Bonus
E-book: Cerita Pendek Tambahan
Jarak
yang Diizinkan oleh Hati
※Mengandung bocoran, harap nikmati setelah menyelesaikan isi utama buku 'Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka 8'.
Sudah sekitar satu minggu lebih sejak
hatiku dibuat kacau oleh sosok Momiji-chan yang tampak begitu terbiasa memasak
di sana.
Aku, Uchida Yua, kini sedang berkunjung
ke rumah Saku-kun. Mungkin terdengar tak tahu malu—pikirku sambil hampir
mencela diri sendiri—tapi sungguh, aku bukannya datang menawarkan diri begitu
saja tanpa tahu diri.
Seberapa pun besarnya permintaan maafku
kepada mereka berdua, dan seberapa pun mereka telah menerimanya, aku tetap
merasa keberatan jika harus menghadapi akhir pekan seperti biasa seolah tidak
terjadi apa-apa.
Karena itulah, sebenarnya aku berniat
mendinginkan kepala dan menjaga jarak untuk sementara waktu, namun justru
Saku-kun yang menyapaku lebih dulu.
"Yua,
apa kau ada waktu akhir pekan ini?"
"Eto,
iya..."
"Kalau
tidak keberatan, bolehkah aku minta tolong dibantu belanja dan dibuatkan stok
makanan?"
"Tapi..."
"Setelah
pulang sekolah aku lelah sekali karena latihan regu sorak. Akhirnya aku jadi
sering makan di luar atau hanya membeli bento dan lauk jadi terus."
"Saku-kun..."
"Maaf ya
kalau merepotkan, tapi aku ingin minta tolong padamu."
"……Iya!"
Mungkin saja,
pikirku.
Bahkan saat
ia masih bermain bisbol dulu, ia adalah tipe orang yang bisa menjaga diri dan
melakukan masak sendiri setidaknya di tingkat minimal.
Meski latihan
regu sorak sangat sibuk, tidak mungkin ia sampai kelelahan hingga tak punya
tenaga sama sekali untuk memasak.
Pasti
Saku-kun sengaja menawarkan diri lebih dulu agar aku tidak merasa sungkan untuk
datang ke sini setelah kejadian itu.
Aku merasa
sangat tidak enak karena telah membuatnya harus bersikap penuh perhatian
seperti itu, namun aku tahu jika aku tidak menerima tawarannya dengan tulus, ia
justru akan semakin mengkhawatirkanku.
Sebab
kau adalah orang yang seperti itu. Lagipula, aku punya alasan yang tepat.
Anak-anak
yang bertugas membuat kostum untuk pementasan drama kelas memintaku untuk
mengukur ukuran tubuh Saku-kun. Jika aku berpikir ini demi festival sekolah,
hatiku sedikit lebih tenang.
Saat aku
sedang memikirkan hal itu, Saku-kun yang baru saja selesai merapikan barang
kebutuhan sehari-hari yang kami beli berkata: "Bagaimana kalau kita
lakukan pengukuran sekarang?"
Aku pun baru
saja selesai merapikan bahan makanan. "Iya, sebelum aku lupa."
"Apa aku
harus melepas kausku?"
"Begitu
saja tidak apa-apa, kok."
Sambil
menjawab, aku mengeluarkan pita meteran yang sudah kupersiapkan sebelumnya.
"Saku-kun, bisa menghadap ke belakang?"
"Siap."
Aku
melangkah mendekat dan berdiri di belakang Saku-kun. Padahal biasanya aku
selalu berjalan di sampingnya, tapi saat melihatnya kembali dari dekat seperti
ini, aku tersadar betapa besarnya dia.
Tinggi
badannya, lebar bahunya, punggungnya, dan juga keberadaannya.
Aku
merasa malu karena hatiku kembali berdebar, lalu aku merentangkan pita meteran
seolah sedang menutup-nutupi perasaan itu.
Begitu ujung
jariku menyentuh bahunya saat menelusuri ukurannya, Saku-kun sedikit tersentak.
"Geli, tolong lakukan dengan lebih kasar saja."
"Maaf,
maaf."
Sesuai
permintaannya, aku melakukan pengukuran dengan gerakan yang lebih santai, namun
tetap teliti agar tidak melakukan kesalahan yang bisa merepotkan nanti.
Dari lebar
bahu ke lebar dada, dari lebar dada ke panjang baju, dari panjang baju ke
panjang lengan.
"Saku-kun,
bisa angkat kedua tanganmu ke samping?"
Lalu aku
berdiri tepat di depan Saku-kun, melingkarkan kedua lenganku untuk mengukur
lingkar dada.
Tentu saja
aku berusaha agar tubuh kami tidak bersentuhan, namun posisi ini membuat kami
seolah sedang berpelukan, dan tiba-tiba sebuah pikiran terlintas.
──Apakah
Momiji-chan juga akan mengukurnya seperti ini nanti?
"Jangan
begitu," batinku. Hatiku menjadi suram dan aku segera menggelengkan
kepala. Padahal aku baru saja muak pada sisi diriku yang kotor seperti itu.
Aku segera
mengukur lingkar dada secepat mungkin lalu berlutut untuk mengukur pinggang,
dan tiba-tiba bagian lututku yang lecet karena jatuh tadi terasa berdenyut
sakit.
Sambil
menundukkan mata seolah sedang dihakimi oleh rasa sakit itu, aku melingkarkan
lengan ke pinggangnya.
"Yua."
Saku-kun
memanggil namaku dengan suara yang seolah bisa melihat menembus isi hatiku.
"Jika
sudah tidak ada masalah dengan kostumnya nanti, bisakah kau beritahu aku hasil
ukuran tubuhku?"
"Eh...?"
Tanpa sadar
aku mendongak, dan ia melanjutkan sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu.
"Aku
merasa agak keberatan jika harus diukur seperti ini oleh Momiji."
Menerima
segala perasaan yang terkandung dalam sepatah kata itu, aku menjawab:
"Iya,
serahkan saja padaku."
Aku merasa
keropeng di hatiku sedikit terkelupas perlahan.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment