Chapter 1
Garis Akhir di Bawah Bayang Rembulan
Jika
kupikir-pikir, alasan mengapa warna merah mencolok dari bunga bakung laba-laba
yang mekar terlambat itu begitu menusuk dada, ah, benar juga. Itu adalah
perasaanku yang kupersembahkan padamu hari itu, seperti setangkai bunga dalam
vas.
Sembari
berpura-pura tenang dan ramah, sesekali bayangan bulu mataku yang basah
bergetar seolah sedang mengirimkan pandangan penuh arti.
Perubahan itu
terasa begitu naif sampai membuatku kesal. Aku menertawakan diriku sendiri yang
bisa-bisanya tersenyum tanpa tahu malu sambil bergumam, "Cantik
sekali."
Sejak kapan
perasaan ini tertukar dengan bunga plastik buatan?
Keangkuhan
yang berdiri tegak di tepi alam baka seolah dunia adalah miliknya, kemeriahan
yang tampak norak bagai cinta palsu, namun memiliki kerapuhan yang seolah bisa
patah hanya dengan satu sentuhan jari—semua itu adalah corak awal musim panas
milikku sendiri, yang mewarnai seluruh perasaan yang bahkan belum memiliki
nama.
──Kasari,
suara sepatu loafer-ku membunyikan musim gugur.
Hal itu mau
tak mau membuatku mengakuinya. Bulan September kami telah berakhir begitu saja, dan bulan Oktober
milik orang lain telah kembali berputar.
Saat
aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, pepohonan yang tak sabaran mulai
berubah warna dengan tergesa-gesa di bagian yang terkena sinar matahari.
Di bawah
kaki, dedaunan kering berserakan di sana-sini. Belum cukup rimbun untuk disebut
permadani, namun telah memberikan corak warna sederhana di sepanjang jalan
pinggir sungai.
Tanpa
diragukan lagi, kita kembali didesak menuju masa depan, layaknya gerombolan
awan yang saling berdesakan di langit.
Entah apa
yang memburu kita—angin utara yang dingin, anjing gembala yang terlatih,
ataukah rembulan sang pemburu. Tetap saja.
──Ini belum
waktunya kau tampil, Momiji.
Karena yang
pantas untuk panggung musim ini bukanlah warna merah megah milik bunga itu
ataupun milik gadis itu, melainkan merah dari apel beracun yang menggoda.
◆◇◆
Bin, aku menyentil ujung jari hingga kulit
tipisnya sedikit tergores, lalu melemaskan pundak yang kaku. Sepertinya aku
sudah berkonsentrasi terlalu lama.
Saat mengetuk
layar ponsel, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Aku, Nanase Yuzuki,
perlahan menggosokkan ibu jari dan jari lainnya di tangan kiri, lalu mengambil
bola basket yang tergeletak di sudut kamar.
Rasanya
menempel pas di tangan. Aku mengelusnya dengan perasaan lega. Menyadari mulutku
terasa sangat kering, aku meminum habis sisa air mineral di botol plastik
hingga tandas.
Sambil
melakukan latihan handling ringan seperti fingertip atau body
circle, aku bisa merasakan posisi, titik berat, bahkan arah logo bola itu
tanpa perlu melihatnya, seolah bola itu telah menjadi bagian dari tubuhku.
Sejak
duel 1 on 1 melawan Todo di gimnasium yang menggema oleh suara hujan
hari itu, permainan basketku jelas telah berubah.
Tentu
saja, hal-hal nyaman seperti kekuatan tersembunyi yang tiba-tiba Awakening
saat terdesak itu tidak terjadi. Lebih tepatnya, aku berhenti menahan kekuatan yang selama ini tanpa sadar
kusembunyikan. Dan karena itulah... aku merasa takut.
Aku sudah
mengekspos bagian terdalam dari seorang Nanase Yuzuki.
Sambil
mendekap erat bola dengan kedua tangan, aku berbaring di tempat tidur dan
menatap langit-langit. Setelah aku mencetak angka terakhir dengan tembakan three-point,
Todo yang biasanya bersikap santai dan sulit ditebak itu memancarkan aura
membunuh yang membuat kuduk merinding. Ia menatapku seolah sedang menilai
mangsa yang bersumpah akan ia buru.
Sebaliknya,
Umi tampak seperti anak kecil yang ketinggalan bus darmawisata. Ia berdiri termangu, tidak bisa
mengekspresikan kesedihan, kemarahan, maupun kesepian. Namun, aku tahu betul
dia bukan tipe orang yang akan diam saja selamanya.
1
on 1 tempo hari itu
bisa dibilang hampir seperti serangan mendadak dariku. Saat Todo dan Umi sudah
memahami dasar dari kemampuan Nanase Yuzuki dan datang untuk menghancurkanku
dari depan, apakah aku masih punya kartu truf yang tersisa?
Lalu, tidak,
lebih dari itu...
Aku
mendekap bola sekali lagi, lalu membiarkannya menggelinding di tempat tidur.
Aku berdiri dan membuka jendela. Udara yang menyelinap masuk terasa lebih
dingin dari bayanganku, membuatku tanpa sadar mengusap kedua lengan.
Bau
malam musim gugur. Lembap seperti taman setelah hujan, namun kering seperti
buah pinus yang menggelinding di aspal. Rasanya mirip perpustakaan tua yang
usang. Musim di mana sesuatu menjadi berwarna, lalu layu dan gugur.
Tiba-tiba
perasaan jantung berdebar kencang menyerangku, hingga aku tanpa sadar menekan
dada. Bayangan atap sekolah yang basah kuyup melintas di benak. Aku
menggelengkan kepala karena merasa jengah.
Saat
aku sengaja menghela napas, rasa pengecut itu berubah menjadi warna putih bunga
dan meleleh ke langit berbintang. Sejak saat itu, sebagai ganti ucapan selamat tidur, aku selalu
memikirkannya.
──Apakah
keseriusanku sanggup menjangkau tekadmu yang telah terasah tajam itu?
◆◇◆
Jumat
minggu pertama bulan Oktober. Setelah jam wali kelas berakhir, tidak ada satu pun teman sekelas dari
kelas 2-5 yang pulang. Mereka semua tetap tinggal di dalam kelas.
Aku dan
anggota tim pemandu sorak lainnya juga diminta untuk berpartisipasi di sini
jika memungkinkan. Jadi, kegiatan di sana libur dan hanya bagi yang ingin
latihan mandiri saja.
Pada
akhirnya, urusan drama kelas untuk festival budaya kuserahkan sepenuhnya kepada
Nazuna.
Meski
sesekali aku mengecek di grup LINE apakah ada bantuan yang diperlukan,
sepertinya dia berhasil mengendalikan Uemura dengan baik dan menjalankan peran
sebagai koordinator.
Yah,
aku tidak terlalu terkejut sih. Sejak perjalanan kecil di liburan musim panas
lalu, aku sudah menyadari bahwa meski dia tidak suka menonjolkan diri, dia bisa
bertindak sangat cekatan jika dia mau.
Saat aku
memikirkan hal itu, Nazuna bertepuk tangan sekali. Pandangan teman-teman
sekelas yang tadinya mengobrol santai kini terpusat ke arah podium. Nazuna
mengangkat tangan kanannya dengan penuh semangat.
"Oke,
oke, semuanya perhatian! Lihat, lihat!"
Dengan nada
yang lebih tinggi dari biasanya, dia mengucapkan kalimat yang rasanya tidak
asing di telingaku.
"Heh,
itu gaya bicaranya siapa?!"
Yuko langsung
membalas dengan cepat, dan teman-teman sekelas yang menyadari jawabannya pun
tertawa riuh.
Memang mirip,
pikirku sambil menutup mulut dan tertawa kecil.
Melihat sisi
Yuko yang masih sama seperti yang kukenal ini membuatku sedikit lega.
Aku melirik
profil wajahnya; rambut semi-long yang belum terbiasa kulihat itu
bergoyang pelan karena dia tertawa.
Setelah
suasana menghangat, Nazuna membuka suara seolah sedang mengatur ulang keadaan.
"Oke, bercandanya cukup sampai di
sini."
Sambil berkata begitu, dia
mengaduk-aduk kotak kardus yang ada di bawah kakinya. Setelah terdengar suara plastik yang disobek, dia
berseru:
"Jeng
jeng! Kaos Kelas sudah jadi!"
Dia
membentangkan kaos berwarna biru langit yang segar di depan dadanya.
"Oooooooooohhhhh!!!!!!"
Sorakan
teman-teman sekelas menggema.
"............Lho??"
Tak lama
kemudian, sorakan itu berubah menjadi nada kebingungan. Aku juga hampir saja
menyemburkan tawa, tapi segera kututup mulutku karena sadar itu mungkin kurang
sopan.
Di bagian
depan kaos yang dipegang Nazuna, terdapat gambar besar dengan dominasi warna
putih yang kalau dideskripsikan secara singkat adalah: "Gudang".
Kalau di
Fukui, memang ada tempat wisata bernama "Kura no Tsuji" di daerah
Echizen.
Tapi gambar
ini adalah tipe gudang dinding tanah yang biasa muncul di film period drama,
tempat pejabat korup atau pedagang licik menyimpan harta mereka.
Di dekat
puncak atap segitiganya, terdapat lingkaran menyerupai lambang keluarga dengan
tulisan "2-5" di dalamnya.
Mewakili
kebingungan semua orang, Kaito bertanya dengan ragu-ragu.
"Kenapa...
gambar gudang?"
Seolah memang
menunggu pertanyaan itu, Nazuna memutar kaosnya untuk memperlihatkan bagian
belakang. Di sana tertulis nama seluruh anggota kelas, dan...
"Karena
ini Kaos Kelas untuk kelasnya Kura-sen, jadi kusebut Kura-T!"
Ada ilustrasi
karikatur Kura-sen di sana. Penjelasan yang terdengar membingungkan itu anehnya
bisa kupahami dengan mudah. Kura
(Gudang) + T-shirt = Kura-T.
Aku
tersenyum kecut mendengarnya. Nazuna mengedipkan mata lalu melanjutkan.
"Ngomong-ngomong, yang punya ide
ini adalah Chitose-kun!"
Mendengar
itu, mereka tidak lagi menahan diri. Haru langsung angkat bicara.
"Sumpah,
norak banget!"
Mungkin
semua orang merasakan hal yang sama. Teman-teman sekelas langsung tertawa
serempak. Jika itu desain yang dipikirkan dengan serius oleh seseorang, tertawa
akan terasa tidak sopan. Tapi kalau itu cuma lelucon payah dari Chitose, aku
pun tidak ragu untuk tertawa sekarang.
Haru
melanjutkan dengan nada jengah.
"Kau
ini terlalu banyak terpengaruh jokes bapack-bapack dari Kura-sen,
ya?"
Chitose
membuang muka dengan ekspresi malu yang langka baginya, lalu bergumam.
"......Apaan
sih, bagus kan Kura-T."
Melihat
sikapnya yang tidak biasa itu, teman-teman sekelas mulai menggoda dengan riuh.
Aku memang tidak ikut dalam diskusi penentuan kaos kelas, tapi aku bisa
membayangkan Chitose melontarkan ide itu hanya untuk mencairkan suasana saat
diskusi sedang buntu.
Lalu entah
bagaimana, ide itu justru disambut baik dan langsung disetujui karena
antusiasme serta momentum khas menjelang festival sekolah.
Pasti saat
itu Chitose merasa bangga, tapi sekarang setelah pikirannya tenang, dia malah
merasa malu sendiri. Sesuai dugaan, Yuko dan Nazuna menyahut bergantian.
"Eh,
bagus kok Kura-T ini. Termasuk fakta bahwa Saku yang mengusulkannya, bukannya
kalau dipikir-pikir lagi ini malah kelihatan nerd-cute?"
"Sudah
dipikir berkali-kali pun tetap saja norak tahu."
"Benar,
benar. Wajah Chitose-kun saat itu lucu banget, dia pasang tampang sok keren
seolah bilang 'Gimana? Oke kan?'."
"Yang
ikut-ikutan setuju kan kalian juga...?"
Ucchi yang
mendengar itu melerai dengan suara lembut.
"Sudah,
sudah. Saku-kun memang punya sisi seperti itu."
"Yua-chan,
itu kau maksudnya mau membela atau bukan?!"
Mizusino
tersenyum tipis dan tenang.
"Aku
tidak benci desain ini. Sepertinya antusiasme orang yang memikirkannya sangat
terasa."
"Ugh,
mendingan bunuh saja aku sekalian."
Tepat pada
saat itu, pintu depan kelas terbuka.
"Astaga,
aslinya aku ini pria yang lebih tampan tahu."
Kura-sen
masuk dengan santainya sambil sudah memakai Kura-T alias Kaos Gudang itu.
"Heh,
Pak Tua, girang banget sih! Terima kasih banyak sudah menyukainya!"
Chitose
langsung membalas dengan cepat, dan kelas pun kembali riuh. Sambil menopang
dagu di atas meja dan memperhatikan interaksi mereka, pandangan semua orang
perlahan terpusat padaku. Chitose tertawa pasrah dengan ekspresi yang seolah
sudah menyerah.
Sepertinya
dia ingin aku, sebagai Nanase Yuzuki, memberikan satu komentar penutup yang
cerdas. Mengerti,
aku pun mengangkat bahu sedikit dan menghela napas pendek. Lalu dengan perasaan yang entah kenapa
terasa damai, aku mengulas senyum.
"Aku
suka kok."
Aku menatap
mata Chitose dan mengatakannya dengan jelas.
"Hah...?"
Mungkin
karena respons yang tak terduga dariku, Chitose mematung dengan ekspresi
konyol. Bagiku itu terlihat sangat manis, sampai-sampai mataku menyipit lembut
tanpa kusadari. Setelah sempat bengong beberapa saat, Chitose menarik sudut
kiri mulutnya dan berkata:
"Kalau
Nanase yang bilang begitu, rasanya jadi terdengar punya makna
terselubung."
Dia
menutupinya dengan kata-kata yang tidak terlalu keren. Sayang sekali, dia
mengalihkannya. Dari awal aku tidak menyangka dia akan goyah hanya dengan ini,
tapi tetap saja, bukankah seharusnya ada jawaban yang lebih jenaka atau
berkelas? Padahal biasanya dia selalu bisa melontarkan gombalan menjengkelkan
tanpa henti. Dasar bodoh.
Yah,
setidaknya dia menyadari ada makna terselubung di sana. Aku mengendurkan bahu,
lalu sekali lagi menatap Kura-T yang dipegang Nazuna. Aku suka kok, aku mengulang kalimat yang sama
di dalam hati.
Habisnya,
semakin dilihat, kaos itu semakin mirip Chitose. Satu sisi dia sok keren tapi
gampang gagal dengan lelucon payahnya, tapi di sisi lain dia ternyata orang
yang teguh. Dia bisa sangat bersemangat seperti anak laki-laki saat festival,
namun diam-diam menyelesaikan masalah teman-temannya. Dia menanggung semua
konsekuensinya sendiri, dan akhirnya dicintai oleh semua orang.
...Astaga,
seberapa banyak sih aku mau memuji Kaos Gudang ini? Aku menekan bibir dengan
ujung jari tangan kiri, menahan pipi yang rasanya ingin mekar jika aku lengah.
Meski
begitu, aku membatin dengan nada mengejek diri sendiri. Yang barusan itu tidak
boleh. Itu bukan cara Nanase Yuzuki. Hal seperti itu baru akan terasa mengena
jika Yuko atau Haru yang mengucapkannya secara spontan tanpa maksud apa-apa.
Tipe sepertiku harus melakukannya dengan lebih bermakna, lebih terang-terangan
provokatif, dan penuh rencana. Jika tidak, perasaan itu akan ditepis sebelum sampai ke hatinya.
Tapi, aku
sudah bosan melakukan permainan semacam itu. Antara aku dan Chitose, sedalam
apa pun kami melangkah, itu hanya akan berakhir menjadi sandiwara cermin yang
tenang namun berlebihan.
Kalau begitu,
apa arti "keseriusan dalam cinta" bagi Nanase Yuzuki?
Rasanya
menyebalkan mengatakannya setelah aku dipojokkan habis-habisan oleh seseorang,
tapi selain di bulan September yang penuh kantuk itu, aku tidak pernah
bermaksud menghadapi pemuda ini dengan perasaan setengah-setengah.
Aku memilih
jawaban terbaik sebagai Nanase Yuzuki, dan terus berusaha menjadi Nanase Yuzuki
yang pantas bagi Chitose Saku.
Tapi jika
diriku yang seperti itu hanyalah kepalsuan, jika itu tidak akan sampai
padanya... Apakah melepaskan kendali berarti aku harus berpisah dengan sosok
Nanase Yuzuki yang selama ini ada?
──Bahkan
jika aku tidak terlihat cantik lagi, asalkan aku bisa hidup di sampingmu.
Ternyata saat
aku sudah memantapkan hati, muncul kekhawatiran yang terasa naif seperti milik
Haru. Sosok Nanase Yuzuki yang seperti ini terasa sangat asing bagiku. Kaku,
membuat gemas, dan sedikit memuakkan.
Saat aku
sibuk melamun, tanpa sadar Chitose sudah berdiri di samping Nazuna di depan
kelas. Dia
mengambil kaos baru dari kardus, berdeham sekali, lalu bicara.
"Apa pun
yang terjadi, pakailah kaos ini. Bukan hanya di hari-H, tapi juga selama masa
persiapan. Tunjukkan pada semua orang bahwa kelas yang penuh orisinalitas dan
selera tinggi ini akan mementaskan drama hebat di panggung festival
budaya!"
"Nggak
bisa, dipikir bolak-balik pun tetap norak."
"Bukannya
malah jadi kontraproduktif?"
"Anak
perempuan juga harus pakai?"
"Lagian
kenapa Kura-sen kelihatan senang banget sih..."
"Daaaaaaaaaaaaah
BERISIIIIIIIK!!!!!"
Chitose
mengangkat kaos itu tinggi-tinggi seolah-olah itu adalah bendera kemenangan.
"Siapa
pun mau bilang apa, ini adalah Kura-T kelas 2-5 kita! Kalian para berandalan
dan nona-nona sekalian, mari kita buat festival sekolah terbaik!
ORAAAAAAA!!!!!!!!"
"OOOOOOOOOOOOOHHHHHHH!!!!!!!!"
Sepertinya
pada akhirnya, semua orang memang ingin bersenang-senang. Dengan alur yang
sudah bisa ditebak, Chitose membakar semangat kelas. Belakangan ini aku sering
melihat wajahnya yang murung atau tatapannya yang sangat tenang, dan jujur aku
tidak membenci itu.
Tapi, aku
memang paling suka saat kau menjadi sosok 'Chitose Saku' yang seperti itu.
"Eh!
Cuma nama Kenta yang nggak ada!!!!!!"
"Ada
lelucon yang bisa dimaafkan dan ada yang tidak lho, dewa editing!"
◆◇◆
Setelah semua
orang mendapatkan Kura-T, masing-masing mulai mengerjakan persiapan festival.
Karena mumpung sedang di kelas, Haru, Mizusino, Kaito, dan Yamazaki yang
merupakan tim pemandu sorak sekaligus aktor membantu pengerjaan properti
panggung yang dikoordinir Uemura. Ucchi membantu bagian kostum.
Aku, Chitose,
dan Yuko diminta Nazuna untuk menunggu di kelas. Melihat sekeliling, anak-anak yang tidak sabaran
sudah langsung mengganti baju mereka dengan Kura-T. Melihat pemandangan itu,
Chitose tampak cukup senang. Saat aku mencoba menusuk pipinya yang hampir
tersenyum itu, dia buru-buru memperbaiki ekspresi wajahnya.
Pria
ini tidak mungkin ceroboh dalam hal seperti itu, jadi aku tidak khawatir sejak
awal. Dan benar saja, nama Yamazaki pun tertulis rapi di bagian belakang
Kura-T.
Setelah
kami bertiga mendekatkan meja dan asyik mengobrol sebentar, Nazuna kembali
dengan membawa tumpukan benda seperti buku saku. "Maaf, maaf, fotokopinya
tidak sempat selesai sebelum jam pulang."
Napasnya
sedikit terengah-engah, hal yang menunjukkan betapa kerasnya dia bekerja
sebagai koordinator festival. Nazuna membagikan buku saku itu satu per satu.
"Memang butuh waktu sedikit lama, tapi naskahnya sudah jadi!"
"Ooh!!"
Kami
bertiga berseru serempak. Kami tahu pengerjaannya cukup sulit, dan meski kami
sempat memberikan beberapa ide, kami tidak diberi tahu hasil akhirnya akan
seperti apa. Dengan perasaan sedikit bersemangat, aku mengambil naskah itu.
Judul yang tercetak di sampulnya langsung menyita perhatianku.
『Putri Salju, Putri Awan Gelap, dan
Pangeran yang Plin-plan』
"──Oi."
Kali ini,
protes mereka berdua keluar bersamaan secara spontan. Aku mempersilakan Chitose
bicara lebih dulu dengan isyarat tangan.
"Siapa
yang kau maksud pangeran plin-plan?"
Nazuna
menyeringai dan menjawab: "Eh, ini kan cuma peran dalam drama. Sebenarnya
aku ingin membuat peran 'Pangeran Fuckboy', kayaknya bakal lebih banyak
menarik penonton. Tapi anak klub sastra yang membantuku menulis naskah bilang
itu keterlaluan."
"Astaga,
kita ini mau mementaskan drama, bukan mau bikin kegaduhan..."
"Apa
maksudnya kegaduhan? Joke-mu susah dimengerti dan nggak lucu
tahu!?"
Setelah
perdebatan mereka mereda, aku pun menyela.
"La-lu?"
"Hmm~?"
Nazuna
memiringkan kepalanya dengan sengaja sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Aku
menatapnya tajam, lalu ikut memiringkan kepala dan melanjutkan dengan suara
manis yang dibuat-buat.
"Aku
tahu kau ingin membuat kontras dengan Putri Salju, tapi apa maksudnya
memberikan peran 'Putri Awan Gelap' kepadaku?"
Mendengar
itu, dia menjawab dengan santai.
"Habisnya,
sang Ratu kan merasa posisinya sebagai wanita tercantik di dunia akan direbut
oleh Putri Salju sampai dia merasa cemas? Itu namanya awan gelap sedang
menyelimuti hatinya. Kalau soal pangeran plin-plan Chitose-kun sih terserah,
tapi kalau perannmu ini kan sesuai dengan cerita aslinya. Kau tidak punya
alasan untuk protes padaku, kan?"
"Ugh,
yah, benar juga sih..."
Karena
jawabannya ternyata sangat logis, aku terdiam. Mengingat ini Nazuna, aku sempat
curiga dia menyelipkan sindiran, tapi apa pun niat sebenarnya, aku tidak punya
pilihan selain setuju. Melihat reaksiku sesuai harapan, Nazuna menutup mulutnya
dan tertawa.
"Yah,
alasan aku tidak menggunakan peran 'Ratu' adalah karena di sini setting-nya
adalah seorang putri yang hatinya mendung karena cinta pertamanya—sang
pangeran—akan direbut oleh Putri Salju~"
"Oke,
ikut aku sebentar, bocah."
Mendengar
perkataanku, bukan hanya Nazuna, tapi Chitose dan Yuko pun tak tahan untuk
menyemburkan tawa.
Astaga,
gadis ini benar-benar... Aku pun akhirnya ikut tertawa bersamanya.
Mengingat posisi kami masing-masing,
pembicaraan ini sebenarnya cukup sensitif, tapi entah kenapa jika Nazuna yang
mengucapkannya, segalanya terasa tidak lagi tajam.
"Ngomong-ngomong soal itu,"
kataku sambil mengalihkan pembicaraan.
"Kalau naskahnya sudah jadi,
bukannya lebih baik dibagikan ke semua orang saja?"
Kita tidak punya banyak waktu luang
sampai hari festival budaya tiba. Setidaknya, kupikir para anggota tim pemandu
sorak yang diserahi peran aktor harus segera dipanggil, tapi....
Saat aku
memikirkan hal itu, Nazuna tampak canggung. Dia menggaruk pipinya dan membuang
muka.
"Ah—soal
itu, aku ingin kalian bertiga mengeceknya terlebih dahulu. Alasannya bakal
kalian mengerti setelah membacanya."
Aku, Chitose,
dan Yuko saling bertukar pandang dengan bingung, lalu untuk sementara mulai
membalik halaman naskah tersebut.
Saat kami
bertiga selesai membaca sampai halaman terakhir dan menutup naskah itu, suasana
yang mengalir di antara kami bukanlah lagi kecanggungan yang tertular dari
Nazuna, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan rasa malu.
Aku, Chitose,
lalu Yuko mulai membuka suara satu per satu.
"Sejujurnya,
ini sangat menarik, tapi...."
"Ini
sih, kalau dipikir bagaimanapun...."
"……Kita
banget, ya?"
"──Maafkan
akuuuuu!!!!!!!!"
Melihat
reaksi itu, Nazuna langsung menyatukan kedua telapak tangan di depan wajah dan
membungkuk dalam-dalam dengan berlebihan.
"Seperti
yang kukatakan sebelumnya, saat mulai mengaransemen Putri Salju, ternyata jauh
lebih sulit dari dugaanku. Karena pemeran utamanya adalah Chitose-kun, Yuko,
dan Yuzuki—trio yang sudah terkenal seantero sekolah—aku pikir bakal menarik
kalau karakternya dibuat mirip dengan kalian sendiri...."
Benar. Putri
Salju, Putri Awan Gelap, maupun Pangeran yang Plin-plan, meski ada sedikit
dramatisasi, namun kepribadian, ucapan, hingga tindak-tanduknya benar-benar
mirip dengan kami.
Nazuna
mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu lalu melanjutkan.
"Lalu
karena aku terlalu bersemangat memberi masukan ini-itu, isinya malah jadi
tentang Yuko dan Yuzuki yang memperebutkan Chitose-kun untuk menentukan siapa
pemenangnya. Kalau dilihat secara meta, isinya benar-benar bikin sesak dan
nggak nyaman buat kalian...."
Sebelum aku
sempat menerima arti dari penjelasan itu dengan kepala dingin;
──Pffft!
Kami bertiga
menyemburkan tawa secara bersamaan. Aku, Chitose,
dan Yuko menyahut bergantian.
"Kau
masih waras?"
"Aku
nggak bakal dilempari batu sama penonton, kan?"
"Dasar
bocah konyol!"
Menyadari
dari reaksi kami bahwa kami tidak benar-benar marah, pundak Nazuna tampak
melemas karena lega.
"Yah,
jujur aku merasa sudah agak kelewatan dan menyesal. Sebenarnya aku sempat
terpikir untuk membuang draf ini saja tanpa memperlihatkannya kepada kalian,
tapi..."
Dia menjeda
kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada suara yang entah mengapa
terdengar tulus.
"Entahlah,
rasanya seperti... ini bukan sesuatu yang boleh kuputuskan sendiri."
Melihat sikap
rendah hati yang tidak biasa darinya, aku menyipitkan mata sedikit. Bahwa dia
terbawa suasana festival sekolah yang meriah itu mungkin memang benar, tapi
setidaknya aku mengerti bahwa dia tidak memberikan naskah ini begitu saja tanpa
pertimbangan.
Teman Yuko,
temanku. Sahabat yang mungkin sepuluh tahun lagi, di bulan Agustus, akan
berbincang bersama sambil memegang segelas minuman.
Karena
itulah, aku merasa ada kejujuran versinya sendiri di dalam sana.
"Jadi,
bagaimana?" Nazuna menatap kami seolah sedang mencari celah.
Mungkin bagi
orang-orang yang ada di sini hal ini sudah terbongkar, tapi setidaknya aku
belum menyatakan perasaan yang sudah memiliki nama ini secara terbuka kepada
siapa pun. Bahkan kepada Umi sekalipun.
Jika begitu,
secara lahiriah, tidak ada alasan bagi Nanase Yuzuki untuk menolak naskah ini.
Justru yang harus dikhawatirkan sekarang adalah....
Nazuna pasti
memikirkan hal yang sama. Sambil menunduk, dia melirik-lirik menunggu reaksi Yuko.
Meski
pada akhirnya Yuko memilih untuk melakukan "penundaan yang lembut",
namun secara formal, seperti yang dia katakan sendiri, cinta itu telah berakhir
sekali di musim panas ini.
Walaupun
ini hanya pertunjukan festival budaya, bukankah terlalu kejam jika kami yang
mengetahui seluruh detail kejadiannya harus memerankan naskah ini?
Lalu
tentu saja, Chitose. Mengingat dia berada di pihak yang menolak, rasa tidak
nyamannya mungkin jauh lebih besar.
Meski
begitu, walau penyebabnya adalah keusilan Nazuna, dengan sisa hari yang
terbatas, pasti sulit bagi mereka berdua untuk memulai pembicaraan ini sendiri.
Jika
aku memikirkan mereka berdua, bukankah lebih baik jika aku yang menolaknya demi
kebaikan mereka? Saat aku memikirkan berbagai hal itu sambil mengalihkan
pandangan ke arah Chitose dan Yuko──.
Ah,
lagi-lagi, aku terpesona melihat sosok mereka yang hatinya seolah saling
bersandar.
Begitu
sunyi dan tenang, seolah sedang menari dengan gemulai. Seolah-olah mereka telah
lebih dulu menjadi pangeran dan putri di dunia dongeng.
Sesuatu
yang menumpuk di antara tatapan mata mereka yang saling berserah adalah....
──Salju
putih yang murni tanpa satu pun jejak kaki, khusus untuk mereka berdua.
Seolah
mereka hendak melangkah kembali dari sini. Seolah mereka tidak keberatan jika
segalanya diwarnai menjadi putih. Seolah mereka tahu bahwa waktu seperti ini suatu saat akan meleleh dan
menghilang.
"Aku sih
tidak apa-apa. Saku?"
"Kalau
Yuko mau, aku juga."
"Kamu
tidak memaksakan diri?"
"Tidak
kok. Kamu
sendiri?"
"Sama
sekali tidak."
"Kalau
begitu, mari kita lakukan."
"Iya, ayo."
"Mohon bantuannya ya, Pangeran
yang Plin-plan."
"Tolong
ampuni aku, Putri Salju."
Pachi,
pachi, kedipan
mata mereka yang selaras secara alami itu seolah-olah seperti bibir yang sedang
bersentuhan. Aku pun mengalihkan pandanganku yang tertinggal ke arah lantai.
Melihat
bayangan mereka yang bergoyang diterpa sinar matahari senja dari jendela, aku
mencoba menjulurkan tangan dan memotong di antara mereka, lalu bagian pinggir
dari kebanggaan Nanase Yuzuki sedikit teriris.
"Nanase
sendiri bagaimana?"
Maka, setelah
diam-diam mencuri bibir Chitose yang akhirnya menoleh ke arahku, aku menjawab.
"Iya,
aku ikut."
Lalu aku
saling bertukar pandang dengan Yuko, meniru sang tuan putri dengan tawa yang
mengalir lembut. Nazuna yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami dalam
diam, menyipitkan matanya dengan lega.
"Benarkah!?
Syukurlah aku memberanikan diri untuk bertanya~"
""Ah,
tapi ada satu hal yang ingin kupastikan.""
Lagi-lagi
ucapanku berbarengan dengan Chitose. Aku pun mempersilakannya bicara lebih dulu. Toh, apa yang ingin kami
tanyakan pasti sama.
Chitose
mengangguk, dan seperti dugaanku, dia melontarkan pertanyaan yang sama
denganku.
"Naskah
ini, bagian akhirnya memang sengaja belum ditentukan, kan?"
Selain rasa
malu karena model karakternya adalah kami sendiri, naskah ini memang menarik.
Berdasarkan cerita Putri Salju yang dikenal semua orang, naskah ini berhasil
diaransemen dengan baik lewat kombinasi dongeng lain dan alur cerita orisinal.
Hanya saja,
bagian akhirnya hilang begitu saja. Karena ada dua orang putri yang muncul,
secara alami alurnya harus berakhir dengan sang pangeran memilih salah satu
dari mereka, namun bagian klimaksnya benar-benar kosong.
Aku dan
Chitose sempat mengira bagian itu memang belum selesai dibuat, atau dia
menunggu izin dari kami sebelum melanjutkannya, tapi....
"Ah,
soal itu ya."
Nazuna
menutup mulutnya dengan tangan, lalu menyipitkan mata dengan nakal.
"Kalian
lakukan secara improvisasi saja."
""HAH!?!?""
Untuk ketiga
kalinya, suaraku dan Chitose berbarengan. Nazuna melanjutkan tanpa peduli.
"Habisnya,
aku kan teman Yuko dan Yuzuki. Aku tidak bisa memutuskan siapa yang harus
bahagia. Hal semacam itu kan tugas sang pangeran, iya kan?"
Wanita ini
benar-benar bicara seenaknya, pikirku. Alih-alih marah atau jengah, aku justru
hampir tertawa. Tentu saja, Chitose langsung melancarkan protes.
"Mana
boleh kau melemparkan tugas itu begitu saja! Jangan bercanda! Kalau kau tidak
bisa, biar anak-anak klub sastra yang membantumu saja yang menentukannya!"
Nazuna
menyipitkan matanya dengan nakal.
"Nggak
mau."
Dia menolak
usulan itu dengan suara yang sangat manis.
"Ke mana
perginya sikap rendah hatimu yang tadi itu, hah!?"
Chitose
menggaruk rambutnya dengan frustrasi. Nazuna membalas
dengan wajah tanpa dosa.
"Yang tadi itu kan permintaan maaf
karena sudah sembarangan menjadikan kalian sebagai model. Bagaimana klimaks
naskahnya adalah masalah lain, dan yang terpenting..."
Dia menjeda kalimatnya sejenak, lalu
menatap wajah Chitose dalam-dalam.
"Bukannya aku tidak punya
pemikiran tersendiri soal sikap Chitose-kun selama ini, ya kan~?"
"Ugh...."
Sebagai pria
yang peka, dia pasti sadar. Bahwa Nazuna pun sudah mendengar rincian kejadian
di bulan Agustus itu dari Yuko. Dengan wajah seolah baru saja menelan empedu,
dia mempersilakan Nazuna melanjutkan.
"Tentu
saja, aku tidak sejahat itu sampai menyuruhmu memilih mana yang lebih kau sukai
secara romantis di atas panggung. Lagian kalau begitu, dampaknya bakal terlalu
besar bagi pihak yang tidak terpilih."
Maka dari
itu, Nazuna menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Bagaimana
kalau Chitose-kun yang menentukan siapa peraih 'Aktris Terbaik' hari itu?"
"Aktris
Terbaik...?"
Begitu
ya, aku lebih dulu mengerti dibanding Chitose. Singkatnya, ini adalah semacam
hukuman kecil yang jahil, atau mungkin tempat pelampiasan bagi perasaan yang
bisa dipahami secara logika namun sulit diterima secara emosional.
Nazuna
mengangkat satu jari dan mulai bicara.
"Lakonnya
memang Putri Salju, tapi bagiku ini adalah drama dengan Double Heroine.
Di atas panggung nanti, Chitose-kun akan memilih siapa di antara Yuko dan
Yuzuki yang memberikan akting terbaik sebagai aktris."
"Tapi...."
Nazuna
menghentikan Chitose yang hendak bicara dengan telapak tangannya, lalu
melanjutkan penjelasan.
"Dengan
kata lain, peraturannya adalah tidak boleh membawa perasaan cinta,
persahabatan, kasihan, atau perasaan pribadi apa pun ke dalam penilaian selain
kualitas akting. Bukan cuma untuk Chitose-kun, tapi Yuko dan Yuzuki juga harus
memahami hal ini. Tidak apa-apa merasa kesal kalau kalah dalam hal akting, tapi
kalau kalian malah jatuh depresi karena menghubungkannya dengan kenyataan, itu
bakal merepotkan tahu."
Dia
benar-benar teliti dalam hal ini, aku tersenyum kecut. Jika sudah diberi
peringatan sejauh ini sebelumnya, aku tidak bisa memasang wajah serius yang
tidak perlu hanya karena tidak terpilih. Jika aku melakukan itu, Nazuna pasti akan mengejekku habis-habisan karena
mendapat kesempatan bagus.
Lagi pula,
aku melirik wajah Yuko. Gadis yang sudah tumbuh dewasa setelah melewati bulan
Agustus itu pasti tidak akan terluka lagi hanya karena pilihan semacam ini.
Nazuna pun
pasti sudah merasa yakin setelah melihat interaksi Chitose dan Yuko tadi,
makanya dia berani melontarkan usulan ini tanpa ragu. Jadi, ini hanyalah
permainan festival yang sepele.
Sepertinya
Chitose juga sampai pada kesimpulan yang sama sedikit lebih lambat dariku. Sambil mengembuskan napas panjang
dengan berlebihan tanda menyerah, dia membuka suara.
"Baiklah,
aku mengerti. Tapi, aku kan tidak mengerti mana akting yang bagus atau
buruk."
Nazuna
tertawa kecil.
"Jangan
berpikir terlalu sulit. Entah itu karena aktingnya menyentuh hati, pembawaannya
yang gagah, atau karena dia tidak salah ucap—kau boleh memilih berdasarkan
standarmu sendiri, Chitose-kun."
Chitose
tersenyum tipis dengan samar, lalu entah mengapa bertanya dengan nada suara
yang terdengar kesepian.
"Yuko,
Nanase, apakah kalian setuju?"
Karena aku
ingin menghapus emosi yang merembes keluar tanpa dia sadari itu, aku
membalasnya dengan gombalan khas dirimu.
"Wah,
beruntung sekali nasibmu, Pangeran. Bisa memilih teman tidur pertama dari dua
wanita cantik ini."
"Berhenti
melanggar aturan sejak langkah pertama!"
Melihat
reaksinya yang mulai kembali seperti biasa, aku tersenyum pelan. Lalu aku
menatap gadis sahabatku itu sambil bergumam, "Maaf ya."
"Aku ini
sangat ahli dalam memerankan Nanase Yuzuki."
Yuko sempat
tertegun sejenak, lalu tersenyum lembut bagai salju yang halus.
"Aku ini
sangat ahli dalam mencintai sang Pangeran."
Astaga, aku
mengangkat bahu. Jika itu Yuko yang sebelum liburan musim panas, aku tidak akan
merasa bakal kalah dalam permainan semacam ini, tapi sekarang, bahkan mencari
celah untuk menang pun rasanya tidak mudah.
Sejak kapan
ya, aku jadi terbiasa melihat punggung seseorang yang mulai menyalipku? Padahal
dulu benar-benar ada waktu di mana aku bisa menjadi putri yang dilindungi oleh
pangeran, pikirku sambil menyipitkan mata dengan nada mengejek diri sendiri.
Tampaknya
Nazuna menganggap interaksi kami sebagai tanda persetujuan. Dia bertepuk tangan
sekali untuk menutup pembicaraan.
"Kalau
begitu, klimaksnya kuserahkan pada improvisasi kalian bertiga!"
Chitose
tertawa kecil dengan sudut bibir terangkat, seolah sudah pasrah.
"Berarti
bukan cuma soal siapa yang kupilih, tapi semua dialog setelahnya juga
improvisasi, kan?"
"Iya,
ikuti saja suasananya! Entah kalian mau membuatnya jadi Happy Ending
atau Bad Ending."
"Kalau
itu sih buat jadi Happy Ending saja, kan..."
"Eh—tapi
bisa saja kan pihak yang tidak terpilih malah memakan apel beracun lalu
mati?"
"Saku-kun
pasti bakal menangis, jadi tolong jangan lakukan itu ya!?"
Sambil
berkata begitu, Chitose menatapku dan Yuko, lalu kami bertiga menyemburkan tawa
secara bersamaan. Saat pundak kami masih berguncang karena tawa kecil,
tiba-tiba aku menyadari Nazuna sedang menatap kami dengan ekspresi yang tampak
dingin, bingung, namun sekaligus sangat lembut.
Saat mata
kami bertemu, dia membuang muka seolah tidak terjadi apa-apa dan kembali
menatap Chitose. Karena itulah, Nazuna berkata:
"Bagaimana
kalau kalian melakukan latihan simulasi dulu?"
Mendengar
kalimat yang tidak ada konteksnya itu, Chitose memiringkan kepala dengan
bingung.
"Latihan
simulasi? Bukannya ini improvisasi?"
Ah, begitu
ya. Kalimat barusan ditujukan Nazuna kepadaku. Tadi aku sempat-sempatnya
mencemaskan perasaan Yuko dengan sombongnya, padahal suatu saat nanti ketika
menyatakan perasaan, dinyatakan perasaan, memilih, tidak memilih, dipilih, dan
tidak dipilih...
Di antara
kami bertiga, yang persiapan maupun tekadnya belum siap adalah....
──Yang butuh
latihan simulasi itu adalah aku.
Aku pernah
diberitahu sekali.
“Maaf
ya, aku tidak bisa hanya memihakmu saja.”
Artinya, dia
akan memihakku sebesar dia memihak Yuko. Dan dari sudut pandang Nazuna, saat
ini yang butuh dibantu adalah Nanase Yuzuki.
Mati karena
memakan apel beracun mungkin memang terdengar berlebihan, tapi dalam artian
kehilangan bagian penting dalam diri sendiri, mungkin itu tidak sepenuhnya
salah.
Putri Salju
tahu rasa dari apel beracun.
Putri Salju
tahu rasa dari ciuman sang pangeran.
Apakah cermin
ajaib akan mengajarkan sesuatu padaku?
◆◇◆
Sabtu akhir
pekan. Setelah menyelesaikan kegiatan klub di pagi hari, aku berjalan di depan
Stasiun Fukui sambil menuntun sepeda cross bike Bianchi milikku.
Saat
mendongak, di langit musim gugur yang cerah tampak awan berarak seperti goresan
kuas.
Cahaya
matahari yang lembut memantul di layar kaca Happiring, bergoyang berkilauan.
Trem yang melaju dengan suara nostalgia gatan, goton, kii, kii
menyalipku dari belakang.
Sudah lama
sekali aku tidak punya janji kencan di hari libur, rasanya agak menggelitik.
Perasaan
gelisah antara ingin segera melihat wajah orang yang kutunggu atau ingin segera
pulang karena tiba-tiba merasa malu, masih sama seperti saat itu.
Setelah
berjalan sedikit memasuki area pertokoan arkade Galleria Motomachi, pemandangan
luar kafe "su_mu" yang sudah lama tidak kukunjungi itu mulai
terlihat.
Simbol hati
biru yang tergambar di pintu masuknya terlihat seperti kondisi hati sebelum
berwarna, membuatku sedikit iri pada diriku sendiri yang masih berdiri di
ambang bulan Mei saat itu.
Aku
memarkirkan sepedaku sejajar di depan toko, lalu berhenti sejenak di depan
pintu. Saat terpikir dengan wajah seperti apa aku harus menemuinya, jantungku
berdegup kencang. Aku menyelipkan rambut ke telinga kiri, dan aroma sampo yang
tercium terasa menggelitik.
Tadi
aku sudah pulang dulu untuk mandi. Aku memakai pakaian dalam baru, berganti ke
baju kasual, merias wajah, dan bahkan mengecat ulang kuku kaki sebelum memakai
kaus kaki, serta menyemprotkan parfum di pinggang.
──Tidak
apa-apa, Nanase Yuzuki yang sekarang tetaplah sempurna bahkan jika ditelanjangi
sekalipun.
Begitu
melangkah ke dalam toko, aku melihat sosok orang yang kutunggu sedang duduk di
meja dekat jendela di bagian dalam. Dia pun segera menyadari kedatanganku dan
melambai dengan santai.
Di
seberang kursi yang diduduki Chitose hari itu. Di kursi yang sama dengan yang
kududuki hari itu.
Aku
mengangkat bahu sedikit lalu mendekat dan melambaikan tangan ringan.
"Hai."
Teman
kencanku sempat membelalakkan mata karena terkejut, lalu menjawab dengan nada
meniru yang terdengar geli.
"Hai."
Lalu
seolah sudah tidak sabar, dia berdiri dengan wajah gembira.
"Selamat
atas kerja kerasnya, Yuzuki-san!"
Nozomi Kureha tersenyum lebar dengan ceria.
◆◇◆
Aku
duduk di depan Kureha dan menyodorkan menu.
"Aku
sudah memutuskan pesanan, jadi pilih saja pelan-pelan."
Junior yang
sedari tadi mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe dengan mata berbinar polos
itu menerima menu tersebut, lalu mulai berpikir keras dengan wajah serius.
"Menu
andalannya Egg Benedict, kan?"
"Dasarnya
memang itu, tapi Massaman Curry juga sepertinya populer."
"Ngomong-ngomong,
Yuzuki-san pesan apa?"
"Smoked Salmon & Avocado
dan Elderflower Cordial."
"Hmm, kalau begitu...
Senpai?"
Mendengar sebutan itu muncul tanpa
aba-aba, aku sontak berjengit waspada.
Aku sempat ingin berpura-pura tenang
demi menutupi kegoyahanku, namun aku mengurungkan niat karena merasa itu sudah
terlambat. Akhirnya, aku hanya menghela napas dengan sengaja.
"Kalau tidak salah, Bacon &
Onion dan es kopi."
"Kalau
begitu, aku pesan yang itu!"
"Hei."
"Habisnya,
aku ingin mencoba rasa yang sama dengan Senpai!"
"Bukannya
waktu itu aku merekomendasikannya, lalu kamu malah memesan tambahan Elderflower
Cordial juga?"
"Pesan
tambahan!"
"Astaga..."
Anak ini
benar-benar punya nyali besar atau apa, ya?
Aku
mengangkat tangan memanggil pelayan dan menyampaikan pesanan untuk kami berdua.
Setelah itu
aku menopang dagu, menatap tajam ke arah junior di hadapanku yang masih asyik
memandangi menu dengan wajah ceria.
Karena hari
libur, wajar saja jika hari ini Kureha mengenakan pakaian kasual.
Ia memakai
celana pendek putih yang longgar di bagian paha, memperlihatkan kakinya yang
ramping dan kencang hasil latihan lari jarak pendek, yang terjulur polos tanpa
perlindungan.
Kardigan
rajut model cropped berwarna Prussian Blue yang elegan itu ia
kenakan dengan gaya off-shoulder, memperlihatkan area di sekitar dadanya
yang berisi serta kulit di atas pusar yang tersembunyi di balik celana high-waist-nya
tanpa ragu.
Wanita yang
hebat, batinku kagum meski sesama perempuan.
Selama ini
aku merasa sudah hidup dengan penuh kesadaran akan proporsi tubuhku sendiri,
namun melihatnya, aku tetap merasa terpukau oleh tubuhnya yang sangat
proporsional.
──Ini adalah
keindahan yang terpahat, pikirku.
Ini soal
selera pribadi jadi aku tidak bermaksud menilai mana yang lebih baik, tapi
misalnya Yuko yang menjaga bentuk tubuhnya secara alami, atau Ucchi yang
terbiasa masak makanan sehat, mereka memiliki kelembutan feminin yang lebih
menonjol.
Sebaliknya,
Haru memiliki tubuh kencang tanpa lemak berlebih, sementara Nishino-senpai
memiliki bentuk tubuh androgini yang tidak menonjolkan sisi maskulin maupun
feminin secara berlebihan.
Dan yang
kujaga sebagai idealisme pribadiku adalah ketangguhan di mana keindahan lekuk
feminin dan keindahan fisik makhluk hidup berdampingan.
Menonjol di
bagian yang seharusnya menonjol, dan kencang di bagian yang seharusnya kencang.
Menjaga
kelembutan di permukaan namun tetap terlatih di bagian dalam.
Jika
dikatakan dengan kata-kata memang terdengar sederhana, tapi aku tahu hal itu
tidak akan terjadi hanya dengan sekadar hidup biasa.
Jika hidup
tanpa kesadaran, tubuh perempuan akan menjadi semakin feminin dengan
sendirinya, dan jika berlatih secara membabi buta, tubuh akan terus menjadi
kering dan berotot.
Namun, karena
aku serius menekuni olahraga, aku tidak boleh lengah dalam hal itu, sehingga
aku harus menjaga keseimbangan di waktu lainnya.
Karena
itulah, aku bisa langsung menyadari bahwa penampilan Kureha pun telah disetel
dengan teliti berdasarkan rasa estetika yang mirip denganku.
Mungkin ia
menyadari pandanganku yang sedang memikirkan banyak hal. Kureha menatapku lalu
memiringkan kepala dengan bingung.
Aku tersenyum
kecut sebelum membuka suara.
"Waktu
kamp pelatihan atau saat berkumpul dengan tim pemandu sorak, gayamu lebih sporty,
kan?"
"Iya!
Habisnya kalau aku terlalu menonjolkan sisi wanitaku, aku takut Senpai akan
waspada."
"Tapi
kenapa waktu itu pakai sport bra yang berani begitu?"
"Iya!
Karena bagaimanapun, aku harus membuatnya sedikit sadar, kalau tidak aku akan
kesulitan nantinya. Aku bisa beralasan karena aku anak klub atletik, dan
juga..."
Kureha
menjeda kalimatnya sejenak, lalu menyipitkan mata dengan nakal.
"Bukankah
hal seperti itu justru membuat jantung berdebar? Kulit polos tak terlindungi
dari gadis yang awalnya hanya dianggap sebagai junior, atau gundukan dada yang
tidak disadari karena tersembunyi di balik baju longgar, iya kan?"
"……Yah,
aku paham maksudmu."
Aku menjawab
sambil tanpa sadar memalingkan wajah.
Mengingat
tindak-tandukku yang mirip di masa lalu membuatku merasa sangat malu.
"Sebaliknya, bagaimana dengan
Yuzuki-san?"
Sebelum aku
sempat mencerna arti pertanyaannya, Kureha menatap pakaianku lekat-lekat dan
melanjutkan.
"Padahal
punya tubuh sebagus itu, kenapa selalu memakai gaya yang boyish?"
"Ah,"
aku mengembuskan napas pendek tanda mengerti. "Mungkin... pertahanan diri
yang sombong."
Tampaknya
kalimatku yang ambigu itu tersampaikan dengan jelas pada Kureha.
"Aku
bisa mengerti itu. Aku pun tidak akan memakai baju seperti ini di tempat yang
ada gadis-gadis yang mungkin iri padaku atau cowok-cowok yang tidak menarik
minatku."
Pantas saja,
aku tersenyum kecut.
Dengan
penampilan seperti ini, dia pasti pernah mengalami hal yang kurang lebih sama
denganku.
Kureha
mungkin bisa menghindar dengan lihai lewat aktingnya, tapi aku tahu betul bahwa
kecemburuan wanita dan nafsu pria tidaklah cukup sopan untuk dilewati hanya
dengan cara seperti itu.
"Bukan
itu," lanjut Kureha.
"Maksudku,
kalau untuk alasan seperti itu aku paham, tapi kenapa di depan Senpai pun kamu
tidak menggunakan sisi wanitamu?"
"──!"
Tadinya aku
mengira ini hanya obrolan basa-basi sebelum masuk ke topik utama, tapi
tiba-tiba saja dia menusuk bagian yang menyakitkan.
Mungkin
menyadari sesuatu dari ekspresiku, Kureha buru-buru melambaikan kedua
tangannya.
"Eh?
Maaf, tadi itu aku belum bermaksud mengajak bertengkar, lho?"
Aku tersenyum
kecut mendengar kata-katanya, lalu membalas dengan nada provokatif yang jahil.
"……Tadi
itu belum, ya."
Kureha
menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah.
"Iya! Belum!"
Tepat pada
saat itu, Egg Benedict dan minuman yang kami pesan datang, sehingga
pembicaraan beralih dengan pas.
Mungkin dia
juga memutuskan untuk mundur sejenak.
Saat aku
mengangkat wajah, Kureha tampak menyentuhkan tangannya dengan lembut di bagian
dada kardigannya, lalu...
"Seandainya
aku adalah Yuzuki-san..."
Ia bergumam
pelan, seolah sedang bicara pada diri sendiri yang tidak ingin didengar siapa
pun.
Sambil
terpaku melihat perubahan ekspresinya, aku meremas bagian dadaku sendiri.
Seandainya
aku adalah Kureha...
Aku membatin
pilu, seperti keluhan yang ingin didengar oleh seseorang.
Tanpa perlu
aku contohkan seperti waktu itu, Kureha membelah Egg Benedict menjadi
dua tepat di tengah, lalu dengan lihai menggunakan garpu dan pisau untuk
memotongnya menjadi ukuran yang pas, melumurinya dengan kuning telur dari poached
egg, dan memasukkannya ke mulut.
"Hmm,
ini enak sekali!"
Reaksinya
yang polos itu benar-benar terlihat seperti junior yang jujur, sampai-sampai
tanpa sadar sudut bibirku mengendur.
"Benar,
kan?"
"Ini
pertama kalinya aku minum Elderflower Cordial, aku pasti akan memesannya
lagi!"
"Sudah
kubilang, kan?"
"Iya!
Jadi ini ya rasa kenangan antara Senpai dan Yuzuki-san!"
"Ujung-ujungnya
ke sana juga."
"Dengar
ya," aku mengangkat bahu dengan berlebihan.
"Asal
tahu saja, Chitose juga pernah membawa Haru dan Yuko ke sini seperti
biasa."
Kureha
membelalakkan matanya karena terkejut.
"Begitukah!?
Ternyata Senpai tidak punya perasaan ya."
Aku
tertawa kecil dan mengangguk pelan setuju.
"Yah,
aku setuju, tapi aku sudah bilang kan kalau hal sepele begitu tidak akan
membuatku terluka."
Kureha
menurunkan Egg Benedict yang hampir ia suap, lalu memiringkan kepala
dengan heran.
"Tapi,
apa kamu tidak merasa sebal kalau tempat yang kamu beritahukan padanya malah
dipakai untuk membawa gadis lain?"
Pertanyaan
yang masuk akal itu aku tangkis dengan santai.
"Karena
itu aku."
Kureha
memasang senyum ambigu seperti sedang mencoba menutupi tugas sekolah yang lupa
dikerjakan.
"Eh,
maksudnya...?"
Kebingungannya
terasa sedikit menyenangkan bagiku, jadi aku melanjutkan pembicaraan seolah
sedang meminjamkan buku catatanku padanya.
"Karena
kami serupa, jadi kami saling mengerti. Bahwa yang ingin kutinggalkan di tempat
ini bukanlah catatan, melainkan hanya kenangan saja."
Kureha
yang mendengarkan dalam diam menyipitkan matanya dengan ekspresi yang tampak
dewasa.
"Memang
tidak boleh diremehkan ya, Nana-san."
Sandiwara
kecilnya berakhir di sini. Aku menerima sinyal itu dan langsung masuk ke topik
utama.
"──Jadi,
ada urusan apa?"
Kureha
menatapku dengan mata yang memancarkan daya tarik yang mendebarkan, lalu...
"Apa
ya, bukankah aku sudah bilang kalau aku ingin mengajakmu kencan?"
Ia
berpura-pura bodoh dengan gaya yang nakal.
──Sejak
kejadian di atap sekolah hari itu.
Kureha
tetap membaur di tim pemandu sorak dan di dalam lingkaran pertemanan kami
seolah tidak terjadi apa-apa.
Istilah
"diam seperti kucing manis" mungkin belum pernah terasa sepas ini
sebelumnya.
Jika
terhadap Chitose atau yang lain, aku masih bisa mengerti.
Tapi
setelah menunjukkan taringnya seberani itu, bisa-bisanya keesokan harinya ia
berlari ke arahku sambil berseru "Yuzuki-saaan!" dengan polos. Itu
benar-benar mengejutkan.
Padahal,
aku sendiri menghabiskan sepanjang malam memikirkan banyak hal sambil
mendinginkan kepala setelah pertandingan melawan Todo, dan bayangan Kureha
terus melintas di benakku.
Berkat
itu, aku harus berusaha keras agar tindak-tandukku tidak dicurigai oleh
orang-orang di sekitar.
Begitulah,
selain beberapa hari itu, stagnasi tetaplah stagnasi, dan bulan September kami
berakhir dengan tenang.
Jujur
saja, aku merasa kehilangan momentum karena aku sudah bersiap-siap mengira ia
akan menjadikan pengakuan di atap itu sebagai pistol start, lalu berlari
kencang mendekati Chitose seperti lari jarak pendek.
Kureha baru
menunjukkan pergerakan kemarin.
『Yuzuki-san,
mau kencan denganku?』
Entah kenapa aku justru merasa lega
saat melihat pesan yang datang di larut malam itu.
Bagaimanapun juga, aku yang menentukan
tempat ini untuk menemuinya hari ini.
Kureha masih terus berpura-pura manis,
tapi jika aku langsung mendesaknya sekarang, aku akan terlihat tidak punya
wibawa dan itu menyebalkan. Jadi untuk sementara, aku mengikuti sandiwara
junior-senior yang menjemukan ini.
Fakta bahwa ia sengaja memanggilku
dengan court name berarti topik utamanya dimulai dari sini.
Karena Kureha sepertinya sedang
menunggu reaksiku, untuk saat ini aku membalasnya dengan nada provokatif.
"Kalau begitu, setidaknya untuk
kencan berdua denganku saja, bisakah kamu berhenti berpura-pura jadi junior
yang mencurigakan?"
Mungkin karena kata-kataku di luar
dugaan, ia membelalakkan mata sejenak, lalu buru-buru membuka suara seolah
merasa difitnah.
"Tunggu dulu! Jangan bicara seolah
aku ini wanita bermuka dua yang jahat begitu, dong!"
"Jangan
bilang kamu mau menyangkal hal itu?"
"Eh,
kenapa kamu menepisnya dengan wajah serius begitu!?"
"Jahat
sekali," gumam Kureha sambil melihat telapak tangannya sendiri dengan
bibir mengerucut.
Itu
membuatnya terlihat benar-benar sedih, dan aku merasa sedikit tidak enak hati.
Aku
mengejek diriku sendiri karena ternyata aku pun masih asyik berpura-pura
menjadi senior. Padahal aku sudah tahu betul dia bukan lawan yang bisa dihadapi
dengan cara biasa.
"Keduanya
adalah wajah asliku."
Sesuai
dugaan, Kureha berkata sambil membalikkan telapak tangannya dengan anggun.
"Diriku
sebagai junior kalian semua, maupun diriku yang menantang Yuzuki-san──."
"Sisi
mana pun yang dibuka, itu adalah warna merah dari Nozomi Kureha yang
sebenarnya."
Kenapa
bisa begini, pikirku.
Ia
berbeda dari Yuko yang dulu sangat ceria, berbeda dari gadis dewasa yang
melewati bulan Agustus, berbeda dari Ucchi yang memeluk dengan lembut, berbeda
dari Haru yang berjuang bahu-membahu, dan berbeda dari Nishino-senpai yang
merupakan idola tak terjangkau.
Namun
kata-kata dari junior di depanku ini, yang pasti tidak akan pernah sejalan
denganku...
──Kenapa
bisa meninggalkan duri yang begitu indah di dalam hatiku?
Sambil
berdoa agar kata-kataku tidak terdengar seperti main pedang-pedangan yang
murahan, sebuah pertanyaan yang tidak bisa kuabaikan terlontar dari mulutku.
"Setelah
melontarkan gertakan sehebat itu, melakukan crouching start seharusnya
hal mudah bagimu, kan?"
Sepertinya
maksudku tersampaikan dengan benar, karena Kureha menjawab dengan tatapan mata
yang sayu dan menggoda.
"Ini
adalah ucapan terima kasih kecil dariku untuk Nana-san."
Karena tidak
bisa menangkap maksudnya dengan benar, aku membelalakkan mata.
"Terima
kasih...?"
Kureha
menyipitkan matanya dengan penuh kasih sayang, lalu bahunya berguncang pelan
seolah sedang teringat sesuatu yang lucu.
"Aku
sudah menduganya, tapi ternyata Yuzuki-san tidak mengatakannya pada siapa pun,
ya."
Aku akhirnya
mengerti apa yang ia bicarakan.
Aku menarik
sudut bibirku sedikit dan menjawabnya.
"Jangan
terlalu meremehkanku."
Terhadap
perasaan Kureha yang jujur, terhadap tekadnya, dan terhadap cintanya──.
Setelah aku
merasa sangat yakin sampai merasa terpukul, aku tidak ingin menjadi wanita yang
menyebarkan hal itu sebagai bentuk balas dendam yang tidak berkelas.
Selain itu,
aku tidak ingin melibatkan Chitose yang baru saja melewati bulan Agustus dan
sampai di bulan September yang tenang.
Percakapan di
atap itu aku simpan rapat hanya di dalam dadaku.
Kureha tampak
heran, namun sekaligus merasa geli.
"Kalau
aku jadi kamu, aku pasti akan langsung berlari ke rumah Senpai saat perjalanan
pulang."
"Pasti
begitu."
Saat aku
menjawab instan tanpa ragu, ia memiringkan kepala dengan nakal dan melanjutkan.
"Lalu
aku akan memperingatkannya tentang wanita macam apa Nozomi Kureha itu tanpa
merendahkan diriku sendiri, sambil menangis tersedu di dada Senpai. Dia pasti
akan menghiburku."
Aku tersenyum
kecut dan menjawab.
"Meskipun
kata-kata itu keluar dari mulutku, pemuda itu tidak akan menilai manusia
bernama Kureha hanya dari cerita orang lain."
"Oho?"
Akhirnya
Kureha menunjukkan reaksi yang sedikit terkejut.
"Ngomong-ngomong,
dia juga tidak akan terhanyut oleh situasi seperti itu lalu memelukmu dengan
lembut. Yah, kemungkinan besar kamu malah akan kena semprot atau
diceramahi."
Aku
berkata begitu sambil mengangkat bahu dengan perasaan nostalgia.
Kureha
menyipitkan matanya dengan iri, lalu berkata dengan nada sedih.
"Benar-benar
pangeran yang kejam, ya."
"Setuju."
Lalu
kami saling bertukar pandang dan tertawa kecil.
Anak
yang aneh, pikirku.
Meskipun
kami sudah bertarung sehebat itu, entah kenapa aku tidak bisa benar-benar
membenci junior ini.
"Bagaimanapun
juga," kata Kureha setelah suasana mereda.
"Sebagai
bentuk penghormatan atas estetikamu, Yuzuki-san, untuk sementara aku memang
bersikap manis."
Begitu
rupanya, aku mengembuskan napas pendek.
Memalukan
sekali, ternyata aku justru dikasihani oleh juniorku.
Kureha
tersenyum lega dan melanjutkan.
"Tapi
memang tidak salah lagi, kamu adalah Yuzuki-san yang kukagumi. Sebenarnya aku
sempat takut untuk mengajakmu kencan hari ini, aku pikir aku akan
ditolak."
Jika ini
bukan 1 on 1 yang mendadak, aku pun punya caraku sendiri.
Lagipula, aku
sudah memantapkan hati bahwa aku harus menghadapi anak ini secara jantan.
Maka, aku
mengucapkan kata-kata yang pernah kutujukan pada pemuda itu.
"Aku ini
tipe orang yang akan memberikan segalanya bagi lawan yang kuakui."
Untuk sesaat,
Kureha menggigit bibirnya seolah hampir menangis, lalu menggaruk pipinya dengan
malu-malu.
"Yuzuki-san
belakangan ini jadi semakin cantik sampai membuatku berdebar."
"Pandai
bicara, ya."
Kalau begitu,
aku membuka suara dengan berani agar tidak terhanyut oleh perubahan suasananya
yang rapuh.
"Berarti
hari ini adalah pernyataan perang ulang, ya?"
"Iya!
Aku tidak akan menahan diri lagi!"
Kureha
menjawab tanpa ragu, lalu tiba-tiba ia menunduk.
"Karena
jika aku terus berdiam diri, aku akan tertinggal oleh musim."
Deg, tiba-tiba detak jantungku mengeras.
“Kalian
semua terus berada di sana tanpa maju maupun mundur.”
“──Sambil
bergandengan tangan membentuk lingkaran dan menikmati stagnasi dengan rukun.”
Begitu
ya, bahkan setelah ujung pedang diarahkan ke tenggorokanku, aku masih belum
bisa mulai melangkah.
Sejak aku
mengekspos kelunakanku di depan Kureha hari itu.
Aku merasa
sudah menghadapi keseriusan Nanase Yuzuki, keseriusan dalam cinta.
Tentu saja,
secara lahiriah aku tidak melakukan tindakan besar apa pun, tapi pikiranku
selalu dipenuhi oleh hal itu.
Namun bagi
Kureha, waktu seperti ini hanyalah terlihat sebagai penundaan stagnasi.
Kalau begini
terus, aku tidak akan sampai padanya.
Aku kembali
merenungkan kata "keseriusan dalam cinta" yang terasa semakin murah
setiap kali aku mengulanginya di dalam hati.
Akankah aku
bisa sampai pada jawabannya?
Apakah
jawaban Nanase Yuzuki akan membawa ke tempat yang sama?
Setelah
berpikir sampai di situ, aku menatap Kureha.
"Boleh
aku tanya satu hal?"
"Iya!
Dengan senang hati!"
"Seandainya
aku menceritakan semuanya pada Chitose tanpa ada yang ditutupi, apa yang akan
kamu lakukan?"
Tentu saja,
kemungkinannya tidak nol bahwa ia bertaruh aku tidak akan bicara karena
mempertimbangkan harga diriku, tapi hubungan kami belum sedalam itu untuk bisa
saling percaya tanpa syarat.
Namun, tidak
mungkin wanita yang mendekati Chitose dengan ketangguhan seperti itu hanya
bicara berdasarkan emosi sesaat tanpa memikirkan konsekuensinya.
Sesuai
dugaan, Kureha menjawab hampir tanpa berpikir.
"──Itu
justru sangat menguntungkan."
Ia
mengatakannya dengan tegas.
"Menguntungkan...?"
Melihatku
bingung karena jawaban di luar dugaan, Kureha melanjutkan dengan tenang.
"Toh
cepat atau lambat aku akan menyatakan perasaanku. Selama Yuzuki-san tidak
memutarbalikkan ceritanya, aku merasa tidak melakukan satu hal pun yang akan
membuatku malu jika diketahui oleh Senpai."
Kuat sekali.
Aku hampir terintimidasi lagi oleh tatapannya.
Keduanya
adalah wajah asli,
kata Kureha.
Itu pasti
bukan bualan atau hiasan belaka, melainkan perasaan jujur tanpa kebohongan.
Berapa
banyak gadis yang bisa mengatakan hal itu dengan tegas dalam situasi seperti
ini?
Lagi pula,
ekspresi Kureha melunak.
"Tadi
Yuzuki-san juga sudah mengatakannya, Senpai adalah orang yang baik. Dia pasti
akan mendengarkan pembelaanku, dan aku rasa dia tidak akan membuangku begitu
saja hanya karena mengetahui perasaanku, bukan?"
Aku
menjawab dengan senyum kecut tanda setuju.
"Jika
itu pengakuan dari gadis penggemar yang tidak pernah bicara dengannya mungkin
beda cerita, tapi untuk lawan seperti Kureha, kemungkinan besar itu tidak akan
terjadi. Dia pasti akan menerimanya dengan serius dan memikirkan hal-hal yang
rumit."
Aku
menjeda kalimatku, lalu melanjutkan dengan emosi antara kepasrahan dan
kekaguman.
"Dia
tidak bisa mengabaikan doa seseorang, karena dia adalah seorang pahlawan."
"Aku
mengerti," Kureha menunduk dengan penuh kasih sayang.
"Kalau
begitu, bukankah itu kesempatan bagiku untuk keluar dari status junior dan
dilihat sebagai seorang wanita lewat jarak terpendek?"
Suara
kesepiannya terdengar seperti doa itu sendiri, maka aku berkata:
"Perutmu
masih ada ruang?"
Kureha
mengangkat wajahnya dengan heran.
"Masih
ada, tapi...?"
Aku menunjuk
ke arah konter dengan ibu jari.
"Kafe
ini punya Canelé yang luar biasa."
"Canelé!"
"Garing
di luar, lembut di dalam. Ini adalah Canelé yang sempurna."
"Apakah
Senpai juga pernah memakannya?"
Astaga,
pikirku.
"Dia
tidak terlalu suka makanan manis. Dan juga..."
Aku
mengetuk meja dengan ujung jari.
"Hari
ini kamu sedang kencan denganku, kan, Kureha?"
Padahal ada
wanita hebat di depanmu, tapi kalau kamu terus melihat ke arah lain, kualat
lho.
"Bawalah
pulang setidaknya satu kenangan tentangku yang tidak diketahui Chitose."
"Yuzu—Nana-san..."
Mata Kureha
berbinar sesaat, namun kemudian ia menggigit bibir dengan wajah seolah tidak
berdaya.
"……Aku
sudah bilang kan kalau kita tidak bisa jadi teman?"
"Kan
sekarang statusnya teman kencan."
Saat aku
menjawabnya dengan santai, kali ini ia benar-benar tersenyum lebar.
"Kalau
begitu, khusus hari ini saja, aku akan menemanimu!"
Ia
mengedipkan mata dengan sangat nakal.
Setelah kami
berdua selesai memakan Canelé, Kureha berkata dengan wajah bahagia.
"Benar-benar
enak sekali! Tadinya aku mengira Canelé itu kue yang kering dan menyerap
air di mulut."
"Benar,
kan?"
Aku juga
terkejut saat pertama kali memakannya, ternyata rasanya bisa berbeda sejauh itu
tergantung tokonya.
Lain kali,
aku ingin mencoba Massaman Curry-nya juga, batinku diam-diam.
Entah karena
orang yang merancang resepnya punya selera tinggi atau memang cocok dengan
lidahku, terkadang ada toko yang apa pun pesanannya pasti tidak pernah salah
seperti ini.
Suasananya
memang berbanding terbalik, tapi diam-diam kedai Takokyu juga punya kesan yang
sama.
Memiliki
beberapa daftar toko seperti itu di dalam "buku catatan hati" membuat
keseharian jadi terasa sedikit lebih menyenangkan.
Saat sedang
asyik melamun, tiba-tiba aku menyadari tatapan Kureha yang terlihat sangat
serius.
Sepertinya
dia sedang menunggu momen yang tepat untuk bicara, jadi aku memiringkan kepala
sedikit sebagai tanda agar dia melanjutkannya.
Kureha
meremas tangannya yang diletakkan di atas celana pendek putihnya, lalu berkata.
"Nana-san,
boleh aku juga bertanya satu hal?"
"Jangan
bilang kamu berniat menantangku bertengkar setelah perutmu kenyang
begini?"
Saat aku
melontarkan gurauan, nada suara yang kembali terdengar jauh lebih kesepian dari
dugaanku.
"Mungkin
akan terdengar seperti itu, tapi bagiku, ini berbeda."
Kureha
melanjutkan dengan nada bicara yang sedikit mengejek diri sendiri.
"Agar
bisa bersaing secara adil, aku tidak ingin punya utang budi padamu."
"Aku
tidak ingat pernah bilang akan mentraktirmu, lho?"
Ini pasti
pengaruh buruk dari pemuda itu, batinku merasa geli. Sebelum masuk ke
pembicaraan yang serius, aku jadi terbiasa menyelipkan gurauan tak berguna.
"Jadi,
apa yang ingin kamu tanyakan?"
Mendengar
pertanyaanku, Kureha yang tadinya tertawa kecil langsung berhenti. Dia
menegakkan punggung, membenarkan postur duduknya, lalu menghirup napas pendek.
Dia
menyipitkan mata seolah sedang memegang hulu pedang di pinggangnya, lalu—
"—Sampai
kapan kamu berencana untuk terus menjadi Nanase Yuzuki?"
Satu
tebasan telak yang langsung membelah segalanya.
"—!"
Kali
ini, aku benar-benar diserang oleh debar jantung yang bukan lagi halusinasi
maupun ilusi.
Kureha
melanjutkan bicaranya, seolah memutar balik bilah pedang yang baru saja ia
ayunkan.
"Kamu
tidak mengadukan kejadian di atap itu kepada Senpai, tidak juga merengek
padanya. Padahal sudah diprovokasi sehebat itu, dan aku sudah menunggu selama
ini, tapi kamu tidak terlihat melakukan pergerakan apa pun. Kamu bahkan tidak
menggunakan sisi wanitamu yang sudah susah payah kamu asah di depan Senpai.
Malah bisa-bisanya kamu bersikap manis padaku seperti ini...."
Aku
sudah bilang, kan? Ia
menekankan kata-katanya.
"Aku
tidak akan kalah dari wanita yang bahkan tidak bisa menjadi serius."
Ia
mengucapkan kalimat yang sama dengan hari itu.
"Aku
akan mengulanginya lagi, jika aku disakiti oleh Yuzuki-san, aku tidak akan ragu
untuk berlari ke rumah Senpai. Aku tidak ingin berbuat curang jadi aku tidak
akan memutarbalikkan fakta, tapi aku akan menceritakan kebenarannya. Aku akan
bermanja-manja sepuasnya di pelukan Senpai yang tidak bisa membiarkan gadis
menangis sendirian. Jika dia tidak mau memelukku karena terhanyut situasi, maka
aku yang akan menciptakan situasinya dan menjatuhkannya dengan paksa. Seluruh
sisi wanitaku akan kuserahkan pada Senpai. Aku tidak akan bersikap sok tenang
dengan membantu musuh cintaku."
Ah,
begitu ya, aku menggigit bibir. Bukankah wujud nyata dari keseriusan dalam
cinta yang sempurna itu sedang ada di depan mataku sekarang?
Kureha,
wanita cantik ini.
Dia
berniat mempertaruhkan seluruh keberadaannya pada pemuda itu. Dia berniat
mengerahkan seluruh dirinya untuk berlari melewati musim semi ini.
—Dengan
hati yang terbuka lebar, bagaikan sekuntum bunga di dalam vas.
"Kesimpulannya,"
kata Kureha dengan nada heran.
"Wanita
bernama Nanase Yuzuki ternyata lebih mementingkan idealismenya sendiri daripada
Senpai, ya."
Dihadapkan
pada dosa yang kusadari sepenuhnya, napas kurasa seolah terhenti. Deg, deg,
suara jantungku terasa menyakitkan.
Padahal hari
itu, di tengah gedung olahraga yang bergema oleh suara hujan, aku sudah
bersumpah. Bahwa aku tidak akan takut untuk menyakiti, sama seperti gadis di
depanku ini—.
"Aku
tidak takut pada wanita yang bahkan tidak bisa berubah demi pria yang
dicintainya."
Kureha
berkata seolah sedang melakukan gerakan membersihkan darah dari pedang sebelum
menyarungkannya.
"Aku
dengar dari teman di klub basket. Nana-san berhasil
menang melawan Ace dari Ashitaka, ya?"
Lalu seolah
ingin mengakhiri pembicaraan di sini,
"Sepertinya
Nana jauh lebih tangguh daripada Nanase Yuzuki."
Dia
menyipitkan matanya dan tersenyum sedih.
Sambil
menyodorkan uang makanannya sendiri di depan wanita yang tak mampu membalas
sepatah kata pun, Kureha bangkit dari duduknya.
"Terima
kasih sudah menemaniku kencan hari ini."
Dia
membungkuk sopan, lalu menatap lurus ke arahku.
"Nana-san,
yang tadi itu adalah balasan untuk Canelé-nya."
Ia
meninggalkan kata-kata itu lalu melangkah pergi. Menatap punggungnya yang tegak
lurus, aku merasa dia benar-benar indah.
"……Kalau bisa, tolong bencilah aku mulai
sekarang."
Tanpa perlu
kamu beri tahu, sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak lama.
『Selama Nanase Yuzuki berusaha untuk
tetap menjadi Nanase Yuzuki, aku akan terus mengulangi penyesalan yang sama
selamanya.』
『Pasti aku akan melakukan pilihan yang
terlihat benar di mata siapa pun sampai membuat mereka muak, pilihan yang
paling dipercaya keindahannya oleh Nanase Yuzuki sendiri. Namun, pilihan itu
belum tentu benar dan indah bagiku.』
『Meski begitu, Nanase Yuzuki hanya akan
terus melangkah begitu saja. Dia tidak akan membuang segalanya demi mewujudkan
cintaku.』
『Pasti selama aku tetap menjadi Nanase
Yuzuki, kamu pun hanya akan bisa tetap menjadi Chitose Saku.』
—Baguslah.
Kalau itu maumu, aku akan menjadi Nana, atau bahkan menjadi Penyihir Cermin
sekalipun.
Keesokan
harinya, Sabtu sore, sesaat sebelum senja.
Kami, para
anggota klub basket putri, sedang berkumpul membentuk lingkaran mengelilingi
Misaki-chan di gedung olahraga SMA Fujishi.
Sebagai
persiapan akhir menjelang kualifikasi Winter Cup, bulan ini jadwal pertandingan
latihan dengan SMA-SMA kuat dari dalam maupun luar prefektur disusun cukup
padat.
Hari ini
adalah pertandingan pertama, dan lawan kami adalah Akademi Oboro dari Kanazawa.
Mereka adalah langganan Winter Cup dan
Inter-High. Dari segi prestasi, mereka berada satu-dua level di atas kami.
Kecuali pengecualian dua tahun lalu
saat SMA Fujishi yang diperkuat Aki-san dan Suzu-san menjadi juara, Fukui
selalu didominasi oleh Ashitaka. Jadi pihak lawan pasti menganggap ini hanya latihan ringan belaka.
Itu pas
sekali bagiku.
Lagi pula,
jika kami tidak bisa menang melawan Ashitaka, kami tidak akan bisa maju ke
tingkat nasional. Jika kami kalah begitu saja hanya karena lawan lebih kuat,
maka segalanya tidak akan berubah.
Hanya karena
menang sekali dalam 1 on 1 mendadak, aku tidak sebodoh itu sampai
bermimpi sudah melampaui Todo.
Karena itu,
aku ingin mencoba.
Tim
yang telah tertular kobaran api Umi di musim panas ini—
—Jika
sekarang aku yang mengendalikannya, sampai sejauh mana kami bisa bertarung?
Misaki-chan
menatap wajah kami satu per satu sebelum membuka suara.
"Tim ini sudah berubah."
"“““SIAP, SUDAH!”””"
"Apa kalian pikir SMA Fujishi
menang melawan Oboro hanyalah mimpi belaka?"
"“““SAMA
SEKALI TIDAK!”””"
Haru, Yo,
Sen, dan semuanya menjawab tanpa ragu.
"Ini
adalah laga pembuka sebelum melawan Ashitaka. Jadikan musim dingin ini membara
dengan musim panas kalian!"
"“““SIAP,
MENGERTI!!!!”””"
"Lalu,"
Misaki-chan menatapku.
"Nana,
aku serahkan penyusunan permainan padamu. Lakukan sesukamu."
"Memang
itu rencana saya."
Dalam
interaksi kami, di sudut mataku, aku bisa melihat Umi mengepalkan tinjunya
dengan erat dan menggigit bibir dengan kesal.
—Maaf,
sekarang tidak bisa.
Aku
berpura-pura tidak menyadari keadaan rekanku itu dan meningkatkan konsentrasi
pada pertandingan di depan mata.
Selama ini,
baik atau buruk, SMA Fujishi adalah tim yang berpusat pada Umi.
Tentu saja
yang menyusun permainan adalah aku sebagai Guard, tapi pemikiran tentang
bagaimana cara memanfaatkan rekanku sebagai Ace dan Scorer tim mengalir
sebagai pondasinya.
Karena itu,
saat Umi ditekan secara organisir, skor tim akan menurun drastis seberapa pun
aku mencoba melawan dengan tembakan tiga angka. Itu menjadi satu titik lemah
kami.
Tapi, mulai
sekarang,
—Aku akan
merebut kemenangan dengan tanganku sendiri.
"Baik,
lingkaran!"
Misaki-chan
bertepuk tangan sekali, dan kami saling merangkul bahu. Sepertinya Umi sudah
mengalihkan perasaannya sebagai kapten, wajahnya sudah kembali siap untuk
bertanding.
Memang
harus begitu, batinku mengembuskan napas lega.
Sambil
melirik ke arahku, Umi yang mengerutkan dahi menghentakkan kaki ke lantai
dengan keras.
"Apakah
kalian mencintainya?"
"“““KAMI
MENCINTAINYA!”””"
Sen, Yo, dan
yang lainnya menghentakkan kaki ke lantai secara serempak.
"Apakah
cinta itu nyata?"
"“““KAMI
MENCINTAINYA SAMPAI KE TULANG!”””"
"Kalau
begitu, bakar hati kalian!!"
"“““KAMI
BUKAN WANITA YANG HANYA BISA MENUNGGU!!”””"
"Pria
yang diinginkan,"
"“““DEKAP
DENGAN ERAT!”””"
"Jika
tidak mau menoleh,"
"“““TEMBAK
JATUH!”””"
"We are,"
"“““FIGHTING GIRLS!!”””"
Dudududung!
Kami menghentakkan kaki di lapangan layaknya suara genderang perang.
Kedua tim kemudian berbaris di tengah
lingkaran lapangan.
—Cermin, oh cermin.
Aku menyisipkan ikat rambut di mulut
sambil merapikan rambut, lalu merapalkan mantra seperti sugesti diri yang
menjadi rutinitasku sejak hari itu.
Pertandingan ini adalah batu ujian bagi
diriku sendiri.
Meski aku merasa seperti dipermainkan
dan belum sepenuhnya menerima, tapi apa yang dikatakan Kureha adalah satu
jawaban yang selama ini terus kuhindari.
Aku sudah memutuskan untuk membuka
kunci dan pergi menemui Nanase Yuzuki yang asli.
Namun jika itu pun—tidak, jika justru
hal itulah yang menjauhkan pria yang kucintai...
Persahabatan,
belas kasihan, kebaikan hati, rasa sedih, bahkan Nanase Yuzuki sekalipun akan
kutinggalkan.
—Aku akan
menjadi Nana yang apa adanya.
◆◇◆
Bola dilempar
ke atas, Yo dan Center lawan melompat bersamaan. Di dalam pandangan yang
jernih, aku mengamati situasi sekitar dengan tenang.
Tinggi badan
mereka setara, tapi pihak lawan sedikit lebih cepat mencapai bola.
—BASH!
—PASS!
Kalau begitu,
poin pertama harus diputuskan oleh sang Ace, kan?
Aku melakukan
turn seolah menyembunyikan bola yang baru saja kupotong hampir tanpa
suara, lalu segera memulai serangan cepat.
Arah bola
yang memantul dari jump ball memang setengahnya adalah keberuntungan,
tapi agar tidak melewatkan setengah kemungkinan lainnya, aku sudah bersiap di
samping Small Forward sekaligus Ace milik Oboro yang mengambil posisi di
area pertahanannya sendiri.
Lawan adalah tim kuat langganan
nasional.
Jika mereka punya cukup waktu luang
untuk mengatur arah pantulan bola seperti tadi, kemungkinan besar bola akan
dipercayakan kepada Point Guard atau Scorer terbaik di tim.
Sisanya tinggal memprediksi arah dari
gerakan lengan pelompat, dan di saat bola ditepuk, aku langsung menyelinap
masuk.
Yah, hal seperti ini memang seperti
lotre yang mengandalkan keberuntungan, tapi bagaimanapun juga, ini adalah poin
pembuka yang berharga untuk menentukan alur pertandingan.
Sambil
menghindar ringan dari Defense yang segera mendekat dengan langkah yang
dinamis, aku memastikan posisi Umi.
"Dasar
bodoh..."
Melihat
rekanku yang sudah menunggu dengan bangga di luar garis Three Point, aku
mengumpat pelan.
Aku tahu dia
ingin segera menunjukkan kemampuannya, tapi buat apa memamerkan kartu as
secepat ini.
Meski kami
adalah tim yang lebih rendah, pihak lawan tetaplah tim yang mengakui kami
sampai-sampai mau datang jauh-jauh dari luar prefektur.
Mereka pasti
sudah mengantongi sedikit informasi tentang kami.
Pihak lawan
tidak tahu soal tembakan tiga angkamu maupun permainan dalamku.
Pertama-tama,
biarkan mereka mengingat gaya bermain kita yang biasanya, lalu....
"—Bukan
begitu, kan."
Kik! Suara decit sepatu bergema saat aku
menambah kecepatan. Di saat yang sama, aku melewati pemain Defense
pertama dan mengincar ring.
Todo dan
Ashitaka sudah tahu segalanya.
Seandainya
pun aku menyimpannya sampai final kualifikasi, saat maju ke tingkat nasional
kami pasti akan dipelajari.
Jika begitu,
meskipun aku melakukan serangan tipuan satu kali kepada Oboro, kemenangan
semacam itu tidak akan ada artinya.
Kita akan
menghancurkan Ashitaka, kan?
Aku berlari
lurus menerjang pemain Defense yang sudah bersiap dengan merendahkan
pinggul di depan garis Three Point, yaitu Ace milik Oboro.
Di posisi
sekitar tiga meter dari lawan, aku melompat kecil seperti melakukan skip
untuk mengubah ritme.
Pemain Defense yang waspada
terhadap drive mundur satu-dua langkah hingga menginjak garis Three
Point. Jarak kami sekitar dua meter.
"Sayang sekali, kamu sudah masuk
dalam jangkauan tembakku."
Begitu
mendarat dari langkah skip, aku langsung melakukan gerakan menembak.
—Wush,
swish!
Bola
yang melengkung tinggi masuk ke dalam jaring dengan lintasan yang persis
seperti bayanganku.
Sebuah
Transition Three yang dilepaskan dengan mengalir dari serangan cepat.
Jika
itu aku yang dulu, aku pasti akan menghindarinya karena tingkat keberhasilannya
rendah, tapi anehnya, sekarang aku merasa tidak akan meleset.
Ini
adalah bonus stage di mana lawan mundur sendiri dan membiarkanku
menembak dengan nyaman di posisi yang kusukai.
—Aku
akan menunjukkan segalanya dan tetap menang.
—Akan
kuladeni provokasi keseriusanmu itu, dasar gadis kecil yang sombong.
Maka, sambil
kembali ke posisi pertahanan, aku meninggalkan kata-kata yang bisa diartikan
apa saja kepada Umi yang berlari di dekatku, seperti sebuah surat perpisahan.
"Memang
awal peperangan itu harus dibuka oleh satu poin dari sang Ace, kan?"
"Kh,
Nana—!"
Maaf, aku
tidak punya waktu untuk mengobrol santai.
Tadinya aku
berharap bisa memegang kendali lewat poin ini, tapi seperti yang diharapkan
dari sekolah langganan Inter-High.
Mereka tidak
panik, melainkan memasukkan bola dengan tenang.
Meski begitu,
Ace lawan sepertinya cukup kesal karena momentumnya dirusak di awal. Dia
menatapku tajam sambil meminta bola.
Begitulah
seharusnya seorang Ace, tantang aku.
“Benar-benar
seperti Penyihir Cermin, ya.”
Keen, aku meningkatkan konsentrasiku
satu tingkat lagi. Ace yang menerima operan dari Point Guard menerjang
ke arahku.
Membalas
apa yang telah dilakukan, begitulah prinsipnya.
Dia
mengubah ritme dengan Heavy Step, menjejakkan kaki yang berlawanan
dengan arah dribble sedikit lebih lama untuk menciptakan jeda sesaat.
—Dia
datang.
Kick! Dengan drive yang tajam,
dia menyerang dari sisi kiriku.
Benar-benar
cepat, ketajamannya setara dengan Todo.
Tapi
level setinggi ini masih dalam prediksiku, batinku sambil merendahkan pinggul
dan menempel ketat padanya.
Mungkin
menyadari dia tidak bisa melewatuiku dengan satu gerakan, dia mengganti
pegangan bola ke kiri dengan Leg Change lewat bawah kakinya yang
terbuka, seolah ingin mengatur ulang serangan.
Lalu
dia memantulkan bola dengan lebar ke sisi kananku, seolah-olah itu adalah dribble
seorang pemula.
Padahal
itu adalah arah di mana Umi dan Yo bersiaga di dekat sana.
—Itu
pasti Fake Shammgod, kan.
Sambil
tetap menjaga beban tubuh di tumit, aku berpura-pura terpancing dan
melangkahkan kaki kanan sedikit.
Sesuai
dugaan, dia segera menarik kembali bolanya dengan tangan kanan dan mencoba
melewatuiku dari sisi sebaliknya.
Memang
hebat bisa melakukannya dengan rapi dalam pertandingan sungguhan, tapi....
Sayang
sekali, aku langsung menyambar bola itu.
"Apa—"
Selama bisa
membaca tipuan pertamanya, tidak sulit untuk meresponsnya.
Jika ingin
melakukan Shammgod dengan sempurna, lihatlah kaki lawanmu.
Dibandingkan
Todo, Zanshin-mu masih payah, batinku sambil langsung melakukan serangan
cepat.
Rekan setimku
yang merespons paling cepat adalah Umi yang berlari naik dari belakang sisi
kanan.
"Bagus,
anak pintar."
Mungkin
karena waspada terhadap Transition Three tadi, pemain Defense
lawan menempel ketat tanpa memberi jarak.
Lewat Heavy
Step di depan garis Three Point, aku menciptakan jeda sesaat agar
Umi menyalipku.
Saat aku
melangkah sambil memantulkan bola dengan lebar ke arah rekanku, pemain Defense
merespons dengan Cross Step.
Di saat itu
juga, aku segera menarik kembali bola dengan tangan kiri dan melakukan drive
secepat kilat dari sisi sebaliknya.
—Wush,
swish!
Lay-up yang kulepaskan dengan bebas masuk
dengan mudah seperti seharusnya.
Saat menoleh,
Ace milik Oboro kali ini benar-benar menatapku dengan mata penuh kemarahan.
Wajar saja,
karena dia baru saja dibalas telak dengan Shammgod, skill yang
baru saja kumatikan darinya.
Tipuan itu
baru disebut tipuan kalau bisa menipu sampai ke hati, wahai Ace Akademi Oboro.
Sambil
kembali ke posisi pertahanan, aku berpikir. Jika itu aku yang dulu,
pertama-tama aku pasti akan mendahulukan Umi.
PG (Point
Guard) yang menganggap Ace-nya sebagai umpan belaka tidak akan dihormati musuh.
Terlebih
bagiku, menyusun alur pertandingan lewat operan dan melepaskan Three-Point
andalan di saat genting adalah prinsip utamaku.
Memaksakan
diri melakukan Inside terasa sangat bertentangan dengan estetikaku.
Aku juga tak
pernah sengaja memamerkan skill yang baru saja kumatikan dari lawan
hanya untuk memprovokasi. Meski efektif mengguncang mental, itu tidak
indah—atau setidaknya, diriku yang dulu berpikir begitu.
"Penyihir
Cermin, ya."
Kata-kata
yang diucapkan Todo seolah bercanda. Kalau begitu, siapa yang harus dipantulkan
oleh diriku yang sekarang?
Demi
kemenangan, aku takkan pilih-pilih cara. Tanpa takut terluka maupun menyakiti,
aku akan berlari lurus menuju satu-satunya gol. Hingga cara hidup itu sendiri
terasa begitu indah.
──Ah, begitu
ya. Inilah "Merah" yang telah memukulku telak.
Demi menembak
jatuh pria yang tak mau menoleh, aku tak keberatan menjadi Nana yang
menyembunyikan rembulan.
◆◇◆
──Takut.
Saat jeda
setelah kuarter ketiga berakhir, aku, Aomi Haru, tanpa sadar memeluk bahu yang
gemetar sambil menatap skor.
Empat puluh
dua melawan lima puluh lima.
Angka pertama
milik Oboro, dan yang kedua milik Fujishi. Di mata siapa pun, sudah jelas bahwa
kami sedang mendominasi tim kuat langganan Inter-High itu.
Tidak, salah.
Di mata siapa pun, sudah jelas bahwa Nana-lah yang sedang mendominasi tim kuat
itu. Beberapa waktu lalu, aku sempat terpikir sesuatu.
『Pertumbuhan itu bagiku bukan kurva yang
landai. Memang teknik dan fisik meningkat perlahan setiap hari, tapi pasti akan
tiba masanya kau merasa stagnan, seolah sedang melangkah di tempat pada sebuah
bordes tangga. Meski kualitas dan kuantitas latihan sudah diperas sampai batas
maksimal, idealisme bermainmu melesat jauh sementara fisikmu tak mampu
mengejar. Namun, suatu hari nanti. Seolah atap di atas kepalamu jebol, kau akan
melompat naik dua-tiga anak tangga sekaligus. Tubuhmu terasa ringan seolah baru
saja menanggalkan dirimu yang kemarin, dan kau pun berhasil mengejar lalu
menyatu dengan permainan yang sebelumnya hanya ada di bayangan.』
Setelah
pertandingan melawan Suzu-san dan Aki-san, aku memang merasakan hal itu.
Tapi, Nana
setelah melakukan 1 on 1 dengan Mai sudah terasa tidak normal. Berbeda
denganku yang kaku, aku tahu dia punya bakat yang luar biasa.
Aku merasa
fisik kami seimbang, tapi misalnya diriku butuh berhari-hari latihan agar
sebuah teknik dribble terlihat luwes, Nana bisa menirunya dengan
sempurna hanya dengan sekali lihat.
Aku tahu dia
bisa langsung menyusun kombinasi aplikasi dengan santai setelah menguasainya,
bahkan menyusun permainan orisinal lewat kilasan inspirasi saat itu juga.
Namun bagi
Nana yang dulu, hal-hal seperti itu hanyalah bagian dari "bermain".
Meski ia mencobanya saat 1 on 1 denganku, di pertandingan sungguhan,
bakat dan kreativitasnya selalu terpusat pada Game-making sebagai PG,
operan, dan tembakan tiga angka.
Namun setelah
laga melawan Mai, Nana seolah mekar sebagai pencetak skor. Tidak, dia berhenti
menahan kemampuan sebagai Scorer yang memang ia sembunyikan sejak awal.
Selama ini
ada kesepakatan tak tertulis bahwa area Inside adalah bagianku,
sementara operan dan Outside adalah bagian Nana.
Tapi setelah
laga melawan Suzu-san dan Aki-san, aku duluan yang lancang menginjakkan kaki di
area rekanku lewat operan dan tembakan tiga angka, jadi aku tak punya hak untuk
mengeluh.
Lalu, setelah
memiliki opsi untuk mencetak skor sendiri, cara Nana menyusun permainan terasa
begitu luar biasa hingga membuatku merinding. Mengendalikan alur pertandingan terdengar terlalu
sederhana.
──Nana
sedang mendominasi lapangan.
Aku
tidak menyangka seorang PG dengan kemampuan mencetak skor yang dahsyat bisa
menjadi sosok yang begitu merepotkan.
Saat
ia mengoyak lawan dari luar dan dalam, pertahanan lawan akan menjadi panik dan
menambah jumlah penjagaan padanya. Di saat itulah, ia mulai memanfaatkanku dan
Yo.
Aku
sedang dimanfaatkan,
pikirku sambil meremas seragam erat-erat.
Kenyataannya,
sebagian besar poin melibatkan Nana, entah dia yang menyelesaikannya sendiri
atau lewat operan yang langsung berbuah gol.
Aku
tidak menghitung secara pasti, tapi secara perasaan, aku tidak akan kaget jika
empat puluh lima dari lima puluh lima poin berasal dari perannya. Tentu saja aku mencetak beberapa poin,
tapi aku sama sekali tidak merasa sedang menjalankan peran sebagai Scorer.
Operan yang
kuterima dalam situasi di mana aku bahkan tidak perlu melakukan Drive—situasi
yang sudah diatur sedemikian rupa hingga mustahil meleset—terasa seolah aku
hanya disuruh menembak saja.
Secara
esensi, itu adalah poin milik Nana. Di mata Oboro,
kami pasti terlihat seperti tim one-man show dengan Ace mutlak yang
bertakhta di sana. Haru yang sekarang hanyalah bidak yang ditempatkan Nana
dengan cermat demi tujuan memasukkan bola.
Meski begitu, bukan berarti dia
mengabaikan kerja sama tim dan bermain egois. Sebaliknya, dia mengamati situasi
dengan mata yang lebih tajam dari biasanya. Jadi jika kami terlihat seperti tim
one-man, penyebabnya adalah kami sendiri.
──Hanya saja, lebih banyak adegan di
mana dia mengincar gol sendiri karena itu lebih pasti. ──Hanya saja, dia memberikan operan yang pasti bisa
diselesaikan oleh rekannya.
──Hanya
karena perbedaan kemampuan kami yang terlalu jauh, jadinya terlihat seperti
itu.
Bukan Nana
yang tidak pas dengan kami, tapi kamilah yang tak mampu mengimbangi permainan
Nana. Karena itulah, Nana terpaksa menggunakan kami.
──Prrrttttt!
Peluit tanda
dimulainya kuarter keempat bergema, sementara rasa sesak yang tak tahu harus
dilampiaskan ke mana ini belum juga hilang. Sialan, aku menyentak handuk di
leherku dengan kasar.
『Memang awal peperangan itu harus dibuka
oleh satu poin dari sang Ace, kan?』
Tiba-tiba,
kata-kata di kuarter pertama itu terngiang kembali. Aku tahu itu adalah cara
Nana memberi semangat.
"Poin
pertama tidak akan terasa mantap jika bukan Umi yang mencetaknya"—bukan
begitu maksudnya.
Itu adalah
pernyataan perang yang sombong khas dirinya, bahwa Ace yang sekarang adalah dia
sendiri. Biasanya aku akan langsung terpancing dan membalasnya, tapi dengan
keadaan seperti ini....
Aku mencari
sosok rekanku itu dengan pandangan memohon. Nana yang sedari tadi duduk di kursi lipat dan
berkonsentrasi dalam keheningan perlahan berdiri. Sorot matanya tidak ditujukan pada teman maupun lawan,
melainkan hanya tertuju lurus pada ring.
──Ini
menyesakkan, Nana.
Aku menggigit
bibir saat melangkah menuju lapangan. Mai adalah pemain yang namanya sudah
tersohor sejak kompetisi basket SD, jadi wajar jika aku selalu mengejarnya.
Seberapa
sering pun aku dihempaskan, aku selalu bisa bangkit untuk melawannya kembali.
Tapi, Nana....
Melihat
punggung rekan yang kukira bertarung sejajar denganku kini menjauh, dan hanya
bisa menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa... ternyata sesakit ini.
Sejak kuarter
pertama, aku tidak berbicara dengan Nana selain instruksi dalam permainan.
Sejak pertama kali masuk klub, hal seperti ini baru pertama kali terjadi.
Biasanya saat
jeda atau half-time, kami akan saling memuji atau menunjukkan bagian
yang salah, mendiskusikan taktik kuarter berikutnya, atau bersama-sama memberi
semangat pada tim.... Tapi hari ini, aku tak punya kata-kata untuk Nana.
Rekanku itu
pun sepertinya tidak mengharapkan kata-kataku. Seolah dia sedang berdialog dengan dirinya sendiri,
bertarung melawan bayangan seseorang di sisi lain sana.
──Lihat
aku, Nana.
Isak
tangis kesepian itu jatuh ke lantai gedung olahraga dan memantul dengan konyol.
◆◇◆
Kuarter
keempat hampir berakhir.
Skor
lima puluh satu melawan enam puluh dua.
Meski
jarak skor sedikit terpangkas oleh harga diri tim kuat, lapangan masih menjadi
panggung tunggal bagi Nana. Waktu tersisa tinggal kurang dari tiga puluh detik.
Aku
sendiri mencoba menunjukkan harga diriku di kuarter ini dengan aktif melepaskan
tembakan Two-handed Three yang sudah kulatih sampai muak selama sebulan.
Namun,
mungkin karena rasa cemas yang meluap, form-ku jadi kacau.
Setiap
tembakan terasa sangat buruk hingga aku yakin tidak akan masuk begitu bola
terlepas. Aku merasa bersalah pada Nana yang sudah meluangkan waktu menemaniku
latihan. N
amun
dia hanya mengangkat tangan ringan seolah berkata "jangan
dipikirkan", tanpa melihat ke arahku, ia langsung berkonsentrasi pada
permainan berikutnya.
"Kesalahan
selevel itu akan segera kubalas, jadi tidak masalah. Cepat oper bolanya."
Seolah itulah
yang ia katakan, membuat dadaku terasa sesak. Bagi Nana mungkin itu bentuk
dukungan, tapi bagiku, itu sama saja seperti dibuang karena keberadaanku sudah
tidak masuk dalam perhitungannya sejak awal. Ini adalah kesepian karena
ditinggalkan.
Sama seperti
saat melihat Kureha yang kuanggap junior manis sedang bermain tangkap bola
lebih baik dari aku dan Chitose.
Sama
seperti saat Mai yang kuanggap rival ternyata begitu bersemangat bertarung
dengan Nana.
Sama
seperti saat Nana yang kuanggap setara ternyata mendominasi Mai yang seperti
itu. Selalu saja hanya aku yang tertinggal.
Padahal
aku tak punya tinggi badan, bakat, rupa yang cantik, maupun daya tarik wanita
seperti kalian. Satu-satunya
kelebihanku hanyalah basket yang serba nekat dan kaku ini.
"SIALAAAAAAAAAAAAAAANNN!!!"
Aku
mengerahkan sisa harga diriku dan berlari sekuat tenaga menuju ring. Waktu
tersisa tinggal lima belas detik. Mungkin ini akan menjadi permainan terakhir.
Nana yang
melakukan Steal bola lawan segera memulai serangan cepat, kini
berhadapan dengan dua pemain bertahan sekitar dua meter di depan garis Three-Point.
Di
belakangnya, satu orang lagi berjaga di dekat ring. Mungkin karena sudah sering
terkena serangan balik serupa, mereka kembali ke posisi dengan cepat.
Lupakan
aku yang sempat melamun dan terhenti sesaat di tengah pertandingan, sepertinya
yang lain pun tak sempat menyusul karena Steal Nana terlalu indah.
"NANAAAAA!!!!!!"
Aku
berteriak sambil berlari melewati sisi rekanku. Urusan 1 on 1 di area Inside
adalah bagianku. Setidaknya di saat terakhir ini, biarkan aku menjadi
pendukungmu.
Kik!
Aku
mengambil posisi dan menatap Nana.
Merespons
hal itu, Nana mendribel sambil mundur selangkah untuk membuat jarak dengan
pertahanan.
Deg!
Rasanya ini
pertama kalinya mata kami bertemu di pertandingan ini.
──Dia akan
mengoper.
Aku
menyerahkan diri pada insting dan menuju ring. Jika rekanku mengoper, itu pasti
operan rendah dua atau tiga langkah di depan agar aku bisa langsung melakukan Drive.
Nana
mengubah ritme dribelnya dan melangkah tajam ke arah berlawanan dariku. Salah
satu dari dua pemain bertahan meresponsnya. Ini adalah Fake. Selanjutnya
dia akan melakukan No-look Pass dengan mengalir ke arahku──.
"Eh...?"
Melihat
pemain bertahan satunya terpancing oleh gerakan operan, Nana merendahkan
pinggulnya dengan luwes sesuai rencana. Satu langkah di depan garis Three-Point.
Cahaya matahari senja yang mulai miring terpantul di lapangan, bergoyang-goyang
seperti tepi pantai. Bayangan Nana yang memanjang meluncur tenang di atasnya.
Lalu,
dari form yang artistik layaknya patung pahatan, sebuah parabola
melengkung tinggi.
──Syuut.
Bola
melewati jaring dengan lembut seolah didekap.
──Bzzzzzzttt!
Bel
tanda berakhirnya pertandingan bergema tanpa ampun.
Ah,
begitu rupanya.
Suara
panggilanku, bagi dirimu yang sekarang, hanyalah salah satu dari sekian banyak Fake
belaka.
◆◇◆
Setelah
melakukan pendinginan, berbenah, dan bersih-bersih, kami melepas kepulangan
Akademi Oboro lalu kembali berkumpul melingkari Misaki-chan. Teman setim yang
lain masih tampak bersemangat dan saling bersorak.
"Nana-san
hari ini gila banget, kan!?"
"Lagian
kita menang lawan Oboro itu, lho!?"
"Apa ini
hasil dari musim panas seperti kata Misaki-chan!?"
"Ya
iyalah, kita kan sudah latihan sekeras itu!"
Bukan, batinku
meremas seragam dengan kesal. Memang hasil musim panas sudah terlihat.
Semuanya sanggup berlari sampai akhir tanpa
kelelahan, dan semangat untuk tidak mundur setitik pun melawan tim kuat
terlihat membara.
Benar-benar berbeda jauh dari musim
panas tahun lalu di mana kami sudah menyerah bahkan sebelum berjuang.
Tapi, hal semacam ini....
Saat aku mengepalkan tinju sendirian,
Yo merangkul bahu Nana dengan mantap.
"Kombinasi
dengan Nana juga pas banget tadi!"
Nana
memiringkan kepala dengan senyum polos seolah tidak tahu apa-apa.
"Begitulah."
Jangan
pura-pura bodoh,
batinku menggigit bibir sekuat tenaga agar tidak merusak suasana kemenangan.
Sen
menimpali. "Kalau kita yang sekarang, ke tingkat nasional pun bukan mimpi
lagi, ya."
Nana
menyipitkan mata dengan lembut. "Bukankah kita latihan memang untuk
itu?"
Bukan
kita, kan, batinku
memalingkan wajah karena tak tahan lagi.
Mengapa,
kenapa, kalian semua bisa segembira itu?
Apa hanya aku
yang merasa sefrustrasi ini, merasa seputus asa ini──!
Puk, seolah sudah memperhitungkan
waktunya, tangan Misaki-chan mendarat di bahuku. Saat aku menoleh, dia
menggelengkan kepala sedikit, hanya untuk kumengerti. Setelah kembali menatap
yang lain, Misaki-chan membuka suara.
"Kerja
bagus. Apa kalian sudah bisa merasakan pertumbuhan kalian?"
"““SIAP, SUDAH!!!!””"
"Winter Cup sudah dekat. Kalian
boleh bangga menang atas Oboro, tapi Ashitaka tahun ini jauh lebih kuat. Jangan sombong dan tetaplah
berlatih keras."
"““SIAP,
MENGERTI!!!!””"
"Lalu,
Nana."
"Ya."
"Apakah
ini jawaban yang kau berikan?"
Mendengar
pertanyaan itu, Nana menjawab dengan tenang tanpa terlihat goyah sedikit pun.
"Setidaknya
untuk saat ini, menurut saya inilah satu-satunya bilah pedang yang bisa
menjangkau Ashitaka."
"Begitu
ya," Misaki-chan menyipitkan mata dengan lembut. "Hari ini bubar.
Istirahatkan tubuh kalian baik-baik."
"““TERIMA
KASIH ATAS KERJA KERASNYA!!!!””"
Lalu Nana dan
yang lainnya berjalan menuju ruang klub. Aku tetap berdiri mematung karena
merasa tidak sedang ingin ganti baju bersama yang lain. Misaki-chan menatapku
dengan sorot mata yang hangat.
"Umi,
apa kau ada waktu setelah ini?"
Tanpa
mengerti maksudnya, aku mengangguk lesu seperti anak kecil yang tersesat.
"Kalau
begitu, temani aku minum segelas."
"Hah?"
◆◇◆
Setelah
menunggu semuanya pulang dan mengunci ruang klub, hari sudah benar-benar gelap.
Aku dibawa
oleh Misaki-chan menggunakan Land Cruiser tua bermata bulat miliknya menuju
area depan Stasiun Fukui.
Setelah
memarkirkan mobil di tempat parkir seadanya, aku mengikuti Misaki-chan tanpa
tahu apa-apa hingga mataku menangkap logo neon biru dengan lampion merah yang
sangat familier.
"Lho,
bawa murid ke Akiyoshi!?"
Aku berseru
kaget, namun Misaki-chan hanya mengedipkan satu matanya dengan nakal.
"Kalau
mau minum segelas di Fukui, ya di sini tempatnya."
Begitu
melewati pintu otomatis, pelayan langsung menyapa dengan kalimat andalannya.
"Selamat
datang, Nona-nona!"
Kami dipandu untuk duduk berdampingan di kursi
konter. Aku hanya bisa menghela napas.
"Misaki-chan,
aku kan masih pakai seragam sekolah."
"Jangan
khawatir. Orang-orang akan mengira kita kakak-adik."
"Mungkin lebih ke
ibu-an—ADUH?!"
Pletak! Sebuah sentilan mendarat di dahiku
tanpa jeda. Aku mengelus
pelipis yang sakit. Tepat saat itu, seorang pelayan pria dengan seragam yang
terbuka lebar di bagian dada dan ikat kepala datang mencatat pesanan.
"Satu
bir, dan Umi, kau mau minum juga?"
Aku menatap
Misaki-chan dengan napas tertahan karena heran.
"Jangan
tiba-tiba bicara seperti Kurasen, dong."
"Hei,
jangan gunakan perumpamaan itu."
Reaksinya
terlihat sangat jijik hingga aku tak sengaja tertawa kecil.
"Kalau
begitu, aku sari buah saja."
Setelah
pelayan mencatatnya, Misaki-chan melanjutkan.
"Lalu
untuk sementara... sepuluh tusuk Shiro, sepuluh Junkei, sepuluh Wakadori,
sepuluh Pituro, sepuluh Kushi-katsu, Onion Fry, Ageoroshi, Kyuri, kubis dengan
sausnya, dan...."
Dia menjeda
kalimatnya, lalu menoleh padaku.
"Aku yang campur saja."
"Baik, pesanan diterima!"
Pelayan itu menyahut dengan semangat
dan menyampaikan pesanan ke bagian pemanggangan di dalam konter. Meski begitu,
aku mencuri pandang ke samping wajah Misaki-chan.
Biasanya kalau setelah pertandingan
resmi kami akan makan-makan bersama, atau kalau aku latihan mandiri dengan Nana
di hari libur, dia akan membawa kami ke 8-ban.
Tapi kalau pergi berdua ke Akiyoshi,
ini benar-benar yang pertama kali. Apalagi dia tidak mengajak anggota lain,
hanya aku.
Aku sempat mengira akan dimarahi karena
permainanku yang tidak maksimal saat melawan Oboro tadi, tapi suasananya tidak
terasa seperti itu.
Belum sempat aku berpikir macam-macam,
pelayan sudah membawakan bir dan sari buah. Misaki-chan mengangkat gelasnya ke
arahku.
"Baiklah, ayo bersulang."
Aku ragu sejenak, namun akhirnya
mengikuti dengan enggan. Misaki-chan
menyipitkan matanya dengan lembut sambil berkata.
"Untuk
musim panas yang telah berakhir. Untuk musim gugur yang telah berubah."
"Bukannya
harusnya... untuk kemenangan hari ini?"
"Suasanamu
tidak sedang begitu, kan?"
Ternyata dia
sudah tahu semuanya. Aku
tersenyum kecut dan mengangkat bahu. Aku merasa sedikit lebih tenang dan
membasahi kerongkongan. Sari buah dengan soda yang kuat ini terasa seperti rasa
musim panas yang telah usai.
"Pwahhhhhh,
nikmat sekali!!!!!!"
"Tuh
kan, benar-benar mirip Kurasen!"
Aku
kembali mengejek sang guru yang bibirnya kini berbusa bir. Misaki-chan meneguk
habis setengah gelasnya dalam satu tarikan napas, lalu meletakkan gelasnya
dengan bunyi dentang di atas meja.
"Sudah
kubilang kan, berhenti menggunakan perumpamaan itu."
"Berhenti
duluan dong bertindak begitu."
Padahal
baru saja bersulang, dia sudah menempelkan sikunya di meja sambil mengunyah
mentimun yang baru saja tiba dengan lahapnya.
Aku
pun mengikutinya dan mengambil satu.
Meskipun
biasanya kubis menjadi sayuran wajib yang dipesan pertama kali, tapi mentimun
dengan tingkat keasinan yang pas ini memang juara—bisa dimakan terus-menerus
tanpa henti.
Tak
lama kemudian, kubis dan berbagai macam sate yakitori pun mulai berjejer
di meja.
"Hidup
memang tidak pernah berjalan sesuai keinginan, ya."
Misaki-chan
yang baru saja mengambil tusukan Junkei tiba-tiba bergumam pelan.
"Melihat
punggung rekanmu menjauh itu... rasanya cukup menyesakkan, kan?"
Aku
tersentak dan spontan menatap wajahnya dari samping.
Sambil
mengunyah Junkei yang renyah itu, mata Misaki-chan tampak menatap ke
arah yang jauh.
Mungkinkah,
dia mengajakku ke sini memang untuk membicarakan hal ini?
Aku
mengepalkan tinju dengan erat di atas rok, lalu memberanikan diri untuk membuka
suara.
"Sen,
Yo, dan yang lainnya... mereka semua merasa senang dengan tulus. Apa hanya aku
yang merasa frustrasi dengan pertandingan tadi?"
Misaki-chan
tertawa kecil lalu menyesap birnya sedikit.
"Sen
dan yang lainnya tidak bermaksud buruk. Hanya saja, mereka memang belum
mencapai level itu."
Kali ini ia
mengambil tusukan Shiro dan melanjutkan.
"Untuk
hari ini, biarkan mereka pulang dengan membawa rasa percaya diri karena telah
berhasil mengalahkan tim kuat."
"Tapi,"
aku memotong bicaranya karena sudah tidak tahan lagi. "Bukan kami yang menang melawan Oboro. Nana-lah yang menang sendirian melawan
mereka."
Saat
mengatakannya, rasa kesal itu kembali meluap.
Aku selalu
menganggapnya sebagai rekan yang berlari sejajar denganku.
Saat aku
bilang akan menghancurkan Ashitaka, tentu saja itu termasuk Nana, dan semua
anggota tim lainnya. Aku mengira dia pun merasakan hal yang sama, tapi
ternyata....
"Memang
tidak pernah berjalan sesuai keinginan," Misaki-chan kembali menggumamkan
kalimat yang sama sambil mencelupkan sate Shiro-nya ke dalam saus
daging.
"Aku
sudah lama menunggu saat di mana Nana menghadapi dirinya yang sebenarnya."
Ia kemudian
menatapku, lalu tersenyum seolah sedang merasa kesulitan.
"Sampai
sekarang pun, kamu pasti sudah pernah melihat momen di saat 'rem' pada diri
Nana terlepas, kan?"
Aku
mengangguk pelan.
Misalnya saja
saat pertandingan latihan di bulan Mei, ketika Chitose berhasil menemukan
sepatu basket yang hilang.
Sejak dulu,
Nana memang terkadang menunjukkan permainan yang sulit dipercaya.
"Aku
rasa aku tidak perlu menjelaskan ini pada Umi, tapi dalam olahraga, tidak ada
yang namanya keajaiban di mana kekuatan seseorang tiba-tiba melampaui batas
kemampuannya hanya karena situasi mendesak. Apa pun pemicunya, performa yang
dikeluarkan saat itu tetaplah murni kemampuan asli orang tersebut."
Misaki-chan
melahap sate Shiro-nya lalu menjangkau sate Kushi-katsu.
"Tapi,
kecuali pengecualian seperti Todo, kebanyakan manusia tidak tahu cara
mengeluarkan kemampuan aslinya itu. Karena itulah mereka terpaksa bergantung
pada pemicu yang bersifat kebetulan, seperti 'kekuatan nekat di saat terjepit'
atau Zone."
Aku pun
pernah merasakannya.
Saat
pertandingan latihan melawan Ashitaka, atau saat melawan Suzu-san dan yang
lainnya. Saat itu, aku memang merasa bisa mengeluarkan kemampuan yang lebih
dari biasanya.
Misaki-chan
mengunyah Kushi-katsu-nya dengan lahap, lalu mengembuskan napas panjang
dengan nada heran.
"Kasus
Nana lebih parah lagi. Dia
sepertinya sengaja memperketat rem pada dirinya sendiri."
Sambil
mencampurkan ninniku nanba ke dalam saus daging, aku memiringkan kepala
karena sulit memahaminya. "Maksudnya...?"
"Biar
kuperjelas, bukan berarti dia sengaja bermalas-malasan, lho."
Misaki-chan
memesan segelas bir lagi untuk mengganti gelasnya yang sudah kosong, lalu
menopang dagu.
"Mungkin
itu adalah semacam estetika bagi Nana."
Estetika. Aku merenungkan kata yang tidak
terlalu akrab itu di dalam hati.
Entah
kenapa wajah Chitose terlintas di pikiranku, membuatku menggelengkan kepala
dengan kuat.
Misaki-chan
melanjutkan sambil menusuk-nusuk kubisnya.
"Dia
punya kecenderungan percaya bahwa mendisiplinkan diri dengan aturannya sendiri
adalah cara hidup yang indah. Itu bukan hal buruk, dan aku rasa itulah yang
membentuk Nana yang sekarang. Namun, di dalam rangkaian peraturan yang rumit
itu, tanpa sadar ada poin yang berbunyi: 'jangan perlihatkan batas kemampuanmu
kepada orang lain'. Atau lebih tepatnya, 'jika ingin memperlihatkan batasanmu,
pastikan kau sudah menciptakan batasan baru yang lebih jauh lagi'."
"Benar-benar mirip dia,"
ucapnya lalu meminum bir.
Bagi aku yang menjadikan "sekuat
tenaga di setiap saat" sebagai prinsip hidup, penjelasan itu terasa bisa
dipahami tapi sekaligus juga tidak.
Bukankah
itu curang?
Rasa pahit mulai merayapi hatiku.
Misaki-chan
sepertinya paham, tapi singkatnya Nana menyembunyikan sisa kekuatannya, lalu
apa bedanya itu dengan sengaja tidak serius?
Rasanya
menyebalkan jika baru sekarang dia menunjukkan keseriusannya di saat aku tidak
punya apa-apa lagi untuk dikeluarkan demi mengejarnya.
Seolah
menyadari suasana hatiku, suara Misaki-chan terdengar lebih lembut dari
biasanya.
"Ayo,
makanlah."
Sate Junkei
favoritku disodorkan ke arahku. Namun saat kumasukkan ke mulut, rasanya tawar
seolah aku sedang mengunyah bola karet.
---Ini
adalah langit-langit transparan, batinku.
Terkadang
aku merasakannya saat sedang bermain basket dengan Mai. Di antara aku dan dia
yang berada jauh di atas sana, ada sebuah langit-langit transparan.
Meski
aku sudah mengerahkan segalanya dan melompat sekuat tenaga, terus mengetuk
untuk mencari pintu yang pasti ada di suatu tempat, aku tetap tidak pernah
diizinkan masuk ke sana.
Mai
hanya berjongkok di sisi lain sana sambil menggangguku dengan ekspresi
tertarik, padahal sebenarnya dia bisa terbang bebas di ruangan yang jauh lebih
luas di balik sana.
Aku
sempat merasa putus asa dan mengira mungkin pintunya memang tidak ada, tapi aku
tetap percaya bahwa jika aku terus mengetuknya, suatu saat langit-langit itu
akan hancur....
Namun tanpa
kusadari, tiba-tiba saja Nana juga sudah berada di dunia seberang sana.
Ternyata dia
tahu di mana letak pintunya. Ternyata selama ini dia menyembunyikan kuncinya.
Kalau begitu,
kenapa dia tidak memberitahuku? Aku yang merasa kami berlari sejajar jadi
terlihat sangat menyedihkan.
Bakat. Kata yang paling kubenci itu hampir
saja terucap, namun aku segera menahannya.
Aku memang
tidak memiliki hal mulia seperti estetika, tapi setidaknya kata itu adalah
pengecualian yang terlarang bagiku.
Meskipun dia
menyembunyikan sisa kekuatannya, aku tahu bahwa Nana—dan tentu saja Mai—telah
melakukan usaha yang lebih membara dan lebih keras daripada siapa pun.
Jika aku
menyederhanakan segalanya dengan satu kata itu, aku bahkan tidak akan memiliki
hak lagi untuk berdiri di depan mereka.
Aku meneguk
habis sari buahku seolah sedang menelan rasa kesal pada diri sendiri.
Lalu dengan
kepala yang sedikit mendingin, aku menanyakan hal yang mengganjal di hati.
"Tapi,
kalau begitu, kenapa tiba-tiba Nana...."
Entah itu
dilakukan secara sadar atau tidak, aku tidak paham, tapi aku sudah mengerti
kalau dia memang menyembunyikan kemampuan aslinya.
Kalau begitu,
kenapa sekarang dia justru memamerkannya?
Misaki-chan
menyipitkan mata dengan sorot yang entah kenapa terlihat rindu.
"—Mungkin
dia menyadari bahwa ada keindahan juga dalam memberikan segalanya tanpa menahan
diri."
Ucapannya
terdengar seolah ia sedang merunut kembali masa lalu yang jauh.
"Keindahan...
dalam memberikan segalanya...?"
Saat aku
mengulanginya dengan bengong, ia menurunkan alisnya dengan ekspresi yang tampak
sedikit kesepian.
"Padahal
aku berharap kamilah yang bisa mengajarkan hal itu padanya."
"Bagaimanapun
juga," lanjut Misaki-chan.
"Aku
sudah lama menantikan hari di mana Nana bisa menggunakan kemampuannya tanpa
ragu. Seperti yang dia katakan sendiri, dengan begitu dia akan menjadi bilah
pedang yang bisa menjangkau Ashitaka... dan Todo."
Mendengar
itu, rasa kesal kembali meluap dan membuatku tertunduk.
Misaki-chan
mengembuskan napas panjang dengan nada heran.
"Eh,
sekarang malah Ace yang ketinggalan ini jadi murung. Hidup ini benar-benar
tidak pernah sesuai keinginan."
Aku menunduk
dan menjawab dengan suara lemah.
"Yang
Misaki-chan harapkan itu Nana, kan? Kalau begitu, Ace-nya sudah bukan..."
Ah, memalukan
sekali. Perkataan ini benar-benar picik.
Ini hanyalah
rengekan kekanak-kanakan yang ingin dihibur dengan kata-kata "bukan
begitu".
Misaki-chan
mengerutkan alisnya seolah merasa kesulitan, lalu perlahan mendekatkan
tangannya ke kepalaku, dan—
"Bodoh!"
"ADUUUUUUHHH?!"
Dug! Sentilan yang lebih kuat dari
sebelumnya mendarat telak di dahiku.
Rasanya
otakku baru saja berguncang. Bagaimana kalau aku jadi makin bodoh setelah ini?
"Dasar,"
ucap Misaki-chan sambil mengembuskan napas panjang dan melanjutkan.
"Aku
melihat sebuah mimpi."
Melihat
wajahnya dari samping, nada bicaranya terdengar lebih melankolis dari biasanya.
Mungkin dia
sudah mulai sedikit mabuk. Pipinya tampak sedikit memerah, dan matanya terlihat
sayu serta basah.
"Umi,
apa kamu ingat hari pertama saat kamu dan Nana masuk ke klub?"
Tanpa perlu
bersusah payah mengingatnya, aku langsung menyeringai.
"Setelah
Misaki-chan memberikan court name untuk kami semua, kamu menyuruh kami
menentukan pemimpin untuk anak kelas satu, dan aku bertengkar hebat dengan
Nana."
Misaki-chan
meneguk birnya dengan rakus, bahunya berguncang karena merasa geli.
"Itu
adalah hari pertama bahkan sebelum latihan dimulai. Aku hanya bermaksud mencari
seseorang yang bertugas menyampaikan informasi atau semacamnya."
"Itu
salah Nana, lho."
Aku membasahi
tenggorokanku dengan sari buah tambahan yang dipesankan Misaki-chan sebelum
melanjutkan.
"Habisnya
dia bilang 'Biar aku saja' dengan wajah seolah itu adalah hal yang sudah
sewajarnya."
Mendengar
itu, aku bisa merasakan tanda-tanda dia mengedikkan bahu di sampingku.
"Dia
pasti memahami niatku dengan benar. Itu memang gaya Nana—dia hanya berniat
mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang merepotkan, tapi yang langsung
menantangnya berkelahi itu kan kamu, Umi."
"Kalau
dipikir sekarang mungkin memang begitu, tapi..." aku melanjutkan.
"Saat
itu kan aku belum tahu sifat Nana yang rumit. Aku ini tipe orang yang secara
refleks berpikir kalau yang jadi pemimpin itu pasti orang yang paling jago main
basket. Makanya aku bilang, 'Eh, kenapa? Kan aku yang lebih kuat'."
Misaki-chan
tiba-tiba tertawa seolah baru mengingatnya lagi.
"Reaksi
Nana saat itu benar-benar mahakarya. Aku mengira dia tipe gadis yang keren dan tenang, tapi ternyata alisnya
langsung berkedut kesal."
Ah, benar
juga....
"Eh,
kenapa? Kan
aku yang lebih kuat."
"...Oh?
Apa maksud perkataanmu itu?"
"Habisnya,
waktu SMP di semifinal tingkat prefektur, aku kan menghancurkanmu."
"Itu
karena timku kalah dari timmu saja. Jangan salah sangka, Nanase Yuzuki tidak
pernah kalah dari anak kecil sepertimu."
"Hah!
Berani-beraninya! Kamu baru saja mengatakan hal yang terlarang, ya! Kalau
begitu ayo kita buktikan di sini siapa yang lebih hebat! Ayo duel 1 on 1, Nana,
maju sini!"
"Boleh
juga. Karena kamu menantangku dengan menyebut court name, berarti ini
pertandingan serius, kan, Umi?"
Begitu kami
menelusuri kembali percakapan di hari itu, Misaki-chan sampai memegangi
perutnya dan tertawa terpingkal-pingkal.
"Kukuku...
benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Baru hari pertama masuk, sudah
berani duel 1 on 1 dengan mengabaikan teman seangkatan, senior, bahkan
pembina... hanya kalian berdua pelakunya."
"Yang
langsung memberi izin dalam sekejap karena merasa itu menarik kan Misaki-chan
sendiri."
Rasanya rindu
sekali, seolah itu sudah lama berlalu.
Ujung-ujungnya
setelah itu, kami benar-benar bertarung dengan sengit disaksikan oleh semua
teman seangkatan dan para senior.
Kalau
dipikir-pikir sekarang, kami benar-benar murid baru yang gila, tapi para senior
seperti Kei-san malah asyik bersorak menyemangati.
Karena
Misaki-chan menyuruh kami melakukannya sampai puas, aturannya adalah tanpa
batas poin—sampai salah satu menyerah atau tidak bisa bergerak lagi.
Jika aku
berhasil melewati pertahanan dengan tiga kali drive dan mencetak gol,
Nana akan membalas dengan santai lewat dua tembakan tiga angka.
Kami terus
melakukan itu sampai matahari terbenam, hingga pada akhirnya semua orang merasa
bosan dan tidak ada lagi yang mau mengganti papan skor, lalu kami berdua
tumbang berdampingan di lapangan.
『Aku yang menang karena aku lebih
banyak melakukan penetrasi.』
『Aku yang menang karena aku lebih
banyak mencetak Three-point.』
Saat itu,
sebenarnya siapa yang menang ya? Aku berharap hasilnya seri.
Misaki-chan
yang tawanya mulai reda membuka suara sambil memegang sate Pituro.
"Aku
merasa kalian berdua sangat menarik. Nana yang mengamati situasi dengan tenang
sambil mencetak gol secara konsisten lewat permainan penuh bakat, dan Umi yang
permainannya masih kasar tapi mampu merebut gol dengan paksa lewat semangat
yang meluap-luap. Meskipun gayanya bertolak belakang, basket kalian berdua
sama-sama memiliki pesona, dan tidak ada yang mau mengalah. Aku pikir kalian akan menjadi duet
yang hebat. Dan yang terpenting,"
Ia menjeda
kalimatnya, lalu menatapku.
"—Bentuk
hati kalian sangat mirip."
Hati. Tanpa sadar aku memegang dada kiriku.
"Seolah
terbakar sampai ke sumsum tulang, seolah ingin memeras seluruh tenaga sampai
tetes terakhir, seolah sedang memproyeksikan cara hidup kalian sendiri, seolah
sedang berkorban demi cinta pertama."
Misaki-chan
bergumam pelan dengan nada yang penuh kasih sayang.
"Bentuk
hati yang seperti itulah."
Tanpa
menunggu reaksiku, ia melanjutkan bicaranya.
"Karena
itulah, aku melihat sebuah mimpi."
Tanpa
kusadari, gelas es shochu yang dipesan Misaki-chan berdenting.
"Jika
itu kalian berdua, bahkan kami, Suzu, Aki, bahkan Ashitaka yang memiliki Todo
sekalipun... sebuah mimpi yang belum pernah tercapai...."
"Misaki-chan,
itu maksudnya...?"
Saat aku
bertanya balik, ia menatapku dengan mata sayu yang menyimpan bara api yang
nyata.
"Juara nasional."
"—!!!"
Ini pertama
kalinya aku mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Misaki-chan.
Menumbangkan Ashitaka adalah target jangka pendek yang kami canangkan. Di
Fukui, itu berarti tiket untuk maju ke turnamen nasional.
Tentu saja,
aku adalah atlet sejati. Aku akan berbohong jika bilang tidak pernah memikirkan
apa yang ada di baliknya.
──Tidak,
hatiku selalu menatap jauh ke depan.
Merangkak
dari nol di sekolah akademik yang bukan unggulan basket, lalu menjadi juara
nasional. Orang yang tidak pernah serius mempertaruhkan segalanya dalam
olahraga mungkin akan menganggap ini sekadar mimpi belaka, tapi menurutku, apa
gunanya jadi atlet kalau tidak berani memimpikan puncak tertinggi?
Tentu saja,
aku tahu realitas tidak semanis itu. Gelar itu adalah medali yang bahkan tidak
bisa digapai oleh Ashitaka maupun Todo.
Wajar jika
orang akan menertawakan kami—sekumpulan anggota dadakan di sekolah
akademik—yang mencoba menantang sekolah swasta elit yang gemar menyaring pemain
berbakat dari seluruh negeri, bahkan luar negeri.
Meski begitu.
──Kalau tidak
mengincar juara satu, apa artinya menyerahkan seluruh masa remaja ini?
"Tuh
kan," kata Misaki-chan.
"Dalam
hal itu, kalian berdua memang sangat mirip."
Ah, begitu
ya. Akhirnya aku paham sepenuhnya. Tidak ada yang rumit sama sekali. Gadis itu,
Nana—wanita bernama Nanase Yuzuki itu—
──Benar-benar
berniat merebut posisi juara satu itu.
Bahkan jika
harus membuang dirinya yang lama. Bahkan jika harus meninggalkan rekan duetnya.
Bahkan jika harus mencampakkan estetika yang selama ini ia pegang teguh.
──Semua itu
demi pria yang ingin ia tembak jatuh.
Aku jadi
merasa konyol dengan prinsip "sekuat tenaga"-ku. Dia jauh lebih
serius dariku. Sementara aku hanya terus bergantung pada masa lalu dengan penuh
penyesalan.
Musim panas
yang telah berakhir. Musim gugur yang telah berubah.
Sampai kapan
aku berencana untuk terus tertinggal?
"Lagipula,"
kata Misaki-chan. "Bukan
hanya Nana yang kutunggu, dan sedang kutunggu."
"Eh...?"
Aku
mengerjapkan mata dengan heran, sementara es di dalam gelas shochu-nya
bergemerincing.
"Sudah
kubilang, kan? Aku melihat mimpi pada kalian berdua."
"Itu
berarti..." gumamku sambil tanpa sadar mengepalkan tinju. "Aku juga masih punya masa depan
di depan sana...?"
Misaki-chan
menyipitkan mata dengan lembut.
"Tentu
saja. Kamu adalah Ace Fujishi yang sudah kuakui."
Ia tertawa
lebar layaknya seorang gadis remaja. Jika aku lengah sedikit saja, air mata
pasti akan tumpah, jadi aku buru-buru meminum sari buahku. Soda yang melewati
tenggorokan meletup-letup, seolah menangis menggantikanku.
Namun, keluh
kesah yang tidak tertelan sepenuhnya itu bocor dengan suara lirih.
"Tapi,
aku tidak punya kekuatan tersembunyi seperti Nana..."
Tangan
Misaki-chan terulur ke kepalaku, sama seperti tadi. Aku memejamkan mata
rapat-rapat, mengira akan disentil lagi, tapi—
"Tidak
apa-apa, kamu bukan Nana."
Ia
mengusap kepalaku dengan lembut.
"Umi
punya senjata yang hanya dimiliki oleh Umi sendiri. Tapi sama seperti Nana,
kamu harus menyadarinya sendiri. Karena ini adalah basket kalian."
Misaki-chan
menatap telapak tangannya sendiri dengan senyum polos, seolah sedang jatuh
cinta.
"Tenang
saja, aku pun dulu begitu."
Ah,
benar juga. Orang di depanku ini adalah guru, pembina, sekaligus orang dewasa
yang kuhormati. Tapi dia pasti pernah menjadi gadis tujuh belas tahun.
Bagaimana cara Misaki-chan menghadapi masa muda dan basketnya dulu?
Memikirkan
itu, aku mencoba menanyakan hal yang mengganjal.
"Misaki-chan,
tadi soal 'kita'..."
Aku sempat
mengabaikannya karena terkejut dengan kata "juara nasional", tapi—
『Jika itu kalian berdua, bahkan kami,
Suzu, Aki, bahkan Ashitaka yang memiliki Todo sekalipun... sebuah mimpi yang
belum pernah tercapai....』
Misaki-chan
jelas-jelas mengatakannya tadi. Ketajaman instruksinya dan performa luar biasa
yang ia tunjukkan saat melawan Suzu-san dan Aki-san adalah buktinya. Aku tahu
dia pemain hebat saat masih aktif dulu. Tapi dipikir-pikir, aku belum pernah
mendengar detail masa lalunya.
Mungkin
karena pengaruh alkohol, Misaki-chan memalingkan wajah dengan malu-malu.
"Dulu
aku pun punya seseorang yang bisa kupanggil rekan duet, sama seperti Umi dan
Nana."
"Benarkah!?"
Aku berseru
antusias, sementara ia meminum shochu-nya dengan santai.
"Kamu
juga pernah bertemu dengannya, kan?"
"Eh...?"
"Itu
lho, Tominaga, pembina Ashitaka."
"Hah,
Tominaga-sensei!?"
Memang mereka
terlihat akrab, tapi ternyata mereka mantan rekan setim? Itu berarti seperti aku dan Nana
yang menjadi guru di SMA berbeda lalu saling melatih basket? Jika aku berada di
posisi Misaki-chan sebagai pembina Fujishi, rasanya pasti lebih dari sekadar
kesal.
Jangan-jangan
setiap kali kalah dari Ashitaka, hatinya mendidih? Merasa tidak enak, aku
mencuri pandang ke wajah Misaki-chan. Entah kenapa, ia malah tersenyum simpul
dan bahunya berguncang pelan.
"Aku
juga punya pengalaman yang mirip dengan Umi."
"Rekan
duet yang kukira setara, suatu hari tanpa peringatan apa pun... meninggalkanku
dan pergi ke sisi seberang."
Mendengar
itu, aku tersentak dan membelalakkan mata.
『Melihat punggung rekanmu menjauh
itu... rasanya cukup menyesakkan, kan?』
Begitu
rupanya. Itu bukan sekadar penghiburan atau simpati, melainkan empati tulus
dari pengalaman Misaki-chan sendiri.
"Ini
cuma racauan orang mabuk, lupakan saja besok."
Tanpa perlu
diminta pun, aku tidak berniat bertanya lebih dalam. Situasi, kemampuan, dan
kepribadian kami pasti berbeda jauh. Mendengar detailnya mungkin malah akan
membuatku makin muram. Pada akhirnya, aku harus berjuang dengan caraku sendiri.
Namun, ada
satu hal yang ingin kutanyakan.
"Bisa
bicara seperti ini... berarti Misaki-chan sudah berhasil melaluinya, kan?"
Aku butuh
satu cahaya untuk mulai berlari lagi. Aku tidak butuh saran konkret atau penghiburan murah
yang instan. Aku hanya ingin mendengar satu kalimat dari senior yang kuhormati
ini: "Aku berhasil melakukannya."
"Dalam
kasusku..."
Misaki-chan
mengernyitkan alis dengan ekspresi pahit namun penuh kasih.
"Pemicunya
adalah satu kalimat dari seorang senior berandalan yang bahkan bukan anggota
klub basket."
Lalu,
ia menggigit bibir dengan malu-malu.
"Benar-benar
pria yang tidak tertolong, sok keren, dan merepotkan."
Ia
tertawa kecil. Aku merasa sedikit geli mendengarnya. Pasti ada pria yang ingin
ia dekap erat dulu.
Aku
ingin mendengar lebih banyak, tapi sayang sekali. Sepertinya Misaki-chan merasa
sudah bicara terlalu banyak karena mabuk. Ia berdeham dan kembali ke ekspresi
biasanya. Lalu, ia menatapku seolah ingin menutup pembicaraan.
"Bukan
hanya aku yang menunggumu, Umi."
"Eh...?"
Selagi
aku bingung dengan maksud perkataannya yang tiba-tiba, Misaki-chan menyambung
dengan tegas.
"──Rekamu,
Nana, sedang menunggumu."
"Gadis
itu..."
Aku
mengembalikan sate ageoroshi yang baru kumakan setengah ke piring, lalu
menunduk.
"Nana
yang sekarang tidak membutuhkanku. Dia berniat menghadapi Ashitaka dan masa
depan sendirian."
Misaki-chan
mengedikkan bahu dengan berlebihan.
"Saat
meeting setelah pertandingan tadi, apa yang Nana katakan?"
"Dia
bilang... gaya bertarung dengan mendominasi permainan sendiri seperti tadi
adalah satu-satunya bilah pedang yang bisa menjangkau Ashitaka."
"Salah,"
Misaki-chan menggeleng.
"Dia
bilang 'Setidaknya untuk saat ini'. Apa kamu lupa 'surat perpisahan' yang dia tinggalkan secara tidak sadar
itu? Mungkin sekarang dia masih kewalahan mengendalikan dirinya yang
baru."
Ia menepuk
bahuku.
"Nana
sedang menunggumu."
Kalau
begitu—aku hampir berteriak.
"Kalau
begitu kenapa dia bersikap seolah mencampakkanku──!?"
Tiba-tiba,
Misaki-chan menyunggingkan senyum provokatif.
"Kenapa?
Apa kamu mau dia berhenti berlari dan menunggumu sampai kamu bisa
mengejarnya?"
Aku tersentak
dan mendongak. Benar, dulu dia pernah mengatakannya saat kami bercanda.
『Haru, kamu mau begini terus? Biar
kuberi tahu ya, aku tidak akan sungkan padamu. Kalau kamu tidak bisa
mengejarku, aku tidak akan memberimu operan.』
Seberapa pun
dia terlihat berubah, Nana tetaplah Nana.
『Hei, Haru-san?』
『Jika ada posisi juara satu yang harus
direbut dari orang terkasih, apa yang akan Haru-san lakukan?』
Apa jawabanmu
saat Kureha bertanya waktu itu?
『Aku akan menantangnya bertarung secara
jantan untuk menentukan siapa yang menang.』
『──Itu gaya kami, kan?』
Astaga,
berani-beraninya aku bicara sok hebat di depan junior.
Sampai kapan
pun, aku adalah aku. Sampai kapan pun, Nana adalah Nana. Sampai kapan pun, kami
adalah kami.
Sama seperti
dirimu yang akan selalu menjadi dirimu sendiri.
"Hati
kalian sudah membara?"
Mendengar
kata-kata Misaki-chan, aku menyeringai.
"Aku
lupa kalau aku bukan wanita yang hanya bisa menunggu selamanya."
Aku tidak
akan menyerahkan posisi juara satu itu padamu, Nana.
"Pria
yang tidak mau menoleh itu akan kutembak jatuh dengan tanganku sendiri."
Karena cinta
ini asli sampai ke sumsum tulang.
◆◇◆
──Permainan
yang kurang estetika.
Aku, Nanase
Yuzuki, menyandarkan kepala di pinggiran bak mandi sambil memejamkan mata.
Lampu dimatikan seperti biasa, digantikan oleh lilin aroma.
Setiap kali
selesai bertanding, biasanya aku berendam seperti ini sambil melakukan evaluasi
sendirian.
Merunut alur
pertandingan mulai dari kuarter pertama, memikirkan gerakan apa yang bisa
dilakukan lebih baik, poin mana yang hilang karena kesalahanku, apakah aku
sudah memanfaatkan rekanku dan yang lainnya secara maksimal....
Laga melawan
Oboro adalah pertandingan terbaik sekaligus terburuk dalam satu waktu.
Seberapa
tenang dan tajam pun aku mengevaluasi diri, permainan tadi adalah solusi paling
optimal. Fakta bahwa kami menang dengan selisih skor sebesar itu melawan Oboro
membuktikan kebenaran secara angka.
Sejujurnya,
jika kami bertarung dengan gaya biasa yang berpusat pada Umi, kemungkinannya
hanya lima puluh-lima puluh.
Bahkan dengan
Fujishi yang sudah berkembang pesat pun, prediksiku sebelum melawan Todo adalah
enam puluh-empat puluh untuk keunggulan lawan.
Jadi, hasil
hari ini adalah momen di mana menumbangkan Ashitaka bukan lagi sekadar target,
melainkan tujuan nyata yang bisa diraih.
Pilihanku
sama sekali tidak salah.
Ya, andai
saja hatiku punya kekuatan untuk mengatakannya tanpa ragu....
Demi meraih
kemenangan, aku tidak menganggap teman-teman sebagai rekan, melainkan hanya
bidak atau tipuan demi memasukkan bola.
Cara seperti
itu tidak indah—Nanase Yuzuki yang dulu pasti akan langsung menghakiminya
seperti itu. Jadi ini mungkin lebih tepat disebut sesi introspeksi diri
daripada sekadar evaluasi.
Padahal aku
sudah berlari lurus menuju satu-satunya gol sesuai keinginan. Padahal aku sudah
mendekap pria yang kuinginkan sesuai harapan.
Namun di
dalam hati, penyesalan berat yang menyerupai rasa bersalah terus bergejolak.
Sen dan Yo
merasa senang dengan tulus, tapi justru itulah yang membuat dadaku terasa
perih.
Selama
pertandingan, karena rasa bersalah dan benci pada diri sendiri, aku tidak bisa
menatap mata Umi selain untuk keperluan melakukan Fake.
Apakah ini
benar-benar keseriusanku?
Apakah ini
benar-benar sosok wanita yang kucintai setengah mati?
Apakah ini
benar-benar Nanase Yuzuki yang ingin kupamerkan?
『Wanita bernama Nanase Yuzuki ternyata
lebih mementingkan idealismenya sendiri daripada Senpai, ya.』
『Aku tidak takut pada wanita yang bahkan
tidak bisa berubah demi pria yang dicintainya.』
Kata-kata
Kureha terlintas kembali, membuatku tersentak dan membuka mata. Benar, ini
adalah sumpah untuk menghadapi tekad yang telah terasah itu.
『Persahabatan, belas kasihan, kebaikan
hati, rasa sedih, bahkan Nanase Yuzuki sekalipun akan kutinggalkan.』
『──Aku akan menjadi Nana yang apa
adanya.』
Karena
sebagai Nanase Yuzuki aku belum bisa menjangkaunya, tidak bisa mewujudkannya,
maka aku memutuskan untuk berubah.
Akankah
datang hari di mana aku menganggap diriku yang seperti ini indah?
Di musim
panas itu, di ruang kelas saat senja──.
Saat aku
melihat Ucchi berlari meninggalkan Yuko yang menangis tersedu-sedu. Saat gadis
baik hati itu memilih hal yang paling ia inginkan tanpa ragu. Aku merasa cara
hidupnya sangat indah.
Hari itu, di
atap itu──.
Aku
benar-benar dipukul telak oleh keinginan Kureha yang kuat. Aku terpana oleh
keindahan cara hidupnya yang rela membuang segalanya demi pria yang ia cintai.
Itulah
sebabnya pilihan ini seharusnya tidak salah.
Tapi saat aku
menerapkannya pada Nanase Yuzuki, kenapa keraguan ini muncul begitu hebat?
Apakah ini
kelemahan, keterikatan, atau sekadar kebingungan?
Aku baru
menyadari beratnya sebuah pilihan setelah merasakannya sendiri.
Meninggalkan
estetika, rekan duet, dan teman-teman untuk berlari sendirian ternyata tidak
semudah yang diucapkan.
Sejujurnya,
aku takut. Karena jika setelah melakukan semua itu aku tetap gagal, aku tidak
akan punya apa-apa lagi.
Apakah
aku akan terus berkelana di musim semi yang telah berlalu dengan hati yang
hampa?
──Apakah
Kureha mencintai dengan tulus sambil memikul tekad sebesar ini di ujung
pedangnya?
Jangan
ragu, batinku sambil keluar dari bak mandi dan berdiri di depan cermin. Sambil
memantulkan sosok wanita yang telah kuasah sepenuhnya, aku berpikir. Aku sudah
muak dengan stagnasi dan penundaan. Aku sudah bosan merindukan punggung
seseorang yang melebihiku.
Bahkan
jika aku harus memakan apel beracun lewat ciuman dan tertidur bersamanya.
Cermin,
oh cermin.
──Siapa yang terpantul di dalam hati orang itu?



Post a Comment