Penerjemah: Taksaka
Proffreader: Manahan
Interlude 3
Saat kecil, aku selalu lambat dalam bertindak dan sering kali ditinggalkan.
Tentu saja lariku juga lambat, jadi meski aku terburu-buru mengejar, aku tidak pernah bisa menyusul. Saat aku akhirnya sampai, aku sudah terasing dari lingkaran percakapan semua orang, dan itu membuatku merasa kesepian. Namun, sejak mengenal Yuria, hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi.
"Oi, Mihare! Ke sini, ke sini!"
Anak itu selalu menungguku.
Yuria adalah kebalikan dariku; dia selalu cepat bertindak. Sosoknya yang berlari dengan gagah sangat keren, dan karena kepribadiannya yang jujur serta tidak gentar menghadapi anak laki-laki, dia sangat populer di kalangan anak perempuan.
"Maaf ya, Yuria. Aku ini lamban, jadi tidak apa-apa kalau kamu meninggalkanku."
Pernah suatu kali, karena merasa bersalah terus-menerus ditunggu, aku mengatakan hal itu.
"Eh? Mihare tidak lambat, kok. Waktu tes shuttle run kemarin kamu bertahan sampai akhir, aku sampai berpikir kamu hebat banget karena bisa lari selama itu."
"Itu karena lariku lambat, makanya tenagaku masih tersisa banyak..."
"Tapi itu keren! Aku mah jago lari jarak pendek, tapi kalau jarak jauh payah banget!"
Kata-kata Yuria itu menjadi penyelamat bagiku. Sejak saat itu, aku mulai memikirkan pembagian kecepatan dan sadar untuk berlari dalam waktu lama, hingga tanpa sadar aku menjadi spesialis lari jarak jauh. Lalu, aku bertekad untuk mengejar sosok Yuria.
Sahabat masa kecil yang tak tergantikan, yang selalu ada di sisiku dan tanpa rasa malu dengan bangga menyebutku sebagai sahabatnya. Karena ingin masuk SMA yang sama, aku belajar bersama Yuria dan kami saling mengajarkan mata pelajaran yang sulit bagi masing-masing. Walaupun sebenarnya mata pelajaran keahlian Yuria hanya Penjas, jadi hampir semuanya akulah yang mengajarinya.
Suatu hari, setelah impian kami terwujud untuk berangkat sekolah dengan seragam yang sama.
"Mihare, tadi di gerbang sekolah ada laki-laki yang kasih sesuatu, ya? Jangan-jangan surat cinta?"
"Bukan. Cuma selebaran penerimaan anggota klub."
"Hee, Klub Astronomi? Ada klub begini ya? Tapi ini sudah bulan Juni, kok masih cari anggota?"
"Katanya setelah semester 1 berakhir, kakak kelas kelas 3 akan pensiun, dan anggota yang tersisa cuma satu orang yang baru masuk tahun ini. Kalau begini terus, klubnya bakal dibubarkan. Butuh 2 orang lagi supaya tidak bubar, makanya mereka masih cari anggota sampai sekarang."
Aku menceritakan situasi yang kudengar dari siswa kelas satu Klub Astronomi itu saat menerima selebaran tadi.
"Hmm, kasihan juga ya. Tapi kan kita sudah masuk klub atletik..."
"Ah, sepertinya boleh merangkap klub kok."
"Jangan-jangan, kamu mau masuk?"
"Iya. Aku senang kalau Yuria juga mau ikut masuk. Kalau kita berdua masuk, klubnya tidak jadi dibubarkan. Tentu saja, aku akan usahakan supaya tidak mengganggu kegiatan klub atletik."
Wajah putus asa siswa laki-laki yang membagikan selebaran itu tidak bisa lepas dari kepalaku.
Sebenarnya, hari ini bukan pertama kalinya aku menyadari keberadaannya. Saat aku berlari di lintasan lari sekolah bersama klub atletik, aku sering melihat sosoknya berdiri di atap bersama teleskop astronomi. Padahal sudah susah payah keluar ruangan, tapi apa serunya pengamatan bintang yang hanya menatap langit malam di tempat yang sama? Aku selalu mempertanyakan hal itu.
Dia adalah orang dari dunia yang tidak kupahami.
Begitu pikirku dulu.
"Apa sih serunya pengamatan bintang itu?"
Saat menerima selebaran darinya, aku melontarkan pertanyaan yang selama ini membuatku penasaran. Lalu, dia mulai bercerita panjang lebar tentang misteri alam semesta dan pencapaian luar biasa orang-orang yang disebut Comet Hunter yang terus mengejar komet yang belum ditemukan. Isinya sulit dan tidak terlalu kupahami, tapi gairah serta semangatnya tersampaikan padaku.
『Suatu saat aku ingin menemukan benda langit baru dan menamainya. Membayangkan bintang itu akan tetap ada di alam semesta ini bahkan setelah aku mati, rasanya sangat romantis, kan?』
Aku tidak pernah memiliki mimpi yang bisa diceritakan kepada orang lain. Karena itulah, aku ingin membantunya.
Begitulah cara kami masuk ke Klub Astronomi dan mengenal Shibukawa Ryuuichi.
Aku selalu mengandalkan Yuria setiap kali aku kesulitan. Mungkin aku menyukai Shibukawa Ryuuichi-kun—perasaan ambigu yang bahkan belum bisa kusebut sebagai cinta itu pun pertama kali kukonsultasikan pada Yuria. Dan yang mendorong punggungku dengan berkata "Tembak saja sebelum kelamaan mikir" juga adalah Yuria.
Dulu maupun sekarang, Yuria selalu ada di sisiku. Bagiku, keberadaannya sudah sewajar udara atau tanah yang kupijak. Karena itulah, aku percaya bahwa di kehidupan kedua ini pun Yuria akan menjadi sahabatku. Namun, itu hanyalah keangkuhanku. Setelah menjadi "Sayuki", aku mulai dijauhi oleh Yuria. Jika meminjam kata-katanya, aku telah menjadi "orang di atas awan".
Sahabat yang selalu ada di sisiku kini berada di samping "Mihare" yang sekarang. Senyum cerah yang selalu ia tunjukkan padaku kini tidak lagi menyinariku. Padahal aku hanya berpikir ingin membuat kehidupan kedua ini lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, hal itu justru membuatku semakin melenceng dari kehidupan sebagai "Mihare", dan itu berarti aku kehilangan segala hal yang kumiliki saat menjadi "Mihare". Bahkan nama "Mihare" itu pun sudah bukan milikku lagi sejak lama.
Sosok yang bisa menyembuhkan kesepian dan kesunyian ini, sekarang hanya tersisa satu orang saja.
"...Ryuuichi-kun."



Post a Comment