Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter
5
Dengkuran tidur Watanabe Fuka memiliki suara yang khas
Yukuto
Oki adalah seorang siswa SMA laki-laki yang sehat dan biasa saja, tipe yang
bisa ditemukan di mana pun di Jepang, dan ia tidak menjalani hidup asketis yang
mencurahkan seluruh waktunya hanya untuk kamera dan belajar.
Ia
memang sudah bukan atlet, tetapi masih menonton olahraga seperti voli, dan juga
menonton Piala Dunia atau Olimpiade dengan semangat penonton awam—selama bisa
ditonton, ia akan menontonnya.
Ia
juga menikmati film, drama, anime, manga, dan novel seperti kebanyakan orang.
Banyak yang ia beli karena sesuai seleranya sendiri, dan tak terhitung pula
yang ia tonton karena terbawa rekomendasi teman atau penilaian publik.
Dan
tentu saja, di antara berbagai media itu, ada pula konten yang dinikmati dengan
hasrat khas remaja.
"Hmm…
ini nggak boleh. Yang ini juga nggak. Aduh, foto Hayashida-senpai semuanya
nggak bisa dipakai. Punya Kijima-kun juga… ini mepet tapi tetap nggak."
Konten
yang belum sampai kategori dewasa, tapi cukup sensual, bertebaran di dunia ini.
Saat pertama kali Fuka datang ke kamarnya, ada beberapa benda semacam itu yang
sengaja ia singkirkan ke dalam lemari lebih dulu.
"Ah—lagu
ini enak. Bikin kerja lancar. Oke, yang ini hasil jepretan Kotaki-san…"
Sejak
saat itu, Yukuto tidak lagi bisa menerima secara realistis banyak adegan klise
yang sering muncul dalam genre yang disebut komedi romantis.
Yukuto
mengenakan headphone dan mengerjakan pengeditan foto klub voli sambil memutar
musik dengan volume keras.
Kalau
tidak begitu, ia akan mendengar suara Fuka yang sedang melakukan sesuatu di
kamar mandi.
Pria
yang menghentikan seorang gadis yang ingin mandi bukanlah manusia.
Karena
itu, Yukuto mengerahkan energi setara bersih-bersih besar akhir tahun untuk
membersihkan kamar mandi, menjelaskan cara penggunaan ruang ganti sekaligus
wastafel dan kamar mandi rumah Oki, lalu tanpa benar-benar mendengar balasan
Fuka, ia kabur ke ruang tamu.
Awalnya
ia berniat menyelesaikan pengeditan foto selagi Fuka mandi.
Namun
kenyataannya, dari ruang tamu, kamar mandi yang jaraknya bahkan kurang dari
tiga meter—meski pintunya tertutup—tetap memperdengarkan suara Fuka bergerak
atau bergumam sendiri.
Lalu
suara pintu dibuka dan ditutup. Suara air shower menyembur. Suara, suara,
suara.
Suara
yang muncul dari kamar mandi rumah biasa memang normalnya terdengar sampai
luar.
Sebaliknya,
dalam banyak komedi romantis, sering muncul adegan di mana tokoh utama remaja
membuka pintu saat heroine sedang ganti baju, atau tanpa sadar masuk ke kamar
mandi dalam keadaan telanjang karena tidak menyadari ada orang yang sedang
mandi.
"Mana
mungkin nggak sadar! Kupingnya busuk apa!"
Pasti
kamar mandi dan ruang cuci di rumah tokoh utama komedi romantis punya peredaman
suara setingkat bunker nuklir bawah tanah.
Yukuto
mencoba mengatasi suara shower Fuka yang tetap terdengar meski pintu ruang tamu
ditutup, dengan menyalakan TV atau mengoperasikan mesin pencuci piring—yang
sebenarnya ingin ia jalankan tengah malam saat tarif listrik lebih murah—demi
menutupi suara.
Tapi
tetap terdengar. Mau tidak mau tetap terdengar. Telinganya malah seakan ingin
mendengarkan.
Suara
Fuka terkena shower! Suara ia menggosok rambutnya! Suara air lembut saat ia
berendam dengan santai!
Kalau
begini, sudah tidak tertolong. Kenapa kamar mandi rumahku bukan spesifikasi
bunker nuklir sih.
Ia
sempat terpikir kabur ke kamar pribadinya di lantai dua, tapi sebagai pemilik
rumah—bahkan sebelum sebagai laki-laki—ia merasa punya kewajiban berada di
tempat yang mudah dipanggil kalau Fuka butuh bantuan.
Namun
kalau ia terus mendengar "suara kehidupan" Fuka dari ruang tamu,
rasanya ia bisa benar-benar gila, jadi Yukuto memutuskan untuk berkonsentrasi
bekerja sambil memutar suara lewat headphone dengan volume sedang.
Dengan
begitu, suara biasa tidak akan terdengar, tapi kalau dipanggil dengan suara
keras, ia masih bisa mendengarnya.
Lagipula,
ia sudah meletakkan handuk mandi dan handuk wajah cadangan dalam jumlah banyak
di tempat yang mudah terlihat, serta menyambungkan pengering rambut ke
stopkontak dan menyiapkannya.
Saat
membersihkan kamar mandi, ia juga sudah memastikan sisa sampo, kondisioner, dan
sabun mandi masih cukup, serta menjelaskan cara menggunakan panel pemanas air
dan tempat meletakkan handuk bekas pakai.
Karena
sudah awal musim panas, ia juga menyiapkan kipas angin untuk berjaga-jaga kalau
tubuh kepanasan, dan mengeluarkan sebotol air mineral dari kulkas.
Selama
mandi dilakukan dengan wajar, seharusnya tidak ada situasi di mana Fuka
membutuhkan bantuan Yukuto.
Jangan
bilang ia sengaja meniadakan semua peluang "kejadian tak sengaja yang
menggoda". Inilah bentuk keramahtamahan yang masuk akal dalam menjamu
tamu.
"Fokus,
fokus, fokus… yang diambil Kotaki-san ini lumayan parah ya… ini juga nggak. Ini
juga… hmm."
"Oki-kun."
"Kalau
punyaku sendiri juga… meski waktu itu lagi ribut, tetap saja gagal. Ini juga
nggak."
"Oki-kun.
Aku sudah selesai."
"Hmm,
tadinya kupikir seragam pertandingan lebih bagus, tapi kalau yang bukan pemain
inti nggak punya seragam… ah, tapi masa iya sih."
"Oki-kun!"
"Eh?
Ah!"
Suara
Fuka yang keras terdengar tepat di telinganya meski terhalang headphone,
membuat Yukuto terkejut dan buru-buru melepas headphone-nya.
Saat
ia menoleh, Fuka berdiri di sana sambil mengintip wajahnya, membawa kantong
besar—mungkin berisi pakaian kotor dan perlengkapan pribadinya—serta botol air
mineral yang telah ia siapkan.
"Aku
sudah selesai mandi. Airnya juga sudah kuminum. Terima kasih."
"A-ah…
i-iya…"
Rambut
Watanabe Fuka versi elf biasanya mengembang ringan, seperti ditiup angin.
Namun
setelah mandi, rambut Fuka terlihat lembap dan lebih tenang, sehingga telinga
elf-nya tampak lebih panjang dan besar dari biasanya.
"E-eto…
c-cocok, ya… piyamamu."
Dan
itu adalah pemandangan yang sama sekali belum pernah ia lihat: Fuka mengenakan
piyama.
Setelan
berbahan lembut, berlengan lima-perempat dan bercelana delapan-persepuluh,
berwarna hijau muda dengan potongan longgar.
"B-benarkah?
…Terima kasih."
Setelah
berkata begitu, Yukuto tanpa sadar mengalihkan pandangan.
Bahan
piyama pada dasarnya dirancang agar lembut dan tidak membebani tubuh.
Justru
karena itu, garis tubuh Fuka tampak jauh lebih jelas dibandingkan saat
mengenakan pakaian biasa atau seragam, dan kehangatan samar setelah mandi
membuat aroma sabun mandi dan sampo—yang seharusnya sudah akrab—terasa sama
sekali berbeda.
Tidak,
ini jelas berbeda. Ada aroma lain yang bercampur, aroma yang tidak ia kenal.
"Kamu
pakai parfum atau semacamnya?"
Ada
aroma segar yang mengingatkan pada citrus, manis tapi ringan. Mendengar itu,
ekspresi Fuka berubah menjadi campuran antara cemberut dan senang.
"Sepertinya
indra penciuman Oki-kun cukup tajam."
"Hah?"
"Mungkin
itu aroma hair oil. Tidak sekuat parfum, sih. Menurutmu bagaimana?"
"Bagaimana"
itu maksudnya apa.
Menyuruhku
menghirup dengan sadar, begitu? Apa dia pikir remaja laki-laki bisa
melakukannya dengan santai?
"…K-kurasa
tidak masalah."
"Syukurlah."
Fuka,
yang tak bisa menebak maksud sebenarnya, mengangguk puas lalu menatap PC yang
sedang dioperasikan oleh Yukuto.
"Masih
butuh waktu sedikit lagi?"
"Ah,
tidak, ini sudah hampir selesai."
"Benarkah?
Tapi kelihatannya masih tersisa sekitar setengahnya."
Karena
topik pembicaraan berpindah ke foto, Yukuto merasa ini kesempatan yang tepat
dan segera mengalihkan pikirannya ke mode kerja.
"Ya.
Sebenarnya aku seharusnya mengerjakan semuanya dengan rapi untuk semua orang,
tapi yang ini—yang diambil oleh Kotaki-san—sekitar setengahnya, arah
pandangannya, tuh…"
"Benar
juga, melenceng ya."
Sekitar
setengah dari foto yang diambil Izumi ternyata arah pandang matanya bergeser ke
atas atau ke bawah.
"Padahal
saat pemotretan rasanya semua orang sudah menghadap ke depan dengan benar.
Kenapa ya?"
"Mungkin
sih, dia berusaha memotret dengan hati-hati sampai jarak antar jepretan terlalu
lama. Kamu pasti pernah merasakannya, menatap lensa kamera terus-menerus itu
cukup melelahkan. Tapi ada juga beberapa yang rasanya tidak bisa dijelaskan
hanya dengan itu saja. Aduh, gimana ya. Kalau nantinya seragamnya diseragamkan,
mungkin lebih baik diberi sedikit sudut. Memang cuma perbedaan kecil dan soal
selera, tapi kadang hasilnya jadi lebih bagus kalau subjek diminta melihat
sedikit ke atas dari lensa."
"Oh,
begitu ya?"
"Iya.
Eh? Atau itu cuma berlaku buat anak-anak ya. Gimana ya… Ah, tapi lihat, foto
Amami-senpai ini—bukan sampai dibilang melirik ke atas, tapi dia melihat
sedikit ke arah atas… hm."
"Oki-kun?"
"Ah,
bukan apa-apa… itu kan… foto Amami-senpai ini diambil oleh Kotaki-san,
ya…?"
Mungkin
karena kelelahan akibat ucapan Fuka yang terlalu tak terduga. Seolah gangguan
kamera klub itu menular, fokus matanya mendadak tidak jelas, dan foto Rio
tampak buram.
Ia
menggosok matanya, tapi tak ada perbaikan. Bagian lain dari software pengeditan
terlihat jelas, jadi jelas bukan masalah pada layar PC.
"Amami-senpai…
tubuhnya kelihatan agak ramping…"
"Oki-kun?
Kamu nggak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."
"Eh!?
A-ah, iya, aku baik-baik saja."
"Ah,
sudah kembali normal."
Tiba-tiba
Fuka mendekat dan mengintip wajah Yukuto dari jarak yang sangat dekat, membuat
fokus matanya langsung tertuju jelas pada mata Fuka yang indah.
"A-ah,
bukan apa-apa kok. Sepertinya aku terlalu fokus sampai capek. Aku sudahi
saja."
Yukuto
menutup software itu tanpa melihat lebih jauh foto Rio, lalu mematikan PC.
"Iya.
Kita juga belum sempat ngobrol yang penting, jadi lebih baik istirahat saja. Oh
iya, Oki-kun juga mau mandi bagaimana?"
"Iya,
akan aku lakukan. Oh, Watanabe-san, kamu mau sikat gigi sekarang? Kalau iya,
aku tunggu sebentar."
"Makasih.
Tidak apa-apa kok, aku sudah sikat gigi setelah mandi."
"Baiklah.
Kalau begitu aku mandi sebentar. Kamu boleh menunggu di sini, atau di
kamarku."
"Iya.
Aku tidak apa-apa, silahkan mandi dengan santai."
Yukuto
mengangguk, lalu supaya tidak sampai berjalan-jalan di lorong dengan pakaian
dalam, ia membawa pakaian dalam dan piyama baru dari kamarnya ke kamar mandi.
Di
depan Fuka, ia sengaja memilih kaus dan celana pendek, bukan ‘piyama set
lengkap’, sebuah pilihan yang lahir dari gengsi bawah sadar khas remaja
laki-laki.
Saat
ia masuk ke kamar mandi, terdengar samar bunyi langkah ringan menaiki tangga.
Sepertinya Fuka memilih menunggu di kamar Yukuto.
"Ah,
ngomong-ngomong… Watanabe-san tidur di mana ya?"
Bukan
berarti tidak ada futon tamu, tapi sudah lama sekali tidak dijemur.
Sambil
melepas pakaian, entah kenapa ia melipat cucian dengan agak lebih rapi dari
biasanya dan menyimpannya di keranjang, membayangkan Fuka akan menggunakannya
besok pagi.
"Gawat…"
Padahal
tidak terjadi apa-apa, tapi Yukuto malah memegangi kepalanya dan berjongkok di
ruang ganti.
"Kenapa
baunya enak banget sih…!"
Aroma
citrus dari produk bernama hair oil—kosmetik yang sama sekali belum pernah
muncul dalam hidup Yukuto—melayang di kamar mandi sebagai sisa kehadiran Fuka.
"Kipas
ventilasi harus dinyalakan 24 jam…"
Kalau
aroma ini masih tersisa saat ibunya pulang, ia tidak bisa membayangkan apa yang
akan dikatakan.
Dengan
langkah goyah, Yukuto masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, lalu
berendam. Saat ia menyadari bahwa beberapa menit yang lalu Fuka berada di
tempat yang sama, ia kembali meronta sendirian dalam kebingungan batin.
◇
"Oki-kun!?
Kamu kelihatan lemes, nggak apa-apa!?"
"Sepertinya
cuma sedikit kepanasan."
"Tapi
wajahmu malah kelihatan pucat banget, seperti kedinginan!"
Ia
tidak perlu mengatakan bahwa ia menutupnya dengan mandi air dingin untuk
memusnahkan imajinasi liar yang meledak di kamar mandi.
"Aku
nggak sakit kok. Itu nanti saja. Yang penting sekarang kita harus pikirkan
Watanabe-san tidur di mana."
Menghadapi
situasi di mana seorang gadis dengan pakaian tidur pasca-mandi berada di
kamarnya, meski sudah berusaha menenangkan diri sepenuhnya, suaranya tetap saja
meninggi.
"Itu
tidak perlu dipikirkan. Aku tidur di lantai saja."
"Sudah
kuduga kamu bakal bilang begitu. Tapi jelas tidak bisa begitu."
"T-tapi,
tiba-tiba aku harus menggunakan tempat tidur Oki-kun itu… secara mental juga
berat buatku."
Tolong
jangan memerah sambil bilang ‘tempat tidur Oki-kun’. Aku bisa mati.
"B-bukan
begitu maksudku! Aku punya futon tamu! Memang tidak dijemur jadi mungkin agak
keras, tapi menurutku itu lebih baik!"
"Tidak
apa-apa! Aku sudah bilang kan, aku datang dengan persiapan."
Sambil
berkata begitu, Fuka menarik tas sekolahnya ke dekat, lalu tiba-tiba
mengeluarkan benda besar berbahan tebal dengan suara diseret.
"Aku
bawa sleeping bag untuk musim panas! Sudah termasuk bantal, barang unggulan
lho!"
"O-oh…
ini benar-benar di luar dugaan."
"Iya.
Sudah lama tidak dipakai sih, tapi supaya bisa dipakai saat panas, di dalamnya
ada kipas angin!"
"Kipas
angin!? Wah, ada yang seperti ini ya. Watanabe-san sering berkemah?"
"Sebetulnya
setelah beli, aku cuma pakai sekali. Oki-kun, kamu tahu bunga gekkabijin?"
"Yang
katanya cuma mekar satu malam dalam setahun saat bulan purnama, kan?"
"Iya,
itu. Tepatnya, gekkabijin di Bumi sebenarnya tidak harus mekar saat bulan
purnama dan bisa berbunga beberapa kali setahun tergantung kondisi. Tapi di
Natche Riviera ada bunga dengan sifat mirip itu. Dalam bahasa sana namanya
‘Pedang Ksatria Malam’. Aku benar-benar ingin melihat bunganya mekar, jadi aku
habiskan uang sakuku buat beli ini."
"Namanya
keren banget ya. Waktu itu, kamu bisa melihat bunganya?"
"Iya.
Bunganya sangat indah, tapi karena aku sama sekali tidak mau melewatkannya,
akhirnya aku tetap terjaga semalaman di dalam sleeping bag. Jadi sebenarnya
sleeping bag-nya jadi tidak terlalu berguna."
Sambil
tersenyum, Fuka dengan wajah penuh kegembiraan menyusupkan tubuhnya ke dalam
sleeping bag.
Konon
ada sleeping bag yang bisa dipakai sambil berjalan, tapi sleeping bag milik
Fuka—selain kipas anginnya—adalah model standar seperti kepompong.
Melihat
Fuka yang benar-benar seperti kepompong sambil memasang wajah bangga terasa
lucu, dan sedikit saja, pikiran-pikiran kacau dalam diri Yukuto pun tersingkir.
"Ngomong-ngomong,
Watanabe-san, soal penghalang itu…"
"Sudah
kupasang saat Oki-kun mandi. Sudah lewat jam sembilan juga. Kalau ada orang
yang mencoba masuk dari luar, mereka akan tertangkap oleh penghalang itu dan
seluruh tubuhnya akan mati rasa, tidak bisa bergerak."
Hal
yang seharusnya menjadi topik utama hari ini malah ditangani dengan santainya,
seperti menaruh alat pembasmi hama rumah tangga baru.
"Jadi,
meski agak cepat, ayo kita tidur. Oki-kun juga kelihatannya capek, kan.
Lagipula, kalau sampai ada pencuri yang datang lagi, aku pasti akan
mengusirnya!"
"Dalam
banyak arti, aku benar-benar tidak ingin itu terjadi sih… tapi kamu benar-benar
tidur di lantai?"
"Eh?
Iya. Oki-kun tahu kan? Di kamarku tidak ada tempat tidur, jadi aku selalu tidur
pakai futon. Ini cuma futonnya berubah jadi sleeping bag, jadi tidak jauh beda
dari biasanya."
Begitu
selesai bicara, Fuka yang seperti kepompong itu tanpa ragu langsung menjatuhkan
diri dan berbaring di lantai kayu kamar Yukuto.
"Kelihatannya
seru ya."
"Iya!
Ini praktis pertama kalinya aku tidur pakai sleeping bag ini!"
"O-oh
begitu. Ya sudah, kalau Watanabe-san tidak masalah…"
"Ah,
tapi!"
Ia
tiba-tiba bangkit dengan kecepatan luar biasa, seperti ulat pengukur.
"Walaupun
aku itu… model eksklusifnya Oki-kun, memotret wajah tidurku tetap terhitung
dosa besar, ya."
"A-aku
tidak akan melakukan itu! Lagipula kameranya lagi bermasalah!"
"…Kedengarannya
seperti kalau kameranya tidak bermasalah, kamu bakal melakukannya?"
"Tidak
akan!"
"Hehe,
kalau begitu tidak apa-apa. Baiklah, selamat malam."
Lalu
ia kembali menjatuhkan diri ke lantai, seperti tiang yang roboh.
Melihat
antusiasme Fuka yang seperti anak kecil yang kegirangan karena pertama kali
menginap, ditambah ia mulai terbiasa dengan aroma hair oil yang memenuhi
ruangan, ketegangan Yukuto pun akhirnya mengendur.
"Kalau
begitu aku matikan lampunya ya. Lampu kecilnya mau dinyalakan?"
"Aku
bisa tidur baik dalam gelap total maupun dengan lampu kecil, jadi ikut Oki-kun
saja."
"Kalau
begitu, aku nyalakan lampu kecilnya saja."
Biasanya
Yukuto juga tipe yang mematikan semua lampu, tapi kalau ia terbangun tengah
malam dan ingin ke toilet lalu tanpa sengaja menendang Fuka, itu bisa jadi
masalah besar.
Saat
Yukuto mematikan lampu dan kembali ke tempat tidur, Fuka menyapanya dari
lantai.
"Selamat
malam, Oki-kun."
"Iya,
selamat malam, Watanabe-san."
Tidur
dengan seseorang lain di dalam kamar terasa aneh.
Dan
fakta bahwa orang itu adalah Fuka—bahkan seorang elf—membuat perasaan itu
semakin kuat.
Beberapa
menit berlalu dalam keheningan, lalu—
"Bukan
itu!"
Yukuto
tersentak bangun, menegur dirinya sendiri, lalu berdiri dan menyalakan kembali
lampu.
"Penaklukan
Raja Iblis! Watanabe-san! Belajar untuk penaklukan Raja Iblis maksudnya apa
sih—eh, sudah tidur!!"
Padahal
baru beberapa menit berlalu, Fuka sudah tersenyum puas sambil mengeluarkan
suara napas tidur yang ringan dan teratur.
Bahkan
saat Yukuto ribut sendiri, alis Fuka tak bergerak sedikit pun. Melihat elf itu
tidur nyenyak,
"…Telinga
elf juga bisa tidur menyamping ya."
Dengan
perasaan lemas, Yukuto hanya bisa memikirkan hal sepele seperti itu, lalu
menyerah, mematikan lampu, dan kembali ke tempat tidur.
Berbaring
menyamping di tepi ranjang, ia menatap punggung Fuka yang membelakanginya
sambil terus menghela napas tidur yang teratur.
"Besok
bisa kutanyakan sih. Tapi… tidak mungkin dia berangkat sekolah dari rumahku,
kan. Pasti pulang dulu, dan kalau begitu harus pagi-pagi sekali… mungkin tidak
sempat. Dan dia juga pasti belum cerita ke Kotaki-san tentang kejadian hari
ini…"
Yukuto
membalikkan badan, membelakangi Fuka, dan benar-benar bersiap untuk tidur.
Mungkin
karena bentuk sleeping bag-nya yang unik, meski napas tidur Fuka terdengar
sangat dekat, ia tidak merasa terlalu tegang. Bahkan aroma citrus itu memberi
efek menenangkan. Setelah semua kejadian hari ini menguras tenaganya, rasa
kantuk pun datang dengan cepat.
Yang
terdengar hanya suara mobil di kejauhan dan bunyi halus kipas kecil dari dalam
sleeping bag Fuka.
"Penaklukan
Raja Iblis, ya…"
Ia
menarik selimut musim panas yang tipis sedikit lebih tinggi dan menghembuskan
napas panjang.
"Aku
tidak punya hak atau kekuatan untuk menghentikan Watanabe-san, tapi… kalau dia
pergi ke tempat yang jauh… aku tidak suka."
Lalu
ia memejamkan mata lebih dalam.
Beberapa
waktu kemudian—
"……"
Kepompong
itu bangun tanpa suara, memutar tubuh bagian atasnya untuk menatap punggung
Yukuto, lalu berbisik.
"Oki-kun,
kamu bilang begitu karena tahu aku masih bangun?"
Yukuto,
yang menghela napas tidur dengan teratur, tidak menjawab.
"Walaupun
versi musim panas, tetap saja panas ya. Kipasnya juga tidak terlalu bikin
dingin… haa."
Berusaha
tidak membangunkan Yukuto, Fuka perlahan mengeluarkan tubuh bagian atasnya dari
sleeping bag, berdiri pelan, mendekati sisi tempat tidur, lalu berlutut. Ia
mengulurkan tangan kanannya ke arah kepala Yukuto dan berhenti tepat sebelum
menyentuh wajahnya.
"Setidaknya…
kamu sempat tegang sedikit, kan."
Sudut
bibirnya melonggar, seolah merasa geli.
"Itu
karena aku? Atau kalau perempuan mana pun juga begitu…?"
Yang
menjawab hanyalah suara napas tidur.
Fuka
menarik kembali tangannya, lalu menjatuhkan kepalanya perlahan di atas kasur.
"Baunya
Oki-kun… haa."
Ia
menatap bagian belakang kepala Yukuto hanya dengan matanya.
"Maaf
sudah membuatmu khawatir dengan banyak hal. Tapi aku tidak akan pergi ke
mana-mana. Soalnya aku adalah model eksklusif Oki-kun, dan aku ingin… Oki-kun
menyukaiku lagi…"
Lalu
ia buru-buru menjauh dari tempat tidur dan kembali berbaring di tempat semula.
Setelah
itu, ia kembali mengeluarkan napas tidur, namun untuk sementara waktu kakinya
bergerak-gerak di dalam sleeping bag, membuat suara halus shaka-shaka dari
bahan tebalnya.
◇
Saat
membuka mata, tanpa melihat jam pun ia tahu itu bukan waktu biasanya ia bangun.
Cahaya
yang masuk dari celah tirai masih putih dengan warna ungu samar. Melihat jam di
ponsel yang diisi daya di dekat bantal, ternyata masih belum jam lima pagi.
Memang
terlalu pagi, tapi mengingat waktu ia tidur tadi malam, bangun pada jam segini
juga tidak aneh.
Ia
melirik ke samping—tentu saja tidak ada kejadian Fuka bangun setengah sadar
lalu naik ke ranjangnya di tengah malam. Yang ada hanyalah elf kepompong yang
terbaring sedikit lebih dekat dari yang ia ingat, tidur dengan wajah bahagia.
"Berarti
semalaman tidak terjadi apa-apa ya. Haa… membangunkan orang tidur juga tidak
enak, tapi bangun juga masih terlalu pagi… tidur lagi kali ya."
Entah
kenapa, dalam situasi seperti ini, justru sulit untuk kembali tidur. Lalu saat
sudah waktunya benar-benar mulai beraktivitas, rasa kantuk malah datang
menyerang.
"Tidak
bisa tidur."
Yukuto
langsung bangun, mengambil kamera DSLR klub yang diletakkan di samping PC di
meja belajarnya, lalu menyalakannya ke mode siap memotret.
"Baterainya
masih aman. Tapi kalau tiba-tiba fokusnya bermasalah lagi, repot juga. Kalau
sampai rusak di angkatanku, rasanya bersalah sama para senior."
Namun
saat iseng mengintip melalui viewfinder ke dalam kamar, melihat perabot kecil
dan rak buku, autofokusnya tampak bekerja normal.
"Apa
tadi malam cuma hal aneh itu ya? Seperti AC rusak tapi begitu teknisinya datang
malah normal."
"…supyo…
supyo…"
"Serius
deh, napas tidur macam apa itu? Ah."
Saat
itu, kebetulan suara burung pipit atau semacamnya dari luar bertumpuk dengan
napas tidur Fuka, dan tanpa sadar Yukuto menoleh ke arahnya sambil tetap
mengintip viewfinder.
Ia
teringat bahwa semalam ia dilarang keras memotret wajah tidur Fuka dan hendak
segera memalingkan wajahnya, tapi ia menyadari sesuatu yang aneh.
"Hah?"
Fokusnya
tidak mengenai Fuka. Tepatnya, fokus tidak mengenai wajah Fuka.
"Apa
ini?"
Sleeping
bag-nya terfokus dengan jelas. Tapi Fuka sendiri tidak.
"Tidak,
tunggu, ini aneh."
Apa
yang terlihat di viewfinder kamera DSLR modern adalah gambar yang sudah
diproses secara digital melalui lensa.
Kalau
begitu, sosok Fuka yang terlihat di viewfinder seharusnya adalah Fuka versi
manusia Jepang.
Namun
yang ada di dalam viewfinder sekarang, meski buram seolah tertutup noise
digital dan tidak fokus, tampak seperti Fuka sang elf.
"Eh?
Eh? Kenapa?"
Dalam
kasus viewfinder kamera film yang itu, fungsinya hanya seperti alat bidik
sederhana, jadi meskipun yang terlihat adalah Fuka versi elf, tidak ada
masalah.
"Kalau
pakai ponsel, hasilnya normal seperti biasa."
Dengan
panik, Yukuto segera menyalakan kamera ponselnya dan mengarahkannya ke Fuka. Di
layar, tampak wajah Fuka versi manusia Jepang yang sedang tidur sambil
mengeluarkan napas supyo-supyo.
Sambil
meminta maaf dalam hati, ia mencoba memotret dengan ponsel, dan benar
saja—gambar yang terekam juga Fuka versi manusia Jepang.
Lalu
ia kembali mengintip melalui viewfinder kamera DSLR, dan sekali lagi, hanya
bagian wajah yang dipenuhi noise.
"……"
Tidak
ada bukti pasti yang bisa langsung ia pegang.
Namun,
sebagai seseorang yang punya pengalaman memotret dengan kamera DSLR lebih
banyak daripada kebanyakan orang, Yukuto mengalihkan pandangan dari viewfinder
dan mengarahkan lensa ke Fuka sambil melihat layar kamera yang resolusinya
jelas lebih rendah daripada model terkini.
"……"
Kemudian,
untuk pertama kalinya sejak ia mulai menggunakan kamera itu, ia mengarahkan
lensa ke Fuka sambil mengintip viewfinder dengan mata kiri, menekan shutter
satu kali, lalu menurunkan kamera ke atas lututnya dan menghela napas panjang.
"………………Hah?"
Perasaan
meluap yang tak terkatakan dan rasa takut terhadap situasi yang tak dikenal
saling bertabrakan—dan rasa takut sedikit lebih unggul.
Rasa
kantuk Yukuto sudah lenyap sepenuhnya. Dengan kamera di tangan kiri, ia
menggosok matanya yang kini sama sekali tidak mengantuk dengan tangan
kanan—saat itulah—
"Ubiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!"
Teriakan
aneh yang sama sekali tidak pernah ia dengar sebelumnya, seasing napas tidur
Fuka, tiba-tiba menembus jendela dan menghantam telinganya.
"Haah—!"
Pada
saat yang sama, Fuka terbangun dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Mungkin karena lupa bahwa dirinya masih terbungkus sleeping bag, ia terhuyung
dan hampir terjatuh ke depan hingga wajahnya membentur lantai.
"Bahaya!"
Yukuto
meloncat keluar dari tempat tidur dengan gerakan akrobatik dan menangkap Fuka
dari bawah, mencegah kecelakaan yang mengerikan.
"O-oh,
selamat pagi, Oki-kun! Maaf bikin kaget dari pagi!"
"Syukurlah
kamu tidak apa-apa! Tapi tadi suara itu—"
"Ada
seseorang yang terjebak di penghalang! Ma-maaf, Oki-kun! Bisa tolong bukakan
resleting sleeping bag-nya? Tanganku tidak bisa keluar!"
"Resletingnya
keras banget! Kenapa kamu pakai seketat ini padahal musim panas?!"
"Awalnya
panas, tapi malamnya jadi agak dingin!"
Padahal
sedang membuka bagian depan pakaian tidur seorang gadis yang menginap, tapi
entah kenapa jantungnya sama sekali tidak berdebar.
"Puhah!
Terima kasih, Oki-kun! Aku keluar sebentar!"
"T-tunggu,
lewat jendela!?"
"Aku
elf, jadi tidak apa-apa! Oki-kun, kalau sempat, tolong ambil foto bukti pakai
kamera itu!"
Masih
dengan pakaian tidur, Fuka melompati tempat tidur Yukuto, berpegangan pada
jendela, lalu langsung melompat keluar.
"Watanabe-san!"
Yukuto
mencondongkan tubuh untuk mengejar dengan pandangan. Fuka mendarat di taman
yang menghadap ke jendela ruang tamu yang pecah, rambutnya berantakan entah
karena rambut tidur atau karena angin sihir.
Di
tangannya, entah sejak kapan, tergenggam pedang yang lahir dari sulur
tanaman—persis seperti yang pernah ia lihat dulu di Natche Riviera.
"Itu…"
Di
taman, tergeletak seseorang bertubuh besar yang tampaknya terjebak oleh
penghalang. Fuka mendekat dengan waspada, pedang terangkat siap siaga.
"T-tunggu,
Watanabe-san, berhenti di situ!"
Karena
orang itu tergeletak tengkurap, wajahnya tidak terlihat. Namun seseorang yang
menyusup ke halaman rumah orang lain pada jam seperti ini jelas bukan orang
normal.
Yukuto
mengangkat kamera, memastikan Fuka tidak masuk ke dalam frame, lalu memotret
agar terlihat jelas bahwa tempat itu adalah halaman rumah keluarga Oki—termasuk
pepohonan taman, pot bunga, dan penyusup yang terjatuh.
"Sial…
mataku…!"
Masih
setengah terbangun, ditambah ketegangan dan rasa takut, penglihatannya terasa
semakin kabur.
Dari
atas jendela, penyusup itu tampak mengenakan topi rajut hitam, kaus lengan
panjang hitam ketat, dan celana panjang hitam ramping—penampilan mencurigakan
yang terlalu sempurna.
Dengan
tinggi badannya yang melebihi Fuka, Yukuto sempat mengira itu pria, tapi—
"Hah?"
Hasil
foto yang ia ambil dengan panik mematahkan kesan tersebut.
"Eh?
Perempuan?"
Siluet
tubuh yang terlihat di layar kamera jelas memiliki garis tubuh perempuan.
"Oki-kun!
Hubungi polisi!"
"A-ah,
i-iya!"
Mendapat
teriakan Fuka, Yukuto menarik kepalanya dari jendela dan mengambil ponsel, tapi
karena tegang, ia kesulitan membuka daftar kontak.
"Sial!
Nomor detektif itu…!"
"Eh!?
Serius!?"
Dan
tampaknya penyusup itu juga tidak pingsan selamanya sesuai harapan.
Saat
Yukuto kembali menoleh ke luar karena suara tajam Fuka, penyusup berbaju hitam
itu sudah berlutut dan mencoba bangkit.
"Oki-kun!
Jangan keluar! Orang ini… bukan orang dari sini!"
"Hah!?"
"Kalau
orang biasa langsung terkena penghalang itu, tidak mungkin bisa berdiri secepat
ini! Kalau manusia biasa dari sini yang kena, efeknya cukup untuk melumpuhkan
mereka selama sekitar seminggu!"
"Kalau
penghalangnya seseram itu, tolong bilang dari awal dong!?"
Kalau
penyusup itu manusia Bumi, kondisinya akan seperti kena taser, dan bisa-bisa
justru mereka yang dituduh melakukan pembelaan berlebihan.
"Kamu
siapa? Orang Natche Riviera, kan. Kalau kamu tim inspeksi yang dikirim untuk
mengawasiku, ini sudah kelewatan. Dengan maksud apa kamu berniat menyakiti
orang yang penting bagiku dan keluarganya?"
"……"
Penyusup
itu tidak sebodoh itu untuk menjawab pertanyaan Fuka.
Namun
tampaknya dampak dari penghalang—yang seharusnya melumpuhkan orang biasa selama
seminggu—perlahan mulai berkurang, dan lawan itu pun berdiri sepenuhnya dengan
waspada.
"Jangan
kira kamu bisa kabur. Penghalang ini tidak bisa ditembus dari dalam kecuali
oleh penyihir yang memasangnya. Kalau penyihirnya tidak melepasnya, kamu tidak
bisa—kabur!?"
Entah
kenapa, Fuka sudah merasa hal ini akan terjadi.
Jika
lawannya memang orang Natche Riviera, maka seharusnya sudah diperhitungkan
bahwa mereka memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia Bumi.
"Aku
kurang makan, jadi satu hantaman tadi malah merusak penghalangnya!"
Ternyata
alasannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan identitas atau kekuatan
lawan.
Bagaimanapun,
Yukuto sejak awal sudah membayangkan kemungkinan lawan melarikan diri. Hampir
secara refleks, ia berlari menuruni tangga, melesat keluar lewat pintu depan—
"Oki-kun!?"
"Ugh!"
"Gah!"
Dengan
kamera masih terangkat, dia berdiri menghadang sosok mencurigakan berpakaian
hitam itu.
Teriakan
Fuka, serta suara erangan Yukuto dan orang mencurigakan yang bertabrakan.
Yukuto
yang kalah secara fisik terpental akibat benturan tersebut, dan sementara Fuka
berlari menghampiri Yukuto yang terjatuh, orang mencurigakan itu dengan gerakan
ringan melompati dinding dan berhasil melarikan diri.
"Oki-kun!
Kamu nggak apa-apa!? Tidak terluka!? Kenapa nekat melakukan hal seperti itu!
Lagian, matamu! Jangan-jangan kamu dipukul!?"
Tak
heran jika Fuka panik. Di sekitar mata kanan Yukuto tampak memerah.
"Aduh…
sakit… wah, ini kayaknya bakal jadi memar."
Sambil
meringis, Yukuto menyentuh mata kanannya, lalu segera menarik jarinya seperti
saat menyentuh api.
"Jangan
disentuh! Aku sembuhkan!"
"Eh,
ah…"
Saat
Fuka menempelkan tangannya menutupi mata kanan Yukuto dengan wajah hampir
menangis, terasa sedikit kehangatan dan samar-samar tercium aroma hutan itu.
"Gimana,
sakitnya sudah hilang? Matamu nggak apa-apa?"
"Makasih,
sudah nggak apa-apa kok. Aku bukan dipukul, cuma viewfinder kamera yang kena
cukup keras saja…"
"Cuma
kena viewfinder… kenapa kamu sampai keluar rumah! Aku sudah bilang berbahaya,
kan! Dan kamu keluar sambil mengarahkan kamera juga! Sudah menelepon polisi
belum!? Jangan bertindak bodoh! Kamu nggak tahu dia bisa melakukan apa saja!
Astaga!"
"Wa—Watanabe-san?"
"Jangan
bikin aku kaget… kalau sampai sesuatu terjadi pada Oki-kun, aku…"
Dengan
rambut acak-acakan, piyama bangun tidur, dan pedang rumput di tangannya—
Elf
bernama Fuka Watanabe itu meneteskan air mata bagaikan permata dari mata
indahnya, lalu terisak sambil memeluk kepala Yukuto.
Anehnya,
jantung Yukuto tidak berdebar hebat. Justru kesadaran bahwa dirinya telah
bertindak nekat dan membuat Fuka sedih membuat pikirannya menjadi dingin dan
tenang.
"Kenapa
kamu melakukan hal sebodoh ini? Aku benar-benar marah, tahu? Kalau bukan karena
alasan yang sangat kuat, aku tidak akan memaafkanmu."
"Ada
sesuatu yang benar-benar ingin aku pastikan. Dan untuk itu, aku harus memotret
wajahnya dari depan… mau lihat?"
Saat
Yukuto sedikit bergerak, Fuka secara alami melepaskan pelukannya dan menatap
tangan Yukuto.
Di
tangan kanan Yukuto ada kamera DSLR, dan di tangan kirinya sebuah ponsel.
"Memotret
maling itu dari depan… nggak bisa dari dalam rumah saja?"
"Agak
terlalu jauh. DSLR mungkin masih bisa, tapi kalau pakai ponsel rasanya nggak
akan tertangkap dengan baik. Dan sepertinya, aksi nekat tadi memang ada
hasilnya. Walau cuma sedikit, aku sempat mendengar suara orang itu."
"Suara?"
"Iya.
Tapi sebelum lanjut, kita balik ke dalam rumah dulu. Dengan pakaian seperti
ini, di luar agak dingin."
Saat
Yukuto berdiri, Fuka pun berdiri dan dengan kekuatan sihirnya menghilangkan
pedang rumput itu.
Di
ruang tamu yang masih remang khas pagi buta meski lampu dinyalakan, mereka
duduk berdampingan seperti kemarin.
Yukuto
mengubah layar DSLR ke mode peninjauan file dan menunjukkannya pada Fuka.
"Eto…"
Fuka
tampak bingung.
Yang
tampil di sana—wajar mengingat situasi kacau tadi—adalah foto yang benar-benar
buram, tak fokus, dan penuh guncangan.
Wajahnya
sama sekali tak bisa dikenali; satu-satunya hal yang bisa dipastikan hanyalah
bahwa dari bentuk tubuhnya, orang itu tampak perempuan.
"Perempuan?"
"Kamu
nggak sadar waktu berhadapan langsung?"
"Sama
sekali nggak. Teriakannya melengking, jadi aku nggak tahu, dan waktu berhadapan
langsung, dia jauh lebih tinggi dariku dan tubuhnya kekar, jadi aku langsung
mengira dia laki-laki."
Dengan
ekspresi terkejut, Fuka menatap foto-foto itu dengan serius.
Saat
membuka foto-foto berikutnya, terlihat serangkaian gambar buram hasil jepretan
beruntun. Tak satu pun memperlihatkan wajah, namun meski buram, lekuk tubuh
yang feminin tampak jelas di beberapa bagian, sehingga hampir bisa dipastikan
bahwa orang mencurigakan itu adalah seorang perempuan.
"Kalau
begitu, berarti dugaan kita kemarin di ruang klub bareng Izumi-chan benar-benar
meleset."
"Dugaan?"
"Soal
kemungkinan Amami-senpai atau Hasegawa-san adalah tim inspeksi. Soalnya
Amami-senpai laki-laki, dan tinggi Hasegawa-san kan kira-kira sama
denganku."
"……"
"Oki-kun?"
Yukuto
tidak menjawab panggilan Fuka yang tampak sedang berpikir, melainkan mengecek
jam di ponselnya.
"Watanabe-san.
Hari ini aku ingin berangkat ke sekolah agak lebih awal, boleh?"
"Eh?
Iya, boleh sih. Dari awal aku memang berencana datang lebih pagi untuk melihat
kondisi taman bunga."
"Makasih.
Lalu, setelah jam enam lewat, tolong telepon Kotaki-san."
"Izumi-chan?
Kamu ingin dia juga datang ke sekolah lebih pagi?"
"Bukan
Kotaki-sannya, tapi… barang yang kutitipkan padanya."
"!"
Fuka
menahan napas.
"Maksudmu
apa? Bukannya itu masih—"
"Kalau
kelamaan, mungkin mereka akan mengambil langkah antisipasi. Tenang saja. Aku
tidak akan melakukan hal berbahaya lagi. Tapi sebagai gantinya, ada sesuatu
yang ingin kuminta kamu lakukan sebelum kita berangkat ke sekolah."
"U-um…
kalau itu sesuatu yang bisa kulakukan…"
"Syukurlah.
Kalau begitu, meski agak cepat, aku siapkan sarapan dulu."
Fuka
merasa heran melihat Yukuto yang tampak sangat percaya diri, namun begitu
mendengar kata sarapan, perutnya langsung berbunyi dan wajahnya pun memerah
seketika.
"Kamu
pakai sihirmu untuk menyembuhkan mataku, kan? Terima kasih. Sarapannya bakal
banyak kok—aku sudah masak nasi banyak tadi malam, jadi tenang saja."
"Itu
kabar yang baik…"
Dengan
ucapan terbata-bata, Fuka mengalihkan pandangan dari Yukuto.
"Ngomong-ngomong,
setelah sarapan… maaf, tapi boleh aku minta satu hal lagi?"
"Eh?
Belum sembuh sepenuhnya? Masih sakit?"
"Bukan
begitu."
Yukuto
menggeleng, lalu kembali mengusap mata kanannya seolah menahan kantuk, dan
berkata dengan suara rendah:
"Aku
ingin mengambil foto yang bagus. Demi Watanabe-san."
"Demi…
aku?"
"Iya.
Dan kalau hari ini aku berhasil mendapatkan foto yang bagus, aku ingin kamu
memberitahuku. Tentang ‘penaklukan Raja Iblis’-mu, Watanabe-san."
Tak
mampu mengikuti lompatan topik pembicaraan itu, Fuka hanya bisa berkedip-kedip
kebingungan.



Post a Comment