NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 4 Interlude 2

Catatan Pengadilan Kerajaan

Jace Partiract


Dia merasa sayapnya tumbuh sangat lambat.

Dia tidak bisa menyemburkan api, juga tidak memiliki tanduk. Taring dan cakarnya lebih rapuh daripada yang lain, lari pun lambat, dan dia tidak memiliki sisik yang kokoh. Karena itu, dia tidak punya pilihan selain mengenakan kulit hewan mati untuk bertahan hidup. Terkadang dia harus memakai bulu binatang untuk melewati musim dingin di Dataran Agung Giscomb bagian selatan.

Dia diajari untuk meniru manusia dalam segala hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti itu.

(Kenapa aku berbeda dari yang lain?)

Jace sering bertanya-tanya tentang hal itu. Atau, apa sebenarnya yang membedakannya? Baginya, hal itu adalah misteri yang tak kunjung usai.

Keluarga yang membesarkannya semuanya memiliki sayap, cakar, taring, dan sisik. Mereka bisa menyemburkan api dan terbang di angkasa.

Jace pernah mencoba meniru mereka satu kali. Dia melompat dari salah satu gunung berbatu tempat mereka tinggal. Dia pikir dengan begitu sayapnya akan tumbuh. Baginya, terbang adalah hal yang dilakukan semua orang secara alami, jadi tidak mungkin dia tidak bisa melakukannya.

Saat itu, dia diselamatkan sebelum jatuh ke tanah, dan dia dimarahi habis-habisan agar tidak pernah mengulanginya lagi. Naga yang menjadi orang tua angkatnya, Uguruf, adalah pria yang pendiam, namun saat itu dia memarahi Jace dengan kata-kata yang sangat jelas.

"Bodoh," kenang Jace saat Uguruf memamerkan taringnya dan mengerang.

"Kamu, tidak akan bisa, terbang, sendirian."

Mana mungkin begitu, pikir Jace saat itu. Dia percaya bahwa suatu saat sayap akan tumbuh, dan dia pun akan bisa terbang di angkasa seperti yang lainnya.

Meskipun masa kecilnya seperti itu, dia tidak pernah merasa kesepian. Dia juga tidak memiliki kenangan tentang penganiayaan. Meski tidak bisa terbang dan bentuk tubuhnya berbeda, keluarganya tetaplah keluarga, dan dia juga memiliki teman-teman. Mereka bermain di padang rumput, membantu berburu, belajar cara menggunakan api──dia merasa telah diajari segalanya untuk bertahan hidup di padang rumput.

Entah di usia berapa dia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk hidup yang disebut manusia.

Itu terjadi saat dia menceritakan impian masa depannya kepada Uguruf. Bagi teman-teman sebaya Jace, impian terbesar mereka adalah menjadi "Ksatria Naga". Makhluk yang terbang di angkasa dengan menggendong prajurit manusia untuk bertarung melawan Fenomena Raja Iblis dan Variant Fairy. Keberadaan mereka dianggap setara dengan pelindung dunia.

Tentu saja, Jace juga mengaguminya dan sangat ingin menjadi Ksatria Naga. Dia membayangkan dirinya berlari di angkasa dengan manusia di punggungnya. Namun, Jace tidak memiliki sayap. Kapan sayap itu akan tumbuh? Saat dia menanyakan hal itu kepada Uguruf, dia diberitahu tentang identitas aslinya.

Bahwa Jace adalah seorang manusia, sedangkan keluarga dan teman-temannya yang lain adalah naga. Bahwa dia dibuang di padang rumput ini sesaat setelah lahir. Alasannya adalah tanda lahir di punggungnya, sebuah segel khusus yang disebut Stigma. Dan yang terpenting, sekeras apa pun dia berusaha, dia tidak akan pernah bisa menjadi Ksatria Naga.

"Sama seperti, kami, yang tidak bisa, menjadi manusia," ucap Uguruf perlahan, seolah mencoba menanamkan pengertian itu padanya.

Tidak banyak naga yang bisa berbicara. Uguruf termasuk yang mahir. Belakangan Jace mendengar bahwa itulah alasan Uguruf dipilih untuk membesarkannya.

"Manusia, tidak akan bisa, menjadi naga."

Lalu, Uguruf mengeluarkan raungan keras yang terdengar menyedihkan.

Hari itu, Jace tidak tidur di gunung berbatu tempat tinggal mereka. Dia tidak dalam suasana hati untuk melakukan itu. Dia berjalan sendirian di padang rumput tengah malam, menyusuri aliran sungai kecil dari lelehan salju, lalu berbicara dengan Neely.

Neely adalah naga yang paling mahir berbicara di antara naga-naga yang tinggal di padang rumput itu. Dia adalah gadis yang lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih kuat daripada siapa pun. Bahkan pada saat itu, tidak ada orang dewasa yang bisa menandingi Neely.

Jace pernah mendengar Uguruf berkata bahwa Neely adalah naga yang spesial. Dia adalah satu-satunya naga sejati yang lahir hanya untuk melawan Fenomena Raja Iblis. Di antara para naga yang melemah setelah meninggalkan tempat bernama Tir Na Nog, dialah satu-satunya keberadaan yang menyimpan kekuatan primordial. Uguruf bilang Neely mewarisi darah pemimpin agung para naga yang dulu disebut "Kukulkan".

Jace sering berbincang dengan Neely. Dia masih mengingat hampir semua percakapan mereka. Dia bisa memanggil kembali kenangan itu──setidaknya untuk saat ini. Pada malam saat dia mengetahui jati dirinya, di bawah rembulan biru yang warnanya mirip dengan sisik Neely, mereka bertukar kata.

"...Itu berarti, Jace-kun itu spesial," ucap Neely lembut setelah mendengarkan cerita Jace.

"Aku bisa merasakannya. Sebenarnya... aku juga punya... kekuatan... spesial seperti itu."

Sampai sekarang pun, Jace tidak bisa memastikan apakah kata-kata Neely itu benar atau tidak. Neely memang naga yang spesial. Dia mewarisi kekuatan dari zaman kuno ketika para naga jauh lebih cerdas dan kuat. Mungkin dia benar-benar memiliki perasaan seperti itu.

Dan karena Neely menegaskannya, Jace tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Jika dia tidak percaya, siapa lagi yang akan percaya pada Neely?

"Jace-kun bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Kamu bisa mengobrol dengan sangat mahir denganku seperti ini... dan kamu bisa menggunakan peralatan lebih baik dari siapa pun."

"Tapi, aku tidak bisa terbang, dan tidak bisa menyemburkan api."

Jace menghela napas. Hanya napas putih yang keluar. Jika itu Neely, hembusan napasnya sanggup menghanguskan segalanya.

"Hal-hal seperti itu, biarlah dilakukan oleh mereka yang bisa."

"Kalau begitu aku tidak bisa melindungi Neely. Aku tidak mau menyerahkan tugas itu pada orang lain."

"Begitu ya."

Neely menjawab singkat lalu terdiam. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu──Jace merasa takut akan keheningan itu. Dia berpikir mungkin di saat berikutnya Neely akan terbang meninggalkannya.

"Kalau begitu... mungkin aku saja yang menggendong Jace-kun untuk terbang. Aku juga yang akan menyemburkan api untukmu. Sebagai gantinya, Jace-kun akan berada di punggungku, dan melindungiku."

"Menggendong... aku?"

Jace menahan napas. Dia sangat terkejut.

"...Benarkah?"

"Iya. Aku berjanji. Aku ingin Jace-kun terbang bersamaku."

"Aku senang sekali. ...Jika aku bisa melindungi Neely, itu adalah hal terbaik. Selama Neely aman, itu sudah cukup bagiku. Juga, semua teman-naga di padang rumput ini. Jika aku bisa melindungi mereka semua."

"Itu tidak cukup."

"Eh?"

Tiba-tiba Neely memotong perkataannya. Jace tidak bisa menangkap maksudnya.

"Kalau mau terbang bersamaku, itu saja tidak cukup. Jace-kun, berjanjilah padaku satu hal lagi."

"Apa yang harus aku janjikan?"

"Pertarunganku bukan hanya milikku sendiri. ...Karena itu, jangan bertarung demi aku atau teman-teman di padang rumput saja, tapi bertarunglah demi dunia yang lebih besar. Bertarunglah demi seseorang yang tidak kau kenal, yang seharusnya hidup di dunia ini."

Neely mengeluarkan suara parau yang terdengar muram.

"Kebijaksanaan naga mulai menghilang. Teman-teman yang bisa memahami kata-kata pun sudah semakin sedikit."

Hanya bagian itu yang Jace mengerti maksudnya. Di antara para naga, banyak yang menganggap percakapan tidak ada gunanya. Ada kecenderungan bahwa beberapa kata yang diperlukan untuk bertarung atau berburu sudah dirasa cukup.

"...Tapi, Fenomena Raja Iblis adalah ancaman bagi semua makhluk hidup... Kita tidak akan bisa menang kecuali kita bertarung bersama manusia."

"Tunggu sebentar."

Jace buru-buru menghentikannya.

"Aku tidak mengerti. Bertarung demi orang yang tidak dikenal itu..."

Jace tidak paham apa yang dibicarakan Neely. Bahkan sampai sekarang dia tidak bisa bilang dia memahaminya.

"Mempertaruhkan nyawaku dan nyawa Neely demi manusia atau semacamnya? Itu tidak mungkin."

"Kalau begitu, aku tidak bisa membawamu. Jika ingin terbang bersama, aku ingin kau menjanjikan hal itu. Kalau boleh jujur... mungkin aku lebih senang jika kau menolaknya."

Jace merasa kata-kata Neely terdengar ragu, sebuah hal yang jarang terjadi.

"Karena aku yakin, jika kau terbang bersamaku, akan ada lebih banyak hal yang menyakitkan."

(Licik sekali), pikir Jace. Itu adalah cara bicara yang curang. Dia tidak bisa membiarkan Neely menanggung hal-hal menyakitkan itu sendirian. Ini adalah permintaan agar Jace ikut pergi ke neraka bersamanya.

Dan Jace tidak memiliki ingatan pernah menolak permintaan Neely.

"...Apakah aku bisa?"

"Bisa. Karena Jace-kun itu spesial. Aku bisa merasakannya."

"Begitu ya."

"Jace-kun akan menjadi pahlawan yang hebat. Atau, mungkin penjahat yang hebat? Kau akan bisa melindungi dunia luar yang jauh lebih besar, bukan hanya dunia kecil yang terlihat di depan matamu saja."

Jace tidak menginginkan hal seperti itu.

Bagaimana mungkin manusia yang bahkan tidak bisa melindungi dunia kecilnya, sanggup melindungi dunia yang besar? Ataukah orang yang bisa melakukan hal seperti itu yang disebut "spesial"? Bagaimanapun juga──

"Jika itu kata-kata Neely, aku boleh mempercayainya."

"...Benar. Aku ingin kau percaya padaku."

"Baiklah. Aku janji."

Jace mendongak menatap Neely. Naga dengan sisik biru yang berkilau tajam dan mengerikan itu terus menatap Jace dengan matanya yang besar.

"Aku janji," ucap Jace sekali lagi.

Tapi, Jace menambahkan di dalam hatinya. Itu semua demi dunia tempat para naga hidup. Jika memang perlu untuk melindungi manusia atau makhluk hidup lainnya demi melawan hal-hal yang mengancam naga, maka akan kulakukan.

Hanya sejauh itulah dia bisa berkompromi.

──Satu bulan kemudian, Jace "ditemukan" oleh manusia.

Dia ditemukan melalui Festival Pencarian Naga oleh keluarga Partiract, pemimpin kaum nomaden yang tercatat sebagai bangsawan di Kerajaan Persatuan. Kabarnya, dia sempat menjadi terkenal di daerah sekitar sebagai bocah yang dibesarkan oleh naga.

Bocah itu masuk ke dalam silsilah keluarga Partiract, dan di tahun-tahun berikutnya, dia melakukan pemberontakan dengan cara menentang rencana serangan balik total dari Jenderal Delf Ugolin.

Dalam pemberontakan ini, banyak korban jiwa dari pihak manusia yang berjatuhan. Namun, pendapatnya selaras dengan Neely bahwa mereka tidak boleh membiarkan nyawa ratusan naga terbuang sia-sia. Hal itu berarti mereka akan kehilangan pertahanan dan serangan udara dalam peperangan yang akan datang.

Karena itulah dia melancarkan pemberontakan, dan dia berhasil sampai tahap membunuh Jenderal Delf Ugolin. Setelah itu──

"Jace-san, giliranmu beraksi!"

Suara cempreng yang mengganggu terdengar.

Jace segera membuka matanya. Tanpa disadari pagi telah tiba──hal itu terlihat dari cahaya yang masuk ke dalam kandang naga. Neely mengeluarkan suara parau pelan. Sepertinya dia sudah bangun lebih dulu daripada Jace.

"Waktunya beraksi, katanya," bisik Neely seperti biasa. Kata-kata itu terdengar seperti urusan orang lain baginya.

"Anak yang berisik sudah datang."

"...Begitulah."

Jace perlahan bangun. Seseorang berjalan tanpa ragu di antara naga-naga yang menjulurkan leher dengan rasa penasaran yang terang-terangan. Itu adalah Tsav. Di belakangnya, Venetim mengikuti dengan wajah cemas. Dia jelas-jelas takut pada naga.

"Diamlah," ucap Neely. Naga-naga itu pun menjadi tenang. Dia menguasai naga-naga di kandang ini sepenuhnya. Meski begitu, masih ada yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Apakah, ini teman, Tuan Tabane?" naga yang masih muda bertanya.

Jace mengangguk dalam diam. Sepertinya Neely yang menyuruh mereka memanggilnya "Tuan Tabane".

Jace merasa panggilan apa pun tidak masalah. Baginya, itu terasa lebih baik daripada "Tuan Jace" atau "Yang Mulia" yang sempat digunakan Neely untuk menggodanya di awal-awal.

"Jace-san, katanya kita juga akan berangkat bersama Yurisa-chan! Kita mau pergi rapat sekarang, Jace-san juga ikut ya."

"...Yurisa?"

Nama yang sepertinya pernah dia dengar. Jace mengerutkan kening sambil berpikir. "Siapa itu?"

"Eh. Serius kau lupa? Bukankah kita pergi menonton bersama waktu itu!"

"Bukan menonton, itu adalah inspeksi pasukan... ah, bukan, tinjauan pasukan ya...? Bagaimanapun juga, Tsav, memanggil Sang Saint seperti itu benar-benar tidak sopan sampai bisa mati tahu. Jangan katakan itu di depan orang lain... memanggil Yurisa-chan segala..."

Venetim mengoreksi kata-kata Tsav, tapi dia sendiri tampak tidak percaya diri.

Namun, sekarang Jace paham. Yurisa adalah Sang "Saint". Singkatnya, sesuai dengan rumor mencurigakan yang didapat Venetim, Prajurit Terhukum akhirnya ditugaskan untuk menjadi pengawalnya.

"Wah, tapi dia cukup manis kan! Ya? Teoritta-chan memang manis, tapi yang ini tipenya berbeda──Benar! Karena kita akan bertarung bersama, apa ada kesempatan untuk mengobrol ya?"

"Bukannya ada atau tidak!" Venetim memperingatkan Tsav dengan sangat panik.

"Jangan pernah sekali-kali mengajak bicara Sang Saint, Tsav! Mata orang-orang dari Ksatria Suci saja sudah menakutkan!"

"Begitukah? Jangan-jangan mereka membenciku? Gawat ya, aku memang selalu seperti itu sejak dulu. Entah kenapa selalu dianggap sebagai pengganggu... Tapi kan secara mental aku sudah terlatih dan punya saraf baja? Jadi tidak masalah! Serahkan padaku!"

"Kuharap kau punya saraf yang 'masalah' sedikit saja..." Venetim mengelus perutnya. Mungkin perutnya terasa sakit.

Terkadang Jace merasa iri pada Tsav. Jika dia memiliki saraf seperti itu, dia tidak perlu merasakan tekanan yang begitu berat setiap harinya. Ujung-ujungnya, alasan Jace Partiract selalu tidak senang adalah karena tekanan ini. Tidak ada hari di mana dia tidak merasakannya. Meski begitu──

"Sepertinya kau dibutuhkan, Jace-kun. Waktunya beraksi." Neely berbisik sambil mengeluarkan suara parau.

"Katanya pertarungan tidak akan dimulai tanpa pahlawan langit, Jace-pachlact. Ayo kita berangkat? Tidak apa-apa, kalau itu kamu, pasti bisa."

"Aku tahu. Selama Neely terbang bersamaku."

Mendengar kata-kata Jace, Neely tertawa dengan jelas.

"Tentu saja. Aku tidak lupa janji kita. Bagaimana denganmu?"

"Aku tidak pernah melupakannya satu kali pun. Bahkan jika aku mati berkali-kali, hanya itu yang tidak akan kulupakan."

Lalu Jace berdiri dengan bersandar pada bahu Neely.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close