NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 8 Short Story


Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Jarak yang Diizinkan oleh Hati

※Mengandung bocoran, harap nikmati setelah menyelesaikan isi utama buku 'Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka 8'.

Sudah sekitar satu minggu lebih sejak hatiku dibuat kacau oleh sosok Momiji-chan yang tampak begitu terbiasa memasak di sana.

Aku, Uchida Yua, kini sedang berkunjung ke rumah Saku-kun. Mungkin terdengar tak tahu malu—pikirku sambil hampir mencela diri sendiri—tapi sungguh, aku bukannya datang menawarkan diri begitu saja tanpa tahu diri.

Seberapa pun besarnya permintaan maafku kepada mereka berdua, dan seberapa pun mereka telah menerimanya, aku tetap merasa keberatan jika harus menghadapi akhir pekan seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Karena itulah, sebenarnya aku berniat mendinginkan kepala dan menjaga jarak untuk sementara waktu, namun justru Saku-kun yang menyapaku lebih dulu.

"Yua, apa kau ada waktu akhir pekan ini?"

"Eto, iya..."

"Kalau tidak keberatan, bolehkah aku minta tolong dibantu belanja dan dibuatkan stok makanan?"

"Tapi..."

"Setelah pulang sekolah aku lelah sekali karena latihan regu sorak. Akhirnya aku jadi sering makan di luar atau hanya membeli bento dan lauk jadi terus."

"Saku-kun..."

"Maaf ya kalau merepotkan, tapi aku ingin minta tolong padamu."

"……Iya!"

Mungkin saja, pikirku.

Bahkan saat ia masih bermain bisbol dulu, ia adalah tipe orang yang bisa menjaga diri dan melakukan masak sendiri setidaknya di tingkat minimal.

Meski latihan regu sorak sangat sibuk, tidak mungkin ia sampai kelelahan hingga tak punya tenaga sama sekali untuk memasak.

Pasti Saku-kun sengaja menawarkan diri lebih dulu agar aku tidak merasa sungkan untuk datang ke sini setelah kejadian itu.

Aku merasa sangat tidak enak karena telah membuatnya harus bersikap penuh perhatian seperti itu, namun aku tahu jika aku tidak menerima tawarannya dengan tulus, ia justru akan semakin mengkhawatirkanku.

Sebab kau adalah orang yang seperti itu. Lagipula, aku punya alasan yang tepat.

Anak-anak yang bertugas membuat kostum untuk pementasan drama kelas memintaku untuk mengukur ukuran tubuh Saku-kun. Jika aku berpikir ini demi festival sekolah, hatiku sedikit lebih tenang.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Saku-kun yang baru saja selesai merapikan barang kebutuhan sehari-hari yang kami beli berkata: "Bagaimana kalau kita lakukan pengukuran sekarang?"

Aku pun baru saja selesai merapikan bahan makanan. "Iya, sebelum aku lupa."

"Apa aku harus melepas kausku?"

"Begitu saja tidak apa-apa, kok."

Sambil menjawab, aku mengeluarkan pita meteran yang sudah kupersiapkan sebelumnya. "Saku-kun, bisa menghadap ke belakang?"

"Siap."

Aku melangkah mendekat dan berdiri di belakang Saku-kun. Padahal biasanya aku selalu berjalan di sampingnya, tapi saat melihatnya kembali dari dekat seperti ini, aku tersadar betapa besarnya dia.

Tinggi badannya, lebar bahunya, punggungnya, dan juga keberadaannya.

Aku merasa malu karena hatiku kembali berdebar, lalu aku merentangkan pita meteran seolah sedang menutup-nutupi perasaan itu.

Begitu ujung jariku menyentuh bahunya saat menelusuri ukurannya, Saku-kun sedikit tersentak. "Geli, tolong lakukan dengan lebih kasar saja."

"Maaf, maaf."

Sesuai permintaannya, aku melakukan pengukuran dengan gerakan yang lebih santai, namun tetap teliti agar tidak melakukan kesalahan yang bisa merepotkan nanti.

Dari lebar bahu ke lebar dada, dari lebar dada ke panjang baju, dari panjang baju ke panjang lengan.

"Saku-kun, bisa angkat kedua tanganmu ke samping?"

Lalu aku berdiri tepat di depan Saku-kun, melingkarkan kedua lenganku untuk mengukur lingkar dada.

Tentu saja aku berusaha agar tubuh kami tidak bersentuhan, namun posisi ini membuat kami seolah sedang berpelukan, dan tiba-tiba sebuah pikiran terlintas.

──Apakah Momiji-chan juga akan mengukurnya seperti ini nanti?

"Jangan begitu," batinku. Hatiku menjadi suram dan aku segera menggelengkan kepala. Padahal aku baru saja muak pada sisi diriku yang kotor seperti itu.

Aku segera mengukur lingkar dada secepat mungkin lalu berlutut untuk mengukur pinggang, dan tiba-tiba bagian lututku yang lecet karena jatuh tadi terasa berdenyut sakit.

Sambil menundukkan mata seolah sedang dihakimi oleh rasa sakit itu, aku melingkarkan lengan ke pinggangnya.

"Yua."

Saku-kun memanggil namaku dengan suara yang seolah bisa melihat menembus isi hatiku.

"Jika sudah tidak ada masalah dengan kostumnya nanti, bisakah kau beritahu aku hasil ukuran tubuhku?"

"Eh...?"

Tanpa sadar aku mendongak, dan ia melanjutkan sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu.

"Aku merasa agak keberatan jika harus diukur seperti ini oleh Momiji."

Menerima segala perasaan yang terkandung dalam sepatah kata itu, aku menjawab:

"Iya, serahkan saja padaku."

Aku merasa keropeng di hatiku sedikit terkelupas perlahan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close