

"Ah, ya sudah kalau begitu..."

"Haha! Kawan Dotta memang lucu ya. Kau mengeluarkan teori baru satu demi satu. Sangat menarik."

Rhino tertawa ceria, sehingga Dotta pun terdiam.

Itu pilihan yang bijak, dan aku setuju. Tidak ada gunanya menggali lebih dalam hobi menjijikkan Rhino. Ada sesuatu pada diri Rhino yang membuatku merasa tidak ingin berbagi rahasia apa pun dengannya.

Tapi, itu masalah lain.

Entah dia menyimpan mayat manusia untuk dimakan atau membedah mayat Variant Fairy, itu bukan masalah besar.

Dia memang orang yang sama sekali tidak bisa dipercaya, tapi di samping itu, Rhino adalah penembak meriam tingkat tertinggi yang pernah kukenal.

Setidaknya, tidak ada manusia lain di dunia ini yang bisa melakukan apa yang dia lakukan.

"Rhino. Mulai sekarang, Venetim akan bergerak agar serangan dilakukan dari Gerbang Timur bagaimanapun caranya. Setidaknya dia akan mengirimkan Magical Cannon Armor milikmu. Setelah itu, aku akan membuatmu bekerja sampai mati."

"Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku. Di depan Kawan Xylo dan Kawan Dotta, aku tidak boleh menunjukkan pertarungan yang memalukan."

"Aku sih kalau bisa tidak ingin bekerja..."

"Target kita hanya satu." Mengabaikan Dotta, aku menunjuk satu titik di peta yang terbentang di lantai. Bagian utara kota, Kastel Kerajaan.

"Komandan Fenomena Raja Iblis, 'Abaddon'. Kita bunuh dia. Dengan begitu perang ini akan berakhir."

"Ya. ......Ya, luar biasa..." Aku bisa merasakan Rhino menjilat bibirnya.

"Aku akan mengikutimu sampai mati, Kawan Xylo. Sebuah kehormatan bisa bertarung bersamamu."

"Menjijikkan." Dotta mengerang pelan. Aku benar-benar sependapat dengannya.


Hukuman

Pertempuran Sengit Jalur Perak Asgarsha 3

Tenda itu jauh lebih berantakan daripada yang kubayangkan.

Rasanya benar-benar tidak sesuai dengan gelar Komandan Ksatria Suci Kedelapan yang disandangnya.

Adif Twibel. Saat pertama kali melihat pria itu, dia tampak seperti orang yang selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat, atau bahkan memancarkan aura yang begitu elegan.

Karena itulah, aku terkejut melihat tenda pribadinya. Benda-benda tak berguna yang tampak seperti rongsokan, rak yang terbuka setengah, hingga pakaian yang menggulung sembarangan memenuhi pandangan.

Namun, kekacauan aneh di dalam tenda ini mungkin disebabkan oleh sang "Goddess", Kerflora.

Saat Venetim masuk, dia sedang asyik memainkan teka-teki klasik yang terbuat dari jalinan kawat tebal. Atau lebih tepatnya, dia tampak sedang bergulat dengan benda itu.

"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu," kata Venetim saat meminta waktu untuk berbicara.

Adif kemudian menyuruh Kerflora untuk pergi bermain di luar. Alih-alih sebuah perintah, itu terdengar lebih seperti permintaan dari kerabat yang jauh lebih tua.

Kerflora mengangguk tanpa kata. Dia mengambil segenggam manisan dari rak yang terbuka setengah, lalu melangkah keluar dari tenda.

Jika bukan karena penampilannya yang terlalu sempurna dan ekspresi sedingin es, gerak-geriknya benar-benar hanya terlihat seperti anak kecil biasa.

"──Jadi, kamu ingin mengatakan ini kepada kami?"

Setelah mendengar seluruh keperluan itu, Adif yang masih duduk di kursi lipat melirik Venetim yang berdiri tegak dengan tatapan merendah.

Sepasang matanya seolah sedang mengejek. Atau mungkin, itu memang tatapan bawaannya sejak lahir.

"Operasi dari gubernur yang diangkat secara resmi oleh Galtuill memiliki kesalahan. Jadi, kami harus mendengarkan pendapat kalian para Terpidana Pahlawan dan mengubah rencana di saat-saat terakhir ini──begitu?"

Suara Adif sedikit bercampur dengan tawa.

"Menyampaikan hal itu dengan lantang di hadapanku, kamu punya nyali yang cukup besar."

Memang benar, pikir Venetim. Namun, tidak ada cara lain.

Dalam operasi perebutan kembali Zeialente, Ibu Kota Kerajaan Kedua ini, hanya ada tiga orang yang terlibat dalam keseluruhan rencana operasi.

Gubernur Angkatan Darat Front Utara Kedua dari Galtuill, Marcoras Esgain.

Komandan Ksatria Suci Kedelapan, Adif Twibel.

Dan Komandan Ksatria Suci Kesembilan, Hord Krivios.

Di antara ketiganya, bertemu langsung dengan Marcoras adalah hal yang mustahil. Diusir sebelum sampai ke pintu saja sudah termasuk beruntung; salah-salah malah bisa dicari-cari kesalahannya.

Di sisi lain, menemui Hord Krivios bukannya tidak mungkin. Dia juga sedikit mengakui keberadaan Terpidana Pahlawan.

Namun, itu hanya sebatas pengakuan atas kekuatan tempur. Dan yang terpenting, dia orang yang terlalu serius.

──Karena kondisinya seperti itu, tidak ada pilihan selain mencoba bicara pada satu orang yang tersisa.

Adif Twibel.

Menurut Xylo, dia adalah tipe orang yang 'kalau diajak bicara, mungkin bukan berarti dia tidak akan mengerti'.

Venetim ingin sekali mengeluh karena harus bekerja berdasarkan informasi ambigu seperti itu, tapi dia sendiri pun sudah putus asa──agar tidak mati. Jika Xylo bilang mereka harus menyerang dari gerbang timur, maka itu pasti benar.

"……Kita harus memusatkan seluruh pasukan dan menyerang dari gerbang timur. Tentu saja, setelah menempatkan unit terpisah untuk pengepungan."

Venetim mengulangi argumennya yang tadi.

"Menyerang dari gerbang selatan adalah strategi yang bodoh. Kerugian yang diperkirakan terlalu besar, dan umat manusia akan kesulitan untuk terus bertarung di 'masa depan'. Ini harus dikoreksi. Ya──"

Venetim menarik napas di sana.

Dari nada suara Adif sejauh ini dan pergerakan ekspresinya yang halus, dia mencoba memikirkan gaya bicara seperti apa yang disukai pria ini.

Tidak masalah jika itu bukan kebenaran. Bagi Venetim, yang terpenting adalah dia bisa disukai oleh lawan bicaranya.

"Jujur saja, kebijakan operasi Yang Mulia Gubernur Marcoras Esgain memiliki masalah. Aku hanya bisa menegaskannya seperti itu."

Venetim merasa dirinya baru saja melontarkan kata-kata yang sangat kasar. Tapi belum cukup. Kata-kata selanjutnya akan jauh lebih provokatif.

"Oleh karena itu, aku ingin Anda mempertimbangkan nasihat dari unit Terpidana Pahlawan kami. Sebelum kesalahan fatal terjadi, aku mohon bantuan Komandan Ksatria Suci Twibel. Bisa dikatakan, kami berniat memanfaatkan Anda──begitulah."

Bahkan setelah rentetan kata-kata itu, ekspresi Adif hampir tidak berubah sama sekali.

"Kami juga tidak ingin mati, soalnya."

Venetim merasa Adif adalah tipe orang yang sangat menyukai humor mencela diri sendiri seperti ini. Gaya bicaranya yang sinis adalah buktinya. Mungkin, dia juga pria yang sadar akan hal itu.

"……Kejujuran adalah hal yang baik. Meski tergantung pada waktu dan situasinya."

Adif menyeruput teh yang baru saja dia tuang sendiri. Gerakannya tetap terlihat elegan, ciri khas bangsawan kelas atas.

"Sebenarnya, aku pun berpendapat sama. Operasi dengan kerugian yang terlalu besar──tapi, aku juga tidak ingin membahayakan posisiku sendiri."

Venetim merasa seolah-olah sedang diuji.

"Lawanmu adalah kepala keluarga Esgain. Jika aku menentang ini, ada kemungkinan aku akan berada dalam posisi sulit dalam pertempuran dan masalah politik di masa depan. Mereka bisa saja mencari-cari alasan untuk mengurangi pendanaan bagi Ksatria Suci Kedelapan milikku──hal semacam itu sangat mungkin terjadi."

Itu masuk akal, dan Venetim setuju dengan bagian itu.

Ini bukan sekadar masalah emosi atau gengsi. Jika orang setingkat Adif Twibel melayangkan keberatan, maka niat permusuhan terhadap keluarga Esgain akan dicurigai.

"Sebagai Komandan Ksatria Suci, aku juga memiliki kewajiban untuk melindungi Kerflora dan para prajurit. Bisa dikatakan itu adalah prioritas utamaku. Aku tidak ingin membuat mereka kesulitan karena terkena pelecehan dari keluarga Esgain."

Lalu, Adif kembali menatap Venetim.

"Atau, Kapten Venetim. Bisakah kamu memberikan keuntungan yang sepadan, atau mungkin strategi untuk menghindari permusuhan tersebut?"

"Ya. Tentu saja."

Venetim menjawab seketika.

Lalu dia menyesal segera setelah menjawabnya. Tapi apa boleh buat. Karena sudah terlanjur diucapkan, dia harus menyelesaikannya.

Seperti biasa, setiap kali berbohong, dia merasa seolah kepalanya pusing. Adif menyipitkan mata melihat Venetim. Dia mungkin sedang tersenyum.

"Kamu yang menerima Hukuman Pahlawan karena kejahatan penipuan, aku benar-benar tidak habis pikir keuntungan seperti apa yang bisa kamu tawarkan."

"……Memang benar aku dipenjara karena dosa penipuan. Namun, penipuan adalah hal yang sulit dilakukan tanpa modal minimal. Hal pertama yang harus dilakukan seorang penipu, di atas segalanya, adalah mencari dana."

Sambil berbicara, Venetim merasa tenggorokannya kering. Dia ingin minum air. Teh seperti yang sedang diminum Adif pun tidak masalah.

"Untungnya, aku memiliki dana yang bisa kugunakan dengan bebas. Dan aku terus mengamankannya hingga saat ini."

"Apa kamu sedang membicarakan harta karun yang disembunyikan? Semacam harta karun terpendam. Tiba-tiba saja aku jadi tidak tertarik. Kamu harus memilih lawan bicara jika ingin membual dengan cerita yang tidak masuk akal."

"Bukan. Ini tentang brankas milik Perusahaan Pengembangan Varkul."

Kemudian, Venetim menyingsingkan lengan baju kirinya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan.




Di lengan itu, terdapat tato yang terlihat jelas seperti empat garis lurus. Aku bisa merasakan tatapan tajam Adif yang memperhatikan dengan sebelah mata menyipit.

"Perusahaan Varkul adalah organisasi yang sangat antusias dalam mengumpulkan sumber daya manusia. Mereka memungut anak-anak yang menjanjikan, membesarkannya, dan saat mereka siap mandiri, perusahaan menyediakan dana dalam bentuk pinjaman. Itu pun dalam bentuk koin emas Kerajaan Lama. Jumlahnya ditentukan oleh banyaknya garis ini."

Jumlah pinjaman tersebut dilambangkan melalui tato. Jika sampai empat garis, itu adalah nominal yang cukup untuk segera mempekerjakan orang dan membuka bisnis skala besar; sesuatu yang sangat jarang ada.

"Aku masih menyimpan dana itu. Perusahaan Varkul yang mengelolanya. Saat aku dipenjara, harta pribadiku memang disita, tapi mereka tidak bisa menyentuh apa yang ada di dalam brankas perusahaan."

"Secara hukum, itu pun seharusnya ikut disita, bukan?"

"Perusahaan Varkul tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan aku, masih memiliki hak untuk menarik dana tersebut."

"Meski statusmu seorang kriminal?"

"Meski seorang kriminal. Varkul adalah organisasi yang seperti itu. Lagipula──"

Venetim mengucapkan kelanjutannya, berusaha membuatnya terdengar seSantai mungkin.

"Lagipula aku bukan anak angkat, melainkan putra garis keturunan langsung dari keluarga Varkul. ……Jika Anda mau menerima pendapatku, aku menjanjikan dukungan politik dan ekonomi dari Perusahaan Varkul."

Hening tercipta selama beberapa detik.

Adif memejamkan sebelah matanya. Mungkin itu kebiasaannya saat sedang berpikir keras. Sekitar satu menit berlalu dalam kondisi seperti itu.

"……Nama keluarganya berbeda. Namamu adalah Venetim Leopool."

"Dalam catatan sipil, memang tertulis begitu."

Masalah catatan sipil bisa diatur sedemikian rupa. Dulu, aku bahkan pernah memiliki tiga identitas yang berbeda.

"Silakan selidiki masalah ini sesuka Anda. Karena yang akan Anda temukan hanyalah fakta."

"Begitu, ya."

Adif mengangguk sedikit.

"Aku tahu tentang tato itu. Itu cocok dengan ingatanku. ……Tapi, tidak ada waktu luang untuk menyelidikinya sekarang."

"Benar. Selagi Anda menyelidikinya, banyak bawahan Anda yang akan mati."

Venetim menarik kembali lengan bajunya. Cap pengkhianat ini bukanlah sesuatu yang ingin dia pamerkan kepada orang lain.

"Anda bilang memiliki kewajiban untuk melindungi bawahan dan menghindari kesulitan bagi mereka. Jika demikian, Anda harus bertarung dengan cara yang mengutamakan nyawa mereka. Alih-alih takut pada konflik politik di masa depan, pikirkanlah prajurit yang mungkin terbunuh besok."

"……Setelah membuat lawan goyah, lalu mencampurkan elemen emosional di akhir, dan mencoba menutupnya dengan logika yang digunakan lawan itu sendiri. ……Hmm."

Sudut mulut Adif terangkat, membentuk senyum tipis.

"Tidak buruk. Bahkan jika itu bohong, bagian terakhirnya selaras denganku. Jika aku menggunakan logika sebagai Komandan Ksatria Suci, aku terpaksa setuju dengan kesimpulan itu──artinya, sepertinya kamu cukup berguna."

Entah kenapa, Venetim merasakan firasat buruk. Dia bisa merasakan bahwa lawan bicaranya sedang bersenang-senang.

"Venetim Leopool. Tidak, jika ceritamu benar, Venetim Varkul. Aku bisa memaksakan revisi rencana operasi ini. Kita juga bisa mendapatkan dukungan dari Pangeran Ketiga dan Putri Ketiga. Mereka berdua sangat menghargai unit Terpidana Pahlawan kalian."

Venetim membayangkan wajah kedua orang itu. Upaya untuk menolong mereka waktu itu sebenarnya hanyalah tindakan berdasarkan suasana hati Dotta yang berubah-ubah, tapi sepertinya memberikan keuntungan.

"Tapi di saat yang sama, dengan menentang keluarga Esgain, aku──tidak, seluruh Ksatria Suci akan memiliki musuh politik yang besar. Tentu saja itu setelah operasi ini berakhir. Bisa dibilang, perang politik akan dimulai."

"Ya."

Venetim mengangguk, berpura-pura mengerti meski sebenarnya tidak tahu apa-apa.

"Sepertinya akan begitu."

"Kalau begitu, biarkan aku memanfaatkanmu. Lebih tepatnya, unit Terpidana Pahlawan kalian."

Adif berdiri. Ternyata dia lebih tinggi dari perkiraan. Dan dengan tatapan yang berubah drastis menjadi sangat mengintimidasi, dia menatap tajam ke arah Venetim.

"Aku akan memanfaatkan lidahmu itu. Jangan sampai lupa. Kamu baru saja berutang padaku juga."

"Jika demikian, dengan senang hati."

Venetim tersenyum lemah. Dia tahu betul bahwa terkadang sikap seperti itu justru memberikan kesan menyeramkan.

"Karena aku pun punya tujuan sendiri. Untuk itulah, aku memanfaatkan Anda."

Ini adalah kebohongan total.

Dia tidak memiliki tujuan khusus apa pun──hanya saja, pria seperti Adif pasti akan menyukai sikap yang seperti itu. Venetim sangat yakin akan hal itu.

Bahkan jika penyamarannya terbongkar, atau justru karena terbongkar, Adif pasti akan menikmati sosok dirinya yang konyol ini.

Saat keluar dari tenda Adif Twibel, Tatsuya, Patausche, dan Jace sudah menunggu.

Venetim merasa sedikit aneh. Patausche dan Tatsuya memang menunggu untuk mendengar hasil negosiasi, tapi Jace berbeda.

(Tumben sekali.)

Dia adalah pria yang jarang keluar dari kandang naga. Di antara unit Terpidana Pahlawan pun, dia yang paling enggan berinteraksi dengan orang lain. Paling-paling hanya saling melontarkan makian dengan Xylo.

Sepertinya dia baru saja berbicara cukup lama dengan Patausche.

"Ada apa, Jace-kun?"

Saat disapa, Jace menatap tajam dengan pandangan khas anak remaja yang sedang memberontak.

"Ada informasi. Keadaan jadi merepotkan."

"Lebih dari sekarang? Padahal aku sudah punya banyak masalah."

"Ada musuh yang menyebalkan. Mungkin lebih buruk daripada Fenomena Raja Iblis Shugar."

Nada bicaranya penuh kebencian. Ini berbeda dengan kekesalan setengah bercanda saat dia bicara tentang Xylo. Venetim merasakan rasa jijik yang tulus di sana.

"Aku datang untuk menyampaikan ini. Tadi aku naik ke langit untuk patroli, lalu terjadi bentrokan kecil dengan para Fairy tipe terbang di Ibu Kota Kedua. Cara bertarung musuh jelas sudah berubah."

"Katanya ada perubahan besar dalam taktik mereka."

Patausche juga memasang wajah yang cukup serius. Venetim sebenarnya tidak mengerti, tapi dia memutuskan untuk mengangguk saja.

"Begitu ya. Jadi? Musuh seperti apa itu?"

"Sepertinya mereka melakukan sesuatu seperti jebakan dengan memanfaatkan awan. Sebagai taktik, itu adalah tindakan yang tidak pernah ada pada Fairy tipe terbang sebelumnya."

"Terlebih lagi, mereka melakukan pengepungan. Gerakan itu jelas dimaksudkan untuk memusnahkan kami. Kalau bukan aku dan Neely yang bertugas, kami pasti sudah habis."

Jace melepas kacamata badainya dan menatap bagian kacanya. Ada retakan di sana. Ini juga pemandangan langka──artinya situasi tadi cukup berbahaya hingga membuat perlengkapan Jace rusak.

"Aku mengenali cara bertarung itu. Karena aku juga menjadikannya referensi──dulu, saat pemberontakan yang kulakukan, ingat?"

"E-eh. Ya. Aku tahu sih……. Itu tentang serangan mendadak dan pendudukan benteng yang gila-gilaan itu, kan?"

"Benar. Saat itu dia berada di posisi seperti wakilku. Namanya Tovitz Huker."

Ini mungkin pertama kalinya Venetim mendengar cerita tentang saat Jace melakukan pemberontakan. Memang kabarnya saat itu bukan hanya naga, tapi beberapa perwira juga ikut bergerak mengikuti Jace.

"Dia seharusnya dijebloskan ke penjara Ibu Kota Kedua, jadi kemungkinannya tinggi. Kalau orang itu memihak musuh, baik langit maupun darat akan jadi merepotkan."

"O-oh."

"Kau ini, jawabanmu seperti tidak mengerti sama sekali."

Patausche menggelengkan kepala dengan ekspresi lelah.

"Ini bukan sekadar masalah munculnya individu Fairy yang kuat atau bertambahnya Fenomena Raja Iblis. Level taktik mereka telah berubah drastis. Artinya pertempuran setelah ini akan jauh lebih berat──termasuk perebutan Ibu Kota Kedua kali ini."

"O-oh……"

"Hmph. Berhenti saja mencoba membuat si bodoh ini mengerti masalah seperti itu."

Jace mendengus, menyerah pada kemampuan pemahaman Venetim. Bagi Venetim, itu justru jauh lebih melegakan.

"Intinya, bantuan dari langit ke darat jadi luar biasa sulit. Jangan berharap banyak, Patausche."

"Aku mengerti. Lagipula sejak awal aku tidak berniat bergantung sepenuhnya. Selain itu, apakah pria bernama Tovitz itu tidak punya kelemahan? Akan sangat membantu jika kita tahu kecenderungan cara bertarungnya."

"Kelemahan, ya."

Sejenak, Jace tampak berpikir. Segera setelah itu, dia bergumam ketus.

"Dia tidak akan melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan. ……Entah itu bisa disebut kelemahan atau bukan. Artinya, dia hanya bergerak saat dia yakin bisa berhasil. Atau, saat dia sudah menyiapkan asuransi jika gagal."

"Jika itu benar, bukankah seharusnya pemberontakanmu dulu berhasil?"

"……Artinya ada elemen yang tidak bisa dia prediksi sepenuhnya. Dia mungkin tidak berniat tertangkap, tapi pada akhirnya, kemampuan intelijen manusia berhasil menangkapnya."

"Hanya itu celahnya, ya."

"Ya. Aku tidak tahu lebih dari itu. Kami tidak berhubungan selain sebagai atasan dan wakil. Karena aku memang tidak menyukainya."

Venetim melihat wajah Jace yang semakin tidak senang.

"Dia tipe orang yang hidup seolah hanya untuk membunuh waktu. Tidak punya obsesi pada apa pun. Tapi, karena dia sudah memutuskan keluar dari penjara untuk bertarung, dia pun──tidak──"

Jace bungkam sebelum menyelesaikan kalimatnya, lalu berbalik pergi. Dia berjalan dengan langkah lebar yang menyiratkan kekesalan di hatinya.

"……Terserahlah. Pokoknya kita perlu memikirkan cara bertarung. Aku akan bicara sebentar dengan Norgalle──urusan darat, kalian uruslah sendiri. Segera kembalikan si bodoh Xylo itu ke unit."

"Aku mengerti. Akan kuusahakan sebaik mungkin."

"Berusaha saja tidak akan cukup. Perebutan Ibu Kota Kedua akan memasuki tahap krusial mulai sekarang."

Patausche menatap Venetim dengan mata yang serius dan tegang seperti biasanya.

"Sepertinya kau juga sudah selesai bernegosiasi dengan Adif Twibel. Bagaimana hasilnya?"

"Hampir semuanya berjalan lancar. Rencana operasinya diubah. Meski aku jadi harus memikul satu utang budi. Serangannya akan dilakukan dari gerbang timur. Penyerangan akan dimulai besok saat senja."

"Begitu. Baguslah."

Pipi Patausche sedikit mengendur. Itu adalah senyum yang lebih mirip dengan rasa lega.

"Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Jika Xylo memang meminta bantuanku, akan kuhancurkan gerbang timur itu untuknya."

"……E-eh. Ya. Benar sekali."

"Katanya aku boleh memimpin kavaleri dari Ksatria Suci Ketiga Belas yang dulu lagi. Begitu gerbang hancur, kami akan melakukan terobosan cepat. Tidak akan kubiarkan siapa pun menghalangi."

"Aku mengandalkanmu. Xylo-kun juga bilang dia sangat bergantung pada pasukan kavalerimu."

"Tentu saja."

Jawabnya sambil membusungkan dada.

Tampaknya menyampaikan pesan dari Xylo kepada Patausche dengan sedikit dilebih-lebihkan memberikan efek yang baik. Suasana hatinya membaik secara drastis, dan atmosfer unit pun meningkat pesat. Jace tetap terlihat kesal, tapi setidaknya dia masih punya tenaga untuk mengeluh saat Venetim datang.

"Kalau begitu, aku juga akan bersiap untuk berangkat. Kau juga jangan terlambat. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang menjadi beban."

"Aku mengerti."

Venetim berpikir, jika dia memang menjadi beban, dia lebih suka ditinggalkan saja. Meski begitu, dengan ini permintaan Xylo sudah terpenuhi──apakah peluang untuk bertahan hidup akan meningkat?

(Meski bayarannya sepertinya tidak murah.)

Venetim menepuk bahu Tatsuya dan mulai berjalan. Tatsuya baru saja kembali dari tempat perbaikan, tapi katanya sudah tidak ada masalah untuk kembali bertugas. Sepertinya dia sudah siap untuk bertempur.

"Ayo pergi, Tatsuya."

"Uu."

Menanggapi erangan kecil Tatsuya, di belakang terdengar suara sorak-sorai para prajurit. Kalau dipikir-pikir, sebentar lagi adalah waktunya sang "Saint" menampakkan diri. Mungkin untuk meningkatkan moral pasukan.

(……Hal seperti apa yang akan diperintahkan padaku.)

Venetim memikirkan hal itu. Jika Xylo tahu tentang perjanjian rahasia yang dia buat dengan Adif, apakah Xylo akan memukulnya lagi? Dia tidak mau itu terjadi.

Namun──

(Jika ketahuan aku berbohong seperti ini, apakah Kakak Phizius akan marah?)

Venetim menyadari dirinya sedang memegangi lengan kirinya. Ada bagian dari apa yang dia katakan pada Adif yang sengaja dia sembunyikan. Pertama, soal utang pada Perusahaan Varkul. Dia bukanlah orang yang begitu diharapkan hingga layak diukir empat garis. Tiga garis di antaranya adalah tambahan yang dia buat sendiri untuk menggertak.

Dan meskipun dia adalah putra garis keturunan langsung keluarga Varkul──dia hanyalah orang yang dibuang secara rahasia sebagai aib keluarga.

Ada orang lain dengan kelahiran yang persis sama dan riwayat hidup hingga usia empat belas tahun yang masih terdaftar namanya di silsilah keluarga Varkul. Fakta bahwa dirinya dijatuhi Hukuman Pahlawan tidak mungkin dibocorkan ke luar.

(Aku tidak mau dimarahi Kakak.)

Atau, apakah kakaknya akan benar-benar mengabaikannya secara total?

Itu justru jauh lebih baik.

Hari itu, Tsav melihat sesuatu yang aneh.

Itu terlihat seperti seorang gadis manusia yang sedang berjongkok. Tenda tempat para Terpidana Pahlawan tinggal terletak di bagian paling ujung Tujin Bahak, tapi ini adalah gudang penyimpanan logistik sementara yang letaknya lebih jauh lagi dari tenda tersebut.

Gadis itu berjongkok, seolah terselip di antara celah logistik yang berantakan.

Dengan posisi memeluk kepala──warna rambutnya merah membara.

(Apa-apaan ini?)

Pikir Tsav, lalu memutuskan untuk berhenti melangkah. Itu karena dia sudah sangat lelah. Di punggungnya, dia memikul keranjang besar. Keranjang yang penuh berisi pelat logam dasar untuk pengukiran segel suci. Bagaimanapun juga, itu terlalu berat.

"Apa yang kau lakukan, Tsav!"

Norgalle yang berjalan di depan menegurnya.

"Tidak ada waktu untuk dihambur-hamburkan! Segera kembali ke ruang kerja-Ku dan mulailah mengukir!"

Orang yang bersemangat sekali, pikir Tsav.

Tentu saja begitu, karena Norgalle tidak membawa beban apa pun. Pelat logam dasar untuk mereka berdua semuanya dijejalkan ke dalam keranjang yang dipikul Tsav. Mau bagaimana lagi karena orangnya sendiri sama sekali tidak berniat membawa barang.

(Yah, namanya juga Yang Mulia.)

Tsav sangat mengerti. Norgalle, bahkan jika akan dibunuh sekalipun, tidak akan mau menerima pekerjaan kasar seperti ini. Karena itu ancaman pun tidak ada gunanya, dan lagipula, keberadaan Norgalle adalah salah satu hal paling berharga di unit Terpidana Pahlawan. Dia bukan sekadar membunuh seratusan Fairy. Nilainya jauh lebih besar dari itu.

Oleh karena itu, Tsav tidak keberatan membawakan logistik untuk dua orang──tapi lelah tetaplah lelah.

"Tunggu sebentar, Yang Mulia."

Demi bisa istirahat barang sejenak, Tsav menurunkan keranjang bebannya dan menunjuk ke arah kakinya. Seorang gadis yang sedang berjongkok.

"Kayaknya ada orang yang butuh bantuan, deh. Ada anak yang kelihatan kurang sehat di tempat kayak gini."

"Apa katamu!"

Norgalle mendekat dengan langkah kaki yang kasar. Sesuai dugaan, perhatiannya teralihkan. Tsav memanfaatkan kesempatan ini untuk memutar-mutar bahunya yang sakit dan beristirahat dengan serius.

"Anu, Nona?"

Tsav membungkuk, mencoba mengintip wajah gadis itu.

"Lagi apa di tempat kayak begini? Ada yang lucu ya? Serangga langka atau semut──atau Nona ini tipe orang yang suka sama tanah?"

"T-tidak……"

Gadis itu hanya menggelengkan rambut merah membaranya tanpa mengangkat wajah.

"Bukan seperti itu…… terima kasih atas perhatiannya……"

"Hmm. Sepertinya kondisi fisikmu sedang tidak baik."

Norgalle menatap gadis itu dan mengangguk mantap.

"Apakah kamu bisa berjalan?"

"A-aku…… baik-baik saja. Maaf. Aku tidak sedang sakit…… kalau istirahat sebentar, pasti nanti sudah tidak apa-apa. Tolong jangan dipikirkan…… benar-benar…… aku tidak apa-apa."

"Hmm. Sepertinya mustahil."

Norgalle seolah mengabaikan perkataan gadis berambut merah itu.

(Anak ini kenapa, ya?)

Memang, di mata Tsav pun gadis itu terlihat sangat lemah. Karena tidak terlihat terluka, mungkin ini masalah stamina atau mental.

"Tsav, bawa dia dengan sopan. Mungkin dia gadis desa dari sekitar sini. Antarkan dia sampai ke orang tuanya."

"Ngomong apa sih, Yang Mulia. Mana mungkin ada warga sipil di tempat kayak gini, ini kan benteng sementara."

Tsav merasa heran. Karena dia berjongkok di area penyimpanan logistik seperti ini, dia pasti bawahan kelas rendah dari unit mana gitu. Di sebelah mana dari Gunung Tujin ini ada pemukiman dan masih ada orang-orang bodoh yang bertahan di sana? Nyasar ke sini pun lebih mustahil lagi.

Tapi, untuk ukuran prajurit, tubuhnya terlalu kurus. Apakah dia bahkan tidak menerima pelatihan dasar? Jika begitu, identitasnya jadi makin tidak jelas. Satu-satunya kemungkinan yang terpikir adalah dia pencuri gila seperti Dotta yang sengaja menyelinap ke benteng militer untuk mencuri.

"Anak ini tentara tahu──hei, Nona. Dari unit mana? Kalau dari keluarga Courdel, aku bisa anterin, lho! Tapi kalau dari Dasmitea, bakal aku tendang."

"Bicara apa kau ini bodoh, dilihat dari mana pun dia bukan prajurit. Jangan bicara tidak sopan kepada rakyat-Ku, sang produsen agung yang menjadi fondasi Kerajaan-Ku."

"Mana mungkin. Kalau gitu, gimana caranya dia nyelip ke sini. Ya kan? Nona, maaf ya orang ini kepalanya agak 'itu' sedikit."

"Tidak…… aku tidak termasuk dalam unit mana pun."

"Eh?"

"Tapi, ya begitu…… aku juga…… sudah bukan warga sipil biasa lagi."

Gadis berambut merah itu akhirnya mengangkat wajahnya. Tsav sangat terkejut. Sepertinya dia baru saja menangis karena matanya sembap, tapi itu adalah wajah yang dia kenal. Tsav yang memiliki ingatan luar biasa tidak mungkin melupakannya.

"Bukannya ini Yurisa-chan! Ibu Saint!"

"Apa?"

Norgalle juga tampak terkejut. Sebelah alisnya terangkat.

"Begitu ya. Jadi kau adalah Saint Yurisa Kidafreny. Seharusnya kau…… dijadwalkan…… melakukan audiensi dengan-Ku di sini."

Norgalle menyambung kata-katanya dengan terbata-bata. Mungkin di dalam otaknya, skenarionya sudah berubah jadi begitu. Tsav merasa kasihan pada gadis berambut merah ini. Karena gadis itu sedang berjongkok, mungkin Norgalle menganggapnya sedang berlutut untuk memohon audiensi.

"Tidak perlu bersikap kaku seperti itu. Santai saja. Aku akan memberkatimu."

"Maaf. A-anu…… maksudnya bagaimana?"

"Ah, yah, nggak usah terlalu dipikirin. Orang ini…… ah, gawat, beliau ini adalah Yang Mulia Norgalle. Beliau bilang beliau senang bisa punya kesempatan ngobrol sama Yurisa-chan sang Saint."

"Eh…… i-iya. Begitu, ya. Saint…… karena aku adalah seorang Saint."

Yurisa tersenyum kecil. Jelas sekali itu adalah senyuman yang dipaksakan──senyum yang menyembunyikan rasa rendah diri.

"Aku harus bersikap benar. Karena semuanya sedang menunggu…… untuk bersiap perang, aku harus memberikan pidato dengan baik."

"Oalah. Jadi gugup kalau di depan orang banyak ya. Mau aku kasih tips? Anggap aja mereka semua itu serangga yang bisa mati kalau kamu potong arteri karotisnya dari belakang! Nanti nggak bakal gugup lagi, deh!"

"Eh, ah? Ah, itu anu, gimana ya…… ahaha. Kalau aku, bukannya gugup…… tapi……"

Entah kenapa Yurisa sangat bingung dengan perkataan Tsav, dia ragu menjawab selama beberapa detik, lalu mencoba menganggapnya sebagai semacam lelucon. Tsav merasa tersinggung.

"……Maaf. Aku takut bertarung. Selain itu, aku juga harus meminta, ……memerintah kalian semua untuk bertarung. Itu mungkin terasa jauh lebih menakutkan……"

"Takut? Kenapa? Padahal itu cuma bikin rugi lho."

"Takut tahu. Soalnya, gara-gara aku…… mungkin ada yang mati. Tidak, pasti ada yang akan mati."

"Oh, gitu? Paham, paham! Aku juga punya rasa tanggung jawab yang tinggi dan orangnya baik banget, jadi aku paham kok~ Tapi kalau aku, bukannya takut, tapi lebih ke merasa kasihan sama semuanya!──Karena aku bisa berjuang melewati rasa sakit itu, aku ini beneran hebat banget nggak sih?"

"H-haah……"

Yurisa mengerjap beberapa kali. Seperti makhluk hidup lain yang tidak bisa memahami bahasa.

"Melewati rasa sakit……? Maaf, aku tidak terlalu mengerti lagi……"

"Aku kan jenius, jadi ya mungkin buat orang biasa itu susah. Tapi pasti bisa kok!"

Tsav mengedipkan sebelah matanya.

"Percayalah pada dirimu sendiri!"

"Eh……?"

"Tidak perlu menanggapi serius perkataan si bodoh ini. Dengar, Saint Yurisa."

Norgalle mendorong Tsav dan berdiri di depan. Dia membusungkan dada dengan angkuh.

"Seorang komandan memikul tanggung jawab atas nyawa semua prajuritnya. Itu fakta──namun, jangan lupa bahwa di atas komandan ada seorang Raja."

Dia sendiri menekuk lututnya, membungkuk dengan canggung, dan menyentuh bahu Yurisa. Itu adalah tindakan yang sangat murah hati untuk ukuran Norgalle. Setidaknya Tsav tidak pernah diperlakukan dengan sikap seperti itu.

"Tindakan komandan, maupun kegagalannya, adalah tanggung jawab Raja. Karena Raja adalah penanggung jawab tertinggi negara. Jika saatnya tiba dan kau benar-benar ingin membuang segalanya, bencilah Aku, dan kembalikanlah tanggung jawab itu kepada-Ku. Kegagalan apa pun yang kau lakukan, Aku akan menerimanya."

"……Raja?"

Yurisa mengulangi kata itu, tatapannya tampak linglung. Dia sudah benar-benar bingung sekarang.

(Ya iyalah.)

Tsav tertawa kecil. Tiba-tiba dibilang soal Raja ini-itu, mana mungkin dia bisa paham. Apalagi jika dicekoki informasi itu tanpa tahu apa-apa tentang sosok Norgalle.

"Yurisa-chan lucu ya. Bukan, maksudnya reaksinya itu! Kocak banget."

"Eh……"

"Kalau Kakak Xylo lihat, dia bakal bilang apa ya? Hmm, bakal marah nggak ya…… kayaknya bakal marah deh. Rasanya memberikan gelar 'Saint' ke anak biasa kayak gini bakal jadi poin kemarahan beliau. Menurutmu gimana?"

"Eh. Anu. Kakak, maksudnya…… anu…… maaf, aku nggak ngerti maksudnya."

"──Yurisa."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Mereka menoleh. Seorang wanita yang mengenakan baju zirah, dengan tongkat petir tergantung di pinggangnya. Rambutnya diikat, dan wajahnya tampak sedikit mengantuk. Mungkin dia pengawal Saint ini.

"Ternyata Anda di sini? Sudah waktunya, lho."

"Tevie. ……Maaf."

Yurisa berdiri dengan kaku.

"A…… aku tadi sedikit tersesat."

"Saya khawatir tahu. Tolong biarkan saya mendampingi jika Anda ingin keluar."

"……Iya. Maaf. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa……"

Mengembuskan napas kecil, Yurisa menegakkan punggungnya yang tadi membungkuk, lalu mulai berjalan. Dia menundukkan kepala untuk terakhir kalinya.

"Maaf. Sudah membuat kalian khawatir. Sekarang…… sekarang, pasti sudah tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya. Membimbing kalian semua menuju kemenangan. Itulah tugasku."

"Umu."

Norgalle mengangguk berat, lalu mengelus jenggotnya dengan ujung jari.

"Aku menantikannya. Wahai Saint Yurisa, laksanakanlah tugasmu di bawah nama-Ku."

"Hehe! Kocak."

Tsav tidak sengaja mengucapkannya dengan keras, dan dia langsung dipelototi dengan tajam oleh Norgalle. Tapi Tsav tidak berhenti tertawa. Saat dia melihat punggung Yurisa yang menjauh, wanita yang sepertinya pengawal itu juga memberikan tatapan dingin ke arahnya.

(Kenapa ya.)

Bagi Tsav, ini sangat konyol.

(Isinya cuma minta maaf terus ya anak itu. Itukah yang namanya Saint──)

Jika itu memang kenyataan, entah kenapa, baginya itu terasa seperti lelucon yang sangat lucu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close