NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Elf Watanabe Volume 2 Afterword

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Catatan Penulis ─ AND YOU ─


Ini adalah kejadian yang terjadi selama saya menulis buku ini, tetapi ada berita bahwa sebuah produsen besar menghentikan produksi MD dan cakram Blu-ray.

 

Saat masa SMA Wagahara, pemutar portabel adalah barang wajib bagi anak muda dan menjadi produk unggulan di toko elektronik. Namun, ketika saya menjadi mahasiswa, popularitasnya sudah mulai menurun, jadi saya justru terkejut mengetahui bahwa produksinya masih berlanjut hingga sekarang.

 

Di sisi lain, saya memiliki kesan bahwa Blu-ray Disc adalah media penyimpanan yang relatif baru, jadi saya sempat berpikir bahwa penghentian produksinya terasa terlalu cepat. Namun setelah saya cek, ternyata Blu-ray sudah hampir seperempat abad sejak mulai digunakan secara luas.

 

Fakta bahwa Blu-ray sudah ada sejak lama, dan bahwa sudah selama itu pula waktu berlalu sejak kemunculannya—kedua hal tersebut sama-sama mengejutkan, dan justru membuat saya merasa sedikit takut.

 

Bagaimanapun, Wagahara saat ini sedang menulis cerita dengan latar Jepang modern, dengan seorang anak laki-laki yang menggunakan kamera film sebagai tokoh utama.

 

Sampai kapan, ya, produksi film kamera akan terus berlanjut?

 

Syukurlah, per Januari 2025 belum terlihat tanda-tanda ke arah sana, tetapi seperti yang saya ceritakan di kata penutup volume sebelumnya, di zaman sekarang kamera itu sendiri perlahan-lahan sudah tidak lagi menjadi barang yang umum.

 

Ditambah lagi dengan media analog yang perawatannya merepotkan—tidak akan aneh jika suatu saat perusahaan memutuskan untuk menghentikannya.

 

Sudah cukup lama saya memiliki kamera SLR sungguhan, dan demi sedikit saja berkontribusi pada keberlangsungan bisnis para produsen film, saya pun sedang mempertimbangkan dengan cukup serius apakah sebaiknya mulai menggunakan kamera SLR film juga.

 

Bukan berarti kegelisahan tersebut secara langsung tercermin, tetapi dalam cerita buku ini, karena suatu alasan tertentu, kamera film yang berperan aktif di volume sebelumnya kini kehilangan panggungnya dan tergeser oleh kamera DSLR.

 

Di dunia nyata, ketika membandingkan barang lama dengan yang baru secara langsung, sering kali yang lama terlihat kalah fungsi atau kurang praktis, sehingga ketidaknyamanannya makin menonjol.

 

Meski begitu, jika kita bisa bertemu dengan sesuatu yang tetap ingin kita gunakan meskipun harus melewati semua itu, maka pertemuan tersebut pastilah sebuah keberuntungan besar.

 

Saya sungguh berharap kisah dalam buku ini dapat menjadi pemicu bagi para pembaca untuk menemukan keberuntungan semacam itu, dan saya juga berharap dapat bertemu kembali dengan kalian semua di kisah berikutnya.

 

Sampai jumpa!




Previous Chapter | ToC | End Vol 2

0

Post a Comment

close